Anda di halaman 1dari 17

TUGAS KELOMPOK

KETERAMPILAN MENGAJAR KELOMPOK BESAR DAN KELOMPOK


KECIL DALAM PKR

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas

Mata Kuliah Pembelajaran Kelas Rangkap

PENGAMPU

Drs. H. Fansuri, M.Pd

KELOMPOK 5

Yuliana (A1E 307901)

Maida Mustika (A1E 307907)

Aulia Azizah (A1E 307911)

Rusdi (A1E 307912)

Miyandi Eko Anugarah (A1E 307919)

Ukhti Fada Uhara (AIE 307928)

Noorhayati (AIE 307939)

Noviecka Wieyanthi (AIE 307954)

Paulina Rohana (AIE 307955)

Marietna TM (AIE 307961)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM S-1 PGSD GURU KELAS

UPP BANJARBARU

2009

1
KETERAMPILAN MENGAJAR KELOMPOK KECIL DAN
PERORANGAN DALAM PKR

Secara teori memang mudah digambarkan strategi mengajar yang sebaiknya


guru. Tetapi di lapangan sangat diperlukan kemampuan dan keterampilan
bagaimana supaya pembelajaran kelas rangkap efektif dan efisien. Salah satu
keterampilan yang sangat penting dikuasai seorang guru adalah mengajar
kelompok kecil dan perorangan, yang merupakan keterampilan khusus yang
sangat diperlukan oleh guru SD dalam pembelajaran kelas rangkap.
A. Pengertian
Untuk mengingatkan Anda pada pengalaman mengajar kelas rangkap,
coba baca dan perhatikan ilustrasi berikut ini :
Bu Nani, guru kelas IV di SD Sumber Said pada suatu hari harus merangkap
kelas V karena Bu Tini berhalangan hadir. Untuk mengajar kelas tersebut, secara
mendadak Bu Tini mendapat rencana. Kelas IV yang jumlahnya 22 orang
dibaginya menjadi 5 kelompok yang masing-masing terdiri dari 4 orang. Udin
dan Adrian disuruh bekerja sendiri Karena mereka sangat cepat membaca.
Kelompok dan anak yang bekerja sendiri disuruh membaca satu wacana secara
singkat dan kemudian menjawab pertanyaan yang diberikan. Jika Udin dan
Adrian sudah selesai mengerjakan tugasnya mereka diminta memmbantu
kelompok yang belum selesai. Sementara Kelas IV bekerja, Bu Nanin akan
mengajar kelas V, dan sewaktu-waktu pergi ke Kelas IV untuk membantu
kelompok

Ilustrasi di atas menggambarkan rencana mengajar kelompok kecil dan


perorangan yang dibuat secara mendadak oleh Bu Nani. Jika Anda kaji
ilustrasi tersebut dengan cermat. Anda akan melihat bahwa Kelas IV dibagi
menjadi 5 kelompok. Di samping itu, ada murid yang secara perorangan
karena keduanya biasanya bekerja sangat cepat. Jadi dalam waktu yang sama,
Bu Nani akan memadu murid yang belajar perorangan dan secara kelompok.
Dengan demikian mengajar kelompok kecil dan perorangan adalah belajar
yang memungkinkan guru dalam waktu yang sama menghadapi kelompok

