Anda di halaman 1dari 8

ASKEP SINUSITIS tahun.

2.3 ETIOLOGI SINUSITIS


1 DEFINISI SINUSITIS Pada Sinusitis Akut, yaitu:
Sinusitis adalah suatu keradangan yang terjadi pada sinus. Sinus sendiri adalah 1. Infeksi virus
rongga udara yang terdapat di area wajah yang terhubung dengan hidung. Sinusitis akut bisa terjadi setelah adanya infeksi virus pada saluran pernafasan
Fungsi dari rongga sinus adalah untuk menjaga kelembapan hidung & menjaga bagian atas (misalnya Rhinovirus, Influenza virus, dan Parainfluenza virus).
pertukaran udara di daerah hidung. Rongga sinus sendiri terdiri dari 4 jenis, 2. Bakteri
yaitu Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan
normal tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae,
a. Sinus Frontal, terletak di atas mata dibagian tengah dari masing-masing alis Haemophilus influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase
b. Sinus Maxillary, terletak diantara tulang pipi, tepat disamping hidung dari sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang
c. Sinus Ethmoid, terletak diantara mata, tepat di belakang tulang hidung sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam
d. Sinus Sphenoid, terletak dibelakang sinus ethmoid & dibelakang mata sinus, sehingga terjadi infeksi sinus akut.
Didalam rongga sinus terdapat lapisan yang terdiri dari bulu-bulu halus yang 3. Infeksi jamur
disebut dengan cilia. Fungsi dari cilia ini adalah untuk mendorong lendir yang di Infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut pada penderita gangguan sistem
produksi didalam sinus menuju ke saluran pernafasan. Gerakan cilia mendorong kekebalan, contohnya jamur Aspergillus.
lendir ini berguna untuk membersihkan saluran nafas dari kotoran ataupun 4. Peradangan menahun pada saluran hidung
organisme yang mungkin ada. Ketika lapisan rongga sinus ini membengkak Pada penderita rhinitis alergi dan juga penderita rhinitis vasomotor.
maka cairan lendir yang ada tidak dapat bergerak keluar & terperangkap di 5. Septum nasi yang bengkok
dalam rongga sinus. Jadi sinusitis terjadi karena peradangan didaerah lapisan 6. Tonsilitis yg kronik
rongga sinus yang menyebabkan lendir terperangkap di rongga sinus & menjadi Pada Sinusitis Kronik, yaitu:
tempat tumbuhnya bakteri. 1. Sinusitis akut yang sering kambuh atau tidak sembuh.
Sinusitis paling sering mngenai sinus maksila (Antrum Highmore), karena 2. Alergi
merupakan sinus paranasal yang terbesar, letak ostiumnya lebih tinggi dari 3. Karies dentis ( gigi geraham atas )
dasar, sehingga aliran sekret (drenase) dari sinus maksila hanya tergantung dari 4. Septum nasi yang bengkok sehingga menggagu aliran mucosa.
gerakan silia, dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus alveolaris), 5. Benda asing di hidung dan sinus paranasal
sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila, ostium sinus maksila 6. Tumor di hidung dan sinus paranasal.
terletak di meatus medius di sekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga 2.4 MANIFESTASI KLINIK
mudah tersumbat. 2.4.1 Sinusitis maksila akut
2.2 KLASIFIKASI SINUSITIS Gejala : Demam, pusing, ingus kental di hidung, hidung tersumbat, nyeri pada
Sinusitis sendiri dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu pipi terutama sore hari, ingus mengalir ke nasofaring, kental kadang-kadang
1. Sinusitis akut : Suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlansung selama 3 berbau dan bercampur darah.
minggu. 2.4.2 Sinusitis etmoid akut
Macam-macam sinusitis akut : sinusitis maksila akut, sinusitis emtmoidal akut, Gejala : ingus kental di hidung dan nasafaring, nyeri di antara dua mata, dan
sinus frontal akut, dan sinus sphenoid akut. pusing.
2. Sinusitis kronis : Suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlansung selama 2.4.3 Sinusitis frontal akut
3-8 minggu tetapi dapat juga berlanjut sampai berbulan-bulan bahkan bertahun- Gejala : demam,sakit kepala yang hebat pada siang hari,tetapi berkurang
setelah sore hari, ingus kental dan penciuman berkurang.
