Anda di halaman 1dari 20

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Banyak bahan kimia yang digunakan untuk praktikum berbentuk larutan.
Untuk membuat larutan pada umumnya digunakan pelarut air. Ada beberapa
larutan yang menggunakan pelarut lain.
Sebenarnya larutan terjadi jika atom, molekul, atau ion dari suatu zat
semuanya terdispersi (larut). Larutan terdiri atas zat yang dilarutkan (solute)
dan pelarut (solven). Untuk larutan gula dalam air, gula merupakan zat terlarut
dan pelarutnya adalah air. Untuk larutan alcohol dalam air, tergantung dari
banyaknya zat yang paling dominant. Karena itu dapat dikatakan larutan air
dalam alkohol atau larutan alkohol dalam air.
Larutan hendaknya dibuat secukupnya saja, misalkan untuk keperluan satu
semester. Tetapi harus diingat bahwa ada larutan yang tidak tahan disimpan
lama, misal larutan kanji, larutan kalium heksasianoferat (III) dan lain-lain.
Larutan-larutan semacam ini hendaknya dibuat seandainya akan digunakan.
Jenis serta banyaknya larutan yang dibuat bergantung pada jumlah percobaan
yang akan dilakukan serta jumlah praktikan yang akan melakukan percobaan
itu.
Dalam praktikum ini akan dilakukan percobaan tentang pembuatan larutan
dimana praktikan diharapkan dapat mengetahui serta memahami tentang
konsentrasi suatu larutan yang ada atau yang akan dibuat. Dalam hal ini akan
diketahui apakah larutan tersebut akan terlarut sempurna atau tidak.
Dalam percobaan ini pula, kita dapat mengetahui cara-cara ataupun
prosedur ketika mencampurkan suatu larutan yang mana ukurannya telah
ditentukan terlebih dahulu. Percobaan ini akan membahas mengenai
konsentrasi larutan yang dapat dinyatakan dengan beberapa cara antara lain :
molaritas, molalitas, normalitas, persen berat dan volum, ppm dan lain
sebagainya.
2

1.2 Tujuan
− Mempelajari cara pembuatan larutan dari bahan cair dan padat dengan
konsentrasi tertentu.
− Mengetahui perbedaan larutan jenuh dengen larutan tidak jenuh.
− Mengetahui perbedaan larutan homogen dengan larutan heterogen.
3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Larutan
Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat
yang terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya
dapat bervariasi. Larutan dapat berupa gas, cairan atau padatan. Larutan encer
adalah larutan yang mengandung sejumlah kecil solute, relatif terhadap jumlah
pelarut. Sedangkan larutan pekat adalah larutan yang mengandung sebagian
besar solute. Solute adalah zat terlarut, sedangkan solvent (pelarut) adalah
medium dalam mana solute terlarut. Faktor yang mempengruhi kelarutan
suatu zat antara lain adalah tekanan, sifat zat, suhu, dan luas permukaan.
Semua gas pada umumnya dapat bercampur dengan sesamanya (misibel).
Karena itu semua campuran gas adalah larutan. Meskipun demikian campuran
fase gas jarak pisah antaranya molekul relative jauh, sehingga tidak dapat
saling tarik-menarik secara efektif. Larutan dapat berfase padat, dalam larutan
pada pelarutnya adalah zat padat. Kemampuan membentuk larutan padat
sering terdapat pada logam dan larutan tertentu dimana atom terlarut
mengerahkan beberapa atom pelarut dalam larutan padat lain. Atom terlarut
dapat mengisi kisi atau lubang dalam kisi pelarut. Pembentukan larutan padat
ini terjadi apabila atom terlarut cukup kecil utnuk memasuki lubang-lubang
dan diantara atom pelarut.
Pada umumnya zat yang digunakan sebagai pelarut adalah air, selain air
yang berfungsi sebagai pelarut adalah alkohol amoniak, kloroform, benzena,
minyak, asam asetat, akan tetapi kalau menggunakan air biasanya tidak
disebutkan pelarutmya.