2
kecil dan murid yang bekerja secara perorangan. Setiap kelompok dan
perorangan mempunyai kesempatan untuk bertatap muka dengan guru.
Dari ilustrasi di atas dapat Anda simak bahwa pengajaran kelompok kecil
dan perorangan ditandai hal-hal berikut :
1. Adanya hubungan antara pribadi yang sehat antara guru dan murid serta
murid dengan murid.
2. Siswa dapat kesempatan belajar sesuai dengan minat, cara dan
kesempatan sendiri.
3. Murid mendapat bantuan dari guru jika ia memerlukanya
4. Dalam batas-batas tertentu, murid dapat dilibatkan dalam penentuan cara
belajar, alat yang akan digunakan, dan tujuan yang ingin dicapai.
Keterampilan mengajar kelompok kecil adalah kemampuan guru
membimbing murid alam belajar secara kelompok dengan jumlah berkisar
antara 3 hingga 5 orang atau paling banyak 8 orang untuk setiap
kelompoknya. Sedangkan keterampilan dalam pengajaran perorangan atau
pengajaran individual adalah kemampuan guru dalam membimbing murid
dalam belajar secara individual terutama bagi siswa yang mengalami
kesulitan belajar atau bermasalah.
B. Rasional
Adapun alasan-alasan perlu dikuasai guru dalam keterampilan mengajar
kelompok kecil dan perorangan sebagai berikut :
a. Pada dasarnya murid mempunyai kemampuan dan cara belajar yang
berbeda. Dalam pengajaran klasikal, guru memperlakukan murid dengan
cara yang sama, sehingga perbedaan kemampuan dan cara belajar murid
hampir tak pernah mendapat perhatian.
b. Pengajaran kelompok kecil dan perorangan memungkinkan terjadinya
hubungan antapribadi yang lebih akrab dan sehat antara guru dengan
murid dan murid dengan murid.
c. Kadang-kadang murid dapat lebih mudah belajar dengan cara mengajar
temannya atau dengan cara belajar bersama teman seperti mengerjakan
tugas bersama dan bertukar pendapat.

3
d. Kegiatan kelompok kecil memungkinkan murid terlibat lebih aktif dalam
belajar, sehingga tanggung jawab murid dalam belajar juga menjadi lebih
besar.
e. Sejalan dengan kegiatan kelompok kecil, kegiatan individual atau
perorangan juga mempunyai berbagai kekuatan.

C. Variasi Pengorganisasian
Penggunaan variasi pengorganisasian dimaksudkan agar murid terhindar
dari perasaan jenuh dan membosankan, yang menyebabkan perasaan malas
menjadi muncul.
Variasi pengorganisasian merupakan keterampilan guru di dalam
menggunakan bermacam-macam kemampuan untuk mewujudkan tujuan
belajar peserta didik sekaligus mengatasi kebosanan atau kejenuhan dan
menimbulkan minat, gairah, dan aktivitas belajar yang efektif.
Variasi pengorganisasian, mencakup penggunaan pola interaksi multi
arah artinya antara guru dengan murid, murid dengan guru atau murid dengan
murid.
Variasi pengorganisasian mencakup pengelompokkan siswa, penataan
ruang, dan variasi pemanfaatan sumber belajar.
a. Variasi pengelompokkan siswa
Dalam pembelajaran kelas rangkap, keaktifan kelompok merupakan
salah satu kunci keberhasilan belajar siswa. Agar guru dapat
mengaktifkan kelompok sebaiknya guru memahami prinsip-prinsip dasar
pembelajaran kelas rangkap.
Dalam pelaksanaan pembelajaran kelas rangkap pengelompokkan
siswa merupakan suatu keharusan guna menjamin proses belajar siswa
agar tetap afektif. Mengenai pengelompokkan belajar siswa ini terdapat
beberapa variasi yang dapat dipilih sesuai kebutuhan, yaitu :
1) Pengelompokkan murid berdasarkan rombongan belajar
Dalam hal ini pembagian kelompok berdasarkan kelasnya. Hal ini
dilakukan jika dalam pelaksanan pembelajaran kelas rangkap
menggunakan model pengelolaan PKR 111, PKR 211, PKR 221, dan

