P. 1
beda tramadol & ketamine

beda tramadol & ketamine

|Views: 195|Likes:
Dipublikasikan oleh Intan Silaen

More info:

Published by: Intan Silaen on Dec 18, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/12/2015

pdf

text

original

PERBANDINGAN EFEKTIFITAS ANTARA KETAMIN DENGAN TRAMADOL UNTUK MENGURANGI AKIBAT PENYUNTIKAN ROCURONIUM

SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

ALIAN SETIAWAN G.0006038

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET Surakarta 2010

PENGESAHAN SKRIPSI

Skripsi dengan judul: Perbandingan Efektifitas Antara Ketamin Dengan Tramadol Untuk Mengurangi Nyeri Akibat Penyuntikan Rocuronium.

Alian Setiawan, NIM/Semester: G.0006038/VIII, Tahun: 2010 Telah diuji dan sudah disahkan di hadapan Dewan Penguji Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta Pada Hari Kamis, Tanggal 15 Juli 2010

Pembimbing Utama Nama : Eko Setijanto,dr., Msi., Med., SpAn NIP : 1971 0322 2010 01 1002 Pembimbing Pendamping Nama : H. Zainal Abidin, dr., Mkes NIP :1946 0202 1976 10 1001 Penguji Utama Nama : H. Marthunus Judin, dr., SpAn NIP : 1951 0221 1982 111001 Anggota Penguji Nama : Dra.Yul Mariyah, Msi., Apt NIP : 1951 0329 1983 03 2001

………………………...

………………………...

…………………………

…………………………

Surakarta, Ketua Tim Skripsi Dekan FK UNS

2010

Sri Wahjono, dr., M.Kes., DAFK

Prof. Dr. A. A. Subiyanto, dr., MS

NIP : 1945 0824 1973 10 1001

NIP : 1948 1107 1973101003

PERNYATAAN

Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Surakarta,

Juli 2010

Alian Setiawan NIM G.0006038

ABSTRAK Alian Setiawan, G0006038. 2010. Perbandingan Efektifitas Antara Ketamin Dan Tramadol Untuk Mengurangi Nyeri Akibat Penyuntikan Rocuronium. Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Rocuronium adalah obat pelumpuh otot yang digunakan untuk membantu pelaksanaan anestesi umum .Efek samping rocuronium adalah rasa nyeri lokal pada saat penyuntikan melalui vena perifer. Ketamine dalam dosis kecil yang di berikan sebelum induksi rocuronium dapat mengurangi intensitas nyeri dan untuk tramadol dapat pula mengurangi insiden dan intensitas nyeri .Tujuan penelitian ini adalah mengetahui adanya perbedaan efektifitas antara ketamin dan tramadol untuk mengurangi nyeri akibat penyuntikan rocuronium. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan uji klinis acak buta ganda. Subjek Penelitian adalah pasien operasi RSUD dr. Moewardi Surakarta sebanyak 45 pasien, Pasien laki-laki atau wanita usia 19-60 tahun, status fisik pasien ASA I- II dengan anestesi umum. Kelompok I adalah ketamin 0,2 mg/kgBB, kelompok II adalah tramadol 50 mg dan untuk kelompok III adalah kelompok kontrol. Nyeri dinilai mengunakan Visual Analogue Scale (VAS). Dalam penelitian ini didapatkan efek analgesia pada pemakaian tramadol lebih efektif secara bermakna dibandingkan dengan ketamin dalam mengurangi akibat penyuntikan rocuronium (p<0.05). Dari hasil penelitian analisa data dapat disimpulkan bahwa penggunaan tramadol 50 mg lebih efektif mengurangi nyeri akibat penyuntikan rocuronium daripada ketamin 0,2 mg/kgBB. Kata Kunci: rocuronium, nyeri, tramadol, ketamin.

ABSTRACT Alian Setiawan, G0006038. 2010. Effectiveness Comparison between Ketamine and Tramadol to Reduce Pain due to Injection of Rocuronium. Faculty of Medicine, Sebelas Maret University Surakarta. Rocuronium is a muscle paralytic drug used to assist the implementation of general anesthesia. Rocuronium Side effects were local pain at the time of injection through peripheral veins. Ketamine in small doses given before induction of rocuronium can reduce pain intensity and for the tramadol may also reduce the incidence and intensity of pain. The purpose of this study was to determine the difference between ketamine and tramadol effectiveness for reducing pain due to injection of rocuronium. This research is experimental, double blind, randomized clinical trials. Research subject is the patient’s RSUD dr.Moewardi Surakarta operation. There were 45 patients, male patients or women aged 19-60 years, ASA physical status I-II patients with general anasthesia. Subjects were divided into three groups each of 15 people. Group I is the group that received ketamine 0,2 mg/kgBB rocuronium intravenously before induction, group II is the group who received tramadol 50 mg rocuronium intravenously before induction and for group III were receiving placebo. Pain assessed using a Visual Analogue Scale (VAS). In this study the effect of analgesia on tramadol consumption was significantly more effective than ketamine in reducing due to injection of rocuronium (p <0.05). From the research, data analysis can be concluded that the use of tramadol 50 mg more effective in reducing pain due to injection of rocuronium than ketamine 0.2 mg/kg. Key Word: rocuronium, pain, tramadol, ketamine.

6 1.....x DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………………….... Tujuan Penelitian ……………………………………………………….. eri ………………………………………………………………….....DAFTAR ISI PRAKATA………………………………………………………………………… …vi DAFTAR ISI ……….……………………………………………………………….... Manfaat Penelitian ……………………………………………………....6 A..4 C.....4 BAB II LANDASAN TEORI ……………………………………………….....vii DAFTAR TABEL…………………………………………………………………….. Perumusan Masalah ……………………………………………………. Latar Belakang Masalah ……………………………………………….6 Ny ..ix DAFTAR DIAGRAM ………………………………………………………………. Tinjauan Pustaka ………………………………………………………....1 A...4 D.xi BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………….1 B...

.... 12 4.................... madol…………….22 ..... a Pengamambilan Sampel ………………………………....2.. ………………………………………………....... Lokasi Penelitian ……………………………………………………….......... ncangan Penelitian ……………………………………………..18 C..………....... curonium ……………. ..……………………………………………10 3..…..14 B... Jenis Penelitian ………………………………………………………….........17 BAB III METODE PENELITIAN ………………………………......... Kerangka Pemikiran ……………………………………………..21 Tra Ra Car G... Teknik Sampling ………………………………………………......................…………...........18 D..18 B.. Indentifikasi Variabel ……………………………………………….18 A... Ro Ket amin……………………………………….…………………...19 E.…….... Inst rumentasi …………………………………………………..……………………..……..21 F......

.32 BAB VI SIMPULAN DAN SARAN …………….………….. Simpulan ………………………………………………………………. Teknik Analisis Data ……………………………………………......…22 I.43 LAMPIRAN ……………………………………………………………….25 J.42 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………….42 B.…46 ..……………………...……..H.28 BAB V PEMBAHASAN …………………………………………………………. Alat Dan Bahan ……………………….…………………………………42 A.. Cara Kerja ………………………………………………………...25 K..……...…………..…….....26 BAB IV HASIL PENELITIAN ………………………………………. inisi Operasional Penelitian……………………………………….. an Def Sar ………………………………………………………………….

......... tekanan darah diastolik...rata tekanan darah sistolik...... dan laju nadi antara ke tiga kelompok perlakuan .....…………………… 28 Tabel 2 Persentase derajat nyeri saat induksi pada ketiga kelompok ………..……….........DAFTAR TABEL Tabel 1 Data karakteristik umum subjek penelitian....………..........29 Tabel 3 Hubungan nilai skor nyeri objektif pada ketiga kelompok ….....31 .........………30 Tabel 4 Perbandingan rata..…………….........

...........DAFTAR GRAFIK Grafik 1 ........................ 30 .................................................................................

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Hasil Uji Statistik Anova One Way..55 Lampiran 5 Surat Ijin Fakultas …………………………………………………….57 Lampiran 7 Lembar Informed Conset ……………………………………………..53 Lampiran 4 Surat Ijin Penelitian Rumah Sakit …………………………………….55 Lampiran 2 Hasil Uji T Test ……………………………………………………….56 Lampiran 6 Lembar Isian Panitia Kelaikan Etik …………………………………..60 .51 Lampiran 3 Hasil Uji Chi Square Test ……………………………………………..………………………………….

