Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

LATAR BELAKANG

Provinsi Kalimantan Selatan lebih dikenal dengan nama Kota Seribu Sungai. Budaya

sungai tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Banjarmasin. Sebagai sarana transportasi

tradisional di sungai, dalam istilah Bahasa Banjar, lebih dikenal dengan sebutan Jukung, yang

pada daerah lain lebih dikenal dengan sebutan sampan/perahu kecil.

Sebagai transportasi air yang tertua, sebelum adanya perahu, jukung banyak

dipergunakan oleh masyarakat Banjar sejak dahulu kala. Akan tetapi, keberadaannya hingga saat

ini mengalami kemunduran. Banyak masyarakat Banjar yang berangsur-angsur mulai

meninggalkan jukung. Melalui tahapan-tahapan perkembangannya, pada zaman modern dewasa

ini, dengan munculya teknologi yang semakin maju, jukung-jukung tradisional mulai

ditinggalkan, sedangkan jukung-jukung tradisional dari jenis tertentu dalam batas tertentu masih

sanggup bertahan.

Menurut proses pembuatannya, jukung terbagi tiga :

a. Jukung Sudur

b. Jukung Patai

c. Jukung Batambit

Sedangkan menurut fungsinya, Jukung terbagi 14 jukung, yakni :

a. Jukung pahumaan, yang hingga saat ini masih dipergunakan di sawah-sawah yang

bertanam padi

Jukung -1-
b. Jukung paiwakan, digunakan untuk memancing

c. Jukung paramuan, digunakan untuk mengambil tanaman hutan (tanaman rawa)

d. Jukung palambakan, sudah jarang digunakan

e. Jukung pambarasan, juga jarang digunakan

f. Jukung gumbili, juga jarang digunakan

g. Jukung pamasiran, masih digunakan untuk mengangkat pasir di sekitar sungai

h. Jukung becak banyu, sudah mulai ditinggalkan

i. Jukung getek, masih ada

j. Jukung palanjaan, sudah ditinggalkan

k. Jukung rombong, masih digunakan untuk Festival perahu sungai

l. Perahu tambangan, masih digunakan untuk Festival Sungai

m. Perahu undaan, masih digunakan untuk Festival Sungai

n. Jukung Tiung

Demikian sekilas tentang jukung. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di bagian pembahasan.

Jukung -2-
BAB 2

PROSES PEMBUATAN JUKUNG

Dalam proses pembuatan jukung masih menggunakan peralatan yang sederhana, seperti

kapak, belayung, gergaji, ketam, baji, penggodam ,pahat dan bor. Sebagai bahan pokok adalah

dari berbagai jenis kayu yang tumbuh di hutan Kalimantan, seperti :

1. Balangiran (Shone Balangeran Burck)

2. Bungur (Legestroemia Spiciosa ,Pers)

3. Damar Putih (Shorea dan Parashorea ,Spec)

4. Kayu Ulin (Eusideroxylon Zwagen)

Jukung pada masyarakat Banjar lebih dikenal dalam bentuk dan proses pembuatannya. Seperti

halnya telah dijelaskan diatas, menurut proses pembuatannya jukung terbagi dalam tiga jenis,

yakni :

A. Jukung Sudur

B. Jukung Patai;

C. Jukung Batambit

Untuk lebih jelaskan, akan dipaparkan pembuatannya satu persatu:

A. JUKUNG SUDUR

Jukung -3-
Terbuat dari bahan kayu yang bergaris tengah sekitarsatu meter atau lebih dibelah

dua secara membujur didalam pekerjaan tersebut, dikenal dengan istilah mambilatuk

dengan menggunakan alat belaying, setelah selesai membelatuk kemudian dibaji

dengan menggunakan penggodam. Dengan demikian, batang kayu tersebut terbelah dua

secara sempurna.

Langkah berikutnya adalah kedua ujungnya diruncingkan sehingga membentuk

haluan dan buritan jukung. Tahap selanjutnya yakni pekerjaan menakik atau menangkal-

nangkal guna memudahkan membuat lubang bagian dalam jukung, dengan cara

menggunakan alat belayung dan parang pembalokan.