4
PKR 311 yaitu bentuk pelaksanaan PKR dalam satu ruangan.
Misalnya kelas III, kelas IV, dan kelas V di dalam satu ruangan. Ini
berarti dalam satu ruangan ada tiga kelompok/rombongan siswa
sesuai kelasnya.
2) Pengelompokkan murid berdasarkan kesamaan kemampuan
3) Pengelompokkan murid berdasarkan kemampuan campuran
4) Pengelompokkan murid berdasarkan kesamaan usia
5) Pengelompokkan berdasarkan kompatibilitas murid
Setiap murid memiliki hubungan pertemanan yang didasarkan pada
rasa saling menyukai atau rasa persahabatan. Dasar pertemanan
biasanya karena tempat tinggal karena tempat tinggal berdekatan,
duduk di kelas selalu bersama, sering mengerjakan tugas atau belajar
bersama, dan karena memiliki kegiatan yang sama di luar sekolah.
Terbentuknya kelompok seperti ini bersifat alami pengelompokan
ini berdasarkan adanya kebutuhan pembelajaran, yaitu karena
adanya tugas berkaitan dengan kedekatan tempat tinggal.
6) Pengelompokan murid sesuai kebutuhan pembelajaran
Dalam pembelajaran telah dirumuskan tujuannya oleh guru.
Tercapainya tujuan itu perlu dukungan dengan pengelompokan
murid sesuai kebutuhannya.
Dalam pembelajaran kelas rangkap dasar pengelompokan siswa
harus divariasi untuk menghindari kejenuhan, kebosanan, dan untuk
menumbuhkan gairah belajar.
b. Variasi Penataan Ruang
Penerapan PKR dalam satu ruangan memerlukan penataan ruangan
yang lebih kompleks daripada PKR dalam 2 atau 3 ruangan. Untuk yang
dilaksanakan dalam 2 atau 3 ruangan, penataan ruangan dalam hal ini
tempat duduk murid dan papan tulis diatur atas dasar kemudahan guru
dalam mengelola secara bergilir kedua atau ketiga ruangan tersebut.
Contoh, guru merangkap kelas I, II, dan III, dengan jumlah murid rata-
rata 15 maka dapat digunakan ruang kelas I, sedang kelas II dan kelas III
digabung di ruang kelas I, karena jumlah siswa sedikit. Tetapi jika

5
jumlah murid banyak diperlukan dua ruang kelas, sehingga kelas II dan
III digabung dalam satu ruangan.
Penataan ruang untuk pengelolaan PKR dalam satu ruangan selain
pertimbangan kemudahan penanganan dua atau tiga rombongan belajar
juga pertimbangan iklim kelas dan mekanisme interaksi guru-siswa.
c. Variasi sumber belajar
Sumber belajar mencakup segala sesuatu seperti manusia, benda,
alam sekitar, masyarakat, kepustakaan, dan hasil kebudayaan yang
berpontensi memberi informasi kepada siswa dalam belajar. Berbagai
sumber belajar tersebut sebaiknya digunakan secara bervariasi dalam
pembelajaran kelas rangkap, sehingga tetap terjaga kegairahan dan
motivasi belajar siswa. Contoh, seorang guru mengajar dengan
merangkap tiga kelas yaitu kelas IV, V, dan VI maka sisa kelas VI bisa
diberi tugas dimana jawaban dapat diperoleh dari sebuah buku di
Perpustakaan. Siswa kelas V diberi tugas dengan mencari jawaban di
alam sekitar misal di kebun sekolah/halaman sekolah, kelas enam diberi
tugas yang jawabannya diperoleh dari sumber masyarakat.
d. Variasi model implementasi
Model 1. Pelajaran diawali dengan pertemuan klasikal untuk
memberikan informasi dasar, penjelasan tentang tugas yang akan
dikerjakan, serta hal-hal lain yang dianggap perlu. Dalam model 1 ini,
setelah pertemuan kelas, murid diberikan kesempatan untuk memilih
kegiatan dengan bekerja dalam kelompok atau bekerja secara perorangan.
Model 2. Pertama diawali dengan pengarahan atau penjelasan secara
klasikal tentang materi, tugas, serta cara yag digunakan. Setelah itu
langsung bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang diakhiri dengan
laporan kelompok.
Model 3. Pertemuan diawali dengan penjelasan secara klasikal.
Setelah itu murid langsung bekerja secara perorangan dan kemudian
bergabung dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengolah hasil yang
dicapai dan diakhiri dengan laporan kelompok.

