Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

ANALISIS PANGAN
KARBOHIDRAT

Disusun Oleh
Kelompok 13 :

Yehuda A. C. H 0908149
Annisa D. A. R. D. H 0908153
Lady Stephanie H 0908115
Frederica A. R. H 0909034
Ria A. W. H 1909017
Nor Suminar H 0908124

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010
ACARA V
KARBOHIDRAT

A. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum pada acara karbohidrat ini adalah:
1. Menentukan kadar gula reduksi dengan menggunakan metode
Nelson Somogyi.
2. Menentukan kadar serat kasar.
B. Tinjauan Pustaka
Secara biokimia, karbohidrat adalah polihidroksil-aldehida atau
polihidroksil-keton, atau senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa
ini bila dihidrolisis. Karbohidrat mengandung gugus fungsi karbonil
(sebagai aldehida atau keton) dan banyak gugus hidroksil. Pada awalnya,
istilah karbohidrat digunakan untuk senyawa yang mempunyai rumus
(CH2O)n, yaitu senyawa-senyawa yang n atom karbonnya tampak
terhidrasi oleh n molekul air. Namun demikian, terdapat pula karbohidrat
yang tidak memiliki rumus demikian dan ada pula yang mengandung
nitrogen, fosforus atau sulfur (Anonim, 2010).
Karbohidrat adalah kelompok nutrient yang penting dalam susunan
makanan sebagai sumber energi. Senyawa – senyawa ini mengandung
unsur karbon, hidrogen, oksigen dan dihasilkan oleh tanaman dengan
proses fotosintesa yang dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai
berikut:
klorofil
6 CO2 + 6 H2O cahaya matahari → C6H12O6 + CO2 (Sherrington,