Pekerjaan maubang berikutnya adalah membentuk lubang bagian dalam seluruh badan

jukung. Akhirnya, setelah pekerjaan kasar selesai, diteruskan dengan pekerjaan yang

lebih halus, yaitu menarah dan menagas. Proses pembuatan Jukung Sadur diperkirakan

memakan waktu satu bulan.

B. JUKUNG PATAI

Jukung Patai dikerjakan dari batang kayu yang tidak dibelah dua, yang

panjangnya sesuai dengan panjang jukung yang diinginkan dan disebut dengan

manampirus. Yang dimaksud dengan manampirus adalah memberi bentuk haluan dan

buritan jukung. Badan jukung yang mulai berbentuk itu diberi beberapa “mata kakap”

dengan bor. Selanjutnya dikerjakan maubang atau mengkosongkan bagian dalam

jukung sampai pada batas ketebalan lambung jukung.

Lambung jukung yang dikehendaki selanjutnya dipanggang diatas api.

Sambil dipanggang badan jukung tersebut dipukul-pukul. Langkah selanjutnya adalah

Jukung -4-
mambangkilis, yakni mengikat pangkal dan ujung jukung agar tidak patah dan pecah

ketika dibuka. Tahap tadur lama pembuatan ini terakhir adalah managas yaitu memberi

bentuk, antara lain membentuk sampung, marubing atau meninggikan badan jukung

termasuk pekerjaan pakajangan. Sampai disitu selesai sebuah jukung patai.

C. JUKUNG BATAMBIT

Adalah jukung yang besar, berbeda dengan jukung sudur dan jukung patai. Bahan

bakunya terbuat dari kayu ulin atau kayu besi. Kayu ulin berupa balokan atau papan ulin

yang tebal yang ditambit dari satu keeping dengan kepingan lain dengan

mempergunakan pasak, sangkar dan tajuk. Pasak yang berbentuk bulat panjang

berfungsi sebagai baut dan mur yang kuat tanpa berkarat. Bagian yang terutama dari

jukung batambit ini adalah yang disekutu dengan “lunas”, yaitu dasar jukung yang

membujur dari haluan sampai buritan. Pada lunas inilah tajuk melekat yang bertumpu,

membuat rangka, mengikat dinding badan dan lambung. Apabila dinding badan dan

lambung telah selesai seluruhnya, maka pada lapisan luar lambung itu dilapisi dengan

ulasan getah kayu uar yang berwarna merah kecoklatan yang berguna sebagai pegawit

dan penahan air. Jukung batambit dilengkapi dengan lantai yang rapi, pakajangan jika

diperlukan, pengayuh dan penanjang panjang.

Jukung -5-
Jukung menurut fungsinya.

Sudah sejak lama jukung Banjar berfungsi di perairan sungai-sungai Kalimantan Selatan dalam

pelbagai fungsinya dari masa ke masa. Jukung sebagai sarana transportasi, untuk berjualan atau

berdagang, mencari ikan, menambang pasir dan batu, mengangkut hasil pertanian, angkutan jasa

dan lain-lain, bahkan sekaligus sebagai tempat tinggal pemiliknya. Pelbagai fungsi jukung itu

dapat disebutkan sebagai berikut :

1. Jukung Pahumaan

Biasa dipergunakan ke sawah atau tanah rendah dengan isi awak jukung sekitar 5 atau 6

orang. Jukung tanpa pakajangan yang terbuka untuk pengangkut taradak (anak padi) dan

perkakas pahumaan seperti tajak, tatujah, parang, dan lain-lain. Jenisnya dari jukung

sudur.

2. Jukung Paiwakan

Berbentuk jukung patai yang dipakai di sungai atau di danau guna mencari iwak (ikan)

dengan isi awak jukung 1 atau 2 orang. Jukung ini tanpa pakajangan dan dapat juga dari

jenis jukung sudur. Jukung paiwakan ini baik digunakan untuk jukung paunjunan atau

paluntaan di sungai.

