Anda di halaman 1dari 3

Penetapan [tidak] melanggar HAM

Leo Sutrisno

Tambur wis ditabuh, suling wis muni. Holopis kuntul baris, ayo dadi siji.
Bareng para prajurit lan senopati. Mukti utawa mati manunggal kawula Gusti.
Menyerang tanpa pasukan. Menang tanpa merendahkan. Kesaktian tanpa ajian.
Kekayaan tanpa kemewahan. Tenang bagai ombak. Gemuruh laksana Merapi
[Yogya Istimewa]

Syair lagu ini dinyanyikan Marzuki Mohammad alias Kill the DJ di atas
panggung yang berada di halaman gedung DPRD DIY di hadapan warga DIY,
hari Senin, 13 Desember 2010. Kemudian, semua ikut bernyanyi. Menggugah
semangat warga Yogya tentang keistimewaan DIY.

Berbagai elemen masyarakat, seperti siswa SMA, termasuk 700-an siswa


SMA de Britto, tukang becak, petani, perias salon, dukuh, lurah, buruh,
kepala desa, veteran perang, seniman, mahasiswa, pedagang kaki lima,
akademisi, serta berbagai profesi lainnya datang dengan satu sikap dan tekad
mendukung penetapan. Puluhan ribu warga datang menyaksikan Rapat
Paripurna DPRD DIY dengan agenda penentuan sikap politik DPRD DIY
tentang pengisisan gubernur dan wakil gubernur dalam RUU Keistimewaan
DIY.

Rapat Paripurna dibuka tepat pukul 12.00 dengan diawali menyanyikan lagu
Indonesia Raya. Sikap politik yang dihasilkan adalah: 1. Mempertahankan
Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai daerah istimewa dalam bingkai dan
sistem pemerintahan NKRI. 2 Mengusulkan pengisisan jabatan gubernur dan
wakil gubernur DIY melalui mekanisme penetapan. 3. Penetapan sebagaimana
yang dimaksud di atas dilakukan dengan cara menetapkan Sultan Hamengku
Buwono dan Sri Paduka Paku Alam yang bertahta sebagai Gubernur dan wakil
Gubernur DIY. 4. Mendesak pemerintah dan DPR Ri untuk segera membentuk
dan menyelesaikan undang-undang keistimewaan DIY dengan mendasarkan
pada aspek historis, filosofis, yuridis, dan sosiopolitik DIY.

Masyarakat DIY memilih jabatan gubernur dan wakil gubernurnya diisi


dengan cara penetapan, yaitu: menetapkan Sultan Hamengku Buwono dan Sri
Paduka Paku Alam yang bertahta sebagai Gubernur dan wakil Gubernur DIY.
Pertanyaan yang muncul adalah: apakah cara ini tidak melanggar Hak Azasi
Manusia [HAM]?

Dalam UUD 1945 yang telah diamandemen, 26 butir-butir HAM dimuat pada
Bab X, Pasal A-J. Paling tidak ada dua ayat yang dapat dikaitkan dengan
pengisian jabatan gubernur dan wakil gubernur itu. Kedua ayat itu adalah:
setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam
pemerintah [Bab X, Ps. 28D:3]; dan setiap orang wajib menghormati hak asasi
manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. [Bab X, Ps. 28J:1].

Keberadaan kedua ayat ini tampaknya akan dilanggar bila cara penetapan
gubernur dan wakil gubernur DIY akan dilaksanakan. Walaupun, dalam
menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada
pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-
mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan
orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan
moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam suatu
masyarakat demokaratis. [Bab X, Ps. 28J:1]

Sungguhkah akan ada pelanggaran HAM?


Hingga kini, sebagian warga Yogyakarta masih lebih kuat melaksanakan etika
kebijaksanaan dari pada etika kewajiban. Dalam etika kebijansanaan
digunakan prinsip kerukunan. Demi kerukunan, orang dilarang melakukan
konflik secara terbuka. Semua kepentingan individu hendaknya ’ditekan’ agar
suasana damai dapat diwujudkan.

Dalam prinsip kerukunan tidak ada tekanan dari luar. Yang ada adalah
’larangan terhadap konflik yang terbuka’ agar terjadi suasana damai . Dan,
pada umumnya masyarakat Yogya akan memilih suasana damai itu. Karena itu,
mereka akan menghindari konflik yang terbuka kepada siapapun, apalagi
terhadap Raja- Ngarso Dalem. Mereka merelakan diri untuk dipimpin oleh
Ngarso Dalem, walaupun dalam hatinya ia merasa bahwa ia pun mampu dan
layak untuk menduduki jabatan gubernur atau wakil gubernur DIY itu.

Karena itu, sebagai pilihan untuk merelakan diri dipimpin oleh Sultan dan Sri
Paduka Paku Alam maka di situ tidak terjadi pelanggaran HAM. Dengan
perkataan lain, pengisian jabatan gubernur dan wakil gubernur DIY dengan
cara ditetapkan bagi Sultan dan Sri Paduka paku Alam yang bertahta tidak
melanggar Hak Azasi manusia. Semoga!