Anda di halaman 1dari 40

PPROPOSAL PENELITIAN

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR


ANTARA MAHASISWA S-1 PGSD BERASRAMA
DAN MAHASISWA S-1 PGSD REGULER

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah


Metodologi Penelitian

Dosen Pengampu: Drs. H. Fansuri, M.Pd

Disusun Oleh:

NAMA : Arif Rahman Prasetyo


NIM : A1E307909
KELAS : A

PROGRAM STUDI S1 PGSD TERINTEGRASI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2010
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga proposal penelitian ini dapat selesai dalam waktu yang telah ditentukan,
dimana kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2009-2010 di
Kampus PGSD Banjarbaru dan Banjarmasin.

Selama penelitian berlangsung, penyusun banyak memperoleh informasi dan data-data


yang diperlukan dari berbagai pihak, baik bimbingan langsung maupun tidak langsung sehingga
proposal penelitian ini dapat dibuat dengan sebaik-baiknya. Walaupun demikian, penulis masih
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, membimbing, dan mendidik dari
berbagai pihak demi kesempurnaan laporan ini.

Terlaksananya observasi sekolah hingga tersusunnya laporan ini berkat bantuan, arahan
dan bimbingan serta dukungan berbagai pihak. Penulis mengucapkan terimakasih atas segala
bantua dan arahan tersebut. Akhirnya penulis berharap semoga laporan in dapat bermanfaat bagi
semua pihak. Amin.

Banjarbaru, 19 Juni 2010

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i

DAFTAR ISI ..................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

A. Latar Belakang ................................................................................. 1

B. Identifikasi Masalah .......................................................................... 3

C. Batasan Masalah .............................................................................. 4

D. Rumusan Masalah............................................................................. 5

E. Tujuan Penelitian .............................................................................. 5

F. Kegunan Hasil Penelitian .................................................................. 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA ................................................................................... 6

A. Landasan Teori ................................................................................. 6

B. Kerangka Berpikir .............................................................................. 18 C.


Hipotesis ................................................................................................ 19

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...................................................................... 20 A.


Metode Penelitian ................................................................................. 20 B.
Populasi dan Sampel Penelitian .............................................................. 20

C. Teknik Pengumpulan Data .................................................................. 21

D. Analisis Data ..................................................................................... 24

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................................... 26 A.


Penyajian Data ....................................................................................... 26 B.
Analisis Data .......................................................................................... 28

C. Pengujian Hipotesis........................................................................... 31
D. Pembahasan ..................................................................................... 32

BAB III PENUTUP ............................................................................................... 34 A.


Kesimpulan ............................................................................................ 34 B.
Saran-saran ............................................................................................ 34

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara (UU No.20 Tahun 2003, SISDIKNAS).
Dalam dunia pendidikan hasil belajar merupakan sesuatu yang tetap menarik
untuk dijadikan bahan pangamatan dan pengkajian atau penelitian. Hal ini mengingat
tujuan yang akan dicapai dalam dunia pendidikan selalu akan tercermin dalam hasil
belajar. Berhasil atau tidaknya suatu proses pendidikan, dalam hal ini pengajaran
dalam lembaga pendidikan formal, dapat diamati melalui hasil belajar yang dicapai
oleh peserta didik.
Thursan Hakim (2000:1) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses
perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam
bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan
kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dll.
Hal ini berarti bahwa peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang
diperlihatkan dalam bentuk bertambahnya kualitas dan kuantitas kemampuan
seseorang dalam berbagai bidang. Dalam proses belajar, apabila seseorang tidak
mendapatkan suatu peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan, maka orang
tersebut sebenarnya belum mengalami proses belajar atau dengan kata lain ia
mengalami kegagalan di dalam proses belajar.
Kenyataan yang terjadi di lapangan, sering kita temukan dimana kondisi
perpustakaan yang sepi pengunjung. Hal ini salah satunya mungkin karena minat baca
yang rendah dari para siswa atau mahasiswa. Rendahnya minat baca akan
berpengaruh banyak terhadap kemampuan sesorang dalam menangkap suatu konsep
pembelajaran, karena kurang terlatihnya daya nalar.
Program S-I PGSD Berasrama adalah program S-I kependidikan yang
dikhususkan bagi para lulusan SMA/MA, yang mendapat beasiswa dari Dirjen Dikti
melalui tes administrasi dan tertulis. Mahasiswa program ini dituntut untuk dapat
menjadi guru profesional yang kelak akan ditempatkan di daerah-daerah terpencil.
Dalam kondisi seperti ini tentu saja beban dan tanggung jawab mereka lebih
besar dibandingkan dengan mahasiswa reguler (bukan program beasiswa), karena
mereka mengemban tugas dan amanah dari negara yang menyediakan dana demi
terbentuknya sosok guru profesional di daerah terpencil. Oleh karenaya perlu
perhatian terhadap keseluruhan proses/aktivitas belajar mahasiswa termasuk
penggunaan sebagai sumber belajar. Hal ini perlu dilakukan dalam rangka pencapaian
tujuan pandidikan. Salah satu indikator yang mudah diamati dalam pencapaian tujuan
pendidikan adalah hasil belajar. Hasil belajar, dengan demikian diharapkan sesuai
dengan target/tujuan yang telah ditetapkan.
Hasil belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya merupakan dua hal
yang berkaitan. Bagaimana wujud hasil belajar sangat bergantung dan dipengaruhi
oleh situasi dan kondisi yang melatarbelakanginya. Disadari atau tidak situasi dan
kondisi tersebut akan sangat menentukan motivasi belajar mahasiswa. Motivasi dan
kamauan/ketekunan belajar inilah yang secara langsung akan menentukan hasil
belajar mahasiswa.
Kualitas prestasi akadamik mahasiswa, di samping dipengaruhi oleh faktor
lingkungan, dapat juga dipengaruhi oleh intensitas belajarnya, yaitu bagaimana
menggunakan waktu seefektif mungkin. Mahasiswa yang berangkat dari motivasi
intrinsik tentu akan menyempatkan diri dan dengan sungguh-sungguh mempelajari
modul serta buku-buku penunjang lain tanpa tergantung kepada dosen.
Di samping adanya motivasi intrinsik, faktor-faktor luar yang dapat
menimbulkan semangat belajar merupakan faktor yang mempunyai peranan yang
tidak kecil. Salah satu faktor luar yang dapat ditunjukkan di sini adalah adanya
kondisi-kondisi insentif. Kondisi-kondosi insentif berbeda dengan motivasi. Motivasi
berhubungan dengan pertumbuhan kondisi internal yang manyebabkan individu
berusaha mencapai tujuan-tujuan tertentu. Adapun insentif adalah objek atau situasi
eksternal yang dapat memenuhi motif individu. Insentif adalah bukan tujuan,
melainkan alat untuk mencari tujuan (Ahmadi, supriyono 1990 : 86).
Pemberian dana belajar bagi mahasiswa S-1 PGSD Berasrama merupakan
suatu kondisi insentif ekstrinsik. Salah satu faktor ini menjadi pembeda antara S-I
PGSD Berasrama dengan S-1 PGSD Reguler. Ditinjau secara teoritis, kondisi yang
berbeda tentunya akan mangakibatkan hasil belajar yang berbeda pula. Yang menjadi
pertanyaan adalah, apakah kondisi-kondisi tersebut dalam kenyataan benar-benar
mengakibatkan perbedaan hasil belajar?
Untuk memastikan seberapa besar peranan kondisi mahasiswa terhadap hasil
belajar, perlu dikaji banding antara hasil belajar mahasiswa yang memiliki kondisi
yang berbeda, dalam hal ini antara S-1 PGSD Berasrama dengan S-1 PGSD Reguler.
Dan pola pikir serta rasional seperti itulah yang msngilhami ditetapkannya pokok
kajian panelitian ini, yang kemudiin dituangkan dalam pernyataan judul
"Perbandingan Hasil Belajar antara Mahasiswa S-1 PGSD Berasrama dan
Mahasiswa S-1 PGSD Reguler". Dengan kajian tersebut dimaksudkan untuk
mengidentifikasi tingkat parbedaan hasil belajar mahasiswa PGSD yang disebabkan
oleh adanya kondisi yang berbeda, yaitu ditinjau dari perbedaan tunjangan finansial
yang diberikan oleh pemerintah sebagai biaya pendidikan.

