Anda di halaman 1dari 10

Sekularisasi dan Implikasinya Terhadap Dunia ‚berkembang2‛.

Dapat dilihat dari fenomena


yang terjadi semakin tampak kerusakan-
Pendidikan Indonesia
kerusakan moral yang melebihi kerusakan moral
(Studi Kasus Fenomena Degradasi Prestasi di dunia Barat, fenomena kerusakan malah
nampak di dunia modern saat ini, perilaku-
Moral Pelajar Indonesia)
perilaku primitif seperti tawuran3, main hakim
sendiri dengan cara membakar, mudah sekali
membunuh, dan kerusakan-kerusakan moral lain
Oleh:
yang dapat kita saksikan di media yang selalu
Ahmad Rusydi, S.Psi, S.Sos.I. 1 menghiasi keseharian negeri ini.
Pendidikan merupakan benteng moral
suatu bangsa, apabila pendidikannya gagal maka
Abstraksi
sudah dipastikan moral suatu bangsa akan
Pelajar Indoneisa telah mengalami
merosot dengan tajam dan apabila pendidikan
kemerosotan prestasi moral yang sangat
suatu bangsa berhasil maka sudah bisa
signifikan pada zaman modern saat ini.
diperkirakan moral suatu bangsa akan membaik.
Sekularisasi merupakan salah satu faktor
Pemuda atau pelajar adalah ujung tombak
penyebab kemerosotan prestasi moral tersebut
sekaligus bibit-bibit pemimpin-pemimpin
karena sekularisasi telah merambah sistem
bangsa yang sangat determinan menentukan
pendidikan bahkan sampai kepada paradigma
masa depan bangsa ini di masa depan, namun
masyarakat Indonesia baik dari kalangan
ironisnya korban kerusakan moral kebanyakan
pengelola institusi pendidikan, orang tua murid,
dari kalangan pelajar dan pemuda. Seks bebas4,
bahkan guru. Pendidikan berbasis moral (moral
pemggunaan narkotik (drug abuse), perkelahian
based education) merupakan solusi untuk
dan tauran kebanyakan dilakukan oleh para
menanggulangi kerusakan moral tersebut, salah
pelajar.
satu pendidikan moral yang efektif,
Agama merupakan suatu pondasi yang
komperhensif, dan sesuai dengan masyarakat
sangat kuat untuk menjaga moral bangsa ini,
Indonesia adalah pendidikan berbasis akhlaq
karena agama manapun selalu mengajarkan
Islam, karena Islam merupakan agama totaliter
norma-norma luhur dan moral yang tinggi,
mencakup segala aspek terlebih lagi aspek moral
karena sebagaimana turunnya ajaran Islam
untuk memperbaiki moral umat manusia. 2
‚Berkembang‛ dalam artian hanya pada aspek
material, karena perkembangan zaman saat ini mengikuti
Latar Belakang perkembangan zaman dunia Barat yang bersifat Sekuler
dan Liberal tanpa mengedepankan aspek-aspek
Sejak dahulu Bangsa Indonesia dikenal perkembangan spiritual-religi
sebagai bangsa yang ramah, berbudaya,
memiliki moral dan akhlak yang begitu tinggi. 3
Begitu banyak fakta mengenai tawuran pelajar,
Kultur tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah sebagai contoh terbaru tawuran pada tanggal 5 Oktober
prestrasi moral bangsa Indonesia dibanding 2010 di Sukabumi, lihat! -----------, ‚Polisi Bubarkan
Tawuran Remaja,‛ Kompas.com [5 Oktober 2010]
bangsa-bangsa lain, di mana bangsa lain http://regional.kompas.com/read/2010/10/05/20440843/Po
khususnya di Barat sudah disibukkan dengan lisi.Bubarkan.Tawuran.Pelajar),
kultur Individualisme, sekularisme, dan
4
materialisme. Lembaga swadaya masyarakat Synovate
Namun saat ini keprihatinan melanda Research pernah melakukan survei pada September 2004
di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan, dengan
bangsa Indonesia yang dulunya di kenal sebagai respondennya 450 orang remaja putra-putri berusia antara
bangsa bermoral namun lambat laun moral ini 15 sampai 24 tahun. Sebanyak 44% responden mengaku
sudah terkikis oleh zaman yang semakin punya pengalaman seks pada usia 16 sampai 18 tahun.
Bahkan ada 16% lainnya yang mengaku punya
pengalaman seks sejak usia 13 sampai 15 tahun 40%
1
Penulis Adalah Sarjana (S1) Psikologi UIN responden mengaku melakukannya bersama pacar di
Syarif Hidayatullah Jakarta, Sarjana (S1) Sosial Islam rumah, 26% di tempat kost, dan 26% lainnya di hotel,
Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirosat Islamiyah Al- data ini berasal dari Pengalaman Seks Belasan Tahun,‛
Hikmah Jakarta, dan Mahasiswa Magister (S2) artikel diakses pada 12 Oktober 2009 dari
Konsentrasi Psikologi Islam Pascasarjana UIN Syarif http://www.penapendidikan.com/pengalaman-seks-
Hidayatullah Jakarta belasan-tahun.html
sebuah penelitian yang dilakukan Koenig dan merasakan dampaknya, arus tersebut menerpa
koleganya menemukan bahwa orang yang sering bangsa ini melalui berbagai segi kehidupan,
pergi ke tempat ibadah, sering berdoa, dan seperti media10, politik, tokoh, diplomasi
sering membaca kitab suci secara signifikan pemerintahan, life style, ilmu pengetahuan, dan
menampakkan rendahnya alkoholisme5. Spilka pendidikan. Upaya pemisahan antara agama
merangkum beberapa hasil penelitian dan dengan kehidupan menyeluruh nampaknya
menyimpulkan bahwa religiusitas sangat bertujuan untuk merusak dan menghancurkan
mempengaruhi moral (personal morality). bangsa ini dari dalam, khususnya para pelajar
Beberapa diantaranya dikatakan bahwa 63 % dan pemuda yang mudah sekali mengikuti arus
protestan di Amerika yang tidak aktif beragama gaya barat yang mereka ketahui dari berbagai
mengalami hubungan sex sebelum nikah sumber yang diterima secara instan tanpa
(premarital intercourse)6. Penelitian McIntosh, mereka memikirkan dan memilah mana kultur
Fitch, Wilson, dan Nyberg menjelaskan bahwa ‚sampah‛ dan mana kultur yang konstruktif
religiusitas berkorelasi negatif dengan untuk negeri ini.
