Anda di halaman 1dari 44

PROPOSAL PENELITIAN

Perbedaan Kedisiplinan Belajar Mahasiswa


Laki-laki dan Perempuan PGSD Berasrama Berdasarkan
Indeks Prestasi Semester IV

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah


Metodelogi Penelitian

Dosen Pengampu: Drs. H. Fansuri, M.Pd

Disusun Oleh:

NAMA : Ahmad Syadzali


NIM : A1E307915
KELAS : VI B

PROGRAM STUDI S1 PGSD TERINTEGRASI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2010

1
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan proposal penelitian yang berjudul : “Perbedaan Kedisiplinan Belajar
Mahasiswa Laki-laki dan Perempuan PGSD Berasrama Berdasarkan Indeks Prestasi
Semester IV.”
Dalam penyelesaian proposal ini banyak sekali bantuan dan bimbingan baik
moril maupun meteriil yang diberikan kepada penulis, sehingga dalam kesempatan ini
penulis mengucapkan terima kasi yang sebesar-besarnya serta penghargaan yang tak
terhingga kepada:
1. Bapak Drs. H. Fansuri, M.Pd. selaku dosen pembimbing mata kuliah metodelogi
penelitian.
2. Kedua orang tua yang telah ikut serta membantu baik dukungan dan doanya.
3. Rekan-rekan Mahasiswa S1 PGSD Berasrama.
4. Semua pihak yang juga ikut membantu kelancaran dalam penelitian ini hingga
selesai.
Penulis sadar bahwa keterbatasan pengetahuan dan bahan yang dimiliki, baik tata bahasa,
penyajian data serta teknik penulisan, sehingga terdapat kekeliruan ataupun kekurangan
dalam proposal penelitian ini, oleh karena itu kritik dan saran sangat diperlukan untuk
perbaikan dan kepentingan penelitian lebih lanjut.
Akhirnya penulis berharap semoga proposal penelitian ini dapat bermanfaat
bagi semua pihak. Amin.

Banjarbaru, Juni 2010

Ahmad Syadzali

2
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL .............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ............................................................................................................ ii
ABSTRAK..................................................................................................................
DAFTAR ISI ........................................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL....................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ....................................................................................... 1

B. Identifikasi Masalah ............................................................................... 3

C. Batasan Masalah ..................................................................................... 5

D. Rumusan Masalah. .................................................................................. 6

E. Tujuan Penelitian..................................................................................... 6

F. Kegunaan Hasil Penelitian ...................................................................... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori ......................................................................................... 8

B. Kerangka Berpikir .................................................................................... 17

C. Hipotesis Penelitian .................................................................................. 17

BAB III PROSEDUR PENELITIAN

A. Metode Penelitian ................................................................................... 18

B. Populasi dan Sampel ............................................................................... 18

C. Instrumen Penelitian ............................................................................... 19

BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. Prosedur Penelitian ................................................................................. 25

3
B. Pengumpulan Data Penelitian ................................................................. 25

C. Pengolahan Data ...................................................................................... 25

D. Analisis Data ........................................................................................... 26

E. Pembahasan ............................................................................................. 34

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ............................................................................................. 36

B. Saran - saran ............................................................................................ 37

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

4
ABSTRAK
Ahmad Syadzali, 2010. Perbedaan Kedisiplinan Belajar Mahasiswa Laki-laki dan
Perempuan PGSD Berasrama Berdasarkan Indeks Prestasi Semester IV.
Proposal. Program Studi S1 PGSD Berasrama Banjarbaru.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan


kedisplinan belajar mahasiswa laki-laki dan perempuan PGSD Berasrama
berdasarkan indeks prestasi semester IV.
Sesuai dengan permasalahan dalam penelitian ini menggunakan teknik
deskriptif komporatif terhadap dua kelompok atau variabel, yaitu kedisiplinan
belajar untuk laki-laki dan perempuan.
Populasi penelitian sebanyak 60 orang mahasiswa yang terdiri dari 20
orang laki-laki dan 20 orang perempuan. Karena populasinya hanya sedikit maka
peneliti tidak mengambil sampel akan tetapi seluruh populasi dijadikan sampel
dalam penelitian ini.
Hipotesis (Ha) diuji menggunakan teknik uji t. Hasil perhitungan
menunjukkan bahwa gambaran kedisplinan belajar beradsarkan indeks prestasi
semester IV untuk laki-laki tergolong predikat cukup baik sedangkan untuk
perempuan juga tergolong cukup baik. Hasil pengujian diperoleh Fo lebih kecil
dari pada Ft pada taraf signifikansi 5% dan 1 %. Dengan demikian hipotesis
alternatif (Ha) yang berbunyi ada perbedaan kedisiplinan belajar mahasiswa laki-
laki dan perempuan PGSD Berasrama berdasarka indeks prestasi semester IV di
tolak. Dengan kata lain tidak terdapat perbedaan yang signifikan kedisiplinan
belajar mahasiswa laki-laki dan perempuan PGSD Berasrama berdasarka indeks
prestasi semester IV.
Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa perbedaan indeks prestasi
mahasiswa laki-laki dan perempuan semester IV tidak menentukan atau
mempengaruhi kedisiplinan belajar, oleh karena itu dimungkinkan ada faktor lain
sehingga mahasiswa PGSD Berasrama memiliki kemampuan belajar yang
berbeda.
Dengan tidak adanya Perbedaan Kedisiplinan Belajar Mahasiswa Laki-laki
dan Perempuan PGSD Berasrama Berdasarkan Indeks Prestasi Semester IV,
hendaknya tetap memberlakukan disiplin dalam belajar oleh mahasiswa.

5
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Upaya peningkatan mutu pendidikan ini dapat diatasi dengan belajar,
karena belajar merupakan salah satu proses perkembangan hidup manusia.
Belajar ini hendaknya dilakukan sepanjang hayat, hal ini berarti bahwa setiap
manusia Indonesia diharapkan supaya selalu berkembang sepanjang hidup
dan di lain pihak masyarakat dan pemerintah diharapkan agar dapat
menciptakan situasi yang menantang untuk belajar. Prinsif ini berarti, masa
sekolah bukanlah satu-satunya masa bagi setiap orang untuk belajar,
melainkan hanya sebagian dari waktu belajar yang akan berlangsung seumur
hidup. Konsep pendidikan seumur hidup merumuskan suatu asas bahwa
pendidikan adalah suatu proses yang terus-menerus (kontinu) dari bayi
sampai meninggal dunia.
Pendidikan pertama yang di dapat oleh setiap manusia adalah kelurga
karena pada keluarga inilah fondasi terhadap penanaman nilai-nilai kehidupan
yang diterapkan oleh orang tua melalui pemberian contoh-contoh keteladanan
dan kebiasaan-kebiasaan yang baik salah satunya disiplin dalam belajar.
Penerapan kedisiplinan dalam belajar yang dilakukan oleh orang tua terhadap
anaknya sangat dipengaruhi oleh pola asuh yang diterapkan dalam keluarga
tersebut. Pola asuh yang kita ketahui yaitu kepemimpinan yang otoriter
(menguasai) dan kepemimpinan demokratis (ikut berperan serta dalam
memutuskan). Dari kedua tipe ini, kepemimpinan demokratislah yang
harusnya dilakukan oleh para orang tua karena pada tipe ini orang tua
berperan sebagai pembimbing lebih terlihat yang memberikan pengarahan,
petunjuk atau bantuan kepada anak.
Penerapan disiplin dalam belajar dapat terbentuk apabila kegiatan itu
rutin dilakukan terus menerus dan pada waktu yang sama setiap harinya.
Disiplin belajar ini juga harus didukung oleh situasi dan kondisi yang
mendukung anak untuk belajar sehingga anak tetap terfokus. Misalnya, orang

