Anda di halaman 1dari 174

Peter Kasenda

Sketsa Sosok Soekarno

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 1
Email: mr.kasenda@gmail.com
Daftar Isi

Soekarno dan Historiografi


1 Soekarno : Sebuah Dilemma Dalam Penulisan Sejarah Indonesia
2 Studi tentang Soekarno : Sebuah Catatan
3 Kontroversi Di Sekitar Soekarno : Peran Soekarno dalam G-30-S
4 Polemik tentang Soekarno dan Pancasila
5 Soekarno, Kutu Buku dan Koleksi Buku
6 Mengenang Pahlawan Proklamator : Soekarno Pejuang Pemikir
7 Soekarno dan Hatta : Pahlawan Proklamator
Buah Pikiran Soekarno
8 Soekarno, Pers dan Politik
9 Soekarno, Kapitalisme dan Imperialisme
10 Soekarno dan Marxisme
11 Soekarno dan Islam
12 Soekarno, 1 Juni 1945 dan Pancasila : Suatu Penjelasan
13 Soekarno, Islam dan Pancasila
14 Soekarno dan Persatuan
15 Pengaruh Islam pada Pemikiran Politik Soekarno
16 Soekarno, Marhaen dan PNI
Soekarno dalam Kemelut Sejarah
17 Soekarno dan Rakyat
18 Kepemimpinan Soekarno – Hatta
Dalam Revolusi Kemerdekaan 1945-1949
19 Politik Luar Negeri Soekarno
20 Soekarno, Diplomasi dan Konfrontasi
21 Soekarno, Banteng dan Pemilu
22 Soekarno dan Golkar
23 Kesaksian mengenai Soekarno
24 Soekarno, Wayang dan Ratu Adil
Tragedi Soekarno
25 Tragedi Anak Asuh Tjokroaminoto
Soekarno, Musso dan Kartosuwiryo
26 Soekarno, DN Aidit dan PKI
27 Onghokham Menimbang Bung Karno
28 Soekarno, Wanita dan Kekuasaan

Bibliografi
Biodata Penulis

2
Peter Kasenda

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 3
Email: mr.kasenda@gmail.com
Soekarno:
Sebuah Dilemma Dalam Penulisan Sejarah Indonesia

Harian Prioritas (29 September 1986) menurunkan berita utama sekitar


pencalonan putra-putri Soekarno oleh Partai Demokrasi Indonesia. Sementara jauh
sebelumnya Harian Prioritas pada tanggal 7 Juni 1986 memuat hasil wawancara dengan
Rachmawati Soekarnoputri, putri mendiang Proklamator Republik Indonesia. Dalam
tulisan tersebut, dia mengatakan bahwa “sejak tahun 1973 hingga sekarang orang-orang
yang tidak senang kepada mendiang Soekarno masih saja melakukan pengecilan arti
paham dan ajaran-ajarannya serta hasil perjuangannya”. Ternyata wawancara tersebut
mendapat tanggapan dari Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Suryadi, Sekretaris
Jendral Golongan Karya Sarwono Kusumaatmaja dan HD Haryo Sasongko. Bertitik tolak
dari pernyataan diatas tersebut, maka tulisan ini akan mencoba memberi uraian semampu
mungkin dalam meletakkan Soekarno sebagai pahlawan proklamator dan manusia dalam
sejarah Indonesia lewat karya-karya sejarah yang tersedia.

Memang tidak mudah menulis tentang Soekarno secara obyektif. Ada orang-
orang yang masih saja tidak melupakan kesalahan-kesalahannya di masa lalu dan di lain
pihak ada juga orang-orang yang mencoba mengkultuskannya bagaikan seorang dewa.
Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan orang bahwa menulis tokoh kontroversial
semacam Soekarno diperlukan waktu yang cukup lama untuk dapat mengambil jarak
dengan tokoh yang dibicarakan tersebut. Kalau mau menelusuri sepanjang sejarah
penulisan sejarah Indonesia berkaitan dengan nama bekas Presiden Republik Indonesia
Pertama, maka tidak jarang ditemukan polemik yang berkepanjangan dan sepertinya tak
kunjung selesai. Perdebatan tersebut selalu berkisar masalah bagaimana menempatkan
Soekarno dalam sejarah Indonesia secara proporsional.

80 Buku

Semasa Soekarno menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia Pertama beredar


sebuah buku dengan judul Soekarno, An Autobiografi as told to Cindy Adams ( New
York : The Bobbs-Merrill Company Inc, 1965). Buku ini diterjemahkan oleh Abdul Bar
Salim dengan judul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia ( Jakarta : Gunung
Agung, 1966). Sebagai karya sejarah popular, autobiografi tersebut tentu saja kadar
subyektifitas dapat dikatakan tinggi. Seringkali apa yang diutarakan dalam buku tersebut
tampaknya bukan merupakan fakta yang sebenarnya, hal tersebut tentunya menjadi tugas
sejarawan untuk mendapatkan fakta-fakta yang memang benar adanya.

Ada baiknya menyimak apa yang dikatakan Soekarno berkaitan dengan keinginan
menulis buku tersebut. Dia mengatakan bahwa “untuk mendapatkan simpati dan meminta
supaya setiap orang suka kepadaku. Harapan hanyalah, agar menambah pengertian yang
lebih baik terhadap Indonesia yang tercinta.” Dari kalimat tersebut dapat diketahui bahwa

4
Peter Kasenda

sebenarnya ada keinginan dari Soekarno untuk membela diri serangan-serangan yang
ditujukan kepadanya terutama sekali kecaman-kecaman yang diperoleh dari pers Barat.
Tidak jelas apakah, dengan adanya buku tersebut, maka orang mau mengerti tentang
dirinya sebagai pahlawan dan manusia. Tetapi yang jelas, Soekarno telah menjelaskan
siapa sebenarnya dirinya

Setahun kemudian terbit sebuah biografi yang ditulis Solichin Salam dalam judul
Bung Karno Putera Sang Fajar. ( Jakarta : Gunung Agung, 1966). Berbeda
dengan autobiografi Soekarno, biografi Soekarno ini, sebagaimana dikatakan
Solichin Salam, ingin memberi inspirasi terhadap generasi muda Indonesia.
Karya-karya sejarah yang bersifat inspiratif cukup banyak beredar di dunia Barat.
Di Indonesia sendiri sudah mulai dengan diterbitkan buku-buku biografi oleh
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Buku biografi
semacam ini senantiasa berbicara mengenai nilai-nilai kepahlawan yang
dipatrikan orang-orang kepada dirinya, dan fakta menjadi urusan nomor dua.
Tetapi tulisan semacam ini sah adanya dalam penulisan sejarah Indonesia.

Pada tahun yang sama terbit sebuah buku dengan judul Sukarnos Kampft um
Indonesien Unabhangkeit ( Frankfurt am Main, Berlin : Alfred Metzner Verlag,
1966). Biografi intelektual ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Mary
F Somers Heidhues dengan judul Sukarno dan The Struggle for Indonesian
Independence (Ithaca and London : Cornell University Press, 1969 ). Biografi
intelektual ini merupakan disertasi dari Bernhard Dahm yang sudah dilakukan
revisi ulang untuk kepentingan penerbitan buku.

Karya sejarah sarjana Jerman tersebut mencoba menelaah dasar-dasar pemikiran


Soekarno melalui kebudayaan Jawa. Dalam buku tersebut, ternyata Bernhard Dahm
berhasil menunjukkan kepada sidang pembaca bahwa betapa pentingnya pengaruh
kebudayaan Jawa dalam proses sosialisasi dan perkembangan intelektual Soekarno.
Karya tersebut bukan tanpa ada kesalahan. Misalnya, ada kritik yang ditujukan kepada
Bernhard Dahm, bahwa sarjana berkebangsaan Jerman itu terlalu memaksakan diri
melihat Sorkarno sebagai seorang pemikir tanpa melihat tingkah laku politik Soekarno
sendiri. Kendati demikian, buku ini tetap saja memberi sumbangan yang berarti bagi
penulisan sejarah Indonesia.

Ternyata karya serius mengenai Soekarno terus berlanjut dengan terbitnya


biografi politik Soekarno yang berjudul Sukarno A Political Biography ( Allen Lane The
Penguin Press, 1972). Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul
Sukarno Biografi Politik ( Jakarta : Penerbit Sinar Harapan, 1985). Buku yang diterbitkan
dalam bahasa Inggris tersebut beredar ketika terjadi demitologisasi Soekarno yang
tampaknya berlebih-lebihan. Melalui buku Sukarno A Political Biography, John Legge
mencoba menjelaskan kepada sidang pembaca mengenai lingkungan sosial politik yang
memungkinkan Soekarno sebagai operator politik tanpa tandingan, dari tahun 1945 –
1967 menjadi presiden..

Sebenarnya banyak sekali buku sejarah yang berbicara mengenai Soekarno

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 5
Email: mr.kasenda@gmail.com
sebagai pahlawan maupun manusia, tetapi sayangnya karya-karya tersebut tidak bisa
dibicarakan di sini. Hanya buku-buku yang terpenting saja yang mempunyai kaitan
dengan penulisan artikel ini yang dibicarakan. Menurut Yayasan Idayu yang menerbitkan
buku Bibliografi Soekarno, menyebutkan sekitar 80 buku yang berbicara mengenai
Soekarno. Tampaknya tokoh kontroversial ini telah mengundang banyak orang untuk
menulisnya dari dalam maupun luar negeri.

Kultur Munafik ?

Dalam urairan berikut, saya mencoba menguraikan mengenai polemik yang


ditimbulkan akibat dari nama Soekarno yang disebut-sebut dalam karya sejarah.
Ada baiknya menyimak apa yang ditulis oleh jurnal ilmiah Prisma pada bulan
Agustus 1977. Jurnal ilmiah tersebut berbicara mengenai orang-orang yang
gagasan-gagasan maupun tindakannya dianggap ikut mempengaruhi jalannya
sejarah Indonesia. Antara lain, Soekarno, Kahar Muzakar dan Tan Malaka yang
dikenal sebagai tokoh yang penuh kontroversi.

Di dalam jurnal ilmiah tersebut, Onghokham menulis mengenai Soekarno dengan


judul “ Soekarno : Mitos dan Realitas”. Dia mengatakan “masalah Soekarno erat
kaitannya dengan persoalan bangsa Indonesia.” Dikatakan ada kemunafikan yang
terjadi dalam diri bangsa Indonesia dalam memperlakukan pribadi Soekarno. Pada
puncak masa kekuasaannya, Soekarno digelari Pemimpin Besar Revolusi,
Penyambung Lidah Rakyat, Walijul Amri, Panglima Tertinggi, dan lain-lain.
Secara tiba-tiba semua gelarnya dicopot. Jasa dan peranannya ditiadakan dan
bahkan diejek. Persoalannya kini bukan saja “Siapakah Soekarno“, kata sejarawan
UI ini, tetapi juga “Siapa sebenarnya kita dahulu dan siapa kita sekarang?” Apa
dulu kita yang munafik atau sekarang kita munafik, Onghokham bertanya.

Ketika Soekarno menduduki singgasana kekuasaan berbagai puja-puji diarahkan


kepada Soekarno. Tetapi sesudah itu Soekarno mau dibuang ke keranjang sampah
sejarah. Ini adalah suatu ironi dari suatu penilaian sejarah, tetapi itu memang kenyataan.
Orang-orang tak boleh lupa kadangkala situasi membuat orang berbuat sesuatu yang tabu
dilakukan, hal itu terpaksa dilakukan. Arah politik sudah berpindah, maka ia juga harus
ikut pindah. Tak heran apabila budayawan terkemuka, Mochtar Lubis melalui bukunya
Manusia Indonesia ( sebuah pertanggung jawab) mengatakan kalau kultur munafik
sudah menjadi budaya dari bangsa Indonesia.

Pada 18 Maret 1976, Panitia Penyusun Buku Sejarah Nasional Indonesia sebagai
buku standard sejarah Indonesia menghadap Presiden Soeharto. Sehabis penyerahan buku
standard tersebut, Sartono Kartodirdjo sejarawan terkemuka Indonesia sebagai ketua
panitia mengakui dalam penulisan sejarah tersebut kadar subyektifitas tetap ada, dan dia
meminta khalayak ramai untuk memberi tanggapan terhadap isi buku standard tersebut
agar dapat mengadakan revisi ulang seperlunya.

Tak lama kemudian serangan-serangan yang cukup gencar dilancarkan lewat

6
Peter Kasenda

tulisan-tulisan di harian Merdeka. Kritik tersebut diarahkan kepada peranan Presiden


Soekarno pada tahun-tahun sebelum kejatuhannya akibat Peristiwa Gerakan 30
September, Masalahnya adalah sejumlah fakta yang yang dianggap kurang lengkap dan
seperti biasanya berkaitan dengan penafsiran. Di mana penulis buku Sejarah Nasional
Indonesia, Jilid VI terlalu yakin dengan pernyataan yang dibuat secara sepihak tanpa
disertai pernyataan pihak yang lain.

Dalam kata pengatar pada buku Sejarah Nasional Indonesia, Jilid VI, Nugroho
Notosusanto sebagai editor mengatakan bahwa tidak mudah menulis mengenai peristiwa-
peristiwa dan tokoh-tokoh yang termasuk jenis kontroversial, dan diakuinya memang
dalam penulisan sejarah kontemporer atau sejarah sezaman kadar subyektifitasnya terlalu
tinggi dibandingkan dengan masa sebelumnya. Penulis buku Sejarah Nasional Indonesia
Jilid VI mencoba memberikan interprestasi yang sejauh mungkin seimbang dan layak.
Tetapi sayangnya, penulis buku kurang bisa menjaga jarak dengan tokoh-tokoh yang
dibicarakan, terutama Presiden Soekarno.

Nugroho Notosusanto kemudian menulis buku dengan judul Proses Perumusan


Pancasia sebagai Dasar Negara ( Jakarta : Balai Pustaka, 1981). Buku Nugroho
Notosusanto tersebut dilampiri dengan tulisan dari A.G. Pringgodigdo serta
disertai kata pengantar oleh Dardji Darmodiardjo. Mereka berdua mempunyai
pandangan yang sama dengan pandangan Nugroho Notosusanto bahwa Soekarno
bukan satu-satunya orang yang membicarakan mengenai Pancasila sebagai dasar
negara.

Tulisan Nugroho Notosusanto yang pernah terbit dalam majalah Persepsi pada
tahun 1970 tersebut, kemudian disebarkan melalui media massa atas permintaan
Departemen Penerangan Republik Indonesia. Tampaknya ada keselarasan, antara
keinginan pemerintah Orde Baru dengan tulisan tersebut. Ternyata tulisan tersebut
mendapat tanggapan dari berbagai pihak, ada yang bersikap emosional dan ada
pula yang melihat persoalan dengan kepala dingin. Yang menjadi titik
permasalahan adalah bagian dari pidato Muhammad Yamin dalam bukunya
Naskah Persiapan UUD 1945 yang memuat pidatonya pada tanggal 29 Mei 1945,
khalayak sangat meragukan isi pidato Muh Yamin tersebut.

Buku Nugroho Nosusanto tersebut, kemudian mendapat respon dari Lembaga


Soekarno – Hatta, yang menerbitkan buku dengan judul Sejarah Lahirnya
Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila ( Jakarta : Inti Idayu Pers, 1984).
Buku tandingan tersebut mempunyai pendapat yang berbeda dengan Nugroho
Notosusanto dan dikatakan bahwa pidato yang disampaikan Soekarno pada
tanggal 1 Juni 1945 tersebut yang mengungkapkan mengenai Pancasila sebagai
satu-satunya sumber dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara dan UUD
dari 18 Agustus 1945.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 7
Email: mr.kasenda@gmail.com
John Ingelson

Tulisan Rosihan Anwar mengenai Perbedaan Analisa Politik antara Soekarno


dan Hatta (Kompas, 15 September 1980) mengatakan bahwa salah satu perbedaan kedua
tokoh tersebut adalah “dalam sikap politik terhadap Pemerintah Jajahan Hindia Belanda.
Hatta bersikap teguh, konsisten dan konsekuen. Sebaliknya Soekarno, ahli pidato yang
bergembor-gembor lekas bertekuk lutut jika menghadapi keadaan yang sulit dan tidak
menyenangkan bagi dirinya pribadi.”

Ternyata pendapat wartawan senior tersebut dikutip dari buku yang ditulis sarjana
Australia, John Ingelson, yang berjudul The Indonesian Nationalist Movement, 1927 –
1934. (Singapore : Heinemaan Educational Books (Asia) Ltd, 1979 ). Buku John
Ingelson ini merupakan disertasi yang ditulis ketika dia menyelesaikan studi pasca
sarjana pada jurusan Sejarah di Universitas Monash, Australia.

Buku John Ingelson tersebut menyebutkan tentang empat pucuk surat yang ditulis
Soekarno dari penjara Sukamiskin kepada Jaksa Agung Pemerintah Hindia Belanda pada
tahun 1933. Arsip yang ditemukan oleh sarjana Australia pada Kementerian Dalam
Negeri di Den Haag tersebut mengatakan bahwa Soekarno minta dilepaskan dari penjara
sebagai imbalannya dia tidak akan ikut lagi dalam kegiatan politik sampai akhir
hayatnya.

Tulisan Rosihan Anwar tersebut membangkitkan polemik yang berkepanjangan di


harian maupun majalah di Indonesia. Sampai-sampai Wakil Presiden Republik
Indonesia, Adam Malik meminta agar polemik tersebut dihentikan saja. Yang menarik
adalah sebelum Rosihan Anwar menulis, sebenarnya surat-surat tersebut sudah disinyalir
majalah mingguan Tempo pada tanggal 6 Oktober 1979. Dikalangan sejarawan sendiri
masih mempertanyakan apakah surat salinan tersebut memang benar-benar merupakan
surat-surat dari Soekarno. Ada kesulitan untuk menghentikan keraguan yang timbul
terhadap surat-surat tersebut, selama surat-surat yang asli tidak terdapat. Sejarawan
terkemuka Taufik Abdullah mengatakan bahwa apabila itu benar apa artinya bagi sejarah
Indonesia. Memang tidak ada. Ada surat atau tidak, Soekarno tetap berjuang untuk
Indonesia Merdeka.

Memang serba salah. Orang-orang senantiasa mencampur-adukan antara


Soekarno sebagai pahlawan maupun sebagai manusia belaka. Sebagai pahlawan
Soekarno dipenuhi dengan nilai-nilai yang dipatrikan orang kepada dirinya. Sedangkan
sebagai manusia tentu saja tidak luput dari kesalahan. Ada baiknya menyimak apa yang
diungkapkan dalam autobiografinya sebagai berikut ”Aku bukan manusia yang tidak
mempunyai kesalahan. Setiap makhluk membuat kesalahan. Di hari-hari keramat aku
minta maaf kepada rakyatku di muka umum atas kesalahan yang kutahu telah kuperbuat,
dan atas kekeliruan-kekeliruan yang tidak kusadari. Barangkali suatu kesalahan ialah,
bahwa aku selalu mengejar suatu cita-cita dan bukan persoalan-persoalan yang dingin.”
Memang kesalahan sebagai manusia tidak dapat dikenakan pada peranannya dalam

8
Peter Kasenda

sejarah. Dalam penulisan sejarah yang harus ditulis hanya peristiwa-peristiwa yang
dianggap penting saja.

Lain lagi dengan ini, setahun setelah Lembaga Penelitian Sejarah Nasional
mengadakan seminar mengenai sejarah Indonesia di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta
pada bulan September 1985, Ruben Nalenan, Sekretaris Lembaga tersebut membicarakan
hasil seminar di depan pers. Dia menghimbau agar Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan meninjau kembali materi buku Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa,
karena dalam buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid III untuk SMP yang terdiri dari 154
halaman itu memuat kata-kata sebagai berikut“” Dalam pada itu Presiden Soekarno
sendiri menerima komisi dari perusahaan asing yang melakukan impor ke Indonesia.
Pada pelbagai bank di luar negeri tersimpan uang jutaan dollar atas nama Presiden”

Akibat teks tersebut mulai orang bertanya-tanya apakah bekas Presiden Republik
Indonesia yang pertama ini pernah berbuat semacam itu. Memang masalah yang
dibicarakan di sini lebih serius daripada tulisan Rosihan Anwar, karena hal ini
menyangkut masalah pendidikan. Banyak orang menganggap bahwa penulisan tersebut
tampaknya kurang tepat apabila disajikan kepada murid-murid SMP. Dengan adanya teks
tersebut bisa saja membingungkan murid-murid tersebut.

Penutup

Dari uraian diatas, tampak sekali terlihat membicarakan tokoh semacam Soekarno
dalam penulisan sejarah Indonesia perlu hati-hati, karena berbicara mengenai dia
seringkali menimbulkan guncangan-guncangan yang tentu saja menarik perhatian
khalayak ramai. Perlunya bagi pembaca untuk mengetahui bahwa dalam melakukan
penulisan seajarah, sejarawan adakalanya terpengaruh oleh situasi dan kondisi-kondisi
yang melingkupinya, hal itu tentu saja, mempunyai pengaruh dalam penulisan sejarah
tersebut. Yang harus dicatat dalam mengerjakan ilmu sejarah adalah ada kemampuan
teknis dan wawasan teori serta tidak melupakan adanya integritas yang tinggi dari
sejarawan tersebut. Ada baiknya sejarawan meninjau kembali apa yang sudah menjadi
keyakinannya, bukanlah setiap karya sejarah hanya bersifat sementara belaka atau
penafsiran sementara Bisa saja seorang sejarawan berlaku semata-mata sebagai seorang
cendikiawan yang melibatkan diri semata-mata sebagai seorang ideologi yang bertugas
mencari pembenaran belaka, Memang hal tersebut tidak salah, tetapi tentu saja masalah
tersebut berada diluar ilmu sejarah.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 9
Email: mr.kasenda@gmail.com
Sekali lagi, masalah politik tidak dapat dilepaskan begitu saja dengan sejarah.
Sejarah mencatat banyak tokoh yang diagung-agungkan bagaikan seorang dewa
dimasa dia masih duduk di singgasana, tetapi sesudah itu boleh dikatakan nama
tersebut tak pernah disebut-sebut. Di Republik Indonesia ini hampir saja hal itu
terjadi. Tetapi rupanya bangsa Indonesia masih menghargai jasa-jasa para
pahlawannya. Soekarno ketika masih berada di puncak kekuasaan mengatakan
bahwa “Tidak seorangpun dalam peradaban modern ini yang menimbulkan
demikian banyak perasaan pro dan kontra seperti Soekarno. Aku dikutuk seperti
bandit dan dipuja bagai dewa. “

Dari ucapan tersebut Soekarno merasakan dirinya senantiasa menjadi bahan


pembicaraan bagi khalayak ramai. Apa Soekarno mengetahui juga bahwa sesudah pulang
ke Rahmatullah ada suatu masa bahwa namanya tak disebut-sebut lagi dengan berbagai
alasan. Untuk sementara ini orang hanya bisa menilai peranan yang dimainkan selama
hidupnya dalam sejarah Republik Indonesia tercinta ini. Lalu, orang bertanya-tanya,
dimanakah tempat Soekarno dalam sejarah bangsa Indonesia ini? Lebih baik pertanyaan
tersebut diserahkan pada sejarah untuk menilai.

10
Peter Kasenda

Studi tentang Soekarno: Sebuah Catatan

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 11
Email: mr.kasenda@gmail.com
Adalah sulit memungkiri Indonesia diantara para pemikir Indonesia modern,
Soekarno adalah yang terpenting dan terbesar. Hal itu bukan saja disebabkan oleh
kualitas pemikiran-pemikirannya yang orsinal dan brilian, tetapi juga karena
pemikirannya itu berhasil menjangkau ke dalam masyarakat. Sebagai
cendikiawan dia mengungkapkan buah pikirannya lewat pidato-pidato yang
memukau khalayak ramai yang mendengarkannya. Di samping itu dipublikasi
tulisan-tulisannya melalui berbagai media massa, seperti biasanya tulisannya
terpengaruh gaya pidatonya yang penuh repetisi.

Sebenarnya dia bukan saja bertindak sebagai seorang pemikir belaka, tetapi ia
dapat berlaku sebagai seorang politikus yang cerdik dan seorang orator yang
kharimatis di depan masa pendengarnya. Untuk itu adalah merupakan suatu
kesulitan besar untuk mempelajari Soekarno secara keseluruhan. Sehingga dalam
mempelajari secara mendalam dimungkinkan hanya menfokuskan pada satu segi
saja, tetapi justru disitulah mengakibatkan gambaran tentang Soekarno kurang
tepat atau salah mengenai dirinya.

Sebelum dan sesudah Soekarno meninggal dunia, ada berpuluh-puluh buku


tentang Soekarno yang dibahas secara ilmiah maupun popular. Tentu saja tulisan
mengenai diri Soekarno ditulis dengan berbagai motivasi dan sudut pandang yang
berbeda. Namun tulisan semacam itu sah dalam penulisan sejarah, ada beberapa tulisan
yang menarik untuk dibahas dalam artikel ini.

Kebudayaan Jawa

Ketika Soekarno berada di kursi kepresidenan, Bernhard Dahm menulis menulis


buku Soekarnos Kampft um Indonesiens Unabhanggigkeit (1965) yang kemudian
diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul “Soekarno and the Struggle for
Indonesian Independence.” Buku yang merupakan disertasi yang telah direvisi ini
mencoba mempelajari dari segi proses sosialisasi politik serta perkembangan
pemikiran di zaman sebelum kemerdekaan.

Kunci yang digunakan Bernhard Dahm untuk mempelajari Soekarno adalah


dengan menggunakan konsep Mitologi Jawa, yaitu konsep kepercayaan
masyarakat Jawa sebagaimana tercermin didalam cerita-cerita wayang, ide Ratu
Adil dan Jayabaya. Tetapi sayangnya Bernhard Dahm telah menggunakan tulisan-
tulisan Soekarno yang dapat digunakan untuk menyokong suatu pendekatan
mitologi yang sudah terlebih dahulu dibangun Bernhard Dahm sendiri. Begitu
kata Justus van der Kroef.

12
Peter Kasenda

Pendekatan serupa juga dilakukan Isbodrini Suyatno dalam skripsinya yang


berjudul “Neo-tradisionalisme dalam Politik. Dengan Kasus Beberapa Pemikiran
Politik Soekarno.” Melalui skripsi tersebut Isbodrini Suyatno ingin
memperlihatkan bahwa beberapa konsep pemikiran politik Soekarno, seperti
halnya, Marhaenisme, Pancasila, Nasakom, Gotomg Royong, Demokrasi
Terpimpin serta Sosialisme Indonesia, mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa
yang mengitari perjalanan hidup Soekarno.

Bernhard Dahm dan Isbodrini Suyatno hanya melihat Soekarno sebagai pemikir
saja, tetapi kurang melihat Soekarno sebagai seorang politikus yang cerdik. Misalnya,
apakah konsep Nasakom yang dikemukakan Soekarno itu sebagai seorang pemikir yang
idealis atau sebagai politikus yang cerdik. Memberi penilaian yang sama terhadap nilai
persatuan nasional yang dicetuskan pada tahun 1920-an dengan tahun 1960-an adalah
suatu tindakan yang kurang hati-hati. Kendati demikian kedua penulis tersebut telah
berhasil mengajak kita memahami Soekarno dari sisi kebudayaan Jawa.

Kemampuan Soekarno berlaku sebagai singa podium menarik perhatian sarjana


Skandinavia, Elisabeth Lind untuk mempelajarinya. Melalui tulisannya, The Rhetoric of
Soekarno, Elisabeth Lind mencoba membuktikan bahwa lewat pidato-pidatonya yang
karismatis itu, Soekarno mencoba mengindentifikasikan diri sebagai Ratu Adil didalam
kaitannya dengan struktur-strkutur lambang Kebudayaan Jawa. Elisabeth Lind bertindak
sebagaimana biasanya pandangan sarjana Barat yang selalu terpukau melihat Soekarno
hanya dari sudut kebudayaan Jawa.

Marxisme

Indonesia Menggugat merupakan pleidoi Soekarno terkenal pada masa


pergerakan nasional dalam menentang kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Karya yang
cemerlang itu diterjemahkan dan dianalisa oleh Roger K Paget yang menulis disertasi
mengenai Soekarno di Cornell University, sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat
yang memberi tempat khusus untuk mengkaji masalah-masalah Indonesia.

Melalui penganalisa isi, Roger K Paget memperlihatkan bahwa konsep-konsep


yang dikemukakan oleh Soekarno berkaitan dengan pemikiran-pemikiran kaum sosialis
Barat yang berkembang pada waktu itu. Roger K Paget juga mengingatkan bahwa
pengaruh tersebut semakin lama semakin berkurang saja, setidak-tidaknya menunjukkan
bahwa Soekarno kurang menggantungkan lagi kepada pemikir sosialis Barat tersebut
pada tahun 1926 – 1933. Melalui kata pengantar yang mendalam ini, Roger K Paget
mencoba membantu sidang pembaca untuk mengerti isi buku Indonesia Menggugat
tersebut.

Kalau pada tahun 1941, Soekarno di pengasingan mempertanyakan mengenai


siapa dirinya sekaligus mencoba menjawab lewat tulisan di media massa. Soekarno
menyatakan bahwa dirinya bukan Nasionalis, Islam dan Marxis, tetapi gabungan dari
Nasionalis, Islam dan Marxisme. Tetapi Wiratmo Soekito justru membantah pernyataan

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 13
Email: mr.kasenda@gmail.com
Soekarno bahwa dirinya sebagai seorang Marxis, melainkan hanya dipengaruhi oleh
Marxisme sebagai ideologi. Begitu tulis Wiratmo Soekito dalam tulisan yang berjudul
Pengaruh Marxisme sebagai Ideologi Terhadap Gagasan Soekarno, yang dimuat dalam
Persepsi, No.3, 1979.

Tampaknya Wiratmo Soekito ini hanya melihat dari konsep persatuan yang
dikemukakan pada tahun 1920-an dan tahun 1960-an, tetapi kurang melihat konsep-
konsep yang lainnya, seperti Marhaen dan Marhaenisme Ada satu catatan yang perlu
ditekankan disini bahwa pengertian Marxis tidak sama dengan Komunis. Marxisme tentu
saja berbeda dengan Marxisme-Lenisme. Seperti diketahui bahwa para pendiri negeri ini
banyak dipengaruhi oleh gagasan-gagasan Marxisme, tetapi mereka bukanlah Komunis.

Islam

Surat-surat Islam dari Endeh tidak saja menarik untuk dipelajari oleh Bernhard
Dahm, tetapi Badri Yatim, sarjana IAIN Syarief Hidayatullah Jakarta juga melalui
bukunya, Soekarno, Islam dan Nasionalisme, mencoba menaruh perhatian Soekarno
sebagai tokoh sejarah dalam perspektif Islam.

Sebagaimana halnya, sebagian besar masyarakat melihat Soekarno sebagai tokoh


nasionalis belaka, kurang melihat bahwa Soekarno yang sebenarnya juga sangat menaruh
perhatian terhadap masalah keislaman. Sebenarnya Soekarno bisa disebut sebagai
pemikir Islam, karena sebutan tersebut Soekarno mendapat penghargaan dari kalangan
Islam. Pikiran-pikirannya tentang Islam sangat hidup, begitu inspiratif dan merupakan
bagian dari kebangkitan kembali pemikiran-pemikiran Islam sedunia, walaupun dalam
beberapa bagian sulit bagi kita menerimanya, begitu kata Achmad Wahid dalam
Pergolakan Peimikiran Islam.

Menurut Badri Yatim, Soekarno melihat Islam dari pandangan kebudayaan Jawa,
yaitu Sinkretis. Pengaruh budaya Jawa telah mendorongnya untuk memadukan
atau menyatukan aliran-aliran yang berkembang di Indonesia. Salahkah Soekarno
yang telah menjadi orang Jawa terlebih dahulu, dan berdasarkan itu ia melihat
Islam? Pandangan semacam itu tidak bisa disalahkan, kalau hal itu dihubungkan
dengan sosialisasi masa kecilnya dalam lingkungan kebudayaan Jawa yang
menyertai perjalanan hidup Soekarno.

Apakah berarti Islam hanya menarik perhatiannya saja? Tosan Suhastoyo melalui
skripsinya, Pengaruh Islam dalam Pemikiran Politik Soekarno dan Hatta ( 1920-1930),
menyatakan Islam pun mempengaruhi pemikiran politik Soekarno, sambil Tosan
Suhastoyo menunjukkan konsep Marhaenisme dan Pancasila, yang dipengaruhi oleh
semangat Islam.

Dalam membandingkan dengan pengaruh pada pemikiran politik, Tosan


Suhastoyo, sarjana Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM menganggap walaupun
intensitas pengaruh lingukungan Islam lebih dekat dengan Mohammad Hatta ketimbang

14
Peter Kasenda

Soekarno, tetapi justru pengaruh dalam pemikiran politik Soekarno lebih terlihat lebih
jelas. Kendati Moh Hatta tumbuh dalam masyarakat pemeluk agama Islam yang taat,
tetapi sebenarnya dia lebih banyak dipengaruhi oleh gagasan-gagasan Marxisme yang
diperoleh ketika belajar di negeri Belanda.

Operator Politik

Sarjana Australia, John D Legge menulis buku Sukarno A Political Biography.


Biografi politik tersebut diterbitkan dalam suasana demitologisasi Soekarno yang
digerakan pemerintah Orde Baru. Walaupun penulis buku mencoba menghindarkan rasa
subyektifitas itu, tetapi tidak sepenuhnya berhasil. Walaupun begitu biografi politik ini
dalam subyektifitasnya berada dalam posisi sewajarnya. Ini adalah problema penulisan
sejarah kontemporer. Di mana penulis hidup sezaman dengan tokoh yang ditulisnya.

Yang jelas, penulis mencoba menggambarkan bagaimana Soekarno lewat


lingkungan sosial politiknya Soekarno dapat tumbuh sebagai seorang operator ulung,
sehingga menempati kedudukan yang tertinggi di Republik Indonesia ini dan mampu
bertahan beberapa lama di kursi Kepresidenan. Sejak Proklamasi Kemerdekaan hingga
tahun 1967, Soekarno menjadi presiden pertama dari negeri yang diperjuangkan sejak
muda.

Heru Utomo Kuncoro Jakti, Sarjana Fakultas Ilmu Sosial UI melalui skripsinya,
Strategi-Strategi Politik Soekarno dan Soeharto : Analisa Perbandingan, mengatakan
bahwa Soekarno adalah seorang pemimpin yang menyukai simbol-simbol perjuangan
persatuan nasional didalam usaha untuk memperoleh legitimasi kekuasaannya.
Sebenarnya, kata Benedict ROG Anderson yang mempelajari konsep kekuasaan dalam
kebudayaan Jawa, imbauan-imbauan Soekarno yang terus-menerus demi kesatuan
nasional, sebagian dapat dikatakan berasal dari ketakutan tradisional akan
keterpecarannya kekuasaan.

Dalam masa pembangunan ini, orang-orang menengok ke belakang. Mungkin


bisa belajar dari masa silam. Kata orang belajar dari sejarah. Begitu juga hal yang
dilakukan oleh Pustaka Sinar Harapan dengan menerbitkan buku 80 Tahun Bung Karno.
Melalui buku ini yang merupakan kumpulan tulisan yang mau mencoba mengkaji
kembali, apakah pemikiran-pemikiran Soekarno masih mempunyai relevansi dengan
permasalahan dan keadaan dasawarsa 80-an ini.

Sebagaian menjawab bahwa cita-cita dan pikiran Soekarno dalam beberapa hal
masih mempunyai relevansinya, seperti halnya Kebangsaan Indonesia, Marhaenisme,
Pancasila, Nation and Character Building dan Percaya Diri Sendiri, Antirasialisme,
Exploitation de l”home par l”home dan Trisakti. Tetapi sayangnya, sebagian besar
bersifat nostalgia, kurang bersifat kritis dan ilmiah, sebagaimana yang diminta penerbit.
Terlepas daripada itu, buku ini telah mengajak sidang pembaca untuk meninjau kembali
buah pikiran Soekarno untuk kepentingan masa depan Indonesia.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 15
Email: mr.kasenda@gmail.com
Berkaitan dengan Percaya Diri Sendiri, Adi Sasono melalui tulisannya Tesis
Ketergantungan dan Kasus Indonesia, yang dimuat dalam jurnal ilmiah Prisma,
Desember 1980, mengatakan bahwa sebenarnya masalah Teori Ketergantungan dapat
dikaitkan dengan konsepsi Soekarno mengenai Berdikari (Berdiri diatas kaki sendiri).
Konsepsi itu setidak-tidaknya embrionya sudah ada pada tahun 1920-an dan tahun 1930-
an. Dahulu dikenal dengan sebutan Percaya Diri Sendiri sekarang Berdikari.

Tahun 1960-an politik bebas aktif diartikan tidak semata-mata untuk


mengusahakan perimbangan dengan salah satu blok, tapi menuju berdikari dalam bidang
ekonomi dan menolak setiap ketergantungan terhadap imperialisme. Berdikari di bidang
ekonomi dianggap sebagai prasyarat untuk kemerdekaan sejati dalam bidang politik dan
kebudayaan. Doktrin berdikari dianggap sebagai puncak dari politik luar negeri yang
benar-benar bebas. Aktif dalam politik luar negeri, diberi arti bahwa Indonesia harus
mengambil peranan sebagai pimpinan untuk membawa semua kekuatan progresif ke
dalam suatu front internasional untuk kemerdekaan dan perdamaian buat melawan
imperialisme dan kolonialisme.

Teori Ketergantungan ini lebih menitikberatkan pada persoalan keterbelakangan


dan pembangunan negara Dunia Ketiga. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa teori
ketergantungan mewakili “suara negara-negara pinggiran“ untuk menantang hegemoni
ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari negara maju.

Dengan sedikit catatan tentang studi Soekarno dan pasti tulisan-tulisan mengenai
pendiri bangsa ini akan bermunculan. Dengan begitu akan menambah perbendaharan
pengetahuan tentang dirinya lebih lengkap. Entah Soekarno sebagai pemikir yang idealis,
politikus yang cerdik atau singa podium yang memukau massa pendengarnya. Atau
sebagai apa ?