2004). untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan obat golongan opioid dan untuk merelaksasi kerja otot dapat digunakan obat pelumpuh otot. mengeluh rasa sakit atau nyeri terbakar di lengan sehingga terjadi penarikan tangan atau fleksi (Akkaya et al. Latar belakang Masalah. Ketiga kombinasi diatas dikenal sebagai trias anastesi “The triad of anesthesia” yaitu Narkosis (kehilangan kesadaran).. Ketika diberikan rocuronium. sebagian besar dari pasien yang disuntikan rocuronium secara intravena. Pada penelitian ini digunakan obat pelumpuh otot yang bersifat non depolarisasi yaitu rocuronium. Rocuronium diberikan secara intravena menghasilkan ketidaknyamanan di tempat injeksi pada keadaan pasien sadar. hanya membuat pasien kehilangan kesadaran. 2008). analgesia (mengurangi rasa sakit). 2002). 50100% pasien melaporkan rasa ketidaknyamanan. antara lain memudahkan tindakan laringoskopi dan intubasi trakhea serta memberikan relaksasi otot yang dibutuhkan dalam pembedahan dan ventilasi kendali (Muhiman dkk. 85% tangan atau tungkai . Obat pelumpuh otot bukan merupakan obat anastesi. Penggunaan obatobat anatesi umum. dan relaksasi otot (Latief dkk. Sejak ditemukan obat penawar pelumpuh otot dan opioid maka penggunaanya hampir rutin pada tindakan anestesi umum. tetapi obat ini membantu pelaksanaan anastesi umum.BAB I PENDAHULUAN A.

menyebabkan menunjukan gerakan penarikan bahkan di bawah keadaan anestesi atau tidak sadar (Chiarella et al.. Pada penelitian ini didapatkan natrium bikarbonat lebih baik dalam mengurangi nyeri pada saat penyuntikan rocuronium intravena dibandingkan dengan fentanyl. 2003). Contoh lain pada penelitian Chiarella dan kawan. natrium bikarbonat 8. . Yaitu klompok kontrol yaitu rocuronium itu sendiri 10 mg. 2000). Pada penelitian ini ditujukan untuk memeriksa apakah kejadian rasa sakit nyeri pada saat penyuntikan rocuronium dapat dikurangi dengan memberi obat golongan opioid yaitu ketamin dan tramadol dan untuk mengevaluasi perbandingan efektifitas dari kedua obat tersebut. Pada pemakaian dosis 30 mg lebih efektif dari 10 mg dalam mengurangi penyuntikan rocuronium (Cheong & Wong. lidokain 2%. 2003).. dan normal salin 0. Pada penelitian tersebut lidokain yang di berikan sebelum injeksi rocuronium secara signifikan mengurangi insiden dan tingkat tingginya rasa sakit pada injeksi rocuronium. antara lain penelitian pada penelitian Cheong dan Wong yang menggunakan dua lidokain dengan dosis yang berbeda yaitu 10 mg dan 30 mg. lidokain atau normal salin (Chiarella et al. fentanyl 100 µg.kawan pada 250 pasien dewasa dengan status ASA (American Society of Anasthesiologi) I-III dilakukan secara acak buta dan dibagi dalam 5 kelompok. Sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui efektifitas yang ditujukan untuk menghilangkan nyeri pada penyuntikan rocuronium.4% 2 ml.9%.

Hasil yang didapat bahwa . 2008)..6 mg/kgBB.kawan. Dilakukan pada 60 pasien wanita sehat dan dibagi dalam tiga kelompok yaitu kelompok salin. Untuk penelitian rocuronium yang dilakukan Liou Jiin da kawan.2 mg/kgBB dan kelompok ketamin 0.5 mg/kgBB lebih efektif daripada ketamin 0. Hasil yang didapatkan ketamine lebih baik dalam mengurangi nyeri penyuntikan rocuronium dibandingkan thiopental (Liou et al...Pada penelitian yang dilakukan Akkaya dan kawan.2 mg /kgBB dalam mengurangi nyeri penyuntikan rocuronium (Choi et al. Ketamin dalam sebuah penelitian yang memperbandingkan kuantitatif rasa sakit yang dilakukan Choi dan kawan-kawan sehubungan dengan injeksi rocuronium 0. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan untuk mengurangi rasa nyeri akibat penyuntikan rocuronium intravena. lidokain lebih efektif dibandingkan ketamin (Akkaya et al. Penelitian ini mendapatkan hasil ketamin 0. 2005).2 mg/kgBB dan 5 mg/kgBB thiopental. kelompok ketamin 0. dan fentanyl pada 250 pasien yang dilakukan oleh Memi dan kawan.5mg/kgBB.5 mg/kg dan lidokain 30 mg/kg. lidokain 30 mg.kawan untuk mengukur perbandingan antara ketamine 0. tramadol 50 mg. Untuk tramadol dalam sebuah penelitian tentang perlindungan terhadap nyeri penyuntikan rocuronium yang memperbandingkan dari ondansetron 4mg/kgBB.kawan untuk memperbandingan efekftifitas untuk mengurangi nyeri penyuntikan rocuronium antara normal salin 2 ml dan ketamine 0. 2003).

dan fentanyl menurunkan level rasa sakit saat penyuntikan rocuronium. Diantara obat ini. Moewardi Surakarta. tramadol. Manfaat Penelitian . ketamin dan tramadol dapat mengurangi nyeri C. lidokain yang paling efektif. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang.. dilanjutkan tramadol. maka dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu apakah pemberian penyuntikan rocuronium. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan efektifitas antara ketamin dengan tramadol untuk mengurangi nyeri terhadap penyuntikan rocuronium. B. D. ondansteron dan paling tidak efektif adalah fentanyl (Memi et al. 2002). lidokain.ondansetron. Demikian pula diharapkan dapat membantu memberikan informasi dalam pemilihan obat penghilang rasa nyeri untuk mengurangi nyeri penyuntikan rocuronium yang dilakukan di bagian Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah Dr.

penelitian lain dengan dosis atau dengan obat yang berbeda. Aspek aplikatif a. Sebagai bahan pertimbangan ilmiah bagi dokter anestesi mengurangi nyeri pada penyuntikan rocuronium.1. Diharapkan penggunaanya dapat diterapkan di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah dr. Sebagai bahan pertimbangan ilmiah yang dapat digunakan untuk mengembangkan berbagai penelitan. b. Tinjauan Pustaka 1.Diharapkan dapat dipakai sebagai bahan acuan pada penelitian selanjutnya. b. Aspek teoritis a. 2. BAB II LANDASAN TEORI A. Diharapkan dapat memberikan informasi secara ilmiah bahwa ketamine dan tramadol dapat mengurangi rasa nyeri pada saat penyuntikan rocuronium. Moewardi Surakarta. c. Nyeri .

2006). baik aktual maupun potensial atau yang digambarkan dalam bentuk potensial tersebut. Adanya stimulus yang berbahaya ini sampai dirasakan sebagai persepsi nyeri ada empat . Nyeri pada dasarnya bersifat melindungi dengan memperingatkan adanya kerusakan jaringan.Nyeri tidak hanya sekedar modal sensoris. agregasi trombosit dan penekanan terhadap sistem imun. Akibat nyeri juga menyebabkan takikardi. nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan. Patient Controlled Analgesia (PCA). emosi dan psikologis. sensor fisiologis dari nyeri termasuk di dalamnya adalah komponen subjektivitas. analgesik non opioid parenteral atau Non Stereoidal Anti Inflamatory Drugs (NSAID). Respon dari nyeri bisa sangat bervariasi diantara banyak orang termasuk pada orang yang sama dengan waktu yang berbeda (Morgan et al.. 2005). melainkan bentuk pengalaman emosional. penggunaan opioid parenteral. analgesik oral. Definisi nyeri ini mengenal adanya interaksi antara objek. Respon sel terhadap nyeri dan kerusakan jaringan menyebabkan protein pecah. Menurut International Association for the Study of Pain (IASP). intercostal block . Berbagai cara mengurangi nyeri dan usaha-usaha itu adalah antara lain: komunikasi dokter pasien yang baik atau psikoterapi. analgesik epidural. Nyeri menyediakan sistem informasi stimulus yang berbahaya. hipertensi dan iskemi miokardium atau infark pada jantung (Rahman & Beattie.