6
Model 4. Pertemuan diawali dengan penjelasan klasikal tentang
kegiatan atau tugas yang akan dilaksanakan. Setelah itu langsung bekerja
secara perorangan.
D. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengajar Kelompok Kecil dan
Perorangan
Dalam mengajar kelompok kecil dan perorangan harus memperhatikan
hal-hal sebagai berikut :
a. Pembelajaran dilakukan berdasarkan perbedaan individual
Murid SD secara individual berbeda dalam banyak hal. Perbedaan
tersebut antara lain: berbeda dalam kemampuan berpikir, karakteristik,
berbeda secra emosional, berbeda daya tangkapnya, bakat, maupun
minatnya.
Guru yang baik akan memberikan layanan secara khusus kepada
murid yang agak lambat menangkap materi pelajran. Demikian dalam
menghadapi perbedaan individual dapat dilakukan melalui pembelajaran
kelompok kecil. Misalnya siswa yang berkemampuan kurang dijadikan
satu kelompok, atau siswa yang tampak agresif jadi satu kelompok,
kemudian diberikan layanan bimbingan belajar secara khusus.
b. Memperhatikan dan melayani kebutuhan murid
Dalam pembelajaran kelas rangkap perlu memperhatikan dan
melayani kebutuhan murid. Murid berasal dari latar belakang keluarga
yang tidak sama, serta lingkungan kehidupan yang tidak sama pula
sehingga memiliki pengalaman hidup berbeda satu sama lain. Perbedaan
ini menyebabkan perbedaan kebutuhan siswa. Seyogyanya guru
memberikan layanan atau bimbingan belajar kepada murid sesuai dengan
perbedaan keperluan yang dimilikinya. Contoh, jika dijumpai murid yang
berkemampuan rendah maka perlu bimbingan secara perorangan dan
tugas disesuaikan dengan kemampuan. Jika ada murid yang tidak
memiliki buku cetak karena tidak mampu beli sedang yang lain memiliki,
maka dapat dipinjami buku milik sekolah., atau teman lain diminta untuk
bersedia bersama-sama.

7
c. Mengupayakan proses belajar mengajar yang aktif dan efektif
Hal ini yang diutamakan dalam pembelajaran, bukan bagaimana
guru mengajar, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana guru
mengajar agar murid melakukan tindak belajar secara aktif adan efektif.
Unuk mengaktifkan dan mengefektifkan murid belajar dalam proses
belajar mengajar, guru juga harus berusaha secara aktif memberikan
bimbingan belajar. Tidak seperti yang dikonotasikan murid aktif guru
pasif atau yang penting murid aktif sendiri sedang aktivitas guru tidak
dipersoalkan . Contoh, saat guru memberi tugas, atau diskusi kelompok,
guru selalu berada di tengah kelompok untuk memberikan bimbingan
atau bantuan kepada murid dan memperhatikan kekompok atau murid
yang mengalami kesulitan mengerjakan tugas.
d. Merangsang tumbuh-kembangnya kemampuan optimal murid
Tugas guru sebagai pendidik di sekolah pada dasar adalah membantu
tumbuh-kembangnya murid secara optimal seluruh aspek perkembangan,
yaitu baik aspek intelektual, aspek emosional, aspek moral, aspek bahasa,
aspek social, maupun aspek fisik. Semua aspek tersebut tumbuh-
kembangnya menjadi tanggung jawab guru disekolah. Aspek moral,
emosional, social, dapat dilakukan melalui contoh teladan, cara atau pola
asuh guru terhadap murid berupa tutur kata. Sedangkan aspek bahasa
peran guru jelas sekali dalam proses belajar mengajar, yaitu penggunaan
bahasa sesuai tingkat perkembangan murid maupun penggunaan bahasa
yang baik dan benar. Tumbuh-kembang aspek fisik terutama dilakukan
oleh guru pendidikan jasmani maupun oleh guru kelas melalui kegiatan-
kegiatan lain seperti senam pagi, berbaris, kegiatan hari-hari besar dan
sebagainya.
e. Pergeseran dari pengajaran klasikal ke pengajaran kelompok kecil dan
perorangan.
Bagi guru yang sudah biasa dengan pengajaran klasikal, sebaiknya
dimulai dengan pengajaran kelompok, kemudian secara bertahap kepada
pengajaran perorangan. Tidak semua topik atau pokok bahasan dapat
dipelajari secara efektif dalam kelompok kecil maupun perorangan.