16
Peter Kasenda

Kontroversi di Sekitar Soekarno


Peran Soekarno dalam G-30-S

Kalau kita menelusuri sepanjang sejarah Indonesia yang berkaitan dengan nama
mantan presiden Republik Indonesia yang pertama, maka tidak jarang ditemukan polemik
yang berkepanjangan dan sepertinya tidak akan pernah selesai. Misalnya, sekitar peranan
politik Presiden Soekarno pada tahun-tahun sebelum kejatuhannya akibat Persitiwa
Gerakan 30 September. Surat-surat dari Sukamiskin (surat-surat pengampunan Soekarno
kepada pemerintah Hindia Belanda), Soekarno bukan satu-satunya pembicara tentang
Pancasila sebagai dasar negara dan ada tuduhan bahwa Soekarno menerima komisi dari
pemerintah Jepang sebagai hasil rampasan perang. Dan ada kemungkinan polemik
tentang diri Soekarno berkelanjutan, entah tentang apalaginya Soekarno.

Tokoh sejarah yang paling kontroversial adalah Soekarno, pemimpin gerakan


nasionalis yang paling terkemuka dan presiden Republik Indonesia yang pertama (1945-
1967). Menjelang akhir hayatnya. lima tahun sebelumnya, Republik Indonesia dan
rakyatnya telah mengalami malapetaka dengan pecahnya Gerakan 30 September, yang
melibatkan Partai Komunis Indonesia, Angkatan Bersenjata, Presiden RI dan rakyat
biasa, yang pada umumnya tidak menyadari benar apa yang sedang terjadi. Bahwa dalam
periode setelah Gerakan 30 September tokoh Soekarno lebih banyak dilukiskan dengan
warna hitam mudah diduga dan dapat dipahami. Namun bersamaan dengan itu justru
publikasi luar negeri itu dengan tinjauan yang lebih kritis, sehingga di dalam lukisannya
terdapat warna-warna yang tidak sepenuhnya hitam.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 17
Email: mr.kasenda@gmail.com
Ada beberapa fakta yang mengenai Gerakan 30 September yang tidak dapat
disangkal oleh siapapun. Pada malam hari tanggal 30 September aktivis-aktivis
dari komplotan kudeta itu berkumpul di pangkalan Angkatan Udara di Halim.
Mereka, antara lain terdiri dari para perwira tentara seperti Letkol Untung,
Brigjen Soepardjo, panglima tempur di Kalimantan, dan Kolonel Latief,
komandan Brigade Infanteri yang ditempatkan di Jakarta. Dan dari Angkatan
Udara, ada Letkol Heru Atmodjo, seorang perwira intel, Mayor Sujono,
komandan pertahanan udara Halim, dan Mayor Gatot Sukrisno yang secara
rahasia sedang melatih kelompok–kelompok pemuda di Halim untuk Angkatan
Kelima. Aidit dan Sjam, seorang kepercayaannya yang dekat, serta Omar Dhani,
panglima Angkatan Udara, juga berada di Halim. Sampai sejauh mana mereka
berhubungan dengan para aktivis kudeta, masih merupakan pokok perdebatan. Di
bawah Untung dan kawan-kawannya tersedia sebuah kompi Cakrabirawa yang
merupakan kesatuan lama Untung, Batalyon Raider 454 Diponogoro, Batalyon
Raider 530 Brawijaya, kedua-keduanya didatangkan ke Jakarta untuk diikut
sertakan dalam Parade Hari Angkatan Bersenjata pada tanggal 5 Oktober, dua
peleton dari Brigade Latief, pasukan darat Angkatan Udara, dan unsur-unsur dari
Pemuda Rakyat serta Gerwani yang telah dilatih Gatot Sukriano. Begitu kata Ulf
Sundhaussen, yang ahli militer itu.

Pagi-pagi sekali tujuh regu yang terutama terdiri dari prajurit-prajurit


Cakrabirawa dengan sejumlah kecil sukarelawan dari Pemuda Rakyat mendatangi rumah
Nasution, Yani dan perwira-perwira staf Angkatan Darat, Mayjen Suprapto ( Deputi II),
Mayjen Harjono Deputi III), Mayjen Parman ( kepala intel AD), Brigjen Pandjaitan
(Logistik), dan Brigjen Sutojo Siswomihardjo, Oditur Jendral AD. Pasukan itu
diperintahkan untuk menangkap jendral-jendral tersebut dan membawa mereka ke Halim;
tidak ada seorang pun dari jendral dibiarkan lolos, dan perintah ini oleh regu-regu
tersebut diartikan bahwa mereka harus membawa mereka hidup atau mati. Yani,
Haryono, dan Pandjaitan dibunuh ketika mereka melawan dan mayat mereka dibawa
pergi. Suprapto, Parman dan Sutoyo di bawa. Nasution nyaris tertangkap dan dapat
meloloskan diri dari sergapan prajurit-prajurit itu yang melukai secara fatal puterinya
yang berusia lima tahun, membunuh seorang polisi di dekat tempat itu, dan menculik
seorang ajudan Nasution, Letnan Pierre Tendean, yang dibawa ke Halim dan dibunuh di
sana bersama-sama dengan ketiga jendral tadi. Mayat keenam jendral dan Tendean
dibuang ke dalam sebuah sumur yang sudah tidak bisa dipakai di suatu daerah yang
dikenal sebagai Lubang Buaya. Dalam waktu yang bersamaan kedua batalyon raider
menduduki Lapangan Monas dan menguasai istana Presiden, gedung RRI, dan Pusat
Telekomunikasi.

Tafsiran

18
Peter Kasenda

Indonesia di bawah Demokrasi Terpimpin yang semakin bergeser ke kiri,


perlindungan Soekarno terhadap PKI dan keberadaan Presiden Soekarno di
Halim, yang merupakan markas komplotan kudeta tersebut, ternyata telah
menimbulkan berbagai spekulasi, apakah presiden sadar akan rencana Gerakan 30
September dan sampai seberapa jauh simpatinya terhadap gerakan tersebut.
Menurut suatu dokumen yang dinyatakan sebagai catatan dari pemeriksaan
terhadap bekas ajudan Soekarno, Kolonel (Mar) Bambang Widjanarko pada akhir
tahun 1970, Soekarno telah memutuskan pemberhentian Yani dan menunjuk
Deputi Kesatu, Mayor Jendral Angkatan Darat Mursjid sebagai kepala staf
Angkatan Darat yang baru. Soekarno telah memerintahkan Yani agar ke istana
tanggal 1 Oktober, barangkali untuk diberitahukan tentang pemberhentiannya.
Dengan Omar Dhani pada tanggal 29 September, Soekarno membicarakan
“kekalutan“ di kalangan Angkatan Darat dan menurut Omar Dhani, telah diberi
tahu juga tentang adanya sekelompok perwira yang tidak puas, termasuk
Supardjo. Menurut Bambang Widjanarko, Supardjo sendiri hadir dalam
pembicaraan itu. Keadaan itu, kata Harlod Crouch, tampak jelas presiden sadar
bahwa suatu gerakan menentang pimpinan Angkatan Darat sedang tumbuh dan
cukup beralasan untuk menganggap bahwa ia berniat untuk mengeksploitasi
konflik itu dengan mengorbankan Yani. Telah diperlihatkan, bagaimanapun,
bahwa peranan Soekarno adalah lebih dari sekedar pihak ketiga yang berharap
dapat mengeksploitasi ketidakpuasan para perwira muda terhadap kepemimpinan
Angkatan Darat.

Berdasarkan pemeriksaan terhadap Bambang Widjanarko, Antonie C Dake dalam


bukunya The Spirit of Red Banteng mengemukakan bahwa Soekarno-lah
sebenarnya pemrakarsa Gerakan 30 September. Menurut Bambang Widjanarko,
ketika Soekarno merayakan hari ulang tahunnya yang ke-64 di istana
Tampaksiring Bali, ia mengeluh tentang sikap para jendral senior Angkatan Darat
dan mengatakan kepada Panglima Daerah Militer Bali Brigadir Jendral Sjafuddin
untuk memeriksa “kesetiaan“ para pemimpin Angkatan Darat. Kemudian,
Sjafuddin dan Komandan CPM Brigadir Jendral Sudirgo tampak di antara mereka
yang dimintai pertimbangan oleh Soekarno mengenai masalah ini. Dikatakan
selanjutnya oleh Bambang Widjanarko, pagi-pagi tanggal 4 Agustus Soekarno
melakukan pembicaraan dengan Brigadir Jendral Muhammad Sabur, komandan
pasukan kawal istana Tjakrabirawa Letnan Kolonel Untung Menurut Widjanarko
yang juga hadir, Soekarno bertanya kepada Untung “apakah ia bersedia,
seandainya diperintahkan untuk bertindak melawan para jendral yang tidak setia”
yang dijawab Untung bahwa ia bersedia.

Kemudian pada tanggal 23 September di istana presiden, Soekarno bersama-sama


dengan tiga wakil perdana menteri, kepala staf Angkatan Udara, Sabur dan beberapa
orang lain mendengarkan laporan deputi pertama Yani, Mursyid, yang mengatakan
bahwa memang benar ada Dewan Jendral yang terdiri dari mereka yang tidal setia dan
menentang kebijakan Soekarno. Menurut Widjanarko, ketika itu Soekarno mengatakan
kepada Sabur untuk ? bertindak terhadap para jendral itu selekas mungkin “.Akhirnya
pada tanggal 30 September, selagi Soekarno menghadiri suatu rapat di Jakarta, menurut

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 19
Email: mr.kasenda@gmail.com
Widjanarko ia menerima surat penting untuk presiden dari Untung Soekarno kemudian
meninggalkan ruangan untuk membawa surat itu, dan pada akhir pidato pada rapat
tersebut ia mengatakan .” ,,,,,saya harus mengatur beberapa hal yang akan membuat saya
tidak tidur jauh malam” Hari berikutnya, Soekarno menghancurkan surat itu.

Dari keterangan ini, Antonie C Dake berkesimpulan bahwa bukan PKI, bukan
pula “perwira-perwira progresif“ tetapi Soekarno-lah pemrakarsa percobaan kudeta itu.
Menurut penafsirannya, Soekarno masih tetap mempertimbangkan bagaimana ia
menangani para jendral yang “tidak setia” setelah pertemuan di Bali pada tanggal 6 Juni,
tetapi tidak memutuskan bahwa Yani harus dilenyapkan sampai dengan akhir Juli. Di hari
tanggal 4 Agustus ia berbicara dengan Untung dan Sabur dan rupanya karena tekanan
yang terlampau berat, ia pingsan segera setelah itu. Beberapa hari sebelumnya, ia telah
memerintahkan menelgram Aidit dan Nyoto supaya mereka kembali ke Jakarta dan
ketika mereka kembali, diberitahukan tentang keputusannya untuk bergerak melawan
para jendral. Jadi, bukan pingsannya Soekarno yang menggerakan PKI untuk berperan
serta dalam percobaan kudeta, tetapi kesanggupan para pemimpin partai itu untuk
menerima kemauan Soekarno.

Menurut, Harlod Crouch dalam Militer dan Politik, uraian Antonie C Dake ini
dapat dipersoalkan karena bersandar pada kesaksian yang sebagian besar tidak
seorangpun menguatkannya, dari seorang saksi yang mau tak mau harus bekerja sama
dengan para pemeriksa dan kesaksiannya di pengadilan tidak mendukung pernyatan-
pernyataan sebelumnya. Selain itu ada detail yang kurang dalam mata rantai antara
Soekarno dengan Gerakan 30 September. Bahwa Soekarno makin tidak menyukai sikap
Yani sesudah bulan Mei 1965 adalah jelas dan bukan tidak mungkin ia sering menyebut
tentang : “melemparkan” Yani daripadanya. Namun tidak terbukti bahwa pada tanggal 4
Agustus Soekarno memikirkan gerakan yang dipimpin oleh Untung pada tanggal 30
September. Juga Dake tidak secara pasti menjelaskan “tindakan “ apa yang harus
dilakukan Sabur setelah pertemuan tanggal 23 September.

Hampir mustahil menarik kesimpulan yang pasti tentang siapa di balik peritiwa
berdarah Gerakan 30 September. Berbagai posisi yang kabur dan kurangnya sumber-
sumber tertulis serta saksi-saksi memunculkan berbagai spekulasi tentang dalang
Gerakan 30 September. Menurut versi sejarah resmi, yang dibangun berdasarkan alasan-
alasan yang mudah dilihat, PKI-lah dalam Gerakan 30 September, dan menjadi menjadi
satu-satunya pihak yang patut dipersalahkan. Versi kedua, yang sangat berlawanan
dengan versi pertama, menginterprestasikan bahwa kudeta dan aksi pembalasannya
merupakan masalah internal AD. Versi ketiga percaya Soehartolah yang sesungguhnya
berada di balik rencana kudeta. Spekulasi mengenai peran Soeharto dalam rencana dan
pelaksanan Gerakan 30 September muncul ketika ia membuat keterangan yang tidak
konsisten mengenai perjumpaannya dengan Latief (yang bermaksud melaporkan aksi
tersebut). Versi keempat menyatakan, jaringan inteljen AD sendirilah yang memprakarsai
Gerakan 30 September, baik atas usaha sendiri maupun atas bantuan agen-agen inteljen
asing, khususnya Amerika Serikat dan Cina. Versi yang kelima telah dikemukakan oleh
Antonie C Dake diatas.

20
Peter Kasenda

Periode 1965-1966 merupakan tahun-tahun yang terlupakan dalam sejarah


Indonesia. Hal ini bisa dimengerti karena studi atas periode itu dihalangi oleh berbagai
faktor, mulai dari langkanya sumber-sumber yang berkaitan dengan berbagai peristiwa
yang terjadi pada tahun-tahun tersebut hingga alasan politik. Setidak-tidaknya, ada tiga
buku serius yang sedang dikerjakan Hermawan Sulistyo menulis The Forgotten Years :
The Missing History of Indonesia”s Mass Slaughter (Jombang-Kediri 1965-1966) di
Arizona State University, Iwan Gardono menulis The Destruction of the Indonesian
Communist Party (PKI) a comparative analysis of East Java dan Bali di Harvard
University dan Geoffrey Robinson menulis The Dark Side of Paradise Political Violence
in Bali di Cornell University.

Lagi pula, Ketetapan MPRS (TAP MPRS No XXV/MPRS/19660, ajaran


marxisme-leninisme, PKI, seluruh topik berkaitan dengan Peristiwa G-30-S dilarang
untuk dipelajari. Tetapi MPR ini membuat ketentuan bahwa studi ilmiah diijinkan, yang
akan diatur lebih lanjut dengan undang-undang ini tidak pernah dibuat. Sebagaian
alasannya jelas bahwa kepentingan politik mencegah ditetapkannya undang-undang
seperti itu. Dalam waktu kurang dari satu dekade, hilanglah seluruh sumber tertulis
mengenai PKI yang mempunyai jutaan anggota dan pendukung.

Mempelajari komunisme dan atau praksis politiknya merupakan kegiatan illegal.


Hanya ada satu pusat studi yang berhubungan dengan komunisme dan partai komunis
secara umum, yaitu Dinas Penelitian dan Pengembangan Masalah-masalah Komunis,
yang berada dibawah Pusat Sejarah Departemen Pertahanan dan Keamanan. Tanpa ijin
dari kantor itu, tak seorang pun bisa meneliti topik tersebut. Di samping kendala hukum
dan politik, iklim sosial yang tidak mendukung. Demikian kata Hermawan Sulistiyo yang
menulis Peristiwa Gerakan 30 September sekaligus pembataian massal pascakudeta.

Mengundang Polemik

Sejarah atau ilmu sejarah memang, bagaimanapun juga, tidak boleh dan malah tak
bisa menjadi sekelumit manusia yang memperkenalkan diri sebagai ahli sejarah saja.
Sejarah harus milik masyarakat. Sebab hanya masyarakat yang memiliki kesadaran
sejarah yang akan dimudahkan untuk menghadapi dan merintis masa depan. Karena
itulah diperlukan popularisasi dari sejarah yang kritis, analistis, serta dibimbing oleh etika
ilmu pengethuan. Begitu kata Taufik Abdullah.

Pada bulan September 1988, Soegiarso Soerojo,Pemimpin Umum/Pemimpin


Redaksi majalah Sarinah dan mantan perwira intel menulis sebuah buiku yang berjudul
“Siapa MenamburAngin Akan Menuai Badai. G30S-PKI dan Peran Bung Karno”. Buku
yang ditulis mantan anggota Bakin ini menuduh Soekarno adalah Komunis dan dalang
Gerakan 30 September. Mantan Pemimpin Redaksi Harian Angkatan Bersenjata itu
menunjukkan bukti bahwa Soekarno adalah komunis karena Soekarno pernah belajar
marxisme semasa di HBS dan konsep Marhaenisme sebagai Marxisme yang
diselenggarakan di Indonesia dan adanya kesamaan pidato Masyarakat Indonesia dan
Revolusi Indonesia DN Aidit dengan Manipol USDEK Presiden Soekarno. Diantaranya

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 21
Email: mr.kasenda@gmail.com
bukti keterlibatan Soekarno dalam G-30-S ditunjukkan dengan pidato Presiden Soekarno
dihadapan pada Mukernas di Istana Bogor,di mana Soekarno menyatakan “Kita semua
adalah anak-anak revolusi dan anak-anak revolusi harus setia kepada induknya, sebab
kalau tidak, anak itu sendiri dimakan oleh induknya.” dan surat Presiden Soekarno yang
tak tertanggal kepada Nyoto, seorang tokoh PKI. Tertulis kata-kata – Saudara Nyoto!
Wedus dibeleh, mbandjur dikelti (Saudara Nyoto Kambing disembelih, kemudian
dikuliti). Kata-kata ini oleh Soegiarso Soerojo, dikaitkan dengan perkataan “ Keadaan Ibu
Petiwi sudah hamil tua,”

Alasan Soegiarso Soerojo menulis buku itu, karena Soegiarso Soerojo melihat
massa pendukung Partai Demokrasi Indonesia dalam pemilu yang lalu, mengidolakan
Soekarno, dan dia menginginkan agar Soekarno tidak perlu diidolakan. Tetapi
keinginanya itu tidak terkabulkan. Penelitian yang dilakukan terhadap sejumlah
mahasiswa Universitas Diponogoro terhadap mahasiswa alamaternya, yang mencoba
melihat sejauh mana pengaruh buku tersebut terhadap diri mahasiswa. Ternyata
menunjukkan bahwa tokoh Soekarno semakin dikagumi saja.

Di kalangan generasi muda sebenarnya ada kejenuhan terhadap realitas-realitas


sosial sebagai produk paradigma pembangunan yang diterapkan pemerintah Orde Baru.
Di samping itu kehidupan politik menjadi kering, monoton dan miskin dinamika, akibat
kebijakan depolitasi yang diberlakukan oleh rezim Orde Baru. Dalam situasi semacam
ini, menurut Agus Sudibyo, secara alamiah, anak-anak muda itu selalu merindukan
perubahan dan hadirnya alternatif baru, Mereka butuh inspirasi, spirit baru, proses
idealisasi, dan dalam proses pencariannya mereka tiba-tiba menemukan figure kenamaan
Soekarno dalam skema kesadaran historis mereka. Secara psikologis, wajar pula jika
dalam kejenuhan terhadap kondisi sosial-politik, mereka mendambakan gambaran sosok
idola yang popular, revolusioner dan anti kemapanan, yang akhirnya mereka dapatkan
dalam diri Soekarno. Mereka berada pada usia yang lazim mengidolakan figure yang
romantis dan flamboyan, seperti dikatakan Taufik Abdullah.

Buku yang diakui bukan merupakan karya sejarah, namun sebagai karya
jurnalistik dari seorang warttawan, mendapat kupasan kritis dari mingguan Simponi
secara bersambung. Dan setahun kemudian terbit satu buku Menelusuri Peran Bung
Karno dalam G 30 S/PKI, yang ditulis oleh P Bambang Siswoyo, berdasarkan tulisan-
tulisan yang beredar di koran akibat terbitnya buku Soegiarso Soerojo. Tulisan di
Simponi dan buku tersebut mencoba membantah asumsi dari Soegiarso Soerojo yang
menyatakan justru Soekarnolah yang menggerakkan Gerakan 30 September.

Di samping mengundang polemik buku tersebut, Soegiarso Soerojo pun


diseretkan ke pengadilan, disebabkan adanya tuntutan dari Mr Soendoro, mantan Bupati
Nganjuk di masa Perang Kemerdekaan, yang ditulis sebagai bupati komunis. Akhirnya
Soegiarso Soerojo dijatuhi hukuman untuk membuat pernyataan mohon maaf di media
massa. Sebenarnya hal itu tidak akan terjadi kalau saja Soegiarso Soerojo mau meralat
buku pada cetakan kedua, seperti yang diinginkan oleh penuntut umum.

Kemudian muncul buku yang ditulis oleh Manai Sophian, bekas tokoh Partai

22
Peter Kasenda

Nasional Indonesia. Buku Kehormatan Bagi Yang Berhak: Bung Karno Tidak Terlibat
G30S/PKI (1994) mengulas gejolak politik di sekitar tragedi nasional 29 tahun silam itu,
Manai Sophian secara lugas berpendapat, Presiden Soekarno tidak terlibat dalam
manuver jahat PKI itu Untuk memperkuat pendapatnya, Manai Sophian memberi
argumen tambahan terhadap pidato pelengkap Nawaksara yang ditolak pada 1967.

Dalam pidato “Pelengkap Nawaksara”, Presiden Soekarno mengatakan, G-30-S


terjadi karena tiga faktor: keblingernya pemimpin PKI, kelihaian Nekolim alias kekuatan
Barat, dan “adanya oknum yang tidak benar”. Para pemimpin PKI itu, menurut Manai
Sophian, bertindak tanpa persetujuan dari bawah. Mereka terjebak oleh isu kudeta Dewan
Jendral yang dicurigai Manai sebagai rekayasa inteljen Barat. Karena posisinya terancam,
Biro Khusus (sayap militer dalam Central Comite PKI) merancang kudeta dengan lebih
dahulu menyingkirkan para jendral yang dianggap berbahaya oleh PKI.

Selain melontarkan intrik Dewan Jendral. Manai Sophian juga menuding agen
Barat itu mempunyai hubungan khusus dengan sejumlah tokoh elite militer – kelompok
yang oleh Presiden Soekarno disebut ”oknum yang tidak benar.” Karena khawatir
keduluan, Aidit dan komplotannya, melancarkan kudeta dan membunuh para jendral. Di
situlah, menurut Manai Sophian, keblingerannya pemimpin PKI. Jadi, kata Manai
Sophian, Presiden Soekarno tidak terlibat G-30-S.

Buku Manai Sophian itu sekaligus juga ingin membersihkan nama Presiden
Soekarno dari tuduhan bahwa ia sejalan dengan PKI dan mengetahui rencana jahat G-30-
S, sebagaimana ditulis oleh bekas intel Kolonel (Purn) Soegiarso Soerojo dalam bukunya
yang juga kontroversial, Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai G30s-PKI. Peran
Bung Karno (1988). Diakui Manai Sophian, buku itu berusaha mengungkapkan bagian
dari sejarah Indonesia yang “kontroversial”

Sebenarnya buku yang ditulis oleh Manai Sophian terbilang sebuah usaha untuk
menggunakan sejumlah kaidah-kaidah ilmiah dalam merekontruksi Gerakan 30
September ketimbang buku Soegiarso Soerojo. Misalnya, Manai Sophian mengumpulkan
berbagai bahan dokumen dari dalam dan luar negeri, di antaranya dokumen Presiden
Amerika Serikat Johnson – untuk menyusun buku itu Manai juga mewawancarai 10
mantan tahanan PKI. Oleh karena itu bisa dimengerti apabila kalangan intelektual dalam
menilai buku Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai 30S-PKI dan Peran Bung Karno
bersifat delegitimate. Dalam arti bahwa proses delegitimasi terhadap Soegiarso Soerojo
ini mereka lakukan dengan mendestribusikan retotika-retorika scientific yang
mengandung tendensi untuk menggugat sisi metodologis penyusunan buku itu.

Misalnya, Sejarawan G Moedjanto melakukan deligitimasi terhadap Soegiarso


Soerojo dengan dengan mengistilahkan buku karangannya sebagai “sejarah yang ditulis
sejarawan amatir.” Metafor sejarawan amatir ini dapat diidentifikasi sebagai designator
yang berfungsi menempatkan Soegiarso Soerojo sebagai penulis buku itu dalam kategori
kognitif yang unauthoritative.

Di tengah kontroversial, muncullah Buku Putih versi pemerintah. Gerakan 30

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 23
Email: mr.kasenda@gmail.com
September : Pemberontakan Partai Komunis Indonesia, yang dikeluarkan Sekretariat
Negara. Buku itu adalah versi yang menjelaskan awal dan akhir peristiwa G-30-S itu.
Terbitnya kedua buku itu telah menyulut perbincangan hangat tentang peranan Presiden
Soekarno. Untuk kesekian kalinya, sepak terjang Presiden Pertama RI itu diungkapkan
lagi secara luas. Perhatiannya, bagaimana sebenarnya posisi Presiden Soekarno di tengah
peristiwa berdarah yang berakhir dengan tampilnya pemerintahan Orde Baru pimpinan
Jendral Soeharto.

Buku Putih yang melewati masa persiapan selama empat tahun, dalam kata
pengantarnya, menyatakan bahwa buku itu disusun untuk menarik pelajaran yang
berharga dari pengalaman masa lampau. Dokumen ini disusun untuk membekali bangsa
Indonesia mengenai ancaman terencana dari paham gerakan komunisme di Indonesia.
Ada dugaan bahwa Buku Putih itu disusun lantaran pemerintah Soeharto gerah melihat
Soekarno dielu-elukan anak muda dalam kampanye Partai Demokrasi Indonesia 1987.
Karena itu perlu ada penerangan tentang siapa sesungguhnya Presiden Soekarno itu.
Harlod Crouch menganggap bahwa Buku Putih itu dipakai untuk menangkal
kegandrungan anak muda kepada tokoh karismatis seperti Presiden Soekarno, sehingga
mereka kemudian tergiring mendukung PDI. Dengan kata lain, pemerintah Orde Baru
mencoba menggembosi PDI.

Dalam Buku Putih tidak menyimpulkan bahwa Presiden Soekarno terlibat dalam
perencanaan G-30-S. Masalahnya, kesaksian Kolonel (Mar) Bambang Widjanarko dan
Brigjen TNI HR Sugandhi di Mahkahmah Militer Luar Biasa (Mahmilub) tidak dibahas
dalam di buku ini. Padahal kesaksian kedua orang dekat Presiden Soekarno ini bisa
menggiring ke arah penafsiran bahwa Presiden Soekarno mengetahui rencana dan
pelaksanaan G-30-S .

Sejarah versi pemerintah Orde Baru tidak pula melihat kehadiran Presiden
Soekarno di Pangkalan Udara Halim pada 1 Oktober 1965 dengan mata curiga. Padahal,
fakta itu selama ini menjadi sumber spekulasi masalah kedekatan Presiden Soekarno
dengan G-30-S. Sebab, ketika itu, salah satu sentral komando (Cenko) G-30-S ada di
Kompleks Halim. Lantas, di sana pula Presiden Soekarno bertemu dengan Brigjen
Soepardjo, yang merupakan penggerak dari aksi tersebut.

Dijelaskan pula mengenai sikap Presiden Soekarno di Halim yang tidak serta
merta merestui aksi pembunuhan jendral-jendral Angkatan Darat. Buktinya, Presiden
Soekarno menginstruksikan agar gerakan-gerakan itu dihentikan dan siaran lewat RRI
mengenai kelahiran Dewan Revolusi dihentikan. Pengungkapan fakta itu seperti
mermberi kesempatan munculnya penafsiran bahwa Presiden Soekarno tak paham
dengan skenario yang sedang dimainkan Biro Khusus PKI yang dipimpin Sjam
Kamaruzzaman.

Tetapi Buku Putih itu menampilkan fakta-fakta bahwa Presiden Soekarno


cenderung melindungi PKI kendati partai itu telah terbukti sebagai dalang G-30-S.
Buktinya tulis Buku Putih, Presiden Soekarno tidak mengambil tindakan hukum terhadap
Brigjen Soepardjo, DN Aidit dan kawan-kawannya, yang telah diketahuinya melakukan

24
Peter Kasenda

manuver berdarah Bahkan, Presiden Soekarno memenuhi permintaan DN Aidit lewat


surat yang dikirim dari persembunyiannya di Jawa Tengah, yang memberi kesempatan
kepada Nyoto, seorang tokoh PKI, untuk membuat manuver lanjutan di rapat kabinet 6
Oktober 1965 di Istana Bogor. Di situ, Nyoto melansir pernyataan bahwa G-30-S adalah
urusan intern Angkatan Darat, dan PKI mendukung pembersihan di tubuh Angkatan
Darat.

Namun demikian, kata Agus Sudibyo yang menulis buku mengenai Soekarno,
Meskipun tidak secara eksplisit menyatakan keterlibatan Presiden Soekarno dalam G-30-
S, eksplanasi dan interprestasi yang ada di dalamnya cenderung mengarah pada
kesimpulan bahwa Presiden Soekarno “terlibat “ dalam G-30-S. Kesimpulan semacam ini
bisa dipahami, kalau dilihat dari De-Soekarnoisasi pada dataran simbolik yang dilakukan
melalui wacana-wacana resmi negara, serta keterlibatan unsur-unsur negara pada
berbagai polemik mengenai Presiden Soekarno.

Timbulnya kontroversi yang ada ini menyadarkan kita semuanya betapa peka
masalah Soekarno untuk dibicarakan. Membicarakan tokoh semacam Soekarno dalam
penulis sejarah Indonesia perlu hati-hati. Karena berbicara mengenai dia seringkali
menimbulkan guncangan-guncangan yang tentu saja menarik perhatian khalayak ramai.
Selama ini arwah Soekarno yang sedang beristirahat dengan damai nun jauh di sana,
Blitar, terusik ketenangannya dengan sejumlah tulisan yang membicarakan dirinya dan
dia tidak mempunyai kemampuan menjawab karena keberadaannya. Seandainya
Soekarno tidak meninggal dunia pada tanggal 21 Juni 1970 dan masih hidup sampai ssat
ini, niscata ia akan menjawab kesemuanya itu dan masalahnya menjadi jernih seperti air
di pegunungan.

Polemik tentang Soekarno dan Pancasila

Sejak usia muda Soekarno telah merasakan pahit getirnya perjuangan bangsa
Indonesia. Penderitaan demi penderitaan telah dilewati. Soekarno dipisahkan dari
keluarganya dan dijauhkan dari kerumuman massa yang mengaguminya Ia
menjadi bagian penting dari setiap fase perjalanan sejarah bangsanya. Berbicara
sejarah Indonesia berarti berbicara mengenai Soekarno. Begitu dominan tokoh
sejarah ini dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sehingga dirinya menjadi
sangat istimewa dalam realitas psiko-historis bangsa Indonesia.

Penulisan sejarah Indonesia yang berkaitan dengan nama mantan presiden


Republik Indonesia yang pertama, tidak jarang menimbulkan polemik yang
berkepanjangan dan sepertinya tidak akan pernah berkesudahan. Misalnya, peranan
politik Presiden Soekarno pada tahun-tahun sebelum kejatuhannya akibat Peristiwa
Gerakan 30 September surat-surat dari Sukamiskin (surat pengampunan Soekarno kepada
pemerintah Hindia Belanda) dan Soekarno bukan satu-satunya pembicara tentang

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 25
Email: mr.kasenda@gmail.com
Pancasila sebagai dasar negara. Dan ada kemungkinan polemik tentang diri Soekarno
berkelanjutan entah tentang apalaginya Soekarno. Tetapi sekarang saya membahas
polemik tentang Soekarno dan Pancasila.

Pada tanggal 1947, pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 dipublikasikan oleh
Departemen Penerangan dengan nama “Lahirnya Pancasila,” Dan sejak itulah menjadi
popular dalam masyarakat Indonesia bahwa Pancasila adalah nama dari dasar negara
Indonesia Merdeka, walaupun sebenarnya bunyi rumusan dan sistimatika serta metode
berpikir usulan dasar negara Soekarno tidak sama dengan dengan dasar negara yang
disahkan dalam Pembukaan UUD 1945. Sebelas tahun kemudian, tepatnya tahun 1958
dan 1959, Presiden Soekarno memberikan kursus-kursus di Istana Negara, Jakarta dan
kuliah umum pada Seminar Pancasila di Yogyakarta. Kemudian kumpulan pidato
tersebut beserta pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945 dijadikan buku dengan nama
Pancasila sebagai Dasar Negara. Sedangkan peringatan hari lahirnya Pancasula sendiri
diadakan pada tahun 1964, setelah DN Aidit mulai mempertanyakan tentang sahnya tidak
Pancasila sebagai dasar negara setelah cita-cita persatuan Indonesia tercapai. Dalam umur
kesembilan belas Pancasila, 1 Juni 1945 diperingati pertama kalinya. Slogan yang
dipergunakan untuk peringatan itu adalah “Pancasila Sepanjang Massa.”

Sebenarnya peringatan semacam itu tidak berlangsung lama. Sebab sejak


kejatuhan Presiden Soekarno, arah jarum jam berbalik. Gelar-gelar yang disandang
Soekarno, seperti Pemimpin Besar Revolusi. Penyambung Lidah Rakyat, Wali al-Amri
Daruri bis-Sjauka dicopot. Jasa dan peranannya ditiadakan. Dapat dikatakan bahwa pada
saat itu sedang berlangsung DeSoekarnoisasi. Mereka yang dahulu menggantungkan
gambar-gambar Soekarno di dinding rumah dengan penuh kebanggaan. Terpaksa
menyembunyikan di kolong tempat tidur atau gudang, karena dirasuki perasaan takut.
Yang dahulu memuja-muja bagaikan dewa, berbalik arah mengutuknya bagaikan setan
kalau ada orang Indonesia yang menulis sejarah berkaitan dengan diri Soekarno. Sulit
rasanya menghindarkan diri baik secara sengaja maupun tidak dari jiwa zaman pada
waktu itu. Soekarno hendak dibuang dalam keranjang sampah sejarah. Dalam wacana-
wacana resmi negara, nama Soekarno tidak dikaitkan dengan hari lahirnya Pancasila.
Peringatan hari lahirnya Pancasila dilarang .

Situasi polemik

Ketika deSoekarnoisasi sedang berlangsung, muncul keraguan mengenai


Soekarno adalah satu-satunya orang yang mengemukakan Pancasila sebagai dasar negara
Indonesia Merdeka. Diantaranya adalah, BJ Boland, H Endang Saifuddin Anshari, A.G.
Pringgodigdo dan Nugroho Notosusanto. Kedua orang pertama yang disebut
mempersoalkan mengenai Soekarno sebagai satu-satunya orang yang mengemukakan
Pancasila sebagai dasar negara secara sekilas, tetapi kedua orang yang disebut
belakangan, secara khusus mempersoalkannya. Kendati tulisan tersebut melawan
pendapat umum, tetapi tidak terjadi reaksi yang berlebihan.Tulisan BJ Boland dan H
Endang Saifuddin Anshari merupakan hasil studi di perguruan tinggi luar negeri dan
kemudian diterbitkan menjadi buku.

26
Peter Kasenda

Tulisan Nugroho Notosusanto, yang diperluas dan dimuat dalam majalah


Persepsi No 1, tahun 1, April, Mei dan Juni 1979, dengan judul “ Mengamankan
Pancasila sebagai Dasar Negara.” Tampaknya tulisan tersebut menarik perhatian Dirdjen
Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof Dr Dardji Darmodihardjo. Tentunya lewat
persetujuan Nugroho Notosusanto dengan sedikit perbaikan, naskah tersebut diterbitkan
oleh PN Balai Pustaka tahun 1981. Tulisan Nugroho Notosusanto disertai dengan tulisan
Pringgodigdo yang pernah diterbitkan oleh Kodam VII Brawijaya atas prakarsa, Ass Kas
Kodam VII/Brawijaya, Kol. Inf, Dardji Darmodihardjo, SH

Sebenarnya tulisan Nugroho Notosusanto tersebut merupakan perluasan dari


tulisan yang berjudul “Naskah Proklamasi Yang Otentik dan Rumusan Pancasila yang
Otentik.”, yang diterbitkan oleh Departemen Pertahanan dan Keamanan (1971) dan
diterbitkan ulang pada tahun 1978 oleh PN Balai Pustaka. Kemudian buku tersebut
dijadikan bacaan pelengkap para guru sekolah dalam rangka Pengajaran Moral Pancasila.
BP7 menggunakannya sebagai buku pegangan dalam Penataran P4.

Ketika tulisan Nugroho Notosusanto dimuat di berbagai harian atas permintaan


menteri penerangan Ali Moertopo, kemudian timbul reaksi yang bersifat politis, karena
menganggap buku tersebut bersifat politis. Misalnya, muncul “Deklarasi Pancasila” yang
dikeluarkan Lembaga Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1981, di tengah malam,
di Monumen Soekarno-Hatta, Jalan Proklamasi. Deklarasi Pancasila ditandatangani oleh
17 orang, antara lain Manai Sophian, Usep Ranawidjaja, Jusuf Hasyim, H.M Sanusi,
Slamet Branata, Hugeng dan HR Dharsono. Deklarasi tersebut menyatakan bahwa hari
lahirnya Pancasila adalah 1 Juni 1945 dan Soekarno adalah satu-satunya orang yang
mengemukakan Pancasila sebagai dasar negara

Pengeritik tulisan Nugroho Notosusanto, ada yang mempunyai profesi sebagai


sejarawan, seperti Ruben Nalenan (Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta), G Moedjanto
(IKIP Sanata Dharma), Abdurachman Suryomihardjo (LIPI) dan Kuntowidjojo (UGM).
Dua nama yang disebut pertama terlibat dalam polemik di surat kabar Dua nama yang
disebut terakhir, hanya memberi komentar yang kritis atas pertanyaan surat kabar.
Sejarawan UI, Onghokham menulis dan memberi komentar atas polemik tersebut, tetapi
bersifat netral. Di samping itu, Bagin, BM Diah, Sunario dan Roeslan Abdulgani
memberi reaksi atas tulisan Nugroho Notosusanto. Tentu saja bersifat politis ketimbang
akademis. Roeslan Abdulgani yang suka menulis itu lebih suka memberi komentar
terhadap polemik tersebut.

Ternyata polemik tersebut menyeret harian untuk terlibat. Suara Karya yang
dikenal sebagai media yang dekat dengan pemerintah, memberi dukungan terhadap
tulisan Nugroho Notosusanto. Yang bersikap netral adalah Kompas dan Sinar Harapan.
Media yang sangat kritis atas tulisan Nugroho Notosusanto, seperti Merdeka, Simponi,
Topik dan Indonesia Observer. Keempat media ini dikenal yang mempunyai simpati
berlebih terhadap Presiden Soekarno.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 27
Email: mr.kasenda@gmail.com
Buku Muhammad Yamin, Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945
menjadi rujukan dari tulisan Nugroho Notosusanto. Naskah tersebut dianggap
sebagai sumber primer, karena penyusunnya adalah seorang pelaku dari proses
perumusan Pancasila sebagai dasar negara. Lagi pula, buku tersebut diterbitkan
dengan sebuah kata pengantar oleh Presiden Soekarno yang juga seorang pelaku
dari proses perumusan Pancasila Dasar Negara.