penyalahgunaan obat-obatan. Cahalan Sebuah data hasil penelitian yang
menyebutkan hasil penelitiannya yaitu hanya dilakukan oleh Scheepers dan koleganya secara
7% orang protestan konservatif yang meminum jelas menampakkan adanya kemerosotan moral
alkohol7. Berkaitan dengan pembentukan moral pada negara-negara yang liberal-sekuler dan
melalui agama, Weber mengatakan bahwasanya tampak moral yang tinggi pada negara-negara
pengaruh agama menentukan spirit yang beragama kuat11.
pembentukan karakter agar tercermin dalam Sebuah kondisi yang cukup
kehidupan sehari-hari. Megawangi mengatakan menggembirakan saat ini ketika cukup banyak
bahwa membangun moral sangat erat kaitannya sekolah-sekolah unggulan yang muncul menjadi
dengan masalah spiritualitas dan agama. harapan masyarakat untuk menempatkan anak-
Menurut Megawangi manusia hanya ingin anak mereka dididik dengan baik. Terbukti dari
tunduk kepada nilai-nilai moral tinggi, karena beberapa sekloah unggulan tersebut
manusia percaya bahwa ada tujuan hakiki yang menghasilkan prestasi akademis yang luar biasa,
harus dicapai diluar kehidupan duniawi dan namun yang menjadi permasalahan adalah
materi8. apakah sekolah-sekolah tersebut berhasil dalam
Suatu upaya sekularisasi merupakan arus mendidik moral sebagaimana mereka berhasil
gelombong pemikiran yang dapat kita rasakan mendidik akademis siswa?, bahkan disekolah
menerpa negeri ini, sehingga dalam satu abad unggulan yang berlabel Islam pun masih
sejak renaiscanse9 di eropa bangsa ini sudah ditemukan kegagalan pendidikan moral.
Mungkin pada tahun 90-an kita masih bisa
5
menikmati kondisi pelajar yang bersikap sopan
Harold G. Koenig, Is Religion Good for Your terhadap guru, penurut, dan perilaku-perilaku
Health; The Effect of Religion on Physical and Mental
Health (New York: The Haworth Pastoral Press, 1997), 65
lainnya layaknya seorang murid terhadap guru.
Namun pada saat ini banyak dijumpai di
6
Bernard Spilka, The Psychology of Religion: an sekolah-sekolah yang berlabel-kan Islam terjadi
Empirical Approach (New Jersey : Prentice-Hall., Inc, perilaku-perilaku ketidaksopanan murid
Englewood Cliffs, 1985)
7 10
Bernard Spilka, The Psychology of Religion: an Bahkan menurut Idi Subandy, ‚Kritik Etika
Empirical Approach (New Jersey : Prentice-Hall., Inc, dan Estetika di Balik Tirani Televisi,‛ dalam Dakwah
Englewood Cliffs, 1985) Kontemporer: Pola Alternatif Dakwah Melalui Televisi,
ed. Yunan Yusuf Dkk (Bandung: Pusdai Press, 2000), 60
8
Ratna Megawangi, Pendidikan Karakter menjelaskan bahwa telah terjadi imperialisme media
(Indonesia Heritage Foundation, 2004) (media imperialism) yang merupakan sasarn baru
imperialisme kebudayaan barat
9
Renaiscanse: adalah zaman pencerahan Eropa (Westernisasi/Amerikanisasi) yang menggunakan
setelah di dominasi oleh totalitas gereja, beberapa kekuatan media sebagai saluran hegemoni, dominasi, atau
literatur menjelaskan bahwa Renaiscanse adalah awal kolonialisasi kesadaran terhadap negara-negara
mula sekularisme ilmu pengetahuan sebagai bentuk berkembang.
