Anda di halaman 1dari 116

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagian besar ilmu pengetahuan kimia merupakan ilmu percobaan, dan
sebagian besar pengetahuannya diperoleh dari penelitian di laboratorium. Pada
kesempatan ini saya akan memaparkan suatu bagian dari ilmu kimia yaitu
mengenai pemisahan dan pemurnian. Pemisahan dan pemurnian dilakukan
dengan tujuan untuk mendapatkan zat murni dari suatu zat yang telah tercemar
atau tercampur.
Campuran dua atau lebih zat dimana dalam penggabungan ini zat-zat
tersebut mempertahankan identitasnya masing-masing dan tidak memiliki
susunan yang tetap. Campuran dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu
campuran homogen dan campuran heterogen. Campuran juga dapat
dipisahkan berdasarkan perbedaan sifat-sifat fisiknya.
Untuk memperoleh zat murni, kita harus memisahkannya dari
campurannya unyuk mendapatkan zat murni, dilakukan suatu system yang
dapat memisahkan antara zat murni dengan bahan-bahan pencemar atau
pencemar lainnya pada suatu campuran yakni pemisahan dan pemurnian.
Pemisahan dan pemurnian zat dapat dilakukan dengan berbagai cara
yaitu, penyaringn (filtrasi), dekantasi, sublimasi, kristalisasi, destilasi, adsorbsi
dan ekstraksi.
Melalui percobaan pemisahan dan pemurnian kita dapat memahamisecara
tepat cara untuk memperoleh produk yang lebih murni dari campuran zat yang
masih tercemar oleh zat lain.

1.2 Tujuan
− Mengetahui berbagai jenis pemisahan dan pemurnian
− Memahami prinsip pemurnian zat dari campurannya
− Mengetahui perbedaan campuran homogen dengan campuran
heterogen
2

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Campuran adalah penggabungan dua atau lebih zat dimana dalam


penggabungan ini zat-zat tersebut mempertahankan identitasnya masing-masing.
Beberapa contoh diantaranya adalah udara, minuman ringan, susu dan semen.
Campuran tidak memiliki susunan yang tetap atau sifat dan komposisi yang tetap.
Berdasarkan sifatnya, campuran dikelompokka menjadi 2 macam yaitu :
1. Campuran Homogen
Merupakan campuran yang tidak bisa dibedakan antara zat-zat yang
bercampur didalamnya. Seluruh bagian dalam campuran homogen mempunyai
sifat yang sama
Contoh :
a. Teh, merupakan pencampuran antara gula, air dan teh yang diaduk secara
merata dan tidak bisa dibedakan antara gula dan airnya.
b. Udara, merupakan campuran bermacam-macam gas seperti nitrogen,
oksigen dan lain-lain yang masing-masing gas tidak bisa dibedakan.
2. Campuran Heterogen
Merupakan campuran yang mengandung zat-zat yang tidak dapat
bercmapur satu dengan yang lain secara sempurna sehingga dapat
dikenali/diketahui perbedaan sifat-sifat partikel dari zat yang bercampur
tersebut, seperti bentuk dan warna,
Contoh :
a. Tepung yang dicampur dengan air
b. Air dengan pasir
c. Beras dicampur dengan pasir

Campuran dapat dipisahkan melalui peristiwa fisika atau kimia.


Pemisahan secara fisika tidak mengubah zat selama pemisahan, sedangkan
pemisahan secara kimia satu komponen atau lebih direaksikan dengan zat lain
3

sehingga dapat dipisahkan. Cara atau tahnik pemisahan campuran bergantung


pada jenis, wujud dan sifat komponen yang terkandung didalamnya, jika
komponen berwujud padat dan cair misalnya pasir dan air dapat dipisahkan
dengan dekantasi.
Berdasarkan sifatnya maka pemisahan dan pemurnian campuran menjadi
unsure-unsur penyusunnya dapat dibedakan menjadi enam bagian yaitu :
1. Filtrasi (penyaringan), adalah pemisahan zat padat dari suatu larutan
berdasarkan ukuran partikelnya yagnberbeda menggunakan kertas saring.
Contohnya bubuk kapur tulis ditambhakan air diaduk lalu disaring
menggunakan kertas saring yang sangat kecil. Kapur tulis akan tersaring
diatas kertas saring dikarenakan partikel kapur tulis tidak dapat menembus
pori-pori kertas saring sedangkan air dapat melewati kertas saring, karena
partikel air lebih kecil daripada pori-pori kertas saring tersebut.
2. Dekantasi (pengendapan), salah satu jenis reaksi umumnya berlangsung
dalam larutan berair adalah reaksi pengendapan yang cirinya adalah
terbentuknya produk yang tidak larut, atau endapan. Endapan adalah
padatan tak larut yang terpisah dari larutan. Rekasi pengendapan biasanya
melibatkan senyawa-senyawa ionik.
3. Ekstraksi, adalah pemisahan zat dengan larutannya berdasarkan
kepolarannya dan massa jenisnya. Pemisahan terjadi atas dasar
kemampuan larutan yang berada dari komponen-komponen dalam
campuran. Pemisahan ini berdasarkan jenis larutannya atau kepolarannya,
dan massa jenisnya. Campuran dua jenis cairan yang tidak saling
melarutkan dapat dipisahkan dengan corong pisah.
4. Sublimasi (Penyubliman), Peralihan secara langsung suatu zat, dari padat
ke gas/uap (dapat juga kembali ke wujud padat lagi), atau dari gas/uap
kepadat, tanpa melalui fase cair. Merupakan salah satu metode pemurnian
untuk senyawa-senyawa yang dapat menyublim (misalnya yodium,
ammonium klorida, arsenitrioksida, dan lain sebaginya). Dan jika padatan
yang tersublimasi tersebut bisa diembunkan lagi (rekondensasi) kalau
sublimasi digunakan maksud-maksud preparative, maka tekanan atmosfir
4

diatas senyawa tersebut baru dikecilkan dengan sebuah aspirator vakum.


Ini mengakibatkan tekanan zat padat itu menyapai tekanan atm pada suhu
yang lebih rendah. Pada kondisi ini kecil kemungkinan terjadi
dekomposisi jumlah senyawa yang dapat dimurnikan pada tekanan normal
termasuk sedikit.
5. Kristalisasi, merupkan proses pemisahan bahan padat berbentuk kristal
dari sutu larutan dengan cara menguapkan pelarutny. Pada kristlisasi,
larutan pekat didinginkan sehingga zat terlarut mengkristal. Hal itu terjadi
Karen kelarutan berkurang ketika suhu diturunkan. Apabila larutan tidak
cukup pekat maka dapat dipekatkan terlebih dahulu dengan cara penguapn.
Kemudian dilanjutkan dengan pendinginan. Melalui kristalisasi diperoleh
zat padat yang lebih murni karena komponen larutan lainnya yang
kadarnya lebih kecil tidak ikut mengkristal.
6. Destilasi, merupakan cara pemisahan campuran yang didasarkan pada
perbedaan titik didih komponen-komponen penyusunnya. Prinsip kerja
cara penyulingan ini didasarkan pada perbedaan titik didih dari dua zat
yang bercampur atau pertikelnya yang satu mendidih atau menguap
sedangkan yang lain tidak.

Larutan, adalah campuran homogen, suatu campuran dikatakan homogen


jika antar komponennya tidak terdapat bidang batas hingga tidak terbedakan lagi
walaupun menggunakan mikroskop ultra. Komponen larutan tidak dapat
dipisahkan melali penyaringan. Komponen larutan dibedakan atas pelarut dan zat
terlarut. Proses pelarutan dipengaruhi oleh suhu, pengadukan / jika zat terlarut
lebih halus.
Zat adalah materi yang susunan dan komponen penyusunannya sama, zat
murni memiliki komposisi konstan. Salah satu cara untuk membedakan antara zat
murni dan campuran adalah dengan mengukur titik leleh atau titik didih. Suhu zat
murni akan tetap konstan ketika meleleh, misalnya es. Es akan meleleh pada suhu
0° C dan suhu ini tetap sama sampai semua es tetap meleleh. Tetapi jika campran
5

dilelehkan biasanya suhu akan berubah secara bertahap ketika zat padat tersebut
diubah seluruhnya menjadi cairan.
Kinetika adsorbsi menyatakan adanya proses penyerapan suatu zat oleh
absorben dalam fungsi waktu. Adsorbsi terjadi pada permukaan zat padat karena
adanya gaya tarik atom atau molekul pada permukaan zat padat. Molekul-molekul
pada permukaan zat padat atau zat cair, mempunyai gaya tarik ke arah dalam,
karena tidak ada gaya-gaya lain yang mengimbangi. Adanya gaya-gaya ini
menyebabkan zat padat dan zat cair, mempunyai gaya adsorbsi. Peristiwa adsorbsi
disebabkan oleh gaya tarik molekul-molekul di permukaan adsorbens. Dimana
adsorben yang biasa digunakan dalam percobaan adalah karbon aktif.
Perbedaan sifat ini sering kali digunakan sebagai pengujian untuk
perbedaan bahan itu murni ata utidak. Jika suhu tetap, sementara bahan itu melelh,
maka bahan itu termasuk murni. Tetapi jika suhu berubah sementara zat tersebut
tidak melelh, maka zat tersebut tidak termasuk zat murni, melainkan campuran.
Materi dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang menempati ruang
dan mempunyai massa. Setiap materi mempunyai sifat yang khas yang
membedakan dari materi lainnya. Namun demikian antara berbagai materi juga
terdapat berbagai persamaan sehingga kita dapat mengelompokkan materi itu
yang juga terdapat berbagai persamaan sehingga kita dapat mengelompokkan
materi berdasarkan wujud dan komposisinya.
Materi dapat berbentuk padat, cair atau gas. Perbedaan dari ketigaga jenis
wujudnya itu terletak pada struktur dan susunan partikelnya. Dalam padatan
partikelnya tersusun rapat dan diam di tempat, oleh karena itu mempunyai banyak
bentuk dan volum yang tetap. Dalam cairan partikelnya tersusun rapat tetapi dapat
bergerak sehingga cairan mempunyai volume tetap, tetapi bentuknya berubah
sesuai dengan wadah cairan tersebut. Dalam gas partikelnya relatif sangat
renggang dan bergerak bebas, di mana bentuk dan volumnya mengikuti keadaan.
Adapun zat-zat murni dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
 Unsur
Usnsur adalah materi yang paling sederhana dan tidak dapat diuraikan
menjadi zat-zat lain secara kimia. Misalnya air, air dapat diuraikan oleh
6

listrik menjadi dua jenis gas, yaitu hidrogen dan oksigen, sedangkan
hidrogen dan oksigen tidak dapat diuraikan lagi menjadi zat yang lebih
sederhana. Zat seperti hidrogen dan oksigen , yaitu zat tunggal yang secara
kimia tidak dapat diuraikan menjadi zat lain yang lebih sederhana, disebut
unsur. Sedangkan zat-zat sperti air, yaitu zat tunggal yang dapat diurai
menjadi zat lain yang lebih sederhana, disebut senyawa. Beberapa contoh
unsur dalam kehidupan sehari-hari adalah besi, alumunium, emas, timah,
tembaga, karbon, oksigen, hidrogen, dan belerang serta perak.
 Senyawa
Senyawa adlah zat tunggal yang dapat diuriaikan menjadi zat yang
lebih sederhana. Jumlah senyawa jauh lebih banyak dari jumlah unsure.
Pada tahun 1799, seorang ilmuwan Prancis bernama Josep Louis Proust
(1754 – 1826) menemukan satu sifat yang terpenting dalam senyawa yaitu
yang disebut hokum perbandingan tetap. Proust menyimpulan bahwa
perbandingan massa unsur dalam suatu senyawa adalah tertentu dan tetap.
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan sifat senyawa sebagaiberikut :
a) Tergolong zat tunggal
b) Dapat diuraikan menjasi zat yang lebih sederhana.
c) Terbentuk dari dua jenis unsure atau lebih dengan perbandingan
tertentu.
d) Mempunyai sifat tetrtentu yang berbeda dar sifat unsure penyusunan.

Pada prinsipnya pemisahan dan pemurnian dilakukan untuk memisahkan


antara dua zat atau lebih yang saling bercampur dan pemurnian dilakukan untuk
mendapatkan suatu zat murni dari suatu zat yang tidak tercemar oleh zat lain.
Banyaknya campuran dapat dinyatakan dalam persen (per satu bagian)
atau BPJ (bagian per juta). Persen sering digunakan dalam perdagangan
sedangkan BPJ untuk kadar yang sangat kecil misalnya zat-zat pencemar dalam
limbah. Satuan persen dengan % dalam satuan perjuta dengan BPJ.
7

Sehingga dipeoleh rumus

masa zat
Persen Masa = x 100%
masa campuran

volume zat x 100%


Persen Volume=
volume campuran

Rumus lainnya

masa zat
Perjuta Masa = x 100%
masa campuran

volume zat x 100%


Perjuta Volume =
volume campuran

Metode pemisahan merupakan suatu cara yang digunakan untuk


memisahkan atau memurnikan suatu senyawa atau sekelompok senyawa yang
mempunyai susunan kimia yang berkaitan dari suatu bahan, baik dalam skala
laboratorium maupun skala industri. Keadaan zat yang diinginkan dan dalam
keadaan campuran harus diperhatikan untuk menghindari kesalahan pemilihan
metode pemisahan yang akan menimbulkan kerusakan hasil atau melainkan tidak
berhasil. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain :
1. Sifat-sifat khusus dari zat yang diinginkan dari campurannya,
misalnya zat tidak tahan panas, mudah menguap, kelarutan terhadap
pelarut tertentu, titik didih dan sebagainya.
2. Standar kemurnian yang diinginkan.
3. Zat pencemar dan campurannya yang mengotori beserta sifatnya.
4. Nilai guna yang diinginkan, harga, dan biaya proses pemisahan.
5. Kadar zat yang diinginkan terhadap campurannya, apakah
kadarnya kecil atau besar.
8

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
− Batang pengaduk
− Cawan penguap
− Corong pisah
− Corong kaca
− Gelas kimia 100 mL
− Gelas beker
− Hot plate
− Pipet tetes
3.1.2 Bahan
− Garam dapur
− Kapur tulis
− Pasir
− Naftalena
− Minyak goreng
− Sirup mangga
− Norit
− Aquades
− Kertas saring
− Tissu

3.2 Prosedur Percobaan


3.2.1. Dekantasi
− Dimasukkan 1 sendok pasir ke dalam gelas kimia yang diisi
air.
− Diaduk larutan tersebut hingga larut.
− Dibiarkan sampai air mengendap, kemudian diamati.
9

3.2.2 Filtrasi
− Diambil satu sendok bubuk kapur tulis lalu dimasukkan ke
dalam gelas kimia.
− Ditambahkan 50 mL aquades.
− Diaduk larutan tersebut, hingga larut.
− Disiapkan kertas saring dan corong kaca.
− Disaring menggunakan corong kaca dan kertas saring,
kemudian diamati.
3.2.3 Adsorbsi
− Diambil satu sendok norit yang telah dihaluskan dalam
kertas saring.
− Dialirkan sedikit demi sedikit sirup
− Diamati filtrat dari penyaringan tersebut
3.2.4 Kristalisasi
− Diambil satu sendok garan dapur kemudian dimasukkan
ke dalam gelas kimia
− Ditambahkan aquades, kemudian aduk hingga larut.
− panaskan larutan tersebut hingga mendidih dan aquades
menjadi berkurang sampai habis.
− Didinginkan larutan tersebut, kemudian diamati.
3.2.5. Sublimasi
− Dimasukkan 2gr Naftalena dan garam dicawan
penguap.
− Ditutup cawan penguap dengan kertas saring yang
dilubangi kecil-kecil.
− Ditutup lagi dengan corong kaca diatas kertas saring
dengan posisi terbalik dan lehernya disumbat kertas.
− Dipanaskan dan dibiarkan sampai menguap.
3.2.6 Ekstraksi
10

− Diambil 50 mL minyak dimasukkan kedalam corong pisah


− Ditambahkan 50 mL aquades.
− Dikocok larutan tersebut hingga tercampur dan dibalik
corong pisah tersebut dan dibiarkan terpisah
− Diamkan dan amati perubahannya.
11

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

No. PERLAKUAN PENGAMATAN

1. Dekantasi
Dimasukkan 1 sendok - Pasir tidak larut dalam aquades
pasir - Setelah didiamkan, terbentuk
Tambahkan aquades 50 dua fase, dimana pasir
mL mengendap pada dasar beker
Di aduk gelas, hal tersebut dapat terjadi
Diamkan dan amati karena massa jenis pasir lebih
besar disbanding massa jenis
aquades

2. Filtrasi - Kapur bercampur dengan air


Di masukkan 1 sendok sehingga air berubah menjadi
bubuk kapur tulis keruh.
Di masukkan H2O - Ketika disaring, kapur tulis
sebanyak 25 ml, diaduk tersaring di kertas saring
Di saring karena partikel kapur tulis
labih besar daripada air.
Sehingga airnya tidak ikut
tersaring.

3. Adsorbsi
Di masukkan sirup ke - Sebelum dicampur srup warna
12

dalam beker gelas 250 ml orange

Di saring dengan kertas - Setelah dicampur norit sirup


saring yang telah diberi berubah menjadi warna kuning
norit diatas corong kaca.
4. Kristalisasi
Dimasukkan 2 gram NaCl - Garam Melarut
+ 10 ml H2O, lalu diaduk. - Setelah Dipanaskan, Air Akan
Kemudian dipanaskan Menguap Karena Terjadi
hingga terbentuk kristal- Perbedaan Titik Didih.
kristal Sementara Nacl Terbentuk
Di amati hasilnya. Menjadi Kristal Yang
Berwarna Putih

5. Sublimasi Kapur barus menyublim dari


Kapur barus yang telah di kertas saring dan tertahan pada
gerus I campur dengan corong kaca berbentuk kristal
NaCl sedangkan garam yang
Di tutup dengan kertas dicampur dengan kapur barus
saring tadi, bertahan dibawah
Di panaskan

6. Ekstraksi Karena berat jenis minyak


Diambil 50 mL minyak lebih besr daripada air, maka
dimasukkan kedalam air berada dibawah minyak,
corong pisah sehingga air dapat dikeluarkan
Ditambahkan 50 mL dar corong pisah.
aquades
Di bolak balik
Diamkan dan amati
perubahannya
13