6
tua menerapkan jam belajar bagi anak laki-laki dan perempuan mulai dari
pukul 20.00 sampai pukul 21.00 setiap harinya.
Usaha penerapan waktu belajar ini mudah dilakukan pada saat anak
masih berusia SD sampai dengan SMP, tetapi pada usia SMA mungkin hal ini
agak sulit dilakukan oleh orang tua. Namun, demikian apabila penerapan
displin belajar ini dilakukan sejak kecil maka pada diri anak akan terbentuk
kebiasaan yang tidak mudah ditinggalkan karena akan menjadi suatu
kebutuhan.
Kedisiplinan dalam belajar sangat diperlukan pengawasan dari orang
tua selaku pembimbing. Anak yang hidup jauh dari pengawasan orang tua
tentu akan merasa bebas dari rutinitas seperti belajar apabila faktor
lingkungan berhasil merubahnya. Faktor lingkungan juga menjadi hal utama
menentukan keberhasilan anak dalam belajar. Kedisiplinan belajar ini pada
akhirnya akan menentukan prestasi belajar anak itu sendiri. Prestasi belajar
yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang
mempengaruhinya baik dari dalam maupun dari luar diri individu. Faktor
internal meliputi jasmaniah, psikologis termasuk kebiasaan, minat dan
kebutuhan, kematangan fisik dan psikis serta lingkungan. Prestasi belajar ini
tidak memandang pada perbedaan jenis kelamin, hingga saat ini belum ada
petunjuk yang menguatkan tentang adanya perbedaan skil, sikap, minat dan
pola-pola tingkah laku lainnya sebagai akibat dari perbedaan jenis kelamin.
Ada bukti bahwa perbedaan tingkah laku antara laki-laki dan perempuan
merupakan hasil dari perbedaan tradisi kehidupan, dan bukan semata-mata
karena perbedaan jenis kelamin. Seandainya variabel sosial diabaikan, orang
dapat mengatakan bahwa laki-laki lebih cakap dari perempuan. Fakta
menunjukkan, bahwa tidak ada perbedaan yang berarti antara laki-laki dan
perempuan dalam hal intelegensi.
Upaya perbaikan terhadap kualitas pendidikan salah satunya yaitu
keberadaan calon guru yang selalu belajar dan berinovasi. Melalui program
hibah kompetisi pemerintah berusaha meningkatkan kualitas guru yang
profesional dimana dalam program ini para calon guru di tempatkan dalam
suatu asrama. Tujuan dari tinggal di asrama ini agar mahasiswa dapat belajar

7
secara efektif dan efesien, karena dekatnya dengan sumber belajar serta
adanya lingkungan yang mendukung untuk mahasiswa belajar. Oleh karena
itu, program ini bertujuan agar mahasiswa setiap hari harus belajar dan
mengembangkan diri demi tercapainya tujuan yang diharapkan yaitu seorang
guru yang profesional. Kehidupan berasrama tentunya berbeda dengan
kehidupan dirumah karena adanya penyatuan perbedaan dari berbagai macam
aspek seperti budaya,bahasa dan kebiasaan. Kehidupan yang seperti ini tentu
memerlukan suatu ketangguhan agar kebiasaan yang baik yang telah
diperoleh dalam pendidikan keluarga tidak luntur akibat adanya penyatuan
tersebut.Kehidupan berasrama lebih kompleks dengan berbagai aspek
kehidupan didalamnya, seperti keamanan, kesehatan, kebersihan,
kebersamaan, keagamaan, kedisiplinan dan sebagainya. Salah satu aspek yang
penting yaitu kedisiplinan dalam segala hal termasuk belajar yang menjadi
tugas pokok mahasiswa selaku calon guru. Dalam kehidupan sehari-hari di
asrama tampak terlihat ada perbedaan kedisiplinan belajar antar mahsiswa,
baik itu sesama laki-laki atau sesama perempuan bahkan antar keduanya.
Keadaan yang seperti ini tentu akan berdampak terhadap prestasi yang
diperoleh mahasiswa itu sendiri. Hal ini terbukti ada satu blok yang tingkat
kedisiplinan belajarnya cukup tinggi dibandingkan dengan blok lain terutama
bila dibandingkan dengan laki-laki.
Berdasarkan latar belakang dan kenyataan di lapangan tersebut, maka
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yangg berjudul “Perbedaan
Tingkat Kedisiplinan Belajar Mahasiswa PGSD Asrama Banjarbaru
Berdasarkan Indeks Prestasi”.

B. Identifikasi Masalah
Kompleksnya kehidupan asrama dengan berbagai aspeknya tentu akan
menimbulkan masalah dari tiap aspek tersebut. Adapun masalah yang
dihadapi dalam kehidupan berasrama ini, antara lain:
1. Masalah keamanan
Suatu tempat tinggal (asrama) tentu tidak lepas dari masalah
keamanan, rasa aman akan memberikan kenyamanan untuk beraktivitas

8
terhadap penghuninya dalam hal ini penghuni asrama. Rasa aman juga
memberikan dampak positif terhadap proses belajar karena tidak adanya
gangguan terhadap penggunaan sarana penunjang belajar seperti
komputer jinjing. Usaha preventif di asrama PGSD sudah dilakukan
dengan menempatkan tiga orang satpam yang jaga 24 jam. Tetapi, pada
akhir bulan Februari musibah kemalingan terjadi di salah satu blok
perempuan.
2. Masalah kesehatan
Kesehatan merupakan suatu modal dasar bagi manusia untuk
beraktivitas karena pada kondisi sehat seseorang dapat melakukan
segala hal termasuk proses berpikir yaitu belajar. Masalah kesehatan ini
sangat berdampak dari pola hidup penghuni asrama tersebut. Asrama
PGSD Banjarbaru sejak awal semester 6 sudah ada 6 orang
mahasiswa(i) Berasrama yang jatuh sakit, dengan rincian 4 orang
terkena typus, 1 orang terkena demam berdarah (DB), dan 1 orang
terkena gejala typus.
3. Masalah kejujuran
Banyaknya penghuni asrama dengan berbagai watak dan karakter,
dapat menjadi sebuah masalah. Kejujuran ini bisa terhadap waktu
maupun terhadap keuangan,misalnya Koperasi PGSD yang mengalami
kemacetan dalam keuangan.
4. Masalah Kebersihan
Hampir disetiap asrama, masalah kebersihan menjadi masalah utama
asrama. Namun, di asrama PGSD Banjarbaru ini, masalah kebersihan
dapat terkendali. Hal ini karena adanya program kebersihan yang dibuat
oleh pengelola Asrama PGSD Banjarbaru, yang mencakup seluruh aspek
kebersihan, mulai dari kebersihan diri sendiri, kamar, blok, asrama, dan
bahkan lingkungan kampus PGSD Banjarbaru.
5. Masalah kedisiplinan
Kedisiplinan merupakan suatu modal besar untuk sukses karena
adanya keteraturan dalam beraktivitas. Kedisiplinan ini banyak macam
dan ragam seperti disiplin diri dalam hal belajar, bekerja serta beribadah.

9
Bentuk disiplin yang lain yaitu menaati peraturan yang ada dan berlaku
di dalam asrama PGSD. Namun, karena adanya perbedaan karakter
mahasiswa sehingga adanya saja yang melanggar aturan tersebut.
6. Masalah sarana dan prasarana
Secara keseluruhan, sarana dan prasarana yang dimiliki Asrama
PGSD Banjarbaru cukup lengkap. Namun, perawatan sarana dan
prasarana tersebut dirasa masih kurang. Hal ini karena ada beberapa
fasilitas asrama yang sudah tidak berfungsi dengan baik/rusak, seperti
mesin pemotong rumput, mesin genset, beberapa komputer, dan
sebagainya.
7. Masalah kesadaran
Masalah kesadaran adalah maslah yang paling kompleks dan sulit
untuk dipecahkan. Karena kesadaran ini tergantung dari watak dan
karakter masing-masing individu. Namun, di Asrama PGSD Banjarbaru
ini tingkat kesadaran penghuninya sudah cukup baik. Hal ini karena
dorongan dan bimbingan dari Pengelola Asrama PGSD Banjarbaru.
Meski terkadang masih ada ketidaksadaran yang terjadi.
Masalah kedisplinan terutama disiplin dalam belajar yang peneliti
angkat sebagai judul penelitian ini berkaitan dengan masalah lain seperti
masalah kesehatan,kejujuran dan masalah kesadaran. Kedisiplinan ini
erat sekali dengan masalah kesehatan,karena kesehatan sebagai modal
dasar untuk belajar,kejujuran yang ditekankan oleh peneliti adalah jujur
terhadap waktu dan kesadaran akan mengubah dunia pendidikan ke arah
yang lebih baik serta kesadaran untuk maju dan berkembang melalui
belajar.

C. Batasan Masalah
Latar belakang diatas mengemukakan bahwa kedisplinan belajar itu dimulai
dari pendidikan keluarga,pola asuh orang tua, kehidupan berasrama karena
cakupannya cukup luas maka peneliti memberi batasan masalah sebagai
berikut:
1. Faktor yang mempengaruhi disiplin belajar, meliputi aspek:

10
a. Internal
b. Eksternal
2. Penyebab perbedaan kedisiplinan belajar antara laki-laki dan
perempuan
3. Akibat perbedaan kedisiplinan terhadap prestasi belajar

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas maka peneliti
merumuskan masalah:
1. Apakah ada perbedaan kedisiplinan antara mahasiswa laki-laki dan
perempuan di asrama PGSD Banjarbaru?
2. Apakah faktor penyebab perbedaan kedisiplinan belajar antara mahasiswa
laki-laki dan perempuan di asrama PGSD Banjarbaru?
3. Apakah ada akibat dari perbedaan kediplinan belajar antara laki-laki dan
perempuan terhadap prestasi belajar?

E. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui tingkat kedisiplinan belajar antara mahasiswa laki-
laki dan perempuan di PGSD Berasrama.
2. Untuk mengetahui faktor – faktor penyebab perbedaan kedisiplinan
belajar antara mahasiswa laki-laki dan perempuan di asrama PGSD
Banjarbaru.
3. Untuk mengetahui akibat dari perbedaan kedisiplinan belajar antara
mahasiswa laki-laki dan perempuan terhadap prestasi belajar.