3. Jukung Paramuan

Dipergunakan dari jenis jukung sudur yang agak besar dan tidak memakai pakajangan,

karena harus dapat membuat pelbagai jenis kayu yang diramu di hutan, terutama kayu

galam atau jenis kayu api lainnya. Jukung paramuan ini dari hutan membawa hasil

ramuan untuk dibawa atau dijual ke kampung melalui jalur sungai besar dan kecil.

Jukung -6-
4. Jukung Palambakan

Dipergunakan dari jenis jukung patai dan pakajangan sebagian pada posisi buritan. Di

lantai jukung tersebut penuh dengan lambakan anak-anak tanaman yang sudah tumbuh

setinggi 3 s/d 4 jari pada segenggam tanah lambakan. Lambakan anak-anak tanaman itu

seperti Lombok, semangka, terung, jagung, waluh dan lain-lain. Jukung dengan lambakan

ini merupakan salah satu mata pencaharian Negara, sehingga lahir peribahasa “Urankan

di Nagara manjual anak.” Lambakan anak tanaman itu siap untuk ditanam yang

dipasarkan di kampung-kampung.

5. Jukung Pambarasan

Dipergunakan juga dari jenis jukung patai dalam bentuk yang lebih besar dan tidak

memakai pakajangan. Lambung jukung yang sudah ditinggikan itu mampu memuat beras

puluhan karung goni. Pada waktu dulu jukung pambarasan dengan beras tersebut

didayung oleh satu atau dua orang. Tetapi sekarang ini digerakkan dengan mesin yang

disebut dengan klotok.

6. Jukung Gumbili

Dipergunakan dari jenis jukung patai tidak memakai pakajangan atau ada juga yang

memakai sebagian pakajangan. Jukung ini khusus membawa atau menjual gumbili

Nagara atau gumbili Kiai, pemiliknya orang Nagara. Jukung ini meskipun namanya

jukung gumbilu, tetapi juga memuat hasil-hasil pertanian lainnya seperti waluh,

samangka, jagung, lombok dsb.

7. Jukung Pamasiran

Jukung -7-
Dipakai dari jenis jukung sudur atau jukung patai yang dioperasikan oleh para

penambang pasir dan batu di sungai. Jukung ini dalam bentuk terbuka mampu memuat

beberapa kubik pasir atau batu yang ditambang dari dasar sungai.

8. Jukung Beca banyu

Dipergunakan dari jenis jukung patai baik yang memakai atau tidak memakai

pakajangan. Jukung beca banyu ini berfungsi sebagai pemberi jasa angkutan

menyeberangkan orang atau membawa dari tebing yang satu ke tebing yang lain yang

tidak ada jalan darat. Jukung ini digerakkan oleh satu orang pendayung dan sekarang ini

sudah beralih dengan tenaga mesin yang disebut klotok.

Jukung getek dipakai dri jenis jukung patai yang agak besar tidak memakai pakajangan.

Jukung getek yang agak lebar ini dikayuh oleh seorang pengayuh untuk keperluan

penyeberangan sungai sebagai tumpangan dan bahkan dapat membawa sepeda.

9. Jukung Palanjaan

Yaitu jukung untuk “balajulajuan” yang dipergunakan dari jenis jukung patai. Bentuknya

panjang dan ramping agar dapat melaju dengan cepat bilamana dikayuh. Jukung

palanjaan ini dapat diisi awak jukung sampai 20 orang yang masing-masing dengan

sebikah pengayuh.