2.4.4 Sinusitis sphenoid akut menyebabkan gambaran air-fluid level.
Gejala : nyeri di bola mata, sakit kepala, ingus di nasofaring b. Polip yang mengisi ruang sinus
2.4.5 Sinusitis Kronis c. Polip antrokoanal
Gejala : pilek yang sering kambuh, ingus kental dan kadang-kadang d. Massa pada cavum nasi yang menyumbat sinus
berbau,selalu terdapat ingus di tenggorok, terdapat gejala di organ lain misalnya e. Mukokel, penekanan, atrofi dan erosi tulang yang berangsur-angsur oleh
rematik, nefritis, bronchitis, bronkiektasis, batuk kering, dan sering demam. massa jaringan lunak mukokel yang membesar dan gambaran pada CT Scan
2.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK sebagai perluasan yang berdensitas rendah dan kadang-kadang pengapuran
2.5.1 Rinoskopi anterior perifer.
Tampak mukosa konka hiperemis, kavum nasi sempit, dan edema.Pada 2.5.7 Pemeriksaan di setiap sinus
sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid anterior tampak mukopus a. Sinusitis maksila akut
atau nanah di meatus medius, sedangkan pada sinusitis ethmoid posterior dan Pemeriksaan rongga hidung akan tampak ingus kental yang kadang-kadang
sinusitis sfenoid nanah tampak keluar dari meatus superior. dapat terlihat berasal dari meatus medius mukosa hidung. Mukosa hidung
2.5.2 Rinoskopi posterior : Tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip). tampak membengkak (edema) dan merah (hiperemis). Pada pemeriksaan
2.5.3 Dentogen : Caries gigi (PM1,PM2,M1) tenggorok, terdapat ingus kental di nasofaring.
2.5.4 Transiluminasi (diaphanoscopia) Pada pemeriksaan di kamar gelap, dengan memasukkan lampu kedalam mulut
Sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. Pemeriksaan transiluminasi dan ditekankan ke langit-langit, akan tampak pada sinus maksila yang normal
bermakna bila salah satu sisi sinus yang sakit, sehingga tampak lebih suram gambar bulan sabit di bawah mata. Pada kelainan sinus maksila gambar bulan
dibanding sisi yang normal. sabit itu kurang terang atau tidak tampak. Untuk diagnosis diperlukan foto
2.5.5 X Foto sinus paranasalis: rontgen. Akan terlihat perselubungan di sinus maksila, dapat sebelah
Pemeriksaan radiologik yang dibuat ialah Posisi Water’s, Posteroanterior dan (unilateral), dapat juga kedua belah (bilateral ).
Lateral. Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan b. Sinusitis etmoid akut
udara (air fluid level) pada sinus yang sakit. Pemeriksaan rongga hidung, terdapat ingus kental, mukosa hidung edema dan
Posisi Water’s adalah untuk memproyeksikan tulang petrosus supaya terletak di hiperemis. Foto roentgen, akan terdapat perselubungan di sinus etmoid.
bawah antrum maksila, yakni dengan cara menengadahkan kepala pasien c. Sinusitis frontal akut
sedemikian rupa sehingga dagu menyentuh permukaan meja. Posisi ini Pemeriksaan rongga hidung, ingus di meatus medius. Pada pemeriksaan di
terutama untuk melihat adanya kelainan di sinus maksila, frontal dan etmoid. kamar gelap, dengan meletakkan lampu di sudut mata bagian dalam, akan
Posisi Posteroanterior untuk menilai sinus frontal dan Posisi Lateral untuk tampak bentuk sinus frontal di dahi yang terang pada orang normal, dan kurang
menilai sinus frontal, sphenoid dan etmoid terang atau gelap pada sinusitis akut atau kronis. Pemeriksaan radiologik,
2.5.6 Pemeriksaan CT -Scan tampak pada foto roentgen daerah sinus frontal berselubung.
Pemeriksaan CT-Scan merupakan cara terbaik untuk memperlihatkan sifat dan d. Sinusitis sfenoid akut
sumber masalah pada sinusitis dengan komplikasi. CT-Scan pada sinusitis akan Pemeriksaan rongga hidung, tampak ingus atau krusta serta foto rontgen.
