You are on page 1of 4

Gempa Padangpanjang Tahun 1926 Muslih Sayan Dalam sejarah kegempaan di Sumbar, sudah ratusan kali terjadi gempa

tektonik melanda daerah ini. Di antaranya beberapa kali terjadi gempa besar; seperti tanggal 26-08-1835 pada epicenter (pusat gempa bumi) lat 01.0S dan long 100.3E dengan kekuatan 6.0 SR dengan intensity VII-VIII MMI. Gempa ini menghacurkan beberapa bangunan di Padang. Menyusul tanggal 26-06-1926 (91 tahun kemudian), kembali terjadi gempa yang lebih dahsyat, terkenal dengan ‘Gempa Padang panjang’. Gempa berkekuatan 6,5 SR ini terletak pada epicenter lat 00.7S dan long 100.6E dengan intensity VIII-IX . Gempa yang berpusat di Danau Singkarak ini menimbulkan gelombang pasang tsunami-- air danau danau Singkarak naik. Berdasarkan dokumen photo yang diambil oleh photographer Belanda, kenaikan air setinggi pohon kelapa dipinggir danau. Sehingga yang nampak hanya bagian pelepah pohon saja dan batangnya sudah terbenam air). Begitu juga stasiun KA Padangpanjang rusak berat dan rel KA bengkok-bengkok seperti ular, akibat pergeseran kulit bumi itu. Syeikh Abdul Karim Amarullah (ayah dari Prof. Hamka) yang baru pulang dari Mesir dan mengondol gelar “doktor” honoris causa, bulan Juni 1926 itu singgah di Sibolga, Tapanuli Selatan.. Ketika berada di daerah Mandailing tersebut, terjadi gempa dahsyat melanda kota Padangpanjang. Berita gempa dahsyat ini sampai ke telinga beliau. Berita ini sangat mengoncang perasaannya karena banyak sekali korban jiwa dan harta serta membawa malapetaka dan kerusakan pada nagari Padang Panjang dan sekitarnya. Akhirnya beliau memutuskan segera kembali ke Padang Panjang. Di kota itu beliau

dapati rumah-rumah beliau di Gantangan hancur luluh, banyak orang yang kehilangan tempat tinggal. Demikian juga surau (tempat mengaji berhalaqah/ bersila) di Jembatan Besi, kepunyaan Syekh Abdullah Ahmad, tempat beliau (Syekh Abdul Karim Amarullah) mengajar, hancur luluh dan tinggal lagi puing-puingnya. Begitu pula dengan Perguruan Diniyah Putri di kota Padangpanjang juga rata dengan tanah akibat gempa tahun 1926 ini, yang sangat terkenal hebat dan dahsyat. Reruntuhan bangunan itu membawa korban seorang guru wanita bernama ‘Nanisah’ yang ditemukan sehari sesudah gempa. Syekhah Rahmah El-Yunusiah, pemimpin diniyah putri ini menyatakan merasa benar-benar diuji Allah, tapi beliau tidak putus asa. Maka untuk sementara murid-muridnya disuruh pulang kampung, karena gedung baru berumur tiga tahun itu sudah hancur. Namun beberapa bulan kemudian atas kerjasama Majlis Guru dan murid- murid Thawalib School, berhasil dibangun yang baru kembali. Akibat gempa tahun 1926 itu, turut juga hancur Mesjid Parabek (Mesjid pada Madrasah Thawalib Parabek) yang didirikan oleh ulama besar Syekh Ibrahim Musa. Terletak di Jorong Parabek Kenagarian Ladang Laweh, Kecamatan Banuhampu Sungai Puar, Agam, Km 10 Padang Panjang – Bukittinggi. Dengan usaha ekstra keras, akhirnya mesjid iru dimulai pembangunannya kembali tahun 1933. Pembangunannya baru dapat diselesaikan 100 persen pada tahun 1935; diberi nama dengan Masjid Jamik, Parabek Dalam pembangunan mesjjd bertiang beton (tanpa besi itu) turut bertindak sebagai engineer dari bangunan mesjid itu, Presiden RI, Ir. Soekarno. Beliau yang memeriksa sejumlah tiang

besjid tersebut memuji coran betonnya cukup bagus. Dan pengakuan Ir. Soekarno itu selaku engeneer memang terbukti; sejak dibangun 1933 sampai sekarang tidak pernah retak. Mesjid yang berukuran 50 x 50 itu sampai sekarang berdiri kokoh dengan arsitektur khusus.Tiang-tiang mesjid itu berupa beton berukir, yang bertulisan ayat-ayat Al-Quran di sekelingngnya. Begitu juga pada tiang tengah yang bersayap indah yang dibangun tanpa besi beton. Itu. Walau beberapa kali gempa besar melanda Sumbar, tidak retak satu pun. Sangat pantas untuk diteliti sebagai contoh bangunan tahan gempa. Sampai sekarang gempa yang terjadi di kota Padangpanjang pada tahun 1926, merupakan catatan khusus bagi masyarakat dan pemda Sumbar. Dan oleh Pemprov Sumbar akan dimasukkan dalam suatu inseklopedi Sumbar. Amat disayang tidak ditemukan data korban yang kongkret pada Stasiun BMG Padangpanjang. Dan yang jelas berdasarkan penuturan orang tua-tua dari mulut kemulut adalah gempa terdahsyat dan terkenal di Sumbar. Catatan kaki Sejarah kegempaan lain Pada tanggal 8-3-1977 (51 tahun kemudian) terjadi lagi gempa besar berkekuatan 5,5 SR pada epicenter lat 00.5N dan long100.0E dikedalaman 22 Km dengan intensity VIII MMI. Akibatnya menghancurkan 737 rumah dan 7 gedung sekolah di Sinurut. Berselang dua tahun (28-4-1979), kembali terjadi gempa bumi berkekuatan 5,8 SR. Terletak pada epicenter lat 00.5N dan long 099.8E, dikedalaman 78 Km dengan intensity V MMI. Mengakibatkan sejumlah rumah di Padang dan Bukittinggi retak. Berdekatan dengan Sumbar yaitu Kabupaten Kerinci. Disana terjadi gempa berkekuatan 7.0 SR tanggal 27-10-1995 pada epicenter lat 02.1s dan long101.3E, pada kedalaman 33 Km

dengan intensity VIII MMI, yang mengakibatkan 87 meninggal 924 rumah hancur. Dan banyak lagi gempa setelah ini seperti di Malalak, Tanah Datar dsb. . Sumber Data: 1. dari Kepala BMG Padangpanjang. Soemarso 2. dari madrasah Thawalib Parabek dan 3. Padang panjang 4. serta buku ’20 Ulama Sumatra Barat’ Penulis: Muslih Sayan.