F. Kegunaan Hasil Penelitian


a. Bagi Peneliti
1. Menambah pengetahuan tentang cara dan waktu belajar yang baik.
2. Sebagai bahan informasi untuk memperbaiki diri dalam hal belajar.
b. Bagi Asrama
1. Sebagai bahan informasi dalam rangka menetapkan kebijakan dan
peraturan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

11
2. Untuk meningkatkan budaya belajar setiap hari.
c. Bagi Lembaga
1. Sebagai bahan sumbangan pemikiran untuk menetapkan
perencanaan dan kebijakan dalam upaya meningkatkan mutu
pendidikan melalui kedisiplinan dalam belajar.
2. Sebagai bahan informasi agar lembaga dapat meningkatkan
kedisiplinan dalam belajar.

12
BAB II
KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teori
Belajar merupakan suatu kegiatan menghafal sejumlah fakta-fakta.
Sejalan dengan pendapat ini, maka seorang yang telah belajar akan ditandai
dengan banyaknya fakta-fakta yang dapat dihafalkan. Pendapat lain,
mengatakan, bahwa belajar adalah sama saja dengan latihan sehingga hasil
belajar akan nampak dalam keterampilan-keterampilan tertentu. Sebagai
hasil latihan, untuk banyak memperoleh kemajuan, seseorang harus dilatih
dalamberbagai aspek tingkah laku sehingga diperoleh suatu pola tingkah
laku yang otomatis. Pandangan seseorang tentang belajar akan
mempengaruhi tindakan-tindakannya yang berhubungan dengan belajar dan
setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda tentang belajar.
Menurut James O. Whittaker belajar didefinisikan sebagai proses
di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan dan
pengalaman. Dengan demikian perubahan-perubahan tingkah laku akibat
pertumbuhan fisik atau kematangan, kelelahan, penyakit, atau pengaruh
obat-obatan adalah tidak termasuk sebagai belajar.
Belajar merupakan proses dari perkembangan hidup manusia.
Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif
individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan
prestasi hidup tidak lain adalah hasil dari belajar. Kita pun hidup menurut
hidup dan bekerja menurut apa yang kita pelajari. Belajar itu bukan sekedar
pengalaman. Belajar adalah suatu proses dan bukan suatu hasil. Karena itu,
belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan
berbagai bentuk perbuatan utnuk mencapai suatu tujuan.
Belajar memerlukan suatu kedisiplinan artinya belajar itu terus
menerus dilakukan pada waktu-waktu yang telah ditentukan baik saat di
sekolah maupun di rumah. Pada saat di sekolah memang sudah ada jadwal
yang jelas dan terperinci yang harus dilaksanakan oleh seorang siswa
sehingga siswa datang ke sekolah sudah siap menerima ilmu pengetahuan

13
sedangkan di rumah ada keluarga yang menerapkan jam belajar khusus dan
ada juga yang tidak menerapkan jam belajar khusus ini. Hal ini tergantung
dari pola asuh orang tua dan latar pendidikan dan status sosial ekonomi
suatu keluarga. Suatu sistem kebiasaan belajar yang diterapkan orang tua
pada anaknya sejak kecil tentunya akan memberikan dampak positif karena
kebiasaan itu akan menjadi suatu kebutuhan yaang tidak dapat di hilangkan
dalam waktu singkat.
Seorang ahli dalam administrasi pendidikan mengatakan bahwa
“disiplin ada tiga hal yaitu disiplin tradisional, modern dan liberal” (Piet A.
Sahertin, 1994:127), berikut ini penjelasan mengenai jenis-jenis disiplin:
a. Disiplin tradisional adalah disiplin yang bersifat menekan, menghukum,
mengawasi, memaksa dan akibatnya merusak penilaian yang terdidik
(anak).
b. Disiplin modern, pendidikan hanya menciptakan suatu yang
memungkinkan agar si terdidik dapat mengatur dirinya. Jadi situasi
yang akrab, hangat, bebas dari rasa takut sehingga si terdidik
mengembangkan kemampuan kemampuan dirinya.
c. Disiplin liberal merupakan disiplin yang diberikan sehingga anak
merasa memiliki kebebasan tanpa batas.
Menurut Ahmadi (1991), aspek-aspek kedisiplinan belajar antara
lain:
a. Kemampuan pembawaan. Anak yang mempunyai pembawaan yang baik
akan lebih mudah dan cepat berhasil di dalam belajarnya bila
dibandingkan dengan anak yang mempunyai pembawaan yang kurang
baik. Namun dalam hal ini tidak berarti pembawaan merupakan satu-
satunya faktor yang menentukan.
b. Kondisi fisik individu yang belajar. Apabila kondisi fisik tidak normal
atau cacat fisik maka dengan sendirinya akan mempengaruhi anakdalam
proses kedisiplinan belajarnya.
c. Kondisi psikis. Kondisi psikis atau kejiwaan sangat menentukan hasil
belajar. Jadi kalau psikisnya terganggu otomatis akan mempengaruhi
kedisiplinan belajar anak.

14
d. Kemampuan belajar. Seseorang apabila akan belajar harus memiliki
kemampuan untuk mempelajari sesuatu yang diinginkan.
e. Sikap terhadap guru dan mata pelajaran. Sikap terhadap guru juga
merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kedisiplinan belajar. Oleh
karena itu apabila seseorang ingin berhasil dalam belajar maka dia harus
mempunyai sikap senang kepada guru dan mata pelajaran yang akan
dipelajari.
Kedisiplinan siswa dalam belajar yang akan digunakan sebagai
acuan adalah kemampuan siswa untuk melakukan aktivitas belajarnya
tanpa harus bergantung pada orang lain. Rubino (dalam Rudiyanto, 2006)
mengemukakan setidaknya terdapat tiga aspek dalam kedisiplinan belajar:
a. Adanya sikap mental anak terhadap pelajaran yang diajarkan guru,
sikapmental tersebut meliputi antara lain: anak mempunyai rasa percaya
diri dan keuletan dalam setiap belajarnya
b. Adanya cara–cara belajar yang digunakan oleh anak demi meraih prestasi
belajar yang baik. Dalam hal ini harus mengarah pada pedoman-pedoman
umum untuk belajar dengan baik yang meliputi : keteraturan dalam
belajar, konsentrasi dalam belajar, penggunaan waktu dalam belajar.
c. Adanya sikap mandiri yang dimiliki oleh anak meliputi antara lain: tidak
suka bergantung pada orang lain kecuali bila benar-benar memerlukan,
segala sesuatunya dipikirkan masak-masak, individu kreatif dalam
melakukan sesuatu,selalu mencari jalan keluar yang paling mudah,
efektif dan efisien, dalam setiap usahanya tidak mudah putus asa dan
mampu mengendalikan emosinya dan mempunyai rasa percaya diri yang
tinggi, tidak mudah terpengaruh dari luar.
Menurut Syah (1995) kedisiplinan belajar dapat dipengaruhi
beberapa faktor antara lain :
a. Lingkungan. Faktor lingkungan dapat berasal dari keluarga, sekolah,
masyarakat dan kelompok teman sebaya. Faktor yang berasal dari
keluarga misalnya, situasi rumah yang kurang mendukung meliputi
kekacauan dalam rumah tangga, kurangnya perhatian orang tua. Faktor
yang berasal dari sekolah yaitu pendidikan dan bimbingan dari sekolah,

15
hal ini tergantung bagaimana cara guru melakukan pendekatan dengan
anak didiknya. Faktor dari masyarakat dan kelompok teman sebaya
misalnya sikap dari lingkungan masyarakat yang kurang mendukung
munculnya kedisiplinan, intensitas pergaulan dengan teman sebaya yang
membawa pengaruh negatif akan menjadikan anak kurang memiliki rasa
tanggung jawab.
b. Suasana emosional rumah. Suasana emosional rumah dipengaruhi oleh
sikap orang tua dan jenis disiplin yang digunakan orang tua yang
mempunyai hubungan yang baik dengan anaknya dan menggunakan
disiplin yang demokratis mendorong sikap yang positif pada anak
dibandingkan dengan mereka yang mempunyai “anak mas”, yang merasa
bosan dengan pekerjaan, yang mengajar secara membosankan dan yang
terlalu bersifat otoriter atau permisif dalam pengendalian situasi di
rumah.
c. Sikap terhadap pelajaran. Anak dibesarkan oleh orang tua yang
berpendapat bahwa masa kanak-kanak harus bahagia dan bebas, biasanya
mengembangkan sikap negatif terhadap setiap kegiatan yang menyerupai
kegiatan. Selama sekolah masih bermain-main saja, mereka
menyukainya, tetapi dengan kenaikan kelas, lebih banyak upaya yang
dituntut untuk membuat pekerjaan rumah, ini menimbulkan rasa tidak
suka akan sekolah.
d. Hubungan orang tua dan anak. Kedisiplinan belajar dapat dipengaruhi
oleh sikapnya terhadap orang tua.
Kedisplinan belajar bermanfaat untuk membuat anak terlatih dan
terkontrol dalam belajar. Dengan pola disiplin dapat menyadarkan anak
bahwa dengan bebasnya si anak harus mengubah dan mengendalikan segi
yang tidak baik dari kebiasaan belajar, menanamkan disiplin belajar pada
anak memerlukan gambaran misal orang tua menceritakan tata tertib
rumah dan bukan gambaran yang samar-samar yang diperbolehkan dan
yang dilarang.