tampak : penebalan mukosa, air fluid level, perselubungan homogen atau tidak 2.6 PENATALAKSANAAN
homogen pada satu atau lebih sinus paranasal, penebalan dinding sinus dengan 2.6.1 Penatalaksanaan Medis
sklerotik (pada kasus-kasus kronik).Hal-hal yang mungkin ditemukan pada 1. Drainage
pemeriksaan CT-Scan : a. Dengan pemberian obat, yaitu
a. Kista retensi yang luas, bentuknya konveks (bundar), licin, homogen, pada Dekongestan local : efedrin 1%(dewasa) ½%(anak).
pemeriksaan CT-Scan tidak mengalami ehans. Kadang sukar membedakannya Dekongestan oral sedo efedrin 3 X 60 mg.
dengan polip yang terinfeksi, bila kista ini makin lama makin besar dapat b. Surgikal dengan irigasi sinus maksilaris.
2. Pemberian antibiotik dalam 5-7 hari (untuk Sinusitis akut) yaitu : diteteskan HCL efedrin 0,5-1,5 %. Pasien harus menyebut “kek-kek” supaya
a. Ampisilin 4 X 500 mg HCL efedrin yang diteteskan tidak masuk ke dalam mulut, tetapi ke dalam
b. Amoksilin 3 x 500 mg rongga yang terletak dibawah ( yaitu sinus paranasal, oleh karena kepala
c. Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet diletakkan ebih rendah dari badan). Ke dalam lubang hidung dimasukkan pipa
d. Diksisiklin 100 mg/hari. gelas yang dihubungkan dengan alat pengisap untuk menampung ingus yang
3. Pemberian obat simtomatik terisap dari sinus. Pada pipa gelas itu dibuat lubang yang dapat ditutup dan
Contohnya parasetamol., metampiron 3 x 500 mg. dibuka dengan ujung jari jempol. Pada waktu lubang ditutup maka akan terisap
4. Untuk Sinusitis kromis bisa dengan ingus dari sinus. Pada waktu meneteskan HCL ini, lubang di pipa tidak ditutup.
a. Cabut geraham atas bila penyebab dentogen Tindakan pencucian menurut cara ini dilakukan 2 kali seminggu.
b. Irigasi 1 x setiap minggu ( 10-20) Pembedahan, dilakukan :
c. Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi). a. bila setelah dilakukan pencucian sinus 6 kali ingus masih tetap kental.
2.6.2 Penatalaksanaan Pembedahan b. bila foto rontgen sudah tampak penebalan dinding sinus paranasal.
Pencucian sinus paranasal : Persiapan sebelum pembedahan perlu dibuat foto ( pemeriksaan) dengan CT
a. Pada sinus maksila scan.
Dilakukan fungsi sinus maksila, dan dicuci 2 kali seminggu dengan larutan Macam pembedahan sinus paranasal
garam fisiologis. Caranya ialah, dengan sebelumnya memasukkan kapas yang 1. Sinus maksila
telah diteteskan xilokain dan adrenalin ke daerah meatus inferior. Setelah 5 a. Antrostomi, yaitu membuat saluran antara rongga hidung dengan sinus
menit, kapas dikeluarkan, lalu dengan trokar ditusuk di bawah konka inferior, maksila di bagian lateral konka inferior. Gunanya ialah untuk mengalirkan nanah
ujung trokar diarahkan ke batas luar mata. Setelah tulang dinding sinus maksila dan ingus yang terkumpul di sinus maksila.
bagian medial tembus, maka jarum trokar dicabut, sehingga tinggal pipa Alat yang perlu disiapkan ialah :
selubungnya berada di dalam sinus maksila. Pipa itu dihubungkan dengan - alat fungsi sinus maksila
semprit yang berisi larutan garam fisiologis, atau dengan balon yang khusus - semprit untuk mencuci
untuk pencucian sinus itu. - pahat untuk memotong dinding lateral hidung
Pasien yang telah ditataki plastik di dadanya, diminta untuk membuka mulut. Air - alat pengisap
cucian sinus akan keluar dari mulut, dan ditampung di tempat bengkok. - tampon kapas atau kain kasa panjang yang diberi salep
Tindakan ini diulang 3 hari kemudian. Karena sudah ada lubang fungsi, maka Tindakan dilakukan di kamar besdah, dengan pembiusan ( anastesia ), dan
untuk memasukkan pipa dipakai trokar yang tumpul. Tapi tindakan seperti ini pasien dirawat selama 2 hari.