8
Hal-hal yang bersifat umum seperti pengarahan informasi umum
sebaiknya diberikan dalam bentuk kelas besar. Contoh jika murid diminta
untuk membuktikan bahwa titik didih air 100⁰C melalui eksperimen
maka sebaiknya dilakukan pembelajaran kelompok kecil atau
perorangan, tetapi jika murid diminta untuk memahami sebuah konsep,
prinsip, atau teori tentang tata surya maka akan efektif jika pembelajaran
dilakukan secara klasikal.
f. Langkah pengajaran kelmpok kecil dan perorangan
Dalam pengajaran kelompok kecil, langkah pertama adalah
mengorganisasi siswa, sumber, materi, ruangan, serta waktu yang
diperlukan dan diakhiri dengan kegiatan kulminasi yang dapat berupa
rangkuman, pemantapan, atau laporan. Dalam pengajaran perorangan
guru harus mengenal murid secara pribadi sehingga kondisi belajar dapat
diatur. Kegiatan dalam pengajaran perorangan dapat dilakukan melalui
paket belajar atau bahan yang telah disiapkan oleh guru. Contoh murid
yang mengalami kesulitan soal matematika perlu diberikan bimbingan
belajar secara perorangan. Sedangkan siswa yang tidak mengalami
kesulitan diminta mengerjakan sendiri atau diperbolehkan bertanya pada
teman.
g. Menggunakan berbagai variasi dalampengorganisasiannya
Variasi pengorganisasian mencakup variasi pengelompokkan, variasi
penataan ruang dan variasi sumber belajar. Ketiga variasi tersebut perlu
dilakukan dalam pembelajaran kelas rangkap. Mengingat guru tidak
dapat berperan dan mengontrol secara terus menerus terhadap semua
kelompok besar. Contoh siswa tidak selalu dalam kelompok yang sama
tetapi sekali-kali diminta untuk memilih teman yang disukai untuk berada
dalam kelompoknya.

9
KOMPONEN KETERAMPILAN MENGAJARAN KELOMPOK KECIL
DAN PERORANGAN

Dalam kegiatan belajar ini, anda akan mendapat kesempatan untuk


membahas dan berlatih menerapkan komponen-komponen keterampilan mengajar
kelompok kecil dan perorangan. Kemampuan menguasai dan menerapkan
keterampilan tersebut akan sangat membantu anda dalam mengajar kelas rangkap.
Anda akan lebih mampu mengatur waktu dan kegiatan murid sehingga waktu
kegiatan akademik akan meningkat pula.
Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan dibagi menjadi 4
komponen, yaitu:
1. Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi
2. Keterampilan mengorganisasikan kegiatan
3. Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar
4. Keterampilan merencanakan dan melaksankan kegiatan pembelajaran

1. Keterampilan Mengadakan Pendekatan Secara Pribadi


Pengajaran kelompok kecil dan perorangan mempersyaratkan terjadinya
hubungan yang akrab dan sehat antara guru dan murid serta antara murid dan
murid. Hubungan yang seperti ini hanya mungkin terjadi jika guru mampu
mengadakan pendekatan secara pribadi. Untuk itu guru perlu memperhatikan
dan melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Tunjukkan perhatian yang hangat
Perhatian yang hangat, akrab dan bersahabat menumbuhkan
perasaan, kemauan dan keinginan belajar tanpa adanya perasaan
terpaksa. Murid belajar dengan penuh suka cita, kegembiraan, dan
keriangan karena merasa mendapat perhatian dari guru. Murid belajar
dengan serius dan berkonsentrasi penuh pada pelajaran sehingga hasil
belajar yang dicapai juga akan lebih baik. Untuk terjadinya hal tesebut
guru dapat menunjukkan kehangatan dan kepekaan terhadap kebutuhan
murid baik dalam kelompok kecil maupun perorangan.