16
Cara menanamkan kedisplinan belajar pada anak:
a. Cara otoriter
Pada cara ini orang tua menetukan aturan-aturan dan batasan
yang mutlak yang harus di taati anak-anak harus patuh dan tunduk dan
tidak ada pilihan lain. Cara otoriter ini ditambah dengan sikap yang
keras menghukum mengancam akan menjadikan anak patuh di
hadapan orang tua dan guru tetapi di belakangannya ia akan
memperlihatkan reaksi misal : menantang atau melawan karena anak
merasa dipaksa, maka menantang dan melawan bisa ditampilkan
dalam tingkah laku yang melanggar norma dan menimbulkan
persoalan pada dirinya maupun lingkungan. Cara otoriter bisa
diterapkan pada permulaan usaha menanamkan disiplin.
b. Cara bebas
Pada cara bebas ini pengawasan menjadi longgar anak telah
terbiasa mengatur dan menentukan sendiri apa yang dianggapnya
betul, pada umumnya keadaan ini terdapat pada keluarga – keluarga
yang kedua-duanya bekerja terlalu sibuk pada kegiatan sehingga tidak
ada waktu untuk mendidik anak dalam arti sebaik-baiknya. Orang tua
telah mempercayakan masalah pendidikan anak kepada guru. Yang
bisa mengasuh, orang tua hanya bertindak sebagai “polisi” yang
mengawasi, menegur dan mungkin memarahi. Orang tua tidak bisa
bergaul dengan anak, hubungan tidak akrab dan merasa bahwa anak
tahu sendiri , maka perkembangan kepribadianya menjadi tidak
terarah.
c. Cara demokratis
Memperhatikan dan menghargai kebebasan anak namun
kebebasan yang tidak mutlak dengan bimbingan yang penuh
pengertian antara anak dan orang tuanya. Cara demokratis pada anak
akan tumbuh rasa tanggung jawab untuk memperlihatkan sesuatu
tingkah laku dan memupuk kepercayaan dirinya dan anak mampu
berbuat sesuai aturan dan kebebasan yang ada pada dirinya untuk
memperoleh kepuasaan dan menyesuaikan dirinya dan kalau tingkah

17
lakunya tidak berkenan bagi orang lain maka anak mampu
menghargai tuntutan pada lingkungan.
Belajar yang teratur akan membuat sistem kerja otak bekerja
dengan baik dan teratur sehingga kerja otak tidak dipaksakan seperti
kebiasaan pada anak saat ini yaitu harus menghabiskan materi dalam
semalaman. Masuknya ilmu pengetahuan yang teratur dan sedikit demi
sedikit akan memberikan dampak yang baik pula terhadap kesehatan si
pembelajar itu sendiri. Selain itu, ilmu pengetahuan yang di proses sedikit
demi sedikit setiap hari pada waktu yang ditentukan akan membuat si
pembelajar itu mudah mengingat dan terproses dengan lama dalam sistem
kerja otak.
Kedisiplinan proses belajar pada saat di rumah di pengaruhi oleh
dua faktor yaitu dari dalam anak itu sendiri (internal) dan faktor luar
(eksternal). Faktor internal itu sendiri meliputi jasmaniah baik yang
bersifat bawaan maupun yang diperoleh seperti penglihatan, struktur
tubuh, potensial kecakapan, sikap, kebiasaan, minat dan kebutuhan. Semua
komponen yang bersifat internal ini akan mempengaruhi anak dalam
disiplin belajar, misalnya anak yang menyadari bahwa belajar merupakan
suatu kebutuhan yang harus di penuhi setiap hari dalam rangka
mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan maka anak tersebut
akan belajar setiap hari sesuai jam yang sudah ditentukan baik oleh diri
sendiri maupun dari orang tua. Minat dan motivasi juga menjadi faktor
penentu anak dalam disiplin belajar karena adanya suatu keinginan yang
datang dari dalam diri anak itu untuk belajar serat ditambah dengan
motivasi yang kuat maka akhirnya akan terwujud disiplin belajar itu
sendiri.
Faktor eksternal dalam hal ini keluarga juga memberikan pengaruh
yang besar terhadap kedisiplinan anak dalam belajar faktor itu meliputi
pola didikan orang tua, hubungan orang tua dan anak serta
contoh/bimbingan dari orang tua. Misalnya, orang tua memberikan waktu
belajar pada anaknya baik itu laki-laki maupun perempuan dari hari senin
sampai hari jum’at setiap malam dari pukul 20.00 sampai pukul 21.00 dan

18
untuk hari sabtu dan minggu anak diberikan kebebasan untuk tidak belajar.
Hal demikian tentunya akan memberikan dampak positif bagi anak itu
sendiri dan anak harus menjalankan kewajibannya atas kesepakatan
tersebut.
Perbedaan struktur otak yang dimiliki oleh anak laki-laki dan
perempuan sangat berperan besar tehadap pengaruh belajar dan kerja otak,
meskipun sebetulnya perbadaan itu tidak berlaku secara mutlak pada semua
kasus. Demikian dikatakan oleh Michael Gurian dalam bukunya yang
berjudul Girls Learn Differently: A Guide for Teacher dan Parent. Dia
menjelaskan berdasarkan pengamatan dari positron emmision tomography
(PET) dan magnetic resonanse imaging (MRI) yang menguasai struktur otak
dengan sangat detail, maka di dapat otak laki-laki dan perempuan memiliki
sistem yang berbeda satu sama lain. Gurian menyimpulkan dari hasil
penelitiannya bahwa anak perempuan lebih cakap dalam hal membaca dan
menulis, hal itu bisa dibuktikan pada anak perempuan sejak mereka balita
dan sepanjang usianya dewasa. Membaca dan menulis tidak menyulitkan
bagi seorang anak perempuan. Mereka bisa duduk tenang lebih lama,
mendengar dan mengenali nada suara serta berbicara dalam hati. Disisi lain,
dengan volume darah yang mengalir ke otak perempuan lebih banyak 15
persen dari otaak laki-laki hal itu sangat mendorong otak mereka dengan
mudah melalui proses-proses stimulus, membaca dan menulis yang
melibatkan tekstur, nada suara serta aktivitas kejiwaannya dengan baik.
Penyebab perbedaan lainnya yaitu pola asuh antara anak laki-laki
dan perempuan itu sendiri yang berbeda sehingga menyebabkan perbedaan
kedisiplinan. Disiplin dalam hal kedisiplinan, anak laki-laki ternyata lebih
sulit menurut bila dibandingkan dengan anak perempuan. Salah satu
penyebab perbedaannya adalah karena sejak lahir perkembngan indra
pendenganran anak laki-laki tidak sebaik anak perempuan. Anak perempuan
lebih sensitif dalam mendengar frekuensi suara, selin itu pusat bahasa di
otak anak perempuan berkembang lebih cepat dibanding laki-laki.
Sebaliknya anak laki-laki cenderung lebih impulsif dan kurang suka
diperintah. Anak laki-laki juga banyak memilki masalah misalnya

19
hiperaktif, tak bisa memusatkan perhatian, masalah merespon sensorik dan
sebagainya. Anak laki-laki juga biasanya butuh penyaluran energi dan
agresi, sehingga mereka cenderung tak bisa diam. Keamanan fisik secara
umum, anak laki-lakilebih agresif dan ribut.
Orientasi anak perempuan lebih kepada orang sedangkan anak laki-
laki pada tindakan. Karena perempuan lebih suka memperhatiakn raut
muka, mereka pun lebih pintar membaca bahasa dan ekspresi serta intonasi.
Kemampuan bahasa anak laki-laki lebih lambat mereka juga kesulitan
menghubungkan kata-kata dengan perasaan. Pada anak perempuan lebih
rajin bila dibandingkan dengan anak laki-laki hal ini bisa terlihat dari
kebiasaan-kebiasaan yang mereka timbulkan setiap hari dari pergaulan.
Kedisiplinan belajar antara laki-laki dan perempuan sebernarnya tidak ada
perbedaan, yang menimbulkan perbedaan selama ini yaitu ada dan tidaknya
kemauan anak itu sendiri untuk belajar. Jadi, kedisplinan itu timbul apabila
adanya kemauan dan motivasi yang besar dari dalam diri sendiri.
Poewanto (1986:28) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu
“hasil yang dicapai seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang
dinyatakan dalam raport”. Selanjunya Winkel (1996: 162) mengatakan
bahwa prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau
kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai
dengan bobot yang dicapainya sedangkan menurut S. Nasution (1996)
prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni
kognitif, afektif dan psikomotor sebaliknya dikatakan prestasi kurang
memuaskan apabila jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam
ketiga kriteria tersebut. Berdasarkan pengertian diatas dapat dijelaskan
bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemampuan seseorang yang
dimiliki dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang
diperoleh dalam proses belajar mengajar. Peran orang tua sangat berperan
dalam menentukan keberhasilan belajar anak karena anak menganggap
bahwa sosok orang tua yang ideal buat mereka karena bagi mereka orang
tua adalah yang memberikan kasih sayang, mendidik, mengarahkan dan
membimbing mereka menjadi anak yang lebih baik dan bermanfaat.