kekecewaan terhadap gereja yang tidak pernah
11
menghargai suatu penemuan Ilmiah yang bertentangan Peer Scheepers dkk, ‚Education, Religiosity
dengannya and Moral Attitudes: Explaining Cross-National Effect
Differences‛ Sociology of Religian 63:2 (2002), 170
terhadap guru. Apakah ini dapat dikatakan gerakan baru di lain pihak, maka lahirlah
pemerintahan
Perancis pada tahun
1789 M, ini
merupakan
pemerintahan
sekuler pertama
yang memerintah
atas nama rakyat,
Kemudian lahirlah
pemikiran lahirnya
prisnip ‚akal dan
alam‛ (naturalism):
orang-orang sekuler
menyeru kepada
kebebasan akal dan
diletakkannya sifat-
sifat Tuhan pada
alam.12
Adapun
sebuah prestasi? Apakah lengkap sebuah masuknya sekularisme ke Indonesia tentunya
prestasi akademis tanpa dibarengi dengan melalui kolonialis Belanda yang menjajah negeri
prestasi moral siswa?, bahklan penulis ini selama hampir 3 abad, sekalipun misi 3G
berasumsi bahwa prestasi moral lebih penting dibawa oleh kolonial, faktor Gospel tidak
dari prestasi akademis. menjadi tujuan utama karena awal mula
Polemik akan muncul jika kita ingin penjajahan dilakukan oleh sebuah perusahaan
memikirkan mengapa moral pelajar bangsa kapitalis VOC, sehingga agama tidak terlalu
Indonesia memburuk?, apakah rusaknya moral penting bagi mereka. Ketika itu pendidikan
pelajar bangsa Indonesia merupakan kegagalan resmi yang didirikan oleh belanda tidak
pendidikan bangsa ini? Ataukah rusaknya moral sedikitpun menyentuh aspek keagamaan, tidak
pelajar bangsa ini merupakan suatu upaya ada materi pelajaran agama. Setelah pasca
interfensi eksternal untuk menghancurkan kemerdekaan, pemerintah Indonesia mengadopsi
pemuda Indonesia? Apakah kerusakan moral habis-habisan sistem pendidikan belanda,
tersebut dikarenakan upaya sekularisasi? Karena adapun pendidikan keagamaan seperti
itulah menarik bagi penulis untuk mengkaji hal pesantren, sekolah Islam, dan Madrasah tidak
tersebut. diakomodir dalam sistem pendidikan nasional
pada saat itu.13
Sejarah Sekularisasi Sistem Pendidikan
Indonesia
Sekularisasi muncul dilatar belakangi 12
oleh kekuasaan totalitas gereja di Eropa yang WAMY, Gerakan Keagamaan dan
Pemikirannya, cet ke-5 (Jakarta: Al-I’Tishom, 1993),
senantiasa otoriter terhadap seluruh aspek untuk memahami lebih jelasnya mengenai sekluarisme
kehidupan manusia. Kaum agamawan telah baca! David Phillips, ‚Pressure of Secularism,‛
berubah menjadi tirani, menjadi politikus- Cross†Way Issue Summer No. 101 (2006). Baca juga
politikus profesional, dan menjadi diktator- Austin Cline, ‚Secularism; History, Nature, & Importance
diktator yang berkedok iklerius, kepasturan, of Secularism‛ (2009)
http://atheism.about.com/od/secularismseparation/tp/Secu
komunis, dan penjualan bursa penebus dosa. larismHistoryPhilosophy.htm.
Sikap gereja menentang sains, mengungkung
pola berpikir, membentuk pengadilan- 13
Untuk mengetahui sejarah pendidikan Islam
pengadilan, penggeledahan, dan menuduh para Indonesia lihat! Absari, Sejarah dan Dinamika Lembaga-
ilmuwan sebagai pengacau. Munculah Lembaga Pendidikan Islam di Nusantara: Sejarah
Pendidikan Islam; Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan
kekecewaan rakyat terhadap gereja, lahirlah Era Rasulullah Sampai Indonesia. (Jakarta: Kencan,
Revolusi Perancis akibat konflik yang terjadi Editor: Samsul Nizar, 2009)
antara gereja di satu pihak dengan gerakan-
Pasca-kemerdekaan pemerintahan selalu masyarakat tentang pentingnya agama di setiap
dipimpin oleh pemerintahan sekular, parlemen lini kehidupan, seluruh masyarakat memandang
lebih sering dimenangkan oleh partai-partai sekolah untuk bekerja, agar di masa depan hidup
sekuler seprti PNI & Golkar, hal ini tentunya dengan layak, pola pikir materialistik ini
mempengaruhi pendidikan Agama di Indonesia menyebar begitu cepat dikalangan masyarakat
yang sangat dibatasi oleh pemerintah. Pelajaran dan kondisi negeri ini yang terus menerus
agama hanya berlangsung selama satu jam ‚digeragoti‛ oleh industri-industri yang hanya
pelajaran selama seminggu14. Siswa lebih sering menawarkan lapangan pekerjaan pada aspek
diajarkan kemampuan akademis semata orientasi ekonomi saja, hal ini semakin
dibanding kualitas moral dan akhlaq. Inilah membuat masyarakat saling memburu dan
peninggalan kolonial yang sudah mendarah bersaing meraih kepentingan materialistik
daging pada sistem pendidikan nasional yang tersebut.