10
b. Mendengar pendapat murid
Seorang guru yang baik, mengahargai pendapat murid, tidak
mengabaika dan meremehkan. Setiap apa yang disampaikan atau
pendapat murid ditanggapi dengan sungguh-sungguh. Mendengarkan
secara simpatik ide-ide yang dikemukakan oleh siswa. Kebutuhan murid
akan penghargaan akan terpenuhi. Hal ini menumbuhkan kebutuhan
aktualisasi diri murid, sehingga motivasi belajarnya meningkat. Terutama
motivasi intrinsic yang sangat penting dalam proses belajar murid, dan
untuk mencapai keberhasilan belajar.
c. Berikan respon yang positif
Respon positif akan memberikan penguatan bagi murid untuk lebih
meningkatkan upayanya dalam berprestasi dan belajar lebih giat. Murid
akan memiliki keberanian berpartisipasi aktif dan kreatif dalam
pembelajaran. Guru yang baik akan selalu memberikan respon positif
terhadap buah pikiran murid, betapapun kecilnya buah pikiran.
d. Ciptakan hubungan saling percaya
Membangun hubungan saling mempercayai bagi guru sangat penting
agar siswa mau mengungkapkan kesulitan-kesulitan ataupun persoalan
yang dihadapi. Dengan begitu guru dapat membantu mencarikan
solusinya, dan murid tidak terjebak dalam permasalahan yang kompleks.
Sehingga murid dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, dan dapat
mencapai prestasi belajar yang baik.
e. Tunjukkan kesediaan membantu murid
Guru harus mampu menunjukkan kesiapan untuk membantu murid,
agar murid merasa tidak ragu-ragu untuk meminta bantuan. Khususnya
bantuan layanan kesulitan belajar. Paling tidak murid mau bertanya jika
mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal ataupun tugas, baik di
kelas maupun di luar kelas.
f. Bersikap terbuka terhadap murid
Menerima perasaan murid dengan penuh pengertian dan terbuka.
Sikap guru terhadap murid yang mengungkapkan perasaannya hendaknya
diterima dengan hati yang lapang, dan mencoba memahami ungkapkan

11
perasaan murid tersebut. Sikap ini menumbuhkan rasa percaya murid
terhadap guru. Dengan demikian murid beranggapan bahwa guru sebagai
teman sejati dan sahabat yang bisa diajak berbagi perasaan. Jika guru
mampu merasakan apa yang dirasakan oleh murid dan kemudian
berusaha merespon secara tulus, guru telah berhasil menciptakan
hubungan yang akrab dan sehat.
g. Kendalikan situasi agar murid merasa aman
Berusahalah mengendalikan situasi hingga murid merasa aman,
penuh pemahaman, merasa dibantu, serta merasa menemukan alternative
pemecahan masalah yang dihadapi. Penciptaan situasi belajar yang aman
dan menyenangkan bagi murid sangat tergantung dari kemampuan guru
untuk menerapkan berbagi keterampilan dasar mengajar. Memberi
penguatan secara tepat, menghindari respon negatif, memberi petunjuk
yang jelas, tegas dalam bertindak, merupakan usaha-usaha yang dapat
dilakukan guru dalam menciptakan suasana belajar yang aman dan
menyenangkan.

2. Keterampilan Mengorganisasikan Kegiatan


Mengorganisasikan kegiatan mengandung arti merancang, mengatur dan
mengendalikan kegiatan belajar pembelajaran yang tepat. Selama kegiatan
mengajar kelompok kecil atau perorangan berlangsung, guru berperan sebagai
organisator yang mengatur dan memonitor kegiatan dari awal sampai akhir.
Untuk itu guru perlu memperhatikan dan melakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Adakah pengenalan umum mengenai isi dan latar kegiatan belajar yang
akan dilaksanakan. Meliputi pemberian orientasi umum tentang tujuan,
tugas, cara kerja, waktu, tempat kerja dan sebagainya sebelum kegiatan
kelompok atau perorangan di mulai.
b. Gunakan variasi kegiatan sesuai kebutuhan. Memvariasikan kegiatan
yang mencakup penyediaan ruangan, peralatan, dan cara
melaksanakannya. Memvariasi kegiatan, misalnya berupa observasi,
diskusi hasil observasi, memecahkan masalah, membuat kerajinan tangan
bersama atau belajar sendiri dari buku.