20
Penanaman sikap disiplin, menerima apa adanya memberikan motivasi
berprestasi serta aspek spritual kepada anak diakui merupakam dasar
pembentukan anak berprestasi.
Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan
umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi dapat meramalkan
kesuksesan prestasi belajar. Namun demikian pada beberapa kasus, IQ yang
tinggi ternyata tidak menjamin kesuksuksesan seseorang dalam belajar dan
hidup bermasyarakat.
IQ bukanlah satu-satunya faktor penentu kesuksesan prestasi
belajar seseorang. Faktor-faktor lain yang turut andil mempengaruhi
perkembangan prestasi belajar. Sehubungan dengan hal tersebut, pada
kegiatan Seminar Sehari tentang , diperoleh kesimpulan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi prestasi belajar adalah antara lain sebagai berikut: 1)
pengaruh pendidikan dan pembelajaran unggul; 2) perkembangan dan
pengukuran otak; dan 3) kecerdasan (intelegensi) emosional
(http://ditptksd.go.id, 2008).
Sementara itu, Sunarto (2009) mendeskripsikan faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi prestasi belajar dan mengklasifikasikannya menjadi
dua bagian, yaitu: 1) faktor-faktor intern; dan 2) faktor-faktor ekstern.
Faktor-faktor intern, yakni faktor-faktor yang berasal dari dalam
diri seseorang yang dapat mempengaruhi prestasi belajarnya. Di antara
faktor-faktor intern yang dapat mempengaruhi prestasi belajar seseorang
adalah antara lain: 1) kecerdasan/intelegensi; 2) bakat; 3) minat; 4) motivasi.
Adapun faktor-faktor ekstern, yaitu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
prestasi belajar seseorang yang sifatnya berasal dari luar diri seseorang
tersebut. Yang termasuk faktor-faktor ini adalah antara lain: 1) keadaan
lingkungan keluarga; 2) keadaan lingkungan sekolah; dan 3) keadaan
lingkungan masyarakat (Sunarto, 2009).
Berdasarkan uraian-uraian di atas dapat disimpulkan aspek-aspek
kedisiplinan belajar yaitu: fisiologis, psikologis, kognitif, adanya sikap
mental anak terhadap pelajaran yang diajarkan, adanya cara–cara belajar

21
yang digunakan oleh anak demi meraih prestasi belajar yang baik, adanya
sikap mandiri yang dimiliki oleh anak.

B. Kerangka Berfikir
Berdasarkan uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa “jika perbedaan
kedisiplinan belajar antara mahasiswa laki-laki dan perempuan di asrama
PGSD Banjarbaru cukup signifikan disebabkan pengaruh pola asuh orang tua
maka prestasi belajar akan berbeda pula”
Kedisplinan belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor internal(dari
dalam diri mahasiswa itu sendiri seperti minat dan motivasi) dan
eksternal(seperti perbedaan pola asuh orang tua terhadap anak laki-laki dan
perempuan). Kedua faktor ini saling bersinergi untuk membangun
kedisplinan belajar terhadap diri mahasiswa PGSD Banjarbaru.
Penyebab perbedaan belajar ini tergantung dari kebiasaan yang tumbuh
sejak usia sekolah sampai dewasa yang di terapkan oleh orang tua saat di
rumah dan oleh guru saat mereka berada di sekolah. Kebiasaan ini bisa
berubah apabila faktor lingkungan lebih dominan. Perbedaan ini juga terjadi
akibat adanya perbedaan cara merawat anak laki-laki dan perempuan serta
bentuk sistem otak.

C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka berpikir yang telah diuraikan, maka hipotesis
penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut:
“Terdapat perbedaan kedisiplinan belajar yang cukup signifikan antara
mahasiswa PGSD Berasrama Banjarbaru berdasarkan indeks prestasi”

22
BAB III
PROSEDUR PENELITIAN

A. Metode Penelitian
Penelitian adalah semua kegiatan pencarian, penyelidikan, dan
percobaan secara alamiah dalam suatu bidang tertentu, untuk mendapatkan
fakta-fakta atau prinsip-prinsip baru yang bertujuan untuk mendapatkan
pengertian baru dan menaikkan tingkat ilmu serta teknologi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan
kedisplinan belajar mahasiswa PGSD Berasrama dan bagaimana akibatnya
terhadap prestasi belajar yang dicapai oleh mahasiswa tersebut.
Penelitian ini menggunakan metode survey yaitu
pengamatan/penyelidikan yang kritis untuk mendapatkan keterangan yang
terang baik terhadap suatu persoalan tertentu dan di dalam suatu daerah
tertentu. Pendapat lain tentang pengertian metode survey yaitu metode
penelitian yang bertujuan untuk mencapai generalisasi, dengan jalan membuat
perbandingan kuntitatif dari data yang dikumpulkan dengan prosedur tanya
jawab yang uniform. Dalam penelitian ini menggunakan pedekatan
komparatif yang membandingkan satu variabel bebas dan satu variabel terika.
Selain itu juga peneliti menggunakan metode dokumenter dalam hal ini
adalah kartu/daftar indeks prestasi mahasiswa semester empat.

B. Populasi dan Sampel


Populasi adalah semua subjek yang akan diteliti atau mereka / suatu
yang akan diambil data-datanya untuk mendukung fenomena yaang akan
diteliti.
Wahyu (1996) menyatakan populasi adalah merupakan seluruh jumlah
orang atau penduduk di suatu daerah atau sekelompok orang, benda atau hal
yang menjadi sumber pengambilan sampel yang memenuhi syarat-syarat
tertentu yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
Menurut Suharsimi Arikunto (1998) mengatakan istilah populasi dan
sampel dalam penelitian adalah mempunyai pengertian yang berbeda akan

23
tetapi dalam penarikan kesimpulan suatu penelitian yang sebenarnya hanya
dilakukan terhadap sampelnyaa dalam ruang lingkup suatu populasi
penelitian, sedangkan populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.
Sampel adalah sebagian atau keseluruhan dari subjek penelitian yang
akan diteliti. Jadi ruang lingkup sampel dapat berupa sebagian ataupun
keseluruhan dari populasi.
Sampel adalah “bagian dari populasi atau jumlah penduduk yang
jumlahnya kurang dari populasi”(Hadi Sutrisno, 1884:221). Dapat juga di
sebut sebagai:”.... kelompok representatif dari populasi yang akan berperan
sebagai responden”(Ambo Enry Abdullah,1984:101)
Menurut Kartini Kartono (1985:134) bahwa subjek-subjek yang dipilih
menjadi anggota sampel itu mempunyai sifat yang dimiliki oleh populasi
darimana sampel itu ditarik maka struktur sampel itu sedemikian rupa,
sehingga harga rata-rata hitung sampai sama dengan harga rata-rata harga
populasinya.
Berdasarkan pendapat di atas maka penelitian ini menggunakan
penelitian populasi, dengan objek mahasiswa laki-laki dan perempuan S 1
PGSD Berasrama Banjarbaru yang berjumlah 60 orang.
Adapun jumlah mahasiswa dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel. 3.1
KEADAAN POPULASI PENELITIAN
No. Blok Jumlah Jenis kelamin
1. Blok A 20 orang Perempuan
2. Blok B 20 orang Perempuan
3. Blok D 20 orang Laki-laki

C. Instrumen Penelitian
Penelitian bertujuan untuk mengukur suatu gejala akan menggunakan
instrumen penelitian. Jumlah instrumen yang akan digunakan tergantung
pada variabel yang akan diteliti. Dalam penelitian ini instrumen terdiri dari:
(1) mengidentifikasi variabel (2) mengklasifikasikan variabel (3) pemberian
definisi variabel (4) pengembangan instrumen penelitian dan pengukuran.

