Anda di halaman 1dari 176

1

PEGARUH FIACIAL LEVERAGE TERHADAP RETUR O


EQUITY (ROE) DA EARIG PER SHARE (EPS) PADA
PERUSAHAA PERTAMBAGA LOGAM DA MIERAL
LAIYA YAG TERDAFTAR DI BURSA EFEK IDOESIA

OLEH
ARMA RAMADHA
IM 04110331

ASIA BAKIG FIACE AD IFORMATICS ISTITUTE


PERBAAS JAKARTA
PROGRAM STUDI AKUTASI
2008
2

PEGARUH FIACIAL LEVERAGE TERHADAP RETUR O


EQUITY (ROE) DA EARIG PER SHARE (EPS) PADA
PERUSAHAA PERTAMBAGA LOGAM DA MIERAL
LAIYA YAG TERDAFTAR DI BURSA EFEK IDOESIA

Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan
Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh
ARMA RAMADHA
NIM 04110331

ASIA BAKIG FIACE AD IFORMATICS ISTITUTE


PERBAAS JAKARTA
PROGRAM STUDI AKUTASI
2008
3

ASIA BAKIG FIACE AD IFORMATICS ISTITUTE


PERBAAS JAKARTA
PROGRAM STUDI AKUTASI

PERSETUJUA

Skripsi yang berjudul


PEGARUH FIACIAL LEVERAGE TERHADAP RETUR O
EQUITY (ROE) DA EARIG PER SHARE (EPS) PADA
PERUSAHAA PERTAMBAGA LOGAM DA MIERAL
LAIYA YAG TERDAFTAR DI BURSA EFEK IDOESIA

oleh

Nama : Arman Ramadhan


NIM : 04110331
Program Studi : S1 - Akuntansi

telah disetujui untuk diujikan.

Jakarta, September 2008


Mengetahui
Ketua Program Studi Akuntansi, Dosen Pembimbing Skripsi,

Niko Silitonga, SE., M. M. Adi Setiadi, S. E., MBA


4

ASIA BAKIG FIACE AD IFORMATICS ISTITUTE


PERBAAS JAKARTA
PROGRAM STUDI AKUTASI

PEGESAHA

Skripsi yang berjudul


PEGARUH FIACIAL LEVERAGE TERHADAP RETUR O
EQUITY (ROE) DA EARIG PER SHARE (EPS) PADA
PERUSAHAA PERTAMBAGA LOGAM DA MIERAL
LAIYA YAG TERDAFTAR DI BURSA EFEK IDOESIA
telah dipertahankan di hadapan Sidang Tim Penguji Skripsi
pada

Hari :
Tanggal :
Waktu :

oleh

Nama : Arman Ramadhan


NIM : 04110331

DAN YANG BERSANGKUTAN DINYATAKAN LULUS

Tim Penguji Skripsi

Ketua Sidang : ………………………..

Anggota : ……………………..…

Anggota : ……………….……….

Mengetahui
Ketua Program Studi Akuntansi,

Niko Silitonga SE, M. M.


5

ASIA BAKIG FIACE AD IFORMATICS ISTITUTE


PERBAAS JAKARTA
PROGRAM STUDI AKUTASI

PERYATAA

Seluruh isi dan materi skripsi ini menjadi tanggung jawab penyusun sepenuhnya.

Jakarta, September 2008


Penyusun,

Arman Ramadhan
04110331
6

ABSTRAKSI

Arman Ramadhan. 04110331. PEGARUH FIACIAL LEVERAGE TERHADAP


RETUR O EQUITY (ROE) DA EARIG PER SHARE (EPS) PADA
PERUSAHAA PERTAMBAGA LOGAM DA MIERAL LAIYA YAG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK IDOESIA. Skripsi. Jakarta: Asian Banking
Finance and Informatics Institute Perbanas. September 2008.

Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya
pengaruh antara financial leverage dengan ROE dan EPS. Financial leverage adalah
penggunaan sumber dana yang memiliki beban tetap dengan harapan akan memberikan
tambahan keuntungan yang lebih besar daripada beban tetapnya.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang dilakukan pada tiga
perusahaan pertambangan logam dan mineral lainnya. Data yang diperlukan untuk
mendukung penelitian ini adalah laporan keuangan selama tahun 2002-2006 yang
diperoleh dari Pusat Referensi Pasar Modal Bursa Efek Indonesia (PRPM BEI). Variabel
independent (X) dalam penelitian ini adalah financial leverage sedangkan variabel
dependent (Y) adalah ROE dan EPS. Untuk menghitung besarnya pengaruh antara
financial leverage dengan ROE dan EPS digunakan analisis korelasi, regresi linear
sederhana, uji hipotesis, dan determinasi.
Dari hasil perhitungan korelasi atau hubungan antara financial leverage dengan
ROE yang memiliki korelasi sifatnya kuat hanya terdapat pada PT Timah Tbk yang
artinya jika financial leverage meningkat diikuti dengan kenaikan ROE. Untuk PT
Aneka Tambang Tbk memiliki sifat korelasi yang lemah dan positif. Untuk PT
International Nickel Indonesia Tbk memiliki sifat korelasi yang kuat dan negatif artinya
setiap peningkatan financial leverage akan diikuti oleh penurunan ROE.
Untuk perhitungan korelasi atau hubungan financial leverage dengan EPS, yang
memiliki hubungan kuat dan positif terdapat pada PT Timah Tbk. PT Aneka tambang
memiliki hubugan lemah dan negatif sedangkan pada PT International Nickel Indonesia
Tbk, hubungannya kuat dan negatif.
Berdasarkan hasil penelitian hipotesis dengan menggunakan koefisien regresi,
maka dapat diketahui bahwa tidak ada pengaruh financial leverage terhadap ROE dan
EPS pada ketiga perusahaan pertambangan logam dan mineral lainnya tersebut.
Saran yang dapat penulis berikan kepada ketiga perusahaan pertambangan logam
dan mineral lainnya adalah sebaiknya perseroan berhati-hati dalam penggunaan hutang
agar hutang tersebut dapat menghasilkan profit bukan mengakibatkan kerugian.
7

KATA PEGATAR

Assalamualaikum wr wb,

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan

rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan tepat

waktu. Skripsi dengan judul “Pengaruh Financial Leverage Terhadap Return On Equity

(ROE) dan Earning Per Share (EPS) pada Perusahaan Pertambangan Logam dan

Mineral Lainnya yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia” ini diajukan sebagai salah

satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Asian Banking Finance and

Informatics Institute Perbanas, Jakarta.


8

Pada kesempatan ini Penulis menyampaikan rasa hormat, sayang dan terima

kasih kepada kedua orang tua penulis yang tidak henti-hentinya mencurahkan doa, kasih

sayang, kesabaran dan perhatian kepada Penulis, serta selalu memberikan dukungan baik

moril maupun materil kepada Penulis selama ini. Agar nantinya kelak Penulis mampu

memenuhi harapan dan bisa membahagiakan kalian. Amin.

Dalam kesempatan ini, Penulis juga ingin menyampaikan terimakasih kepada :

1. Bapak Dr. Cyrillus Harinowo selaku Rektor ABFII Perbanas Jakarta

2. Bapak Niko Silitonga, S. E., M.M, selaku Ketua Program Studi Akuntansi Perbanas

Jakarta.

3. Bapak Adi Setiadi, S. E., MBA selaku dosen pembimbing skripsi yang telah bersedia

meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya dalam membimbing dan mengarahkan

penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

4. Seluruh staf pengajar ABFII Perbanas, khususnya Dosen S1 Program Studi

Akuntansi yang telah membekali Penulis dengan ilmu pengetahuan yang tidak

ternilai harganya.

5. Iqbal, Mande, Joshua, Yulind, Echa, Erlan, Ida, Kurnia, Harris, Titi, Rio, Danu serta

teman-teman SMA penulis yang telah banyak membantu dan memberikan dorongan

kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Radya (kawan dekat rumah yang sering penulis repotkan, kawan menonton konser

bersama, dan kawan terbaik), Maya (kawan yang paling sering satu kelas dengan

penulis dan sempat membuat ‘dugon’ bersama penulis), Ricky (teman pemberi

motivasi untuk menyelesaikan skripsi), Dila (kawan seperjuangan dalam mengejar


9

kelulusan), Callista, Rahmat, Vina, Dody, Affan, Adji, Nchu, Rendy (thanks for the

beautiful music), Ari (kawan pemberi informasi tentang dosen), Maria, Deborah,

Nana, Deby, Desty, Adila, Asha, dan kawan-kawan seperjuangan yang lainnya dari

kelas G di semester 1 yang telah menemani, membantu, memberikan dorongan

kepada penulis dalam setiap hal yang penulis telah lakukan selama di bangku kuliah,

terutama selama pengerjaan skripsi ini. Tidak lupa pula Jibril, satu-satunya kawan

akrab dari jurusan Manajemen.

7. Indie (friend by accident), Pipit (motivator penulis dalam menyelesaikan skripsi ini),

Dama alias Bnyo, Reni, Devi, Chris, Anda, Avan, Bayu, Tegal, Yanto, Manda,

Wulan, Yuli, Mbak Put, Uwi, Nova, Endang, Deni Jawa, Dinar, Acil, Ragil, Era,

Rifki, Ryan, Nomo, Prio, Ai, Chiqni, Reza, Basdi, dan seluruh kawan-kawan dari

angkatan 2004 jurusan Akuntansi di ABFII Perbanas yang juga telah banyak

memberikan masukan dan dorongan kepada penulis selama di Perbanas dan selama

pengerjaan skripsi ini.

8. (Alm.) Adek Firmansyah Anwar, kakek penulis yang telah mencurahkan kasih

sayangnya kepada penulis selama beliau hidup, dan Elly Firmansyah, nenek penulis

yang telah menjaga dan memberikan kasih sayangnya serta memberikan doa dan

masakan bergizi kepada penulis.

9. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang

tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.


10

Penulis sadar bahwa skripsi ini jauh dari sempurna karena keterbatasan

pengetahuan dan kemampuan penulis dalam penulisan skripsi ini, oleh karena itu dengan

lapang dada penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua

pihak demi kesempurnaan skripsi ini.

Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan

para pembaca pada umumnya. Terima Kasih.

Wassalamualaikum wr wb.

Jakarta, September 2008

Penulis

Arman Ramadhan
11

DAFTAR ISI

ABSTRAKSI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………... i

DAFTAR ISI………………………………………………………………………….. v

DAFTAR TABEL…………………………………………………………………….. ix

DAFTAR ILUSTRASI……………………………………………………………….. xi

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………….. 1

1.1. Latar Belakang Masalah………………………………………………………….. 1

1.2. Identifikasi Masalah……………………………………………………………… 4

1.3. Pembatasan Masalah……………………………………………………………… 5

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian…………………………………………………… 5


12

1.5. Sistematika Penulisan……………………………………………………………. 7


BAB II LANDASAN TEORI………………………………………………………. 8

2.1. Modal………..………………………………………………………………….. 8

2.1.1 Pengertian Modal…………………………………………………………... 8

2.1.2 Sumber Modal……………………………………………………………... 9

2.1.3 Jenis-jenis Modal…………………………………………………………… 10

2.2. Risiko Keuangan…………………………………………………………………. 18

2.3. Leverage…………………………………………………………………………. 18

2.4. Operating Leverage……………………………………………………………… 18

2.5. Financial Leverage…………………………….………………………………… 19

2.6. Return on Equity…………………………….…………………………………… 21

2.7. Earning per Share…………………………….…………………………………… 21

2.8. Pengaruh Financial Leverage terhadap ROE.…………………………………….. 22

2.9. Pengaruh Financial Leverage terhadap EPS.……………………………………… 23

2.10. Kerangka Pemikiran……………………….…………………………………….. 24

2.11. Skema Kerangka Pemikiran……………….…………………………………….. 26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN……………………………………………....27

3.1. Jenis Penelitian……………………………………………………………………. 27

3.2. Populasi dan Sampel………………………………………….…………………… 28

3.3. Jenis Data…………………………………………………………………………. 28

3.4. Teknik Pengumpulan Data………………………………..………………….…… 29

3.5. Variabel Penelitian………………………………………………………………... 29


13

3.6. Teknik Analisis Data……………………………………………………………... 30

3.7. Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap ROE dan EPS………………….. 31

3.8. Definisi Operasional……………………………………………………………..... 36

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN……………. 38

4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian.......................................................................... 38

4.1.1 PT Aneka Tambang Tbk………………………………………….................. 38

4.1.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan……………………………..................... 38

4.1.1.2 Kegiatan Perusahaan…………………………………........................ 39

4.1.1.3 Produk Perusahaan………..……………………………..................... 41

4.1.2 PT International Nickel Indonesia Tbk……….………………….................. 43

4.1.2.1 Sejarah Singkat Perusahaan……………………………..................... 43

4.1.2.2 Kegiatan Perusahaan…………………………………........................ 45

4.1.2.3 Produk Perusahaan………..……………………………..................... 48

4.1.3 PT Timah Tbk…………………………………………................................. 49

4.1.3.1 Sejarah Singkat Perusahaan……………………………..................... 49

4.1.3.2 Kegiatan Perusahaan…………………………………........................ 51

4.1.3.3 Produk Perusahaan………..……………………………..................... 53

4.2. Analisis Data dan Pembahasan………………………………………………….... 54

4.2.1 PT Aneka Tambang Tbk………………………………………….................. 55

4.2.1.1 Analisis Financial Leverage……………………………..................... 55


14

4.2.1.2 Analisis Return on Equity……………………………........................ 56

4.2.1.3 Analisis Earning per Share..……………………………..................... 57

4.2.1.4 Ringkasan Hasil Financial Leverage, Return On Equity,


dan Earning per Share........……………………………..................... 59

4.2.1.5 Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap Return on Equity….. 59

4.2.1.6 Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap Earning per Share…. 63


4.2.2 PT International Nickel Indonesia Tbk……………………………................ 67

4.2.2.1 Analisis Financial Leverage……………………………..................... 67

4.2.2.2 Analisis Return on Equity……………………………........................ 69

4.2.2.3 Analisis Earning per Share..……………………………..................... 70

4.2.2.4 Ringkasan Hasil Financial Leverage, Return On Equity,


dan Earning per Share........……………………………..................... 71

4.2.2.5 Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap Return on Equity….. 72

4.2.2.6 Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap Earning per Share…. 76

4.2.3 PT Timah Tbk………………………………………….................................. 80

4.2.3.1 Analisis Financial Leverage……………………………..................... 80

4.2.3.2 Analisis Return on Equity……………………………........................ 81

4.2.3.3 Analisis Earning per Share..……………………………..................... 82

4.2.3.4 Ringkasan Hasil Financial Leverage, Return On Equity,


dan Earning per Share........……………………………..................... 83

4.2.3.5 Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap Return on Equity….. 84

4.2.3.6 Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap Earning per Share…. 88

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………………………………………………. 92


15

5.1. Kesimpulan……………………………………………………………………….. 92

5.2. Saran………..…………………………………………………………………….. 94

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………. 95

LAMPIRAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


16

DAFTAR TABEL

o. Judul Tabel Halaman

Tabel 1 PT Aneka Tambang Tbk Analisis Financial


Leverage...…...………… 55

Tabel 2 PT Aneka Tambang Tbk Analisis Return on


Equity…...…...………… 56

Tabel 3 PT Aneka Tambang Tbk Analisis Earning per


Share….....…………... 57

Tabel 4 PT Aneka Tambang Tbk Ringkasan Financial Leverage, Return on


Equity, dan Earning per Share
……………………………………....... 59

Tabel 5 PT Aneka Tambang Tbk Pengaruh Financial Leverage terhadap


Return On
Equity……………………………………………………... 59

Tabel 6 PT Aneka Tambang Tbk Pengaruh Financial Leverage terhadap


Earning per Share…………………………………....……………….. 63

Tabel 7 PT International Nickel Indonesia Tbk Analisis Financial


Leverage… 67

Tabel 8 PT International Nickel Indonesia Tbk Analisis Return on


Equity…… 69

Tabel 9 PT International Nickel Indonesia Tbk Analisis Earning per


Share..… 70

Tabel 10 PT International Nickel Indonesia Tbk Ringkasan Financial


Leverage, Return on Equity, dan Earning per Share
……………………………. 71

Tabel 11 PT International Nickel Indonesia Tbk Pengaruh Financial Leverage


terhadap Return On
Equity………………………………………........ 72
17

Tabel 12 PT International Nickel Indonesia Tbk Pengaruh Financial Leverage


terhadap Earning per
Share………………………………………........ 76

Tabel 13 PT Timah Tbk Analisis Financial


Leverage………………………….. 80

Tabel 14 PT Timah Tbk Analisis Return on


Equity……………………………. 81

Tabel 15 PT Timah Tbk Analisis Earning per


Share…………………………… 82

Tabel 16 PT Timah Tbk Ringkasan Financial Leverage, Return on Equity, dan


Earning per Share ……………………………………………………. 83

Tabel 17 PT Timah Tbk Pengaruh Financial Leverage terhadap Return On


Equity………………………………………........................................ 84

Tabel 18 PT Timah Tbk Pengaruh Financial Leverage terhadap Earning per


Share………………………………………......................................... 88
18

DAFTAR ILUSTRASI

Skema Kerangka Pemikiran……………….……………………………………... 26


19

BAB I

PEDAHULUA

1.1 Latar Belakang Masalah

Perkembangan ekonomi saat ini mendorong peningkatan atau pertumbuhan

dunia usaha, yang membuat persaingan semakin ketat bagi perusahaan. Oleh karena itu

perusahaan harus mengembangkan strategi secara berkelanjutan agar mampu membuat

kebijakan dan keputusan yang tepat pada setiap kegiatan perusahaan.

Perusahaan bertujuan untuk memaksimalkan kesejahteraan pemilik

(shareholder) melalui keputusan atau kebijkan investasi, keputusan pendanaan, dan

keputusan dividen yang tercermin dalam harga saham di pasar modal, demikian jika
20

dilihat dari sudut pandang manajemen keuangan. Tujuan ini sering diterjemahkan

sebagai suatu usaha untuk memaksimumkan nilai perusahaan (Almilia dan Silvy: 2006).

Perusahaan akan selalu mencari peluang untuk dapat mengembangkan usahanya

atau bertahan dalam berbagai macam situasi ekonomi. Untuk memperoleh peluang

tersebut perusahan perlu memperhatikan seluruh aspek dalam ekonomi termasuk faktor

internal dan eksternal perusahaan, yaitu kondisi keuangan perusahaan dan kondisi

ekonomi global, sehingga dapat dicapai tujuan perusahaan dengan risiko minimal.

Setiap perusahaan membutuhkan modal untuk menjalankan usahanya. Menurut

Brigham & Houston (2004: 468), terdapat kemungkinan untuk mendanai sebuah

perusahaan sepenuhnya dengan saham biasa. Akan tetapi, kebanyakan perusahaan

mendapatkan bagian yang substansial dari modal melalui utang, dan banyak juga yang

menggunakan saham preferen.

Untuk melakukan pengembalian perjanjian untuk membayar sebuah return tetap

atas penggunaan dana hutang atau saham, perusahaan dapat melakukan kebijakan

leverage. Menurut Mayo (2001:448) dalam Suharli (2005) leverage dibagi menjadi dua

jenis: (a) Operating Leverage (leverage operasi): “Operating leverage is the use of fixed

factors of production (fixed cost) instead of variable factors of production (variable

cost) to produce a level of output”. Leverage operasi timbul pada saat perusahaan

menggunakan biaya tetap pada produksi tanpa memperhatikan jumlah biaya tersebut,

dari pada biaya variabel untuk menghasilkan mutu pada output. (b) Financial leverage

(Leverage keuangan). “Financial leverage is the use of another persons’ or firm’s funds

in return for agreeing to pay a fixed return for the funds the use of debt or preferred
21

stock financing”. Leverage keuangan merupakan penggunaan dana untuk

perusahan/orang lain dalam pengembalian perjanjian untuk membayar sebuah return

tetap atas penggunaan dana hutang atau saham preferen dari keuangan.

Rasio leverage keuangan tertimbang berpengaruh negative dan signifikan

terhadap return on equity atau ROE (Martono: 2002). Hasil ini memberikan bukti

empiris yang berbeda dibandingkan studi (Beard dan Dess: 1979) dan (Mandra: 1995)

karena kedua peneliti gagal membuktikan bahwa rasio leverage keuangan berpengaruh

positif dan signifikan terhadap ROE. (Gale: 1972) membuktikan bahwa leverage

keuangan berpengaruh positif dan signifiikan terhadap ROE.

Sasongko dan Wulandari (2006) berpendapat return on equity (ROE) tidak

berpengaruh terhadap harga saham, artinya ROE tidak dapat digunakan untuk

menentukan nilai perusahaan. Sasongko dan Wulandari (2006) juga mengatakan earning

per share (EPS) berpengaruh terhadap harga saham. Artinya, EPS dapat digunakan

untuk menentukan nilai perusahaan.

Penelitian dari Sasongko dan Wulandari (2006) masih memiliki keterbatasan

dalam periode penelitian karena periode penelitian yang cukup pendek, yaitu hanya dua

tahun (2001 – 2002), sehingga hasil yang diperoleh kemungkinan tidak konsisten

dengan hasil penelitian sebelumnya.

Earning per Share (EPS) dan return on equity (ROE) dari suatu perusahaan akan

dapat mempengaruhi keputusan para calon pembeli saham untuk membeli saham dari

suatu perusahaan atau tidak. Semakin tinggi EPS suatu perusahaan akan semakin

menarik perhatian calon pembeli saham untuk membeli saham tersebut. Begitu juga
22

dengan ROE, semakin besar persentase pengembalian atas modal maka akan semakin

tinggi pula keinginan investor untuk menanamkan modal di suatu perusahaan.

Penelitian mengenai pengaruh financial leverage terhadap return on equity

(ROE) sudah pernah dilakukan oleh Beard dan Dess (1979), Mandra (1995), Gale

(1972), dan Martono (2002). Penelitian dari Beard dan Dess (1979), Mandra (1995), dan

Gale (1972) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara

financial leverage terhadap ROE, sedangkan Martono (2002) menyatakan adanya

hubungan negatif antara financial leverage dengan ROE. Oleh karena itu, penulis ingin

mengulangi penelitian tersebut dengan menambah satu variabel bebas berupa earning

per share (EPS).

Berdasarkan latar belakang yang telah penulis paparkan sebelumnya, penulis

tertarik untuk menulis skripsi dengan judul “PENGARUH FINANCIAL LEVERAGE

TERHADAP RETURN ON EQUITY (ROE) DAN EARNING PER SHARE (EPS)

PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN LOGAM DAN MINERAL LAINNYA

YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA”.

1.2 Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah yang ingin penulis ungkapkan dalam penulisan skripsi ini

adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana tingkat financial leverage pada perusahaan pertambangan logam dan

mineral lainnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2002-2006?
23

2. Bagaimana tingkat ROE dan EPS pada perusahaan pertambangan logam dan mineral

lainnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2002-2006?

3. Bagaimana pengaruh financial leverage terhadap ROE dan EPS pada pertambangan

logam dan mineral lainnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode

2002-2006?

1.3 Pembatasan Masalah

Agar penelitian ini dapat memberikan pemahaman sesuai dengan yang

diharapkan, maka dalam melakukan penelitian ini terdapat beberapa batasan yang

ditetapkan, yaitu:

1. Objek penelitian yang dipilih adalah seluruh perusahaan pertambangan logam dan

mineral lainnya yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dan telah listing sebelum tahun

2002.

2. Penelitian ini dibatasi masalah ada atau tidaknya pengaruh financial leverage

terhadap ROE dan EPS.

3. Data yang dibutuhkan untuk mendukung penelitian ini adalah laporan keuangan

pada seluruh perusahan pertambangan logam dan mineral lainnya selama periode

tahun 2002-2006 yang diperoleh dari Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM) Bursa

Efek Indonesia.

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:


24

1. Untuk mengetahui tingkat financial leverage pada perusahaan pertambangan logam

dan mineral lainnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2002-

2006.

2. Untuk mengetahui tingkat ROE dan EPS pada perusahaan pertambangan logam dan

mineral lainnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2002-2006.

3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh financial leverage terhadap ROE dan

EPS pada perusahaan pertambangan logam dan mineral lainnya yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia selama periode 2002-2006.

Manfaat penelitian ini adalah:

1. Bagi Penulis

Penulis dapat menerapkan ilmu yang telah dipelajari ke dalam dunia usaha yang

riil, yaitu untuk mengetahui pengaruh financial leverage terhadap ROE dan EPS

pada perusahaan pertambangan logam dan mineral lainnya yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia selama periode 2003-2006.

2. Bagi Perusahaan

Penelitian ini dapat dijadikan masukan kebijakan yang dapat ditempuh oleh

perusahaan yang menggunakan financial leverage, dalam memperbaiki dan

meningkatkan kinerja usahanya.

3. Bagi Pembaca

Manfaat bagi pembaca khususnya pemegang saham dapat menganalisa kondisi

financial perusahaan terutama bila perusahaan tersebut menggunakan financial

leverage sebagai penggunaan sumber dana bagi pengembangan perusahaan dan


25

juga untuk mengetahui pengaruh financial leverage terhadap ROE dan EPS pada

perusahaan pertambangan logam dan mineral lainnya yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia selama periode 2002-2006.

1.5 Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN: Menjelaskan latar belakang masalah, identifikasi masalah,

pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan skripsi

ini.

BAB II LANDASAN TEORI: Menjelaskan pengertian modal, sumber dan jenis modal,

risiko, financial leverage, operating leverage, ROE, EPS, pengaruh financial leverage

dengan ROE, dan pengaruh financial leverage dengan EPS.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN: Menjelaskan jenis penelitian, populasi dan

sampel, jenis data, teknik pengumpulan data, teknik analisa data, variabel penelitian, dan

definisi operasional variabel.

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN: Berisi uraian

tentang hasil penelitian serta menganalisis pengaruh financial leverage terhadap ROE

dan EPS dari objek penelitian yang dipilih.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN: Berisi kesimpulan dan dan uraian yang telah

dikemukakan penulis pada bab-bab sebelumnya dan berisikan saran-saran yang dapat

dijadikan masukkan bagi perusahaan sendiri maupun pembaca.


26

BAB II

LADASA TEORI

2.1 Modal

2.1.1 Pengertian Modal

Modal sangat dibutuhkan oleh perusahaan untuk kelangsungan hidup suatu

perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan suatu perusahaan.

Modal sangat menentukan perkembangan dan pertumbuhan usaha perusahaan. Modal

sangat berperan sebagai sumber pendanaan perusahaan yang menggambarakan

perusahaan dalam memenuhi dapat didanai oleh modal sendiri secara keseluruhan atau

didanai dengan modal sendiri dan ditambah dengan modal berasal dari pinjaman.

Definisi modal menurut Warren, Reeve dan Philip (2005:5),


27

“Modal atau ekuitas pemegang saham adalah jumlah total dari dua sumber
utama ekuitas saham, yaitu modal disetor dan laba ditahan.”

Sedangkan definisi ekuitas menurut Mayo (2004:188),

“A variety of debt instrument to tap the funds of investor who purchase debt
securities, there are only two types of stock: preferred stock and common stock.”

Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan dapat

memperoleh dana untuk menjalankan kegiatan usahanya dengan memperoleh dari modal

disetor yang berupa saham biasa, saham preferen, dan laba ditahan yang berasal dari

operasi perusahaan.

2.1.2 Sumber Modal

Untuk memenuhi kebutuhan modal suatu perusahaan dalam membiayai kegiatan

operasionalnya dapat diperoleh dengan mencari sumber pembiayaan. Menurut Riyanto

(2001:209) modal dapat dilihat dari asalnya, sumber modal terdiri:

1. Sumber Intern (Internal Sources)

Adalah modal yang dihasilkan dari dalam perusahaan. Sumber intern dapat

berasal dari laba ditahan dan akumulasi penyusutan. Besarnya laba yang dimasukkan ke

dalam cadangan atau ditahan, tergantung besarnya laba yang diperoleh selama periode

tertentu dan tergantung kepada kebijakan dividen perusahaan tersebut. Sedangkan

akumulasi penyusutan dapat dibentuk dari penyusutan, tiap tahunnya, tergantung metode

penyusutan yang dipakai oleh perusahaan tersebut.

2. Sumber Ekstern (External Sources)


28

Adalah sumber yang berasal dari luar perusahaan atau dana yang diperoleh dari

para kreditur atau pemegang saham yang merupakan bagian dalam perusahaan.

2.1.3 Jenis-jenis Modal

Sumber modal eksternal, terdiri dari dua jenis, yaitu:

1. Modal Asing

Menurut Riyanto (2001:227), “adalah modal berasal dari luar perusahaan yang

sifatnya sementara di dalam perusahaan tersebut.” Modal tersebut merupakan “hutang”

yang pada saatnya harus dibayar kembali. Modal asing atau hurang terbagi atas tiga

golongan, yaitu:

a. Hutang Jangka Pendek (Short-term Debt)

Menurut Harnanto (2003:5), “hutang jangka pendek atau lancar adalah suatu

kewajiban atau hutang yang terjadi dalam kaitannya dengan operasi normal perusahaan.”

