Anda di halaman 1dari 3

Obama: pemimpin yang humanis

Leo Sutrisno

Menyimak selama kurang dari dua jam kegiatan Presiden Obama, tanggal 10
November 2010, di Indonesia menghasilkan kesan bahwa ia merupakan sedikit
pemimpin dunia yang sungguh humanis. Itu tercermin baik pada saat
mengunjungi mesjid Istiqal maupun pada saat memberikan kuliah umum di
kampus Universitas Indonesia.

Di mesjid Istiqal, dapat disaksikan mimic Presiden Obama yang sangat ramah
bercakap-cakap, sambil berjalan, dengan tuan rumah. Seluruh perhatiannya
tercurah dan terarah kepada lawan bicara.

Dapat disaksikan juga pada Nyonya Obama. Pakaiannya menyesuaikan dengan


lingkungan. Tertutup rapat. Tangannya pun tidak ‘malang-melintang’ seperti
kebiasaan orang Barat di dunianya. Kedua telapak tangan terkatup rapat di
depan [Jawa: ngapu rancang]. Sebuah ekspresi sikap hormat yang standar
[Jawa].

Di mimbar kampus Universitas Indonesia, dapat disaksikan seorang presiden


dari Negara adi daya yang sangat autentik [dari lubuk hatinya] menunjukkan
siapa dirinya. Ia buka dengan ucapan ‘Selamat pagi’. Dilanjutkan dengan
ucapan standar orang Indonesia setiap kali akan berbicara di depan orang
banyak. ‘Assalamalaikum, salam sejahtera’.

Untuk membangkitkan emosi pendengarnya, diucapkanlah kata ‘Pulang


kampong, nih!’ diikuti dengan senyumnya yang tulus. Presiden Obama pulang ke
kampong halamannya, Jakarta. Dari tahun 1967 hingga 1971, ia tinggal di
Menteng. Disebutkan ia tinggal di sebuah rumah yang kecil di sana bersama
ibu dan ayah tirinya.

Ia mengingatkan keadaan Jakarta tahun 1960-an yang sangat jauh berbeda


dengan Jakarta dewasa ini. Saat itu hanya ada bangunan hotel Indonesia yang
menjulang tinggi di kota Jakarta. Ia juga ingat hanya ada sata toko swalayan
Sarinah [dalam perjamuan makan malam kenegaraan diucapkan ‘Surinah’].
Dengan tulus ia berkata, saat ia masih kecil, saat masih tinggal di Menteng,
tidak membayangkan ia akan menjadi seorang presiden. Apalagi seorang
presiden sebuah Negara besar, AS. Di perjamuan makan malam ia sebutkan
tidak membayangkan, ketika masih kecil, akan masuk gedung Istana Negara.

Kata-kata para penjual sate menjajakan dagangannya, dipikul seperti penjual


sate madura, juga ditirukan dangen persis dan jernih. Kata-kata nasi goreng,
bakso, emping, krupuk tidak luput dari perhatiannya.

Dalam pidato selanjutnya, Presiden Obama mengingatkan bahwa Indonesia


memiliki harta yang tak ternilai, yaitu “Bineka Tunggal Ika”. Kata ini
diucapkan dua kali. Bahkan, menurutnya, “Bineka Tunggal Ika” dapat
digunakkan di seluruh dunia.

Demikian juga kata Pancasila. Dua kali kata itu dilontarkan. Pesannya Pancasila
mengandung nilai-nilai yang universal, termasuk dalam bidang religius. Ia
ceritakan bahwa ayah tirinya seorang Muslim, tetapi memberi kebebasan
padanya untuk memilih sendiri agama yang akan dipeluknya.

Di ujung pidatonya, ia menggunakan bahasa Indonesia “Kepada seluruh bangsa


Indonesia” yang diikuti dengan kata-kata standar penutup pidato/sambutan
ala Indonesia. Di luar rencana protokoler, selesai pidat [tepat 30 menit],
Presiden Obama turun menuju tempat duduk pendengarnya. Selma lima menit
ia bersalaman dan mungkin juga bertegur sapa kepada para undangan. Tidak
lupa menebarkan senyum yang tulus dari lubuk hatinya.

Ia sungguh seorang pemimpin, seorang leader. Seorang pemimpin yang selalu


do the right thing. Seorang pemimpin yang baik akan selalu bertanya: why
things are done the way they are. Selain itu, ia juga mampu to recognize the
value and potential of doing things differently. Itu yang dilakukan oleh
Presiden Obama. Kali ini ia menjadikan dirinya sebagai juru bicara Indonesia
bagi dunia bukan sebagai tamu Negara Indonesia.

Sayang, demi keselamatan penerbangan, untuk menghindari debu vulkanik


Merapi, Presiden Obama meninggalkan Indonesia dua jam lebih cepat dari
yang sudah dijadwalkan. Istrinya meninggalkan Indonesia lebih awal lasung ke
Amerika setelah transit di Jerman.
Terima kasih, Bapak Obama. Semoga yang engkau lakukan menjadi ispirasi
bagi para pemimpin kami. Semoga mereka menjadi lebih humanis ketimbang
politis dan robotis. Semoga!