2002). Transduksi Kerusakan jaringan karena trauma atau pembedahan menyebabkan dikeluarkannya berbagai senyawa biokimiawi antara lain ion H. Kemudian terjadi perubahan patologis karena mediator-mediator ini mempengaruhi juga nosiseptor di luar daerah trauma sehingga lingkaran nyeri meluas. Selanjutnya terjadi proses sensitisasi perifer yaitu menurunnya nilai ambang rangsang nosiseptor karena pengaruh mediator-mediator di atas.. Empat rangkaian tersebut adalah : a. 2000). serotonin dari trombosit dan substansi P dari ujung syaraf. bradikinin dari plasma. K. b. Transmisi Transmisi adalah proses penerusan impuls nyeri dari nosiseptor syaraf perifer melewati kornu dorsalis korda spinalis menuju korteks . (Wirjoatmodjo. Sensitisasi perifer ini mengakibatkan pula terjadinya sensitisasi sentral yaitu hipereksitabilitas neuron pada korda spinalis. Perubahan menjadi arus merupakan proses transduksi. 2000). histamin dari sel mast. prostaglandin dari sel yang rusak. Senyawa biokimiawi ini berfungsi sebagai mediator yang menyebabkan perubahan potensial nosiseptor sehingga terjadi arus elektrobiokimiawi elektribiokimia sepanjang atau impuls akson.rangkaian elektrofisiologik (Hurford et al. terpengaruhnya neuron simpatis dan perubahan intraseluler yang menyebabkan nyeri dirasakan lebih lama (Wirjoatmodjo.

serebri. Transmisi dari sepanjang akson berlangsung karena proses polarisasi depolarisasi. Modulasi ini dapat menghambat atau memberi fasilitasi (Latief dkk. Modulasi nyeri dapat timbul di nosiseptor perifer. Hambatan terjadi melalui sistem analgesia endogen yang melibatkan bermacam neurotransmitter antara lain golongan endorfin yang dikeluarkan oleh sel otak dan neuron di korda spinalis. 2). 1). Neuron yang menghubungkan dari talamus ke korteks serebri disebut neuron penerima ketiga (Latief dkk. dapat meningkatkan atau mengurangi penerusan impuls nyeri. 2002). medula spinalis atau supraspinal. Saraf sensoris perifer yang melanjutkan rangsang ke terminal di medula spinalis disebut sebagai neuron afferen primer. c. Modulasi Modulasi adalah proses pengendalian internal oleh sistem syaraf. (Wirjoatmodjo. Persepsi . sedangkan dari neuron presinaps ke pasca sinaps melewati neurotransmitter (Wirjoatmodjo. 3). d. Jaringan syaraf yang naik dari medula spinalis ke batang otak dan talamus disebut neuron primer kedua. 2000). 2000). 2002). Impuls ini bermula dari area periaquaductusgrey (PAG) dan menghambat transmisi impuls pre maupun pascasinaps di tingkat korda spinalis.

Sebagian yang lain akan ditransmisikan lewat jalur spinothalamicus dan spinoreticular. Transmisi yang lebih jauh lagi ditentukan oleh pengaruh modulasi dari medula spinalis.Persepsi adalah hasil rekonstruksi susunan syaraf pusat tentang impuls nyeri yang diterima. serotonin. dimana mereka menghasilkan respon suprasegmental dan kortikal (Miller. Rekonstruksi merupakan hasil interaksi sistem syaraf sensoris. bradikinin. Hasil akhir dari rangkaian ini adalah rasa nyeri yang berkurang (Wirjoatmodjo. secara kimiawi merupakan benzilisoquinolin atau aminosteroid monokuaterner. 2000). Pada kerusakan jaringan lokal dengan melepas zat-zat algesik (prostaglandin. 5-hidroksitriptamin atau 5-HT. Persepsi menentukan berat ringannya nyeri yang dirasakan . Rocuronium Rocuronium adalah salah satu obat penghambat neuromuskuler atau pelumpuh otot non depolarisasi yang efektifitas kerja sedang atau lambat. informasi kognitif (korteks serebri) dan pengalaman emosional (hipokampus dan amigdala). histamin. substansi P) dan stimulus berbahaya yang nantinya akan ditransduksikan oleh nosiseptor dan ditransmisikan ke aksis syaraf. Sebagian impuls akan melewati bagian anterior dan anterolateral medula spinalis untuk membangkitkan respon refleks. 2000). 2. dengan onset kerja cepat dan durasi aksi hambatan .Motivasi positif ini memicu pelepasan endorfin dan rangkaian reaksi yang mengaktifkan sistem analgesia endogen.

3α. dan sebagian besar dimetabolise oleh hepar. Rumus IUPAC (2β. dengan memiliki konsentrasi plasma puncak pada menit ke 13 dan sekitar 80% dari obat yang dapat diserap dan dikelola secara sistemik. dan secara klasik beraksi dengan nikotinik . Farmakokinetik Rocuronium biasanya dapat diberikan melalui intramuskular dan intravena.J et al. 16β. Rocuronium memiliki bioavailabilitas berkisar 68. 2009) Gambar 1.1. Pada rocuronium ikatan dengan protein plasma hanya sekitar 30%. 2008). 2008).Neuromuskuler selama 30 menit (Asmoro. 17β) -17 -(acetyloxy) -16 -(1-allylpyrrolidinium. b. Farmakodinamik Rocuronium merupakan satusatunya obat penghambat neuromuskuler non depolarisasi yang dapat menjadi alternative suksinilkolin (Sch). Hasil dari metabolisme rocuronium adalah 17desacetylrocuronium. 5α. Hasil metabolit rocuronium diekskresi pada billier sekitar 10% lebih kecil dari eskresi pada ginjal.2%..il)-3hydroxy-2-morpholin-4-ylandrostane (Wikipedia rocuronium. efek kerja rocuronium mungkin akan lebih lama atau lebih besar pada pasien dengan penyakit hati daripada pasien dengan kelainan ginjal ( Yang J.0 rumus bangun rocuronium a.

2009) Rumus bangun Ketamin (Ketalar. Pada awal tindakan intubasi memiliki kerja maksimum untuk memblokade neuromuskuler yaitu pada waktu 4 menit. 2009).nAChRs tanpa menyebabkan aktivasi pada kanal reseptor. 3. dan akan meningkat pada dosis yang lebih tinggi (Merck. Secara spesifik obat ini beraksi secara kompetitif dengan Ach pada sub unit a nAChRs postjunctional tanpa menyebabkan perubahan konfigurasi reseptor (Gerard M. 1997). Stevens melakukan penelitian tentang ketamin lebih lanjut di laboratorium Parke. pada tahun 1962 ketamin diciptakan sebagai CL369 dan disebut sebagai CI-581 yang berubah nama menjadi ketamin dan ini adalah obat yang umum digunakan sebagai anestesi dalam manajemen mengurangi rasa sakit ( Ketamin. Ketanest) [2-(2- chlorophenyl) -2-(methylamino)-cyclohexanone] ( Wikipedia.20 s (Orgeat A.. Gerakan spontan yang dihasilkan saat penyuntikan rocuronium menunjukkan bahwa ketidaknyamanan nyeri atau seperti rasa terbakar antara 10.. Ketamin Ketamin pertama kali disintesis pada tahun 1961 oleh Calvin Stevens di Universitas Wayne. 2003). 2009) . Memiliki durasi obat selama 30 menit dengan dosis standar.D et al. B et al. Vetalar.

Suatu dosis intravena 2 mg/kgBB biasanya menghasilkan anastesi bedah dalam waktu 30s dengan efek anestesi biasanya berlangsung antara 5-10s (Metrohealthanesthesia. paru-paru. Ketamin memiliki bioavaibilitas pada oral sebesar 20%. dan otak. epidural 77% dan nasal sebesar 50%.Gambar 1. dan dikonjugasikan oleh glucuronate kemudian diekskresikan dalam urin (Metrohealthanesthesia . Ketamine dimetabolisme oleh sistem microsomal hepatik terutama oleh CYP3A4. yaitu hydroxlyated untuk hydoxynorketamine. hidroksilasi dari cyclohexone cincin (metabolit III dan IV). 2009).1 rumus bangun ketamin. hati. dan darah plasma. Farmakokinetik Ketamin dapat diberikan secara oral. rectal sebesar 25%. Dan dapat di temukan pada konsentrasi yang rendah di jantung. intramuskular. rectal. Biotransformasi dari Ketamin tersebut adalah N-dealkylation (metabolit I). dengan konsentrasi yang relatif cukup tinggi muncul dalam lemak tubuh. 2009). nasal dan epidural. Ketamin dengan cepat didistribusikan ke jaringan tubuh. a. Ketamin diserap cepat melalui parental administrasi. intramuscular 90%. Metabolit ini mempunyai afinitas besar terhadap reseptor opioid. konjugasi dengan asam glucuronic dan dehidrasi dari metabolit . kerangka otot.

