Anda di halaman 1dari 138

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS DRAMA

DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL KOMPONEN


PEMODELAN PADA SISWA KELAS VIII E
SMP NEGERI 3 UNGARAN

SKRIPSI
Disusun dalam rangka penyelesaian studi Strata 1
untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Disusun Oleh :
Nama : Zulfah Muyassaroh
NIM : 2101402024
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

FAKULTAS BAHASA DAN SENI


UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2007
SARI

Muyassaroh, Zulfah. 2007. Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Drama


dengan Pendekatan Kontekstual Komponen Pemodelan pada Siswa kelas VIII E
SMP Negeri 3 Ungaran. Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Drs.
Mukh Doyin, M.Si, Pembimbing II: Drs. Agus Nuryatin, M.Hum.

Kata Kunci : Peningkatan, kemampuan menulis teks drama, pendekatan


kontekstual, komponen pemodelan.

Kemampuan menulis teks drama siswa kelas VIII E SMP Negeri 3 Ungaran
belum bisa memperoleh hasil yang maksimal atau memuaskan. Hal ini disebabkan
strategi yang digunakan oleh guru kurang tepat. Dalam proses pembelajaran guru
hanya memberikan penjelasan atau guru hanya ceramah dalam menyampaikan
pembelajaran, sehingga siswa tidak terlibat secara aktif. Perilaku siswa dalam
mengikuti pembelajaan pun belum menunjukkan adanya perilaku yang positif.
Dalam hal ini siswa kurang berminat dan kurang senang untuk mengikuti
pembelajaran tersebut. Hal ini dikarenakan tidak ada motivasi yang dapat
menstimulus siswa untuk menciptakan teks drama yang lebih baik lagi.
Dengan menggunakan teks drama sebagai model dalam pembelajaran menulis
teks drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan diharapkan
dapat meningkatkan kemampuan menulis teks drama siswa sesuai dengan
kompetensi dasar yang sudah ditentukan di dalam kurikulum 2006. Dan mampu
meningkatkan minat serta mampu memotivasi siswa dalam mengikuti
pembelajaran menulis teks drama.

Berdasarkan paparan di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini


adalah sebagai berikut: (1) Apakah dengan menerapkan pendekatan kontekstual
komponen pemodelan mampu meningkatkan minat dan motivasi siswa kelas VIII
E SMP Negeri 3 Unagaran dalam pembelajaran menulis teks drama dan (2)
Bagaimana perubahan perilaku siswa kelas VIII E SMP Negeri 3 Unagaran dalam
pembelajaran menulis teks drama dengan pendekatan kontekstual komponen
pemodelan. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan peningakatan
kemampuan menulis teks drama dan perubahan perilaku siswa kelas VIII E SMP
Negeri 3 Ungaran setelah mengikuti pembelajaran menulis teks drama. Adapun
manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah secara teoretis dapat
memberikan masukan pengetahuan tentang teori pembelajaran menulis teks drama
dan secara praktis sangat bermanfaat bagi guru, siswa, dan sekolah.

Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tinadakan kelas (PTK). Subjek


penelitiannya adalah kemampuan menulis teks drama siswa kelas VIII E SMP
Negeri 3 Ungaran. Data dalam penelitian diperoleh dari instrumen tes dan
instrumen nontes. Instrumen tes berupa tes menulis teks drama. sementara
instrumen nontes berupa pedoman obervasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi

ii
foto. Validitas instrumen dilakukan dengan mengkonsultasikan instrumen tersebut
kepada dosen pembimbing dan guru bahasa Indonesia di sekolah yang
bersangkutan. Analisis data tes dilakukan dengan teknik kuantitatif. Adapun untuk
data nontes dianalisis dengan teknik kualitatif.

Hasil yang diperoleh setelah penilitian dilaksanakan cukup memuaskan. Secara


umum siswa dapat dikatakan sudah mengalami peningkatan dalam pembelajaran
menulis teks drama. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa sudah memenuhi batas
ketuntasan yang telah ditentukan. Perilaku siswa pun mengalami perubahan.
Siswa lebih antusias dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran menulis teks
drama. Situasi kelas pun lebih kondusif sehingga proses pembelajaran dapat
berjalan dengan lancar.

Berdasarkan hasil analisis tes tersebut, penulis menyarankan agar dalam proses
pembelajaran menulis teks drama, guru hendaknya menggunakan teks drama
sebagai model dalam pembelajaran melalui pendekatan konetsktual komponen
pemodelan, sehingga dapat memudahkan siswa dalam menulis teks drama karena
dari model tersebut siswa dapat memahami hal-hal yang berkaitan dengan teks
drama. Dan siswa juga dapat melihat secara langsung bentuk teks drama. selain
itu, model tersebut dapat membangkitkan minat siswa untuk mengikuti
pembelajaran menulis teks drama dan dapat memotivasi siswa untuk menulis teks
drama yang lebih baik.

iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang Panitia

Ujian Skripsi

Hari :

Tanggal :

Semarang,

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Mukh. Doyin, M.Si. Drs. Agus Nuryatin, M.Hum.


NIP 132106367 NIP 131813650

iv
PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di dalam Sidang Panitia Ujian Skripsi, Jurusan
Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang pada:

Hari : Rabu

Tanggal : 18 April 2007

Panitia Ujian Skripsi

Ketua Sekretaris

Prof. Dr. Rustono, M.Hum Drs. Agus Yuwono, M.Si


NIP 131281222 NIP 132049997

Penguji I Penguji II Penguji III

Dra. Nas Hariyati, M.Pd Drs. Agus Nuryatin, M.Hum Drs. Muh Doyin, M.Si
NIP 131125926 NIP 131813650 NIP 132106367

v
PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang saya tulis dalam skripsi ini benar-benar

hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau

seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini

dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, April 2007

Zulfah Muyassaroh

vi
MOTTO

1. Bila kita rela berbagi dengan orang lain tanpa mengharapkan apa-apa,

maka segala kekurangan itu pasti akan menjadi berkah bagi kita

(Seorang Ayah).

2. Kejujuran itu pahit dan mahal harganya, memang agak merugikan.

Namun hakekat kejujuran menyimpan suatu kebaikan

(Dr. H. Achmad Satori Ismail).

3. Ujian pertama dari orang besar sejati adalah kerendahan hati

( John Ruskin).

PERSEMBAHAN

Buah karya ini, penulis persembahkan untuk bapak dan ibu dosen yang

telah bersedia membagikan ilmunya kepada penulis serta almamater.

vii
PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah swt. atas berkat, rahmat,

hidayah dan ridho-Nya serta kemudahan yang telah diberikan kepada penulis

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Penulisan skripsi ini telah melibatkan banyak pihak yang membantu dalam

proses penyelesaiannya. Berkat bantuan tersebut penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini dengan baik. Oleh karena itu perkenankanlah penulis untuk

mengucapkan terima kasih kepada

1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan izin penelitian

kepada penulis;

2. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni yang telah memberikan izin penelitian kepada

penulis;

3. Ketua jurusan Bahasa dan Seni yang telah memberikan izin penelitian kepada

penulis;

4. Drs. Mukh Doyin, M.Si. selaku pembimbing I yang telah bersedia meluangkan

waktunya dan kesabarannya dalam membimbing penulis untuk menyelesaikan

skripsi ini;

5. Drs. Agus Nuryatin, M.Hum. selaku pembimbing II yang telah bersedia

meluangkan waktunya dan kesabarannya dalam membimbing penulis untuk

menyelesaikan skripsi ini;

6. Drs. Talkkis selaku kepala SMP Negeri 3 Ungaran yang telah memberikan izin

kepada penulis untuk melaksanakan penelitian di SMP Negeri 3 Ungaran;

viii
7. Ibu Tuti Ida, S.Pd. selaku guru pengampu Bahasa dan Sastra Indonesia kelas

VIII E SMP Negeri 3 Ungaran yang telah memberikan kesempatan kepada

penulis untuk mengambil data di kelas tersebut;

8. Bapak Amy Darmo dan Ibu Siti Fatimah, penulis hanya mampu membalas

dengan ucapan terimakasih untuk setiap tetesan keringat dan air mata demi

mewujudkan cita-cita penulis. Untuk kedua kakak penulis (Mas Jay dan Mas

Lid) terimakasih atas segala doa, perhatian, dan semangat yang telah diberikan

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik meskipun tidak

tepat waktu;

9. seluruh crew La-Tanza ada: Cuki Tayang, Candra ”pooh”, Vita, Lia, Ulfo,

Hida, Julpeh, Nisita, khusus untuk Sandra terimakasih karena telah bersedia

membantu penulis dalam proses penghitungan data dan mengetik, terakhir

untuk teman seperjuangan dan seperguruan penulis Vila Bahar. Berkat kalian

penulis dapat menikmati panorama dan lika liku hidup dalam satu atap. Untuk

generasi penerus La-Tanza (Aliya, Nurul, Hima Wari, Nanung, dan Mia)

terimakasih untuk warna yang kalian berikan dalam hidup penulis;

10. sahabat-sahabat penulis seperti: Retno Butar, Puyil, Ari Satsi, Ipang, chi Nana,

dan Intan terimakasih untuk sharing, bimbingan dan masukan-masukannya;

11. Mas Agung Yuniarto terimakasih untuk doa, semangat, dukungan, dan

kesabarannya menunggu penulis selama penyelesaian skripsi ini;

12. Mba Jab, selaku ibu kos penulis yang telah memberikan tempat tinggal yang

sangat nyaman kepada penulis;

13. Anak-anak PBSI angkatan 2002.

ix
Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dalam peningkatan mutu

pendidikan di Indonesia pada umumnya dan bermanfaat bagi para pembaca pada

khususnya.

Semarang, April 2007

Zulfah Muyassaroh

x
DAFTAR ISI

SARI............................................................................................................. i
PERNYATAAN........................................................................................... iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING................................................................ iv
PENGESAHAN KELULUSAN .................................................................. vi
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................................................... vii
PRAKATA................................................................................................... viii
DAFTAR ISI................................................................................................ xi
DAFTAR TABEL........................................................................................ xv
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xvi
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................ xvii

BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah ............................................................. 1
1.2 Identifikasi Masalah.................................................................... 7
1.3 Pembatasan Masalah................................................................... 8
1.4 Rumusan Masalah....................................................................... 8
1.5 Tujuan Penelitian ........................................................................ 9
1.6 Manfaat Penelitian ..................................................................... 9
Bab II Kajian Pustaka dan Landasan Teoretis
2.1 Kajian Pustaka ............................................................................ 10
2.2 Landasan Teoretis ....................................................................... 13
2.2.1 Hakikat Menulis Kreatif.................................................... 13
2.2.2 Hakikat Teks Drama ......................................................... 14
2.2.3 Kaidah Teks Drama ......................................................... 23
2.2.4 Menulis Teks Drama ......................................................... 25
2.2.5 Elemen Pemodelan............................................................ 29
2.2.6 Pembelajaran Menulis Teks Drama dengan Pendekatan
Kontekstual Komponen Pemodelan .................................. 31
2.2.7 Materi Pembelajaran Menulis Teks Drama dengan
pendekatan Kontekstual Pemodelan.................................. 32

xi
2.2.8 Kriteria Penilaian dalam Pembelajaran Menulis Tek
Drama ................................................................................ 34
2.3 Kerangka berpikir ....................................................................... 38
2.4 Hipotesis ..................................................................................... 41
Bab III Metode Penelitian
3.1 Subjek Penelitian ....................................................................... 42
3.2 Variabel Penelitian...................................................................... 43
3.3 Desain Penelitian ..................................................................... 43
3.3.1 Siklus I ............................................................................... 44
3.3.2 Siklus II .............................................................................. 46
3.4 Instrumen Penelitian ................................................................... 48
3.4.1 Instrumen Tes..................................................................... 49
3.4.2 Instrumen Nontes ............................................................... 53
3.5 Teknik Pengumpulan Data ......................................................... 55
3.5.1 Teknik Tes.......................................................................... 55
3.5.2 Teknik Nontes .................................................................... 55
3.6 Teknik Analisis Data .................................................................. 57
3.6.1 Teknik Kualitatif ............................................................... 57
3.6.2 Teknik Kuantitatif ............................................................. 58
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.1 Hasil Penelitian........................................................................... 59
4.1.1 Prasiklus ............................................................................ 59
4.1.1.1 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Tema....... 60
4.1.1.2 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Setting..... 61
4.1.1.3 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Alur......... 62
4.1.1.4 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Penokohan 62
4.1.1.5 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Bahasa .... 63
4.1.1.6 Hasil Tes Kemampuan Teks Drama Aspek Teks
Berbentuk Teks Drama dan Disajikan dalam
Satu Babak ........................................................... 64

xii
4.1.1.7 Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama
Aspek Kemungkinan untuk Dipentaskan............. 64
4.1.2 Siklus I .............................................................................. 66
4.1.2.1 Hasil Data Tes Siklus I ......................................... 66
4.1.2.1.1 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek
Tema ...................................................... 67
4.1.2.1.2 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek
Setting .................................................... 68
4.1.2.1.3 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek
Alur ........................................................ 69
4.1.2.1.4 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek
Penokohan.............................................. 70
4.1.2.1.5 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek
Bahasa...................................... .............. 70
4.1.2.1.6 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek
Teks Berbentuk Teks Drama dan
Disajikan dalam Satu Babak .................. 71
4.1.2.17 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek
Kemungkinan untuk Dipentaskan.......... 72
4.1.2.2 Data Nontes ......................................................... 72
4.1.2.2.1 Observasi................................................ 72
4.1.2.2.2 Jurnal ...................................................... 74
4.1.2.2.3 Wawancara............................................. 77
4.1.2.2.4 Dokumentasi Foto .................................. 78
4.1.3 Siklus II ............................................................................. 81
4.1.3.1 Hasil Data Tes ....................................................... 81
4.1.3.1.1. Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek
Tema...................................................... 83
4.1.3.1.2 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek
Setting ................................................... 83

xiii
4.1.3.1.3 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek
Alur ....................................................... 84
4.1.3.1.4 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek
Penokohan............................................. 85
4.1.3.1.5 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek
Bahasa ................................................... 85
4.1.3.1.6 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek
Teks Berbentuk Teks Drama dan
Disajikan dalam Satu Babak .................. 86
4.1.3.17 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek
Kemungkinan untuk Dipentaskan.......... 87
4.1.3.2 Hasil Data Nontes.................................................. 87
4.1.3.2.1. Observasi............................................... 88
4.1.3.2.2. Jurnal..................................................... 89
4.1.3.2.3 Wawancara............................................ 91
4.1.3.2.4 Dokumentasi Foto ................................. 92
4.2 Pembahasan ................................................................................ 95
4.2.1 Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Drama............... 96
4.2.2 Perubahan Perilaku ........................................................... 102
Bab V Penutup
5.1 Simpulan ..................................................................................... 107
5.2 Saran ........................................................................................... 108
Daftar Pustaka .............................................................................................. 110

xiv
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Bagan Cerita dan Detail Tahapan ................................................. 20


Tabel 2 Skor Penilaian ............................................................................... 49
Tabel 3 Aspek Yang Dinilai....................................................................... 49
Tabel 4 Penilaian Kemampuan Menulis Teks Drama ............................... 52
Tabel 5 Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Prasiklus ............... 59
Tabel 6 Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Tema.......... 60
Tabel 7 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Setting ............................. 61
Tabel 8 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Alur ................................. 62
Tabel 9 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Penokohan....................... 62
Tabel 10 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Bahasa............................. 63
Tabel 11 Hasil Tes Tes Menulis Teks Drama Aspek Teks Berbentuk Teks
Drama dan Disajikan dalam Satu Babak ...................................... 64
Tabel 12 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Kemungkinan untuk
Dipentaskan................................................................................... 64
Tabel 13 Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Siklus I.................. 66
Tabel 14 Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Tema.......... 67
Tabel 15 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Setting ............................. 68
Tabel 16 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Alur ................................. 69
Tabel 17 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Penokohan....................... 70
Tabel 18 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Bahasa............................. 70
Tabel 19 Hasil Tes Tes Menulis Teks Drama Aspek Teks Berbentuk Teks
Drama dan Disajikan dalam Satu Babak ...................................... 71
Tabel 20 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Kemungkinan untuk
Dipentaskan................................................................................... 72
Tabel 21 Hasil Tes Menulis Teks Drama Siklus II ...................................... 82
Tabel 22 Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Tema.......... 83
Tabel 23 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Setting .............................. 83
Tabel 24 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Alur ................................. 84
Tabel 25 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Penokohan....................... 85

xv
Tabel 26 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Bahasa............................. 85
Tabel 27 Hasil Tes Tes Menulis Teks Drama Aspek Teks Berbentuk Teks
Drama dan Disajikan dalam Satu Babak ...................................... 87
Tabel 28 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Kemungkinan untuk
Dipentaskan...................................................................................
Tabel 29 Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Drama Prasiklus,
Siklus I dan Siklus II..................................................................... 96

xvi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1a Kegiatan Siswa ketika Mengamati Model yang berupa Teks


Drama........................................................................................ 79
Gambar 2a Kegiatan Siswa ketika Berkelompok untuk menentukan
Unsur-unsur yang terdapat di dalam Teks Drama..................... 79
Gambar 3a Kegiatan Siswa ketika Menulis Teks Drama ............................ 80
Gambar 1b Kegiatan Siswa ketika Mengamati Model yang berupa Teks
Drama........................................................................................ 93
Gambar 2b Kegiatan Siswa ketika Berkelompok untuk menentukan
Unsur-unsur yang terdapat di dalam Teks Drama..................... 93
Gambar 3b Kegiatan Siswa ketika Menulis Teks Drama ............................ 94

xvii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Rencana Pembelajaran Siklus I ............................................. 111


Lampiran 2 Contoh teks Drama Siklus I................................................... 114
Lampiran 3 Lembar Pengamatan Keaktifan Siswa Siklus I ..................... 116
Lampiran 4 Pedoman Jurnal Siswa Siklus I ............................................. 117
Lampiran 5 Pedoman Jurnal Guru Siklus I............................................... 118
Lampiran 6 Pedoman Wawancara Siklus I.................................................. 119
Lampiran 7 Pedoman Dokumentasi Foto Siklus I .................................... 120
Lampiran 8 Hasil Pengamatan Keaktifan Siswa Siklus I ......................... 121
Lampiran 9 Hasil Jurnal Siswa Siklus I.................................................... 122
Lampiran 10 Hasil Jurnal Guru Siklus I ..................................................... 130
Lampiran 11 Hasil Wawancara Siklus I ..................................................... 131
Lampiran 12 Hasil Dokumentasi Foto Siklus I .......................................... 134
Lampiran 13 Rencana Pembelajaran Siklus II............................................ 135
Lampiran 14 Contoh Teks Drama Siklus II................................................ 139
Lampiran 15 Hasil Pengamatan Keaktifan Siswa Siklus II ........................ 141
Lampiran 16 Hasil Jurnal Siswa Siklus II................................................... 142
Lampiran 17 Hasil Jurnal Guru Siklus II.................................................... 149
Lampiran 18 Hasil Wawancara Siklus II .................................................... 150
Lampiran 19 Hasil Dokumentasi Foto Siklus II ......................................... 153
Lampiran 20 Hasil Analisis Prasiklus......................................................... 154
Lampiran 21 Hasil Analisis Siklus I ........................................................... 155
Lampiran 22 Hasil Analisis Siklus II.......................................................... 156
Lampiran 23 Hasil Tes Prasiklus ................................................................ 157
Lampiran 24 Hasil Tes Siklus I .................................................................. 158
Lampiran 25 Hasil Tes Siklus II ................................................................. 160

xviii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pada hakekatnya belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena

itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan keterampilan siswa

dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang dipelajari secara lisan

maupun tertulis. Ada empat keterampilan bahasa yang harus diperhatikan,

keempat keterampilan tersebut adalah keterampilan menyimak, berbicara,

membaca, dan menulis. Setiap keterampilan mempunyai hubungan yang sangat

erat ( Tarigan 1986: 1).

Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa perlu mendapat

perhatian yang serius dalam pembelajaran di sekolah. Pembelajaran menulispun

tidak lepas dari keterampilan menyimak dan membaca, dalam hal ini penulis lebih

menekankan pada pembelajaran menulis. Sehubungan dengan hal tersebut, maka

pembelajaran menulis harus lebih ditingkatkan.

Kemampuan menulis seharusnya sudah diterapkan sejak siswa duduk di

sekolah dasar, hal ini dapat dijadikan sebagai pondasi bagi siswa dalam

menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi seperti SMP maupun SMA

bahkan sampai Perguruan Tinggi. Dengan kemampuan menulis siswa dapat

mengembangkan dan menuangkan gagasan dan pengalamannya dalam berbagai

macam bentuk, salah satunya adalah cerita dalam bentuk drama.

1
2

Dalam menulis diperlukan adanya suatu bentuk ekspresi gagasan yang

berkesinambungan dan mempunyai urutan logis. Hal ini dapat diwujudkan dalam

penggunaan kosa kata dan tata bahasanya, sehingga dapat menggambarkan atau

menyajikan informasi yang diekspresikan secara jelas.

Bahasa memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan

bermasyarakat. Urgensi bahasa mencakup segala bidang kehidupan, karena suatu

yang dihayati, diamati, dan dirasakan oleh seseorang dapat dipahami oleh orang

lain, apabila telah diungkapkan dengan bahasa, baik lisan maupun tulisan.

Salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai dalam komunikasi

adalah kemampuan dalam menuangkan dan mengembangkan ide dalam bentuk

tulisan. Ide atau gagasan tersebut kemudian dikembangkan dalam bentuk

rangkaian kalimat. Hasil dari kegiatan menulis adalah untuk dibaca oleh orang

lain. Agar orang lain dapat membaca tulisan tersebut dituntut adanya bahasa yang

mudah dipahami. Oleh karena itu, kemampua menulis tersebut membutuhkan

perhatian dan keseriusan dari instrumen penyelenggara pendidikan, terutama guru

dan kurikulum yang mendukung.

Realitas menunjukkan bahwa kemampuan menulis belum optimal dikuasai

oleh sisiwa, bahkan mahasiswa. Mereka kebanyakan menganggap bahwa menulis

bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Menulis juga dianggap sebagai suatu

kegiatan yang membosankan. Oleh karena itu, perlulah kiranya guru mencari dan

menerapkan pendekatan yang sesuai dalalam upaya untuk meningkatkan

kemampuan menulis siswa.


3

Penelitian tentang kemampuan menulis telah banyak dilakukan, baik

kemampuan menulis naratif, deskriptif, dan argumentatif. Penelitian dalam hal

kemampuan menulis teks drama masih terbatas. Oleh karena itu, peneliti

menganggap perlu untuk melakukan penelitian kemampuan menulis teks drama.

Penelitian ini diberi judul, Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Drama Dengan

Pendekatan Kontekstual Komponen Pemodelan.

Tidak sedikit siswa yang mengalami hambatan dalam penguasaan

kemampuan menulis. Kenyataan ini dapat dilihat dari pelaksanaan pembelajaran

menulis bahasa Indonesia di SMP Negeri 3 Ungaran yang berorientasi pada teori

dan pengetahuan, sehingga keterampilan berbahasa khususnya menulis kurang

mendapat perhatian.

Kemampuan menulis bukanlah sesuatu yang dapat diajarkan melalui

uraian atau penjelasan semata-mata. Siswa tidak akan memperoleh keterampilan

menulis hanya dengan duduk, menyimak keterangan guru dan mencatat apa yang

didengar. Pembelajaran menulis dapat berhasil jika dilakukan dengan melatih

kemampuan siswa untuk membuat sebuah tulisan dengan mengamati objek secara

langsung. Dengan demikian, kemampuan siswa dalam menulis lebih banyak

diperoleh dari pengalaman yang berulang-ulang melalui latihan.

Dan tidak dapat dipungkiri bahwa sampai saat ini masih banyak terjadi

pembelajaran satu arah, artinya gurulah yang aktif berceramah, sedangkan siswa

hanya berperan sebagai pendengar. Metode pembelajaran seperti ini yang

membuat kondisi siswa menjadi pasif. Mereka tidak melakukan kegiatan sehingga

membuat pikiran mereka tidak bekerja karena tidak ada stimulus yang dapat

memberikan gambaran tentang materi yang sedang disampaikan, terutama materi

yang berhubungan dengan menulis teks drama.


4

Kemampuan menulis teks drama merupakan kemampuan yang

penyajiannya logis dan objektif sesuai dengan benda, situasi keadaan yang

diamati. Oleh karena itu, pengamatan secara langsung pada objek yang dijadikan

sebagai bahan tulisan merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam

menyusun sebuah teks drama.

Dari hasil pengamatan ternyata banyak siswa yang mengeluh jika kegiatan

belajar sampai pada pokok pembelajaran menulis, apalagi yang berhubungan

dengan kegiatan menulis teks drama. Dalam proses belajar mengajar strategi yang

digunakan oleh guru adalah ceramah. Hal ini yang menyebabkan siswa kurang

tertarik dengan pembelajarn tersebut karena guru tidak memberikan contoh teks

drama. Dengan memberikan contoh teks drama kepada siswa diharapkan siswa

dapat memiliki gambaran tentang teks drama sehingga mampu merangsang siswa

untuk menulis sebuah teks drama yang sesuai.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran bahasa dan

sastra Indonesia di SMP Negeri 3 Ungaran yang mengajar, diketahui bahwa

kondisi kemampuan menulis teks drama tersebut belum maksimal. Hal ini

disebabkan strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang tepat. Dalam

pembelajaran menulis khususnya menulis teks drama guru hanya memberikan

penjelasan mengenai teks drama. Di sini siswa tidak diperlihatkan seacara

langsung bentuk teks drama sehingga dalam proses kegiatannya siswa tidak dapat

menciptakan drama secara baik karena siswa tidak memiliki gambaran mengenai

hal-hal yang berkaitan dengan teks drama. Hal ini pulalah yang menyebabkan

siswa menjadi kurang berminat dan kurang termotivasi dalam mengikuti

pembelajaran menulis teks drama. Selain itu tingkat kemampuan menulis teks
5

drama siswa kelas VIII E belum memuaskan, siswa masih mengalami kesulitan

dalam memahami dan mengenal bentuk teks drama.

