Anda di halaman 1dari 4

1

Pantai “Air Manis.”


Muslih Sayan

Pantai Air Manis ini mengandung dua pengertian: a) sebagai nama lokasi objek wisata
pantai ( beach ). b) Sebagai nama pemerintahan terendah yaitu Kelurahan Air Manis;
karena Pantai Air Manis terletak di kelurahan ini. Tepatnya, terletak sekitar 5 km sebelah
Selatan pusat kota Padang.
Menuju ke objek wisata ini dapat melalui dua pintu masuk. Petama, dengan menyusuri
pantai melewati jembatan Siti Nurbaya, Muara Padang. Kedua, melalui gerbang Desa Air
Manis pada jalan besar menuju Teluk Bayur; dengan tantangan yang cukup berat; mendaki
bukit cukup terjal dan menuruni lembah dalam. Dan 1,5 Km jalan ke situ sudah beraspal
licin.
Pantai ini cukup asri karena sebagian dilindungi dengan pohon cemara laut yang tertata
rapi. Biasanya dijadikan lokasi bermain dan santai untuk pengunjung dan sekaligus dapat
digunakan sebagai tempat parkir mobil. Begitu pula sebelah Timur dan Selatan dibentengi
Bukit Air Manis dan Bukit Malin Kundang. Disini biasa dimanfaatkan kegiatan
menjelajah ( hiking.) , memancing, berenang, bolakaki dan bolavoli, dan juga bersilancar.
Objek wisata perkampungan nelayan ini ramai pada hari besar dan libur hari Minggu.
Sudah dilengkapi dengan restoran dan kedai makanan kecil dan souvenir. Juga ada
mushalla, tempat ibadah. Disepanjang pantai ditumbuhi pohon kelapa dan dilengkapi
dengan pemandangan indah Pulau Pisang Kecil, yang dapat dikunjungi dengan jalan kaki
waktu pasang surut. Dan Pulau Pisang Besar jaraknya hanya 2 Km dari Pantai Air Manis.
Serta di tengah ada pula Pulau Sinyaru.
Telepon umum belum masuk ke perkampungan ini . Sementara listrik sudah masuk sejak
tahun 1980 lalu, namun juga belum sampai ke obyek wisata. Sehingga kalau sudah pukul
18.00 Wib sudah gelap.
2

Legenda Malin Kundang


Di Selatan Pantai ini ada pula tumpukan batu karang yang dipercaya dan diceritakan
turun temurun sebagai jadian Malin Kundang, anak durhaka yang tenggelam bersama
kapalnya karena disumpahi ibunya, dan akhirnya menjadi batu.
Versi lain dari legenda ini mencerikan, di Pantai Air Manis itu tinggalah seorang nenek
bersama cucunya bernama Malin. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka hanya
mencari kayu bakar dan daun pisang. Kemudian dijual ke Teluk Bayur—dapat makan hari
ini dicari lagi besok. Bila satu orang saja mencari, hasilnya tidak cukup—maka seorang lagi
harus puasa.
Suatu hari datang tawaran dari teman si Malin untuk mencari pekerjaan di Muaro,
Padang, sekitar 3 Km dari Pantai Air Manis. Malin minta izin pada neneknya yang biasa
dipanggilnya Ande, bahwa ia tidak bisa mencari kayu dan daun pisang hari itu. Tentang
makan si Malin, tidak perlu dirisaukan karena dibelikan oleh temannya.
Di Muaro, Padang ternyata memang ada kapal api yang sandar dan sedang bongkar
muat. Memang pelabuhan Muaro Padang merupakan pelabuhan alam yang cukup dalam
waktu itu. Dicarilah sang kapten, dan akhirnya Malin dapat diterima bekerja di kapal
tersebut.. Karena kapal akan berangkat esoknya, Malin disuruh kapten agar minta izin
lebih dahulu pada neneknya. Mendengar penuturan Malin, Andenya hanya dapat meratap.
Akhirnya ia berpesan: “Pailah ang Malin, tapi Ande jan dilupokan karano Ande alah
gaek!” (Pergilah kamu Malin, tapi Nenek jangan dilupakan karena Nenek sudah tua!).
Berangkatlah kapal Malin mengharungi samudra luas—dari satu pelabuhan ke pelabuhan
lain dan dari satu negara ke negara lain.
Syahdan, 30 tahun kemudian, kapal api tempat malin bekerja muncul di pelabuhan
Muara, Padang; karena memang ada barang dari Eropa yang akan diturunkan di Padang.
Malin saat itu sudah jadi kapten kapal. Teman lama Malin memberitahukan Ande si Malin,
bahwa kapal si Malin ada di Muara dan kaptennya si Malin.
Berangkatlah Ande si Malin ke Pelabuhan Muaro berbekal sebungkus nasi di kampia (tas
anyaman daun pandan) dan air di labu ( tabung air dibuat dari buah labu yang di
3