b.hydroxylated untuk membentuk turunan cyclohexene(metabolit II). Struktur kimia tramadol yaitu: [(1R. agonis untuk reseptor mu (µ) dan menghambat ambilan serotonin dan norepinefrin. Tramadol adalah opioid yang atipik. 2009).2R) dan (1S. 2009). 4. Menekan reseptor NMDA meningkatkan aktivitas reseptor lain. (Rxlist. Ketamine dan metabolit aktif norketamine non-kompetitif adalah antagonis dari N-metil-D-aspartat (NMDA) reseptor. (wikipedia. AMPA.2 Rumus bangun tramadol. a. NMDA antagonis dapat menekan gejala penarikan opioid. Farmakodinamik Ketamin diklasifikasikan sebagai antagonis reseptor NMDA.2007). Farmakokinetik . Tramadol Tramadol adalah sintesis 4-phenyl-piperidine yang analog dengan kodein. AMPA adalah reseptor untuk neurotransmitter glutamat. Gambar 1. NMDA.2S)-2-dimethylaminomethyl-1-(3methyoxyphenyl)-clohexanol hidrochloride]. Dan mempunyai efek pada serotonin dan norefrinefrin (Gilies et al. dan telah ditemukan untuk mengikat opioid reseptor µ dan reseptor sigma.

ginjal dan otak. intravena. Pada dosis yang hampir sama pada analgesik... rectal dan subkutan. 1998). Eliminasi tramadol dan hasil metabolitnya dilakukan di ginjal terutama di glomerulus.Tramadol dapat diberikan melalui oral. 2000). Bioavailabilitas tramadol berkisar 70% sampai 100% (Miller. Waktu paruh eliminasi tramadol pada orang sehat sekitar 5 sampai 7 jam (Bamigbade et al. Metabolit ini mempunyai afinitas besar terhadap reseptor opioid daripada induk obat. intramuskular.. tramadol mempunyai efek lebih ringan di pusat . Apabila secara parenteral. b. Metabolisme tramadol menghasilkan metabolit primer yaitu O-demethyl tramadol. Fraksi kecil dari obat dan sebagian kecil metabolit tramadol diekskresi di feces (Barash et al. Pemberian secara intramuskular. limpa. Tramadol didistribusikan secara luas ke seluruh tubuh terutama ke paru-paru. hati. sedangkan pemberian secara intravena onsetnya dimulai sekitar 5-10 menit. Farmakodinamik Tramadol intravena dan intramuskular kurang lebih 1/10 dari morfin dalam mengatasi nyeri tingkat sedang. bioavailabilitas yang bisa mencapai 100% (Bamigbade et al. Ikatannya dengan protein plasma hanya sekitar 20% (Bamigbade et al.. 2000). Dan kadar plasma tertinggi dapat dicapai sekitar 2-5 jam. 1998). Hasil metabolisme tramadol termasuk dengan konjugasinya dipengaruhi oleh debrisoquine polimorf. 1998). onsetnya dimulai sekitar 1020 menit.

1998).145 mg/kgBB. Terjadi penurunan saturasi oksigen setelah 6 jam pemberian tramadol 150 mg intravena namun tidak berarti jika dibandingkan dengan penurunan saturasi yang terjadi pada pemberian morphin 15 mg yaitu 86% (Bamigbade et al. sementara R enantiomer menghambat reuptake 5-hydroxytryptamine. mengurangi efek analgesik tramadol. 2000). 1998). Pemberian a-2 reseptor antagonis yohimbin. bersamaan dengan stimulasi pelepasan 5-HT presinaps (Bamigbade et al. 1998).. juga tidak terjadi penurunan frekuensi nafas dibandingkan dengan pemberian morphin 0. Hal ini menunjukkan bahwa tramadol bekerja pada reseptor a-2 adrenergik (Bamigbade et al..pernafasan daripada morfin dan tidak dihubungkan dengan potensi ketergantungan yang tinggi (Barash et al.. Tramadol meningkatkan fungsi jalur inhibisi descenden pada spinal dengan menghambat reuptake 5-HT dan noradrenalin. Tramadol adalah suatu opioid sintetik yang bekerja pada reseptor mu (m) dan merupakan agonis yang lemah. Efek tramadol terhadap pernafasan dengan dosis 0. Aksi klinisnya terutama dimediasi oleh inhibisi neuronal reuptake dari noradrenalin oleh L-enantiomer. Tramadol mempunyai efek pada reseptor monoaminergik pada sistem saraf pusat yaitu reseptor serotonin (5-hydroxytryptamine (5-HT)) dan noradrenalin.5-2 mg/kgBB tidak meningkatkan kadar end tidal CO2 secara bermakna.. .

B. Kerangka Pemikiran Mekanisme ketamin dan tramadol mengurangi nyeri Ketamin Rocuronium Tramadol Jaringan rusak Stimulus membrane sel Asam Arakhidonat bradykinin prostaglandin Antagonis reseptor NMDA Impuls nyeri nosiseptor perifer Neurotransmiter Aktifasi reseptor m Merangsan Reseptor medulla spinalis Korteks serebri Aktifasi reseptor m Usia Emosi Kecemasan Sensitifitas individu terhadap obat Pengalamn masa lalu 5hydroxytryptamin e Hambat reuptake norefinefrin & 5-HT .

Hipotesis Pemberian tramadol lebih efektif dibandingkan ketamin terhadap nyeri penyuntikan rocuronium. C. Kriteria eksklusi: . b. BAB III METODE PENELITIAN A. d. Status fisik penderita ASA (American Society of Anasthesiologi) I-II. Jenis operasi besar dengan general anestesi. c. B. 2. Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah penderita yang dilakukan operasi jenis besar dengan kriteria general anestesi bertempat di RSUD Dr.Menghamb Rasa nyeri berkurang Gambar 2. Moewardi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang akan dilakukan bersifat eksperimental dan merupakan penelitian uji klinis acak buta ganda. Lama operasi 1 ± 2 jam. Pasien laki-laki atau wanita usia 18-60 tahun. Kriteria inklusi: a.3 Skema Kerangka Pemikiran. 1.

kelompok II atau kelompok III. 3. Penderita yang mendapat obat analgetik pada 24 jam terakhir sebelum operasi. . Kelompok I adalah pasien dengan pemberian placebo. C. Reaksi alergi obat. b. Teknik sampling. Pasien dengan gangguan hepar. Mendapat tambahan analgetik setelah operasi. Dimana dipilih dari pasien sesuai kriteria inklusi eksklusi kemudian diacak untuk kemudian dimasukkan ke kelompok I. kelompok II adalah pasien dengan pemberian ketamine. Pasien dengan penurunan fungsi ginjal. Kriteria terminasi: a. Masing-masing kelompok dengan jumlah sampel 15 pasien.a. c. dan kelompok III diberi tramadol. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode acak buta ganda. b. ketamine atau tramadol. Pasien ataupun peneliti dalam uji ini tidak mengetahui hasil random dan jenis obat yang diberikan placebo.

9%) Ketamine 0.4 Skema Rancangan Penelitian .D.2 mg/kgBB Tramadol 50mg/kgBB Data penelitian Data penelitian Data penelitian Analisis Data (ANOVA) Hasil penelitian Gambar 2. Rancangan Penelitian populasi Inklusi eksklusi Randomisasi Kelompok I (placebo) Kelompok II (Ketamine) Kelompok III (tramadol) (Tramadol) Placebo 3cc (Nacl 0.

a. Cara Pengambilan sampel Pengambilan sampel dengan cara acak buta ganda. 3. Kelompok I adalah pasien dengan pemberian ketamine sedangkan kelompok II adalah pasien dengan pemberian tramadol dan untuk kelompok III sebagai kontrol. Variabel bebas. Identifikasi Variabel 1. Variabel luar terkendali Umur. Pasien ataupun peneliti dalam uji ini tidak mengetahui hasil random dan jenis obat yang diberikan ketamin. Masing-masing kelompok dengan jumlah sampel 15 pasien.E. Variabel luar. 2. F. . Pengukuran derajat nyeri dengan VAS (Visual Analogue Scale). Dimana dipilih dari pasien sesuai kriteria inklusi eksklusi kemudian diacak untuk kemudian dimasukkan ke kelompok I atau kelompok II dan kelompok III. Pemilihan obat anti nyeri yaitu ketamine 0.2 mg/kgBB intravena dan tramadol 50 mg intravena. status fisik ASA. (American Society of Anasthesiologi) lama operasi. Variabel Tergantung. tramadol atau placebo.