Kompetensi dasar menulis teks drama juga telah diajarkan tetapi masih

mengalami beragam hambatan. Hal ini sesuai dengan keterangan yang diperoleh

dari guru bidang studi bahasa indonesia yang menyatakan bahwa siswa belum

mampu menulis drama secara produktif, siswa mau menulis teks drama jika

mendapat tugas dari guru, dimana tema drama yang hendak dibuat sudah

ditentukan oleh guru. Dalam rangka mencapai kompetensi dasar menulis teks

drama yang memuaskan, maka penulis menerapkan pendekatan kontekstual

komponen pemodelan.

Pendekatan kontekstual adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang

menekankan pentingnya lingkungan alamiah itu diciptakan dalam proses belajar

mengajar agar kelas lebih hidup dan lebih bermakna karena siswa mengalami

sendiri apa yang dipelajarinya. Pendekatan kontekstual merupakan pendekatan

yang memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas dan menerapkan

pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam tatanan kehidupan baik di

sekolah maupun di luar sekolah.

Di dalam pendekatan kontekstual terdapat beberapa komponen salah

satunya adalah komponen pemodelan. Maksudnya dalam sebuah pembelajaran

keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang dapat ditiru. Pemodelan

pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan

bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar, dan melakukan apa

yang guru inginkan agar siswa-siswanya melakukan. Pemodelan dapat berupa

demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar (Nurhadi

2003: 5).
6

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan

diharapkan dapat mengatasi rendahnya kemampuan menulis teks drama siswa

SMP 3 Ungaran. Dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen

pemodelan, siswa akan lebih aktif dalam pembelajaran menulis teks drama karena

dalam pembelajaran tersebut siswa akan diperlihatkan sebuah model teks drama.

Keuntungan memperlihatkan model teks drama dalam pembelajaran menulis

adalah siswa dapat melihat bentuk teks drama secara langsung sehingga dapat

memberikan gambaran kepada siswa tentang teks drama. Sebab penjelasan

mengenai drama saja tidak cukup, jadi selain penjelasan guru juga bisa

memberikan contoh konkret sebuah teks drama karena di dalam sebuah contoh

teks drama tersebut ada tulisan yang menggambarkan tentang situasi atau

keadaan. Dari model teks drama itulah akhirnya siswa dapat menemukan dan

mengembangkan gagasan yang akan mereka tuangkan menjadi sebuah teks

drama. Sehingga dapat menimbulkan perubahan terhadap perilaku siswa menjadi

lebih aktif dan termotivasi serta antusias dalam mengikuti pembelajaran menulis

teks drama.

Selain itu, perilaku siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis teks

drama belum menunjukkan adanya perubahan perilaku yang positif. Siswa

kelihatan kurang berminat dan kurang senang dengan pembelajaran tersebut. Hal

ini dikarenakan tidak ada motivasi yang dapat menstimulus siswa untuk

menciptakan teks drama yang lebih baik dan siswa belum mengenal bentuk teks

drama secara konkret. Dengan menggunakan teks drama sebagai model dalam

pembelajaran menulis teks drama diharapkan dapat membawa perubahan yang

positif terhadap perilaku siswa. Siswa menjadi lebih berminat dan termotivasi
7

untuk menciptakan teks drama yang lebih baik. Siswa pun merasa senang untuk

mengikuti pembelajaran menulis teks drama karena siswa memiliki gambaran

mengenai teks drama dan hal-hal yang berkaitan dengan teks drama melalui

model tersebut. Dengan demikian siswa menjadi lebih aktif dan pembelajaran pun

dapat berjalan dengan lancar.

Dengan menerapkan pendekatan kontekstual komponen pemodelan

diharapkan pembelajaran menulis teks drama selain dapat meningkatkan

kemampuan menulis teks drama, siswa juga dapat mengalami perubahan perilaku

menjadi lebih aktif dan termotivasi. Karena dalam proses pembelajarannya, siswa

akan diperlihatkan contoh teks drama sebagai model yang dapat menstimulus

siswa sehingga siswa dapat mengenal bentuk teks drama dan mempunyai

gambaran tentang teks drama, sehingga siswa dapat menulis teks drama sesuai

dengan unsur-unsur drama dengan mudah. Siswa menjadi lebih perhatian dan

proses pembelajaran pun dapat berjalan dengan lancar.

1.2 Identisifikasi Masalah

Dalam pembelajaran menulis teks drama banyak masalah yang dijumpai

oleh guru, sehingga hasil pembelajaran tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Masalah-masalah ini dikarenakan strategi yang digunakan oleh guru masih

berjalan satu arah. Dalam prses pembelajarannya guru hanya memberikan

penjelasan mengenai teks drama. Guru tidak memperlihatkan secara langsung

bentuk teks drama yang konkret. Hal inilah yang membuat siswa menjadi kurang

berminat dan kurang temotivasi untuk mengikuti pembelajaran menulis teks

drama sebab siswa tidak memiliki gambaran mengenai hal-hal yan berkaitan

dengan teks drama.


8

Sedangkan masalah yang dihadapi oleh siswa adalah tingkat kemampuan

menulis teks drama siswa yang masih rendah atau belum bisa mencapai hasil yang

memuaskan. Hal ini disebabkan siswa masih mengalami kesulitan dalam

memahami teks drama dan siswa belum mengenal bentuk teks drama secara

konkret.

Selain itu, perilaku siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis teks

drama belum menunjukkan adanya perubahan perilaku yang positif. Siswa

kelihatan kurang berminat dan kurang senang dengan pembelajaran tersebut. Hal

ini dikarenakan tidak ada motivasi yang dapat menstimulus siswa untuk

menciptakan teks drama yang lebih baik.

1.3 Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, masalah yang akan dibatasi

oleh peneliti adalah strategi yang digunakan oleh guru dan tingkat kemampuan

siswa dalam menulis teks drama serta perubahan perilaku yang dialami oleh siswa

dalam mengikuti pembelajaran menulis teks drama melalui pendekatan

kontekstual komponen pemodelan pada siswa kelas VIII E SMP Negeri 3

Ungaran.

1.4 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, masalah yang akan

dibahas adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah peningkatan kemampuan menulis teks drama dengan

pendekatan kontekstual komponen pemodelan pada siswa kelas VIII E SMP

Negeri 3 Ungaran?
9

2. Bagaimanakah perubahan perilaku siswa SMP Negeri 3 Ungaran tahun ajaran

2006/2007 setelah mengikuti pembelajaran menulis teks drama dengan

pendekatan kontekstual komponen pemodelan?

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis teks drama siswa SMP

Negeri 3 Ungaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

2. Mendeskripsikan perubahan perilaku siswa SMP Negeri 3 Ungaran tahun

ajaran 2006/2007 setelah mengikuti pembelajaran keterampilan menulis teks

drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

1.6 Manfaat Penelitian

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis berharap hasil penelitian

bermanfaat, baik secara teoretis maupun secara praktis.

1. Manfaat Teoretis

Secara teoritis dapat memberikan masukan pengetahuan tentang

pengembangan teori pembelajaran menulis teks drama melalui pembelajaran

dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis penelitian ini bermanfaat bagi guru dan siswa karena

dengan menggunakan teknik pemodelan dapat membantu siswa untuk berpikir

secara cepat sehingga memudahkan guru dalam mengarahkan siswa selama proses

pembelajaran berlangsung sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORETIS

2.1 Tinjauan Pustaka

Penggunaan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam

pembelajaran kemampuan menulis teks drama dapat dijadikan sebagai salah satu

cara untuk mencapai salah satu tujuan umum pembelajaran mata pelajaran bahasa

dan sastra Indonesia. Dengan harapan dapat menciptakan lulusan yang terampil

berkomunikasi seacara efektif, baik secara lisan maupun tertulis.

Pembelajaran harus memiliki suatu kesiapan dalam suatu bentuk

perencanaan yang sistematis. Keefektifan dalam proses pembelajaran menjadi

faktor penting. Tercapainya kualitas atau peningkatan kemampuan siswa dalam

mempelajari berbagai macam pengetahuan merupakan harapan bagi semua pihak.

Dengan hasil pembelajaran yang memuaskan, pengajar telah berhasil

mengantarkan siswanya dalam belajar.

Penelitian tentang menulis teks drama sebelumnya sudah pernah dilakukan

oleh Thomas Bagio pada sisiwa kelas IV SD Belnardus Semarang. Penelitian

tersebut digunakan oleh penulis sebagai salah satu bahan pertimbangan yang

dapat memberikan sedikit gambaran tentang kemampuan menulis teks drama

siswa kelas IV SD Belnardus Semarang.

Penelitian tersebut menggunakan teknik pembelajaran yang sama dengan

penulis, yaitu pemodelan atau modeling. Dengan teknik modeling atau pemodelan

yang telah diterapkan oleh Thomas, kemampuan menulis teks drama pada siswa

10
11

kelas IV SD Belnardus Semarang mengalami peningkatan, yaitu dengan adanya

perubahan pada nilai rata-rata yang telah dicapai oleh siswa kelas IV SD

Belnardus semarang, yakni dari nilai rata-rata 64,48% menjadi 73,6%. Selain itu,

siswa pun lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran menulis teks drama

karena siswa termotivasi dengan model yang telah diperlihatkan oleh Thomas.

Akan tetapi, dalam hal ini siswa SMP Negeri 3 Ungaran yang akan

menjadi objek penelitian penulis. Karena masa peralihan yang telah dialami oleh

para siswa dapat memberikan pengaruh pada cara pandang dan pola pikir mereka,

sehingga dalam menuangkan gagasan atau ide pun akan lebih berkembang dan

lebih kreatif. Apalagi dengan model yang dihadirkan sebagai contoh yang dapat

memberikan stimulus pada siswa kelas VIII sehingga siswa lebih termotivasi

dalam mengikuti pembelajaran menulis teks drama. Selain itu, karakter siswa

yang berbeda-beda juga dapat mempengaruhi hasil karya siswa kelas VIII dalam

menulis teks drama, sebab siswa sudah memiliki kebebasan untuk berekspresi,

untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Berikut ini beberapa penelitian yang berkenaan dengan topik penelitian ini

yang dijadikan sebagai bahan pertimbangan skripsi ini.

Utami dalam penelitiannya yang berjudul Penigkatan Keterampilan

Menulis Teks Drama Jawa Dengan Media Kaset Pada Siswa SMP Negeri 3

Bawang Banjarnegara. Penelitian ini dijadikan sebagai salah satu bahan

pertimbangan skripsi ini karena media kaset merupakan salah satu model yang

digunakan oleh guru untuk menarik perhatian siswa dalam mengikuti

pembelajaran menulis. Penelitian tersebut membuktikan bahwa dengan


12

menggunakan media kaset, keterampilan menulis siswa meningkat. Selain itu,

penggunaan media kaset dalam pembelajaran menulis, menurut penelitian ini

terbukti telah mengubah perilaku siswa menjadi lebih semangat, senang dan

termotivasi dalam mengikuti pembelajaran menulis teks drama.

Perbedaan yang terdapat dalam penelitian ini adalah media yang digunakan.

Penelitian Utami menggunakan media kaset dalam pembelajarannya, sedangkan

penelitian ini dalam proses pembelajarannya hanya memberikan contoh teks

drama yang sudah jadi sebagai media melalui pendekatan kontekstual komponen

pemodelan. Adapun persamaan antara kedua penelitian ini terletak pada subjek

penelitian dan jenis penelitian. Subjek penelitian ini adalah keterampilan menulis

teks drama dan jenis penelitiannya, yaitu penelitian itndakan kelas.

Selain Utami, Bagiyo (2004) dalam penelitiannya yang berjudul Peningkatan

Keterampilan Menulis Teks Drama Dengan Teknik Modeling Pada Siswa Kelas

IV D SD PL Bernadus Semarang 2004. Penelitian tersebut telah membuktikan

adanya peningkatan keterampilan menulis teks drama siswa kelas IV SD PL

Bernadus Semarang. Hal ini terjadi setelah siswa melakukan pembelajaran

menulis teks drama dengan teknik pemodelan. Besarnya peningkatan

keterampilan menulis teks drama dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil tes siklus I

dan siklus II. Pada siklus I siswa mencapai kategori cukup dengan nilai rata-rata

64,48% sedangkan pada siklus II keterampilan menulis teks drama siswa

meningkat dengan nilai rata-rata 73,6%.

Penelitian terakhir tersebut merupakan penelitian yang paling relevan

dengan penelitian ini. Penelitian tersebut sama-sama meneliti tentang menulis


13

drama dan sama-sama menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Namun dalam penelitian tersebut peneliti menggunakan teks drama sebagai teknik

pembelajaran sebagai upaya peningkatan menulis teks drama siswa, sedangkan

pada penelitian ini menggunakan teks drama sebagai model atau contoh dalam

pembelajaran melalui pendekatan kontekstual sebagai upaya peningkatan

kemampuan menulis teks drama siswa

Penelitian mengenai pembelajaran menulis teks drama dengan pendekatan

kontekstual komponen pemodelan dipilih karena pengguanaan pendekatan

kontekstual diharapkan dapat membantu guru untuk mengaitkan antara materi

yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat

hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam

kehidupan meraka sebagai anggota keluarga dan anggota masyarakat. Adapun

penggunaan komponen pemodelan diharapkan dapat membantu mempermudah

siswa dalam menyusun teks drama sebab siswa sudah distimulus dengan teks

drama yang sudah jadi sehingga siswa dapat lebih aktif dan bersemangat.

2.2 Landasan Teoretis

Teori-teori yang akan dipaparkan berkaitan dengan penelitian ini antara

lain tentang hakekat menulis kreatif, hakekat teks drama, kaidah teks drama,

menulis teks drama, elemen pemodelan, pembelajaran menulis teks drama melalui

pendekatan kontekstual komponen pemodelan, materi pembelajaran menulis teks

drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan, dan kriteria

penilaian dalam pembelajaran menulis teks drama melalui pendekatan kontekstual

komponen pemodelan.
14

2.2.1 Hakikat Menulis Kreatif

Menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa, yaitu

menyimak, berbicara, membaca dan menulis itu sendiri. Setiap keterampilan

mempunyai hubungan erat dengan keterampilan yang lainnya. Oleh karena itu,

keterampilan menulis sudah tentu berhubungan dengan menyimak, berbicara, dan

membaca.

Trianto (2002:2) menyebutkan bahwa tulisan kreatif merupakan tulisan

yang bersifat apresiatif dan ekspresif. Apresiatif maksudnya melalui kegiatan

menulis kreatif orang dapat mengenali, menyenangi, menikmati, dan mungkin

menciptakan kembali secara kritis berbagai hal yang dijumpai dalam teks-teks

kreatif karya orang lain dengan caranya sendiri dan memanfaatkan berbagai hal

tersebut ke dalam kehidupan nyata. Ekspresif dalam arti bahwa kita dimungkinkan

mengekspresikan atau mengungkapkan berbagai pengalaman atau berbagai hal

yang menggejala dalam diri kita, untuk dikomunikasikan kepada orang lain

melalui tulisan kreatif sebagai sesuatu yang bermakna. Salah satu teks yang

bersifat kreatif adalah teks drama. Menulis keratif pada hakikatnya adalah

menafsirkan kehidupan. Melalui karyanya penulis ingin mengkomunikasikan

sesuatu kepada pembaca. Karya kreatif merupakan interpretasi evaluatif yang

dilakukan penulis terhadap kehidupan, yang kemudian direfleksikan melalui

medium bahasa pilihan masing-masing. Jadi, sumber penciptaan karya kreatif

tidak lain adalah kehidupan kita dalam keseluruhannya.


15

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menulis teks drama adalah

kegiatan melahirkan pikiranan perasaan secara ekspresif dan apresiatif melalui

teks drama.

2.2.2 Hakikat Teks Drama

Menurut Ferdinan Brunetiere dan Balthazar Verhagen (dalam Hasanudin

1996:2), drama adalah kesenian yang melukiskan sifat dan sikap manusia dan

harus melahirkan kehendak manusia dengan action dan perilaku. Sedangkan

pengertian drama menurut Moulton (dalam Hasanudin 1996: 2) adalah hidup yang

dilukiskan dengan gerak, drama adalah menyaksikan kehidupan manusia yang

diekspresikan secara langsung.

Dari beberapa pengertian drama yang telah diungkapkan di atas

mencerminkan bahwa drama adalah sebuah karya yang lebih menonjolkan

dimensi seni lakonnya saja. Padahal meskipun drama ditulis dengan tujuan untuk

dipentaskan, tidak berarti bahwa semua karya drama yang ditulis pengarang

haruslah dipentaskan. Tanpa dipentaskan sekalipun , karya drama dapat dipahami,

dimengerti, dan dinikmati.

Drama adalah kualitas komunikasi, situasi action (segala apa yang terlihat

dalam pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (exciting), dan ketegangan

pada pendengar/penonton (Harimawan KMA,1986: 16).

Menurut Waluyo drama berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang

berarti berbuat, belaku, bertindak, atau bereaksi. Drama berarti perbuatan,

tindakan atau action. Sedangkan drama naskah dapat diberi batasan sebagai salah
16

satu genre sastra yang ditulis dalam bentuk dialog yang dadasarkan atas konflik

batin dan mempunyai kemungkinan untuk dipentaskan.

Dasar teks drama adalah konflik manusia yang digali dari kehidupan.

Dalam kegiatan sehari-hari ada pertengkaran, kesedihan, perselingkuhan,

kebahagiaan, kelahiran, kematian, dan lain-lain. Drama itu biasanya seputar itu

saja, seoarang penulis akan menulis kisah percintaan, sengketa, dan lain-lain itu

karena di dalam kehidupan manusia itu ada. Penuangan tiruan kehidupan tersebut

diberi warna oleh penulisnya. Dunia yang ditampilkan di depan pembaca bukan

dunia primer, tetapi dunia sekunder. Aktualisasi terhadap peristiwa dunia menjadi

peristiwa imajiner tersebut seratus persen menjadi hak pengarang. Sisi mana yang

dominan terlihat dalam lakon, ditentukan oleh bagaimana pengarang memandang

kehidupan.

Konflik manusia biasanya muncul akibat dari adanya pertentangan antara

tokoh yang satu dengan yang lainnya. Dengan pertikain itu terciptalah dramatic

action. Daya pikat sebuah teks drama ditentukan oleh dramtic action ini.

Perkembangan dramatic action dari awal sampai akhir, merupakan faktor yang

paling penting untuk membangun sebuah cerita. Unsur kreatifitas pengarang

terlihat dari kemahiran pengarang menjalin konflik, menjawab konflik dengan

surprise, dan memberikan kebaruan dalam jawaban itu. Jika terjadi hal yang

demikian, maka teks drama tersebut memiliki suspense (tegangan) yang

menambah daya pikat dalam sebuah teks drama.

Untuk memahami teks drama secara lengkap dan terinci, maka struktur

drama akan dijelaskan di sini. Unsur-unsur struktur itu saling menjalin


17

membentuk kesatuan dan saling terikat satu dengan yang lain. Menurut

Aminuddin dan Roekhan unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah teks drama

adalah:

1. Penokohan dan Perwatakan

Unsur utama dalam karya drama adalah pelaku. Dalam cerita pelaku

berfungsi untuk (1) menggambarkan peristiwa melalui lakuan, dialog, dan

monolog, (2) menampilkan gagasan penulis naskah secara tidak langsung, (3)

membentuk rangkaian cerita sejalan dengan peristiwa yang ditampilkan, dan (4)

menggambarkan tema atau ide dasar yang ingin dipaparkan penulis naskah

melalui cerita yang ditampilkan. Fungsi tersebut dapat memberikan gambaran

bahwa untuk memahami peristiwa, gagasan pengarang, rangkaian cerita, dan tema

dalam suatu naskah drama, maupun karya pementas drama terlebih dahulu

memahami lakuan, dialog, monolog, pikiran, suasana batin, dan hal lain yang

berhubungan dengan pelaku.

Berdasarkan fungsi di atas pelaku dapat dibedakan antara pelaku utama

dan pelaku tambahan. Pelaku yang menjadi sumber dan berperan uatama dalam

setiap peristiwa, berperan utama dalam membentuk cerita, mempunyai peranan

penting dalan mewujudkan tema disebut pelaku utama. Sebaliknya pelaku yang

hanya berfungsi sebagai pembantu atau pendukung kehadiran pelaku utama

disebut pelaku tambahan.

Agar pelaku yang ditampilkan dapat memberikan efek yang nyata atau

hidup dan menarik perlu diadakan karakterisasi. Salah satu bentuk karakterisasi

yang dilakukan adalah dengan memberikan gambaran penampilan dan gambaran


18

perwatakan kepada para pelaku yang ditampilkannya. Penggambaran pelaku

tersebut dapat dilakukan melalui penggambaran pikiran, sikap, suasana batin,

perilaku, cara berhubungan dengan orang lain, dialog, monolog komentar atau

penjelasan langsung. Selain itu pelaku juga dapat digambarkan melalui

pembicaraan, sikap, maupun pandangan pelaku lain terhadap yang dijadikan

sebagai sasaran pemahaman. Dari sinilah para pembaca dapat merasakan adanya

pelaku yang memberi kesan menyenangkan dan tidak menyenangkan.

2. Latar Cerita

Termasuk dalam latar cerita adalah latar berupa peristiwa, benda, objek,

suasana, maupun situasi tertentu. Latar dalam drama selain berfungsi untuk

membuat cerita menjadi lebih tampak hidup juga dapat dimanfaatkan untuk

menggambarkan gagasan tertentu secara tidak langsung

Latar cerita juga bisa berupa lingkungan kehidupan sosial masyarakat dan

lingkungan sosial budaya. Dalam hal demikian bisa juga latar tersebut tidak dapat

ditentukan berdasarkan gambaran secara fisik tetapi mesti ditafsirkan oleh

pembaca atau penonton. Dalam hal demikian, penafsiran tersebut bisa ditentukan

berdasarkan dialek penutur, alih kode yang dilakukan para pelaku, maupun

berbagai pernik kehidupan sosial budaya yang ditampilkan. Pemahaman latar

sosial budaya bisa juga didasarkan pada hasil penghubungan antara latar fisik,

latar waktu, amupun unsur-unsur lain dalam drama. Misal ketika pelaku

digambarkan menggunakan handphone dan membaca buku terbitan 2000, dengan

mudah pembaca dapat membedakann kemungkinan latarnya apabila yang muncul


19

adalah gambaran pelaku yang menggunakan telepon engkol dan membaca buku

tahun 1968.

3. Tema Cerita

Tema merupakan ide dasar yang melandasi pemaparan suatu cerita. Tema

mesti dibedakan dengan nilai moral atau amanat. Misal, ketika membuat naskah

drama yang berjudul “Sampuraga” penyusun naskah bertolak dari tema “Anak

yang durhaka kepada orang tua akan mendapat hukuman yang setimpal”. Tema

demikian dapat saja terwujudkan dalam gambaran peristiwa maupun rangkaian

cerita yang berbeda-beda sebagai lay down atau landas tumpu penceritaan

sehingga pengembangan cerita mestilah menunjukkan keselarasan dengan tema

ataupun berbagai pokok permasalahan yang digarap melalui pengembangan

ceritanya.

4. Penggunaan Gaya Bahasa

Sebagaimana dalam puisi, karya drama juga menggunakan gaya bahasa

dalam penerapannya. Penggunaan gaya bahasa tersebut antara lain difungsikan

untuk (1) memaparkan gagasan secara lebih hidup dan menarik, (2)

menggambarkan suasana lebih hidup dan menarik, (3) untuk menekankan suatu

gagasan, (4) untuk menyampaikan gagasan secara tidak langsung.

Meskipun ada beberapa kesamaan dengan penggunaan gaya bahasa dalam

puisi maupun karya drama pada umumnya, dalam drama terdapat penggunaan

gaya bahasa yang sulit digunakan dalam puisi karena penggunaan gaya bahasa

tersebut berkaitan dengan penggambaran suatu cerita keseluruhan. Gaya bahasa

yang dimaksud adalah gaya bahasa ironi, yaitu penggunaan gaya bahasa untuk
20

menyampaikan gagasan secara tidak langsung melalui pemaduan antara

penggunaan bahasa, penggambaran peristiwa, dan penyampaian cerita.

5. Rangkaian Cerita

Penentuan rangkaian cerita dalam drama berbagai macam. Apabila

ditentukan berdasarkan cerita berbentuk roman misalnya, rangkaian cerita tersebut

dapat digambarkan melalui tahap-tahap; perkenalan, komplikasi, konflik, klimaks,

antiklimaks, dan penyelesaian. Unsur-unsur dan rangkaian cerita tersebut tidak

selalu berlaku dalam setiap cerita drama. untuk menyusunnya pun pembaca harus

menggambarkan ulang berbagai peristiwa yang termuat dalam cerita yang

dibacanya. Untuk menyusun gambaran peristiwa tersebut sehingga membentuk

sebuah plot, pembaca mungkin menggarapnya berdasarkan urutan waktu maupun

urutan sebab akibat.