4.2 Pembahasan
Berdasarkan percobaanyang telah dilakukan pada berbagai jenis
campuran. Campuran antara air dan pasir dapat dipisahkan dengan cara
diendapkan. Proses pemisahan ini dinamakan dekantasi, Prinsip kerja
dekantasi yaitu dilakukan karena perbedaan partikel, massa dan wujudnya
yang cukup besar. Dengan dekantasi kita dapat dengan cepat melihat
pemisahannya campuran antara air dan pasir sebenarnya dapat dilakukan
dengan cara filtrasi tetapi kurang efektif karena memakan waktu yang cukup
lama dan membutuhkan banyak kertas saring Terlihat pada endapan pasir
yang berada pada dasar beker gelas, hal ini terjadi karena massa jenis pasir
lebih berat dari massa jenis air.
Berbeda dengan pemisahan antara pasir dan air, pemisahan campuran air
dengan kapur tulis, dipishakan dengan cara filtrasi, prinsip kerjanya yaitu,
pemisahan zat dari campurannya melalui penyaringan yang didasarkan pada
perbedaan ukuran partikel zat-zat yang bercampur dimana ukuran pertikel
lebih kecil dari lubang penyaring akan melewati proses penyaringan
sedangkan ukuran pertikel yang lebih besar akan tertahan. Hali ini yang terjadi
pada percobaan antara air dengan bubuk kapur tulis, ketika dilakukan
penyaringan, bubuk kapur tulis tertahan di kertas saring sedangkan air
melewati kertas saring.
Untuk percobaan norit dengan sirup menggunakan proses adsorpsi, proses
ini membuat warna sirup menjadi lebih kuning muda dari warna asal yaitu
kuning pekat, hal ini dikarenakan prinsip kerja adsorpsi adalah menyerap zat
warna yang terdapat dalam campuran suatu larutan, karena dalam norit
terdapat arbon aktif yang berfungsi untuk penghilang warna larutan. Maka
dari itu warna sirup mengalami perubahan.
Pemisahan zat dari campurannya dengan cara menguapkan perlarutnya
sehingga campurannya menjadi jenuh dan membentuk kristal merupakan
proses kristalisasi, proses ini dilakukan pada air dan garam yang dipanaskan
14

hingga pelarut airnya habis kemudian saat didinginkan terbentuk kristal-kristal


kecil yang bening. Prinip kerjanya didasarkan pada salah satu zat yang
bercampur pada keadaan lewa jenuh, serta perbedaan titik beku zat tersebut.
Suatu campuran zat dimana salah satu zat dapat menyublin sedangkan
yang lainnya tidak ikut menyblin karena mimiliki perbadaan titik leleh
merupakan prinsip kerja sublimasi, hal inilah yang terjadi pada campuran
naftalena dengan garam yang dipanaskan, dimana naftalena lebih cepat
menguap dibandingkan garam karena titik leleh naftalena lebih rendah dari
garam.
Proses pemisahan antara air dengan minyak digunakan metode ekstraksi
pelarut, dimana campuran minyak goreng dengan air yang dimasukkan
kedalam corong pisah kemudian dibolak-balik, dan hasilnya adalah air berada
pada lapisan bawah sedangkan air berada di atas. Prisip kerjanya yaitu
didasarkan perbedaan massa jenis dan kepolaran zat. Sehingga air yang
bersifat polar tidak dapat bercampur dengan minyak yang bersifat non-polar.
Ditinjau dari jenis ikatan antara bahan yang dipisahkan dan bahan sorpsi
dapat dibedakan menjadi tiga proses, yaitu:
1. Adsorpsi
Adsorpsi yaitu proses peningkatan bahan pada permukaan sorben
padat dengan cara pelekatan, dimana adsorbsi memisahkan bahan dari
campuran gas atau cair, bahan yang harus dipisahkan ditarik oleh
permukaan sorben padat dan diikat oleh gaya-gaya yang bekerja pada
permukaan tersebut.
2. Absorpsi
Absorpsi yaitu proses peningkatan bahan pada permukaan sorben
cair dengan cara pelarutan. Dimana absorpsi memisahkan bahan dari suatu
campuran dengan cara peningkatan bahan tersebut pada permakaan sorben
cair yang diikuti pelarutan.
3. Like Dissolved Like
Like dissolved like sebagai sebuah ekspresi yang digunakan untuk
meningkatkan cara kerja beberapazat pelarut(solvent). Hal ini
15

menunjukkan kepolaran (polar atau non-polar) suatu zat terlarut (solute)


dan zat pelarut (solvent). Kelarutan yang besar terjadi bila molekul-
molekul solute mempunyai kesamaan dan struktur serta sifat-sifat
kelistrikannya.
Aplikasi Proses Pemurnian Pada Kehidupan Sehari-hari, yaitu:
1. Dekantasi
Proses dekantasi umumnya digunakan oleh pihak-pihak industri
untuk menstrilkan limbah mereka, sehingga limbah berisi bakteri dan zat-
zat lain diendapkan terlebih dahulu selama beberapa waktu sebelum
dibuang.
2. Filtrasi.
Proses filtrasi biasanya digunakan secara sederhana dalam
lingkungan rumah tangga. Seperti jika ingin minum the, daun the yang
telah diseduh disaring atau dilakukan filtrasi agar air teh tadi bebas dari
daunnya.
3. Adsorpsi.
Pemurnian dengan cara penyerap biasanya sering diterapkan untuk
penjernihan air, baik air minum ataupun air akuarium tempat ikan.
Biasanya adsorbs menggunakan bahan karbon aktif, resin, dan realit.
4. Kristalisasi.
Sesuai dengan pengeritannya kristalisasi yakni penguraian zat-zat
karena adanya perbedaan unsure dengan pembentukan zat padatnya
langsung dari pengendapan zat cair dikarenakan adanya perbedaan suhu
titik didih atau titik beku campuran. Biasanya diterapkan untuk mengambil
garam dari air laut ataupun kristalisasi natrium asetat.
5. Ekstraksi.
Penggunaan proses ekstraksi atau penambahan unsure lain
biasanya digunakan dalam proses penjernihan umumnya adalah
penjernihan minyak pelumas bekas yakni dengan ditambahkannya
propane.
6. Sublimasi.
16

Sublimasi hanya dapat digunakan pada unsur-unsur yang mudah


menyublim sehingga aplikasinya biasanya pada pemurnian zat seperti
kapur barus, yodium, belerang, dan sebagainya.

Sturktur Minyak Goreng

Struktur Naftalena
17

BAB 5
PENUTUP

Ksimpulan
− Pemisahan dan pemurnian dapat dilakukan dengan cara dekantasi, filtrasi,
adsorpsi, kristalisai, sublimasi dan ekstraksi pelarut.
− Prinsip pemisahan dan pemurnian didasarkan pada perbedaan massa jenis,
titik didih, ukuran partikel dan kelarutan.
− Campuran homogen merupakan campuran yang tidak bisa dibedakan
antara zat-zat yang bercampur didalamnya. Seluruh bagian dalam
campuran homogen mempunyai sifat yang sama sedangkan campuran
heterogen merupakan campuran yang mengandung zat-zat yang tidak
dapat bercmapur satu dengan yang lain secara sempurna sehingga dapat
dikenali/diketahui perbedaan sifat-sifat partikel dari zat yang bercampur
tersebut, seperti bentuk dan warna

Saran
Diharapkan pada percobaan selanjutnya, digunakan teknik pemisahan dan
pemurnian dengan cara rekristalisasi dan sentrifugasi.
18

DAFTAR PUSTAKA

Bernasconi, G. dkk.1995.Teknoklogi Kimia Bagian 2.Bandung: Bumi Aksara


Chang, Svehla. 1998.Kimia Universitas Asas dan Struktur.Jakarta:Binarupa
Aksara
Kleinfelter, Keenan.1991.Kimia Untuk Universitas.Jakarta:Erlangga
Sastrohamidjojo, Hardjono.2001.Kimia Dasar.Yogyakarta:Gadjah Mada
Syukri, S.1999.Kimia Dasar 1.Bandung:ITB
19

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Banyak bahan kimia yang digunakan untuk praktikum berbentuk larutan.
Untuk membuat larutan pada umumnya digunakan pelarut air. Ada beberapa
larutan yang menggunakan pelarut lain.
Sebenarnya larutan terjadi jika atom, molekul, atau ion dari suatu zat
semuanya terdispersi (larut). Larutan terdiri atas zat yang dilarutkan (solute)
dan pelarut (solven). Untuk larutan gula dalam air, gula merupakan zat terlarut
dan pelarutnya adalah air. Untuk larutan alcohol dalam air, tergantung dari
banyaknya zat yang paling dominant. Karena itu dapat dikatakan larutan air
dalam alkohol atau larutan alkohol dalam air.
Larutan hendaknya dibuat secukupnya saja, misalkan untuk keperluan satu
semester. Tetapi harus diingat bahwa ada larutan yang tidak tahan disimpan
lama, misal larutan kanji, larutan kalium heksasianoferat (III) dan lain-lain.
Larutan-larutan semacam ini hendaknya dibuat seandainya akan digunakan.
Jenis serta banyaknya larutan yang dibuat bergantung pada jumlah percobaan
yang akan dilakukan serta jumlah praktikan yang akan melakukan percobaan
itu.
Dalam praktikum ini akan dilakukan percobaan tentang pembuatan larutan
dimana praktikan diharapkan dapat mengetahui serta memahami tentang
konsentrasi suatu larutan yang ada atau yang akan dibuat. Dalam hal ini akan
diketahui apakah larutan tersebut akan terlarut sempurna atau tidak.
Dalam percobaan ini pula, kita dapat mengetahui cara-cara ataupun
prosedur ketika mencampurkan suatu larutan yang mana ukurannya telah
ditentukan terlebih dahulu. Percobaan ini akan membahas mengenai
konsentrasi larutan yang dapat dinyatakan dengan beberapa cara antara lain :
molaritas, molalitas, normalitas, persen berat dan volum, ppm dan lain
sebagainya.
20

1.2 Tujuan
− Mempelajari cara pembuatan larutan dari bahan cair dan padat dengan
konsentrasi tertentu.
− Mengetahui perbedaan larutan jenuh dengen larutan tidak jenuh.
− Mengetahui perbedaan larutan homogen dengan larutan heterogen.
21

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Larutan
Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat
yang terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya
dapat bervariasi. Larutan dapat berupa gas, cairan atau padatan. Larutan encer
adalah larutan yang mengandung sejumlah kecil solute, relatif terhadap jumlah
pelarut. Sedangkan larutan pekat adalah larutan yang mengandung sebagian
besar solute. Solute adalah zat terlarut, sedangkan solvent (pelarut) adalah
medium dalam mana solute terlarut. Faktor yang mempengruhi kelarutan
suatu zat antara lain adalah tekanan, sifat zat, suhu, dan luas permukaan.
Semua gas pada umumnya dapat bercampur dengan sesamanya (misibel).
Karena itu semua campuran gas adalah larutan. Meskipun demikian campuran
fase gas jarak pisah antaranya molekul relative jauh, sehingga tidak dapat
saling tarik-menarik secara efektif. Larutan dapat berfase padat, dalam larutan
pada pelarutnya adalah zat padat. Kemampuan membentuk larutan padat
sering terdapat pada logam dan larutan tertentu dimana atom terlarut
mengerahkan beberapa atom pelarut dalam larutan padat lain. Atom terlarut
dapat mengisi kisi atau lubang dalam kisi pelarut. Pembentukan larutan padat
ini terjadi apabila atom terlarut cukup kecil utnuk memasuki lubang-lubang
dan diantara atom pelarut.
Pada umumnya zat yang digunakan sebagai pelarut adalah air, selain air
yang berfungsi sebagai pelarut adalah alkohol amoniak, kloroform, benzena,
minyak, asam asetat, akan tetapi kalau menggunakan air biasanya tidak
disebutkan pelarutmya.

2.2 Konsentrasi Larutan


Untuk menyatakan komposisi larutan secara kuantitatif digunakan
konsentrasi. Konsentrasi adalah perbandingan jumlah zat terlarut dan jumlah
22

pelarut, dinyatakan dalam satuan volume (berat, mol) zat terlarut dalam
sejumlah volume tertentu dari pelarut. Berdasarkan hal ini muncul satuan-
satuan konsentrasi, yaitu fraksi mol, molaritas, molalitas, normalitas, ppm
serta ditambah dengan persen massa dan persen volume.
Banyak cara menentukan konsentrasi larutan yang semuanya menyatakan
kuantitas zat terlarut dalam kuantitas pelarut atau larutan. Dengan demikian,
setiap sistem konsentrasi harus menyatakan hal-hal sebgai berikut :
a. Satuan yang digunakan untuk zat terlarut
b. Kuantitas kedua dapat berupa pelarut atau larutan keseluruhan
c. Satuan yang digunakan untuk kuantitas kedua konsentrasi.
Untuk membuat larutan dengan konsentrasi tertentu harus diperhatikan:
1. Apabila dari padatan, pahami terlebih dahulu satuan yang diinginkan.
Berapa volum atau massa larutan yang akan dibuat.
2. Apabila larutan yang lebih pekat, satuan konsentrasi larutan yang
diketahui dengan satuan yang diinginkan harus disesuaikan. Jumlah zat
terlarut sebelum dan sesudah pengenceran adalah sama, dan memenuhi
persamaan :
M1V1 = M2V1
M1 : Konsentrasi larutan sebelum diencerkan
V1 : Volume larutan atau massa sebelum diencerkan
M2 : Konsentrasi larutan setelah diencerkan
V2 : Volume larutan atau massa setelah diencerkan
Konsentrasi dapat dinyatakan dengan beberapa cara, yaitu:
1. Molaritas
Molaritas ialah jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan. Dimensi
molaritas ialah mol/L atau mol L-1 , disingkat M dan diucapkan molar.
Larutan yang mengandung 1 mol zat terlarut dalam 1 liter larutan disebut 1
molar dan ditulis 1 M.
23

Rumus Molaritas
Ket Ket : M = Molarits
n n = mol
M=
V V = volume dalam larutan

atau
Ket : g = massa zat terlarut
Mr = massa relatif zat terlarut
g 1000
M= X V = volum dalam ml
Mr V

Molaritas ialah cara yang paling lazim untuk menyatakan komposisi


larutan encer. Untuk pengukur yang cermat cara ini kurang
menguntungkan karena sedikit ketergantungan pada suhu. Jika larutan
dipanaskan atau didinginkan, volume berubah sedangkam mol akan tetap
sehingga molaritas akan berubah.
2. Molalitas
Molalitas ialah jumlah zat terlarut pada tiap kilogram pelarut, dalam
molalitas tidak ada volume, namun massa yang tidak berepengaruh pada
suhu.
Rumus molalitas

Ket : m = molalitas
m=n n = mol
P
P = massa pelarut (Kg)

atau

g 1000 Ket : g = massa terlarut


m= X Mr = massa relatif terlarut
Mr P
P = massa pelarut (Kg)
24

3. Persen Massa
Persen massa atau sering disebut persen bobot per bobot (% b/b),
menyatakan jumlah massa zat terlarut dalam 100 bagian massa larutan
Rumus persen massa :

% massa = massa zat terlarut x 100 %


massa larutan
4. Persen Volume
Persen volume atau persen volum per volum (% V/V) menyatakan jumlah
zat terlarut dalam 100 bagian volume larutan.
Rumus persen volume

Volume zat terlarut


% volume = x 100 %
Volume larutan

5. ppm
ppm (part per million) menyatakan jumlah bagian komponen dalam sejuta
bagian campuran.
Rumus ppm :

massa zat terlarut (komponen)


ppm massa = x 100 %
massa larutan (campuran)

massa zat terlarut (komponen)


ppm volume = x 100 %
massa larutan (campuran)

6. Fraksi Mol
Fraksi mol menyatakan perbandingan mol zat terlarut dengan jumlah mol
seluruh larutan (mol terlarut + mol pelarut).
Rumus Fraksi mol :
larutan terhadap jumlah seluruh zat dalam larutan.
25

nA Ket : XA = fraksi mol pelarut


XA =
nA + nB nA = mol zat terlarut
nB = mol zat pelarut
7. Normalitas
Normalitas menyatakan jumlah garam ekuivelen zat terlarut dalam 1 liter
larutan. Satuannya dilambangkan dengan N dan disebut Normal.
Rumus Normalitas :
N = grek atau N = 1000 x gr x valensi

V V Mr
Valensi menyatakan banyaknya ion H atau OH- (dalam larutan asam dan
+

basa) yang dilepaskan.

Komponen Larutan
Suatu larutan terdiri atas dari dua komponen yang penting. Biasanya salah
satu komponen yang mengandung jumlah zat yang lebih banyak disebut
pelarut (solvent). Pelarut dipandang sebagai pembawa atau medium zat
terlarut yang dapat berperan serta dalam reaksi kimia. Kemudian, komponen
lainnya yang mengandung zat yang lebih sedikit disebut zat terlarut (solute).
Kedua komponen dalam larutan dapat sebagai pelarut atau terlarut tergantung
komposisinya. Larutan di bagi menjadi tiga jenis yitu:
1. Larutan tak jenuh yaitu larutan yang mengandung solute kurang dari yang
diperlukan untuk membuat larutan jenuh.
2. larutan jenuh yaitu suatu larutan yang mengandung sejumlah solute yang
larut dan mengadakan kesetimbangan dengan solute padatnya.
3. Larutan lewat jenuh yaitu larutan yang mengandung lebih banyak solute
yang diperlukan dari pada solvent.
Berdasarkan banyak sedikitnya zat terlarut dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Larutan pekat merupakan larutan yang mengandung relatif lebih banyak
solute.
2. Larutan encer merupakan larutan yang relatif sedikit mengandung solute.
26

Pembuatan Larutan
Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi)
dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih
besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadang-
kadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi pada
pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan
aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh
sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang
dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak mendidih
dan menyebabkan asam sulfat memercik. Jika kita berada di dekatnya,
percikan asam sulfat ini merusak kulit.

Prinsip Kelarutan
Dua senyawa dapat bercampur (micible) lebih mudah bila gaya tarik antar
molekul terlarut dan pelarut semakin besar. Besarnya gaya tairk ini ditentukan
oleh jenis ikatan pada masing- masing molekul. Bila gaya tari antara
molekulnya termasuk dalam kelompok yang sama (misalnya air dan etanol),
maka keduanya akan saling melarutkan. Sedangkan bila kekuatan gaya tarik
antara molekulnya berbeda jenis (misalnya air dan heksana), maka tidak akan
saling melarutkan.
Dalam ilmu kimia dikenal suatu ungkapan ”Like Dissolves Like,” yaitu
jika molekul terlarut dalam pelarut mirip, maka akan mudah bercampur.
Secara umum, terdapat kecenderungan kuat bagi senyawa non polar, dan
senyawa kovalen polar atau senyawa ion larut ke dalam pelarut polar. Dengan
kata lain ”sejenis melarutakan sejenis,” dimana sejenis di sini menunjukkan
persamaan dalam hal kekuatan gaya tarik antara molekulnya.
27

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

Alat dan Bahan


Alat
− Batang pengaduk
− Corong kaca
− Enlemeyer
− Gelas kimia 100 mL
− Labu takar 100 mL
− Neraca analitik
− Pipet tetes
− Pipet ukur 10 mL
− Sendok
Bahan
− Alumunium foil
− Aquadest
− BaCl2
− H2SO4
− Tissu

Prosedur Percobaan
Pembuatan Larutan BaCl2
− Ditimbang BaCl2 sebanyak 5,20 gram menggunakan alumunium foil.
− Pindahkan secara kuantitatif ke dalam gelas kimia 100 mL yang berisi
dan telah dibilas dengan aquades
− Tambahkan aquades dan aduk hingga larut sempurna
− Dipindahkan secara kuantitatif ke dalam labu takar 100 ml dengan
menggunakan corong kaca, dimana hasil bilasannya dimasukkan ke
dalam labu takar 100 mL
28

− Ditambahkan akuades ke dalam labu takar 100 mL hingga tanda batas


dengan menggunakan pipet tetes
− Ditutup labu takar dan dibolak-balikkan labu takar sambil dipegang
tutupnya selama beberapa kali.
Pembuatan Larutan H2SO4
− Dipipet 5,6 ml H2SO4 pekat dan dimasukkan ke dalam labu takar
100 ml yang telah diisi dengan akuades sebanyak 50 ml.
− Dibiarkan hingga labu takar terasa dingin, kemudian ditambahkan
akuades hingga tinggi permukaan larutan 0,5 cm hingga 1 cm
− Keringkan aquades yang menempel pada leher labu takar dengan
menggunakan tiisu
− Dengan menggunakan pipet tetes tambahkan aquades hingga tanda
batas
− Ditutup labu takar dan dibolak-balikkan labu takar sambil dipegang
− tutupnya selama beberapa kali.
29

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


No. Percobaan Pengamatan
1 Larutan BaCl2 - Dik ; M = 0,1 M ; Mr
- Dihitung berapa gram BaCl2 BaCl2 = 208 ; Vair = 250 mL
yang dibutuhkan Dit = gram…..?
- Ditimbang Penyelesaian
- Dilarutkan dengan aquades M = (gr/Mr)x(1000/ Vair)
sampai 250 mL dalam labu 0,1 = (gr/208)x(1000/250)
takar 20,8 = 4 x gr
- Dihomogenkan Gr = 20,8/4
Gr = 5,2 gram
- BaCl2 ditmbang sebanyak
5,20 gram
- BaCl2 larut dalam aquades
- Larutan berwarna bening

2 Larutan H2SO4 - Dik ; M1 = 1 M , M2 = 18


- Dihitung volume H2SO4 M
pekat sesuai konsentrasi V1 = 100 mL
yang diinginkan Dit = V2=....mL?
- Diambil H2SO4 pekat Penyelsaian
dengan pipet ukur V1 x M1= V2 M2
- Dilarutkan dengan aquades 100 (1) = V2 x M2
sampai 100 mL dalam labu 100 = V2 x 18
takar V2 = 100/18
- Diamati V2 = 5,6 mL
- H2SO4 berwarna coklat
bening dan berbau tajam
30

- Setelah di larutkan labu


takar terasa panas
- Larutan H2SO4 pekat
bening dan baunya
bekurang (tidak berbau
tajam)

4.2 Perhitungan
4.2.1 Perhitungan Pembuatan Larutan BaCl2
Dik : M = 0,1 M
Mr BaCl2 = 208
Vair = 250 mL
Dit : gr = ……. Gram
Penyelesaian:
M = (gr/Mr)x(1000/ Vair)
0,1 = (gr/208)x(1000/250)
20,8 = 4 x gr
Gr = 20,8/4
Gr = 5,2 gram
4.2.2 Perhitungan Pembuatan Larutan H2SO4
Dik ; M1 = 1 M , M2 = 18 M
V1 = 100 mL
Dit = V2=....mL?
Penyelsaian:
V1 x M1= V2 M2
100 (1) = V2 x M2
100 = V2 x 18
V2 = 100/18
V2 = 5,6 mL
4.3 Pembahasan
31