dapat menimbulkan kemungkinan trokar menembus melewati sinus ke jaringan Perawatan pasca tindakan :
lunak pipi,dasar mata tertusuk karena arah penusukan salah, emboli udara - beri antrostomi dilakukan pada kedua belah sinus maksila, maka kedua belah
karena setelah menyemprot dengan air disemprotkan udara dengan maksud hidung tersumbat oleh tampon. Olehkarena itu pasien harus bernafas melalui
mengeluarkan seluruh cairn yang telah dimasukkan serta perdarahan karena mulut, dan makanan yang diberikan harus lunak.
konka inferior tertusuk. Lubang fungsi ini dapat diperbesar, dengan memotong - tampon diangkat pada hari ketiga, setelah itu, bila tidak terdapat perdarahan,
dinding lateral hidung, atau dengan memakai alat, yaitu busi. Tindakan ini pasien boleh pulang.
disebut antrostomi, dan dilakukan di kamar bedah, dengan pasien yang diberi b. Operasi Caldwell-Luc
anastesi. Operasi ini ialah membuka sinus maksila, dengan menembus tulang pipi.
b. Pada sinus frontal, etmoid dan sfenoid Supaya tidak terdapat cacat di muka, maka insisis dilakukan di bawah bibir, di
Pencucian sinus dilakukan dengan pencucian Proetz. Caranya ialah dengan bagian superior ( atas ) akar gigi geraham 1 dan 2. Kemudian jaringan diatas
pasien ditidurkan dengan kepala lebih rendah dari badan. Kedalam hidung tulang pipi diangkat kearah superior, sehingga tampak tulang sedikit di atas
cuping hidung, yang disebut fosa kanina. Dengan pahat atau bor tulang itu Pembedahan untuk membuka sinus frontal disebut operasi Killian. Insisi dibuat
dibuka, dengan demikian rongga sinus maksila kelihatan. Dengan cunam seperti pada insisi etmoidektomi ekstranasal, tetapi kemudian diteruskan ke atas
pemotong tulang lubang itu diperbesar. Isi sinus maksila dibersihkan. Seringkali alis.Tulang frontal dibuka dengan pahat atau bor, kemudian dibersihkan.
akan terdapat jaringan granulasi atau polip di dalam sinus maksila. Setelah Salurannya ke hidung diperikasa, dan bila tersumbat, dibersihkan. Setelah
sinus bersih dan dicuci dengan larutan bethadine, maka dibuat anthrostom. Bila rongga sinus frontal bersih, luka insisi dijahit, dan diberi perban-tekan. Perban
terdapat banyak perdarahan dari sinus maksila, maka dimasukkan tampon dibuka setelah seminggu.
panjang serta pipa dari plastik, yang ujungnya disalurkan melalui antrostomi ke Seringkali pembedahan untuk membuka sinus frontal dilakukan bersama
luar rongga hidung. Kemudian luka insisi dijahit. dengan sinus etmoid, yang disebut fronto-etmoidektomi.
Perawatan pasca bedah : 4. Sinus sfenoid
- beri kompres es di pipi, untuk mencegah pembengkakan di pipi pasca-bedah. Pembedahan untuk sinus sfenoid yang aman sekarang ini ialah dengan
- perhatikan keadaan umum : nadi, tensi,suhu memakai endoskop. Biasanya bersama dengan pembersihan sinus etmoid dan
- perhatikan apakah ada perdarahan mengalir ke hidung atau melalui mulut. muara sinus maksila serta muara sinus frontal, yang disebut Bedah Endoskopi
Apabila terdapat perdarahan, maka dokter harus diberitahu. Sinus Fungsional.