A.G Pringgodigdo, yang di dalam BPUPKI menjadi wakil kepala Sekretariat dan
tugasnya adalah memimpin para stenograf yang mengambil notulen sidang-sidang
badan itu, mengatakan kepada Nugroho Notosusanto bahwa isi buku M Yamin itu
kata demi kata (wordelijk) saja dengan isi notulischverslag itu.

Kritik yang tajam diarahkan kepada Nugroho Notosusanto adalah berkaitan


dengan penggunaan sumber primer, adalah buku M Yamin, Naskah Persiapan
Undang-Undang Dasar 1945. Mereka yang menyangsikan bahwa naskah M
Yamin itu, dengan kata lain ingin mengatakan bahwa hanya Soekarnolah satu-
satunya yang mengemukakan dasar negara Indonesia Merdeka.

Tidak ada kritik kecuali menganggap yang dipublikasikan M Yamin itu autentik
adalah merupakan suatu kelemahan. Harus diketahui bahwa penggunaan satu
sumber saja, menjadi tak asli lagi sebab M Yamin tentunya menyaringnya untuk
memperluas posisinya sendiri. Sumber tunggal juga tidak mungkin adanya
perbandingan. Oleh karena itu, prosedur ilmiah yang ditempuh Nugroho
Notosusanto kurang menyakinkan sehingga kesimpulan yang ditarik Nugroho
Notosusanto bersifat sementara.

Penempatan pidato yang tidak berurutan terasa janggal. Pidato Soekarno 1 Juni
1945 justru ditempatkan pada urutan pertama, kemudian baru disusul pidato M
Yamin sendiri 29 Mei 1945 dan pidato Supomo 31 Mei 1945. Di samping itu M
Yamin juga tidak merasa perlu memuat pidato atau orang lain antara 29 Mei
sampai 1 Juni 1945. Dengan tidak menyebutkan hal itu, sebenarnya Nugroho
Notosusanto tidak menjalankan suatu metodelogi sejarah.

Adanya kata pengantar Presiden Soekarno pada buku M Yamin tidak bisa
ditafsirkan sebagai pengakuan secara langsung bahwa naskah buku itu sah adanya
sebagai sebagai sumber primer. Sebenarnya M Yamin tidak bermaksud
menerbitkan sumber primer dan hanya dipakai untuk mendukung Konsepsi
Presiden Soekarno kembali ke UUD 1945 setelah kemacetan sidang konsituante.

Peranan Soekarno sebagai satu-satunya penggali Pancasila dikuatkan oleh saksi


yang terlibat dalam proses permusan Pancasila Dasar Negara, antara lain, Dr Radjiman
Wedyodiningrat ( Prakata “Lahirnya Pancasila”, 1947)
Surat Wasiat Hatta,1978,”Memoir Hatta”,1979 dan bahkan oleh M Yamin sendiri,
Pidato Filsafat Pancasila,5-6-1958, Seminar Pancasila 1-1-1959, Pidato di Deparlu, 2-2-
1960,” Soekarno ialah Penggali Pancasila yang Otentik,”. Pengakuan M Yamin dalam

28
Peter Kasenda

seminar Pancasila tanggal 16 Februari 1959 di Yogyakarta. Menurut sejarah dan


kenyataan maka Pancasila penggalian Soekarno.

Terlalu sulit untuk mempercayai kata-kata AG Pringgodigdo yang mengatakan


bahwa naskah M Yamin kata demi kata sama dengan notulen. Terlebih AG Pringgodigdo
tidak pernah men-cek lagi karena notulen tersebut “dihilangkan“ oleh M Yamin, dan ada
kemungkinan besar dan bisa dipastikan kalau M Yamin mengubah ejaan serta bahasa dan
memperbaiki kata-kata yang janggal dalam notulen.

Yang paling menarik adalah mendengar kata-kata Abdurachman Suryomihardjo.


Sejarawan LIPI mengatakan bahwa sejarawan harus hati-hati dalam memuat interprestasi
sejarah. “Kalau interprestasi itu tidak dikaitkan dengan maksud untuk meniadakan
peringatan nasional atau kelompok, interprestasi boleh saja dilakukan. Tapi kalau
interprestasi itu dipakai membenarkan logika untuk suatu rekomendasi keputusan politik
itu bisa dipersoalkan…”

Dengan kata lain, sebenarnya pemberi komentar itu ingin mengatakan bahwa
buku Nugroho Notosusanto, Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara merupakan
“pamflet politik“ daripada karya sejarah. Kritik semacam itu mengingat situasi yang
cenderung mengabaikan peranan Soekarno dalam sejarah Indonesia. Kenyataan
menunjukkan bahwa pemerintah Orde Baru yang menyingkirkan Presiden Soekarno
panggung politik lebih menyukai tesis dari Nugroho Notosusanto .

Mendengar suara-suara semacam itu, Nugroho Notosusanto bukan tidak tanggap.


Ia mempunyai jawaban atas kritik tersebut. “Kalau pendapat saya dalam buku itu sama
sama dengan pendapat pemerintah, itu kebetulan saja. Hal ini sudah menjadi pendapat
saya sejak lama sekali.” Begitu kata sejarawan dari Pusat Sejarah ABRI.

Tesis utama Nugroho Notosusanto mengenai Soekarno bukan satu-saunya yang


mengemukakan dasar negara, sebenarnya telah ditulis Nugroho Notosusanto pada tahun
1971 dengan judul “Naskah Proklamasi Yang Otentik dan Rumusan Pancasila Yang
Otentik.” oleh Departemen Pertahanan dan Keamanan, dan kemudian diterbitkan ulang
oleh PN Balai Pustaka pada tahun 1978.

Yang menarik pendapat dari Ketua Team BP7 (Penasehat Presiden mengenai
Pelaksanaan Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, Dr Roeslan Abdulgani
dalam menanggapi terbitnya buku Nugroho Notosusanto itu dengan mengatakan bahwa
penggunaan buku Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar1945 sebagai sumber primer
merupakan suatu kesalahan. Sebab menurut Dr Roeslan Abdulgani, buku M Yamin itu
diterbitkan bukan merupakan publikasi resmi. Buktinya tidak memuat apa saja yang
terjadi pada waktu sidang BPUPKI. Tidak memuat pidato-pidato para pendiri bangsa
lainnya pada saat sidang BPUPKI. Bahkan beberapa bagian isi dari buku tersebut
diragukan keakuratannya. Yang lebih diragukan Dr Roeslan Abdulgani mengenai pidato
M Yamin 29 Mei 1945.

Menurut Karen Brook lewat tulisannya mengenai Soekarno, tindakan Nugroho

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 29
Email: mr.kasenda@gmail.com
Notosusanto tersebut mendapat restu pemerintah, sebagai bagian dari usaha untuk
menciptakan “keseimbangan“ perspektif tentang Soekarno. Dengan kata lain,
peningkatan idealisasi terhadap Soekarno di kalangan loyalis Soekarno dan generasi
muda. Diimbangi dengan usaha-usaha untuk mengasingkan makna penting sang
proklamator ini dalam konteks sejarah bangsa Indonesia Kebangkitan kekuasaan
nostalgik terhadap Soekarno dan semakin kuatnya mitos-mitos tentang Soekarno dalam
realitas psikolgis masyarakat sekitar tahun 1978 cukup mengkhawatirkan pemerintahan
Soeharto, sehingga Nugroho Notosusanto diinstruksikan untuk melakukan counter
dengan cara menciptakan gambaran-gambaran yang illegitimate mengenai Soekarno.

Kemudian pada tahun 1984, Lembaga Soekarno – Hatta menerbitkan buku


Sejarah lahirnya Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila, yang mengatakan bahwa
hari lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 tidak bisa dilepaskan dari Soekarno. Sebab Soekarno
adalah satu-satunya orang yang mengemukakan Pancasila sebagai dasar negara di depan
sidang BPUPKI 29 Mei - 1 Juni 1945.

Penutup

Ada satu catatan yang penting dalam ilmu sejarah. Ada kecenderungan sering
terjadi penyalahgunaan ilmu sejarah. Karena penulisan sejarah mempunyai fungsi untuk
memberi legitimasi. Bahaya dari itu adalah fakta sejarah atau proses sejarah dipakai
seenaknya oleh politisi atau cendikiawan yang terlibat. Hal ini tentu akan mengaburkan
pandangan masyarakat mengenai kedudukan ilmu sejarah dan konsepsinya mengenai
sejarah. Dan yang paling penting bagi penelitian sejarah kontemporer, apakah sejarawan
mengambil jarak dari sasaran yang dibicarakan? Dapatkah si sejarawan terlepas dari
sentimen dan praduga pribadinya, menghadapi hal yang dibicarakan itu dengan wajar.
Hal ini penting sebab pengerjaan ilmu sejarah tidak saja menuntut kemampuan teknis dan
wawasan teori, tetapi juga integritas yang tinggi. Karena itu, dalam melakukan studi
sejarah, sejarawan harus meninjau kecenderungan pribadinya. Makin ia menyadari bahwa
ia tidak bisa bersikap adil dan wajar terhadap sasaran studinya, maka makin menjauhlah
ia dari sasaran itu. Entah, kalau sejarawan itu lebih ingin menjalankan tugasnya sebagai
cendikiawan yang terlibat atau ideologi yang mencari pembenaran. Tak ada salahnya,
tetapi masalahnya telah berada di luar bidang sejarah sebagai ilmu. Begitu kata Taufik
Abdullah.

Terlepas dari urutan peristiwa dan tafsir sejarah yang dikemukakan dalam
meninjau proses perumusan Pancasila itu serta berbagai pendapat yang berlawanan dalam
mencapai kebenaran dan kejujuran dari para penulisnya, secara teknis metodologis ilmiah
segera tampak satu kekurangan yang menyolok. Kekurangan itu ialah tiadanya arsip yang
dapat dipakai sebagai sumber primer penulisannya. Ibarat orang ingin menjamah apa
yang ingin diraih sebagai pijakan, tetapi orang itu berada di dalam gua yang gelap gulita.
Tiada “Sinar Arsip” yang dapat dilihat dan dipijak, sehingga pijakan memberikan alasan
dan pembuktian menjadi goyah. Akhirnya orang saling mengemukakan percaya atau
tidaknya kepada orang yang dipakai sebagai landasan utaiannya. Harapan untuk tidak
tergelincir dari pijakan yang goyah itu ialah apabila suatu ketika para peneliti

30
Peter Kasenda

menemukan arsip persidangan itu.

Soekarno, Kutu Buku dan Koleksi Buku

Dr Mahar Mardjono, mantan tim ketua Kepresidenan (1968-1970) menceritakan


apa yang menarik perhatiannya ketika ia memasuki Istana Negara pertama kali untuk
mengobati Presiden Soekarno, yang dipagi hari awal bulan Agustus 1965 menderita
pusing, sempoyongan dan muntah. Dr Mahar Mardjono yang berada di serambi, yang
penuh dengan berbagai buku di berbagai bidang. Dan ketika ia berada diserambi
belakang Istana, di mana Presiden Soekarno bercelana pendek dan berbaring, di atas
tempat tidur itu. Dr Mahar Mardjono melihat berbagai surat kabar dan majalah baik
dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Dari keterangan Dr Mahar Mardjono,
kesimpulan yang diperoleh adalah Presiden Soekarno sangat berminat membaca dan
mengoleksi sejumlah buku. Kesukaannya itu membawa dia sering menulis.

Sebenarnya awal ketertarikan dengan buku, dituturkannya dalam


autobiografinya, “ Pak Tjok adalah pujaanku. Aku muridnya. Secara sadar atau tidak
sadar ia menggemblengku. Aku duduk dekat kakinya dan diberikannya padaku buku-

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 31
Email: mr.kasenda@gmail.com
bukunya, diberikan kepadaku miliknya yang berharga. Ia hanya tidak sanggup
memberikan kehangatan yang kuharapkan langsung dari pribadinya kepada pribadiku.
Karena tak seorangpun yang mencintaiku seperti yang kuidamkan, aku mulai mundur.
Kenyataan-kenyataan yang kulihat dalam duniaku yang gelap hanyalah kehampaan dan
kemelaratan. Karena itu aku mengundurkan diri kedalam apa yang dinamakan orang
Inggris : “Dunia Pemikiran”. Buku-buku menjadi temanku. Dengan dikelilingi oleh
kesadaranku sendiri aku memperoleh kompensasi untuk mengimbangi diskriminasi dan
keputusasaan yang kekal inilah aku mencari kesenanganku. Dan di dalam itulah aku
dapat hidup dan sedikit bergembira. “

“ Seluruh waktu kugunakan untuk membaca. Sementara yang lain-lain bermain-


main, aku belajar. Aku mengejar ilmu pengetahuan di samping pelajaran sekolah. Kami
mempunyai perpustakaan yang besar di kota ini yang diselenggarakan oleh perkumpulan
Theosofi. Bapakku seorang Theosofi, karena itu aku boleh memasuki peti harta ini, di
mana tidak ada batasnya buat anak seorang miskin. Aku menyelam sama sekali ke dalam
dunia kebatinan ini. Dan disana aku bertemu dengan orang-orang besar. Buah pikiran
mereka menjadi buah pikiranku. Cita-cita mereka adalah penderitaan dasarku.”

Kesukaannya membaca itu mengantarkannya secara mental berbicara dengan


Thomas Jefferson (penulis Declaration of Independence), George Washington (Presiden
Amerikat Serikat Pertama), Paul Reverve, Gladstone, Sidney and Beatrice Webb, yang
mendirikan Gerakan Buruh Inggris, Mazzini Cavour, Garibaldi, Karl Marx (Nabi Kaum
Proletar), Frederich Engels, Lenin, Jean Jacques Rousseau, Aristide Briand dan Jean
Jaures ahli pidato terbesar dalam sejarah Perancis. Soekarno mengibaratkan dirinya
pernah mengalami kehidupan negarawan-negarawan besar itu. Soekarno sebenarnya
adalah Voltaire. Soekarno adalah Danton, pejuang besar dari Revolusi Perancis.
Soekarno menjadi tersangkut secara emosional dengan negarawan-negarawan diatas.

Karena Soekarno berdiam di kediaman H.O.S. Tjokroaminoto, tokoh Sarekat


Islam yang terkenal pada masa itu, maka ramailah berkunjung tokoh-tokoh pergerakan
nasional. Kalau boleh menggunakan istilah John D Legge, yang menulis buku Sukarno
Biografi Politik, di sana Soekarno tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berdialog
dengan tokoh-tokoh itu. Kesenangan Soekarno membaca mengantarkan pada kata-kata
pemikir India, Swami Vivakananda yang berbunyi demikian,” Jangan bikin kepalamu
menjadi perpustakaan. Pakailah pengetahuanmu untuk diamalkan.” Ketika kesadaran itu
mulai muncul, Soekarno mulai menerapkan apa-apa yang telah dibaca. Soekarno mulai
memperbincangkan antara peradaban yang megah dari pikirannya dengan tanah airnya
sendiri yang sudah bobrok. Pemikirannya ini akhirnya menyadarkan Soekarno menjadi
seorang nasionalis yang menyala-nyala dan menyadari bahwa tidak ada alasan bagi anak
muda Indonesia untuk menikmati kesenangan dengan melarikan diri dalam dunia khayal.
Kenyataan yang dihadapi oleh Soekarno, negerinya miskin, malang dan dihinakan.
Kesadaran itu pula menyebabkan menyebabkan Soekarno mendirikan Tri Koro Dharmo
dan menulis di Oetoesan Hindia, milik Sarekat Islam.

Ketika Soekarno menjadi Ketua Kelompok Studi Umum, yang pada tahun
berikutnya menerbitkan Indonesia Moeda, menulis artikel yang berjudul “Nasionalisme,

32
Peter Kasenda

Islamisme dan Marxisme,” secara berturut-turut mulai bulan November-Desember 1926


dan Januari 1927. Tulisannya yang menginginkan adanya persatuan di antara ketiga
kelompok aliran tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diberi
kata pengantar oleh Ruth McVey, penulis buku The Rise of Communism dan diterbitkan
oleh Cornell University Modern Indonesia Project Translation Series.

Pleidoinya diminati

Pada 4 Juli 1927 Soekarno dan kawan-kawan mendirikan Perserikatan Nasional


Indonesia (kemudian berubah menjadi Partai Nasional Indonesia). Sebagai aktivis politik,
Soekarno sering kali menulis di Persatoean Indonesia, majalah politik milik PNI dan
Soeloeh Indonesia Moeda majalah politik milik PNI, serta untuk Benteng Priangan yang
diterbitkan PNI cabang Bandung. Di samping itu, kegiatannya yang diwarnai dengan
mobilisasi massa melalui rapat umum tampaknya dianggap mengganggu ketertiban dan
keamanan tanah Hindia Belanda. Karena itu Soekarno ditangkap dan mendekam penjara
menjelang tahun 1930, ketika dihadapkan pada Landard Bamdung. Soekarno
mengucapkan pidato pembelaan yang terkenal itu dengan judul Indonesia Klaagt Aan.
Melalui pleidoi pembelaan, Soekarno menyoroti arti yang seluas-luasnya hakekat
imperialisme menekankan karakternya yang sistimatis, menelusuri pengaruhnya terhadap
Indonesia, dan berusaha menempatkan PNI dalam konteks sejarah tersebut.

Pidato pembelaan itu kemudian diterbitkan dalam bentuk buku dan diminati orang
muda pada masa itu. Buku yang merupakan pembelaan Soekarno yang cemerlang itu
tidak sembarangan orang bisa membacanya. Ketika Soekarno menjadi presiden,
pleidoinya diterbitkan oleh Departemen Penerangan maupun penerbit swasta. Setelah
Soekarno meninggal dunia dalam status sebagai tahanan politik dari negeri yang
diperjuangkan sejak muda, Roger K Paget yang menyelesaikan disertasinya yang
berjudul Youth and The Wane of Sukarno di Cornell University pada tahun 1970
mengedit dan menterjemahkan kedalam bahasa Inggris serta memberi anotasi pleidoi itu
dengan judul Indonesia Accuses ! Soekarno”s Defence Oration in The Political Trial of
1930). Melalui bab pendahuluannya yang hampir mendekati 70 halaman itu, Roger K
Paget mencoba membantu sidang pembaca untuk memahami buah pikiran Soekarno.
Pleidoi pembelaan Indonesia Menggugat merupakan karya Soekarno dan terpenting
dalam bentuk buku yang memberi gambaran yang telah jelas tentang identitasnya sebagai
cendikiawan dan tokoh politik yang ketika itu usianya menjelang 30 tahun. Pidato
pembelaan itu terutama dan langsung dialamatkan kepada masyarakat kolonial Belanda
yang isi dan argumentasinya banyak sekali diwarnai oleh literatur-literatur kaum sosialis
Barat. Misalnya Brauer, Brailsford, Engels, Jaures, Kausky, Karl Marx dan Troelestra.

Pada bulan Desember 1930 Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Soekarno


untuk ditahan selama 4 tahun. Soekarno dikirim ke penjara Sukamiskin, di dekat
Bandung, yang konon kabarnya dia terlibat membuat rancangan penjara Sukamiskin itu.
Didalam ruang penjara yang kecil itu Soekarno mulai merenung arti hidup ini. Soekarno
mulai mendekatkan diri lebih dekat pada studi mengenai Islam dibandingkan pada waktu
sebelumnya. Soekarno menggambarkan hidupnya sebagai telah menemukan Islam untuk

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 33
Email: mr.kasenda@gmail.com
pertama kalinya. Buku mengenai Islam yang dibacanya itu diperoleh dari Achmad Hasan,
tokoh Persis dan M Natsir tokoh Jong Islamiten Bond.

Pada tanggal 3 Desember 1931, Soekarno keluar dari penjara Sukamiskin, sebagai
orang yang merdeka. Kesukaannya terhadap agitasi massa diteruskan disertai dengan
menulis di mingguan Fikiran Ra’jat, majalah Partai Indonesia (Partindo) yang
menggantikan Partai Nasional Indonesia almarhum. Ketika Soekarno melakukan
perjalanan ke Jawa Tengah pada bulan Maret 1933 untuk membangkitkan semangat
rakyat, dia melepaskan lelah beberapa hari di pegunungan Pengalengan Bandung. Disana
Soekarno menulis risalah yang berjudul Mencapai Indonesia Merdeka. Risalah ini
kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris serta diterbitkan dalam bentuk sebuah
buku ( Lihat Bob Heering,” Soekarno”s Mentjapai Indonesia Merdeka,” 1978 ) .

Pada awal tahun 1934, sebelum Soekarno sempat meledakkan bom ditengah-
tengah pengikutnya dengan mengundurkan diri dari Partindo, pemerintah Hindia Belanda
mengasingkan Soekarno ke pulau Flores. Soekarno ditempatkan di kota kecil Ende.
Keberangkatannya ke sana merupakan jalan menuju kesepian. Karena itu dia sudah
terbiasa dalam kerumunan massa, maka kepergiannya dari tanah Jawa, sungguh
merupakan suatu penderitaan. Dia pernah mengatakan bahwa dirinya yang berada dalam
kesepian dan kesendirian itu bagai burung elang yang dipotong sayapnya. Di tempat
pengasingan itu, ia pertama kalinya merasakan ketidak berdayaannya melawan kekuasaan
kolonial, Situasi yang tidak menyenangkannya itu membuat dia kemudian menyadarkan
dirinya pada perlindungan Allah. Soekarno kemudian sering mengadakan korespondensi
dengan Achmad Hasan mengenai Islam. Di dalam surat-suratnya itu yang kemudian
dikenal dengan Surat-Surat Islam dari Endeh, banyak berbicara mengenai keadaan umat
Islam di tanah airnya yang dianggap sedang diliputi kebekuan dan kekolotan. Di sana
Soekarno menulis karangan-karangan yang bersifat netral politik dalam pers Indonesia. Ia
menerjemahkan riwayat hidup raja Ibnu Saud dari bahasa Inggris kedalam bahasa
Indonesia, dari tulisan H.C Amstrong (1934) .

Tak lama kemudian Soekarno dipindahkan ke Bengkulu. Di sana ia menulis


mengenai Islam di majalah Pandji Islam milik Muhammadiyah, yang mana Soekarno
menjadi anggotanya. Tulisan-tulisannya mengenai Islam itu dikemudian hari banyak
dibicarakan. Badri Yatim, Sarjana IAIN Syarief Hidayatulah Jakarta, menulis buku
berjudul “Soekarno, Islam dan Nasionalisme”. Muhammad Ridwan Lubis, lulusan IAIN
Sunan Ampel Surabaya, telah menulis disertasi yang berjudul “ Pemikiran Soekarno
tentang Islam dan Unsur-unsur Pembaharuan,” yang dipertahankan pada tanggal 14 Juli
1987 di IAIN Syarief Hidayatulah Jakarta. Ahmad Suhelmi menulis skripsi yang berjudul
“ Perdebatan Soekarno dengan M Natsir : Masalah Islam dan Negara” (Jakarta : FISIP
UI, 1988). Perbedaan Soekarno dengan M Natsir, juga mendapat perhatian didalam buku
Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia ( Jakarta :LP3ES, 1990 )

Tulisan dan Pidatonya Menarik Dikaji

34
Peter Kasenda

Koleksi bukunya ketika berada di Pengasingan Bengkulu, sudah mencapai 1000


koleksi buku lebih. Begitu balatentara Jepang mendarat di Hindia Belanda,
koleksi buku-bukunya itu disembunyikan pada saudara-saudara Fatmawati (yang
kemudian dikenal sebagai Fatmawati Soekarno), agar tak terjamah oleh tangan-
tangan yang tak berkepentingan. Di masa pendudukan Jepang, Soekarno
bekerjasama dengan penguasa baru, terus menerus memperbanyak koleksi
bukunya. Dalam koleksi bukunya itu terdapat buku-buku yang membicarakan
mengenai fasisme serta cara-cara mengalahkannya. Misalnya tulisan Willy
Munzenberg yang berjudul Propaganda als Waffe, atau karangan Ernst Hendry
yang berjudul Hitler Over Rusia. Koleksi buku Soekarno yang sedemikian banyak
disertai perenungan yang dalam mengantarkannya merumuskan dasar negara.
Ketika masa pendudukan Jepang ini, Soekarno mengucapkan pidato yang
cemerlang mengenai dasar negara yang akan dibentuk nantinya didalam sidang
BPUPKI pada 1 Juni 1945. Pidato yang bersejarah itu kemudian di bukukan dan
diterjemahkan kedalam bahasa Inggris maupun Tionghoa. Ada sekitar 10 penerbit
yang ikut ambil bagian memperbanyak pidato itu. Tulisan-tulisan Soekarno di
masa kolonial Hindia Belanda serta pidato yang cemerlang itu menarik perhatian
untuk dikaji. Bernhard Dahm, orang pertama yang mempelajarinya secara
mendalam. Lewat hasil penelitian berbagai perpustakaan dan arsip Belanda pada
tahun 1961-1963. Bernhard Dahm mengajukan disertasinya yang berjudul
Soekarno Kampft Um Indonesien Unabhaigkeit Wedergang und Indonesia
Asiatischen Nasionalisten, untuk memperoleh gelar doktor dari Universitas Kiel,
Jerman Barat, pada tahun 1964 dan satu tahun kemudian dengan sedikit koreksi
serta perubahan, disertasi itu diterbitkan dalam bahasa Jerman, kemudian dalam
bahasa Belanda pada tahun 1966, dan bahasa Inggris pada tahun 1969 oleh
Cornell University Press, serta tahun 1987 LP3ES menerbitkannya dengan judul
Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan Sebenarnya ketika Soekarno masih
menjadi Pemimpin Besar Revolusi dan Presiden Seumur Hidup, Bernhard Dahm
mengirimkan bukunya dalam bahasa Jerman kepada Presiden Soekarno. Dan
setelah terjadi Peristiwa Gerakan 30 September, Bernhard Dahm mendapat
kesempatan bertatap muka dengan Presiden Soekarno. Pemimpin Besar Revolusi
tidak berkeberatan dengan tulisan sarjana berkebangsaan Jerman Barat itu.

Setelah Jepang kalah, Sekutu mendarat. Keadaan ibukota Republik Indonesia


tidak aman Soekarno yang telah dilantik menjadi Presiden pindah ke kota Yogyakarta
yang telah ditetapkan sebagai ibukota sementara. Di sana koleksi buku-bukunya yang
disembunyikan di Bengkulu digabungkan dengan koleksi buku yang diperoleh pada masa
pendudukan Jepang. Koleksi buku itu menjadi bahan bacaan Soekarno yang menulis
sebuah buku berisi tuntutan untuk pergerakan wanita yang berjudul Sarinah, yang dikenal
dengan nama pengasuhnya ketika Soekarno masih kecil. Buku itu sendiri membicarakan
peranan wanita dalam revolusi dan hakekat revolusi itu sendiri. Sebagai presiden,
Soekarno leluasa memperoleh buku-buku dan memperbanyak koleksinya. Jawaharlal
Nehru, pemimpin pergerakan kemerdekaan dan kemudian menjadi Perdana Menteri India
saat itu, memberi Presiden Soekarno satu seri lengkap buku yang terdiri atas 30 buah
buku dan setiap buku setebal 8 cm. Kumpulan itu berisi tulisan, ceramah maupun pidato
Swami Vivekananda, seorang pemikir India yang ajarannya menjiwai gerakan

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 35
Email: mr.kasenda@gmail.com
nasionalisme India.

Pemberian seseorang dan membeli buku itulah yang memungkinkan koleksi buku
Soekarno semakin bertambah saja. Ketika itu ibukota RI kembali ke Jakarta, karena
saking banyaknya buku itu, terpaksa tidak ikut serta pemiliknya yang menggunakan
pesawat terbang. Buku-buku Soekarno mesti naik kereta api. Koleksi buku Soekarno itu
nantinya ditempatkan pada lemari buku yang mengitari ruang kerjanya serta
perpustakaan. Koleksi buku inilah yang menjadi bahan bacaan Presiden Soekarno
mengucapkan pidato kenegaraan 17 Agustus ataupun acara-acara lainnya. Pada masa
Demokrasi Terpimpin, sejumlah artikel ataupun pidato serta buku diterjemahkan dan
diterbitkan. Pada tahun 1959, kumpulan tulisan Soekarno, yang ditulis dimasa kekuasaan
kolonial Hindia Belanda dengan judul “Dibawah Bendera Revolusi I“ diterbitkan.
Pidatonya mengenai Marhaen dan Proletar yang diucapkan pada acara ulang tahun ke 30
(4 Juli 1957) Partai Nasional Indonesia, diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dan
disertai kata pengantar dari George McTurnan Kahin, yang mengenal Soekarno secara
pribadi pada masa revolusi nasional di Yogyakarta dan diterbitkan Cornell University
Modern Indonesia Project pada tahun 1960. Ceramah Presiden Soekarno mengenai
Pancasila pada pertengahan tahun 1959, diterbitkan dalam bentuk sebuah buku dengan
judul Pancasila Sebagai Dasar Negara pada tahun 1961, pada tahun yang sama,
diterbitkan pidato pembelaannya Indonesia Menggugat ke dalam bahasa Rusia dengan
judul Indonesia obwinjaet sbornik statej I recej perewod s Indonezijskogo I anglijskogo.
Kumpulan pidato kenegaraan 17 Agustus Presiden Soekarno periode berikutnya
diterbitkan dalam sebuah buku dengan judul Dibawah Bendera Revolusi II. Kedua buah
buku Dibawah Bendera Revolusi akhirnya diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dengan
judul Under The Banner of Revolution pada tahun 1966. Pada tahun yang sama pula,
terbit di Amsterdam terjemahan buku Sarinah. Kewajiban Wanita dalam Perjuangan
Republik Indonesia dalam bahasa Belanda dengan judul Sarinah : De Taak van de vrouw
van de Republik Indonesia.

Dilarang Terbit

Kalau di atas tadi membicarakan mengenai tulisan-tulisan Soekarno, sebenarnya


pada tahun 1965 telah terbit autobiografinya : Soekarno An Autobiography as told as
Cindy Adams ( New York : The Book-Merill Company Inc , 1965 ) . Setahun kemudian
autobiografi ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan judul
Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Buku ini diterbitkan oleh PT Gunung
Agung, penerbit yang dipimpin Masagung, sahabat dekat Presiden Soekarno di saat kritis.
Pada tahun yang sama pula, penerbit tadi menerbitkan sebuah buku yang yang berjudul
Bung Karno Putra Fajar, yang ditulis oleh Solichin Salam berdasarkan penelitian serta
wawancara dengan Presiden Soekarno. Buku tersebut hampir tidak bisa terbit, kalau tidak
ada kesediaan PT Gunung Agung untuk menerbitkannya. Maklum, situasi pada saat itu di
mana kedudukan Presiden Soekarno dalam posisi yang sulit akibat Peristiwa Gerakan 30
September, menyebabkan sejumlah penerbit menjadi enggan menerbitkannya. Ketika
Soekarno disingkirkan dari kekuasaannya dan berstatus sebagai tahanan politik, situasi
deSoekarnoisasi yang digerakan pemerintahan Orde Baru terjadi. Sejumlah buku

36
Peter Kasenda

mengenai Soekarno dan “ ajaran-ajarannya“ dilarang terbit. Buku yang ditulis Solichin
Salam pun mengalami nasib yang sama. Buku cetakan pertama itu pun terpaksa
terpendam dalam gudang PT Gunung Agung selama 13 tahun.

Pada bulan Juni 1980 berdasarkan surat keputusan Kejaksaan Agung RI No B-


483/D.I/5/80 pada tanggal 8 Mei 1980 dizinkan beredar untuk seluruh wilayah
Indonesia. Dan sebelumnya pada bulan Maret 1980, kumpulan tulisan Soekarno
Dibawah Bendera Revolusi I berikut terjemahannya diizinkan beredar kembali. Bisa
dikatakan bahwa buku mengenai Presiden Soekarno ataupun tulisan-tulisannya bebas
dipasarkan, kecuali buku wasiat Soekarno yang disusun oleh Gayus Siagian berdasarkan
dokumentasi Masaung dan selesai dicetak tahun 1978 tetap dilarang dipasarkan. Pada
dasawarsa tahun 1980-an sejumlah tulisan maupun pidato Presiden Soekarno diterbitkan
kembali. Yayasan Pendidikan Soekarno yang diketuai oleh Rachmawati Soekarnoputri
bekerjasama dengan Yayasan Idayu (yayasan yang mengabdikan nama ibunda Soekarno)
yang diketuai oleh Masagung menerbitkan buku Mencapai Indonesia Merdeka,
Indonesia Menggugat, Amanat Proklamasi Jilid I,II,II dan I, Ilmu dan Perjuangan
(Pidato Presiden Soekarno ketika menerima gelar Honoris Causa dari universitas dalam
negeri), Soekarno dan Pemuda (Pidato Presiden Soekarno dihadapan pemuda ), Soekarno
dan ABRi ( Pidato Presiden Soekarno dihadapan ABRI ) dan Sarinah Kewajiban Wanita
dalam Perjuangan Republik Indonesia. Tulisan Soekarno ataupun tulisan mengenai
dirinya telah banyak diterbitkan Terbitan itu bisa dicari di Perpustakaan Idayu maupun
Yayasan Pendidikan Soekarno. Kedua tempat tersebut bisa diandalkan untuk memperoleh
tulisan atau mengenai Presiden Soekarno. Kalau mau membaca buku yang pernah dibaca
oleh Soekarno bisa diperoleh di Perpustakaan Nasional dan Koleksi Buku Soekarno
sendiri sampai saat ini berada di Istana Negara. Kalau TVRI meliput kegiatan di Istana
Negara secara sepintas kelihatan koleksi buku-bukiunya.

Mengenang Pahlawan Proklamator:

Soekarno Pejuang Pemikir

Sejarah Indonesia mencatat Soekarno sebagai manusia yang penuh kontroversi


dalam kepribadiannya dan telah menimbulkan pendapat-pendapat yang berbeda di
kalangan bangsanya. Dia adalah manusia yang memiliki kelebihan-kelebihan besar
dibandingkan manusia biasa tetapi sekaligus memiliki kekurangan–kekurangan yang
membuat dia gagal. Soekarno adalah nama yang pernah dipuja bagaikan seorang dewa,
tetapi juga dikutuk bagaikan seorang bandit, Kalimat terakhir ini adalah kata-kata
Soekarno yang ditulis dalam bukunya yang berjudul ”Bung Karno Penyambung Lidah
Rakyat Indonesia.” Dan setelah lama orang bertanya, dimanakah sebenarnya tempat
Soekarno dalam sejarah Indonesia, setahun yang lalu, ketika hendak memperingati Hari

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 37
Email: mr.kasenda@gmail.com
Pahlawan, pemerintah Soeharto telah mengambil suatu keputusan yang bijaksana dengan
menganugerahkan Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai Pahlawan Proklamator.
Peringatan semacam ini hendaknya dilihat sebagai manifestasi jiwa besar bangsa
Indonesia yang mau menghargai jasa pahlawannya. Bangsa yang besar adalah bangsa
yang tahu menghargai jasa-jasa para pahlawannya, begitu kata Soekarno.

Walaupun Soekarno tidak lagi berada ditengah kita, sumbangan pikirannya


senantiasa tidak terlupakan dalam kalbu bangsa Indonesia. Betapapun ada banyak orang
yang bertentangan dengan Soekarno, tetapi ada satu hal yang harus diakui bahwa dia
tetap teguh dengan pendiriannya sampai akhir hayatnya. Bernhard Dahm dalam bukunya
yang berjudul” Soekarno and the Struggle for Indonesia Independence” menulis bahwa
pesan Soekarno selalu sama, yaitu berjuang melawan imperialisme sanpai titik akhir di
satu pihak, dan di lain pihak, membangun orde yang baru dan memulai perkawinan
ideologis menuju harmoni secara menyeluruh. Bagi kita yang ditinggalkan, ada beberapa
buah pikiran Soekarno yang merupakan butir-butir mutiara yang perlu dipelajari lebih
lanjut. Seperti halnya, kumpulan karangan dalam 80 Tahun Bung Karno, yang diterbitkan
oleh Pustaka Sinar Harapan pada tahun 1981 dalam rangka memperingati 80 tahun
Soekarno, tampak ada usaha untuk mempelajari pemikiran Soekarno secara seksama dan
mendalam. Usaha awal itu patut dipuji dan diberi apresiasi.

Buah Pikiran

Rasanya sulit untuk diingkari bahwa Pancasila merupakan suatu hasil pergumulan
pemikiran Soekarno dalam merumuskan dasar negara Republik Indonesia. Hasil
pergumulan pemikirannya yang dikemukakan pada tanggal 1 Juni 1945, kini merupakan
pandangan hidup yang mempersatukan bangsa Indonesia yang majemuk ini. Berkaitan
dengan Pancasila, Dr Taufik Abdullah memberi komentar, Pancasila – ternyata telah
memperlihatkan kemampuan integrative yang luar biasa. Pancasila bukan saja
memancarkan integrasi kebangsaan dari lapisan-lapisan sosial, tetapi juga integrative
kesejarahan antara masa lampau, kini dan akan datang dan sesama umat manusia serta
mahluk dengan al-Khalik. Sedangkan Dr Alfian menegaskan bahwa Pancasila merupakan
pantulan kepribadian kita bersama, karena dia memberikan corak atau ciri khas kepada
bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain.

Anhar Gonggong dalam makalahnya yang berjudul”Tema Sentral Persatuan dan


Alur Pemikiran Soekarno (1926-1966)” yang disampaikan dalam Seminar Sejarah
Nasional IV di Yogyakarta menyatakan bahwa Soekarno tetap konsisten dengan
pemikirannya tentang persatuan. Artinya, sejak penampilannya sebagai pemimpin
pergerakan nasional bangsanya. Dia telah menjadikan tema persatuan (1926/1927)
sebagai landasan perjuangannya hingga sampai saat kejatuhannya (1967).