1992).
Ikatan sederhana karbohidrat berfungsi terutama sebagai penyedia
energi atau kalori dalam ukuran – ukuran kecil. Sebanyak 50% (lima puluh
persen) kebutuhan energi tubuh dipenuhi oleh karbohidrat dalam ikatan
sederhana maupun kompleks. Sisanya dipenuhi oleh sumber lain terutama
lemak. Sebagai penyedia energi, ikatan sederhanakarbohidrat juga
berfungsi sebagai pembentuk struktural tubuh seperti sel – sel, sistem
saraf, dan persendian. Kelompok ikatan sederhana karbohidrat biasanya
diberi nama sebagai kelompok gula. Ada gula sederhana, heksosa, dan
pentosa (Wiryono, 2009).
Serat pangan (dietary fiber) berbeda dengan serat kasar (crude
fiber). Serat pangan adalah karbohidrat kompleks yang banyak terdapat
pada dinding sel tanaman, yang terdiri dari lignin, selulosa, hemiselulosa
yang tidak dapat dicerna oleh enzim – enzim pencernaan dan tidak dapat
diserap oleh sistem pencernaan manusia. Sedangkan serat kasar adalah
bagian dari pangan yang tidak dapat dihidrolisis oleh bahan – bahan kimia
seperti H2SO4 dan NaOH. Meskipun tidak dapat dicerna dan diserap, serat
pangan memiliki fungsi yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan
dan pencegahan berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes, kolesterol
tinggi, stroke, penyakit jantung koroner, kegemukan, serta gangguan
pencernaan seperti susah buang air besar, wasir, kanker kolon (Winarti,
2010).
Kacang gude (Cajanus cajan) keluarga dari leguminoseae yang
memiliki kandungan 22 % protein, 1,2 % lemak, 65 % karbohidrat, dan
3,8 % abu (Nwabugwu, 2009).
Tepung kacang gude merupakan komponen pangan yang sangat
baik dalam industri makanan ringan dan direkomendasikan sebagai bahan
untuk meningkatkan nilai gizi tanpa mempengaruhi nilai sensoris (Odeny,
2007).
Indeks glisemik kacang merah adalah 26, indeks glisemik untuk
kacang hijau adalah 76, kacang tunggak memiliki indeks glisemik 51,
gude 35, kacang kapri 30, dan kacang kedelai 31. Rendahnya IG (indeks
glisemik) kacang – kacangan bisa disebabkan oleh beberapa faktor,
kemungkinan karena kandungan pati resesten atau availabilitas patinya,
rasio amilosa dan amilo pektin, adanya serat pangan yang viskus atau zat
anti gizi misalnya inhibitor dan fitat (Noor, 2002).
Kacang – kacangan memberikan sekitar 135 kkal per 100 gram
bagian yang dapat dimakan. Jika kita mengkonsumsi kacang – kacangan
sebanyak 100 gram (1 ons), maka jumlah itu akan mencukupi sekitar 20 %
kebutuhan protein dan 20 % kebutuhan serat per hari. Meneurut ketentuan
internasional, jika suatu bahan atau produk pangan dapat menyumbangkan
lebih dari 20 % dari kebutuhan suatu zat gizi per hari, maka dapat
dinyatakan sebagai bahan atau produk pangan yang tinggi akan zat gizi
tersebut (Koswara, 2010).
Sebagai sayuran, biji muda digunakan segar, namun dalam jumlah
yang agak besar diolah melalui pengalengan. Polong hijau segar
dikonsumsi dalam jumlah besar. Secara keseluruhan, kacang gude
terutama digunakan sebagai penghasil biji kacang untuk membuat ’dahl’.
Biji kering mengandung sekitar 57 % karbohidrat dan 19 % protein,
sedangkan biji sekulen mengandung 20 % karbohidrat dan 7 % protein
(Edo, 2010).
Istilah serat pangan jga harus dibedakan dari istilah serat kasar
(crude fiber) yang biasa digunakan dalam analisa proksimat bahan pangan.
Serat kasar adalah bagian dari pangan yang tidak dapat dihidrolisis oleh
bahan – bahan kimia yang digunakan untuk menentukan serat kasar, yaitu
asam sulfat (H2SO4 1,25 %) dan natrium hidroksida (NaOH 1,25 %);
sedangkan serat pangan adalah bagia dari serat pagan yang tidak dapat
dihidrolisis oleh enzim – enzim pencernaan. Oleh karena itu, kadar serat
kasar nilainya lebih rendah dibandingkan serat pangan, karena asam sulfat
dan natrium hidroksida mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk
menghidrolisis komponen – komponen pangan dibandingkan dengan
enzim – enzim pencernaan (Muchtadi, 2001).
Penetapan konsentrasi gula total yang terkandung dalam sampel
dilakukan pada 1 mL sampel yang telah diencerkan dalam tabung reaksi
dengan cara yang sama seperti pada pembuatan kurva standar. Pembuatan
kurva standar gula pereduksi dilakukan dengan cara melarutkan 0,1 g
glukosa standar dalam 100 mL aquades sehingga diperoleh konsentrasi
1000 ppm. Larutan kemudian diencerkan dengan aquades sehingga
diperoleh konsentrasi; 0 (kontrol); 50; 100; 150; 200 ppm. Masing-masing
larutan tersebut kemudian ditambah dengan 1 mL pereaksi Nelson. Setelah
ditutup dan dicampur merata dan tempatkan dalam Water bath 100oC
selama 20 menit, kemudian didinginkan dalam suhu ruang dan
ditambahkan 1 mL pereaksi arsenomolibdat. Untuk mengurangi kepekatan
dapat ditambahkan aquades sebanyak 7 mL. Pembacaan absorbansi
dilakukan pada 720 nm kemudian dibuat hubungan antara absorban
dengan konsentrasi glukosa. Penetapan kadar gula pereduksi yang
terkandung dalam sampel dilakukan pada 1 mL sampel yang telah
diencerkan dalam tabung reaksi dengan cara yang sama seperti pada
pembuatan kurva standar. Derajat konversi (dextrose eqivalent/DE) dapat
diperoleh jika konsentrasi gula pereduksi dan jumlah gula total telah
diketahui (Sukandar, 2008).