B. Identifikasi Masalah
PGSD Banjarbaru merupakan wadah bagi mahasiswa beijazah
SMA/SMK/MA yang bercita-cita memiliki profesi sebagai guru. Selain itu ada pula
mahasiswa yang sudah berprofesi guru, melanjutkan studinya dalam program
penyetaraan. Banyaknya jumlah mahasiswa dengan beragam sifat dan karakter
masing-masing, maka beragam pula permasalahan-permasalahan yang mungkin
timbul dalam kesehariannya. Adapun masalah yang dihadapi, antara lain:
1. Masalah dosen sering tidak masuk kelas
Dosen PGSD pada umumnya adalah dosen yang memiliki kesibukan yang
padat yang mengemban tugas secara tumpang tindih. Dalam artian di samping
menjadi seorang pengajar, dosen juga bertugas menjadi assesor, instruktur /
narasumber dalam program seminar/penataran, bahkan ada dosen yang
melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Akibatnya, tidak jarang
mereka rela meninggalkan mahasiswa untuk tidak masuk mengajar di kelas
dikarenakan kesibukan-kesibukan dosen tersebut.
2. Masalah minat baca mahasiswa
Di era globalisasi saat ini, kemajuan teknologi dan informasi berkembang
dengan pesat. Komputer dan laptop membanjiri kawasan asrama mahasiswa.
Dengan adanya komputer dan laptopi maka semakin berkembangnya aplikasi
komputer yang berjenis permainan-permainan yang membuat para penikmat
game menjadi kecanduan. Kondisi ini mengakibatkan mahasiswa menjadi
mengesampingkan membaca khususnya hal yang berkaitan dengan penunjang
perkuliahan.
3. Masalah keamanan
Keamanan adalah suatu modal dasar dalam kita hidup saling berinteraksi
satu sama lain. Sesuatu hal yang dikerjakan tanpa rasa aman maka pekerjaan
tersebut tidak akan optimal. Walaupun sudah ada tiga orang satpam yang menjaga
secara bergantian di asrama tetapi beberapa waktu yang lalu, terdapat cukup
banyak kasus yang menunjukkan mlemahnya pengawasan keamanan mahasiswa
berasrama khususnya, sedikitnya dalam kurun waktu dua tahun sudah ada tiga
kali kasus pencurian di wilayah asrama. Hal ini sungguh sangat mengusik
ketenangan mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan perkuliahan.
4. Masalah Kebersihan
Kebersihan asrama adalah tanggung jawab semua warga kampus.
Program kebersihan yang dibuat oleh Ketua UPP PGSD Banjarbaru dan Kepala
Asrama PGSD Banjarbaru, yang mencakup seluruh aspek kebersihan, mulai dari
kebersihan diri sendiri, kamar asrama, blok, asrama, dan bahkan lingkungan
kampus PGSD Banjarbaru sudah berjalan cukup baik. Tentunya dengan
pengawasan dan kontrol yang ketat dari pembina dan kepala asrama. Ketika
kontrol mulai longgar, masalah kebersihan akan muncul.
5. Masalah kedisiplinan
Kedisiplinan adalah kunci sukses bagi setiap individu. Disiplin meliputi
disiplin dalam belajar, bekerja dan beribadah dan sebagainya. Di lingkungan
PGSD kedisiplinan mahasiswa sudah baik. Hal ini berkat upaya yang dilakukan
oleh semua pihak, baik dari pengelola PGSD, atau tumbuh sendirinya dari
kesadaran mahsiswa berkat kedewasaannya. Meskipun begitu, masih saja ada
beberapa oknum yang menunjukkan sikap ketidakdisplinannya. Namun secara
umum sudah dapat dikatakan baik.
Masalah hasil belajar yang peneliti angkat sebagai judul penelitian ini berkaitan
dengan masalah lain seperti masalah dosen sering tidak masuk, minat baca
mahasiswa, dan kedisiplinan dalam belajar.

C. Batasan Masalah
Mengingat luasnya lingkup permasalahan yang berkaitan dengan hasil belajar
dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, maka penelitian ini perlu dibatasi.
Masalah-masalah yang akan diteliti difokuskan pada kegiatan belajar yang dilakukan
olah mahasiswa dan hasil yang dicapai dalam satu semester:
1. Masalah ketekunan belajar mahasiswa yang akan dicapai dalam kuantitas belajar
mahasiswa, baik secara sendiri-sendiri maupun secara kelompok (Variabel
Bebas).
2. Masalah hasil belajar mahasiswa yang dapat diketahui melalui nilai-nilai ujian
yang terekam dalam daftar nilai semester (Variabel Terikat).

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan-permasalahan pokok yang
akan di identifikasi dan dikaji adalah sebagai berikut:
1. “Apakah mahasiswa yang mendapatkan beasiswa/dana pendidikan dengan yang
tidak mendapat dana pendidikan mempunyai perbedaan yang signifikan dalam
kuantitas ketekunan belajarnya?”
2. “Apakah mahasiswa yang mendapat dana pendidikan dengan tidak mendapat
dana pendidikan mempunyai perbedaan yang signifikan dalam kualitas prestasi
akademiknya?”

E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara mahasiswa S-1 PGSD
Berasrama dan mahasiswa S-1 PGSD Reguler.
2. Untuk mengetahui perbedaan kuantitas ketekunan belajar antara mahasiswa S-1
PGSD Berasrama dan mahasiswa S-1 PGSD Reguler.

F. Kegunaan Hasil Penelitian


Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna:
1. Untuk Pengelola PGSD Banjarbaru. Sebagai bahan informasi / acuan mengenai
hasil belajar mahasiswa PGSD Banjarbaru, sehingga pihak pengelola dapat
menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk memperbaiki,
meningkatkan, dan menjaga prestasi belajar mahasiswa PGSD Banjarbaru.
2. Untuk mahasiswa PGSD Banjarbaru. Sebagai bahan informasi mengenai
perbedaan prestasi dan ketekunan belajar antara mahasiswa yang menapat dana
belajar dan yang tidak mendapat dana belajar dari pemerintah, yang merupakan
objek dari penelitian ini, sehingga dapat meningkatkan prestasinya.
3. Memberi pengalaman kepada peneliti sendiri.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. Mengenal Program S-1 PGSD Berasrama dan Reguler
a. Gambaran umum
Dengan terbitnya Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan
dosen. Dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar
Nasional Pendidikan, yang mempersyaratkan kualifikasi akademik minimal
pendidikan guru SD adalah D-IV atau S-1, maka pada tahun 2006 Ditjen
Pendidikan Tinggi mengambil kebijakan memperluas penyelenggaraan S-1
dengan menambah jumlah LPTK, penyelenggara. LPTK Penyelenggara
program studi untuk guru SD dari segi kuantitas sudah cukup banyak, namun
dari segi kualitas penyelenggaraan harus ditingkatkan secara berkelanjutan.
Untuk meningkatkan kualifikasi tersebut maka pemerintah melaksanakan
sistem pendidikan S-1 Pendidikan Guru SD Berasrama.
Gagasan penyelenggaraan program S-1 PGSD Berasrama / Reguler
dilandasi oleh pola pikir bahwa pengetahuan dan keterampilan tenaga ke
pendidikan harus selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Guru sebagai ujung tombak peningkatan mutu pendidikan perlu
menyesuaikan kemampuan sesuai dengan tuntutan masyarakat. Sejalan dengan
itu, peningkatan kualitas guru SD yang semula lulusan SLTA / SPG dan D-II
ditingkatkan menjadi lulusan S-1.
Tujuan yang hendak dicapai melalui program S-1 PGSD Berasrama/
Reguler adalah meningkatkan kualifikasi profesional guru SD agar dapat
melaksanakan tugas sesuai dengan pola hidup dan pola pikir manusia yang
salaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Program S-1 PGSD Berasrama mempunyai sistem penyelenggaraan
pendidikan dan sistem belajar yang berbeda dengan S-1 PGSD Reguler.
Program S-1 PGSD Berasrama yaitu program beasiswa ikatan dinas dari
pemerintah pusat yang menuntut mahasiswa yang dibina agar siap ditempatkan
di daerah-daerah terpencil. Sesuai namanya, mahasiswa program ini wajib
tinggal di asrama yang telah disediakan dengan cuma-cuma (tanpa dipungut
biaya). Program yang hanya menampung 61 orang mahasiswa ini dibina dari
berbagai segi, tidak hanya bidang akademiknya saja, adapula pembinaan
karakter, keagamaan, ketrampilan, dan keahlian lainnya. Jadi mahasiswa
berasrama praktis memiliki jadwal kegiatan dan kontrol yang lebih intensif
dibandingkan mahasiswa reguler yang tinggal di rumah masing-masing atau di
“kost”.