tinggi badan . Katagori pengukuran adalah nominal. Cara ukur: Ketamin diberikan secara intravena dengan dosis 0. tekanan darah sistolik. diencerkan Nacl 0.psikologi pasien. Instrumentasi Menggunakan Visual Analogue Scale (VAS). laju nadi. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1.2 mg/kgBB. b. G. berat badan. Definisi: Ketamin adalah jenis obat untuk menurunkan nyeri dari golongan analgesik opioid . H. 2000). trauma pasien. Variabel luar tidak terkendali Jenis kelamin. 0= tidak nyeri 10= nyeri berat VAS 1-3 nyeri ringan VAS 4-6 nyeri sedang VAS 7-10 nyeri berat (Wirjoatmodjo K. Tramadol . Ketamin. dengan ketentuan sebagai berikut.9% pada spuit injection volume 3ml. tekanan darah diastolik. Variabel bebas pemilihan obat.b. psikososial. Pemilihan obat: a. tingkat emosi pasien.

dan diamati setelah induksi rocuronium (Orgeat A. Gerakan spontan yang dihasilkan saat penyutikan rocuronium menunjukkan bahwa ketidaknyamanan nyeri atau seperti rasa terbakar selama injeksi rocuronium kurang lebih 1020 s. Definisi: Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan. 1997).Definisi: Tramadol adalah obat penurun nyeri dari golongan opioid. Katagori pengukuran adalah nominal.. Cara ukur: Visual Analogue Scale. 3.9% pada spuit injection volume 3ml. Variabel tergantung. 2. Tingkat rasa nyeri penyuntikan rocuronium. baik aktual maupun potensial atau yang digambarkan dalam bentuk potensial tersebut (Morgan et al. Tanda 0 menunjukkan tidak ada nyeri. Mekanisme yang menyebabkan nyeri penyuntikan rocuronium dan bertanggung jawab untuk gerakan spontan. Variabel Luar .. tanda 10 menunjukkan paling nyeri.B et al. Skala numerik 0-10 cm. menarik lengan atau fleksi. Katagori pengukuran adalah ordinal. diencerkan Nacl 0. Cara ukur: Tramadol diberikan secara intravena dengan dosis 50 mg/kgBB. 2006).

I.60 tahun. 5) Berat badan. 2).a. Lama operasi. 3). b. 4) Laju nadi. Variabel luar terkendali 1). Teknik Analisis Data . Variabel luar tidak terkendali 1) Jenis kelamin. Trauma penyuntikan. Katagori pengukuran adalah nominal. 2) Tekanan darah sistolik . 6) Tinggi badan 7) Psikologi pasien. 3) Tekanan darah diastolik. 8) Tingkat emosi pasien. 10). 9) Psikososial. Status fisik ASA I-II. Status fisik ASA(American Society of Anasthesiologi). Umur Kriteria umur yang di tentukan 18. Katagori pengukuran adalah ordinal.

Infuse line No. Nacl 0. Rocuronium 10 mg/kgBB. 20. b. c. d.Hasil pengamatan dicatat pada formulir yang disediakan dan selanjutnya ditabulasi serta dianalisis.9% . berat badan nadi dan nyeri menggunakan ANOVA. Analisis data dilakukan dengan komputer menggunakan perangkat lunak SPSS for windows 17. Spuit injection 3 ml dan 5 ml. Ketamine 0.0. Jenis analisa data yang digunakan untuk tekanan darah. d. umur. Alat a. Infuse set. K. 2.2 mg/kgBB. Nilai p kurang dari 0. e.05 secara statistik dinyatakan berbeda bermakna. Tramadol 50 mg. c. Bahan ( Obat ) : a. Alat dan Bahan 1. J. ANOVA chart. untuk jenis kelamin memakai Chi-square dan untuk status ASA menggunakan vesher. Cara Kerja Populasi . Monitor tanda vital (Olmeda 9000) b.

tekanan diastolik. Moewardi Surakarta. Semua pasien mendapat perlakuan sebagai berikut.inklusi eksklusi randomisasi Kelompok I (kontrol) Kelompok II (ketamine) Kelompok III (tramadol) Diukur berat badan. pasien diberi ketamin 0. tekanan sistolik.Moewardi Surakarta. Pemberian Nacl 0. Pasien sebelum operasi diukur berat badan tinggi badan.5mg/kgBB Derajat nyeri diukur menggunakan instrumen VAS pada menit 2 dan 3 Gambar 3. Pasien mendapat premedikasi berupa obat midazolam 0.1 Skema diagram kerja penelitian Pemberian tramadol 50 mg/kgBB intravena Penelitian ini dilakukan setelah mendapat persetujuan Rumah Sakit Umum Daerah Dr.2 mg/kgBB intravena Pemberian rocuronium 0. Pada kelompok I. Penelitian dilakukan di Instalasi Bedah Sentral RS Dr. Setelah . Pasien dipilih dari kriteria inklusi dan eksklusi.2 mg/kgBB intravena.05 mg/kgBB. tekanan diastolik.9% 3 ml intravena Pemberian ketamine 0. laju nadi. laju nadi Premedikasi midazolam 0.05 mg/kgBB. tekanan sistolik. Jenis operasi yang dipilih operasi besar.

Kelompok No Variabel Ketamin Tramadol Kontrol p . Pada kelompok II pasien mendapat premedikasi berupa obat midazolam 0. Data karakteristik umum subjek penelitian.05 mg/kgBB. pasien di induksi rocuronium 0. Pasien mendapat premedikasi berupa obat midazolam 0.juni 2010 . Adapun hasilnya sebagai berikut. kelompok dua mendapat perlakuan ketamamin-rocuronium. Setelah pasien di tunggu 2. Pada kelompok II. dan pada kelompok tiga sebagai kelompok kontrol yaitu placebo-rocuronium.3 menit.05 mg/kgBB.5mg/kgBB.2.5mg/kgBB. 2 dan menit 3.3 menit. pasien diberi tramadol 50 mg intravena. pasien di induksi rocuronium 0. yaitu kelompok pertama mendapat perlakuan tramadol-rocuronium. BAB IV HASIL PENELITIAN Berdasarkan penelitian yang dilalukan di Instalasi Bedah Sentral RSUD Dr. Pada kelompok III. pasien diberi placebo 3mg/kgBB intravena. Setelah pasien di tunggu 2-3 menit. Tabel 1.5mg/kgBB. kemudian dinilai skor nyeri dengan VAS pada menit 2 atau menit 3. didapatkan data sebanyak 45 pasien yang di bagi menjadi tiga kelompok. pasien di induksi rocuronium 0. kemudian dinilai skor nyeri dengan VAS pada menit 1. Moewardi Surakarta selama bulan febuari 2010. kemudian dinilai skor nyeri dengan VAS pada menit 2 atau menit 3.

66%) 10(66.200 39.35 9(60%) 6(40%) 12(%) 3(%) 57.3%) Saat penyuntikan rocuronium selama 5-10 menit dilakukan penilaian nyeri objektif.66%) 0(0) Tramadol n=15(%) 7(46.96 6(40%) 9(60%) 14(%) 1(%) 56±5.62 41.Laki – laki Perempuan 4. Penilaian Nyeri ( Derajat Nyeri ) Tidak nyeri Nyeri ringan Nyeri sedang Nyeri berat Ketamin n=15(%) 4(26.06 40.33%) 2(13. ASA (1) ASA (2) n = 15 n = 15 0.18 6(40%) 9(60%) 14(%) 1(%) 0.407 Dari analisis karakteristik umum subjek penelitian di atas yakni umur.67±6. berat badan.n =15 1.66%) 1(6.556 0. Tabel 2. jenis kelamin dan ASA secara statistik tidak bermakna (p>0.47±7.66%) 0(0) Kontrol n=15(%) 0(0) 2(13. Terdapat perbedaan derajat nyeri antara ketiga kelompok perlakuan dimana .47±13.66%) 1(6.66%) 7(46.77 53. Keadaan ini menunjukan data karakteristik dari ketiga kelompok perlakuan adalah homogen sehingga layak untuk dibandingkan.Berat Badan (kg) 3.3%) 11(73.Umur ( tahun) 2.517 0. untuk jenis kelamin menggunakan uji Chi-square. Ditemukan nyeri berat pada kelompok kontrol tersebut.87±13. Analisa statistik untuk umur dan berat badan menggunakan uji ANOVA. dan utuk ASA menggunakan uji vesher .6±6. Persentase derajat nyeri saat induksi pada ketiga kelompok .05).

75 Tramadol 0. Penilaian objektif berdasar skor nyeri Dari hasil analisis data dengan menggunakan SPSS 17. Hubungan nilai skor nyeri objektif pada ketiga kelompok Variabel Nyeri Ketamin 0. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermakna (p<0. diperoleh nilai signifikan uji ANOVA p=0.6±0.64 Kontrol 3±0. Tramadol-rocuronium dan kontrol-rocuronium.05) antara kelompok perlakuan Ketamine-rocuronium.00.persentase derajat nyeri saat induksi rocuronium pada ketiga kelompok tersebut terlihat pada Tabel 2.8±0. .54 Nilai-p 0.00 for Windows pada Tabel 3. Tabel 3.00 Grafik 1.