2.2 Konsentrasi Larutan


Untuk menyatakan komposisi larutan secara kuantitatif digunakan
konsentrasi. Konsentrasi adalah perbandingan jumlah zat terlarut dan jumlah
4

pelarut, dinyatakan dalam satuan volume (berat, mol) zat terlarut dalam
sejumlah volume tertentu dari pelarut. Berdasarkan hal ini muncul satuan-
satuan konsentrasi, yaitu fraksi mol, molaritas, molalitas, normalitas, ppm
serta ditambah dengan persen massa dan persen volume.
Banyak cara menentukan konsentrasi larutan yang semuanya menyatakan
kuantitas zat terlarut dalam kuantitas pelarut atau larutan. Dengan demikian,
setiap sistem konsentrasi harus menyatakan hal-hal sebgai berikut :
a. Satuan yang digunakan untuk zat terlarut
b. Kuantitas kedua dapat berupa pelarut atau larutan keseluruhan
c. Satuan yang digunakan untuk kuantitas kedua konsentrasi.
Untuk membuat larutan dengan konsentrasi tertentu harus diperhatikan:
1. Apabila dari padatan, pahami terlebih dahulu satuan yang diinginkan.
Berapa volum atau massa larutan yang akan dibuat.
2. Apabila larutan yang lebih pekat, satuan konsentrasi larutan yang
diketahui dengan satuan yang diinginkan harus disesuaikan. Jumlah zat
terlarut sebelum dan sesudah pengenceran adalah sama, dan memenuhi
persamaan :
M1V1 = M2V1
M1 : Konsentrasi larutan sebelum diencerkan
V1 : Volume larutan atau massa sebelum diencerkan
M2 : Konsentrasi larutan setelah diencerkan
V2 : Volume larutan atau massa setelah diencerkan
Konsentrasi dapat dinyatakan dengan beberapa cara, yaitu:
1. Molaritas
Molaritas ialah jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan. Dimensi
molaritas ialah mol/L atau mol L-1 , disingkat M dan diucapkan molar.
Larutan yang mengandung 1 mol zat terlarut dalam 1 liter larutan disebut 1
molar dan ditulis 1 M.
5

Rumus Molaritas
Ket Ket : M = Molarits
n n = mol
M=
V V = volume dalam larutan

atau
Ket : g = massa zat terlarut

g 1000 Mr = massa relatif zat terlarut


M= X V = volum dalam ml
Mr V

Molaritas ialah cara yang paling lazim untuk menyatakan komposisi


larutan encer. Untuk pengukur yang cermat cara ini kurang
menguntungkan karena sedikit ketergantungan pada suhu. Jika larutan
dipanaskan atau didinginkan, volume berubah sedangkam mol akan tetap
sehingga molaritas akan berubah.
2. Molalitas
Molalitas ialah jumlah zat terlarut pada tiap kilogram pelarut, dalam
molalitas tidak ada volume, namun massa yang tidak berepengaruh pada
suhu.
Rumus molalitas

Ket : m = molalitas
m=n n = mol
P
P = massa pelarut (Kg)

atau

Ket : g = massa terlarut


g
1000
m= X Mr = massa relatif terlarut
Mr P
P = massa pelarut (Kg)
6

3. Persen Massa
Persen massa atau sering disebut persen bobot per bobot (% b/b),
menyatakan jumlah massa zat terlarut dalam 100 bagian massa larutan
Rumus persen massa :

% massa = massa zat terlarut x 100 %


massa larutan
4. Persen Volume
Persen volume atau persen volum per volum (% V/V) menyatakan jumlah
zat terlarut dalam 100 bagian volume larutan.
Rumus persen volume

Volume zat terlarut


% volume = x 100 %
Volume larutan

5. ppm
ppm (part per million) menyatakan jumlah bagian komponen dalam sejuta
bagian campuran.
Rumus ppm :

massa zat terlarut (komponen)


ppm massa = x 100 %
massa larutan (campuran)

massa zat terlarut (komponen)


ppm volume = x 100 %
massa larutan (campuran)

6. Fraksi Mol
Fraksi mol menyatakan perbandingan mol zat terlarut dengan jumlah mol
seluruh larutan (mol terlarut + mol pelarut).
Rumus Fraksi mol :
larutan terhadap jumlah seluruh zat dalam larutan.
7

nA Ket : XA = fraksi mol pelarut


XA =
nA + nB nA = mol zat terlarut
nB = mol zat pelarut
7. Normalitas
Normalitas menyatakan jumlah garam ekuivelen zat terlarut dalam 1 liter
larutan. Satuannya dilambangkan dengan N dan disebut Normal.
Rumus Normalitas :
N = grek atau N = 1000 x gr x valensi

V V Mr
Valensi menyatakan banyaknya ion H atau OH- (dalam larutan asam dan
+

basa) yang dilepaskan.