b. Kriteria Mahasiswa S-1 PGSD


Mahasiswa program ini adalah siswa-siwa tersebar dari beberapa daerah
(khusus untuk program berasrama hanya mahasiswa yang berdomisili di Kab.
Tanah Laut, Kab. Barito Kuala, Kab. Hulu Sungai Tengah, dan Kab.
Tabalong) yang dinyatakan lulus dan memilii ijazah untuk dapat melanjutkan
ke perguruan tinggi. Adapun hal-hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu:
1) Umur mahasiswa saat mendaftar tidak lebih dari 21 tahun
2) Dalam kondisi-kondisi tertentu batas tentang usia minimal dapat
diturunkan atau sebaliknya/dipersempit sesuai dengan kebutuhan
(Reguler).
3) Tidak berada pada kondisi terikat pada ikatan dinas lain (Berasrama).
4) Latar belakang pendidikan SMA / SMK / MA dengan ijazah yang asli.
5) Lulus tes administrasi dan tertulis (Berasrama)
6) Bersedia ditempatkan di daerah terpencil dan bersedia di asramakan
(Berasrama).
7) Menunjukkan bukti surat keterangan belum menikah dari KUA setempat,
dan bersedia tidak menikah selama masa pendidikan berlangsung
(Berasrama)
8) Sehat jasmani dan rohani

c. Sistem Belajar
Sistem belajar yang diterapkan pada program ini, seperti program-
program lain, adalah sistem belajar yang diisi melalui tatap muka dengan
dosen dan juga mahasiswa dituntut untuk dapat belajar mandiri.
1) Belajar mandiri
Dalam belajar sendiri mahasiswa dituntut untuk kreatif, di samping
membaca modul yang telah disediakan, juga perlu mambaca sumber bahan
belajar lain yang relevan, mendengarkan kaset audio, melihat televisi
maupun bertanya kepada orang yang lebih tahu. Belajar kelompok dapat
berupa belajar bersama teman secara berkelompok maupun belajar melalui
kegiatan seminar-seminar.
Secara terperinci sistem belajar meliputi kegiatan-kegiatan sebagai
barikut :
a) Mempelajari bahan tertulis (modul dan bahan cetak lainnya).
b) Interaksi tatap muka dengan dosen.
c) Interaksi antar individu dalam kelompok.
d) Mendengarkan dan manyaksikan program audio Visual.
e) Melaksanakan pratikum di laboratorium.
f) Melaksanakan pemantapan pengalaman lapangan (PPL).
g) Mengerjakan tugas mandiri.
h) Mengerjakan ujian akhir semester.
Berdasarkan gambaran proses belajar tersebut di atas, jelas bahwa
program S-1 PGSD menuntut kesadaran dan kedisiplinan belajar yang tinggi
dari mahasiswa. Kaberhasilan studi disamping memperhatikan secara cermat
penjelasan dari dosen juga sangat bergantung pada inisiatif mahasiswa dalam
mampelajari paket modul belajar, memanfaatkan sumber-sumber belajar
yang relevan, serta mengatur strategi dan jadwal belajar.
2) Tatap Muka dengan Dosen
Tatap muka merupakan bentuk belajar bagi mahasiswa yang di
dalamnya terdapat interaksi antara dosen dan mahasiswa secara multi arah.
Hal ini dimaksudkan untuk membantu mahasiswa memecahkan kesulitan
belajar yang tidak dapat diatasi sendiri atau kelompok. Dalam interaksi
antara mahasiswa dengan dosen, mahasiswa dibari banyak kesempatan untuk
mendiskusikan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya, mengajukan
pertanyaan dan dosen memberikan jawaban atas pertanyaan itu sebaik-
baiknya.
Tatap muka bersifat wajib diikuti, minimal 75% dari frekuensi yang
ditetapkan dan menjadi prasyarat untuk mengikuti ujian (tergantung
kebijakan tiap-tiap dosen yang biasanya berbeda-beda).
3) Kelompok Belajar
Kelompok belajar mempunyai peranan untuk :
a) meningkatkan motivasi belajar
b) mempermudah pelaksanaan kegiatan belajar bersama
c) mempercepat penyebaran informasi antar mahasiswa sendiri.
d) mendiskusikan rencana kegiatan akademik (reguler)
e) aktif dalam kegiatan kurikuler dan ekstra-kurikuler.
d. Sistem Ujian
1) Evaluasi
Evaluasi hasil belajar mahasiswa dilakukan dengan menyelenggarakan
tiga jenis evaluasi belajar, yakni :
a) Tugas Mandiri
Tugas mandiri adalah seperangkat soal dalam setiap mata kuliah untuk
dikerjakan oleh mahasiswa secara mandiri.
b) Ujian Tengah Semester (UTS)
Ujian Tengah Semester merupakan penilaian terhadap panguasaan
bahan belajar untuk satu mata kuliah selama setengah semester.
c) Ujian Akhir Semester (UAS)
Ujian Akhir Semester merupakan penilaian keseluruhan terhadap
panguasaan bahan belajar untuk satu mata kuliah selama satu semester.
2) Sistem Penilaian
a) Penilaian
Penilaian kemajuan belajar diberikan berdasarkan hasil tugas mandiri,
UTS, dan UAS.
b) Bentuk Nilai
Nilai diberikan dalam bentuk huruf A, B, C, D dan E. Angka mutu di
setiap huruf adalah sebagai berikut :
A = 4 B=3 C = 2 D = 1 E = 0
Arti darinilai tersebut adalah :
A = sangat baik B = baik C = cukup D = kurang E = gagal/tidak lulus.