C. Metodologi
1. Bahan
a. Kacang Tolo
b. Kacang Gude
c. Kacang tunggak
d. Kacang kedelai
e. Reagensia Nelson A dan B
f. Reagensia arsenomolibdat
g. Aquadest
h. Larutan glukosa standard
i. Alkohol 95 %
j. H2SO4 0,255 N
k. NaOH 0,313 N
2. Alat
a. Neraca Analitik
b. Pipet ukur 1 ml dan 10 ml
c. Beker glass
d. Spektrofotometer
e. Labu Takar
f. Tabung Reaksi
g. Corong Buchner
h. Oven
i. Erlenmeyer
j. Kertas saring Whatmann No. 41
k. Cawan Porselen
l. Pompa Vacum
m. Tanur
n. Pemanas Listrik

3. Cara Kerja
a. Analisis kadar gula reduksi metode Nelson Somogyi
Prinsip: Gula reduksi akan mereduksi kuprioksida menjadi
kuprooksida. Kuprooksida yang terbentuk direaksikan dengan
arsenomolibdat sehingga terbentuk molybdenum yang berwarna
biru, intensitasnya diukur dengan pengukuran absorbansi
menggunakn spektrofotometer pada panjang gelombang 510 – 600
nm.
Preparasi sampel:

Larutkan 10 gr sample menjadi 250 ml dengan aquadest


menggunakan labu takar 250 ml

Disaring

Disentrifuse hingga jernih


Pembuatan kurva standard:
Siapkan 6 tabung reaksi masing – masing diisi dengan 0; 0,2;
0,4; 0,6; 0,8; dan 1 ml larutan glukosa standard

Tambahkan aquadest dalam tiap – tiap tabung hingga mencapai


volume 1 ml untuk tiap – tiap tabung

Tambahkan 1 ml reagensia Nelson pada tiap – tiap tabung dan


panaskan dalam air mendidih selama 20 menit

Tambahkan 1 ml reagensia Arsenomolibdat pada tiap – tiap


tabung, kocok homogen sampai larut sempurna

Tambahkan 7 ml aquadest pada tiap tabung, kemudian dikocok

Tera Absorbansinya pada λ 540 nm dengan spektrofotometer

Buat kurva standar hubungan antara absorbansi dengan


konsentrasi

Tentukan persamaan kurva standarnya


Penentuan kadar gula reduksi sampel:
Ambil 1 ml larutan sampel jernih

Tambahkan 1 ml reagensia Nelson pada tiap – tiap tabung dan


panaskan dalam air mendidih selama 20 menit

Tambahkan 1 ml reagensia Arsenomolibdat pada tiap – tiap


tabung, kocok homogen sampai larut sempurna

Tambahkan 7 ml aquadest pada tiap tabung, kemudian dikocok

Tera Absorbansinya pada λ 540 nm dengan spektrofotometer

Tentukan kadar gula reduksi sampel dengan menggunakan


persamaan kurva standard
b. Analisis kadar serat kasar
Prinsip: Serat kasat diperhitungkan banyaknya zat – zat
yang tidak larut dalam asam encer ataupun basa encer dengan
kondisi tertentu, sehingga serat kasar merupakan residu dari bahan
makanan atau pertanian setelah diperlakukan dengan asam atau
alkali mendidih.

Keringkan kertas saring Whatman no 41 dalam oven 105 oC


selama satu jam dan ditimbang

Timbang 1 gram bahan kering sisa ekstraksi soxhlet, masukkan


ke dalam beker glass

Tambahkan 200 ml larutan H2SO4 0,255 N dan didihkan


selama 30 menit (dengan kadangkala digoyangkan)

Saring dengan penyaring Buchner dengan bantuan pompa


vacum

Cuci residu dengan air panas bebas asam

Panaskan kembali dengan 200 ml NaOH 0,313 N selama 30


menit

Disaring dan di cuci residu dengan K2SO4 10 %

Dicuci dengan aquadest panas kemudian dengan alkohol 95 %

Pindahkan residu ke cawan porselen

Keringkan dalam oven pada suhu 105 oC sampai berat konstan


(selama 5 jam)
D. Hasil dan Pembahasan
a. Analisa Kadar Gula reduksi Metode Nelson Somogyi
Tabel 5.1 Nilai absorbansi larutan standar (10 mg / 100 ml)
Aquadest Larutan Standar
Konsentrasi (x) Ao (y)
(ml) (ml)
1
0 1 /100 x 10 = 0,10 mg 1,380
0,8
0,2 0,8 /100 x 10 = 0,08 mg 1,180
0,6
0,4 0,6 /100 x 10 = 0,06 mg 0,840
0,4
0,6 0,4 /100 x 10 = 0,04 mg 0,654
0,2
0,8 0,2 /100 x 10 = 0,02 mg 0,442
1 0 0 mg 0,142