2.3 Komponen Larutan


Suatu larutan terdiri atas dari dua komponen yang penting. Biasanya salah
satu komponen yang mengandung jumlah zat yang lebih banyak disebut
pelarut (solvent). Pelarut dipandang sebagai pembawa atau medium zat
terlarut yang dapat berperan serta dalam reaksi kimia. Kemudian, komponen
lainnya yang mengandung zat yang lebih sedikit disebut zat terlarut (solute).
Kedua komponen dalam larutan dapat sebagai pelarut atau terlarut tergantung
komposisinya. Larutan di bagi menjadi tiga jenis yitu:
1. Larutan tak jenuh yaitu larutan yang mengandung solute kurang dari yang
diperlukan untuk membuat larutan jenuh.
2. larutan jenuh yaitu suatu larutan yang mengandung sejumlah solute yang
larut dan mengadakan kesetimbangan dengan solute padatnya.
3. Larutan lewat jenuh yaitu larutan yang mengandung lebih banyak solute
yang diperlukan dari pada solvent.
Berdasarkan banyak sedikitnya zat terlarut dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Larutan pekat merupakan larutan yang mengandung relatif lebih banyak
solute.
2. Larutan encer merupakan larutan yang relatif sedikit mengandung solute.
8

2.4 Pembuatan Larutan


Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi)
dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih
besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadang-
kadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi pada
pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan
aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh
sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang
dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak mendidih
dan menyebabkan asam sulfat memercik. Jika kita berada di dekatnya,
percikan asam sulfat ini merusak kulit.

2.5 Prinsip Kelarutan


Dua senyawa dapat bercampur (micible) lebih mudah bila gaya tarik antar
molekul terlarut dan pelarut semakin besar. Besarnya gaya tairk ini ditentukan
oleh jenis ikatan pada masing- masing molekul. Bila gaya tari antara
molekulnya termasuk dalam kelompok yang sama (misalnya air dan etanol),
maka keduanya akan saling melarutkan. Sedangkan bila kekuatan gaya tarik
antara molekulnya berbeda jenis (misalnya air dan heksana), maka tidak akan
saling melarutkan.
Dalam ilmu kimia dikenal suatu ungkapan ”Like Dissolves Like,” yaitu
jika molekul terlarut dalam pelarut mirip, maka akan mudah bercampur.
Secara umum, terdapat kecenderungan kuat bagi senyawa non polar, dan
senyawa kovalen polar atau senyawa ion larut ke dalam pelarut polar. Dengan
kata lain ”sejenis melarutakan sejenis,” dimana sejenis di sini menunjukkan
persamaan dalam hal kekuatan gaya tarik antara molekulnya.
9

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
− Batang pengaduk
− Corong kaca
− Enlemeyer
− Gelas kimia 100 mL
− Labu takar 100 mL
− Neraca analitik
− Pipet tetes
− Pipet ukur 10 mL
− Sendok
3.1.2 Bahan
− Alumunium foil
− Aquadest
− BaCl2
− H2SO4
− Tissu

3.2 Prosedur Percobaan


3.2.1 Pembuatan Larutan BaCl2
− Ditimbang BaCl2 sebanyak 5,20 gram menggunakan alumunium foil.
− Pindahkan secara kuantitatif ke dalam gelas kimia 100 mL yang berisi
dan telah dibilas dengan aquades
− Tambahkan aquades dan aduk hingga larut sempurna
− Dipindahkan secara kuantitatif ke dalam labu takar 100 ml dengan
menggunakan corong kaca, dimana hasil bilasannya dimasukkan ke
dalam labu takar 100 mL
10