selalu memarjinalkan pendidikan Agama, Sekularisasi sistem pendidikan di
bahkan dapat dikatakan kita masih terjajah dari Indonesia dapat tampak dalam beberapa segi,
segi pendidikan15. Untuk meresmikan dan dari segi birokrasi pemerintahan, dari segi
mengakui formalitas Madrasah merupakan legislasi perundang-undangan, dan dari segi
upaya yang sangat sulit dilakukan padahal kebijakan praktis (kurikulum) di beberapa
negeri ini dipenuhi oleh umat Islam, seakan- sekolah. Dari segi pemerintahan, institusi
akan umat Islam menjadi terbatas untuk pendidikan agama dikelola oleh Kementrian
mempelajari agamanya sendiri di sekolah resmi. Agama sementara pendidikan umum oleh
Sekolah-sekolah yang berbasis Islam Kementrian Pendidikan Nasional. Dari segi
secara sistematis tidak mendapat fasilitas yang perundang-undangan dapat dilihat dari UU
memadai dari pemerintah, menyebabkan Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang
sekolah-sekolah Islam mengalami penurunan jalur, jenjang dan jenis pendidikan bagian kesatu
kualitas dan stagnasi, sehingga menjadikan (umum) pasal 15 yang berbunyi: Jenis
pendidikan agama tidak dianggap prospektif pendidikan mencakup pendidikan umum,
oleh masyarakat dibanding sekolah-sekolah kejuruan, akademik, profesi, advokasi,
sekuler16. Kondisi ini diperburuk oleh abainya keagaman, dan khusus. Dari segi kurikulum
pendidikan agama hanya diberikan durasi yang
14
Undang-undang pendidikan nasional pertama sangat singkat dan hanya cukup untuk
(UU No. 4 tahun 1950 jo UU No. 12 tahun 1954) pendidikan kognitif saja sebagaimana
diundangkan masalah madrasah dan pesantren tidak
dimasukkan sama sekali, yang ada hanya masalah
kompetensi dasar yang ditetapkan oleh
pendidikan agama di sekolah (umum) kuriklulum, padahal agama lebih penting
diarahkan kepada moral dibandingkan
15
Bahkan menurut Halimi Am, ‚Liberasisasi intelektual. Sistem pendidikan inilah yang akan
Pendidikan Pesanan Asing Sebuah Model Penjajahan baru menghasilkan manusia-manusia cerdas dibidang
Dunia Pendidikan,‛ (Artikel) (Kompasiana Sharing
Connecting, 30 Mei 2010),
Iptek namun tidak cerdas dibidang moral
http://edukasi.kompasiana.com/2010/05/30/liberasisasi- sehingga dikhawatirkan mereka cerdas untuk
pendidikan-pesanan-asing-sebuah-model-penjajahan-baru- melakukan tindak korupsi dan sebagainya.
dunia-pendidikan (Diakses 8 November 2010) Sistem pendidikan liberal dan sekular
menjelaskan bahwa Kekerasan yang dilakukan penjajahan yang hanya menekankan kepada kepentingan
asing lebih memprihatinkan lagi. Sekolah-sekolah luar
negeri beramai-ramai mendirikan di Indonesia. Akibatnya
intelektualisme dan individualisme saja. Dalam
disamping sekolah-sekolah yang ada terancam kalah pendidikan liberal-sekular, keindividuan begitu
bersaing, tetapi yang lebih fatal dampak jangka ditekankan dan pendidikan juga dipisahkan dari
panjangnya. Anak-anak bangsa Indonesia akan dididik nilai-nilai keagamaan. Tentang kegagalan
oleh sekolah Asing di negeri sendiri. Pola pikir, budaya, pendidikan liberal dan sekular ini, Khursid
sikap, dan kecintaan otomatis berpindah ke misi sekolah
asing tersebut. Kalau sudah sampai pada tataran
Ahmad mengatakan bahwa: ‚Pendidikan
mencintai segala hal yang berbau asing, maka prinsip dipisahkan dari agama dan nilai-nilai akhlaq.
hidupnya menjadi tergantung asing.
16
Untuk mengetahui lebih banyak mengenai (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999); Nizar, Samsul,
sejarah pendidikan Islam Lihat! Hasbullah, Sejarah Sejarah Pendidikan Islam; Menelusuri Jejak Sejarah
Pendidikan di Indonesia: Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia (Jakarta:
Perkembangan (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1999); Kencana, 2009)
Maskum, Madrasah: Sejarah & Perkembangannya
Kebebasan menjadi buah mulut‛. Dalam sebenarnya lebih penting, aspek moral yang
pendidikan sekular , agama hanya di jadikan seharusnya dikedepankan malah
sebagai salah satu mata pelajaran, dan bukan dikesampingkan demi mempersiapkan pekerja-
sebagai dasar ilmu yang di pelajari. Sungguh pekerja terampil bukan untuk mempersiapkan
sangat wajar kalau generasi yang di hasilkan pemuda-pemuda berakhlak mulia. Tidak heran
adalah generasi muda yang berkepradian ganda kalau kemerosotan moral banyak terjadi pada
dan berperilaku buruk17. sekolah-sekolah kejuruan (SMK) yang
mengedepankan aspek industri semata19.
Dampak Materialisme Sebagai Paradigma Di sisi lain, kapitalisasi pendidikan telah
Pengelolaan Pendidikan menyebabkan pendidikan menjadi barang mahal
Sejak munculnya revolusi Industri dan begitu sulit dijangkau masyarkat miskin.
penguasaan tertinggi seakan-akan beralih dari Dan hanya bisa dinikmati oleh segelintir
gereja menjadi kaum kapitalis pemilik modal, orang20. Paradigma orang tua saat ini
pandangan umat manusia tertuju kepada menyekolahkan anaknya adalah ‚saya sudah
orientasi materialistik yang menjajikan bayar mahal-mahal, maka anak saya haruis
kebahagiaan dan kekuasaan dunia ternyata dapat diperlakukan dengan baik‛, padahal seharusnya
diraih dengan materi. mereka sadar kalau anak mereka seharusnya
Ternyata arus pemikiran ini dianut oleh ingin dicetak menjadi pribadi yang bermoral
beberapa pengelola institusi pendidikan di mulia yang harus melalui tahap yang tidak
Indonesia, menjadikan sekolah sebagai lahan mudah, harus senantiasa dibentuk dengan
industri yang subur, beberapa sekolah-sekolah reward-punishment yang sesuai, harus mau
bermunculan untuk merespon permintaan diperlakukan dengan tegas (digembleng) agar
konsumen akan pendidikan yang memuaskan mereka nantinya menjadi anak-anak yang
bagi ‚konsumen‛, paradigma seperti ini bermoral.