Persatuan yang dicita-citakan Soekarno itu justru berantakan karena ulah


komplotan PKI. Ini merupakan suatu tragedi yang menimpa seorang pemimpin yang
justru ingin mempertahankan keyakinannya. Bahkan ketika Presiden Soekarno mulai
surut dari kekuasaannya, kata John D Legge, banyak lawannya melupakan sumbangan
Soekarno terhadap persatuan. Soekarno mempunyai kemampuan untuk mendamaikan

38
Peter Kasenda

dan menyeimbangkan kekuatan-kekuatan yang bertentangan yang mungkin memecah


belah Indonesia di tahun 1950-an dan tahun 1960-an.

Berkaitan dengan jasa Soekarno ini, cukup menarik untuk menyimak hasil
pengamatan dua sarjana asing. Dalam bukunya yang berjudul” Indonesia Foreign Policy
and the Dilemma of Dependence : From Soekarno to Soeharto,” Franklin B Weinstein
mengatakan bahwa berdasarkan hasil wawancara dari sejumlah generasi 1928,1945 dan
1966, menunjukan bahwa Soekarno telah dianggap mampu meletakkan Indonesia di atas
peta dunia, disebabkan keberhasilannya memperjuangkan posisi Indonesia sebagai
pemimpin yang merdeka dan berdikari ditengah bangsa-bangsa lain. Kebanyakan
pemimpin dari ketiga generasi itu menyatakan bahwa politik luar negeri Soekarno telah
membangkitkan rasa kebanggaan nasional.“ Dunia mengenal Indonesia, karena mengenal
Soekarno,” Sedangkan dalam buku yang berjudul” Indonesia:s Elite : Political Culture
and Culture Politics “diungkapkan, banyak anggota elite politik dan pemerintah yang
diwawancarai oleh Donald K Emerson menyatakan pengalaman menghadiri rapat-rapat
umum kaum nasionalis pada awal tahun 1930-an telah meninggalkan sesuatu yang
bertahan lama. Itu merupakan jasa Soekarno. Soekarno mampu memainkan peanan
sebagai seorang agitator yang ulung dan tanpa tanding. Soekarno telah berhasil
mempopulerkan cita-cita kaum nasionalis sekuler dan menanamkan kesadaran politik
pada suatu lapisan yang cukup luas.

Relevan

Kini kita berpisah dengan Soekarno, sebagai tokoh sejarah dan sebagaimana
manusia. Sebagai manusia Soekarno dibentuk oleh lingkungan dan zamannya secara
menentukan. Sejarah Indonesia mencatat bahwa Soekarno memainkan peranan yang
begitu penting dan suksesnya yang begitu besar, bersumber dari cita-cita dan pikiran
yang dikembangkan dan disebarkannya. Oleh sebab itu cita-cita dan pikiran Soekarno
tersebut sulit untuk diabaikan dan dilupakan begitu saja. Sedangkan disudut lain, muncul
pertanyaan, apakah kegagalan (dan akhirnya menjadi tragedi) Soekarno, juga tidak
bersumber pada cita-cita dan pikiran itu, misalnya tentang persatuan yang telah
dikemukakan di atas? Selanjutnya juga muncul pertanyaan, apakah disamping sukses,
kita juga akan mengalami tragedi, apabila melanjutkan dan menerapkan cita-cita dan
pikiran Soekarno begitu saja? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong kita untuk
mempelajari cita-cita dan pikiran Soekarno, berkaitan dengan tantangan yang dihadapi
sekarang dan tentunya di waktu yang akan datang.

Sekarang muncul pertanyaan, apakah cita-cita dan pikiran Soekarno telah


mengalami perubahan dan perkembangan sepanjang hidupnya? Soekarno dalam
autobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia menulis bahwa cita-
cita dan pikirannya tidak lagi mengalami perubahan. Keterangan itu dibenarkan oleh
Roger K Paget, yang dalam bukunya Soekarno”s Defence Oration in the Political Trial
of 1930, menegaskan bahwa pada dasarnya subtansi dari pemikiran politik Soekarno
tidak pernah berubah. Hanya saja Soekarno gelisah melihat mentalitas yang mudah
menerima keadaan “nrimo”. Untuk itu ia menaruh perhatian penuh terhadap masalah

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 39
Email: mr.kasenda@gmail.com
tersebut dalam tulisan-tulisannya. Ia percaya bahwa mentalitas nrimo ini dapat dikikis.
Kalau itu berhasil, masyarakat Indonesia bisa memerdekakan diri dari cengkraman
kolonialisme, imperialisme dan kemelaratan.

Konsepsi Soekarno, The New Emerging Forces versus The Old Established
Forces, merupakan usaha Soekarno untuk menjalankan perlunya membangun kembali
suatu dunia baru yang lebih adil, seperti apa yang diucapkan dalam pidatonya yang
terkenal dalam Sidang Majelis Umum PBB pada tahun 1960 dan pidatonya dalam
Konperensi Negara-Negara Non-Blok di Beograd pada tahun 1961. Ketika itu mungkin
dianggap omong kosong belaka pikiran-pikiran Soekarno, tetapi 20 tahun kemudian
menjadi kenyataan. Bahkan kini negara-negara maju dan berkembang dengan kearifan
baru berusaha untuk mewujudkan Tata Ekonomi Internasional Baru Dengan kenyataan
ini mau tak mau harus diakui secara jujur bahwa pikiran Soekarno itu mempunyai
relevansi. Menurut Dr Michael Leifer dalam Indonesia”s Foreign Policy, dengan
gagasan-gagasan itu, sebenarnya Soekarno telah berpikir maju satu dekade lebih cepat
dari zamannya. Sehingga tidak usah heran kalau cendikiawan kelas dunia, Dr
Soedjatmoko mengatakan, Soekarno adalah seorang visioner yang besar. Banyak
kejadian didunia ini, misalnya, sudah terbayang dalam pandangannya dahulu.

Hasil penelitian Franklin D Weinstein menunjukkan bahwa konsep mengenai


konflik antara NEFOS versus OLDEFOS masih diterima secara luas oleh pemimpin
Indonesia sebagai suatu cara yang berguna untuk membagi dunia ini. Kebanyakan
mereka menangkap kembali konsep itu dengan mengurangi dimensi ideologisnya tetapi
beralih kepada terminologi ekonomi. Keadaan ini yang dilihat pertentangan kepentingan
antara negara kaya dan miskin. Kecenderungan negara-negara besar untuk mengabaikan
negara-negara berkembang dalam proses pengambilan keputusan mengenai masalah–
masalah penting, merupakan salah satu pertimbangan untuk membenarkan pertentangan
itu.

Sebagai penutup perlu diingat, yang menurut Soekarno, harus dipegang teguh
dalam mengisi kemerdekaan yaitu : (1) Berdaulat penuh di bidang politik; (2).
Berkepribadian di bidang kebudayaan; (3) Berdiri di atas kaki sendiri di bidang ekonomi.
Menyimpang dari ketiga prinsip ini, berarti memgurangi makna kemerdekaan. Jadi jelas
kalau pikiran semacam itulah yang harus dilaksanakan demi cita-cita Proklamasi
Kemerdekaan.

40
Peter Kasenda

Soekarno dan Hatta: Pahlawan Proklamator

Kalau lewat Jalan Pegangsaan Timur 56, tentunya kita melihat dua patung besar,
Soekarno dan Hatta. Langsung saja pikiran melayang ke masa lampau, 41 tahun yang
lalu. Di tempat itu, Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia menyatakan
kemerdekaan Indonesia. Sejarah Indonesia mencatat kejadian tersebut sebagai peristiwa

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 41
Email: mr.kasenda@gmail.com
yang terpenting dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Sejarah Indonesia menulis, bahwa merdeka berdua memainkan peranan


menentukan dalam mengantar bangsa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan. Hari
sabtu ini Presiden Soeharto menganugerahi gelar Pahlawan Proklamator terhadap
almarhum Soekarno dan Mohammad Hatta, berkaitan dengan Hari Pahlawan 1986. Tentu
saja anugerah ini disambut dengan gembira khalayak ramai. Untuk itu, saya akan
mencoba mengungkapkan sedikit perjalanan Soekarno dan Hatta dalam sejarah
Indonesia.

Proklamator

Soekarno berasal dari Pulau Jawa, sedangkan Hatta berasal dari Pulau Sumatera.
Tempat kedua tokoh berasal banyak menghasilkan pemimpin-pemimpin
pergerakan nasional. Hatta meneruskan studinya diluar negeri, dan Soekarno
menghabiskan masa mudanya ditanah air. Perjalanan hidup yang berbeda
tentunya mempengaruhi pemikiran kedua tokoh tersebut. Dalam menghadapi
penguasa kolonial Hindia Belanda, Soekarno dan Hatta terdapat banyak
perbedaan pandangan.

Kalau Hatta percaya bahwa untuk menuju Indonesia Merdeka, harus dipersiapkan
kader-kader yang tangguh dan perlunya analisa kelas sekaligus perjuangan kelas,
Soekarno sibuk dengan agitasi massa untuk membangkitkan aksi massa dan memandang
analisa kelas dan perjuangan kelas kurang begitu penting ; masalah utama adalah
persatuan. Perdebatan di antara mereka tak pernah berhenti. Kedua tokoh pergerakan
nasional tak sepakat dengan pengertian persatuan dan non-kooperasi. Akhirnya penguasa
kolonial melihat adanya bahaya mengancam dari dua kekuatan nasionalisme sekuler,
yaitu Partai Indonesia (Partindo) dan PNI Baru. Soekarno dan Hatta ditangkap, dipenjara
dan dibuang ke tempat yang berlainan. Soekarno ke Endeh (Flores) kemudian
dpindahkan ke Bengkulu dan Hatta ke Boven Digul (Papua).kemudian dpindahkan ke
Banda Naira (Maluku).

John Ingelson, dalam bukunya Jalan Ke Pengasingan, mengatakan bahwa


Soekarno dan Hatta saling melengkapi dalam pergerakan nasional. Mereka berdua
mampu membangkitkan semangat dan kesadaran nasional. Sumbangan Hatta
adalah merumuskan ideologi kaum nasionalis sekuler, sedangkan Soekarno
mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan rakyat jelata.

42
Peter Kasenda

Kendati gerakan nasionalis yang sekuler dan non-kooperatif ditindas oleh pihak
pemerintah Hindia Belanda, banyak yang telah dicapai pada masa tujuh tahun
setelah 1927. Suatu rasa bangga yang mendalam terhadap dimilikinya suatu
identitas politik dan kebudayaan Indonesia berkembang di kalangan berpuluh ribu
rakyat yang menggabungkan diri dengan PNI, Partindo dan PNI-Baru. Mereka
juga bangga dengan hanya mengunjungi sebuah pertemuan kaum nasionalis atau
mendengar ide ”Indonesia Merdeka“ dari kawan-kawan atau tetangga. Mulai saat
itu tidaklah mungkin sesuatu kelompok politik yang mana pun di Indonesia
dianggap sebagai nasionalis jika tidak menyeruhkan kemerdekaan penuh dan
penciptaan suatu bangsa yang bersatu. Lambang-lambang nasionalisme – bendera
merah-putih dan lagu Indonesia Raya – sudah melembaga. Akhirnya, kaum
nasionalis merasa terikat di tahun-tahun tersebut untuk mengembangkan suatu
bahasa nasional -bahasa Indonesia– sebagai suatu alat untuk mempersatukan
kelompok-kelompok di negeri itu yang berbeda suku dan dialek.

Walaupun mereka dibuang ke tempat yang jauh, tetapi kedua tokoh pergerakan
nasional tersebut masih saja menulis untuk pers Indonesia. Tentu saja tulisan-
tulisan itu tidak diwarnai masalah–masalah politik. Dengan cara begini, mereka
berkomunikasi dengan masyarakat Indonesia, melempar gagasan-gagasan mereka
dan tak dilupakan bangsanya.

Pembuangan terhadap mereka hanya berlangsung selama delapan tahun Tahun


1942, balatentara Jepang menaklukan pemerintah Hindia Belanda dan menduduki
Hindia Belanda. Perubahan besar terjadi, di mana Soekarno dan Hatta mengakhiri
pengasingannya dan kembali ke gelanggang politik Mereka tidak berada dalam
posisi berseberangan dengan penguasa baru. Kedua tokoh itu bersedia
berkerjasama dengan pemerintah pendudukan Jepang, tetapi juga sebagai
pemimpin rakyat Indonesia. Tentu saja posisi tersebut mereka serba salah, tetapi
itu pilihan yang tepat pada waktu itu. Ada banyak anggota masyarakat
menganggap mereka sebagai kolaborator, karena mereka bersedia bekerjasama
dengan Jepang.

Pada masa pendudukan Jepang, kendati mereka disebut banyak orang sebagai
kolaborator, tetapi mereka tetap merupakan pimpinan utama yang selalu diperhitungkan.
Hal itu terlihat jelas, balatentara Jepang tidak mengabaikan Soekarno dan Hatta, bahkan
membuka kesempatan untuk tampil sebagai juru bicara bangsa Indonesia. Kepemimpinan
Soekarno dan Hatta memperoleh dukungan rakyat Indonesia .

Dengan dijatuhkan bom atom oleh Sekutu diatas kota Hiroshima dan Nagasaki,
Jepang menyatakan menyerah. Berakhirlah kekuasaan balatentara Jepang atas Hindia
Belanda. Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno dan Hatta menyatakan proklamasi
kemerdekaan. Kemerdekaan Indonesia mengantar Soekarno dan Hatta sebagai Presiden
dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 43
Email: mr.kasenda@gmail.com
Dwi Tunggal

Dalam bukunya, Bung Hatta Menjawab, Mohammad Hatta mengatakan bahwa


jiwa dan praktek Dwi Tunggal merupakan kebulatan tekad bersama dalam memimpin
negara dalam revolusi, dimana kebijaksanaan maupun tindakan merupakan suatu
keputusan bersama, Apabila ada yang tidak hadir, tetap mendukung apa yang telah
disetujui oleh satu pihak.

Sekali lagi, kata Mohammad Hatta, bahwa arti dan kedudukan Dwi Tunggal
mulai berubah, sejak Indonesia meninggalkan UUD 1945 berganti dengan UUD
Sementara. Sebenarnya keretakan hubungan antara Soekarno dan Hatta ini akibat
permainan PKI, yang suka mengadu domba kedua tokoh ini, sehingga menimbulkan
salah pengertian. Keterpecahan ini diinginkan oleh PKI, yang tidak menyukai figur Hatta
sebagai orang nomor dua memungkinkan ia melakukan kritik terhadap Soekarno. Tetapi
kritik maupun nasehat yang disampaikan kepada Soekarno tidak selalu ditanggapi dengan
semestinya. Kejadian ini tentunya membuat ia frustasi dan keluar dari lingkungan
kekuasan politik, dan menjadi warga negara biasa. Sebagai sahabat dan teman
seperjuangan, Hatta menulis surat kepada Presiden Soekarno, apabila ia melihat hal-hal
yang tidak berkenan dihatinya. Walaupun mereka berada dalam posisi yang berbeda,
tetapi persahabatan tetap terjalin dengan baik. ( Baca : Hati Nurani Melawan
Kexaliman : Surat-surat Bung Hatta kepada Presden Soekarno 1957-1965 )

Dengan mengundurkan diri, sebenarnya Hatta ingin memberikan kesempatan


kepada Presiden Soekarno untuk membuktikan bahwa Soekarno mampu membawa
bangsa Indonesia menuju masyarakat adil dan makmur sesuai dengan cita-citanya dimasa
penjajahan. Tentu saja tanpa Moh Hatta Pengunduran diri menghancurkan adanya mitos
Dwi Tunggal di tengah-tengah keinginan rakyat Indonesia agar Dwi Tunggal tetap
berlangsung. Dwi Tunggal berubah menjadi Dwi Tanggal. Tetapi perselisihan kedua
tokoh tersebut telah membuat Dwi Tunggal tak dapat dipertahankan lagi. Pengunduran
diri sebagai pilihan terakhir bagi Hatta.

Perbedaan kepemimpinan kedua tokoh tersebut dilukiskan oleh Herbert Feith,


sarjana politik Australia, didalam bukunya The Decline of Constitutional Democracy in
Indonesia, melukiskan Soekarno sebagai pemimpin bertipe Solidarity Maker, yang lebih
mementingkan segi membangkitkan semangat dan solidaritas bangsa untuk mencapai apa
yang dicita-citakan. Kalau Hatta dikatakan sebagai pemimpin bertipe Administrator,
yaitu seorang pemimpin yang lebih mementingkan cara rasional dalam membangun
bangsa.

Halida Nuriah Hatta, dalam skripsinya dengan judul : Dwi Tunggal : Analisa
Pola Kepemimpinan Nasional Periode 1945-1956, mengatakan bahwa Penerapan Azas
Dwi Tunggal berlangsung pada masa revolusi nasional, di mana pada masa Demokraai
Parlementer mendapat tantangan berat, yang terasa sulit diatasi. Halida Hatta menegaskan
bahwa Soekarno dengan Hatta mempunyai perbedaan mengenai Revolusi dan PKI di

44
Peter Kasenda

Indonesia.

Mohammad Hatta menganggap bahwa revolusi sudah selesai, sedangkan


Soekarno masih gandrung dengan revolusi. Berkaitan dengan PKI, Mohammad Hatta
kurang percaya untuk bekerja sama dengan pihak Komunis, melihat pengalaman masa
lalu. Kalau Soekarno percaya dengan “sifat lain“ dari kaum Komunis Indonesia yang
membedakannya dengan kaum komunis di negara lain.

Bagi PKI, sebagaimana dikatakan Taufik Abdullah, revolusi adalah jalan yang
harus ditempuh untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas, sebagaimana diajarkan
marxisme-leninisme. Maka, terlepas dari latar belakang Soekarno yang “borjuis”, PKI
bisa melihat bahwa gagasannya sejajar dengan paham yang telah mereka anut. Bukankah
Soekarno berkali-kali mengatakan ia adalah penganut Marxis, meskipun bukan dalam
pengertian ideologi dan filsafat, tetapi sebagai landasan teori sejarah dan sosial. Jika
Manifesto Politik merumuskan makna revolusi, menunjukkan lawan dan kawan revolusi,
dan sebagainya, maka USDEK berarti UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi
Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Nasional.

Jadi, USDEK bisa juga dilihat PKI sebagai “nasionalisasi” dari keprihatinan
ideologis mereka. Apalagi Soekarno adalah juga seorang Presiden yang sewaktu-waktu
bisa memberikan perlindungan politik dan hukum bagi kehadiran dan aktivitas PKI.
Maka bisa dipahami kalau PKI melihat Soekarno sebagai “pelindung” dan menyebutnya
sebagai “aspek pro rakyat “ dalam pemerintahan. DN Aidit bahkan membuat hipotesa
sejarah, jika seandainya Soekarno yang berkuasa bukan Moh. Hatta di tahun 1948, maka
“ peristiwa provokasi Madiun “ tidak akan terjadi.

Dalam memoarnya, Bapakku Ibuku, Rachmawati Soekarnoputri menulis dengan


kepiluan hati tentang persahabatan Dwi Tunggal. Ia mengatakan bahwa Hatta adalah
satu-satunya sahabat Soekarno yang menjenguk ketika Soekarno masuk Rumah Sakit
Angkatan Darat. Pertemuan kedua sahabat ini amat mengharukan. Memang walaupun
ada perselisihan di antara kedua belah pihak, tetapi itulah arti sebuah persahabatan.

Sekarang kedua tokoh proklamator telah tiada, berbaring dengan tenang di


perkuburan biasa, bukan di Taman Makam Pahlawan, Tetapi yang penting, bangsa
Indonesia mengenangnya sebagai Pahlawan Proklamtor.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 45
Email: mr.kasenda@gmail.com
Soekarno, Pers dan Politik

Peranan pers dalam masa pergerakan nasional merupakan salah satu studi yang
penting, karena itu selain sebagai media informasi biasa, pers juga berperan sebagai
mediator untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang sifatnya kebangsaan dalam rangka
usaha untuk mencapai cita-cita Indonesia Merdeka. Pemimpin-pemimpin pada masa itu
seperti Douwes Dekker, Haji Agus Salim maupun HOS Tjokroaminoto menggunakan
sarana media massa untuk menyampaikan ide-ide serta gagasannya kepada masyarakat
atau kepada para pengikutnya masing-masing.

Atau dengan kata lain, surat kabar mempunyai fungsi untuk menyalurkan aspirasi
penulis atau merupakan tempat buat penulis untuk mempengaruhi sidang pembaca agar
bersikap atau mempunyai pandangan seperti apa yang diinginkan oleh penulis. Hal
semacam itu juga dilakukan Soekarno ketika beranjak dewasa, dia menulis dalam
Oetoesan Hindia dalam kuartal kedua tahun 1921,”…Sosialisme, komunisme, inkarnasi-
inkarnasi Vishnu Murti, bangkitlah di mana-mana? Hapuskan kapitalisme yang didukung
oleh imperialisme yang merupakan budaknya! Semoga Tuhan memberikan kekuatan
kepada Islam agar berhasil…” Tulisan itu jelas merupakan ekspresi kebencian Soekarno
kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda, yang dianggap telah mengeksploitasi
sumber daya alam dan sumber daya manusia yang terdapat di bumi Nusantara tercinta
ini. Sekaligus menunjukkan keinginan agar sidang pembacanya ikut serta menumbangkan
kapitalisme dan imperialisme.

Sebagai penyumbang tulisan pada surat kabar Oetoesan Hindia, selama lima
tahun, sejak tahun 1912 – 1918. Bisa jadi, tulisan-tulisan Soekarno mempengaruhi sidang
pembacanya. Tetapi yang jelas surat kabar ini mempunyai jumlah pembaca cukup
banyak, maklum pada saat itu dapat dikatakan kalau Sarekat Islam – yang merupakan
pemilik surat kabar Oetoesan Hindia – adalah termasuk organisasi yang terbesar, yang
jumlahnya konon kabarnya pada masa-masa jayanya pada tahun 1910-an, mencapai dua
juta pengikut.

Yang menarik adalah Soekarno menggunakan nama samaran Bima, yang diambil
dari tokoh cerita wayang, Mahabharata, yang dapat diartikan sebagai prajurit
besar atau juga berarti keberanian dan kepahlawanan. Bisa jadi penggunaan nama
samaran itu sebab Soekarno tidak mau tindakan itu justru menyulitkan dirinya
sebagai siswa di sekolah Belanda. Dan untuk memahami keinginan Soekarno
dalam autobiografinya .

“Aku menulis lebih dari 500 karangan. Seluruh Indonesia membicarakannya.


Ibu, yang tidak tahu tulis-baca, dan bapakku tidak pernah tahu bahwa ini adalah anak

46
Peter Kasenda

mereka yang menulisnya. Memang benar, bahwa keinginan mereka yang paling besar
adalah agar aku menjadi pemimpin dari rakyat, akan tetapi tidak dalam usia semuda itu.”

“ Tidak dalam usia yang begitu muda, yang akan membahayakan pendidikanku
di masa yang datang. Bapak tentu akan marah sekali dan akan berusaha dengan berbagai
jalan untuk mencegahku menulis. Aku tidak akan memberanikan diri menyampaikan
kepada mereka, bahwa Karno kecil dan Bima yang gagah berani adalah satu.”

Setelah HOS Tjokroaminoto dituduh terlibat dalam peristiwa “Afdeling B” di


Garut pada tahun 1919 dan dijatuhi hukuman pada tahun 1921. Muncullah perpecahan di
dalam tubuh Sarekat Islam sendiri tak terelakan lagi, maka Oetoesan Hindia tutup usia
pada triwulan pertama tahun 1921, setelah tiga belas tahun terbit.

Pada saat bersamaan, Soekarno sebagai anggota Jong Java, Cabang Surabaya,
yang mempunyai peranan penting dalam organisasi tersebut. Ia pernah mengusulkan agar
surat kabar Jong Java yang diterbitkan dalam bahasa Belanda itu, ditulis dalam bahasa
Indonesia saja. Tetapi tidak terdapat cukup keterangan kalau Soekarno pernah menulis
pada surat kabar itu. Dalam autobiografi Soekarno pun tak ada keterangan tentang hal itu.

Ketika ia sebagai siswa Hogere Burger School, Surabaya, Soekarno menjadi


penyumbang tulisan pada surat kabar Oetoesan Hindia. Tetapi ketika ia pindah ke
Bandung menjadi mahasiswa Technische Hogere School, ia menyumbang tulisan buat
surat kabar Sama Tengah. Ketika Dr Tjipto Mangunkusumo mengetahui hal itu, ia
menjadi marah kepada Soekarno, dan mengatakan :

“ Soekarno, ben je gek, ben je gek! Kena apa? Er bestaat geen “sama tengah?!
Di dalam pergerakan nasional tidak ada sama tengah. Tidak, engkau harus memihak of
zit hier, of je zit daar. Of je je bent anti-imperialisme. Of je ben en antek van het
imperialisme. Of je vecht voor devrijheid van Indonesia, of je vecht voor het behoud van
de Nederlands kolonie, Nederland Indie. Ben je gek !”

Setelah mendapat teguran keras dari Dr Tjipto Mangunkusumo, Soekarno


menyatakan diri keluar dan berhenti sebagai “pembantu“ surat kabar Sama Tengah di
Bandung. Konon kabarnya menurut Solichin Salam – salah satu orang yang menulis
biografi Soekarno – Soekarno bersama-sama dengan M Kartosuwiryo turut terlibat dalam
sebuah surat kabar Fajar Asia.

Pada awal tahun 1927, “organ baru“ HOS Tjokroaminoto Bendera Islam,
memberikan kesempatan kepada Ir Soekarno dan Mr Sartono untuk mengasuh Ruang
Nasionalisme, halaman khusus yang diasuh itu, diberi nama “Ruang Pergerakan Nasional
“, biasanya terdapat dalam halaman dua. Di halaman depan surat kabar itu terpampang
dengan jelas kerja sama baru antara golongan Islamis dan golongan nasionalis dalam
wujud lambang kedua golongan itu : lambang Bulan Bintang dari kaum Islamis dan
lambang kepala Banteng dari golongan nasionalis. Dengan demikian, terjadi kembali
bahu membahu antara Soekarno dengan mantan gurunya, HOS Tjokroaminoto. Dan
secara tidak langsung kehadiran Soekarno ikut meredam gerakan Pan-Islamisme yang

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 47
Email: mr.kasenda@gmail.com
pernah berkobar. Yang jelas kedua orang itu senantiasa berbicara mengenai tema-tema
yang sama.

Ketika dunia pergerakan terdapat perpecahan diakibatkan adanya perbedaan


ideologi ataupun adanya ambisi-ambisi pribadi yang lebih mementingkan dirinya sendiri
daripada dunia pergerakan politik pada tahun 1920-an. Semua kejadian itu
memprihatinkan Soekarno, melihat terjadinya perpecahan antara Sarekat Islam dengan
Partai Komunis Indonesia yang dia anggap justru menghancurkan gerakan nasionalisme
Indonesia yang sedang berkobar-kobar. Soekarno mengenal betul ideologi-ideologi yang
berkembang pada saat itu. Kuartal keempat tahun 1926, sekitar tiga bulan setelah
Soekarno menyelesaikan studinya. Soekarno menulis dalam Indonesia Moeda, majalah
Kelompok Studi Umum, tempat Soekarno bergabung. Ia menulis artikel dengan judul,”
Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme,” di mana Soekarno menyeruhkan agar perlu
terjadi kerja sama yang lebih erat di antara ketiga golongan itu. Walaupun ia mengaku
bahwa ketiga ideologi itu terdapat perbedaan, tetapi ia melihat sebenarnya terdapat tujuan
yang sama, yaitu menghancurkan pemerintah kolonial Hindia Belanda, yang seringkali
dimanifestasikan sebagai kapitalisme dan imperialisme yang siap mengeksploitasi negeri
tercinta ini .
Setelah itu, ketika Soekarno menjabat sebagai Ketua Partai Nasional Indonesia
pada tahun 1927, ia menerbitkan sebuah majalah politik Soeoloeh Indonesia Moeda yang
mana pemimpin redaksinya adalah Soekarno sendiri Majalah itu terbit sebulan sekali
dengan oplah sebanyak 4000 ekslempar lebih, yang bertujuan untuk menjadi petunjuk
jalan bagi siapa saja yang berada dalam kegelapan lautan pergerakan nasional Indonesia.
Bisa dikatakan kalau majalah dengan harga langganan fl 50 satu kuartal itu, mencoba
mengikuti jejak Neue Zeit-nya kaum sosialis demokrat dan atau Isra-nya kaum Bolshevik.

Majalah yang merupakan konsumsi bagi kalangan terpelajar bangsa Indonesia


yang telah dianggap sadar akan dunia pergerakan. Ini terlihat dengan tulisan-tulisan yang
menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Belanda pula. Cuplikan itu dimaksudkan
sebagai pengobar semangat nasionalisme. Tetapi yang jelas, majalah itu pernah hilang
dari peredaran, ada kemungkinan disebabkan Soekarno ditahan.

Pada periode yang sama, Soekarno juga menerbitkan majalah politik, Persatoean
Indonesia, berbeda dengan majalah Soeloeh Indonesia Moeda, majalah itu diterbitkan
untuk konsumen yang lebih luas, di mana terlihat dengan menggunakan bahasa Indonesia
secara keseluruhan. Dan banyak terdapat tulisan-tulisan Soekarno yang dimuat dalam
majalah Soeloeh Indonesia Moeda dimuat kembali pada majalah Persatoean Indonesia.
Dengan kejadian di atas, mungkin muncul pertanyaan, mengapa Soekarno menerbitkan
kedua majalah dalam periode yang sama? Ada dugaan, kalau Soekarno menerbitkan itu
berbarengan dengan maksud agar pembacanya lebih luas – seluruh lapisan masyarakat
Indonesia.

Setelah itu, Soekarno menerbitkan sebuah majalah politik Fikiran Ra/jat yang
terbit pada pertengahan tahun 1932 di Bandung. Soekarno duduk sebagai pemimpin
redaksi, Sasaran majalah ini terutama untuk kaum Marhaen, yang merupakan salah satu
golongan masyarakat Indonesia yang terbesar, yang sedang diperjuangkan oleh Soekarno.

48
Peter Kasenda

Seperti yang terlihat dalam motto majalah itu, “ Kaum MARHAEN! Inilah Majalah
Kamu”. Majalah yang setiap penerbitan berisi kurang lebih 20 halaman. Isinya antara lain
“berita-berita pergerakan rakyat di negara lain, artikel-artikel politik dan kronik umum
(kilasan berita luar negeri dan dalam negeri) serta primbon politik (surat pembaca) yang
terdapat dalam halaman-halaman terakhir. Yang disebut terakhir ini ada dugaan ditangani
oleh Soekarno sendiri.

Pada setiap penerbitannya majalah itu memberikan porsi yang lebih besar kepada
majalah pendidikan dan kesadaran politik daripada masalah-msalah yang lain. Hal ini
dapat dimengerti mengingat kaum Marhaen sebagai pembaca yang terbesar majalah ini
kurang mengecap pendidikan formal. Sebagai contoh, saya kutipkan dari satu artikel
dengan judul “Politik dan Kekuatannya Kolonialisme-Imperialisme di Indonesia,” yang
berbicara secara tegas tentang perlunya pendidikan dan kesadaran politik, yang dapat
diketemukan pada Fikiran Ra’jat No 2, 8 Juli 1932.

“ Rakyat jelata harus dikasih keinsyafan, bahwa sampai kiamat kaum


imperialisme selalu akan menggenggam mereka. Rakyat harus insyaf, bahwa soal
kemerdekaan itu bukan soal belas kasihan, bukan soal sopan atau tidak Kemerdekaan ini
bukan soal pintar, tetapi hanyalah soal kekuatan dan kekuasaan.”

Kalau kita membaca dengan cermat tulisan-tulisan Soekarno yang dimuat oleh
berbagai media massa, menunjukkan kalau dia telah menyajikan ide-ide nasional dan
pengetahuan politik kepada sidang pembacanya, dengan harapan agar bekal pengetahuan
itu dapat dijadikan bekal untuk memperjuangkan cita-cita Indonesia Merdeka. Bisa jadi,
jumlah oplah yang memuat tulisan-tulisan Soekarno terlalu sedikit kalau dibandingkan
dengan masyarakat yang ada. Tetapi bisa saja apa yang dikemukakan oleh Soekarno itu
disebarluaskan melalui mulut ke mulut, yang akhirnya masyarakat luas mengetahuinya
tentang ide-ide Indonesia Merdeka.

Walaupun Soekarno dibuang di Bengkulu oleh pemerintah kolonial Hindia


Belanda bukan berarti ia berhenti menulis pada media massa. Hanya saja, ia membatasi
diri menulis yang dianggapnya aman. Misalnya, Soekarno menulis tentang kebangkitan
fasisme di Eropa, ciri-ciri ideologinya serta watak pokok aliran itu, sebaliknya tentang
situasi politik Hindia Belanda tidak disentuh. Mungkin ia dilarang menulis tentang itu.

Secara umum, Soekarno menulis tentang masalah-masalah Islam. Tulisannya


banyak dimuat dalam majalah Muhamadiyah, Pandji Islam yang terbit di Medan,
dimuatnya tulisan-tulisan Soekarno itu, mungkin karena ia mengajar di Sekolah
Muhammadiyah di Bengkulu. Tulisan Soekarno tentang Islam, selalu dikaitkan dengan
keinginan Soekarno agar kaum Islam terlepas dari belenggu keterbelakangan yang ada.
Dan tulisan-tulisan ini sekarang telah menjadi kajian yang mendalam, yang dilakukan
oleh Bernhard Dahm dan Muhammad Ridwan Lubis dalam membuat disertasi.

Majalah ini bukan satu-satunya penyalur tulisan-tulisan Soekarno. Dia juga


menulis untuk surat kabar Pemandangan. Bahkan di surat kabar itu Soekarno
menjelaskan dirinya, ketika banyak orang betanya-tanya tentang siapa sebenarnya

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 49
Email: mr.kasenda@gmail.com
Soekarno itu. Dalam tahun 1941, lewat artikelnya,” Sukarno oleh Sukarno sendiri.” Ia
menjawab pertanyaan itu lewat kata-kata,” Apakah Soekarno itu? Nasionaliskah?
Islamkah? Marxiskah? Pembaca-pembaca, Soekarno campuran dari semua isme-isme
itu.”

50
Peter Kasenda

Soekarno, Kapitalisme dan Imperiailisme

Pidato-pidato maupun tulisan-tulisan Soekarno sering diwarnai kritik terhadap


kapitalisme maupun imperialisme hingga akhir kekuasaannya. Hal ini diawali dengan
tulisan-tulisannya pada surat kabar Oetoesan Hindia pada tahun 1910-an milik Sarekat
Islam, sebuah organisasi massa yang pertama, di mana Soekarno menjadi anggota. Di
sana Soekarno menulis,” Hancurkan segera Kapitalisme yang dibantu oleh budaknya
Imperialisme. Dengan kekuatan Islam Insya Allah itu segera dilaksanakan..” Di lain
kesempatan mengatakan bahwa apabila Indonesia telah merdeka, yang memegang
tampuk pemerintahan adalah bukan pengikut-pengikut kapitalisme maupun imperialisme.
Kalau tidak, tidak mungkin tercipta masyarakat adil dan makmur, tanpa ada penghisapan
manusia atas manusia.

Kapitalisme, kata Soekarno, ternyata menyebabkan kemiskinan dan kesengsaraan.


Sistem ini adalah sistim yang mengeksploitisir sesamanya. Soekarno begitu marah, ketika
mendengar ucapan penguasa Belanda yang mengatakan bahwa rakyat Indonesia cukup
hidup dengan pendapatan segobang sehari. Menurut Soekarno, Imperialisme adalah suatu
nafsu. Suatu sistem menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain. Dia
mengindentikan imperialisme dengan kolonialisme, dimana kolonialisme kuno pada
masa VOC dan kolonialisme modern pada masa Hindia Belanda Adanya imperialisme
ini merupakan syarat yang perlu bagi hidupnya kapitalisme. Kata Onghokham, dilihat
dari sudut ilmu sejarah maka perbedaan itu terletak pada sifat dan struktur kolonialisme
yang diungkapkan pada kemauan dan kesanggupan Belanda untuk membentuk
masyarakat Indonesia.

Marhaen

Ternyata sistem penjajahan yang berlangsung selama ratusan tahun bersendi atas
kesuburan tanah, jumlah tenaga kerja yang berlimpah dan murah tidak banyak memberi
peluang bekerja di luar pertanian dan terasa sulit mencari dan mendapatkan kesempatan
kerja yang layak. Di samping itu ada permintaan tenaga kerja untuk kebutuhan
perkebunan semakin meningkat, sedangkan tanah garapan semakin menyempit, hal itu
membuat posisi sosial –ekonomis penduduk daerah pedesaan menjadi lemah, disebabkan
mereka turun derajat dari petani menjadi buruh di daerah pedesaan. Istilah populernya
Soekarno, Marhaen. Kata ini merupakan simbol penderitaan, akibat penjajahan yang
dialami rakyat Indonesia selama ratusan tahun.

Konsep Marhaen yang dirumuskan Soekarno, tentu berlainan dengan konsep


Proletarnya Karl Marx. Disini terlihat Soekarno bersifat kritis tidak begitu saja
mengambil konsep yang dllontarkan pemikir-pemikir sosialis Barat. Konsep Proletar
hanya mempunyai relevansi di negara-negara industri Barat, untuk masyarakat Indonesia
yang merupakan masyarakat agraris tidak memungkinkan.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 51
Email: mr.kasenda@gmail.com
Kalau konsep Marhaen mewakili sebagian besar anggota masyarakat yang
sengsara dan tertindas, sedangkan Proletar hanya mencakup sedikit anggota masyarakat
saja. Dan yang membedakan keduanya adalah kaum Marhaen yang memiliki alat
produksi, tetapi kaum proletar tidak memiliki alat produksi dan hanya menjual jasa.
Melalui Marhaenisme sebagai teori perjuangan dipakainya untuk mengubur sistem
kapitalisme maupun imperialisme dari muka bumi Indonesia yang kaya sumber alamnya,
tetapi rakyatnya miskin.

Melalui tulisannya, “ Swadeshi dan Massa-Aksi di Indonesia” pada majalah


Soeoloeh Indonesia Moeda (1932), Soekarno melukiskan akibat adanya penjajahan tidak
memungkinkan munculnya kelas menengah dalam arti ekonomi, tidak seperti apa yang
terjadi di India. Sebenarnya, kata Benyamin Higgins sekurang-kurangnya ada dua
kesempatan dalam sejarah Jawa yang memungkinkan dorongan besar untuk tinggal
landas.