- makanan lunak Bedah endoskopi sinus fungsional ( FESS=functional endoscopic sinus surgery)
-tampon dicabut pada hari ketiga. Cara pemeriksaan ini ialah dengan mempergunakan endoskop, tanpa
2. Sinus etmoid melakukan insisis di kulit muka.
Pembedahan untuk membersihkan sinus etmoid, dapat dilakukan dari dalam Endoskop dimasukkan ke dalam rongga hidung. Karena endoskop ini
hidung (intranasal) atau dengan membuat insisi di batas hidung dengan pipi dihubungkan dengan monitor (seperti televisi), maka dokter juga melakukan
(ekstranasal). pembedahan tidak perlu melihat kedalam endoskop, tetapi cukup dengan
a. Etmoidektomi intranasal melihat monitor.
Alat yang diperlukan ialah : Dengan bantuan endoskop dapat dibersihkan daerah muara sinus, seperti
a. spekulum hidung daerah meatus medius untuk sinus maksila, sinus etmoid anterior dan sinus
b. cunam pengangkat polip frontal.
c. kuret ( alat pengerok ) Endoskop juga dapat dimasukkan kedalam sinus etmoid anterior dan posterior
d. alat pengisap untuk membuka sel-sel sinus etmoid. Kemudian dapat diteruskan kedalam sinus
e. tampon sfenoid yang terletak dibelakang sinus etmoid apabila di CT scan terdapat
Tindakan dilakukan dengan pasien dibius umum ( anastesia). Dapat juga kelainan di sinus sfenoid.
dengan bius lokal (analgesia). Setelah konka media di dorong ke tengah, maka Sekitar sinus yang sakit dibersihakan, dilihat juga muara sinus-sinus yang lain.
dengan cunam sel etmoid yang terbesar ( bula etmoid ) dibuka. Polip yang Setelah selesai, rongga hidung di tampoan untuk mencegah perdarahan.
ditemukan dikeluarkan sampai bersih. Sekarang tindakan ini dilakukan dengan Tampon dicabut pada hari ketiga.
menggunakan endoskop, seh igga apa yang akan dikerjakan dapat dilihat 2.7 KOMPLIKASI
dengan baik. 2.7.1 Kelainan pada Orbita
Perawatan pasca-bedah yang terpenting ialah memperhatikan kemungkinan Sinusitis ethmoidalis merupakan penyebab komplikasi pada orbita yang
perdarahan. tersering. Pembengkakan orbita dapat merupakan manifestasi ethmoidalis akut,
b. Etmoidektomi ekstranasal namun sinus frontalis dan sinus maksilaris juga terletak di dekat orbita dan dapat
Insisi dibuat di sudut mata, pada batas hidung dan mata. Di daerah itu sinus menimbulkan infeksi isi orbita juga.
etmoid dibuka, kemudian dibersihkan. Pada komplikasi ini terdapat lima tahapan :
3. Sinus frontal a. Peradangan atau reaksi edema yang ringan.
Terjadi pada isi orbita akibat infeksi sinus ethmoidalis didekatnya. Keadaan ini sistemik berupa malaise, demam dan menggigil.
terutama ditemukan pada anak, karena lamina papirasea yang memisahkan 2.7.4 Mukokel
orbita dan sinus ethmoidalis sering kali merekah pada kelompok umur ini. Suatu kista yang mengandung mukus yang timbul dalam sinus, kista ini paling
b. Selulitis orbita sering ditemukan pada sinus maksilaris, sering disebut sebagai kista retensi
Edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif menginvasi isi orbita namun mukus dan biasanya tidak berbahaya.
pus belum terbentuk. Dalam sinus frontalis, ethmoidalis dan sfenoidalis, kista ini dapat membesar dan
c. Abses subperiosteal melalui atrofi tekanan mengikis struktur sekitarnya. Kista ini dapat
Pus terkumpul diantara periorbita dan dinding tulang orbita menyebabkan bermanifestasi sebagai pembengkakan pada dahi atau fenestra nasalis dan
proptosis dan kemosis. dapat menggeser mata ke lateral. Dalam sinus sfenoidalis, kista dapat
d. Abses orbita menimbulkan diplopia dan gangguan penglihatan dengan menekan saraf
Pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi orbita. Tahap ini didekatnya.
disertai dengan gejala sisa neuritis optik dan kebutaan unilateral yang lebih 2.7.5 Pyokokel.