tentunya akan berdampak pada unsur-unsur Ironisnya saat ini pemikiran
pendidikan yang lebih praktis seperti metode materialisme juga telah merambah institusi
pengajaran dan sebagainya harus disesuaikan pendidikan Islam, dengan kekuatan materi yang
dengan keinginan konsumen bukan lagi sebagai dimiliki oleh para ‚konsumen‛, sekolah harus
keinginan pendidik. rela merubah kebijakan internal dan kurikuler
Arus modernisasi yang begitu kuat untuk menyesuaikan dengan pangsa pasar. Maka
membuat pola pendidikan di Indonesia berubah, terjadilah pembebesan atau toleransi yang
orientasi pendidikan beralih dari orientasi ilmu berlebihan terhadap peserta didik khusunya
pengetahuan menjadi orientasi kerja dalam hal moral. Karena biasanya ‚konsumen‛
(industrialisme). Orientasi kerja pada hanya menuntut prestasi akademis dibanding
pendidikan terkait dengan cara bagaimana prestasi moral dimana prestasi akademis
sekolah membantu menyiapkan angkatan muda tentunya memilki prospek yang lebih jelas,
masuk dunia kerja, berbagai keterampilan yang formal, dan legitimatif dibandingkan dengan
dikembangkan di sekolah dalam rangka prestasi moral.
membawa angkatan muda mengambil bagian di
bidang ekonomi18. Pola pendidikan seperti ini 19
sebetulnya mereduksi makna dari pendidikan itu Data kepolisian Polda Metro Jaya 2000
menunjukkan bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan
sendiri, tujuan pendidikan menjadi menyempit oleh para pelajar setiap tahun mengalami peningkatan,
hanya pada aspek ekonomi-industri semata, baik secara kuantitas maupun kualitas. Jenis kekerasan
dilupakan aspek pengembangan lain yang yang dilakukan oleh mereka cukup bervariasi, mulai dari
pencurian, tawuran, perkelahian, penganiayaan, sampai
pembunuhan. Dari data tersebut diperoleh informasi
17
Aiman, ‚Pendidikan sekuler di Indonesia telah bahwa banyak kasus kekerasan pelajar terutama dilakukan
gagal‛ (Review), (Shvoong.com The Global Source for oleh pelajar Sekolah Teknik Menengah (STM), atau
Summaries & Reviews, 1 Februari 2010), sekarang disebut Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
http://id.shvoong.com/society-and-news/news-
20
items/1969686-pendidikan-sekuler-di-indonesia-telah/ Aiman, ‚Pendidikan sekuler di Indonesia telah
gagal‛ (Review), (Shvoong.com The Global Source for
18
Wim Hoppers, Pengembangan Orientasi Summaries & Reviews, 1 Februari 2010),
Pendidikan Dasar (Ciputat: PT Logos Wacana Ilmu, http://id.shvoong.com/society-and-news/news-
2004), 7-8 items/1969686-pendidikan-sekuler-di-indonesia-telah/
dirinya dan Pendidikan semacam ini merupakan
Dampak Metode Pendidikan Humanistik21 adopsi dari pendidikan di Amerika dan Eropa23,
Sejak berkembangnya teori pendidikan di Negara-negara maju pun metode semacam ini
yang berpusat pada kebebasan siswa, pada saat sudah lama ditinggalkan karena ternyata
itu para guru yang mendapatkan kuliah membawa dampak negatif.
mengenai metode ini berbondong-bondong Patterson menemukan dalam
merubah paradigma metode pendidikan penelitiannya bahwa sistem pendidikan
tradisional yang dianggap keras dan konservatif humanisme ternyata tidak bertahan lama di
menjadi metode pendidikan berpusat pada murid Amerika, hal itu dikarenakan karena: (1) Banyak
(student center learning), yang menjadi para guru merasa tidak mampu dan tidak
permasalahan adalah adanya kebebasan bagi nyaman dalam menjalankan pendekatan berbasis
murid untuk mengembangkan semua potensinya humanistik24; (2) Pengembangan afektif pada
baik potensi fisik maupun psikis yang kerap kali metode humanistik ternyata menjadi konflik
sedikit melewati batas moral yang lama- dengan pengembangan kognitif; (3) Sulitnya
kelamaan moral siswa bergeser secara perlahan- untuk mengklarifikasi perbuatan siswa yang
lahan tanpa disadari oleh para guru dan para salah; (4) Senantiasa identik dengan humanisme
guru selalu memberikan toleransi pada sekuler, padahal banyak siswa yang beragama.25
kemerosotan perlahan tersebut, mereka Penulis mendukung pendapat Durkheim
menanggap sebisa mungkin cara-cara kekerasan yang menyatakan bahwa:
dan hukuman dihindari, mereka mengklaim ‚hanya dengan mengadakan
bahwa metode pendidikan tradisional tidak pembatasnlah maka anak akan dapat
efektif lagi, padahal metode yang tegas dibebaskan secara hakiki.........mereka
sebetulnya metode yang tepat untuk membatasi perlu dididik secara sistematis tentang
moral siswa agar tidak bergesar, namun mereka warisan kebudayaan negerinya, maka ia
begitu bangga dengan pola metode pendidikan dapat memilki rasa identitas dan
modern tersebut yang mereka tidak menyadari kepuasan pribadi........bila ia sadar akan
bahwa Pendidikan Humanistik berasal dari dari keterlibatannya dalam suatu masyarakat
filsafat Eksistensialis-Humanisme yang dan dia diikat oleh peraturan di
menekankan pada kebebasan manusia, bersifat dalamnya berupa kewajiban-kewajiban,
antroposentrik dan tentunya juga muncul dari maka dia dapat menjadi seorang
induk pemikiran sekularisme. makhluk yang bermoral......... pendidikan
Metode pendidikan Humanistik berakar model individualisme yang berlebihan
pada madzhab humanistik psikologi seperti yang dapat mengakibatkan kegagalan
Abraham Maslow, Carl Rogers, dan Rudolf pribadi dan kekacauan sosial, pendidikan
Steiner22 serta juga berakar pada filsafat moral merupakan penangkal dari
eksistensialisme yang mengajarkan bahwa penyakit-penyakit seperti itu26‛
semua manusia harus diberi kebebasan dalam
menjalani hidupnya. Menurut eksistensialisme
kebenaran bersifat relatif, kebenaran yang paling 23
Muhammad Noer.‛--------------------------‚.
