P. 1
Sekolah Polisi Indonesia

Sekolah Polisi Indonesia

|Views: 627|Likes:

More info:

Published by: H Masoed Abidin bin Zainal Abidin Jabbar on Aug 06, 2008
Hak Cipta:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/16/2012

pdf

text

original

SEKOLAH PENDIDIKAN POLISI INDONESIA (SPI

)
BUKITTINGGI Berdasarkan radiogram Kepala Jawatan Kepolisian Negara RI di Yogyakarta, diinstruksikan untuk melakukan penerimaan Polisi Wanita pertama di seluruh Indonesia(1948). Radiogram itu ditujukan kepada Kepala Cabang Jawatan Kepolisian Negara untuk Sumatra Barat, Pembantu Komisaris Polisi Umar Said. Tiap keresidenan di Sumatra diminta untuk mengirim dua orang calon Polisi Wanita. Tetapi pada bulan Mei 1948, tidak satu pun keresidenan yang mengirim calon. Pada saat itu Indonesia sedang mengalami gangguan keamanan dari pihak Belanda. Sebanyak 20 orang mendaftar dari daerah Sumatra Barat Test penerimaan masuk Polisi Wanita berjumlah 20 orang memenuhi syarat yang ditentukan oleh Cabang Jawatan Kepolisian Sumatra Barat yang dipimpin oleh Pembantu Komisaris Besar Oemarsaid. Testing penerimaan dititikberatkan pada latar belakang pendidikan, kesehatan dan hasil pschyko test. Direktur Sekolah Polisi Indonesia (SPI), ditunjuk Komisaris Polisi Djojodirdjo. Dari sebanyak 20 orang pelamar, yang dinyatakan lulus hanya 9 orang. Pertanyaan psycho test yang berat, mengapa masuk polisi, tidak takut mengalami nasib seperti yang telah dialami rekanrekan di Jawa yang menjadi korban keganasan pemberontakan PKI yang dipimpin Muso dan kawan-kawan. Terakhir yang diterima sebagai calon Polisi Wanita pertama di Indonesia adalah: 1) Nona Nelly Pauna, guru SMP asal Painan 2) Mariana Saanin, bidan asal Painan 3) Dahniar, telegrafiste PTT, asal Bukittinggi. 4) *Djasmainar Husein, Guru SMP, asal Bukittinggi 5) Rosmalina Loekman, klerk, asal Matur 6) Rosmalina Samat, klerk PTT, asal Koto Gadang Keenam calon Pembantu Inspektur Polisi ini telah mempunyai jaminan hidup sebelumnya dan rela meninggalkannya untuk memenuhi panggilan perjuangan. Latar belakang pendidikan mereka adalah MULO. Pada prinsipnya, pendidikan calon Polisi Wanita dapat diterima masyarakat Sumatera Barat pada waktu itu. Pada saat itu daerah Sumatera Tangah (Sumatra Barat, Riau dan Jambi) masih utuh. Hubungan dengan Singapura dan Semenanjung Malaya berjalan dengan lancar. Banyak pengungsi dari luar datang ke Sumatra Barat.

Masyarakat Sumatra Barat yang keras dengan adatnya, memprotes tindakan polisi pria yang memeriksa wanita-wanita pelarian dari daerah lain, seperti Singapura, Sumatra Utara, Jambi, dan daerah lain. Mereka menganggap Polisi Wanita akan dapat mengemban tugas tersebut, dan pendidikan polisi wanita adalah jalan keluar yang terbaik. Karena itulah pendidikan Polisi Wanita mendapat perhatian Pendidikan calon Polisi Wanita ini tidak ada bedanya dengan pria dalam baris berbaris, menembak dan mengenderai motor Harley Davidson dengan Zijspan. Keenam polisi wanita tidak manja dan tidak mau kalah dengan laki-laki. Calon Polisi Wanita pertama ini adalah siswa kursus angkatan kedua di Bukittinggi. Kursus dan latihan serta disiplin yang kuat di bawah Komisaris Polisi Djojodirdjo menjadi bekal Polisi Wanita ini menghadapi peranggerilya kelak. Di kalangan masyarakat awam tidak memahami peranan polisi wanita. Suara sumbang terdengar, yang mengatakan wanita-wanita opas, wanita penangkap pencuri ayam, tetapi suara itu segera lenyap dengan peralihan zaman ke zaman revolusi. Hampir seluruh pemuda pemudi Sumatra bertekad berjuang mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Sebelum pendidikan calon Polisi Wanita ini, di Sekolah Polisi Indonesia di Bukittinggi telah berlangsung Kursus Pembantu Inspektur Polisi dan Kursus Inspektur Polisi. Keenam calon Polisi Wanita ini merupakan angkatan kedua Kursus Pembantu Inspektur Polisi, beralamat di Birugo, Bukittinggi. Pendidikan tidak berlangsung lama, tetapi pengalaman selama pendidikan merupakan testing kedua siswa calon Polwan di alam Minangkabau yang belum dapat menerima kehadirannya. Adanya perasaan tersaingi oleh calon Polisi pria, mengejek calon Polwan tersebut. Namun calon Polwan ini membalas ejekan polisi pria. Kursus, latihan dan disiplin yang kuat di bawah pimpinan Komisaris Polisi Dojodirdjo, dirasakan sebagai sikap tegas dan berani mengemukakan kebenaran. Bekal ini yang diperlukan siswa Inspektur Polisi kedua ini dalam menjalani pendidikan lapangan selanjutnya ke daerah-daerah lain. Pendidikan akan berakhir Desember 1948. Namun, didahului oleh serangan Belanda atas Bukittinggi pada tanggal 19 Desember 1949. Pasukan Belanda telah membom Bukittinggi.Pendidikan segera ditutup dan siswa-siswa diangkat menjadi Pembantu Inspektur Tingkat II. Pada tanggal 19 Desember 1948, Bukittinggi dibom pesawat Belanda. Komisaris Polisi Abdurrahman Suriokusumo memerintahkan ketujuh Polwan itu segera