Hutang jangka pendek terdiri dari:

1) Hutang Dagang

Menurut Brigham dan Houston (2006:207), “hutang dagang adalah hutang yang

muncul akibat penjualan kredit dan dicatat sebagai piutang oleh pihak penjual dan utang

oleh pihak pembeli.” Hutang dagang adalah salah satu kategori hutang jangka pendek

terbesar, yang mencerminkan kurang lebih 40 persen dari kewajiban ancar di rata-rata

perusahaan nonkeuangan. Hutang dagang adalah sumber pendanaan “spontan”, di dalam

artian bahwa ia terjadi dari transaksi bisnis biasa.

2) Hutang Wesel
29

Hutang wesel merupakan pengakuan hutang atau pernyataan tertulis untuk

membayar sejumlah uang pada tanggal tertentu di kemudian hari. Hutang wesel dicatat

dan disajikan di dalam neraca perusahaan. Hanya hutang wesel yang jatuh tempo dalam

satu tahun atau kurang yang di golongkan sebagai kewajiban jangka pendek.

3) Hutang Jangka Panjang Jatuh Tempo dalam Periode Kini

Hutang jangka panjang jatuh tempo dalam periode kini merupakan bagian dari

hutang jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam tahun sekarang, sedangkan sisanya

tetap dilaporkan sebagai hutang jangka panjang.

b. Hutang Jangka Menengah (Intermediate-term Debt)

Menurut Riyanto (2001:227), “hutang jangka menengah adalah hutang yang

jangka waktunya antara satu sampai sepuluh tahun.” Hutang jangka menengah terdiri

dari:

1) Term Loan

Term loan merupakan kredit usaha dengan umur lebih dari satu tahun dan kurang

dari 10 tahun. Pada umumnya, term loan dibayar kembali dengan angsuran tetap selama

suatu periode tertentu. Term loan biasanya disediakan oleh commercial bank, insurance,

pension funds, lembaga pembiayaan pemerintah, dan supplier perlengkapan. Menurut

Sartono (2001:301), “keuntungan dari term loan adalah tidak segera jatuh tempo dan

peminjam memberikan jaminan pembayaran secara periodik yang mencakup bunga dan

pokok pinjaman.”

2) Leasing
30

Menurut Sartono (2001:304), “leasing adalah suatu kontrak antara pemilik aktiva

yang disebut lessor dengan pihak lain yang memanfaatkan aktiva tersebut untuk jangka

waktu tertentu.” Sedangkan menurut Financial Accounting Standard Board (FASB-13),

“leasing adalah suatu peranjian penyediaan barang-barang modal yang digunakan untuk

suatu jangka waktu tertentu.

c. Hutang Jangka Panjang (Long-term Debt)

Menurut Riyanto (2001:238), “Hutang jangka panjang adalah hutang yang ka

waktunya lebih dari sepuluh tahun.” Sedangkan menurut Skousen dan Stice (2004:658),

“hutang jangka panjang adalah obligasi yang tidak diharapkan untuk dibayar tunai dalam

jangka satu tahun.”

Hutang jangka panjang pada umumnya digunakan untuk membelanjai perluasan

perusahaan karena kebutuhan modal untuk keperluan tersebut diperlukan jumlah yang

besar. Adapun jenis hutang jangka panjang, yaitu:

1) Pinjaman Berjangka

Pinjaman berjangka (long-term) merupakan suatu perjanjian dimana peminjam

setuju untuk melakukan pembayaran bunga dan pembayaran pokok pinjaman pada

tanggal tertentu sesuai dengan perjanjian kepada pihak yang meminjamkan. Pemberian

pinjaman berjangka antara lain dilakukan oleh bank komersial dan perusahaan asuransi.

2) Obligasi

Obligasi adalah instrumen (surat) utang yang berisi janji dari pihak yang

menerbitkan obligasi untuk membayar pemegang obligasi sejumlah nilai pinjaman

beserta bunga pada saat jatuh tempo yang telah ditetapkan. Obligasi termasuk salah satu
31

jenis efek. Namun, berbeda dengan saham, yang kepemilikannya menandakan pemilikan

sebagian dari suatu perusahaan yang menerbitkan saham, obligasi menunjukkan utang

dari penerbitnya. Dengan demikian, pemegang obligasi memiliki hak dan kedudukan

sebagai kreditor dari penerbit obligasi. Obligasi merupakan instrumen utang jangka

panjang. Pada umumnya diterbitkan dengan jangka waktu berkisar antara 5 sampai 10

tahun.

3) Hipotik

Hipotik merupakan pinjaman berjangka, dimana pemberi uang diberi hak hipotik

terhadap suatu barang yang tidak bergerak. Apabila pihak peminjam (debitur) tidak

memenuhi kewajibannya, barang tersebut dapat dijual dan dari hasil penjualan tersebut

dapat digunakan untuk menutupi tagihannya.

Menurut Sartono (2001:328), manfaat yang diperoleh dengan menggunakan

hutang jangka panjang adalah:

a. Bunga yang dibayarkan merupakan pengurang pajak penghasilan.

b. Melalui financial leverge dimungkinkan laba per lembar saham akan meningkat.

Sedangkan kelemahan penggunaan hutang jangka panjang sebagai sumber dana

adalah:

a. Financial risk perusahaan meningkat sebagai akibat meningkatnya leverage.

b. Batasan yang disyaratkan kreditur seringkali menyulitkan manajer.

2. Modal Sendiri
32

Menurut Riyanto (2001:240), “adalah modal yang berasal dari pemilik

perusahaan dan juga tertanam di dalam perusahaan untuk waktu yang tidak terbatas.”

Dengan kata lain, modal sendiri merupakan modal yang dihasilkan atau dibentuk di

dalam perusahaan atau keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Modal sendiri di dalam

suatu perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas terdiri dari:

a. Modal Saham

Saham adalah bukti tanda kepemilikan atas suatu perusahaan. Pemilik saham

akan mendapatkan hak untuk menerima sebagian pendapatan tetap atau dividen dari

perusahaan serta kewajiban menanggung risiko kerugian yang diderita perusahaan.

Orang yang memiliki sahham suatu perusahaan memiliki hak untuk ambil bagian

dalam mengelola perusahaan sesuai dengan hak suara yang dimilikinya. Semakin

banyak persentase saham yang dimiliki, maka semakin besar hak suara yang dimiliki

untuk mengontrol operasional perusahaan.

Saham dapat dibedakan dalam beberapa jenis, yaitu:

1) Saham Biasa (Common Stock)

Menurut Skousen, Stice, dan Stice (2004:734), “saham biasa adalah jenis saham

yang merupakan jenis saham dasar perusahaan, memungkinkan pemegang saham untuk

memiliki suara dan jumlah kepemilikan tertentu dalam perusahaan.”

Saham biasa adalah saham yang menempatkan pemegang sahamnya

(pemiliknya) paling akhir (setelah pemegang saham preferen) dalam pembagian dividen

sesuai dengan keadaan keuntungan yang dipeoleh perusahaan penerbitnya dan hak atas

harta kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut dilikuidasi setelah pemegang


33

saham preferen. Saham biasa ini mempunyai harga yang nilainya ditetapkan oleh

perusahaan yang menerbitkan saham.

Menurut organisasi.org “saham biasa adalah suatu sertifikat atau piagam yang

mempunyai fungsi sebagai bukti pemilikan suatu perusahaan dengan berbagai aspek-

aspek penting bagi perusahaan.”

Menurut Agung Purnawan “saham biasa adalah saham dimana pemegang saham

akan mendapatkan dividen pada akhir tahun pembukuan hanya jika perusahaan

mendapat laba.”

Saham biasa mempunyai beberapa kelebihan, antara lain:

• Mempunyai hak suara.

• Selalu mendapat pembagian laba setiap tahunnya.

• Dapat diperjual belikan.

• Bila ingin menambah modal relatif lebih mudah menjualnya.

Disamping itu, saham biasa juga mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:

• Kurang mendapat prioritas dalam pembagian laba.

• Laba yang diterima tidak dapat diakumulasikan.

Menurut Skousen, Stice, dan Stice (2004:874), dalam saham biasa terdapat

beberapa hak-hak dari para pemegang saham, antara lain:

• Hak memberikan suara dalam pemilihan direksi dan menentukan kebijakan

perusahaan.

• Hak mempertahankan proporsi kepemilikan saham dalam perusahaan melalui

pembelian saham yang baru diterbitkan oleh perusahaan.


34

2) Saham Preferen (Preferred Stock)

Saham preferen adalah saham yang para pemegang sahamnya mempunyai

prioritas terlebih dahulu dalam pembagian atas asset atau kekayaan perusahaan, bila

perusahaan (emiten) dilikuidasi. Pemegang saham ini juga mempunyai pioritas

pembagian dividen dalam jumlah tertentu sebelum dibagikan pada pemegang saham

biasa sesuai dengan kesepakatan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan perusahaan

penerbit.

Menurut Skousen, Stice, dan Stice (2004:876)

“Saham preferen adalah pemegang saham preferen melepaskan berbagai hak kepemilikan
guna mendapatkan beberapa perlindungan yang biasanya dinikmati oleh kreditor.”

Menurut oragnisasi.org “saham preferen adalah saham yang pemiliknya akan

memiliki hak lebih dibanding hak pemegang saham biasa“.

Menurut Agug Purnawan “saham preferen adalah saham yang memiliki prioritas

lebih tinggi dibanding saham biasa dalam pembagian dividen dan asset.”

Dalam kepemilikan saham preferen menurut Skousen, Stice, dan Stice

(2004:876), ada beberapa hak-hak yang dilepas oleh pemegang saham preferen, yaitu:

• Hak suara.

• Hak pembagian keuntungan

Dividen yang diterima jumlahnya tetap, oleh karena itu, apabila kinerja

perusahaan sangat baik, maka pemegang saham tidak mendapatkan keuntungan

apa-apa.

Disamping hak-hak yang dilepas tersebut, menurut Dahlan Siamat (2004:268)

pemegang saham preferen mempunyai beberapa hak istimewa, antara lain:


35

• Memiliki hak paling dahulu memperoleh dividen (hak privileges).

• Hak untuk mempengaruhi manajemen terutama dalam pencalonan pengurus.

• Hak pembayaran maksimum sebesar nilai nominal saham lebih dahulu setelah

kreditur apabila perusahaan dilikuidasi, dan

• Hak klaim terhadap kekayaan perusahaan.

b. Laba Ditahan (Retained Earning)

Laba ditahan merupakan penahanan keuntungan yang mempunyai tujuan, maka

disebut dengan cadangan. Cadangan disini dimaksudkan sebagai cadangan yang

dibentuk dari keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan selama beberapa tahun

berjalan. Sedangkan penahanan keuntungan tersebut belum mempunyai tujuan tertentu,

maka keuntungan tersebut merupakan keuntungan yang ditahan.

Menurut Riyanto (2001:243):

“Laba ditahan adalah keuntungan yang diperoleh suatu perusahaan, dapat


berupa sebagian dibayarkan sebagai dividen dan sebagian ditahan oleh
perusahaan.”

Dengan adanya keuntungan akan memperbesar laba ditahan yang akan berarti

akan memperbesar modal sendiri. Sebaliknya, kalau rugi maka akan memerkecil modal

sendiri. Besarnya laba yang dimasukkan ke dalam laba ditahan ini tergantung pada

besarnya laba yang diperoleh selama periode tertentu. Meskipun keuntungan yang

diperoleh selama periode tertentu besar karena perusahaan mengambil kebijakan bahwa

sebagian besar keuntungan akan jadi dividen, maka laba ditahan akan kecil.
36

2.2 Risiko Keuangan (Financial Risk)

Risiko keuangan menurut Brigham dan Houston (2006:17) adalah “tambahan

risiko yang dibebankan kepada para pemegang saham biasa sebagai hasil dari keputusan

untuk mendapatkan pendanaan melalui utang.” Risiko keuangan diakibatkan oleh

transaksi-transaksi keuangan. Secara konseptual, pemegang saham akan menghadapi

sejumlah risiko yang inheren pada operasi perusahaan. Jika sebuah perusahaan

menggunakan utang, maka hal ini akan mengkonsentrasikan risiko bisnis pada

pemegang saham biasa.

2.3 Leverage

Merupakan penggunaan aset dalam sumber dana oleh perusahaan yang memiliki

biaya tetap (beban bunga) dengan maksud agar meningkatkan keuntungan potensial

pemegang saham. Dengan kata lain, leverage adalah penggunaan dana yang menuntut

peningkatan untuk membayar biaya tetap.

2.4 Operating Leverage

Menurut Brigham dan Houston (2006:12), “operating leverage adalah tingkat

sampai sejauh mana biaya-biaya tetap digunakan di dalam operasi sebuah perusahaan.”

Operating leverage juga dapat diartikan sebagai penggunaan dana dengan biaya tetap

dengan harapan pendapatan yang dihasilkan dari penggunaan dana tersebut dapat

menutup biaya tetap dan biaya variabel.


37

2.5 Financial Leverage

Keputusan pembiayaan mencakup alternatif sumber dana yang akan digunakan

perusahaan dalam menjalankan usahanya. Dari segi struktur pembiayaan, suatu

perusahaan dikatakan menggunakan financial leverage jika perusahaan tersebut

menggunakan pinjaman atau hutang sebagai salah satu sumber pembiayaan selain modal

sendiri. Penggunaan dana tersebut menimbulkan biaya tetap yaitu beban bunga, yang

harus di bayar tanpa memperdulikan tingkat laba perusahaan.

Menurut Brigham dan Houston (2006:17), “financial leverage adalah tingkat

sampai sejauh mana sekuritas dengan laba tetap (utang dan saham preferen) digunakan

dalam struktur modal sebuah perusahaan.”

Menurut Garrison dan Noreen (2001:790), “financial leverage merupakan

pemerolehan aktiva dengan dana yang diperoleh dari kreditur atau pemegang saham

preferen dengan tingkat pengembalian tertentu.”

Sedangkan definisi menurut Riyanto (2001:375), “financial leverage adalah

penggunaan dana dengan beban tetap dengan harapan untuk memperbesar pendapatan

per lembar saham biasa atau earning per share.”

Dari pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang

menggunakan financial leverage berarti perusahaan memperoleh modal atau aktiva

dengan dana yang berasal dari kreditur atau pemegang saham biasa dan preferen. Dana

tersebut dapat berupa hutang yang harus dibayar sebesar pokok pinjaman dan bunganya.

Selain itu, financial leverage merupakan penggunaan dana dengan beban tetap dengan

harapan memperbesar pendapatan per lembar saham biasa atau earning per share (EPS)
38

atau dengan kata lain, financial leverage menguntungkan atau tidak dapat dilihat

pengaruhnya pada laba per lembar saham (earning per share).

Menurut Sartono (2001:263), “financial leverage adalah penggunaan sumber

yang dimiliki beban tetap dengan harapan bahwa akan memberikan tambahan

keuntungan yang lebih besar daripada beban tetapnya sehingga akan meningkatkan

keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham.

Berdasarkan definisi tersebut, maka financial leverage mempunyai alasan untuk

menggunakan dana dengan beban tetap adalah untuk meningkatkan pendapatan yang

tersedia bagi pemegang saham.

Penggunaan financial leverage yang semakin besar membawa dampak positif

bila pendapatan yang diterima dari penggunaan dana tersebut lebih besar daripada

bebannya keuangan yang dikeluarkan. Sedangkan dampak negatifnya penggunaan

financial leverage yang semakin besar akan menyebabkan hutang semakin besar yang

ditanggung perusahaan, yaitu beban tetap atau beban bunganya. Apabila perusahaan

tidak memenuhi kewajibannya yang berupa beban bunganya, maka perusahaan akan

mengalami kesulitan untuk menjalankan kegiatan usahanya.

Financial leverage dapat dihitung dengan rasio hutang (debt ratio) sehingga

financial leverage dapat dirumuskan sebagai berikut:

Financial Leverage = Total Kewajiban

Total Aktiva
39

2.6 Return on Equity

Return on equity (ROE) menurut Garrison dan Noreen (2001:789) adalah,

“membagi earning after tax (EAT) yang tersedia untuk pemegang saham biasa dengan

rata-rata ekuitas yang dimiliki oleh pemegang saham biasa pada tahun tersebut.”

Sedangkan menurut Sundjaja dan Barlian (2002:122), “ROE adalah ukuran

pengembalian yang diperoleh para pemilik (baik pemegang saham biasa dan saham

preferen) atas investasi mereka di perusahaan.”

Menurut Sartono, (2001:124), “Return on equity adalah rasio yang mengukur

kemampuan memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham perusahaan.”

Dengan demikian ROE menunjukkan kemampuan perusahaan dalam

mengalokasikan laba bagi para pemegang saham atas modal yang telah ditanamkan oleh

para pemegang saham tersebut. Rasio ini menunjukkan kemampuan modal pemilik yang

ditanamkan oleh investor untuk menghasilkan laba bersih yang menjadi bagian dari

pemilik. Semakin tinggi rasio ini, semakin tinggi keuntungan para investor karena

semakin efisien modal yang ditanamkannya dalam perusahaan tersebut.

Return on equity (ROE) dapat dirumuskan sebagai berikut:

ROE = EAT

Modal Sendiri

2.7 Earning per Share

Menurut Mayo (2004: 192) “earning per share (EPS) is available to common

stockholders divided by number of common share outstanding.”


40

Menurut Garrison dan Noreen (2001:787), “Earning per share (EPS) adalah

membagi earning after tax (EAT) yang tersedia untuk pemegang saham biasa dengan

jumlah saham biasa yang beredar selama satu tahun.”

Sedangkan menurut Sundjaja dan Barlian (2002:123), “Earning per share (EPS)

adalah jumlah uang yang dihasilkan oleh oleh setiap lembar saham biasa yang dimiliki

oleh pemegang saham.”

Dari definisi diatas, maka earning per share (EPS) menunjukkan kemampuan

perusahaan dalam menghasilkan pendapatan bagi para pemegang saham yang telah

berpartisipasi dalam perusahaan, maka EPS menunjukkan laba per saham yang

diperhatikan oleh para investor. EPS merupakan pendapatan yang akan diterima oleh

para pemegang saham biasa setiap lembar saham biasa yang dimilikinya atas

keikutsertaannya dalam perusahaan. Semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk

mendistribusikan pendapatan kepada pemegang saham, maka hal ini menunjukkan

semakin besar keberhasilan usaha yang dijalankan oleh perusahaan tersebut.

Earning per share dapat dirumuskan sebagai berikut:

EPS = Laba Bersih/EAT

Jumlah Saham Biasa yang Beredar

2.8 Pengaruh Financial Leverage terhadap ROE

Menurut Keown, Scott, Martin, dan Petty (2000: 54) “financial leverage

merupakan pembiayaan sebagian dari asset (harta) perusahaan dengan surat berharga
41

dengan tingkat pengembalian yang nilainya tetap dengan harapan meningkatkan

pendapatan para pemegang saham.”

Perusahaan yang menggunakan financial leverage berharap keuntungan yang

akan diterima dari penggunaan dana kegiatan pembiayaan tersebut lebih besar dari

beban tetap yang akan mereka tanggung dari penggunaan dana tersebut.

Pada kondisi yang bagus atau stabil, penggunaan financial leverage dapat

memberikan pengaruh positif berupa peningkatan ROE. Hal ini dikarenakan tingkat

pengembalian terhadap laba operasi perusahaan lebih besar dari pada beban tetapnya.

Sedangkan penggunaan financial leverage dapat memberikan pengaruh negatif berupa

penurunan ROE, bila hal tersebut digunakan pada kondisi ekonomi yang kurang stabil.

Pengaruh negatif ini disebabkan tingkat pengembalian investasi terhadap laba

perusahaan kecil dan ditambah beban bungan yang harus dibayar, maka penggunaan

financial leverage dapat menimbulkan risiko keuangan perusahaan.

2.9 Pengaruh Financial Leverage terhadap EPS

Penggunaan financial leverage bagi suatu perusahaan diharapkan mampu

meningkatkan earning per share (EPS). Bagi perusahaan yang mampu menanggung

beban bunga dari penggunaan hutang, maka penggunaan financial leverage dinilai dapat

meningkatkan EPS. Sedangkan bagi yang tidak mampu menanggung beban tetapnya,

maka dinilai tidak perlu menggunakan financial leverage.

Menurut Riyanto (2001:375), “penggunaan dana dengan beban tetap itu adalah

dengan harapan untuk memperbesar pendapatan per lembar saham biasa (EPS)”
42

Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa penggunaan financial

leverage dapat meningkatkan dan juga menurunkan besarnya EPS suatu perusahaan.

Semua tergantung bagaimana perusahaan mampu mengelola hutangnya dan mampu

mengatasi risiko yang muncul dari penggunaan hutang tersebut.

2.10 Kerangka Pemikiran

Setiap perusahaan memerlukan modal dalam menjalankan usahanya. Modal bagi

perusahaan bisa didapatkan melalui dua sumber modal, yaitu sumber intern dan sumber

ekstern. Modal terdiri dari modal asing dan modal sendiri. Yang termasuk modal asing

adalah hutang jangka pendek, hutang jangka menengah, dan hutang jangka panjang.

Modal sendiri terdiri dari modal saham dan laba ditahan.

Salah satu cara untuk meningkatkan modal perusahaan adalah dengan

penggunaan financial leverage. Financial leverage merupakan penggunaan hutang atau

tambahan pembiyaan yang mempunyai beban tetap berupa beban bunga dan pokok

pinjaman yang harus dibayar oleh perusahaan. Dengan penggunaan financial leverage

diharapkan perusahaan dapat meningkatkan pendapatannya.

Dengan peningkatan pendapatan yang diperoleh perusahaan dengan

menggunakan financial leverage, maka earning per share (EPS) dan return on equity

(ROE) perusahaan akan dapat meningkat. Dengan meningkatnya ROE dan EPS

perusahaan akan dapat menarik perhatian para investor untuk membeli saham dari

perusahaan tersebut dan hal ini akan sangat menguntungkan bagi perusahaan.
43

Dalam skripsi ini penulis akan membahas mengenai analisis pengaruh financial

leverage terhadap return on equity (ROE) dan earning per share (EPS). Dalam

penelitian ini penulis menggunakan metode analis regresi linear sederhana, analisis

korelasi, pengujian hipotesis, dan analisis determinasi.


44

2.11 Skema Kerangka Pemikiran

Perusahaan

Sumber Modal

Modal Sendiri Modal Asing

Hutang
Laba Saham
Ditahan
Financial
Leverage

Return on Earning
Equity Per Share

Analisis Regresi, Korelasi, Uji Analisis Regresi, Korelasi, Uji


Hipotesis, Koefisien Determinasi Hipotesis, Koefisien Determinasi

Ada atau tidak ada pengaruh Ada atau tidak ada pengaruh
financial leverage dengan return on financial leverage dengan earning
equity per share
45

BAB III

METODOLOGI PEELITIA

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang penulis lakukan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian

kuantitatif. Penelitian ini hanya menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Pusat

Referensi Pasar Modal (PRPM) Bursa Efek Indonesia. Menurut Kuncoro (2001:23),

“Data kuantitatif adalah data yang diukur dalam suatu skala numerik (angka).”

Sedangkan data sekunder menurut Kuncoro (2001:25) “adalah data yang diperoleh

dengan pengumpulan data original oleh pihak lain yang digunakan untuk penelitian.”

Data sekunder yang penulis gunakan dalam penelitian ini berupa laporan keuangan dari
46

perusahaan pertambangan logam dan mineral lainnya yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia selama periode 2002-2006.

Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mencoba menganalisis ada atau tidak

adanya pengauh financial leverage terhadap Return on Equity (ROE) dan Earning per

Share (EPS) pada perusahaan pertambangan logam dan mineral lainnya yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia selama periode 2002-2006.

3.2 Populasi dan Sampel

Populasi yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan

pertambangan logam dan mineral lainnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang

berada di Indonesia dan telah listing sebelum tahun 2002.

Sedangkan sampel yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah tiga

perusahaan dari empat perusahaan pertambangan logam dan mineral lainnya yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang berada di Indonesia.

3.3 Jenis Data

Jenis data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah data sekunder, yang

terdiri dari:

1. Bidang usaha

2. Sejarah perusahaan

3. Laporan keuangan perusahaan yang terdiri dari neraca dan laporan laba rugi
47

3.4 Teknik Pengumpulan Data

1. Studi Lapangan

Merupakan cara untuk mendapatkan data sekunder yang diperlukan untuk

menganalisis objek penelitian. Data sekunder dalam penelitian ini berupa laporan

keuangan yang terdiri dari neraca dan laporan laba rugi dari masing-masing perusahaan

pertambangan logam dan mineral lainnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama

periode tahun 2002-2006 yang diperoleh dari Pusat Referensi Pasar Modal Bursa Efek

Indonesia (PRPM BEI).

2. Studi Kepustakaan

Merupakan pengumpulan data dengan cara membaca buku-buku ilmiah dan

sumber data lainnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi tambahan mengenai

teori dan pendapat para pakar yang akan digunakan dalam menganalisis penelitian ini.

3.5 Variabel Penelitian

Terdapat dua variable dalam penelitian ini, yaitu:

Dimensi Variabel Indikator – Indukator

1. Variabel Bebas

Adalah variabel yang terjadi dan

merupakan pendugaan dari adanya sebab Total Kewajiban (debt)

yang diperkirakan

Financial Leverage X
48

2. Variabel Tidak Bebas

Adalah variabel yang terjadi kemudian EAT

akibat yang diperkirakan atau variabel Equity

yang diduga nilainya. Saham beredar atau outstanding stock

• ROE Y1

• EPS Y2

3.6 Teknik Analisis Data

Metode analisa data yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain:

1. Analisis Financial Leverage

Analisis financial leverage adalah analisis yang dilakukan untuk melihat

besarnya perbandingan antara total hutang dengan total aktiva selama lima tahun daru

tahun 2002 sampai 2006 dari setiap masing-masing perusahaan.

Rumus yang digunakan adalah:

Financial Leverage = Total Kewajiban

Total Aktiva

2. Analisis ROE

Analisis ROE adalah analaisis yang dilakukan untuk mengukur tingkat

pengembalian yang akan diperoleh pemilik dari modal perusahaan selama lima tahun

dari tahun 2002 sampai 2004 dari setiap masing-masing perusahaan.

Rumus yang digunakan adalah:


49

ROE = EAT

Modal Sendiri

3. Analisis EPS

Analisis EPS adalah analisis yang dilakukan untuk menunjukkan jumlah uang

yang dihasilkan dari setiap lembar saham biasa bagi para pemegang saham selama lima

tahun dari tahun 2002 sampai 2004 dari setiap masing-masing perusahaan.

Rumus yang digunakan adalah:

EPS = Laba Bersih/EAT

Jumlah Saham Biasa yang Beredar

3.7 Analisis Pengaruh Financial Leverage Terhadap ROE dan EPS

Dalam penelitian ini penulis dalam menganalisis pengaruh financial leverage

terhadap ROE dan EPS menggunakan analisis korelasi sederhana, analisis regresi linear

sederhana, uji koefisien regresi, pengujian hipotesis, dan analisis determinasi.

1. Analisis Korelasi Sederhana

Analisis korelasi sederhana adalah suatu teknik statistika yang dilakukan untuk

mengukur keeratan hubungan atau korelasi antara dua variabel. Tujuan dari analisis

korelasi sederhana adalah untuk menentukan seberapa erat hubungan antara dua

variabel, yaitu variabel X dan Y. Keeratan antara dua variabel tersebut dinyatakan dalam

bentuk koefisien korelasi yang dilambangkan dengan huruf r.

Menurut Suhardi dan Purwanto (2004:461), rumus yang dapat digunakan adalah:
50

r= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

Dimana:

r = Nilai koefisien korelasi

ΣX = Jumlah pengamatan variabel X

ΣY = Jumlah pengamatan variabel Y

ΣXY = Jumlah hasil perkalian variabel X dan Y

ΣX2 = Jumlah pengkuadratan dari variabel X

ΣY2 = Jumlah pengkuadratan dari variabel Y

(ΣX)2 = Jumlah hasil pengamatan variabel X dikuadratkan

(ΣY)2 = Jumlah hasil pengamatan variabel Y dikuadratkan

n = Jumlah tahun penelitian

r dalam analisis korelasi sederhana dapat diartikan:

a. Bila r = -1, disebut linear sempurna negatif, yang berarti mempunyai hubungan yang

kuat negatif atau korelasi negatif antara variabel X dengan variabel Y.

b. Bila r = +1, disebut linear sempurna positif, yang berarti mempunyai hubungan yang

kuat positif atau korelasi positif antara variabel X dengan variabel Y.

c. Bila mendekati 0, hubungan antara variabel X dengan variabel Y sangat lemah atau

mungkin tidak ada hubungan sama sekali.

2. Analisis Regresi Linier


51

Analisis regresi linier adalah analisis yang dilakukan untuk membangun

persamaan yang menghubungkan antara Y (variabel tidak bebas) dengan X (variabel

bebas) yang bertujuan untuk menentukan nilai ramalan atau dugaan, dimana perubahan

X mempengaruhi Y tetapi tidak sebaliknya. Persamaan yang menyatakan bentuk

hubungan antara variabel X dan variabel Y disebut dengan persamaan regresi.