Dalam drama yang dibagi menjadi sejumlah babak biasanya kita

menemukan detail tahapan cerita dalam setiap babaknya yang dapat kita rinci ke

dalam tahap-tahap tertentu. Bahkan tidak terutup kemungkinan dalam setiap

babak tersebut seakan-akan kita sudah bisa membentuk sebuah kesatuan cerita

yang belum menggambarkan adanya klimaks dan penyelesaian. Adapun detail

tahapan cerita dalam setiap bagiannya dapat digambarkan sebagai berikut:

Tabel 1. Bagan Cerita dan Detail Tahapan

Bagan Cerita Detail Cerita

Awal Paparan (expositian): penjelasan/perkenalan


awal
Rangsangan (anciting): munculnya peristiwa
awal
Gawatan (rising action): munculnya benih
konflik/komplikasi
21

Tengah Konflik (Conflic)


Kerumitan (komplikasi)
Klimaks (klimaks)
Akhir Peleraian
Penyelesaian

Bisa saja sebuah cerita panjang di dalamnya menggunakan model

penceritaan secara flash back atau menggunakan pola sorot balik. Dalam hal

demikian cerita bisa diawali dari klimaks, kemudian menuju ke cerita bagian

awal,dan seterusnya. Atau dari sorot balik itu diawali dari klimaks untuk

kemudian menuju konflik dan kerumitan. Pada sisi lain bisa saja rangkaian cerita

yang dituangkan pengarang itu dalam plot ganda. Artinya dari sebuah judul cerita

pengarang menampilkan sejumlah pelaku utama yang masing-masing melahirkan

rangkaian cerita yang berbeda-beda sehingga masing-masing juga dapat

membentuk alur cerita yang berbeda-beda sehingga masing-masing cerita tersebut

terjalin dalam satu keutuhan judul.

Di dalam sebuah karya drama ada juga yang menyebut plot sebagai unsur

utama. Memang kedua unsur tersebut saling menjalin. Kekuatan plot terletak

dalam kekuatan penggambaran watak, sebaliknya kekuatan watak pelaku hanya

hidup dalam plot yang meyakinkan.

Plot merupakan jalinan cerita atau kerangka dari awal hingga akhir yang

merupakan jalinan konflik antara dua tokoh yang berlawanan. Konflik itu

berkembang karena kontradiksi para pelaku. Sifat dua tokoh utama itu

bertentangan, misalnya: kebaikan kontra kejahatan, tokoh sopan kontra tokoh

brutal, tokoh pembela kebenaran kontra tokoh bandit, tokoh ksatria kontra

penjahat, tokoh bermoral kontra tokoh tidak bermoral, dan lain sebagainya.
22

Konflik itu semakin lama semakin meningkat untuk kemudian mencapai titik

klimaks. Setelah klimaks lakon akan menuju penyelesaian.

Berdasarkan beberapa batasan teori yang telah dikemukakan oleh beberapa

ahli di atas tersebut, penulis setuju dengan batasan teori yang telah diungkapkan

oleh Aminuddin dan Roekhan sebagai rujukan dalam peulisan skripsi ini. setiap

teori yang telah dikemukakan tersebut pasti memliki kelemahan dan kelebihan

masing-masing. Adapun kelemahan dan kelebihan teori yang telah dikemukakan

oleh Aminuddin dan Roekhan, yaitu kelebihanya teori tersebut mengemukakan

tentang unsur-unsur yang terdapat di dalam sebuah teks drama. Teori ini lebih

mengarah pada penjelasan mengenai pemahaman tentang fungsi yang terdapat di

dalam unsur-unsur sebuah teks drama. Dengan mengetahui unsur-unsur drama

tersebut seorang penulis dapat membuat drama dengan imajinasinya sendiri

karena seorang penulis telah memilki gambaran tentang hal-hal yang harus

diperhatikan di dalam sebuah teks drama. Sedangkan kelemahan yang terdapat di

dalam teori tersebut mungkin drama yang akan dihasilkan kurang dapat

memberikan efek yang nyata sesuai dengan situasi dan kondisi yang diceritakan.

Berdasarkan simpulan tersebut penulis memilih untuk menggunakan teori

yang dikemukakan oleh Aminuddin dan Roekhan karena dengan menggunakan

teori tersebut sebagai rujukan dalam penulisan skripsi ini, diharapkan teks drama

yang akan dihasilkan oleh siswa sesuai dengan situasi dan kondisi yang nyata

sehingga teks drama tersebut selain dapat dipentaskan juga dapat dinikmati oleh

pembaca.
23

2.2.3 Kaidah Teks Drama

Apabila menyebut istilah drama, maka kita berhadapan dengan dua

kemungkinan, yaitu drama naskah dan drama pentas. Keduanya bersumber pada

drama naskah.

Drama berasal dari bahasa Yunani ”draomai” yang berarti berbuat, berlaku,

bertindak, atau beraksi. Drama berarti perbuatan, tindakan atau action. Drama

naskah merupakan salah satu genre sastra yang disejajarkan dengan puisi dan

prosa. Drama naskah dapat diberi batasan sebagai salah satu jenis karya sastra

yang ditulis dalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik batin dan

mempunyai kemungkinan untuk dipentaskan (Waluyo 2001:2).

Drama naskah disebut juga sastra lakon. Sebagai salah satu genre sastra,

drama naskah dibangun oleh struktur fisik (kebahasaan) dan struktur batin

(semantik, makna). Wujud fisik sebuah naskah adalah dialog atau ragam tutur.

Ragam tutur itu adalah ragam sasatra. Oleh karena itu, bahasanya dan maknanya

tunduk pada konfensi sastra, yang menurut Teeuw meliputi hal-hal berikut ini.

1. Teks sastra memiliki unsur atau struktur batin atau intern structure relation,

yang sebagian-bagiannya saling menentukan dan saling berkaitan

2. Naskah sastra juga memiliki struktur luar atau extern structure relation, yang

terikat oleh bahasa pengarangnya

3. Sistem sastra juga merupakan model dunia sekunder, yang sangat kompleks

dan bersusun-susun. Selanjutnya Teeuw juga menyebutkan tiga ciri khas karya

sastra, yaitu 1) teks sastra merupakan keseluruhan yang tertutup, yang

batasannya ditentukan dengan kebulatan makna, 2) dalam teks sastra


24

ungkapan itu sendiri penting, diberi makna, disemantiskan segala aspeknya, 3)

dalam memberi makna itu di satu pihak karya sastra terkait oleh konvensi,

tetapi di lain pihak menyimpang dari konvensi dengan pembaharuan, antara

mitos dengan kontra mitos (Teeuw dalam Waluyo 2001:7).

Dalam penyusunan naskah, pembabakan plot itu biasanya diwujudkan dalam

babak dan adegan. Perbedaan babak berarti perbedaan setting, baik berarti waktu,

tempat, maupun ruang. Perbedaan itu cukup baralasan karena setting berubah

secara fundamental. Babak-babak itu dibagi-bagi menjadi adegan-adegan.

Pergantian adegan yang satu dengan yang lain mungkin karena masuknya tokoh

lain dalam pentas, kejadian dalam waktu yang sama, tetapi peristiwannya lain,

ataupun karena kelanjutan satu peristiwa yang tidak memerlukan pergantian

setting (Waluyo 2001:12).

Dengan demikian, drama sebagai karya sastra hampir sama dengan karya sasta

dalam prosa. Keduanya sama-sama menceritakan tentang tokoh, konflik, setting,

dan amanat yang ingin disampaikan. Perbedaanya prosa disampaikan secara

naratif sedangkan drama disajikan dalam bentuk dialog.

Drama juga disajikan dalam bentuk babak dan adegan. Babak sama dengan

bagian, setiap babak terdiri atas beberapa adegan. Dan ciri adegan biasanya

ditandai dengan adanya pergantian pelaku dan peristiwa.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam penulisan teks

drama harus memperhatikan kaidah teks drama yang meliputi: 1) teks drama

disajikan dalam bentuk babak dan adegan, 2) ada kemungkinan untuk dipentaskan

dalam teks drama yang disajikan.


25

2.2.4 Menulis Teks Drama

Menurut Tarigan (1982:21), menulis adalah melukiskan lambing grafik

yang menggambarkan suatu bahasa yang dapat dipahami dan dapat dibaca oleh

oaring lain sehingga orang tersebut dapat membaca lambang-lambang grafik itu

dengan jelas.

Menurut Marwoto (1995:12), menulis adalah kemampuan untuk

mengungkapkan gagasan, pikiran, pendapat, ilmu pengetahuan, dan pengalaman-

pengalaman kehidupan dalam bahasa tulis yag jelas, runtut, enak,, dan mudah

dipahami oleh orang lain.

Drama menurut Ferdinan Brunetiere dan Balthazar Verhagen (dalam

Hasanudin 1996:2) adalah kesenian yang melukiskan sifat dan sikap manusia dan

harus melahirkan kehendak manusia dengan action dan perilaku. Sedangkan

pengertian drama menurut Moulton (dalam Hasanudin 1996:2) adalah hidup yang

dilukiskan dengan gerak, drama adalah menyaksikan kehidupan manusia yag

diekspresikan secara langsung.

Menurut Waluyo drama berasal dari bahasa Yunani “Draomai” yang

berarti berbuat, berlaku, bertindak, atau bereaksi. Darama berarti perbuatan,

tindakan action. Sedangkan drama naskah dapat diberi batasan sebagai salah satu

genre sastra yang ditulis dalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik batin

dan mempunyai kemungkinan untuk dipentaskan.

Menurut Jabrohim dkk (dalam Jabrohim 2003: 122), penulisan teks drama

merupakan suatu proses yang utuh, yang mempunyai keseluruhan. Ada berbagai

aspek yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam menulis sebuah teks drama, yaitu
26

1) penciptaan latar (creatting setting), 2) penciptaan tokoh yang hidup (freshing

out character), 3) penciptaan konflik-konflik (working with konflik), 4) penulisan

adegan. Dan uraiannya adalah sebagai berikut:

1. Penciptaan latar (creating setting)

Lingkungan fisisk tempat penulis drama menempatkan aksi (action) para

tokoh ciptaannya disebut setting. Biasanya para penulis drama yang sudah

berpengalaman seringkali menggunakan suatu lingkungan yang aktual (nyata),

yaitu dengan observasi sebagai dasar setting drama yang akan ditulis dengan

memodifikasi hasil observasi agar menjadi setting yang paling baik untuk sebuah

drama. Karena dengan observasi terhadap lingkungan yang aktual menyediakan

begitu banyak detail yang bermanfaat untuk penulis drama sendiri, bahkan juga

dapat menyuburkan imaji penulis, dalam arti bukan hanya diimpikan semata.

Inspirasi untuk menyusun setting berada dalam drama itu sendiri, yaitu

penulis dapat menemukan indikasi-indikasi setting dalam serangkaian dialog para

tokoh, dalam konflik-konflik, dan elemen-elemen lain yang ada dalam drama itu

sendiri.

2. Penciptaan tokoh yang hidup (freshing out character)

Deskripsi tokoh utama dalam drama biasanya ditulis seperti deskripsi

setting. Penulis drama melukiskannya seringkas dan setepat mungkin. Informasi

yang biasa termasuk di dalamnya, yaitu (1) Nama tokoh; (2) Usia tokoh; (3)

Deskripsi tokoh secukupnya; (4) Hubungan tokoh utama dengan tokoh-tokoh

lainnya. Para penulis drama mendasarkan karakter tokoh drama mereka pada

orang-orang yang dikenal secara akrab. Mereka menggunakan orang-orang yang


27

secara nyata ada di tengah-tengah masyarakat sebagai model yang mereka

sediakan segi-segi permukaan karakter tokoh dan menggali wawasan kehidupan

yang tidak hanya tersedia jika mereka hanya bergantung pada semata-mata pada

imajinasi.

Meskipun aspek itu sederhana tapi sangat membantu dalam membangun

karakter tokoh karena aspek tersebut dapat memperlihatkan kepribadian

tokoh,yaitu tentang bagaimana ia mengenakan pakaian. Apa yang disandang

tokoh dan bagaimana ia menyandangnya.

3. Penciptaan konflik-konflik (working with konflik)

Dalam konflik seorang tokoh menginginkan sesuatu, sedangkan tokoh

yang lain berusaha mencegah keinginan itu. Definisi konflik adalah seorang tokoh

ingin (mempunyai motivasi) mencapai tujuan (goal) tertentu, tetapi seorang

(sesuatu) merintangi (mencegah) keberhasilan tokoh pertama tadi. Jika motivasi

tokoh pertama tadi cukup kuat, maka tokoh itu berusaha kuat mengatasi

rintangan-rintangan itu dengan taktik-taktik agar ia berhasil mencapai tujuannya.

4. Penulisan adegan

Seorang penulis drama yang sudah berpengalaman sebelum menulis

adegan lengkap dengan dialog, terlebih dahulu memetakan konflik berupa naratif

yang belum ada dialognya. Adegan ditulis sebagai sebuah cerita. Dengan

menghidupkan tokoh-tokoh terntu dengan mengembangkan karakternya dan

menempatkan tokoh-tokoh pada setting kehidupan mereka serta menemukan

situasi-situasi yang bisa menimbulkan konflik, kemudian dituangkan ke dalam


28

skenario dasar berupa sebuah adegan pendek, maka penulisan sebuah drama

sebagian sudah terselesaikan.

Berdasarkan beberapa batasan teori yang telah dikemukakan oleh beberapa

ahli di atas tersebut, dalam hal ini penulis setuju dengan batasan teori yang telah

diungkapkan oleh Jabrohim dkk. sebagai rujukan dalam peulisan skripsi ini. setiap

teori yang telah dikemukakan tersebut pasti memliki kelemahan dan kelebihan

masing-masing. Kelebihan yang terdapat di dalam teori yang dikemukakan oleh

Jabrohim dkk. misalnya, teori tersebut mengemukakan tentang cara menulis teks

drama dengan memperhatikan beberapa aspek yang dapat dijadikan sebagai dasar

dalam penulisan sebuah teks drama seperti: penciptaan latar (creating setting),

penciptaan tokoh yang hidup (freshing out character), penciptaan konflik

(working with konflik), dan penulisan adegan. Di dalam teori tersebut ada

beberapa aspek yang menurut Jabrohim, sebelum seorang penulis memulai

menciptakan sebuah teks drama telebih dahulu mengadakan observasi terhadap

tempat yang akan dijadikan sebagai setting dalam drama tersebut agar dapat

mengasilkan karya drama sesuai dengan situasi yang akan diceritakan. Begitu juga

dengan krakter tokoh yang akan diciptakan, seorang penulis biasanya mengamati

orang-orang yang ada disekitarnya sebagai model untuk memperoleh gambaran

karakter seorang tokoh yang nyata dengan menggali wawasan dari masing-masing

tokoh tersebut. Dengan demikian, berdasarkan teori ini drama yang akan

dihasilkan oleh seorang penulis dapat membangkitkan daya imaji pembaca seolah-

olah pembaca dapat menikmati drama tersebut seperti berada di dalam kehidupan

yang nyata atau dapat memberi kesan yang menarik dan menyenangkan bagi para
29

pembaca, jadi teori ini lebih mengemukakan tentang cara atau penerapan dalam

menulis sebuah teks drama dan teori ini dapat dijadikan sebagai landasan ketika

kita akan menulis sebuah teks drama. Sedangkan kelemahan yang terdapat di

dalam teori tersebut untuk dapat menciptakan sebuah teks drama, seorang penulis

membutuhkan waktu yang cukup lama karena penulis harus benar-benar

megamati beberapa aspek dasar secara langsung.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menulis drama

merupakan kemampuan untuk mengungkapkan gagasan, pikiran, dan

pengalaman-pengalaman kehidupan yang dapat melukiskan sifat dan sikap

manusia dengan action dan perilaku yang ditulis dalam bentuk dialog dengan

berdasarkan atas konflik yang tajam dan jelas sehingga pembaca dapat merasakan

suasana dan peristiwa yang terdapat di dalam cerita drama tersebut.

Di samping harus memperhatikan hal-hal di atas juga harus

memperhatikan kaidah penulisan teks drama. Adapun kaidah penulisan teks

drama adalah sebagai berikut.

1. Teks drama yang disajikan dalam bentuk babak

2. Ada kemungkinan untuk dipentaskan.

2.2.4 Elemen Pemodelan

Komponen pemodelan merupakan salah satu dari tujuh komponen

pembelajaran kontekstual. Maksud komponen pemodelan dalam pembelajaran

adalah dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu ada

model yang ditiru.model itu bisa berupa cara mengoprasikan sesuatu, cara

melempar bola dalam olah raga, contoh karya tulis, dan cara melafalkan sesuatu.
30

Dengan demikian, guru memberi model tentang ‘bagaimana cara belajar’

(Depdiknas 2002:16).

Dalam pendekatan kontekstual komponen pemodelan, guru bukan satu-

satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Siswa bisa

ditunjuk untuk memberikan contoh temannya cara melafalkan suatu kata. Jika

kebetulan ada siswa yang pernah memenangkan lomba baca puisi atau

memenangkan kontes berbahasa inggris, siswa tersebut dapat ditunjuk untuk

mendemonstrasikan keahliannya. Siswa ‘contoh’ tersebut dikatakan sebagai

model. Siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai ‘standar’

kompetensi yang harus dicapai.

Model juga dapat didatangkan dari luar. Misalnya seorang penutur asli

berbahasa Inggris sekali waktu dapat dihadirkan di kelas untuk menjadi ‘model’

cara belajar, cara bertutur kata, gerak tubuh ketika berbicara dan sebagainya

(Nurhadi dan Senduk 2003:50).

Dengan demikian, dalam pembelajaran menulis teks drama guru akan

menghadirkan model yang berupa teks drama yang dibuat sendiri atau diambil

dari sumber lain kepada siswa saat proses pembelajaran berlangsung. Sebelum

mengerjakan tes menulis teks drama siswa mengamati dan membahas model yang

dihadirkan secara bersama-sama sehingga siswa dapat mengetahui hal-hal yang

berkaitan dengan teks drama, misalnya unsur-unsur drama. Jadi, teks drama yang

dihasilkan siswa sesuai dengan yang diharapkan karena siswa dapat

mengembangkan ide yang ada di pikirannya berkat model yang telah

diperlihatkan oleh guru sebagai acuannya.


31

2.2.5 Pembelajaran Menulis Teks Drama Dengan Pendekatan

Kontekstual Komponen Pemodelan

Pembelajaran menulis teks drama di sini menggunakan pendekatan

kontekstual. Ketika melaksanakan pembelajaran kontekstual, sebenarnya ketujuh

komponen pendekatan kontekstual tidak dapat lepas satu dengan lainnya. Akan

tetapi kita dapat menekankan pada satu atau dua komponen saja. Pembelajaran

menulis teks drama dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kotekstual

komponen pemodelan.

Dalam pembelajaran menulis teks drama guru membagi siswa menjadi

beberapa kelompok kecil yang beranggotakan 4-5 orang. Selanjutnya guru

menghadirkan model yang berupa contoh teks drama yang dijadikan model.

Model tersebut dihadirkan untuk memberitahukan kepada siswa tentang bentuk

teks drama dan untuk memberikan kemudahan bagi siswa dalam memahami teks

drama, sehingga siswa dapat memahami unsur-unsur yang terdapat di dalam teks

drama nodel ini tidak untuk ditiru oleh siswa, melainkan untuk menstimulus

siswa agar siswa dapat memiliki gambaran tentang teks drama yang akan siswa

buat. Di sini siswa menjadi lebih aktif karena siswa harus bisa menemukan sendiri

pengetahuan tentang teks drama dari model tersebut. Misalnya, pengertian, ciri-

ciri dan unsur-unsur drama. Dan peran guru di sini hanya sebagai fasilitator dan

motivator yang mengarahkan dan memotivasi keaktifan siswa.

Setelah mengamati model tersebut, siswa berdiskusi dengan teman satu

kelompoknya untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan teks drama.

Kemudian dibahas bersama guru. Setelah siswa mengetahui hal-hal yang


32

berakitan dengan teks drama, siswa diminta menulis sebuah teks drama dengan

memperhatikan hal-hal yang berakaitan dengan drama. Agar situasi cerita dalam

teks drama tersebut menjadi lebih hidup, siswa harus bisa menggambarkannya

sesuai dengan situasi yang ada tentang apa yang dirasakan, dilihat, dan didengar.

Pada saat siswa praktik menulis teks drama, guru mengarahkan kegiatan siswa.

Melalui pembelajaran seperti ini diharapkan dapat memecahkan masalah

kemampuan menulis teks drama siswa dan diharapkan dapat mengubahan tingkah

laku siswa selama pembelajaran menulis teks drama.

2.2.6 Materi Pembelajaran Menulis Teks Drama dengan Pendekatan

Kontekstual Komponen Pemodelan

Sesuai dengan jenjang pendidikan, sekolah menengah pertama (SMP)

materi yang diajarkan pun semakin mendalam. Salah satu kompetensi

pembelajaran sastra yang harus dicapai oleh siswa adalah menulis teks drama.

Adapun indicator yang harus dicapai oleh siswa adalah siswa mampu menulis teks

drama dengan menggunkan bahasa yang sesuai untuk mengembangkan

penokohan, menghidupkan konflik, dan manghadirkan latar yang mendukung.

Bahan pembelajaran yang digunakan adalah materi tentang menulis teks

drama. Materi tersebut, terdiri atas bagian-bagian teks drama dan langkah-langkah

menulis teks drama. Teks drama memiliki bagian-bagian judul, deskripsi

penokohan, babak (yang terdiri atas prolog, monolog/dialog, dan epilog), dan

penunjuk pementasan. Istilah prolog, monolog, dan epilog dikemukakan oleh

Suharianto (2005-65) yang menyatakan bahwa prolog adalah penjelasan yang

disamapaikan sebelum suatu pertunjukkan dimulai. Monolog adalah percakapan


33

yang dilakukan oleh seorang pelaku. Dan epilog adalah penjelasan yang diberikan

pada akhir suatu pertunjukkan atau pementasan.

Langkah-langkah menulis teks drama dimulai dari merumuskan tema atau

gagasan, mendeskripsikan penokohan atau memberi nama-nama tokoh, membuat

garis besar isi cerita, mengembangkan garis besar isi cerita ke dalam dialog-

dialog, membuat petunjuk pementasan yang baiasanya ditulis dalam tanda kurung

maupun dapat ditulis dengan huruf miring atau huruf capital semua, dan memberi

judul pada teks drama yang sudah ditulis

Adapun pemilihan bahan naskah drama yang diajarkan harus memenuhi

kriteria tertentu. Waluyo (2001:199) mengemukakan pemilihan bahan naskah

drama untuk diajarkan harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

1) Sesuai dan menarik bagi tingkat kematangan jiwa murid.

2) Tingkat kesulitan bahasanya sesuai dengan tingkat kemampuan bahasa murid

yang akan menggunakannya. Jika bahasanya terlalu sulit, maka apresiasi tidak

mungkin akan dapat dibina.

3) Bahasanya sedapat mungkin menggunakan bahasa yang standar, kecuali jika

cerita memang memasalahkan penggunaan dialek. Penggunaan dialek sedikit

mungkin tidakklah begitu jelek, tetapi jika dapat dihindarkan sebaiknya

dihindari.

4) Isinya tidak bertentangan dengan haluan Negara kita

5) Naskah hendaknya mempunyai cirri-ciri yaitu adanya masalah yang jelas,

adanya tema yang jelas, adanya perwatakan peranan, adanya penggunakan


34

kejutan yang tepat, bertolak dari gagasan murni penulis, dan menggunakan

bahasa yang baik.

2.2.7 Kriteria Penilaian Dalam Pembelajaran Menulis Teks Drama

Sistem penilaian yang digunakan dalam pembelajaran menulis teks drama

ini adalah penilaian proses dan hasil. Hal ini, diharapkan dapat menciptakan

pembelajaran dengan hasil yang memuaskan atau berkualitas. Sesuai dengan

pendapat Mulyasa (2002:102) yang menyatakan bahwa kualitas pembelajaran

dapat dilihat dari segi proses dan hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan

berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar

(75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental atau sosial dalam

proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan yang tinggi semangat

yang besar, dan rasa percaya diri sendiri. Dari segi hasil, proses pembelajaran

dikatakan berhasil jika terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri pserta

didik seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) lebih lanjut

pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas jika masukan merata,

menghasilkan output yang banyak dan bermutu tinggi, sesuai dengan

kebutuhan/perkembangan masyarakat dan pembangunan.

Penilaian proses dilakukan dengan menilai perilaku siswa pada saat

pembelajaran berlangsung, yang dapat diambil melalui data observasi, jurnal, dan

wawancara. Penilaian hasil dilakukan dengan menilai teks drama yang ditulis oleh

siswa dengan menitikberatkan pada aspek tema, aspek setting atau latar, aspek

konflik, aspek penokohan, dan aspek bahasa. Berikut ini adalah kriteria yang

digunakan dalam penilain teks drama siswa.


35

1) Tema

Tema merupakan ide dasar yang melandasi pemaparan suatu cerita. Dalam

hal ini, tema yang diangkat harus selaras dengan pengembangan dari berbagai

pokok permasalahan yeng terdapat di dalam cerita tersebut.

2) Setting

Termasuk dalam setting atau latar adalah latar berupa peristiwa, benda,

objek, suasana, maupun situasi tertentu. Untuk setting atau lattar kriteria penilaian

menitikberatkan pada penggambaran setting secara ringkas, jelas, dan hidup.

Karena setting dalam drama selain berfungsi untuk menghidupkan cerita, juga

dimanfaatkan untuk menggambarkan gagasan tertentu secara tidak langsung.

3) Konflik

Dasar teks drama adalah konflik manusia yang digali dari kehidupan.