c) Penetapan nilai Untuk Setiap Mata Kuliah


NILAI AKHIR = 3 × Nilai Tugas + 3 × Nilai UTS + 4 × Nilai UAS
10
NB : Bila mahasiswa tidak mengikuti ujian maka mahasiswa ditetapkan
tidak lulu ujian.
2. Pengertian Belajar
Untuk memahami tentang pengertian belajar di sini akan diawali dengan
mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. Ada beberapa pendapat para ahli
tentang definisi tentang belajar. Cronbach, Harold Spears dan Geoch dalam Sardiman
A.M (2005:20) sebagai berikut :
1) Cronbach memberikan definisi :
“Learning is shown by a change in behavior as a result of experience”.
“Belajar adalah memperlihatkan perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari
pengalaman”.
2) Harold Spears memberikan batasan:
“Learning is to observe, to read, to initiate, to try something themselves, to
listen, to follow direction”.
Belajar adalah mengamati, membaca, berinisiasi, mencoba sesuatu sendiri,
mendengarkan, mengikuti petunjuk/arahan.
3) Geoch, mengatakan :
“Learning is a change in performance as a result of practice”.
Belajar adalah perubahan dalam penampilan sebagai hasil praktek.
Dari ketiga definisi diatas dapat disimpulkan bahwa belajar itu senantiasa
merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan
misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya.
Juga belajar itu akan lebih baik kalau si subyek belajar itu mengalami atau
melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik. Belajar sebagai kegiatan individu
sebenarnya merupakan rangsangan-rangsangan individu yang dikirim kepadanya oleh
lingkungan. Dengan demikian terjadinya kegiatan belajar yang dilakukan oleh
seorang idnividu dapat dijelaskan dengan rumus antara individu dan lingkungan.
Fontana seperti yang dikutip oleh Udin S. Winataputra (1995:2) dikemukakan
bahwa learning (belajar) mengandung pengertian proses perubahan yang relative tetap
dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman. Pengertian belajar juga
dikemukakan oleh Slameto (2003:2) yakni belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.
Selaras dengan pendapat-pendapat di atas, Thursan Hakim (2000:1)
mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian
manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan
kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan,
pemahaman, keterampilan, daya pikir, dll. Hal ini berarti bahwa peningkatan kualitas
dan kuantitas tingkah laku seseorang diperlihatkan dalam bentuk bertambahnya
kualitas dan kuantitas kemampuan seseorang dalam berbagai bidang. Dalam proses
belajar, apabila seseorang tidak mendapatkan suatu peningkatan kualitas dan kuantitas
kemampuan, maka orang tersebut sebenarnya belum mengalami proses belajar atau
dengan kata lain ia mengalami kegagalan di dalam proses belajar.
Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan
yang diharapkan sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai. Untuk
meningkatkan prestasi belajar yang baik perlu diperhatikan kondisi internal dan
eksternal. Kondisi internal dalah kondisi atau situasi yang ada dalam diri siswa,
seperti kesehatan, keterampilan, kemapuan dan sebaginya. Kondisi eksternal adalah
kondisi yang ada di luar diri pribadi manusia, misalnya ruang belajar yang bersih,
sarana dan prasaran belajar yang memadai.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses
perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan
lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan itu akan
nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Pengertian belajar dapat didefinisikan
sebagai berikut:
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk melakukan
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya
sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Perubahan yang terjadi dalam diri
seseorang banyak sekali baik sifat maupun jenisnya karena itu sudah tentu tidak setiap
perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar (Slameto,
2003).
Ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar adalah:
a. Perubahan terjadi secara sadar.
Ini berarti seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau
sekurang-kurangnya ia merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan pada
dirinya. Misalnya ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah, kecakapannya
bertambah, dan kebiasaannya bertambah.
b. Perubahan dalam belajar bersifat kontinyu dan fungsional
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung
secara berkesinambungan, tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan
menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun
proses belajar berikutnya. Misalnya jika seorang anak belajar menulis, maka ia
akan mengalami perubahan dari tidak dapat menulis menjadi dapat menulis.
Perubahan ini berlangsung terus hingga kecakapan menulisnya menjadi lebih baik
dan sempurna.
c. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu selalu bertambah dan tertuju
untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian
semakin banyak usaha belajar itu dilakukan makin banyak dan makin baik
perubahan yang diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa
perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu
sendiri.
d. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen. Ini
berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap.
e. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan
dicapai. Perbuatan belajar terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-
benar disadari.
f. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui suatu proses belajar meliputi
perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai
hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam
sikap, keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya.
Winkel (1996:226) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan bukti
keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Maka prestasi belajar merupakan hasil
maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar.
Sedangkan menurut Arif Gunarso (1993 : 77) mengemukakan bahwa prestasi belajar
adalah usaha maksimal yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-
usaha belajar.
Prestasi belajar dapat diukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes
prestasi belajar. Menurut Saifudin Anwar (2005 : 8-9) mengemukakan tentang tes
prestasi belajar bila dilihat dari tujuannya yaitu mengungkap keberhasilan sesorang
dalam belajar. Testing pada hakikatnya menggali informasi yang dapat digunakan
sebagai dasar pengambilan keputusan. Tes prestasi belajar berupa tes yang disusun
secara terrencana untuk mengungkap performasi maksimal subyek dalam menguasai
bahan-bahan atau materi yang telah diajarkan. Dalam kegiatan pendidikan formal tes
prestasi belajar dapat berbentuk ulangan harian, tes formatif, tes sumatif, bahkan
ebtanas dan ujian-ujian masuk perguruan tinggi.

3. Pengertian Prestasi Belajar


Kemampuan intelektual mahasiswa sangat menentukan keberhasilan
mahasiswa dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya
seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya untuk
mengetahui prestasi yang diperoleh mahasiswa setelah proses perkuliahan
berlangsung. Adapun prestasi dapat diartikan hasil diperoleh karena adanya aktivitas
belajar yang telah dilakukan
Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan
belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan
hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar
harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli
mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang
mereka anut. Namun dari pendapat yang berbeda itu dapat kita temukan satu titik
persamaan. Sehubungan dengan prestasi belajar, Winkel (1996:162) mengatakan
bahwa “prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan
seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang
dicapainya.” Sedangkan menurut S. Nasution (1996:17) prestasi belajar adalah:
“Kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi
belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni: kognitif, affektif dan
psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum
mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut.”
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar
merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan
menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi
belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari
materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi
setelah mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar siswa dapat diketahui
setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi
atau rendahnya prestasi belajar siswa.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu
diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain; faktor
yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor yang terdiri dari luar siswa
(faktor ekstern). Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri anak bersifat biologis
sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain adalah faktor keluarga,
sekolah, masyarakat dan sebagainya.
1) Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun
yang dapat digolongkan ke dalam faktor intern yaitu kecedersan/intelegensi,
bakat, minat dan motivasi.
a. Kecerdasan/intelegensi
Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk
menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat
ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi yang normal selalu menunjukkan
kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya.
Muhibbin (1999:135) berpendapat bahwa intelegensi adalah “semakin tinggi
kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin besar peluangnya
untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelegensi
seseorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk meraih sukses.”
Dari pendapat di atas jelaslah bahwa intelegensi yang baik atau kecerdasan
yang tinggi merupakan faktor yang sangat penting bagi seorang anak dalam
usaha belajar.
b. Bakat
Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai
kecakapan pembawaan. Menurut Syah Muhibbin (1999:136) mengatakan
“Bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tanpa
banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan.”
Dari pendapat di atas jelaslah bahwa tumbuhnya keahlian tertentu pada
seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya sehubungan dengan
bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang
studi tertentu.
c. Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenai
beberapa kegiatan. Kegiatan yang dimiliki seseorang diperhatikan terus
menerus yang disertai dengan rasa sayang. Menurut Winkel (1996:24) minat
adalah “kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk merasa tertarik pada
bidang/hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu.”
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar atau kegiatan. Bahkan pelajaran
yang menarik minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat
menambah kegiatan belajar.. Minat belajar yang telah dimiliki siswa
merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya.
Apabila seseorang mempunyai minat yang tinggi terhadap sesuatu hal maka
akan terus berusaha untuk melakukan sehingga apa yang diinginkannya dapat
tercapai sesuai dengan keinginannya.
d. Motivasi
Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut
merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan belajar.
Nasution (1995:73) mengatakan motivasi adalah “segala daya yang
mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.”
Dalam perkembangannya motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu
(a) motivasi instrinsik dan (b) motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik
dimaksudkan dengan motivasi yang bersumber dari dalam diri seseorang yang
atas dasarnya kesadaran sendiri untuk melakukan sesuatu pekerjaan belajar.
Sedangkan motivasi ekstrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang datangnya
dari luar diri seseorang siswa yang menyebabkan siswa tersebut melakukan
kegiatan belajar.
2) Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar
yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan
keluarga, lingkungan sekitarnya dan sebagainya. Pengaruh lingkungan ini pada
umumnya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan kepada individu.
Menurut Slameto (1995:60) faktor ekstern yang dapat mempengaruhi belajar
adalah “keadaan keluarga, keadaan sekolah dan lingkungan masyarakat.”
a. Keadaan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang
dilahirkan dan dibesarkan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Slameto bahwa:
“Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama. Keluarga yanng
sehat besar artinya untuk pendidikan kecil, tetapi bersifat menentukan dalam
ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia.”
Adanya rasa aman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan
seseorang dalam belajar. Rasa aman itu membuat seseorang akan terdorong
untuk belajar secara aktif, karena rasa aman merupakan salah satu kekuatan
pendorong dari luar yang menambah motivasi untuk belajar.
b. Keadaan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat penting
dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan sekolah
yang baik dapat mendorong untuk belajar yang lebih giat. Keadaan sekolah ini
meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alat-alat
pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa kurang baik akan
mempengaruhi hasil-hasil belajarnya.
c. Lingkungan Masyarakat
Di samping orang tua, lingkungan juga merupakan salah satu faktor yang tidak
sedikit pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalm proses pelaksanaan
pendidikan. Lingkungan membentuk kepribadian anak, karena dalam
pergaulan sehari-hari seorang anak akan selalu menyesuaikan dirinya dengan
kebiasaan-kebiasaan lingkungannya. Oleh karena itu, apabila seorang siswa
bertempat tinggal di suatu lingkungan temannya yang rajin belajar maka
kemungkinan besar hal tersebut akan membawa pengaruh pada dirinya,
sehingga ia akan turut belajar sebagaimana temannya.