benar adalah apapun yang dipilih oleh manusia. Jurnal Pendidikan Islam jilid 8 (1999), 13-14, lihat juga
Metode pendidikan Humanistik Romly Qomaruddien Abu Yazied, ‚Sekularisasi
Pendidikan‛ (Artikel) dalam Media Online Pusdiklat DDII
menawarkan metode yang cukup menggiurkan
bagi para orang tua murid, karena seorang 24
Pendekatan berbasis humanistik dalam
pelajar diberi kebebasan yang cukup untuk pendidikan contohnya menciptakan situasi kelas yang
mengembangkan bakatnya dan kemampuannya natural, aktifitas dan interaksi yang spontan, diskusi
tanpa melihat faktor luar yang membentuk bebas dan terbuka, dan penggalian dan belajar sendiri. Ini
berdasarkan Patterson, ‚What Has Happened to
Humanistic Education?‛ Michigan Journal of Couneling
21
Yang dimaksud humanisasi di sini lebih and Developement Vol XVIII No 1 Summer (1987), 2
25
disorot kepada arus pemikiran yang mengajarkan Patterson, ‚What Has Happened to Humanistic
kebebasan manusia yang berlebihan (antroposentris) Education?‛ Michigan Journal of Couneling and
22
---------------, ‚Humanistic Education,‛ Developement Vol XVIII No 1 Summer (1987), 2
(Ensikopedia) (Wikipedia, the free encyclopedia)
26
en.wikipedia.org/wiki/Humanistic_education (Diakses 8 Emile Durkheim, Pendidikan Moral: Suatu
November 2010) Studi Teori dan Aplikasi Sosiologi Pendidikan (Erlangga,
1961), xiii. Penulis hanya mengambil pendapat tentang
Nampaknya model pendidikan untuk menjauhi kesesatan dan penderitaan di
humanistik juga mulai merambah institusi dunia dan akhirat28.
pendidikan Islam. Dengan dalih memberi Muhibbudin menjelaskan bahwa
kebebasan kepada murid untuk berkembang, pendidikan Islam (Tarbiyah Qur’a>niyyah)
siswa menjadi lewat dari batas moral Islam itu mencakup beberapa aspek moral yaitu salah
sendiri. Interaksi murid dan guru tidak lagi satunya aspek komunikasi, Islam (Al-Qur’a>n)
seperti yang diajarkan oleh Islam, guru yang mengajarkan bagaimana berinteraksi kepada
seharusnya menjadi pusat ilmu berpindah pemimpin, orang-orang terdekat, orang asing,
kepada murid dengan istilah yang dikenal dan non-muslim29. Ini merupakan bukti bahwa
sekarang ‚student center learning‛. Seorang pendidikan moral yang tepat untuk bangsa ini
guru dibuat ‚pincang‛ dengan metode bukanlah pendidikan moral pancasila melainkan
pendekatan humanistik, otoritas guru untuk pendidikan moral Islami-Qur’ani.