Konflik manusia biasanya muncul akibat dari adanya pertentangan antara tokoh

yang satu dengan yang lainnya. Untuk itu kriteria penilaian konflik

menitikberatkan pada terciptanya konflik yang tajam dan jelas. Konflik dikatakan

tajam dan jelas apabila konflik yang diciptakan semakin lama semakin meningkat

sampai klimaks. Jadi di dalam cerita tersebut konflik diciptakan tahap demi tahap

mulai dari tahap pengenalan kemudian muncul peristiwa awal, kemudian ditengah

cerita terjadi kerumitan sampai klimaks. Dengan munculnya klimaks tersebut

konflik yang terjadi akan mulai reda dengan adanya peleraian yang akhirnya

sampai pada penyelesaian.


36

4) Penokohan atau perwatakan

Unsur utama dalam karya drama adalah pelaku yang berfungsi untuk (1)

menggambarkan peristiwa melalui lakuan, dialog, dan monolog, (2) menampilkan

gagasan penulis naskah secara tidak langsung, (3) membentuk rangkaian cerita

sejalan dengan peristiwa yang ditampilkan, dan (4) menggambarkan tema yang

dipaparkan penulis naskah melalui cerita yang ditampilkan. Fungsi tersebut dapat

memberikan gambaran bahwa untuk memahami peristiwa, gagasan pengarang,

rangkaian cerita, dan tema dalam suatu naskah drama, maupun karya pementas

drama terlebih dahulu memahami lakuan, dialog, pikiran, suasana batin, dan hal

lain yang berhubungan dengan pelaku.

Berdasarkan fungsi tersebut kriteria penilaian untuk penokohan atau

perwatakan difokuskan pada karakter tokoh yang digambarkan secara jelas agar

pelaku yang ditampilkan dapat memberikan efek yang nyata dan menarik.

Penggambaran pelaku dapat dilakukan melalui penggambaran pikiran, sikap,

suasana batin, perilaku, cara berhubungan dengan orang lain, dialog, monolog,

komentar atau penjelasan langsung dengan bahasa yang sesuai dengan karakter

masing-masing tokoh.

5) Bahasa

Dalam karya drama penggunaan gaya bahasa berfungsi untuk (1)

memaparkan gagasan secara lebih hidup dan menarik, (2) menggambarkan

suasana lebih hidup dan menarik, (3) untuk menekankan suatu gagasan, (4) untuk

menyampaikan gagasan secara tidak langsung. Oleh karena itu, kriteria penilaian

untuk penggunaan gaya bahasa menitikberatkan pada pengguaan gaya bahasa


37

yang dapat menggambarkan setiap karakter tokoh yang berbeda. Karena melalui

gaya bahasa yang digunakan oleh masing-masing karakter tokoh yang berbeda

dapat menggambarkan suasana maupun peristiwa yang sedang terjadi dalam cerita

tersebut sehingga pembaca atau penonton dapat merasakan situasi tersebut.

Drama berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat,

berlaku, bertindak, atau beraksi. Drama berarti perbutan, tindakan atau action.

Drama naskah merupakan salah satu genre sastra yang disejajarkan dengan puisi

dan prosa. Drama naskah dapat diberi batasan sebagai salah satu jenis karya sastra

yang ditulis dalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik batin dan

mempunyai kemungkinan dipentaskan (Waluyo 2001:2).

Dalam penyusunan naskah, pembabakan plot itu biasanya diwujudkan

dalam babak dan adegan. Perbedaan babak berarti perbedaan setting, baik berarti

waktu, tempat, maupun ruang. Perbedaan itu cukup beralasan karena setting

berubah secara fundamental. Babak-babak itu dibagi-bagi menjadi adegan-adegan.

Pergantian adegan yang satu dengan dengan yang lain mungkin karena masuknya

tokoh lain dalam pentas, kejadian dalam waktu yang sama, tetapi peristiwanya

lain, ataupun karena kelanjutan satu peristiwa yang tidak memerlukan pergantian

setting (Wluyo 2001:12).

Dengan demikian, drama sebagai karya sastra hamper sama dengan karya

sastra dalam prosa. Keduanya sama-sama menceritakan tentang tokoh, konflik,

setting, dan amanat yang ingin disampaikan. Perbedaanya prosa disampaikan

secara naratif sedangkan drama disajikan dalam bentuk dialog.


38

Drama juga disajikan dalam bentuk babak dan adegan. Babak sama

dengan bagian, setiap babak terdiri atas beberapa adegan. Dan cirri adegan

biasanya ditandai dengan adanya pergantian pelaku dan peristiwa.

Berdasarkan uraian di atas criteria penilaian dalam kaidah penulisan teks

drama yang sesuai difokuskan pada:

1. Teks drama yang disajikan dalam bentuk babak

2. Ada kemungkinan untuk dipentaskan.

2.3 Kerangka Berpikir

Tujuan pengajaran bahasa membantu siswa mengembangkan keterampilan

berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulis. Salah satu kemampuan siswa yang

mendasar adalah kemampuan untuk mengekspresikan diri dengan menggunakan

bahasa tulis. Kemampuan menulis merupakan kemampuan bahasa yang semakin

penting untuk dikuasai. Kemampuan tersebut sangat potensial, yaitu (1) sebagai

sarana menemukan sesuatu, (2) memunculkan ide baru, (3) melatih kemampuan

mengorganisasi dan menjernihkan berbagai konsep atau ide, (4) melatih sikap

objektif, (5) membantu untuk menyerap dan memproses informasi, dan (6) untuk

membantu berpikir secara aktif.

Dengan demikian keterampilan menulis di sekolah-sekolah perlu

ditingkatkan, tidak terkecuali di SMP Negeri 3 Ungaran karena pembelajaran

menulis yang berhasil akan membawa manfaat yang besar dalam keterampilan

berbahasa siswa.
39

Kemampuan menulis teks drama siswa SMP Negeri 3 Ungaran masih

rendah. Hal ini disebabkan guru tidak menerapkan pemodelan dalam proses

pembelajaran menulis teks drama. Guru hanya memberikan penjelasan mengenai

teks drama. Guru tidak memperlihatkan secara langsung bentuk teks drama yang

konkret. Hal inilah yang membuat siswa menjadi kurang berminat dan kurang

temotivasi untuk mengikuti pembelajaran menulis teks drama sebab siswa tidak

memiliki gambaran mengenai hal-hal yan berkaitan dengan teks drama. Selain itu

siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami dan mengenal bentuk teks

drama.

Strategi yang digunakan guru dalam pembelajaran menulis selama ini

masih berjalan satu arah. Dalam pembelajaran menulis teks drama di kelas, guru

menggunakan teknik ceramah sehingga siswa kurang berminat dalam mengikuti

pembelajaran menulis teks drama karena siswa merasa bosan saat pembelajaran

berlangsung.

Kompetensi dasar menulis teks drama pun sudah diajarkan akan tetapi

masih ada hambatan yang dialami oleh siswa. Hal ini sesuai dengan keterangan

yang diperoleh dari guru yang bersangkutan yang menyatakan bahwa siswa belum

mampu menulis drama secara produktif, siswa mau menulis teks drama jika

mendapat tugas dari guru, dimana tema yang hendak dibuat sudah ditentukan oleh

guru.

Upaya untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mengubah pendekatan

yang digunakan dalam pembelajaran. Salah satu pendekatan yang dapat

digunakan sebagai alternatife, yaitu dengan menerapkan pendekatan kontekstual


40

komponen pemodelan. Dalam hal ini guru berperan sebagai fasilitator dan

motivator. Jadi, siswa yang dituntut untuk berperan aktif.

Berdasarkan masalah terebut di atas, peneliti menggunakan penelitian

tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas ini melalui dua siklus. Tiap siklus terdiri

atas empat tahap, yaitu tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.

Siklus satu dimulai dengan tahap perencanaan, berupa rencana kegiatan

langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Pada tahap

tindakan, peneliti melakukan tindakan sesuai dengan rencana yang telah disusun.

Tindakan yang dilakukan adalah mengadakan pembelajaran menulis teks drama

dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Tahap observasi dilakukan

ketika pembelajaran berlangsung. Hasil yang diperoleh dalam pembelajaran

kemudian direfleksi. Kelebihan yang diperoleh dalam siklus satu dipertahankan.

Sedangkan kelemahan yang ada dicari solusinya dalam siklus dua dengan cara

memperbaiki perencanaan pada siklus dua. Setelah perencanaan pada siklus dua

diperbaiki, tahap selanjutnya adalah tindakan dan observasi dilakukan sama

dengan silkus satu. Hasil yang diperoleh pada tahap tindakan dan observasi pada

siklus dua kemudian direflesikan untuk menentukan kemajuan-kemajuan yang

telah dicapai dalam proses pembelajaran. Kemudian hasil tes siklus satu dan

siklus dua dibandingkan dalam hal pencapaian nilai. Hal ini digunakan untuk

mengetahui peningkatan kemampuan menulis teks drama dengan pendekatan

kontekstual komponen pemodelan.


41

2.4 Hipotesis

Berdasarkan uraian di atas, hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini

adalah kemampuan menulis teks drama dan tingkah laku siswa kelas VIII E SMP

Negeri 3 Ungaran akan meningkat jika dalam pembelajarannya menggunakan

pendekatan kontekstual komponen pemodelan.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah kemampuan menulis teks drama siswa kelas

VIII E SMP Negeri 3 Ungaran Semarang. Kelas ini adalah salah satu dari lima

kelas yang ada, yaitu VIII A, VIII B, VIII C, VIII D, dan VIII E.

Penelitian ini memilih kelas VIII E dengan alasan:

1. Berdasarkan kegiatan pembelajaran sehari-hari kelas ini termasuk kelas yang

masih rendah prestasinya, dan kurang termotivasi dalam belajar. Keadaan

kelas sering pasif sebab strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru

masih berjalan satu arah, sehingga dalam proses pembelajarannya siswa hanya

mendengkarkan penjelasan dari guru saja.

2. Kemampuan menulis teks drama siswa kelas VIII E yang hasilnya belum

memuaskan karena sebagian dari siswa belum memahami dan mengenal

bentuk teks drama.

3. Sesuai dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi Bahasa Indonesia siswa kelas

VIII harus mempunyai kemampuan keterampilan menulis.

4. Selain itu, SMP Negeri 3 Ungaran dijadikan sebagai tempat untuk

mengadakan penelitian sebab untuk mempermudah dalam proses pengambilan

data.

42
43

3.2 Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini ada dua macam, yaitu variabel kemampuan menulis

teks drama dan variabel menggunakan media teks drama dengan pendekatan

kontekstual komponen pemodelan

Variabel pertama kemampuan menulis teks drama. Kemampuan menulis

teks drama adalah suatu proses kegiatanan megungkapkan suatu ide, gagasan, dan

pengalaman hidup dengan menggambarkan situasi kehidupan yang dituangkan

dalam bentuk tulisan yang berupa dialog dan memiliki beberapa aspek antara lain:

tema, perwatakan, alur, dan bahasa.

Variabel kedua adalah penggunaan media teks drama dengan pendekatan

kontekstual komponen pemodelan. Pemodelan adalah teknik menyampaikan

pembelajaran melalui contoh-contoh teks drama. Di dalam proses

pembelajarannya menggunakan model berupa teks drama. Di sini siswa

diperlihatkan contoh teks drama sehingga siswa dapat melihat secara langsung

bentuk teks drama. Setelah itu siswa diminta untuk berlatih membuat teks drama.

3.3 Desain Penelitian

Desain penelitian Tindakan Kelas dengan model Kemmis dan Taggart

(dalam Madya 1994:24) merupakan model yang tidak terlalu sulit untuk

digunakan. Model ini terdiri atas empat komponen, yaitu:

1. Rencana, yaitu tindakan yang akan digunakan untuk memperbaiki,

meningkatkan atau perubahan sebagai solusi. Dalam penelitian ini rencana

yang berupa pembelajaran menulis teks drama.


44

2. Tindakan, yaitu tindakan apa yang dilakukan guru sebagai upaya perbaikan,

peningkatan atau perubahan sebagai solusi. Maksudnya melakukan perbaikan

terhadap kesalahan siswa dalam menulis teks drama.

3. Observasi atau pengamatan, yaitu mengamati hasil atau dampak dari tindakan

yang dilaksanakan oleh siswa. Kesalahan siswa, kesulitan yang dihadapi

siswa, kegairahan siswa, tanggapan siswa, kita himpun dan kita jadikan

pertimbangan untuk perencanaan pada siklus berikutnya.

Desain penelitian yang akan dilakukan menganut model Kemmis dan

McTaggart (Arikunto 2002:84) pelaksanaan penelitian tindakan kelas dalam dua

siklus dapat digambarkan dengan mengikuti alur sebagai berikut:

Keterangan P: Perencanaan

T: Tindakan

O: observasi

R: Refleksi

3.3.1 Siklus I

Siklus ini dimaksudkan untuk melakukan pembelajaran menulis teks

drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan,

selain itu siklus I digunakan sebagai komparasi atau pembanding dengan


45

pembelajaran pada siklus II. Langakah-langkah yang digunakan dalam siklus I

adalah sebagai berikut:

a. Perencanan

Pada siklus I peneliti menyusun rencana pembelajaran yag berisi 1) judul,

yang meliputi jenis mata pelajara, jenjang pendidikan, tema, kelas, semester,

alokasi waktu, 2) skenario pembelajaran, meliputi kegiatan, pendahuluan,

kegiatan inti, penutup, 3) alat dan bahan 4) strategi pembelajaran, 5) sarana dan

sumber belajar 6) jenis penelitian.

b. Tindakan

Langkah awal tahap ini adalah guru mengadakan kegiatan apersepsi

singkat dengan menceritakan yang berhubungan dengan drama, bertanya jawab

dan menyampaikan tujuan pembelajaran serta memberitahukan kompetensi yang

harus dicapai siswa. Kegiatan selanjutnya guru memberikan materi tentang unsur-

unsur drama. Kemudian guru meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil.

Setelah itu guru membagikan teks drama kepada tiap-tiap kelompok. Selanjutnya

siswa diminta untuk mendiskusikan isi drama tersebut. Langkah selanjutnya guru

meminta siswa untuk mendiskusikan tema yang akan ditulis oleh masing-masing

anggota kelompok. Setelah itu guru menugasi tiap-tiap anggota kelompok untuk

menulis sebuah teks drama sesuai dengan tema yang sudah didiskusikan secara

individu.

Pada akhir pembelajaran, guru merefleksi pembelajaran bersama siswa

dengan memberikan simpulan.


46

c. Observasi

Peneliti mengamati perilaku siswa selama proses pembelajaran

berlangsung, yaitu mengamati sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis

teks drama, keaktifan siswa dalam bertanya dan menanggapi pendapat teman serta

keseriusan dalam mengikuti pembelajaran menulis teks drama dari awal sampai

akhir.

d. Refleksi

Peneliti menganalisis hasil pengamatan dengan berdasarkan atas hasil

menulis teks drama dan perilaku belajar siswa selama mengikuti proses kegiatan

menulis teks drama. Sejauh mana siswa aktif berinteraksi antara guru dengan

siswa atau siswa dengan siswa dan melihat kemampuan intelektual siswa dalam

memahami teks drama. Berdasarkan analisis tersebut dapat diketahui bahwa

sebagian siswa masih merasa kesulitan dalam menentukan penokohan dan konflik

yang tajam dan jelas. Analisa terhadap hasil kegiatan menulis teks drama pada

siklus I ini akan digunakan sebagai pembanding dalam tindakan siklus II.

3.3.2 Siklus II

Siklus II ini dilakukan sebagai uasaha untuk meningkatkan kemampuan

siswa dalam menulis teks drama sekaligus digunakan untuk mengetahui peran

serta siswa selama mengikuti proses pembelajaran menulis teks drama.

Penilaian proses dan penilaian hasil ini merupakan satu kesatuan yang

dijadikan bahan acuan peneliti untuk mengetahui peningkatan kemampuan dan

perubahan perilaku belajar siswa dalam menulis teks drama.


47

a. Perencanaan

Pada siklus II peneliti menyusun rencana pembelajaran yang berisi 1)

judul, yang meliputi jenis mata pelajaran, jenjang pendidikan, tema, kelas,

semester, alokasi waktu, 2) skenario pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan,

kegiatan inti, penutup, 3) alat dan bahan, 4) strategi pembelajaran 5) sarana dan

sumber belajar, 6) jenis penilaian.

b. Tindakan

Langkah awal yang dilakukan dalam siklus II ini tidak jauh berbeda

dengan siklus I. Setelah mengetahui kekurangan yang terdapat dalam siklus I,

peneliti akan mencoba memperbaiki pada silkus II untuk menghindari kesalahan

yang sama dalam siklus I. Berdasarkan hasil tindakan siklus I diketahui bahwa

siswa masih merasa kesulitan dalam menentukan penokohan dan menentukan

konflik yang tajam dan jelas. Bagian-bagian yang masih sulit dipahami oleh siswa

menjadi perhatian peneliti untuk ditindaklanjuti dalam siklus II.

Kegiatan yang dilakukan sama dengan kegiatan yang telah dilakukan pada siklus

I. Akan tetapi pada tindakan siklus II ini peneiliti lebih memfokuskan pada

masalah penokohan dan konflik. Dalam siklus II ini peneliti masih menampilkan

model yang berupa teks drama, dan guru menugasi siswa untuk meyusun teks

drama dengan memperhatikan kesalahan yang pernah dilakukan siswa

sebelumnya. Sebelum pembelajaran berakhir guru memberitahukan manfaat yang

diperoleh dari kegiatan menuli teks drama kepada siswa.


48

c. Pengamatan

Dalam siklus II ini peneliti juga mengamati segala perilaku siswa selama

mengikuti pembelajaran. Apakah siswa lebih aktif dan antusias dalam mengikuti

pemebelajaran tersebut. Dengan begitu peneliti mengetahui peningkatan minat

siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis teks drama. Teks kemampuan

menulis teks drama diobservasi di luar jam pelajaran bahasa Indonesia, peneliti

berharap pada siklus II ini ada peningkatan kemampuan dan perubahan perilaku

belajar siswa dalam menulis teks drama.

d. Refleksi

Pada siklus II ini peneliti menganalisis hasil pengamatan terhadap kinerja

siswa. Analisa kinerja siswa ini meliputi sejauh mana siswa aktif dan antusias

dalam mengikuti kegitan menulis teks drama. Setelah menganalisis siklus II

selesai peneliti kemudian membandingkan hasil siklus I dengan siklus II. Dengan

demikian permasalahan peningkatan kemampuan dan perubahan perilaku belajar

siswa dalam menulis teks drama dapat diketahui.

3.4 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan

data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk penilaian tes dan

kegiatan observasi. Instrumen ini digunakan untuk mengetahui kemampuan dan

perilaku belajar siswa dalam meulis teks drama.


49

3.4.1 Instrumen Tes

Instrumen penelitian yang berupa tes digunakan untuk mengungkapkan

data tentang kemampuan menulis teks drama dan memahami bentuk teks drama.

Bentuk instrumen penelitian yang berupa tes adalah tes tertulis berupa yang

berupa perintah kepada siswa untuk menulis teks drama. Pada instrumen tersebut

digunakan pedoman penilaian kemampuan menulis teks drama dengan

pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

Tabel 2. Skor penilaian

No. Aspek Penilaian Skor Maksimal


1. Tema 10
2. Setting 10
3. Alur 25
4. Penokohan 15
5. Bahasa 20
6. Teks berbentuk naskah 10
drama dan disajikan dalam
satu babak
7. Ada kemungkinan untuk 10
dipentaskan
Jumlah 100

Tabel 3. Aspek yang Dinilai

No. Aspek Rentang Kriteria Kategori


Penilaian Skor
1. Tema 10 1) Jika tema drama Sangat baik
sangat relevan
dengan keperluan
pementasan
8 2) Jika tema drama
relevan dengan Baik
keperluan
pementasan
6 3) Jika tema drama
cukup relevan Cukup
dengan keperluan
50

pementasan
3 4) Jika tema drama
kurang relevan
dengan keperluan Kurang
pementasan
2. Setting 10 1) Setting drama Sangat baik
dapat
dideskripsikan
sangat jelas,
ringkas dan
sangat hidup
8 2) Setting drama Baik
dideskripsikan
secara
ringkas,jelas, dan
hidup
6 3) Setting drama Cukup
dideskripsikan
cukup ringkas,
jelas, dan cukup
3 hidup
4) Setting drama Kurang
dideskripsikan
kurang ringkas,
jelas, dan kurang
hidup
3. Konflik 25 1) Konflik tampak Sangat baik
sangat tajam dan
jelas
19 2) Konflik tampak Baik
tajam dan jelas
12 3) Konflik tampak
cukup tajam dan Cukup
jelas
6 4) Konflik tampak
kurang tajam dan Kurang
jelas
4. Penokohan/per 15 1) Karakter tokoh Sangat baik
watakan dapat
digambarkan
dengan sangat
jelas
11 2) Karakter tokoh Baik
digambarkan
dengan jelas
7 3) Karakter tokoh Cukup
51

digambarkan
dengan cukup
jelas
3 4) Karakter tokoh Kurang
digambarkan
dengan kurang
jelas
5. Bahasa 20 1) Bahasa yang Sangat baik
digunakan sangat
sesuai untuk
setiap karakter
tokoh yang
berbeda
15 2) Bahasa yang Baik
digunakan sesuai
untuk setiap
karakter tokoh
yang berbeda
10 3) Bahasa yang Cukup
digunakan cukup
sesuai untuk
setiap karakter
tokoh yang
berbeda
5 4) Bahasa yang Kurang
digunakan kurang
sesuai untuk
setiap karakter
tokoh yang
berbeda
6. Teks berbentuk 10 1) Berbentuk teks Sangat baik
naskah drama drama dan
dan disajikan disajikan dalam
dalam satu satu babak
babak 8 2) Berbentuk teks Baik
drama dan
disajikan lebih
dari satu babak
6 3) Berbentuk teks Cukup
drama dan tidak
disajikan dalam
bentuk babak
3 4) Bukan teks drama Kurang
52

7. Ada 10 1) Sangat mungkin Sangat baik


kemungkinan untuk
untuk dipentaskan
dipentaskan 8 2) Mungkin untuk Baik
dipentaskan
6 3) Kemungkinan Cukup
untuk
dipentaskan tapi
sulit
3 4) Tidak mungkin Kurang
untuk
dipentaskan

Kajian teks digunakan untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam

menguasai penulisan teks drama. Keberhasilan itu peneliti kelompokkan menjadi

empat kategori,yaitu sangat baik, baik, cukup, dan kurang dengan rentang nilai

50-100.

Berdasarkan pedoman penilaian di atas, peneliti dapat mengetahui hasil tes

menulis teks drama. Tes akan dilakukan satu kali dalam setiap siklus yang

dilaksanakan pada akhir pembelajaran. Apabila hasil teks drama siswa pada siklus

I belum sesuai dengan target yang ditetapkan, maka akan diadakan tindakan siklus

II. Siswa yang memperoleh hasil sangat baik adalah siswa yang mendapat skor

85-100, siswa yang memperoleh hasil yang baik adalah siswa yang mendapat

jumlah skor antara 75 sampai 84, siswa yang memperoleh hasil cukup adalah

siswa yang mendapat skor antara 65-74, sedangkan siswa yang memperoleh hasil

kurang adalah siswa yang memperoleh skor 0 sampai 64

Tabel 4. Penilaian Kemampuan Menulis Drama


No. Kategori Kategori
1. Sangat baik 85-100
2. Baik 75-84
3. Cukup 65-74
4. Kurang 0-64
53

3.4.2 Instrumen Nontes

Instrument nontes yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi,

pedoman wawancara, pedoman jurnal, dan pedoman dokumentasi foto.

3.4.2.1 Pedoman Observasi

Pedoman observasi memuat segala tingkah laku siswa selama

pembelajaran menulis teks drama dengan pendekatan kontekstual komponen

pemodelan. Adapun aspek yang diamati, yaitu 1) antusias siswa dalam mengikuti

pembelajaran menulis teks drama dengan pendekatan kontekstual komponen

pemodelan, 2) respon siswa pada saat pembentukan kelompok dalam

pembelajaran menulis teks drama dengan pendekatan kontekstual komponen

pemodelan, 3) respon siswa pada saat mendiskusikan isi teks drama untuk

menemukan unsur-unsur drama dalam pembelajaran menulis teks drama, 4)

antusias siswa dalam menulis teks drama dengan pendekatan kontekstual

komponen pemodelan.

3.4.2.2 Pedoman Jurnal

Pedoman jurnal yang dibuat, yaitu pedoman jurnal siswa dan guru. Jurnal

guru memuat segala sesuatu yang terjadi dalam proses pembelajaran. Pedoman

jurnal siswa digunakan untuk mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada saat

proses pembelajaran berlangsung dan untuk mengungkapkan kesulitan yang

dialami oleh siswa dalam pembelajaran menulis teks drama dengan pendekatan

kontekstual komponen pemodelan. Jurnal siswa memuat tentang 1) pendapat

siswa tentang pembelajaran menulis teks drama dengan pendekatan kontekstual

komponen pemodelan yang dilakukan oleh guru, 2) pendapat siswa tentang


54

media teks drama yang digunakan dalam pembelajaran tersebut, 3) pendapat siswa

tentang penggunaan pendekatan kontekstual komponen pemodelan yang

digunakan dalam pembelajaran tersebut, 4) kesulitan yang dialami siswa dalam

mengungkapkan gagasan atau ide dalam menulis teks drama berdasarkan teks

drama tersebut, 5) hal-hal yang ingin disampaikan oleh siswa berkenaan dengan

pembelajaran menulis teks drama dengan pendekatan kontekstual komponen

pemodelan.

