Anda di halaman 1dari 4

Timur-Barat mencari kebenaran

Leo Sutrisno

Hampir satu bulan saya ‘menghilang’. Saya sedang menjalani proses kesehatan.
Selama sepuluh hari ‘harus’ istirahat total di rumah sakit. Tim dokter yang
terdiri ahli penyakit dalam, bedah, radiology, paru, dan patologi klinik
mengobservasi penykit yang saya derita. Tentu, standar operasional tim ini
menggunakan tradisi Barat, positivistic. Jika ini maka itu.

Tim bekerja dengan sangat cermat dan seksama. Ceck-receck dilakukan.


Studi literature dikembangkan. Konsultasi kepada kolega juga dilakukan.
Diskusi antar anggota tim sungguh berlangsung intens. Prosedur ilmiah
[Barat] benar-benar ditegakkan.

Pada hari kesepuluh, mereka sampai pada keputusan ‘diagnostic tidak dapat
ditegakkan’. Itu berarti semua organ tubuh yang mereka amati dalam kondisi
baik. Sebagai seorang dosen filsafat ilmu, saya tidak terkejut dan juga tidak
kecewa dengan keputusan itu.

Ada tiga pertanyaan dasar yang dapat diajukan dalam setiap pengambilan
keputusan ilmiah. 1. Apakah pengamatannya tepat pada sasaran? 2. Apakah
prosedur yang digunakan benar? 3. Apakah penalarannya sahih?. Jawaban,
untuk ketiga pertanyaan ini adalah ‘Ya’. Anggota tim dokter telah sungguh-
sungguh melakukan tugasnya dengan betul.

Tetapi, mengapa putusannya seperti itu? Karena, kebenaran itu letaknya di


tempat yang gelap, bukan ditempat yang terang-benderang. Putusan tim
merupakan putusan yang terbaik saat itu. Putusan itu diambil melalui tata-
cara Barat dalam mencari kebenaran.

Apa yang dapat dilakukan? Jika masih bertahan dengan tata-cara Barat maka
dapat dilakukan dengan ‘second opinion’ yang dilakukan oleh tim lain. Tim lain
ini, setelah mempelajari apa yang telah dilakukan oleh tim yang pertama akan
mengubah salah satu atau ketiga pertanyaan dasar tadi. Misalnya, akan
menggunakan alat yang berbeda sehingga pengamatannya semakin mendekati
sasaran. Atau mengganti prosedurnya dst. Berdasarkan itu, akhirnya diambil
sebuah keputusan. Putusan itu, dapat menguatkan putusan pertama, dapat
juga mengoreksi putusan pertama itu.

Kemungkinan kedua, ganti tata-cara mencari kebenaran dari Barat ke tata-


cara Timur. Jika tradisi Barat menjunjung tinggi objektivitas dengan cara
pengamat ‘mengambil jarak’ terhadap yang diamati maka tradisi Timur dengan
cara yang sebaliknya, ‘menyatu’ dengan yang diamati. Dengan menyatu maka
pengamat dan yang diamati tidak ada lagi jarak. Apa yang dirasakan dan
dialami oleh yang diamati juga dirasakan dan dialami oleh pengamat.

Tradisi Timur dalam mencari kebenaran tentang kesehatan saya saat ini yang
sedang dilakukan. Saat ini sebuah tim sedang menangani. Langkah pertama,
saya diajak untuk menjalani purifikasi jiwa. Semua dendam baik yang sudah
lama maupun yang masih baru harus dibuang, baik yang besar maupun yang
ringan harus dibuang. Demikian juga dendam kepada orang yang masih hidup
maupun yang sudah lama meninggal harus dibuang.

Langkah kedua, saya harus meminta maaf kepada semua orang lewat
perkataan, pikiran, dan tindakan yang membuat orang lain tidak nyaman. Ini
tidak gampang, tetapi teknologi komunikasiyang baru sangat membantu.
Permintaan maaf dilakukan lewat HP, SMS, email, atau bertatap langsung
serta dengan niat batin yang sungguh-sungguh. Tentu juga dengan tulisan ini
saya mohon maaf kepada pembaca semua.

Tentu, berserah diri secara total kepada Tuhan harus dilalui. Mohon
pengampunan, mohon penyembuhan, mohon keselamatan harus dilakukan.
Seterusnya, percaya penuh bahwa Tuhan akan mengutus umat-Nya untuk
menjadi perantara penyembuhan saya.

Tim yang menjadi perantara tangan Tuhan sedang menangani saya. Mereka
mencoba mengeluarkan ‘barang-barang’ yang kurang baik bagi tubuh saya. Tim
belum selesai bekerja. Namun, dampaknya mulai terasa. Mohon dukungan
pembaca semoga tim dapat mengambil keputusan yang terbaik.

Tampaknya, ada semacam kontradiksi antara tradisi Barat dan Timur dalam
mencari kebenaran. Bagi saya, yang juga berkecimpung dalam penjelajahan
fisika kontradiksi-kontradiksi seperti itu bukan barang yang aneh.
Misalnya, penyatuan diri ke dalam objek yang diamati juga dilakukan Einstein
dengan rumus relativitasnya. Ia menempatkan sumbu-sumbu koordinat
pengamat pada partikel yang sedang diamati. Hasilnya? Rahasia alam semesta
semakin terkuak.

Tradisi Barat dan tradisi Timur berjalan beriringan dalam mencari kebenaran.
Itu sudah dilakukan oleh sebagian fisikawan kaliber dunia. Sebagai tambahan
ketua tim yang ‘menggarap’ saya dan saya sendiri sama-sama mencapai gelar
akademis tertinggi [Ph.D/DR] dari perguruan tinggi yang terpandang di
Negara Barat. Terima kasih.