Anda di halaman 1dari 2

Dominasi penuh muslihat

Leo Sutrisno

Judul tulisan ini dipinjam dari judul sebuah buku karangan Haryatmoko, seorang
rohaniwan, yang terbit pada tahun 2010 ini. Pada bagian luar sampul belakang buku itu
dituliskan bahwa ketidakadilan, diskriminasi, dan kekerasan selalu menimbulkan korban.
Secara factual korban dirugikan dan secara structural korban berada dalam posisi yang
lemah. Karena tidak mampu membela diri dan juga tidak dapat perlindungan maka ia
berada dalam posisi didominasi.

Dominasi itu dapat berlangsung di dalam banyak bidang. Di antaranya dominasi di


bidang politik, agama, gender, pendidikan, dan dominasi capital [sumber daya]. Melalui
berbagai bentuk muslihatnya, dominasi-dominasi ini tidak terasakan dan bahkan justru
disetujui oleh korbannya baik secara perorangan maupun secara kelompok.

Dampaknya adalah korban ‘terperangkap’ ke dalam kepatuhan, fanatisme, radikalisme,


konsumerisme, atau politik pencitraan. Akibatnya, daya kritis manusia menjadi lemah,
tak berdaya.

Di samping itu, ajakan kritis terhadap lembaga-lembaga produksi kekuasaan [pendidikan,


agama, ideology] akan selalu menghadapi penolakan para pendukungnya. Karena, korban
kekerasan menyetujui dominasi [baca: membutuhkan] untuk memberi jaminan akan
ketidakpastian yang dihadapinya. Meski, mereka juga sadar bahwa jaminan itu
mensyaratkan larangan, penafian, aturan ketat, dan kepatuhan. Padahal, jaminan itu
masih berupa janji. Sayang, janji itu memang sekedar janji. Sangat jarang yang terwujud.

Akumulasi dari keadaan seperti itu, pada suatu titik tertentu membuat korban menjadi
jenuh [dan muntah]. Pada titik itu, jika ada pemicu yang sangat kecil pun kekerasan fisik
akan terjadi secara tidak terkendali. Pertikaian antar etnis, antar kampung, antar wilayah
yang sering terjadi dapat dipakai sebagai ilustrasi.

Kebiasaan buruk ini tidak terlepas dari masalah pendidikan. Pendidikan melalui praktek
dan pembiasaan dalam lingkungan social tertentu menentukan habitus seseorang atau
kelompok. Habitus menjadi penghasil praktik-praktik kehidupan yang sejalan dengan
struktur social. Kebiasaan buruk kait-mengkait dengan praktek social. Untuk
menghentikan kebiasaan buruk seperti ini perlu dilakukan dekonstruksi social dengan
cara mengubah habitus.

Mengubah habitus berarti mengurai simpul-simpul interaksi social. Ada tiga simpul
interaksi social yang perlu dicermati, yaitu: komunikasi, kekuasaan dan sangsi/moralitas.
Ketiga simpul ini perlu diurai agar dapat dibangun suatu habitus baru dengan praktek-
praktek social yang baru.

Misalnya kebiasaan kita saling berebutan perlu diubah menjadi kebiasaan antre. Beberapa
kantor pelayanan menerapkan sistem ambil nomor urut. Siapa yang datang awal akan
mendapat nomor-nomor kecil. Pemanggilan untuk dilayani berdasarkan urutan nomor
yang dipegangnya. Mereka yang datang lebih dahulu akan mendapatkan pelayanan lebih
dahulu. Sebaliknya yang datang belakangan juga akan mendapatkan pelayanan
belakangan. Tidak ada celah yang memberi kesempatan orang mendahului yang lain. Ada
sebuah ‘aturan’ yang memaksa. Ada aturan yang dapat langsung memberi sangsi, yang
lambat mendapat pelayanan lebih belakang.

Model pengubahan habitus system antre semacam ini mencakup tiga simpul interaksi
social: komunikasi, kekuasaan dan sangsi. Pertama, aturan system antre dikomunikasikan
kepada khalayak lebih dahulu. Kekuasaan ditunjukkan dengan aturan yang tidak
mengijinkan orang menyerobot. Sangsi berbentuk cara pemanggilan untuk dilayani, yang
datang lebih dahulu mendapat pelayanan juga lebih dulu.

Contoh ini dapat dilihat di pintu lintas batas Entikong. Ketika penumpang sedang turun
dari mobil masih berebutan. Begitu pintu gerbang dibuka, penumpang juga berlarian
berebut lebih dulu sampai di loket pelayanan imigrai. Begitu sampai di ruang
keemigrasian, mereka langsung memposisikan diri dalam antrean yang rapi menunggu
panggilan pelayanan imigrasi. Sayang, hanya berlangsung di sekitar tempat in, walaupun
orang yang sama.

Resolusi damai yang selalu dilakukan setiap terjadi konflik dengan membuat perjanjian
damai antara warga yang saling bertikai juga tidak pernah berlangsung langgeng karena
bukan mengubah habitus. Habitus baru yang dibangun mesti yang tidak ada lagi dominasi
antara yang satu dengan yang lain. Jika ini dapat terbangun maka singguh damailah Bumi
ini. Semoga!