Larutan merupakan campuran homogen dari molekul atom ion dari dua zat
atau lebih, karena susunannya dapat berubah-ubah larutan sering disebut juga
sebagai campuran. Larutan terdiri dari zat yang terlarut(solute) dan
pelarut(solvent). Solute disebut sebagai fase dalam (fase terdispersi) karena
berada dalam jumlah sedikit sedangkan solvent di sebut sebagai fase luar (fase
pendispersi) karena memiliki jumlah lebih banyak di bandingkan solute.
Dalam percobaan yang dilakukan adalah pembuatan larutan BaCl2 yang
dilarutkan dalam air dan pembuatan H2SO4 yang diencerkan dengan air,
dimana BaCl2 dan H2SO4 pekat adalah solute dan air adalah solvent.
Campuran adalah penggabungan dia atau lebih zat dimana dalam
penggabungan ini, zat-zat tersebut mempertahankan identitas masing-masing.
Berdasarkan sifatnya, campuran dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1. Campuran homogen, merupakan campuran yang tidak bisa dibedakan
antara zat-zat yang bercampur didalamnya. Seluruh bagian dalam
campuran homogenmempunyai sifat yang sama.
2. Campuran heterogen, merupakan campuran yang mengandung zat-zat
yang tidak dapat bercampur satu dengan yang lain secara sehingga dapat
dibedakan partikel sifat dari zat yang tercampur tersebut, seperti bentuk
dan warna.
Untuk membuat suatu larutan perlu dihitung konsentrasinya terlebih
dahulu. Dalam menghitung knsentrasi dapat dinyatakan dengan molaritas,
molalitas, normalitas, fraksi mol (x), persen beratppm dan mg persen.
Konsentrasi merupakan perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah total
zat dalam larutan, atau perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah
pelarut.
1. Molaritas
Molaritas ialah jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan. Dimensi
molaritas ialah mol/L atau mol L-1 , disingkat M dan diucapkan molar.
Larutan yang mengandung 1 mol zat terlarut dalam 1 liter larutan disebut 1
molar dan ditulis 1 M.
Rumus Molaritas

n
M=
V
32

Ket Ket : M = Molarits


n = mol
V = volume dalam larutan

atau
Ket : g = massa zat terlarut

g 1000 Mr = massa relatif zat terlarut


M= X V = volum dalam ml
Mr V

Molaritas ialah cara yang paling lazim untuk menyatakan komposisi


larutan encer. Untuk pengukur yang cermat cara ini kurang
menguntungkan karena sedikit ketergantungan pada suhu. Jika larutan
dipanaskan atau didinginkan, volume berubah sedangkam mol akan tetap
sehingga molaritas akan berubah.
2. Molalitas
Molalitas ialah jumlah zat terlarut pada tiap kilogram pelarut, dalam
molalitas tidak ada volume, namun massa yang tidak berepengaruh pada
suhu.
Rumus molalitas

Ket : m = molalitas
m=n n = mol
P
P = massa pelarut (Kg)

atau

g 1000 Ket : g = massa terlarut


m= X Mr = massa relatif terlarut
Mr P
P = massa pelarut (Kg)

3. Persen Massa
33

Persen massa atau sering disebut persen bobot per bobot (% b/b),
menyatakan jumlah massa zat terlarut dalam 100 bagian massa larutan
Rumus persen massa :

% massa = massa zat terlarut x 100 %


massa larutan
4. Persen Volume
Persen volume atau persen volum per volum (% V/V) menyatakan jumlah
zat terlarut dalam 100 bagian volume larutan.
Rumus persen volume

Volume zat terlarut


% volume = x 100 %
Volume larutan

5. ppm
ppm (part per million) menyatakan jumlah bagian komponen dalam sejuta
bagian campuran.
Rumus ppm :
massa zat terlarut (komponen)
ppm massa = x 100 %
massa larutan (campuran)

massa zat terlarut (komponen)


ppm volume = x 100 %
massa larutan (campuran)

6. Fraksi Mol
Fraksi mol menyatakan perbandingan mol zat terlarut dengan jumlah mol
seluruh larutan (mol terlarut + mol pelarut).
Rumus Fraksi mol :
larutan terhadap jumlah seluruh zat dalam larutan.

nA Ket : XA = fraksi mol pelarut


XA =
nA + nB nA = mol zat terlarut
nB = mol zat pelarut
7. Normalitas
34

Normalitas menyatakan jumlah garam ekuivelen zat terlarut dalam 1 liter


larutan. Satuannya dilambangkan dengan N dan disebut Normal.
Rumus Normalitas :
N = grek atau N = 1000 x gr x valensi

V V Mr
Valensi menyatakan banyaknya ion H atau OH- (dalam larutan asam dan
+

basa) yang dilepaskan.

Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi)


dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih
besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadang-
kadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi pada
pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan
aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh
sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang
dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak mendidih
dan menyebabkan asam sulfat memercik. Pelarut harus ditambahkan sedikit
demi sedikit sampai volume larutan mencapai tanda batas labu takar. Saat
pembuatanlarutan H2SO4 terjadi reaksi eksoterm yaitu melepaskan panas dari
sistem ke lingkungan, temperatur dari campuran reaksi akan naik dan energi
potensial dari zat-zat kimia yang bersangkutan akan turun. Sedangkan untuk
reaksi endoterm yaitu menyerap panas dari lingkungan ke sistem, temperatur
dari campuran reaksi akan turun dan energi potensial dari zat-zat imia tersebut
akan naik.
Proses pembuatan larutan di awali dengan menghitung berapa massa
larutan BaCl2 yang dibutuhkan, setelah itu ditimbang agar massa yang
dibutuhkan tepat, kemudian dilarutkan dengan aquades dengan tujuan agar
larutan BaCl2 larut dengan aquades, dan dimasukkan kedalam labu takar
kemudian dihomogenkan berfungsi untuk membuat larutan tercampur dengan
sempurna.
35

Adanya adhesi dan kohesi partikel-partikel atau molekul-molekul zat


mengakibatkan adanya sifat-sifat khusus zat cair yang ditempatkan kedalam
labu takar yaitu meniskus cekung dan meniskus cembung. Meniskus cekung
merupakan tanda batas bawah dimana air dalam labu takar permukaannya
cekung, hal ini disebabkan karena kohesi air lebih kecil daripada adhesi air
dengan kaca. Meniskus cembung merupakan tanda batas atas dimana air
dalam labu takar permukaannya cembung, hal ini disebabkan karena kohesi
raksa lebih besar dari adhesi raksa dengan kaca.
Prinsip percobaan pembuatan larutan di dasarkan pada konsentrsi suatu zat
yang akan dibuat, serta menggunakan ketelitian tinggi, karena jika terjadi
kesalahan yang kecil, maka larutannya tidak akan menjadi larutan yang
diinginkan.
Larutan standar primer adalah larutan yang dapat digunakan untuk
menghasilkan larutan yang stabil dan konsentrasinya dapat diukur. Larutan ini
normalitasnya dapat diketahui dari hasil penimbangan dan pelarutan volume
tertentu. Contohnya asam oksalat, boraks, NaCl, seng sulfat.
Larutan standar sekunder adalah larutan yang stabil atau konsentrasinya
tidak dapat dipastikan, normalitsnya baru akan diketahui setelah dilakukan
pembakaran dengan larutan standar primer. Contohnya NaOH, H2SO4 dan
HCl.
Dalam melakukan percobaan pembuatan larutan terdapat beberapa
kesalahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
− Kurang teliti dalam menakar dan menambahkan quades, sehingga
melebihi batas ukuran yang telah ditentukan.
− Alat-alat yang telah digunakan,

Pembuatan larutan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,


contohnya:
− Pembuatan larutan cuka
− Pembuatan kaldu ayam
− Pembuatan sirup dan jus
36

BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
− Untuk membuat larutan dari bahan cair dan padat dilakukan
dengan cara mencampurkan bahan cair dan padat kedalam gelas kimia,
kemudian diaduk.
− Larutan tak jenuh yaitu larutan yang mengandung solute kurang
dari yang diperlukan untuk membuat larutan jenuh. Sedangkan larutan
jenuh yaitu suatu larutan yang mengandung sejumlah solute yang larut dan
mengadakan kesetimbangan dengan solute padatnya.
− Larutan homogen adalah suatu keadaan larutan dimana dua zat
menjadi sama sifatnya karena bergabung, sedangkan larutan heterogen
adalah suatu keadaan larutan dimana dua zat bercampur, namau masih
dapat dibedakan unsur-unsurnya.

5.2 Saran
Diharapkan sebelum melakukan praktikum, praktikan terlebih dahulu
mengetahui proses pembuatan larutan agar tidak terjadi kesalahan dalam
pembuatan larutan
37

DAFTAR PUSTAKA

Anshary, Irfan. 1999. Kimia Dasar 1. Jakarta: erlangga


Baroroh, Uni, L. U. 2004. Kimia Dasar 1. Banjar Baru: Universitas Lambung
Mangkurat.
Gunawan, Adi dan Roewati. 2004. Konsep Dasr Kimia Analitik. Jakarta:
Universitas Indonesia
Petrucci, Ralph, H. 1996. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Bogor:
Erlangga
38

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam analisis kimia suatu bahan, maka akan sering dihadapkan pada
pekerjaan-pekerjaan seperti menghilangkan konstituen pengganggu atau
mengisolasikannya maupun memekatkan konstituen yang dikehendaki
sebelum dilakukuan identifikasi maupun pengukuran jumlahnya. Untuk
melakukan analisis kimia tersebut maka kita harus menggunakan suatu
metode agar dapat menentukan hasil yang tepat, kromatografi salah satunya.
Kromatografi sendiri merupakan salah satu cara pemisahan yang pada saat ini
sering digunakan secara rutin dan dapat dilaksanakan dengan waktu yang
singkat dan dengan peralatan yang relatif sederhana dan ekonomis. Walaupun
cara ini merupakan cara pemisah, namun dapat pula digunakan sebagai analisa
secara kuantitatif.

Teknik kromatografi merupakan teknik pemisahan yang sangat sensitif.


Selain dapat memisahkan zat warna, teknik ini juga dapat menunjukkan residu
nikotin dalam darah orang yang duduk di dekat orang yang merokok ketika
duduk di sampingnya. Selain itu, kromatografi juga dapat memisahkan
campuran kompleks, seperti minyak bumi yang merupakan campuran dari
ratusan senyawa yang terkandung di dalamnya, dan masih banyak lagi
keunggulan lainnya.

Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui dan memahami konsep


kromatografi secara langsung, berupa teori-teori kromatografi, cara kerja
kromatografi, penggolongan dari kromatografi, macam-macam kromatografi,
aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, dan masih banyak yang lainnya.
39

1.2 Tujuan
− Memisahkan suatu zat yang didasarkan pada perbedaan kecepatan migrasi
komponen-komponen yang dipisahkan antara dua fase (fase diam dan fase
gerak).
− Mengetahui prinsip kerja dari kromatografi kertas.
− Menentukan harga Rf dari masing-masing noda zat warna.
40

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Kromatografi pertama kali diberikan oleh Michel Tswett, seorang ahli dari
Botani Rusia, yang menggunakan kromatografi untuk memisahkan klorofil dari
pigmen-pigmen lain pada ekstrak tanaman. Kromatografi berasal dari bahasa
Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu chromos yang berarti warna dan graphos
yang berarti menulis. Meskipun kromatografi diturunkan dari kata warna dan
tulis, warna senyawa-senyawa tersebut jelas hanya kebetulan saja terjadi dalam
proses pemisahan ini. Tswett sendiri mengantisipasi penearapan pada beraneka
ragam sistem kimia. Seandainya karyanya segera ditanggapi dan diperluas,
beberap bidang sains mungkin akan lebih cepat maju. Demikianlah kromatografi
tetap tersembunyi sampai sekitar tahun 1931, ketika pemisahan karotenatumbuhan
dilaporkan oleh ahli sains organik terkemuka yaitu Kuhn. Penelitian ini menarik
lebih banyak perhatian dan kromatografi adsorsi menjad meluas pemakaiannya
dalam bidang kimia hasil alam.
Seiring perkembangan zaman, terdapat 4 perkembangan utama yaitu :
1. Kromatografi pertukaran ion dalam akhir dasawarsa 1930-an
2. Kromatografi partisi dalam tahun 1941
3. Kromatografi gas pada tahun 1952
4. Kromatografi gel pada tahun 1959
Selain kemajuan utama ini, yang memberi mekanisme tambahan pada adsorpsi
untuk mendistribusikan zat terlarut antara fase-fase stationen dan mobil,mucul
juga modifikasi dalam geometri sistem kromatografi, seperti dalam kromatografi
kertas dan kromatografi lapis tipis.
Perkembangan teoritis yang memungkinkan pemahaman tuntas akan
proses kromatografi dan karenanya menjelaskan faktor-faktor yang menentukan
penampilan kolom, pertama kali muncul dalam hubungan dengan kromatografi
gas. Namun pandangan-pandangan tertentu diantaranya terbukti dengan
penyesuaian yang cocok, sama menolongnya dengan memahami kromatografi
dalam mana fase geraknya adalah cairan. Jadi sekitar tahun 1968 mulailah suatu
41

revolusi dalam kromatografi cairan yang menjanjikan kevepatan dan efisiensi


baru dalam memisahkan senyawa yang tak dapat dikerjakan dengan kromatografi
gas.
Kromatografi adalah metode fisika untuk pemisahan dimana komponen-
komponen yang akan dipisahkan didistribusikan antara dua fase, salah satunya
merupakan lapisan stationer dengan permukaan yang luas dan fase yang lain
berupa zat cair (fluid) yang mengalir lambat (perkolasi) menembus atau sepanjang
lapisan stationer tersebut.
Ada beberapa cara dalam mengelompokkan teknik kromatografi.
Kebanyakan berdasarkan pada jenis fase yang digunakan (fase gerak dan fase
diam) misalnya kromatografi gas dan kromatografi cairan. Cara pengelompokkan
lainnya berdasarkan teknik yang digunakan.
Disini metode kromatografi sebagian dikelompokkan berdasarkan macam
fase yang digunakan dan sebagian lainnya berdasarkan pada mekanisme pada
distribusi fase.

1. Kromatografi cairan-padat atau kromatografi serapan.


Ditemukan oleh Tswett dan dikenalkan kembali oleh Kuhn dan Lederer
pada tahun 1931, telah digunakan secara luas untuk analisis organik dan biokimia.
Pada umumnya sebagian isi kolom adalah silika gel atau alumina yang
mempunyai angka banding luas permukaan terhadap volume sangat besar.
Sayangnya hanya ada beberapa bahan penyerap, maka pemilihannya sangat
terbatas. Keterbatasan yang lebih nyata pada kenyataan bahwa koefisien distribusi
untuk serapan kerap kali tergantung pada kadar total. Hal ini akan menyebabkan
pemisahan tidak sempurna.
Contoh :
- Kromatografi orisinil Tswett dengan larutan eter petroleum dan kolom CaCO3.
- Kromatografi pertukaran ion.

2. Kromatografi cairan-cairan atau kromatografi partisi.


42

Dikenalkan ole Martin dan Synge pada tahun1941, dan kemudian


mendapatkan hadiah Nobel untuk hal itu. Fase diam terdiri dari lapisan tipis,
cairan yang melapisi permukaan dari padatan inert yan berpori-pori. Ada banyak
jenis kombinasi cairan yang dapat digunakan sehingga metode ini sangat berguna.
Lebih lanjut koefisien distribusi sistem ini lebih tidak bergantung pada kadar,
memberikan pemisahan lebih tajam

3. Kromatografi gas-padat
Digunakan sebelum tahun 1800 untuk memurnikan gas. Pada waktu dulu
teknik tidak berkembang karena keterbatasannya sama seperti halnya
kromatografi cairan-padat, tetapi penelitian lebih lanjut dengan macam fase padat
baru memperluas panggunaan teknik ini.

4. Kromatografi gas-cairan
Merupakan metode pemisahan yang sangat efisien dan serba guna. Teknik
lebih menyebabkan revousi dalam kimia organik, sejak dikenalkan pertama kali
oleh James dan Marthin pada tahun 1052. hambatan yang paling utama ialah
bahan cuplikan harus mempunyai tekanan uap paling tidak beberapa liter pada
suhu kolom, sistem ini sangat baik sehingga dapat dikatakan sebagai metode
pilihan dalam kromatografi karena daat memisahkan dengan cepat dan peka.

5. Kromatografi penukar ion


Merupakan bidang khusus kromatografi cairan-cairan. Seperti namanya
sistem ini khusus digunakan untuk spesies ion. Penemu resin sintetik dengan sifat
penukaran ion sebelum perang dunia II telah dapat mengatasi pemisahan rumit
dari logam tanah dan asam amino.

6. Penyaringan gel
Pennyaringan gel merupakan proses pemisahan dengan gel yang terdiri
dari modifikasi dekstran-molekul polisakarida linier yang mempunyai ikatan
silang. Bahan ini dapat menyerap air dan membentuk susunan seperti saringan
43

yang dapat memisahkan molekul-molekul berdasarkan ukurannya. Molekul-


molekul dengan berat molekul antara 100 sampai beberapa juta dapat dipekatkan
dan dipisahkan. Kromatografi permeasi gel merupakan bentuk serupa yang
menggunakan polistirena yang berguna untuk pemisahan polimer.
7. Elektroforesis
Elektoforesis merupakan kromatografi yang diberi medan lstrik disisinya
dan tegak lurus aliran fase gerak. Senyawa bermuatan positif akanmenuju ke
katoda dan anion menuju ke anoda,sedangkan kecepatan gerak tergantung pada
besarnya muatan.

8. Kromatografi kertas
Pada kromatografi kertas senyawa-senyawa yang dapat dipisahkan dapat
diambil dari kertas dengan jalan memotong noda (spot) yang kemudian
melarutkan secara terpisah.
Setetes dari larutan cupikan yan gmengandung sejumlah komponen yang
dipisahkan dengan cara diteteskan pada daerah yang diberi tanda diatas sepotong
kertas saring dimana ia akan meluas membentuk noda yang dibuat. Bila noda
telah kering, kertas dimasukkan dalam bejana tertutup yang telah berisi pelarut
sebagai fase gerak dimana ujung yang dengan dengan cuplikan tercelup (noda
harus tidak tercelup, sedikit diatas permukaan pelarut). Pelarut bergerak melalui
serta-serta dari kertas oleh gaya kapiler dan menggerakkan komponen-kpmponen
dari campuran cuplikan pada perbedaan jarak dalam arah aliran pelarut. Bila
permukaan pelarut telah bergerak sampai jarak yang cukup jauhnya atau setelah
waktu yang telah ditentukan, maka kertas diambil dari bejana dan kedudukan dari
permukaan pelarut diberi tanda dan lembaran kertas dibiarkan kering. Jika
senyawa-senyawa tidak berwarna maka harus dideteksi dengan metode kimia atau
fisika. Cara yang biasa adalah menggunsksn suatu pereaksi yang memberikan
sebuah warna terhadapbeberapa atau semua dari senyawa-senyawa. Sering juga
menggunakan cara deteksi dengan sinar ultra violet atau teknik radiokimia.
Metode identifikasi yang paling mudah adalah berdasarkan pada
kedudukan dari noda relatif terhadap permukaan pelarut, menggunakan harga Rf:
44

Jarak yang ditempuh komponen


Rf = Jarak yang ditempuh pelarut

9. Kromatografi lapis tipis


Kromatografi lapis tipis atau TLC seperti kromatografi kertas tidaklah
mahal dan sederhana menjalankannya, dibandingkan kromatografi kertas lebih
cepat. Proses itu mungkin memelukan waktu hanya sekitar setengah
jam,sedangkan pemisahan yang lazim pada kertas memerlukan beberapa jam.
TLC sangat populer dan rutin digunakan dalam banyak laboratorium.
Medium pemisahnya berupa lapisan yang barangkali setebal 0,1-0,3 mm
zat padat absorben pada lempeng kaca, plastik, atau alumunium. Lempeng yang
lazim berukuran 20 x 5 cm. Zat padat yang lazim adalah alumina, gel silika, dan
selulosa. Dulu peneliti mempersiapkan lempengannya sendiri dengan menyalut
kaca itu dengan suspensi air dan zat padat itu biasanya mengandung zat pengikat
seperti plester paris dan kemudian mengeringkan lempeng tersebut dalam oven.
Lempeng kaca dan lembar plastik maupun alumunium yang telas dilapis
sebelumnya dapat dipotong-potong dengan gunting dengan keukuran yang
diinginkan dan agaknya mayoritas ilmuan menggunakannya sekarang.
Contoh umumnya campuran senyawa organik, ditotalkan didekat salah
satu sisi lempeng dalam bentuk larutan, biasanya beberapa mikroliter yang
beberapa mikrogram senyawa-senyawa dapat digunakan dengan hipodermik atau
pipet kaca kecil. Noda contoh itu dikeringkan dan kemudian sisi lempeng itu
dicelupkan dalam fase gerak yang sesuai. Pelarut akan menyerap kertas sepanjang
lapisan tipis padat pada lempeng itu dan bersama dengan gerakan itu, zat-zat
terlarut contoh diangkat dengan laju yang bergantung pada kelarutan mereka
dalam fase gerak tersebut dan pada interaksi mereka dengan zat padat. Setelah
garis depan pelarut bermigrasi sekitar 10 cm lempeng itu diambil, lalu
dikeringkan dan noda-noda zat terlarutnya diperiksa seperti dalam kromatografi
kertas. Sering dilakukan eksperimen dua dimensi yang menggunakan dua fase
gerak yang berbeda, disini digunakan lempeng bujursangkar bukannya lempeng
sempit. Pemisahan itu dapat diikuti oleh suatu penetapan kuantitatif , dimana
45

terdapat suatu noda absorbennya dapat dikerok dari lempeng dengan suatu
spatula.zat terlarutnya dielusi dari dalam bahan padat dengan suatu pelarut yang
sesuai dengan konsentrasi larutan itu ditetapkan oleh suatu teknik seperti
spektrofometri.