3.4.2.3 Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara digunakan untuk mendapatkan informasi atau

pendapat siswa tentang pembelajaran menulis teks drama dengan pendekatan

kontektual komponen pemodelan. Dalam pedoman wawancara ini, hal-hal yang

ditanyakan, yaitu 1) pendapat siswa mengenai pembelajaran yang telah

berlangsung, 2) pendapat siswa mengenai penggunaan teks berita sebagai model

yang digunakan dalam pembelajaran tersebut, 3) pendapat siswa tentang

penggunaan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam pembelajaran,

4) perasaan siswa ketika diminta menulis teks drama berdasarkan teks drama yang

dihadirkan oleh guru, 5) kesulitan yang dialami oleh siswa dalam kegiatan

menulis teks drama berdasarkan teks drama yang dihadirkan oleh guru, 6) manfaat

yang diperoleh siswa setelah mengikuti pembelajaran tersebut, 7) kesan, pesan,

dan saran siswa tentang pembelajaran yang telah berlangsung.

3.4.2.4 Dokumentasi Foto

Dokumentasi foto memuat tentang rekaman berbagai tingkah laku siswa

selama penelitian berlangsung secara visual dari awal hingga akhir pembelajaran
55

yang dilakukan oleh observer. Hal-hal yang perlu didokumtasikan adalah 1)

kegiatan siswa ketika membaca teks drama secara berkelompok, 2) kegiatan siswa

dalam berdiskusi untuk menemukan unsur-unsur yang terdapat dalam teks drama,

3) kegiatan siswa ketika berdiskusi untuk menentukan tema yang akan dijadikan

sebauah teks drama, 4) kegiatan siswa ketika menulis teks drama.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Salah satu kegiatan penting dalam penelitian adalah pengumpulan data

yang diperlukan, karena hasilnya sangat menentukan untuk penelitian. Penelitian

ini menggunakan dua teknik pengambilan data, yaitu teknik tes dan teknik non

tes.

3.5.1 Teknik Tes

Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan tes yang

dilakukan sebanyak dua kali. Tes ini dijadikan sebagai tolak ukur peningkatan

keberhasilan siswa dalam menulis teks drama setelah pembelajaran diakukan. Tes

menulis teks drama ini berupa lembar tugas berisi perintah kepada siswa untuk

menulis teks drama. Hasil tes berupa teks drama.

3.5.2 Teknik Nontes

Teknik nontes yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi,

wawancara, jurnal siswa, jurnal guru, dan dokumentasi foto.

3.5.2.1 Observasi

Observasi dilaksanakan pada saat proses pembelajaran berlangsung yang

digunakan untuk mengetahui sikap dan perilaku siswa rehadap pembelajaran yang
56

dilakukan oleh guru. Dalam melakukan observasi, peneliti dibantu oleh guru yang

bersangkutan.

3.5.2.2 Wawancara

Wawancara dilaksanakan kepada siswa yang mendapat nilai tinggi, sedang,

dan rendah. Wawancara dilakukan untuk mengetahui respon siswa terhadap

pembelajaran dan kesulitan yang dialami oleh siswa pada saat pemebelajaran

berlangsung. Dalam melakukan wawancara digunakan teknik bebas, yaitu

pertanyaan telah disiapkan peneliti dan responden bebas memberikan jawaban.

Kegiatan wwancara dilaksanakan di luar jam pelajaran dan dilakukan setelah

diketahui hasil yang diperoleh siswa. Wawancara dilaksanakan setelah

pembelajaran siklus I dan siklus II. Untuk masing-masing siklus, siswa yang

diwawancari sebanyak tiga orang dengan perincian sebagai berikut: siswa yang

memiliki nilai terbaik, siswa yang memiliki nilai sedang, dan siswa yang memiliki

nilai paling rendah atau kurang.

3.5.2.3 Jurnal

Jurnal merupakan catatan harian yang ditulis siswa selama proes pembelajaran

berlangsung. Sementara itu, guru juga mengisi jurnal guru yang sudah disiapkan

sebelumnya.

3.5.2.4 Dokumentasi

Pengambilan data dokumentasi foto dilakukan pada saat pembelajaran

berlangsung dan ketika melakukan wawancara. Dalam melakukan pengambilan

gambar, peneliti dibantu oleh observer untuk memotret. Pengambilan gambar

pada masing-masing siklus tetap mengacu pada empat kegiatan sebagai berikut: 1)
57

kegiatan siswa ketika mengamati model yang berupa teks drama; 2) kegiatan

siswa ketika berkelompok untuk menggali informasi dalam teks drama; dan 3)

kegiatan siswa ketika sedang menulis teks drama.

3.6 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.

3.6.1 Teknik Kualitatif

Teknik kualitatif ini diperoleh dari data non tes, yaitu: observasi, wawancara,

jurnal, dan dokumentasi foto. Data observasi dan jurnal kegiatan siswa yang

kemudian dikelompokkan berdasarkan aspek-aspek yang diteliti. Dalam hal ini,

data observasi dan jurnal digunakan untuk memilih siswa yang mengalami

kesulitan untuk dijadikan responden dalam wawancara.

Data wawancara berfungsi utnuk mengatasi kesulitan yang dihadapi siswa

dengan melakukan pendekatan melalui wawancara siswa akan lebih berani

mengemukakan permasalahannya mengenai kemampuan menulis dramanya.

Dengan demikian peneliti akan lebih mengetahui kesulitan siswa sehingga dapat

mencari jalan terbaik untuk mengatasinya dalam upaya meningkatkan

kemampuan menulis drama siswa.

Sementara itu, data yang berupa foto digunakan sebagai bukti otentik proses

pembelajaran dan ketika siswa sedang diwawancarai. Data ini memberikan

gambaran yang jelas akan penerapan pembelajaran menulis drama dengan

menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.


58

3.6.2 Teknik Kuantitatif

Teknik kuantitatif digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini

didasarkan pada hasil tes yang dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada akhir

siklus I dan akhir siklus II. Adapaun langkah penghitungannya adalah dengan

menghitung skor yang diperoleh siswa, menghitung skor komulatif dari seluruh

aspek, menghitung skor rata-rata, menghitung nilai, menghitung nilai rata-rata,

dan menghitung nilai presentase dengan rumus sebagai berikut:

SK
SP = x100%
R

Keterangan:

SP : Skor Presentase

SK : Skor Kumulatif

R : Jumlah Responden

Hasil penghitungan siswa dari masing-masing tes ini kemudian dibandingkan

antara siklus I dan silkus II. Hasil ini akan memberikan gambaran mengenai

presentase peningkatan kemampuan siswa setelah mengikuti pembelajaran

menulis teks drama melalaui pendekatan kontekstual komponen pemodelan.


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Pada bagian ini akan disajikan hasil tes dan nontes yang diperoleh dari

penelitian. Hasil penelitian tersebut terbagi atas tiga bagian, yaitu tes prasiklus,

slus I, dan hasil tes siklus II. Hasil tes prasiklus berupa kemampuan menulis teks

drama dengan menggunakan teks drama sebagai model melalui pendekatan

kontekstual komponen pemodelan. Hasil nontes diperoleh dari observasi, jurnal,

wawancara, dan dokumentasi.

4.1.1 Prasiklus

Hasil tes prasiklus berupa kemampuan menulis teks drama sebelum dilakukan

penelitian. Hasil tes prasiklus ini berfungsi untuk mengetaui keadaan awal

kemampuan menulis teks drama siswa. Tes yang dilakukan adalah tes menulis

teks drama. Hasil tes prasiklus dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini.

Tabel 5. Hasil Tes Kemampuan Menulis teks Drama Prasiklus

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-


Skor Skor (%) rata
1 Sangat Baik 85-100 0 0 0 54,2
2 Baik 75-84 0 0 0 Kategori
3 Cukup 65-74 1 66 2,5 Kurang
4 Kurang 0-64 39 2103 97,5
Jumlah 40 2169 100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa kelas VIII E

dalam menulis teks drama untuk kategori sangat baik dengan rentang skor 85-100

dan kategori baik dengan rentang skor 75-84 tidak ada atau sebesar 0%. Untuk

59
60

kategori cukup dengan rentang skor 65-74 dicapai oleh 1 siswa atau sebesar

2,5%. Sedangkan kategori kurang dengan rentang skor 0-64 dicapai oleh 39 siswa

atau sebesar 97,5%. Jadi nilai rata-rata kemampuan menulis teks drama siswa

pada prasiklus sebesar 54,2 atau masih pada kategori kurang. Nilai rata-rata

tersebut berasal dari jumlah skor masing-masing aspek yang dinilai dalam menulis

teks drama, yaitu tema, setting, alur, penokohan atau perwatakan, dan aspek

bahasa. Dengan demikian, kemampuan menulis teks drama perlu ditingkatkan.

Peningkatan tersebut dilakukan dengan melakukan tindakan siklus I, yaitu

kegiatan menulis teks drama dengan menggunakan teks drama sebagai model

dalam pembelajaran melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Hasil

dari masing-masing aspek dapat dipaparkan sebagai berikut.

4.1.1.1 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Tema

Pada aspek tema ini, penilaian difokuskan pada pemilihan tema yang sesuai

dengan isi cerita. Hasil tes penilaian tes menulis teks drama pada aspek tema

dapat dilihat pada tabel 5 berikut.

Tabel 6. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Tema

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-


Skor Skor (%) rata
1 Sangat Baik 10 3 30 7,5 7,7
2 Baik 8 27 216 67,5 Kategri
3 Cukup 6 10 60 25 Baik
4 Kurang 3 0 0 0
Jumlah 40 306 100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam

menentukan tema untuk kategori sangat baik dicapai oleh 3 siswa atau sebesar

30%. Untuk kategori baik dicapai oleh 27 siswa atau sebesar216%. Kategori
61

cukup dicapai oleh 10 siswa atau sebesar 25%. Sedangkan untuk kategori kurang

tidak ada atau sebesar 0%. Jadi nilai rata-rata menulis teks drama untuk aspek

tema sebesar 7,7 atau termasuk dalam kategori baik.

4.1.1.2 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Setting

Pada aspek setting atau latar, penilaian difokuskan pada setting drama yang

dapat menciptakan suasana yang lebih hidup. Hasil penilaian tes menulis teks

drama pada aspek setting dapat dilihat pada tabel 6 berikut ini.

Tabel 7. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Setting

No. Kategori Rentag Frekuensi Bobot Presentase Rata-rata


Skor Skor (%)
1 Sangat Baik 10 6 60 15 7,6
2 Baik 8 23 184 57,5 Kategori
3 Cukup 6 11 66 27,5 Baik
4 Kurang 3 0 0 0
Jumlah 40 310 100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam

menentukan setting untuk kategori sangat baik berhasil dicapai oleh 6 siswa atau

sebesar 15%. Kategori baik berhasil dicapai oleh 23 siswa atau sebesar 57,5%.

Sedangkan untuk kategori cukup dicapai oleh 11 siswa atau sebesar 27,5%. Jadi

nilai rata-rata menulis teks drama aspek setting sebesar 7,6 atau termasuk dalam

kategori baik.

4.1.1.3 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Konflik

Pada aspek alur ini, penilaian difokuskan pada konflik yang tampak tajam dan

jelas. Hasil tes menulis teks drama untuk aspek alur dapat dilihat pada tabel 7

berikut.
62

Tabel 8. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Konflik

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-


Skor Skor (%) rata
1 Sangat Baik 25 0 0 0 10,8
2 Baik 19 0 0 0 Kategori
3 Cukup 12 32 384 80 kurang
4 Kurang 6 8 48 20
Jumlah 40 432 100

Data pada tabel di atas menujukkan bahwa kemampuan siswa dalam

menentukan alur untuk kategori sangat baik dan kategori baik tidak ada atau

sebesar 0%. Untuk kategori cukup berhasil dicapai oleh 32 siswa atau sebesar

80%. Dan untuk kategori kurang dicapai oleh 8 siswa atau sebesar 20%. Jadi nilai

rata-rata menulis teks drama aspek alur sebesar 10,8 dan termasuk dalam kategori

kurang

4.1.1.4 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Penokohan atau perwatakan

Pada aspek penokohan atau perwatakan, penilaian difokuskan pada karakter

tokoh yang digambarkan sesuai dengan situasi yang diceritakan. Hasil tes menulis

teks drama aspek penokohan atau perwatakan dapat dilihat pada tabel 8 berikut.

Tabel 9. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Penokohan

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-


Skor Skor (%) rata
1 Sangat Baik 15 0 0 0 9,7
2 Baik 11 27 297 67,5 Kategori
3 Cukup 7 13 91 32,5 Baik
4 Kurang 3 0 0 0
Jumlah 40 388 100

Data di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan

penokohan atau perwatakan untuk kategori sangat baik dan kategori kurang tidak
63

ada atau sebesar 0%. Kategori baik dicapai oleh 27 siswa atau sebesar 67,5%. Dan

kategori cukup berhasil dicapai oleh 13 siswa atau sebesar 32,5%. Jadi nilai rata-

rata menulis teks drama siswa untuk aspek penokohan atau perwatakan sebesar

13,2 atau termasuk dalam kategori baik.

4.1.1.5 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Bahasa

Pada aspek bahasa, penilaian difokuskan pada bahasa yang digunakan mudah

dimengerti dan komunikatif. Hasil tes menulis teks drama aspek bahasa dapat

dilihat pada tabel 9 berikut.

Tabel 10. Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Bahasa

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-


Skor Skor (%) rata
1 Sangat Baik 20 0 0 0 10,6
2 Baik 15 6 90 15 Kategori
3 Cukup 10 33 330 82,5 Cukup
4 Kurang 5 1 5 2,5
Jumlah 40 425 100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam

menentukan bahasa untuk kategori sangat baik tidak ada atau sebesar 0%. Untuk

kategori baik berhasil dicapai oleh 6 siswa atau sebesar 15%. Sedangkan untuk

kategori cukup berhasil dicapai oleh 33 siswa atau sebesar 82,5% dan kurang

dicapai oleh 1 siswa atau sebesar 2,5%. Jadi nilai rata-rata menulis teks drama

aspek bahasa 10,6 atau termasuk dalam kategori cukup.


64

Tabel 11. Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Teks Berbentuk

Teks Drama dan Disajikan dalam Satu Babak.

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Skor Presentase Rata-rata


Skor (%)
1 Sangat Baik 10 2 20 5 4
2 Baik 8 0 0 0 Kategori
3 Cukup 6 9 54 22,5 Kurang
4 Kurang 3 29 87 72,5
Jumlah 40 161 100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis

teks drama aspek teks drama yang berbentuk teks drama dan disajikan dalam satu

babak untuk kategori sangat baik berhasil dicapai oleh 2 siswa atau sebesar 5%.

dan kategori baik tidak ada atau sebesar 0%. Untuk kategori cukup dicapai oleh 9

siswa atau sebesar 22,5%. Dan untuk kategori kurang dicapai oleh 29 siswa atau

sebesar 72,5%. Jadi nilai rata-rata menulis teks drama aspek teks drama yang

berbentuk teks drama dan disajikan dalam satu babak sebesar 4 atau masih dalam

kategori kurang. Hal ini menunjukkan bahwa siswa masih merasa kesulitan dalam

menyajikan teks dalam bentuk teks drama yang disajikan dalam satu babak.

Tabel 12. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Kemungkinan

Dipentaskan.

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-rata


Skor Skor (%)
1 Sangat Baik 10 0 0 0 3,7
2 Baik 8 0 0 0 Kategori
3 Cukup 6 9 54 22,5 Kurang
4 Kurang 3 31 93 77,5
Jumlah 40 147 100
65

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis

teks drama aspek ada kemungkinan dipentaskan untuk kategori sangat baik dan

kategori baik tidak ada atau sebesar 0%. Untuk kategori cukup dicapai oleh 54

siswa atau sebesar 22,5%. Dan untuk kategori kurang dicapai oleh 31 siswa atau

sebesar 77,5%. Jadi nilai rata-rata menulis teks drama aspek ada kemungkinan

dipentaskan masih dalam kategori kurang. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada

sebagian siswa yang merasa kesulitan dalam menyajikan teks drama yang

memungkinkan untuk dipentaskan.

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis

teks drama aspek teks drama yang berbentuk teks drama dan disajikan dalam satu

babak untuk kategori sangat baik berhasil dicapai oleh 2 siswa atau sebesar 5%.

dan kategori baik tidak ada atau sebesar 0%. Untuk kategori cukup dicapai oleh 9

siswa atau sebesar 22,5%. Dan untuk kategori kurang dicapai oleh 29 siswa atau

sebesar 72,5%. Jadi nilai rata-rata menulis teks drama aspek teks drama yang

berbentuk teks drama dan disajikan dalam satu babak sebesar 4 atau masih dalam

kategori kurang. Hal ini menunjukkan bahwa siswa masih merasa kesulitan dalam

menyajikan teks dalam bentuk teks drama yang disajikan dalam satu babak.

Data yang diperoleh dari hasil tes prasiklus menunjukkan bahwa masih ada

beberapa aspek yang perlu diperbaiki dalam pembelajaran menulis teks drama.

Agar dapat meningkatkan kemampuan menulis teks drama siswa, dalam

Penelitian Tindakan Kelas akan mencoba untuk menerapkan pemodelan melalui

pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam proses pembelajaran menulis


66

teks drama pada siswa kelas VIII E SMP Negeri 3 Ungaran. Dan model yang akan

dihadirkan dalam pembelajaran tersebut adalah teks drama.

4.1.2 Siklus I

Siklus I merupakan tindakan awal penelitian menulis teks drama dengan

menggunakan teks drama sebagai model dalam pembelajaran melalui pendekatan

kontekstual komponen pemodelan. Tindakan siklus I ini dilaksanakan untuk

mengetahui kemampuan siswa setelah mengikuti pembelajaran menulis teks

drama dengan teks drama sebagai model melalui pendekatan kontekstual

komponen pemodelan. Pelaksanaan pembelajaran menulis teks drama pada siklus

I terdiri atas data tes dan data nontes. Hasil kedua data tersebut akan diuraikan

sebagai berikut.

4.1.2.1 Hasil Data Tes Siklus I

Hasil tes siklus I ini merupakan data awal setelah dilakukan tindakan

pembelajaran menulis teks drama dengan menggunakan teks drama teks drama

sebagai model melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Kriteria

penilaian pada siklus I ini meliputi lima aspek penilaian, yaitu aspek tema, aspek

setting, aspek alur, aspek penokohan atau perwatakan, dan aspek bahasa. Hasil tes

siklus I dapat dilihat pada tabel 10 berikut ini.

Tabel 13. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Siklus I

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-


Skor Skor (%) rata
1 Sangat Baik 85-100 0 0 0 56,25
2 Baik 75-84 1 83 2,5 Kategori
3 Cukup 65-74 1 66 2,5 Kurang
4 Kurang 0-64 38 2101 95
Jumlah 40 2250 100
67

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan menulis siswa kelas

VIII E SMP Negeri 3 Ungaran, dalam menulis teks drama untuk kategori sangat

baik dengan rentang skor 85-100 tidak ada atau sebesar 0% dan kategori baik

dengan rentang skor 75-84 dicapai oleh 1 siswa atau sebesar 2,5%. Untuk kategori

cukup dengan rentang skor 65-74 berhasil dicapai oleh 1 siswa atau sebesar 2,5%.

Sedangkan untuk kategori kurang dengan rentang skor 0-64 dicapai oleh 38 siswa

atau sebesar 95%. Jadi nilai rata-rata kemampuan menulis teks drama siswa pada

siklus I sebesar 56,25 atau termasuk dalam kategori kurang. Nilai rata-rata

tersebut berasal dari jumlah skor masing-masing aspek yang dinilai dalam menulis

teks drama, yaitu aspek tema, aspek setting, aspek alur, aspek penokohan atau

perwatakan, dan aspek bahasa. Berikut ini akan dipaparkan hasil tes siklus I.

4.1.2.1.1 Hasil Tes Menulis Teks Drama Aspek Tema

Pada aspek tema ini, penilaian difokuskan pada tema yang sesuai dengan isi

cerita tersebut. Berikut ini adalah tabel 11 yang menunjukkan hasil tes menulis

teks drama aspek tema.

Tabel 14. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Tema

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-


Skor Skor (%) rata
1 Sangat Baik 10 5 50 12,5 8,2
2 Baik 8 34 272 87,5 Kategori
3 Cukup 6 1 6 2,5 Baik
4 Kurang 3 0 0 0
Jumlah 40 328 100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam

menentukan tema untuk kategori sangat baik sangat baik berhasil dicapai oleh 5

siswa atau sebesar 12,5%. Kategori baik berhasil dicapai oleh 34 siswa atau
68

sebesar 87,5%. Untuk kategori cukup berhasil dicapai oleh 1 siswa atau sebesar

2,5%. Sedangkan, untuk kategori kurang tidak ada atau sebesar 0%. Jadi nilai

rata-rata menulis teks drama aspek tema pada siklus I 8,2 atau masuk pada

kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah mampu menentukan tema

yang relevan dengan keperluan pementasan.

4.1.2.1.2 Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Setting

Pada aspek Setting kali ini, penilaian lebih difokuskan pada setting drama

yang dapat menciptakan suasana yang lebih hidup. Hasil tes menulis teks drama

aspek setting dapat dilihat pada tabel 12 berikut ini.

Tabel 15. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Setting

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-


Skor Skor (%) rata
1 Sangat Baik 10 12 120 30 8,4
2 Baik 8 23 184 57,5 Kategori
3 Cukup 7 5 30 12,5 Baik
4 Kurang 3 0 0 0
Jumlah 40 334 100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam

menentukan setting untuk kategori sangat baik berhasil dicapai oleh 12 siswa atau

sebesar 30%. Kategori baik dicapai oleh 23 siswa atau 57,5%. Untuk kategori

cukup berhasil dicapai oleh 5 siswa atau sebesar 12,5%. Sedangkan, kategori tidak

ada atau sebesar 0%. Jadi untuk nilai rata-rata menulis teks drama aspek setting

sebesar 8,4 atau termasuk dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa

sebagian siswa sudah mampu mendeskripsikan setting dengan ringkas, jelas dan

hidup.
69

4.1.2.1.3 Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Konflik

Pada aspek alur ini, penilaian lebih difokuskan pada konflik yang dapat

digambarkan dengan tajam dan jelas, jadi konflik yang terjadi dalam cerita

tersebut dapat diceritakan secara tajam dan jelas. Hasil tes menulis teks drama

aspek alur ini dapat dilihat pada tabel 13 berikut ini.

Tabel 16. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Konflik

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-rata


Skor Skor (%)
1 Sangat Baik 25 0 0 0 11
2 Baik 19 2 38 5 Kategori
3 Cukup 12 29 348 72,5 cukup
4 Kurang 6 9 54 22,5
Jumlah 40 440 100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis

teks drama aspek alur untuk kategori sangat baik tidak ada atau sebesar 0%.

Untuk kategori baik berhasil dicapai oleh 2 siswa atau sebesar 5%. Sedangkan,

kategori cukup berhasil dicapai oleh 29 siswa atau sebesar 72,5%. Kategori

kurang berhasil dicapai oleh 9 siswa atau sebesar 22,5%. Jadi nilai rata-rata

menulis teks drama aspek alur sebesar 11 atau masuk pada kategori cukup. Hal ini

menunjukkan bahwa sebagian siswa sudah mampu dalam menentukan konflik

yang tajam dan jelas meskipun masih ada beberapa siswa yang masih belum

mencapai hasil yang maksimal.

4.1.2.1.4 Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Penokohan

Pada aspek penokohan ini, penilaian lebih difokuskan pada karakter tokoh

yang dapat digambarkan sesuai dengan situasi yang diceritakan. Hasil tes
70

kemampuan menulis teks drama aspek penokohan dapat dilihat pada tabel 13

berikut ini.

Tabel 17. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Penokohan

Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-rata


Skor Skor (%)
1 Sangat Baik 15 0 0 0 9,8
2 Baik 11 28 308 70 Katogori
3 Cukup 7 12 84 30 Baik
4 Kurang 3 0 0 0
Jumlah 40 392 100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam

menentukan penokohan untuk kategori sangat baik dan kurang tidak ada atau

sebesar 0%. Untuk kategori baik berhasil dicapai oleh 28 iswa atau sebesar 70%.

Dan kategori cukup dicapai oleh 12 siswa atau sebesar 30%. Jadi nilai rata-rata

untuk menulis teks drama aspek penokohan sebesar 9,8 atau masuk pada kategori

baik. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah mampu menggambarkan karakter

tokoh dengan jelas

4.1.2.1. 5 Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Bahasa

Pada aspek bahasa kali ini, penilaian lebih difokuskan pada penggunaan

bahasa yang mudah dihayati dan komunikatif. Berikut tabel 14 yang akan

menunjukkan hasil tes kemampuan menulis teks drama aspek bahasa.

Tabel 18. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Bahasa

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-rata


Skor Skor
1 Sangat Baik 20 0 0 0 11
2 Baik 15 8 120 20 Kategori
3 Cukup 10 32 320 80 Baik
4 Kurang 5 0 0 0
Jumlah 40 440 100
71

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis

teks drama aspek bahasa untuk kategori sangat baik dan kategori kurang tidak ada

atau sebesar 0%. Untuk kategori baik dicapai oleh 8 siswa atau sebesar 20%. Dan

untuk kategori cukup dicapai oleh 32 siswa atau sebesar 80%. Jadi nilai rata-rata

menulis teks drama aspek bahasa sebesar 11 atau termasuk dalam kategori baik.

Hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah mampu dalam menggunakan bahasa

yang sesuai untuk masing-masing karakter tokoh yang berbeda.

Tabel 19. Hasil Tes Kemampuan Teks Drama Aspek Teks Berbentuk Teks

Drama dan Disajikan dalam Satu Babak.

N0. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-rata


Skor Skor (%)
1 Sangat Baik 10 4 40 10 4,4
2 Baik 8 2 16 5 Kategori
3 Cukup 6 6 36 15 Kurang
4 Kurang 3 28 84 70
Jumlah 40 176 100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis

teks drama aspek teks drama yang berbentuk teks drama dan disajikan dalam satu

babak untuk kategori sangat baik berhasil dicapai oleh 4 siswa atau sebesar 10%.

dan kategori baik berhasil dicapai oleh 2 siswa atau sebesar 5%. Untuk kategori

cukup dicapai oleh 6 siswa atau sebesar 15%. Dan untuk kategori kurang dicapai

oleh 28 siswa atau sebesar 70%. Jadi nilai rata-rata menulis teks drama aspek teks

drama yang berbentuk teks drama dan disajikan dalam satu babak sebesar 4,4 atau

masih dalam kategori kurang. Hal ini menunjukkan bahwa siswa masih merasa

kesulitan dalam menyajikan teks dalam bentuk teks drama yang disajikan dalam

satu babak.
72

Tabel 20. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Kemungkinan

Dipentaskan.

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-rata


Skor Skor (%)
1 Sangat Baik 10 0 0 0 3,4
2 Baik 8 1 8 2,5 Kategori
3 Cukup 6 5 30 12,5 Kurang
4 Kurang 3 34 102 85
Jumlah 40 140 100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis

teks drama aspek ada kemungkinan dipentaskan untuk kategori sangat baik tidak

ada atau sebesar 0%. Untuk kategori baik berhasil dicapai oleh 1 siswa atau

sebesar 2,5%. Untuk kategori cukup dicapai oleh 5 siswa atau sebesa 12,5%. Dan

untuk kategori kurang dicapai oleh 34 siswa atau sebesar 85%. Jadi nilai rata-rata

menulis teks drama aspek ada kemungkinan dipentaskan masih dalam kategori

kurang. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada sebagian siswa yang merasa

kesulitan dalam menyajikan teks drama yang memungkinkan untuk dipentaskan.

4.1.2.2 Data Nontes

Hasil penelitian nontes pada siklus I adalah hasil dari observasi, jurnal,

wawancara, dan dokumentasi foto. Berikut ini adalah data yang diperoleh dari

hasil nontes yang meliputi:

4.1.2.2.1 Observasi

Pengambilan data melalui observasi ini bertujuan untuk mengetahui perilaku

siswa selama mengikuti pembelajaran. Observasi ini dilakukan selama

pembelajaran berlangsung. Pada siklus I ini, seluruh perilaku siswa selama

pembelajaran berlangsung dapat digambarkan melalui obervasi. Selama proses


73

pembelajaran berlangsung tidak semua siswa mengikuti dengan baik. Ada

beberapa siswa yang masih menunjukkan perilaku yang kurang menyenangkan,

diantaranya masih ada siswa yang asyik bercanda dan mengobrol dangan teman

sebangku atau sekelompoknya. Ada juga siswa yang kelihatan bermalas-malasan

dalam mengikuti pembelajaran sehingga situasi kelas menjadi tidak kondusif.

Berdasarkan data yang ada, diketahui bahwa siswa berantusias mengikuti

pembelajaran menulis teks drama dengan menggunakan teks drama sebagai model

melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Hal ini ditunjukkan oleh

siswa yang antusias dalam mengikuti pembelajaran mulai dari apersepi sampai

akhi pembelajaran.

Meskipun dalam proses pembelajaran situasi kelas kurang kondusif, karena

masih ada beberapa siswa yang bercanda dan mengobrol dengan teman sebangku

atau sekelompoknya, namun hasil yang dicapai siswa sudah cukup baik dan siswa

pun cukup antusias dalam mengikuti pembelajaran menulis teks drama. Antusias

siswa diketahui dari respon sebagian siswa yang memperhatikan penjelasan yang

diberikan oleh peneliti dan menghayati teks drama yang diperlihatkan. Hal ini

disebabkan siswa baru memperoleh pembelajaran menulis teks drama dengan

menggunakan teks drama sebagai model dalam pembelajaran.

Respon yang diberikan siswa ketika dibagikan teks drama sangat baik. Hal ini

terjadi karena dalam kegiatan belajar mengajar, jarang sekali menampilkan model,

sehingga dengan ditampilkan atau diperlihatkan teks drama sebagai model dalam

pembelajaran tersebut ditanggapi baik oleh siswa.


74

Respon yang diberikan siswa pada saat mendiskusikan isi cerita dalam teks

drama tersebut dengan teman satu kelompoknya juga baik. Mereka saling

bekerjasama untuk menemukan unsur-unsur yang terdapat di dalam teks drama

tersebut. Namun ada beberapa siswa yang tidak terlibat secara aktif dengan

kelompoknya, mereka terlihat asyik mengobrol dan bercanda dengan teman

sekelompoknya atau hanya diam saja.

Antusias siswa dalam menulis teks drama cukup baik. Para siswa antusias

dalam menulis teks drama. Siswa tampak tenang dalam menyelesaikan tugas

menulis teks drama karena siswa termotivasi dengan model yang diperlihatkan.

Namun ada juga siswa yang masih asyik bercanda dan mengobrol sendiri

sehingga mengganggu siswa yang sedang berkonsentrasi menulis teks drama.

4.1.2.2.2 Jurnal

Jurnal yang digunakan dalam penelitian siklus I ini ada dua macam, yaitu

jurnal siswa dan jurnal guru. Kedua jurnal tersebut mengungkap tentang perasaan

siswa dan guru selama pembelajaran berlangsung.

a. Jurnal Siswa

Jurnal siswa merupakan jurnal yang harus diisi oleh siswa. Jurnal siswa ini

diisi setelah proses pembelajaran selesai. Tujuan diadakannya jurnal siswa ini

untuk mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada saat pembelajaran berlangsung

dan untuk mengetahui kesulitan yang dialami oleh siswa.

Pada dasarnya sebagian besar siswa memberikan tanggapan yang baik

terhadap pembelajaran yang telah dilakukan oleh peneliti, karena metode

pembelajaran yang digunakan peneliti mudah dipahami. Selain itu, penggunaan


75

teks drama sebagai model dalam pembelajaran sangat membantu siswa dalam

menentukan unsur-unsur yang terdapat di dalam sebuah teks drama, sehingga

siswa dapat menulis teks drama dengan mudah. Dengan dihadirkannya teks drama

tersebut juga dapat memacu kreativitas siswa dalam menulis teks drama.

Pernyataan mereka membuktikan bahwa mereka tertarik dan menyukai materi

yang diajarkan oleh peneliti.

Pada dasarnya sebagian besar siswa tidak mengalami kesulitan untuk

menentukan unsur-unsur yang terdapat dalam teks drama. Dengan dihadirkannya

teks drama sebagai model dalam pembelajaran, siswa dapat menggali unsur-unsur

yang terdapat di dalam teks drama tersebut melalui isi cerita yang ada di dalam

drama tersebut. Berdasarkan isi cerita drama tersebut siswa dapat menuangkan ide

atau gagasan dalam bentuk teks drama.

Walaupun siswa terlihat menaggapi dan menerima dengan baik pembelajaran

menulis teks drama dengan menggunakan teks drama sebagai model melalui

pendekatan kontekstual komponen pemodelan, namun kesulitan masih dialami

oleh beberapa siswa. Berdasarkan hasil analisis, kesulitan yang dialami siswa

meliputi: 1) siswa merasa kesulitan dalam menentukan tema yang relevan dengan

keperluan pementasan 2) siswa merasa kesulitan dalam menentukan konflik yang

tajam dan jelas, 3) siswa juga merasa kesulitan dalam menggambarkan tokoh

dengan jelas, 4) waktu yang diberikan pada siswa sangat terbatas, dan 5) siswa

merasa kurang jelas karena volume suara yang kurang keras. Peneliti

menyimpulkan bahwa kesulitan-kesulitan yang dialami oleh siswa pada saat

pembelajaran berlangsung merupakan hal yang wajar karena tidak semua siswa
76

dapat berkonsentrasi dengan baik dan dapat menyerap materi yang disampaikan

dengan mudah. Namun, setidaknya strategi yang baru ini dapat memberikan

pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat bagi siswa dan dapat ditingkatkan

lagi pada kesempatan berikutnya.

Hal-hal yang dikemukakan oleh siswa berkenaan dengan proses pembelajaran

yang telah dilakukan oleh peneliti berbeda-beda. Sebagian besar siswa memberi

masukan pada suara peneliti yang kurang keras dalam menjelaskan materi atau

tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Ada pula yang menyarankan agar cerita

dalam drama tersebut disampaikan secara lisan dan dipentaskan di depan. Selain

itu siswa juga memberi masukan agar waktu yang diberikan untuk menulis teks

drama perlu ditambah sehingga siswa dapat membuat cerita drama yang lebih

baik. Sedangkan saran-saran yang diberikan oleh siswa agar pembelajaran

menulis teks drama dengan menghadirkan teks drama sebagai model melalui

pendekatan kontekstual komponen pemodelan lebih dikembangkan lagi.

b. Jurnal Guru

Jurnal guru berisi tentang hal-hal yang dirasakan oleh guru pada saat proses

pembelajaran berlangsung.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti pada saat pembelajaran

berlangsung, dapat dijelaskan bahwa peneliti merasa kurang puas terhadap proses

pembelajaran, karena masih ada beberapa siswa yang belum sepenuhnya

mengikuti pembelajaran dengan baik. Siswa terlihat kurang siap dalam mengikuti

pembelajaran menulis teks drama. Namun ketika pembelajaran berlangsung, siswa

merespon dengan baik terhadap pembelajaran menulis teks drama dengan


77

menggunakan teks drama sebagai model melalui pendekatan kontekstual

komponen pemodelan.

Siswa memberikan respon yang positif ketika peneliti menghadirkan teks

drama sebagai model dalam pembelajaran. Kehadiran model tersebut sangat

membantu siswa dalam menentukan ide penulisan teks drama. Ketika peneliti

meminta mereka untuk membentuk sebuah kelompok kecil siswa juga merespon

dengan baik. Mereka langsung berkumpul dengan kelompok yang sudah

ditentukan. Kemudian mereka bekerjasama untuk mendiskusikan isi cerita yang

terdapat di dalam teks drama tersebut.

Secara keseluruhan, siswa cukup aktif dalam mengikuti proses pembelajaran.

Mereka menunjukkan sikap antusias dan tenang dalam mengikuti rangkaian

kegiatan pembelajaran. Situasi kelas ketika pembelajaran berlangsung cukup

terkendali, walaupun suasananya sedikit ramai tapi masih fokus pada materi yang

diajarkan.

4.1.2.2.3 Wawancara

Pada siklus I ini, wawancara dilakukan pada tiga orang siswa yang

memperoleh nilai tertinggi, cukup, dan nilai terendah dalam mengikuti tes menulis

teks drama. Wawancara pada siklus I ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana

sikap siswa terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan oleh peneliti..

Wawancara ini mengungkap tentang: 1) pendapat siswa mengenai pembelajaran

yang berlangsung, 2) pendapat siswa mengenai teks drama yang digunakan

sebagai model dalam pembelajaran, 3) perasaan siswa ketika diminta untuk

menulis teks drama dengan menghadirkan teks drama sebagai model, 4) kesulitan
78

yang dialami siswa dalam kegiatan menulis teks drama, 5) usaha yang dilakukan

siswa untuk mengatasi kesulitan dalam menulis teks drama, dan 6) manfaat yang

diperoleh siswa etelah mengikuti pembelajaran tersebut.

Respon baik dilontarkan oleh ketiga siswa yang mendapat nilai tertinggi,

cukup, dan nilai terendah. Pada umumnya siswa menerima pembelajaran yang

dilakukan oleh peneliti dengan baik. Penggunaan teks drama sebagai model dalam

pembelajaran sangat membantu siswa dalam menulis teks drama, selain itu siswa

juga dapat mengembangkan kreativitasnya.

Kesulitan yang dialami oleh masing-masing siswa ketika diminta untuk

menulis teks drama pada umumnya sama, yaitu kesulitan dalam menentukan alur

cerita. Dan untuk mengatasi kesulitan tersebut, ketiga siswa tersebut mencermati

kembali teks drama yang diberikan oleh peneliti.

Pembelajaran menulis teks drama dengan menghadirkan teks drama sebagai

model melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelanyang telah dilakukan

oleh peneliti ternyata memberikan manfaat bagi siswa. Hal ini sesuai dengan

pernyataan yang dikemukakan oleh ketiga siswa yang diwawancarai. Mereka

mengemukakan bahwa pembelajaran menulis teks drama yang telah dilakukan

oleh peneliti dapat menambah pengetahuan siswa tentang teks drama. Selain itu,

dengan menggunakan teks drama sebagai model dalam pembelajaran sangat

membantu siswa dalam menulis sebuah teks drama.

4.1.2.2.4 Dokumentasi Foto

Pada siklus I ini dokumentasi foto yang diambil meliputi kegiatan siswa ketika

mengamati model pembelajaran yang berupa teks drama, kegiatan siswa ketika
79

berdiskusi dengan kelompoknya untuk menemukan unsur-unsur yang terdapat

dalam teks drama tersebut, dan kegiatan siswa ketika sedang menulis teks drama.

Berikut adalah deskripsi gambar pada saat pemebelajaran berlangung.

Gambar 1a menunjukkan respon siswa yang kurang antusias dengan model

yang diperlihatkan oleh guru. Dalam gambar tersebut ada beberapa siswa yang

terlihat masih asyik berbicara sendiri dengan teman satu kelompoknya. Ada juga

siswa yang terlihat diam saja tidak mengamati model yang telah diberikan oleh

guru. Akan tetapi masih ada bebrapa siswa yang membaca dan mengamati teks

drama tersebut dengan sungguh-sungguh.


80

Gambar 2a menunjukkan kegiatan siswa ketika berdiskusi. Mereka diminta

untuk mendiskusikan isi cerita yang terdapat dalam teks drama tersebut, kemudian

mereka diminta untuk menentukan unsur-unsur yang terdapat dalam teks drama

tersebut. Pada gambar tersebut siswa terlihat cukup aktif dalam kegiatan

kelompoknya, meskipun masih ada siswa yang terlihat diam saja tidak membantu

kelompoknya dalam berdiskusi. Pada gambar tersebut masih menunjukkan bahwa

siswa belum begitu antusias dengan pembelajaran yang telah diberikan oleh guru.

Gambar 3a menunjukkan kegiatan siswa ketika menulis teks drama. Pada

gambar tersebut, siswa terlihat cukup antusias dan serius dalam mengerjakan

tugas yang telah diberikan oleh guru, yaitu menulis teks drama. Ada juga siswa

yang bertanya kepada guru tentang hal yang belum mereka pahami. Hal ini

menunjukkan bahwa siswa sudah mulai aktif. Ada juga siswa yang terlihat masih

belum paham akan tetapi siswa tersebut lebih memilih untuk mempehatikan

pekerjaan teman daripada bertanya langsung kepada guru. Dalam hal ini situasi

yang tercipta dalam tindakan sklus I belum kondusif karena masih ada siswa yang

mengganggu siswa lain.


81

4.1.3 Siklus II

Tindakan siklus II dilakukan karena hasil yang diperoleh pada siklus I belum

memuaskan dan masih dalam kategori cukup. Selain itu, masih ada beberapa

perilaku siswa yang kurang menyenangkan selama proses pembelajaran

berlangsung. Tindakan siklus II ini dilakukan untuk mengatasi masalah yang

dialami pada siklus I dan berupaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam

menulis teks drama sehingga mencapai hasil yang memuaskan.

Pada siklus II ini, penilitian dilakukan dengan rencana dan persiapan yang

lebih matang dibandingkan dengan siklus I. Dengan adanya perbaikan yang

dilakukan dalam pembelajaran tanpa mengabaikan penggunaan teks drama

sebagai model dan pendekatan kontekstual komponen pemodelan, maka hasil

penelitian yang berupa nilai tes menulis teks drama mengalami peningkatan dari

kategori cukup menjadi baik. Siswa menjadi lebih aktif dan kreatif serta lebih

antusias dalam mengikuti pembelajaran. Untuk hasil tes maupun nontes pada

siklus II kali ini akan diuraikan sebagai berikut.

4.1.3.1 Hasil Data Tes Siklus II

Hasil tes siklus II ini merupakan data kedua setelah diterapkan pembelajaran

menulis teks drama dengan menggunakan teks drama sebagai model dalam

pembelajaran melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan yang disertai

dengan upaya perubahan pemebelajaran. Kriteria penilaian dalam siklus II masih

tetap sama dengan kriteria penilain pada siklus I yang meliputi lima aspek, yaitu

aspek tema, apek setting, aspek alur aspek penokohan atau perwatakan, dan aspek

bahasa. Hasil tes siklus II dapat dilihat pada tabel 15 berikut ini.
82

Tabel 21. Hasil Tes kemampuan Menulis Teks Drama

Rentang Bobot Presentase


No. Kategori Frekuensi Rata-rata
Skor Skor (%)
1 Sangat Baik 85-100 0 0 0 65
2 Baik 75-84 3 228 7,5 Kategori
3 Cukup 65-74 13 890 32,5 cukup
4 Kurang 0-64 24 1465 60
Jumlah 40 2583 100

Data pada tabel di atas nenunjukkan bahwa kemampuan siswa kelas VIII E

dalam menulis teks drama untuk kategori sangat baik dengan rentang skor 85-100

tidak ada atau sebesar 0%. Untuk kategori baik dengan rentang skor 75-84

berhasil dicapai oleh 3 siswa atau sebesar 7,5%. Dan untuk kategori cukup dicapai

oleh 13 siswa atau sebesar 32,5%. Sedangkan, untuk kategori kurang dicapai oleh

24 siswa atau sebesar 60%. Jadi nilai rata-rata kemampuan menulis teks drama

siswa pada siklus II kali ini sebesar 65 atau masih termasuk dalam kategori cukup.

Meskipun demikian, para siswa sudah dapat dikatakan bahwa sebagian siswa

sudah dapat menulis teks drama dengan baik karena nilai rata-rata yang dicapai

oleh siswa sudah sesuai dengan batas ketuntasan yang telah ditentukan, yaitu 65.

Nilai rata-rata tersebut berasal dari jumlah skor masing-masing aspek yang dinilai

dalam menulis teks drama, yaitu aspek tema, aspek setting, aspek penokohan atau

perwatakan, aspek bahasa, aspek teks yang berbentuk teks drama dan disajikan

dalam satu babak serta kemungkinan dipentaskan. Hasil dari masing-masing

aspek tersebut akan dipaparkan sebagai berikut.


83

4.1.3.1.1 Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Tema

Pada aspek tema ini, penilaian lebih difokuskan pada pemilihan tema yang

sesuai dengan isi cerita. Hasil tes menulis teks drama aspek tema dapat dilihat

pada tabel 16 berikut ini.

Tabel 22. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Tema

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-rata


Skor Skor (%)
1 Sangat Baik 10 19 190 47,5 9
2 Baik 8 21 168 5,25 Kategori
3 Cukup 6 0 0 0 Baik
4 Kurang 3 0 0 0
Jumlah 40 358 100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis

teks drama aspek tema untuk kategori sangat baik berhasil dicapai oleh 19 siswa

atau sebesar 47,5%. Untuk kategori baik berhasil dicapai oleh 21 siswa atau

sebesar 5,25%. Untuk kategori cukup dan kategori kurang tidak ada atau sebesar

0%. Nilai rata-rata kemampuan menulis Teks drama siswa pada aspek tema

sebesar 9 atau masuk pada kategori baik.

4.1.3.1.2 Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Setting

Pada aspek setting, penilaian lebih difokuskan pada setting drama yang dapat

menciptakan suasana yang lebih hidup. Hasil tes kemampuan menulis teks drama

aspek setting dapat dilihat pada tabel 17 berikut ini.

Tabel 23. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Setting

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-rata


Skor Skor (%)
1 Sangat Baik 10 11 110 27,5 8,6
2 Baik 8 29 232 72,5 Kategori
3 Cukup 6 0 0 0 Baik
84

4 Kurang 3 0 0 0
Jumlah 40 342 100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis

teks drama aspek setting untuk kategori sangat baik berhasil dicapai oleh 11 siswa

atau sebesar 27,5%. Untuk kategori baik berhasil dicapai oleh 29 siswa atau

sebesar 72,5%. Sedangkan Kategori cukup dan kategori kurang tidak ada atau

sebesar 0%. Jadi nilai rata-rata kemampuan menulis teks drama aspek setting

sebesar 8,6 atau termasuk dalam kategori baik.

4.1.3.1.3 Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Konflik

Pada aspek alur ini, penilaian lebih difokuskan pada konflik yang tajam dan

jelas. Hasil tes kemampuan menulis teks drama aspek alur dapat dilihat pada tabel

18 berikut ini.

Tabel 24. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Konflik

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-rata


Skor Skor (%)
1 Sangat Baik 25 0 0 0 15,3
2 Baik 19 19 361 47,5 Kategori
3 Cukup 12 21 252 52,5 cukup
4 Kurang 6 0 0 0
Jumlah 40 613 100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis

teks drama aspek alur untuk kategori sangat baik tidak ada atau sebesar 0%.

Untuk kategori baik berhasil dicapai oleh 19 siswa atau sebesar 47,5%. Dan untuk

kategori cukup berhasil dicapai oleh 21 siswa atau sebesar 52,5%. Sedangkan,

untuk kategori kurang tidak ada atau sebesar 0%. Jadi nilai rata-rata kemampuan

menulis teks drama aspek konflik sebesar 15,3 atau masuk pada kategori cukup.
85

4.1.3.1.4 Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Penokohan

Pada aspek penokohan, penilaian lebih difokuskan pada karakter tokoh yang

digambarkan sesuai dengan situasi yang diceritakan. Hasil tes kemampuan

menulis teks drama aspek penokohan dapat dilihat pada tabel 18 berikut ini.

Tabel 25. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Penokohan

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-rata


Skor Skor (%)
1 Sangat Baik 15 0 0 0 10,7
2 Baik 11 37 407 92,5 Kategori
3 Cukup 7 3 21 7,5 baik
4 Kurang 3 0 0 0
Jumlah 40 428 100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis

teks drama aspek penokohan untuk kategori sangat baik dan kategori kurang tidak

ada atau sebesar 0%. Untuk kategori baik berhasil dicapai oleh 37 siswa atau

sebesar 92,5%. Dan, untuk kategori cukup berhasil dicapai oleh 3 siswa atau

sebesar 7,5%. Jadi nilai rata-rata kemampuan teks drama aspek penokohan

sebesar 10,7 atau termasuk dalam kategori baik.

4.1.3.1.5 Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Bahasa

Pada aspek bahasa, penilaian lebih difokuskan pada penggunaan nahasa yang

mudah dihayati dan komunikatif. Hasil tes kemampuan menulis teks drama aspek

bahasa dapat dilihat pada tabel 19 berikut ini.

Tabel 26. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Bahasa

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-rata


Skor Skor (%)
1 Sangat Baik 20 0 0 0 11,6
2 Baik 15 13 195 37,5 Kategori
3 Cukup 10 27 270 62,5 Sangat
86

4 Kurang 5 0 0 0 Baik
Jumlah 40 465 100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis

teks drama aspek bahasa untuk kategori sangat baik dan kategori kurang tidak ada

siswa atau sebesar 0%. Kategori baik berhasil dicapai oleh 13 siswa atau sebesar

37,5%. Untuk kategori cukup berhasil dicapai oleh 27 siswa atau sebesar 62,5%.

Jadi nilai rata-rata kemampuan menulis teks drama aspek bahasa sebesar 11,6 atau

masuk pada kategori sangat baik.

Tabel 27. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Teks

Berbentuk Teks Drama dan Disajikan dalam Satu Babak.

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-rata


Skor Skor (%)
1 Sangat Baik 10 2 20 5 5
2 Baik 8 3 24 7,5 Kategori
3 Cukup 6 17 102 42,5 Cukup
4 Kurang 3 18 54 45
Jumlah 40 200 100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis

teks drama aspek teks drama yang berbentuk teks drama dan disajikan dalam satu

babak untuk kategori sangat baik berhasil dicapai oleh 2 siswa atau sebesar 5%.

dan kategori baik berhasil dicapai oleh 3 siswa atau sebesar 7,5%. Untuk kategori

cukup dicapai oleh 17 siswa atau sebesa 42,5%. Dan untuk kategori kurang

dicapai oleh 18 siswa atau sebesar 45%. Jadi nilai rata-rata menulis teks drama

aspek teks drama yang berbentuk teks drama dan disajikan dalam satu babak

sebesar 5 atau masih dalam kategori cukup. Hal ini menunjukkan bahwa masih

ada beberapa siswa yang merasa kesulitan dalam menyajikan teks dalam bentuk
87

teks drama yang disajikan dalam satu babak. Meskipun demikian, sudah dapat

dikatan bahwa sebagian siswa sudah dapat menulis teks dalam bentuk teks drama

dan disajikan dalam satu babak dengan baik.

Tabel 28. Hasil Tes Kemampuan Menulis Teks Drama Aspek Ada Untuk

Kemungkinan Dipentaskan.