Tabel 5.2 Nilai Absorbansi Karbohidrat pada Sampel


Kel Sampel Ao % gula reduksi Rata – rata
1 0,358 1,0125
5 Bubuk 0,358 1,0125
1,0125
9 Kedelai 0,085 - 0,3769
13 0,136 - 0,1171
2 Bubuk 0,398 1,2175
6 0,398 1,2175
Kacang 1,5676
10 0,870 3,6216
14 Tunggak 0,201 0,2139
3 Bubuk 0,356 1,0034
7 0,356 1,0034
Kacang 0,6418
11 0,214 0,2801
15 Gude 0,214 0,2801
4 Bubuk 0,132 - 0,1375
8 0,132 - 0,1375
Kedelai 1,2606
12 0,590 2,1953
16 Pasaran 0,223 0,3259
Sumber : Laporan Sementara
Karbohidrat adalah polihidroksi aldehid atau polihidroksiketon
dan meliputi kondnesat polimer – polimer yang terbentuk. Ada
beberapa analisis karbohidrat yang biasa dilakukan antara lain analisis
total karbohidrat, analisis kadar pati, analisis serat kasar, analisis gula
total, analisis gula reduksi dan lain – lain. Dalam praktikum kali ini,
metode yang digunakan adalah analisis kadar gula reduksi dan kadar
serat kasar.
Dalam analisis dengan menggunakan metode Nelson Somogyi
ini mempunyai prinsip gula reduksi akan mereduksi kuprioksida
menjadi kuprooksida. Kuprooksida yang terbentuk direaksikan dengan
arsenomolibdat sehingga terbentuk molybdenum yang bewarna biru,
intensitasnya diukur dengan pengukuran absorbansi menggunakan
spektrofotometer pada panjang gelombang 510 – 600 nm. Ada
tidaknya sifat pereduksi dari molekul gula ditentukan oleh ada
tidaknya gugus hidroksil (OH) bebas yang relatif. Gugus hidroksil
yang reaktif pada glukosa (aldosa) biasanya terletak pada karbon
nomor satu (anomerik), sedangkan pada fruktosa (ketosa) hidroksil
reaktifnya terletak pada karbon nomor dua.
Komponen utama karbohidrat di dalam kedelai adalah
polisakarida tinggi yang mempunyai sifat tidak larut dalam air dan
tidak mudah dicerna, yaitu pentosan, galaktan, selulosa, dan
hemiselulosa. Sisanya terdiri dari gula reduksi, rafinosa dan pati dalam
jumlah sedikit (Yap, 1960; dalam Buchari S (1981)).
Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan, nilai rata-rata gula
reduksi yang diperoleh pada bubuk kacang kedelai adalah sebesar
1,0125 %, pada sampel kacang tunggak nilai rata-rata yang diperoleh
adalah sebesar 1,5676 %, pada sampel kacang gude nilai rata-rata yang
diperoleh adalah sebesar 0,6418 %, dan pada sampel kedelai di pasaran
nilai rata-rata yang diperoleh adalah sebesar 1,2606 %. Pada praktikum
ini, kelompok 13 (tiga belas) menggunakan sampel bubuk kedelai,
nilai absorbansi yang didapatkan adalah 0,136. Sehingga persen gula
reduksi yang didapatkan sebesar –0,1171. Nilai minus yang didapatkan
dimungkinkan karena angka absorbansi yang tidak masuk dalam
range, nilai range absorbansi standar yaitu 0,142 sampai dengan 1,380.
Sedangkan kandungan gula reduksi yang didapatkan adalah sebesar
0,0018 mg dan kadar gula reduksi sebesar –0,1171 %.
Menurut Pederson (1971) -dalam Buchari (1981)- komposisi
rata-rata dari kedelai adalah 40% protein, 17% karbohidrat, 18%
lemak, dan 4,6% abu. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan gula
reduksi sangat sedikit dalam bubuk kedelai dan kemungkinan adanya
kesalahan dalam pengambilan sampel dan ketidaktelitian praktikan
dalam pengambilan glukosa standard dan aquadest sehingga
peningkatan volume atau konsentrasi larutan standar yang semula
konstan menjadi tidak konstan.
Semakin banyak volume larutan standar, nilai absorbansinya
semakin tinggi karena jumlah gula yang mereduksi kuprioksida
semakin banyak dan jika ditambah arsenomolibdat konsentrasi warna
biru juga akan semakin tinggi. Peningkatan nilai absorbansi yang tidak
konstan ini menyebabkan nilai x atau mg glukosa dalam larutan
standar tidak sesuai dengan yang seharusnya.
b. Analisis Kadar Serat Kasar
Tabel 5.3 Analisa Kadar Serat Kasar