Kesempatan pertama muncul pada tahun 1850-an, akibat dorongan sistem Tanam
Paksa dan gelombang pertama pemukiman orang Belanda serta perusahaan perkebunan
Belanda. Kesempatan kedua muncul pada tahun 1930-an ketika terjadi malaise besar,
yang menyebabkan mundurnya perusahaan Belanda, dan seakan-akan mampu memberi
suntikan kegairahan baru kepada pengekspor karet dan industri Jawa, walaupun usaha
orang Jawa di bidang gula gulung tikar akibat malaise.

Pada dua kesempatan itu kelas menengah Jawa gagal menampilkan diri dan
memantapkan diri, karena tidak mendapatkan dukungan elite politik dan menyiapkan
ruang gerak untuknya. Kacaunya, ketika bangsawan Jawa gagal melebarkan sayap dalam
kepemimpinan ekonomi, mereka justru mengundurkan diri dengan ajaran-ajaran yang tak
ada arti ekonominya.

Tuduhan Soekarno terhadap imperialisme sebagai biang kehancuran perdagangan


pribumi. Hal ini bisa dilihat bagaimana perdagangan Jawa tidak berkembang akibat
dirintangi oleh Portugis maupun Kompeni Dagang Hindia Belanda Timur dengan
menggunakan kekerasaan. Bibit-bibit entrepreneur yang pada mulanya tumbuh seperti di
Eropa, tidak tampak lagi. Akhirnya hanya menjadikan Indonesia sebagai sumber bahan
mentah, tempat eksploitasi dan pasaran potensial.

Hubungan antara penjajahan dengan kemiskinan, Soekarno tampaknya


mempunyai kesimpulan serupa dengan Cliford Geertz ketika membalikan kesimpulan
Boeke dengan menyatakan bahwa “masyarakat desa Jawa telah menjadi miskin oleh
penjajahan, maka karena itu statis.” Pendapat semacam itu bisa juga diketahui bagaimana
Soekarno menafsirkan sejarah Indonesia dimana pandangannya mencerminkan ramalan
Jayabaya abad ke-19 tentang masa kini sebagai masa gelap, akibat penjajahan. Suatu
masa datang seperti masa lampau, yaitu masa gemilang, Seperti masa kerajaan Sriwijaya
dan Majapahit.

Ada benarnya kalau ada orang mengatakan bahwa kegiatan perekonomian


Indonesia ke bidang pertanian tanaman yang diperlukan untuk menopang tanah jajahan.

52
Peter Kasenda

Karl Marx menggambarkan bahwa di dunia ini terjadi pembagian kerja yang bersifat
internasional. Di mana sebagai bola bumi bertindak sebagai ladang produksi pertanian
yang melayani kebutuhan bagian dunia lain, yang merupakan pusat industri.

J.A.C. Mackie mencatat bahwa selama 150 tahun terakhir ini dalam sejarah
perekonomian Indonesia, terdapat dua ciri terpenting, yang pertama adalah pertambahan
hasil produksi yang besar sekali dari tanam-tanaman untuk ekspor, yang sebagian besar
dengan menggunakan modal asing. Yang kedua, ialah pertambahan penduduk terus-
menerus. Jadi dapat disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat agraris.

Walaupun Soekarno membedakan antara imperialisme kuno dan modern, tetapi


pada hakekatnya adalah sama, yaitu nafsu menguasai atau mengendalikan perekonomian
bangsa dan negara lain untuk kepentingan kekuasaan metropol, dimana kepentingan
imperialisme bertentangan dengan kepentingan negara satelit. Negara penjajah bertahan
selama-lama agar dapat menguras sebanyak mungkin sumber daya alam, sedangkan
negara terjajah ingin secepatnya membebaskan diri dari cengkraman nafsu imperialisme,

Soekarno kurang berminat berbicara mengenai nilai-nilai positif dalam


imperialisme. Di matanya imperialisme itu penuh dengan tipu daya. Bukankah Soekarno
melalui tulisan yang klasik itu, yang berjudul“ Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme,”,
menghimbau agar ketiga kelompok aliran tersebut bersatu menghancurkan imperialisme
yang dimanifestasikan kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Kalau boleh dikatakan,
Soekarno lebih menaruh perhatian terhadap penghisapan ekonomis, diskriminasi dan
penghancuran nilai-nilai sosial yang menyertai imperialisme. Dan itu adalah salah satu
bentuk pandangan politik yang tetap dipertahankannya.

NEFOS VS OLDEFOS

Sebenarnya istilah Nekolim (neo-kolonialisme, kolonialisme dan imperialisme)


yang diciptakan Jendral Achmad Yani itu berasal dari pengertian imperialisme tahun
1920-an. Lewat pidatonya, To Build The World Anew, didepan Sidang Majelis Umum
PBB bulan September 1960, Soekarno membagi dunia menjadi dua, yaitu New Emerging
Forces melawan Old Established Forces. Melalui konsep ini, Soekarno ingin mengatakan
bahwa pertentangan yang terjadi di dunia, bukanlah konflik ideologis sebagaimana
sangka orang, melainkan pertentangan kepentingan.

Tepatnya, satu tahun kemudian, di depan peserta Konperensi Non Blok, Beldrago.
Soekarno memperingatkan bahwa keamanan dunia senantiasa terancam oleh Oldefos. Ia
adalah kekuatan yang sedang mempertahankan kekuasaannya yang sudah mapan,
kekuatan yang bersifat menguasai. Soekarno melihat bahwa keterbelakangan negara di
Dunia Ketiga adalah akibat keserakan dari negara-negara yang tidak pernah puas dan
selalu mengadakan penghisapan terhadap bangsa-bangsa yang dilanda kelaparan dan
kemiskinan.

Cornell University Press menerbitkan hasil penelitian Franklin B Weinstein,

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 53
Email: mr.kasenda@gmail.com
Indonesia Foreign Policy and Dilemma of Dependence : From Soekarno to Soeharto
(1976). Buku setebal 363 halaman itu melukiskan, ternyata elite politik Indonesia masih
menerima konflik Nefos dengan Oldefos sebagai suatu cara yang berguna untuk
membagi dunia ini, Kalangan elite politik masih menangkap kembali konsep ini dalam
terminiloginya dan menganggap pertentangan kepentingan antara negara-negara kaya dan
negara-negara miskin.

Akhirnya Franklin B Weinstein berdasarkan wawancara dengan sejumlah elite


politik yang terdiri dari generasi 1928, 1945 dan 1966 menyimpulkan bahwa elite
Indonesia pada umumnya menanggap tatatan internasional bersifat eksploitatif dan
negara-negara besar merupakan ancaman bagi kemerdekaan dan kebebasan Indonesia.

Setelah dua puluh tahun, Soekarno mengucapkan kata-kata Nefos dan Oldefos,
ternyata terbukti kebenarannya. Kini umat manusia memerlukan membentuk dunia baru
yang lebih adil. Kalau negara-negara maju dan negara berkembang berbicara kerafian
baru untuk mewujudkan “Tata Ekonomi Internasional Baru.” bukankah berarti kita
mengakui relevansi pikiran-pikiran Soekarno. Mungkin ini dulu hanya dianggap mimpi-
mimpi kosong.

Kini banyak dilakukan studi ilmiah mengenai keterbelakangan di Dunia Kalau


Teori Imperialisme banyak berbicara mengenai keuntungan-keuntungan yang
diperoleh negara-negara kapitalis, sebaliknya Teori Ketergantungan lebih
memperhatikan akibat dari imperialisme terhadap keterbelakangan di Dunia
Ketiga. Kalau di atas sudah banyak mengulas imperialisme, ada baiknya kita
menyimak kata-kata pemikir Teori Ketergantungan mengenai situasi negara di
Dunia Ketiga. Paul Baran, The Political Economy of Growth, menggambarkan
negara kaya menjadi kaya karena menyedot surplus dari Dunia Ketiga. Secara
demikian tidak terjadi proses akumulasi modal nasional. Lain halnya dengan
Andre Gunder Frank dalam Capitalism and Development in Latin America,
melihat adanya tali dominasi akan ketergantungan dari metropol ke satelit, surplus
negara satellit di Dunia Ketiga disedot ke metropol.

Sritua Arief dan Adi Sasono dalam Ketergantungan dan Keterbelakangan di


Indonesia, memperlihatkan adanya aliansi-aliansi antara tuan tanah, petani sedang dan
kaya, golongan miskin kota, birokrat, penguasa dan kapitalis asing ternyata menyebabkan
terjadinya proses pengalihan surplus ekonomi dari massa rakyat ke golongan yang berada
dalam sektor modern dan disetrum kekuasaan untuk seterusnya keluar negeri bagi
kepentingan kapitalis asing.

Kalau di masa kolonialisme terjadi persaingan di antara negara-negara kapitalis,


kini persaingan perusahan transnasional yang menentukan kenyataan ekonomi, politik,
sosial dan budaya suatu negara. Mereka selalu berhasrat menguasai sumber bahan mentah
dan memonopolinya. Di samping itu menjadikan negara-negara di Dunia Ketiga hanya
sebagai pabrik-pabrik perakit yang hanya memperkuat struktur ekonomi internasional.
Dan inilah jerat imperialisme masa kini.

54
Peter Kasenda

Celakanya lagi, para pucuk manajer korporasi sejagat merasa bahwa kekuatan
mereka untuk kebaikan. Mereka tidak menyukai apa yang namanya kemiskinan,
pengangguran, buta huruf dan penyakit. Kalau begitu, hanya imperialisme yang
dikumandangkan Soekarno terasa relevan hingga kini. Artinya kita harus selalu waspada
terhadap “imperialisme baju baru”. Imperialisme itu penuh tipu daya, kata Soekarno.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 55
Email: mr.kasenda@gmail.com
Soekarno dan Marxisme

Kalau ada orang yang menyebut Soekarno itu seorang Marxis itu benar adanya.
Hanya saja identifikasi itu tidak mutlak, sebab pribadi Soekarno bisa ditafsirkan melebih
itu. Untuk mengetahui siapa sebenarnya Soekarno itu, ada baiknya kalau membaca
tulisan “Soekarno oleh Soekarno sendiri,: Pemandangan, 14 Juni 1941, Soekarno
melukiskan dirinya lewat kata-kata:

“Ada orang yang menyatakan Soekarno itu nasionalis, ada orang yang mengatakan Soekarno
bukan lagi nasionalis, tetapi Islam, bukan marxis, tetapi seorang yang berpaham sendiri. Golongan
tersebut belakangan ini berkata mau disebut dia nasionalis, dia tidak setuju dengan apa yang
biasanya disebut nasionalisme, mau disebut Islam, dia mengeluarkan paham-paham yang tidak
sesuai pahamnya banyak orang Islam; mau disebut marxis…dia…sembahyang, mau disebut bukan
marxis, dia “gila” kepada marxisme itu?…..Apakah Soekarno itu? Nasionaliskah? Islamkah ?
Marxiskah? Pembaca-pembaca Soekarno adalah ….campuran dari semua isme-isme itu?”

Lewat pernyataan itu, sebenarnya Soekarno ingin menggunakan, kalau dirinya


adalah lambang persatuan, di mana aliran pokok identitas terpadu di dalam dirinya. Oleh
karena itu, identifikasi tunggal terhadap diri Soekarno, kalau ia adalah seorang marxis,
tidak berlaku. Sebab ia bisa disebut sebagai seorang nasionalis dan sekaligus sebagai
orang Islam.

Melalui tulisan ini, saya mencoba menjawab sejauh mana Soekarno yang
terpengaruh Marxisme. Untuk itu ada baiknya kalau melihat proses sosialisasi Soekarno
terlebih dahulu. Awal mulanya Soekarno mengenal Marxisme itu didapat ketika ia
berdiam di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, tokoh SI yang terkenal itu. Tempat itu dapat
dikatakan merupakan “ apa dan siapa “ awalnya nasionalisme Indonesia, kalau saya boleh
meminjam istilah John D Legge, yang ahli Soekarno itu, Di sanalah Soekarno mengenal
marxisme lewat mulut Alimin dan Semaun, tetap ia juga belajar tentang Marxisme lewat
C Hartogh, seorang guru Hogere Burger School di Surabaya, tempat Soekarno menuntut
ilmu. Pribadi C Hartogh yang anggota Indische Sociaal Democratische Vereeninging,
kemudian menjadi anggota Indische Sociaal Democratische Partij adalah seorang sosial
demokrat. Hubungan Soekarno dengan C Hartogh, bukan hubungan yang terbatas di
dalam sekolah, tetapi ia mampu juga mempengaruhi Soekarno agar pemikirannya lebih
moderat. D.M.G Koch, yang merupakan juru bicara ISDP, adalah orang yang sering
meminjamkan buku-buku tentang marxisme kepada Soekarno, walaupun hubungan
mereka berdua hanya terbatas pada itu saja.

Tulisan Soekarno yang bernada marxisme, mungkin dapat ditelusuri lewat


tulisannya yang berjudul “Nasionalisme, Islam dan Marxisme,” sebuah tulisan yang
diterbitkan oleh Indonesia Moeda, milik Kelompok Studi Umum Bandung, yang
dipimpin Soekarno, dimuat tiga kali berturut-turut, November-Desember 1926 dan
Januari 1927. Disanalah terlihat secara jelas pengetahuan Soekarno tentang marxisme
yang begitu luas, bagi anak muda seusianya. Tetapi bukan berarti ia dogmatis melihat
marxisme, seperti apa yang dikatakan dalam tulisannya.

56
Peter Kasenda

“Adapun teori marxisme sudah berubah pula. Memang seharusnya begitu Marx
dan Engels bukanlah nabi-nabi yang bisa mengadakan aturan-aturan yang bisa terpakai
segala zaman. Teori-teorinya haruslah dilakukan pada perubahan dunia, kalau tidak mau
menjadi bangkrut.”

Begitu pula dengan pleidoi Soekarno yang diucapkan di depan Landraad


Bandung, memperlihatkan besar pengaruh marxisme dalam diri Soekarno, ketika ia
menguraikan tentang betapa kejamnya kapitalisme dan imperialisme itu yang terjadi di
Nusantara itu.” Kapitalisme adalah sistem pergaulan hidup yang timbul dari cara
produksi memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi,’ kata Soekarno, kalau
diperhatikan ungkapan itu jelas sekali mengingat kata-kata yang diungkapkan kaum
marxis. Bahkan ketika ia mengajukan argumentasi bahwa imperialisme adalah
konsekuensi dari ekspor modal guna mencegah merosotnya nilai modal di dalam negeri.
Sebenarnya ia sudah bergerak jauh, ia terpengaruh oleh analisis Lenin dalam bukunya
Imperialisme. Tingkat Tertinggi Kapitalisme.

Ada periode tertentu, dalam sejarah pemikiran Soekarno yang oleh Bernhard
Dahm, dianggap sebagai satu tahap marhaenis (marxis), tahun 1932-1933. Pada
masa itu terlihat secara jelas pengaruh marxis, ia membicarakan tentang
Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi, yang mana disebutkan kalau
pembangunan politik hendaknya sejalan dengan pembangunan ekonomi, di mana
seorang yang mengecap kebebasan politik, seharusnya dapat pula mengecap
kesejahteran sosial. Untuk itulah ia tak menyetujui terjadinya demokrasi
parlementer,”… Kapitalisme subur dan merajalela, di semua negeri itu rakyat
tidak selamat, bahkan sengsara sesengsara-sesengsarnya…” Kata-kata yang
diucapkan Soekarno itu, sering terdengar sebagai ucapan seorang marxis, yang
mana senatiasa menekankan perlunya keselarasan kedua demokrasi itu.

Walaupun Soekarno seorang marxis, ia tidak sepenuhnya menjalankan doktrin


marxis, seperti yang terlihat dalam tulisannya.” Kapitalisme Bangsa Sendiri? “ Soekarno
menyebutkan bahwa kapitalisme bangsa Indonesia harus ditentang sebab
menyengsarakan kaum Marhaen. Pertanyaan yang muncul adalah, apa perlu
menggunakan perjuangan kelas? Untuk itu, Soekarno mempunyai jawaban.” Dan apakah
prinsip kita itu berarti bahwa kita ini harus mementingkan perjuangan kelas? Juga sama
sekali tidak. Kita nasionalis mementingkan perjuangan nasional perjuangan kebangsaan
…” Pernyataan ini, jelas menunjukkan bahwa ia tak pernah menginginkan adanya
perjuangan kelas. Yang diinginkan adalah, terjadi revolusi nasional atau tahap revolusi
sosial perlu diadakan kemudian. Di sini Moh Hatta lebih radikal, menginginkan revolusi
nasional dan revolusi sosial berjalan seiring.

Tulisan Soekarno dalam Fikiran Ra”jat dengan judul “Marhaen dan Proletar “
disertai komentar oleh Soekarno, dalam bulan Juli 1933. Tulisan ini merupakan
kesembilan tesis yang penting dari Partai Indonesia (Partindo) Dalam butir kedua,
dikatakan.” Marhaen, yaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat
dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain.” Di sini kelihatan sikap kritis Soekarno
terhadap marxisme. Soekarno lebih menyukai kata atau istilah Marhaen daripada

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 57
Email: mr.kasenda@gmail.com
Proletar, sebab istilah Marhaen lebih mengenai untuk masyarakat agraris seperti
Indonesia. Walaupun gagasannya itu dianggap melebihi marxisme, tetapi ia masih tetap
percaya terhadap ramalan-ramalan marxisme. Seperti terlihat, ketika ia memberi
komentar pada butir kelima, kaum proletar harus memainkan peranan yang teramat
penting dalam perjuangan kaum Marhaen. Seperti halnya, Karl Marx senantiasa
mendengung-dengungkan tentang pentingnya peranan kaum proletar dalam revolusi
sosial.

Alasan yang dikemukakan oleh Soekarno adalah, sebab merekalah yang langsung
menderita. Soekarno juga melihat mereka mempunyai pandangan yang lebih
modern dan cocok untuk berjuang melawan kejayaan kaum kapitalis. Untuk
membenarkan pendapatnya Soekarno mengutip pendapat Karl Marx yang
mengatakan proletariat merupakan sociale noodwendigheid (Keniscayaan Sosial)
dan setelah itu akan menjadi historische noodwendigheid (Keniscayaan Sejarah ),
di mana kaum kapitalis hancur.

Bagi Soekarno, Marxisme tidak hanya membuktikan kebobrokan kapitalisme dan


imperialisme, tetapi juga harapan bahwa mereka akan dapat dikalahkan. Karena itulah ia
percaya pada ramalan-ramalannya; ia percaya pada antitesis yang tidak bisa didamaikan
antara modal dan tenaga kerja. Yang nantinya menyebabkan hancurnya imperialisme.

Risalah Soekarno Mencapai Indonesia Merdeka yang ditulis pada tahun 1932. Ia
mencoba merumuskan secara tegas tentang perlunya sebuah partai yang mempunyai
disiplin ketat serta terdapat pucuk pimpinan yang diberi kekuasaan hampir diktaktoral
untuk mendisiplin para anggota partai. Bahkan sebegitu kuasanya pucuk pimpinan itu,
yang dapat menentukan apa yang marhaenis apa yang bukan. Kalau melihat secara
sepintas, tampaknya partai ini merupakan replika dari partai pelopor yang diperkenalkan
oleh Lenin. Tetapi sebenarnya tidaklah tepat, sebab tujuan partai pelopor yang
diperkenalkan Soekarno dengan Lenin mempunyai tujuan yang berbeda. Kalau Soekarno
menyeruhkan demokrasi sentralisme agar supaya Partai Marhaenisnya yang bisa
dimasuki oleh setiap orang Indonesia yang menganggap dirinya Marhaenis - mampu
berfungsi. Sementara Lenin telah menggunakan sentralisme untuk membersihkan
partainya dan membebaskan dari semua unsur yang merintanginya. Usaha partai pelopor
ini nantinya diperkenalkan lagi sesudah Indonesia Merdeka dan mendapat tantangan
berbagai pihak, karena dianggap mencerminkan tidak demokratis.

Walapun Soekarno sangat terpesona dengan ajaran-ajaran Karl Marx dan Lenin.
Tetapi Soekarno cukup kritis melihat ajaran-ajaran Karl Marx, yang dianggap Karl Marx
tidak sepenuhnya tepat untuk diterapkan di Indonesia. Tetapi berbeda dengan Mao
Zedong dan Ho Chi Minh yang menyesuaikan ajaran Karl Marx dengan kondisi pertanian
negaranya. Soekarno sama sekali tidak sampai tingkat operasional dari ajaran Karl Marx.
Yang diinginkan adalah jiwa ajaran tersebut, tentang hubungan yang eksploitatif antara
pemilik modal dan pekerja. Tipe manusia Indonesia dilihatnya dalam diri Pak Marhaen,
seorang petani yang ditemuinya di Bandung Selatan.

Tetapi Soekarno tidak mau melangkah lebih daripada mengindentifikasi adanya

58
Peter Kasenda

Marhaen tadi. Sebab, kalau dia melangkah maka akan harus terjadi penggolongan dalam
masyarakat, yang tentu tidak sesuai dengan upaya persatuan yang didambakannya,
dengan menghindari kerangka operasional dari teori Karl Marx, maka tepatlah jika
dikatakan bahwa dia tidaklah secara utuh menerapkan apa itu yang disebut marxisme. Ini
tentu saja berbeda dengan cara Tan Malaka maupun Sutan Sjahrir memperlakukan ajaran
Karl Marx.

Dalam kaitan ini, dapat dikatakan terdapat ketergantungan pemikiran politik


Soekarno pada pemikir kaum sosialis Barat, kata Roger K Paget dalam bukunya,
Indonesia Accuses : Soekarno”s Defence Oration in the Political Trial of 1930 ( Kuala
Lumpur : Oxford University Press, 1975 ). Hanya saja menarik, kalau Soekarno jelas
tampaknya tidak menggantungkan konsep-konsep pemikirannya secara kuat pada salah
seorang pemikir sosialis tertentu, seperti Bauer, Brailsford, Engels, Jaures, Kaustky,
Marx dan Troelstra, melainkan sesuai dengan kebutuhannya buat mengemukakan atau
mempertajam konsep-konsepnya sendiri. Seperti halnya, ketika Soekarno menyatakan
perlunya persatuan antara kaum marxis dengan kaum muslim. Soekarno mengadakan
pembedaan antara filsafat materialisme dan histors materialisme dalam teori Marx, dan
menunjukkan bahwa historis materialisme lebih tergantung pada filsafat materialisme.
Karena itu, tidak perlu bagi Marxisme, sebagai teori sosial untuk antiagama. Selanjutnya
Soekarno menegaskan, dalam kondisi di Indonesia, marxisme dan Islam berada dibawah,
dalam posisi berjuang melawan kapitalisme dan imperialisme.

Pidato Soekarno yang amat bersejarah itu, 1 Juni 1945, yang kemudian dikenal
sebagai hari lahirnya Pancasila. Jelas sekali terdapat nada-nada Marxisme. Pada uraian
Soekarno tentang proses meringkas dari lima sila menjadi tiga sila, yaitu Sosio-
nasionalisme dan Sosio-demokrasi dan Ketuhanan. Sebenarnya kata sosio-nasionalisme
dan sosio-demokrasi adalah kata tidak lain tidak bukan Marhaenisme. Marhaenisme jelas
terpengaruh oleh Marxisme. Sehingga tidak usah heran kalau kalau George McTurnan
Kahin, melalui bukunya Nationalism and Revolution in Indonesia – menilai Pancasila
sebagai “ synthesis of western democratic, modernist Islamict, Marxist, and Indegenous-
village democratic and communalistic ideas.”

Dalam kursus tentang Pancasila, Soekarno menegaskan kalau ingin memahami


marhaenisme, terlebih dahulu harus memahami Marxisme dan keadaan di Indonesia.
Sebab marhaenisme, kata Soekarno, adalah marxisme yang diselenggarakan di Indonesia,
yang disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. “ het in Indonesia toegepaste marxisme.”
Dan Soekarno menolak kalau marxisme itu komunis, tetapi menolak juga kalau marxisme
itu sosialisme kanan. Marxisme itu, kata Soekarno, adalah satu ”denkmethode”, satu cara
pemikiran. Cara pemikiran untuk mengerti perkembangan bagaimana perjuangan harus
dijalankan, agar supaya bisa tercapai masyarakat yang adil.

Mungkin yang menarik, adalah kejadian pada Kongres Kesembilan di Solo tahun
1960. Soekarno yang diakui sebagai Bapak Marhaenisme, menghendaki agar
Marhaenisme yang dijadikan ideologi PNI, disesuaikan dengan apa yang dimaksud –
Marxisme yang diterapkan sesuai dengan kondisi dan situasi di Indonesia. Keinginan
Soekarno itu baru bisa tercapai pada tahun 1964, dengan adanya doktrin Marhaenisme,

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 59
Email: mr.kasenda@gmail.com
atau Deklarasi Marhaenis. Sebenarnya memperlihatkan bahwa di kalangan PNI sendiri
sering terjadi penafsiran tidak tunggal terhadap ajaran-ajaran Soekarno itu.

Ketika Soekarno mulai bergeser semakin ke kiri. Tentu saja, timbul pertanyaan,
apakah ada persamaan antara Soekarnoisme dengan Komunisme. Walaupun terdapat
persamaan antara kedua ideologi atau kepentingan dari Soekarno dan PKI – misalnya,
antiimperialisme yang radikal dan anti asing, yang dituangkan dalam kampanye-
kampanye pembebasan Irian Barat dan Konfrontasi dengan Malaysia sebagai suatu
perang suci – tetapi sebenarnya ada konflik terselubung antara keduanya dalam tujuan
yang ingin dicapai masing-masing pihak kalau Soekarno merupakan sumber kekuasaan
dan perwujudan nilai-nilai priyayi, menginginkan agar masyarakat Indonesia tergabung
dalam suatu kesatuan yang secara total bersifat kolektif, tetapi kaum komunis sebagai
pihak yang haus kekuasaan dan juru bicara kelas rendah, mencoba memobilisir massa
untuk menumbangkan kekuatan sosial yang ingin dicapai Soekarno. Tetapi dalam
kenyataan keduanya gagal mencapai ambisinya.

Satu-satunya tema utama dalam pidato-pidato pada tahun 1960-an itu ialah
tentang revolusi. Meskipun dahulu ia menulis dan berbicara tentang revolusi. Pembagian
tentang tahap revolusi nasional dan revolusi sosialis telah diuraikan lebih lanjut dalam
Sarinah. Pembagian ini mempunyai kesamaannya dengan teori Karl Marx tentang tahap-
tahap revolusi. Kesamaannya ialah analisis Soekarno juga menunjukkan tanda-tanda
pemikiran Karl Marx, yakni kesadaran kelas yang menjadi sebagian dari persiapan setiap
tingkat revolusi, sekurang-kurangnya ada tahap-tahap yang berurutan, dalam pengertian
bahwa revolusi sosial harus menunggu sampai selesainya revolusi nasional. Apa iti
revolusi ? Soekarno menjelaskan kalau revolusi itu adalah suatu perjuangan yang terus
menerus. Walaupun begitu, Soekarno secara sadar atau tidaknya – pernyataan-pernyataan
tentang revolusi itu – sebenarnya hanya bertujuan mempertahankan suatu status quo
sosial belaka.

Pada tanggal 30 September 1960, Soekarno di depan Sidang Umum ke-15, lewat
pidatonya – yang berjudul To Build the World Anew – dan dilanjutkan dengan
pidatonya pada Konperensi Negara Nonblok II (Era Konfrontasi) di Kairo, 6
Oktober 1964. Soekarno menegaskan kolonialisme dan imperialisme muncul
dengan menggunakan “baju baru” dan ia justru lebih berbahaya, yang
dimanifestasikan dengan dominasi kekuatan Orde Lama. Untuk itu, Soekarno
mempertentangkan antara New Emerging Forces melawan The Old Established
Forces. Secara sadar atau tidak Soekarno sebenarnya telah mengembangkan
pendekatan marxis dengan menggunakan proses dialektika. Seperti halnya, ketika
ia mempertentangkan antara Nasionalisme sebagai lawan dialektika Kolonialisme
Belanda.

Lewat tulisan ini terlihat sekali pengaruh dari pemikiran marxis, tetapi jangan
sekali-kali kalau Soekarno itu disebut sebagai seorang marxis saja. Toh, sebab manusia
yang dianggap kontroversial itu sarat dengan pemikiran Islam maupun Nasionalisme.
Mungkin ia adalah campuran isme-isme. Setuju?

60
Peter Kasenda

Soekarno dan Islam

Seringkali orang salah duga. Seperti halnya kepada diri Soekarno. Kebanyakan
orang menganggap bahwa Soekarno adalah seorang yang selalu sibuk dengan
mengobarkan semangat kebangsaan. Tetapi sebenarnya tidaklah demikian, Sesuatu hal
yang terlupakan adalah bahwa Soekarno juga mempunyai andil dalam menyumbangkan
pikiran-pikiran tentang Islam.

Persepsi yang keliru disebabkan kesalahan para sejarawan yang menempatkan


sebagai seorang tokoh nasionalis sekuler, yang sering berhadapan dengan
nasionalis Islam. Akibatnya pikiran-pikiran yang berkaitan dengan Islam tidak
begitu mendapat perhatian sewajarnya.

Untuk itu ada baiknya mendengarkan apa yang dikatakan Guru Besar IAIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, Harun Nasution,” Di IAIN sekarang ini kepada mahasiswa
saya anjurkan mempelajari pemikiran-pemikiran Islam Bung Karno karena
memang beberapa pemikirannya cemerlang tetapi pada zamannya tidak bisa
diterima. Soekarno ingin mendinamisasi ajaran Islam yang waktu itu itu statis.
Pada waktu itu itu semua dpahami sebagai kehendak Tuhan, kita tak perlu
berusaha. Tuhanlah yang akan memerdekakan kita dari Belanda. Tapi Soekarno
berkata: Tidak! Nasib suatu bangsa tak akan berubah jika bangsa itu merubahnya
senditi. Jika kita ingin merdeka kita harus mengusir Belanda.” Begitu kata Harun
Nasution dalam Mahasiswa Dalam Sorotan. (1984)

Hampir sama dengan pendapat di atas, Ahmad Wahid, Intelektual muda HMI
dalam Catatan Harian Pergolakan Pemikiran Islam menulis, pikiran-pikiran Soekarno
tentang Islam sangat hidup, begitu inspiratif dan merupakan bagian dari kebangkitan
pemikiran Islam sedunia, walaupun dalam beberapa bagian sulit bagi kita menerimanya.

Sampai saat ini ada beberapa sarjana membahas Soekarno dalam kaitannya
dengan Islam. Seperti Tosan Suhastoyo, sarjana Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM,
membahas Pengaruh Islam pada Pemikiran Politik Soekarno dan Hatta (1920-1930),
Badri Yatim, Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, menulis Soekarno, Islam dan
Nasionalisme dan sebuah disertasi yang dikerjakan Muhammad Ridwan Lubis dengan
judul Pemikiran Soekarno tentang Islam dan Unsur-unsur Pembaharuannya, yang
dipertahankan di depan penguji pada tanggal 14 Juli 1987 di perguruan tinggi yang sama.

Sarjana berkebangsaan Jerman, Bernhard Dahm dalam bukunya Soekarno and the
Struggle for Indonesian Independence membahas tulisan-tulisan Soekarno mengenai
Islam. Ketika Soerkarno berada dalam Pengasingan, baik di Endeh dan Bengkulu,
sebanyak 22 halaman. Sedangkan Deliar Noer dalam bukunya Gerakan Modern Islam di
Web: www.peterkasenda.wordpress.com 61
Email: mr.kasenda@gmail.com
Indonesia menulis sebanyak 19 halaman tentang perdebatan antara Soekarno dengan M
Natsir, berkaitan dengan perlu tidaknya persatuan agama dengan negara. Berdasarkan
buku-buku di atas pembahasan tentang kaitan Soekarno dan Islam ditulis.

Sosialisasi

Soekarno dibesarkan dalam masyarakat agraris, yang kebanyakan penganut


“agama Jawa” kalau boleh meminjam istilah Cliford Geertz. Tetapi setelah ia
pindah ke Surabaya, Soekarno berdiam di kediamannya H.O.S. Thokroaminoto,
tokoh Sarekat Islam. Di sana dia mulai mengenal Islam lebih banyak
dibandingkan masa sebelumnya. Setelah menyelesaikan Hogere Burger School di
Surabaya, kemudian ia pindah ke Bandung untuk melanjutkan Technische Hogere
School, di sana ia berkenalan dengan Achmad Hassan, tokoh Persatuan Islam.

Akibat tuduhan hendak menggulingkan kekuasaan kolonial Hindia Belanda,


Soekarno dimasukan dalam tahanan pada tahun 1929. Di dalam sel yang kecil di
penjara Sukamiskin, ia mulai merenungkan arti hidup ini. Di tempat itu pula ia
mulai berhasrat mempelajari agama Islam secara lebih mendalam. Sesuatu yang ia
tidak pernah lakukan sebelumnya.

Begitu juga ketika ia diasingkan pada tahun 1934. Di Endeh, Flores, tempat
pengasingannya itu, untuk pertama kalinya ia merasakan ketidakberdayaan melawan
kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Di dalam kesepian itu ia mulai
menyadarkan diri pada perlindungan Allah. Di sana, selain membaca buku-buku
Islam, ia juga seringkali berkorespondensi dengan Achmad Hassan, seorang ulama yang
terkenal di Bandung, tempat ia juga melukiskan keadaan dan perasaannya.

Achmad Hasan mengirim buku-buku untuknya dalam balasannya Soekarno


memberi komentar tentang isi buku itu sambil mengatakan perasaannya mengenai Islam
pada umumnya. Tetapi yang jelas, di sana ia kurang mendapat teman berdiskusi yang
cukup memadai mengenai Islam. Ketika itu Soekarno berada di tengah masyarakat
beragama katolik.

Kemudian setelah tempat pengasingan dari Endeh ke Bengkulu, Soekarno terjun


ke dalam pergerakan Muhammadiyah, Pandji Islam yang terbit di Medan memberi
tempat bagi tulisan-tulisannya mengenai Islam. Di tempat pengasingan yang baru,
pengetahuan Soekarno mengenai Islam menjadi lebih luas ketimbang berada di Endeh.

Konteks

62
Peter Kasenda

Berbagai gerakan dan perkembangan keIslaman yang terdapat di Mesir, Turki dan
India, tentunya mempengaruhi pemikian keislaman Soekarno. Seperti halnya,
Soekarno secara jelas menonjolkan peranan akal pikiran yang bebas dalam
memahami ajaran Islam, tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa ia mendapat
pengaruh dan jalan pikiran Al-Afghani dan Muhammad Abduh yang memang
menempatkan peranan besar bagi akal dalam memahami ajaran Islam.

Akal dan Islam mempunyai tujuan yang sama, yaitu membimbing kehidupan
umat manusia, kata Soekarno, oleh karena itu keduanya harus bekerja sama guna saling
menunjang satu sama lain.Sokarno menempatkan akal pada posisi yang sangat penting
sehingga ia beranggapan bahwa segala masalah, termasuk masalah-masalah agama, dapat
dipecahkan dengan akal. Sependapat dengan kaum Mu”tazilah zaman dahulu, Soekarno
pun berpendapat bahwa ayat-ayat Al-Quran harus ditafsirkan sesuai dengan akal. Dan
bila ada terdapat ayat-ayat yang lafaddznya bertentangan dengan akal, harus ditafsirkan
hingga berkesuaian dengan akal. Begitu kata Badri Yatim dalam Soekarno, Islam dan
Nasionalisme.

Jalan pikiran yang mengandalkan akal dalam memahami ajaran Islam telah
menjadi landasan daripada kerangka pemikiran Soekarno dalam membicarakan unsur-
unsur dari ajaran Islam. Sebab Soekarno percaya benar, apabila kemerdekaan akal dalam
Islam sudah dijalankan sesuai dengam tuntutan agama, menurutnya niscaya Islam akan
dapat kembali merebut kejayaan yang telah hilang.

Pada waktu itu di Indonesia terdapat dua aliran pemikiran keislaman yang
berkembang, yaitu aliran tradisional atau lebih dikenal dengan aliran pesantren dan
pembaruan. Apabila aliran pesantren menekankan keharusan bagi orang Islam untuk
mengikuti pendapat ulama-ulama masa lampau maka aliran pemharuan lebih
menekankan gerakannya pada pemurnian terhadap ajaran Islam dari unsur-unsur yang
bukan Islam, serta menjadikan Islam sebagai dasar perjuangan politik. Sebaliknya
Soekarno menempatkan diri dalam memahami ajaran Islam dengan tidak mengkaitkan
diri pada kedua kecenderungan di atas.

Sebenarnya Soekarno telah melakukan suatu lompatan pemikiran dalam


memahami Islam melalui sikap rasional dan dinamis, sehingga memungkinkannya
menampung tuntutan zaman dan mampu berkembang dalam suatu masyarakat yang
bergerak dinamis itu. Untuk tujuan tersebut, Soekarno menyarankan agar dilakukan
penafsiran ulang tentang ajaran yang berbeda daripada pola kelompok pesantren dan
kelompok pembaruan Islam di Indonesia.

Pembaruan pemikiran Islam yang dimaksud Soekarno adalah pikiran maupun


gerakan untuk menyesuaikan pemahaman keagaman Islam dengan perkembangan baru,
yang diakibatkan adanya kemajuan ilmu pengetahuan Soekarno selalu ingin mencari
persesuaian Islam dengan perkembangan modern. Atas dasar itu, Soekarno kurang puas
dengan pola berpikir kaum pembaru maupun pesantren di Indonesia, karena kedua
kelompok ini menurut Soekarno sama-sama tradisional cara berpikirnya. Ini berarti
bahwa cara berpikir dua kelompok ini belum dapat menjawab tantangan zaman yang

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 63
Email: mr.kasenda@gmail.com
akan selalu dihadapi umat Islam dalam berbagai ragam kehidupannya.

Dan ternyata pemikiran Soekarno yang dianggap asing itu mendapat tanggapan
dari tokoh-tokoh ulama dan intelektual di Indonesia, yang dinyatakan dalam bentuk
polemik antara Soekarno dengan para pengeritiknya, seperti M Natsir, Tengku Mhd
Hasbi, Ahmad Hasan dan Haji Agus Salim yang dipandang mewakili kelompok
pembaruan. Sedangkan Siradjuddin Abbas dan Kiai Machfoeds Shiddiq mewakili
kelompok pesantren.

Bukankah hal ini menunjukkan betapa seriusnya di mata pengeritiknya ide


pembaruan yang dikemukakan Soekarno itu dan betapa berbahayanya ide itu apabila
merasuk pada pola berpikir umat Islam. Menurut Muhammad Ridwan Lubis, hal ini
disebabkan karena Soekarno menganggap bahwa kejayaan umat Islam hanya bisa dicapai
apabila mereka telah mengubah orientasi teologi mereka dari aliran Asy”riah menuju
kepada Mu’tazilah. Sebaliknya, baik kelompok pembaru maupun pesantren pada
dasarnya sama-sama menganut teologi Asy”ariah dan menolak Mu”tazillah.