− Ditambahkan akuades ke dalam labu takar 100 mL hingga tanda batas


dengan menggunakan pipet tetes
− Ditutup labu takar dan dibolak-balikkan labu takar sambil dipegang
tutupnya selama beberapa kali.
3.2.2 Pembuatan Larutan H2SO4
− Dipipet 5,6 ml H2SO4 pekat dan dimasukkan ke dalam labu takar
100 ml yang telah diisi dengan akuades sebanyak 50 ml.
− Dibiarkan hingga labu takar terasa dingin, kemudian ditambahkan
akuades hingga tinggi permukaan larutan 0,5 cm hingga 1 cm
− Keringkan aquades yang menempel pada leher labu takar dengan
menggunakan tiisu
− Dengan menggunakan pipet tetes tambahkan aquades hingga tanda
batas
− Ditutup labu takar dan dibolak-balikkan labu takar sambil dipegang
− tutupnya selama beberapa kali.
11

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penganmatan


No. Percobaan Pengamatan
1 Larutan BaCl2 - Dik ; M = 0,1 M ; Mr
- Dihitung berapa gram BaCl2 BaCl2 = 208 ; Vair = 250 mL
yang dibutuhkan Dit = gram…..?
- Ditimbang Penyelesaian
- Dilarutkan dengan aquades M = (gr/Mr)x(1000/ Vair)
sampai 250 mL dalam labu 0,1 = (gr/208)x(1000/250)
takar 20,8 = 4 x gr
- Dihomogenkan Gr = 20,8/4
Gr = 5,2 gram
- BaCl2 ditmbang sebanyak
5,20 gram
- BaCl2 larut dalam aquades
- Larutan berwarna bening

2 Larutan H2SO4 - Dik ; M1 = 1 M , M2 = 18


- Dihitung volume H2SO4 M
pekat sesuai konsentrasi V1 = 100 mL
yang diinginkan Dit = V2=....mL?
- Diambil H2SO4 pekat Penyelsaian
dengan pipet ukur V1 x M1= V2 M2
- Dilarutkan dengan aquades 100 (1) = V2 x M2
sampai 100 mL dalam labu 100 = V2 x 18
takar V2 = 100/18
- Diamati V2 = 5,6 mL
- H2SO4 berwarna coklat
bening dan berbau tajam
12

- Setelah di larutkan labu


takar terasa panas
- Larutan H2SO4 pekat
bening dan baunya
bekurang (tidak berbau
tajam)

4.2 Perhitungan
4.2.1 Perhitungan Pembuatan Larutan BaCl2
Dik : M = 0,1 M
Mr BaCl2 = 208
Vair = 250 mL
Dit : gr = ……. Gram
Penyelesaian:
M = (gr/Mr)x(1000/ Vair)
0,1 = (gr/208)x(1000/250)
20,8 = 4 x gr
Gr = 20,8/4
Gr = 5,2 gram
4.2.2 Perhitungan Pembuatan Larutan H2SO4
Dik ; M1 = 1 M , M2 = 18 M
V1 = 100 mL
Dit = V2=....mL?
Penyelsaian:
V1 x M1= V2 M2
100 (1) = V2 x M2
100 = V2 x 18
V2 = 100/18
V2 = 5,6 mL
13

4.3 Pembahasan
Larutan merupakan campuran homogen dari molekul atom ion dari dua zat
atau lebih, karena susunannya dapat berubah-ubah larutan sering disebut juga
sebagai campuran. Larutan terdiri dari zat yang terlarut(solute) dan
pelarut(solvent). Solute disebut sebagai fase dalam (fase terdispersi) karena
berada dalam jumlah sedikit sedangkan solvent di sebut sebagai fase luar (fase
pendispersi) karena memiliki jumlah lebih banyak di bandingkan solute.
Dalam percobaan yang dilakukan adalah pembuatan larutan BaCl2 yang
dilarutkan dalam air dan pembuatan H2SO4 yang diencerkan dengan air,
dimana BaCl2 dan H2SO4 pekat adalah solute dan air adalah solvent.
Campuran adalah penggabungan dia atau lebih zat dimana dalam
penggabungan ini, zat-zat tersebut mempertahankan identitas masing-masing.
Berdasarkan sifatnya, campuran dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1. Campuran homogen, merupakan campuran yang tidak bisa dibedakan
antara zat-zat yang bercampur didalamnya. Seluruh bagian dalam
campuran homogenmempunyai sifat yang sama.
2. Campuran heterogen, merupakan campuran yang mengandung zat-zat
yang tidak dapat bercampur satu dengan yang lain secara sehingga dapat
dibedakan partikel sifat dari zat yang tercampur tersebut, seperti bentuk
dan warna.
Untuk membuat suatu larutan perlu dihitung konsentrasinya terlebih
dahulu. Dalam menghitung knsentrasi dapat dinyatakan dengan molaritas,
molalitas, normalitas, fraksi mol (x), persen beratppm dan mg persen.
Konsentrasi merupakan perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah total
zat dalam larutan, atau perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah
pelarut.
1. Molaritas
Molaritas ialah jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan. Dimensi
molaritas ialah mol/L atau mol L-1 , disingkat M dan diucapkan molar.
14