Kertas Sampel + Kertas


Berat Sampel % Serat
Kel Sampel Saring Saring setelah di
Awal (gr) (P) Kasar
(gr) (O) oven (gr) (Q)
1 Bubuk
0,7521 0,5746 0,6041 2,9217
2 Kedelai
3 Bubuk
0,9611 0,6136 0,6343 2,0568
4 Tunggak
5 Bubuk
0,9823 0,5960 0,6295 3,3271
6 Gude
7 Bubuk di
0,7589 0,6111 0,6594 4,8055
8 Pasaran
9 Bubuk
0,7546 0,6068 0,6260 1,9102
10 Kedelai
11 Bubuk
0,9611 0,6136 0,6343 2,0568
12 Tunggak
13 Bubuk
0,9823 0,5960 0,6295 3,3271
14 Gude
15 Bubuk di
0,8092 0,6228 0,6631 4,0028
16 Pasaran
Sumber : Laporan Sementara
Berdasarkan dapat tidaknya menghasilkan energi, karbohidrat
dapat dibedakan menjadi karbohidrat tercerna dan karbohidrat tidak
tercerna (serat). Serat kasar adalah senyawa yang tidak dapat dicerna
dalam organ pencernaan manusia. Serat kasar mengandung senyawa
selulosa, lignin, dan pentosa. Didalam analisis penentuan serat kasar
diperhitungkan banyaknya zat – zat yang tidak larut dalam asam encer
ataupun basa encer dengan kondisi tertentu sehingga serat kasar
merupakan residu dari bahan makanan atau pertanian setelah
diperlakukan dengan asam atau alkali mendidih.
Kadar serat kasar ditentukan secara kimia tetapi tidak
menunjukkan sifat serat fisiologis dan tidak bisa dijadikan sebagai
nilai total dietary fiber. Bila ternyata kadar serat kasar lebih besar dari
1%, abukan kertas saring beserta isinya, kemudian timbang sampai
bobot tetap. Perolehan kadar serat kasang pada bubuk kedelai adalah
sebesar 2,9217% dan 1,9102, untuk bubuk tunggak nilai yang
didapatkan adalah sebesar 2,0568%, pada bubuk gude yaitu 3,3271%,
dan bubuk yang dipasaran sebesar 4,8055% dan 4,0028%.
Dalam praktikum kali ini, sampel yang digunakan adalah hasil
dari praktikum sebelumnya pada uji lemak yang sudah diekstraksi atau
disoxhlet yaitu bubuk gude. Kacang gude memiliki persentasi protein
sebesar 22,30%, lemak 1,70%, serat kasar 0,50% (Murtidjo, 2010).
Dari hasil praktikum didapatkan hasil pada berat awal sampel yaitu
0,9823 gram, berat kertas saring yaitu 0,5960 gram, berat sampel dan
kertas saring setelah di oven yaitu 0,6295 gram, dan didapatkan hasil
kadar serat kasar sebesar 3,3271 %. Mula – mula sampel dicuci dengan
larutan asam mendidih kemudian dicuci dengan air panas sampai tidak
basa lagi dan terakhir dicuci dengan alkohol. Hasil yang ditunjukkan
menggambarkan bahwa pada bubuk gude terdapat banyak serat
sehingga hasil akhir yang diperoleh tidak sesuai dengan teori.