serius. Keterbatasan gerak otot ekstraokular mata yang tersering dan kemosis Mukokel terinfeksi, gejala piokel hampir sama dengan mukokel meskipun lebih
konjungtiva merupakan tanda khas abses orbita, juga proptosis yang makin akut dan lebih berat.
bertambah. BAB III
e. Thrombosis sinus kavemosus ASUHAN KEPERAWATAN
Akibat penyebaran bakteri melalui saluran vena kedalam sinus kavernosus, 3.1 PENGKAJIAN
kemudian terbentuk suatu tromboflebitis septik. 3.1.1 Data Demografi
2.7.2 Kelainan intracranial Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama, umur, agama,
a. Meningitis akut pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin, status perkawinan,
Salah satu komplikasi sinusitis yang terberat adalah meningitis akut, infeksi dari dan penanggung biaya.
sinus paranasalis dapat menyebar sepanjang saluran vena atau langsung dari 3.1.2 Riwayat Sakit dan Kesehatan
sinus yang berdekatan, seperti lewat dinding posterior sinus frontalis atau 1. Keluhan utama
melalui lamina kribriformis di dekat sistem sel udara ethmoidalis. Biasanya klien mengeluh nyeri kepala sinus dan tenggorokan
b. Abses dura 2. Riwayat penyakit saat ini
Kumpulan pus diantara dura dan tabula interna kranium, sering kali mengikuti Klien mengeluh hidung tersumbat, pilek yang sering kambuh, demam, pusing,
sinusitis frontalis. Proses ini timbul lambat, sehingga pasien hanya mengeluh ingus kental di hidung, nyeri di antara dua mata, penciuman berkurang.
nyeri kepala dan sebelum pus yang terkumpul mampu menimbulkan tekanan 3. Riwayat penyakit dahulu
intra kranial. a. Klien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma.
c. Abses subdural b. Klien pernah mempunyai riwayat penyakit THT.
Kumpulan pus diantara duramater dan arachnoid atau permukaan otak. Gejala c. Klien pernah menderita sakit gigi geraham.
yang timbul sama dengan abses dura. 4. Riwayat penyakit keluarga
d. Abses otak Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang mungkin ada
Setelah sistem vena, dapat mukoperiosteum sinus terinfeksi, maka dapat terjadi hubungannya dengan penyakit klien sekarang.
perluasan metastatik secara hematogen ke dalam otak. 5. Pengkajian psiko-sosio-spiritual
2.7.3 Osteitis dan Osteomylitis. a. Intrapersonal : Perasaan yang dirasakan klien ( cemas atau sedih )
Penyebab tersering osteomielitis dan abses subperiosteal pada tulang frontalis b. Interpersonal : hubungan dengan orang lain
adalah infeksi sinus frontalis. Nyeri tekan dahi setempat sangat berat. Gejala 6. Pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tatalaksana hidup b. Bentuk alat kelamin : normal
Contohnya untuk mengurangi flu biasanya klien mengkonsumsi obat tanpa c. Uretra : normal
memperhatikan efek samping d. Produksi urin: normal
b. Pola nutrisi dan metabolism 5. Pencernaan B5 (bowel)
Biasanya nafsu makan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung. a. Nafsu makan : menurun
c. Pola istirahat dan tidur b. Porsi makan : setengah
Adakah indikasi klien merasa tidak dapat istirahat karena sering flu. c. Mulut : bersih
d. Pola persepsi dan konsep diri d. Mukosa : lembap
Klien sering flu terus menerus dan berbau yang menyebabakan konsep diri 6. Muskuloskeletal/integument B6 (bone)
menurun. a. Kemampuan pergerakan sendi : bebas
e. Pola sensorik b. Kondisi tubuh: kelelahan
Daya penciuman klien terganggu kaena hidung buntu akibat flu terus menerus 3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN
( baik purulen, serous maupun mukopurulen ). 1. Bersihan jalan nafas tidak efetif berhubungan dengan obstruksi / adanya
3.1.3 Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System ) secret yang mengental.
