Anda di halaman 1dari 2

Internalisasi kesetiakawanan social

Leo Sutrisno

Tanggal 20 Desember ditetapkan sebagai Hari Kesetiakawanan Social


Nasional [HKSN]. Puncak acara KHSN 2010 dilakukan di Sentul Babakan
Madang Kabupaten Bogor tanggal 20 Desember ini.

Bagi orang awam kesetiakawanan social merupakan perwujudan dari rasa


kebersamaan antar manusia. Meminjam ungkapan para bijak kesetiakawanan
social berarti berat sama dipikul ringan sama dijinjing.

Dalam prakteknya, mereka yang berkecukupan membantu mereka yang


berkekurangan. Mereka yang kaya membantu mereka yang miskin. Mereka
yang berlebihan membantu mereka yang kekurangan. Terutama terhadap
mereka yang kena bencana atau musibah. Apakah tindak seperti ini sungguh
wujud setia kawan?.

Sebagai pembanding, mari kita lihat apa yang terjadi di negara maju, ambil
sebagai contoh Australia. Pada suatu waktu seorang siswa SD kelas 4, Mia,
mengambil pelajaran tambahan bahasa Indonesia. Ia mendatangi saya dan
bercerita bahwa selama satu bulan ke depan ia akan menghapalkan 100 kata
Bahasa Indonesia. Ia meminta saya untuk mensponsori tiap satu kata 20 sen
[Dolar Australia]. Satu bulan kemudian, ia kembali mendatangi saya dan
meminta saya untuk menguji, apakah ia sungguh hapal dengan 100 kata itu
atau tidak. Secara acak saya sebutkan sepuluh kata, ternyata betul sembilan.
Ia menyuruh saya memberikan uang sponsornya 90 x 20 sen = 1 800 sen atau
18 dolar Auatralia. Uang sebanyak itu dikumpulkan di sekolahnya bersama
kawan-kawannya yang lain, dikirimkan ke Indonesia untuk membantu para
siswa sebuah SD yang pernah dikunjungi gurunya. Sebagai catatan tambahan,
saat itu saya beri lembaran 20 dolar dan saya katakan yang 2 dolar silahkan
ambil saja. Tetapi, ia menolak dan berkata ’Bukan hakku’.

Ilustrasi yang lain, saya pernah diajak seorang ibu, 60-an, mengendarai
mobilnya selama 5 jam menyusuri Pacific Highway, dari Melbourne ke sebuah
acara makan malam untuk penggalangan dana yang akan dikirimkan ke salah
satu LSM di Indonesia. Peserta yang hadir ternyata para pensiunan yang
sebaya dengan ibu tadi. Dana yang terkumpul 2 100 dolar Australia. Kami
sampai Melbourne kembali sekitar pukul 01.00 subuh.

Pelajaran apa yang dapat diambil dari ilustrasi ini? Pertama, menyediakan
dana sosial itu sudah merupakan kewajiban. Karena itu, dilakukan oleh semua
orang dan segala usia, dari Mia yang baru kelas 4 SD hingga para lansia.
Kedua, dana dikumpulkan dari siapa saja, tidak hanya dari mereka yang telah
berkecukupan. Ketiga, dana itu diperoleh dengan cucuran keringat bukan
’nangguk’, berkeliling membawa proposal.

Mengapa seperti itu dapat terjadi?


Di sana, ada proses internalisasi yang sistematis sejak anak-anak baik di
sekolah maupun di rumah masing-masing. Misalnya, seperti yang dilakukan Mia
dan kawan-kawan.

Di hari-hari tertentu, misalnya Hari Palang Merah, dilakukan gerakan massal


yang serentak dilakukan selama satu hari penuh di seluruh wilayah. Apa yang
dilakukan dan hasilnya ditayangkan lewat media massa. Bisa jadi yang
dilakukan salah satu statsiun tv swasta ketika menggalang dana bencana
Merapi yang lalu dapat dijadikan contoh. Ada pagelaran seni, penonton
menyumbang. Jadi, tidak cuma-cuma.

Pemerintah melakukan kebijakan Tax deductable. Pajak yang harus dibayar


oleh masyarakat dapat dikurangi dari dana untuk kegiatan sosial yang telah
dikeluarkan. Tentu, masih banyak program-program yang lain yang dilakukan.

Pendek kata, kesetiakawanan sosial tidak hanya dipidatokan dan disuguhkan


ada sejumlah dana [yang disediakan oleh para orang kaya dan pejabat] kepada
khalayak. Tetapi, harus ada internalisasi sejak anak usia dini. Mereka diasah
perasaannya agar menjadi peka akan keberadaan orang lain. Mereka dilatih
bagaimana menggalang dana untuk membantu orang lain agar mereka tidak
’nangguk’ saja, melalui kotak amal dan proposal. Mereka dididik agar memberi
bantuan kepada yang lain itu merupakan kewajiban sebagai wujud
penghargaan dan penghormatan pada harkat dan martabat manusia. Semoga!