memberikan hukuman berkurang bahkan Jika kita meninjau turunnya Islam di
dihilangkan, wajar saja kalau secara perlahan zaman jahiliyah, dapat kita pahami bahwa
pemuda di Indonesia semakin menampakkan turunnya Islam adalah untuk memperbaiki
sifat ‚kekurangajaran‛ terhadap guru atau masalah moral bangsa arab, hadirnya Islam telah
siapapun yang mendidiknya. menghapuskan moral jahiliyah yang telah lama
mendarah daging yang identik pada bangsa arab
Pardigma Pendidikan Islami Sebagai Sebuah ketika itu. Sebagaimana Allah berfirman:
Solulsi
           
Scheepers dan koleganya menemukan
dari hasil penelitiannya bahwa pendidikan           
agama dari orang tua memiliki efek positif yang
sangat kuat terhadap sikap dan moral, negara ‚Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta
yang masyarakatnya lebih religi menampakkan huruf seorang Rasul di antara mereka, yang
moral yang lebih baik dibandingkan negara yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,
lemah religinya dalam artian negara yang sangat mensucikan mereka30 dan mengajarkan mereka
kuat sekuleritasnya27, dengan kata lain kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan
pendidikan berbasis agama merupakan model Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar
yang efektif untuk menanggulangi kerusakan dalam kesesatan yang nyata‛ (Al-Jumu’ah: 2)
moral yang melanda negeri ini. Bahkan sebenarnya pendidikan model
Islam mengatur secara lengkap moralitas Islam adalah model yang lebih menyeluruh
dan etika kehidupan manusia, mulai dari meliputi psikis (nafs), hati (qalb), dan fisik
berkata-kata, tidur, berjalan, berinteraksi, (jism). Adapun pada aspek moral mengajarkan
berapakaian, dan banyak lagi. Semua itu tidak banyak hal, yang bersifat moral pribadi (moral
mungkin tercakup oleh model pendidikan personality) antara lain: berpegang teguh pada
sekuler yang menyandarkan moral pada kebenaran (al-Tsaba>t ‘ala> al-H}aqq), berucap
kesepakatan masyarakat. Tidak semua diatur dengan baik dan jujur31 (Qowl al-t}oyb wa al-
dalam kesepakatan masyarakat atau undang-
28
undang, norma buatan masyarakat bersifat Syaikh Qa>diri> Al-Ahdal, Athar al-Tarbiyah al-
temporer, selalu saja diamandemen dan tidak Isla>miyah fi> Amn al-Mujtami’ al-Isla>mi> (Al-Maktabah Al-
Sya>milah V.3.28)
pasti, adapun aturan dari Allah bersifat pasti dan
senantiasa relevan di manapun dan kapanpun. 29
Muh}ibb Al-Di>n, Al-Tarbiyyah al-Qur’a>niyyah
Islam memandang ilmu bukan hanya wa Atharoha> ‘ala> al-Fard al-Mujtami’ (Al-Maktabah Al-
koleksi teori akademis semata, Islam Sya>milah V.3.28)
memandagn Ilmu sebagai informasi (Ilha>m) dari 30
Mensucikan disini menurut Muh}ibb Al-Di>n
Allah swt dengan tujuan untuk kebahagiaan adalah pembagusan akhlaq (tahdzi>b al-akhla>q), lihat!
manusia di dunia dan akhirat, ilmu digunakan Muh}ibb Al-Di>n, Al-Tarbiyyah al-Qur’a>niyyah wa
Atharoha> ‘ala> al-Fard al-Mujtami’ (Al-Maktabah Al-
moralitas ini dari Durkheim, adapun pendapat Durkheim Sya>milah V.3.28)
mengenai moralitas sekuler penulis tidak sependapat.
31
Kejujuran pada kebenaran adalah masalah
27
Peer Scheepers dkk, ‚Education, Religiosity moral yang perlu diperhatikan oleh bangsa ini, KKN tidak
and Moral Attitudes: Explaining Cross-National Effect akan terjadi bila bangsa ini berani mempertahankan dan
Differences‛ Sociology of Religian 63:2 (2002), 157 jujur akan kebenaran
s}idq), ikhlas, sopan santun (al-h}ilm), memaafkan 2. Saat ini materialisme telah
(al-s}ofh wa al-masa>h}ah), lembut (al-layn), dapat mempengaruhi beberapa institusi
dipercaya (al-ama>nah), adil (al-‘adl). Adapun pendidikan di Indonesia, materialisme ini
yang bersifat moral sosial (moral society) antara menyebabkan pengabaian aspek moral
lain: tolong menolong (al-ta’a>wun)32, dan hanya mengedepankan aspek
professional (al-ih}sa>n) , disiplin (al-wafa>’) 34,
33
pendidikan berbasis industri (industry
mendahulukan kepentinga n orang lain (al- base education)
i>tha>r), murah hati (al-sakha>’), sabar (al-s}obr), 3. Pengaruh sekularisasi juga
pemaaf (al-‘afwu), saling berkasih sayang (al- mempengaruhi ilmu pengetahuan
tara>hi} >m), menyeru kepada kebaikan (amr dibidang pendidikan, munculnya metode
ma’ru>f), dan mencegah kemungkaran (nahi> pendidikan humanistik menyebabkan
munkar). kebebasan siswa dalam berperilaku
Adapun metode pendidikan akhlak Islam sehingga perlahan-lahan menembus
dapat kita pahami dari pendapat Kha>lid bin moral Islami.
H{a>mid Al-H{a>zimi yang menjelaskan empat 4. Islam adalah agama yang totaliter
tahap pendidikan akhlak Islam: (1) Menguraikan meliputi seluruh aspek kehidupan. Islam
kepada siswa mengenai keutamaan akhlaq mengajarkan sangat lengkap mengenai
dengan menjelaskan ciri-cirinya dan manfaatnya moral dan akhlaq yang selalu relevan
bagi individu dan masyarakat; (2) Menguraikan sepanjang zaman.
kepada siswa mengenai sifat buruk dengan Itulah yang dapat disimpulkan dari tulisan ini,
menjelaskan akibat dan bahayanya bagi individu semoga Allah memberikan hidayah kepada
dan masyarakat; (3) Memberikan kepada mereka masyarakat Indonesia dengan merubah
arahan-arahan untuk mencontoh dan mengambil paradigma pendidikan menjadi pendidikan
pelajaran dari al-Qur’an, Sunnah Nabawiyyah, berbasis moral sebagaimana yang diajarkan oleh
perilaku Sahabat, dan para Ulama; (4) Rasul saw.