Larutan yang mengandung 1 mol zat terlarut dalam 1 liter larutan disebut 1
molar dan ditulis 1 M.
Rumus Molaritas
Ket Ket : M = Molarits
n n = mol
M=
V V = volume dalam larutan

atau
Ket : g = massa zat terlarut

g 1000 Mr = massa relatif zat terlarut


M= X V = volum dalam ml
Mr V

Molaritas ialah cara yang paling lazim untuk menyatakan komposisi


larutan encer. Untuk pengukur yang cermat cara ini kurang
menguntungkan karena sedikit ketergantungan pada suhu. Jika larutan
dipanaskan atau didinginkan, volume berubah sedangkam mol akan tetap
sehingga molaritas akan berubah.
2. Molalitas
Molalitas ialah jumlah zat terlarut pada tiap kilogram pelarut, dalam
molalitas tidak ada volume, namun massa yang tidak berepengaruh pada
suhu.
Rumus molalitas

Ket : m = molalitas
m=n n = mol
P
P = massa pelarut (Kg)

atau

g 1000 Ket : g = massa terlarut


m= X Mr = massa relatif terlarut
Mr P
15

P = massa pelarut (Kg)

3. Persen Massa
Persen massa atau sering disebut persen bobot per bobot (% b/b),
menyatakan jumlah massa zat terlarut dalam 100 bagian massa larutan
Rumus persen massa :

% massa = massa zat terlarut x 100 %


massa larutan
4. Persen Volume
Persen volume atau persen volum per volum (% V/V) menyatakan jumlah
zat terlarut dalam 100 bagian volume larutan.
Rumus persen volume

Volume zat terlarut


% volume = x 100 %
Volume larutan

5. ppm
ppm (part per million) menyatakan jumlah bagian komponen dalam sejuta
bagian campuran.
Rumus ppm :
massa zat terlarut (komponen)
ppm massa = x 100 %
massa larutan (campuran)

massa zat terlarut (komponen)


ppm volume = x 100 %
massa larutan (campuran)

6. Fraksi Mol
Fraksi mol menyatakan perbandingan mol zat terlarut dengan jumlah mol
seluruh larutan (mol terlarut + mol pelarut).
Rumus Fraksi mol :
larutan terhadap jumlah seluruh zat dalam larutan.

nA Ket : XA = fraksi mol pelarut


XA =
16

nA + nB nA = mol zat terlarut


nB = mol zat pelarut
7. Normalitas
Normalitas menyatakan jumlah garam ekuivelen zat terlarut dalam 1 liter
larutan. Satuannya dilambangkan dengan N dan disebut Normal.
Rumus Normalitas :
N = grek atau N = 1000 x gr x valensi

V V Mr
Valensi menyatakan banyaknya ion H+ atau OH- (dalam larutan asam dan
basa) yang dilepaskan.

Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi)


dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih
besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadang-
kadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi pada
pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan
aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh
sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang
dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak mendidih
dan menyebabkan asam sulfat memercik. Pelarut harus ditambahkan sedikit
demi sedikit sampai volume larutan mencapai tanda batas labu takar. Saat
pembuatanlarutan H2SO4 terjadi reaksi eksoterm yaitu melepaskan panas dari
sistem ke lingkungan, temperatur dari campuran reaksi akan naik dan energi
potensial dari zat-zat kimia yang bersangkutan akan turun. Sedangkan untuk
reaksi endoterm yaitu menyerap panas dari lingkungan ke sistem, temperatur
dari campuran reaksi akan turun dan energi potensial dari zat-zat imia tersebut
akan naik.
Proses pembuatan larutan di awali dengan menghitung berapa massa
larutan BaCl2 yang dibutuhkan, setelah itu ditimbang agar massa yang
dibutuhkan tepat, kemudian dilarutkan dengan aquades dengan tujuan agar
larutan BaCl2 larut dengan aquades, dan dimasukkan kedalam labu takar
17

kemudian dihomogenkan berfungsi untuk membuat larutan tercampur dengan


sempurna.
Adanya adhesi dan kohesi partikel-partikel atau molekul-molekul zat
mengakibatkan adanya sifat-sifat khusus zat cair yang ditempatkan kedalam
labu takar yaitu meniskus cekung dan meniskus cembung. Meniskus cekung
merupakan tanda batas bawah dimana air dalam labu takar permukaannya
cekung, hal ini disebabkan karena kohesi air lebih kecil daripada adhesi air
dengan kaca. Meniskus cembung merupakan tanda batas atas dimana air
dalam labu takar permukaannya cembung, hal ini disebabkan karena kohesi
raksa lebih besar dari adhesi raksa dengan kaca.
Prinsip percobaan pembuatan larutan di dasarkan pada konsentrsi suatu zat
yang akan dibuat, serta menggunakan ketelitian tinggi, karena jika terjadi
kesalahan yang kecil, maka larutannya tidak akan menjadi larutan yang
diinginkan.
Larutan standar primer adalah larutan yang dapat digunakan untuk
menghasilkan larutan yang stabil dan konsentrasinya dapat diukur. Larutan ini
normalitasnya dapat diketahui dari hasil penimbangan dan pelarutan volume
tertentu. Contohnya asam oksalat, boraks, NaCl, seng sulfat.
Larutan standar sekunder adalah larutan yang stabil atau konsentrasinya
tidak dapat dipastikan, normalitsnya baru akan diketahui setelah dilakukan
pembakaran dengan larutan standar primer. Contohnya NaOH, H2SO4 dan
HCl.
Dalam melakukan percobaan pembuatan larutan terdapat beberapa
kesalahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
− Kurang teliti dalam menakar dan menambahkan quades, sehingga
melebihi batas ukuran yang telah ditentukan.
− Alat-alat yang telah digunakan,

Pembuatan larutan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,


contohnya:
− Pembuatan larutan cuka
18

− Pembuatan kaldu ayam


− Pembuatan sirup dan jus

BAB 5
PENUTUP
19

5.1 Kesimpulan
− Untuk membuat larutan dari bahan cair dan padat dilakukan
dengan cara mencampurkan bahan cair dan padat kedalam gelas kimia,
kemudian diaduk.
− Larutan tak jenuh yaitu larutan yang mengandung solute kurang
dari yang diperlukan untuk membuat larutan jenuh. Sedangkan larutan
jenuh yaitu suatu larutan yang mengandung sejumlah solute yang larut dan
mengadakan kesetimbangan dengan solute padatnya.
− Larutan homogen adalah suatu keadaan larutan dimana dua zat
menjadi sama sifatnya karena bergabung, sedangkan larutan heterogen
adalah suatu keadaan larutan dimana dua zat bercampur, namau masih
dapat dibedakan unsur-unsurnya.

5.2 Saran
Diharapkan sebelum melakukan praktikum, praktikan terlebih dahulu
mengetahui proses pembuatan larutan agar tidak terjadi kesalahan dalam
pembuatan larutan

DAFTAR PUSTAKA

Anshary, Irfan. 1999. Kimia Dasar 1. Jakarta: erlangga


20

Baroroh, Uni, L. U. 2004. Kimia Dasar 1. Banjar Baru: Universitas Lambung


Mangkurat.
Gunawan, Adi dan Roewati. 2004. Konsep Dasr Kimia Analitik. Jakarta:
Universitas Indonesia
Petrucci, Ralph, H. 1996. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Bogor:
Erlangga