91 131. BAB V PEMBAHASAN A. Variabel Kelompok Ketamin (TDS) Pra perlakuan Pasca perlakuan (TDD) Pra perlakuan Pasca perlakuan (L-Nadi) Pra perlakuan Pasca perlakuan 82.67±4. tekanan darah diastolik.6±3.74 80. TDD = Tekanan Darah Diastolik.33±4.28 85.07 0.rata tekanan darah sistolik.67±10.Tabel 4.05 ( perbedaan bermakna ) Dari tabel 4.36 76.64 80.71 0.54±8.07±4.58 88.68 124.97 135.87±5.70 87.07±8. terdapat perbedaan yg bermakna (p<0.33±11.67±5.042 78.88 Keterangan : TDS = Tekanan Darah Sistolik.00 Tramadol Kontrol Uji P 130.04 188.19 78.07±4.8±10.07±5.044 118. Perbandingan rata.4±8.47±3.05) pada perbandingan tekanan darah sistolik. Pengukuran variabel .93±5. L-Nadi : Laju Nadi . analisis statistik untuk tekanan darah dan laju nadi menggunakan uji t. tekanan darah diastolik dan laju nadi anatara ketiga kelompok perlakuan.2±12.52 89.04 0.69 88.18 86. dan laju nadi antara ke tiga kelompok perlakuan.67±11. p<0.

05) yaitu pada variabel umur. Distribusi dan Demografi Hasil uji statistik data demografi dilakukan untuk membuktikan bahwa data yang diambil adalah homogen atau relatif tidak ada perbedaan bermakna. tekanan diastolik dan denyut nadi. dan ASA. Kriteria umur yang ditetapkan antara 18 sampai 60 tahun. Status fisik semua pasien adalah ASA I dan . terdapat perbedaan yg bermakna (p<0. jenis kelamin. diastolik dan denyut nadi berpengaruh pada hemodinamik sehingga perlu dilakukan pengukuran. jumlah lemak ataupun air yang akan berpengaruh pada bioavailabilitas obat. Hal ini dikarenakan variabel-variabel tersebut akan mempengaruhi hasil penelitian. tekanan sistolik. Tekanan sistolik. kontrol tidak ada perbedaan bermakna (p> 0. jenis kelamin. sehingga variabel luar tersebut tidak mempengaruhi hasil secara bermakna. Berat badan berkaitan dengan obesitas. Dari hasil uji statistik pada tabel 4 untuk tekanan darah sistolik dan diastolik dan laju nadi menggunakan uji-t. Pada penelitian ini dilaksanakan pada operasi yang menggunakan general anestesi. Sedangkan pada usia 18 secara fisologis tubuh dianggap sudah matang. berat badan. tramadol. di karenakan pada usia tua ambang batas nyeri akan semakin tinggi dan terjadi kepekaan terhadap obat . berat badan. B.Variabel yang akan dilakukan pengukuran adalah umur. Jenis kelamin berpengaruh pada efek obat terutama karena pengaruh hormon tubuh. Antara kelompok ketamin.05).

2007).. Analisis Nyeri Dari hasil data dan analisis statistik terhadap efek anti nyeri antara kelompok tramadol. dalam sebuah studi penelitian yang dilakukan oleh Lio dan kawan. dengan penghambatan pada aktifitas reseptor NMDA melalui pengikatan phencyclidine (Gilies et al.8 mg/kgBB secara intravena. Fungsi AMPA adalah reseptor untuk neurotransmitter glutamat yang . Dengan demikian populasi kedua kelompok adalah homogen sebelum dilakukan intervensi perlakuan. Ketamin merupakan antagonis reseptor N-Methyl-D-Aspartate (NMDA) menekan gejala penarikan opioid.05) .2 mg/kg BB dengan thiopental 5 mg/kgBB pada penyuntikan rocuronium dosis 0. C.mempunyai efek pada serotonin dan norepinefrin. grafik 1) kelompok tramadol lebih baik dalam mengurangi nyeri dibandingkan dengan kelompok ketamin dan kelompok kontrol secara berbeda bermakna (p<0.kawan tahun 2003 untuk memperbandingkan antara ketamin dengan dosis 0.II. NMDA. Untuk mengukur efektifitas ketamin. AMPA. Didapatkan hasil untuk respon penarikan nyeri penyuntikan rocuronium untuk kelompok ketamin 27% dan kelompok normal salin 83%. Ketamin bekerja sebagai antagonis non kompetitif pada kanal kalsium. Disimpulkan bahwa kelompok ketamin lebih baik mengurangi nyeri . kelompok ketamin dan kelompok kontrol (Tabel 3. Menekan reseptor NMDA meningkatkan aktivitas reseptor lain.masing 50 pasien untuk status ASA I dan II. Dengan jumlah masing.

. untuk ketamin 85% yang tidak mengalami rasa nyeri terbakar dan untuk lidokain di dapatkan hasil yg signifikan yaitu 97. Ketamin dalam sebuah studi penelitian membandingkan efektifitas pengurangan rasa nyeri akibat penyuntikan rocuronium antara normal salin 2ml. Adapun tramadol berfungsi menghambat pelepasan neurotransmitter dari saraf aferen yang sensitif terhadap rangsang.1998). Hasil dari penelitian ini menyebutkan normal salin 67. Kesimpulan dari hasil penelitian ini menyebutkan bahwa tramadol 30 mg lebih baik mengurangi nyeri akibat penyuntikan rocuronium di bandingkan ketamin dan normal salin (Akkaya et al.akibat penyuntikan rocuronium 0. Selain bekerja secara sentral. 2008).5% yang tidak mengalami penarikan tangan atau rasa terbakar.5 mg/kgBB dan lidokain 30 mg..8 mg/kgBB dibandingkan thiopental (Lio et al. bersamaan dengan stimulasi pelepasan 5-HT presinaps (Bamigbade et al. sebuah studi penelitian mengemukakan bahwa tramadol mempunyai efek perifer yang kuat yang kerjanya pada akhiran saraf bebas . Tramadol mempunyai efek pada reseptor monoaminergik pada sistem saraf pusat yaitu reseptor serotonin (5hydroxytryptamine (5-HT)) dan noradrenalin. menyebabkan impuls nyeri terhambat. Tramadol adalah suatu opioid sintetik yang bekerja pada reseptor mu (m) dan merupakan agonis yang lemah.5% yang tidak mengalami penarikan rasa nyeri terbakar. Tramadol meningkatkan fungsi jalur inhibisi descenden pada spinal dengan menghambat reuptake 5HT dan noradrenalin. 2003).. ketamin 0.

tramadol 50 mg (kelompok IV).dari pembuluh darah. Ketamin Penilaian Nyeri Tidak nyeri Nyeri ringan n=15(%) 4(26. lidokain 30 mg (kelompok III). Hasil yang di dapat pada penelitian ini normal salin 20% yang tidak mengalami penarikan rasa sakit untuk ondansetron 56%. lidokain. Hasil penelitian ini didapatkan.66%) Kontrol n=15(%) 0(0) 2(13. (Memi et al.. dilanjutkan tramadol.kawan . tramadol 60%. Untuk tramadol dalam sebuah studi penelitian tentang perlindungan terhadap nyeri penyuntikan rocuronium yang memperbandingkan anatara ondansteron.2002). 2004). dan fentanyl 30 % menurunkan rasa sakit saat penyuntikan rokuronium.66%) 10(66.. dan fentanyl 100 mg (kelompok V) yang dilarutkan ke dalam cairan sebanyak 3 ml. tramadol dan fentanyl dilakukan pada 250 pasien yang dilakukan oleh Memi dan kawan. lidokain yang paling efektif.Untuk normal salin 3 ml sebagai kontrol (kelompok I) ondansetron 4 mg/kgBB (kelompok II).66%) 7(46. Efek kerjanya yang pada saraf pusat dan perifer yang tepatnya berada di saraf sensorik primer ( Altunkaya et al.66%) Tramadol n=15(%) 7(46. lidokain 72%. Persentase kekerapan nyeri pada saat induksi pada ketiga kelompok .3%) . Tabel 1. ondansteron dan paling tidak efektif adalah fentanyl dalam mengurangi nyeri penyuntikan rocuronium.