Prinsip Kromatografi
Pemisahan yang terjadi dalam kromatografi dilaksanakan sedemikian rupa
dengan memanipulasi sifat-sifat fisik umum dar suat senyawa atau molekul yaitu :
a) Kecenderungan suatu molekul untuk larut dalam cairan (kelarutan)
b) Kecenderungan suatu molekul untuk bertaut dengan suatu serbuk bahan
padat (absorbsi)
c) Kecenderungan suatu molekul untuk menguap (volatilitas)
Dalam kromatografi, senyawa-senyawa yang akan dipisahkan ditempatkan
pada situasi dinamik (bergerak) yaitu dengan melakukan pengaliran dan selama
itu akan terjadi peristiwa pelarutan, absorbsi atau penguapan.
Untuk menerangkan suatu proses pemisahan diambil suatu contoh yang
berada dala situasi statik (diam). Jika suatu senyawa ditaruh dalam corong
pemisah yang berisi dua macam pelarut yang sukar bercampur (misalnya air dan
eter) , maka senyawa tersebut akan terdistribusi (partisi) diantara kedua pelarut
tersebut. Dalam hal ini sifat kelarutan sangat berperan dalam proses pemisahan.
Bila suatu senyawa dimasukkan kedalam cairan yang berisi serbuk absorben
(misalnya arang), maka senyawa tersebut akan terdistribusi diantara cairan dan
absorben. Maka dalm hal ini sifat kelarutan dan absorbsi berperan dalam proses
pemisahan tersebut.
46

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
− Gelas kimia 100 mL
− Gunting
− Gelas ukur
− Penggaris
− Pulpen
3.1.2 Bahan
− Ekstrak kunyit
− Ekstrak mawar
− Ekstrak suji
− Lidi
− Tinta merah
− Tinta hijau
− Tinta biru
− N-heksan

3.2 Prosedur Percobaan


− Dipotong kertas saring berbentuk persegi panjang, dengan panjang 10 cm
dan lebar 6 cm.
− Diberi garis batas 1 cm pada bagian atas dan bawah pada kertas saring
tersebut.
− Diberi noda (titik) pada kertas saring antara lain tinta hijau, tinta biru, dan
tinta merah, juga pada ekstrak mawar dan ekstrak pandan pada garis batas
bawah.
47

− Diisi larutan N-heksan sekitar 1 cm dari dasar gelas.


− Dimasukkan kertas ke dalam gelas yang berisi N-heksan.
− Dibiarkan hingga larutan N-heksan mencapai batas atas kertas, kemudian
kertas dikeringkan.
− Diukur jarak tempuh masing-masing noda.
− Dihitung harga Rf pada masing-masing noda.
48

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


No. Pelarut Noda Jarak pelarut Jarak noda Harga Rf
1 N-eksan Tinta hijau 5.5 cm 0,5 cm 0,09 cm
Tinta merah 5,5 cm 0,4 cm 0,07 cm
Tinta biru 5,5 cm 0 cm 0 cm
Ekstrak kunyit 7,5 cm 1,5 cm 0,2 cm
Ekstrak mawar 7.5 cm 0,3 cm 0,04 cm
Ekstrak suji 7,5 cm 0,5 cm 0,02 cm

4.2 Perhitungan
− Tinta hijau

Jarak yang ditempuh komponen 0,5 cm


Rf =
= = 0,009 cm
Jarak yang ditempuh pelarut 5,5 cm
− Tinta merah

Jarak yang ditempuh komponen 0,4 cm


Rf =
= = 0,07 cm
Jarak yang ditempuh pelarut 5,5 cm
− Tinta biru

Jarak yang ditempuh komponen 0 cm


Rf = = = 0 cm
Jarak yang ditempuh pelarut 5,5 cm
49

− Ekstrak mawar

Jarak yang ditempuh komponen 0,3 cm


Rf =
= = 0,04 cm
Jarak yang ditempuh pelarut 7,5 cm
− Ekstrak kunyit

Jarak yang ditempuh komponen 1,5 cm


Rf =
= = 0,2 cm
Jarak yang ditempuh pelarut 7,5 cm
− Ekstrak suji

Jarak yang ditempuh komponen 0,5 cm


Rf =
= = 0,06 cm
Jarak yang ditempuh pelarut 7,5 cm

4.3 Pembahasan
Kromatografi adalah proses pemisahan campuran dalam berbagai wujud
baik gas, padat, maupun cair, dengan didasarkan pada perbedaan migrasi
komponen-komponen yang dipisahkan antara dua fase yaitu fase gerak dan
fase diam. Dimana fese diam dapat berupazat padat atau zat cair, sedangkan
fase gerak berupa zat cair atau gas. Kromatografi berasal dari bahasa Yunani
yang terdiri dari dua kata yaitu chromos yang berarti warna dan graphos yang
berarti menulis. Meskipun kromatografi diturunkan dari kata warna dan tulis,
Kromatografi pertama kali diberikan oleh Michel Tswett, seorang ahli dari
Botani Rusia, yang menggunakan kromatografi untuk memisahkan klorofil
dari pigmen-pigmen lain pada ekstrak tanaman.
Prinsip dari kromatografi itu sendiri adalah memisahkan zat-zat
berdasarkan perbedaan kecepatan perembesan zat-zat didalam campuran
tersebut dalam suatu medium pelarut, dengan kata lain memisahakan
campuran dengan kecepatan migrasi komponen-komponen yang dipisahkan
50

diantara dua fase yaitu fese diam dapat berupazat padat atau zat cair, dan fase
gerak berupa zat cair atau gas.
Terdapat berbagai macam-macam penggolongan metode kromatografi.
Penggolongan yang didasarkan dengan fasenya dapat dibedakan menjadi:
− Kromatografi Gas-Cair, Bila fase geraknya berupa gas dan fase
diamnya berupa cairan yang dilapiskan pada padatan pendukung yang
inert.
− Kromatografi Gas-Padat, Bila fase geraknya berupa gas dan
fase diamnya berupa padatan yang menyerap.
− Kromatografi Cair-cair, Bila fase gerak dan fase diamnya
berupa cairan yang dilapiskan pada permukaan padatan yang inert.
− Kromatografi Cair – Padat, Bila fase geraknya berupa cair,
sedangkan fase diamnyaberupa padatan yang amorf yang dapat mengali.
Pemisahan yang terjadi dalam kromatografi dilaksanakan sedemikian rupa
dengan memanipulasi sifat-sifat fisik umum dari suatu senyawa atau molekul,
yaitu:

a) Kecenderungan suatu molekul untuk larut dalam cairan (kelarutan).

b) Kecenderungan suatu molekul untuk menguap (volatilitas).

c) Kecenderungan suatu molekul untuk bertaut dengan serbuk suatu


bahan padat.

Dalam kromatografi, senyawa-senyawa yang akan dipisahkan, ditempatkan


pada situasi dinamik (bergerak), yaitu dengan melakukan pengaliran dan
selama itu akan terjadi peristiwa pelarutan, adsorbsi, atau penguapan.
Dalam mengitung harga Rf ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
nilai Rf tersebut yaitu :
1. Kepolaran ion lain, kehadiran ion lain dalam solvent atau solut dapat
menghambat laju reaksi.
2. jenis pelarut, jenis pelarut dipilih berdasarkan sifat kepolaran zat terlarut.
51

3. kelarutan, sifat kelarutan solvent harus sama atau mirip agar dapat
melarutkan solut.
4. Waktu, semakin bertamabah waktu, semakin meningkat harga Rf.
Penggolongan yang didasarkan dengan teknik yang digunakan dalam
kromatografi dapat dibedakan:
1. Kromatografi Kolom
Kromatografi yang menggunakan kolom sebagai alat untuk memisahkan
komponen-komponen dalam campuran.
2. Kromatografi Kertas
Teknik kromatografi kertas yang menggunakan kertas saring sebagai
penunjang fase diam
3. Kromatografi Lapis Tipis ( KLT )
Teknik yang menggunakan penyokong fase diam berupa lapisan tipis
seperti lempeng kaca, alumunium atau pelat inert
4. Kromatografi Gas
Proses pemisahan campuran menjadi menjadi komponen-komponennya
dengan menggunakan gas sebagai fase bergerak yang melewati suatu
lapisan ( Sorben yang diam ).
5. Kromatografi ion
Bidang khusus kromatografi cairan-cairan, seperti namanya, sistem ini
khususnya digunakan untuk proses ion, kromatografi penukaran ion dapat
mengganti atau mengatasi pemisahan rumit dari logam tanah dan asam
amino.
6. kromatografi Gel
proses pemisahan dengan gel yang terdiri dari modifikasi dekstran
molekul polisakarida linear yang mempunyai ikatan silang.

Pada percobaan kromatografi, digunakan pelarut N-heksan yang bersifat


non-polar akan memperlambat proses kromatografi komponennya karena
komponen yang digunakan adalah tinta merah, biru, dan hijau serta ekstrak
kunyit, suji dan mawar. Dimana noda tinta warna dan ekstrak bunga mawar
52

merembes naik ke atas kertas dengan ketinggian masing-masing. Rf tinta


merah = 0,07; Rf tinta biru = 0; Rf tinta hijau = 0,09, ekstra bunga mawar =
0,04 ekstrak suji = 0,06 dan ekstrak kunyi 0,2. Disini yang berperan sebagai
fase diam adalah kertas saring dengan N-heksan (pelarut), dan fase gerak
adalah tinta merah,biru dan hajau serta ekstrak mawar, suji dan kunyit. Jarak
dari setiap noda berbeda-beda karena dipengaruhi oleh kepolaran masing-
masing zat tersebutsehingga harga Rf-nya juga bebeda. Larutan N-heksan
yang bersifat non-polar akan memperlambat proses kromatografi
komponennya, karena komponennya bersifat polar, sehingga akan
mempengaruhi harga Rf, karena perbedaan kelarutan serta sifat dari
campuran tersebut.
Jika percobaan kromatografi ini digunakan pelarut aquades yang besifat
polar maka tentu saja harga Rf-nya akan lebih tinggi dari pelarut N-heksan.
Karena pada percobaan kromatografi berkaitan dengan prinsip Like dissolves
like yaitu suatu sifat dua buah unsur atau zat-zat dengan struktur kimia yang
mirip umumnya dapat saling bercampur dengan baik atau dengan sempurna.
Hal ini didapatkan migrasi atau gerak yang mempunyai kesamaan kepolaran,
semipolar dan semipolar, non polar dan non polar.
Dalam melakukan percobaan kromatografi terdapat beberapa kesalahan
yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
− Kurang teliti dalam menentukan jarak tempuh noda
− Pemberian titik pada kertas terlalu sedikit sehingga pelarut tidak dapat
menguraikan noda tersebut.
− Gelas kimia yang digunakan belum steril sehingga mempengaruhi larutan
N-heksan.

Kromatografi banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya:


a) Aplikasi kromatografi dalam bidang klinik
53

Dalam bidang klinik, teknik ini sangat berguna terutama dalam


menginvestigasi fluida badan, seperti air liur. Dari air liur seorang pasien
yang sedang sakit, dokter dapat mengetahui penyakit yang diderita.
Demikian pula dengan air seni (urine) dari pasien tersebut, darah dan
fluida badan lainnya pun dapat memberikan data yang cepat dan akurat
sehingga penyakit dalam tubuh manusia dapat dideteksi secara dini dan
cepat.

b) Aplikasi kromatografi dalam bidang bioteknologi

Dalam bidang ini, misalnya dalam penentuan baik kualitatif maupun


kuantitatif senyawa dalam protein. Selain itu, juga bisa diaplikasikan
dalam pemisahan molekul-molekul penting lainnya. Dengan data yang
diperoleh sebuah produk obat-obatan dapat ditingkatkan mutunya.

c) Aplikasi kromatografi dalam bidang forensik

Dalam bidang forensik, kromatografi sangat membantu terutama dilihat


dari segi keamanan dan pelacakan serta pengumpulan jejak maupun sisa-
sisa fluida badan pelaku dalam tindak kejahatan.
54

BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
− Untuk memisahkan komponen-komponen dari suaut zat, dapt
dilakukan dengan teknik kromatografi yang didasarkan pada perbedaan
kecepatan migrasi komponen-komponen yang dipisahkan antara dua fase
(fase diam dan fase gerak).
− Pada kromatografi kertas, senyawa-senyawa yang dapat dipisahkan
dapat diambil dari kertas dengan jalan memotong noda (spot) yang
kemudian melarutkannya secara terpisah.
− Harga Rf dari masing-masing zat, yaitu:
 N-heksan dengan noda (tinta)
• Tinta biru, harga Rf = 0
• Tinta merah, harga Rf = 0,07
• Tinta hijau, harga Rf = 0,09
 N-heksan dengan ekstrak
• Ekstrak kunyit, harga Rf = 0,2
• Ekstrak mawar, harga Rf = 0,04
• Ekstrak suji, harga Rf = 0,06

5.2 Kesimpulan
Disarankan untuk praktikum selanjutnya digunakan pemisahan dengan
cara teknik kromatografin kolom, agar dapat dibandingkan harga Rf masing-
masing komponen dan pelarutnya.
55

DAFTAR PUSTAKA

Sudjadi.1988.Metode Pemisahan.Yogyakarta:Konsius
Underwood, A.L.1986.Analisis Kimia Kuantitas.Jakarta:Erlangga
Wetheim.2000.Kamus Kimia Bergambar.Jakarta:Erlangga
56

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perubahan suatu zat dibedakan menjadi dua, yaitu perubahan fisika dan
perubahan kimia. Perubahan fisika itu sendiri merupakan perubahan materi
yang tidak menghasilkan zat baru, dimana yang mengalami perubahan
hanyalah bentuk dan wujudnya.sebagai contoh dari perubahan fisika adalah
perubahan-perubahan yang terjadi dalam siklus air. Sedangkan perubahan
kimia adalah perubahan suatau materi yang akan menghasilkan zat baru, dan
perubahan kimia ini sering di sebut dengan reaksi kimia.
Dalam suatu reaksi kimia, kita dapat mengetahui gejala-gejala
terbentuknya zat baru yang dapat dipakai sebagai petunjuk terjadinya reaksi
kimia antara lain, timbulnya gas, adanya endapan, terjadinya perubahan warna
dan terjadinya perubahan suhu.
Setiap zat murni yang diketahui, baik unsure maupun senyawa,
mempunyai nama dan rumus uniknya sendiri. Cara tersingkat untuk
memerikan suatu reaksi kimia ialah menulis rumus untuk tiap zat yang
terlibat dalam bentuk suatu persamaan kimia. Suatu persamaan kimia
meringkaskan sejumlah besar informasi mengenai zat–zat yang terlibat dalam
reaksi. Persamaan itu tidaklah sekedar pernyataan kualitatif yang menguraikan
zat–zat yang terlibat.
Pengetahuan mengenai stoikiometri dalam merencanakan suatu percobaan
maupun dalam industri, dengan memahami apalagi mempraktekkan
stoikiometri maka kita dapat menghitung atau memperkirakan jumlah zat yang
harus direaksikan serta memperkirakan jumlah produknya.
57

Selain gejala-gejala yang di sebut di atas, dalam reaksi kimia kita harus
mengetahui secara pasti jumlah zat yang bereaksi. Untuk itu kita memerlukan
satuan yang menyatakan jumlah zat yang telah bereaksi. Dimana satuan
tersebut adalah mol dan cara perhitunganzat dalam reaksi kimia di sebut
stoikiometri. Sehingga dalam percobaan ini kita akan mengetahui apa
sebenarnya arti dari stoikiometri dan bagaimana pengaruhnya terhadap reaksi
kimia.

1.2 Tujuan
− Mengetahui perbedaan reaksi stoikiometri dan reaksi non stoikiometri.
− Mengetahui pengertian reaksi eksoterm dan endoterm.
− Mengetahui titik maksium dan titik minimum sesuai dengan titik
stoikiometri sistem.
58

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Kata stoikiometri berasal dari bahasa Yunani stoicheion, artinya unsur.


Dari literatur, stoikiometri artinya mengukur unsure – unsure. Istilah ini umumnya
digunakan lebih luas, yaitu meliputi bermacam pengukuran yang lebih luas dan
meliputi perhitungan yang didasarkan pada rumus – rumus dan persamaan –
persamaan berimbang dirujuk sebagai stoikiometri.
Suatu pereaksi ialah zat apa saja yang mula – mula terdapat dan kemudian
diubah selama suatu reaksi kimia. Suatu hasil reaksi ialah zat apa saja yang
dihasilkan selama reaksi kimia. Suatu persamaan kimia ( atau persamaan kimia
berimbang ) menunjukkan rumus pereaksi, kemudian suatu anak panah, dan lalu
rumus hasil reaksi, dengan banyaknya atom tiap unsure dikiri dan dikanan anak
panah sama, misalnya persamaan berimbang untuk reaksi antara hydrogen dan
oksigen yang menghasilkan air ditulis sebagai
2H2O + O2 2H2O
Rumus H2 menyatakan bahwa sebuah molekul hydrogen tersusun dari dua atom
itu adalah molekul diatom, sama seperti molekul oksigen (O2). Molekul air (H2O)
merupakan molekul triatom karena terdiri dari tiga atom, dua hydrogen dan satu
oksigen. Persamaan itu menyatakan bahwa dua molekul hydrogen bereaksi
dengan satu molekul oksigen, menghasilkan dua molekul air.

2.1 Hukum-hukum Dasar Kimia


a. Hukum kekekalan massa (Lavoisier)
59

Menyatakan bahwa “ massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah


sama “. Hukum ini juga dikenal dengan hukum kekekalan zat yang
menyatakan bahwa materi tidak dapat dimusnahkan.
b. Hukum perbandingan berganda (Dalton)
” Jika dua unsur dapat membentuk dua macam senyawa, maka
massa yang sama dari salah satu unsur dikedua senyawa akan
menyebabkan massa unsur yang lain akan berbanding sebagai bilangan
sederhana (kecil dan bulat).
c. Hukum perbandingan timbal balik (Richter)
” Jika A dan B dapat membentuk senyawa, dan masing-masing
dapat pula membentuk senyawa dengan unsur lain, misalnya AC dan BC,
maka massa yang sama dari unsur C dikedua senyawa akan menyebabkan
perbnadingan A dan B dalam AC dan BC sama dengan perbandingan A
dan B dalam senyawa AB sama dengan perbandingan A dan B dalam
senyawa AB atau kelipatan sederhana dari padanya.
d. Hukum perbandingan setara
” Bila suatu unsur bergabung dengan unsur lain, maka
perbandingan massa kedua unsur tersebut sama dengan perbandingan
massa ekuivalennya (atau suatu kelipatan sederhana dari padanya).”
e. Hukum perbandingan tetap ( Proust )
” Perbandingan massa unsur –unsur pembentuk senyawa selalu
tetap.”
f. Hukum penyatuan volume ( gay Lussac )
“ Pada suhu dan tekanan tertentu, perbandingan volume gas-gas
yang bereaksi dan gas hasil reaksi selalu berbanding sebagai bilangan kecil
dan bulat.”
g. Hukum avogadro
” Pada suhu dan tekanan tertentu, setiap gas yang volumenya sama
akan mengandung jumlah partikel yang sama.”