berangkat ke front Palupuh di bawah pimpinan Inspektur Polisi Amir Mahmud. Mereka kemudian dipindahkan ke Lubuk Sikaping, ke Talu dan akhirnya ke Matur. Ketika penyerahan Kedaulatan, Polwan dengan pangkat Pembantu Inspektur tingkat II diberi pakaian baru dengan badge RI untuk menerima penyerahan kota Bukittinggi di bawah pimpinan Komisaris Polisi Dojodirdjo, mantan Direktur SPI di Bukittinggi. Setelah tahun 1951, keenam orang Polisi Wanita itu secara kebetulan mengikuti latihan-latihan Inspektur di Sukabumi. Mereka ditempatkan di Jakarta menapak karirnya menduduki jabatan yang dipercayakan kepadanya dan sesuai dengan pendidikan yang diterimanya. Di antara mereka itu adalah: Djasmainar Husein pindah sebagai staf Komisariat Kepolisian Jakarta Raya(1950). Berturut-turut ia menempuh pendidikan lanjutan, seperti Sekolah Polisi Negara (Inspektur Courses), kemudian Kursus B (Pol) Angkatan V, Susywan (Kursus karyawan) Angkatan V ABRI di bidang Pemerintahan dan Sosial Politik. Djasmaniar menduduki jabatan sebagai Kepala Reserse Kriminal hingga mencapai Kepala Pusat Polisi Wanita Markas Besar Polri. Ia pun dikaryakan sebagai anggota DPR RI dari Fraksi ABRI.
-

Kolonel Pol. Purnawirawan Rosmalina Lukman Pramono mengikuti Sekolah Polisi Sukabumi. Sampai pensiun, jiwa kritis dan nasionalisnya sangat menonjol. Ia lebih mementingkan jabatan yang bersih di bidang yang dipercayakan padanya. Walaupun Rosmalina Loekman telah bekerja pada Balai Kota Fort de Kock (1940), Palang Merah di Sicincin (1942-45), Klerek pada Bupati Agam, namun kemudian ia meninggalkan pekerjaan dan mengikuti Sekolah Polisi Wanita. Selama Perang Kemerdekaan ia menempa diri dengan pengalaman berjuang di Sumatra Barat sebagai Pembantu Inspektur Polisi Wanita bersama Djasmainar Husen. Sesudah Pemulihan Kemerdekaan ia pindah ke Jakarta sebagai Staf Kepala Polisi Negara Mabes Polri, kemudian ditempatkan pada Seksi Public Relation, Jawatan Kepolisian Negara (1959). Berturut-turut menjadi Security Officer Kunjungan Raja Thailan (1960), Tim Penyaringan Calon Veteran Pejuang R.I, dengan pangkat Komisaris Polisi Tk.II, Rosmalina Loekman Pramono dipekerjakan sebagai Kepala Biro Anak-anak pada Seksi Polwan Komisariat Jakarta, kemudian mengadakan perjalanan dinas ke Uni Sovyet, Polandia dan Negeri Belanda bersama Menko Hankam/KASAB Jendral TNI Dr, A,H. Nasution. Ia menjadi

anggota DPR RI (1966-1968) dan terakhir Assisten I Direktorat Penerangan Mabes Polri dan dipensiunkan sebagai Kolonel Polisi. Dua orang alumni Sekolah Kepolisian Negara di Bukittinggi sebagai polisi pejuang yang meniti karir sebagai polwan pejuang idealis yang peduli nasib anak bangsa. -SAN-

Sumber: Markas Legiun Veteran RI, Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan IV, Cetakan I, Jakarta,1991

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->