Anda di halaman 1dari 2

Lebaran di Kuching

Leo Sutrisno

Karena ada libur cuti bersama lebaran, kami sekeluarga pergi berlibur ke Kuching.
Berangkat dari Pontianak, tepat menjelang takbiran, 9 September, pukul 21.00.
Perjalanan, Pontianak-Entikong sangat lancar. Sesekali terdengar takbir yang
mengumandang dari mesjid atau surau di sisi kanan-kiri jalan yang dilewati.

Tiba di Entikong tepat pukul 04.25. Kami langsung berhamburan menuju pintu gerbang.
Pukul 05.00 pintu gerbang dibuka. Karena banyak penumpang, urusan kepabeanan di
kedua pintu gerbang baru betul-betul beres sekitar pukul 07.30. Hampir dua setengah jam
diperlukan untuk menyelesaikannya. Syukurlah semua bersedia mengantri dengan tertib
tanpa harus berdesakan.

Petugas pabean Indonesia cukup tanggap terhadap para ibu yang membawa anak kecil
dan terhadap para lanjut usia. Mereka ini diberi kesempatan lebih dahulu. Pengantri yang
pun tidak ada yang protes.

Jika di pintu Indonesia hanya dilayani oleh dua pintu, lain halnya di Malaysia. Para
petugas di pintu Malaysia sangat memperhatikan situasi. Pada awalnya hanya dibuka dua
loket, tetapi ketika semakin panjang antriannya, maka langsung dibuka loket-loket yang
lain. Terakhir dibuka enam loket.

Tiba di terminal Kucing sekitar pukul sepuluh pagi. Entikong [Tebedu] Kucing dapat
ditempuh sekitar 2 hingga 21/2 jam perjalanan dengan bus. Bus antar Negara sudah
memiliki terminal. Lian dengan di Pontianak yang harus ‘ngetem’ di depan kantor agen
sehingga selalu menutup tintu kanan-kirinya.

Membandingkan keadaan sekitar jalan di dua sisi-Indonesia dan Malaysia- ibarat bumi
dan langit. Di sisi Indonesia sungguh ketinggalan. Di sisi Malaysia, di kanan-kiri jalan
hampir semua berparit. Lereng-lerengnya juga berparit buatan sehingga tidak ada air
lereng yang tertumpah di jalan. Sekitar satu meter dari tepi jalan rumput terpotong
pendek. Rambu lalu lintas lengkap dan jelas. Tampaknya, keselamatan menjadi tolok
ukurnya.

Keadaan rumah penduduk juga jauh berbeda. Jika di sisi Indonesia dapat dilihat
rumah/banguan megah di sekitar rumah yang kumuh maka di sisi Malaysia banguan
rumah penduduk kurang lebih sama. Rumah berbentul L satu lantai, berteras, dan
bergarasi terbuka. Pada umumnya hanya ada sebuah mobil yang diparkir di sana.

Selama tiga hari menyusuri kota Kuching terasa ada perbedaan antara Kuching Selatan
dan Kuching Utara. Di bagian Kuching Selatan banguan lebih tertata. Jalan-jalan hanya
dipenuhi dengan mobil. Sangat jarang ditemukan pengendara sepeda motor. Memang,
ada satu dua pengendara sepeda motor yang lewat. Mereka tetap menggunakan helm
standar. Terkesan pemakai jalan lebih tertib dari Kuching Utara.

Ambil sebagai contoh, di depan Hotel Margaretha terdapat ‘lampu tanda’ – lampu
stopan- bagi pejalan kaki. Jika lampu di situ menyala hijau, walaupun tidak ada orang
yang menyeberang semua pengendara mobil berhenti. Tetapi, sebaliknya, jika lampu
menyala merah, ada orang nekat menyeberang maka pengendara mobil akan
mempelototi. Tentu ada yang melanggar juga.

Kondisi ini agak berbeda bagi Kuching Utara. Dari jendela lantai 8 hotel tempat kami
menginap dapat dilihat banyak pengendara sepeda motor yang tidak memakai helm.

Menurut pemandu wisata di Kuching Utara dihuni oleh penduduk pribumi. Orang Cina
tidak boleh membeli rumah-tanah di bagian ini. Sebaliknya, di Kuching Selatan, siapa
saja boleh tinggal. Karena itu, harga rumah dan tanah jauh lebih mahal.

Selama Hari Raya Idul Fitri, Taman River Bank terasa sepi. Sangat jauh berbeda
dibadingkan hari-hari biasa. Semua kios pun tutup. Tidak hanya, kios hampir semua toko
tutup kecuali ‘Super Market’. Katanya, karyawan berlibur.

Karyawan Moslem yang berlibur juga terasa di Rumah Melayu, Serawak Cultural
Village. Walaupun dilaksanakan ‘Rumah Terbuka’-Open hause, tidak ada satu pun
karyawan yang Moslem. Mereka digantikan oleh karyawan dari Rumah Bidayu – Dayak
Kristen-Katolik dengan memakai pakaian Muslimah.

Saya tidak tahu di Rumah Konjen Indonesia di Kuching. Karena saya tidak pergi ke sana.
Mungkin para karyawan justru tidak ‘libur’ karena harus menyiapkan .’open haus’ di
rumah konjen.

Bunyi meriam karbit, sekalipun di dekat Astana, tidak sekeras bunyi meriam karbit
Pontianak. Sesekali terlihat kembang api yang meledak di udara.

Selama dua hari, siaran TV-1, TV-2, dan TV-3 penuh dengan nuansa perayaan Hari Raya
Idul Fitri. Beberapa pembicaraan menyatakan bahwa acara Rumah Terbuka itu menjadi
khas Malaysia serta dapat dijadikan kegiatan silahturahmi. Rumah Terbuka di kedutaan
besar Indonesia pun juga ditayangkan.

Kesan saya, hari raya Idul Fitri, bagi umat Muslim sungguh digunakan untuk menjalin
silaturahmi. Hampir tidak ada masyarakat Muslim yang mengunjungi tempat-tempat
wisata. Ada satu dua pengunjung dari Kuala Lumpur.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf kepada pembaca. Borneo Tribun.