2.2 Massa Atom Relatif dan Massa Molekul Relatif


60

Massa setiap atom satu per satu sangat kecil sekali, bahkan atom
yang paling berat pun massanya kurang dari 5 x 10-25 kg ialah bilangan yang
sangat kecil dan sukar untuk ditetapkan dalam perhitungan.
Untuk memudahkan dalam mengingat maupun dalam perhitungan –
perhitungan massa satu atom atau massa satu molekul dinyatakan dengan
satuan massa atom (atomic massa unit) (SMA). Atom yang dipakai sebagai
patokan adalah isotop karbon C1 dengan lambang 12C. Dimana massa 1 atom
karbon c = 12 SMA, 1 SMA adalah satuan massa yang sangat keal (1 SMA =
1.66 c 10-24 satuan).
1.1 Massa Atom Relatif
Massa realtif suatu atom (Ar) adala perbandingan massa satu atom
unsur dengan 1/12 massa 1 atom 12C (2,00 x 10-23 gr)

m _a1_ as st_Uoa mn s u r X
A r U= n s u r X 1 2
1/1 _ m2 _a1_ as st Coa m
Massa atau realtif (Ar) mempunyai sinonim
- Berat atom (BA)
- Nomor atom
- Bilangan massa
1.2 Massa Molekul Relatif (Mr)
Massa molekul relative (Mr) suatu zat merupakan perbandingan
massa 1 molekul zat dengan 1/12 massa 1 atom 0C (2,00 x 10-23 gr)

m _a1_ ms s oa_ z l ae tk Xu l
M r U= n s u r X1 2
1/1 _ m2 _a1_ as st Coa m
Massa molekul relatif (Mr) mempunyai sinonim:
- Berat molekul (BM)
- Massa rumus
61

- Massa formula
Massa molekul realtif senyawa adalah jumlah total massa atom relatif
unsur-unsur penyusunnya.

2.3 Konsep Mol


Reaksi kimia berlangsung antara partikel-partikel pereaksi dalam
perbandingan tertentu sesuai dengan koefisien reaksinya. Dalam reaksi kimia
dapat mencampurkan pereaksi dalam perbandingan yang tepat sehingga tidak
ada zat yang bersisa. Namun mengingat ukuran partikel yang sangat kecil
terjadi masalah dalam menentukan jumlah partikel zat tersebut dan oleh
karena itu timbullah konsep mol yang menghubungkan massa zat dengan
jumlah partikel zat sehingga dapat ditentukan jumlah partikel dengan
menimbang massa zat.
Mol sendiri memiliki beberapa arti yaitu :
a. Satu mol zat adalah banyaknya zat tersebut yang mengandung L
partikel. Dimana L merupakan bilangan Avogadro = 6.02 x 10-23 partikel
b. Satu mol zat/ volume molar adalah banyaknya zat pada keadaan suhu
0
C dan tekanan 1 atau (keadaan standar/ STP) adalah 22,4 l.
c. Satu mol zat/ massa molar adalah banyaknya zat yang sesuai dengan
Ar atau Mr zat tersebut dan dapat dinyatakan dalam gram.
Hubungan mol, jumlah partikel dan volume gas dapat digambarkan
dalam bentuk diagram sebagai berikut :

Gram Jumlah Partikel

Ar atau Mr 6,02 x 10-23

Mol

22,4

Jumlah Partikel
62

2.3.1 Hubungan Mol dengan Massa


Dapat dikatakan mol adalah suatu besaran dalam ilmu kimia
yang menyataan banyaknya partikel yang sma dari suatu zat. Dengan
kata lain bahwa unit segala macam zat jika molnya sama, jumlah
partikelnya sama, tetapi karena massa atom/massa molekulnya tiap zat
berbeda juga berbeda, dengan ditetapkannya konsep massa atom realtif
(Mr) maka hubungan mol dan massa zat dapat dirumuskan sebagai
berikut:
1 mol unsur = Ar gram unsur
1 mol unsure/senyawa. Mr gram unsur/ senyawa

Jadi 1 mol suatu zat ialah bilangan yang dinyatakan dalam


gram yang banyaknya sesuai dengan Ar/Mr zat tersebut. Dengan
demikian hubungan erat antara mol dengan gram sebagai berikut :
Dapat dituliskan :
Mol = Gram Ar / Mr = Gram
Ar/ Mr Mol
1.3.2 Hubungan Mol dengan Volume Gas
Volume Standar
Yang dimaksud dengan volume standar ialah volume gas yang
diukur pada suhu OoC dan tekanan 1 atm. Volume standar ini biasanya
disebut juga volume pada keadaan STP.
Dengan menggunkan berat gas oksigen pada keadaan STP dapat
dihitung bahwa berat 1 mol gas oksigen (OoC, 1 atm) adalah 22,4 l.

Volume Gas pada Keadaan Standar


Menurut rumus Boyle dan Gay Lussac, hasil kali tekanan (P) dan
volume (v) dibagi dengan suhu mutlaknya selalu tetap atau dirumuskan :
PV
C=
T
63

Maka pada keadaan standar yaitu pada suhu OoC,tekanan 1 atm


= 76 cm (Hg, hasil bagi PV/ T untuk 1 ml gas 10 oC, 1 atm selalu 0,0082.
bilangan 0,0082 ini dinyatakan sebagai tetapan gas ditulis dengan notasi
(R).

2.4 Persamaan Reaksi


Reaksi kimia dituliskan dengan simbol-simbol yang disebut
persamaan kimia, yang menyatakan semua reaksi yang terlibat dalam reaksi
tersebut dan semua produk terbentuk. Suatu reaksi dikatakan benar, jika
memenuhi hukum kekekalan massa dan hukum kekekalan muatan. Untuk
memenuhi kedua hukum tersebut, koefisien reaksi harus disetarakan.
Pereaksi pembatas dan berlebihan. Perhitungan banyaknya
pereaksi yang diperlukan atau hasil reaksi yang diperoleh dilakukan
berdasarkan angka banding stoikiometri yang ditunjukkan dalam persamaan.
Persamaan berimbang. Namun dalam praktek kondisi reaksi hampir selalu
berbeda. Di laboratorium di industri atau dalam alam. Tak dapat diharapkan
bahwa banyaknya pereaksi yang tersedia kebetulan tepat sama yang
dibutuhkan untuk reaksi tersebut.
Sebelumnya reaksi adalah zat yang bereaksi habis dan karena itu
membatasi kemungkinan diperpanjangnya reaksi itu. Pereaksi atau pereaksi.
Pereaksi lain dikatakan berlebih karena tertinggal sejumlah yang tak bereaksi.
Perhitungan yang didasarkan pada persamaan yang berimbang haruslah
dimulai dari banyaknya pereaksi pembatas.Rumus suatu zat menyatakan jenis
dan banyaknya atom yang bersenyawa secara kimia dalam suatu satuan zat.
Ada beberapa jenis rumus, antara lain :
• Rumus unsure Unsure kebanyakan ditulis berupa
lambangnya saja. Misalnya, Natrium,Na,besi,Fe,perak,Ag, dan timah, Sn.
Namun terdapat tujuh unsure yang lazim dikenal, yang hamper selalu
berupa molekul diatom, yakni hydrogen, nitrogen, oksigen, fluor, klor,
brom, dan iod ; rumus mereka adalah H2, N2, O2, F2, Cl2, Br2, I2. Disamping
itu oksigen mempunyai suatu bentuk triatom yang khusus, O3, ozon, ada
64

unsure – unsure selain yang tujuh tersebut diatas, yang juga berbentuk
molekul dengan dua atom atau lebih yang disebut molekul poliatom,
misalnya molekul S8 dari belerang dan molekul P4 dari fosforus.
• Rumus empiris, menyatakan perbandingan bilangan bulat terkecil dari atom –
atom yang membentuk suatu senyawa, misalnya H2O2 mempunyai rumus empiris
HO.
• Rumus molekul, menyatakan banyaknya atom yang sebenarnya yang terdapat
dalam molekul atau satuan terkecil dari suatu senyawaan.
Dengan mengetahui beberapa sifat jenis reaksi, kita dapat menerangkan
reaksi-reaksi kimia lebih mudah, dan mungkin reaksi menjadi lebih mudah
dipahami. Jenis-jenis reaksi kimia adalah sebagai berikut:
• Reaksi pembakaran adalah suatu reaksi dimana suatu unsur atau senyawa
tergabung dengan O2 membentuk senyawa yang mengandung O2
sederhana, misalnya CO2, H2O, dan SO2. Reaksi propane dengan oksigen
dan trietilena glikol dengan oksigen merupakan reaksi-reaksi pembakaran.

• Penggabungan (sintesis) adalah suatu reaksi dimana suatu zat yang lebih
kompleks terbentuk dari dua atau lebih zat yang lebih sederhana (baik
unsur maupun senyawa) seperti reaksi :

2H2 + O2  2H2O

• Penguraian adalah suatu reaksi dimana suatu zat dipecah menjadi zat-zat
yang lebih sederhana, seperti reaksi:

2Ag2O  4Ag + O2
65

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
− Gelads Kimia 50 mL
− Gelas Ukur 25 Ml
− Enlemeyer
− Termomether
− Hot plet
− Pipet Tetes
3.1.2 Bahan
− Larutan NaOH 1 M
− Larutan HCl 1 M
− Larutan H2SO4
− Aquades
− Tissu

3.2 Prosedur Percobaan


3.2.1 Stoikiometri Sistem NaOH dan HCl
66

− Dimasukkan larutan NaOH 1 M berturut-turut 2 mL, 4 mL, 6 mL ke


dalam enlemeyer dan di ukur suhu masing-masing menggunakan
termomether, lalu di catat.
− Dimasukkan larutan HCl 1 M berturut-turut 6 mL, 4 mL, 2 mL ke
dalam gelas kimia dan di ukur suhu masing-masing menggunakan
termomether, lalu di catat.
− Dicampurkan kedua larutan tersebut kedalam gelas kimia, kemudian
diukur suhu campuran menggunakan termomether, lalu dicatat.
3.2.2 Stoikiometri Sistem NaOH dan H2SO4
− Dimasukkan larutan NaOH 1 M berturut-turut 2 mL, 4 mL, 6 mL ke
dalam enlemeyer dan di ukur suhu masing-masing menggunakan
termomether, lalu di catat.
− Dimasukkan larutan H2SO4 1 M berturut-turut 6 mL, 4 mL, 2 mL ke
dalam gelas kimia dan di ukur suhu masing-masing menggunakan
termomether, lalu di catat.
− Dicampurkan kedua larutan tersebut kedalam gelas kimia, kemudian
diukur suhu campuran menggunakan termomether, lalu dicatat.
67

V NaOH V H2SO4 Suhu Suhu Suhu


No
(Ml) (Ml) NaOH H2SO4 Campuran
A 2 6 32o 30 o 32 o
B 4 4 29 o 30 o 30 o
C 6 2 30 o 31 o 29 o

BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


4.1.1 Stoikiometri Sistem NaOH dan HCl

4.1.2 Stoikiometri Sistem NaOH dan H2SO4

V NaOH V HCl Suhu Suhu


No Suhu HCl
(Ml) (Ml) NaOH Campuran
A 2 6 30o 30 o
31 o
B 4 4 30 o 31 o 32 o
C 6 2 31 o 29 o 30 o
68

4.2 Reaksi
4.2.1 Stoikiometri Sistem NaOH dan HCl
NaOH(aq) + HCl(aq)  NaCl(aq) + H2O(l)
4.2.2 Stoikiometri Sistem NaOH dan H2SO4
2NaOH(aq) + H2SO4(aq)  Na2SO4(aq) + 2H2O(l)
4.3 Perhitungan
4.3.1 Stoikiometri Sistem NaOH dan HCl

- 2 ml NaOH 1 M dengan 6 ml HCl 1 M


n NaOH = V. M n HCl = V. M
= 2 ml . 1 M = 6 ml. 1 M
= 2 mmol = 6 mmol

NaOH (aq) + HCl (aq) → NaCl ( aq ) + H 2 O (l )

m 2 mmol 6 mmol - -
r 2 mmol 2 mmol 2 mmol 2 mmol
s - mmol 4 mmol 2 mmol 2 mmol
Yang tersisa adalah NaOH ( 4 mmol )
V = n/M → 4 mmol/ 1M = 4 ml

- 4 ml NaOH 1 M dengan 4 ml HCl 1 M


n NaOH = V. M n HCl = V. M
= 4 ml . 1M = 4 ml. 1 M
= 4 mmol = 4 mmol
69

NaOH (aq) + HCl (aq) → NaCl ( aq ) + H 2 O (l )

m 4 mmol 4 mmol - -
r 4 mmol 4 mmol 4 mmol 4 mmol
s 0 0 4 mmol 4 mmol

Tidak ada reaksi yang tersisa

- 6 mL NaOH 1 M dengan 2 mL HCl 1 M


n NaOH = V. M n HCl = V. M
= 6 ml . 1 M = 2 Ml. 1 M
= 6 mmol = 2 mmol
NaOH (aq) + HCl (aq) → NaCl ( aq ) + H 2 O (l )

m 6 mmol 2 mmol - -
r 2 mmol 2 mmol 2 mmol 2 mmol
s 4 mmol 0 2 mmol 2 mmol
Yang tersisa adalah NaOH ( 4 mmol )
V = n/M → 4 mmol/ 1 M = 4 ml
4.3.2 Stoikiometri Sistem NaOH dan H2SO4

- 2 ml NaOH 1 M dengan 6 ml H2 SO4 1 M


n NaOH = V. M n H2 SO4 = V. M
= 2ml . 1 M = 6 ml. 1 M
= 2 mmol = 6 mmol

2 NaOH (aq) + H2 SO4 (aq) → H2SO4 (aq) + 2H2O (l)


m 4 mmol 6 mmol - -
r 4 mmol 2 mmol 4 mmol 4 mmol
s 0 4 mmol 4 mmol 4 mmol

Yang tersisa adalah H2SO4 (4 mmol)


V = n/m → 4 mmol/ 1M = 4 ml
70

- 4 ml NaOH 1 M dengan 4 ml H2SO4 1 M


n NaOH = V.M n H2 SO4 = V.M
= 4 ml. 1 M = 4 ml. 1 M
= 4 mmol = 4 mmol

2 NaOH (aq) + H2 SO4 (aq) → NaSO 4 (aq ) + 2H2O (l)

m 8 mmol 4 mmol - -
r 8 mmol 4 mmol 4 mmol 8 mmol
s 0 0 mmol 4 mmol 8 mmol

Tidak ada reaksi yang tersisa

- 6 ml NaOH 1 M dengan 2 ml H2SO4 1 M


n NaOH = V. M n H2SO4 = V. M
= 6 ml . 1 M = 2 ml. 1 M
= 6 mmol = 2 mmol

2 NaOH (aq) + H2 SO4 (aq) → Na 2 SO 4 (aq ) + 2H2O (l)

m 12 mmol 2 mmol - -
r 4 mmol 2 mmol 2 mmol 4 mmol
s 8 mmol 0 mmol 2 mmol 4 mmol

Yang tersisa adalah NaOH ( 8 mmol )


V = n/m → 8 mmol/ 1M = 8 ml

4.4 Pembahasan
Percobaan ini dilakukan berdasarkan perbandingan pada koefisien dari
suatu persamaan reaksi yang telah disetarakan. Percobaan ini termasuk dalam
stoikiometri dimana sroikiometri merupakan istilah yang digunakan untuk
menggambarkan hubungan-hubungan kuantitatif dari suatu reaksi kimia atau
71

senyawa kimia. Reaksi stoikiometri adalah reaksi dimana jumlah mol mula-
mula seluruh pereaksi habis pada saat bereaksi, sehingga tidak memiliki mol
sisa. Sedangkan reaksi non-stoikiometri merupakan reaksi dimana masih
terdapat mol sisa dari pereaksi setelah terjadinya reaksi. Prinsip dasar dari
percobaan ini adalah metode variasi kontinyu, yaitu dilakukan serangkaian
pengamatan yang kuantitas molar totalnya sama tetapi masing-masing molar
pereaksinya berubah-ubah(bervariasi). Tujuannya yaitu untuk menentukan
titik maksimum dan titik minimum sesuai dengan titik stoikiometri sistem.
Pada percobaan yang dilakukan terdapat reaksi stoikiometri pada sistem
NaOH dan HCl dengan konsentrasi 1M dan volume masing-masing 4 mL.
Dan pada sistem NaOH dan H2SO4 denagan konsentrasi dan volume yang
sama, sedangkan reaksi non-stoikiometri terdapat pada sistem NaOH dan HCl
anrata 2 mL NaOH 1 M ditambahkan 6 mL HCl 1 M, yaitu HCl yang meiliki
mol sisa. Sedangkan pada reaksi antara 6 mL NaOH 1 M ditambahkan 2 mL
HCl 1 M, yaitu NaOH yang memiliki mol sisa.
Pada percobaan 2 mL NaOH 1 M ditambahkan 6 mL HCl 1 M, suhu mula-
mula NaOH 30oC dan HCl 30oC, sedangkan suhu campuran keduanya 31oC.
Karena mengalami penambahan suhu, maka reaksi ini dinamakan reaksi
eksoterm.
Pada percobaan 4 mL NaOH 1 M ditambahkan 4 mL HCl 1 M, suhu mula-
mula NaOH 30oC dan HCl 31oC, sedangkan suhu campuran keduanya
mengalami penambahan suhu dari kedua suhu awal yaitu 32oC, maka reaksi
ini dinamakan reaksi eksoterm.
Pada percobaan 6 mL NaOH 1 M ditambahkan 2 mL HCl 1 M, suhu mula-
mula NaOH 31oC dan HCl 29oC, sedangkan suhu campuran dari kedua zat
tersebut berada diantara suhu awal yaitu 30oC.
Pada percobaan 2 mL NaOH 1 M ditambahkan 6 mL H2SO4 1 M, suhu
mula-mula NaOH 32oC dan H2SO4 30oC, sedangkan suhu campuran keduanya
32oC. Karena mengalami penambahan suhu, maka reaksi ini dinamakan reaksi
eksoterm.
72

Pada percobaan 4 mL NaOH 1 M ditambahkan 4 mL H2SO4 1 M, suhu


mula-mula NaOH 29oC dan H2SO4 30oC, sedangkan suhu campuran
mengalami penambahan suhu dari salah satu suhu awal yaitu 30oC, maka
reaksi ini dinamakan reaksi eksoterm.
Pada percobaan 6 mL NaOH 1 M ditambahkan 2 mL H2SO4 1 M, suhu
mula-mula NaOH 30oC dan H2SO4 31oC, sedangkan suhu campuran dari
kedua zat tersebut mengalami penurunan yaitu 29oC, , maka reaksi ini
dinamakan reaksi endoterm.
Reaksi-reaksi dalam stoikiometri diantaranya adalah reaksi eksoterm,
reaksi endoterm,reaksi pembatas dan reaksi sisa. Reksi eksoterm adalah reaksi
yang mengeluarkan kalor dari sistem ke lingkungandan pada reaksi tersebut
dikeluarkan panas sehingga menyebabkan penambahan atau penaikan suhu.
Reaksi endoterm adalah reaksi yang menyerap kalor dari sistem ke lingkungan
dan reaksi tersebut memerlukan panas sehingga menyababkan suhu berkurang
atau menurun.
Bila digambarkan grafik antara sifat fisika yang diukur terhadap kuantitas
pereaksinya, maka akan diperoleh titik maksimum dan titik minimum sesuai
dangan titik stoikiometri sistem yaitu menyatakan perbandingan pereaksi –
pereaksinya. Titik maksimum adalah titik (nilai) dimana suatu reaksi dalam
keadaan nilai (titik) suhu tertinggi. Hubungannya dengan reaksi stoikiometri
adalah titik maksimumakan tercapai ketika reaksi yang berlangsung tidak
menghasilkan zat sisa atau disebut stoikiometri. Titik minimum adalah titik
(nilai) dimana suatu reksi dalam keadaan titik(nilai)suhu terendah. Titik
minimum tidak akanterjadi jika suatu reaksi menhasilkan zat sisa.
Berdasarkan hasil pengamatan yang didapat dari percobaan yang telah
dilakukan, dapat dilihat perbandingan volume pereaksi-pereaksi dengan suhu
campuran pada Grafik 1. stoikiometri sistem NaOH dan HCl, titk maksimum
berada pada saat perbandingan volume antara NaOH dan HCl adalah 1:1
dengan suhu canpuran adalah 32oC.titik maksimum sistem ini dapat dilihat
dari perhitungan pada perbandingan 1:1, reaktan NaOH 1M dan HCl 1M tepat
habis bereaksi, sehingga suhu yang dicapai adalah suhu yang paling maksimal.
73

Titik minimum sistem ini dapat dilihat dari perhitungan pada perbandingan
3:1, reaktan NaOH 1M dan HCl 1M masih terdapat mol NaOH yang tersisa,
karena larutan NaOH bersifat basa kuat yang dapat mempengaruhi suhu
campuran tersebut.
Grafik 1. stoikiometri sistem NaOH dan HCl

Stoikiometri sistem
NaOH1 M +HCl 1 M
33
Titik Maksimum
Suhu Campuran

32
31
(C)

30
29 Titik Minimum
28
27
2 mL +6 mL 4 mL +4 mL 6 mL +2 mL

Volume NaOH+HCl (mL)

Berdasarkan hasil pengamatan yang didapat dari percobaan yang telah


dilakukan, dapat dilihat perbandingan volume pereaksi-pereaksi NaOH 1M
dan H2SO4 pada grafik 2 stoikiometri sistem tersebut. Titik maksimum berada
pada saat perbandingan volume NaOH 1M dan H2SO4 adalah 1:3 dengan suhu
campuran sebesar 32oC, titik maksimum sistem ini tidak sesuai dangan
stoikiometri sistem yang dilihat dari pehitungannya dimana reaksi ini masih
memiliki 8 mmol zat sisa. Sedangkan pada perbandingan volume antara
NaOH 1M dan H2SO4 1M. Titk minimumnya memiliki perbandingan 3:1
dengan suhu 29oC. Seharusnya suhu minimum dari kedua percobaan tersebut
tidak sebesar itu, karena semakin sedikit volume asam atau basa yang bersisa
maka semakin sedikit hambatan yang diterima campuran untuk mencapai titik
maksimum. Keadaan-keadaan yang terjadi ini dikarenakan oleh suhu ruangan
yang mengalami perubahan pada saat melakukan percobaan yang dibuktikan
dengan bervariasinya suhu asam dan suhu basa.