Menurut Supranto (2001:183), rumus yang dapat digunakan adalah:

Y = a + bX

Untuk mencari nilai a dan b dapat menggunakan rumus:

a = (ΣY) b (ΣX) b= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

n n
n (ΣX2) – (ΣX)2

Dimana:

a = Intercept, yaitu bilangan konstanta yang berarti rata-rata niai variabel Y sama dengan

a jika x = 0.

b = Slope atau kemiringan garis, yaitu perubahan rata-rata pada Y untuk setiap unit pada

variabel X.

Y = Nilai dugaan dari variabel Y berdasarkan nilai X yang diketahui

X = Variabel bebas

3. Uji Koefisien Regresi dan Pengujian Hipotesis


52

Uji koefisien regresi dan pengujian hipotesis adalah pengujian yang dilakukan

untuk menentukan apakah sebiknya menolak atau menerima hioptesis atas penelitian

yang dilakukan oleh penulis. Untuk melakukan pengujian terhadap koefisien regresi

digunakan uji t hitung.

Rumus yang dapat digunakan adalah:

t0 = b Σ x2

Se

Dimana nilai Se besarnya dapat diketahui dengan menggunakan rumus berikut:

Σ y2 – b2 Σ x2
Se =
n-2

Dimana:

t0 = t hitung

Se = Standar error

Pengujian hipotesis B (koefisien regresi), mempunyai langkah untuk sebagai

berikut:

a. Menetapkan Hipotesis

Hipotesis antara financial leverage dan return on equity (ROE)

H01: B1 = 0, tidak terdapat pengaruh antara financial leverage terhadap ROE.

Ha1: B1 ≠ 0, terdapat pengaruh antara financial leverage terhadap ROE.


53

Hipotesis antara financial leverage dan earning per share (EPS)

H02: B2 = 0, tidak terdapat pengaruh antara financial leverage terhadap EPS.

Ha2: B2 ≠ 0, terdapat pengaruh antara financial leverage terhadap EPS.

b. Penetapan tingkat signifikan (α). Besarnya α dalam penelitian ini adalah 0,05.

c. Menetapkan t tabel dimana t tabel tersebut adalah dengan menguji nilai taraf nyata

(α/2) dengan derajat bebas (df) = n – k. Dimana n adalah jumlah tahun dan k adalah

jumlah variabel, yaitu variabel X dan variabel Y.

d. Membuat kesimpulan

• Jika t0 > tα,, atau jika t0 < -tα, maka H0 ditolak (Ha diterima), artinya ada

pengaruh financial leverage terhadap ROE dan EPS.

• Jika –ta ≤ t0 ≤ ta, maka H0 diterima (Ha ditolak), artinya tidak ada

pengaruh financial leverage terhadap ROE dan EPS.

4. Analisis Koefisien Determinasi

Analisis koefisien determinasi adalah analisis yang dilakukan untuk

menunjukkan bagian dari keragaman total variabel Y yang dapat diterangkan atau

diperhitungkan oleh keragaman variabel X. Jadi koefisien determinasi adalah

kemampuan variabel X mempengaruhi variabel Y. Menurut Suhardi dan Purwanto

(2004:465), rumus yang digunakan untuk melakukan analisis koefisien determinasi

adalah:
54

r2 = [n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)2]

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

3.8 Definisi Operasional

Merupakan pernyataan yang berkaitan dengan pengukuran yang ditekankan pada

sifat-sifat konsep yang dapat diamati dan dapat diukur. Variabel-variabel yang

digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Financial Leverage

Merupakan proporsi yang menggambarkan seberapa besar aktiva perusahaan

dibiayai dengan modal pinjaman atau rasio total hutang (debt) terhadap total aktiva

(total asset).

2. Total Hutang (total debt)

Merupakan total kewajiban yang dimiliki perusahaan.

3. Total Aktiva (total asset)

Merupakan total aktiva yang dimiliki perusahaan.

4. Return on Equity (ROE)

Merupakan rasio laba bersih setelah dikurangi pajak dengan tujuan untuk

mengetahui tingkat pengembalian bersih yang tersedia bagi pemegang saham.

5. Earning per Share (EPS)


55

Merupakan laba yang tersedia untuk dibagikan kepada pemegang saham biasa yang

dihitung dengan membagi laba bersih setelah dikurangi pajak dengan jumlah saham

yang beredar.
56

BAB IV

PEYAJIA DATA DA AALISIS HASIL PEELITIA

4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

4.1.1 PT Aneka Tambang Tbk.

4.1.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan

Dengan pengalaman 4 dekade lebih sejak 1968, PT Aneka Tambang Tbk

(Antam) merupakan perusahaan perseroan terbatas Indonesia, yang bergerak di bidang

proses pertambangan seperti, eksplorasi, penambangan, peleburan, dan pengilangan

melalui pemasaran. Produk utama Antam adalah ferronickel, nikel, emas, perak, dan

bauksit.
57

Kepemilikan 35% Antam dipegang oleh publik, yang mayoritas intitusi asing,

yang telah memegang Antam untuk beberapa tahun. Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

dan Austarlia, Antam adalah satu dari sedikit perusahaan Indonesia yang terdaftar di

bursa efek di luar Indonesia yang dimana harus memenuhi standar internasional dari

pemerintahan. Walaupun 65% Antam dipegang oleh pemerintah, Antam tidak

dijalankan oleh birokrat. Tujuan utama Antam adalah menghasilkan nilai dari pemegang

saham. Pada umumnya, pendekatan Antam untuk meningkatkan nilai pemegang saham

adalah dengan merendahkan biaya sementara mengembangkan operasi keuntungan

secara terus menerus.

Antam menawarkan kesempatan jangka panjang kepada investor potensial dan

partner kerjasama. Antam mempunyai kekuatan, fokus, manajemen yang berorientasi ke

masa depan dan orang-orang yang mempunyai kemampuan; produk berkualitas tinggi

dan konsumen setia jangka panjang; catatan yang membuktikan prestasi yang

menguntungkan; dan prospek masa depan yang baik dengan kualitas mineral yang

sangat banyak yang masih perlu dikembangkan.

4.1.1.2 Kegiatan Perusahaan

Antam sedang menjalankan satu tambang nikel dan tiga peleburan ferronickel di

Sulawesi Tenggara, tiga tambang nikel di Maluku Utara, satu tambang emas dan satu

peleburan emas di Jawa Barat, satu tambang bauksit di Riau dan satu penyulingan metal

di Jakarta.
58

Di tahun 2007, sejalan dengan peningkatan produksi dari ferronickel dan bijih

nikel, dan juga dengan harka komoditas yang lebih tinggi, penjualan meningkat sebesar

113% menjadi Rp12,008 milyar dari Rp5,629 milyar di tahun 2006. produksi feronikel

meningkat 28% dan dicatat peningkatan 48% dalam penjualan Antam. Permintaan yang

tinggi akan bijih nikel meningkatkan ekspor sebesar 63% dan berpengaruh 41% dari

penjualan Antam. Dengan peningkatan penjualan nikel, segmen nikel berkontribusi 89%

dari total penjualan Antam di tahun 2007, dibandingkan di tahun 2006 sebesar 84%.

Total penjualan dari segmen nikel berjumlah Rp10,687 milyar, meningkat 126%

dibandingkan pada tahun 2006. Walaupun produksi emas turun ke tingkat yang lebih

rendah, penjualan dari emas meningkat 50% ssejalan dengan aktivitas perdagangan emas

yang dihasilkan oleh perusahaan penyulingan logam, Logam Mulia milik Antam. Seperti

penjualan emas, penjualan dari perak juga meningkat, dan termasuk penghasilan dari

Logam Mulia, pendapatan dari segmen emas meningkat 68% menjadi Rp1,163 milyar.

Segmen nikel dan emas menghasilkan 99% dari total penjualan Antam.

Program eksporasi Antam dikelola dan dilaksanakan oleh Unit Geologi

Perusahaan. Aktivitas eksplorasi meliputi ekplorasi geologikal, investigasi geofisikal,

survey, pengeboran, analisis laboratorium, pemrosesan data, dan mengatur izin yang

dibutuhkan dari investigasi umum untuk tahap pengambilan. Pelatihan yang tinggi dan

dengan pengalaman yang banyak, jasa dari Unit Geologi adalah mencari baik

perusahaan eksplorasi domestik maupun internasional yang ingin meningkatkan

kesempatan mereka dalam membuat penemuan.


59

Antam memiliki banyak izin menambang mencakup lebih dari 1.3 juta hektare di

Indonesia, yang memberikan potensi penting untuk mengembangkan tambang baru dan

memroses fasilitas. Untuk mengembangkan area yang luas, Antam membutuhkan modal

yang besar dan dalam beberapa kasus tehnik serta teknologi terbaru dalam penambangan

dan pemrosesan logam. Selain itu, bagian penting dari strategi Antam untuk menjadi

perusahaan tambang kelas dunia di tahun 2010 ada untuk membuat kerjasama stratejik

dengan perusahaan pertambangan global. Seringkali strategi ini terealisasi melalui

usaha eksplorasi dari Unit Geologi Antam.

Tanggung jawab pribadi untuk penemuan di Pongkor pada tahun 1988, Unit

Geologi juga bekerja bersama dengan mitra kontrak kerja dan mitra joint venture Antam

untuk menciptakan sinergi dan membuat penemuan serta mengembangkan tambang.

4.1.1.3 Produk Perusahaan

Aneka Tambang berarti “bermacam-macam tambang” dan Antam mempunyai

bermacam-macam jenis produk dari tambang di seluruh kepulauan Indonesia.

Keaneka ragaman produk ini membuat Antam dapat bertahan dari harga

komoditas yang berubah-ubah, menyeimbangkan tren yang sedang menurun dari satu

tambang dengan kenaikan yang lainnya. Perbedaan ini tidak menyebabkan tenaga kerja

dan sumber modal menjadi sedikit penyebarannya sebagaimana berjalan sebagai strategi

bisnis unit independent, menguntungkan dari pengalaman menambang 40 tahun.

Produk utama Antam terdiri dari: Nikel, Ferronikel, Emas dan Perak, jasa

penyulingan logam, Bauksit dan pasir besi.


60

1. Bijih Nikel

Bijih nikel merupakan salah satu produk penting Antam. Antam memproduksi

dan mengekspor bijih nikel tingkat tinggi dengan minimal 1.8% kandungan nikel dan

maksimal 25% kandungan besi (saprolite) dan bijih nikel tingkat rendah dengan 1.2%

kandungan nikel minimal (limonite) dan minimal 25% kandungan besi.

Tambang bijih nikel Antam terdapat di Pomalaa, Gee, Tanjung Buli and

Mornopo. Pomalaa, Sulawesi Tenggara, adalah tambang nikel tertua Antam telah hampir

habis. Gee, Tanjung Buli, dan Mornopo berlokasi di Maluku Utara.

2. Ferronikel

Produk terproses yang saat ini diproduksi oleh Antam dalam jalur bisnis nikel

adalah ferronickel, yang mana mengandung sekitar 80% besi dan 20% nikel. Ferronikel

Antam, yang dibedakan menjadi mengandung tingkat karbon tinggi atau rendah, dijual

dalam bentuk batangan atau butiran kepada produsen baja anti karat umumnya di Eropa,

Korea, dan Taiwan. Sekitar 70% nikel dikonsumsi untuk produksi baja anti karat.

3. Emas dan Perak

Produksi emas dan perak utama Antam diambil dari tambang emas Antam di

Pongkor, Jawa Barat, satu-satunya tambang emas bawah tanah Indonesia. Berlokasi di

Taman Nasional Gunung Halimun, sekitar 90km dari Jakarta, luas permukaan area

sekitar 4,058 ha. Indikasi adanya endapan emas di Pongkor ditemukan oleh Unit

Geologi Antam pada tahun 1981, dan produksi dimulai pada Mei 1994 setelah izin

menambang Antam disahkan pada tahun 1992.


61

Tambang Pongkor memiliki tiga vena utama dari emas, yang semuanya telah di

tambang pada tahun 2003: Ciguha, Kubang Cicau, dan Ciurug.

4. Jasa Penyulingan Logam

Penyulingan logam milik Antam, Logam Mulia, menyuling emas dan perak dari

Pongkor menjadi emas mulia dan juga perak mulia sebagai produk sampingan dari

proses penyulingan. Produk emas mulia dan perak mulia dari Logam Mulia sesuai

dengan standar kemurnian internasional yaitu 999.9 untuk emas dan 999.5 untuk perak

dan disertifikati oleh London Bullion Market Association (LBMA).

5. Bauksit dan Pasir Besi

Bauksit, bahan baku untuk produksi Almunium, pertama kali ditemukan tahun

1924 di Kijang, Pulau Bintan, Provinsi Riau, di barat laut Indonesia. Bauksit dari Pulauu

Bintan telah ditambang dan diekspor sejak tahun 1935. Di tahun 1968 Antam

mengakuisisi tambang tersebut. Antam mengekspor Bauksit kepada produsen Almunium

di Jepang dan Cina dengan volume sekitar 1 -1.5 juta wmt per tahun.

Pasir besi bukan merupakan produk penghasil uang untuk Antam. Target

produksi pasir besi Antam telah merosot sejak puncaknya 450.000 ton di tahun 1999

sejalan dengan menurunnya permintaan dari industri semen lokal.

4.1.2 PT International ickel Indonesia Tbk.

4.1.2.1 Sejarah Singkat Perusahaan

Pada tahun 1937, Seorang ahli geologi INCO LIMITED bernama Flat Elves

diundang oleh sebuah perusahaan eksplorasi Belanda untuk melanjutkan studi endapan
62

nikel laterit di Sulawesi yang pernah dilakukan oleh seorang Belanda bernama Kruyt

pada tahun 1901. Ia mengunjungi Sorowako. Mengetahui adanya endapan nikel laterit di

Soroako, pemerintah Indonesia melakukan survey geologi yang komperhensif atas

endapan di pulau Sulawesi tersebut pada tahun 1966. Pada tahun 1967, pemerintah

Indonesia mengundang peusahaan-perusahaan dari seluruh dunia untuk mengajukan

proposal bagi eksplorasi dan pengembangan endapan nikel di Soroako tersebut. PT

International Nickel Indonesia Tbk (Inco) adalah perusahaan yang terpilih untuk

melakukan eksplorasi dan pengembangan endapan nikel di Soroako tersebut.

PT Inco memulai usahanya di Indonesia pada tahun 1968, tepatnya pada tanggal

25 Juli 1968 setelah akta pendirian disahkan. Dalam kurun waktu 1968-1973, PT Inco

telah melakukan eksplorasi dan studi kelayakan di Indonesia. Daerah eksplorasi mula-

mula seluas 6,6 juta hektar yang mencakup beberapa bagian dari tiga provinsi di

Sulawesi, yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.

Contoh bijih dari Sulawesi dalam jumlah besar pertama sebanyak 50 ton dikirim

ke fasilitas riset INCO Kanada di Port Colborne, Ontario pada tahun 1970. Sebuah

pabrik Pereduksi-Pelebur baru dalam skala kecil menunjukkan bahwa bahan dari

Sorowako dapat diolah dengan hasil yang memuaskan.

Pada tahun 1976, 10.000 tenaga kerja Indonesia dan 1.000 tenaga asing

dipekerjakan membangun fasilitas-fasilitas pengolahan nikel dan pembangkit tenaga,

bersama dengan jalan-jalan, perkotaan, pelabuhan, lapangan udara serta sarana dan

prasarana lain yang dibutuhkan. Tanggal 1 April 1978, PT Inco mulai berproduksi

secara komersial di Indonesia.


63

Pada tahun 1988, INCO LIMITED menjual 20 persen dari saham PT Inco yang

dimilikinya kepada Sumitomo Metal Mining Co., Ltd., dari Jepang dan pada 16 Mei

1990 INCO LIMITED menjual 20 persen dari saham PT Inco yang dimilikinya kepada

publik dan dicatatkan pada bursa-bursa efek di Indonesia. INCO LIMITED tetap

memiliki 58,19 persen saham PT Inco.

Sejak tahun 2000, PT Inco telah meningkatkan produksi sebesar 30 persen

menjadi 130,5 juta pon nikel dalam matte, sejalan dengan rencana Perseroan untuk

mencapai kapasitas yang diperluas sebesar 150 juta pon produksi per tahun. PT Inco

menyelesaikan penelitian dan rekayasa atas presipitator elektrostatis Tanur Pengering

No.2 yang dirancang untuk mengurangi keseluruhan emisi debu pabrik lebih dari 40

persen.

Tahun 2003, PT Inco membangun daerah penambangan baru di Petea (sebelah

Timur Danau Matano, berdekatan dengan wilayah timur penambangan bijih (ore body)

PT Inco). Petea memiliki lima juta ton cadangan mineral terbukti dengan kualitas 1,81%

nikel dan 24 juta ton cadangan mineral terduga dengan kualitas 1,78% nikel. Investasi

yang dialokasikan sebesar US$11.8 juta.

PT Inco telah menandatangani perjanjian dengan PT Aneka Tambang (Antam)

untuk bersama-sama membangun daerah kontrak di Sulawesi Tenggara. PT Inco akan

menambang bijih saprolitik di wilayah timur Pomalaa, sementara Antam akan

melakukan proses peleburan (smelting).


64

Saat ini PT Inco telah berhasil memasang teknologi Bag House System di seluruh

tanur listrik yang dimiliki. Alat ini mampu mengurangi emisi debu tanur listrik hingga

berada di bawah ambang batas ketentuan pemerintah.

4.1.2.2 Kegiatan Perusahaan

Endapan nikel laterit di Soroako terbentuk karena proses pelapukan dari batuan

ultramafik yang terbentang dalam suatu singkapan tunggal terbesar di dunia seluas lebih

dari 120 km x 60 km. Sejumlah endapan lainnya tersebar di provinsi Sulawesi Tengah

dan Tenggara.

Operasi penambangan nikel PT Inco di Soroako digolongkan sebagai tambang

terbuka dengan tahapan sebagai berikut:

1. Pemboran

Pada jarak spasi 25 - 50 meter untuk mengambil sample batuan dan tanah guna

mendapatkan gambaran kandungan nikel yang terdapat di wilayah tersebut

2. Pembersihan dan Pengupasan

Pembersihan dan pengupasan lapisan tanah penutup setebal 10 - 20 meter yang

kemudian dibuang di tempat tertentu ataupun dipakai langsung untuk menutupi suatu

wilayah purna tambang.

3. Penggalian

Penggalian lapisan bijih nikel yang berkadar tinggi setebal 5-10 meter dan

dibawa ke stasiun penyaringan.

4. Pemisahan
65

Pemisahan bijih di stasiun penyaringan berdasarkan ukurannya. Produk akhir

hasil penyaringan bijih tipe Timur adalah -6 inci, sedangkan produk akhir bijih tipe

Barat adalah – 4/-2 inci.

5. Penyimpanan

Penyimpanan bijih yang telah disaring di suatu tempat tertentu untuk

pengurangan kadar air secara alami, sebelum dikonsumsi untuk proses pengeringan dan

penyaringan ulang di pabrik.

6. Penghijauan

Penghijauan lahan-lahan purna tambang. Dengan metode open cast mining yang

dilakukan sekarang, dimana material dari daerah bukaan baru, dibawa dan dibuang ke

daerah purna tambang, untuk selanjutnya dilakukan landscaping, pelapisan dengan

lapisan tanah pucuk, pekerjaan terasering dan pengelolaan drainase sebelum proses

penghijauan/penanaman ulang dilakukan.

Pengolahan Nikel

Pabrik pengolahan PT Inco di Soroako mempunyai kapasitas produksi 72.500

ton nikel setahun. Proses pengolahan dilakukan untuk menghasilkan nikel matte yaitu

produk dengan kadar nikel di atas 75 persen.

Tahap-tahap utama dalam proses pengolahan adalah sebagai berikut:

• Pengeringan di Tanur Pengering

Bertujuan untuk menurunkan kadar air bijih laterit yang dipasok dari bagian

Tambang dan memisahkan bijih yang berukuran +25 mm dan – 25 mm.

• Kalsinasi dan Reduksi di Tanur Pereduksi


66

Untuk menghilangkan kandungan air di dalam bijih, mereduksi sebagian nikel

oksida menjadi nikel logam, dan sulfidasi.

• Peleburan di Tanur Listrik

Untuk melebur kalsin hasil kalsinasi/reduksi sehingga terbentuk fasa lelehan

matte dan terak.

• Pengkayaan di Tanur Pemurni

Untuk menaikkan kadar Ni di dalam matte dari sekitar 27 persen menjadi di atas

75 persen.

• Granulasi dan Pengemasan

Untuk mengubah bentuk matte dari logam cair menjadi butiran-butiran yang siap

diekspor setelah dikeringkan dan dikemas.

Nikel dan Lingkungan

PT Inco memiliki dedikasi untuk memajukan usaha pelestarian lingkungan.

Program-program Pemeliharaan Produk dari Inco. Inco's Product Stewardship programs

diarahkan oleh pengetahuan PT Inco tentang industri dan pemahaman zat-zat yang

terkandung dalam nikel, yang mencakup hal-hal berikut:

• Nikel merupakan logam yang terbentuk dari proses alam. Peran PT Inco sebagai

penghasil nikel adalah menambang nikel dari lingkungan alamnya dan

mengolahnya menjadi produk-produk yang bermanfaat bagi para pelanggan

maupun masyarakat.

• Nikel dapat didaur-ulang dan dapat digunakan serta digunakan-kembali tanpa

degradasi atau penghilangan zat-zat intrinsiknya sebagai pertimbangan penting


67

bagi pembangunan yang berkelanjutan. PT Inco merupakan partisipan aktif

dalam upaya pendaur-ulangan nikel.

• Beragamnya produk dan pengolahan yang menggunakan nikel terbukti

memberikan berbagai manfaat penting, baik bagi lingkungan maupun bagi

masyarakat.

• PT Inco memiliki komitmen untuk menghasilkan dan mendistribusikan produk-

produk bermutu dengan cara yang aman dan baik bagi lingkungan.

4.1.2.3 Produk Perusahaan

Produk PT Inco adalah nikel dalam matte, sebuah produk setengah jadi yang

diolah dari bijih laterit di fasilitas pertambangan dan pengolahan terpadu dekat

Sorowako, Sulawesi. Nikel dalam granul matte mengandung 78 persen nikel, 20 persen

sulfur dan 2 persen lagi adalah cobalt.

Seluruh hasil produksi PT Inco dijual dalam mata-uang Dolar Amerika Serikat

berdasarkan kontrak jangka panjang untuk dimurnikan di Jepang, berdasarkan standar

harga London Metal Exchange (LME).

4.1.3 PT Timah Tbk.

4.1.3.1 Sejarah Singkat Perusahaan

PT Timah (Persero) Tbk mewarisi sejarah panjang usaha pertambangan timah di

Indonesia yang sudah berlangsung lebih dari 200 tahun. Sumber daya mineral timah di

Indonesia ditemukan tersebar di daratan dan perairan sekitar pulau-pulau Bangka,

Belitung, Singkep, Karimun dan Kundur.


68

Di masa kolonial, pertambangan timah di Bangka dikelola oleh badan usaha

pemerintah kolonial "Banka Tin Winning Bedrijf" (BTW). Di Belitung dan Singkep

dilakukan oleh perusahaan swasta Belanda, masing-masing Gemeeenschappelijke

Mijnbouw Maatschappij Biliton (GMB) dan NV Singkep Tin Exploitatie Maatschappij

(NV SITEM).

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, tiga perusahaan Belanda tersebut

dinasionalisasikan antara tahun 1953-1958 menjadi tiga Perusahaan Negara yang

terpisah. Pada tahun 1961 dibentuk Badan Pimpinan Umum Perusahaan Tambang-

tambang Timah Negara (BPU PN Tambang Timah) untuk mengkoordinasikan ketiga

perusahaan negara tersebut, pada tahun 1968, ketiga perusahaan negara dan BPU

tersebut digabung menjadi satu perusahaan yaitu Perusahaan Negara (PN) Tambang

Timah.

Dengan diberlakukannya Undang-undang No. 9 Tahun 1969 dan Peraturan

Pemerintah No. 19 Tahun 1969, pada tahun 1976 status PN Tambang Timah dan Proyek

Peleburan Timah Mentok diubah menjadi bentuk Perusahaan Perseroan (Persero) yang

seluruh sahamnya dimiliki oleh Negara Republik Indonesia dan namanya diubah

menjadi PT Tambang Timah (Persero).

Krisis industri timah dunia akibat hancurnya the International Tin Council (ITC)

sejak tahun 1985 memicu perusahaan untuk melakukan perubahan mendasar untuk

mempertahankan kelangsungan hidupnya. Restrukturisasi perusahaan yang dilakukan

dalam kurun 1991-1995, yang meliputi program-program reorganisasi, relokasi Kantor


69

Pusat ke Pangkalpinang, rekonstruksi peralatan pokok dan penunjang produksi, serta

penglepasan aset dan fungsi yang tidak berkaitan dengan usaha pokok perusahaan.

Restrukturisasi perusahaan berhasil memulihkan kesehatan dan daya saing

perusahaan, menjadikan PT Timah (Persero) Tbk layak untuk diprivatisasikan sebagian.

PT Timah (Persero) Tbk melakukan penawaran umum perdana di pasar modal Indonesia

dan internasional, dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta, Bursa Efek

Surabaya, dan the London Stock Exchange pada tanggal 19 Oktober 1995. Sejak itu,

35% saham perusahaan dimiliki oleh masyarakat dalam dan luar negeri, dan 65%

sahamnya masih dimiliki oleh Negara Republik Indonesia.

Untuk memfasilitasi strategi pertumbuhan melalui diversifikasi usaha, pada

tahun 1998 PT Timah (Persero) Tbk melakukan reorganisasi kelompok usaha dengan

memisahkan operasi perusahaan ke dalam 3 (tiga) anak perusahaan, yang secara praktis

menempatkan PT Timah (Persero) Tbk menjadi induk perusahaan (holding company)

dan memperluas cakupan usahanya ke bidang pertambangan, industri, keteknikan, dan

perdagangan.

Saat ini PT Timah (Persero) Tbk dikenal sebagai perusahaan penghasil logam

timah terbesar di dunia dan sedang dalam proses mengembangkan usahanya di luar

penambangan timah dengan tetap berpijak pada kompetensi yang dimiliki dan

dikembangkan.

4.1.3.2 Kegiatan Perusahaan


70

PT Timah (Persero) Tbk merupakan perusahaan tambang timah yang beroperasi

secara terintegrasi, dimulai dari kegiatan eksplorasi, penambangan, peleburan hingga

pemasaran dan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang berkelanjutan.

Eksplorasi

Mulai tahun 1996, perusahaan menggunakan peralatan berteknologi modern

yaitu Global Positioning System (GPS) untuk melengkapi fasilitas kegiatan dan aktifitas

eksplorasi. Hal ini sangat membantu meningkatkan efisiensi dan keakuratan dari

pemetaan dan pengukuran. Data dari tes laboratorium dan GPS disimpan di dalam

komputer untuk memproduksi dan menghasilkan peta geologis yang sangat tinggi

keakuratannya bagi pertambangan yang sistematis dan efisien.

Penambangan Lepas Pantai

Perusahaan mengoperasikan armada kapal keruk untuk operasi produksi di

daerah lepas pantai (off shore). Armada kapal keruk mempunyai kapasitas mangkok

(bucket) mulai dari ukuran 7 cuft sampai dengan 24 cuft. Kapal keruk dapat beroperasi

mulai dari kedalaman 15 meter sampai 50 meter di bawah permukaan laut dan mampu

menggali lebih dari 3,5 juta meter kubik material setiap bulan. Setiap kapal keruk

dioperasikan oleh karyawan yang berjumlah lebih dari 100 karyawan yang waktu

bekerjanya terbagi atas 3 kelompok dalam 24 jam sepanjang tahun.

Hasil produksi bijih timah dari kapal keruk diproses di instalasi pencucian untuk

mendapatkan kadar minimal 30% Sn dan diangkut dengan kapal tongkang untuk dibawa

ke Pusat Pengolahan Bijih Timah (PPBT) untuk dipisahkan dari mineral ikutan lainnya
71

selain bijih timah dan ditingkatkan kadarnya hingga mencapai persyaratan peleburan

yaitu minimal 70-72% Sn.

Penambangan Darat

Produksi penambangan darat yang berada di wilayah Kuasa Pertambangan (KP)

perusahaan dilaksanakan oleh kontraktor swasta yang merupakan mitra usaha dibawah

kendali perusahaan. Hampir 80% dari total produksi perusahaan berasal dari

penambangan di darat mulai dari Tambang Skala Kecil berkapasitas 20 m3/jam sampai

dengan Tambang Besar berkapasitas 100 m3/jam.

Proses penambangan timah alluvial menggunakan pompa semprot (gravel

pump).Setiap kontraktor atau mitra usaha melakukan kegiatan penambangan

berdasarkan perencanaan yang diberikan oleh perusahaan dengan memberikan peta

cadangan yang telah dilakukan pemboran untuk mengetahui kekayaan dari cadangan

tersebut dan mengarahkan agar sesuai dengan pedoman atau prosedur pengelolaan

lingkungan hidup dan keselamatan kerja di lapangan. Hasil produksi dari mitra usaha

dibeli oleh perusahaan sesuai harga yang telah disepakati dalam Surat Perjanjian Kerja

Sama.