Pemeriksaan fisik pada klien dengan sinusitis meliputi pemeriksaan fisik umum 2. Nyeri berhubungan dengan peradangan pada hidung.
per system dari observasi keadaan umum, pemeriksaan tanda-tanda vital, B1 3. Hipertermi berhubungan dengan reaksi inflamasi
(breathing), B2 (Blood), B3 (Brain), B4 (Bladder), B5 (Bowel), dan B6 (Bone). 4. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nafsu makan
1. Pernafasan B1 (breath) manurun sekunder dari peradangan dengan sinus.
a. Bentuk dada : normal 5. Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan hidung tersumbat, nyeri
b. Pola napas : tidak teratur sekunder akibat peradangan hidung.
c. Suara napas : ronkhi 6. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit
d. Sesak napas : ya dan prosedur tindakan medis ( irigasi sinus / operasi )
e. Batuk : tidak 3.3 INTERVENSI
f. Retraksi otot bantu napas ; ya 1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi / adanya
g. Alat bantu pernapasan : ya (O2 2 lpm) secret yang mengental.
2. Kardiovaskular B2 (blood) Tujuan : bersihan jalan nafas menjadi efektif setelah secret dikeluarkan.
a. Irama jantung : regular Kriteria hasil :
b. Nyeri dada : tidak - Respiratory Rate 16-20x/menit
c. Bunyi jantung ; normal - Suara napas tambahan tidak ada
d. Akral : hangat - Ronkhi (-)
3. Persyarafan B3 (brain) - Dapat melakukan batuk efektif
a. Penglihatan (mata) : normal INTERVENSI RASIONAL
b. Pendengaran (telinga) : tidak ada gangguan a. Kaji penumpukan secret yang ada
c. Penciuman (hidung) : ada gangguan b. Observasi tanda-tanda vital.
d. Kesadaran: gelisah c. Ajarkan batuk efektif
e. Reflek: normal d. Koaborasi nebulizing dengan tim medis untuk pembersihan secret
4. Perkemihan B4 (bladder) e. Evaluasi suara napas, karakteristik sekret, kemampuan batuk efektif
a. Kebersihan : bersih a. Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan selanjutnya
b. Mengetahui perkembangan klien sebelum dilakukan operasi. merah
c. Mengeluarkan sekret di jalan napas - Diet: klien menghabiskan porsi makannya dan nafsu makan bertambah
d. Kerjasama untuk menghilangkan penumpukan secret. INTERVENSI RASIONAL
e. Ronkhi (-) mengindikasikan tidak ada cairan/sekret pada paru, jumlah, a. Kaji pemenuhan kebutuhan nutrisi klien
konsistensi, warna sekret dikaji untuk tindakan selanjutnya b. Jelaskan pentingnya makanan bagi proses penyembuhan.
2. Nyeri berhubungan dengan peradangan pada hidung. c. Mencatat intake dan output makanan klien.
Tujuan : Nyeri yang dirasakan berkurang atau dapat diadaptasi oleh klien d. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk membantu memilih makanan yang dapat
Kriteria hasil : memenuhi kebutuhan gizi selama sakit
- Klien mengungkapkan nyeri yang dirasakan berkurang atau dapat diadaptasi e. Manganjurkn makan sedikit- sedikit tapi sering.
- Klien tidak merasa kesakitan. f. Menyarankan kebiasaan untuk oral hygine sebelum dan sesudah makan
- Dapat mengidentifikasi aktifitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri, a. Mengetahui kekurangan nutrisi klien.
klien tidak gelisah, skala nyeri 0-1 atau teradaptasi b. Dengan pengetahuan yang baik tentang nutrisi akan memotivasi untuk
INTERVENSI RASIONAL meningkatkan pemenuhan nutrisi.
a. Kaji terhadap nyeri dengan skala 0-4 c. Mengetahui perkembangan pemenuhan nutrisi klien.
b. Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang d. Ahli gizi adalah spesialisasi dalam ilmu gizi yang membantu klien memilih
nyaman. makanan sesuai dengan keadaan sakitnya, usia, tinggi, berat badannya.
c. Mengajarkan tehnik relaksasi dan metode distraksi e. Dengan sedikit tapi sering mengurangi penekanan yang berlebihan pada
d. Kolaborasi analgesic lambung.
e. Observasi tingkat nyeri dan respon motorik klien, 30 menit setelah pemberian f. Meningkatkan selera makan klien.