24
1. Mengidentifikasi variabel
Istilah variabel dapat diartikan bermacam-macam. Dalam tulisan
ini variabel diartikan sebagai segala sesuatu yang akan menjadi objek
pengamatan penelitian atau faktor yang berperan dalam peristiwa yang
akan diteliti. Variabel yang diteliti terdiri dari 1 variabel terikat (dependen)
dan 1 variabel bebas (independen), yaitu:
a. Variabel terikat : kedisplinan belajar
b. Variabel bebas : prestasi belajar
2. Mengklasifikasikan variabel
Variabel-variabel yang telah diidentifikasi perlu diklasifikasikan
sesuai dengan jenis dan peranannya dalam penelitian. Klasifikasi ini sangat
perlu untuk menentukan alat pengambil data apa yang akan digunakan dan
metode analisis mana yang sesuai untuk diterapkan. Berkaitan dengan
proses kuntifikasi, data biasa di golongkan menjadi empat jenis, yaitu (a)
data nominal (b) data ordinal (c) data interval (d) ratio, begitu juga dengan
variabel maka dapat dibedakan dengan cara yang sama.
Pada penelitian ini variabel yang menjadi variabel terikat
kedisiplinan belajar, variabel bebasnya prestasi belajar (laki-laki dan
perempuan).
3. Pemberian definisi variabel
Untuk menghindari kemungkinan penafsiran yang berbeda maka
setiap variabel dirumuskan secara konseptual maupun operasional,
berdasarkan sintesis yang diperoleh dari kerangka teoritik.
Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat-sifat
hal yang dapat diamati (diobservasi). Konsep dapat diamati atau
diobservasi ini penting, karena hal yang dapat diamati itu membuka
kemungkinan bagi orang alain selain peneliti untuk melakukan hal yang
serupa, sehingga apa yang dilakukan oleh peneliti terbuka untuk diuji
kembali oleh orang lain.
Beberapa batasan operasional adalah:
1. Kedisiplinan belajar (Laki-laki dan perempuan)

25
Kedisiplinan belajar adalah belajar itu terus menerus dilakukan pada
waktu-waktu yang telah ditentukan baik saat di sekolah maupun di
rumah. Kedisplinan belajar ini dipengaruhi beberapa aspek, meliputi:
Kemampuan pembawaan, terlihat dari tidak suka bergantung pada
orang lain, kreatif dalam melakukan sesuatu,selalu mencari jalan keluar
yang paling mudah, efektif dan efisien, dalam setiap usahanya tidak
mudah putus asa dan mampu mengendalikan emosinya dan mempunyai
rasa percaya diri yang tinggi, tidak mudah terpengaruh dari luar.
Kondisi fisik individu yang belajar. Terlihat dari kondisi fisik yang
dimiliki seorang anak seperti normal dan tidak normal (mempunyai
kelainan secara fisik misal penglihatan). Kondisi psikis. terlihat dari
kesiapan anak dalam belajar dan ketidaksiapan belajar, anak
mempunyai rasa percaya diri dan keuletan dalam setiap belajarnya.
Kemampuan belajar. Seseorang apabila akan belajar harus memiliki
kemampuan untuk mempelajari sesuatu yang diinginkan dan setiap
orang berbeda ini terlihat dari keteraturan dalam belajar, konsentrasi
dalam belajar, penggunaan waktu dalam belajar. Sikap terhadap
guru/orang tua dan mata pelajaran. Terlihat dari sikap senang kepada
guru/orang tua dan mata pelajaran yang akan dipelajari, menjadi
termotivasi dan menjauhi guru/orang tua dan mata pelajaran.
Kedisiplinan belajar dapat dipengaruhi beberapa faktor antara lain :
Lingkungan. Terlihat dari situasi rumah, cara guru melakukan
pendekatan dengan anak didiknya, masyarakat kurang mendukung
munculnya kedisiplinan, intensitas pergaulan memberikan pengaruh
negatif. Suasana emosional rumah. Terlihat dari sikap orang tua dan
jenis disiplin yang digunakan orang tua. Hubungan orang tua dan anak.
Terlihat dari cara orang tua mendukung, tentram, menunjukkan kasih
sayang.Kedisiplinan belajar dapat dipengaruhi oleh sikapnya terhadap
orang tua.

26
2. Prestasi Belajar
Prestasi belajar adalah tingkat kemampuan seseorang yang
dimiliki dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi
yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Disini yang digunakan
adalah kartu/daftar indeks prestasi kumulatif.

4. Pengembangan instrumen penelitian dan pengembangan


Sebagai suatu metode penelitian ilmiah yang berkembang,
penelitian ini menggunakan unsur-unsur konsep, preposisi, teori, variabel,
hipotesa dan definisi operasional. Maka variabel-variabel yang tercakup
dalam desain penelitian dengan kuesioner sebagai alat pengumpul data
yang pokok dan dokumenter.
Kegiatan pengumpulan data dilakukan terhadap mahasiswa laki-
laki dan perempuan di asrama PGSD Banjarbaru yang dijadikan subjek
penelitian. Untuk menyamakan persepsi dan penafsiran maka sebelumnya
dilakukan penjelasan terhadap kuesioner serta penilaiannya. Kuesioner
yang digunakan untuk mengungkapkan variabel kedisiplinan belajar (laki-
laki dan perempuan) yang diisi langsung oleh responden dalam hal ini
mahasiswa laki-laki dan perempuan PGSD Banjarbaru , dan prestasi
belajar dilakukan oleh peneliti dengan mengumpulkan data berupa
dokumen.
Penyusunan dan pengembangan instrumen disusun berdasarkan konsep
dan teori yang telah dikemukakan.
a. Pengukuran Variabel Kedisiplinan Belajar
Untuk mengungkapkan kedisiplinan belajar dalam penelitian
ini digunakan kuesioner, dengan pertanyaan yang dilengkapi jawaban
menggunakan skala Likert dan terdiri dari 4 alternatif jawaban.
Instrumen dikembangkan dari landasan teori dengan indikator yang
meliputi : kemampuan pembawaan, kondisi fisik individu yang
belajar, kondisi psikis, kemampuan belajar, sikap terhadap
guru/orang tua dan mata pelajaran, lingkungan, suasana emosional
rumah, hubungan orang tua dan anak.

27
Tabel 3.2
Indikator Instrumen Kedisiplinan Belajar
ASPEK
NO.
YANG INDIKATOR
ITEM
DIAMATI
Kedisiplinan 1. Kemampuan Pembawaan
Belajar a. Tidak bergantung pada orang lain
b. Kreatif dalam melakukan sesuatu 1
2
c. Selalu mencari jalan keluar
3
d. Efektif dan efisien 4,5
e. Tidak mudah putus asa dan mampu 6,7
mengendalikan emosi
8
f. Mempunyai kepercayaan diri 9
g. Tidak mudah terpengaruh dari luar
2. Kondisi Fisik Individu Yang Belajar
a. Normal 10
b. Ada mempunyai kelainan secara fisik 11
3. Kondisi Psikis
a. Mempunyai kesiapan 12
b. Mempunyai percaya diri yang baik 13
c. Keuletan dalam belajar 14

4. Kemampuan Belajar
a. Mempunyai kemampuan untuk mempelajari
15
b. Mempunyai keteraturan 16
c. Konsentrasi dalam belajar 17
18
d. Penggunaan waktu belajar yang efektif
5. Sikap Terhadap Guru/Orang Tua dan Mata
Pelajaran
a. Senang terhadap pemateri
19
b. Terbuka untuk menerima
20
c. Menjadikan guru dan orang tua sebagai 21
contoh

28
6. Lingkungan
a. Situasi rumah
22
b. Cara menggunakan pendekatan 23
c. Dukungan masyarakat 24
25
d. Intensitas pergaulan
7. Suasana Emosional Rumah
a. Sikap orang tua 26
b. Jenis disiplin 27
c. Harmonis dan teratur 28,29

8. Hubungan Orang Tua dan Anak


a. Orang tua yang mendukung 30
b. Menunjukkan kasih sayang 31
c. Tentram dan kekeluargaan 32,33

29
BAB IV
LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. Prosedur Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini dilakuakn dengan memulai persipan-
persiapan yang berhubungan dengan mengangkat permasalahan dan
menentukan objek yang akan diteliti dengan melaksanakan prosedur
penelitian sebagai berikut:
1. Prosedur pertama adalah mengajukan judul peneliitian yang akan di
teliti.
2. Prosedur kedua adalah mencari bahan yang mendukung terhadap
penelitian ini.
3. Prosedur ketiga adalah mengolah bahan untuk mendukung penelitian
4. Prosedur keempat adalah membuat alat pengumpul data seperti angket
dan dokumen.

B. Pengumpulan Data Penelitian


Pengumpulan data ini dilakukan dengan cara menyebarkan suatu
alat instrumen penelitian berupa angket yang harus dijawab oleh
mahasiswa perempuan di PGSD Berasrama Banjarbaru dan dokumen.
Adapun data yang diperlukan adalah tentang tingkat kedisiplinan belajar
mahasiswa di asrama yang berjumlah 60 orang serta rekap hasil studi
mahasiswas semester IV.

C. Pengolahan Data
Data penelitian yang telah terkumpul yaitu hasil angket untuk mengetahui
tingkat kedisiplinan mahasiswa PGSD Berasrama dan indeks prestasi
semester IV yang kemudian hasil angket dikelompokkan menjadi 2 yaitu
berdasarkan jenis kelamin, kelompok 1 untuk mahasiswa perempuan dan
kelompok 2 mahasiswa laki-laki sedangkan untuk indeks prestasi juga
dilakukan hal yang demikian.