No. Kategori Rentang Frekuensi Bobot Presentase Rata-


Skor skor rata
1 Sangat Baik 10 1 10 2,5 4,4
2 Baik 8 4 32 10 Kategori
3 Cukup 6 10 60 25 Kurang
4 Kurang 3 25 75 67,5
Jumlah 40 177 100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis

teks drama aspek ada kemungkinan dipentaskan untuk kategori sangat baik

berhasil dicapai oleh 1 siswa atau sebesar 2,5%. dan kategori baik berhasil dicapai

oleh 4siswa atau sebesar 10%. Untuk kategori cukup dicapai oleh 10 siswa atau

sebesa 25%. Dan untuk kategori kurang dicapai oleh 25 siswa atau sebesar 67,5%.

Jadi nilai rata-rata menulis teks drama aspek ada kemungkinan dipentaskan masih

dalam kategori kurang. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada sebagian siswa

yang merasa kesulitan dalam menyajikan teks drama yang memungkinkan untuk

dipentaskan. Meskipun demikian, ada beberapa siswa yang teks dramanya

mempunyai kemungkinan untuk dipentaskan

4.1.3.2. Data Nontes

Hasil penelitian nontes pada siklus II ini sama dengan siklus I, data nontes

tersebut berasal dari hasil observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi foto.

Berikut adalah data yang diperoleh dari hasil nontes yang meliputi:
88

4.1.3.2.1 Observasi

Pengambilan data melalui observasi ini bertujuan untuk mengetahui perilaku

siswa selama mengikuti pembelajaran. Observasi dilakukan selama proses

pembelajaran berlangsung.

Pada siklus II ini, seluruh perilaku siswa selama mengikuti pembelajaran dapat

digambarkan melalui observasi. Selama proses pembelajaran berlangsung, hampir

semua siswa mengikuti dengan baik, sehingga suasana kelas menjadi lebih

kondusif.

Berdasarkan data yang ada, diketahui bahwa siswa lebih antusias dalam

mengikuti pembelajaran menulis teks drama dengan menggunakan teks drama

sebagai model pemebelajaran melalui pendekatan kontekstual komponen

pemodelan. Hal ini ditunjukkan dengan antusias mereka ketika mengikuti

pembelajaran mulai dari apersepi sampai akhir pembelajaran.

Proses pemebelajaran menulis teks drama pada siklus II kali ini lebih

kondusif, sehingga hasil yang dicapai siswa lebih baik dari siklus I dan siswa

terlihat lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran. Antusias siswa dapat

diketahui melalui respon sebagian besar siswa yang sangat antusias dengan

adanya model dalam proses pembelajaran menulis teks drama. Dan mereka juga

kelihatan semangat ketika diminta untuk menulis teks drama. Hal ini disebabkan

karena siswa baru memperoleh pengetahuan lebih banyak lagi mengenai teks

drama.

Respon yang diberikan siswa ketika dibagikan teks drama sebagai model

dalam pembelajaran sangat baik. Karena dalam kegiatan belajar mengajar jarang
89

menampilakan model, sehingga kehadiran teks drama sebagai model dalam

pembelajaran tersebut mendapat respon yang poitif.

Respon yang ditunjukkan siswa pada saat mendiskusikan teks drama dengan

teman satu kelompoknya juga baik. Mereka berdiskusi untuk menemukan unsur-

unsur yang terdapat di dalam teks drama tersebut. Pada siklus II hampir semua

siswa terlibat secara aktif dengan kelompoknya.

Antusia siswa dalam menulis teks drama juga lebih baik dibandingkan pada

siklus I. Para siswa kelihatan lebih bersemangat dalam menulis teks drama. Iswa

tampak tenang ketika menyelesaikan tugas menulis teks drama. Karena mereka

merasa terbantu dengan model yang dihadirkan oleh peneliti. Situasi kelas juga

terkendali sehingga sangat mendukung konsentrasi siswa dalam menulis teks

drama.

Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa siswa lebih bersemangat dan

lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran menulis teks drama dengan

menggunakan teks drama sebagai model dalam pembelajaran melalui pendekatan

kontekstual komponen pmodelan.

4.1.3.2.2 Jurnal

Jurnal yang digunakan dalam penelitian siklus II ini ada dua macam, yaitu

jurnal siswa dan jurnal guru. Kedua jurnal tersebut mengemukakan tentang

perasaan siswa dan guru selama pembelajaran berlangsung.

a. Jurnal Siswa

Jurnal siswa merupakan jurnal yang harus diisi oleh siswa. Jurnal siswa ini

diisi setelah proses pembelajaran selesai. Tujuan diadakan jurnal siswa ini adalah
90

untuk mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada saat pembelajaran berlangsung

dan untuk mengetahui kesulitan yang dialami siswa.

Pada dasarnya siswa memberikan tanggapan yang positif terhadap

pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti. Karena strategi pembelajaran yang

digunakan peneliti sangat membantu dan mudah dipahami. Selain itu, penggunaan

teks drama sebagai model dalam pembelajaran sanagat membantu siswa dalam

menulis teks drama. Pernyataan mereka membuktikan bahwa mereka tertarik dan

menyukai materi yang diajarkan oleh peneliti.

Pada dasarnya siswa tidak mengalami kesulitan utnuk menulis teks drama

setelah menggunakan teks drama sebagai model dalam pembelajaran menulis teks

drama. Siswa dapat menggali unsur-unsur yang terdapat di dalam teks drama

melalui model tersebut. Dari model tersebut dapat memberikan gambaran kepada

siswa mengenai teks drama, sehingga lebih memudahkan siswa untuk menulis

teks drama.

b. Jurnal Guru

Jurnal guru berisi tentang hal-hal yang dirasakan oleh guru selama proses

pembelajaran berlangsung.

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan oleh peneliti pada saat

pembelajaran berlangsung, dapat digambarakan bahwa peneliti merasa puas

terhadap pembelajaran pada waktu itu, karena siswa sepenuhnya mengikuti

pembelajaran dengan baik. Siswa terlihat lebih siap untuk mengikuti pembelajaran

menulis teks drama.


91

Siswa memberikan respon yang baik ketika peneliti mulai menghadirkan

model berupa teks drama. Kehadiran teks drama sebagai model dalam

pembelajaran sangat membantu siswa untuk menulis teks drama yang lebih baik

lagi. Ketika peneliti meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil, siswa

langsung merespon dengan baik. Mereka langsung berkelompok dengan

kelompok yang sudah ditentukan. Kemudian mereka bekerjasama untuk

menemukan unsur-unsur yang terdapat di dalam teks drama tersebut. Dan siutasi

kelas pun telihat lebih kondusif, meskipun masih ada beberapa siswa yang hanya

diam saja.

Secara keseluruhan, siswa lebih aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Mereka lebih antusias dan bersemangat untuk mengikuti pembelajaran menulis

teks drama. Situasi kelas menjadi lebih terkendali, sehingga pembelajaran dapat

berjalan dengan lancar.

4.1.3.2.3 Wawancara

Pada siklus II kali ini, wawancara tetap dilakukan pada tiga orang siswa yang

mendapat nilai paling tinggi, cukup, dan nilai paling rendah dalam menulis teks

drama. Wawancara pada siklus II ini dilakukan utnuk mengetahui sejauh mana

perubahan sikap siswa terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan oleh

peneliti. Wawancara ini mengungkap tentang: 1) pendapat siswa mengenai

pembelajaran yang telah berlangsung, 2) pendapat siswa mengenai penggunaan

teks drama sebagai model dalam pembelajaran, 3) kesulitan yang dialami oleh

siswa dalam kegiatan pembelajaran menulis teks drama, 4) usaha yang dilakukan
92

oleh siswa untuk mengatasi kesulitan yang dialami, 5) manfaat yang diperoleh

setelah mengikuti pembelajaran tersebut.

Ketiga siswa yang memperoleh nilai tertinggi, cukup, dan nilai terendah

memberikan respon yang baik terhadap pembelajaran yang telah berlangsung.

Siswa pada umumnya menerima pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti

dengan baik. Penggunaan teks drama sebagai model dalam dalam pembelajaran

dirasakan siswa sangat membantu siswa dalam menulis teks drama. Selain dapat

menambah pengetahuan dan wawasan yang baru tentang teks drama, juga dapat

menumbuhkan kreativitas siswa dalam menulis teks drama.

Ketika peneliti menanyakan kesulitan yang dialami oleh masing-masing siswa,

ketiga siswa tersebut memberikan jawaban yang sama. Ketiga siswa tersebut

mengatakan bahwa mereka tidak mengalami kesulitan, ketika diminta untuk

menulis teks drama.

Pembelajaran menulis teks drama dengan menggunakan teks drama sebagai

model dalam pembelajaran melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan

yang telah dilakukan oleh peneliti, ternyata dapat memberikan manfaat bagi

siswa. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh ketiga siswa

tersebut. Mereka mengemukakan bahwa pembelajaran menulis teks drama yang

telah dilakukan oleh peneliti membuat mereka lebih paham mengenai hal-hal yang

berkaitan dengan teks drama dan memudahkan siswa untuk menulis teks drama.

4.1.3.2.4 Dokumentasi Foto

Pada siklus II ini, dokumentasi foto yang diambil sama dengan foto yang

diambil pada siklus I, yaitu meliputi kegiatan siswa ketika sedang mengamati
93

model pembelajaran yang berupa teks drama, kegiatan siswa ketika sedang

berdiskusi dengan teman satu kelompoknya, dan kegiatan siswa ketika sedang

menulis teks drama. Deskripsi gambar pada siklus II selengkapnya akan dipaparka

sebagai berikut.

Gambar 1b menunjukkan kegiatan siswa ketika mengamati model yang

diberikan oleh guru. Mereka terlihat lebih antusias, semangat, dan lebih serius

dalam mengamati model yang telah diberika oleh guru. Mereka membaca teks

drama tersebut dengan sungguh-sungguh. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa

respon siswa terhadap pembelajaran yang diberikan sudah baik. Mereka dapat

mengikuti pembelajaran dengan antusias dan bersemangat.


94

Gambar 2b menunjukkan kegiatan siswa ketika berdiskusi dengan teman satu

kelompoknya. Pada gambar tersebut siswa terlihat lebih aktif dalam kegiatan

kelompoknya. Mereka terlihat lebih serius dalam mengerjakan tugas yang telah

diberikan oleh guru. Kegiatan yang mereka lakukan sama dengan kegiatan yang

dilakukan pada siklus I, yaitu mereka diminta untuk mendiskusikan unsur-unsur

yang terdapat dalam isi teks drama yang telah diberikan oleh guru.

Gambar 3b menunjukkan kegiatan siswa ketika menulis teks drama. Pada

gambar tersebut, siswa terlihat lebih serius dan tidak ada siswa yang terlihat

berbicara sndiri dengan teman satu kelompoknya. Siswa terlihat lebih

bersemangat dan serius dalam menulis teks drama. Situasi kelas pun terlihat lebih

kindusif sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan baik. Dari

gambar tersebut dapat diasumsikan bahwa siswa telah mengalami perubahan

perilaku yang lebih baik.


95

4.2 Pembahasan

Pembahasan hasil penelitian ini didasarkan pada hasil tes prasiklus, siklus I,

dan siklus II. Pembahasan hasil tersebut meliputi hasil tes dan nontes.

Pembahasan hasil tes penelitian mengacu pada pemerolehan skor yang dicapai

siswa ketika diminta untuk menulis teks drama. Aspek-aspek yang dinilai dalam

kemampuan menulis teks drama meliputi lima aspek, yaitu aspek tema, aspek

setting, aspek alur, aspek penokohan atau perwatakan, dan aspek bahasa.

Pembahasan hasil nontes berpedoman pada empat bentuk instrumen penelitian,

yaitu lembar observasi, jurnal, pedoman wawancara, dan dokumentasi foto.

Peneliti dalam mengawali proses pembelajaran menulis teks drama dengan

menggunakan teks drama sebagai model dalam pembelajaran melalui pendekatan

kontekstual komponen pemodelan pada siklus I dan silkus II, dengan

mengucapkan salam terlebih dahulu kepada siswa. Kemudian peneliti melakukan

apersepsi dengan menanyakan keadaan siswa dan mengarahkan perhatian siswa

agar siswa memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh peneliti.Setelah itu

peneliti meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil yang terdiri atas empat

sampai lima orang. Kemudian peneliti membagikan teks drama kepada semua

siswa. Siswa mulai membaca dan mengamati teks drama tersebut, kemudian

disusul dengan berdiskusi untuk menemukan unsur-unsur yang terdapat di dalam

teks drama tersebut. Selanjutnya, peneliti meminta perwakilan dari satu kelompok

untuk menyampaikan hasil diskusinya. Peneliti meminta siswa berdiskusi untuk

menentukan tema yang akan dijadikan teks drama. Kemudian peneliti meminta

siswa untuk menulis teks drama.


96

Berdasarkan hasil tes menulis teks drama tersebut, peneliti dapat mengetahui

kemampuan menulis teks drama siswa kelas VIII E SMP Negeri 3 Ungaran pada

siklus II.

4.2.1 Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Drama

Hasil tes menulis teks drama prasiklus, siklus I, dan siklus II dapat dilihat pada

tabel 20 berikut ini.

Tabel 29. Peningkatan Kemampuan Menulis teks Drama prasiklus, siklus I, dan

siklus II

No. Aspek Nilai Rata-Rata Kelas Peningkatan


P SI SII P-SI % SI-SII % P-SII %
1 I 7,7 8,2 9 0,5 6,5 0,8 9,8 13 16,9
2 II 7,6 8,4 8,6 0,8 10,5 0,2 2,4 1,0 13,2
3 III 10,8 11 15,3 0,2 1,9 4,3 39,1 4,5 41,7
4 IV 9,7 9,8 10,7 0,1 1,0 0,9 9,2 1,0 10,3
5 V 10,6 11 11,6 0,4 3,8 0,6 5,5 1,0 9,4
6 VI 4 4,4 5 0,4 10 0,6 13,6 1,0 25
7 VII 3,7 3,5 4,4 -0,2 -5,4 0,9 25,7 0,7 18,9
Jumlah 54,2 56,3 65 2,2 4,1 8,3 14,7 10,5 19,4
Keterangan: I= tema, II= setting, III= alur, IV= penokohan, V= bahasa, VI= teks

bebentuk teks drama dan disajikan dalam satu babak

Berdasarkan rekapitulasi data hasil tes kemampuan menulis teks drama dari

prasiklus, siklus I, dan siklus II dapat dijelaskan bahwa kemampuan menulis teks

drama siswa pada setiap aspek penilaian menulis teks drama mengalami

peningkatan. Berikut adalah uraian tabel 20.

Hasil prasiklus menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan menulis teks

drama sebesar 54,2. Dari rata-rata tersebut dapat diketahui bahwa kemampuan

menulis teks drama siswa masih tergolong kategori kurang atau rendah karena

berada pada rentang nilai 0-64. Rata-rata tersebut berasal dari jumlah skor rata-
97

rata masing-masing aspek. Pada prasiklus, rata-rata untuk masing-masing aspek

adalah sebagai berikut: 1) aspek tema sebesar 7,7; 2) aspek setting sebesar 7,6; 3)

aspek konflik sebesar 10,8; 4) aspek penokohan sebesar 9,7; 5) aspek bahasa

sebesar10,6; 6) aspek teks berbentuk teks drama dan disajikan dalam satu babak

sebesar 4; dan 7) aspek kemungkinan dipentaskan sebesar 3,7

Kemampuan siswa dalam menulis teks drama yang masih tergolong rendah

disebabkan oleh siswa belum mengenal bentuk teks drama dan pendekatan serta

strategi yang digunakan guru kurang tepat. Pada saat pembelajaran menulis teks

drama prasiklus guru belum menggunakan teks drama sebagai model dalam

pembelajaran. Selain itu guru juga belum menerapkan pendekatan kontekstual

komponen pemodelan sehingga membuat siswa kurang berminat terhadap

pembelajaran menulis teks drama.

Hasil tes menulis teks drama siklus I dengan rata-rata nilai klasikal 56,3

masih tergolong dalam kategori kurang, karena berada pada rentang nilai 0-64.

Meskipun termasuk dalam kategori kurang, tetapi ada beberapa siswa yang sudah

berhasil mencapai nilai rata-rata yang sesuai dengan batas ketuntasan yang sudah

ditentukan,yaitu 65. Nilai rata-rata tersebut berasal dari skor rata-rata tiap aspek

pada penilaian menulis teks drama.

Pada aspek tema rata-rata skor yang dicapai siswa sebesar 8,2 sehingga

tergolong dalam kategori baik dan mengalami peningkatan sebesar 0,5 atau

sebesar 6,5% dari skor rata-rata prasiklus. Hasil tersebut menunjukkan bahwa

secara umum siswa sudah mampu menentukan tema yang relevan dengan

keperluan pementasan.
98

Pada aspek setting, rata-rata skor yang dicapai siswa sebesar 8,4 atau termasuk

kategori cukup. Dalam hal ini siswa mengalami peningkatan sebesar 0,8 atau

sebesar 10,5% dari skor rata-rata prasiklus. Hasil tersebut menunjukkan bahwa

sebagian siswa sudah mampu mendeskripsikan setting secara rinci, jelas dan

hidup.

Untuk aspek konflik rata-rata skor yang dicapai oleh siswa sebesar 11 atau

termasuk dalam kategori cukup dan mengalami peningkatan sebesar 0,2 atau

sebesar 1,9% dari skor rata-rata prasiklus. Hasil tersebut menunjukkan bahwa

sebagian siswa sudah mampu menciptakan konflik yang tajam dan jelas.

Untuk aspek penokohan rata-rata skor yang dicapai oleh siswa sebesar 9,8

atau termasuk dalam kategori baik. Dalam hal ini siswa mengalami peningkatan

sebesar 0,1 atau sebesar 1,0% dari skor rata-rata prasiklus. Hasil tersebut

menunjukkan bahwa siswa sudah mampu menggambarkan karakter tokoh dengan

jelas.

Untuk aspek bahasa rata-rata skor yang dicapai oleh siswa sebesar 11 atau

termasuk kategori cukup dan mengalami peningkatan sebesar 0,4 atau sebesar

3,8% dari skor rata-rata prasiklus. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian

siswa sudah mampu dalam menggunakan bahasa yang dapat menggambarkan

karakter tokoh yang berbeda.

Untuk aspek teks berbentuk teks drama dan disajikan dalam satu babak rata-

rata skor yang dicapai oleh siswa sebesar 4,4 atau masih dalam kategori kurang

dan mengalami peningkatan sebesar 0,4 atau sebesar 10% dari skor rata-rata
99

prasiklus. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian siswa belum mampu

menghasilkan bentuk teks drama yang sesuai dengan kaidah penulisan teks drama.

Untuk aspek ada kemungkinan untuk dipentaskan rata-rata skor yang dicapai

oleh siswa sebesar 3,5 atau masih dalam kategori kurang dan mengalami

penurunan sebesar -0,2 atau sebesar -5,4% dari skor rata-rata prasiklus. Hasil

tersebut menunjukkan bahwa sebagian siswa belum mampu menghasilkan teks

drama yang memiliki kemungkinan untuk dipentaskan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis

teks drama siklus I mengalami peningkatan sebesar 2,2 atau 4,1% dari skor rata-

rata prasiklus.

Hasil tes menulis teks drama siklus II berhasil mencapai nilai sebesar 65 atau

masuk kategori cukup karena berada pada rentang nilai 65-74. Pencapaian skor

tersebut berarti sudah memenuhi batas tuntas yang ditetapkan. Dengan demikian

tindakan siklus III tidak perlu dilakukan. Hasil pemerolehan nilai dari masing-

masing aspek pada siklus II dapat diuraikan sebagai berikut.

Pada aspek tema rata-rata skor yang dicapai siswa sebesar 9 atau termasuk

kategori baik dan mengalami peningkatan sebesar 0,8 atau sbebsar 9,8% dari skor

rata-rata siklus I. Hasil tersebut menunjukkan bahwa secara umum siswa sudah

mampu menentukan tema yang relevan dengan keperluan pementasan

Pada aspek setting, rata-rata skor yang dicapai siswa sebesar 8,6 atau termasuk

kategori baik dan mengalami peningkatan sebesar 0,2 atau sebesar 2,4% dari skor

rata-rata siklus I. Hasil tersebut menunjukkan bahwa secara umum siswa sudah

mampu mendeskripsikan setting secara rinci, jelas dan hidup.


100

Untuk aspek konflik rata-rata skor yang dicapai oleh siswa sebesar 15,3 atau

termasuk dalam kategori baik. Dalam hal ini siswa mengalami peningkatan

sebesar 4,3 atau sebesar 39,1% dari skor rata-rata siklus I. Hasil tersebut

menunjukkan bahwa secara umum siswa sudah mampu dalam menetukan konflik

yang tajam dan jelas.

Untuk aspek penokohan rata-rata skor yang dicapai oleh siswa sebesar 10,7

atau termasuk dalam kategori baik. Dalam hal ini siswa mengalami peningkatan

sebesar 0,9 atau sebesar 9,2% dari skor rata-rata siklus I. Hasil tersebut

menunjukkan bahwa siswa sudah mampu menggambarkan karakter masing-

masing tokoh yang berbeda.

Untuk aspek bahasa rata-rata skor yang dicapai oleh siswa sebesar 11,6 atau

termasuk dalam kategori baik. Dalam hal ini siswa mengalami peningkatan

sebesar 0,6 atau sebesar 5,5% dari skor rata-rata siklus I. Hasil tersebut

menunjukkan bahwa siswa sudah mampu dalam menggunakan bahasa yang dapat

menggambarkan karakter tiap-tiap tokoh.

Untuk aspek teks berbentuk teks drama dan disajikan dalam satu babak rata-

rata skor yang dicapai oleh siswa sebesar 5 atau masih dalam kategori cukup dan

mengalami peningkatan sebesar 0,6 atau sebesar 13,6% dari skor rata-rata siklus I.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian siswa sudah mampu menghasilkan

bentuk teks drama yang sesuai dengan kaidah penulisan teks drama.

Untuk aspek ada kemungkinan untuk dipentaskan rata-rata skor yang dicapai

oleh siswa sebesar 4,4 atau masih dalam kategori kurang dan mengalami

peningkatan sebesar 0,9 atau sebesar 25,7% dari skor rata-rata siklus I. Hasil
101

tersebut menunjukkan bahwa masih ada beberapa siswa yang belum mampu

menghasilkan teks drama yang memiliki kemungkinan untuk dipentaskan. Akan

tetapi dalam hal ini sudah dapat dikatakan bahwa sebagian siswa sudah mampu

menghasilkan teks drama yang sesuai dengan kaidah penulisan teks drama.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis

teks drama sudah mengalami peningkatan, peningkatan dari prasiklus ke siklus I

sebesar 2,2 atau sebesar 4,1%, peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 8,3

atau sebesar 14,7%, dan peningkatan dari prasiklus ke siklus II sebesar 10,5 atau

sebesar 19,4%.

Peningkatan kemampuan siswa dalm menulis teks drama merupakan prestasi

yang patut dibanggakan sebab sebelum dilakukan tindakan siklus I dan siklus II,

kemampuan menulis teks drama siswa masih kurang. Namun setelah diterapkan

pembelajaran menulis teks drama dengan menggunakan teks drama sebagai model

dalam pembelajaran melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan dari

siklus I sampai siklus II mengalami peningkatan.

Dengan adanya peningkatan nilai rata-rata tiap aspek pada siklus I

membuktikan bahwa penggunaan teks drama sebagai model pembelajaran dengan

pendekatan kontekstual komponen pemodelan dapat meningkatkan kemampuan

menulis teks drama siswa kelas VIIIE SMP N 3 Ungaran. Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa penggunaan teks drama sebagai model pembelajaran dengan

pendekatan kontekstual komponen pemodelan terbukti mampu membantu siswa

dalam meningkatkan kualitas, kreativitas, produktivitas, dan efektivitas

pembelajaran siswa dalam menulis teks drama.


102

Kehadiran teks drama sebagai model pembelajaran dan penggunaan

pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam pembelajaran menulis teks

drama siswa kelas VIIIE SMP N 3 Ungaran terbukti mampu membantu

kelancaran, efektivitas, dan efisiensi pencapaian tujuan pembelajaran. Penggunaan

teks drama dalam pembelajaran sangat membantu siswa untuk mengatasi

kesulitan yang mereka alami dalam menentukan unsur-unsur teks drama.

Penggunaan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam pembelajaran

dapat memberikan kebebasan bagi siswa untuk mengeluarkan pendapat dan

gagasannya dalam bentuk teks drama. Penggunaan model yang tepat dan

pemilihan pendekatan yang tepat mampu meningkatkan minat belajar siswa dan

pada akhirnya prestasi siswa juga turut meningkat.

4.2.2 Perubahan Perilaku

Peningkatan kemampuan siswa dalam menulis teks drama ini diikuti pula

dengan adanya perubahan perilaku siswa mulai dari prasiklus sampai siklus II.

Secara umum siswa merasa senang mengikuti pembelajaran menulis teks drama

dengan menggunakan teks drama sebagai model pembelajaran melalui pendekatan

kontekstual komponen pemodelan. Hasil ini dapat diketahui dari observasi, jurnal,

dan wawancara. Kondisi siswa pada siklus I menunjukkan bahwa siswa kurang

bersemangat dalam mengikuti pembelajaran menulis teks drama. Selain itu, masih

ada beberapa siswa yang belum mencapai hasil yang sudah ditentukan secara

klasikal, yaitu 65. Kondisi kelas pun pada saat itu belum kondusif, hal itu

disebabkan ada beberapa siswa yang masih asyik bercanda dan berbicara sendiri
103

dengan teman sebangku atau sekelompoknya ketika proses pembelajaran

berlangsung.