Islam

Menurut Soekarno, ada banyak faktor yang menyebabkan Islam terjerumus ke


dalam jurang kemunduran, kekolotan dan keterbelakangan. Seperti apa yang telah
dirumuskan Badri Yatim dalam bukunya Soekarno, Islam dan Nasionalisme.
Antara lain (1) Berubahnya demokrasi menjadi aristokrasi, dan republik menjadi
dinasti ; (2) Taqlik yang mematikan kehidupan berpikir dalam Islam (3)
Berpedoman terhadap Hadis-hadis Dhaif; (4) Aristokrasi dalam masyarakat Islam
dan (5) Kurangnya kesadaran sejarah.

Sebenarnya sejarah umat Islam telah mencatat bahwa mereka pernah mencapai
kegemilangan dalam ilmu pengetahuan alam, arsitektur, filsafat, seni dan sebagainya.
Situasi kemunduran, kekolotan dan keterbelakangan ini yang merisaukan hati Soekarno,
ia ingin merubah keadaan itu dan mengembalikan umat Islam ke dalam kejayaan yang
telah hilang.

Ada tiga prinsip yang menjadi kunci keistimewaan Islam dalam bidang kehidupan
keduniaan dibandingkan dengan agama lain. Bernhard Dahm menyimpulkan dalam
bukunya Sukarno and the struggle for Indonesia Independence, bahwa ada tiga prinsip
itu adalah (1) Tidak ada agama selain Islam yang lebih menekankan persamaan; (2)
Tidak ada agama selain Islam yang sederhana dan rasional dan (3) Islam adalah
kemajuan .

Muhammad Ridwan Lubis, dalam disertasinya, Sukarno tentang Islam dan


Unsur-unsur Pembaharuannya, menjelaskan agar terperinci tentang hal di atas. Prinsip
pertama, menuju kepada bentuk struktur sosial umat manusia yang bersifat egaliter dan
demokratis. Prinsip kedua, menyangkut hakikat ajaran Islam mengandung aspek-aspek
kerasionalan, khususnya yang berhubungan dengan kepentingan umat manusia. Prinsip

64
Peter Kasenda

ketiga, menyangkut masa depan perkembangan dengan baik, apabila selalu dipahami
dalam sikap kemajuan Sebaliknya masa depan Islam menjadi lain, apabila pemahaman
tidak bersikap luwes.

Penafsiran

Berikut ini dibicarakan pemikiran keislaman Soekarno, yang berkaitan dengan


masalah Ketuhanan, riba dan bank, masalah tabir, transfusi darah kepada nonmuslim dan
hubungan agama dengan negara. Hal di atas erat kaitannya dengan pandangan Soekarno
tentang kedudukan kedua sumber utama ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadis, dan
peranan ilmu pengetahuan dalam memahami ajaran Islam khususnya yang menyangkut
masalah kemasyarakatan.

Sumber pokok ajaran Islam sebagaimana diketahui adalah Al-Qur”an dan Hadis.
Al-Qur”an sebagai sumber pokok ajaran Islam yang tak dapat dibantah lagi, sebab ia
telah dibukukan tidak lama setelah Nabi Muhammad SAW, sedangkam Hadis baru mulai
dikumpulkan dan dibukukan seabad setelah ditinggalkan hasilnya berlainan, mengandung
beberapa kelemahan.

Dalam buku Badri Yatim disebutkan bahwa Hadis dapat dibagi menjadi beberapa
bagian menurut kuat dan lemahnya Hadis itu sendiri, baik segi riwayatnya maupun
isinya. Karena posisinya yang sangat penting ada kemungkinan besar diselewengkan,
karena ada golongan-golongan yang ingin memperkuat pendapat-pendapatnya atau untuk
kepentingan pribadi dan golongan, kemudian menciptakan Hadis-hadis palsu. Dan
apalagi dalam perkembangan selanjutnya ada kesan bahwa bahwa Hadis-hadis itu lebih
mendapat perhatian dari ayat-ayat Al-Qur”an.

Ada keinginan Soekarno merombak cara berpikir umat Islam dari pola berpikir
tekstual menuju kepada kontekstual. Soekarno menjelaskan bahwa ajaran Islam bisa
diseseuaikan dengan ilmu pengetahuan modern. Seperti pencucian panci yang dijilat
anjing, tidak perlu menggunakan tanah, cukup hanya dengan menggunakan sabun dan
kreolin. Di mata Soekarno yang tujuan dari tindakan itu sendiri.

Dan Soekarno mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda


bahwa kamulah yang lebih mengetahui urusan dunia. Soekarno tampaknya ingin
mengugat cara berpikir masyarakat yang menganggapnya bahwa pencucian beja itu harus
mutlak menggunakan tanah, pola berpikir ini memang sesuai dengan kondisi pemikiran
keagamaan di Indonesia yang umumnya memang menganut mazhab Syafi’i.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 65
Email: mr.kasenda@gmail.com
Unsur-Unsur Pembaharuan

Pandangan Soekarno tentang Ketuhanan. Betapapun sederhana tingkat peradaban


manusia, senantiasa ada perasaan ketergantungan yang menjadi tempat
menggantungkan pikiran dan perasaan manusia itu tidak selalu sama bentuk
pengungkapannya. Atas dasar itu Soekarno berpendapat bahwa pandangan
tentang Tuhan atau usaha merumuskan Tuhan, yang disebutnya Godsbegrip,
selalu mengalami perubahan menurut tingkatan lingkungan kehidupan manusia
itu.

Proses terbentuknya kepercayaan manusia terhadap Tuhan menurut Soekarno


melalui sejumlah tahapan. Adanya sejumlah tahapan bentuk kepercayaan itu erat
kaitannya dengan tingkat evolusi kehidupan manusia. Di awali dengan penyembahan
terhadap hal-hal yang dianggap memiliki kedashyatan seperti kilat, turunnya hujan dan
kayu besar tempat berlindung. Kemudian dilanjutkan dengan adanya penghargaan
terhadap binatang, yang dianggap sebagai perwujudan Tuhan. Tahapan selanjutnya,
konsep mengenai Tuhan berubah menjadi dewa yang menguasai pertanian Kemudian
berlanjut dengan kepercayaan mengenai keberadaan kekuatan gaib yang berada di dalam
diri manusia sendiri. Kekuatan gaib itu adalah pikiran, dan itulah Tuhan. Setelah
menguraikan keempat tahapan tersebut, Soekarno menyimpulkan bahwa tidaklah
mungkin manusia yang terbatas kemampuann panca inderanya untuk melukiskan Tuhan.
Setidak-tidaknya manusia hanya bisa mendekati Tuhan dengan berdasarkan
pengetahuannya terhadap gejala-gejala alam. Hal ini sejalan menurut Soekarno dengan
firman Allah dalam Al-Qur”an (Ayat 164 surah Al-baqarah). Jadi paham ketuhanan
Soekarno lebih bersifat sosiologis ketimbang teologis. Dengan pemahaman semacam ini,
kita bisa mengerti Pancasila Soekarno bisa diperas menjadi tiga (Trisila) dan menjadi satu
(Ekasila).

Soekarno menerima secara prinsip kedudukan Al-Qur”an dan Hadis sebagai


sumber utama ajaran Islam. Akan tetapi Soekarno menaruh sikap yang berbeda
terhadap Hadis, mengingat adanya perbedaan timbulnya kedua sumber itu.
Sungguhpun ia juga meyakini Hadis sebagai sumber utama ajaran Islam, namun
terselip keragu-raguanya untuk menerima secara mutlak kebenaran Hadis. Sebab
Hadis sebagian besar adalah hasil laporan manusia sewaktu melihat sebuah
peristiwa. Dalam sebuah laporan tidak bisa lepas dari subyektivitas seorang yang
menyaksikan persitiwa itu, karena itu terbuka kemungkinan pengurangan,
penambahan, dan penyisipan pendapat sendiri.

Dalam memahami Al-Qur”an dan Hadis yang berkaitan dengan fenomena alam,
sedikit sekali ulama-ulama tafsir mengaitkan pemahaman ayat dengan norma-norma ilmu
pengetahuan. Soekarno berkeinginan terjadinya hubungan yang saling mendukung antara
konsep agama dengan rumusan-rumusan ilmu pengetahuan modern. Hal ini
dimaksudkannya untuk menolong manusia memahami berbagai ayat dalam Al-Qur”an
yang erat kaitannya dengan penemuan ilmu pengetahuan modern seperti astronomi,
biologi, sejarah, arkeologi, dan sebagainya. Di satu pihak timbul usaha saling

66
Peter Kasenda

mendekatkan kedua unsur ini sehingga terwujud kembali kemesraan hubungan antara
agama dan ilmu pengetahuan, sebagai terjadi pada masa kejayaan Islam. Di pihak lain,
diharapkan akan timbul rasa kedalaman makna yang terkandung dalam sumber ajaran
Islam itu.

Berkaitan dengan riba, Soekarno menegaskan perlunya ada pemisahan antara riba
dan bank. Sebab riba secara tegas dilarang Allah, oleh itu hukumnya haram. Hal ini
disebabkan perbuatan di atas merupakan penindasan manusia atas manusia lain. Tentang
pelarangan adanya riba, Soekarno mengutip ayat-ayat suci Al-Quran, sebagaimana
tercantum dalam Surat Ali Imran 3 : 120 yang artinya “ “ Janganlah makan riba berlipat
ganda dan perhatikan kewajibanya terhadap Allah, moga-moga kamu beruntung.
Perbuatan riba dan membungakan uang adalah perbuatan yang bertujuan untuk memupuk
kekayaan dengan cara tidak wajar.”

Sebaliknya bank, di satu pihak sudah merupakan tuntutan kehidupan modern yang
tidak bertentangan dengan Islam, dan di lain pihak banyak membantu manusia yang ingin
mengembangkan usahanya. ”bahwa satu masyarakat modern perlu kepada bankwezen
yang sehat sendi-sendi kemanusiannya Perlu kepada pemutaran uang didunia
internasional, perlu kepada kredit dari luar negeri, perlu kepada pelbagai hal yang tidak
dapat dielakkan perhitungannya rente yang sederhana, “ kata Soekarno.

Pemasangan tabir yang memisahkan antara jamaah laki-laki dengan perempuan


dianggap sebagai suatu usaha menjaga agar tidak timbul kemungkinan akibat negatif dari
hubungan laki-laki dan perempuan itu. Ternyata menimbulkan kritik dari Soekarno.
Penolakan Soekarno terhadap pemasangan tabir, dapat dikembalikan pada pandangannya
tentang sifat Islam yang menekankan prinsip kesamarataan umat manusia tanpa
membedakan status sosial dan jenis kelaminan. Penekanan segi kesamarataan ini menjadi
penting, mengingat bahwa kaum wanita mempunyai peranan besar dalam menciptakan
suatu bangsa besar yang berperadaban tinggi.

Masalah yang dihadapi Soekarno adalah berkaitan erat hubungannya dengan


perombakan cara berpikir umat Islam yang menganggap adat istiadat sebagai bagian
daripada ajaran agama. Bertitik tolak dari kenyataan, bahwa protes terhadap tabir adalah
perwujudan kritik terhadap cara berpikir umat Islam, maka Soekarno berpendapat bahwa
tindakan Agus Salim yang merobek-robek tabir dalam suatu rapat Jong Islamisten Bond
harus dipandang sebagai tindakan yang mempunyai nilai tinggi. Dalam pandangan
Soekarno, keterikatan umat Islam kepada adar-istiadat akan sangat melemahkan mereka
karena pola berpikir mereka menjadi sangat dogmatis dan sukar menerima adanya
pembaruan pemikiran karena adanya perubahan sosial.

Pada dasarnya memang tidak ada teks ayat suci Al-Qur”an maupun Hadis yang
mengharuskan menggunakan tabir untuk memisah jemaah laki-laki dengan wanita dalam
sebuah pertemuan. Tetapi yang jelas bahwa sampai saat ini masalah tabir tidak ada
kesepakatan di antara para ulama. Kesepakatan tersebut bisa menjadi hukum.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 67
Email: mr.kasenda@gmail.com
Soekarno melihat banyak di antara para ulama di Indonesia yang menolak
menyumbangkan darahnya kepada kaum nonmuslim. Maksudnya adalah tentara
Belanda yang luka dan memerlukan pertolongan darah akibat keganasan tentara
Jepang pada tahun 1940-an, yaitu Perang Dunia II. Hal itu terjadi, menurut
Soekarno, karena (1) haram menyumbang darah kepada musuh, karena musuh itu
tetap hidup; (2) haram diambil darah orang Islam yang suci untuk dimasukkan ke
dalam tubuh bukan Islam, agar orang tersebut dapat terus hidup dan (3) haram
memasukkan darahnya orang bukan Islam yang tidak suci ke dalam tubuh orang
Islam yang suci.

Soekarno menyerukan tentang perlunya transfusi darah diadakan, yang mana


dikaitkan dengan pandangan Islam terhadap nilai-nilai kemanusian dan khususnya etika
perang. Oleh karena itu, Soekarno dalam memperkuat argumennya mengutip ayat-ayat
suci Al-Qur”an, sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Baqarah 20 ayat 190 yang
artinya“ Perangilah di atas jalan Allah orang yang memerangi kamu dan janganlah
melewati batas.”

Kutipan tersebut, sebenarnya ingin menunjukkan betapa tingginya kehalusan budi


etika perang dalam Islam itu, berdasarkan itu pula Soekarno berani menyatakan bahwa
tidak ada salahnya menyumbangkan darah kepada nonmuslim atas dasar pertimbangan
kemanusian semata. Dalam masalah kemanusian, Soekarno melihat bahwa perbedaan
tidak menghalangi manusia untuk saling menolong.

Sebenarnya masalah tranfusi darah adalah masalah baru bagi hasil perkembangan
ilmu kedokteran. Sehingga merupakan suatu kewajaran apabila tidak tercantum dalam
Al-Qur”an maupun Hadis. Tetapi yang jelas, apabila masalah itu tidak ditemukan aturan
yang secara tegas melarangnya dalam kedua sumber pokok ajaran Islam dan tidak
bertentangan dengan ajaran Islam. Maka hukumnya memperolehkan untuk dilaksanakan.

Dan masalah yang paling banyak disinggung Soekarno adalah hubungan agama
dengan negara. Ketika dunia Islam sibuk dengan perdebatan. Apakah Islam harus
menjadi dasar negara. Atau sebaliknya, Islam itu tidak semestinya menjadi dasar negara
karena Islam itu sendiri berwatak non-ideologis.

Soekarno dengan M Natsir sibuk dengan polemik, perlunya tidak persatuan


agama dengan negara lewat tulisan-tulisan di Pandji Islam pada tahun 1940.
Kalau M Natsir menganjurkan perlunya persatuan agama dengan negara,
Soekarno sebaliknya menentang. Di mata Soekarno, Islam adalah agama,
bukanlah suatu sistem yang mengandung aturan-aturan kemasyarakatan,
walaupun Islam membawa pedoman kehidupan bermasyarakat.

Menurut Soekarno, tidak ditemukan teks-teks dalam Al-Qur”an dan Hadis yang
menyebutkan tentang perlunya persatuan agama dengan negara. Dengan demikian
pendapat yang mengatakan bahwa perlunya persatuan dengan negara perlu ditolak.
Tetapi yang jelas, walaupun Soekarno tetap memperhatikan agar cita-cita umat Islam
dapat tersalur, dengan menawarkan Pancasila sebagai dasar negara. Dan Pancasila itu

68
Peter Kasenda

sendiri, menurut Tosan Suhastoyo dan Mohammad Ridwan Lubis, mendapatkan


pengaruh dari ajaran maupun semangat Islam.

Selama ini Soekarno belum dimasukan sebagai tokoh pemikir Islam di Indonesia,
tetapi dalam kenyataan ia tidak menyumbangkan pemikirannya tentang Islam serta besar
dalam melihat pentingnya kedudukan Islam dalam kehidupan bangsa, sebagaimana
kebalikan dari pandangan orang yang meremehkan peranan agama khususnya. Sebagai
contoh dari pemikirannya itu adalah usahanya mempertemukan Islam dan kebangsaan.
Pemikiran Soekarno tentang Islam, saling berkaitan dengan pemikirannya dalam bidang
politik, Apabila ia berbicara tentang Islam, maka pada saat yang sama pula telah tercakup
pandangan politiknya dan demikian pula sebaliknya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa
Soekarno menaruh minat terhadap ajaran Islam, walaupun ia dikenal sebagai tokoh
nasionalis sekuler, dan disinilah perbedaan Soekarno dengan tokoh nasionalis sekuler
lainnya.

Soekarno, 1 Juni 1945 dan Pancasila


Suatu Penjelasan

Dua minggu yang lalu, surat kabar ini lewat karikaturnya mempertanyakan
mengapa lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 tidak diperingati ? Jawabannya tentu ada
bermacam-macam sebab. Tetapi yang jelas peringatan yang berkaitan dengan
peristiwa bersejarah tersebut, terakhir kalinya pada tahun 1968. Setelah tahun
tersebut, kalau ada yang memperingatinya hanya untuk golongan terbatas saja.

Meskipun persitiwa bersejarah itu tidak diperingati bahkan dilarang oleh


pemerintah Orde Baru, tetapi ada baiknya, kalau saya mencoba memberi beberapa
penjelasan tentang pidato Soekarno yang cemerlang dan bersejarah itu dalam perjalanan
bangsa Indonesia.

Dalam awal pidatonya yang bersejarah itu, Soekarno mengatakan kepada anggota
bahwa selama berlangsungnya sidang pertama BPUPKI yang berlangsung antara
29 Mei – 1 Juni 1945, belum ada orang yang mengemukakan dasar negara. Dan
Soekarno adalah orang pertama yang akan mengemukakan hal tersebut.

Setelah itu Soekarno berbicara tentang perlunya Indonesia Merdeka dan juga
tentang pengertian dasar negara, di mana dikatakannya bahwa setiap negara mempunyai
dasar negara atas pandangan hidup. Sebagai contoh, Soekarno menyebutkan, Hitler
mendirikan Jerman berdasarkan National Sozialirische Weltanschauung, Uni Soviet
didirikan Lenin berdasarkan Marxistische Historisch Mataerialische Weltanschauung,
negara Dai Nippon didirikan Nippon berdasarkan Tenno Kondo Saishin, dan agama
Islam sebagai landasan negara Arab Saudi Arabia yang didirikan oleh Ibnu Saud serta

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 69
Email: mr.kasenda@gmail.com
Sun Yat Sen mendirikan Tiongkok berdasarkan San Min Chu I.

Selanjutnya Soekarno mengatakan bahwa ia setuju dengan pendapat dari tokoh


Islam, seperti Dr Soekiman dan Ki Bagoes Hadikoesomo, bahwa perlunya mencari suatu
persetujuan paham. Oleh karena itu, Soekarno menekankan tentang pentingnya
mendirikan suatu negara Indonesia untuk semua orang. Untuk itu ada baiknya kalau kita
simak kata-kata Soekarno itu.” Apakah kita hendak mendirikan Indonesia Merdeka untuk
sesuatu orang, untuk semua golongan? ,,,sudah tentu tidak? …Kita mendirikan suatu
negara “semua buat semua,” lewat kata-kata diatas, sebenarnya Soekarno secara tidak
langsung mengingatkan kita kepada polemiknya dengan Natsir pada tahun 1940, ketika
Soekarno berada di pembuangan. Di sanalah melalui tulisannya di Pandji Islam,” Sebab
apa Turki memisahkan agama dari negara ? “ Melalui tulisan itu, Soekarno ingin
menegaskan tentang tidak perlu adanya persatuan dengan negara. Soekarno tidak melihat
kemungkinan bisanya tercipta persatuan ini di negeri yang banyak orangnya bukan
beragama Islam. Sebab bisa diduga, kalau wakil-wakil bukan Islam dan sebagian besar
intelektual beragama Islam akan menolak dengan segala tenaga.

Kesan yang terlihat, bahwa pemisahan agama dan negara tampaknya sejalan
dengan pendiriannya, setiap masalah yang tidak dinyatakan secara tegas dalam Al-
Qur”an dan Hadis berarti memberi kebebasan bagi umat Islam untuk merumuskan
dengan kondisi sosial mereka, asal tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Menurut
Soekarno sendiri, bahwa istilah negara Islam hanyalah merupakan rumusan ulama dan
intelektual Islam belaka, tanpa dasar yang tegas dari sumber ajaran Islam. Oleh karena
itu, tidak ada keharusan negara Islam, yang dituntut dari umat Islam adalah yang
diterapkan etika Islam dalam negara yang didirikan. Hal ini bisa diperoleh kalau masing-
masing umat menyadari tanggung jawab bersama terhadap perwujudan cita-cita Islam
dalam negara kebangsaan.

Oleh karena itu, apabila ditinjau dari jalan pemikiran Soekarno, tidaklah
mengherankan, kalau Soekarno mengajukan dasar pertama yang baik menurut
pendapatnya untuk dijadikan dasar negara Indonesia Merdeka,”… ialah dasar negara
kebangsaan. Kita mendirikan satu negara kebangsaan Indonesia.” Pilihan Soekarno
tersebut, dapat diartikan bahwa aspirasi tentang perlunya dasar negara Islam telah
dikesampingkan dan bisa jadi ia menganggap cita-cita semacam itu sulit menampung
aspirasi masyarakat Indonesia yang majemuk itu dan seperti apa yang dikatakan di atas,
pilihan dasar negara Islam akan ditolak mentah-mentah oleh sebagian kecil masyarakat
Indonesia. Jadi lewat dasar negara kebangsaan, Soekarno menawarkan alternatif yang
mampu menampung aspirasi masyarakat Indonesia yang majemuk itu.

Sebenarnya nasionalisme yang ditawarkan Soekarno bukanlah berarti


nasionalisme dalam arti yang sempit. Nasionalisme yang diajukan Soekarno itu
hendaknya perlu dipahami bersama dengan prinsip-prinsip dasar kedua
Internasionalisme.

Sulit untuk dipungkiri, bahwa nasionalisme mengandung bahaya ketika ia


berubah menjadi patriotisme yang sempit, oleh karena itu perlunya diimbangi dengan

70
Peter Kasenda

rasa hormat kepada bangsa-bangsa lain, Penolakan Soekarno terhadap Chauvinisme


(nasionalisme yang bersifat serang menyerang) ini, bisa jadi merupakan pengaruh oleh
Mahatma Gandhi, terlihat betapa seringnya ia mengutip kata-kata Gandhi itu,
“nasionalisme adalah kemanusian.” Jadi kesimpulannya, walau pada akhirnya toh
terhadap kesulitan untuk membedakan secara jelas antara nasionalisme dengan
internasionalisme, yang jelas kedua prinsip dasar itu bergandengan erat satu sama lain.

Kalau kita telusuri kembali ke permukaan kegiatan politik Soekarno, kita dapat
menyimpulkan bahwa Soekarno sebenarnya – sejak tahun 1927, di dalam federasi
pergerakan Indonesia yang pertama (PPKI) – berusaha setengah hati agar semua pihak
benar-benar terwakili dan melalui asas mufakar itu. Soekarno mencoba mengusahakan
agar golongan minoritas bukan saja terwakili, tetapi suaranya juga harus didengar. Pada
tahun 1930-an secara lantang menolak apa yang dinamakan demokrasi parlementer,
malah ia berulang-ulang kali menyebutkan tentang keunggulan sistem Indonesia.
Masalah kolektivisme disebut-sebut juga pada masa pendudukan Jepang.

Tentang perlunya mufakat itu dapat dikaitkan dengan seruan yang penuh gairah
oleh Soekarno kepada golongan Islam agar tidak bersikeras menuntut pembentukan
sebuah negara Islam, yang tidak memungkinkan mendapat dukungan maupun kerja sama
yang aktif dari golongan agama lainnya. Meskipun ia menolak pikiran suatu dasar negara
Islam, tetapi ia menawarkan suatu jalan untuk memperoleh dukungan sebanyak mungkin
di dalam sidang badan perwakilan.

“ Badan perwakilan, inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan


Islam…Jikalau kita memang rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar
supaya sebagian terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan rakyat yang kita adakan,
diduduki oleh utusan-utusan Islam. Dengan sendirinya bukan hukum-hukum yang keluar
dari badan perwakilan rakyat itu, hukum Islam pula.”

Oleh karena itulah, Soekarno mengajukan dasar ketiga mufakat, atau


demokrasi,”.. Kita mendirikan negara,”semua buat semua, satu buar semua, semua buat
satu” Saya yakin bahwa syarat yang mutlak untuk kuatnya negara Indonesia ialah
permusyawaratan, perwakilan.” Lewat mufakat ini, Soekarno mengharapkan agar semua
golongan dapat berpartisipasi dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.

Kritik Soekarno terhadap kesia-sian Demokrasi Parlementer, terdapat dalam


tulisannya, “Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi,” pada Fikiran Ra;jat, 1932.
Soekarno melihat bahwa liberalisme hanya menjamin hak-hak politik, tetapi merintangi
keadilan sosial. Untuk itu, Soekarno berpendapat,” Kalau kita mencari demokrasi
hendaknya bukan demokrasi Barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni
politik economische democratie yang mampu mendatangkan kesejateraan sosial,”
Demokrasi Barat, kata Soekarno, tempatnya kaum kapitalis mengontrol segala-galanya
dan di situ tidak ada keadilan sosial dan demokrasi ekonomi. Oleh karena itu tidak
mengherankan, kalau demokrasi dan keadilan sosial bergandengan dengan alam
pikirannya. Dan kesejahteraan sosial itulah, yang menjadi dasar keempat.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 71
Email: mr.kasenda@gmail.com
Sebagai sila terakhir, Soekarno meminta kepada anggota sidang pertama
BPUPKI, agar negara yang berdiri itu didasarkan kepercayaan kepada Ketuhanan, dan
melalui prinsip ini terbuka bagi pelaksanaan toleransi dan saling-menghormati” Bukan
saja bangsa Indonesia ber-Tuhan, tetapi masing-masing yang hendaknya ber-Tuhan.
Tuhannya sendiri’. Konsepsi Soekarno tentang itu bisa dipastikan sebagai hasil
perenungannya selama ia berada dalam penjara Sukamiskin atau tempat pembuangannya
di Endeh maupun Bengkulu, di mana dia merasakan ada kekuatan yang merupakan
tempat dirinya bergantung.

Tetapi, meskipun demikian, prinsip Ketuhanan Soekarno bukanlah berdasarkan


doktrin sentral agama Islam, tetapi lebih bersifat sosiologis. Sebab Soekarno mengaggap
bahwa proses terbentuknya kepercayaan terhadap Tuhan mengalami beberapa
perkembangan. Sedangkan adanya perkembangan bentuk kepercayaan itu erat kaitannya
dengan tingkat evolusi kehidupan umat manusia.

Jadi prinsip dasar negara Indonesia Merdeka yang ditawarkan oleh Soekarno
adalah : (1) Kebangsaan Indonesia; (2) Internasionalisme, atau perikemanusian; (3)
Mufakat, atau demokrasi; (4) Kesejahteraan; (5) Ketuhanan. Selanjutnya, Soekarno
mengatakan “…saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita namanya ialah
Pancasila. Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan
negara Indonesia, kekal dan abadi.” Dan pada saat itulah terdengar tepuk tangan riuh
rendah dari para anggota BPUPKI. Tetapi yang jelas sampai saat ini, tidak pernah jelas
siapa teman Soekarno yang ahli bahasa itu.

Sesudah ia menguraikan kelima prinsip dasarnya dan memberi nama kelima dasar
negara tersebut, selanjutnya Soekarno berkata,” Dua dasar pertama… kebangsaan dan
perikemanusian, saya peras menjadi satu. Itulah yang dahulu saya namakan sosio-
nasionalisme. Demikian juga….politieke-economische democratie, yaitu politieke
democratie dengan sociale rechtsvaardigheid …dapat diperas menjadi satu dinamakan
sosio-demokrasi. Dan yang terakhir adalah kepercayaan kepada Tuhan. Jadi yang asalnya
lima itu telah menjadi tiga: Sosio-nasionalisme, Sosio-demokrasi dan Ketuhanan.”
Kesimpulannya adalah kata-kata Sosio-nasionalisme dan Sosio-demokrasi tidak asing
lagi, kalau kita telusuri dalam pemikiran politik Soekarno pada tahun 1932 di depan
Kongres Partindo di Mataram (Yogyakarta), dikatakan antara lain bahwa Marhaenisme,
yaitu Sosio-nasionalisme dan Sosio-demokrasi; Marhaenisme adalah prinsip yang
menghendaki suatu struktur dan tertib sosial yang melayani kaum Marhaen dalam segala
hal. Marhaenisme adalah juga cara perjuangan dan sekaligus juga prinsipnya yang
bertujuan mengusir setiap bentuk kapitalisme dan imperialisme.

Selanjutnya, Soekarno mengatakan bahwa ketiga dasar tersebut,dapat diperas


menjadi satu prinsip saja. Kata Soekarno,”Jikalau saya peras lima menjadi tiga, dan yang
tiga menjadi satu, maka dapatlah saya perkataan Gotong Royong.” Kata-kata Soekarno
ini mengingatkan kita kembali pada tahun 1926-1927, ketika Soekarno menulis artikel
bersambung dalam majalah politik Indonesia Moeda, tiga bulan sesudah ia memperoleh
gelar insinyur pada pertengahan tahun 1926. Lewat artikelnya yang berjudul, “
Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme,” sebenarnya Soekarno berusaha menemukan

72
Peter Kasenda

suatu landasan bersama bagi berbagai aliran politik pada waktu itu. Lewat gagasan ini
pula, dalam tahun 1927, Soekarno mewujudkan federasi pergerakan Indonesia, yang
berlandaskan mufakat, sehingga golongan-golongan minoritas pun punya hak suara, dan
pembentukan Putera (Pusat Tenaga Rakyat) pada masa pendudukan Jepang, dapat
dikatakan sebagai usaha gotong royong dari berbagai aliran.

Rumusan Pancasila Soekarno dapat dikatakan sebagai usaha untuk memberikan


kepada berbagai aliran-aliran politik yang terdapat di Indonesia, suatu landasan bersama
di dalam negara baru itu. Seperti apa yang diutarakan di atas itu. dan kalau kita simak
lebih lanjut, maka setiap pendapat dan argumen yang dikemukakan oleh Soekarno
kelihatannya tidak asing lagi. Sebab pidatonya yang bersejarah itu itu merupakan suatu
ikhtisar klasik dari gagasan-gagasan politik yang telah dikembangkan semenjak dia
sebagai cendikiawan muda di tahun 1920-an sampai dengan pidatonya yang bersejarah
itu. Melihat alur pemikirannya, ia tetap konsisten kepada pokok persoalan yang menjadi
pusat perhatiannya, yaitu mempersatukan dan membangun bangsanya yang majemuk itu
melalui suatu landasan pandangan hidup bersama.

Berbicara tentang Pancasila perumusan Soekarno, kekuatannya terletak pada


keberhasilannya pula pencerminan dari berbagai aspirasi yang terdapat di dalam
masyarakat Indonesia. Sehingga merupakan suatu kesulitan untuk ditolak oleh kelompok
manapun dalam bangsanya selama mereka benar-benar menghendaki pembentukan suatu
negara merdeka yang luas wilayahnya membentang dari Sabang sampai Marauke. Dan di
sinilah Soekarno sebagai politisi ulung bertindak sebagai arsitek dari bangsa Indonesia.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 73
Email: mr.kasenda@gmail.com
Soekarno, Islam dan Pancasila
Sebenarnya perdebatan mengenai dasar negara diawali pada masa kolonial,
dengan adanya polemik Soekarno dengan M Natsir yang masing-masing dianggap
mewakili pandangan golongan kebangsaan dengan golongan Islam, Di mana polemik
semacam itu berkelanjutan setelah Indonesia Merdeka hinggga pada masa-masa awal
Orde Baru.

Ketika ada pandangan yang menginginkan dasar negara Indonesia berdasarkan


Islam pada masa menjelang Perang Pasifik, Soekarno memberi reaksi. Sambil
menunjukan keberhasilan Turki di bawah Kemal Attartuk, ia menginginkan suatu negara
yang terpisah dari urusan agama. Urusan agama adalah urusan agama, urusan negara
adalah urusan negara, katanya. Untuk memperkuat pendapatnya, ia mengutip pendapat
ulama Mesir, Ali Abd Al-Raziq dalam bukunya, Al-Islam wa Usul Al-Hukum (1925),
yang mencoba membuktikan bahwa tugas Nabi Muhammad ialah menegakkan agama,
tanpa berminat mendirikan negara, suatu pemerintahan dunia, tanpa membentuk khafilah
atau pengangkatan seorang kepala suatu masyarakat politik.

Melalui artikel,” Apa Sebab Turki Memisahkan Agama dari Negara,” Pandji
Islam (1940), sebenarnya ia menginginkan agar di suatu perwakilan rakyat sebagai ciri-
ciri demokrasi suatu negara, di mana di tempat itulah golongan Islam mempunyai
kesempatan untuk mewarnai undang-undang negara, asalkan golongan Islam iti
mempunyai suara mayoritas dalam parlemen, hal ini tentunya tergantung suara yang
diperoleh golongan Islam dalam Pemilihan Umum. Soekarno menambahkan bahwa
pemikiran inilah yang terdapat pada kalangan pemimpin Turki ketika mereka
memisahkan agama dengan negara.

Di kalangan umat Islam sampai sekarang terdapat tiga aliran tentang hubungan
antara Islam dan ketatanegaraan. Aliran pertama berpendirian bahwa Islam bukanlah
semata-mata agama dalam pengertian Barat, yakni hanya menyangkut hubungan antara
manusia dan Tuhan, sebaliknya Islam adalah suatu agama yang sempurna dan yang

74
Peter Kasenda

lengkap dengan pengaturan bagi segala aspek kehidupan manusia termasuk kehidupan
bernegara.

Aliran kedua berpendirian bahwa Islam adalah agama dalam pengertian Barat,
yang tidak ada hubungannya dengan utusan kenegaraan. Menurut aliran ini Nabi
Muhammad hanyalah seorang rasul biasa seperti halnya rasul-rasul sebelumnya, dengan
tugas tunggal mengajak manusia kembali kepada kehidupan yang mulia dengan
menjunjung tinggi budi pekerti luhur; dan Nabi tidak pernah dimaksudkan untuk
mendirikan dan mengepalai satu negara.

Aliran ketiga menolak pendapat bahwa Islam adalah agama yang serba lengkap
dan bahwa dalam Islam terdapat sistem ketatanegaraan. Tetapi aliran ini juga menolak
anggapan bahwa Islam adalah agama dalam pengertian Barat yang mengantur hubungan
antara manusia dan Maha Penciptanya. Aliran ini berpendirian bahwa dalam Islam tidak
terdapat sistem ketatanegaran, yang terdapat seperangkat tata nilai etika bagi kehidupan
bernegara. Begitu kata Munawir Sjadzali dalam Islam dan Tata Negara (1990)

Piagam Jakarta

Pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno mengemukakan pemikirannya tentang


Pancasila, yaitu lima dasar negara Indonesia yang diusulkan berkenan dengan
permasalahan sekitar dasar negara Indonesia Merdeka. Sebagai sila pertama dari dasar
negara, ia mengajukan dasar kebangsaan. Jelas ia terlihat bahwa ia menolak Islam
sebagai suatu dasar negara. Tetapi bukan berarti ia tidak mengindahkan aspirasi golongan
Islam. Hal ini terlihat bagaimana ia mencoba menampung aspirasi umat Islam, inilah
tempat kita mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam… Jikalau memang kita rakyat Islam,
marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar supaya sebagian terbesar kursi-kursi Dewan
Perwakilan Rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan-utusan Islam..Dengan
sendirinya hukum-hukum yang keluar dari Dewan Perwakilan Rakyat itu, hukum Islam
pula…”

Dasar negara Pancasila Soekarno. kata Muhammad Ridwan Lubis, merupakan


perwujudan pandangan Soekarno yang memisahkan agama dan negara. Pemisahan agama
dari negara ini sejalan dengan pendiriannya bahwa setiap masalah yang tidak dinyatakan
secara tegas dalam Al-Qur”an dan Hadis, harus diartikan bahwa umat Islam diberi
kesempatan untuk merumuskannya sesuai dengan kondisi sosial mereka, asalkan tidak
bertentangan dengan prinsip Islam. Masalah ini dikembangkan Soekarno kepada
pembicaraan yang cukup hangat waktu itu yaitu soal negara Islam. Menurut Soekarno,
sebutan negara Islam hanyalah rumusan para ulama dan intelektual muslim tanpa ada
dasar yang tegas dari sumber ajaran Islam. Karena itu tidak ada keharusan mendirikan
negara Islam, yang dituntut dari umat Islam adalah diterapkannya etika Islam dalam
negara yang didirikan itu. Hal ini bisa diperoleh apabila masing-masing umat Islam
menyadari adanya tanggung jawab bersama terhadap perwujudan cita-cita Islam dalam
negara kebangsaan. Tumbuhnya rasa tanggung jawab bersama ini adalah hasil dari proses
sosialisasi Islam dalam kehidupan masyarakat.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 75
Email: mr.kasenda@gmail.com
Selanjutnya dibentuk panitia kecil yang terdiri dari sembilan orang, yaitu
Soekarno, Moh Hatta, Muh. Yamin, Achmad Subardjo, AA Maramis, Abd Kahar
Moezakir, Wachid Hasyim, Abikusno Tjokrosuyoso dan Agus Salim. Pertama sampai
kelima adalah mewakili pandangan golongan kebangsaan dan selebihnya mewakili
pandangan golongan Islam. Akhirnya terjadi kesepakatan di antara kedua pihak, yang
selanjutnya disepakati sidang dan dicantumkan di dalam Preambule. Di mana tercantum
aspirasi umat Islam.”… Suatu hukum dasar negara Indonesia…Dengan berdasarkan
kepada Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari”at Islam bagi pemeluk-
pemeluknya…” Rumusan ini dikenal masyarakat luas sebagai Piagam Jakarta,

Mengapa golongan Islam yang mayoritas dalam BPUPKI dapat berkompromi


dengan golongan kebangsaan? Ini mungkin dengan tercantumnya “ Ketuhanan dengan
kewajiban menjalankan syari”at Islam bagi pemeluk-pemeluknya …” dalam Preambule
UUD 1945 dan juga dalam pasal 29 ayat 1. Buat sementara, kompromi ini melegakan
kedua belah pihak, walaupun disertai perasaan berat dari kalangan Kristen.