30
D. Analisis Data
1. Analisis Deskriptif
Berdasarkan pengolahan data diperoleh gambaran tingkat
kedisiplinan belajar mahasiswa PGSD Berasrama Banjarbaru
berdasarkan indeks prestasi sebagai berikut:
a. Gambaran tingkat kedisiplinan belajar
Gambaran tingkat kedisiplinan belajar mahasiswa PGSD
Berasrama yang terdiri dari 60 orang yaitu 20 orang laki-laki dan
perempuan 40 orang berdasarkan jenis kelamin sebagai berikut:
1) Mahasiswa laki-laki dengan kedisiplinan belajar tinggi
berjumlah 6 orang dengan rata-rata mencapai nilai 22,70
predikat sangat baik
2) Mahasiswa laki-laki-laki dengan kedisiplinan belajar rendah
berjumlah 14 orang dengan rata-rata mencapai nilai 47,67
predikat cukup
3) Mahasiswa perempuan dengan kedisiplinan belajar tinggi
berjumlah 27 orang dengan rata-rata mencapai nilai 101,64
predikat baik
4) Mahasiswa perempuan dengan kedisiplinan belajar rendah
berjumlah 13 orang dengan rata-rata mencapai nilai 40,15
predikat kurang
b. Gambaran indeks prestasi
Gambaran berdasarkan hasil indeks prestasi semester IV
sebagai berikut:
1) Gambaran mahasiswa laki-laki berdasarkan hasil indeks prestasi
kategori tinggi semester IV yang berjumlah 8 orang mencapai
40% tergolong pada predikat cukup baik.
2) Gambaran mahasiswa laki-laki berdasarkan hasil indeks prestasi
kategori rendah semester IV yang berjumlah 12 orang mencapai
60% tergolong pada predikat cukup baik.

31
3) Gambaran mahasiswa perempuan berdasarkan hasil indeks
prestasi kategori tinggi semester IV yang berjumlah 20 orang
mencapai 50% tergolong pada predikat cukup baik.
4) Gambaran mahasiswa perempuan berdasarkan hasil indeks
prestasi kategori rendah semester IV yang berjumlah 20orang
mencapai 50% tergolong pada predikat cukup baik.

GRAFIK 4.1
KEDISIPLINAN BELAJAR

TABEL 4.2
INDEKS PRESTASI
Daftar IPK Mahasiswa PGSD Berasrama Banjarbaru Perempuan
No. Nama Kelas IPK
1 Yuli Yana A 3,5
2 Mariana A 3,45
3 Afdah A 3,6
4 Nurul Azizah A 3,45
5 Maida Mustika A 3,45
6 Wahyu Setyo A A 3,6
7 Eka Fitriani A 3,6
8 Norlatifah A 3,85
9 Nina Maulidya A 3,45

32
10 Rahmilasari A 3,4
11 Mahfuzatul Husna A 3,65
12 Fathul Jannah A 3,4
13 Feny Noorjannah A 3,55
14 Asri Fatimah A 3,55
15 Nurhidayati A 3,6
16 Khusnul Qotimah A 3,65
17 Nana Nurliani A 3,5
18 Musfi Rosmaini A 3,55
19 Laila Fitriani A 3,8
20 Santi Sartika A 3,75
21 Aulia Azizah B 3,45
22 Aulia Rahmi B 3,4
23 Salasiah B 3,5
24 Ita B 3,4
25 Ukhti Fada Uhara B 3,1
26 Nurliani B 3,45
27 Agustina Pusvitasari B 3,35
28 Wahdiah B 3,35
29 Paulina Rohana B 3,3
30 Dasimah B 3,45
31 Sri Widiastutik B 3,2
32 Marietna TM B 3,2
33 Syafariatul Jannah B 3,5
34 Dewi Nur Utami F B 3,5
35 Choirunisa B 3,35
36 Siti Zubaidah B 3,35
37 Megawati B 3,5
38 Noorhayati B 3,6
39 Hadiatul Hasanah B 3,35
40 Noviecka Wieyanthi B 3,6
Jumlah 139,25
Rata-Rata 3,48125

Daftar IPK Mahasiswa PGSD Berasrama Banjarbaru Laki-laki


No. Nama Kelas IPK
1 Aulia Rahman D 3,4
2 Rd.A. Surya D 3,1
3 Ahmad Fahriadi D 3,3
4 M. Hidayatullah D 3,5
5 Ernadi Hipreyadi D 3,35
6 M. Raji D 3,3
7 Ary Priatna Ridhoni D 3,55
8 Zainul Aulia D 3,8

33
9 Tri Wibowo D 3,5
10 Agus Setiawan D 3,2
11 Ranto Yunawan D 3,55
12 Rusdi D 3,3
13 Tonny Ispiani D 3,14
14 Dede Dewantara D 3,34
15 Ahmad Bahruddin J D 3,3
16 Ady Rusandy D 3,4
17 M. Eko Wahono D 3,65
18 Miyandi Eko Anugrah D 3,85
19 Syarif Fauzan D 3,2
20 Arif Rahman Prasetyo D 3,8
Jumlah 68,53
Rata-rata 3,4265

GRAFIK 4.3
RATA-RATA IPK

34
GRAFIK 4.4
INDEKS PRESTASI

2. Analisis Statistik
Data perbandingan kedisiplinan belajar mahasiswa PGSD Berasrama
Banjarbaru berdasarkan indeks prestasi akan dihitung dengan uji t.
Secara keseluruhan dapat dilakukan melalui proses perhitungan sebagai
berikut:
TABEL 4.1
KEDISIPLINAN BELAJAR MAHASISWA
No. Kedisiplinan

1 3,88 15,0544 4,18 17,4724


2 3,67 13,4689 3,82 14,5924
3 3,76 14,1376 3,33 11,0889
4 3,67 13,4689 3,73 13,9129
5 4,48 20,0704 3,85 14,8225
6 3,55 12,6025 3,82 14,5924
7 3,73 13,9129 3,33 11,0889
8 3,52 12,3904 3,64 13,2496
9 3,52 12,3904 3,36 11,2896
10 4 16 3,12 9,7344
11 3,67 13,4689 3,64 13,2496
12 4,12 16,9744 3,55 12,6025

35
13 3,73 13,9129 3,21 10,3041
14 3,67 13,4689 3,52 12,3904
15 3,58 12,8164 3,39 11,4921
16 3,73 13,9129 3,24 10,4976
17 3,88 15,0544 3,58 12,8164
18 3,52 12,3904 3,33 11,0889
19 3,94 15,5236 3,3 10,89
20 3,67 13,4689 3,45 11,9025
21 4,45 19,8025
22 3,55 12,6025
23 3,79 14,3641
24 3,61 13,0321
25 3,7 13,69
26 3,67 13,4689
27 3,64 13,2496
28 2,67 7,1289
29 3,36 11,2896
30 3,42 11,6964
31 2,64 6,9696
32 3,18 10,1124
33 3,09 9,5481
34 3,39 11,4921
35 2,97 8,8209
36 3,21 10,3041
37 3 9
38 2,55 6,5025
39 3,21 10,3041
49 3,45 11,9025

Ʃ = Ʃ = = 70,39 Ʃ =
Ʃ
141,84 509,769 249,0781

n = 40 = 20

3,546 12,74423 3,5195 12,74423

Secara keseluruhan dapat dilakukan melalui proses perhitungan


sebagai berikut:
A. Kedisiplinan belajar
1. Perhitungan rerata masing-masing kelompok

36
Perempuan = = = 3,546

Laki- laki = = = 3,5195

2. Perhitungan uji-t dengan menggunakan perbedaan dua rata-rata

S =

S=

S =

S =

S =

S =
S = 0,991
3. Perhitungan derajat bebas
df = n1 + n2 – 2
df = 20 + 40 – 2
df = 58
4. Mencari koefisien t, dengan rumus

t=

t=

t=

t = 0,00267
B. Indeks prestasi mahasiswa
1. Perhitungan rerata masing-masing kelompok

Perempuan = = = 3,4812

37
Laki-laki = = = 3,4265

2. Perhitungan uji-t dengan menggunakan perbedaan dua rata-rata

S =

S=

S =

S =

S =

S =
S = 0,96

3. Perhitungan derajat bebas


df = n1 + n2 – 2
df =31 + 29 – 2
df = 58
4. Mencari koefisien t, dengan rumus

t=

t=

t=

t = 0,056
TABEL 4.5
RINGKASAN HASIL UJI T

Variabel S t hitung db Taraf signifikansi T tabel

0,01 (1%)
Kedisiplinan belajar 0,991 0,00267 58 2,66
0,05 (5%) 2,00

38
0,01 (1%)
Indeks prestasi 0,91 0,056 58 2,66
0,05 (5%) 2,00
Keterangan : S = Varian
df = Derajat Kebebasan
C. Konsultasi tabel nilai t
Melalui uji t dengan perhitungan diperoleh nilai t sebesar
0,00267 selanjutnya dikonsultasikan dengan nilai t tabel dengan taraf
signifikansi 5% dan 1%.Karena tidak ditemukan db 58 maka diambil
db lebih mendekati yaitu 60 dan diperoleh nilai t = 2,00 pada taraf
signifikansi 5% serta diperoleh nilai t = 2,66 pada taraf signifikansi 1%
dengan demikian nilai To = 0,00267 kurang dari nilai t tabel = 2,00
atau 2,66 seperti dibawah ini :
To = 0,00267 < t Tabel = 2,00 pada taraf 5%