E. Kesimpulan
Pada praktikum karbohidrat, dapat diambil kesimpulan antara lain:
1. Prinsip dari analisis kadar gula reduksi metode Nelson Somogyi
adalah gula reduksi akan mereduksi kuprioksida menjadi kuprooksida.
Kuprooksida yang terbentuk direaksikan dengan arsenomolibdat
sehingga terbentuk molybdenum yang berwarna biru, intensitasnya
diukur dengan pengukuran absorbansi 510 – 600 nm.
2. Semakin banyak kuprooksida yang terbentuk, semakin besar
intensitas warna biru dan nilai absorbansinya juga semakin tinggi.
3. Kadar gula reduksi bubuk kedelai dengan menggunakan metode
Nelson Somogyi sebesar – 0,1171 %.
4. Serat kasar merupakan senyawa yang tidak dapat dicerna dalam
organ pencernaan manusia dan mengandung senyawa selulosa, lignin,
dan pentosa.
5. Pembuatan kurva standar dengan glukosa 10 mg/100 ml
didapatkan persamaan Y = 0,159 + 12,27 x.
6. Kadar serat kasar Kacang Gude adalah 3,3271% (wb).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Karbohidrat. http://www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 19
November 2010 pukul 07.00 WIB.
Edo. 2010. Kacang Gude. http://www.agriculturelands.net. Diakses pada tanggal
19 November 2010 pukul 07.00 WIB.
Koswara, Sutrisno. 2010. Kacang-kacagan, Sumber Serat yang Kaya Gizi. E-book
pangan.
Muchtadi, Deddy. 2001. Sayuran sebagai Sumber Serat Pangan untuk Mencegah
Timbulnya Penyakit Degeneratif. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
vol XII no. 1. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta. IPB. Bogor.
Noor, Zuheid, et all. Indeks Glisemik Kacang – kacangan. Jurnal Teknologi dan
Industri Pangan vol XIII no. 3. Staff of the Faculty of Medicine. Gajah
Mada University. Yogyakarta.
Nwabugwu, C. C, Onweluzo, J. C. 2009. Fermentation of Millet and Pigeon Pea
Seeds for Flour Production: Effects on Composition and Selected
Functional Properties. Pakistan Journal of Nutrition. Asian Network for
Scientific Information. Departement of Food Science and Technology.
University of Nigeria. Nigeria.
Odeny, Damaris A. 2007. The Potential of Pigeonpea in Africa. Journal
Compilation. Natural Resources Forum 31. United Nation. Blackwell
Publishing Ltd. United State of America.
Sherrington, K. B. Gaman, P. M. 1992. Ilmu Pangan Pengantar Ilmu Pangan,
Nutrisi, dan Mikrobiologi Edisi Kedua. Gajah Mada University Press.
Yogyakarta.
Sukandar, Dede. Et all. Konversi Pati Ganyong (Canna edulis Ker.) Menjadi
Bioetanol melalui Hidrolisis Asan dan Fermentasi. Jurnal Biodiversitas
volume 9, nomor 2. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Tangerang.
Winarti, Sri. 2010. Makanan Fungsional. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Wiryono, P, Dr, Ir, P,sj. 2009. Nutrasetika. Sanata Darma. Yogyakarta.
Yap (1960) dalam Buchari, S. (1981). Mempelajari Pengaruh Jenis Bahan dan
Penambahan Terhadap Mutu Tepung Tempe Selama Penyimpanan.
Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Mekanisasi dan teknologi Hasil
Pertanian. Bogor.

LAMPIRAN
a. Analisis kadar gula reduksi metode Nelson Somogyi
10
250
25
100
1 A0
a = 0,159
b = 12,27
y = a + bx
0,136 = 0,159 + 12,27x
0,136 −0,159
x = 12 ,27

x = - 0,0018%
− 0,0018 x 6250 x100
Kadar Gula Reduksi = 10000 mg
x 100%

= - 1171 %

b. Analisis serat kasar


(Q −O )
% Serat Kasar = P x fp x 100%

0,6295 − 0,5960
= 1,4714 x0,6843 x 100%

= 3,327 %
G 1,0069
Dengan nilai fp = = 1,4714 = 0,6843
I