Berkat perjuangan Soekarno, Piagam Jakarta dengan konsitusinya bisa lolos,


dengan alasan yang sama, bahwa Piagam Jakarta tersebut merupakan kompromi antara
dua golongan. Dalam hal ini Soekarno tampil menjadi penengah dan pemersatu bangsa,
karena memang dia adalah seorang nasionalis yang sangat cenderung kepada persatuan.

Suatu kompromi seperti Piagam Jakarta tidak bisa memuaskan kedua belah pihak,
begitu kata Badri Yatim. Baik golongan nasionalis sekuler maupun nasionalis Islam
sangat keras memegang prinsipnya masing-masing. Oleh karena itu Piagam Jakarta
dengan konsitusinya tidak lantas menjadi modus vivendi antara tuntutan para pemimpin
Islam, karena bagi kaum nasionalis sekuler Piagam Jakarta atau konsitusinya lebih
mendekati cita-cita Islam.

Harry J Benda melalui bukunya, Bulan Sabit dan Matahari Terbit, menganggap
bahwa sebenarnya perdebatan tentang dasar negara adalah nomor dua kalau dibandingkan
dengan masalah yang sebenarnya adalah keseimbangan politik. Pengakuan kaum
muslimin terhadap masalah dasar negara, berarti menunjukkan kepercayaan rakyat
Indonesia atas kepemimpinan Soekarno-Hatta sebagai pemimpin bangsa. Kepemimpinan
yang dimulai pada masa kolonial Hindia Belanda. Bukankah kepercayaan yang diberikan
tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa rakyat Indonesia lebih menyukai
kepemimpinan golongan kebangsaan daripada golongan Islam.

Ternyata dukungan dari sejumlah kalangan terhadap Piagam Jakarta tidak


berlangsung lama. Tuntutan dari pihak Kristen di kawasan Kaigun (Angkatan Laut
Jepang), seperti yang disampaikan sorang opsir kepada Muh Hatta. Mereka berkeberatan
terhadap anak kalimat dalam Preambule yang berbunyi,” Ketuhanan dengan kewajiban
menjalankan syari”at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” walaupun mereka mengakui
tidak terikat dengan anak kalimat itu, namun memandangnya sebagai diskriminasi
terhadap mereka sebagai golongan minoritas.

76
Peter Kasenda

Usul tersebut disampaikan Hatta kepada Sidang PPKI dan diterima.”Demi


menjaga persatuan bangsa Indonesia.” Preambule dan batang tubuh Undang-Undang
Dasar dengan beberapa perubahan ini kemudian dikenal sebagai Undang-Undang Dasar
1945.

Dekrit 5 Juli 1959

Setelah Perang Kemerdekaan perdebatan mengenai ideologi masih berlangsung.


Dalam bulan Januari 1953, ketika Soekarno mengunjungi Kalimantan Selatan, dalam
pidatonya di Amuntai, ketika melihat ada polemik tentang dasar negara. Ia mengatakan
bahwa tuntutan Islam sebagai suatu dasar negara hanya menimbulkan perpecahan.
Pernyataan itu menimbulkan kemarahan atau reaksi di kalangan pemimpin-pemimpin
Islam, tetapi mendapat dukungan di daerah Nias dan Tapanuli.

Pada waktu itu situasi politik telah terjadi adanya polarisasi golongan nasionalis
(PNI) dan golongan Islam (Masyumi). Polarisasi itu adalah menyangkut masalah
Pancasila dan Islam. Kemudian Presiden Soekarno memberi kuliah umum di Universitas
Indonesia pada tanggal 7 Mei 1953, untuk menjelaskan mengenai hubungan agama
(Islam) dengan negara. Lewat kuliah umum yang berjudul “ Negara Nasional dan Cita-
Cita Islam,” , Soekarno mengatakan bahwa (1) Islam mempunyai cita-cita kenegaraan ;
(2) Islam bukan saja mengatur soal hubungan manusia dengan Allah, tetapi mengatur
juga soal-soal kehidupan dan hubungan manusia dengan masyarakat, sehingga tidak saja
agama tetapi way of life yang mengatur segala soal kehidupan; (3) Islam tidak
memisahkan agama dan negara sebagaimana agama Kristen, tetapi agama dan negara
menurut Islam adalah bersatu dan sejalan; dan (4) Walaupun begitu Islam tidak mengenal
dan tidak membenarkan adanya teokrasi, karena dalam Islam tidak ada hirarki
sebagaimana dalam agama Katolik

Tetapi setelah menjelaskan dan membahas negara dalam Islam, menurut Badri
Yatim Soekarno tidak memastikan bagaimana bentuk negara dalam Islam itu, terutama
hubungannya dengan Indonesia. Sebab Indonesia bukan saja terdiri dari warga yang
beragama Islam, tetapi juga penganut agama lain yang turut berkorban mencapai
kemerdekaan Indonesia dan mendirikan NKRI ini.

Pada tanggal 22 April 1959, ketika Presiden Soekarno menyampaikan pidatonya


di depan Majelis Konsituante dengan judul “ Res Publica. Sekali lagi Respublica”.
Melalui pidato ini pada prinsipnya ia meminta Majelis Konsituante untuk
mempertimbangkan sungguh-sungguh gagasannya untuk kembali kepada UUD 1945.
Dengan demikian diharapkan perbedaan sengit tentang dasar negara akan dapat diakhiri.

Kemdian terjadilah perdebatan serius di Majelis Konsituante. Masalah krusial


masih berkisar mengenai dasar negara. Ada tiga draf yang diusulkan menjadi
pertimbangan sebagai dasar negara, Pancasila, Islam dan Sosial Ekonomi. Yang terakhir
ini hanya mendapat dukungan dari Partai Buruh dan Murba, Kenyataan ini secara
langsung berhadapan antara Pancasila dan Islam sebagai pilihan menjadi dasar negara.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 77
Email: mr.kasenda@gmail.com
Melalui debat retoris yang tidak lebih dari permainan kata-kata dan tidak selalu
menyentuh inti masalah, namun situasi sidang terasa panas, akibat sikap perserta yang
tidak berkepala dingin dan lebih menggunakan perasaan emosional. Masing-masing
golongan bekerja untuk mempertahankan pendiriannya, namun tidak meyakinkan pihak
lawan. Akhirnya pada tanggal 2 Juni 1959 diadakan pemungutan suara, 236 suara
mendukung usul presiden untuk kembali ke UUD 1945, dan 203 suara menentangnya,
yaitu golongan Islam yang masih menghendaki anak kalimat terdiri dari tujuh kata
dimasukkan ke dalam UUD 1945. Hasil pemungutan suara menunjukkan bahwa kedua
belah pihak sama-sama gagal memperoleh suara mayoritas mutlak (2.3), dari anggota
yang hadir dalam sidang yang panas dan emosional itu. Gambaran itu sebenarnya sudah
terlihat ketika hasil pemungutan suara pada Pemilihan Umum 1955.

Akhirnya Presiden Soekarno dengan dukungan penuh dari pihak militer


mengeluarkan dekrit untuk kembali ke UUD 1945 dan sekaligus Majelis Konsituante
pilihan rakyat itu dibubarkan. Dari Demokrasi Liberal beralih menjadi Demokrasi
Terpimpin. Ketika Dekrit 5 Juli 1959 dikeluarkan Presiden Soekarno dan TNI AD
merupakan kekuatan politik utama. Konflik presiden dengan TNI AD yang terjadi dalam
“Peristiwa 17 Oktober 1952” telah memberikan pada keduanya pelajaran jang berharga.
Dengan ucapannya yang terkenal ”Aku tidak mau jadi diktaktor” presiden menolak
tuntutan TNI AD membubarkan parlemen, yang mereka anggap telah terlalu mencampuri
urusan internal militer. Begitu kata Taufik Abdullah.

Sejak adanya Dekrit 5 Juli 1959, setiap usul untuk menggantikan Pancasila
sebagai dasar negara secara konsitusional, hanya merupakan mimpi-mimpi kosong di
siang bolong dan juga tidak diperkenankan, kecuali bila Majelis Permusyawaratan
Rakyat menghendaki sesuai dengan pasal 37 UUD 1945. Dalam dekritnya, Presiden
Soekarno mengakui bahwa Piagam Jakarta menjadi jiwa dan merupakan satu kesatuan
dengan seluruh batang tubuh UUD 1945. Jadi ide untuk melaksanakan prinsip-prinsip
syari’at Islam tidak begitu saja lenyap dari konsitusi Republik Indonesia.

A Syaffi Ma”rif dalam bukunya, Islam dan Masalah Kenegaraan, menyebutkan


bahwa masa depan Islam di Indonesia tampaknya tergantung sekali berhasil atau
tidaknya umat Islam merumuskan kembali hukum-hukum syari’at Islam untuk memenuhi
kebutuhan umat Islam sekarang ini. Di pihak lain, BJ Boland dalam bukunya,
Pergumulan Islam di Indonesia, melihat bahwa istilah “Masyarakat Islam“ semakin
sering disebut, karena semakin tidak menguntungkan berbicara mengenai “Negara
Islam”. Ringkasnya, ada kecenderungan untuk mewarnai Indonesia dengan warna Islam,
sesuai dengan kenyataan bahwa sebagian besar penduduknya adalah kaum muslimin.

Kalau melihat kenyataan di atas, mengingatkan ucapan Soekarno, ketika ia


mengucapkan sila ketiga dari dasar negara Indonesia. Dengan mengingatkan bahwa
keinginan golongan Islam akan terpenuhi, bilamana mereka mau bekerja keras untuk itu.
Dan itu sendiri tergantung pada kaum Muslimin.

78
Peter Kasenda

Soekarno dan Persatuan

Sejarah Indonesia mencatat Soekarno sebagai tokoh yang mempersatukan


masyarakat Indonesia yang menghuni sekitar garis khatulistiwa. Melalui tulisan
dan pidato-pidatonya, ia senantiasa berbicara mengenai masalah persatuan. Ada
pendapat yang mengatakan pemikiran politik Soekarno pada dasarnya bermuara
pada persatuan.

Dalam pergerakan nasional terdapat organisasi yang yang mempunyai tujuan dan
strategi politik yang tidak selalu sama. Di samping itu tidak terlihat adanya
persatuan, mereka melawan secara terpisah-pisah. Ada pertentangan yang
menimpa Sarekat Islam, gerakan massa pertama dalam sejarah Indonesia modern,
yang mengakibatkan adanya perpecahan. Pertentangan antara SI dan PKI terpecah
menjadi dua, yaitu SI Putih dan SI Merah, yang mengubah namanya menjadi
Sarekat Rakyat. Usaha HOS Tjokroaminoto mencoba untuk memelihara
persatuan partai gagal.

Nasionalisme

Suasana waktu itu sangat dipengaruhi oleh Soekarno, dan pada tahun 1926-1927
Soekarno menulis pada majalah politik Indonesia Moeda dalam tiga kali penerbitan
berturut-turut dengan judul “ Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme.” Dalam tulisan
tersebut ia mengakui adanya perbedaan antara ketiga aliran pemikiran tersebut, tetapi
dengan adanya persatuan tidak mustahil bangsa Indonesia mampu melawan penguasa
kolonial. Ia sadar bahwa kelebihan jumlah penduduk tidak ada gunanya kalau tidak
dibarengi dengan adanya persatuan. Ia melihat penguasa kolonial memecah belah
masyarakat Indonesia. Hanya dengan cara itu penguasa kolonial mampu melemahkan
pergerakan Indonesia. Dalam alinea terakhir, ia menegaskan bahwa ketiga aliran
pemikiran tersebut mempunyai tugas, tujuan dan musuh yang sama yaitu mengusahakan

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 79
Email: mr.kasenda@gmail.com
kesatuan, Indonesia Merdeka dan Belanda.

Dr Ruth McVey, penulis sejarah modern Indonesia mengatakan bahwa Soekarno


hanya melihat rakyat Indonesia sebagai suatu kelompok yang tidak terbagi ke dalam
kelas. Aliran dan isme-ismelah yang membagi masyarakat. Dengan nasionalisme, ia
mencoba menyatukan aliran-aliran yang berbeda itu dalam satu arus. Kaum marxis dan
Islam dapat hidup dalam tubuh nasionalisme seperti di rumah sendiri.

Pancasila

Pidato yang diucapkan pada tanggal 1 Juni 1945 dengan judul “Pancasila “
merupakan usaha Soekarno untuk mewujudkan sintesis dari persatuan dalam bentuk yang
nyata. Ia merumuskan pemikirannya dengan melihat kenyataan yang ada. Para pemimpin
Islam menghendaki negara Indonesia berdasarkan Islam dan juga tuntutan kepemimpinan
Islam untuk memperoleh perwakilan yang memadai di pusat kekuasaan politik. Menurut
Harry J Benda, diskusi tentang negara sekuler atau Islam adalah nomor dua dibandingkan
dengan masalah yang sebenarnya yaitu keseimbangan politik.

Dengan mengajukan Pancasila sebagai pandangan hidup, sebenarnya Soekarno


tidak langsung mencoba pilihan antara negara sekuler atau Islam, kata John D Legge.
Untuk memuaskan golongan Islam, ia menawarkan prinsip ketiga, yaitu mufakat, di mana
golongan Islam dimungkinkan mewarnai kehidupan bangsa Indonesia.

Dengan Pancasila, sebagai pandangan hidup bersama yang baru, diharapkan


menjadi tali pengikat masyarakat Indonesia yang masuk ke dalam satu bangsa yang betul-
betul bersatu. Tidak mengherankan kalau Soekarno meletakkan nasionalisme sebagai
prinsip dasar utama. Pemikiran mengenai bangsa itu, mengutip banyak kata Ernst Renan
dan Otto Bauer yang berbicara mengenai masalah kebangsaan.

Gotong Royong
Dalam pidato tahun 1957, ia mengumakan konsep dengan membentuk Kabinet
Gotong Royong dan Dewan Nasional. Alasan ia mengajukan konsep semacam itu,
disebabkan adanya ketidakstabilan politik. Dalam kabinet, semua partai dan fraksi
parlemen masuk. Sedangkan dalam Dewan Nasional tercermin dengan masuknya
golongan fungsional. Dengan gagasan tersebut ia merasa yakin bahwa semua hal
yang menjurus keterpecahan negara dapat di atasi. Konsep tersebut dipertegaskan
lagi dalam pidatonya pada tahun 1959. Ia mengatakan bahwa Gotong Royong
merupakan salah satu bentuk kepribadian bangsa Indonesia yang dapat
mempersatukan seluruh sebagai satu bangsa.

Nasakom

80
Peter Kasenda

Pemikiran yang dikemukakan pada tahun 1920-an tentang bersatunya tiga isme
itu mau direalisasikan kembali. Dalam pidato 17 Agustus 1960, ia menegaskan bahwa di
Indonesia ada tiga golongan besar yang tidak dapat diingkari keberadaannya di Indonesia,
yaitu nasionalisme, Islamisme dan komunisme. Gagasan Nasakom ini merupakan bentuk
kerjasama aliran-aliran politik ideologis.

Usahanya mempersatukan ketiga aliran pemikiran tersebut, menimbulkan


pertanyaan apa mungkin PKI dapat menyesuaikan diri dengan semua sila yang
terkandung dalam Pancasila, khususnya sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Masyarakat
Indonesia mengetahui bahwa golongan komunis tidak mempercayai adanya Tuhan.
Terasa sulit bagi golongan Islam untuk mengadakan kerja sama antar mereka.

Menurut Soekarno, sebagaimana yang diutarakan Bernhard Dahm dalam satu


kesempatan, bahwa konsep Nasakom tersebut merupakan konsitensi dari pemikirannya
yang berkembang sejak tahun 1920-an. Aliran-aliran tersebut merupakan faktor subyektif
dari masyarakat Indonesia. Bila ingin mengadakan perubahan-perubahan di dalam
masyarakat harus mempersatukan mereka.

Konsisten

Pemikiran Soekarno yang mencapai kematangan pada tahun 1920-an, diterapkan


pada tahun 1860-an tanpa menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang berlangsung,
ternyata menimbulkan pertentangan-pertentangan yang tidak dapat diatasinya. Keteguhan
Soekarno mempertahankan PKI dalam persatuan nasional, setelah Peristiwa Gerakan 30
September, harus dibayar mahal. Soekarno tersingkir dari panggung politik dan menjadi
tahanan politik.

Adalah menarik untuk mengetahui pendapat dua ahli tentang Soekarno mengenai
konsep Nasakom. Bernhard Dahm menganggap bahwa Soekarno konsisten dengan
pemikirannya sejak tahun 1920-an. Sebaliknya John D Legge menunding Soekarno
sebagai manipulator bukan sebagai ideolog, ia telah kehilangan idealismenya. Dengan
menawarkan konsep Nasakom, sebenarnya ia ingin menjebak kekuatan politik masuk
dalam jeratannya, dengan begitu kekuasaan berpusat di tangannya.

Mana yang benar di antara dua pendapat tersebut, ini merupakan suatu masalah.
Kesulitan mempelajari pemikiran politik adalah kesulitan untuk membedakan antara
mana pemikiran politik dan mana tingkah laku politik sehari-harinya. Dalam laut dapat
diukur, hati orang siapa tahu.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 81
Email: mr.kasenda@gmail.com
Pengaruh Islam pada Pemikiran Politik Soekarno

Ketika menerima gelar Doctor Honoris Causa dalam Falsafah Ilmu Tauhid dari
Universitas Muhammadiyah, Jakarta, 3 Agustus 1965 di Istana Negara, Presiden
Soekarno dalam pidatonya, ”Tauhid adalah Jiwaku” mengatakan bahwa ia kurang
memadai mendapatkan pejalaran agama Islam. Hal ini disebabkan latar belakang orang
tua. Sambil mengacu pada ayat 86 dari Asyo Sya’ara, ia menjelaskan bahwa
sesungguhnya ayahnya termasuk orang-orang yang sesat, ia menganut apa yang dikenal
orang sebagai agama Jawa.

Soekarno mulai tetarik pada agama Islam, ketika berusia 15 tahun. Pada waktu itu
Kiai Hadji Achmad Dahlan, seorang tokoh Muhammadiyah berdakwah di dekat
kediaman HOS Tjokroaminoto, di mana Soekarno mondok. Ia mengaku mengerti dakwah
Kiai Achmad Dachlan, sehingga ia mengikuti dakwah-dakwah selanjutnya dari Kiai
Achmad Dachlan di Surabaya.

Dekat Allah

Di dalam sel yang kecil di Sukamiskin, ia mulai merenungkan tentang Sang


Pencipta yang menciptakan jagat raya ini. Berkaitan dengan agama Islam, di tempat itu ia
mulai berhasrat sekali mempelajari agama Islam, dengan membaca berbagai kitab-kitab
agama Islam.

Keberangkatan Soekarno pada tanggal 17 Februari 1934 menuju Endeh tempat


pembuangannya merupakan suatu perjalanan menuju kesepian. Baginya yang sudah
terbiasa menjadi pusat perhatian umum, keberangkatannya dari pula Jawa itu merupakan

82
Peter Kasenda

pendahuluan dari apa yang akan dirasakannya dalam kehidupan sunyi-sepi yang
menantikannya. Pernah ia mengatakan bahwa dirinya yang berada di dalam kesepian dan
kesendirian itu bagaikan burung Elang yang dipotong sayapnya.

Kedatangannya di Flores tidak mendapatkan sambutan apa-apa, bahkan pada


mulanya banyak orang takut kepadanya. Ia mengatakan bahwa hanya ada dua atau tiga
orang yang berani berkunjung kepadanya. Di tempat pengasingan itu, untuk pertama
kalinya ia merasakan ketidakberdayaan melawan tekanan penguasa kolonial. Ia teringat
kembali akan keambrukan semua teorinya yang terdahulu di dalam sel penjara di tanah
Pasundan. Di dalam kesepiannya itu Soekarno menyadarkan diri pada perlindungan
Allah.

Selama berada di Endeh, selain membaca buku-buku Islam, seperti The Spirit of
Islam, karangan Sayed Ameer Ali dan The Rising Tide of Color, The New World of Islam
Lothrop Stoddard, ia juga seringkali berkorespondensi dengan Achmad Hassan, seorang
ulama Islam yang terkenal di Bandung. Selama mempelajari Islam secara intensif ia
mengalami semacam pertobatan.

Di dalam surat-surat Soekarno, yang dikenal dengan surat-surat Islam dari Endeh,
Soekarno banyak berbicara tentang keadaan umat Islam di Indonesia yang diliputi oleh
kebekuan dan kekolotan itu, Soekarno mengeritik kiai dan ulama yang dianggap kurang
mempunyai kesadaran sejarah. Walaupun mereka bisa mengutip ayat-ayat Al-Qur”an
dengan benar, pengetahuan mereka mengenai sejarah umumnya kurang memadai.

Kegandrungan Soekarno akan pembaruan, yang kelihatannya memang bisa


dimaklumi mengingat kelumpuhan yang sedang menimpa dunia Islam, mendorongnya
untuk melangkah jauh melampui batas-batas yang dhormati oleh setiap Muslim, bahkan
oleh mereka yang menginginkan pembaruan sekalipun. Soekarno mempertanyakan
kumpulan hadits Al Buchari yang sudah dinyatakan sahih itu dan percaya bahwa Buchari
telah memasukan ke dalam kumpulan +hadits-hadits yang lemah,” yang untuk sebagian
besar telah menyebabkan kemunduran Islam.

Di Bengkulu tempat pembuangan berikutnya, Soekarno menemukan satu


lapangan baru di dalam “perjuangannya yang tak kenal damai”. Karena ia dilarang
melawan kekuasaan asing, maka “murid Historische van Marx “ itu – sebagaimana ia
dengan bangga menamakan dirinya – mengalihkan konsepnya mengenai dialektika yang
terus berlangsung dari gelanggang politik ke gelanggang agama. Tetapi ia tidak
melepaskan tujuan yang lebih besar yakni mencapai kemerdekaan dari dominasi Barat.

Di Bengkulu, Soekarno terjun ke dalam gerakan Muhammadiyah pada tahun


1938. Ia bekerja dan berjuang di bawah panji-panji modernisme Islam Majalah
Muhammadiyah Pandji Islam yang terbit di Medan memberi tempat bagi tulisan-
tulisannya. Di sinilah polemiknya dengan M Natsir terjadi, yang berkenaan dengan
bentuk negara Indonsia setelah merdeka. Apakah agama (Islam) dan negara bersatu atau
berpisah? Soekarno dalam polemik ini merujuk buah pikiran tokoh-tokoh nasionalis
Islam di Turki, India dan Timur Tengah.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 83
Email: mr.kasenda@gmail.com
Kalau melihat penghayatan terhadap agama Islam selama itu, tidak mengherankan
kalau tulisan-tulisan maupun pidato Soekarno bernafaskan Islam. Solichin Salam
merangkum pikiran-pikirannya bernafas Islam dalam buku kecil, Bung Karno dan
Kehidupan Berpikir dalam Islam. Bahkan ia mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari
Al Azhar dan Muhammadiyah berkaitan dengan perhatiannya terhadap agama Islam.

Api Islam

Tulisannya pada majalah Indonesia Moeda dalam tiga kali penerbitan berturut-
turut dengan judul “ Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme,” yang diterbitkan pada
tahun 1926 – 1927. Melalui tulisan itu Soekarno ingin menyatakan bahwa dengan
nasionalisme, aliran-aliran yang berbeda itu dapat bersatu dalam satu arus. Di mana kaum
marxis dalam Islam dapat hidup dalam tubuh nasionalisme seperti di rumah sendiri.
Nasionalisme yang berkembang di Indonesia adalah nasionalisme yang menerima rasa
hidupnya sebagai wahyu, dan menjalankan rasa hidupnya itu sebagai bakti.

Dalam penulisan ini, terutama mengenai nasionalisme, terlihat Soekarno


terpengaruh semangat Islam. Hal ini dapat dikaitkan dengan Surat Al-Hujarat ayat
13, yang mengatakan bahwa Sang Pencipta menciptakan laki-laki dan perempuan
dan dijadikan berbagai bangsa dan berbagai puak. Di mana mereka yang berada di
muka Allah adalah mereka yang paling takwa di antara Hamba Allah. Surat ini
menunjukan mengenai penting terbentuknya bangsa-bangsa. Bangsa sifatnya
terbatas, tidak mungkin hanya satu bangsa tinggal di bumi ini.

Berkaitan dengan Marhaenisme ini tampak Soekarno terpengaruh oleh ajaran-


ajaran Islam karena isi dari pemikiran itu adalah satu pembelaan dan upaya untuk
melepaskan rakyat dari satu sistem, yaitu penjajahan. Surat An-Nisa ayat
75,menganjurkan bahwa hendaknya setiap hamba Allah berperang di jalan Allah, dan
membela orang-orang yang tertindas.

Tosan Suhastoyo dalam skripsinya, Pengaruh Islam dapa Pemikiran Politik


Soekarno dan Hatta (1920-1930) mengatakan bahwa terlihat adanya pengaruh Islam
dalam isi pidato Soekarno mengenai Pancasila ini, terutama jika kita melihat masing-
masing sila yang terkandung di dalamnya. Di samping Soekarno menawarkan
Kebangsaan sebagai sila pertama sebagai persatuan antara manusia dan tempat
berpijaknya yang telah ditunjuk oleh Allah SWT. Sila kedua, Internasionalisme yang
harus berpijak pada nasionalisme agar hidup subur, menyiratkan persatuan antara sesama
mahluk Tuhan di atas bumi. Adanya Mufakat sebagai sila ketiga sebagai tempat terbaik
untuk memelihara agama alias keselamatan agama. Sila keempat, kesejahteraan sosial
yang mencoba meniadakan kemiskinan di dalam alam Indonesia Merdeka dengan
menghidupkan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Kemudian Soekarno
mengatakan bahwa hendaknya bukan saja bangsa Indonesia yang bettuhan, tetapi
hendaknya masing-masing orang Indonesia bertuhan, Tuhannya sendiri sesuai dengan
keyakinannya masing-masing. Soekarno memilih sila kelima adalah Ketuhanan.

84
Peter Kasenda

Lain halnya dengan M.A. Gani dalam bukunya Cita Dasar dan Pola Perjuangan
Syarikat Islam mengatakan bahwa Pancasila yang dirumuskan Soekarno secara tidak
langsung merupakan penjelmaan dari hasil pemikiran dan renungan HOS Tjokroaminoto,
tokoh Sarekat Islam yang telah lama dituangkan dalam Tafsir Program Azas dan Program
Tandhim Syarikat Islam yang disusun sejak tahun 1917 dan kemudian beberapa kali
disempurnakan sampai dengan tahun 1930. Jadi prinsip Soekarno dengan HOS
Tjokroaminoto mengenai kemerdekaan Indonesia adalah sama. Hanya susunan kalimat
dan susunan-susunan katanya saja yang berbeda, tetapi prinsipnya sama, bahwa Indonesia
harus merdeka lebih dahulu.

Badri Yatim dalam bukunya Soekarno, Islam dan Nasionalisme mengatakan


bahwa pengaruh ajaran Islam dalam pemikirannya, terlihat pada konsep Ketuhanan yang
terkandung di dalam Pancasila. Kalau melihat rumusan diperas menjadi tiga : Sosio-
nasionalisme, Sosio-demokrasi dan Ketuhanan. Trisila ini kemudian dikenal dengan
nama Marhaenisme sebagai asas Front Marhaenis. Terlihat ada perkembangan, kalau
dulu tidak terkandung nilai agama, sekarang justru ada. Dengan adanya Sila Ketuhanan
dapat dikatakan merupakan penghayatan terhadap agama Islam yang diperoleh di balik
penjara maupun tempat pembuangan, seperti di Bandung, Endeh dan Bengkulu.

Menurut Muhammad Ridwan Lubis, keterkaitan Soekarno kepada Islam yang


tampak sewaktu Soekarno menyampaikan pidato bersejarah di depan Badan Penyelidik
Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia tanggal 1 Juni 1945 .yang berisi dasar dari negara
yang akan dibentuk kelak yaitu Pancasila, Menurut Soekarno, kelima sila yang
diusulkannya itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Hal itu disebabkan karena
Pancasila itu digali dari budaya Indonesia yang pada dasarnya lahir dari berbagai agama
dan secara kuat peranan itu dimiliki Islam. Nilai-nilai Islam telah terintegrasi pada sila-
sila itu, dan sebagai puncak dari Pancasila itu adalah ujung dari kegiatan manusia (causa
finalis) yaitu persatuan secara metafisis dengan Tuhan. Jadi konsep Soekarno tentang
Pancasila itu sekalipun berisi pandangan politik, namun sepenuhnya dilandasi semangat
keislamannya dan pandangan inilah agaknya yang dapat menyakinkan tokoh umat Islam
yang diajaknya membicarakan rancangan dasar negara yang akan disampaikannya pada
tanggal 1 Juni 1945.

Soekarno dalam pidatonya sewaktu gelar Doctor Honoris Casusa dalam Filsafat di
Al Azhar, Kairo University pada tanggal 24 April 1960 antara lain
mengatakan,”Pancasila adalah suatu manifestasi dari nasionalisme Indonesia yang
kuat, yang juga merupakan manifestasi bagi keimanan kita terhadap Islam. Baik
nasionalisme dan Islam, keduanya saling mempengaruhi, juga telah melahirkan
lima dasar pokok yang tercakup dalam Pancasila.”

Pernyataan itu wajar, kalau kita melihat kenyataan di dalam perjuangan melawan
penguasa kolonial, di mana kedua kelompok tersebut, kelompok nasionalis dan
kelompok Isalm saling bahu membahu memberi tenaga baru dan menambah kekuasaan
hidup rohani dalam menghancurkan Imperialisme beserta kapitalisme, yang
dimanifestasikan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 85
Email: mr.kasenda@gmail.com
Di samping itu dalam konsep Pancasila, warga negara diharuskan menjadi warga
negara yang bertuhan, di samping setiap sila dari Pancasila tidak bertentangan dengan
ajaran-ajaran Islam. Ada baiknya kita membaca pidatonya. “Temukan Kembali Api
Islam,” ketika menerima gelar Doctor Honoris Causa dari IAIN, Jakarta, 2 Desember
1964, Soekarno mengatakan .”Karena itu dengan keyakinan saya, saya berkata, negara
yang tidak menyembah Tuhan, akhirnya celaka, lenyap dari muka bumi ini.”

Soekarno dalam bukunya, Pancasila, yang merupakan kumpulan tulisan dari


kursus mengenai Pancasila di Istana Negara pada tahun 1959, Soekarno
mengatakan bahwa salah satu karakteristik bangsa Indonesia adalah selalu hidup
di alam pemujaan dari sesuatu hal yang kepada hal itu menaruh segenap
harapannya, kepercayaannya. Di sini Soekarno melihat persoalan Ketuhanan
bukan ke masalah teologis tetapi sosiologis. Kepercayaan kepada Tuhan
merupakan realitas sosiologis dalam masyarakat Indonesia.

Tosan Sehastoyo menyimpulkan bahwa trilogi – Nasionalisme, Islamisme dan


Marxisme – Marhaenisme dan Pancasila merupakan hasil pemikiran beruntut
menunjukkan adanya pengaruh Islam pada pemikiran politik Soekarno di atas. Dasar
pemikiran politik Soekarno adalah Rakyat Indonresia yang dilanda penderitaan akibat
adanya penjajahan dimuka bumi Nusantara Dan Soekarno berkeinginan untuk
membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan merupakan cerminan pengaruh dari
semangat Islam.

Ada hal yang menarik, ketika Soekarno menjadikan dirinya sebagai simbol
sintesis dari ketiga aliran yang berkembang pada masa pergerakan nasional itu. Aliran-
aliran pokok identitas Indonesia kepada dalam dirinya, ”Apakah Soekarno itu?
Nasionaliskah? Islamkah? Marxiskah? Pembaca-pembaca, Soekarno adalah campuran
dari semua isme-isme itu.” Begitu kata Soekarno mencoba menjawab mengenai siapa
dirinya di hadapan sidang pembaca lwat tulisannya yang di tulis di pengasingan
Bengkulu pada tahun 1941.

Pernyataan di atas itu, menunjukkan bahwa sebenarnya ia terpengaruh semangat


Islam, walaupun Soekarno mengaku bahwa keislamannya kurang sempurna. Meskipun
Soekarno tidak menguasai bahasa Arab namun ternyata Soekarno cukup mempunyai
pengertian dan memahami cita-cita ajaran Islam, khususnya masalah kemasyarakatan dan
politik kenegaraan. Islam is not only a religion of the mosque, but also a religion of life
and struggle. Begitu kata Soekarno

86
Peter Kasenda

Soekarno, Marhaen dan PNI

Kemerosotan peran yang dimiliki oleh Sarekat Islam disertai dengan kegagalan
pemberontakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia telah menimbulkan
sejumlah akibat bagi gerakan nasionalis Indonesia. Tetapi yang penting adalah timbulnya
suatu kekosongan dalam gerakan nasionalis, di mana gerakan nasionalis ini memerlukan
pengarahan dan pimpinan baik dari sisa-sisa organisasi politik yang ada maupun
pembentukan partai-partai baru.

Melihat kekosongan itu, Moh Hatta, Iskaq, Budyharto dan Sujadi berusaha
merealisir pembentukan suatu partai baru yang sesuai dengan rencana-rencana
Perhimpunan Indonesia sesegara mungkin. Akhirnya diumumkan kepada publik kalau
mereka bermaksud mendirikan sebuah partai baru yang dinamakan Sarekat Rakyat
Nasional Indonesia (SRNI) dan direncanakan pada bulan Juli 1927 diadakan kongres
untuk meresmikan partai tersebut. Persiapan-persiapan yang telah dilakukan
memperlihatkan kalau partai yang mau dibentuk itu tidak didasarkan pada Islam maupun
Komunisme. Tetapi pada akhirnya inisiatif itu kurang cukup memadai untuk direalisir,
sebab partai baru yang mau dibentuk itu dianggap kurang mampu menampung aspirasi
para pendukungnya, yang menganggap mereka yang di negeri Belanda kurang paham
terhadap situasi yang ada di tanah air.

Sebaliknya di tanah jajahan Hindia Belanda, pimpinan Kelompok Studi Umum


yang merasa lebih paham tentang situasi di tanah air daripada pengurus Perhimpunan
Indonesia di negeri Belanda mulai mengambil inisiatif untuk membentuk partai baru,
yang berlandaskan paham kebangsaan. Tidak memakan waktu cukup lama, akhirnya
Soekarno, Tjipto Mangunkusumo dan beberapa anggota bekas Perhimpunan Indonesia
seperti Iskaq, Sujadi, Sunario dan Budhyarto berhasil membentuk partai baru, yang

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 87
Email: mr.kasenda@gmail.com
dinamakan Perserikatan Nasional Indonesia, pada tanggal 4 Juli 1927 di Bandung. Sejak
itulah secara perlahan-lahan tetapi pasti gerakan nasionalis di Indonesia yang dulunya
dipegang oleh bekas gurunya Soekarno, HOS Tjokroaminoto dengan Sarekat Islam-nya
beralih kepada anak asuhnya HOS Tjokroaminto, Soekarno dengan Perserikatan Nasional
Indonesia berubah nama menjadi Partai Nasional Indonesia beberapa bulan setelah
terbentuk.

Nama Soekarno semakin menjulang ke atas langit pada saat ia bersama dengan
Maskun, Gatot Mangkupradja dan Supriadinata ditangkap dan ditahan atas tuduhan
pemerintah kolonial Hindia Belanda, kalau mereka dianggap telah menganggu ketertiban
dan ketentraman umum selama beberapa tahun. Tentu saja, kejadian ini menyentak
gerakan nasionalis. Bahkan pers nasionalis menyatakan rasa kaget dan kecewa terhadap
tindakan-tindakan pemerintah. Walaupun demikian mereka menghimpun agar para
pembaca diminta dengan sangat agar tetap tenang dan yakin bahwa partai itu bersih dari
tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepadanya.

Dalam acara persidangan di pengadilan basar Bandung ketika Soekarno diberi


kesempatan untuk mengadakan pembelaan, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan, lewat
penampilan yang lebih banyak ditujukan kepada reporter-reporter surat kabar yang hadir
daripada kepada pengadilan itu sendiri, ia melancarkan kritik penuh gaya terhadap
masyarakat Indonesia kaum nasionalis dalam pleidoi yang berjudul “Indonesia
Menggugat“, yang dianggap sebagai dokumen yang amat bersejarah itu. Soekarno
menyebut-nyebut golongan terbesar dalam masyarakat Indonesia.

“ Sebab susunan pergaulan hidup Indonesia sekarang adalah pergaulan merk


Kromo, pergaulan hidup Marhaen, pergaulan hidup yang sebagian besar sedakli adalah
terdiri dari kaum tani kecil, kaum buruh kecil, kaum pedagang kecil, kaum pelayar kecil,
pendek kata: ….kaum kromo dan kaum marhaen yang apa-apanya semua kecil!”

Untuk lebih memahami istilah kata “Marhaen” itu, ada baiknya menengok
kembali cerita yang dikisahkan oleh Soekarno dalam autobiografinya. Sebagai
mahasiswa Technise Hogere School, Soekarno biasanya mendayung sepedanya ke
kampus. Tetapi pada saat itu ia tidak melakukan kebiasaan itu. Ia pergi tanpa tujuan,
hingga akhirnya membawa dirinya ke Bandung Selatan, suatu daerah pertanian yang
padat penduduknya dan setiap petani memiliki tanah garapan kurang daripada sepertiga
hektar. Di daerah persawahan itulah Soekarno berbincang-bincang dengan petani yang
berada di situ.

Melalui pertanyaan yang diajukan kepada petani yang diajak bincang-bincang itu.
Soekarno mendapat jawaban bahwa petani itu adalah pemilik tanah, cangkul dan bajak
dengan bekerja keras petani itu berusaha untuk memenuhi rumah tangga. Hasilnya
sekedar untuk keperluan keluarganya, ada kelebihan untuk dijual. Ketika ditanya siapa
namanya, petani tanpa majikan ia menjawab : Marhaen. Akhirnya Soekarno memutuskan
untuk menggunakan istilah itu sebagai lambang kaum yang lemah, sengsara dan tertindas
akibat daripada kekejaman imperialisme selama berabad-abad itu.