To = 0,056 < t Tabel = 2,66 pada taraf 1%

Maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat perbedaan


signifikan antara varian 1 dan varian 2. Dalam hal ini apabila
hipotesis nol (Ho) yang menyatakan tidak ada perbedaan
kedisiplinan belajar mahasiswa berdasarkan indeks prestasi kelas di
PGSD Berasrama Banjarbaru adalah diterima, sedangkan hipotesis
alternatif (Ha) yang menyatakan ada perbedaan kedisiplinan belajar
mahasiswa berdasarkan indeks prestasi kelas di PGSD Berasrama
Banjarbaru adalah ditolak. Hal ini berarti tidak ada perbedaan
kedisiplinan belajar mahasiswa berdasarkan indeks prestasi pada
program studi PGSD Berasrama Banjarbaru.

D. Pembahasan
Gambaran diatas menunjukkan bahwa kedisiplinan belajar
mahasiswa PGSD Berasrama Banjarbaru untuk kategori perempuan 32,5%
sedangkan untuk laki-laki 65% menunjukkan bahwa tingkat kedisiplinan
laki-laki lebih rendah dibandingkan dengan perempuan dimana hanya

39
32,5% saja perempuan yang tingkat kedisiplinanya termasuk kategori
rendah.
Berdasarkan kajian teoritis dan hasil penelitian yang relevan bahwa
faktor internal untuk belajar dalam hal ini berupa pembawaan dan
kemauan dapat mempengaruhi untuk belajar selain itu juga dikarenakan
adanya faktor eksternal yang mendukung seperti pola asuh, dukungan
(orang tua atau sarana) dan kebiasaan. Sebagai hasil dari kedisiplinan
belajar ini ditunjukkan dengan prestasi belajar yang diangkat dalam
penelitian ini. Perbedaan struktur otak yang dimiliki oleh anak laki-laki
dan perempuan sangat berperan besar tehadap pengaruh belajar dan kerja
otak, meskipun sebetulnya perbedaan itu tidak berlaku secara mutlak pada
semua kasus.
Hasil penelitian ini ternyata tidak terdapat perbedaan kedisiplinan
belajar mahasiswa berdasarkan indeks prestasi. Oleh karena itu
dimungkinkan masih banyak lagi faktor lain yang melatar belakangi
prestasi belajar di asrama selain sikap dan kebiasaan belajar antara lain
faktor eksternal yang meliputi pola didikan, hubungan antar individu serta
contoh atau bimbingan orang lain sangat diperlukan oleh mahasiswa
secara optimal. Faktor kampus yang meliputi kenyamanan serta keamanan
juga sangat menentukan mahasiswa untuk belajar dan berprestasi karena
dari situasi yang mendukung ini maka mahasiswa akan merasa lebih
senang untuk belajar. Faktor masyarakat yang tidak boleh dihindari dalam
hal ini kita sebut sesama mahasiswa asrama, melainkan harus dapat
memanfaatkan dampak positif seperti dengan adanya teman yang belajar
teratur tentu akan membuat mahasiswa yang lain ikut juga merasakan
dampaknya paling tidak ada kemauan untuk meniru, pengaruh teman ini
untuk mendukung kemajuan perkembangan belajar setiap warga asrma.
Dengan perbedaan indeks prestasi belajar ini sepenuhnya tidak
menentukan dalam proses kedisiplinan belajar mahasiswa diasrama.
Sebagaimana hasil penelitian ini tidak terdapat perbedaan kedisiplinan
belajar mahasiswa PGSD Berasrama Banjarbaru menurut indeks prestasi
semester IV.

40
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan ini yaitu tentang
perbedaan kedisiplinan belajar mahasiwa PGSD Bersrama Banjarbaru
menurut indeks prestasi semester IV, maka dapat diambil suatu
kesimpulan sebagai berikut :
1. Gambaran kedisiplinan belajar mahasiswa PGSD Berasrama
Banjarbaru yang berjumlah 60 orang terdiri dari 40 orang, perempuan
dengan kedisiplinan belajar tinggi berjumlah 27 orang dan rendah
berjumlah 13 sedangkan 20 orang laki-laki dengan kedisiplinan belajar
tinggi berjumlah 6 orang dan rendah berjumlah 14 orang.
2. Gambaran indeks prestasi semester IV menunjukkan mahasiswa
perempuan kategori tinggi berjumlah 20 orang mencapai 50% dan
kategori rendah berjumlah 20 orang juga mencapai 50% sehingga
keduanya tergolong pada predikat cukup baik. Sedangkan mahasiswa
laki-laki berdasarkan hasil indeks prestasi kategori tinggi berjumlah 8
orang mencapai 40% tergolong pada predikat cukup baik dan kategori
rendah berjumlah 12 orang mencapai 60% tergolong pada predikat
cukup baik juga. Walaupun ada perbedaan kedisiplinan antara
perempuan dan laki-laki tetapi bila dilihat dari indeks prestasi semester
IV namun prestasi belajar sudah mencapai sebagaimana yang
diharapkan secara optimal.
3. Berdasarkan hasil penelitian ini, perbedaan kedisiplinan belajar
mahasiswa laki-laki dan perempuan PGSD Berasrama Banjarbaru
berdasarkan indeks prestasi semeter IV tidak terdapat perbedaan yang
signifikan. Hipotesis alternatif yang menyatakan ada perbedaan
kedisiplinan belajar mahasiswa laki-laki dan perempuan PGSD
Berasrama Banjarbaru berdasarkan indeks prestasi semeter IV tersebut
ditolak.

41
B. Saran-saran
Kemampuan mahasiswa dalam disiplin belajar untuk memperoleh
prestasi akan lebih baik dan optimal jika ditunjang dengan berbagai faktor,
diantaranya adalah indeks prestasi yang memuaskan dan kemauan dan
situasi yang mendukung. Walaupun tidak terdapat perbedaan kedisiplinan
belajar antara laki-laki dan perempuan berdasarkan indeks prestasi namun
proses untuk mendapatkan hasil belajar yang memuaskan hanya dapat
dicapai dengan belajar yang teratur. Oleh karena itu dapat dikemukakan
saran-saran sebagai berikut:
1. Bagi mahasiswa yang hasil prestasi kurang memuaskan dapat belajar
dan meniru pola belajar dari rekan-rekan yang lain.
2. Bagi asrama dapat membuat waktu belajar yang efektif bagi
mahasiswanya yang tentunya harus berdasarkan kebiasaan belajar
mahasiswa itu sendiri
3. Bagi lembaga dapat membuat suatu kegiatan yang dapat meningkatkan
disiplin dalam belajar guna mencapai hasil yang optima.

42
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 2004. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka

Cipta

Bahri Djamarah, Syaiful. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta

Bahri Djamarah, Syaiful. 2004. Pola Komunikasi. Jakarta: Rineka Cipta

Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Joko, P Subagya. 1991. Metode Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

Kaifa. 2008. Quantum Learning. Bandung: PT. Mizan Pustaka

Margono, S. 2005. Metodelogi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Prijodarminto, Soegeng. 1994. Disiplin Kiat Menuju Sukses. Jakarta: Pradnya

Paramita

Sardiman. A.M. 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja

Grafindo Persada

Semiawan, Conny. 2008. Penerapan Pembelajaran Pada Anak. Jakarta: PT.

Indeks

Shochib, Moh. 2000. Pola Asuh Orang Tua. Jakarta: Rineka Cipta

Suryabrata, Sumadi. 2008. Metodelogi Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo

Persada

http//www.medicalera.com/index.php diakses tanggal 19 Maret 2010

http//www.ibudanbalita.com/diskusi/pertanyaan diakses tanggal 19 Maret 2010

http//www.sekolahorangtua.com/products-parentinghomecourse diakses tanggal

19 Maret 2010

http//www.nesmd.com diakses tanggal 19 Maret 2010

43
http//www.perkembangananak.com diakses tanggal 19 Maret 2010

http//www.jugaguru.com diakses tanggal 19 Maret 2010

http//viewer.eprints.ums.ac.id/archieve/etd/1362 diakses tanggal 20 Maret 2010

http//pdfqueen.com/pdf/pe/pengertiankedisplinanbelajar diakses tanggal 20 Maret

2010

44