Pengolahan

Untuk meningkatkan kadar bijih timah atau konsentrat yang berkadar rendah,

bijih timah tersebut diproses di Pusat Pencucian Bijih Timah (Washing Plant). Melalui

proses tersebut bijih timah dapat ditingkatkan kadar (grade) Sn-nya dari 20 - 30% Sn

menjadi 72% Sn untuk memenuhi persyaratan peleburan. Proses peningkatan kadar bijih

timah yang berasal dari penambangan di laut maupun di darat diperlukan untuk
72

mendapatkan produk akhir berupa logam timah berkualitas dengan kadar Sn yang tinggi

dengan kandungan pengotor (impurities) yang rendah.

Peleburan

Perusahaan mengoperasikan 8 tanur dan 2 single stage furnace (SSF), 7 tanur

berada di daerah Mentok, Bangka dan 1 tanur berada di daerahKundur. Proses peleburan

merupakan proses melebur bijih timah menjadi logam Timah. Untuk mendapatkan

logam timah dengan kualitas yang lebih tinggi, maka harus dilakukan proses pemurnian

terlebih dahulu dengan menggunakan suatu alat pemurnian yang disebut crystallizer.

4.1.3.3 Produk Perusahaan

Produk yang dihasilkan berupa logam timah dalam bentuk balok atau batangan

dengan skala berat antara 16 kg sampai dengan 26 kg per batang. Produk yang

dihasilkan juga dapat dibentuk sesuai permintaan pelanggan (customize) dan mempunyai

merek dagang yang terdaftar di London Metal Exchange (LME)..

Kegiatan pemasaran mencakup kegiatan penjualan dan pendistribusian logam

timah. Pendistribusian logam timah hampir 95% dilaksanakan untuk memenuhi pasar di

luar negeri atau ekspor dan sebesar 5% untuk memenuhi pasar domestik. Negara tujuan

ekspor logam Timah antara lain adalah wilayah Asia Pasifik yang meliputi Jepang,

Korea, Taiwan, Cina dan Singapura, wilayah Eropa meliputi Inggris, Belanda, Perancis,

Spanyol dan Italia serta Amerika dan Kanada.

Pendistribusian dilaksanakan melalui pelabuhan di Singapura untuk ekspor

sedangkan untuk domestik dilaksanakan secara langsung dan melalui gudang di Jakarta.
73

Tipe pembeli logam timah dapat dikelompokkan atas pengguna langsung (end user)

seperti pabrik atau industri solder serta industri pelat timah serta pedagang besar

(trader).

Produk yang dihasilkan mempunyai kualitas yang telah diterima oleh pasar

internasional dan terdaftar dalam pasar bursa logam di London (London Metal

Exchange). Kualitas setiap produk yang dihasilkan oleh perusahaan dijamin dengan

sertifikat produk (weight and analysis certificate) yang berstandar internasional dan

berpedoman kepada standar produk yang ditetapkan oleh London Metal Exchange

(LME) sehingga dapat diperdagangkan sebagai komoditi di pasar bursa logam.

Jenis-jenis produk yang diproduksi oleh PT Tambang Timah dibedakan atas

kualitas dan bentuknya.

A. Berdasarkan kualitas produk dapat dibedakan atas:

• Banka Tin (kadar Sn 99.9%)

• Mentok Tin (kadar Sn 99,85%)

• Banka Low Lead (Banka LL) terdiri atas Banka LL100ppm, Banka LL50ppm,

Banka LL40ppm, Banka LL80ppm, Banka LL200ppm

• Banka Four Nine (kadar Sn 99,99%)

B. Berdasarkan bentuk dapat dibedakan atas:

• Banka Small Ingot

• Banka Tin Shot

• Banka Pyramid

• Banka Anoda
74

4.2 Analisis Data dan Pembahasan

Dalam analisis data dan pembahasan ini akan ditampilkan hasil dari analisis yang

telah penulis lakukan mengenai analisis financial leverage, analisis return on equity

(ROE), analisis earning per share (EPS), analisis pengaruh financial leverage terhadap

return on equtiy, dan analisis pengaruh financial leverage terhadap earning per share

dari PT Aneka Tambang Tbk, PT International Nickel Indonesia Tbk, dan PT Timah

Tbk.

4.2.1 PT Aneka Tambang Tbk.

4.2.1.1 Analisis Financial Leverage

TABEL 1
PT Aneka Tambang Tbk
Analisis Financial Leverage
(Dalam Ribuan Rupiah)
Tahun Jumlah Hutang Jumlah Aktiva Financial Perubahan Perubahan Perubahan
Financial
Leverage Hutang Aktiva Leverage
(%) (%) (%) (%)
2002 Rp 843.862.593 Rp 2.525.025.597 33,42 - - -
2003 Rp 2.543.331.703 Rp 4.326.844.058 58,78 201,39 71,36 75,88
2004 Rp 3.564.425.577 Rp 6.042.567.861 58,99 40,15 39,65 0,36
2005 Rp 3.373.068.629 Rp 6.402.714.128 52,68 -5,37 5,96 -10,7
2006 Rp 3.009.300.105 Rp 7.290.905.515 41,27 -10,78 13,87 -21,66

Dari tabel analisis financial leverage tersebut dapat dilihat bahwa tingkat

financial leverage dari PT Aneka Tambang Tbk sejak tahun 2002 hingga 2006

mengalami perubahan yang fluktuatif. Tingkat financial leverage tertinggi terjadi pada
75

tahun 2004, yaitu sebesar 58,99%. Sedangkan yang terendahnya terjadi pada tahun 2002,

yaitu sebesar 33,42%.

Di tahun 2003 terjadi kenaikan financial leverage yang cukup besar yaitu sebesar

75,88%. Hal ini disebabkan karena adanya peningkatan jumlah hutang yang sangat besar

dari tahun 2002 yang hanya Rp 843.862.593.000 menjadi Rp 2.543.331.703.000 di

tahun 2003 atau sebesar 201,39%.

Di tahun 2004 kenaikan financial leverage hanya sebesar 0,36%. Hal ini

dikarenakan persentase kenaikan jumlah hutang dan jumlah aktiva tidak berbeda terlalu

jauh, yaitu 40,15% untuk jumlah hutang dan 35,65% untuk jumlah aktiva.

Karena penurunan jumlah hutang di tahun 2005 yang menjadi Rp

3.373.068.629.000 atau sebesar 5,37% dari tahun sebelumnya dan meningkatnya jumlah

aktiva menjadi Rp 6.402.714.128.000 atau sebesar 5,96% dari tahun sebelumnya, maka

financial leverage mengalami penurunan sebesar 10,70% menjadi 52,86% di tahun

2005.

Pada tahun 2006, financial leverage kembali mengalami penurunan karena

disebabkan oleh hal yang sama seperti pada tahun 2005, yaitu menurunnya jumlah

hutang dan meningkatnya jumlah aktiva. Hal ini menyebabkan financial leverage turun

sebesar 21,66% menjadi 41,27% dari tahun sebelumnya sebesar 52,68%.

4.2.1.2 Analisis Return On Equity (ROE)

TABEL 2
PT Aneka Tambang Tbk
Analisis Return On Equity
76

(Dalam Ribuan Rupiah)


Tahun Laba Bersih Jumlah Ekuitas Return Perubahan Perubahan Perubahan
On Laba
Equity Bersih Ekuitas
(%) (%) (%) ROE (%)
2002 Rp 177.402.974 Rp 1.675.475.974 10,59 - - -
2003 Rp 226.550.749 Rp 1.783.511.688 12,70 27,70 6,45 19,97
2004 Rp 807.108.655 Rp 2.478.140.709 32,57 256,26 38,95 156,40
2005 Rp 841.935.961 Rp 3.029.642.904 27,79 4,32 22,25 -14,67
2006 Rp 1.552.777.307 Rp 4.281.602.475 36,27 84,43 41,32 30,50

Dari tabel analisis return on equity (ROE) tersebut dapat dilihat bahwa tingkat

ROE dari PT Aneka Tambang Tbk sejak tahun 2002 hingga 2006 mengalami perubahan

yang cukup fluktuatif. Tingkat ROE tertinggi terjadi pada tahun 2006, yaitu sebesar

36,27%. Sedangkan yang terendahnya terjadi pada tahun 2002, yaitu sebesar 10,59%.

Kenaikan ROE tertinggi terjadi pada tahun 2004, yaitu sebesar 32,57% dari

12,70% di tahun 2003 atau mengalami kenaikan sebesar 156,40%. Hal ini diakibatkan

karena terjadinya peningkatan yang sangat tinggi pada laba bersih PT Aneka Tambang

Tbk yaitu sebesar 256,56% dari Rp 226.550.749.000 di tahun 2003 menjadi Rp

841.935.961.000 di tahun 2004.

Setelah kenaikan ROE yang sangat tinggi di tahun 2004, pada tahun 2005 ROE

dari PT Aneka Tambang Tbk mengalami penurunan sebesar 14,67% dari tahun

sebelumnya. Hal ini disebabkan karena terjadinya peningkatan yang lebih besar pada

jumlah ekuitas dibandingkan peningkatan pada laba bersih.

Pada tahun 2006, ROE PT Aneka Tambang Tbk kembali mengalami kenaikan.

Hal ini diakibatkan karena adanya peningkatan yang cukup besar pada laba bersih
77

perseroan, yaitu sebesar 84,43%. Hal tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan

ROE sebesar 30,50% dari tahun 2005.

4.2.1.3 Analisis Earning Per Share (EPS)

TABEL 3
PT Aneka Tambang Tbk
Analisis Earning Per Share
(Dalam Ribuan Rupiah kecuali Earning Per Share)
Tahun Laba Bersih Jumlah Saham Earning Perubahan Perubahan Perubahan
Beredar Laba Bersih Jumlah
(lembar) Per Share (%) Saham (%) EPS (%)
2002 Rp 177.402.974 1.907.691.949 Rp 92,99 - - -
2003 Rp 226.550.749 1.907.691.949 Rp 118,76 27,70 0,00 27,70
2004 Rp 807.108.655 1.907.691.949 Rp 423,08 256,26 0,00 256,26
2005 Rp 841.935.961 1.907.691.949 Rp 441,34 4,32 0,00 4,32
2006 Rp 1.552.777.307 1.907.691.949 Rp 813,95 84,43 0,00 84,43

Dari tabel analisis earning per share (EPS) tersebut dapat dilihat bahwa tingkat

EPS dari PT Aneka Tambang, Tbk sejak tahun 2002 hingga 2006 mengalami

peningkatan dari tahun ke tahunnya. Tingkat EPS tertinggi terjadi pada tahun 2006,

yaitu sebesar Rp 813,95. Sedangkan yang terendahnya terjadi pada tahun 2002, yaitu

sebesar Rp 92,99.

Pada tahun 2003, EPS dari PT Aneka Tambang Tbk mengalami peningkatan dari

Rp 92,99 menjadi Rp 118,76 atau meningkat sebesar 27,70 %. Sementara itu jumlah

saham beredar tindak terjadi perubahan sama sekali.


78

Kenaikan tingkat EPS tertinggi terjadi pada tahun 2004, yaitu sebesar 256,26%

dari Rp118,76 di tahun 2003 menjadi Rp 423,08 di tahun 2004. Kenaikan tersebut

dikarenakan oleh peningkatan laba bersih perseroan pada tahun 2004 sebesar 256,26%.

Peningkatan laba yang tidak terlalu tinggi di tahun 2005 yaitu menjadi Rp

841.935.961.000 dari tahun sebelumnya Rp 807.108.655.000 mengakibatkan terjadinya

peningkatan EPS yang hanya sebesar 4,32%.

Pada tahun 2006 kembali peningkatan EPS yang cukup tinggi, yaitu sebesar

84,43% yang diakibatkan karena naiknya laba bersih perseroan di tahun 2006 menjadi

Rp 1.552.777.307.000 atau sebesar 84,43% dari tahun 2005.

Jumlah saham beredar yang digunakan dalam perhitungan ini adalah jumlah rata-

rata tertimbang saham beredar pada setiap akhir tahun.

4.2.1.4 Ringkasan Hasil Financial Leverage, Return On Equity (ROE), dan Earning

Per Share (EPS)

TABEL 4
PT Aneka Tambang Tbk
Ringkasan Financial Leverage,Return On Equity,
dan Earning Per Share
Tahun Financial Return Earning
Leverage On Equity Per Share
2002 33,42% 10,59% Rp 92,99
2003 58,78% 12,70% Rp 118,76
2004 58,99% 32,57% Rp 423,08
2005 52,68% 27,79% Rp 441,34
2006 41,27% 36,27% Rp 813,95
79

Dari table diatas dapat dilihat bahwa setiap kenaikan atau pun penurunan

financial leverage tidak selalu diikuti dengan kenaikan atau penurunan return on equity

(ROE). Pada saat financial leverage turun di tahun 2006, ROE tetap mengalami

peningkatan di tahun tersebut.

Dapat dilihat juga bahwa setiap penurunan financial leverage juga tidak sealu

diikuti oleh penurunan earning per share (EPS). Hal ini terjadi pada tahun 2005 dan

2006, dimana pada saat financial leverage mengalami penurunan sedangkan EPS tetap

mengalami kenaikan.

4.2.1.5 Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap Return On Equity (ROE)

TABEL 5
PT Aneka Tambang Tbk
Pengaruh Financial Leverage (X)
terhadap Return On Equity (Y)
X Y XY X2 Y2
0,3342 0,1059 0,0354 0,1117 0,0112
0,5878 0,1270 0,0747 0,3455 0,0161
0,5899 0,3257 0,1921 0,3480 0,1061
0,5268 0,2779 0,1464 0,2775 0,0772
0,4127 0,3627 0,1497 0,1703 0,1316
2,4514 1,1992 0,5982 1,2530 0,3422

Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh financial leverage terhadap return

on equity (ROE), penulis menggunakan beberapa teknik analisis statistik, yaitu analisis

korelasi sederhana, analisis regresi linier, uji koefisien regresi dan uji hipotesis, serta

analisis koefisien determinasi.


80

a. Analisis Korelasi Sederhana

r= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r= 5 (0,5982) – (2,4514) (1,1992)

[5 (1,2530) – (2,4514)2] [5 (0,3422) – (1,1992)2]

r= 0,0513

[0,2556] [0,2729]

r = 0,0513

0,2641

r = 0,1942 19,42%

Dari hasil perhitungan di atas dapat diketahui bahwa korelasi (hubungan) antara

financial leverage dengan return on equity (ROE) adalah sebesar 0,1942 atau 19,42%.

Hal ini berarti bahwa hubungan antara financial leverage dengan ROE bersifat

hubungan lemah positif, artinya setiap terjadinya peningkatan financial leverage akan

diikuti dengan peningkatan dari ROE.

b. Analisis Regresi Linier

Y = a + bX

b= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

n (ΣX2) – (ΣX)2

b = 5 (0,5982) – (2,4514) (1,1992)


81

[5 (1,2530) – (2,4514)2]

b = 0,0513
0,5056

b = 0,1015

a = (ΣY) b (ΣX)

n n

a = (1,1992) 0,1015 (2,4514)

5 5

a = 0,1901

Dengan demikian, persamaan regresi liner dapat ditulis

Y = 0,1901 + 0,1015 X

Dari persamaan tersebut a menunjukkan konstanta (α) yang menunjukkan bahwa

jika tidak ada financial leverage, maka tingkat return on equity (ROE) perseroan akan

mencapai 0,1901%. Sedangkan b dalam persamaan tersebut menunjukkan bahwa setiap

adanya peningkatan penggunaan financial leverage sebesar 1%, maka akan

menyebabkan peningkatan ROE sebesar 0,1015%.

c. Uji Koefisien Regresi dan Pengujian Hipotesis

∑ y2 = ∑ Y2 – (∑Y)2 ∑ x2 = ∑ X2 – (∑X)2

n n

∑ y2 = 0,3422 – (1,1992)2 ∑ x2 = 1,2530 – (2,4514)2

5 5

∑ y2 = 0,0546 ∑ x2 = 0,0511
82

Σ y2 – b2 Σ x2
Se =
n–2

0,0546 – (0,1015)2 (0,0511)


Se =
5–2

0,0541
Se =
3

Se = 0,1343

t0 = b √Σ x2 tα = t [α/2 ; (n-2)]

Se

t0 = 0,1015 √0,0511 tα = t [0,05/2 ; (5-2)]

0,1343

t0 = 0,1708 tα = t [0,025 ; 3] = 3,182

Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa hasil dari t0 adalah 0,1708, sedangkan

hasil hasil dari tα adalah 3,182 jadi -ta ≤ t0 ≤ ta,. Hal ini berarti H0 diterima (Ha ditolak),

artinya tidak ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan financial leverage terhadap

return on equity (ROE).

d. Uji Koefisien Determinasi

r2 = [n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)2]

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]


83

r2 = (0,1942)2

r2 = 0,0377 3,77%

Korelasi (r) yang diperoleh adalah 0,1942 atau 19,42%, maka r2 adalah 0,0377

atau 3,77%. Koefisien determinasi (r2) menjelaskan pengaruh financial leverage

terhadap return on equity (ROE) hanya sebesar 3,77% saja. Sedangkan sisanya yang

sebesar 96,23% dipengaruhi oleh faktor lain di luar financial leverage yang tidak diteliti

dalam skripsi ini.

4.2.1.6 Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap Earning Per Share (EPS)

TABEL 6
PT Aneka Tambang Tbk
Pengaruh Financial Leverage (X)
terhadap Earning Per Share (Y)
X Y XY X2 Y2
0,3342 92,99 31,0772 0,1117 8.647,14
0,5878 118,76 69,8071 0,3455 14.103,94
0,5899 423,08 249,5749 0,3480 178.996,69
0,5268 441,34 232,4979 0,2775 194.781,00
0,4127 813,95 335,9172 0,1703 662.514,60
2,4514 1.890,12 918,8743 1,2530 1.059.043,37

Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh financial leverage terhadap

earning per share (EPS), penulis menggunakan beberapa teknik analisis statistik, yaitu

analisis korelasi sederhana, analisis regresi linier, uji koefisien regresi dan uji hipotesis,

serta analisis koefisien determinasi.

a. Analisis Korelasi Sederhana


84

r= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r= 5 (918,8743) – (2,4514) (1.890,12)

[5 (1,2530) – (2,4514)2] [5 (1.059.043,37) – (1890,12)2]

r= -39,0687

[0,2556] [1.722.663,23]

r = -39,0687

663,5606

r = -0,0589 -5,89%

Dari hasil perhitungan di atas dapat diketahui bahwa korelasi (hubungan) antara

financial leverage dengan eaning per share (EPS) adalah sebesar -0,0589 atau -5,89%.

Hal ini berarti bahwa hubungan antara financial leverage dengan EPS bersifat hubungan

lemah negatif, artinya setiap terjadinya peningkatan financial leverage akan

menyebabkan penurunan dari EPS.

b. Analisis Regresi Linier

Y = a + bX

b= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

n (ΣX2) – (ΣX)2

b = 5 (918,8743) – (2,4514) (1.890,12)

[5 (1,2530) – (2,4514)2]
85

b = -39,0687
0,5056

b = -77,2719

a = (ΣY) b (ΣX)

n n

a = (1890,12) -77,2719 (2,4514)

5 5

a = 415,9089

Dengan demikian, persamaan regresi liner dapat ditulis

Y = 415,9089 – 77,2719 X

Dari persamaan tersebut a menunjukkan konstanta (α) yang menunjukkan bahwa

jika tidak ada financial leverage, maka tingkat earning per share (EPS) perseroan akan

mencapai Rp 415,9089. Sedangkan b dalam persamaan tersebut menunjukkan bahwa

setiap adanya penggunaan financial leverage sebesar 1%, maka akan menyebabkan

penurunan EPS sebesar Rp 0,772719.

c. Uji Koefisien Regresi dan Pengujian Hipotesis

∑ y2 = ∑ Y2 – (∑Y)2 ∑ x2 = ∑ X2 – (∑X)2

n n

∑ y2 = 1.059.043,37 – (1.890,12)2 ∑ x2 = 1,2530 – (2,4514)2

5 5

∑ y2 = 344.532,6471 ∑ x2 = 0,0511

Σ y2 – b2 Σ x2
86

Se =
n–2

344.532,6471 – (-77,2719)2 (0,0511)


Se =
5–2

344.227,5317
Se =
3

Se = 338,7366

t0 = b √Σ x2 tα = t [α/2 ; (n-2)]

Se

t0 = -77,2719 √0,0511 tα = t [0,05/2 ; (5-2)]

338,7366

t0 = -0,0516 tα = t [0,025 ; 3] = 3,182

Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa hasil dari t0 adalah -0,0516, sedangkan

hasil hasil dari tα adalah 3,182 jadi -ta ≤ t0 ≤ ta,. Hal ini berarti H0 diterima (Ha ditolak),

artinya tidak ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan financial leverage terhadap

earning per share (EPS).

d. Uji Koefisien Determinasi

r2 = [n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)2]

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r2 = (-0,0589)2

r2 = 0,0035 0,35%
87

Korelasi (r) yang diperoleh adalah -0,0589 atau -5,89%, maka r2 adalah 0,0035

atau 0,35%. Koefisien determinasi (r2) menjelaskan pengaruh financial leverage

terhadap earning per share (EPS) hanya sebesar 0,35% saja. Sedangkan sisanya yang

sebesar 99,65% dipengaruhi oleh faktor lain di luar financial leverage yang tidak diteliti

dalam skripsi ini.

4.2.2 PT International ickel Indonesia Tbk.

Karena PT International Nickel Indonesia Tbk menggunakan mata uang dollar

Amerika Serikat sebagai mata uang di dalam laporan keuangannya, maka penulis

melakukan translasi dari laporan keuangan tersebut ke dalam mata uang rupiah

Indonesia. Kurs yang digunakan adalah kurs penutupan di setiap akhir tahun laporan

keuangan.

Berikut ini adalah kurs akhir tahun yang penulis gunakan dalam analisis untuk

PT International Nickel Indonesia, Tbk:

• Kurs 2002 : Rp 8.940

• Kurs 2003 : Rp 8.465

• Kurs 2004 : Rp 9.290

• Kurs 2005 : Rp 9.830

• Kurs 2006 : Rp 9.020

4.2.2.1 Analisis Financial Leverage

TABEL 7
88

PT Interntional Nickel Indonesia Tbk


Analisis Financial Leverage
(Dalam Ribuan Rupiah)
Tahun Jumlah Hutang Jumlah Aktiva Financial Perubahan Perubahan Perubahan
Financial
Leverage Hutang Aktiva Leverage
(%) (%) (%) (%)
2002 Rp 3.984.791.949 Rp 10.878.487.020 36,63 - - -
2003 Rp 3.670.855.715 Rp 10.958.501.190 33,50 -7,88 0,74 -8,55
2004 Rp 3.981.870.510 Rp 13.967.533.580 28,51 8,47 27,46 -14,90
2005 Rp 3.471.061.470 Rp 16.143.553.420 21,50 -12,83 15,58 -24,58
2006 Rp 3.968.385.080 Rp 19.147.042.640 20,73 14,33 18,60 -3,61

Dari tabel analisis financial leverage tersebut dapat dilihat bahwa tingkat

financial leverage dari PT International Nickel Indonesia Tbk mengalami penurunan

dari tahun ke tahun sejak tahun 2002 hingga 2006. Tingkat financial leverage tertinggi

terjadi pada tahun 2002, yaitu sebesar 36,33%. Sedangkan yang terendahnya terjadi pada

tahun 2006, yaitu sebesar 20,73%.

Di tahun 2003 terjadi penurunan pada jumlah hutang PT International Nickel

Indonesia Tbk dari Rp 3.984.791.949.000 menjadi Rp 3.670.855.715.000 atau sebesar

7,88% sedangkan jumlah aktiva meningkat sebesar 0,74%. Hal ini mengakibatkan

tingkat financial leverage turun sebesar 8,55% menjadi 33,50% dari yang sebelumnya

36,63%.

Di tahun 2004 jumlah hutang mengalami peningkatan sebesar 8,47% akan tetapi

peningkatan dalam jumlah aktiva lebih besar dibandingkan peningkatan jumlah hutang

sebesar 27,46% sehingga financial leverage tetap mengalami penurunan sebesar

14,90%.
89

Terjadi penurunan tingkat financial leverage yang paling besar di tahun 2005,

yaitu sebanyak 24,58%. Hal ini dikarenakan jumlah hutang mengalami penurunan yang

besar, yaitu sebesar 12,83% sedangkan jumlah aktiva mengalami kenaikan yang cukup

besar pula, yaitu sebanyak 15,58%.

Pada tahun 2006, financial leverage kembali mengalami penurunan sebanyak

3,61%. Penurunan ini ada penurunan tingkat financial leverage terkecil, yaitu hanya

sebesar 3,61%. Jumlah hutang di tahun 2006 meningkat sebanyak 14,33% dan jumlah

aktiva juga meningkat sebanyak 18,60% dari yang sebelumnya Rp 16.143.553.420.000

menjadi Rp 19.147.042.640.000 di tahun 2006.

4.2.2.2 Analisis Return On Equity (ROE)

TABEL 8
PT Interntional Nickel Indonesia Tbk
Analisis Return On Equity
(Dalam Ribuan Rupiah)
Tahun Laba Bersih Jumlah Ekuitas Return Perubahan Perubahan Perubahan
On Equity Laba Ekuitas
(%) Bersih (%) (%) ROE (%)
2002 Rp 270.721.080 Rp 6.893.785.980 3,93 - - -
2003 Rp 881.926.025 Rp 7.287.645.475 12,10 225,77 5,71 208,16
2004 Rp 2.462.667.520 Rp 9.985.663.070 24,66 179,24 37,02 103,79
2005 Rp 2.643.483.600 Rp 12.672.491.950 20,86 7,34 26,91 -15,42
2006 Rp 4.630.489.160 Rp 15.178.657.560 30,51 75,17 19,78 46,24

Dari tabel analisis return on equity (ROE) tersebut dapat dilihat bahwa tingkat

ROE dari PT International Nickel Indonesia Tbk sejak tahun 2002 hingga 2006

mengalami perubahan yang cukup fluktuatif. Tingkat ROE tertinggi terjadi pada tahun
90

2006, yaitu sebesar 30,51%. Sedangkan yang terendahnya terjadi pada tahun 2002, yaitu

sebesar 3,93%.

Kenaikan ROE tertinggi terjadi pada tahun 2003, yaitu sebesar 12,10% dari

3,93% di tahun 2002 atau mengalami kenaikan sebesar 208,16%. Hal ini diakibatkan

karena terjadinya peningkatan yang sangat tinggi pada laba bersih PT International

Nickel Indonesia Tbk yaitu sebesar 225,77% dari Rp 270.721.080.000 di tahun 2002

menjadi Rp 881.926.025.000 di tahun 2003.

Di tahun 2004 PT International Nickel Indonesia Tbk kembali mengalami

kenaikan ROE yang tinggi, yaitu sebanyak 103,79%. Hal ini juga disebabkan karena

kembali meningkatnya laba bersih perseroan sebesar 179,24% di tahun 2004.

Pada tahun 2005 ROE PT International Nickel Indonesia Tbk mengalami

penurunan sebanyak 15,42%. Hal ini terjadi karena kenaikan jumlah ekuitas yang lebih

tinggi dibangingkan dengan kenaikan laba bersih.

Tahun 2006 ROE PT International Nickel Indonesia Tbk kembali naik menjadi

30, 51% dari tahun sebelumnya 20,86% atau naik sebesar 46,24%. ROE pada tahun

2006 ini adalah ROE tertinggi sejak tahun 2002 hingga tahun 2006.

4.2.2.3 Analisis Earning Per Share (EPS)

TABEL 9
PT Interntional Nickel Indonesia Tbk
Analisis Earning Per Share
(Dalam Ribuan Rupiah kecuali Earning Per Share)
Tahun Laba Bersih Jumlah Saham Earning Perubahan Perubahan Perubahan
Beredar Laba Jumlah
(lembar) Per Share Bersih Saham EPS (%)
91

(%) (%)

2002 Rp 270.721.080 248.408.468 Rp 1.072,80 - - -


2003 Rp 881.926.025 248.408.468 Rp 3.555,30 225,77 0,00 231,40
2004 Rp 2.462.667.520 993.634.000 Rp 2.508,30 179,24 300,00 -29,45
2005 Rp 2.643.483.600 993.634.000 Rp 2.654,10 7,34 0,00 5,81
2006 Rp 4.630.489.160 993.634.000 Rp 4.690,40 75,17 0,00 76,72

Dari tabel analisis earning per share (EPS) tersebut dapat dilihat bahwa tingkat

EPS dari PT International Nickel Indonesia Tbk sejak tahun 2002 hingga 2006

mengalami perubahan yang cukup berfluktuatif. Tingkat EPS tertinggi terjadi pada tahun

2006, yaitu sebesar Rp 4.690,40. Sedangkan yang terendahnya terjadi pada tahun 2002,

yaitu sebesar Rp 1.072,80.

Pada tahun 2003, EPS dari PT International Nickel Indonesia Tbk mengalami

peningkatan tertinggi, yaitu sebanyak 231,40% dari Rp 1.072,80 menjadi Rp 3.555,30.

Hal ini dikarenakan peningkatan laba bersih perseroan yang mencapai 225,77% di tahun

tersebut.