Pada penelitian ini penggunaan ketamin 0. Pengamatan terhadap kardiovaskular yaitu perubahan tekanan darah sistolik. lama kerja yang sedang. dan meningkat dengan dosis yang lebih tinggi (Merck. 2009). masa pulih yang cepat. 2006). dan laju nadi. tekanan darah diastolik. tidak menyebabkan histamin release.66%) 0(0) 11(73.2 mg/kgBB dan tramadol 50 mg secara intravena tidak menimbulkan efek samping. 1997). Rocuronium memiliki durasi obat selama 30 menit.. Gerakan spontan yang dihasilkan saat penyutikan rocuronium menunjukkan bahwa ketidaknyamanan nyeri atau seperti rasa terbakar selama injeksi rocuronium kurang lebih 10-20 s (Orgeat et al. golongan aminosteroid. Hasil pengamatan menunjukan terdapat perubahan tekanan darah dan laju nadi.66%) 0(0) 1(6. mula kerja cepat.33%) 2(13. Pada awal tindakan intubasi yang baik dimulai pada menit 1 dan menit ke-2 setelah injeksi rocuronium. Rocuronium merupakan obat pelumpuh otot non depolarisasi (POND) yang sering digunakan pada tindakan pembiusan.Nyeri sedang Nyeri berat 1(6.. . dan kumulasi obat minimal serta efek samping terhadap kardiovaskuler minimal sehingga merupakan pelumpuh otot yang ideal (Morgan et al. kerja maksimum untuk memblokade neuromuskuler pada menit ke-4.3%) Nyeri yang terjadi akibat penyuntikan rocuronium timbul segera sesudah pemberian. Menurut analasisa statistik didapatkan perbedaan yang bermakna antara ketiga kelompok perlakuan.

Ketamin merupakan reseptor NMDA yang paling poten. pernyataan ini sekaligus menjelaskan efek kerjanya yang sangat kuat memblokade nyeri karena penghambatan pada kanal kalsium. Hal inilah yang menjadikan dasar mengapa tramadol tidak terlalu efektif memblokade nyeri di reseptor opioid (Bamigbade and langford. Hal ini sesuai dengan hipotesis penulis sebelumnya yang menyatakan bahwa tramadol lebih efektif dibandingkan ketamin dalam mengurangi nyeri penyuntikan akibat rocuronium. Tramadol berikatan lemah dengan opioid sehingga bekerja secara lemah dengan reseptor m di saraf pusat.Pada kelompok tramadol didapatkan efek analgesia yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok ketamin dan kelompok kontrol dalam mengurangi nyeri saat penyuntikan rocuronium secara analisa statistik didapatkan perbedaan bermakna.. Secara klinis seharusnya didapatkan ketamin lebih efektif dalam mengurangi nyeri dibandingkan tramadol tetapi dengan dosis tramadol yang cukup kuat dibandingkan dosis ketamin yang lebih rendah didapatkan hasil tramadol yang lebih baik. Hubungan dosis dengan intensitas efek menurut teori pendudukan reseptor (receptor occpancy). Letak kerja di kortex serebri dan area hippocampus juga memegang peranan penting terhadap kerja ketamin (Gillies et al. 2007). Berikut ini adalah tinjauan dari penulis untuk menjelaskan mengapa ketamin lebih baik dari tramadol. 1998). Karena belum ada penelitian langsung membandingkan efek kerja tramadol dan ketamin dalam mengurangi nyeri akibat penyuntikan rocuronium. intensitas efek .

delta dan kappa pada permukaan sel (down regulation) dari reseptor. Efek maksimal obat ditentukan aktifitas intrinsik atau efektifitas obat. Hal ini menyebabkan banyak orang yang mengkonsumsi obat obat anti nyeri (Khotib.obat berbanding lurus dengan fraksi reseptor yang diduduki atau diikatnya.reseptor untuk menimbulkan aktifitas dan efek farmakologik (Farmakologi. 2008). Reaksi ini hampir pasti terjadi jika individu tersebut menerima peredaran nyeri yang tidak adekuat di masa lalu. fentanil dan oksikodon berhubungan dengan penurunan sensitifitas reseptor (desensitisasi) dan penurunan jumlah reseptor yang bertanggung jawab untuk mengatasi nyeri seperti reseptor opioid mu. 2. kiranya ada beberapa faktor luar yang tidak dapat dikendalikan yang menyebabkan kurang sempurnanya hasil. Penurunan potensi obat-obat anti nyeri poten seperti morfin. ia ingin nyerinya segera reda dan sebelum nyeri tersebut menjadi lebih parah. Individu ini mungkin akan lebih sedikit mentoleransi nyeri. akibatnya. yakni kemampuan intrinsik kompleks obat. diantaranya adalah : 1. 1995). Individu dengan . dan intensitas efek mencapai maksimal bila seluruh reseptor diduduki obat. Pengalaman masa lampau. Lebih berpengalaman individu dengan nyeri yang dialami. makin takut individu tersebut terhadap peristiwa menyakitkan yang akan diakibatkan oleh nyeri tersebut. Selain beberapa analisa penulis di atas. Sensitivitas pasien terhadap obat yang diberikan.

Umur. Orang dewasa tua mengalami perubahan neurofisiologi dan mungkin mengalami penurunan persepsi sensori stimulus serta peningkatan ambang nyeri. Umumnya lansia menganggap nyeri sebagai komponen alamiah dari proses penuaan dan dapat diabaikan atau tidak ditangani oleh petugas kesehatan. normalnya kondisi nyeri hebat pada dewasa muda dapat dirasakan sebagai keluhan ringan pada dewasa tua.pengalaman nyeri berulang dapat mengetahui ketakutan peningkatan nyeri dan pengobatannya tidak adekuat (Smeltzer & Bare. Faktor psikoligik seperti emosi dan motivasi seseorang berpengaruh langsung persepsi nyeri. Lansia cenderung mengabaikan lama sebelum melaporkannya atau mencari perawatan kesehatan sebagian dari mereka menganggap nyeri menjadi bagian dari penuaan normal. 2002). 3. proses penyakit kronis yang lebih umum terjadi pada dewasa tua seperti penyakit gangguan. 2002). Kecemasan. 4. Penilaian tentang nyeri dan ketepatan pengobatan harus didasarkan pada usia (Smeltzer & Bare. kardiovaskuler atau diabetes melitus dapat mengganggu transmisi impuls saraf normal. Orang yang mengkonsumsi diazepam (anti anxietas) dapat menahan nyeri yang lebih lama dibanding dengan mereka yang menggunakan aspirin (pengurang nyeri) dan placebo. Sebagian lansia lainnya tidak mencari perawatan kesehatan karena mereka takut nyeri tersebut menandakan penyakit yang serius. Di lain pihak. Rasa cemas ini mempengaruhi persepsi nyeri berdasarkan . Selain itu.

seperti halnya faktor-faktor seperti kecemasan yang mempengaruhi kadar endorfin. Kadar endorfin beragam di antara individu. Serotonin menyebabkan neuron-neuron lokal medulla spinalis mensekresi enkefalin. 1997). Hal inilah yang mengakibatkan peningkatan sensasi nyeri. 5. kecemasan pasien menyebabkan menurunnya kadar serotonin. dan kontrol pusat (Nugroho. Jadi. 2002). tapi juga . Faktor sosiokultural memainkan peran menampilkan ekspresi nyeri. ajaran sosial suku) tidak hanya mempengaruhi ekspresi nyeri verbal dan non-verbal. Ditinjau dari aspek fisiologis. kepercayaan. Secara klinik. Rahim-Williams menyebutkan bahwa adat istiadat (bahasa.efeknya pada level sensorik. Individu dengan endorfin yang banyak akan lebih sedikit merasakan nyeri. Enkefalin dianggap dapat menimbulkan hambatan presinaptik dan postsinaptik pada serabut-serabut nyeri tipe C dan A. Serotonin merupakan neutrotransmitter yang memiliki andil dalam memodulasi nyeri pada susunan saraf pusat. emosi. 2005). Ia berperan dalam sistem analgetik otak. Serotonin merupakan salah satu neutrotransmitter yang diproduksi oleh nucleus rafe magnus dan lokus sereleus. kecemasan yang berhubungan dengan nyeri dapat meningkatkan persepsi pasien terhadap nyeri. Budaya masyarakat setempat. sistem analgetika ini dapat memblok sinyal nyeri pada tempat masuknya ke medulla spinalis (Guyton. Sama halnya aktivitas fisik yang berat diduga dapat meningkatkan pembentukan endorfin (Smeltzer & Bare.