Menyimpulkan dari pelajaran yang tadi telah
didapat dengan melihat dan mendengar DAFTAR PUSTAKA
langsung dari fenomena masyarakat, siswa boleh
dibantu dengan diberikan perumpamaan- Absari. Sejarah dan Dinamika Lembaga-
perumpamaan dan kisah-kisah, selain itu juga Lembaga Pendidikan Islam di Nusantara:
perlu diberikan cerita-cerita mengenai orang Sejarah Pendidikan Islam; Menelusuri
yang berakhlak buruk pula agar mereka Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah
memahami dampak kerusakannya35. Sampai Indonesia. Jakarta: Kencan,
Editor: Samsul Nizar, 2009

Al-Ahdal, Syaikh Qa>diri>. Athar al-Tarbiyah al-


Penutup & Kesimpulan Isla>miyah fi> Amn al-Mujtami’ al-Isla>mi>
Dari seluruh pembahasan yang telah dipaparkan (Al-Maktabah Al-Sya>milah V.3.28)
maka dapat disimpulkan beberapa hal:
1. Fenomena kerusakan moral yang terjadi Aiman, ‚Pendidikan sekuler di Indonesia telah
di negeri ini dikarenakan adanya upaya gagal‛ (Review), (Shvoong.com The
sekularisasi dan beberapa ghozwul fikri Global Source for Summaries &
yang digencarkan oleh barat. Apablia Reviews, 1 Februari 2010),
agama dipisahkan dari kehidupan sehari- http://id.shvoong.com/society-and-
hari, tentunya moral-akhlaq islami juga news/news-items/1969686-pendidikan-
terkikis. sekuler-di-indonesia-telah/

32
Lihat al-Ma>’idah: 2 Am, Halimi. ‚Liberasisasi Pendidikan Pesanan
Asing Sebuah Model Penjajahan baru
33
Al-Nah}l: 90 Dunia Pendidikan,‛ (Artikel)
34
(Kompasiana Sharing Connecting, 30
Lihat al-Ma>’idah: 1
Mei 2010),
35
Kha>lid bin H{a>mid Al-H{a>zimi>, Us}ul> al- http://edukasi.kompasiana.com/2010/05/
Tarbiyyah al-Isla>miyyah (Da>r ‘A<lim al-Kutub, 1420 H), 30/liberasisasi-pendidikan-pesanan-
asing-sebuah-model-penjajahan-baru- Couneling and Developement Vol XVIII
dunia-pendidikan (Diakses 8 November No 1 Summer (1987)
2010)
Qomaruddien, Romly, ‚Sekularisasi
Cline, Austin. ‚Secularism; History, Nature, & Pendidikan‛ (Artikel) dalam Media
Importance of Secularism‛ (2009) Online Pusdiklat DDII
http://atheism.about.com/od/secularisms
eparation/tp/SecularismHistoryPhilosoph Scheepers, Peer, dkk. ‚Education, Religiosity
y.htm. and Moral Attitudes: Explaining Cross-
National Effect Differences‛ Sociology
Al-Di>n, Muh}ibb. Al-Tarbiyyah al-Qur’a>niyyah of Religian 63:2 (2002)
wa Atharoha> ‘ala> al-Fard al-Mujtami’
(Al-Maktabah Al-Sya>milah V.3.28) Spilka, Bernard. The Psychology of Religion: an
Empirical Approach . New Jersey :
Durkheim, Emile. Pendidikan Moral: Suatu Prentice-Hall., Inc, Englewood Cliffs,
Studi Teori dan Aplikasi Sosiologi 1985
Pendidikan. Erlangga, 1961
Subandy, Idi. ‚Kritik Etika dan Estetika di
Hasbullah, Sejarah Pendidikan di Indonesia: Balik Tirani Televisi,‛ dalam Dakwah
Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Kontemporer: Pola Alternatif Dakwah
Perkembangan Jakarta: PT RajaGrafindo Melalui Televisi. ed. Yunan Yusuf Dkk.
Persada, 1999 Bandung: Pusdai Press, 2000

Al-H{a>zimi>, Kha>lid bin H{a>mid. Us}u>l al- UU No. 4 tahun 1950 jo UU No. 12 tahun 1954
Tarbiyyah al-Isla>miyyah. Da>r ‘A<lim al-
Kutub, 1420H WAMY, Gerakan Keagamaan dan
Pemikirannya, cet ke-5. Jakarta: Al-
Hoppers, Wim. Pengembangan Orientasi I’Tishom, 1993
Pendidikan Dasar . Ciputat: PT Logos
Wacana Ilmu, 2004 -----------, ‚Polisi Bubarkan Tawuran Remaja,‛
Kompas.com [5 Oktober 2010]
Koenig, Harold G. Is Religion Good for Your http://regional.kompas.com/read/2010/10
Health; The Effect of Religion on /05/20440843/Polisi.Bubarkan.Tawuran.
Physical and Mental Health. New York: Pelajar)
The Haworth Pastoral Press, 1997
--------------
Maskum, Madrasah: Sejarah & ,http://www.penapendidikan.com/pengal
Perkembangannya. Jakarta: Logos aman-seks-belasan-tahun.html
Wacana Ilmu, 1999
---------------, ‚Humanistic Education,‛
Megawangi, Ratna. Pendidikan Karakter. (Ensikopedia) (Wikipedia, the free
Indonesia Heritage Foundation, 2004 encyclopedia)
en.wikipedia.org/wiki/Humanistic_educa
Nizar, Samsul. Sejarah Pendidikan Islam; tion (Diakses 8 November 2010)
Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era
Rasulullah Sampai Indonesia. Jakarta:
Kencana, 2009

Noer, Muhammad.‛--------------------------‚.
Jurnal Pendidikan Islam jilid 8 (1999)

Patterson. ‚What Has Happened to Humanistic


Education?‛ Michigan Journal of