Pada tahun 2004 terjadi penurunan tingkat EPS sebesar 29,45% karena PT

International Nickel Indonesia Tbk melakukan stock split (pemecahan saham) pada

tahun 2004 sehingga jumlah saham beredar meningkat dari 248.408.468 menjadi

993.634.000 atau sebanyak 300%.

Setelah penurunan EPS di tahun 2004 karena dilakukannya stock split, pada

tahun 2005 EPS PT International Nickel Indonesia Tbk kembali mengalami kenaikan,

yaitu sebanyak 5,81%.


92

Tahun 2006 PT International Nickel Indonesia Tbk mencatat EPS tertinggi sejak

tahun 2002 hingga 2006, yaitu sebesar Rp 4.690,40 atau naik sebanyak 76,72% dari EPS

tahun sebelumnya.

Jumlah saham beredar yang digunakan dalam perhitungan ini adalah jumlah rata-

rata tertimbang saham beredar pada setiap akhir tahun.

4.2.2.4 Ringkasan Hasil Financial Leverage, Return On Equity (ROE), dan Earning

Per Share (EPS)

TABEL 10
PT Interntional Nickel Indonesia Tbk
Ringkasan Financial Leverage,Return On Equity,
dan Earning Per Share
Tahun Financial Return Earning
Leverage On Equity Per Share
2002 36,63% 3,93% Rp 1.072,80
2003 33,50% 12,10% Rp 3.555,30
2004 28,51% 24,66% Rp 2.508,30
2005 21,50% 20,86% Rp 2.654,10
2006 20,73% 30,51% Rp 4.690,40

Dari table diatas dapat dilihat bahwa setiap kenaikan atau pun penurunan

financial leverage tidak selalu diikuti dengan kenaikan atau penurunan return on equity

(ROE). Pada tahun 2003, financial leverage mengalami penurunan akan tetapi ROE

mengalami peningkatan di tahun tersebut. Di tahun 2004 hal yang sama seperti pada

tahun 2003 juga terjadi dimana financial leverage mengalami penurunan akan tetapi
93

ROE mengalami peningkatan. Begitu pula pada saat financial leverage turun di tahun

2006, ROE tetap mengalami peningkatan di tahun tersebut.

Dapat dilihat juga bahwa setiap penurunan financial leverage juga tidak sealu

diikuti oleh penurunan earning per share (EPS). Hal ini terjadi pada tahun 2003, 2005,

dan 2006, dimana pada saat financial leverage mengalami penurunan sedangkan EPS

tetap mengalami kenaikan.

4.2.2.5 Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap Return On Equity (ROE)

TABEL 11
PT Interntional Nickel Indonesia Tbk
Pengaruh Financial Leverage (X)
terhadap Return On Equity (Y)
X Y XY X2 Y2
0,3663 0,0393 0,0144 0,1342 0,0015
0,3350 0,1210 0,0405 0,1122 0,0146
0,2851 0,2466 0,0703 0,0813 0,0608
0,2150 0,2086 0,0448 0,0462 0,0435
0,2073 0,3051 0,0632 0,0430 0,0931
1,4087 0,9206 0,2332 0,4169 0,2135

Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh financial leverage terhadap return

on equity (ROE), penulis menggunakan beberapa teknik analisis statistik, yaitu analisis

korelasi sederhana, analisis regresi linier, uji koefisien regresi dan uji hipotesis, serta

analisis koefisien determinasi.

a. Analisis Korelasi Sederhana

r= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)


94

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r= 5 (0,2332) – (1,4087) (0,9206)

[5 (0,4169) – (1,4087)2] [5 (0,2135) – (0,9206)2]

r= -0,1308

[0,1001] [0,2200]

r = -0,1308

0,1484

r = -0,8814 -88,14%

Dari hasil perhitungan di atas dapat diketahui bahwa korelasi (hubungan) antara

financial leverage dengan return on equity (ROE) adalah sebesar -0,8814 atau -88,14%.

Hal ini berarti bahwa hubungan antara financial leverage dengan ROE bersifat

hubungan kuat negatif, artinya setiap terjadinya peningkatan financial leverage akan

menyebabkan penurunan dari EPS.

b. Analisis Regresi Linier

Y = a + bX

b= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

n (ΣX2) – (ΣX)2

b = 5 (0,2332) – (1,4087) (0,9206)


95

[5 (0,4169) – (1,4087)2]

b = -0,1308
0,3164

b = -0,4134

a = (ΣY) b (ΣX)

n n

a = (0,9206) (-0,4134) (1,4087)

5 5

a = 0,3006

Dengan demikian, persamaan regresi liner dapat ditulis

Y = 0,3006 - 0,4134 X

Dari persamaan tersebut a menunjukkan konstanta (α) yang menunjukkan bahwa

jika tidak ada financial leverage, maka tingkat return on equity (ROE) perseroan akan

mencapai 0,3006%. Sedangkan b dalam persamaan tersebut menunjukkan bahwa setiap

adanya peningkatan penggunaan financial leverage sebesar 1%, maka akan

menyebabkan penurunan ROE sebesar -0,4134%.

c. Uji Koefisien Regresi dan Pengujian Hipotesis

∑ y2 = ∑ Y2 – (∑Y)2 ∑ x2 = ∑ X2 – (∑X)2

n n

∑ y2 = 0,2135 – (0,9206)2 ∑ x2 = 0,4169 – (1,4087)2

5 5

∑ y2 = 0,0440 ∑ x2 = 0,0200
96

Σ y2 – b2 Σ x2
Se =
n–2

0,0440 – (-0,4134)2 (0,0200)


Se =
5–2

0,0406
Se =
3

Se = 0,1163

t0 = b √Σ x2 tα = t [α/2 ; (n-2)]

Se

t0 = -0,4134 √0,0200 tα = t [0,05/2 ; (5-2)]

0,1163

t0 = -0,5030 tα = t [0,025 ; 3] = 3,182

Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa hasil dari t0 adalah -0,5030, sedangkan

hasil hasil dari tα adalah 3,182 jadi -ta ≤ t0 ≤ ta,. Hal ini berarti H0 diterima (Ha ditolak),

artinya tidak ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan financial leverage terhadap

return on equity (ROE).

d. Uji Koefisien Determinasi

r2 = [n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)2]

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r2 = (-0,8814)2

r2 = 0,7769 77,69%
97

Korelasi (r) yang diperoleh adalah 0,8814 atau 88,14%, maka r2 adalah 0,7769

atau 77,69%. Koefisien determinasi (r2) menjelaskan pengaruh financial leverage

terhadap return on equity (ROE) hanya sebesar 77,69% saja. Sedangkan sisanya yang

sebesar 22,31% dipengaruhi oleh faktor lain di luar financial leverage yang tidak diteliti

dalam skripsi ini.

4.2.2.6 Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap Earning Per Share (EPS)

TABEL 12
PT Interntional Nickel Indonesia Tbk
Pengaruh Financial Leverage (X)
terhadap Earning Per Share (Y)
X Y XY X2 Y2
0,3663 1.072,80 392,9666 0,1342 1.150.899,84
0,3350 3.555,30 1.191,0255 0,1122 12.640.158,09
0,2851 2.508,30 715,1163 0,0813 6.291.568,89
0,2150 2.654,10 570,6315 0,0462 7.044.246,81
0,2073 4.690,40 972,3199 0,0430 21.999.852,16
1,4087 14.480,90 3.842,0598 0,4169 49.126.725,79

Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh financial leverage terhadap

earning per share (EPS), penulis menggunakan beberapa teknik analisis statistik, yaitu

analisis korelasi sederhana, analisis regresi linier, uji koefisien regresi dan uji hipotesis,

serta analisis koefisien determinasi.

a. Analisis Korelasi Sederhana

r= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]


98

r= 5 (3.842,0598) – (1,4087) (14.480,90)

[5 (0,4169) – (1,4087)2] [5 (49.126.725,79) – (14.480,90)2]

r= -1.188,9448

[0,1001] [35.937.164,14]

r = -1.188,9448

1.896,6576

r = -0,6269 -62,69%

Dari hasil perhitungan di atas dapat diketahui bahwa korelasi (hubungan) antara

financial leverage dengan eaning per share (EPS) adalah sebesar -0,6269 atau -62,69%.

Hal ini berarti bahwa hubungan antara financial leverage dengan EPS bersifat hubungan

kuat negatif, artinya setiap terjadinya peningkatan financial leverage akan menyebabkan

penurunan dari EPS.

b. Analisis Regresi Linier

Y = a + bX

b= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

n (ΣX2) – (ΣX)2

b = 5 (3.842,0598) – (1,4087) (14.480,90)

[5 (0,4169) – (1,4087)2]

b = -1.188,9448
99

0,3164

b = -3.757,7269

a = (ΣY) b (ΣX)

n n

a = (14.480,90) (-3.757,7269) (1,4087)

5 5

a = 3.954,8810

Dengan demikian, persamaan regresi liner dapat ditulis

Y = 3.954,8810 – 3.757,7269 X

Dari persamaan tersebut a menunjukkan konstanta (α) yang menunjukkan bahwa

jika tidak ada financial leverage, maka tingkat earning per share (EPS) perseroan akan

mencapai Rp 3.954,8810. Sedangkan b dalam persamaan tersebut menunjukkan bahwa

setiap adanya penggunaan financial leverage sebesar 1%, maka akan menyebabkan

penurunan EPS sebesar Rp 37,7577269.

c. Uji Koefisien Regresi dan Pengujian Hipotesis

∑ y2 = ∑ Y2 – (∑Y)2 ∑ x2 = ∑ X2 – (∑X)2

n n

∑ y2 = 49.126.725,79 – (14.480,90)2 ∑ x2 = 0,4169 – (1,4087)2

5 5

∑ y2 = 7.187.432,8280 ∑ x2 = 0,0200

Σ y2 – b2 Σ x2
Se =
100

n–2

7.187.432,8280 – (-3.757,71269)2 (0,0200)


Se =
5–2

6.905.022,5989
Se =
3

Se = 1.517,1270

t0 = b √Σ x2 tα = t [α/2 ; (n-2)]

Se

t0 = -3.757,71269 √0,0200 tα = t [0,05/2 ; (5-2)]

1.517,1270

t0 = -0,3503 tα = t [0,025 ; 3] = 3,182

Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa hasil dari t0 adalah -0,3503, sedangkan

hasil hasil dari tα adalah 3,182 jadi -ta ≤ t0 ≤ ta,. Hal ini berarti H0 diterima (Ha ditolak),

artinya tidak ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan financial leverage terhadap

earning per share (EPS).

d. Uji Koefisien Determinasi

r2 = [n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)2]

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r2 = (-0,6269)2

r2 = 0,3930 39,30%
101

Korelasi (r) yang diperoleh adalah -0,6269 atau -62,69%, maka r2 adalah 0,3930

atau 39,30%. Koefisien determinasi (r2) menjelaskan pengaruh financial leverage

terhadap earning per share (EPS) hanya sebesar 39,30% saja. Sedangkan sisanya yang

sebesar 60,70% dipengaruhi oleh faktor lain di luar financial leverage yang tidak diteliti

dalam skripsi ini.

4.2.3 PT Timah Tbk

4.2.3.1 Analisis Financial Leverage

TABEL 13
PT Timah Tbk
Analisis Financial Leverage
(Dalam Ribuan Rupiah)
Tahun Jumlah Hutang Jumlah Aktiva Financial Perubahan Perubahan Perubahan
Financial
Leverage Hutang Aktiva Leverage
(%) (%) (%) (%)
2002 Rp 452.244.000 Rp 1.940.502.000 23,31 - - -
2003 Rp 581.310.000 Rp 1.974.282.000 29,44 28,54 1,74 26,34
2004 Rp 906.983.000 Rp 2.416.289.000 37,54 56,02 22,39 27,48
2005 Rp 1.213.866.000 Rp 2.748.257.000 44,17 33,84 13,74 17,67
2006 Rp 1.785.322.000 Rp 3.462.222.000 51,57 47,08 25,98 16,75

Dari tabel analisis financial leverage tersebut dapat dilihat bahwa tingkat

financial leverage dari PT Timah Tbk sejak tahun 2002 hingga 2006 mengalami

perubahan kenaikan dari tahun ke tahunnya. Tingkat financial leverage tertinggi terjadi

pada tahun 2006, yaitu sebesar 51,57%. Sedangkan yang terendahnya terjadi pada tahun

2002, yaitu sebesar 23,31%.


102

Di tahun 2003 ada kenaikan financial leverage sebanyak 26,34%. Hal ini

disebabkan karena adanya peningkatan jumlah hutang dari tahun 2002 dari Rp

452.244.000.000 menjadi Rp 1.974.282.000.000 di tahun 2003 atau sebesar 26,34%.

Kenaikan financial leverage tertinggi terjadi di tahun 2004, yaitu sebesar

27,48%. Jumlah hutang meningkat cukup besar di tahun 2004 yaitu sebanyak 56,02%.

Begitu pula dengan jumlah aktiva yang meningkat dari Rp 1.974.282.000.000 menjadi

Rp 2.416.289.000.000 atau sebesar 22,39%.

Di tahun 2005 financial leverage mengalami kenaikan sebanyak 17,67%. Begitu

pula di tahun 2006 financial leveragei kembali mengalami kenaikan yang sedikit lebih

kecil dari kenaikan di tahun 2005, yaitu sebanyak 16,75%.

4.2.3.2 Analisis Return On Equity (ROE)

TABEL 14
PT Timah Tbk
Analisis Return On Equity
(Dalam Ribuan Rupiah)
Tahun Laba Bersih Jumlah Ekuitas Return Perubahan Perubahan Perubahan
On
Equity Laba Ekuitas
(%) Bersih (%) (%) ROE (%)
2002 Rp 11.278.000 Rp 1.488.252.000 0,76 - - -
2003 Rp 76.372.000 Rp 1.392.565.000 5,48 577,18 -6,43 623,71
2004 Rp 177.907.000 Rp 1.509.256.000 11,79 132,95 8,38 114,94
2005 Rp 107.499.000 Rp 1.534.033.000 7,01 -39,58 1,64 -40,55
2006 Rp 208.147.000 Rp 1.676.629.000 12,41 93,63 9,30 77,16

Dari tabel analisis return on equity (ROE) tersebut dapat dilihat bahwa tingkat

ROE dari PT Timah Tbk sejak tahun 2002 hingga 2006 mengalami perubahan yang
103

cukup fluktuatif. Tingkat ROE tertinggi terjadi pada tahun 2006, yaitu sebesar 12,41%.

Sedangkan yang terendahnya terjadi pada tahun 2002, yaitu sebesar 0,76%.

Kenaikan ROE tertinggi terjadi pada tahun 2003, yaitu sebesar 623,71% dari

0,76% di tahun 2002 menjadi sebesar 5,48%. Hal ini diakibatkan karena terjadinya

peningkatan yang sangat tinggi pada laba bersih PT Timah Tbk yaitu sebesar 577,18%

dari Rp 11.278.000.000 di tahun 2002 menjadi Rp 76.372.000.000 di tahun 2003 dan

juga turunnya jumlah aktiva sebesar 6,43%.

Setelah kenaikan ROE yang sangat tinggi di tahun 2003, pada tahun 2004 ROE

dari PT Timah Tbk kembali mengalami kenaikan yang besar, yaitu sebesar 114,94% dari

tahun sebelumnya.

Setelah dua kali mengalami kenaikan yang tinggi, pada tahun 2005 ROE PT

Timah Tbk kembali mengalami penurunan. Hal ini dikarenan adanya penurunan yang

pada laba bersih perseroan, yaitu sebesar 39,58%. Hal tersebut menyebabkan terjadinya

penurunan ROE sebesar 40,55% dari tahun 2004.

ROE PT Timah Tbk kembali naik di tahun 2006 sebesar 77,16% dari tahun

sebelumnya. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan jumlah hutang yang jauh lebih

tinggi dibandingkan dengan peningkatan jumlah aktiva.

4.2.3.3 Analisis Earning Per Share (EPS)

TABEL 15
PT Timah Tbk
Analisis Earning Per Share
(Dalam Ribuan Rupiah kecuali Earning Per Share)
Tahun Laba Bersih Jumlah Saham Earning Perubahan Perubahan Perubahan
104

Laba Jumlah
Beredar Bersih Saham
(lembar) Per Share (%) (%) EPS (%)
2002 Rp 11.278.000 503.301.999 Rp 22 - - -
2003 Rp 76.372.000 503.301.999 Rp 152 577,18 0,00 577,18
2004 Rp 177.907.000 503.301.999 Rp 353 132,95 0,00 132,95
2005 Rp 107.499.000 503.301.999 Rp 214 -39,58 0,00 -39,58
2006 Rp 208.147.000 503.301.999 Rp 414 93,63 0,00 93,83

Dari tabel analisis earning per share (EPS) tersebut dapat dilihat bahwa tingkat

EPS dari PT Timah Tbk sejak tahun 2002 hingga 2006 mengalami perubahan yang

cukup berfluktuatif. Tingkat EPS tertinggi terjadi pada tahun 2006, yaitu sebesar Rp

414. Sedangkan yang terendahnya terjadi pada tahun 2002, yaitu sebesar Rp 22.

Pada tahun 2003, EPS dari PT Timah Tbk mengalami peningkatan dari Rp 22

menjadi Rp 152 atau meningkat sebesar 577,18 %. Kenaikan tersebut adalah yang

tertinggi selama tahun 2002 hingga tahun 2006. Kenaikan tersebut dikarenakan oleh

peningkatan laba bersih perseroan pada tahun 2003 sebesar 577,18%.

Pada tahun 2004, EPS PT Timah, Tbk kembali mengalami kenaikan yang

besar,yaitu sebesar 132,95% dari Rp 152 di tahun 2003 menjadi Rp 353 di tahun 2004.

Terjadi penurunan EPS di tahun 2005, yaitu menjadi Rp 214 dari tahun

sebelumnya Rp 353. Penyebab penurunan ini adalah karena turunnya laba bersih PT

Timah Tbk sebesar 39,58%.

Pada tahun 2006 kembali peningkatan EPS yang cukup tinggi, yaitu sebesar

93,83% yang diakibatkan karena naiknya laba bersih perseroan di tahun 2006 menjadi

Rp 208.147.000.000 atau sebesar 93,83% dari tahun 2005.


105

Jumlah saham beredar yang digunakan dalam perhitungan ini adalah jumlah rata-

rata tertimbang saham beredar pada setiap akhir tahun.

4.2.1.4 Ringkasan Hasil Financial Leverage, Return On Equity (ROE), dan Earning

Per Share (EPS)

TABEL 16
PT Timah Tbk
Ringkasan Financial Leverage,Return On Equity,
dan Earning Per Share
Tahun Financial Return Earning
Leverage On Equity Per Share
2002 23,31% 0,76% Rp 22,00
2003 29,44% 5,48% Rp 152,00
2004 37,54% 11,79% Rp 353,00
2005 44,17% 7,01% Rp 214,00
2006 51,57% 12,41% Rp 414,00

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa setiap kenaikan atau pun penurunan

financial leverage tidak selalu diikuti dengan kenaikan atau penurunan return on equity

(ROE). Pada saat financial leverage naik di tahun 2005, ROE tetap mengalami

pennurunn di tahun tersebut.

Dapat dilihat juga bahwa setiap peningkatan financial leverage juga tidak selalu

diikuti oleh penurunan earning per share (EPS). Hal ini terjadi pada tahun 2005, dimana

pada saat financial leverage mengalami peningkatan sedangkan EPS mengalami

penurunan.
106

4.2.1.4 Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap Return On Equity (ROE)

TABEL 17
PT Timah Tbk
Pengaruh Financial Leverage (X)
terhadap Return On Equity (Y)
X Y XY X2 Y2
0,2331 0,0076 0,0018 0,0543 0,000057
0,2944 0,0548 0,0161 0,0867 0,0030
0,3754 0,1179 0,0443 0,1409 0,0139
0,4417 0,0701 0,0310 0,1951 0,0049
0,5157 0,1241 0,0640 0,2659 0,0154
1,8603 0,3745 0,1572 0,7429 0,0373

Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh financial leverage terhadap return

on equity (ROE), penulis menggunakan beberapa teknik analisis statistik, yaitu analisis

korelasi sederhana, analisis regresi linier, uji koefisien regresi dan uji hipotesis, serta

analisis koefisien determinasi.

a. Analisis Korelasi Sederhana

r= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r= 5 (0,1572) – (1,8603) (0,3745)

[5 (0,7429) – (1,8603)2] [5 (0,0373) – (0,3745)2]

r= 0,0893

[0,2538] [0,0462]

r = 0,0893
107

0,1083

r = 0,8246 82,46%

Dari hasil perhitungan di atas dapat diketahui bahwa korelasi (hubungan) antara

financial leverage dengan return on equity (ROE) adalah sebesar 0,8246 atau 82,46%.

Hal ini berarti bahwa hubungan antara financial leverage dengan ROE bersifat

hubungan kuat positif, artinya setiap terjadinya peningkatan financial leverage akan

diikuti dengan peningkatan dari ROE.

b. Analisis Regresi Linier

Y = a + bX

b= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

n (ΣX2) – (ΣX)2

b = 5 (0,1572) – (1,8603) (0,3745)

[5 (0,7429) – (1,8603)2]

b = 0,0893
0,5038

b = 0,1772

a = (ΣY) b (ΣX)

n n

a = (0,3745) 0,1772 (1,8603)

5 5
108

a = 0,0090

Dengan demikian, persamaan regresi liner dapat ditulis

Y = 0,0090 + 0,1772 X

Dari persamaan tersebut a menunjukkan konstanta (α) yang menunjukkan bahwa

jika tidak ada financial leverage, maka tingkat return on equity (ROE) perseroan akan

mencapai 0,1772%. Sedangkan b dalam persamaan tersebut menunjukkan bahwa setiap

adanya peningkatan penggunaan financial leverage sebesar 1%, maka akan

menyebabkan peningkatan ROE sebesar 0,0090%.

c. Uji Koefisien Regresi dan Pengujian Hipotesis

∑ y2 = ∑ Y2 – (∑Y)2 ∑ x2 = ∑ X2 – (∑X)2

n n

∑ y2 = 0,0373 – (0,3745)2 ∑ x2 = 0,7429 – (1,8603)2

5 5

∑ y2 = 0,0093 ∑ x2 = 0,0508

Σ y2 – b2 Σ x2
Se =
n–2

0,0093 – (0,1772)2 (0,0508)


Se =
5–2

0,0077
Se =
3

Se = 0,0507
109

t0 = b √Σ x2 tα = t [α/2 ; (n-2)]

Se

t0 = 0,1772 √0,0508 tα = t [0,05/2 ; (5-2)]

0,0507

t0 = 0,7877 tα = t [0,025 ; 3] = 3,182

Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa hasil dari t0 adalah 0,7877, sedangkan

hasil hasil dari tα adalah 3,182 jadi -ta ≤ t0 ≤ ta. Hal ini berarti H0 diterima (Ha ditolak),

artinya tidak ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan financial leverage terhadap

return on equity (ROE).

d. Uji Koefisien Determinasi

r2 = [n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)2]

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r2 = (0,8246)2

r2 = 0,6800 68%

Korelasi (r) yang diperoleh adalah 0,8246 atau 82,46%, maka r2 adalah 0,6800

atau 68%. Koefisien determinasi (r2) menjelaskan pengaruh financial leverage terhadap

return on equity (ROE) hanya sebesar 68% saja. Sedangkan sisanya yang sebesar 32%

dipengaruhi oleh faktor lain di luar financial leverage yang tidak diteliti dalam skripsi

ini.

4.2.1.4 Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap Earning Per Share (EPS)
110

TABEL 18
PT Timah Tbk
Pengaruh Financial Leverage (X)
terhadap Earning Per Share (Y)
X Y XY X2 Y2
0,2331 22,00 5,1282 0,0543 484,00
0,2944 152,00 44,7488 0,0867 23.104,00
0,3754 353,00 132,5162 0,1409 124.609,00
0,4417 214,00 94,5238 0,1951 45.796,00
0,5157 414,00 213,4998 0,2659 171.396,00
1,8603 1.155,00 490,4168 0,7429 365.389,00

Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh financial leverage terhadap

earning per share (EPS), penulis menggunakan beberapa teknik analisis statistik, yaitu

analisis korelasi sederhana, analisis regresi linier, uji koefisien regresi dan uji hipotesis,

serta analisis koefisien determinasi.

a. Analisis Korelasi Sederhana

r= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r= 5 (490,4168) – (1,8603) (1.155)

[5 (0,7429) – (1,8603)2] [5 (365.389) – (1.155)2]

r= 303,4375

[0,2538] [492.920]

r = 303,4375
111

353,6992

r = 0,8579 85,79%

Dari hasil perhitungan di atas dapat diketahui bahwa korelasi (hubungan) antara

financial leverage dengan eaning per share (EPS) adalah sebesar 0,8579 atau 85,79%.

Hal ini berarti bahwa hubungan antara financial leverage dengan EPS bersifat hubungan

kuat positif, artinya setiap terjadinya peningkatan financial leverage akan menyebabkan

peningkatan dari EPS.

b. Analisis Regresi Linier

Y = a + bX

b= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

n (ΣX2) – (ΣX)2

b = 5 (490,4168) – (1,8603) (1.155)

[5 (0,7429) – (1,8603)2]

b = 303,4375
0,5038

b = 602,2975

a = (ΣY) b (ΣX)

n n

a = (1.155) 602,2975 (1,8603)

5 5
112

a = 6,9092

Dengan demikian, persamaan regresi liner dapat ditulis

Y = 6,9092 + 602,2975 X

Dari persamaan tersebut a menunjukkan konstanta (α) yang menunjukkan bahwa

jika tidak ada financial leverage, maka tingkat earning per share (EPS) perseroan akan

mencapai Rp 6,9092. Sedangkan b dalam persamaan tersebut menunjukkan bahwa

setiap adanya penggunaan financial leverage sebesar 1%, maka akan menyebabkan

penurunan EPS sebesar Rp 6,022975.

c. Uji Koefisien Regresi dan Pengujian Hipotesis

∑ y2 = ∑ Y2 – (∑Y)2 ∑ x2 = ∑ X2 – (∑X)2

n n

∑ y2 = 365.389 – (1.155)2 ∑ x2 = 0, 7429 - (1,8603)2

5 5

∑ y2 = 98.584 ∑ x2 = 0,0508

Σ y2 – b2 Σ x2
Se =
n–2

98.584 – (602,2975)2 (0,0508)


Se =
5–2

80.155,6763
Se =
3

Se = 163,4581
113

t0 = b √Σ x2 tα = t [α/2 ; (n-2)]

Se

t0 = 602,2975 √0,0508 tα = t [0,05/2 ; (5-2)]

163,4581

t0 = 0,8305 tα = t [0,025 ; 3] = 3,182

Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa hasil dari t0 adalah 0,8305, sedangkan

hasil hasil dari tα adalah 3,182 jadi -ta ≤ t0 ≤ ta,. Hal ini berarti H0 diterima (Ha ditolak),

artinya tidak ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan financial leverage terhadap

earning per share (EPS).

d. Uji Koefisien Determinasi

r2 = [n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)2]

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r2 = (0,8579)2

r2 = 0,7360 73,60%

Korelasi (r) yang diperoleh adalah 0,8579 atau 85,79%, maka r2 adalah 0,7360

atau 73,60%. Koefisien determinasi (r2) menjelaskan pengaruh financial leverage

terhadap earning per share (EPS) hanya sebesar 73,60% saja. Sedangkan sisanya yang

sebesar 26,40% dipengaruhi oleh faktor lain di luar financial leverage yang tidak diteliti

dalam skripsi ini.


114

BAB IV

PEYAJIA DATA DA AALISIS HASIL PEELITIA

4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

4.1.1 PT Aneka Tambang Tbk.

4.1.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan

Dengan pengalaman 4 dekade lebih sejak 1968, PT Aneka Tambang Tbk

(Antam) merupakan perusahaan perseroan terbatas Indonesia, yang bergerak di bidang

proses pertambangan seperti, eksplorasi, penambangan, peleburan, dan pengilangan

melalui pemasaran. Produk utama Antam adalah ferronickel, nikel, emas, perak, dan

bauksit.
115

Kepemilikan 35% Antam dipegang oleh publik, yang mayoritas intitusi asing,

yang telah memegang Antam untuk beberapa tahun. Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

dan Austarlia, Antam adalah satu dari sedikit perusahaan Indonesia yang terdaftar di

bursa efek di luar Indonesia yang dimana harus memenuhi standar internasional dari

pemerintahan. Walaupun 65% Antam dipegang oleh pemerintah, Antam tidak

dijalankan oleh birokrat. Tujuan utama Antam adalah menghasilkan nilai dari pemegang

saham. Pada umumnya, pendekatan Antam untuk meningkatkan nilai pemegang saham

adalah dengan merendahkan biaya sementara mengembangkan operasi keuntungan

secara terus menerus.

Antam menawarkan kesempatan jangka panjang kepada investor potensial dan

partner kerjasama. Antam mempunyai kekuatan, fokus, manajemen yang berorientasi ke

masa depan dan orang-orang yang mempunyai kemampuan; produk berkualitas tinggi

dan konsumen setia jangka panjang; catatan yang membuktikan prestasi yang

menguntungkan; dan prospek masa depan yang baik dengan kualitas mineral yang

sangat banyak yang masih perlu dikembangkan.