Grafik 2. stoikiometri sistem NaOH dan H2SO4


74

Stoikiometri sistem
NaOH1M+H2SO41M

Suhu Campuran
33
TitikMaksimum
32
31

(C)
30
29
TitikMinimum
28
27
2mL+6mL 4mL+4mL 6mL+2mL

VolumeNaOH+H 2SO4 (mL)

Pada percobaan stoikiometri kali ini terdapat beberapa faktor kesalahan yang
mempengaruhi dalam penghambatan antar lain:
• Kurang teliti dalam melakukan perhitungan atau membaca
skala pada termomether.
• Kesalahan dalam penggunaan termomether, yaitu pada saat
melakukan perhitungan suhu, termomether tidak boleh menyentuh
tubuh.

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
− Reaksi stoikiometri adalah proses reaksi dimana jumlah mol mula-
mula seluruh reaktan habis pada saat bereaksi, sehingga tidak memiliki
mol sisa. Sedangkan reaksi non-stoikiometri merupakan reaksi dimana
masih terdapat mol sisa dari reaktan setelah terjadi reaksi.
− Reaksi eksoterm adalah reaksi yang melepas kalor dari sistem ke
lingkungan bertambah, dan reaksi endoterm adalah reaksi yang menyerap
kalor dari lingkungan ke sistem sehingga suhu lingkungan berkurang.
− Titik minimum adalah titik yang menunjukkan suhu campuran
terendah dari beberapa suhu lainnya yang di ukur dari dua zat yang
75

bereaksi pada volume yang sama. Sedangkan titik maksimum adalah titik
yang menunjukkan suhu campuran tertinggi dari beberapa suhu campuran
lainnya yang yang diukur dari dua zat yang bereaksi pada volume yang
sama.

5.2 Sarans
Dalam percobaan stoikiometri ini sebaiknya termoether yang digunakan
untuk mengukur larutan, masing-masing satu termometer untuk mengukur
satu larutan agar hasil yang di dapat lebih optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Anna, P.1988.Dasar-Dasar Ilmu Biokimia.Bandung:Yaasan Cendrawasih.


Charles, W.1992.Kimia Untuk Universitas.Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.
Keenan,dkk.1999.Kimia Untuk Universitas.Jakarta:Erlangga.
Kitti,Surra.1993.Kimia Fisika Untuk Universitas.Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
76

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Proses industri yang melibatkan adanya reaksi kimia memerlukan peranan
ilmu kimia yang memberi dasar untuk mengatur agar suatu proses industri
dapat menghasilkan bahan industri sebanyak-banyaknya dalam waktu
sesingkat-singkatnya. Disisi lain, terdapat reaksi kimia yang dikehendaki
berjalan lambat, misalnya bagaimana agar buah tidak cepat membusuk,
memperlambat proses pembusukan makanan dan bagaimana memperlambat
perkaratan logam.
Masalah diatas adalah permasalahan bagaimana mempercepat suatu reaksi
berlangsung dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Dalam ilmu kimia
77

dikenal dengan nama laju reaksi yaitu cepat lambatnya suatu reaksi itu
berlangsung atau perubahan konsentrasi pereaksi persatuan waktu. Untuk
mempercepat laju reaksi, dalam ilmu kimia dikenal dengan adanya teori
tumbukan yaitu mengenai percepatan tumbukan antar molekul, konsentrasi
yaitu banyaknya kandungan zat. Luas permukaan yaitu berupa serbuk dengan
penampang luas yang dapat mempercepat berlangsungnya reaksi, suhu yaitu
semakin tinggi suhu maka semakin cepat pula reaksi berlangsung dan yang
terakhir adalah katalisator yaitu zat yang dapat mempercepat suatu reaksi
tanpa mengalami perubahan yang berarti dan tidak kekal.
Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi laju reaksi dalam perubahan laju reaksi. Sebagai contoh
perubahan suhu dalam laju reaksi. Pada percobaan ini diselidiki apakah
dengan bertambahnya suhu laju reaksi suatu campuran akan ikut meningkat
atau sebaliknya begitu pula dengan bertambahnya konsentrasi.

1.2 Tujuan
− Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
− Mengetahui ketergantungan laju reaksi terhadap teori tumbukan
− Menentukan laju reaksi suatu reaksi kimia
78

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Cepat lambatnya suatui reaksi berlangsung disebut laju reaksi. Laju reaksi
dapat dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi
persatuan waktu. Konsentrasi biasanya dinyatakan dalam mol perliter, tetapi
untuk reaksi fase gas satuan konsentrasi dapat diganti dengan satuan tekanan,
seperti Atmosfer (atm), millimeter merkorium (mmHg) atau pascal (Pa). satuan
waktu dapat detik, menit, jam, hari, bulan bahkan tahun bergantung pada reaksi
itu berjalan cepat atau lambat. Dapat dirumuskan sebagai berikut.
perubahan konsentrasi
Laju reaksi =
satuan waktu
79

Untuk mengukur laju reaksi, perlu menganalisis secara langsung maupun tak
langsung banyaknya produk yang terbentuk atau banyaknya pereaksi yang tersisa
setelah penggal-penggal waktu tertentu.
Reaksi kimia menyangkut perubahan dari suatu pereaksi (reaktan) menjadi
hasil reaksi (produk), yang dinyatakan dalam persamaan reaksi:
Pereaksi (reaktan) hasil reaksi (produk)
Seperi halnya contoh diatas, maka laju reaksi dapat dinyatakan sebagai
berkurangnya jumlah pereksi untuk setiap satuan waktu atau bertambahnya
jumlah hasil reaksi untuk setiap satuan waktu.
Ukuran jumlah zat dalam reaksi kimia umumnya dinyatakan sebagai
konsentrasi molar atau molaritas (M). Dengan demikian maka laju reaksi
menyatakan berkurangnya konsentrasi pereaksi atau bertambahnya konsentrasi zat
hasil reaksi setiap satuan waktu. Satuan laju reaksi umumnya dinyatakan dalam
satuan mol.dm-3.det-1 atau mol/Liter detik. Satuan mol dm-3 atau molaritas,
merupakan satuan konsentrasi larutan.
Penentuan laju reaksi dapat dilakukan dengan cara fisika atau kimia. Dengan cara
fisika, penentuan konsentrasinya dilakukan secara tidak langsung yaitu
berdasarkan sifat-sifat fisis campuran yang dipengaruhi oleh konsentrasi
campuran, misalnya daya hantar listrik, tekanan (untuk reaksi gas). Adsorpsi
cahaya dan lainnya. Penentuan secara kimia dilakukan dengan menghentikan
reaksi secara tiba-tiba (reaksi dibekukan). Setelah selang waktu tertentu,
kemudian konsentrasinya ditentukan dngan metode analisis kimia.
Laju reaksi dapat ditentukan melalui percobaan yaitu dengan mengukur
konsentrasi salah pereaksi atau salah satu produk. Dengan selang waktu tertentu
selama reaksi berlangsung untuk reaksi yang berlangsung lambat, hal itu dapat
dilakukan dengan mengeluarkan sampel dari campran reaksi lalu
menganalisisnya. Misalnya reaksi hidrolisis etil asetat berikut in :

CH3COOC2H5 + H2O CH3COOH + C2H5OH


Etil asetat Asam asetat etanol
80

Reaksi itu berlangsung lambat sehingga konsentrasi asma asetat yang terbentuk
dengan mudah dapat ditentukan dengan menggunakan suatu larutan basah. Cara
yang lebih umum ialah menggunakan suatu alat yang dapat menunjukkan secara
kontinyu salah satu perubahan fisis yang menyertai reaksi, misalnya untuk reaksi
yang membebaskan gas, alat dirancang agar dapat mencatat volume gas yang
terbentuk ; untuk reaksi yang diserati perubahan warna, alat dirancang agar dapat
mengukur perubahan itensitas warna, untuk reaksi gas yang disertai perubahan
jumlah mol, alat dirancang agar dapat mengukur perubahan tekanan gas.
Gambar diatas memperlihatkan bagan suatu alat yang dapat mengukur perubahan
tekanan pada suatu reaksi gas, seperti penguraian dinitrogen pentaoksida
membentuk nitrogen dioksida dan oksigen.
2N2O5 (g) 4NO2 (g) + O2 (g)
reaksi itu disertai pertambahan jumlah mol gas, yang menyebabkan pertambahan
tekanan, yang dapat dibaca pada manometer. Semakin banyak N2O5 yang terurai
semakin besar tekanan. Bila reaksi dilangsungkan pada volume dan suhu tetap,
maka pertambahan tekanan dapat dikaitkan dengan pertambahan jumlah mol.
Dengan demikian laju penguraian N2O5 itu dapat ditentukan.
Dalam laju reaksi dikenal juga laju reaksi sesat, yaitu laju reaksi rata-rata
yang dihitung dalam selang waktu yang berbeda-beda dan diperlukan perhitungan
laju reaksi yang berlaku dalam setiap saat. Lajureaksi juga dapat ditentukan
melalui cara grafik. Laju reaksi sesaat merupkan gradient dari kurva antara waktu
dengan perubahan konsentrasi pada selang waktu tertentu. Oleh karena itu,
terdapat suatu bilangan tetap yang merupakan angka faktor perkalian terhadap
konsentrasi yang disebut sebagai tetapan laju reaksi (K). dengan demikian, laju
reaksi sesaat secara umum dapat dinyatakan sebagai :
Laju reaksi ≈ K [Konsentrasi Zat]

FAKTOR –FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU REAKSI

Konsentrasi
81

Secara umum konsentrasi pereaksi akan mempengaruhi laju reaksi.


Pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi adalah khas untuk setiap reaksi.
Semakin tinggi konsentrasi berarti makin banyak molekul-molekul dalam setiap
satuan luas ruangan, dengan demikian tumbukan antar molekul makin sering
terjadi. Semakin banyak tumbukan yang terjadi berarti kemungkinan untuk
menghasilkan tumbukan efektif semakin besar dan reaksi berlangsung lebih
cepat. Untuk beberapa reaksi, laju reaksi dapat dinyatakan dalam persamaan
matematik yang dikenal dengan hukum laju reaksi atau persamaan laju reaksi.
Luas Permukaan
Reaksi yang berlangsung dalam system homogen sangat berbeda dengan
reaksi yang berlangsung dalam system heterogen. Pada reaksi yang homogen,
campuran zatnya bercampur seluruhnya. Hal ini dapat mempercepat
berlangsungnya reaksi kimia karena molekul-molekul ini dapat bersentuhan satu
sama lainnya. Dalam system heterogen, reaksi hanya berlangsung pada bidang-
bidang perbatasan dan pada bidang-bidang yang bersentuhan dari kedua fase.
Reaksi kimia dapat berlangsung jika molekul-molekul, atom-atom atau ion-ion
dari zat-zat yang bereaksi terlebih dahulu bertumbukan. Makin halus suatu zat
maka makin luas permukaannya sehingga makin besar kemungkinan bereaksi dan
makin cepat reaksi itu berlangsung.
Temperatur
Harga tetapan laju reaksi (K) akan berubah bila suhunya berubah. Laju
reaksi meningkat dengan naiknya suhu. Biasanya kenaikkan suhu sebesar 100C
akan menyebabkan kenaikan laju reaksi dua atau tiga kali. Kenaikkan laju reaksi
ini disebabkan dengan kenaikkan suhu akan menyebabkan makin cepatnya
molekul-molekul pereaksi bergerak, sehingga memperbesar kemungkinan
terjadinya tabrakan antar molekul. Energi yang diperlukan untuk menghasilkan
tabrakan yang efektif atau untuk menghasilkan suatu reaksi disebut energi
pengaktifan kinetik.
Perumusan laju reaksi sebagai berikut:
t −t 0
Vt = V0 .2 10
82

Dimana:
Vt = laju reaksi akhir t = suhu akhir
Vo = laju reaksi awal to = suhu awal
Katalisator
Beberapa reaksi kimia yang berlangsung lambat dapat dipercepat dengan
menambahkan suatu zat kedalamnya, tetapi zat tersebut setelah reaksi selesai
ternyata tidak berubah. Misalnya pada peruraian kalium klorat untuk
menghasilkan gas oksigen.
2KClO3 (s) 2KCl(s) + 3O2

Reaksi berlangsung pada suhu tinggi dan berjalan lambat, tetapi dengan
penambahan kristal MnO2 kedalamnya ternyata reaksi akan dapat berlangsung
dengan lebih cepat pada suhu yang lebih rendah. Setelah semua KClO3 terurai
ternyata MnO2 masih tetap ada (tidak berubah). Dalam reaksi tersebut MnO2
disebut sebagai katalisator.
Katalisator adalah suatu zat yang dapat mempercepat laju reaksi, tanpa
dirinya mengalami perubahan yang kekal. Suatu katalisator mungkin akan terlibat
dalam proses reaksi atau mengalami perubahan selama reaksi berlangsung, tetapi
setelah reaksi itu selesai maka katalisator akan diperoleh kembali dalam jumlah
yang sama. Katalisator mempercepat reaksi dengan cara mengubah jalannya
reaksi. Jalur reaksi yang ditempuh tersebut mempunyai energi aktivasi yang lebih
rendah dari pada jalur reaksi yang biasa ditempuh. Jadi dapat dikatakan bahwa
katalisator berperan dalam menurunkan energi aktivasi.
Tekanan gas
Jika tekanan gas diperbesar, maka volume gas itu diperkecil, sehingga
letak partikel makin berdekatan dan makin mudah bertumbukkan. Jadi, makin
besar tekanan gas maka makin cepat reaksinya.
Teori tumbukan
Pengaruh dari berbagai faktorterhadap laju reaksi dapat dijaleaskan dengan
teori tumbukan. Menurut teori ini, suatu reaksi berlangsung sebagai hasil
tumbukan antar partikel pereaksi. Akan tetapi, tidaklah setiap tumbukan
83

menghasilkan reaksi, melainkan hanya tumbukan antar partikel yang memiliki


energi cukup serta arah tumbukan yang tepat. Tumbukan yang menghasilkan
reaksi, kita sebut tumbukan efektif. Energi minimum yang harus dimiliki oleh
partikel pereaksi sehingga menghasilkan tumbukan efektif disebut energi
pengaktifan (Ea = energi aktivasi). Faktor-faktor yang mempengaruhi suatu
tumbukan adalah sebagai berikut :
1. Jumlah partikel atau konsentrasi,
2. Temperatur
3. Luas permukaan
4. Menambah katalisator

PERSAMAAN LAJU REAKSI


Dari percobaan penentuan laju reaksi menunjukkan bahwa laju reaksi akan
menurun dengan bertambahnya waktu. Hal itu berari ada hubungan antara
konsentrasi zat yang tersisa saat itu dengan laju reaksi. Umumnya laju reaksi
tergantung pada konsentrasi awal dari zat-zat pereaksi. Pernyataan ini dikenal
sebagai hukum laju reaksi atau persamaan laju reaksi .
Secara umum untuk reaksi pA + qB rC
V = K[A]m[B]n
dengan, V = Laju reaksi (mol dm-3 det-1)
K = tetapan laju reaksi
m = tingkat reaksi (orde reaksi) terhadap A
n = tingkat reaksi (orde reaksi) terhadap B
[A] = Konsentrasi awal A (mol dm-3)
[B] = Konsentrasi awal B (mol dm-3)
Tingkat reaksi total adalah jumlah total dari tingkat reaksi semua pereaksi.
Tingkat reaksi nol (0) berarti laju reaksi tersebut tidak terpengaruh oleh
konsentrasi pereaksi, tetapi hanya tergantung pada harga tetapan laju reaksi (K).
Pangkat konsentrasi pereaksi pada persamaan laju reaksi disebut orde atau
tingkat pereaksi. Pada reaksi diatas berorde X terhadap A dan berorde Y terhadap
B, orde reaksi keseluruhan X+Y. Jadi, jika disebut orde reaksi maka yang
84

dimaksud adalah orde reaksi keseluruhan. Orde reaksi juga bisa dikatakan sebagai
besarnya pengaruh konsentrasi pereaksi pada laju reaksi.
Orde reaksi memiliki beberapa makna diantaranya :
a. Orde Nol
Reaksi dikatakan berorde nol terhadap salah satu pereaksinya apabila
perubahan konsentrasi tersebut tidak mempengaruhi laju reaksi. Artinya,
asalkan terdapat dalam jumlah tertentu, perubahan konsentrasi pereaksi itu
tidak mempengaruhi laju reaksi. Reaksi yang berorde nol dapat dijelaskan
juga seperti gambar grafik berikut :

[X]
b. Orde satu
Suatu reaksi dikatakan berorde satu terhadap salah satu pereaksinya jika
laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi itu. Jika konsentrasi
pereaksi itu dilipat-tigakan maka laju reaksi akan menjadi 31 atau 3 kali lebih
besar. Orde satu dapat dijalaskan dengan grafik dibawah :

[X]
c. Orde Dua
Suatu reaksi dikatakan berorde dua terhadap salah satu pereaksi jika laju
reaksi merupakan pangkat dua dari konsentrasi pereaksi itu. Apabila
konsentrasi zat itu dilipat-tigakan, maka laju pereaksi akan menjadi 32 atau 9
kali lebih besar.orde dua dapat juga dijelaskan seperti grafik berikut :
85

[X]

d. Orde Negatif
Laju reaksi berbanding terbalik terhadap konsentrasi pereaksi.