12
c. Adakan pengelompokkan murid yang sesuai dengan tujuan.
Pengelompokkan murid dibentuk secara tepat agar tujuan pembelajaran
dapat tercapai dengan baik misalnya mengelompokkan berdasarkan
tempat duduknya, kemampuannya (yang pintar dengan yang pintar atau
dicampur), atau menurut keinginan (minat). Pengelompokkan murid
dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan keperluan.
d. Koordinasi kegiatan. Jangan lupa mengkoordinasikan aneka kegiatan
yang berlangsung. Mengkoordinasi kegiatan dengan cara melihat
kemajuan murid dari awal sampai akhir kegiatan. Dengan cara ini, guru
akan dapat memantau apakah tugas dikerjakan dengan benar atau apakah
murid memerlukan bantuan.
e. Berikan perhatian pada berbagai tugas yang diberikan. Guru yang baik
juga akan membagi perhatian kepada berbagai tugas dan kebutuhan
murid sehingga murid selalu merasa bahwa guru ada bersama mereka
karena bantuan yang mereka perlukan selalu diberikan pada saat yang
tepat.
f. Usahakan agar pada akhir kegiatan selalu ada penyimpulan. Mengakhiri
kegiatan dengan suatu kulminasi yang tepat akan memungkinkan murid
saling belajar. Memajangkan hasil karya, menanggapi hasil kerja
kelompok, mendemonstrasikan hasil kerja, merupakan contoh-contoh
kegiatan kulminasi yang ememungkinkan murid saling belajar.
3. Keterampilan Membimbing dan Memudahkan Belajar
Didalam belajar murid memerlukan bimbingan dan kemudahan.
Bimbingan berfungsi memberi jalan bagaimana sebaiknya murid mempelajari
sesuatu. Kemudahan belajar berfungsi memberikan suasana yang mendorong
murid untuk meningkatkan aktivitas belajar. Keterampilan ini memungkinkan
guru membantu murid untuk maju tanpa mengalami frustasi. Untuk itu guru
perlu memperhatikan dan melakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Berikan penguatan terhadap perilaku murid yang baik. Dengan
memberikan penguatan mendorong untuk maju atau mencapai hasil
belajar yang lebih baik. Berikanlah penguatan secara tepat sehingga
murid terdorong untuk belajar lebih baik. Penguatan yang diberikan

13
haruslah bermakna, hangat, tepat sasaran, bervariasi, dan diberikan
segera setelah murid menunjukkan perilaku (jawaban, tugas dan lain-
lain) yang diharapkan.
b. Melakukan supervisi proses awal dan bersikap tanggap terhadap keadaan
murid. Guru dapat mengembangkan supervisi proses awal, yakni sikap
tanggap guru terhadap murid baik individu maupun kelompok yang
memungkinkan guru mengetahui apakah segala sesuatu berjalan lancar
sesuai dengan yang dihadapkan.
c. Melakukan supervise proses lanjut.Mengadakan supervise proses lanjut
yang memusatkan perhatian pada penekanan dan pemberian bantuan
ketika kegiatan berlangsung.
Untuk itu guru harus mampu berinteraksi dengan murid sehingga bantuan
yang diberikan cukup efektif. Interaksi berupa bantuan ini dapat
dilakukan dalam bentuk-bentuk berikut :
1. Memberikan pelajaran tambahan atau bimbingan belajar
(tutorial).Misalnya untuk konsep / topik yang sukar dipahami.
2. Melibatkan diri sebagai peserta aktif dari kelompok yang
mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan anggota
kelompok lain. Kehadiran guru dalam kelompok akan mendorong
murid untuk lebih aktif.
3. Memimpin diskusi kelompok kecil, jika diperlukan.
4. Bertindak sebagai katalisator, yaitu meningkatkan kemampuan siswa
untuk berpikir/belajar melalui pertanyaan, komentar, dan saran-
saran.
d. Mengadakan supervisi pemanduan, yang bertujuan untuk menilai
pencapaian tujuan kegiatan serta menyiagakan untuk mengikuti kegiatan
akhir.
Ini dilakukan dengan mendatangi kelompok, menilai kemajuannya, dan
menyiapkan mereka untuk mengikuti kegiatan akhir cara efektif.
Jika kita kaitkan keterampilan tersebut dengan pembelajaran kelas
rangkap, kita akan melihat bahwa keterampilan ini sangat dibutuhkan.
Guru yang terampil membimbing dan memudahkan muid belajar,

14
mengajar dua kelas atau lebih tidak akan menjadi masalah. Guru tidak
harus membimbing atau membantu semua murid, namun guru tahu kapan
dia harus membantu siapa, dan bagaimana dia harus membantu.