Setiap kegiatan belajar menghasilkan suatu perubahan yang khas, yaitu hasil
belajar. Hasil belajar nampak dalam suatu prestasi yang diberikan oleh individu yang
belajar. Maka setiap prestasi yang tepat merupakan suatu kenyataan perbuatan belajar
(performance). Adanya kenyataan bahwa proses belajar dapat terlaksana melalui
berbagai kegiatan belajar yang masing-masing mempunyai kekhususan, maka hasil
belajar pun akan nampak pada adanya perubahan tingkah laku yang berbeda-beda,
diwujudkan dalam prestasi-prestasi tartentu.
Perubahan tingkah laku dapat diukur dan dinilai dari hasil belajarnya. Hasil
belajar itu disebut prestasi akademik/academic achievement. Pengertian prestasi
belajar dari Carter V, Goog dalam Dictionary of Education, adalah:
"knowledge attained or skills developed in the school subjects usually
designated by tes score or by marks assigned by teachers, or by both. The
achievement of pupils in the so called "academic" subjects, such as reading arithmatic,
and history, as contrasted with skills developed in such areas as industrial art and
physical education".
Menurutnya gambaran mengenai pangetahuan atau perkembangan
keterampilan-katerampilan yang talah dicapai dari pelajaran yarig telah diberikan,
biasanya. dapat diketahui dari hasil tes atau tugas yang telah diberikan oleh guru.
Sejalan dengan hal tersebut Smith berpendapat bahwa :
"Progress that a learner makes in learning; often measured by either
standarized or teacher made tes".
Karena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi belajar mengandung unsur-
unsur:
1) Prestasi belajar biasanya dinyatakan dalam bentuk skor/angka-angka setelah
melalui tindakan analisis tertentu.
2) Prestasi belajar merupakan, hasil kemajuan dari hasil belajar yang dapat diketahui
melalui suatu alat yang dibuat oleh guru atau orang lain yang diparcaya dan
memenuhi persyaratan.
3) Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat berasal dari dalam diri individu
maupun dari luar. Faktor-faktor tersebut dapat digolongkan menjadi 3 macam:
a. Faktor-faktor Stimuli belajar, meliputi :
a) panjangnya bahan
b) tingkat kesulitan bahan
c) kebermaknaan bahan
d) berat ringannya tugas (belajar)
e) suasana lingkungan ekstern.
b. Faktor-faktor metode belajar menyangkut :
a) kegiatan berlatih atau praktek
b) "overlearning" dan "drill"
c) resitasi selain belajar
d) pengenalan tentang hasil belajar
e) belajar dengan kaseluruhan dan dengan bagian-bagian
f) penggunaan modalitas indera
g) bimbingan dalam belajar
h) kondisi-kondisi insentif.
c. Faktor-faktor individual, yaitu :
a) kematangan
b) faktor usia kronologis
c) faktor perbedaan jenis kelamin
d) pengalaman sebelumnya
e) kapasitas mental
f) kondisi kesehatan jasmani
g) kondisi kesehatan rohani
h) motivasi

B. Kerangka Berpikir
Hasil belajar merupakan produk akhir dari suatu kegiatan belajar. Hasil belajar
berupa prestasi belajar yang di dapat oleh individu yang belajar. Hasil belajar dapat
diukur dengan menggunakan alat-alat evaluasi atau penilaian mahasiswa dengan
berdasar nilai tugas dan ujian. Nilai-nilai yang di dapat mahasiswa tersebut secara
kasat mata akan dapat menggambarkan kualitas akademik mahasiswa.
Kualitas prestasi akadamik mahasiswa, di samping dipengaruhi oleh faktor
lingkungan, dapat juga dipengaruhi oleh intensitas belajarnya, yaitu bagaimana
menggunakan waktu seefektif mungkin. Mahasiswa yang berangkat dari motivasi
intrinsik tentu akan menyempatkan diri dan dengan sungguh-sungguh mempelajari
modul serta buku-buku penunjang lain tanpa tergantung kepada dosen.
Di samping adanya motivasi intrinsik, faktor-faktor luar yang dapat
menimbulkan semangat belajar merupakan faktor yang mempunyai peranan yang
tidak kecil. Salah satu faktor luar yang dapat ditunjukkan di sini adalah adanya
kondisi-kondisi insentif. Kondisi-kondosi insentif berbeda dengan motivasi. Motivasi
berhubungan dengan pertumbuhan kondisi internal yang manyebabkan individu
berusaha mencapai tujuan-tujuan tertentu. Adapun insentif adalah objek atau situasi
eksternal yang dapat memenuhi motif individu. Insentif adalah bukan tujuan,
melainkan alat untuk mencari tujuan (Ahmadi, supriyono 1990 : 86).
Program S-1 PGSD Berasrama merupakan progam yang diselenggarakan
berupa beasiswa ikatan dinas bagi mahasiswa yang telah diseleksi sesuai prosedur
yang telah ada. Berbeda halnya dengan mahasiswa S-1 PGSD Reguler non beasiswa,
biaya kuliah ditanggung mahasiswa secara pribadi dan belum ada ikatan dinas dengan
pihat tertentu. Kondisi dimana mahasiswa S-1 PGSD Berasrama yang mendapat
beasiswa dapat dikatakan sebagai kondisi insentif yang dapat menimbulkan semangat
belajar mahasiswa sehingga praktis berpengaruh pada prestasi belajar yang baik.
Dengan demikian, karena mahasiswa S-1 PGSD Berasrama mendapat beasiswa
belajar, maka memiliki prestasi lebih dan ketekunan belajar yang lebih baik daripada
mahasiswa S-1 PGSD Reguler yang tidak mendapat beasiswa belajar.

C. Hipotesis
Berdasarkan kerangka pikiran diatas, hipotesis yang diajukan adalah terdapat
perbedaan yang signifikan antara mahasiswa yang mendapatkan beasiswa/dana
pendidikan dengan yang tidak mendapat dana pendidikan dalam kuantitas ketekunan
belajarnya. Terdapat perbedaan yang signifikan antara mahasiswa yang mendapatkan
beasiswa/dana pendidikan dengan yang tidak mendapat dana pendidikan dalam
kualitas prestasi akademiknya.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang
signifikan antara mahasiswa yang mendapat beasiswa / dana pendidikan dengan
mahasiswa yang tidak mendapat dana pendidikan dalam hal kuantitas ketekunan
belajar dan kualitas prestasi akademiknya. Penelitian ini dilaksanakan di Program
Studi PGSD FKIP UNLAM Banjarbaru.
Berdasarkan tujuan tersebut, penelitian ini merupakan kajian yang bersifat
deskriptif dengan pola kerja expost facto, artinya penelitian dilakukan setelah suatu
kejadian itu terjadi.
Disebut juga sebagai restropective study karena penelitian ini merupakan
penelitian penelusuran kembali terhadap suatu peristiwa atau kejadian dan kemudian
merunut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan
kejadian-kejadian tersebut. (http://ilmumetodepenelitian.blogspot.com diakses pada
19 Maret 2010)
Pendekatan yang dipilih dalam penelitian ini yaitu pendekatan komperatif
dengan dua variabel yang mengkaji perbandingan antara sampel terhadap variabel.
Variabel terikatnya yaitu prestasi belajar mahasiswa dan variabel bebasnya adalah
ketekunan belajar mahasiswa.

B. Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi:
Populasi subjek penelitian adalah keseluruhan subjek penelitian apakah berupa
orang, benda atau lembaga. Setiap subjek penelitian (apakah seseorang, suatu benda,c
atau suatu lembaga) merupakan anggota populasi subjek penelitian
(http://tatangmangunya.wordpress.com diakses pada 19 Maret 2010).
Berdasarkan pendapat di atas populasi dari penelitian ini adalah seluruh
Mahasiswa PGSD UNLAM Tahun Akademik 2007/2008 yang berada di wilayah
Banjarbaru dan Banjarmasin, yaitu berjumlah 361 mahasiswa yang terhimpun dalam
7 kelompok belajar. Mahasiswa PGSD Berasrama terdiri dari 2 kelompok belajar
dengan jumlah Mahasiswa sebanyak 61 orang dan Mahasiswa PGSD reguler terdiri
dari 5 kelompok belajar dengan jumlah mahasiswa sebanyak 300 orang.
Sampel:
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara random sampling. Soeharto (1989:
150) mengatakan untuk penelitian deskriptif seperti survey sampel manusia
hendaknya di atas 30 unit besarnya. Sampel terdiri dari dua sub populasi, yaitu (l)
kelompok PGSD Berasrama, dan (2) kelompok PGSD Reguler. Setelah dirandom,
kelompok belajar yang menjadi sampel penelitian adalah Kelompok Belajar Kelas A
dan B (PGSD Berasrama) yang berjumlah 39 orang dan Kelompok Belajar Kelas E
(PGSD Reguler) yang berjumlah 39 orang.

C. Teknik Pengumpulan Data


Teknik dalam pengumpulan data penelitian ini terdiri dari: (1) Identifikasi
Variabel, (2) Definisi Operasional, (3) Pengembangan Instrumen Penilaian dan
Pengukuran.
1. Identifikasi Variabel
Variabel yang diteliti terdiri dari 1 variabel terikat dan (dependen) dan 1
variabel bebas (independen), yaitu:
a. Variabel Terikat : Prestasi Akademik Mahasiswa (Y)
b. Variabel Bebas : Ketekunan Belajar Mahasiswa (X)

Kelompok Var. Bebas Var. Terikat


BR X1 Y1
RG X2 Y2
Keterangan :
BR : PGSD Berasrama
RG : PGSD Reguler
X1, X2 : Ketekunan Belajar
Y1, Y2 : Prestasi Akademik
2. Definisi Operasional
Agar tidak menimbulkan intepretasi yang berbeda-beda maka istilah-
istilah yang dipakai dalam penelitian ini perlu diberi penegasan arti. Pemakaian
istilah bersifat operasional, sehingga hanya berlaku dalam penelitian ini saja.
Definisi operasional konsep adalah (batasan pengertian) sesuatu konsep
yang mengandung kejelassan dan ketegasan mengenai deskriptor (aspek-aspek
yang terkandung atau tercakup) dan indikator (tanda-tanda keberagaman atau
variabilitas)konsep yang akan diteliti itu, yang terukur (bisa dan mudah diukur)
dan terhitung (bisa dan mudah dihitung) (http://tatangmanguny.wordpress.com
diakses pada 21 Maret 2010).
Beberapa batasan operasional yaitu:
a) Prestasi Belajar merupakan hasil kemajuan dari hasil belajar yang dapat
diketahui melalui suatu alat yang dibuat oleh guru atau orang lain yang
dipercaya dan memenuhi persyaratan. Prestasi belajar biasanya dinyatakan
dalam bentuk skor/angka-angka setelah melalui tindakan analisis tertentu
yang meliputi nilai:
Tugas mandiri adalah seperangkat soal dalam setiap mata kuliah untuk
dikerjakan oleh mahasiswa secara mandiri. Ujian Tengah Semester
merupakan penilaian terhadap panguasaan bahan belajar untuk satu mata
kuliah selama setengah semester. Ujian Akhir Semester merupakan penilaian
keseluruhan terhadap panguasaan bahan belajar untuk satu mata kuliah
selama satu semester.
b) Ketekunan Belajar adalah usaha untuk terus menerus tanpa berhenti dan
menyerah untuk mencapai impian dan tujuan hidup kita. Ketekunan ini
meliputi:
1) Frekuensi membaca buku penunjang perkuliahan
 Rajin mendalami sesuatu pekerjaan atau tugas mandiri.
 Konsisten dan berkelanjutan.
 Memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar.
2) Pengerjaan tugas
 Teliti dalam mengerjakan tugas.
 Perhatian terhadap hal-hal kecil dalam tugas belajar.
 Mengerjakan tugas dengan segera.
3) Frekuensi melaksanakan belajar kelompok
 Serius dalam melaksanakan tugas belajar kelompok.
 Tanggap dalam kegiatan kelompok.
4) Kesungguhan dalam mengikuti perkuliahan
 Tidak cepat putus asa dalam upaya menguasai materi pembelajaran.
 Tidak menunjukkan kebosanan mencoba berulang kali.
 Berusaha mencari masukan / informasi untuk menguasai materi
pembelajaran.

3. Pengembangan Instrumen Penelitian dan Pengukuran


Penelitian ini menggunakan dua jenis alat pengumpul data. Alat
pengumpul data yang digunakan itu adalah kuesioner dan observasi data yang
sudah ada. Kegiatan pengumpulan data dilakukan terhadap mahasiswa PGSD
reguler dan berasrama (beasiswa) yang dijadikan subjek penelitian.
a. Pengukuran Variabel Prestasi Belajar
Untuk mengungkap prestasi belajar mahasiswa dalam penelitian ini
diperoleh dari mengumpulkan / mencatat langsung berkas dokumen
mahasiswa berupa KHS (kartu hasil studi) semester 4.
b. Pengukuran Variabel Ketekunan
Untuk mengungkap ketekunan belajar mahasiswa dalam penelitian ini
digunakan kuesioner dengan indikator-indikator dapat diliha seperti dibawah
ini:
ASPEK
NO
YANG DI INDIKATOR
ITEM
AMATI
1 2 3
1) Frekuensi membaca sumber (buku) penunjang
perkuliahan
a) Rajin membaca (mendalami) buku 1
perkuliahan.
b) Konsisten dan berkelanjutan. 2,3
c) Memanfaatkan perpustakaan sebagai 4
sumber belajar.
d) Memanfatkan internet sebagai sumber 5
belajar.
2) Pengerjaan tugas
a) Teliti dalam mengerjakan tugas. 6
b) Perhatian terhadap hal-hal kecil dalam 7
tugas belajar.
c) Mengerjakan tugas dengan segera. 8
3) Frekuensi melaksanakan belajar kelompok
a) Serius dalam melaksanakan tugas belajar 9
kelompok.
b) Tanggap dalam kegiatan kerja kelompok. 10
c) Aktif dalam diskusi kelompok. 11
4) Kesungguhan dalam mengikuti perkuliahan
a) Tidak cepat putus asa dalam upaya 12
menguasai materi pembelajaran.
b) Tidak menunjukkan kebosanan mencoba 13
berulang kali.
c) Berusaha mencari masukan / informasi 14
untuk menguasai materi pembelajaran.

D. Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan dua cara sebagai berikut:
1. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif ini adalah untuk memperoleh gambaran perbedaan prestasi
belajar mahasiswa PGSD Berasrama dan mahasiswa PGSD Reguler.
Berdasarkan ketetapan yang ada, bahwa kriteria prestasi belajar mahasiswa (IPK)
digolongkan sebagai berikut:
≥ 3,50 = Istimewa
3,00 - 3,49 = Amat Baik
2,50 - 2,99 = Baik
2,00 - 2,49 = Cukup
1,50 - 1,99 = Amat Kurang
Selanjutnya perbedaan ketekunan belajar mahasiswa berdasarkan angket yang di
dapat maka dikategorikan sebagai berikut:
≥ 4,50 = Istimewa
4,00 - 4,49 = Amat Baik
3,50 - 3,99 = Baik
3,00 - 3,49 = Cukup
2,50 - 2,99 = Amat Kurang

2. Analisis Statistik
Data sampel dianalisis dengan menggunakan analisis uji perbedaan rata-rata
(uji t). Karena dalam penelitian ini akan menguji dua variabel dari masing-masing
kelompok sampel maka analisis datanya adalah dua uji perbedaan rata-rata sampai
batas. Adapun langkah-langkah pangujian adalah sebagai berikut :
1. Mencari rerata masing-masing kelompok (X1, X2)
2. Mencari varian kedua kelompok (S2), dicari dengan rumus sebagai berikut:

3. Mencari koefisien t, dengan rumus:

4. Menentukan df dan taraf kepercayaan


5. Menentukan signifikansi masing-masing nilai t dengan jalan melihat dan
membandingkannya dengan tabel nilai-nilai t.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Penyajian Data
Sajian data berikut ini tidak lagi merupakan data mentah tetapi sudah
merupakan data matang yang telah diolah berdasarkan rekaman instrumen pengumpul
data. Pengolahan data yang dimaksud masih merupakan pengolahan data tingkat awal
yang hasilnya dituangkan ke dalam tabel analisis.

Tabel 1
KETEKUNAN BELAJAR MAHASISWA
S1 PGSD BERASRAMA DAN S1 PGSD REGULER

NO. URUT ASRAMA REGULER


1 3,8 3,0
2 3,8 2,9
3 3,7 3,8
4 3,9 3,3
5 4,0 3,6
6 3,9 2,9
7 3,5 3,7
8 3,5 3,0
9 3,0 3,3
10 3,8 3,7
11 3,1 3,4
12 3,8 3,9
13 3,6 2,9
14 3,3 2,8
15 3,6 2,8
16 3,4 3,2
17 3,2 3,6
18 3,9 3,8
19 3,8 3,4
20 3,8 4,1
21 3,3 3,4
22 3,5 3,8
23 3,6 3,8
24 3,5 3,6
25 3,3 3,6
26 3,2 3,1
27 3,9 3,4
28 3,4 3,6
29 3,4 3,9
30 3,5 3,4
31 3,5 3,7
32 4,1 3,4
33 3,3 4,0
34 3,6 3,9
35 3,5 3,4
36 3,4 3,6
37 3,6 3,4
38 3,5 3,4
39 4,1 3,6

Tabel 2
PRESTASI BELAJAR MAHASISWA
S1 PGSD BERASRAMA DAN S1 PGSD REGULER

NO. URUT ASRAMA REGULER


1 3,40 3,12
2 3,55 3,2
3 3,5 2,98
4 3,6 3,04
5 3,1 3,12
6 3,55 3,06
7 3,2 3,32
8 3,35 3,14
9 3,6 3,06
10 3,8 2,94
11 3,5 3,02
12 3,35 3,04
13 3,85 3,06
14 3,4 3,12
15 3,6 3,06
16 3,45 2,98
17 3,3 2,94
18 3,5 3,02
19 3,2 3,02
20 3,75 2,92
21 3,4 3,14
22 3,55 3,12
23 3,45 2,94
24 3,35 3,02
25 3,4 3,02
26 3,65 3,04
27 3,5 2,94
28 3,55 3,12
29 3,14 2,98
30 3,65 3,06
31 3,85 3,18
32 3,45 2,98
33 3,35 3,04
34 3,4 3,2
35 3,8 2,76
36 3,6 2,92
37 3,45 2,88
38 3,6 3,12
39 3,6 3,14

B. Analisa Data
1. Analisis Deskriptif

3.56
3.6 3.49 3.47
3.5
3.4
3.3
3.2 3.05
3.1
3
2.9
2.8
2.7
Prestasi Belajar (IPK) Ketekunan Belajar

Asrama Reguler

Diagram Analisis Deskriptif

Berdasarkan pengolahan data diperoleh gambaran prestasi belajar dan ketekunan


belajar mahasiswa PGSD Berasrama dan PGSD Reguler semester IV:
a. Gambaran Prestasi Belajar Mahasiswa
Gambaran prestasi belajar mahasiswa yaitu sebagai berukut:
1) Gambaran prestasi belajar mahasiswa PGSD Berasrama semester IV
sebagai sampel yang terdiri dari 39 orang mahasiswa dengan jumlah
136,29 diperoleh rata-rata nilai mencapai 3,49 tergolong dalam predikat
amat baik.
2) Gambaran prestasi belajar mahasiswa PGSD Reguler semester IV
sebagai sampel yang terdiri dari 39 orang mahasiswa dengan jumlah
118,76 diperoleh rata-rata nilai mencapai 3,05 tergolong dalam predikat
amat baik.

b. Gambaran Ketekunan Belajar Mahasiswa


Gambaran ketekunan belajar mahasiswa yaitu sebagai berikut :
1) Gambaran ketekunan belajar mahasiswa PGSD Berasrama semester IV
sebagai sampel yang terdiri dari 39 orang mahasiswa dengan jumlah
142,3 diperoleh rata-rata nilai mencapai 3,60 tergolong dalam predikat
baik.
2) Gambaran ketekunan belajar mahasiswa PGSD Reguler semester IV
sebagai sampel yang terdiri dari 39 orang mahasiswa dengan jumlah
135,4 diperoleh rata-rata nilai mencapai 3,47 tergolong dalam predikat
cukup.

2. Analisis Statistik
Data perbandingan prestasi belajar dan ketekunan belajar mahasiswa PGSD
Berasrama Banjarbaru berdasarkan tahun kelulusan sekolah akan dihitung dengan
uji t.
a. Variabel Prestasi Belajar
Secara keseluruhan dapat dilakukan melalui proses perhitungan sebagai berikut:
1) Mencari rerata masing-masing kelompok (X1, X2)

= = 3,49

= = 3,05

2) Mencari varian kedua kelompok (S2), dicari dengan rumus sebagai berikut:

S2 =
S2 =
S2 = 6,332
3) Mencari koefisien t, dengan rumus:

t=

t=

t = 0,782
4) Menentukan df dan taraf kepercayaan
df = n1 + n2 – 2
df = 39 + 39 – 2
df = 76

b. Variabel Ketekunan Belajar


Secara keseluruhan dapat dilakukan melalui proses perhitungan sebagai berikut:
1) Mencari rerata masing-masing kelompok (X1, X2)

= = 3,56

= = 3,47

2) Mencari varian kedua kelompok (S2), dicari dengan rumus sebagai berikut:

S2 =
S2 =
S2 = 6,589

3) Mencari koefisien t, dengan rumus:

t=

t=

t = 0,155
4) Menentukan df dan taraf kepercayaan
df = n1 + n2 – 2
df = 39 + 39 – 2
df = 76

C. Pengujian Hipotesis
Bardasarkan label data tersebut, kemudian data diolah/dianalisis dengan
menggunakan teknik uji perbedaan rata-rata. Hasil analisis, didapatkan nilai-nilai t
sebagaimana terhitung pada tabel berikut.