4.1.1.2 Kegiatan Perusahaan

Antam sedang menjalankan satu tambang nikel dan tiga peleburan ferronickel di

Sulawesi Tenggara, tiga tambang nikel di Maluku Utara, satu tambang emas dan satu

peleburan emas di Jawa Barat, satu tambang bauksit di Riau dan satu penyulingan metal

di Jakarta.
116

Di tahun 2007, sejalan dengan peningkatan produksi dari ferronickel dan bijih

nikel, dan juga dengan harka komoditas yang lebih tinggi, penjualan meningkat sebesar

113% menjadi Rp12,008 milyar dari Rp5,629 milyar di tahun 2006. produksi feronikel

meningkat 28% dan dicatat peningkatan 48% dalam penjualan Antam. Permintaan yang

tinggi akan bijih nikel meningkatkan ekspor sebesar 63% dan berpengaruh 41% dari

penjualan Antam. Dengan peningkatan penjualan nikel, segmen nikel berkontribusi 89%

dari total penjualan Antam di tahun 2007, dibandingkan di tahun 2006 sebesar 84%.

Total penjualan dari segmen nikel berjumlah Rp10,687 milyar, meningkat 126%

dibandingkan pada tahun 2006. Walaupun produksi emas turun ke tingkat yang lebih

rendah, penjualan dari emas meningkat 50% ssejalan dengan aktivitas perdagangan emas

yang dihasilkan oleh perusahaan penyulingan logam, Logam Mulia milik Antam. Seperti

penjualan emas, penjualan dari perak juga meningkat, dan termasuk penghasilan dari

Logam Mulia, pendapatan dari segmen emas meningkat 68% menjadi Rp1,163 milyar.

Segmen nikel dan emas menghasilkan 99% dari total penjualan Antam.

Program eksporasi Antam dikelola dan dilaksanakan oleh Unit Geologi

Perusahaan. Aktivitas eksplorasi meliputi ekplorasi geologikal, investigasi geofisikal,

survey, pengeboran, analisis laboratorium, pemrosesan data, dan mengatur izin yang

dibutuhkan dari investigasi umum untuk tahap pengambilan. Pelatihan yang tinggi dan

dengan pengalaman yang banyak, jasa dari Unit Geologi adalah mencari baik

perusahaan eksplorasi domestik maupun internasional yang ingin meningkatkan

kesempatan mereka dalam membuat penemuan.


117

Antam memiliki banyak izin menambang mencakup lebih dari 1.3 juta hektare di

Indonesia, yang memberikan potensi penting untuk mengembangkan tambang baru dan

memroses fasilitas. Untuk mengembangkan area yang luas, Antam membutuhkan modal

yang besar dan dalam beberapa kasus tehnik serta teknologi terbaru dalam penambangan

dan pemrosesan logam. Selain itu, bagian penting dari strategi Antam untuk menjadi

perusahaan tambang kelas dunia di tahun 2010 ada untuk membuat kerjasama stratejik

dengan perusahaan pertambangan global. Seringkali strategi ini terealisasi melalui

usaha eksplorasi dari Unit Geologi Antam.

Tanggung jawab pribadi untuk penemuan di Pongkor pada tahun 1988, Unit

Geologi juga bekerja bersama dengan mitra kontrak kerja dan mitra joint venture Antam

untuk menciptakan sinergi dan membuat penemuan serta mengembangkan tambang.

4.1.1.3 Produk Perusahaan

Aneka Tambang berarti “bermacam-macam tambang” dan Antam mempunyai

bermacam-macam jenis produk dari tambang di seluruh kepulauan Indonesia.

Keaneka ragaman produk ini membuat Antam dapat bertahan dari harga

komoditas yang berubah-ubah, menyeimbangkan tren yang sedang menurun dari satu

tambang dengan kenaikan yang lainnya. Perbedaan ini tidak menyebabkan tenaga kerja

dan sumber modal menjadi sedikit penyebarannya sebagaimana berjalan sebagai strategi

bisnis unit independent, menguntungkan dari pengalaman menambang 40 tahun.

Produk utama Antam terdiri dari: Nikel, Ferronikel, Emas dan Perak, jasa

penyulingan logam, Bauksit dan pasir besi.


118

1. Bijih Nikel

Bijih nikel merupakan salah satu produk penting Antam. Antam memproduksi

dan mengekspor bijih nikel tingkat tinggi dengan minimal 1.8% kandungan nikel dan

maksimal 25% kandungan besi (saprolite) dan bijih nikel tingkat rendah dengan 1.2%

kandungan nikel minimal (limonite) dan minimal 25% kandungan besi.

Tambang bijih nikel Antam terdapat di Pomalaa, Gee, Tanjung Buli and

Mornopo. Pomalaa, Sulawesi Tenggara, adalah tambang nikel tertua Antam telah hampir

habis. Gee, Tanjung Buli, dan Mornopo berlokasi di Maluku Utara.

2. Ferronikel

Produk terproses yang saat ini diproduksi oleh Antam dalam jalur bisnis nikel

adalah ferronickel, yang mana mengandung sekitar 80% besi dan 20% nikel. Ferronikel

Antam, yang dibedakan menjadi mengandung tingkat karbon tinggi atau rendah, dijual

dalam bentuk batangan atau butiran kepada produsen baja anti karat umumnya di Eropa,

Korea, dan Taiwan. Sekitar 70% nikel dikonsumsi untuk produksi baja anti karat.

3. Emas dan Perak

Produksi emas dan perak utama Antam diambil dari tambang emas Antam di

Pongkor, Jawa Barat, satu-satunya tambang emas bawah tanah Indonesia. Berlokasi di

Taman Nasional Gunung Halimun, sekitar 90km dari Jakarta, luas permukaan area

sekitar 4,058 ha. Indikasi adanya endapan emas di Pongkor ditemukan oleh Unit

Geologi Antam pada tahun 1981, dan produksi dimulai pada Mei 1994 setelah izin

menambang Antam disahkan pada tahun 1992.


119

Tambang Pongkor memiliki tiga vena utama dari emas, yang semuanya telah di

tambang pada tahun 2003: Ciguha, Kubang Cicau, dan Ciurug.

4. Jasa Penyulingan Logam

Penyulingan logam milik Antam, Logam Mulia, menyuling emas dan perak dari

Pongkor menjadi emas mulia dan juga perak mulia sebagai produk sampingan dari

proses penyulingan. Produk emas mulia dan perak mulia dari Logam Mulia sesuai

dengan standar kemurnian internasional yaitu 999.9 untuk emas dan 999.5 untuk perak

dan disertifikati oleh London Bullion Market Association (LBMA).

5. Bauksit dan Pasir Besi

Bauksit, bahan baku untuk produksi Almunium, pertama kali ditemukan tahun

1924 di Kijang, Pulau Bintan, Provinsi Riau, di barat laut Indonesia. Bauksit dari Pulauu

Bintan telah ditambang dan diekspor sejak tahun 1935. Di tahun 1968 Antam

mengakuisisi tambang tersebut. Antam mengekspor Bauksit kepada produsen Almunium

di Jepang dan Cina dengan volume sekitar 1 -1.5 juta wmt per tahun.

Pasir besi bukan merupakan produk penghasil uang untuk Antam. Target

produksi pasir besi Antam telah merosot sejak puncaknya 450.000 ton di tahun 1999

sejalan dengan menurunnya permintaan dari industri semen lokal.

4.1.2 PT International ickel Indonesia Tbk.

4.1.2.1 Sejarah Singkat Perusahaan

Pada tahun 1937, Seorang ahli geologi INCO LIMITED bernama Flat Elves

diundang oleh sebuah perusahaan eksplorasi Belanda untuk melanjutkan studi endapan
120

nikel laterit di Sulawesi yang pernah dilakukan oleh seorang Belanda bernama Kruyt

pada tahun 1901. Ia mengunjungi Sorowako. Mengetahui adanya endapan nikel laterit di

Soroako, pemerintah Indonesia melakukan survey geologi yang komperhensif atas

endapan di pulau Sulawesi tersebut pada tahun 1966. Pada tahun 1967, pemerintah

Indonesia mengundang peusahaan-perusahaan dari seluruh dunia untuk mengajukan

proposal bagi eksplorasi dan pengembangan endapan nikel di Soroako tersebut. PT

International Nickel Indonesia Tbk (Inco) adalah perusahaan yang terpilih untuk

melakukan eksplorasi dan pengembangan endapan nikel di Soroako tersebut.

PT Inco memulai usahanya di Indonesia pada tahun 1968, tepatnya pada tanggal

25 Juli 1968 setelah akta pendirian disahkan. Dalam kurun waktu 1968-1973, PT Inco

telah melakukan eksplorasi dan studi kelayakan di Indonesia. Daerah eksplorasi mula-

mula seluas 6,6 juta hektar yang mencakup beberapa bagian dari tiga provinsi di

Sulawesi, yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.

Contoh bijih dari Sulawesi dalam jumlah besar pertama sebanyak 50 ton dikirim

ke fasilitas riset INCO Kanada di Port Colborne, Ontario pada tahun 1970. Sebuah

pabrik Pereduksi-Pelebur baru dalam skala kecil menunjukkan bahwa bahan dari

Sorowako dapat diolah dengan hasil yang memuaskan.

Pada tahun 1976, 10.000 tenaga kerja Indonesia dan 1.000 tenaga asing

dipekerjakan membangun fasilitas-fasilitas pengolahan nikel dan pembangkit tenaga,

bersama dengan jalan-jalan, perkotaan, pelabuhan, lapangan udara serta sarana dan

prasarana lain yang dibutuhkan. Tanggal 1 April 1978, PT Inco mulai berproduksi

secara komersial di Indonesia.


121

Pada tahun 1988, INCO LIMITED menjual 20 persen dari saham PT Inco yang

dimilikinya kepada Sumitomo Metal Mining Co., Ltd., dari Jepang dan pada 16 Mei

1990 INCO LIMITED menjual 20 persen dari saham PT Inco yang dimilikinya kepada

publik dan dicatatkan pada bursa-bursa efek di Indonesia. INCO LIMITED tetap

memiliki 58,19 persen saham PT Inco.

Sejak tahun 2000, PT Inco telah meningkatkan produksi sebesar 30 persen

menjadi 130,5 juta pon nikel dalam matte, sejalan dengan rencana Perseroan untuk

mencapai kapasitas yang diperluas sebesar 150 juta pon produksi per tahun. PT Inco

menyelesaikan penelitian dan rekayasa atas presipitator elektrostatis Tanur Pengering

No.2 yang dirancang untuk mengurangi keseluruhan emisi debu pabrik lebih dari 40

persen.

Tahun 2003, PT Inco membangun daerah penambangan baru di Petea (sebelah

Timur Danau Matano, berdekatan dengan wilayah timur penambangan bijih (ore body)

PT Inco). Petea memiliki lima juta ton cadangan mineral terbukti dengan kualitas 1,81%

nikel dan 24 juta ton cadangan mineral terduga dengan kualitas 1,78% nikel. Investasi

yang dialokasikan sebesar US$11.8 juta.

PT Inco telah menandatangani perjanjian dengan PT Aneka Tambang (Antam)

untuk bersama-sama membangun daerah kontrak di Sulawesi Tenggara. PT Inco akan

menambang bijih saprolitik di wilayah timur Pomalaa, sementara Antam akan

melakukan proses peleburan (smelting).


122

Saat ini PT Inco telah berhasil memasang teknologi Bag House System di seluruh

tanur listrik yang dimiliki. Alat ini mampu mengurangi emisi debu tanur listrik hingga

berada di bawah ambang batas ketentuan pemerintah.

4.1.2.2 Kegiatan Perusahaan

Endapan nikel laterit di Soroako terbentuk karena proses pelapukan dari batuan

ultramafik yang terbentang dalam suatu singkapan tunggal terbesar di dunia seluas lebih

dari 120 km x 60 km. Sejumlah endapan lainnya tersebar di provinsi Sulawesi Tengah

dan Tenggara.

Operasi penambangan nikel PT Inco di Soroako digolongkan sebagai tambang

terbuka dengan tahapan sebagai berikut:

1. Pemboran

Pada jarak spasi 25 - 50 meter untuk mengambil sample batuan dan tanah guna

mendapatkan gambaran kandungan nikel yang terdapat di wilayah tersebut

2. Pembersihan dan Pengupasan

Pembersihan dan pengupasan lapisan tanah penutup setebal 10 - 20 meter yang

kemudian dibuang di tempat tertentu ataupun dipakai langsung untuk menutupi suatu

wilayah purna tambang.

3. Penggalian

Penggalian lapisan bijih nikel yang berkadar tinggi setebal 5-10 meter dan

dibawa ke stasiun penyaringan.

4. Pemisahan
123

Pemisahan bijih di stasiun penyaringan berdasarkan ukurannya. Produk akhir

hasil penyaringan bijih tipe Timur adalah -6 inci, sedangkan produk akhir bijih tipe

Barat adalah – 4/-2 inci.

5. Penyimpanan

Penyimpanan bijih yang telah disaring di suatu tempat tertentu untuk

pengurangan kadar air secara alami, sebelum dikonsumsi untuk proses pengeringan dan

penyaringan ulang di pabrik.

6. Penghijauan

Penghijauan lahan-lahan purna tambang. Dengan metode open cast mining yang

dilakukan sekarang, dimana material dari daerah bukaan baru, dibawa dan dibuang ke

daerah purna tambang, untuk selanjutnya dilakukan landscaping, pelapisan dengan

lapisan tanah pucuk, pekerjaan terasering dan pengelolaan drainase sebelum proses

penghijauan/penanaman ulang dilakukan.

Pengolahan Nikel

Pabrik pengolahan PT Inco di Soroako mempunyai kapasitas produksi 72.500

ton nikel setahun. Proses pengolahan dilakukan untuk menghasilkan nikel matte yaitu

produk dengan kadar nikel di atas 75 persen.

Tahap-tahap utama dalam proses pengolahan adalah sebagai berikut:

• Pengeringan di Tanur Pengering

Bertujuan untuk menurunkan kadar air bijih laterit yang dipasok dari bagian

Tambang dan memisahkan bijih yang berukuran +25 mm dan – 25 mm.

• Kalsinasi dan Reduksi di Tanur Pereduksi


124

Untuk menghilangkan kandungan air di dalam bijih, mereduksi sebagian nikel

oksida menjadi nikel logam, dan sulfidasi.

• Peleburan di Tanur Listrik

Untuk melebur kalsin hasil kalsinasi/reduksi sehingga terbentuk fasa lelehan

matte dan terak.

• Pengkayaan di Tanur Pemurni

Untuk menaikkan kadar Ni di dalam matte dari sekitar 27 persen menjadi di atas

75 persen.

• Granulasi dan Pengemasan

Untuk mengubah bentuk matte dari logam cair menjadi butiran-butiran yang siap

diekspor setelah dikeringkan dan dikemas.

Nikel dan Lingkungan

PT Inco memiliki dedikasi untuk memajukan usaha pelestarian lingkungan.

Program-program Pemeliharaan Produk dari Inco. Inco's Product Stewardship programs

diarahkan oleh pengetahuan PT Inco tentang industri dan pemahaman zat-zat yang

terkandung dalam nikel, yang mencakup hal-hal berikut:

• Nikel merupakan logam yang terbentuk dari proses alam. Peran PT Inco sebagai

penghasil nikel adalah menambang nikel dari lingkungan alamnya dan

mengolahnya menjadi produk-produk yang bermanfaat bagi para pelanggan

maupun masyarakat.

• Nikel dapat didaur-ulang dan dapat digunakan serta digunakan-kembali tanpa

degradasi atau penghilangan zat-zat intrinsiknya sebagai pertimbangan penting


125

bagi pembangunan yang berkelanjutan. PT Inco merupakan partisipan aktif

dalam upaya pendaur-ulangan nikel.

• Beragamnya produk dan pengolahan yang menggunakan nikel terbukti

memberikan berbagai manfaat penting, baik bagi lingkungan maupun bagi

masyarakat.

• PT Inco memiliki komitmen untuk menghasilkan dan mendistribusikan produk-

produk bermutu dengan cara yang aman dan baik bagi lingkungan.

4.1.2.3 Produk Perusahaan

Produk PT Inco adalah nikel dalam matte, sebuah produk setengah jadi yang

diolah dari bijih laterit di fasilitas pertambangan dan pengolahan terpadu dekat

Sorowako, Sulawesi. Nikel dalam granul matte mengandung 78 persen nikel, 20 persen

sulfur dan 2 persen lagi adalah cobalt.

Seluruh hasil produksi PT Inco dijual dalam mata-uang Dolar Amerika Serikat

berdasarkan kontrak jangka panjang untuk dimurnikan di Jepang, berdasarkan standar

harga London Metal Exchange (LME).

4.1.3 PT Timah Tbk.

4.1.3.1 Sejarah Singkat Perusahaan

PT Timah (Persero) Tbk mewarisi sejarah panjang usaha pertambangan timah di

Indonesia yang sudah berlangsung lebih dari 200 tahun. Sumber daya mineral timah di

Indonesia ditemukan tersebar di daratan dan perairan sekitar pulau-pulau Bangka,

Belitung, Singkep, Karimun dan Kundur.


126

Di masa kolonial, pertambangan timah di Bangka dikelola oleh badan usaha

pemerintah kolonial "Banka Tin Winning Bedrijf" (BTW). Di Belitung dan Singkep

dilakukan oleh perusahaan swasta Belanda, masing-masing Gemeeenschappelijke

Mijnbouw Maatschappij Biliton (GMB) dan NV Singkep Tin Exploitatie Maatschappij

(NV SITEM).

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, tiga perusahaan Belanda tersebut

dinasionalisasikan antara tahun 1953-1958 menjadi tiga Perusahaan Negara yang

terpisah. Pada tahun 1961 dibentuk Badan Pimpinan Umum Perusahaan Tambang-

tambang Timah Negara (BPU PN Tambang Timah) untuk mengkoordinasikan ketiga

perusahaan negara tersebut, pada tahun 1968, ketiga perusahaan negara dan BPU

tersebut digabung menjadi satu perusahaan yaitu Perusahaan Negara (PN) Tambang

Timah.

Dengan diberlakukannya Undang-undang No. 9 Tahun 1969 dan Peraturan

Pemerintah No. 19 Tahun 1969, pada tahun 1976 status PN Tambang Timah dan Proyek

Peleburan Timah Mentok diubah menjadi bentuk Perusahaan Perseroan (Persero) yang

seluruh sahamnya dimiliki oleh Negara Republik Indonesia dan namanya diubah

menjadi PT Tambang Timah (Persero).

Krisis industri timah dunia akibat hancurnya the International Tin Council (ITC)

sejak tahun 1985 memicu perusahaan untuk melakukan perubahan mendasar untuk

mempertahankan kelangsungan hidupnya. Restrukturisasi perusahaan yang dilakukan

dalam kurun 1991-1995, yang meliputi program-program reorganisasi, relokasi Kantor


127

Pusat ke Pangkalpinang, rekonstruksi peralatan pokok dan penunjang produksi, serta

penglepasan aset dan fungsi yang tidak berkaitan dengan usaha pokok perusahaan.

Restrukturisasi perusahaan berhasil memulihkan kesehatan dan daya saing

perusahaan, menjadikan PT Timah (Persero) Tbk layak untuk diprivatisasikan sebagian.

PT Timah (Persero) Tbk melakukan penawaran umum perdana di pasar modal Indonesia

dan internasional, dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta, Bursa Efek

Surabaya, dan the London Stock Exchange pada tanggal 19 Oktober 1995. Sejak itu,

35% saham perusahaan dimiliki oleh masyarakat dalam dan luar negeri, dan 65%

sahamnya masih dimiliki oleh Negara Republik Indonesia.

Untuk memfasilitasi strategi pertumbuhan melalui diversifikasi usaha, pada

tahun 1998 PT Timah (Persero) Tbk melakukan reorganisasi kelompok usaha dengan

memisahkan operasi perusahaan ke dalam 3 (tiga) anak perusahaan, yang secara praktis

menempatkan PT Timah (Persero) Tbk menjadi induk perusahaan (holding company)

dan memperluas cakupan usahanya ke bidang pertambangan, industri, keteknikan, dan

perdagangan.

Saat ini PT Timah (Persero) Tbk dikenal sebagai perusahaan penghasil logam

timah terbesar di dunia dan sedang dalam proses mengembangkan usahanya di luar

penambangan timah dengan tetap berpijak pada kompetensi yang dimiliki dan

dikembangkan.

4.1.3.2 Kegiatan Perusahaan


128

PT Timah (Persero) Tbk merupakan perusahaan tambang timah yang beroperasi

secara terintegrasi, dimulai dari kegiatan eksplorasi, penambangan, peleburan hingga

pemasaran dan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang berkelanjutan.

Eksplorasi

Mulai tahun 1996, perusahaan menggunakan peralatan berteknologi modern

yaitu Global Positioning System (GPS) untuk melengkapi fasilitas kegiatan dan aktifitas

eksplorasi. Hal ini sangat membantu meningkatkan efisiensi dan keakuratan dari

pemetaan dan pengukuran. Data dari tes laboratorium dan GPS disimpan di dalam

komputer untuk memproduksi dan menghasilkan peta geologis yang sangat tinggi

keakuratannya bagi pertambangan yang sistematis dan efisien.

Penambangan Lepas Pantai

Perusahaan mengoperasikan armada kapal keruk untuk operasi produksi di

daerah lepas pantai (off shore). Armada kapal keruk mempunyai kapasitas mangkok

(bucket) mulai dari ukuran 7 cuft sampai dengan 24 cuft. Kapal keruk dapat beroperasi

mulai dari kedalaman 15 meter sampai 50 meter di bawah permukaan laut dan mampu

menggali lebih dari 3,5 juta meter kubik material setiap bulan. Setiap kapal keruk

dioperasikan oleh karyawan yang berjumlah lebih dari 100 karyawan yang waktu

bekerjanya terbagi atas 3 kelompok dalam 24 jam sepanjang tahun.

Hasil produksi bijih timah dari kapal keruk diproses di instalasi pencucian untuk

mendapatkan kadar minimal 30% Sn dan diangkut dengan kapal tongkang untuk dibawa

ke Pusat Pengolahan Bijih Timah (PPBT) untuk dipisahkan dari mineral ikutan lainnya
129

selain bijih timah dan ditingkatkan kadarnya hingga mencapai persyaratan peleburan

yaitu minimal 70-72% Sn.

Penambangan Darat

Produksi penambangan darat yang berada di wilayah Kuasa Pertambangan (KP)

perusahaan dilaksanakan oleh kontraktor swasta yang merupakan mitra usaha dibawah

kendali perusahaan. Hampir 80% dari total produksi perusahaan berasal dari

penambangan di darat mulai dari Tambang Skala Kecil berkapasitas 20 m3/jam sampai

dengan Tambang Besar berkapasitas 100 m3/jam.

Proses penambangan timah alluvial menggunakan pompa semprot (gravel

pump).Setiap kontraktor atau mitra usaha melakukan kegiatan penambangan

berdasarkan perencanaan yang diberikan oleh perusahaan dengan memberikan peta

cadangan yang telah dilakukan pemboran untuk mengetahui kekayaan dari cadangan

tersebut dan mengarahkan agar sesuai dengan pedoman atau prosedur pengelolaan

lingkungan hidup dan keselamatan kerja di lapangan. Hasil produksi dari mitra usaha

dibeli oleh perusahaan sesuai harga yang telah disepakati dalam Surat Perjanjian Kerja

Sama.

Pengolahan

Untuk meningkatkan kadar bijih timah atau konsentrat yang berkadar rendah,

bijih timah tersebut diproses di Pusat Pencucian Bijih Timah (Washing Plant). Melalui

proses tersebut bijih timah dapat ditingkatkan kadar (grade) Sn-nya dari 20 - 30% Sn

menjadi 72% Sn untuk memenuhi persyaratan peleburan. Proses peningkatan kadar bijih

timah yang berasal dari penambangan di laut maupun di darat diperlukan untuk
130

mendapatkan produk akhir berupa logam timah berkualitas dengan kadar Sn yang tinggi

dengan kandungan pengotor (impurities) yang rendah.

Peleburan

Perusahaan mengoperasikan 8 tanur dan 2 single stage furnace (SSF), 7 tanur

berada di daerah Mentok, Bangka dan 1 tanur berada di daerahKundur. Proses peleburan

merupakan proses melebur bijih timah menjadi logam Timah. Untuk mendapatkan

logam timah dengan kualitas yang lebih tinggi, maka harus dilakukan proses pemurnian

terlebih dahulu dengan menggunakan suatu alat pemurnian yang disebut crystallizer.

4.1.3.3 Produk Perusahaan

Produk yang dihasilkan berupa logam timah dalam bentuk balok atau batangan

dengan skala berat antara 16 kg sampai dengan 26 kg per batang. Produk yang

dihasilkan juga dapat dibentuk sesuai permintaan pelanggan (customize) dan mempunyai

merek dagang yang terdaftar di London Metal Exchange (LME)..

Kegiatan pemasaran mencakup kegiatan penjualan dan pendistribusian logam

timah. Pendistribusian logam timah hampir 95% dilaksanakan untuk memenuhi pasar di

luar negeri atau ekspor dan sebesar 5% untuk memenuhi pasar domestik. Negara tujuan

ekspor logam Timah antara lain adalah wilayah Asia Pasifik yang meliputi Jepang,

Korea, Taiwan, Cina dan Singapura, wilayah Eropa meliputi Inggris, Belanda, Perancis,

Spanyol dan Italia serta Amerika dan Kanada.

Pendistribusian dilaksanakan melalui pelabuhan di Singapura untuk ekspor

sedangkan untuk domestik dilaksanakan secara langsung dan melalui gudang di Jakarta.
131

Tipe pembeli logam timah dapat dikelompokkan atas pengguna langsung (end user)

seperti pabrik atau industri solder serta industri pelat timah serta pedagang besar

(trader).

Produk yang dihasilkan mempunyai kualitas yang telah diterima oleh pasar

internasional dan terdaftar dalam pasar bursa logam di London (London Metal

Exchange). Kualitas setiap produk yang dihasilkan oleh perusahaan dijamin dengan

sertifikat produk (weight and analysis certificate) yang berstandar internasional dan

berpedoman kepada standar produk yang ditetapkan oleh London Metal Exchange

(LME) sehingga dapat diperdagangkan sebagai komoditi di pasar bursa logam.

Jenis-jenis produk yang diproduksi oleh PT Tambang Timah dibedakan atas

kualitas dan bentuknya.

A. Berdasarkan kualitas produk dapat dibedakan atas:

• Banka Tin (kadar Sn 99.9%)

• Mentok Tin (kadar Sn 99,85%)

• Banka Low Lead (Banka LL) terdiri atas Banka LL100ppm, Banka LL50ppm,

Banka LL40ppm, Banka LL80ppm, Banka LL200ppm

• Banka Four Nine (kadar Sn 99,99%)

B. Berdasarkan bentuk dapat dibedakan atas:

• Banka Small Ingot

• Banka Tin Shot

• Banka Pyramid

• Banka Anoda
132

4.2 Analisis Data dan Pembahasan

Dalam analisis data dan pembahasan ini akan ditampilkan hasil dari analisis yang

telah penulis lakukan mengenai analisis financial leverage, analisis return on equity

(ROE), analisis earning per share (EPS), analisis pengaruh financial leverage terhadap

return on equtiy, dan analisis pengaruh financial leverage terhadap earning per share

dari PT Aneka Tambang Tbk, PT International Nickel Indonesia Tbk, dan PT Timah

Tbk.

4.2.1 PT Aneka Tambang Tbk.

4.2.1.1 Analisis Financial Leverage

TABEL 1
PT Aneka Tambang Tbk
Analisis Financial Leverage
(Dalam Ribuan Rupiah)
Tahun Jumlah Hutang Jumlah Aktiva Financial Perubahan Perubahan Perubahan
Financial
Leverage Hutang Aktiva Leverage
(%) (%) (%) (%)
2002 Rp 843.862.593 Rp 2.525.025.597 33,42 - - -
2003 Rp 2.543.331.703 Rp 4.326.844.058 58,78 201,39 71,36 75,88
2004 Rp 3.564.425.577 Rp 6.042.567.861 58,99 40,15 39,65 0,36
2005 Rp 3.373.068.629 Rp 6.402.714.128 52,68 -5,37 5,96 -10,7
2006 Rp 3.009.300.105 Rp 7.290.905.515 41,27 -10,78 13,87 -21,66

Dari tabel analisis financial leverage tersebut dapat dilihat bahwa tingkat

financial leverage dari PT Aneka Tambang Tbk sejak tahun 2002 hingga 2006

mengalami perubahan yang fluktuatif. Tingkat financial leverage tertinggi terjadi pada
133

tahun 2004, yaitu sebesar 58,99%. Sedangkan yang terendahnya terjadi pada tahun 2002,

yaitu sebesar 33,42%.

Di tahun 2003 terjadi kenaikan financial leverage yang cukup besar yaitu sebesar

75,88%. Hal ini disebabkan karena adanya peningkatan jumlah hutang yang sangat besar

dari tahun 2002 yang hanya Rp 843.862.593.000 menjadi Rp 2.543.331.703.000 di

tahun 2003 atau sebesar 201,39%.

Di tahun 2004 kenaikan financial leverage hanya sebesar 0,36%. Hal ini

dikarenakan persentase kenaikan jumlah hutang dan jumlah aktiva tidak berbeda terlalu

jauh, yaitu 40,15% untuk jumlah hutang dan 35,65% untuk jumlah aktiva.