berpengaruh pada proses nyeri pada tingkat neurobiologis. (Guyton. Penyuntikan yang terlalu lama akan mempengaruhi nyeri karena bila impuls nyeri ini tidak dihantarkan dengan intensitas kuat. B. Pada suku Indian didapatkan nilai ambang nyeri yang tinggi sehubungan kebiasaan adat mereka. 7. Salah satu ritual keagamaan mereka yang terkenal ialah Sun Dance dimana mereka mengiris dada mereka di dua tempat dan dihadapkan pada matahari (Nugroho. 6. Saran . Simpulan Setelah membandingkan pemberian ketamin 0. Kesukaran dalam menunggu onset ketamin ataupun tramadol bekerja secara maksimal mengingat keterbatasan waktu yang disediakan antara waktu induksi dan waktu dilaksanakannya operasi. maka tidak mampu menginterprestasikan nyeri.2 mg/kgBB dengan Tramadol 50 mg secara intravena ternyata pengurangan nyeri yang terjadi berbeda bermakna dan secara klinis pengurangan nyeri pada pemberian tramadol lebih baik di bandingkan ketamin. Ukuran pembuluh darah dan lama penyuntikan masing-masing individu. 1997). 2005). yang disebut pula nyeri biokultural. BAB VI SIMPULAN DAN SARAN A.

dan kultural sebagai faktor. Perlu di lakukan observasi khusus untuk penyesuaian dosis tramadol dan ketamin sehingga bisa bekerja secara optimal 3. pengalaman masa lampau. 2. Perlu dilakukan penelitian nyeri yang lebih tepat. emosi.1. Perlu dilakukan penelitian kembali dengan lebih memperhitungkan kecemasan. sensitivitas individu terhadap obat. .faktor penyerta yang dapat memperngaruhi intensitas nyeri seorang agar didapat hasil penelitian yang lebih akurat.

American University of Beirut.org/cgi/content/full/90/3/320?maxtoshow=&HI TS=10&hits=10RESULTFORMAT=&fulltext=tramadol&searched=1& FIRSTINDEX=0&resourcetype=HWCIT (31 Oktober 2008). 84. B. Ozer. pp. The clinical use of tramadol hydrocloride. Beirut.. http://bja. Anaphylaxis to rocuronium.Moewardi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakrta.88(4):600-2.. and Clanachan A. Bamigbade TA. Solo: Bagian Anastesiologi Dan Reaminasi RSUD Dr. Modul 1-E. Korinek A. Pain Reviews. 2003. M. Department of Anesthesiology. . Y. 2003. LIBAN. Kargi and O. Huston C. Pain on injection of rocuronium: influence of two doses of lidocaine pretreatment. Clinical Anesthesia.38(6): 577-582.. Cupa and Samama C. E. vol. no5. 2000. Altunkaya H... Baillard C. 2002. T. Effect of pretreatment with lidocain or ketamine on injection pain and withdrawal movements of rocuronium. Toygar P. Lippincott Williams & Wilkins Publishers. 2008. Vol 5.oxfordjournal. Turkey journal Med Sci.. Ketrampilan Dasar Anastesiologi I Farmakologi Terapan.. Bedirli N. Baraka A. Cheong K. Galanton V. Babuccu.. Langford RM. Asmoro W. M. 2008.155-82. Larmignat P.. Yazicioglu D. 2001. Thiopental-rocuronium versus ketamine-rocuronium for rapid-sequence intubation in parturients undergoing cesarean section. British Journal of Anaesthesia (84):106107. Comparison of local anaesthetic effects of tramadol with prilocaine for minor surgical procedures.M.F and Wong W. Cullen BF and Stoelting RK.. S and Assaf B.Daftar Pustaka Akkaya T. British journal of anaesthesia 90 (3):377-9. British Journal of anaesthesia. Barash PG.H. 1104-1107. Le Manach Y. S. 1997. Jolly D.and Gumus H. pp. pp 81-110. Comparisonof four strategies to reduce the pain associated with intravenous administration of rocuronium. A. 1998. Chiarella A. Sayyid S. S.

Postoperative pain. Hurford W.Choi J.wikipedia. 2002. En. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Penerbit Gaya Baru. Orr .W. 1995. and Vassalo S.K.org/wiki/rocuronium. 6th ed.D. Pretreatment with Small-Dose Ketamine Reduces Withdrawal Movements Associated with Injection of Rocuronium in Pediatric Patients.P 2003. The Use of Ketamin as rescue Analgesia in the Recovery Room Following Morphine Administration Double Blinded Randomised Controlled Trial in Postoperative Patients. 49(1):30-34...C.J.Wiki-Tramadol.wikipedia. Edisi 2. and Shin Y. Farmakologi Dan Terapi. and Lui P. En.E. Clinical Anesthesia Procedures of the Massachusetts General Hospital.T. Comparison of the Quantitative Effect of Ketamine on the Vascular Pain Associated with Intravenous Rocuronium Administration.H. pp.W. 11th ed. Liu F. D. En. Korean Journal Anesthesiol.L. Disitasi dari: http://www.wikipedia. Ketamine.A.. 2003. Farmakologi U. Haspel K. dan Dachlan M. Lippincott Williams & Wilkins Publishers. Jakarta. 1997. (29 september 2009). (29september 2009). (28 september 2009). Edisi 4.ketamine. Jakarta: Bagian Anestesiologi Dan Terapi Intesif Fakultas Kedokteran Universitsas Indonesia. Davidson J. Bailin M.Disitasidari: http://en.I . Suryadi K.. Boston: Mc Graw Hil. (29 september 2009)..R.2009.Disitasidari:http://en. Hwang J.April 2007.Wiki-Ketamine.C. Gerard M. and Carlos A. Department of : .editors.org/wiki/Tramadol. Rosow C. Sean J.S. A. Hall J. Lindhol. Latief S.M. Hsu J. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran ..E.A.org/wiki/Ketamine.2009.Penerbit Buku Kedokteran EGC.C.WikiRocuronium. 2002.com/dissociative-anaesthetic. Gerard M D.Angliss.2009. 2009. dissociative-anaesthetic. Liou T.A. In: Lawrence WW.C. Current Surgical Diagnosis and Treatment. and M . Gillies. 2005.66-83. ProQuest Medical Library page 199.Disitasidari http://en.Edisi 9 .H. Guyton A. Jakarta. Sum D.

Muhiman M. Smeltzer. 2002.. Morgan G. 2004 Anastesiologi. And Pamukcu Z.D. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.and Wiatkowski D. (94): 1517-1520. Clinical Anesthesiology.metrohealthanesthesia.com/edu/ivanes/ ketamine3. The Prevention of pain from injection of rocuronium by ondansetron.com/mmpe/lexicomp/rocuronium. and Chang Gung University. 2000. 81-83. Rocuronium. Mikhail M. 2008. Turan S.145-48.. Nugroho E. Philadelpia: Churchill Livingstone. Anestesiologi dan Reanimasi Modul Dasar Untuk Pendidikan S1 Kedokteran. 1997. and Beattie J. Ketamine. Yang.G. Merck. 5th ed. British Journal of Anaesthesia .H. (29 september 2009). Memi D. No 5 page 19-23. Pain Management. Monica Ester (ed). Disitasi dari :http://www.. Taoyuan. Zhang. Wirjoatmodjo K. Pharmacodynamics of Rocuronium in Cholestatic Patients with or without Hepatocellular Injury: Normal Onset Time of Initial Dose . Jakarta. Orgeat A. Zhang. Thaib R. 2000. 2006. cetakan 1. Turkey journal anesthesia and analgesia.htm. Sunatrio S. J. G. and Xu. pp. 2005. pp. Ed 8. The Pharmaceutical Journal. J. dkk (penterjemah).Anesthesiology. Wang. Spontaneos movements associated whit rocuronium : is pain on injection the cause. Y.E.2323-50. and fentanyl. J. 2002. 2005. Brenda G. Metrohealthanesthesia 2009. pp.J . tramadol. J. (29 September 2009).dan Dahlan R..4th ed. Karamanlio B.359-410. Agung Waluyo.merck. Jakarta: Anestesiologi Dan Terapi Intesif Fakultas Kedokteran Universitsas Indonesia. Rahman M. Sut N.S.J. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner ang Suddarth. Disitasi dari : http://www. ECG.M.. Z. Cermin Dunia Kedokteran.Vol (275). Rasa Nyeri. lidocaine. Z. Liu. (79): 382-383. Miller R. 2009. Suzanne C. Managing most operative pain. and Bare. B. Anesthesia. Chang Gung Memorial Hospital.Liun. New York: Mc Graw Hill. Suatu Ulasan Singkat.Taiwan 97:1294-1297. and Murray M.

.and Prolonged Duration Time After Repeated Doses. Journal Pharm Pharmaceut Sci 11(3): 15-21.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->