Variabel S2 T hitung df Taraf signifikansi T tabel

Ketekunan Belajar 6,589 0,155 76 0,05 1,994

Hasil Belajar 6,322 0,782 76 0,05 1,994

Keterangan : S2 = Varian
df = Derajat Kebebasan
Dari hasil analisis data dalam tabel di atas, dapat diketahui bahwa hipotesis :
Ada perbedaan yang signifikan dalam kuantitas ketekunan belajar antara
mahasiswa yang mendapat dana pandidikan dengan yang tidak mendapat dana
pendidikan adalah tidak diterima baik pada taraf siginifikansi 0,01% atau pun pada
taraf siginifikansi 0,05% karena t hitung < t tabel.
Ada perbedaan yang signifikan dalam kualitas prestasi akademis antara
mahasiswa yang mendapat dana pendidikan dan yang tidak mendapat dana
pendidikan adalah tidak diterima baik pada taraf signifikansi 00,5 atau pun pada taraf
signifikansi 0,01, karena t hitung < t tabel.

D. Pembahasan
Interpretasi dan diskusi hasil analisis data bersumber dari hasil pengujian
hipotesis dan teori-teori lain yang relevan. Bertolak dari sumber-sumber tersebut
maka didapatkan beberapa point dan uraian secara deskriptif, yaitu:
Antara mahasiswa yang mendapatkan dana belajar dengan mahasiswa yang
tidak mendapatkan dana belajar tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam
kuantitas ketekunan belajarnya.
Antara mahasiswa yang mendapatkan dana belajar dengan mahasiswa yang
tidak mendapatkan dana belajar tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam
kualitas prestasi akademisnya.
Dapat dikatakan bahwa kualitas prestasi akademis mahasiswa lebih banyak
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang lebih barsifat individual. Kualitas prestasi
akademis mahasiswa bukan semata-mata ditentukan oleh perolehan tunjangan belajar
yang diberikan oleh pemerintah.
Faktor jasmaniah baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh, faktor
psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh serta faktor kematangan
fisik ataupun psikhis marupakan faktor-faktor internal yang ikut mempengaruhi
prestasi belajar. Sedangkan faktor eksternal yang juga berpengaruh terhadap prestasi
belajar individu adalah faktor sosial budaya, lingkungan fisik maupun faktor
lingkungan spiritual dan keamanan. Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi secara
langsung ataupun tidak langsung dalam mencapai prestasi belajar (Abu A, Widodo S.,
1990 : 130).
Telah diasumsikan bahwa adanya kondisi insentif pada Mahasiswa PGSD
Proyek akan menimbulkan motivasi belajar. Insentif adalah objek atau situasi
eksternal yang dapat memenuhi motif individu. Insentif-insentif dapat diklasifikasikan
menjadi dua macam, yaitu (1) insentif intrinsik, dan (2) insentif ekstrinsik. Dari dua
macam Insentif itu, yang lebih memajukan belajar individu adalah insentif yang
intrinsik (Abu Ahmadi, Widodo Supriyono, 1990: 136).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi insentif ekstrinsik yang berupa
pemberian tunjangan belajar kepada mahasiswa PGSD Berasrama kurang terbukti
memberikan andil dalam menumbuhkan motivasi belajar kepada mahasiswa. Ini
terbukti dengan tidak adanya perbedaan yang signifikan dalam rerata ketekunan
belajar mahasiswa.
Fenomena tersebut memberikan gambaran bahwa dalam upaya penumbuhan
motivasi belajar diperlukan penciptaan kondisi-kondisi insentif yang lebih efektif.
Untuk menjawab permasalahan ini diperlukan penelitian lanjutan yang tersendiri.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan interpretasi hasil penelitian dan diskusi dengan teori-teori yang relevan,
maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Perolehan tunjangan belajar bagi mahasiswa PGSD Berasrama kurang membawa
pengaruh terhadap ketekunan belajarnya, sebab ketekunan belajar mahasiswa
PGSD Berasrama tidak barbeda dengan ketekunan belajar Mahasiswa PGSD
Reguler.
2. Perolehan tunjangan belajar bagi mahasiswa PGSD Berasrama tidak memberikan
pengaruh terhadap kualitas hasil belajarnya sehingga hasil belajar Mahasiswa
PGSD Berasrama tidak barbeda dengan hasil belajar mahasiswa PGSD Reguler.
3. Faktor tunjangan belajar yang diberikan oleh pemerintah adalah hanya
merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan ketekunan belajar dan
kualitas hasil belajar, sedangkan beberapa faktor lain seperti IQ, minat,
lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, beban mengajar dan lain-lain,
belum terungkap dalam penelitian ini. Oleh sebab itu hasil penelitian ini terbatas
pada faktor perbedaan perolehan tunjangan belajar saja.

B. Saran
Untuk Dosen (Lembaga).
Mengingat kegiatan belajar mahasiswa yang masih kurang maksimal, terutama
berkaitan dengan buku-buku penunjang dan fasilitas akses internet yang belum
ada di kampus, maka hendaknya dosen (pengelola) memberikan kemudahan
dengan menunjukkan alternatif bacaan selain perpustakaan misalnya penyediaan
internet di laboratorium komputer.
Untuk Mahasiswa
Efektifitas belajar perlu ditingkatkan lagi, dengan cara menambah frekuensi
belajar diselasela kesibukan lain. Perlu kesadaran diri yang lebih baik dengan
kedudukannya sebagai mahasiswa calon pendidik pencetak generasi bangsa yang
berkualitas dan berkarakter sehingga dapat mewujudkan belajar mandiri melalui
pengetatan disiplin belajar dan disiplin waktu.
INSTRUMEN
KETEKUNAN BELAJAR MAHASISWA S-I PGSD

PETUNJUK ANGKET
1. Mohon bantuan dan kesedian sdr/sdri untuk menjawab seluruh pertanyaan yang ada.
2. Memeri tanda (X) pada kolom yang anda pilih sesuai keadaan yang sebenarnya.
3. Ada lima alternatif jawaban yang dipilih yaitu:
1 = tidak pernah
2 = jarang sekali
3 = kadang-kadang
4 = sering
5 = sering sekali

No ITEM PERNYATAAN JAWABAN


1 2 3 4 5
1 2 3
1. Rajin membaca (mendalami) buku perkuliahan.
2. Konsisten dalam mempelajari materi perkuliahan.
3. Mempelajari materi perkuliahan secara berkelanjutan.
4. Memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar.
5. Memanfatkan internet sebagai sumber belajar.
6. Teliti dalam mengerjakan tugas.
7. Perhatian terhadap hal-hal kecil dalam tugas belajar.
8. Mengerjakan tugas dengan segera.
9. Serius dalam melaksanakan tugas belajar kelompok.
10. Tanggap dalam kegiatan kerja kelompok.
11. Aktif dalam diskusi kelompok.
12. Tidak cepat putus asa dalam upaya menguasai materi
pembelajaran.
13. Tidak menunjukkan kebosanan dalm belajar (mencoba
berulang kali).
14. Berusaha mencari masukan / informasi untuk menguasai
materi pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono. 1990. Psikologi Belajar, Jakarta; Rineka Cipta.
Amirin, Tatang M. 2009. Populasi dan Sampel Penelitian.
(http://tatangmanguny.wordpress.com diakses pada 21 Maret 2010).
Amirin, Tatang M. 2009. Konsep Definisi Operasional, dan Definisi Konseptual.
(http://tatangmanguny.wordpress.com diakses pada 21 Maret 2010).
Hakim, Thursan. 2000. Belajar Secara Efektif. Jakarta: Puspa Swara
Sunarto. 2009. Pengertian Prestasi Belajar. (http://sunartombs.wordpress.com diakses
pada 27 Februari 2010).
Sunny. 2009. Penelitian Ex Post Facto. (http://ilmumetodepenelitian.blogspot.com
diakses pada 19 Maret 2010).
Widuroyekti, Barokah. 1994. Perbandingan Hasil Belajar Antara Mahasiswa PGSD
Setara D II Proyek Dengan Mahasiswa PGSD Setara D II Swadana Di
Kabupaten Jombang. (http://pustaka.ut.ac.id di akses pada 27 Februari 2010)
. 2008. Program dan Kegiatan Direktorat Ketenagaan-DIKTI. (http://ditnaga-
dikti.org diakses pada 29 Februari 2010).
Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS.