Anda di halaman 1dari 2

Sumber Daya Manusia atau Manusia?

Leo Sutrisno

Malam tanggal 1 Muharam di kalangan masyarakat Jawa di kenal sebagai malam 1 Sura.
Pada malam itu, sebagian besar orang Jawa, khususnya dari kalangan menengah bawah
melaksanakan tirakatan. Ada yang tidak tidur semalam suntuk. Ada yang sengaja
mengunjungi makam-makam atau petilasan yang dianggap keramat. Ada juga yang
berjalan kaki sepanjang malam sembari tidak mengucap sepatah kata pun. Tujuan laku
tirakat itu adalah pembersihan diri agar ketika memasuki tahun yang baru disertai dengan
hati yang telah bersih.

Senada dengan semangat seperti itu, ada baiknya jika memikirkan kembali penggunaan
istilah Sumber Daya Manusia (SDM) yang belakangan ini semakin intens. Bahkan,
sebagian pejabat negara pun menggunakan kata SDM yang merujuk pada rakyat atau
bangsa. Pertanyaannya adalah tepatkah penggunaan istilah itu?

Kata Sumber Daya Manusia [SDM] merupakan padanan dari istilah human resources.
Human resources diartikan sebagai bagian dari suatu organisasi yang berfungsi untuk
mencari, melatih, menggaji, membina serta mengeliminasi orang-orang yang berkerja
pada organisasi tersebut.

Istilah ini digunakanl secara intensif sejak tahun 1960-an ketika di kalangan para pelaku
ekonomi di Amerika Serikat mengadakan reformasi perusahaannya. Di bawah cakupan
factor produksi, istilah SDM berada setingkat dengan Sumber Dana serta sumber-sumber
yang lain untuk mewakili para buruh-pekerja-karyawan. Karena itu, di mata para pemilik
perusahaan SDM juga dipandang sebagai investasi pada bidang manusia, human capital.

Secara umum ada dua fungsi pokok dari SDM dalam suatu perusahaan. Pertama untuk
mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin. Kedua untuk mem[erkesil factor resiko
hingga sebesar mungkin.

Terkait dengan fungsi yang seperti itu, maka membicarakan SDM berarti membahas
tentang penjaringan, seleksi, serta pemilihan calon karyawan, kompensasi/upah,
penghargaan, pelatihan, dan pengembangan karyawan dengan tujuan untuk meningkatkan
keuntungan organisasi sebesar mungkin. Pertanyaan lebih jauh adalah apakah kegiatan
semacam ini sudah mencakup manusia seutuhnya?

Mari kita dalami tentang manusia. Secara umum manusia itu dapat dikelompokkan
menjadi dua golongan, mereka yang menganggap dunia ini sudah baku dan mereka yang
menganggap dunia ini masih terbuka. Mereka yang menganggap dunia ini sudah baku
akan bersikap konservatif, statis dan stabil. Karena itu, mereka berpandangan bahwa
kebenaran dan keyakinan yang dipegangnya tak tergoyahkan lagi. Tidak perlu
dipertanyakan lagi. Mereka tenang dan percaya diri.
Bagi mereka yang memandang dunia ini terbuka, mereka bersifat dinamis dan progresif.
Apa yang ada saat ini bersifat sementara. Ada ketidakpastian dalam dirinya. Karena itu,
mereka akan selalu bertanya-tanya.. Pertanyaan yang mendasar bagi mereka ini terkait
dengan makna akan hidup mereka. Ada sejumlah pertanyaan yang muncul sewaktu-
waktu seperti: Apa arti hidup ini? Apa nilainya? Bagaimana kita dapat mengerti? Dimana
akhirnya? Serta, apa peruntukannya?.

Pertanyaan yang lebih jauh dari itu terkait dengan kemungkinan ultim manusia. Apakah
ada kehidupan di seberang sana? Apakah ada kehidupan setelah kematian?. Pertanyaan
semacam ini juga akan muncul dari kelompok pertama, kelompok yang menganggap
bahwa dunia ini mapan. Jika mereka dalam situasi batas, ketika sakit, ketika susah, ketika
sedan tertekan, atau ketika mereka Dalam bahaya, mereka juga akan bertanya tentang
makna hidupnya.

Dalam paradigma SDM, pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak pernah disinggung.


Dalam kerangka SDM, pertanyaan dasar yang muncul adalah bagaimana ketrampilan dan
keakhlian karyawan dapat ditingkatkan sedemikian rupa sehingga tingkat
produktivitasnya menjadi maksimal. Pertanyaan semacam ini tidak bersinggungan sama
sekali dengan pertanyaan dasar manusia tentang makna hidupnya.

Dengan demikian memang SDM tidak sama dengan manusia. SDM hanya berbicara
tentang keahlian dan ketrampilan manusia untuk melaksanakan sesuatu. Jika istilah SDM
dikenakan pada seluruh manusia yang mendiami suatu wilayah atau suatu negara maka
terjadilah degradasi manusia.

Penggunaan istilah SDM di luar kegiatan industri sebaiknya dihentikan kalau tidak ingin
menurunkan harkat dan martabat manusia itu sendiri. Para pejabat pemerintah baik pusat
maupun daerah sebaiknya tidak menyebut warganya dengan istilah SDM. Para politisi
sebaiknya juga tidak menyebut para anggota partainya dengan istilah SDM. Para pemuka
agama sebaiknya tidak menggati kata umat dengan SDM. Para guru di sekolah
hendaknya juga tidak menyebut para muridnya sebagai SDM. Tentu juga para kepala
sekolah tidak baik menyebut para guru sebagai SDM. Semoga!