[X]

[X]

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
− Enlemeyer
− Gelas kimia 50 mL
− Gelas ukur 50 mL
− Hot plate
− Stopwacth
− Termometer
86

3.1.2 Bahan
− Kertas
− Larutan HCl 1 M
− Larutan HCl 2 M
− Larutan Na2S2O3 0,1 M
− Larutan Na2S2O3 0,2 M

3.2 Prosedur Percobaan


3.2.1 Pengaruh Konsentrasi
– Disiapkan 1 gelas kimia
– Dimasukkan 2 ml larutan Na2S2O3 0,1 M ke dalam gelas kimia
– Disiapkan kertas putih yang dibri tanda X sesuai dengan ukuran gelas
kimia.
– Diletakkan gelas kimia yang berisi Na2S2O3 0,1 M diatas kertas putih
yang telah diberi tanda silang.
– Dimasukkan 3 ml larutan HCl 1 M pada larutan Na2S2O3 0,1 M.
– Dicatat waktu yang diperlukan sejak penambahan larutan HCl hingga
tanda silang tidak terlihat lagi dari atas.
− Langkah yang sama untuk HCl 2 M terhadap larutan Na2S2O3 0,2 M.
3.2.2 Pengaruh Suhu
– Disiapkan 1 gelas kimia
– Dimasukkan 2 ml larutan Na2S2O3 0,1 M ke dalam gelas kimia
– Disiapkan kertas putih yang dibri tanda X sesuai dengan ukuran gelas
kimia.
– Larutan dipanaskan pada hot plate hingga suhu mencapai 40oC
kemudian diletakkan gelas kimia yang berisi Na2S2O3 0,1 M diatas
kertas putih yang telah diberi tanda silang.
– Dimasukkan 3 ml larutan HCl 1 M pada larutan Na2S2O3 0,1 M.
– Dicatat waktu yang diperlukan sejak penambahan larutan HCl hingga
tanda silang tidak terlihat lagi dari atas.
– Langkah yang sama untuk HCl 2 M terhadap larutan Na2S2O3 0,2 M.
87

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


4.1.1 Pengaruh konsentrasi
Konsentrasi larutan Kosentrasi larutan
No Waktu (sekon)
Na2S2O3 HCl
1. 0,1 M 1M 217
2. 0,1 M 2M 726
3. 0,2 M 2M 184

4.1.2 Pengaruh suhu 400C


88

Konsentrasi larutan Kosentrasi larutan


No Waktu (sekon)
Na2S2O3 HCl
1. 0,1 M 1M 23
2. 0,1 M 2M 31
3. 0,2 M 2M 26

4.2 Reaksi
Na2S2O3 + 2HCl → 2 NaCl + S + SO2 + H2O
4.3 Perhitungan
4.3.1 Pengaruh konsentrasi

Persamaan laju reaksi


X
[Na2S2O3]y

0,304=2x

x= 2log 0,304

x=

x=-1,7
89

X
[Na2S2O3]y

3,86=2y

y= 2log 3,86

y=

y= 1,9

orde reaksi x=-1,7


orde reaksi y=-1,9
orde reaksi total
x + y = (-1,7) + 1,9 = 0,2

konstanta laju reaksi (k)

X
[Na2S2O3]y
0,0046= k [HCl]x[Na2S2O3]y
0,0046= k (1)(0,0126)

k= 0,365
jadi persamaan laju reaksi

X
[Na2S2O3]y

= 0,365 [HCl]-1,7[Na2S2O3]1,9

4.3.2 Pengaruh Suhu 40oC


90

Persamaan laju reaksi


X
[Na2S2O3]y

0,74=[2]x

x= 2log 0,74

x=

X= -0,43
X
[Na2S2O3]y

1,1875=[2]y

y = 2log 1,1875

y=
91

y = 0,25

orde reaksi x = -0,43


orde reaksi y = 0,25
orde reaksi total
x + y = (-0,43) + 0,25 = -0,18

konstanta laju reaksi

X
[Na2S2O3]y

0,043 = k [1]-0,43[0,1]0,25

0,043 = k (1)(0,562)

k = 0,076

jadi persamaan reaksi


X
[Na2S2O3]y
= 0,076[HCl]-0,043[Na2S2O3]0,25

4.4 Pembahasan
Laju reaksi adalah cepat lambatnya suatu reaksi berlangsung atau dapat
juga dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi per
satuan waktu. Konsentrasi biasanya dinyatakn dalam mol per liter. Orde reaksi
adalah bilangan pangkat yang menyatakan naiknya laju reaksi akibat naiknya
reaksi. Menentukan orde reaksi dari suatu reaksi kimia pada prinsipnya
menentukan seberapa besar pengaruh perubahan konsentrasi pereaksi terhadap
laju reaksinya.tumbukan efektif merupakan tumbukan yang menghasilkan
92

reaksi, dan energi minimum yang diperlukan supaya reaksi dapat berlangsung
disebut energi aktifasi(Ea).
Dalam percobaan laju reaksi ini ada beberapa faktor yang mempengaruhinya,
yaitu:
Konsentrasi
Secara umum konsentrasi pereaksi akan mempengaruhi laju reaksi.
Pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi adalah khas untuk setiap reaksi.
Semakin tinggi konsentrasi berarti makin banyak molekul-molekul dalam
setiap satuan luas ruangan, dengan demikian tumbukan antar molekul makin
sering terjadi. Semakin banyak tumbukan yang terjadi berarti kemungkinan
untuk menghasilkan tumbukan efektif semakin besar dan reaksi berlangsung
lebih cepat. Untuk beberapa reaksi, laju reaksi dapat dinyatakan dalam
persamaan matematik yang dikenal dengan hukum laju reaksi atau persamaan
laju reaksi.
Luas Permukaan
Reaksi yang berlangsung dalam system homogen sangat berbeda dengan
reaksi yang berlangsung dalam system heterogen. Pada reaksi yang homogen,
campuran zatnya bercampur seluruhnya. Hal ini dapat mempercepat
berlangsungnya reaksi kimia karena molekul-molekul ini dapat bersentuhan
satu sama lainnya. Dalam system heterogen, reaksi hanya berlangsung pada
bidang-bidang perbatasan dan pada bidang-bidang yang bersentuhan dari
kedua fase.
Reaksi kimia dapat berlangsung jika molekul-molekul, atom-atom atau ion-
ion dari zat-zat yang bereaksi terlebih dahulu bertumbukan. Makin halus suatu
zat maka makin luas permukaannya sehingga makin besar kemungkinan
bereaksi dan makin cepat reaksi itu berlangsung.
Temperatur
Harga tetapan laju reaksi (K) akan berubah bila suhunya berubah. Laju
reaksi meningkat dengan naiknya suhu. Biasanya kenaikkan suhu sebesar
100C akan menyebabkan kenaikan laju reaksi dua atau tiga kali. Kenaikkan
laju reaksi ini disebabkan dengan kenaikkan suhu akan menyebabkan makin
93

cepatnya molekul-molekul pereaksi bergerak, sehingga memperbesar


kemungkinan terjadinya tabrakan antar molekul. Energi yang diperlukan
untuk menghasilkan tabrakan yang efektif atau untuk menghasilkan suatu
reaksi disebut energi pengaktifan kinetik.
Perumusan laju reaksi sebagai berikut:
t −t 0
Vt = V0 .2 10

Dimana:
Vt = laju reaksi akhir t = suhu akhir
Vo = laju reaksi awal to = suhu awal
Katalisator
Beberapa reaksi kimia yang berlangsung lambat dapat dipercepat dengan
menambahkan suatu zat kedalamnya, tetapi zat tersebut setelah reaksi selesai
ternyata tidak berubah
Katalisator adalah suatu zat yang dapat mempercepat laju reaksi, tanpa
dirinya mengalami perubahan yang kekal. Suatu katalisator mungkin akan
terlibat dalam proses reaksi atau mengalami perubahan selama reaksi
berlangsung, tetapi setelah reaksi itu selesai maka katalisator akan diperoleh
kembali dalam jumlah yang sama. Katalisator mempercepat reaksi dengan
cara mengubah jalannya reaksi. Jalur reaksi yang ditempuh tersebut
mempunyai energi aktivasi yang lebih rendah dari pada jalur reaksi yang biasa
ditempuh. Jadi dapat dikatakan bahwa katalisator berperan dalam menurunkan
energi aktivasi.
Tekanan gas
Jika tekanan gas diperbesar, maka volume gas itu diperkecil, sehingga
letak partikel makin berdekatan dan makin mudah bertumbukkan. Jadi, makin
besar tekanan gas maka makin cepat reaksinya.
Teori tumbukan
Pengaruh dari berbagai faktorterhadap laju reaksi dapat dijaleaskan dengan
teori tumbukan. Menurut teori ini, suatu reaksi berlangsung sebagai hasil
94

tumbukan antar partikel pereaksi. Akan tetapi, tidaklah setiap tumbukan


menghasilkan reaksi, melainkan hanya tumbukan antar partikel yang memiliki
energi cukup serta arah tumbukan yang tepat. Orde reaksi juga bisa dikatakan
sebagai besarnya pengaruh konsentrasi pereaksi pada laju reaksi.
Orde reaksi memiliki beberapa makna diantaranya :
1. Orde Nol
Reaksi dikatakan berorde nol terhadap salah satu pereaksinya apabila
perubahan konsentrasi tersebut tidak mempengaruhi laju reaksi. Artinya,
asalkan terdapat dalam jumlah tertentu, perubahan konsentrasi pereaksi itu
tidak mempengaruhi laju reaksi. Reaksi yang berorde nol dapat dijelaskan
juga seperti gambar grafik berikut :

[X]

2. Orde satu
Suatu reaksi dikatakan berorde satu terhadap salah satu pereaksinya
jika laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi itu. Jika
konsentrasi pereaksi itu dilipat-tigakan maka laju reaksi akan menjadi 31
atau 3 kali lebih besar. Orde satu dapat dijalaskan dengan grafik dibawah :

[X]
95

3. Orde Dua
Suatu reaksi dikatakan berorde dua terhadap salah satu pereaksi jika
laju reaksi merupakan pangkat dua dari konsentrasi pereaksi itu. Apabila
konsentrasi zat itu dilipat-tigakan, maka laju pereaksi akan menjadi 32 atau
9 kali lebih besar.orde dua dapat juga dijelaskan seperti grafik berikut :

[X]

4. Orde Negatif
Laju reaksi berbanding terbalik terhadap konsentrasi pereaksi.

[X]

[X]

Pada percobaan pertama dilakukan pencampuran larutan 0.1M Na2S2O3 2


mL dengan 1M HCl 3 mL, ternyata tanda silang yang ada dikertas hilang pada
hitungan ke-217 detik, dimana pada saat itu campuran pun berubah menjadi
keruh. Pada percobaan kedua, dilakukan pencampuran larutan 0.1M Na2S2O3 2
mL denag 2M HCl 3 mL, ternyata pada percobaan kedua ini waktu yang
96

dibutuhkan oleh tanda silang untuk hilang (tidak terlihat) lagi. Lebih lama dari
percobaan pertama, yaitu 726 detik. Hal ini seharusnya lebih cepat dari
percobaan pertama, karena konsentrasi larutan HCl ditambah menjadi 2M.
dimana seperti kita ketahui bahwa semakin besar konsentrasi maka laju
reaksinya semakin cepat. Hal ini dikarenakan karena larutan yang
konsentrasinya besar (pekat) mengandung partikel yang lebih rapat, jika
dibandingkan denagn larutan yang konsentrasinya kecil (encer), sehingga
lebih mudah dan lebih sering bertumbukan. Pada percobaan ketiga,
pencampuran larutan 0.2M Na2S2O3 2 mL dengan 2M HCl 3 mL memerlukan
waktu yang lebih cepat daripada percobaan ke-1 dan ke-2 sebelumnya, dimana
waktu yang diperlukan agar tanda silang tak terlihat lagi adalah 184 detik. Hal
ini dikarenakan bertambahnya konsentrasi Na2S2O3 menjadi 2M. Dari data
diatas dapat dilihat bahwa konsentrasi terbesar terdapat pada percobaan
ketiga,sehingga pada percobaan ketiga waktu yang diperlukan adalah yang
paling cepat. Hal in membuktikan bahwa semakin besar (pekat) konsentrasi
maka semakin cepat laju reaksinya.
Pada percobaan ke-4 berdasarkan pengaruh temperature pencampuran
0.1M Na 2S2O3 2 mL dengan 1M HCl 3mL, dimana Na2S2O3 dipanaskan
hingga 400C, ternyata waktu untuk hilangnya kertas adalah 23 detik. Pada
percobaan ke-5 pencampuran antara 0.1M Na2S2O3 2 mL dengan 2M HCl 3
mL didapatkan waktunya adalah 31 detik. Dari hasil pengamatan pada
percobaan ke-4 dan ke-5 diketahui telah terjadi kesalahan percobaan.
Seharusnya waktu yang diperlukan pada pecobaan ke-4 lebih lama dari
percobaan ke-5, karena jumlah konsentrasi pada percobaan ke-4 lebih kecil
daripada percobaaan ke-5. selain itu juga karena terjadinya penambahan
temperature pada Na2S2O3. Kesalahan ini terjadinya kemungkinan karena
lambatnya praktikan dalam memasang stopwatch atau juga karena turunnya
temperature lebih dulu sebelum dicampurkan dengan larutan HCl. Pada
percobaan ke-6, pencampuran antara 0.2M Na2S2O3 2 mL dengan 2M HCl 3
mL, ternyata waktu yang dibutuhkan agar tanda silang tak telihat lagi adalah
26 detik. Berdasarkan hasil pengamatan, waktu pada percobaan ke-6 jauh
97

lebih cepat dari percobaan ke-5. hal ini dikarenakan karena konsentrasi
Na2S2O3 ditambah hingga 0.2M dengan temperature 400C. dimana seperti kita
ketahui bahwa semakin tinggi temperature maka semakin cepat laju reaksinya.
Kenaikan laju reaksi ini disebabkan dengan kenaikan suhu akan menyebabkan
makin cepatnya molekul-molekul pereaksi bergerak sehingga memungkinkan
terjadi tabrakan antar molekul. Dari ke-6 pecobaan yang telah dilkuakan dapat
dibuktikan bahwa konsentrasi dan suhu mempengaruhi suatu laju reaksi.
Fungsi dari Na2S2O3 dan HCl adalah sebagai pereaksi, yang dalam
percobaan ini dipengaruhi oleh konsentrasi dan temperature. Pada saat
Na2S2O3 dan HCl dengan konsentrasi yang berlainan (bervariasi) direaksikan
maka akan terjadi suatu reaksi yang memerlukan waktu untuk menentukan
laju reaksi dari masing-masing percobaan. Dengan begitu akan memperoleh
orde reaksi, harga K, dan persamaan laju reaksinya. Prinsip percobaan pada
laju reaksi ini adalah didasarkan pada perubahan konsentrasi terhadap waktu.
Hal ini dapat dilihat pada percobaan Na2S2O3 0.1M dan 0.2M dengan larutan
HCl 1M dan 2M. dari setiap campuran yang berbeda konsentrasinya memilki
laju reaksi yang berbeda.
Pemanasan pada percobaan ini dilakukan pada temperature 400C
dikarenakan temperature tersebut merupakan ketetapan yang apabila suhu atau
tempratur tersebut diturunkan akan membuat laju reaksi lambat dan apabila
temperature tersebut dinaikkan akan membuat laju reaksi menjadi cepat.
Sehingga hal ini akan membuat Na2S2O3 menguap. Dengan begitu
menguapnya Na2S2O3 maka HCl tidak akan bisa bereaksi karena Na2S2O3 nya
tela habis menguap. Tentunya hal ini tidak dapat menentukan laju reaksi suatu
reaksi kimia. Sehingga pada temperature 400C inilah yang digunakan sebagai
pembanding antara suhu yang lebih rendah (temperature kamar).
Pada percobaan kali ini konsentrasi zat dibuat berbeda adalah untuk
menghasilkan suatu laju reaksi yang berbeda pula. Sehingga dapat
membandingkan laju reaksi suatu reaksi kimia satu sama lain baik yang
dipengaruhi oleh konsentrasi maupun temperature terhadap laju reaksi.
Dengan bertambahnya suatu konsentrasi zat maka laju reaksinya akan
98

semakin cepat pula, sehingga waktu yan diperlukan pun lebih sedikit
dibandingkan dengan kecilnya konsentrasi suatu zat. Karena zat yang
konsentrasinya kecil atau rendah mengandung jumlah pertikel yang lebih
sedikit, sehingga partikel-patkelnya lebih renggang disbanding zat yang
konsentrasina besar. Partikel yang susunannya lebih renggang akan jarang
bertumbukan sehingga kemungkinan terjadi reaksi kecil.
Dapat dilihat perbedaan antara larutan yang dipanaskan dan lautan yang
tidak dipanaskan atau anatara yang dipengaruhi oleh konsentrasi atau
temperature. Pada larutan yang tidak dipanaskan (dipengaruhi konsentrasi),
reaksi larutan berlangsung lambat dan laju reaksinya pun lebih kecil,
sebaliknya pada larutan yang dipanaskan (dipengaruhi oleh temperature),
reaksi larutan berlangsung dengan cepat dan laju reaksinya pun lebih besar.
Dalam melakukan percobaan laju reaksi terdapat berbagai kesalahan yang
dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu:
− Kurang teliti dalam melakukan perhitungan waktu yang menggunakan
stopwatch.
− Saat memanaskan larutan tidak sesuai dengan suhu yang ditentukan
− Tidak dilakukan pengadukan saat mencampurkan larutan.

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
− Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi yaitu luas permukaan,
konsentrasi, suhu, tekanan, dan katalis.
− Laju reaksi menyatakan ukuran kelajuan berlangsungnya reaksi kimia, dan
dapat ditentukan dengan mengukur laju berkurangnya salah satu pereaksi
atau laju terbentuknya suatu produk.
– Berdasarkan teori tumbukan, kelajuan reaksi bergantung pada:
∗ Frekuensi tumbukan
∗ Energi partikel pereaksi
99

∗ Arah tumbukan

5.2 Saran
diharapkan dalam melakukan praktikum laju reaksi janga hanya
mengganakan larutan Na2S2O3 dan HCl, tapi juga menggunakan larutan H2SO4
agar dapat dibandingkan laju reaksinya.

DAFTAR PUSTAKA

Keenan, Kleinfelter, Wood A. 1999.Kimia Untuk Universitas.Jakarta:Erlangga


Priyatna, Amien.2001.Kimia Universitas.Bandung:Teknokimia
Respah.1989.Dasar-dasar Ilmu Kimia.Jakarta:Rineka Cipta
Team Penyusun.2010.Penuntun Praktikum Kimia Dasar 1.Samarinda: Universitas
Mulawarman
100

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Unsur merupakan zat tunggal yang tidak dapat diuraikan secara kimia
menjadi zat lain yang lebih sederhana. Jenis unsur tidaklah terlalu banyak. Di
alam hanya 90 jenis unsur.
Beberapa golongan unsur dalam sistem periodik yang sangat menarik
untuk dipelajari tersendiri yaitu unsur-unsur yang sangat reaktif dan unsur-
unsur yang sangat sukar bereaksi dengan unsur lain. Unsur-unsur yang sukar
bereaksi dengan unsur lain yaitu unsur yang terdapat pada golongan gas mulia,
101

sedangkan unsur-unsur yang sangat reaktif meliputi unsur pada golongan


alkali dan alkali tanah.
Logam alkali dan alkali tanah adalah zat pereduksi yang sangat kuat,
karena begitu mudah kehilangan elektron. Mereka mudah bergabung dengan
kebanyakan unsur non-logam, membnetuk senyawa ion seperti halida, oksida,
dan sulfida.
Logam alkali adalah unsur-unsur yang termasuk golongan IA (kecuali
hidrogen) yaitu litium, natrium, kalium, rubidium, cesium, dan fransium.
Unsur-unsur ini memiliki susunan elektron pada kulit terluar ns1 dan
merupakan reduktor kuat.
Dalam percobaan ini, akan dibahas beberapa sifat-sifat unsur golongan,
akan terlihat bagaimana perbedaan kereaktifan golongan IA dan golongan IIA
dan bagaimana menentukan kelarutan garam sulfat dan garam hidroksida dari
endapan yang terbentuk, selain itu dapat diketahui reaksi yang terjadi pada
unsure golongan IA dan golongan IIA.

1.2 Tujuan
− Mengetahui perbedaan garam sulfat dengan garam hidroksida.
− Mempelajari beberapa sifat unsur golongan IA dan IIA.
− Mengetahui kereaktifan unsur-unsur golongan IA dan golongan IIA.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi unsur yaitu suatu zat tunggal yang tidak dapat diuraikan menjadi
zat-zat lain yang lebih sederhana dengan reaksi kimia sederhana. Sedangkan
sistem periodik unsur adalah susunan yang menggambarkan suatu letak keadaan,
periode, golongan, dan unsur kimia. Sistem periodik unsur disusun berdasarkan
kenaikan nomor atom (kenaikan jumlah proton dan muatan inti). Sistem periodik
dibagi menjadi periode yaitu unsur-unsur yang terletak dalam baris yang
horizontal dan golongan yaitu unsur yang terletak dalam kolom yang vertikal.

A. Golongan IA (Alkali)
102

Disebut juga unsur alkali karena sifat logam ini membentuk basa-basa
yang kuat. Dalam sistem periodik terletak terletak pada lajur paling kiri. Unsur-
unsur alkali merupakan unsur-unsur logam dengan satu elektron pada elektron
terluarnya. Unsur-unsur yang terletak dalam logam alkali adalah Litium (Li),
Natrium (Na), Kalium (K), Rubidium (Rb), Cesium (Cs), dan Fransium (Fr).

Sifat-sifat umum Li Na K Rb Cs
Nomor atom 3 11 19 37 55
Konfigurasi elektron 1s2 2s1 [He]3s1 [Ne]4s1 [Ar]5s1 [Kr]6s1
Titik leleh (K) 454 371 337 312 302
Titik didih (K) 1.609 1154 1039 967 952
Jari-jari atom ( Ắ) 1,34 1,54 4,3 4,2 3,9
Jari-jari ion (Ắ) 0,6 0,95 1,33 1,48 1,69
Energi ionisasi I (Kj/mol) 520 495 418 403 374
Energi ionisasi II (Kj/mol) 7298 4563 3051 2632 2420
Elektronegativitas 0,98 0,93 0,82 0,82 0,79
Poetnsial elektrode (volt) -3,04 -2,71 -2,93 -2,99 -3,02
Massa jenis (g/mol) 0,63 0,97 0,86 1,53 1,95

Dibandingkan dengan unsur-unsur lain yang seperiode unsur-unsur alkali


adalah unsur yang paling elektropositif. Paling mudah melepaskan elektron
valensinya. Hal ini sesuai dengan sifat keperiodikan unsur dalam sistem periodik.
Unsur-unsur alkali yang nomor atomnya terkecil dibanding unsur lain yang
seperiode. Gaya tarik intinya paling lemah dan untuk mencapai susunan elektron
gas mulia cukup melepaskan 1 elektron valensinya. Dalam golongan unsur-unsur
alkali makin ke bawah makin kuat sifat logamnya. Hal ini disebabkan karena
makin lemahnya gaya tarik intinya terhadap elektron-elektronnya yang terjauh,
maka makin mudah melepaskan elektronnya. Unsur-unsur yang banyak terdapat
di alam adalah unsur Natrium (Na) dan Kalium (K). Sedangkan yang paling
sedikit adalah unsur Fransium (Fr) yang bersifat radioaktif sehingga mudah
berubah menjadi unsur lain.