Karena penurunan jumlah hutang di tahun 2005 yang menjadi Rp

3.373.068.629.000 atau sebesar 5,37% dari tahun sebelumnya dan meningkatnya jumlah

aktiva menjadi Rp 6.402.714.128.000 atau sebesar 5,96% dari tahun sebelumnya, maka

financial leverage mengalami penurunan sebesar 10,70% menjadi 52,86% di tahun

2005.

Pada tahun 2006, financial leverage kembali mengalami penurunan karena

disebabkan oleh hal yang sama seperti pada tahun 2005, yaitu menurunnya jumlah

hutang dan meningkatnya jumlah aktiva. Hal ini menyebabkan financial leverage turun

sebesar 21,66% menjadi 41,27% dari tahun sebelumnya sebesar 52,68%.

4.2.1.2 Analisis Return On Equity (ROE)

TABEL 2
PT Aneka Tambang Tbk
Analisis Return On Equity
134

(Dalam Ribuan Rupiah)


Tahun Laba Bersih Jumlah Ekuitas Return Perubahan Perubahan Perubahan
On Laba
Equity Bersih Ekuitas
(%) (%) (%) ROE (%)
2002 Rp 177.402.974 Rp 1.675.475.974 10,59 - - -
2003 Rp 226.550.749 Rp 1.783.511.688 12,70 27,70 6,45 19,97
2004 Rp 807.108.655 Rp 2.478.140.709 32,57 256,26 38,95 156,40
2005 Rp 841.935.961 Rp 3.029.642.904 27,79 4,32 22,25 -14,67
2006 Rp 1.552.777.307 Rp 4.281.602.475 36,27 84,43 41,32 30,50

Dari tabel analisis return on equity (ROE) tersebut dapat dilihat bahwa tingkat

ROE dari PT Aneka Tambang Tbk sejak tahun 2002 hingga 2006 mengalami perubahan

yang cukup fluktuatif. Tingkat ROE tertinggi terjadi pada tahun 2006, yaitu sebesar

36,27%. Sedangkan yang terendahnya terjadi pada tahun 2002, yaitu sebesar 10,59%.

Kenaikan ROE tertinggi terjadi pada tahun 2004, yaitu sebesar 32,57% dari

12,70% di tahun 2003 atau mengalami kenaikan sebesar 156,40%. Hal ini diakibatkan

karena terjadinya peningkatan yang sangat tinggi pada laba bersih PT Aneka Tambang

Tbk yaitu sebesar 256,56% dari Rp 226.550.749.000 di tahun 2003 menjadi Rp

841.935.961.000 di tahun 2004.

Setelah kenaikan ROE yang sangat tinggi di tahun 2004, pada tahun 2005 ROE

dari PT Aneka Tambang Tbk mengalami penurunan sebesar 14,67% dari tahun

sebelumnya. Hal ini disebabkan karena terjadinya peningkatan yang lebih besar pada

jumlah ekuitas dibandingkan peningkatan pada laba bersih.

Pada tahun 2006, ROE PT Aneka Tambang Tbk kembali mengalami kenaikan.

Hal ini diakibatkan karena adanya peningkatan yang cukup besar pada laba bersih
135

perseroan, yaitu sebesar 84,43%. Hal tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan

ROE sebesar 30,50% dari tahun 2005.

4.2.1.3 Analisis Earning Per Share (EPS)

TABEL 3
PT Aneka Tambang Tbk
Analisis Earning Per Share
(Dalam Ribuan Rupiah kecuali Earning Per Share)
Tahun Laba Bersih Jumlah Saham Earning Perubahan Perubahan Perubahan
Beredar Laba Bersih Jumlah
(lembar) Per Share (%) Saham (%) EPS (%)
2002 Rp 177.402.974 1.907.691.949 Rp 92,99 - - -
2003 Rp 226.550.749 1.907.691.949 Rp 118,76 27,70 0,00 27,70
2004 Rp 807.108.655 1.907.691.949 Rp 423,08 256,26 0,00 256,26
2005 Rp 841.935.961 1.907.691.949 Rp 441,34 4,32 0,00 4,32
2006 Rp 1.552.777.307 1.907.691.949 Rp 813,95 84,43 0,00 84,43

Dari tabel analisis earning per share (EPS) tersebut dapat dilihat bahwa tingkat

EPS dari PT Aneka Tambang, Tbk sejak tahun 2002 hingga 2006 mengalami

peningkatan dari tahun ke tahunnya. Tingkat EPS tertinggi terjadi pada tahun 2006,

yaitu sebesar Rp 813,95. Sedangkan yang terendahnya terjadi pada tahun 2002, yaitu

sebesar Rp 92,99.

Pada tahun 2003, EPS dari PT Aneka Tambang Tbk mengalami peningkatan dari

Rp 92,99 menjadi Rp 118,76 atau meningkat sebesar 27,70 %. Sementara itu jumlah

saham beredar tindak terjadi perubahan sama sekali.


136

Kenaikan tingkat EPS tertinggi terjadi pada tahun 2004, yaitu sebesar 256,26%

dari Rp118,76 di tahun 2003 menjadi Rp 423,08 di tahun 2004. Kenaikan tersebut

dikarenakan oleh peningkatan laba bersih perseroan pada tahun 2004 sebesar 256,26%.

Peningkatan laba yang tidak terlalu tinggi di tahun 2005 yaitu menjadi Rp

841.935.961.000 dari tahun sebelumnya Rp 807.108.655.000 mengakibatkan terjadinya

peningkatan EPS yang hanya sebesar 4,32%.

Pada tahun 2006 kembali peningkatan EPS yang cukup tinggi, yaitu sebesar

84,43% yang diakibatkan karena naiknya laba bersih perseroan di tahun 2006 menjadi

Rp 1.552.777.307.000 atau sebesar 84,43% dari tahun 2005.

Jumlah saham beredar yang digunakan dalam perhitungan ini adalah jumlah rata-

rata tertimbang saham beredar pada setiap akhir tahun.

4.2.1.4 Ringkasan Hasil Financial Leverage, Return On Equity (ROE), dan Earning

Per Share (EPS)

TABEL 4
PT Aneka Tambang Tbk
Ringkasan Financial Leverage,Return On Equity,
dan Earning Per Share
Tahun Financial Return Earning
Leverage On Equity Per Share
2002 33,42% 10,59% Rp 92,99
2003 58,78% 12,70% Rp 118,76
2004 58,99% 32,57% Rp 423,08
2005 52,68% 27,79% Rp 441,34
2006 41,27% 36,27% Rp 813,95
137

Dari table diatas dapat dilihat bahwa setiap kenaikan atau pun penurunan

financial leverage tidak selalu diikuti dengan kenaikan atau penurunan return on equity

(ROE). Pada saat financial leverage turun di tahun 2006, ROE tetap mengalami

peningkatan di tahun tersebut.

Dapat dilihat juga bahwa setiap penurunan financial leverage juga tidak sealu

diikuti oleh penurunan earning per share (EPS). Hal ini terjadi pada tahun 2005 dan

2006, dimana pada saat financial leverage mengalami penurunan sedangkan EPS tetap

mengalami kenaikan.

4.2.1.5 Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap Return On Equity (ROE)

TABEL 5
PT Aneka Tambang Tbk
Pengaruh Financial Leverage (X)
terhadap Return On Equity (Y)
X Y XY X2 Y2
0,3342 0,1059 0,0354 0,1117 0,0112
0,5878 0,1270 0,0747 0,3455 0,0161
0,5899 0,3257 0,1921 0,3480 0,1061
0,5268 0,2779 0,1464 0,2775 0,0772
0,4127 0,3627 0,1497 0,1703 0,1316
2,4514 1,1992 0,5982 1,2530 0,3422

Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh financial leverage terhadap return

on equity (ROE), penulis menggunakan beberapa teknik analisis statistik, yaitu analisis

korelasi sederhana, analisis regresi linier, uji koefisien regresi dan uji hipotesis, serta

analisis koefisien determinasi.


138

a. Analisis Korelasi Sederhana

r= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r= 5 (0,5982) – (2,4514) (1,1992)

[5 (1,2530) – (2,4514)2] [5 (0,3422) – (1,1992)2]

r= 0,0513

[0,2556] [0,2729]

r = 0,0513

0,2641

r = 0,1942 19,42%

Dari hasil perhitungan di atas dapat diketahui bahwa korelasi (hubungan) antara

financial leverage dengan return on equity (ROE) adalah sebesar 0,1942 atau 19,42%.

Hal ini berarti bahwa hubungan antara financial leverage dengan ROE bersifat

hubungan lemah positif, artinya setiap terjadinya peningkatan financial leverage akan

diikuti dengan peningkatan dari ROE.

b. Analisis Regresi Linier

Y = a + bX

b= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

n (ΣX2) – (ΣX)2

b = 5 (0,5982) – (2,4514) (1,1992)


139

[5 (1,2530) – (2,4514)2]

b = 0,0513
0,5056

b = 0,1015

a = (ΣY) b (ΣX)

n n

a = (1,1992) 0,1015 (2,4514)

5 5

a = 0,1901

Dengan demikian, persamaan regresi liner dapat ditulis

Y = 0,1901 + 0,1015 X

Dari persamaan tersebut a menunjukkan konstanta (α) yang menunjukkan bahwa

jika tidak ada financial leverage, maka tingkat return on equity (ROE) perseroan akan

mencapai 0,1901%. Sedangkan b dalam persamaan tersebut menunjukkan bahwa setiap

adanya peningkatan penggunaan financial leverage sebesar 1%, maka akan

menyebabkan peningkatan ROE sebesar 0,1015%.

c. Uji Koefisien Regresi dan Pengujian Hipotesis

∑ y2 = ∑ Y2 – (∑Y)2 ∑ x2 = ∑ X2 – (∑X)2

n n

∑ y2 = 0,3422 – (1,1992)2 ∑ x2 = 1,2530 – (2,4514)2

6 5

∑ y2 = 0,0546 ∑ x2 = 0,0511
140

Σ y2 – b2 Σ x2
Se =
n–2

0,0546 – (0,1015)2 (0,0511)


Se =
5–2

0,0541
Se =
3

Se = 0,1343

t0 = b √Σ x2 tα = t [α/2 ; (n-2)]

Se

t0 = 0,1015 √0,0511 tα = t [0,05/2 ; (5-2)]

0,1343

t0 = 0,1708 tα = t [0,025 ; 3] = 3,182

Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa hasil dari t0 adalah 0,1708, sedangkan

hasil hasil dari tα adalah 3,182 jadi -ta ≤ t0 ≤ ta,. Hal ini berarti H0 diterima (Ha ditolak),

artinya tidak ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan financial leverage terhadap

return on equity (ROE).

d. Uji Koefisien Determinasi

r2 = [n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)2]

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]


141

r2 = (0,1942)2

r2 = 0,0377 3,77%

Korelasi (r) yang diperoleh adalah 0,1942 atau 19,42%, maka r2 adalah 0,0377

atau 3,77%. Koefisien determinasi (r2) menjelaskan pengaruh financial leverage

terhadap return on equity (ROE) hanya sebesar 3,77% saja. Sedangkan sisanya yang

sebesar 96,23% dipengaruhi oleh faktor lain di luar financial leverage yang tidak diteliti

dalam skripsi ini.

4.2.1.6 Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap Earning Per Share (EPS)

TABEL 6
PT Aneka Tambang Tbk
Pengaruh Financial Leverage (X)
terhadap Earning Per Share (Y)
X Y XY X2 Y2
0,3342 92,99 31,0772 0,1117 8.647,14
0,5878 118,76 69,8071 0,3455 14.103,94
0,5899 423,08 249,5749 0,3480 178.996,69
0,5268 441,34 232,4979 0,2775 194.781,00
0,4127 813,95 335,9172 0,1703 662.514,60
2,4514 1.890,12 918,8743 1,2530 1.059.043,37

Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh financial leverage terhadap

earning per share (EPS), penulis menggunakan beberapa teknik analisis statistik, yaitu

analisis korelasi sederhana, analisis regresi linier, uji koefisien regresi dan uji hipotesis,

serta analisis koefisien determinasi.

a. Analisis Korelasi Sederhana


142

r= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r= 5 (918,8743) – (2,4514) (1.890,12)

[5 (1,2530) – (2,4514)2] [5 (1.059.043,37) – (1890,12)2]

r= -39,0687

[0,2556] [1.722.663,23]

r = -39,0687

663,5606

r = -0,0589 -5,89%

Dari hasil perhitungan di atas dapat diketahui bahwa korelasi (hubungan) antara

financial leverage dengan eaning per share (EPS) adalah sebesar -0,0589 atau -5,89%.

Hal ini berarti bahwa hubungan antara financial leverage dengan EPS bersifat hubungan

lemah negatif, artinya setiap terjadinya peningkatan financial leverage akan

menyebabkan penurunan dari EPS.

b. Analisis Regresi Linier

Y = a + bX

b= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

n (ΣX2) – (ΣX)2

b = 5 (918,8743) – (2,4514) (1.890,12)

[5 (1,2530) – (2,4514)2]
143

b = -39,0687
0,5056

b = -77,2719

a = (ΣY) b (ΣX)

n n

a = (1890,12) -77,2719 (2,4514)

5 5

a = 415,9089

Dengan demikian, persamaan regresi liner dapat ditulis

Y = 415,9089 – 77,2719 X

Dari persamaan tersebut a menunjukkan konstanta (α) yang menunjukkan bahwa

jika tidak ada financial leverage, maka tingkat earning per share (EPS) perseroan akan

mencapai Rp 415,9089. Sedangkan b dalam persamaan tersebut menunjukkan bahwa

setiap adanya penggunaan financial leverage sebesar 1%, maka akan menyebabkan

penurunan EPS sebesar Rp 0,772719.

c. Uji Koefisien Regresi dan Pengujian Hipotesis

∑ y2 = ∑ Y2 – (∑Y)2 ∑ x2 = ∑ X2 – (∑X)2

n n

∑ y2 = 1.059.043,37 – (1.890,12)2 ∑ x2 = 1,2530 – (2,4514)2

5 5

∑ y2 = 344.532,6471 ∑ x2 = 0,0511

Σ y2 – b2 Σ x2
144

Se =
n–2

344.532,6471 – (-77,2719)2 (0,0511)


Se =
5–2

344.227,5317
Se =
3

Se = 338,7366

t0 = b √Σ x2 tα = t [α/2 ; (n-2)]

Se

t0 = -77,2719 √0,0511 tα = t [0,05/2 ; (5-2)]

338,7366

t0 = -0,0516 tα = t [0,025 ; 3] = 3,182

Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa hasil dari t0 adalah -0,0516, sedangkan

hasil hasil dari tα adalah 3,182 jadi -ta ≤ t0 ≤ ta,. Hal ini berarti H0 diterima (Ha ditolak),

artinya tidak ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan financial leverage terhadap

earning per share (EPS).

d. Uji Koefisien Determinasi

r2 = [n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)2]

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r2 = (-0,0589)2

r2 = 0,0035 0,35%
145

Korelasi (r) yang diperoleh adalah -0,0589 atau -5,89%, maka r2 adalah 0,0035

atau 0,35%. Koefisien determinasi (r2) menjelaskan pengaruh financial leverage

terhadap earning per share (EPS) hanya sebesar 0,35% saja. Sedangkan sisanya yang

sebesar 99,65% dipengaruhi oleh faktor lain di luar financial leverage yang tidak diteliti

dalam skripsi ini.

4.2.2 PT International ickel Indonesia Tbk.

Karena PT International Nickel Indonesia Tbk menggunakan mata uang dollar

Amerika Serikat sebagai mata uang di dalam laporan keuangannya, maka penulis

melakukan translasi dari laporan keuangan tersebut ke dalam mata uang rupiah

Indonesia. Kurs yang digunakan adalah kurs penutupan di setiap akhir tahun laporan

keuangan.

Berikut ini adalah kurs akhir tahun yang penulis gunakan dalam analisis untuk

PT International Nickel Indonesia, Tbk:

• Kurs 2002 : Rp 8.940

• Kurs 2003 : Rp 8.465

• Kurs 2004 : Rp 9.290

• Kurs 2005 : Rp 9.830

• Kurs 2006 : Rp 9.020

4.2.2.1 Analisis Financial Leverage

TABEL 7
146

PT Interntional Nickel Indonesia Tbk


Analisis Financial Leverage
(Dalam Ribuan Rupiah)
Tahun Jumlah Hutang Jumlah Aktiva Financial Perubahan Perubahan Perubahan
Financial
Leverage Hutang Aktiva Leverage
(%) (%) (%) (%)
2002 Rp 3.984.791.949 Rp 10.878.487.020 36,63 - - -
2003 Rp 3.670.855.715 Rp 10.958.501.190 33,50 -7,88 0,74 -8,55
2004 Rp 3.981.870.510 Rp 13.967.533.580 28,51 8,47 27,46 -14,90
2005 Rp 3.471.061.470 Rp 16.143.553.420 21,50 -12,83 15,58 -24,58
2006 Rp 3.968.385.080 Rp 19.147.042.640 20,73 14,33 18,60 -3,61

Dari tabel analisis financial leverage tersebut dapat dilihat bahwa tingkat

financial leverage dari PT International Nickel Indonesia Tbk mengalami penurunan

dari tahun ke tahun sejak tahun 2002 hingga 2006. Tingkat financial leverage tertinggi

terjadi pada tahun 2002, yaitu sebesar 36,33%. Sedangkan yang terendahnya terjadi pada

tahun 2006, yaitu sebesar 20,73%.

Di tahun 2003 terjadi penurunan pada jumlah hutang PT International Nickel

Indonesia Tbk dari Rp 3.984.791.949.000 menjadi Rp 3.670.855.715.000 atau sebesar

7,88% sedangkan jumlah aktiva meningkat sebesar 0,74%. Hal ini mengakibatkan

tingkat financial leverage turun sebesar 8,55% menjadi 33,50% dari yang sebelumnya

36,63%.

Di tahun 2004 jumlah hutang mengalami peningkatan sebesar 8,47% akan tetapi

peningkatan dalam jumlah aktiva lebih besar dibandingkan peningkatan jumlah hutang

sebesar 27,46% sehingga financial leverage tetap mengalami penurunan sebesar

14,90%.
147

Terjadi penurunan tingkat financial leverage yang paling besar di tahun 2005,

yaitu sebanyak 24,58%. Hal ini dikarenakan jumlah hutang mengalami penurunan yang

besar, yaitu sebesar 12,83% sedangkan jumlah aktiva mengalami kenaikan yang cukup

besar pula, yaitu sebanyak 15,58%.

Pada tahun 2006, financial leverage kembali mengalami penurunan sebanyak

3,61%. Penurunan ini ada penurunan tingkat financial leverage terkecil, yaitu hanya

sebesar 3,61%. Jumlah hutang di tahun 2006 meningkat sebanyak 14,33% dan jumlah

aktiva juga meningkat sebanyak 18,60% dari yang sebelumnya Rp 16.143.553.420.000

menjadi Rp 19.147.042.640.000 di tahun 2006.

4.2.2.2 Analisis Return On Equity (ROE)

TABEL 8
PT Interntional Nickel Indonesia Tbk
Analisis Return On Equity
(Dalam Ribuan Rupiah)
Tahun Laba Bersih Jumlah Ekuitas Return Perubahan Perubahan Perubahan
On Equity Laba Ekuitas
(%) Bersih (%) (%) ROE (%)
2002 Rp 270.721.080 Rp 6.893.785.980 3,93 - - -
2003 Rp 881.926.025 Rp 7.287.645.475 12,10 225,77 5,71 208,16
2004 Rp 2.462.667.520 Rp 9.985.663.070 24,66 179,24 37,02 103,79
2005 Rp 2.643.483.600 Rp 12.672.491.950 20,86 7,34 26,91 -15,42
2006 Rp 4.630.489.160 Rp 15.178.657.560 30,51 75,17 19,78 46,24

Dari tabel analisis return on equity (ROE) tersebut dapat dilihat bahwa tingkat

ROE dari PT International Nickel Indonesia Tbk sejak tahun 2002 hingga 2006

mengalami perubahan yang cukup fluktuatif. Tingkat ROE tertinggi terjadi pada tahun
148

2006, yaitu sebesar 30,51%. Sedangkan yang terendahnya terjadi pada tahun 2002, yaitu

sebesar 3,93%.

Kenaikan ROE tertinggi terjadi pada tahun 2003, yaitu sebesar 12,10% dari

3,93% di tahun 2002 atau mengalami kenaikan sebesar 208,16%. Hal ini diakibatkan

karena terjadinya peningkatan yang sangat tinggi pada laba bersih PT International

Nickel Indonesia Tbk yaitu sebesar 225,77% dari Rp 270.721.080.000 di tahun 2002

menjadi Rp 881.926.025.000 di tahun 2003.

Di tahun 2004 PT International Nickel Indonesia Tbk kembali mengalami

kenaikan ROE yang tinggi, yaitu sebanyak 103,79%. Hal ini juga disebabkan karena

kembali meningkatnya laba bersih perseroan sebesar 179,24% di tahun 2004.

Pada tahun 2005 ROE PT International Nickel Indonesia Tbk mengalami

penurunan sebanyak 15,42%. Hal ini terjadi karena kenaikan jumlah ekuitas yang lebih

tinggi dibangingkan dengan kenaikan laba bersih.

Tahun 2006 ROE PT International Nickel Indonesia Tbk kembali naik menjadi

30, 51% dari tahun sebelumnya 20,86% atau naik sebesar 46,24%. ROE pada tahun

2006 ini adalah ROE tertinggi sejak tahun 2002 hingga tahun 2006.

4.2.2.3 Analisis Earning Per Share (EPS)

TABEL 9
PT Interntional Nickel Indonesia Tbk
Analisis Earning Per Share
(Dalam Ribuan Rupiah kecuali Earning Per Share)
Tahun Laba Bersih Jumlah Saham Earning Perubahan Perubahan Perubahan
Beredar Laba Jumlah
(lembar) Per Share Bersih Saham EPS (%)
149

(%) (%)

2002 Rp 270.721.080 248.408.468 Rp 1.072,80 - - -


2003 Rp 881.926.025 248.408.468 Rp 3.555,30 225,77 0,00 231,40
2004 Rp 2.462.667.520 993.634.000 Rp 2.508,30 179,24 300,00 -29,45
2005 Rp 2.643.483.600 993.634.000 Rp 2.654,10 7,34 0,00 5,81
2006 Rp 4.630.489.160 993.634.000 Rp 4.690,40 75,17 0,00 76,72

Dari tabel analisis earning per share (EPS) tersebut dapat dilihat bahwa tingkat

EPS dari PT International Nickel Indonesia Tbk sejak tahun 2002 hingga 2006

mengalami perubahan yang cukup berfluktuatif. Tingkat EPS tertinggi terjadi pada tahun

2006, yaitu sebesar Rp 4.690,40. Sedangkan yang terendahnya terjadi pada tahun 2002,

yaitu sebesar Rp 1.072,80.

Pada tahun 2003, EPS dari PT International Nickel Indonesia Tbk mengalami

peningkatan tertinggi, yaitu sebanyak 231,40% dari Rp 1.072,80 menjadi Rp 3.555,30.

Hal ini dikarenakan peningkatan laba bersih perseroan yang mencapai 225,77% di tahun

tersebut.

Pada tahun 2004 terjadi penurunan tingkat EPS sebesar 29,45% karena PT

International Nickel Indonesia Tbk melakukan stock split (pemecahan saham) pada

tahun 2004 sehingga jumlah saham beredar meningkat dari 248.408.468 menjadi

993.634.000 atau sebanyak 300%.

Setelah penurunan EPS di tahun 2004 karena dilakukannya stock split, pada

tahun 2005 EPS PT International Nickel Indonesia Tbk kembali mengalami kenaikan,

yaitu sebanyak 5,81%.


150

Tahun 2006 PT International Nickel Indonesia Tbk mencatat EPS tertinggi sejak

tahun 2002 hingga 2006, yaitu sebesar Rp 4.690,40 atau naik sebanyak 76,72% dari EPS

tahun sebelumnya.

Jumlah saham beredar yang digunakan dalam perhitungan ini adalah jumlah rata-

rata tertimbang saham beredar pada setiap akhir tahun.

4.2.2.4 Ringkasan Hasil Financial Leverage, Return On Equity (ROE), dan Earning

Per Share (EPS)

TABEL 10
PT Interntional Nickel Indonesia Tbk
Ringkasan Financial Leverage,Return On Equity,
dan Earning Per Share
Tahun Financial Return Earning
Leverage On Equity Per Share
2002 36,63% 3,93% Rp 1.072,80
2003 33,50% 12,10% Rp 3.555,30
2004 28,51% 24,66% Rp 2.508,30
2005 21,50% 20,86% Rp 2.654,10
2006 20,73% 30,51% Rp 4.690,40

Dari table diatas dapat dilihat bahwa setiap kenaikan atau pun penurunan

financial leverage tidak selalu diikuti dengan kenaikan atau penurunan return on equity

(ROE). Pada tahun 2003, financial leverage mengalami penurunan akan tetapi ROE

mengalami peningkatan di tahun tersebut. Di tahun 2004 hal yang sama seperti pada

tahun 2003 juga terjadi dimana financial leverage mengalami penurunan akan tetapi
151

ROE mengalami peningkatan. Begitu pula pada saat financial leverage turun di tahun

2006, ROE tetap mengalami peningkatan di tahun tersebut.

Dapat dilihat juga bahwa setiap penurunan financial leverage juga tidak sealu

diikuti oleh penurunan earning per share (EPS). Hal ini terjadi pada tahun 2003, 2005,

dan 2006, dimana pada saat financial leverage mengalami penurunan sedangkan EPS

tetap mengalami kenaikan.

4.2.2.5 Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap Return On Equity (ROE)

TABEL 11
PT Interntional Nickel Indonesia Tbk
Pengaruh Financial Leverage (X)
terhadap Return On Equity (Y)
X Y XY X2 Y2
0,3663 0,0393 0,0144 0,1342 0,0015
0,3350 0,1210 0,0405 0,1122 0,0146
0,2851 0,2466 0,0703 0,0813 0,0608
0,2150 0,2086 0,0448 0,0462 0,0435
0,2073 0,3051 0,0632 0,0430 0,0931
1,4087 0,9206 0,2332 0,4169 0,2135

Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh financial leverage terhadap return

on equity (ROE), penulis menggunakan beberapa teknik analisis statistik, yaitu analisis

korelasi sederhana, analisis regresi linier, uji koefisien regresi dan uji hipotesis, serta

analisis koefisien determinasi.

a. Analisis Korelasi Sederhana

r= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)


152

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r= 5 (0,2332) – (1,4087) (0,9206)

[5 (0,4169) – (1,4087)2] [5 (0,2135) – (0,9206)2]

r= -0,1308

[0,1001] [0,2200]

r = -0,1308

0,1484

r = -0,8814 -88,14%

Dari hasil perhitungan di atas dapat diketahui bahwa korelasi (hubungan) antara

financial leverage dengan return on equity (ROE) adalah sebesar -0,8814 atau -88,14%.

Hal ini berarti bahwa hubungan antara financial leverage dengan ROE bersifat

hubungan kuat negatif, artinya setiap terjadinya peningkatan financial leverage akan

menyebabkan penurunan dari EPS.

b. Analisis Regresi Linier

Y = a + bX

b= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

n (ΣX2) – (ΣX)2

b = 5 (0,2332) – (1,4087) (0,9206)


153

[5 (0,4169) – (1,4087)2]

b = -0,1308
0,3164

b = -0,4134

a = (ΣY) b (ΣX)

n n

a = (0,9206) (-0,4134) (1,4087)

5 5

a = 0,3006

Dengan demikian, persamaan regresi liner dapat ditulis

Y = 0,3006 - 0,4134 X

Dari persamaan tersebut a menunjukkan konstanta (α) yang menunjukkan bahwa

jika tidak ada financial leverage, maka tingkat return on equity (ROE) perseroan akan

mencapai 0,3006%. Sedangkan b dalam persamaan tersebut menunjukkan bahwa setiap

adanya peningkatan penggunaan financial leverage sebesar 1%, maka akan

menyebabkan penurunan ROE sebesar -0,4134%.

c. Uji Koefisien Regresi dan Pengujian Hipotesis

∑ y2 = ∑ Y2 – (∑Y)2 ∑ x2 = ∑ X2 – (∑X)2

n n

∑ y2 = 0,2135 – (0,9206)2 ∑ x2 = 0,4169 – (1,4087)2

5 5

∑ y2 = 0,0440 ∑ x2 = 0,0200
154

Σ y2 – b2 Σ x2
Se =
n–2

0,0440 – (-0,4134)2 (0,0200)


Se =
5–2

0,0406
Se =
3

Se = 0,1163

t0 = b √Σ x2 tα = t [α/2 ; (n-2)]

Se

t0 = -0,4134 √0,0200 tα = t [0,05/2 ; (5-2)]

0,1163

t0 = -0,5030 tα = t [0,025 ; 3] = 3,182

Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa hasil dari t0 adalah -0,5030, sedangkan

hasil hasil dari tα adalah 3,182 jadi -ta ≤ t0 ≤ ta,. Hal ini berarti H0 diterima (Ha ditolak),

artinya tidak ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan financial leverage terhadap

return on equity (ROE).

d. Uji Koefisien Determinasi

r2 = [n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)2]

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r2 = (-0,8814)2

r2 = 0,7769 77,69%
155

Korelasi (r) yang diperoleh adalah 0,8814 atau 88,14%, maka r2 adalah 0,7769

atau 77,69%. Koefisien determinasi (r2) menjelaskan pengaruh financial leverage

terhadap return on equity (ROE) hanya sebesar 77,69% saja. Sedangkan sisanya yang

sebesar 22,31% dipengaruhi oleh faktor lain di luar financial leverage yang tidak diteliti

dalam skripsi ini.