4. Keterampilan Merencanakan dan Melaksanakan Kegiatan Pembelajaran


(Kegiatan Belajar Mengajar)
Kegiatan guru dalam pembelajaran seperti membuka pelajaran,
menyajikan kegiatan inti, membimbing peserta didik dan mengevaluasinya,
hendaknya diatur drngsn baik dan penuh kesungguhan.
Kegiatan belajar mengajar dalam rangka pelaksanaan PKR rancangan
kegiatan pembelajaran erat kaitannya dengan model PKR yang diterapkan.
Tugas guru yang utama adalah membantu murid melakukan kegiatan, baik
secara perorangan maupun secara kelompok. Untuk itu guru harus mampu
membuat perencanaan kegiatan belajar mengajar yang tepat bagi setiap murid
dan kelompok serta mampu melaksanakannya. Untuk membuat perencanaan
yang tepat, guru dituntut mampu mendiagnosis kemampuan akademis murid,
memahami gaya belajar mengajar, minat murid, dan sebagainya.
Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar
mengajar ini mencakup :
a. Membantu murid menetapkan tujuan pelajaran dan menstimulasi murid
untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk maksud tersebut dapat dilakukan
dengan diskusi atau menyediakan bahan-bahan yang menarik, yang
mampu mendorong murid untuk mencapai tujuan tersebut. Namun perlu
diingat bahwa kebiasaan menetapkan tujuan belajar bagi murid di
Indonesia belum membudaya, bahkan mungkin belum pernah ada murid
yang diberi kesempatan untuk menetapkan tujuan belajar. Oleh karena
itu, sebagai guru, anda perlu mulai memberikan kesempatan kepada
murid untuk sekali-kali (misalnya sebulan sekali) menetapkan tujuan
belajar.
b. Merencanakan kegiatan belajar mengajar bersama murid. Berdasarkan
hasil diagnosis penetapan tujuan, guru dapat merencanakan kegiatan
belajar yang sesuai dengan tujuan, minat, dan kemampuan murid.

15
Perencanaan yang dibuat haruslah mencakup kriteria keberhasilan,
langkah-langkah kerja, waktu, serta kondisi belajar yang diperlukan.
c. Bertindak atau berperan sebagai penasehat bagi murid bila diperlukan.
Guru dapat memberikan bantuan yang tepat jika guru mampu
berinteraksi secara efektif dengan murid sehingga murid mau
mengungkapkan masalahnya. Kemudian guru dapat memberikan
saran/nasehat yang kira-kira dapat mengarahkan murid kearah belajar
yang lebih baik.
d. Membantu murid menilai pencapaian dan kemajuannya sendiri. Ini
berarti memberi kesempatan kepada murid untuk memperbaiki dirinya
sendiri yang merupakan kerja sama guru dengan murid dalam situasi
pendidikan yang manusiawi. Pada umumnya penilaian atas
kemajuan/pencapaian murid dilakukan oleh guru. Murid bahkan tidak
pernah dilibatkan dalam menilai dirinya sendiri. Oleh karena itu, anda
mempunyai kesempatan yang baik untuk mulai membimbing murid
menilai kemajuannya sendiri.
Dalam penerapannya, kelompok keterampilan mengajar kelompok kecil
dan perorangan masing-masing mempunyai tekanan yang berbeda.
Keterampilan mengorganisasikan kegiatan serta membimbing dan
memudahkan belajar lebih banyak terkait dengan mengajar kelompok
kecil sedangkan keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi
serta merencanakan dan melaksanakan kegiatan lebih banyak terkait
dengan pembelajaran perorangan.

16
DAFTAR PUSTAKA

Djalil, Aria dkk. 2006. Pembelajaran Kelas Rangkap. Jakarta:


Universitas Terbuka

Drs. Sunarwan, M. Pd

17