keringkan). Sesampai di Muaro, dihubungi awak kapal dan diminta agar si Malin turun
untuk menemui ibunya. Permintaan pertama sampai keempat tidak diacuhkan.Dan baru si
Malin turun dari kapalnya pada permintaan neneknya yang kelima kali. “Waang tu Malin?
Ikonyo Ande ang.” (Kamu itu Malin? Ini Nenek kamu.). Kata sang nenek terharu karena
gembira melihat cucunya. “Ade den indak iko doh! Ande den mudo dulu.(Nenek saya tidak
ini! Nenek saya muda dulu). Katanya ketus di atas tangga kapal dan langsung masuk
kembali ke dalam kapalnya dan tidak keluar lagi. “Iyo iko Ande ang Malin!?,” (“memang
ini Nenek kamu Malin,”) kata orang tua itu sedih.
Remuk perasaan Ande si Malin dan pergi dengan berhiba hati. Keluarlah sumpah sang
nenek:”Kok indak Ande ang, indak malah. Kok ang balaie , nak dihantam badailah kapa
ang tu.” (Kalau tidak Nenek kamu tidak malah. Kalau kamu berlayar, biar dihantam badai
kapal kamu itu). Sumpah orang dahulu makbul dan pinta berlaku, 12 jam kemudian badai
besar datang. Kapal si Malin pecah di tengah lautan dan terdampar di pantai Air Manis.
Malin tahu akan kesalahannya, tapi apa daya “nasi sudah jadi bubur.” Akhirnya kapal dan
Malin jadi batu. Lagenda ini diperkirakan sudah 300 tahun.
Orang kampung pada bertanya: “Kapal siapa itu?” Yang lain menjawab:”Itu kapal si
Malin.” “Yang dikundang-kundang, Andenya itu?” ( “Yang digendong/ dibawa hilir mudik,
neneknya itu? ) Maka bernamalah Batu Malin Kundang.

Kelurahan Air Manis


Kelurahan ini luasnya 1,60 Km2 , dihuni 286 Kepala Keluarga (KK) terdiri dari 1.607
jiwa dengan kepadatan penduduk1.004 jiwa /Km2. Potensi umum disini sedang-sedang
saja, karena mereka kebanyakan berusaha sebagai nelayan.
Kendala umum, adalah masalah penduduk yang bekerja disektor skunder dan tersier
kurang dari 10 persen. Begitu pula yang duduk di kelembagaan LKMD yang berpendidikan
SLTA ke atas kurang dari 50 persen. Sementara Kelurahan Air Manis punya potensi untuk
pengembangan jasa dan perdagangan. Sayangnya kekurangan sarana air bersih dan MCK
(Mandi Cuci Kakus). Faktor pembatas pengembangan lain adalah, nelayan tradisonal
kekurangan sarana. Umumnya hanya punya alat tangkap jaring. Kalau ada yang punya
4

perahu bermotor hanya beberapa buah yang didapat secara kredit. Di bidang perkebunan
juga sulit, luas lahan kurang dari 25 persen.
Disamping itu dalam pengelolaan objek wisata belum lagi secara profesional; baik
penataan lokasi, penyediaan dan informasi ivent yang menarik setiap hari libur. Akibat ini
mempengaruhi kedatangan pengunjung, otomatis pengurang pendapatan ekonomi
masyarakat setepat, yang kini mulai bergerak ke sektor jasa dan perdagangan .

Sumber data:
1. Wawancara dengan M. Zakar (70 tahun) pemuka masyarakai Air Manis tinggal
RT.04 dan kunjungan langsung meninjau objek wisata Pantai Air Manis.
2. Profil Kelurahan di Kota Padang Tahun 2002
3. Padang Dalam Angka Tahun 2002
4. Buku Petunjuk Mengenal Objek Wisata Sumatera Barat 1996