4.2.2.6 Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap Earning Per Share (EPS)

TABEL 12
PT Interntional Nickel Indonesia Tbk
Pengaruh Financial Leverage (X)
terhadap Earning Per Share (Y)
X Y XY X2 Y2
0,3663 1.072,80 392,9666 0,1342 1.150.899,84
0,3350 3.555,30 1.191,0255 0,1122 12.640.158,09
0,2851 2.508,30 715,1163 0,0813 6.291.568,89
0,2150 2.654,10 570,6315 0,0462 7.044.246,81
0,2073 4.690,40 972,3199 0,0430 21.999.852,16
1,4087 14.480,90 3.842,0598 0,4169 49.126.725,79

Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh financial leverage terhadap

earning per share (EPS), penulis menggunakan beberapa teknik analisis statistik, yaitu

analisis korelasi sederhana, analisis regresi linier, uji koefisien regresi dan uji hipotesis,

serta analisis koefisien determinasi.

a. Analisis Korelasi Sederhana

r= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]


156

r= 5 (3.842,0598) – (1,4087) (14.480,90)

[5 (0,4169) – (1,4087)2] [5 (49.126.725,79) – (14.480,90)2]

r= -1.188,9448

[0,1001] [35.937.164,14]

r = -1.188,9448

1.896,6576

r = -0,6269 -62,69%

Dari hasil perhitungan di atas dapat diketahui bahwa korelasi (hubungan) antara

financial leverage dengan eaning per share (EPS) adalah sebesar -0,6269 atau -62,69%.

Hal ini berarti bahwa hubungan antara financial leverage dengan EPS bersifat hubungan

kuat negatif, artinya setiap terjadinya peningkatan financial leverage akan menyebabkan

penurunan dari EPS.

b. Analisis Regresi Linier

Y = a + bX

b= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

n (ΣX2) – (ΣX)2

b = 5 (3.842,0598) – (1,4087) (14.480,90)

[5 (0,4169) – (1,4087)2]

b = -1.188,9448
157

0,3164

b = -3.757,7269

a = (ΣY) b (ΣX)

n n

a = (14.480,90) (-3.757,7269) (1,4087)

5 5

a = 3.954,8810

Dengan demikian, persamaan regresi liner dapat ditulis

Y = 3.954,8810 – 3.757,7269 X

Dari persamaan tersebut a menunjukkan konstanta (α) yang menunjukkan bahwa

jika tidak ada financial leverage, maka tingkat earning per share (EPS) perseroan akan

mencapai Rp 3.954,8810. Sedangkan b dalam persamaan tersebut menunjukkan bahwa

setiap adanya penggunaan financial leverage sebesar 1%, maka akan menyebabkan

penurunan EPS sebesar Rp 37,7577269.

c. Uji Koefisien Regresi dan Pengujian Hipotesis

∑ y2 = ∑ Y2 – (∑Y)2 ∑ x2 = ∑ X2 – (∑X)2

n n

∑ y2 = 49.126.725,79 – (14.480,90)2 ∑ x2 = 0,4169 – (1,4087)2

5 5

∑ y2 = 7.187.432,8280 ∑ x2 = 0,0200

Σ y2 – b2 Σ x2
Se =
158

n–2

7.187.432,8280 – (-3.757,71269)2 (0,0200)


Se =
5–2

6.905.022,5989
Se =
3

Se = 1.517,1270

t0 = b √Σ x2 tα = t [α/2 ; (n-2)]

Se

t0 = -3.757,71269 √0,0200 tα = t [0,05/2 ; (5-2)]

1.517,1270

t0 = -0,3503 tα = t [0,025 ; 3] = 3,182

Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa hasil dari t0 adalah -0,3503, sedangkan

hasil hasil dari tα adalah 3,182 jadi -ta ≤ t0 ≤ ta,. Hal ini berarti H0 diterima (Ha ditolak),

artinya tidak ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan financial leverage terhadap

earning per share (EPS).

d. Uji Koefisien Determinasi

r2 = [n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)2]

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r2 = (-0,6269)2

r2 = 0,3930 39,30%
159

Korelasi (r) yang diperoleh adalah -0,6269 atau -62,69%, maka r2 adalah 0,3930

atau 39,30%. Koefisien determinasi (r2) menjelaskan pengaruh financial leverage

terhadap earning per share (EPS) hanya sebesar 39,30% saja. Sedangkan sisanya yang

sebesar 60,70% dipengaruhi oleh faktor lain di luar financial leverage yang tidak diteliti

dalam skripsi ini.

4.2.3 PT Timah Tbk

4.2.3.1 Analisis Financial Leverage

TABEL 13
PT Timah Tbk
Analisis Financial Leverage
(Dalam Ribuan Rupiah)
Tahun Jumlah Hutang Jumlah Aktiva Financial Perubahan Perubahan Perubahan
Financial
Leverage Hutang Aktiva Leverage
(%) (%) (%) (%)
2002 Rp 452.244.000 Rp 1.940.502.000 23,31 - - -
2003 Rp 581.310.000 Rp 1.974.282.000 29,44 28,54 1,74 26,34
2004 Rp 906.983.000 Rp 2.416.289.000 37,54 56,02 22,39 27,48
2005 Rp 1.213.866.000 Rp 2.748.257.000 44,17 33,84 13,74 17,67
2006 Rp 1.785.322.000 Rp 3.462.222.000 51,57 47,08 25,98 16,75

Dari tabel analisis financial leverage tersebut dapat dilihat bahwa tingkat

financial leverage dari PT Timah Tbk sejak tahun 2002 hingga 2006 mengalami

perubahan kenaikan dari tahun ke tahunnya. Tingkat financial leverage tertinggi terjadi

pada tahun 2006, yaitu sebesar 51,57%. Sedangkan yang terendahnya terjadi pada tahun

2002, yaitu sebesar 23,31%.


160

Di tahun 2003 ada kenaikan financial leverage sebanyak 26,34%. Hal ini

disebabkan karena adanya peningkatan jumlah hutang dari tahun 2002 dari Rp

452.244.000.000 menjadi Rp 1.974.282.000.000 di tahun 2003 atau sebesar 26,34%.

Kenaikan financial leverage tertinggi terjadi di tahun 2004, yaitu sebesar

27,48%. Jumlah hutang meningkat cukup besar di tahun 2004 yaitu sebanyak 56,02%.

Begitu pula dengan jumlah aktiva yang meningkat dari Rp 1.974.282.000.000 menjadi

Rp 2.416.289.000.000 atau sebesar 22,39%.

Di tahun 2005 financial leverage mengalami kenaikan sebanyak 17,67%. Begitu

pula di tahun 2006 financial leveragei kembali mengalami kenaikan yang sedikit lebih

kecil dari kenaikan di tahun 2005, yaitu sebanyak 16,75%.

4.2.3.2 Analisis Return On Equity (ROE)

TABEL 14
PT Timah Tbk
Analisis Return On Equity
(Dalam Ribuan Rupiah)
Tahun Laba Bersih Jumlah Ekuitas Return Perubahan Perubahan Perubahan
On
Equity Laba Ekuitas
(%) Bersih (%) (%) ROE (%)
2002 Rp 11.278.000 Rp 1.488.252.000 0,76 - - -
2003 Rp 76.372.000 Rp 1.392.565.000 5,48 577,18 -6,43 623,71
2004 Rp 177.907.000 Rp 1.509.256.000 11,79 132,95 8,38 114,94
2005 Rp 107.499.000 Rp 1.534.033.000 7,01 -39,58 1,64 -40,55
2006 Rp 208.147.000 Rp 1.676.629.000 12,41 93,63 9,30 77,16

Dari tabel analisis return on equity (ROE) tersebut dapat dilihat bahwa tingkat

ROE dari PT Timah Tbk sejak tahun 2002 hingga 2006 mengalami perubahan yang
161

cukup fluktuatif. Tingkat ROE tertinggi terjadi pada tahun 2006, yaitu sebesar 12,41%.

Sedangkan yang terendahnya terjadi pada tahun 2002, yaitu sebesar 0,76%.

Kenaikan ROE tertinggi terjadi pada tahun 2003, yaitu sebesar 623,71% dari

0,76% di tahun 2002 menjadi sebesar 5,48%. Hal ini diakibatkan karena terjadinya

peningkatan yang sangat tinggi pada laba bersih PT Timah Tbk yaitu sebesar 577,18%

dari Rp 11.278.000.000 di tahun 2002 menjadi Rp 76.372.000.000 di tahun 2003 dan

juga turunnya jumlah aktiva sebesar 6,43%.

Setelah kenaikan ROE yang sangat tinggi di tahun 2003, pada tahun 2004 ROE

dari PT Timah Tbk kembali mengalami kenaikan yang besar, yaitu sebesar 114,94% dari

tahun sebelumnya.

Setelah dua kali mengalami kenaikan yang tinggi, pada tahun 2005 ROE PT

Timah Tbk kembali mengalami penurunan. Hal ini dikarenan adanya penurunan yang

pada laba bersih perseroan, yaitu sebesar 39,58%. Hal tersebut menyebabkan terjadinya

penurunan ROE sebesar 40,55% dari tahun 2004.

ROE PT Timah Tbk kembali naik di tahun 2006 sebesar 77,16% dari tahun

sebelumnya. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan jumlah hutang yang jauh lebih

tinggi dibandingkan dengan peningkatan jumlah aktiva.

4.2.3.3 Analisis Earning Per Share (EPS)

TABEL 15
PT Timah Tbk
Analisis Earning Per Share
(Dalam Ribuan Rupiah kecuali Earning Per Share)
Tahun Laba Bersih Jumlah Saham Earning Perubahan Perubahan Perubahan
162

Laba Jumlah
Beredar Bersih Saham
(lembar) Per Share (%) (%) EPS (%)
2002 Rp 11.278.000 503.301.999 Rp 22 - - -
2003 Rp 76.372.000 503.301.999 Rp 152 577,18 0,00 577,18
2004 Rp 177.907.000 503.301.999 Rp 353 132,95 0,00 132,95
2005 Rp 107.499.000 503.301.999 Rp 214 -39,58 0,00 -39,58
2006 Rp 208.147.000 503.301.999 Rp 414 93,63 0,00 93,83

Dari tabel analisis earning per share (EPS) tersebut dapat dilihat bahwa tingkat

EPS dari PT Timah Tbk sejak tahun 2002 hingga 2006 mengalami perubahan yang

cukup berfluktuatif. Tingkat EPS tertinggi terjadi pada tahun 2006, yaitu sebesar Rp

414. Sedangkan yang terendahnya terjadi pada tahun 2002, yaitu sebesar Rp 22.

Pada tahun 2003, EPS dari PT Timah Tbk mengalami peningkatan dari Rp 22

menjadi Rp 152 atau meningkat sebesar 577,18 %. Kenaikan tersebut adalah yang

tertinggi selama tahun 2002 hingga tahun 2006. Kenaikan tersebut dikarenakan oleh

peningkatan laba bersih perseroan pada tahun 2003 sebesar 577,18%.

Pada tahun 2004, EPS PT Timah, Tbk kembali mengalami kenaikan yang

besar,yaitu sebesar 132,95% dari Rp 152 di tahun 2003 menjadi Rp 353 di tahun 2004.

Terjadi penurunan EPS di tahun 2005, yaitu menjadi Rp 214 dari tahun

sebelumnya Rp 353. Penyebab penurunan ini adalah karena turunnya laba bersih PT

Timah Tbk sebesar 39,58%.

Pada tahun 2006 kembali peningkatan EPS yang cukup tinggi, yaitu sebesar

93,83% yang diakibatkan karena naiknya laba bersih perseroan di tahun 2006 menjadi

Rp 208.147.000.000 atau sebesar 93,83% dari tahun 2005.


163

Jumlah saham beredar yang digunakan dalam perhitungan ini adalah jumlah rata-

rata tertimbang saham beredar pada setiap akhir tahun.

4.2.1.4 Ringkasan Hasil Financial Leverage, Return On Equity (ROE), dan Earning

Per Share (EPS)

TABEL 16
PT Timah Tbk
Ringkasan Financial Leverage,Return On Equity,
dan Earning Per Share
Tahun Financial Return Earning
Leverage On Equity Per Share
2002 23,31% 0,76% Rp 22,00
2003 29,44% 5,48% Rp 152,00
2004 37,54% 11,79% Rp 353,00
2005 44,17% 7,01% Rp 214,00
2006 51,57% 12,41% Rp 414,00

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa setiap kenaikan atau pun penurunan

financial leverage tidak selalu diikuti dengan kenaikan atau penurunan return on equity

(ROE). Pada saat financial leverage naik di tahun 2005, ROE tetap mengalami

pennurunn di tahun tersebut.

Dapat dilihat juga bahwa setiap peningkatan financial leverage juga tidak selalu

diikuti oleh penurunan earning per share (EPS). Hal ini terjadi pada tahun 2005, dimana

pada saat financial leverage mengalami peningkatan sedangkan EPS mengalami

penurunan.
164

4.2.1.4 Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap Return On Equity (ROE)

TABEL 17
PT Timah Tbk
Pengaruh Financial Leverage (X)
terhadap Return On Equity (Y)
X Y XY X2 Y2
0,2331 0,0076 0,0018 0,0543 0,000057
0,2944 0,0548 0,0161 0,0867 0,0030
0,3754 0,1179 0,0443 0,1409 0,0139
0,4417 0,0701 0,0310 0,1951 0,0049
0,5157 0,1241 0,0640 0,2659 0,0154
1,8603 0,3745 0,1572 0,7429 0,0373

Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh financial leverage terhadap return

on equity (ROE), penulis menggunakan beberapa teknik analisis statistik, yaitu analisis

korelasi sederhana, analisis regresi linier, uji koefisien regresi dan uji hipotesis, serta

analisis koefisien determinasi.

a. Analisis Korelasi Sederhana

r= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r= 5 (0,1572) – (1,8603) (0,3745)

[5 (0,7429) – (1,8603)2] [5 (0,0373) – (0,3745)2]

r= 0,0893

[0,2538] [0,0462]

r = 0,0893
165

0,1083

r = 0,8246 82,46%

Dari hasil perhitungan di atas dapat diketahui bahwa korelasi (hubungan) antara

financial leverage dengan return on equity (ROE) adalah sebesar 0,8246 atau 82,46%.

Hal ini berarti bahwa hubungan antara financial leverage dengan ROE bersifat

hubungan kuat positif, artinya setiap terjadinya peningkatan financial leverage akan

diikuti dengan peningkatan dari ROE.

b. Analisis Regresi Linier

Y = a + bX

b= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

n (ΣX2) – (ΣX)2

b = 5 (0,1572) – (1,8603) (0,3745)

[5 (0,7429) – (1,8603)2]

b = 0,0893
0,5038

b = 0,1772

a = (ΣY) b (ΣX)

n n

a = (0,3745) 0,1772 (1,8603)

5 5
166

a = 0,0090

Dengan demikian, persamaan regresi liner dapat ditulis

Y = 0,0090 + 0,1772 X

Dari persamaan tersebut a menunjukkan konstanta (α) yang menunjukkan bahwa

jika tidak ada financial leverage, maka tingkat return on equity (ROE) perseroan akan

mencapai 0,1772%. Sedangkan b dalam persamaan tersebut menunjukkan bahwa setiap

adanya peningkatan penggunaan financial leverage sebesar 1%, maka akan

menyebabkan peningkatan ROE sebesar 0,0090%.

c. Uji Koefisien Regresi dan Pengujian Hipotesis

∑ y2 = ∑ Y2 – (∑Y)2 ∑ x2 = ∑ X2 – (∑X)2

n n

∑ y2 = 0,0373 – (0,3745)2 ∑ x2 = 0,7429 – (1,8603)2

5 5

∑ y2 = 0,0093 ∑ x2 = 0,0508

Σ y2 – b2 Σ x2
Se =
n–2

0,0093 – (0,1772)2 (0,0508)


Se =
5–2

0,0077
Se =
3

Se = 0,0507
167

t0 = b √Σ x2 tα = t [α/2 ; (n-2)]

Se

t0 = 0,1772 √0,0508 tα = t [0,05/2 ; (5-2)]

0,0507

t0 = 0,7877 tα = t [0,025 ; 3] = 3,182

Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa hasil dari t0 adalah 0,7877, sedangkan

hasil hasil dari tα adalah 3,182 jadi -ta ≤ t0 ≤ ta. Hal ini berarti H0 diterima (Ha ditolak),

artinya tidak ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan financial leverage terhadap

return on equity (ROE).

d. Uji Koefisien Determinasi

r2 = [n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)2]

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r2 = (0,8246)2

r2 = 0,6800 68%

Korelasi (r) yang diperoleh adalah 0,8246 atau 82,46%, maka r2 adalah 0,6800

atau 68%. Koefisien determinasi (r2) menjelaskan pengaruh financial leverage terhadap

return on equity (ROE) hanya sebesar 68% saja. Sedangkan sisanya yang sebesar 32%

dipengaruhi oleh faktor lain di luar financial leverage yang tidak diteliti dalam skripsi

ini.

4.2.1.4 Analisis Pengaruh Financial Leverage terhadap Earning Per Share (EPS)
168

TABEL 18
PT Timah Tbk
Pengaruh Financial Leverage (X)
terhadap Earning Per Share (Y)
X Y XY X2 Y2
0,2331 22,00 5,1282 0,0543 484,00
0,2944 152,00 44,7488 0,0867 23.104,00
0,3754 353,00 132,5162 0,1409 124.609,00
0,4417 214,00 94,5238 0,1951 45.796,00
0,5157 414,00 213,4998 0,2659 171.396,00
1,8603 1.155,00 490,4168 0,7429 365.389,00

Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh financial leverage terhadap

earning per share (EPS), penulis menggunakan beberapa teknik analisis statistik, yaitu

analisis korelasi sederhana, analisis regresi linier, uji koefisien regresi dan uji hipotesis,

serta analisis koefisien determinasi.

a. Analisis Korelasi Sederhana

r= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r= 5 (490,4168) – (1,8603) (1.155)

[5 (0,7429) – (1,8603)2] [5 (365.389) – (1.155)2]

r= 303,4375

[0,2538] [492.920]

r = 303,4375
169

353,6992

r = 0,8579 85,79%

Dari hasil perhitungan di atas dapat diketahui bahwa korelasi (hubungan) antara

financial leverage dengan eaning per share (EPS) adalah sebesar 0,8579 atau 85,79%.

Hal ini berarti bahwa hubungan antara financial leverage dengan EPS bersifat hubungan

kuat positif, artinya setiap terjadinya peningkatan financial leverage akan menyebabkan

peningkatan dari EPS.

b. Analisis Regresi Linier

Y = a + bX

b= n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)

n (ΣX2) – (ΣX)2

b = 5 (490,4168) – (1,8603) (1.155)

[5 (0,7429) – (1,8603)2]

b = 303,4375
0,5038

b = 602,2975

a = (ΣY) b (ΣX)

n n

a = (1.155) 602,2975 (1,8603)

5 5
170

a = 6,9092

Dengan demikian, persamaan regresi liner dapat ditulis

Y = 6,9092 + 602,2975 X

Dari persamaan tersebut a menunjukkan konstanta (α) yang menunjukkan bahwa

jika tidak ada financial leverage, maka tingkat earning per share (EPS) perseroan akan

mencapai Rp 6,9092. Sedangkan b dalam persamaan tersebut menunjukkan bahwa

setiap adanya penggunaan financial leverage sebesar 1%, maka akan menyebabkan

penurunan EPS sebesar Rp 6,022975.

c. Uji Koefisien Regresi dan Pengujian Hipotesis

∑ y2 = ∑ Y2 – (∑Y)2 ∑ x2 = ∑ X2 – (∑X)2

n n

∑ y2 = 365.389 – (1.155)2 ∑ x2 = 0, 7429 - (1,8603)2

5 5

∑ y2 = 98.584 ∑ x2 = 0,0508

Σ y2 – b2 Σ x2
Se =
n–2

98.584 – (602,2975)2 (0,0508)


Se =
5–2

80.155,6763
Se =
3

Se = 163,4581
171

t0 = b √Σ x2 tα = t [α/2 ; (n-2)]

Se

t0 = 602,2975 √0,0508 tα = t [0,05/2 ; (5-2)]

163,4581

t0 = 0,8305 tα = t [0,025 ; 3] = 3,182

Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa hasil dari t0 adalah 0,8305, sedangkan

hasil hasil dari tα adalah 3,182 jadi -ta ≤ t0 ≤ ta,. Hal ini berarti H0 diterima (Ha ditolak),

artinya tidak ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan financial leverage terhadap

earning per share (EPS).

d. Uji Koefisien Determinasi

r2 = [n (ΣXY) – (ΣX) (ΣY)2]

[n (ΣX2) – (ΣX)2] [n (ΣY2) – (ΣY)2]

r2 = (0,8579)2

r2 = 0,7360 73,60%

Korelasi (r) yang diperoleh adalah 0,8579 atau 85,79%, maka r2 adalah 0,7360

atau 73,60%. Koefisien determinasi (r2) menjelaskan pengaruh financial leverage

terhadap earning per share (EPS) hanya sebesar 73,60% saja. Sedangkan sisanya yang

sebesar 26,40% dipengaruhi oleh faktor lain di luar financial leverage yang tidak diteliti

dalam skripsi ini.


172

BAB V

KESIMPULA DA SARA

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan dari ketiga

perusahaan pertambangan logam dan mineral lainnya sebagai berikut:

1. Pada PT Aneka Tambang Tbk, tingkat financial leverage terkecil terjadi pada

tahun 2002 sebesar 33,42% dan terbesar pada tahun 2004 sebesar 58,99%.

Tingkat ROE terkecil terjadi pada tahun 2002 sebesar 10,59% dan terbesar tahun

2006 sebesar 36,27%. Untuk EPS perseroan yang terkecil pada tahun 2002

sebesar Rp 92,99 dan terbesar di tahun 2006 sebesar Rp 813,95.


173

2. Pada PT International Nickel Indonesia Tbk, tingkat financial leverage terkecil

terjadi pada tahun 2006 sebesar 20,73% dan terbesar pada tahun 2002 sebesar

36,33%. Tingkat ROE terkecil terjadi pada tahun 2002 sebesar 3,93% dan

terbesar tahun 2006 sebesar 30,51%. Untuk EPS perseroan yang terkecil pada

tahun 2002 sebesar Rp 1.072,80 dan terbesar di tahun 2006 sebesar Rp 4.690,40.

3. Pada PT Timah Tbk, tingkat financial leverage terkecil terjadi pada tahun 2002

sebesar 23,31% dan terbesar pada tahun 2006 sebesar 51,57%. Tingkat ROE

terkecil terjadi pada tahun 2002 sebesar 0,76% dan terbesar tahun 2006 sebesar

12,41%. Untuk EPS perseroan yang terkecil pada tahun 2002 sebesar Rp 22 dan

terbesar di tahun 2006 sebesar Rp 414.

4. Penggunaan hutang yang lebih besar tidak selalu memberikan tingkat financial

leverage yang lebih besar bagi perusahaan pertambangan logam dan mineral

lainnya. Meningkatnya penggunaan hutang berakibat meningkatnya beban

hutang yang harus ditanggung oleh perusahaan. Tingkat financial leverage yang

besar tidak selalu dapat meningkatkan return on equity dan earning per share

pada perusahaan pertambangan logam dan mineral lainnya.

5. Pada perusahaan pertambangan logam dan mineral lainnya financial leverage

tidak selalu mempunyai hubungan yang positif terhadap ROE dan EPS begitu

juga sebaliknya. Financial leverage yang positif akan diikuti dengan

meningkatnya ROE dan EPS sedangkan financial leverage yang negatif akan

diikuti penurunan ROE dan EPS.


174

6. Setelah dilakukan analisis koefisien regresi, pengujian hipotesa dan analisis

determinasi, diketahui bahwa tidak ada pengaruh financial leverage terhadap

ROE dan EPS yang signifikan, hal ini disebabkan pengaruh financial leverage

terhadap ROE dan EPS tidak mempunyai pengaruh yang besar terhadap

perusahaan pertambangan logam dan mineral lainnya.

5.2 Saran

1. Perusahaan yang menggunakan hutang sebagai salah satu sumbernya, sebaiknya

proporsi hutang tersebut didasarkan pada perhitungan yang tepat agar pada

akhirnya penggunaan hutang tersebut akan mendatangkan keuntungan bagi

perusahaan bukan sebaliknya. Jika penggunaan financial leverage

menguntungkan bagi perusahaan maka pendapatan akan lebih besar daripada

beban bunganya yang harus dibayar, hal ini akan meningkatkan laba bagi

pemegang saham atas modal yang telah ditanamkannya.

2. Bila perusahaan menggunakan pinjaman dalam bentuk mata uang asing

sebaiknya diikuti dengan melakukan hedging, hal ini dilakukan untuk

mengurangi selisih kurs mata uang asing dan menghindari kerugian yang lebih

besar.
175

DAFTAR PUSTAKA

Almilia, Luciana Spica dan Meliza Silvy. 2006. Analisis Kebijakan Dividen dan
Kebijakan Leverage Terhadap Prediksi Kepemilikan Manajerial dengan Tehnik
Analisis Multinomial Logit. Jurnal Akuntansi dan Bisnis. Volume 6, No. 1.
Brigham, Eugene F dan Joel F. Houston. 2006. Dasar-dasar Manajemen Keuangan.
Buku Satu. Edisi Sepuluh. Terjemahan oleh Ali Akbar Yulianto dari
Fundamentals of Financial Management (2004). Jakarta: Salemba Empat.
Brigham, Eugene F dan Joel F. Houston. 2006. Dasar-dasar Manajemen Keuangan.
Buku Dua. Edisi Sepuluh. Terjemahan oleh Ali Akbar Yulianto dari
Fundamentals of Financial Management (2004). Jakarta: Salemba Empat.
Garrison, Ray H. 2001. Akuntansi Manajemen. Terjemahan A. Totok Budisantoro, SE,
Akt, dari Managerial Accounting. Jakarta: Salemba Emapat.
Harnanto. 2003. Akuntansi Keuangan Menengah. Buku Dua. Yogyakarta: BPFE.
Keown, Arthur J., John D. Martin, J. William Petty dan David F. Scott, Jr. 2000. Dasar-
dasar Manajemen Keuangan. Edisi Tujuh. Terjemahan oleh Chaerul D. Djakman
dan Dwi Sulistyorini dari Basic Financial Management (1996). Jakarta: Salemba
Empat.
Kuncoro, Mujarad. 2001. Metode Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.
Martono, Cyrillius. 2002. Analisis Pengaruh Profitabilitas Industri, Rasio Leverage
Keuangan Tertimbang dan Intensitas Modal Tertimbang serta Pangsa Pasar
Terhadap “ROA” dan “ROE” Perusahaan Manufaktur yang Go-Public Di
Indonesia. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Volume 4, No. 2.
Mayo, Herbert B. 2004. Financial Intitutions, Investment and Management. Tenth
Edition. South Western: Thomson.
Riyanto, Bambang. 2001. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi Empat.
Yogyakarta: BPFE.
Sasongko, Noer dan Nila Wulandari. 2006. Pengaruh EVA dan Rasio-rasio
Profitabilitas Terhadap Harga Saham. Empirika Volume 19, No. 1.
176

Skousen, K. Fred, Earl K. Stice dan James D. Stice. 2004. Akuntansi Keuangan
Menengah. Edisi Lima Belas. Terjemahan oleh Thomson Learning dari
Intermediate Accounting. Jakarta: Salemba Empat.
Suhardi dan Purwanto. 2004. Statistik Untuk Ekonomi dan Keuangan Modern. Jakarta:
Salemba Empat.
Suharli, Michell. 2005. “Studi Empiris terhadap Dua Faktor yang Mempengaruhi Return
Saham pada Industri Food & Beverages di Bursa Efek Jakarta.” Jurnal Akuntansi
& Keuangan. Vol. 7. No. 2: 99- 116.
Sundjadja, Ridwan dan Inge Barlian. 2002. Manajemen Keuangan. Edisi Sepuluh.
Bandung: Prehallindo.
Supranto, J. 2000. Statistik Teori dan Aplikasi. Jakarta: Erlangga.
Warren, Carl, James. M Reeve, Philip E. Fess. 2005. Pengantar Akuntansi. Terjemahan
oleh Thomson Learning dari Accounting. Jakarta: Salemba Empat.
http://corobirugroup.wordpress.com/
www.google.co.id
www.idx.co.id
http://organisasi.org/pengertian-arti-definisi-saham-biasa-dan-saham-preferen-ilmu-
pengetahuan-dasar-investasi-ekonomi-keuangan
http://skripsi.blog.dada.net/post/624385/PENGARUH-PUBLIKASI-PEMECAHAN-
SAHAM-STOCK-SPLIT