1. Sifat-Sifat Unsur Alkali


a. Unsur alkali adalah unsur-unsur logam putih mengkilap seperti kaca
atau perak, padat tapi lunak pada suhu normal kecuali Kalium (K) dan
Fransium (Fr) cair. Logam berwarna putih keperakan dengan kilap
logam yang khas. Tapi, permukaan yang baru diiris segera menjadi
buram karena bereaksi dengan udara.
103

b. Unsur-unsur alkali dapat bereaksi dengan air pada suhu biasa


membentuk basa dan gas hidrogen yang disertai pembebasab banyak
energi. Reaksinya:
2M + 2H2 ⇒ 2MOH + H2

− Natrium dan Kalium mengapung di atas air, karena massa jenis


logam lebih kecil daripada air.
− Reaksi antara Natrium dan Kalium dengan air bersifat eksoterm.
Kalor reaksinya menyebabkan logam Kalium dan Natrium yang belum
bereaksi mencair. Hal itu juga bahwa titik air logam itu bersifat relatif
rendah.
− Reaksi Natrium dan Kalium dengan air membentuk basa dan
hidrogen.
c. Unsur-unsur alkali bervalensi 1 dalam semua senyawa.
d. Basa yang berasal dari logam alkali adalah basa kuat. Semakin
bertambah atomnya, makin kuat sifat kebebasannya.
e. Logam-logam alkali bersifat reduktor kuat, makin ke bawah makin
kuat reduktornya.
f. Dengan unsur-unsur elektronegatif membentuk senyawa ionik dan
dengan asam membentuk garam.
g. Merupakan unsur yang sangat reaktif.
2. Sifat-sifat kimia atau reaksi-reaksi logam alkali juga sangat bersamaan.
Berikut hasil-hasil reaksi logam alkali:
a. Reaksi dengan air. Telah disebutkan bahwa logam alkali bereaksi

dengan air membentuk basa dan gas hidrogen. 2L + 2H2O ⇒ 2LOH


+ H2 (L= logam alkali).
b. Reaksi dengan Hidrogen. Logam alkali dengan Hidrogen membentuk
vindna, suatu senyawa ion yang hidrogennya mempunyai biloks-1.
c. Reaksi dengan Oksigen. Logam alkali dalam Oksigen membentuk
oksida, perioksida, atau superoksida. Dari Litium ke Cesium, daya ikat
terhadap Oksigen meningkat. Litium membentuk oksida biasa. Suatu
104

senyawa ion yang mengandung ion 02- (bilangan oksida= -2). Oleh
karena itu sangat mudah bereaksi dengan air dan Oksigen, maka logam
alkali biasanya disimpan dalam cairan yang inert seperti minyak tanah
(kerosin) atau di dalam botol yang diisolasi. Walaupun demikian,
permukaan logam itu sedikit demi sedikit bereaksi juga.
3. Jari-jari Atom
Dari Li sampai Fr jari-jari atom semakin besar. Hal ini sesuai dengan
kenaikan nomor atomnya. Dengan semakin besarnyajari-jari atom maka jarak
antara inti atom dan elektron valensinya semakin besar pula. Oleh karena itu
elektron valensinya makin lemah dan makin mudah melepas elektronnya.

4. Energi Ionisasi
Karena dari Li sampai Fr elektron valensinya makin mudah dilepas maka
energi ionisasinya semakin kecil dari Li sampai Fr. Hal ini disebabkan energi
yang diperlukan untuk melepas elektron valensi semakin kurang.

5. Keelektronegatifan
Unsur-unsur alkali adalah unsur-unsur elektronegatif. Dengan demikian
besar keelektronegatifannya relatif rendah dibandingkan unsur lainnya. Dari
Li sampai Fr keelektronegatifannya berkurang. Hal ini disebabkan jari-jarinya
semakin berkurang. Unsur-unsur logam alkali tidak terdapat dalam keadaan
bebas di alam, melainkan terdapat dalam bentuk NaCl pada air laut juga pada
garam. Na dan K adalah unsur keenam dan ketujuh paling banyak dalam kerak
bumi. Kedua unsur ini sangat penting dalam kehidupan. Sedangkan unsur-
unsur yang lain hanya sedikit terdapat di alam.

B. Golongan IIA (Alkali Tanah)


Dalam sistem periodik unsur alkali tanah terdapat pada golongan IIA,
yaitu lajur di sebelah kanan golongan logam alkali. Unsur-unsur golongan ini
disebut logam alkali tanah karena unsur-unsur ini bersifat alkali (basa) seperti
unsur-unsur golongan IA, unsur-unsur golongan IIA (alkali tanah) yaitu:
a. Berilium (Be)
b. Magnesium (Mg)
c. Kalsium (Ca)
d. Stronsium (Sr)
105

e. Barium (Ba)
f. Radium (Ra)
Sifat-sifat umum Be Mg Ca Sr Ba
Nomor atom 4 12 20 38 56
Konfigurasi elektron [He]2s2 [Ne]43s2 [Ar]4s2 [r]5s2 [Xe]6s2
Titik leleh (K) 1553 923 1111 1041 987
Titik didih (K) 3.043 1883 1713 1653 1913
Jari-jari atom ( Ắ) 1,12 1,6 1,97 2,15 2,22
Jari-jari ion (Ắ) 0,31 0,65 0,99 1,13 1,35
Energi ionisasi I (Kj/mol) 900 740 590 550 500
Energi ionisasi II (Kj/mol) 1800 1450 1150 1060 970
Elektronegativitas 1,57 1,31 1 0,95 0,89
Poetnsial elektrode (volt) -1,85 -2,37 -2,87 -2,89 -2,9
Massa jenis (g/mol) 1,86 1,75 1,55 2,6 3,6

Seperti halnya unsur-unsur alkali tanah sangat reaktif walaupun tak


sereaktif unsur alkali.

1. Sifat-Sifat Unsur Alkali Tanah


a. Merupakan unsur-unsur logam reaktif oleh karena itu di dalam
alam tak terdapat dalam keadaan bebas.
b. Pada suhu biasa merupakan zat padat berwarna putih mengkilap
seperti perak.
c. Merupakan logam bivalen yang memiliki a elektron pada kulit
terluarnya, oleh karena itu bilangan oksidasi unsur alkali tanah dalam
senyawa adalah +2.
d. Unsur-unsur alkali tanah sangat reaktif.
e. Dapat bereaksi dengan air pada suhu biasa, membentuk basa dan
Hidrogen, tetapi biasanya jauh lebih kecil dibanding logam alkali.
Reaksinya:M + 2H2O ⇒ M(OH)2 + H2

f. Dapat membentuk garam dengan energi unsur elektronegatif.


g. Basa yang dari unsur-unsur alkali tanah adalah basa kuat, kecuali
Mg(OH)2. Basa lemah dan Ba(OH)2 basa atmosfer, artinya disamping
dapat bereaksi dengan asam, dapat juga bereaksi dengan basa kuat,
sifatnya basa logam alkali tanah makin ke bawah makin kuat.
106

2. Jari-Jari Atom
Seperti pada logam alkali, dari Ba sampai Ra jari-jari atom bertambah
besar sehingga kedua elektron valensinya semakin mudah dilepas.

3. Energi Ionisasi
Unsur-unsur logam alkali tanah mempunyai 2 elektron valensi.
Ionisasinya dapat terjadi dengan melepaskan satu elektron valensi (energi
ionisasi pertama) dan kedua (energi ionisasi kedua).

M ⇒ M+ + e- (ionisasi ke-1)

M ⇒ M2+ + 2e- (ionisasi ke-2)

Ionisaisnya dari atas ke bawah semakin kecil karena jari-jari semakin


besar.

4. Keelektronegatifan
Unsur-unsur alkali tanah lebih keelektronegatifan ketimbang alkali. Hal
ini disebabkan jari-jari atomnya semakin besar, sehingga semakin sulit
untuk mengikat elektronnya.

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
− Gelas kimia
− Gunting
− Hot plate
107

− Penjepit tabung
− Pinset
− Pipet tetes
− Rak tabung reaksi
− Tabung reaksi
3.1.2 Bahan
− Aquades
− Indikator PP
− Larutan BaCl2 0,1 M
− Larutan CaCl2 0,1 M
− Larutan H2SO4 1 M
− Larutan NaOH 1 M
− Logam Kalium
− Pita Magnesium

3.2 Prosedur Percobaan


3.2.1 Kelarutan Garam Sulfat
− Disiapkan 2 tabung reaksi yang bersih
− Diisi masing-masing tabung dengan CaCl2 0,1 M, BaCl2 0,1 M 1 pipet.
− Ditambahkan 1 ml larutan H2SO4 1 M Kedalam masing-masing tabung
reaksi
− Diamati endapan yang terbentuk (dibnadingkan endapan yang ada
pada setiap tabung reaksi)
3.2.2 Kelarutan Garam Hidroksida
− Disiapkan 2 tabung reaksi yang bersih
− Diisi masing-masing tabung dengan CaCl2 0,1 M, BaCl2 0,1 M 1 pipet.
− Ditambahkan 1 ml larutan NaOH 1 M Kedalam masing-masing tabung
reaksi
− Diamati endapan yang terbentuk (dibnadingkan endapan yang ada
pada setiap tabung reaksi)
3.2.3 Reaktifitas Unsur
108

a) Reaktivitas Pita Magnesium


− Disiapkan gelas kimia berisi aquades secukupnya
− Dipanaskan hingga mendidih
− Dimasukkan pita Mg
− Diamati dan perhatikan reaksi yang terjadi(ditandai dengan
adanya gelembung-gelembung gas)
− Ditambahkan indikator PP
− Diamati perubahan warna yang terjadi
b) Reaktifitas Logam Kalium
− Disiapkan gelas kimia berisi aquades secukupnya
− Dimasukkan logam kalium kedalam gelas kimia
− Ditambahkan indikator PP
− Diamati perubahan warna yang terjadi

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


No. Perlakuan Pengamatan

1 Kelarutan garam sulfat


a. Larutan CaCl2 + larutan − larutan bening dan tidak ada
109

H2SO4 endapan di dalamnya.


- Dicampurkan larutan CaCl2
dan larutan H2SO4 di
tabung reaksi. − larutan yang tercampur
- Diamati menjadi putih dan mengeruh
b. Larutan BaCl2 + larutan serta terdapat endapan di
H2SO4 dasar tabung reaksi.
- Dicampurkan larutan BaCl2
dan larutan H2SO4 di
tabung reaksi.
- Diamati
2 Kelarutan Garam Hidroksida − Larutan yang tercampur
a. larutan CaCl2 + larutan menjadi putih dan mengeruh
NaOH serta terdapat banyak endapan
- Dicampurkan larutan di dasar tabung reaksi.
CaCl2 dan larutan NaOH
di tabung reaksi.
- Diamati − Larutan yang tercampur
menjadi putih dan mengeruh
b. Larutan BaCl2 + larutan serta terdapat sedikit endapan
NaOH di dasar tabung reaksi.
- Dicampurkan larutan BaCl2
dan larutan NaOH di
tabung reaksi
- Diamati
3 Reaktifitas unsur
a. Pita Mg + 2 ml H2O + − reaksi berlangsung sangat
indikator pp lambat sehingga perlu adanya
- Dipanaskan campuran pemanasan, muncul
antara Mg dan H2O gelembung pada pita Mg,
- Ditambah indikator pp larutan berwarna bening.
110

− larutan mengalami perubahan


warna karena bersifat basa.
Warna yang terbentuk warna
merah lembayung, karena
termasuk basa lemah dari
b. Logam K + 2 ml H2O + alkali.
indikator pp
- Dicampurkan logam K dan − reaksi yang terjadi secara
H2O di dalam gelas kimia. spontan dan terdapat
- Ditambahkan indikator pp gelembung pada larutan
ketika kalium dimasukkan
muncul letupan-letupan kecil.
− larutan mengalami perubahan
warna menjadi merah
lembayung dan bersifat basa
kuat.

4.2 Reaksi
4.2.1 Reaksi Kelarutan Garam Sulfat
- BaCl2 + H2SO4 → BaSO4 + 2HCl
- CaCl2 + H2SO4 → CaSO4 + 2HCl
4.2.2 Reaksi Kelarutan Garam Hidroksida
- BaCl2 + 2KOH → Ba(OH)2 + 2KCl
- CaCl2 + 2KOH → Ca(OH)2 + 2KCl
4.2.3 Reaksi Reaktivitas Unsur
− Mg + 2H2O → Mg(OH)2 + H2
− Mg(OH)2 + Indikator PP
111

- 2 K +2H2O → 2KOH +H2


KOH + PP

4.3 Pembahasan
Logam alkali (golongan IA) merupakan unsure yang sangat reaktif dan
mudah membentuk ion positif. Selain disebabkan oleh jumlah electron valensi
yang sedikit dan ukuran jari-jari atom yang besar, sifat ini juga disebabkan
112

oleh harga ionisasimnya lebih kecil dibandingkan unsure logam golongan lain.
Kereaktifan logam alkali dibuktikan dengan kemudahannya bereaksi dengan
air, unsure-unsur halogen, hydrogen oksigen dan belerang, kereaktifan ini
dipengaruhi oleh electron valensi dari unsure-unsur dan energi ionisasinya.
Logam alkali tanah (golongan IIA) bersifat pereduksi kuat. Semakin
kebawah, sifat pereduksi ini semakin kuat. Hal ini ditunjukkan oleh
kemampuan bereaksi dengan air yang semakin meningkat dari berilium ke
barium. Selain dengan air, unsur logam alkali tanah juga dapat bereaksi
dengan gas oksigen, hidrogen, nitrogen. Senyawa logam alkali tanah
kelarutannya meningkat dari berilium ke barium.
Sifat fisik logam alkali, memiliki titik leleh dan titik didih di atas suhu
ruangan(25oC). Semua unsur logam alkali berwujud padat pada suhu ruangan
khusus sesium, jika suhu lingkungan pada saat pengukuran melebihi 28oC,
unsur alkali berwujud cair.
Sifat fisik logam alkali tanah berwujud padat pada suhu ruangan,
kerapatan logam alkali tanah lebih besar dari kerapatan logam alkali sehingga
logam alkali tanah bersifat lebih keras dari logam alkali.
Apabila kita membandingkan kereaktifan antara golongan IA dan
golongan IIA, maka akan diperoleh bahwa golongan IA yang lebih reaktif.
Hal ini dikarenakan pada golongan IA memiliki jari-jari atom yang lebih besar
dibandingkan dengan golongan IIA, selain itu, karena golongan Ia melepas
elektron relatif lebih sedikit, sehingga daya reaktifnya semakin kuat,
sednagkan golongan IIA melepas dua elektron valensinya. Karena memiliki
kereaktifan yang kuat, maka tanpa dipanaskan logam kalium juga dapat
bereaksi. Fungsi ditetesi indikator PP yaitu untuk melihat perubahan warna
larutan basa yang terbentuk mengindikasikan tingkat kebasaan larutan
tersebut. Dimana fungsi indikator PP sendiri adalah untuk mengidentifikasi
ion OH- pada larutan. Jika semakin tua larutan, maka semakin kuat tingkat
kebasaan larutan tersebut.
Dalam larutan garam sulfat golongan IIA memiliki sifat kelarutan yang
kecil dimana kelarutan garam sulfat dari atas ke bawah dalam satu golongan
113

semakin kecil. Sebaliknya pada larutan garam hidroksida golongan IA


memiliki sifat kelarutan garam yang besar, dimana semakin kebawah dalam
satu golongan maka akan semakin besar.
Berdasarkan hasil percobaan didapatkan bahwa pada percobaan kelarutan
garam sulfat, apabila BaCl2 ditambahkan H2SO4 didapatkan endapan yang
banyak berwarna putih susu pekat, dan apabila CaCl2 ditambahkan H2SO4
didapatkan endapat yang sedikit berwarna putih susu. Hal ini dikarenakan
semakin kecil endapan, maka semakin besar kelarutan garam tersebut,
sehingga dapat disimpulkan bahwa garam sulfat dalam satu golongan semakin
kebawah kelarutannya semakin kecil. Garam sulfat adalah hasil reaksi dari
asam sulfat dengan larutan basa.
Percobaan kelarutan garam hidroksida, apabila BaCl2 ditambah NaOH
dihasilkan endapan yang sedikit dan berwarna putih yang membentuk larutan
koloid, dan apabila CaCl2 ditambahkan NaOH didapatkan endapan yang
banyak berwarna putih susu yang membentuk larutan koloid. Jadi hasil
kelarutannya, semakin besar dari atas kebawah dalam satu golongan, garam
hidroksida adalah hasil reaksi dari natrium hidroksida dengan suatu asam
lemah. Ksp adalah hasil kali kelarutan dalam suatu senyawa. Ksp garam sulfat
golongan IIA yaitu CaSO4 9,1x10-6, SrSO4 7,6x 10-1, BaSO4 1,1x10-10. Ksp
garam hidroksida golongan IIA yaitu Be(OH)2 2x10-18,Mg(OH)2 1,8x10-11
Ca(OH)2 5,5x10-6, Sr(OH)2 3,2x10 -4 dan Ba(OH)2 5x10 -3.
Percobaan reaktivitas unsur dadapatkan bahwa apabila logam kalium
ditambahkan aquades serta indikator PP menghasilkan warna merah
lembayung muda , dan pita magnesium ditambahkan aquades yang sudah
dipanaskan seta diberi indikator PP mengkasilkan warna merah lembayung
tua, jadi dapat dinyatakan bahwa reaksi logam kalium tingkat
kebasaannyalemah sedangkan reaksi pita magnesium tingkat kebasaannya
kuat. Karena semakin tua warna larutan, maka tingkat kebasaan larutan
tersebut akan semakin besar.
Dalam melakukan percobaan sifat-sifat unsur terdapat beberapa kesalahan
yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
114

− Saat melakukan percobaan, praktikan tidak menggunakan alat pengaman,


sehingga saat mencampurkan unsur kurang ketelitian dikarenakan takut
terkena larutan tersebut.
− Reaksi pita magnesium dengan aquades yang telah dipanaskan tidak
terjadi reaksi secara optimal, karena pita magnesium terlalu cepat
didicampurkan ke aquades sebelum aquades tersebut mendidih, hal itu
dapat mempengaruhi hasil kali kelarutan tersebut.
− Saat mengambil logam kalium tidak menggunakan pinset, sehingga
terdapat kesusahan dalam mencampurkan kedalam aquades.

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
115

− Kereaktifan untuk unsure logam alkali dan alkali tanah semua sama, yaitu
kereaktifan dari unsure-unsurnya bertambah dari atas ke bawah dan pada
dasarnya kereaktifan lagam alkali dan alkali tanah berkaitan dengan energi
ionisasinya yang rendah, sehingga mudah melepaskan electron
− Kelarutan garam sulfat dalam satu golongan dari atas ke bawah semakin
kecil, sedangkan kelarutan garam hidroksida, dalam satu golongan dari
atas kebawah semakin besar.
− Sifat unsure golongan alkali yaitu: konfigurasi electron valensi adalah ns1,
energi ionisasi relative rendah, serta dalam satu golongan energi ionisasi,
titik didih dan titik leleh, dari ats ke bawah semakin kecil. Sedangkan sifat
unsure golongan alkali tanah yaitu: jari-jari atom lebih kecil dari golongan
alkali, merupakan logam yang lunak dan dapat menghantarkan listrik dan
panas yang baik serta konfigurasi electron valensinya ns2.

5.2 Saran
Percobaan yang dilakukan sebaiknya tidak hanya terbatas pada BaCl2 dan
CaCl2 tetapi unsure yang lain juga agar lebih banyak perbandingan, seperti
MgCl2 dan SrCl2.

DAFTAR PUSTAKA

Brady, James. 1999. Kimia Untuk Universitas. Jakarta: Binarupa Aksara


116

Petrucci, Ralph, H. 1987. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga


Suhartono. 1983. Ilmu Kimia. Yogyakarta: Gadjah Mada