Anda di halaman 1dari 2

Uang logam aktif untuk asesoris ikat pinggang

Dalam waktu libur cuti bersama Hari Raya Idul Fitri, saya sekeluarga berkesempatan
mengunjungi “Serawak Cultural Village”-Desa Budaya Serawak. Desa Budaya ini
terletak di pantai laut Cina Selatan di kaki Gunung Santubong, sekitar 2 jam perjalanan
mobil dari Kuching ke utara menyusuri pantai.

Gunung Santubong sendiri mengandung sebuah legenda. Jika di pandang dari jauh mirip
seorang puteri yang sedang tidur lelap dengan rambut yang terurai memanjang. Di
Gunung Kawi, Jawa Timur, juga ada cerita seperti ini.

Desa Budaya Serawak berdiri di atas tanah seluas 17 ½ acre. Di dalam kompleks ini
berdiri rumah Bidayuh, Rumah Iban, rumah Penan, rumah Orang Ulu, rumah Melanau,
rumah Melayu, dan rumah Cina. Di dalam setiap rumah tersimpan berbagai artefak
budaya dan adat istiadat masing-masing suku yang diwakilinya.

Misalnya, di rumah Bidayuh ditemukan perapian yang di atasnya disimpan kepala


manusia masa lalu sebagai hasil mengayau. Di sini saya berkesempatan berbicara dengan
seorang kakek Bidayuh yang bercerita tentang pertemuan antara seorang raja Jawa
dengan orang Bidayuh yang akhirnya mengahsilkan istilah Jawa ‘Manggéng’-Jawa
Kristen.

Di rumah Iban juga ada perapian seperti itu. Juga ada semacam ‘bangsal’ yang dihiasi
pabayo tujuh ruas. Tempat-tempat lain hanya satu atau tiga ruas. Di rumah Iban, istri saya
sempat menikmati kue Rose [kembang goyang] dengan harga RM 3.00.

Rumah Penan adalah rumah nasyarakat Dayak yang masih berpindah-pindah dari satu
tempat ke tempat lain. Karena itu, ‘rumah’ di buat tidak permanen. Di rumah ini anak
saya sempat ‘belajar’ meniup sumpit.

Rumah Orang Ulu bercirikan tiang besar tinggi berukir. Di atas rumah ini istri
berkesempatan memainkan ‘gambang’ yang terdiri atas potongan-potongan dahan kayu
tua. Alat musik ini terdiri atas dua oktaf.

Di rumah Melanau, dapat dilihat bangsal pengobatan. Selain itu, juga ditunjukkan alat
pembuat sagu masa lalu sebelum mesin sagu ditemukan. Agak mirip dengan yang
dilakukan oleh saudara kita dari Papua.

Di rumah Melayu, karena kebetulan sedang hari Raya Idul Fitri maka diadakan rumah
terbuka [Open Hause]. Kita boleh makan sampai kenyang. Hari itu sangat istimewa
karena yang menjaga rumah Melayu ini adalah orang-orang Bidayuh. Tidak ada staf
Melayu karena sedang merayakan libur Idul Fitri.

Di rumah Cina tersimpan alat-alat pertanian masa lalu. Di sini saya berkesempatan turut
memutar penggiling tahu tradisional. Juga mencoba memanggul keranjang sayurnya.
Perjalanan wisata diakhiri dengan sajian tarian antar suku di gedung auditorium. Hanya
sekitar 45 menit tetapi mampu ditampilkan 5 macam tarian oleh para penari yang sama.
Mereka hanya memerlukan waktu 2-5 menit untuk berganti pakaian. Sungguh sangat
gesit dan tidak membosankan.

Bagi para pengusaha Indonesia, khusunya Kalbar, ada baiknya membangun semacam
Serawak Cultural Village ini. Tentu, harus berkerjasama dengan para pekerja seni dan
masyarakat adat. Lokasi yang cocok adalah sekitar pertigaan simpang Tayan. Lokasi ini
strategis karena berada di tengah provinsi dan di pinggir jalan Negara-Trans Kalimantan.
Juga eksotis karena tanahya berbukit.

Sayang kegembiraan saya menikmati suguhan budaya yang sangguh memikat itu
terkoyak oleh kenyataan bahwa ada sejumlah mata uang logam aktif Indonesia [lihat
gambar] yang digunakan untuk asesoris untaian rantai ikat pinggang. Asesoris ini siap
disewa untuk berfoto dengan pakaian tradisional.

Leo Sutrisno
Kompleks Untan P 13. Pontianak.