analgesik untuk mengkaji efektivitasnya dan setiap 1-2 jam setelah tindakan 4. Hipertermi berhubungan dengan reaksi inflamasi
perawatan selama 1-2 hari. Tujuan : suhu tubuh kembali dalam keadaan normal
a. Nyeri merupakan respon subjektif yang bisa dikaji menggunakan skala nyeri. Kriteria hasil :
Klien melaporkan nyeri biasanya di atas tingkat cidera. - suhu tubuh 36,5-37,5 C
b. Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan - kulit hangat dan lembab, membran mukosa lembab
kenyamanan. INTERVENSI RASIONAL
c. Akan melancarkan peredaran darah, dan dapat mengalihkan perhatian a. Monitoring perubahan suhu tubuh
nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan b. Mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh dengan pemasangan
d. Analgesik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri berkurang infus
e. Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang objektif untuk c. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik guna mengurangi
mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat. proses peradangan (inflamasi)
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nafsu makan d. Anjurkan pada pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang optimal
manurun sekunder akibat peradangan dengan sinus. sehingga metabolisme dalam tubuh dapat berjalan lancar a. Suhu tubuh harus
Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi dengan adekuat dipantau secara efektif guna mengetahui perkembangan dan kemajuan dari
Kriteria hasil : pasien.
- Antropometri: berat badan tidak turun (stabil), tinggi badan, lingkar lengan b. Cairan dalam tubuh sangat penting guna menjaga homeostasis
- Biokimia: albumin normal dewasa (3,5-5,0) g/dl (keseimbangan) tubuh. Apabila suhu tubuh meningkat maka tubuh akan
Hb normal (laki-laki 13,5-18 g/dl, perempuan 12-16 g/dl) kehilangan cairan lebih banyak.
- Clinis: tidak tampak kurus, terdapat lipatan lemak, rambut tidak jarang dan c. Antibiotik berperan penting dalam mengatasi proses peradangan (inflamasi)
d. Jika metabolisme dalam tubuh berjalan sempurna maka tingkat kekebalan/ d. Dengan menghilangkan stimulus yang mencemaskan akan meningkatkan
sistem imun bisa melawan semua benda asing (antigen) yang masuk. ketenangan klien.
5. Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan hidung tersumbat, nyeri e. Mengetahui perkembangan klien secara dini.
sekunder akibat peradangan hidung. f. Obat dapat menurunkan tingkat kecemasan klien
Tujuan : Klien dapat istirahat dan tidur dengan nyaman.
Kriteria hasil :
- Klien tidur 6 – 8 jam sehari.
INTERVENSI RASIONAL
a. Kaji kebutuhan tidur klien.
b. Menciptakan suasana yang nyaman.
c. Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat a. Mengetahui permasalahan
klien dalam pemenuhan kebutuhan istirahat atau tidur.
b. Supaya klien dapat tidur dengan nyaman dan tenang.
c. Pernafasan dapat efektif kembali lewat hidung
6. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit
dan prosedur tindakan medis ( irigasi sinus / operasi ).
Tujuan : Perasaan cemas klien berkurang atau hilang.
Kriteria hasil :
- Klien dapat menggambarkan tingkat keemasa dan pola kopingnya.
- Klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang di deritanya serta
pengobatannya.
INTERVENSI RASIONAL
a. Kaji tingkat kecemasan klien
b. Berikan kenyamanan dan ketentraman pada klien dengan,
- Temani klien
- Perlihatkan rasa empati ( datang dengan menyentuh klien )
c. Berikan penjelasan pada klien tentang penyakit yang dideritanya secara
perlahan dan tenang serta menggunakan kalimat yang jelas, singkat dan mudah
dimengerti
d. Menjauhkan stimulasi yang berlebihan misalnya :
- Tempatkan klien diruangan yang lebih tenang.
- Batasi kontak dengan orang lain atau klien lain yang kemungkinan mengalami
kecemasan
e. Observasi tanda-tanda vital.
f. Bila perlu , kolaborasi dengan tim medis. a. Menentukan tindakan selanjutnya.
b. Memudahkan penerimaan klien terhadap informasi yang diberikan.
c. Meingkatkan pemahaman klien tentang penyakit dan terapi untuk penyakit
tersebut sehingga klien lebih kooperatif.