10. Jukung Rombong

Dipergunakan dari jenis jukung patai yang memakai pakajangan. Didalamnya dilengkapi

dengan sarana seperti meja guna menyusun berbagai jenis wadai (kue) dengan makanan

lainnya. Awak jukung hanya seorang yang sekaligus sebagai penjual dan pelayan

Jukung -8-
memberikan teh, kope, es, dan wadai kepada pembeli. Alat pengambil wadai yang unik

adalah sebilah kayu reng yang diujungnya terdapat paku guna mengambil (menumbak)

wadai yang ada di ujung, yang tidak terjangkau oleh tangan. Jukung rombong juga

terdapat yang khusus menjual soto, ketupat dan gado-gado Banjar.

11. Perahu Tambangan

Merupakan jukung yang dipergunakan dari jenis jukung batambit yang memiliki

pakajangan, tempat duduk yang baik, Sampung haluan dari buritan jukung ini memiliki

ornamen yang khas Banjar, begitu pula pakajangan yang disimpai dengan anyaman motif

tulang walut. Sesuai dengan namanya, jukung tambangan ini dipergunaan untuk memberi

jasa angkutan orang pada waktu dulu. Jukung tambangan pada saat ini hanya menjadi

benda museum yang tidak dioperasikan lagi. Jukung tambangan kadang-kadang sdisebut

juga perahu tambangan.

12. Jukung Undaan

Adalah jenis jukung batambit karena bentuknya yang besar. Jukung ini khusus

dipergunakan untuk mengangkut barang-barang dagangan dalam jumlah yang besar dari

Banjarmasin ke Hulu Sungai.

13. Jukung Tiung

Merupakan jukung yang besar dari jenis jukung batambit yang dipergunakan untuk

mengangkut sejumlah bahan bangunan berupa kayu galam, ulin dan pelbagai jenis kayu

untuk bahan bangunan lainnya. Karena jukung tiung untuk muatan bahan bangunan yang

banyak, maka jukung ini tidak memakai pakaiangan. Tenaga jukung tiung ini sangat

Jukung -9-
besar, oleh karena itu untuk menggerakkannya biasanya harus digandeng oleh kapal

bermesin dari satu tempat ke tempat lain di sungai.

Dari pelbagai jenis jukung Banjar menurut fungsinya sebagaimana diuraikan diatas, sarana

ini beroperasi di beberapa alur sungai-sungai Barito, Martapura, Riam, Nagara, Amandit,

atau Tabalong dari masa ke masa. Sebagian diantaranya sudah tidak berfungsi lagi, antara

lain karena terdesak oleh adanya kapal-kapal besar dan kecil yang beroperasi di sungai,

adanya speed boat serta dibangunnya prasarana jalan dan jembatan.

Sampai kapan dan sejauh mana jukung-jukung Banjar itu dapat bertahan dalam

eksistensinya, agakna sulit untuk diramalkan dengan pasti. Namun jukung Banjar tersebut

telah memperkaya prasarana daerah ini dalam arti aset budaya daerah Banjar.

Jukung -10-
BAB 3

KESIMPULAN
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa jukung Banjar menurut proses pembuatannya terbagi dalam

tiga jenis, yakni :

1. Jukung Sudur;

2. Jukung Patai; dan

3. Jukung Batambit

Sedangkan menurut fungsinya, Jukung terbagi 14, yakni :

1. Jukung pahumaan, yang hingga saat ini masih dipergunakan di sawah-sawah yang bertanam padi

2. Jukung paiwakan, digunakan untuk memancing

3. Jukung paramuan, digunakan untuk mengambil tanaman hutan (tanaman rawa)

4. Jukung palambakan, sudah jarang digunakan

5. Jukung pambarasan, juga jarang digunakan

6. Jukung gumbili, juga jarang digunakan

7. Jukung pamasiran, masih digunakan untuk mengangkat pasir di sekitar sungai

8. Jukung becak banyu, sudah mulai ditinggalkan

9. Jukung getek, masih ada

10. Jukung palanjaan, sudah ditinggalkan

11. Jukung rombong, masih digunakan untuk Festival perahu sungai

Jukung -11-
12. Perahu tambangan, masih digunakan untuk Festival Sungai

13. Perahu undaan, masih digunakan untuk Festival Sungai

14. Jukung Tiung

Jukung -12-