Terkait dengan model yang dihadirkan oleh peneliti, siswa menanggapi hal

tersebut dengan baik. Hal ini dapat dilihat pada jurnal siswa yang sebagian besar

mengemukakan bahwa dengan menghadirkan model dalam pembelajaran menulis

teks drama sangat membantu dan mempermudah siswa dalam menulis teks drama.

Selain itu, siswa juga merasa termotivasi karena siswa dapat mengekspresikan

kreativitas mereka melalui menulis teks drama.

Respon siswa ketika diminta untuk mendiskusikan teks drama maupun

menentukan tema untuk menulis teks drama cukup baik. Mereka bekerjasama

untuk menentukan unsur-unsur yang terdapat dalam teks drama tersebut. Namun,

masih ada beberapa siswa yang tidak aktif dalam kelompoknya. Mereka hanya

diam saja atau asyik bercanda dan berbicara dengan teman sebangku atau satu

kelompoknya.

Kemudian dari hasil observasi maupun dokumentasi foto diketahui bahwa

siswa sangat antusias ketika mengamati model yang telah diberikan oleh peneliti.

Namun, ada juga siswa yang kurang antusias dengan model yang dihadirkan oleh

peneliti. Hal ini disebabkan mereka merasa malas untuk membaca dan memahami

model tersebut. Ada juga siswa yang hanya diam saja dan acuh terhadap model

yang diperlihatkan. Hal ini disebabkan siswa kurang berminat dengan

pembelajaran pada hari itu.

Meskipun hasil tes kemampuan menulis teks drama pada siklus I belum

termasuk pada kategori baik, setidaknya ada upaya yang dilakukan oleh siswa,
104

yaitu dengan memperbaiki kesulitan yang dialami. Adapun usaha yang dilakukan

oleh siswa dengan cara mengamati dan mencoba untuk memahami teks drama

yang telah diberikan oleh peneliti. Dengan cara seperti itu siswa berharap dapat

memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai teks drama, sehingga memudahkan

siswa untuk menulis teks drama.

Kondisi yang digambarkan pada siklus I ini merupakan permasalahan yang

harus dipecahkan untuk upaya perbaikan pada siklus II. Rencana pembelajaran

pada siklus II harus lebih matang daripada siklus I. Pola pembelajaran pada siklus

II juga merupakan hasil pertimbangan pendapat dari siswa yang tercantum dalam

jurnal dan wawancara. Secara umum siswa sudah merasa senang dengan adanya

model dalam pemebelajaran menulis teks drama karena lebih memudahkan siswa

untuk menulis teks drama, sehingga siswa merasa termotivasi dan antusias dalam

mengikuti pembelajaran. Akan tetapi, ada beberapa siswa yang menginginkan

agar pada siklus II teks drama yang digunakan sebagai model dalam pembelajaran

menulis adalah teks drama yang utuh, sehingga lebih memudahkan siswa dalam

memahami unsur-unsur yang terdapat di dalam drama tersebut. Karena dalam hal

ini siswa masih merasa kesulitan dalam menentukan konflik yang tajam dan jelas

dan penokohan yang dapat digambarkan secara jelas.

Hasil dari penerapan siklus II ini ternyata membawa pengaruh yang positif dan

cukup memuaskan. Suasana pada siklus II terlihat lebih kondusif. Siswa merespon

dengan baik pembelajaran menulis teks drama dengan menggunakan teks drama

sebagai model dalam pembelajaran tersebut. Siswa sangat antusias dan lebih

bersemangat dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh peneliti. Namun, ada
105

juga siswa yang merasa bosan dengan pembelajaran menulis teks drama akan

tetapi pada akhirnya siswa mulai terbiasa dengan pembelajaran menulis teks

drama. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata kemampuan siswa dalam menulis teks

drama mengalami peningkatan dan teks drama yang dihasilkan semakin baik.

Kenyataan ini dibuktikan pada hasil tes menulis teks drama dari prasiklus, siklus

I, sampai siklus II yang semakin meningkat, meskipun masih ada beberapa siswa

yang belum mencapai batas ketuntasan yang ditentukan akan tetapi dalam hal ini

siswa sudah dapat dikatakan telah berhasil menulis teks drama dengan baik.

Terkait dengan penggunaan teks drama sebagai model dalam pembelajaran

menulis teks drama, secara umum siswa merespon dengan baik. Sebagain besar

siswa mengemukakan bahwa model yang digunakan dalam pembelajaran tersebut

sangat membantu siswa dalam menulis teks drama. Dengan model tersebut siswa

menjadi lebih paham mengenai unsur-unsur yang terdapat di dalam teks drama,

sehingga memudahkan siswa untuk menuangkan ide atau gagasannya dalam

bentuk teks drama. Selain itu, siswa juga merasa termotivasi utnuk menulis teks

drama yang lebih baik.

Respon yang ditunjukkan siswa pada saat mendiskusikan unsur-unsur yang

terdapat di dalam teks drama tersebut sangat baik dibandingkan dengan kegiatan

pada siklus I. Mereka kelihatan lebih serius dalam menghayati dan memahami

teks drama tersebut.

Berdasarkan data yang diperoleh dari observasi dan dokumentasi foto

diketahui bahwa antusias siswa ketika sedang mengamati dan berdiskusi serta

mengerjakan tugas menulis teks drama sangat baik. Mereka mengerjakan tugas
106

dengan serius dan tenang. Siswa juga terlihat lebih mudah dalam memahami teks

drama sehingga siswa dapat menghasilkan teks drama yang lebih baik. Hal ini

menunjukkan bahwa siswa sudah mulai mampu untuk menulis teks drama.

Berdasarkan analisis data dan situasi pembelajaran tersebut, dapat disimpulkan

bahwa perilaku siswa dalam mengikuti pembelajaran mengalami perubahan.

Perubahan perilaku ini mengarah pada perubahan perilaku yang baik. Siswa

semakin aktif dan bersungguh-sungguh dalam belajar tanpa terbebani dan tidak

ada tekanan karena mereka merasa senang dan dapat belajar dengan santai

Suasana pun menjadi lebih terkendali dan kondusif. Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa belajar menulis teks drama dengan menggunakan teks drama

sebagai model dalam pembelajaran menulis teks drama melalui pendekatan

kontekstual komponen pemodelan sangat menarik, karena memudahkan siswa

dalam menulis teks drama. Selain itu, siswa juga dapat pengetahuan yang lebih

dalam lagi mengenai teks drama. Dan siswa pun merasa termotivasi untuk

mengekspresikan kreativitasnya dalam menulis teks drama, sehingga siswa dapat

menghasilkan teks drama yang lebih baik.


BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Berdasarkan rumusan masalah, hasil analisis penelitian dan pembahasan

Penelitian Tindakan Kelas ini dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Kemampuan menulis teks drama siswa kelas VIII E SMP Negeri 3 Ungaran

setelah mengikuti pembelajaran menulis teks drama dengan menggunakan

teks drama sebagai model dalam pembelajaran melalui pendekatan

kontekstual komponen pemodelan mengalami peningkatan. Hasil data dari

tes prasiklus menunjukkan skor rata-rata kelas sebesar 54,2 dan pada siklus

I rata-rata kelas sebesar 56,3. Hal ini berarti menunjukkan ada peningkatan

sebesar 4,1%. Pada siklus II menghasilkan skor rata-rata kelas sebesar 65.

Hal ini menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar

14,7%. Jadi peningkatan dari prasiklus sampai siklus II sebesar 19,4%.

2. Perilaku siswa kelas VIII E SMP Negeri 3 Ungaran dalam mengikuti

pembelajaran menulis teks drama melalui pendekatan kontekstual

komponen pemodelan mengalami perubahan. Perubahan perilaku

dibuktikan dari perilaku yang kurang menyenangkan berubah menjadi

perilaku yang psositif. Pada siklus I siswa belum begitu cermat dalam

menentukan tema yang relevan dengan keperluan pementasan, para siswa

juga masih bingung dalam menentukan konflik yang tajam dan jelas, dan

dalam menggambarkan tokoh yang jelas. Pada siklus II, siswa sudah

menunjukkan adanya peningkatan terhadap pembelajaran menulis teks

107
108

drama, yaitu siswa semakin cermat dalam menentukan tema yang relevan

dengan keperluan pementasan, siswa sudah dapat menentukan alur yang

tajam dan jelas, dan sudah dapat menggambarkan tokoh yang sesuai dengan

suasana yang diceritakan. Meskipun masih ada beberapa siswa yang merasa

kesulitan dalam menentukan unsur-unsur teks drama tetapi hal itu dapat di

atasi oleh siswa dengan mengamati dan memahami kembali teks drama

yang diberikan oleh peneliti. Siswa juga semakin antusias dan bersemangat

dalam mengikuti pembelajaran menulis teks drama. Sebab siswa merasa

senang dan termotivasi dengan adanya model yang diperlihatkan oleh

peneliti dalam pembelajaran menulis teks drama melalui pendekatan

kontekstual komponen pemodelan.

5.2 Saran

Berdasarkan pembahasan dan simpulan di atas, peneliti menyarankan

agar:

1. Guru bahasa Indonesia dalam pembelajaran menulis teks drama,

menggunakan model berupa teks drama supaya dalam proses pembelajaran

siswa lebih termotivasi dan antusias karena siswa secara langsung

mengetahui bentuk teks drama sehingga siswa memiliki gambaran

mengenai hal-hal yang terdapat di dalam teks drama. Selain itu, proses

pembelajaran pun dapat berjalan dengan lancar karena siswa lebih aktif dan

siswa merasa senang mengkuti pembelajaran tersebut.

2. Guru bahasa Indonesia hendaknya menerapkan pendekatan kontekstual

komponen pemodelan sebagai alternatif dalam pembelajarn menulis teks

drama.
109

3. Para siswa harus lebih sering berlatih dalam kegiatan belajar mengajar

khususnya dalam pembelajaran menulis teks drama sehingga kemampuan

menulis siswa dapat meningkat dan dapat menghasilkan teks drama yang

lebih baik.
110

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin dan Roekhan. 2003. Apresiasi Drama. Jakarta.

Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Standar Isi. Jakarta

Bagiyo, Thomas. 2004. Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Drama Dengan


Teknik modeling Pada Siswa SD Kelas IV D PL Belnardus Semarang.
Skripsi. Unnes.

Depdiknas. 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning).


Jakarta.
Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 kompetensi dasar. Jakarta.

Etin Sumiatin dan Widaningsih. 2005. Memahami Bahasa dan Sasatra Indonesia
Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah
(MTS). Bandung: CV.armico.

Hasanudin. 1996. Drama Karya Dalam Dua Dimensi Kajian Teori, Sejarah, dan
Analisis. Bandung: Angkasa

Jabrohim. 2003. Cara Menulis Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kusrini, Idda Ayu. 2005. Asah Terampil Bahasa Indonesia SMP Kelas 2. Brebes:
Yudhistira

Sayuti, Suminto A. 2002. Pengembangan Keterampilan Menulis. Makalah.


Disajikan dalam Lokakarya Nasional. Membaca Menulis Bagi Guru
SLTP Semarang, 3-14 Juli.

Senduk dan Nurhadi. 2003. Pnedekatan kontekstual (Contextual Teaching and


Learning/CTL) dan Penerapana dalam KBK. Malang: Universitas
Negeri Malang.

Tarigan, Henry Guntur. 1984. Menulis Suatu Keterampilan Deskriptif. Bandung:


Angkasa.

Utami, Titi. 2005. Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Drama Jawa Dengan
Media Kaset Pada Siswa SMP Negeri 3 Bawang Banjarnegara.
Skripsi. Unnes

Waluyo, Herman J. 2001. Drama Teori dan Pengajarannya. Yogyakarta:


Hanindita Graha Widia

110
111

RENCANA PEMBELAJARAN

Siklus I

Nama Sekolah : SMP Negeri 3 Umgaran

Kelas/Semester : VIII/I

Alokasi Waktu : 2 x 40 menit

Standar Kompetensi : Mampu mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui

kegiatan menulis kreatif drama.

Kompetensi Dasar : Menulis teks drama.

Indikator : Siswa mampu menulis teks drama dengan menggunakan

bahasa yang sesuai untuk mengembangkan penokohan,

menghidupkan konflik, dan mendeskripsikan latar yang

mendukung.

Materi Pokok :

¾ Unsur-unsur teks drama

1) Tema

2) Setting

3) Alur

4) Penokohan

5) Bahasa

¾ Langkah-langkah dalam menulis teks drama:

1) Merumuskan Tema

2) Mendeskripsikan tokoh

3) Membuat garis besar cerita

4) Mengembangkan garis besar isi cerita ke dalam dialog-dialog


112

Media Pembelajaran : Teks drama

Skenario Pembelajaran

No Kegiatan Pembelajaran Waktu Metode

1 Pendahuluan

a. guru mengucapkan salam

b. guru melakukan apersepsi 5’ Tanya jawab

c. guru menyampaikan tujuan

pembelajaran pada hari itu

d. guru menyampaikan Ceramah

kompetensi yang akan dicapai

oleh siswa setelah mengikuti

pembelajaran

2 Kegiatan Inti

a. guru menyampaikan materi

tentang unsur-unsur drama Tanya jawab

b. guru membagi siswa menjadi

kelompok kecil yang masing-

masing kelompok terdiri atas 4

atau 5 orang 30’

c. guru membagikan teks drama

kepada masing-masing

kelompok

d. guru meminta siswa

mendiskusikan isi drama Berdiskusi

tersebut
113

e. guru meminta salah satu

kelompok menyampaikan hasil

diskusinya untuk dibahas

bersama

f. guru menjelaskan tentang

langkah-langkah menulis teks

drama

g. guru meminta tiap-tiap

kelompok untuk

mendiskusikan tema yang akan

ditulis dalam sebuah teks

drama Penugasan

h. guru menugasi tiap-tiap

anggota kelompok untuk

menyusun teks drama sesuai

dengan tema yang sudah

didiskusikan secara individu.

i. siswa mengumpulkan hasil

pekerjaan kepada guru.

3 Penutup

a. guru bertanya, apakah siswa

senang dengan pembelajaran 5’

pada hari itu

b. guru bersama siswa membuat

refleksi pembelajaran
114

Penilaian

1. Penilaian proses dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung

2. Penilaian hasil kerja individu

Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Peneliti

Tuti Ida, S.Pd Zulfah Muyassaroh

NIP 131567676 NIM 2101402024

Mengetahui

Kepala SMP Negeri 3 Ungaran


115

RENCANA PEMBELAJARAN

Siklus II

Nama Sekolah : SMP Negeri 3 Ungaran

Kelas/semester : VIII/1

Alokasi waktu : 2 x 40 menit

Standar Kompetensi : Mampu mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui

kegiatan menulis kreatif drama.

Kompetensi Dasar : Menulis teks drama.

Indikator : Siswa mampu menulis teks drama dengan menggunakan

bahasa yang sesuai untuk mengembangkan penokohan,

menghidupkan konflik, dan mendeskripsikan latar yang

mendukung.

Materi Pokok :

¾ Unsur-unsur teks drama

6) Tema

7) Setting

8) Alur

9) Penokohan

10) Bahasa

¾ Langkah-langkah dalam menulis teks drama:

5) Merumuskan Tema

6) Mendeskripsikan tokoh

7) Membuat garis besar cerita

8) Mengembangkan garis besar isi cerita ke dalam dialog-dialog

Media Pembelajaran : Teks drama


116

Skenario Pembelajaran

No Kegiatan Pembelajaran Waktu Metode

1 Pendahuluan

a. guru mengucapkan salam

b. guru menanyakan keadaan 5’ Tanya jawab

siswa

c. guru menyampaikan tujuan

pembelajaran pada hari itu Ceramah

2 Kegiatan Inti

a. guru memberikan umpan balik

terhadap pembelajaran yang

telah dilakukan pada siklus I

b. guru membagi siswa menjadi

kelompok kecil yang masing- Tanya jawab

masing kelompok terdiri atas 4

atau 5 orang

c. guru membagikan teks drama

kepada tiap-tiap kelompok 30’

d. guru meminta siswa

mendiskusikan isi drama

tersebut

e. guru meminta salah satu

kelompok menyampaikan hasil Berdiskusi

diskusinya untuk dibahas

bersama
117

f. guru menugasi tiap-tiap anggota

kelompok untuk menyusun

teks drama dengan tema bebas

secara individu.

g. siswa mengumpulkan hasil

pekerjaan kepada guru.

3 Penutup

a. guru bertanya, apakah siswa

senang dengan pembelajaran

pada hari itu

b. guru bersama siswa membuat 5’ Penugasan

refleksi pembelajaran pada hari

itu

Penilaian

a. Penilaian proses dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung

b. Penilaian hasil kerja individu

Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Peneliti

Tuti Ida, S.Pd Zulfah Muyassaroh


NIP 131567676 NIM 2101402024

Mengetahui

Kepala SMP Negeri 3 Ungaran


118

Hasil Analisis Tes Prasiklus

No. Aspek Penilaian Jumlah Katego Batas


1 2 3 4 5 6 7 Skor ri Ketuntasan
1 6 6 12 11 15 3 3 56 Kurang Tidak
2 8 6 6 11 15 3 3 52 Kurang Tidak
3 8 10 6 11 10 10 6 61 Kurang Tidak
4 6 8 12 11 10 3 3 53 Kurang Tidak
5 8 8 12 7 10 3 3 51 Kurang Tidak
6 8 8 12 7 10 3 3 51 Kurang Tidak
7 8 10 12 7 10 3 36 53 Kurang Tidak
8 8 8 12 11 10 6 3 61 Kurang Tidak
9 8 8 12 11 10 3 3 55 Kurang Tidak
10 8 8 12 11 10 3 3 55 Kurang Tidak
11 10 8 6 11 10 3 3 51 Kurang Tidak
12 8 10 12 11 10 6 3 60 Kurang Tidak
13 8 6 12 11 15 3 3 58 Kurang Tidak
14 8 10 6 11 10 3 3 51 Kurang Tidak
15 8 8 12 7 10 3 3 51 Kurang Tidak
16 6 6 12 11 10 3 3 51 Kurang Tidak
17 8 6 12 7 10 10 6 59 Kurang Tidak
18 8 6 12 11 10 3 3 53 Kurang Tidak
19 8 8 12 7 10 3 3 51 Kurang Tidak
20 8 8 12 11 10 6 6 61 Kurang Tidak
21 8 8 12 7 10 3 3 51 Kurang Tidak
22 8 6 12 7 10 6 6 55 Kurang Tidak
23 8 8 12 7 10 3 3 51 Kurang Tidak
24 8 6 12 11 10 3 3 53 kurang Tidak
25 8 8 12 11 15 6 3 60 Cukup Tuntas
26 8 10 6 11 10 3 3 51 Kurang Tidak
27 8 6 6 11 15 3 3 52 Kurang Tidak
28 6 8 12 11 15 6 3 51 Kurang Tidak
29 6 6 12 7 10 6 6 53 Kurang Tidak
30 6 8 12 11 10 3 3 53 Kurang Tidak
31 6 8 12 11 10 3 3 58 Kurang Tidak
32 6 6 12 11 10 3 3 51 Kurang Tidak
33 - - - - - - - - - -
34 8 8 6 7 10 6 3 51 Kurang Tidak
35 6 8 12 11 10 3 3 53 Kurang Tidak
36 - - - - - - - - Kurang -
37 8 8 12 11 10 3 3 55 Kurang Tidak
38 8 8 12 11 10 6 6 61 Kurang Tidak
39 6 8 6 11 15 3 3 52 Kurang Tidak
40 8 8 12 7 10 3 3 51 Kurang Tidak
41 10 8 12 11 10 3 3 57
42 10 10 12 7 10 3 3 55 Kurang
Jumlah 306 310 432 388 425 167 147 2169
7,7 7,6 10,8 9,7 10,6 4 3,7 54,2 Kurang
119
Hasil Analisis Tes Siklus I

No. Aspek Penilaian Jumlah Kategori Batas


1 2 3 4 5 6 7 Skor Ketuntasan
1 8 6 6 11 15 3 3 52 Kurang Tidak
2 10 10 19 11 15 10 8 83 Sangat baik Tuntas
3 8 8 6 11 10 10 3 56 Kurang Tidak
4 8 8 12 11 10 3 3 55 Kurang Tidak
5 8 10 12 7 10 3 3 53 Kurang Tidak
6 8 8 12 11 10 3 3 55 Kurang Tidak
7 8 10 6 11 10 10 3 61 Kurang Tidak
8 8 10 12 11 10 3 3 57 Kurang Tidak
9 8 8 12 7 10 3 3 55 Kurang Tidak
10 8 10 12 11 10 3 3 53 Kurang Tidak
11 8 8 12 7 10 3 3 55 Kurang Tidak
12 8 8 12 7 15 3 3 56 Kurang Tidak
13 8 8 12 11 10 3 3 51 Kurang Tidak
14 8 8 12 7 10 3 6 63 Kurang Tidak
15 8 10 12 11 10 8 3 53 Kurang Tidak
16 8 10 6 11 10 3 3 51 Kurang Tidak
17 8 8 12 7 10 3 3 58 Kurang Tidak
18 8 8 12 11 10 6 3 51 Kurang Tidak
19 8 8 12 11 15 3 3 60 Kurang Tidak
20 8 8 12 11 10 3 3 58 Kurang Tidak
21 8 8 6 11 10 6 3 52 Kurang Tidak
22 10 8 6 11 10 6 3 51 Kurang Tidak
23 8 8 12 7 10 6 3 51 Kurang Tidak
24 8 10 12 11 10 10 3 60 kurang Tidak
25 10 8 6 11 15 6 6 66 Cukup Tuntas
26 8 8 6 11 15 3 6 60 Kurang Tidak
27 8 8 12 11 10 3 3 55 Kurang Tidak
28 8 6 12 11 15 3 3 58 Kurang Tidak
29 8 8 12 7 10 3 3 51 Kurang Tidak
30 8 8 12 11 10 3 3 55 Kurang Tidak
31 6 8 12 11 15 3 3 58 Kurang Tidak
32 10 6 12 7 10 3 3 51 Kurang Tidak
33 - - - - - - - - - -
34 10 6 12 7 10 3 3 51 Kurang Tidak
35 8 10 6 11 10 3 3 51 Kurang Tidak
36 - - - - - - - - - -
37 8 8 12 11 10 3 3 53 Kurang Tidak
38 8 10 12 7 10 3 3 55 Kurang Tidak
39 8 6 12 11 10 8 6 61 Kurang Tidak
40 8 8 19 11 10 3 3 62 Kurang Tidak
41 8 10 12 7 10 6 3 56 Kurang Tidak
42 8 10 12 11 10 3 3 57 Kurang
Jumlah 358 334 440 392 440 176 140 2250
8,2 8,4 11 9,8 11 4,4 3,5 52,6 Kurang
120
Hasil Analisis Tes Siklus II

No. Aspek Penilaian Jumlah Kategori Batas


1 2 3 4 5 6 7 Skor Ketuntasan
1 10 8 12 11 15 10 8 74 Cukup Tuntas
2 10 8 19 11 15 6 8 70 Cukup Tuntas
3 8 8 12 11 10 3 3 62 Kurang Tidak
4 10 8 12 11 15 3 3 62 Kurang Tidak
5 8 8 12 11 10 6 3 58 Kurang Tidak
6 10 8 12 11 10 6 6 63 Kurang Tidak
7 8 10 12 11 10 6 3 60 Kurang Tidak
8 10 8 19 11 10 6 6 70 Cukup Tuntas
9 10 8 19 11 10 3 3 64 Kurang Tidak
10 8 8 19 11 10 6 3 65 Cukup Tuntas
11 10 8 19 11 10 6 3 67 Cukup Tuntas
12 10 8 12 11 15 3 3 62 Kurang Tidak
13 8 8 19 11 10 3 3 62 Kurang Tidak
14 10 8 19 11 10 6 3 70 Cukup Tuntas
15 8 8 12 11 15 3 3 60 Kurang Tidak
16 10 8 12 11 10 6 6 63 Kurang Tidak
17 8 8 19 11 10 3 3 62 Kurang Tidak
18 8 8 19 11 10 3 3 62 Kurang Tidak
19 8 10 12 11 10 3 3 57 Kurang Tidak
20 8 10 19 11 15 3 3 69 Cukup Tuntas
21 10 8 12 11 10 6 6 63 Kurang Tidak
22 8 8 12 11 10 6 3 58 Kurang Tidak
23 8 8 12 7 10 3 3 51 Kurang Tidak
24 10 8 19 11 10 6 6 70 Cukup Tuntas
25 10 10 12 11 15 6 6 66 Cukup Tuntas
26 8 8 12 11 10 3 3 60 Kurang Tidak
27 10 10 12 11 10 6 6 65 Cukup Tuntas
28 8 10 19 11 10 3 3 64 Kurang Tidak
29 8 8 19 11 10 3 3 62 Kurang Tidak
30 8 8 19 11 10 8 6 70 Cukuo Tuntas
31 8 10 19 7 10 3 3 60 Kurang Tidak
32 10 8 12 7 15 6 8 66 Cukup Tuntas
33 - - - - - - - - - -
34 10 10 12 11 15 6 3 67 Cukup Tuntas
35 10 8 12 11 15 3 3 62 Kurang Tidak
36 - - - - - - - - - -
37 8 8 19 11 10 3 3 62 Kurang Tidak
38 10 10 12 11 10 6 3 62 Kurang Tidak
39 10 8 19 11 15 8 6 77 Baik Tuntas
40 8 10 12 11 15 10 10 76 Baik Tuntas
41 8 10 19 11 10 3 3 64 Kurang Tidak
42 8 8 19 11 15 8 6 75 Baik Tuntas
Jumlah 358 342 613 428 465 200 177 2583
9 8,6 15,3 10,7 11,6 5 4,4 65 Cukup