88
Peter Kasenda

Berkaitan dengan istilah Marhaen, John D Legge yang ahli tentang Soekarno itu
mengatakan bahwa istilah tersebut sudah biasa digunakan sejak tahun 1927 dan
sesungguhnya tidak lebih dari kata yang sama dalam bahasa Sunda untuk kata Jawa
“Kromo”. Pendapat yang hampir serupa juga diungkapkan oleh John Ingelson yang
menyebutkan bahwa kata Marhaen adalah sebuah kata bahasa Sunda yang digunakan
Sarekat Islam pada akhir tahun 1910-an dan awal 1920-an yang berarti, petani kecil.
Pendapat yang bertolak belakang dari pendapat yang dikemukakan kedua ilmuwan diatas
itu dinyatakan oleh Bernhard Dahm, yang menulis disertasi mengenai biografi intelektual
Soekarno masa kolonial. Menurut pendapatnya, istilah Marhaen belum terdengar. Kata
Marhaen itu mulai tersebar luas ketika Soekarno mempergunakannya di dalam pidatonya
yang berjudul “Indonesia Menggugat “. Selanjutnya Bernhard Dahm menjelaskan bahwa
sampai akhir tahun 1930, ungkapan yang biasanya dipakai itu menyebut rakyat kecil
adalah istilah kaum “Kromo” yang kerapkali digunakan oleh Partai Komunis Indonesia.
Tetapi untuk maksud yang PKI sering menggunakan kata Proletariat. Dimata Soekarno
istilah proletariat kurang sesuai dengan situasi yang ada di Indonesia. Maka ia harus
senang menggunakan istilah itu untuk menolak tuduhan bahwa PNI adalah identik
dengan PKI.

Sebenarnya pemikiran tentang rakyat kecil merupakan suatu sumbangan yang


khas dalam pemikiran politik Soekarno, walaupun hal itu tidak merupakan sesuatu yang
amat penting. Dapat dikatakan bahwa konsep yang diajukan itu merupakan suatu
penilaian yang jujur terhadap sifat masyarakat Indonesia. Marxisme telah memberikan
kepada Soekarno, alat yang amat penting guna melakukan analisa sosial dan dalam
pengkajiannya tentang sifat kekuasaan kolonial.

Dalam Indonesia Menggugat, Soekarno secara tajam membedakan konsep


Marhaen itu dengan konsep Proletar, maka menurut pandangan Soekarno struktur
masyarakat Indonesia belum industrialis seperti di negera Barat. Bedanya adalah massa
Marhaen bukan terdiri dari satu golongan saja, tetapi dari berbagai ragam golongan kecil
seperti, petani kecil, pengusaha kecil, buruh kecil, nelayan kecil dan sebagainya yang
semuanya kecil, sama-sama menanggung beban akibat kekejaman imperialisme dan
kapitalisme. Semua rakyat kecil itu dinamainya kaum Marhaen.

Soekarno secara cerdik menggunakan analisa sosial Karl Marx kepada kondisi
masyarakat Indonesia. Ia melihat tiada perlunya konsep proletar serta menganggap
penting arti massa rakyat. Ini sesuai dengan pandangannya tentang perlawanan terhadap
imperialisme. Ia melihat bahwa bentuk perlawanan itu seharusnya tidak terhadap sesuatu
yang mengandung unsur-unsur ketegangan kelas seperti yang diyakini PKI, tetapi
menitik beratkan kepada perjungan antar dua kutub ekstrim yaitu masyarakat Indonesia
sebagai suatu keseluruhan melawan kekuasaan kolonial Hindia Belanda.

Konsep Marhaen itu dibuat Soekarno telah memecahkan suatu masalah yang
selama bertahun-tahun merisaukannya. Didepan kongres Jong Java di Bandung pada
tahun 1921, Soekarno mengemukakan bahwa tentang tidak terelakannya suatu
perjuangan kelas dalam masyarakat Indonesia. Walaupun demikian, ia tidak pernah puas
dengan pandangan itu. Akhirnya ia menemukan konsep Marhaen yang memungkinkan ia

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 89
Email: mr.kasenda@gmail.com
lebih menempatkan perjuangan itu ke dalam pengertian nasional daripada ke dalam
pengertian kelas.

Ternyata pembelaan yang diajukan oleh Soekarno dan kawan-kawan maupun


pengacaranya tidak membebaskan mereka dari hukuman yang berat
Kerasnya hukuman yang dijatuhkan pada pundak Soekarno justru mengejutkan
baik para pemimpin yang dianggap bersalah itu maupun kelompok yang lebih luas dari
kaum nasionalis itu. Bahkan professor JMJ Schepper dari Sekolah Tinggi Hukum di
Batavia, mengutuk dasar hukum yang dijatuhkan kepada pimpinan Partai Nasional
Indonesia itu. Walaupun muncul protes-protes, Dewan Hakim tidak ambil peduli dengan
suara-suara itu. Keputusan yang diambil Dewan Hakim itu membawa Soekarno dan
kawan-kawan untuk meringkuk lembali di ballik penjara Sukamiskin.

Ketika Soekarno di balik penjara itu, ia dengan kecewa mengetahui kalau Partai
Nasional Indonesia yang ia didirikan itu membubarkan diri dengan alasan sulit untuk
mempertahankan eksistensi partai itu akibat ditahannya beberapa pimpinan PNI. Sartono
sebagai penggerak utama pembubaran partai itu, memutuskan untuk mendirikan partai
baru dengan nama Partai Indonesia (Partindo). Tindakan Sartono ini menimbulkan kritik
maupun kecaman dari sebagian besar anggota PNI. Akhirnya pendukung PNI terpecah-
pecah dan mereka yang kurang menyetujui pembubaran itu, akhirnya memutuskan untuk
membentuk partai baru, yang diberi nama Pendidikan Nasional Indonesia Baru, yang
digerakkan oleh Moh Hatta dan Sutan Sjahrir. Melihat gerakan nasionalis semakin
terkoyak-koyak hanya membuat hati Soekarno semakin sedih saja, tetapi ia tidak mampu
berbuat apa-apa, sebab keadaan yang tidak memungkinkan ia berbuat sebagaimana yang
dia inginkan.

Setelah dua tahun mendekam di dalam penjara, Gubernur Jendral D Graeff


mengumumkan pengampunan sebagian hukuman para pemimpin PNI almarhum.
Soekarno dibebaskan pada tanggal 31 Desember 1931 sesudah menjalani hukuman dua
tahun dari seharusnya empat tahun. Pembebasan Soekarno disambut dengan gembira di
kota-kota Indonesia. Hal itu jelas kelihatan ketika ia berkunjung ke Surabaya untuk
menghadiri Kongres Indonesia Raya yang diadakan oleh PPKI. Di stasiun Surabaya dia
disambut sekitar 5000 orang, pekikan gembira “hidup Soekarno” diteriakan oleh massa,
bahkan dinyanyikan lagu “Mars Soekarno”. John Ingelson yang menulis disertasi
mengenai gerakan nasionalis 1927 - 1934, memberi komentar terhadap kehadiran di kota
Surabaya itu sebagai bukti betapa mendalamnya perasaan yang telah dibangkitkannya
baik secara pribadi maupun kedudukannya sebagai simbol perjuangan Indonesia.

Tetapi semuanya itu tidak membuat Soekarno berhasil menyatukan dua kekuatan
gerakan nasionalis, antara Partai Indonesia (Partindo) dengan Pendidikan Nasional
Indonesia Baru, walaupun ia telah berusaha semaksimal mungkin. Akhirnya Soekarno
memutuskan untul masuk kedalam kubu Partindo yang dianggap sesuai dengan selera
maupun ideologinya.. Di sana memberi kesempatan Soekarno untuk melakukan agitasi
massa, yang kemudian menimbulkan massa aksi.

Walaupun Partindo mempunyai jumlah anggota yang banyak, tetapi jumlah

90
Peter Kasenda

cabang yang dimiliki tidak sebesar yang dipunyai Pendidikan Nasional Indonesia Baru.
Kenyataan itu, menyebabkan Soekarno mengusulkan kepada Badan Pengurus Partindo
pada bulan Maret 1933 agar partai itu mengubah namanya menjadi Partai Nasional
Indonesia. Usulan yang diajukan Soekarno itu berdasarkan nostalgia dan kekuatiran
terhadap desas-desus yang menyebutkan kalau PNI Baru juga bermaksud menggunakan
nama tersebut. Soekarno menegaskan kalau ada partai yang berhak menggunakan nama
Partai Nasional Indonesia, hanyalah Partai Indonesia (Partindo). Dan Soekarno
menganggap bahwa pengunaan nama itu justru menolong mengurangi pengaruh PNI
Baru, dan Soekarno mencoba meyakinkan bahwa pemakaian nama itu tidak mengundang
tindakan pemerintah untuk menentangnya. Tetapi usaha Soekarno untuk merealisir
gagasan itu tidak mendapat dukungan.

Meskipun Soekarno gagal di satu pihak, tetapi dilain pihak ia berhasil


menggolkan konsep Marhaenisme agar diterima oleh partai sebagai dasar-dasar politik
Partindo dalam kongres bulan Juli 1933. Kesembilan tesis yang penting dari
Marhaenisme itu, di kutip kata demi kata secara keseluruhan di bawah ini.

1. Marhaenisme , yaitu sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi.


2. Marhaen, yaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat dan
kaum melarat Indonesia yang lain-lain.
3. Partindo memakai perkataan Marhaen dan tidak proletar oleh karena perkataan
proletar itu sudah termaktub di dalam perkataan Marhaen.
4. Karena Partindo berkeyakinan, bahwa di dalam perjuangan, kaum melarat
Indonesia yang lain-lain itu harus menjadi elemen-elemen (bagian-bagian),
maka Partindo memakai perkataan Marhaen itu
5 Di dalam perjuangan Marhaen itu, Partindo berkeyakinan, bahwa kaum
proletar mengambil bagian yang besar sekali.
6 Marhaenisme adalah asas yang menghendaki susunan masyarakat dan
susunan negeri yang di dalam segala halnya menyelamatkan Marhaen.
7 Marhaenisme adalah pula cara-cara perjuangan untuk mencapai susunan
masyarakat dan susunan negeri yang demikian itu, yang karenanya, harus
suatu cara perjuangan revolusioner.
8 Jadi Marhaenisme adalah: Cara perjuangan dan asas yang menghendaki
hilangnya tiap-tiap kapitalisme dan imperialisme

Melihat butir kelima, menunjukkan bahwa Soekarno percaya kepada ramalan Karl
Marx pada suatu saat kaum proletar akan menang melawan kejayaan kaum kapitalis. Di
samping itu Soekarno melihat bahwa kaum proletar yang terkena langsung dengan
adanya sistim kapitalisme, menyebabkan mereka lebih mempunyai daya juang yang lebih
besar dibandingkan dengan golongan-golongan lainnya.

Marhaen adalah seorang petani yang sederhana yang pernah dijumpai Soekarno di
Bandung Selatan ketika ia, waktu menjadi mahasiswa, sedang berjalan-jalan naik sepeda
di sana. Marhaen menjadi lambang dari berjuta-juta petani, pedagang dan pengrajin kecil
Indonesia yang berwiraswasta, yang tidak mempunyai pegawai dan yang ingin hidup
damai dengan harta miliknya yang kecil itu. Soekarno menganggap para Marhaen ini

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 91
Email: mr.kasenda@gmail.com
sebagai orang-orang yang bakal bisa dijadikan penganutnya. Perjuangan antar kelas
model Karl Marx atau “diktaktur kaum proletar” tidak cocok dengan paham
Marhaenisme. Begitu kata Lambert J Giebels yang menulis biografi politik Soekarno.

Berkaitan dengan tesis Marhaenisme, John Ingelson memberi komentar, bahwa


konsep-konsep yang diajukan oleh Soekarno itu tidaklah menunjukkan perubahan
penting dalam pemikiran politik Soekarno, hanyalah sekedar penghalusan ide-idenya
tentang politik, ekonomi dan sosial yang dikemukakan sejak tahun 1927 sejalan dengan
arus itama gerakan nasionalis sekuler. Dan tesis yang ditawarkan Soekarno itu sekaligus
merupakan jawaban atas tantangan ideologis yang diajukan oleh PNI Baru yang mulai
memperkenalkan konsep kedaulatan rakyat dan kolektivisme.

Melihat gerakan nasionalis sayap non-kooperasi yang makin lama makin


membahayakan kedudukan kekuasaan kolonial di tanah tanah jajahan Hindia Belanda.
Gubernur Jendral De Jonge pada pertengahan tahun 1933, memerintah penahanan atas
diri Soekarno kembali. Kini Soekarno bukan ditahan saja di tahan di balik tembok
penjara, melainkan Soekarno dibuang atau diasingkan dari kerumumnan publik yang
mengaguminya ke daerah terpencil Endeh, Flores. Hal itu juga berlaku atas Moh Hatta
dan Sutan Sjahrir ke Boven Digul. Sejak itulah gerakan nasionalis tidak mempunyai
pilihan untuk melakukan perlawanan terbuka dengan pemerintah Hindia Belanda.

92
Peter Kasenda

Soekarno dan Rakyat

Adalah menarik perhatian tingkah laku masa pendukung Partai Demokrasi


Indonesia yang sebagian besar terdiri dari generasi muda dan kalangan rakyat
jelata kelas bawah. Walaupun Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia
tidak memberikan instruksi, tetapi tetap saja gambar-gambar Soekarno selalu ikut
ditampilkan dalam setiap kampanye Pemilu 1987.

Kejadian tersebut dapat ditafsirkan sebagai manifestasi kerinduan terhadap tokoh


yang berkarisma besar itu. Kerinduan semacam itu harus ditelusuri hubungan
Soekarno dengan rakyat Indonesia, yang menyebabkan ia menjadi tokoh idola di
kalangan muda yang sedang mencari identitas diri.

Perkenalan Soekarno dengan rakyat Indonesia secara luas diawali dengan situasi
represif pada masa kekuasaan kolonial Hindia Belanda yang membuat rakyat
mengharapkan atau menanti kedatangan tokoh penyelamat yang mampu
melepaskan diri mereka dari penderitaan sepanjang kehadiran bangsa Barat ke
dalam banyak wilayah kepulauan Nusantara.

Awal mulanya rakyat yang tertindas menaruh harapan besar terhadap HOS
Tjokroaminoto, tetapi Tjokroaminoto menolak untuk dianggap sebagai Erucokro
“Penyelamat.” Justru Tjokroaminoto menganggap yang dapat dianggap atau dikatakan
sebagai penyelamat rakyat Indonesia itu adalah ideologi sosialisme.

Sebagai penggantinya, Soekarno dianggap sebagai penyelamat yang mampu


membebaskan rakyat Indonesia dari cengkraman kolonialisme itu. Menjelang akhir
tahun 1920-an, beribu-ribu orang berbondong-bondong untuk menghadiri pidato
Soekarno dan kemana Soekarno pergi, rakyat mengikutinya.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 93
Email: mr.kasenda@gmail.com
Zaman Emas

Pidato Soekarno mengikuti gaya gurunya, HOS Tjokroaminoto yang


mendasarkan pada gaya pengucapan dalang. Hal itu tentu saja memberi kesempatan
untuk digunakan kiasan-kiasan tradisional dan gaya suara tradisional dengan terampil
ditampilkan oleh singa podium Soekarno, untuk membangun yang tidak ada sebelumnya
dengan para pendengar mereka.

Massa pendengarnya semakin menjadi tergugah ketika Soekarno sendiri


menghidup-hidupkan harapan zaman emas untuk menuju suatu masa depan yang
gemilang. Ia berbicara tentang jalannya sejarah Indonesia. Hal itu tentu saja
mengingatkan pemikiran historis Jawa tradisional yang dipengaruhi tulisan-tulisan
kosmologi Hindu, yang memandang sejarah sebagai suatu lingkaran zaman yang
bergerak.

Dulu Indonesia mengalami masa kejayaan, tetapi masa-masa penjajahan adalah


masa gelap, kata Soekarno, masa mendatang adalah masa yang gemilang. Ramalan
semacam itu mendapat tanggapan positif dari rakyat Indonesia khususnya rakyat Jawa
yang mempercayai jalannya sejarah berbentuk siklus itu.

Sehingga tidak mengherankan kalau masyarakat petani, melihat Soekarno sebagai


Ratu Adil, yang bertugas membawa perintah dan mengembalikan keharmonisan yang
pernah dicapai dahulu serta menyatukan kerajaan setelah suatu masa kacau. Situasi
semacam itu menempatkan dirinya sebagai penyelamat. Sehingga kartu keanggotaan
PNI-nya yang berwarna merah sebagai jimat yang akan menjamin bagi mereka tempat
dan kedudukan zaman emas,

Komentar terhadap betapa besarnya pengaruh Soekarno pada waktu itu. Seorang
Sosialis Belanda, J De Kadt dalam bukunya berjudul De Indonesiche Tragedie menulis
kata-kata sebagai berikut :

“ Jika Soekarno berbicara, maka membanjirlah ribu, puluhan ribu penduduk


dari desa-desa sekitar tempatnya berpidato. Maka itu tidak ada yang lebih pandir dari
pendapat yang menganggap bahwa nasionalisme itu cuma gerakan dari beberapa ribu
intelektual Indonesia saja.”

Sejak zaman Soekarno dengan PNI-nya yang didirikan dalam tahun 1927, ratusan
ribu, sekali ratusan ribu orang Indonesia dengan penuh semangat dan keyakinan yang
menyala-nyala mendengarkan pernyataan mengenai cita-cita Indonesia untuk bebas
merdeka, demikian kata J De Kadt.

Kepemimpinan Soekarno dan pertumbuhan PNI membuat penguasa kolonial


Hindia Belanda melihat dengan perasaan penuh khawatir sehingga pada tanggal 29
Desember 1929 menangkap sejumlah pemimpin tingkat pusat maupun tingkat cabang.
Kemudian Soekarno, Maskun, Gatot Mangkupradja dan Supridinata diajukan ke

94
Peter Kasenda

Pengadilan Daerah Bandung pada tanggal 18 Agustus 1930.

Dalam forum peradilan itu Soekarno menggunakan kesempatan untuk


mengucapkan sebuah pidato yang panjang dan cemerlang yang berbicara tentang bahaya
dan betapa kejamnya imperialisme modern beserta ibunya yaitu kapitalisme modern
selanjutnya ia menawarkan tujuan dan cara-cara yang harus ditempuh kaum nasionalis
untuk menumbangkan sistem yang mengakibatkan rakyat Indonesia terdiri dari rakyat
kromo, atau istilah Soekarno adalah kaum Marhaen.

Pidato tersebut bukan ditujukan kepada sidang pengadilan belaka, melainkan juga
terhadap masyarakat kolonial Hindia Belanda. Di bawah judul “ Indonesia Menggugat,”
sebuah pleidoi pembelaan Soekarno yang mengundang rasa ingin tahu dan dibeli beribu-
ribu rakyat Indonesia yang sangat terpengaruh oleh kecaman terhadap imperialisme
maupun kapitalisme.

Untuk mengetahui betapa besarnya dampak membaca pleidoi pembelaan yang


diterbitkan itu. Ada baiknya membaca buku TB Simatupang dalam buku Percakapan
dengan Dr TB Simatupang, halaman 67-68, antara lain menulis sebagai berikut ;

“Saya hampir saja diusir dari sekolah oleh karena salah seorang di antara guru-guru kami yang
semuanya adalah orang Belanda, memergoki saya waktu membaca buku yang memuat pidato pembelaan Ir
Soekarno yang berjudul “Indonesia Klaagt Aan”. Hanya oleh karena pimpinan sekolah ingin agar saya,
sebagai murid yang dianggap paling cerdas, dapat meningkatkan nama dan derajat sekolah melalui hasil
ujian akhir yang telah sangat dekat, maka saya tidak jadi dijatuhi hukuman pengusiran …”, demikian kata
TB Simatupang, mantan kepala staf Angkatan Perang.

Simbol

Pada pagi hari tanggal 31 Desember 1931, Soekarno keluar dari penjara
Sukamiskin di Bandung sebagai seorang yang bebas. Sejak itu ia menjadi simbol
perjuangan nasional. Sambutan yang ia terima ketika keluar dari penjara dan juga begitu
ketika ia tiba di Stasiun Surabaya untuk menghadiri Kongres Indonesia Raya.

Dalam Jalan Menuju Pengasingan, John Ingelson mengatakan, ada kurang lebih
diperkirakan 5000 orang menyambut kedatangannya. Pekikan gembira “hdup Soekarno,”
diteriakan oleh massa, disusul nyanyian Indonesia Raya dan “Mars Soekarno”. Sambutan
semacam itu Soekarno jumpai selama berada di kota Surabaya.

Dalam perjalanan sebagai seorang politikus ulung, ia pernah berminat


mengundurkan dri dari politik, sebab Soekarno ingin mengikuti jejak langkah Ki
Hajar Dewantara dan Douwes Dekker yang bergerak dalam lapangan pendidikan.
Ia mengirim surat kepada pimpinan pusat yang isinya pernyataan pengunduran
dirinya dari partai. Surat pengunduran diri itu lalu menimbulkan guncangan dalam
tubuh Partindo dan juga kecaman-kecaman yang luas kepada Soekarno.

Potret Soekarno yang semula didewa-dewakan konon kabarnya banyak

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 95
Email: mr.kasenda@gmail.com
diturunkan atau dirobek-robek. Mohammad Hatta dalam tulisannya di Daulat Ra’jat, 30
November 1934 menyebut kejadian itu sebagai “ Tragedi Soekarno “ dan menyimpulkan
bahwa untuk gerakan massa akan datang Soekarno sebagai orang politik sudah mati.

Tidak lama berselang, akhirnya untuk kedua kalinya Soekarno ditangkap, lalu
dipenjara dan dibuang jauh dari kerumunan massa yang mengelilingi. Keberangkatannya
ke tempat pembuangannya merupakan jalan menuju kesepian. Karena ia sudah terbiasa
berada dalam kerumunan massa, maka kepergiannya dari Jawa sungguh merupakan
suatu penderitaan.

Ia pernah menyatakan bahwa dirinya yang berada di dalam kesepian dan


kesendirian itu bagaikan burung elang yang dipotong sayapnya. Walaupun begitu
Soekarno masih menjalin hubungan dengan rakyat melalui tulisan-tulisan yang tentu saja
tidak berkaiatan dengan masalah politik. Kegiatan itu dilakukan ada kemungkinan agar ia
tidak dilupakan dalam gemuruhnya perjuangan nasional.

Selama delapan tahun Soekarno berada dalam pengasingan, ia kembali ke


panggung politik dengan masa depan yang tidak jelas. Hal itu terutama disebabkan oleh
peranannya pada masa pendudukan Jepang. Ada dua peranan yang harus dimainkan
secara bersamaan pada waktu itu; bagaimana ia harus menjalin hubungan dengan
penguasa Jepang, tetapi ia juga harus membina hubungan dengan sesama kaum
nasionalis. Ketika hal itu menjadi batu ujian kepemimpinannya dan juga hanya
mempersulit kedudukannya belaka.

Bagaimana Soekarno menghindari tindakan yang menyinggung perasaan para


penguasa Jepang, tetapi ia harus juga memperlihatkan citranya di mata rakyat Indonesia
banyak bahwa Soekarno bukan merupakan alat patuh dari orang-orang Jepang itu.
Soekarno harus bermain cantik dalam dua peran ganda taersebut.

Musuh Soekarno adalah imperialisme Barat, itulah yang menyebabkan ia mampu


menempuh jalan untuk bekerja sama dengan Jepang, yang dahulunya belum
pernah dilakukan terhadap penjajah sebelumnya. Bukankah menjelang akhir
tahun 1920-an, ia telah meramalkan bahwa akan terjadi peperangan di Pasifik
yang akan mengakhiri dominasi Barat. Dan adanya invasi Jepang ke Hindia
Belanda tampaknya membenarkan ramalannya.

Ramalam serupa dihayati juga berkaitan dengan ramalan Jayabaya, yang


mengatakan bahwa rakyat yang tertindas ini akan bebas setelah kedatangan bangsa
berkulit kuning dan bertubuh kate untuk sementara waktu. Situasi semacam itu
membenarkan Soekarno untuk bekerjasama dengan penakluk untuk sementara waktu,
setelah itu Indonesia akan memperoleh kemerdekaan sesuai dengan cita-cita bersama
bangsa Indonesia.

Yang jelas adalah rakyat Indonesia memberikan dukungan terhadap


kepemimpinan Soekarno, seperti yang pernah dilakukan ketika berhadapan dengan
penguasa lama – pemerintah Hindia Belanda yang sekarang digantikan oleh balatentara

96
Peter Kasenda

Jepang, yang menaklukan pasukan Belanda dalam waktu singkat pada bulan Maret 1942.

Pemersatu

Ramalan Soekarno itu ternyata benar. Tentara Jepang harus angkat kaki dari bumi
Indonesia, rakyat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya dan memberi
kepercayaan kepada Soekarno untuk memangku jabatan sebagai presiden pertama di
Republik Indonesia. Kegembiraan yang melanda rakyat tidak berlangsung lama, sebab
Belanda merasa berhak memperoleh kembali tanah jajahannya. Bangsa Indonesia merasa
lebih berhak mempertahankan tanah airnya dan untuk itu melakukan perlawanan terhadap
musuh lamanya.

Di sinilah Soekarno sebagai presiden dan pemimpin bangsa menghadapi masa


ujian kembali dalam masa revolusi yang berlangsung selama 4 tahun itu. Ia bukan saja
menggalang bangsa Indonesia melawan Belanda, tetapi juga mempersatukan bangsa yang
terpecah-pecah akibat perbedaan ideologis dan juga memadamkan pemberontakan PKI
Madiun 1948. Berkat karisma Soekarno di hadapan rakyatnya, semua kejadian yang di
atas dapat di atasi dengan baik.

Seorang guru besar ilmu Politik, George McTurnan Kahin dari Cornell
University, sebagai mahasiswa pasca sarjana yang sedang menulis disertasi, dan turut
terlibat dalam keadaan revolusi dan memberi kesaksian tentang pribadi Presiden
Soekarno pada masa itu, sebagai berikut :

“ Saya segera terkesan oleh daya tarik kepribadian Soekarno, dan saya
menyaksikan bagaimana pidato-pidatonya dengan membangkitkan kesadaran politik di
kalangan rakyat desa dan kota yang besar jumlahnya. Ia benar-benar mengenal rakyatnya
dan tidak dapat ditandingi oleh pemimpin mana pun. Ia memahami cara untuk menarik
perhatian mereka dalam bahasa dan gambaran yang mereka pahami…,” demikian kata
sang ilmuwan politik berkebangsaan Amerika Serikat itu.

Berakhirnya revolusi nasional, rakyat mulai mengadakan pembangunan untuk


menuju masyarakat yang dicita-citakan bersama dengan Amanat Proklamasi. Tantangan
yang dihadapi Soekarno sebagai presiden maupun pemimpin rakyat lebih rumit
dibandingkan yang dahulu. Pertentangan berbagai kelompok dengan ideologi yang
bermacam-macam hanya akan memperkeruh suasana saja. Pembangunan tidak dapat
berjalan semestinya diakibatkan berganti-gantinya kabinet selama Demokrasi Liberal.
Kejadian seperti itu dapat dihadapi Soekarno, apalagi kalau bukan berkat karisma yang
dimilikinya.

Kepribadian yang memukau Soekarno membuat kebanyakan peneliti


menempatkan Soekarno di antara pemimpin besar di dunia yang berkarisma khas
Soekarno mempunyai kemampuan memusatkan dan menyalurkan rasa ketidakpuasan dan
kepentingan yang saling berbeda ke arah pendekatan bersama dan mempersatukan

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 97
Email: mr.kasenda@gmail.com
penduduk yang terpecah-pecah dalam mengejar suatu sasaran yang sama.

Kharima, kata Max Weber, Sosiolog besar berkebangsaan Jerman, merupakan


kemampuan seseorang pemimpin untuk mendapat kehormatan, ketaatan serta kehebatan
terhadap dirinya sebagai sumber dari kekuasaan tersebut. Rakyat Indonesia melihat
Soekarno sebagai manusia yang terpisah dari manusia biasa lain dan kemampuannya
yang harus dipenuhi.

Tetapi kemampuan itu tidak berjalan langgeng. Sejak diberlakukan Demokrasi


Terpimpin untuk menyelamatkan terjadi perpecahan. Kekuasaan berpusat ditangan
Soekarno, lalu ia menyatakan bahwa dirinya adalah “ Penyambung Lidah Rakyat“.
Pernyataan itu bisa ditafsirkan bahwa Soekarno mempunyai kekuasaan yang tidak
tertandingi dan ia mengerti betul pikiran rakyat.

Sejalan dengan itu, bertahun-tahun kemudian Soekarno menjadi tokoh


kontroversial. Ia dituduh boros dengan menghambur-hamburkan uang untuk proyek
mercusuar daripada berbuat sesuatu untuk kepentingan rakyat banyak. Ia menjadi biang
kemerosotan ekonomi dan merajalela inflasi. Lawan-lawan politiknya melupakan jasa-
jasanya mempersatukan bangsa Indonesia yang hampir terpecah pada tahun lima puluhan
dan enam puluhan

Soekarno merasakan hal itu. Dalam autobiografinya, yang ditulis ketika Soekarno
berada di puncak kekuasaannya, ia mengatakan”… Tidak seorangpun dalam peradaban
modern ini yang menimbulkan demikian banyak pro dan kontra seperti Soekarno. Aku
dikutuk seperti bandit dan dipuja bagai Dewa,” Penyambung Lidah Rakyat.sadar benar
bahwa dirinya tokoh kontroversi.

Situasi semacam ini lebih dirumitkan dengan terjadinya Peristiwa Gerakan 30


September. Di masa Soekarno secara pribadi menghadapi masalah yang pelik, di satu
pihak membubarkan PKI, Soekarno dianggap tidak konsisten dengan gagasannya tentang
persatuan, tetapi di lain pihak tidak membubarkan, sebagian menuntutnya.

Keraguan untuk mengambil keputusan terhadap masalah itu, membuat sebagian


rakyat mengasingkannya. Soekarno mengetahui hal itu, suatu kejadian yang membuat
dirinya pedih dan terpukul melihat kenyataan tersebut. Yang jelas Soekarno mulai
kehilangan kekuasaannya, sulit untuk memperoleh kembali. Ia tak dapat lagi menekankan
pengaruh pribadinya kepada orang lain.

Mitos

Awan pun berkabut di atas Indonsia. Ada dualisme kepemimpinan yang bisa
mengakibatkan adanya perang saudara. Melihat kenyataan itu Soekarno
menyerahkan kursi kepresidenan kepada Jendral Soeharto. Ini merupakan jalan
terbaik untuk memecahkan kemelut itu. Akhirnya Jendral Soeharto dipercaya
menjabat sebagai presiden kedua Republik Indonesia.

98
Peter Kasenda

Sementara itu, Soekarno yang pada masa kekuasaan, yang digelari Pemimpin
Besar Revolusi Indonesia, Penyambung Lidah Rakyat, Wajilu Amri dan lain-lain. Tiba-
tiba dicopot. Kemudian orang-orang yang menyanjung-nyanjungnya kemudian berbalik
mengutuknya. Sepertinya mereka telah melupakan jasanya yang pernah diberikan kepada
tanah air Indonesia.

Gambar-gambar Soekarno yang dahulunya digantungkan pada dinding, kemudian


ditanggalkan. Ada semacam ketakutan memasang potert tersebut yang dahulunya
merupakan suatu kebanggaan mereka. Kasus tersebut menunjukkan bahwa ciri-ciri
seperti itu adalah munafik – kata Mochtar Lubis, merupakan ciri-ciri khas manusia
Indonesia.

Sejak itulah gerakan deSoekarnoisasi dilakukan. Kasih sayang kepada ibunya


sering digunakan untuk mendukung desas-desus keji bahwa ia bukan anak Sukemi.
Bukunya yang pernah ditulisnya tidak boleh beredar. Peranannya dalam sejarah
diabaikan, seolah-olah sejarah Indonesia tidak pernah mengenal Soekarno. Soekarno
dibuang dalam keranjang sampah sejarah Buku-buku resmi sejarah Indonesia lebih suka
memperkenalkan kelemahan daripada sumbangannya mempersatukan bangsa Indonesia.

Usaha semacam itu ternyata tidak berjalan lancar, hanya menimbulkan reaksi dari
arus bawah. Seakan-akan kesadaran bahwa perlakuan senacam itu tidak layak dilakukan
oleh bangsa yang mengaku berbudaya tinggi. Secara perlahan-lahan ia ditampilkan
kembali. Makamnya di Blitar dipugar, namanya diabadikan di Pelabuhan Udara
Internasional milik bangsa Indonesia sebagai tanda hormat terhadap Bapak Bangsa
Indonesia. Ia pun diakui sebagai Pahlawan Proklamator dan Penggali Pancasila.

Sementara itu rakyat lapisan bawah mulai memitoskan Soekarno lewat


kunjungannya ke makam Soekarno. Namanya digunakan sebagai pengikat massa dari
PDI secara langsung maupun tidak langsung. Lee Khiin Choy dalam bukunya, Indonesia
Between and Reality, menceritakan betapa suburnya mitos-mitos di Indonesia. Untuk itu
ada baiknya kita mengikuti keterangan Van Peursen, sarjana filsafat terkemuka dari
Belanda, tentang mitos. Mitos adalah cerita-cerita yang memberikan pedoman dan arah
tertentu kepada sekelompok orang.

Mitos memberi arah kepada kelakuan manusia dan merupakan semacam pedoman
untuk kebijakan manusia. Berkaitan dengan mitos Soekarno, Pierre Labrousse
menulis artikel dengan judul La Deuxisme Vie De Bung Karno Analyse du Mythe
( 1978 – 1981 ), Archipel 25 – 1983. Tulisan yang dimuat dalam jurnal ilmiah
berbahasa Perancis ini menceritakan mengenai mitos yang mengelilingi Soekarno
dalam perjalanan hidupnya.

Timbullah sebuah arus penerbitan yang tidak bisa dihentikan mengenai Soekarno,
yang tak lama kemudian mulai mengambil nada cerita kepahlawan – yang kadar
kebenaran historisnya mesti diperlakukan hati-hati. Kenangan akan Soekarno yang
berkembang menjadi mitos itu, menjadi aktual karena gambaran dia begitu berbeda dari
penggantinya. Soekarno dilukiskan sebagai seorang intelektual yang telah membuat

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 99
Email: mr.kasenda@gmail.com
ideologi-ideologi jamannya cocok dengan nasionalisme Indonesia. Dan ia juga dipuji
sebagai seorang negarawan internasional, yang berani menentang PBB dan yang dengan
ucapan legendarisnya “Go to hell with your aid”, berani menentang Amerika Serikat.
Tetapi terutama dipuja sebagai seorang orator dan pemimpin yang berkarisma, yang
bersatu dengan bangsanya, Ini semua sangat kontras dengan Soeharto, seorang bapak
kepala keluarga yang pendiam, menjaga jarak, tidak berdarah seni dan anti-intelektual.

Untuk sebagian pembentukan mitos sekitar Soekarno juga terjadi karena presiden
yang meninggal dalam keadaan miskin itu tidak pernah berusaha untuk memperkaya
dirinya atau keluarganya. Ini sebuah serangan yang hampir terang-terangan atas
penggantinya. Sampai saat itu tuduhan-tuduhan korupsi hanya diarahkan kepada para
penasehat Soeharto. Tetapi sepanjang tahun 80-an yang menjadi sasaran adalah istri
presiden. Begitu kata Lambert Giebels, yang menulis biografi Soekarno.

Kalau kini dalam kampanye PDI selalu ditampilkan gambar-gambar Soekarno. Ini
bisa ditafsirkan adanya semacam kerinduan terhadap tokoh yang berkarisma besar itu.
Rakyat Indonesia mau melihat kenyataan yang sebenarnya, di samping itu mempunyai
kesalahan sebagaimana dilakukan orang besar. Sebenarnya jasa-jasanya mempersatukan
bangsa Indonesia tak mungkin dilupakan begitu saja.

Apalagi generasi muda kini di masa yang tidak menentu ini memerlukan figur
sebagai identifikasinya, dan Soekarno memilikinya. Dan jangan dilupakan ia juga
menjadi simbol perlawanan terhadap sistem kapitalisme dan imperialisme yang
menyengsarakan itu.

Kini kita yang ditinggalkan ada baiknya menempatkan Soekarno pada porsi yang
sewajarnya. Tanpa kultus individu, tanpa melupakan jasa-jasanya. Bangsa yang besar
adalah bangsa yang tahu menghargai jasa-jasa pahlawannya, begitu kata Soekarno.

100
Peter Kasenda

Kepemimpinan Soekarno-Hatta
Dalam Revolusi Kemerdekaan 1945 – 1949

Ketika Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia menyatakan Proklamasi


Kemerdekaan Indonesia. Itu adalah awal revolusi Indonesia, yang berlangsung dari 17
Agustus 1945 sampai dengan 27 Desember 1949. Belanda masih menganggap dirinya
berhak atas Hindia Belanda, tetapi bangsa Indonesia juga merasa dirinya berdaulat atas
Nusantara ini, yang telah diperjuangkan sebagai negara kesatuan sejak lama.

Disitulah awal konflik antara dua negara yang berbeda kepentingan, yang
melibatkan negara-negara besar. Pada waktu yang bersamaan, terjadi persaingan antara
kelompok yang mempunyai ideologi yang berbeda Mereka menjadikan dirinya sebagai
pemimpin revolusi dengan mencoba mengarahkan jalannya revolusi Indonesia.

Ketika revolusi nasional berkobar, kepemimpinan Soekarno dan Hatta


menghadapi ujian. Kepemimpinan Dwitunggal ini semula disangsikan oleh sejumlah
orang, seperi Sutan Sjahrir. Tetapi setelah Sutan Sjahrir berkeliling Pulau Jawa, ia
melihat bahwa sesungguhnya masyarakat Indonesia mengakuinya sebagai pemimpin
bangsa Indonesia. Akhirnya Sutan Sjahrir memutuskan untuk membantu Soekarno-Hatta.

Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Iwa Kusumasumantri dan Wongsonegoro merupakan


orang kepercayaan Soekarno–Hatta, untuk menggantikannya apabila kedua proklamator
ini nantinya ditangkap atau dibuang Sekutu. Masalahnya mereka berdua pernah
bekerjasama dengan balatentara Jepang, yang ditaklukan Sekutu. Hal ini tercantum dalam
testamen politik yang dibuat berdasarkan usulan dari Tan Malaka.

Sebulan setelah kemerdekaan, kepemimpinan Soekarno-Hatta menghadapi ujian


dengan diadakan rapat raksasa oleh golongan muda pada tanggal 19 September 1945 di
Lapangan Ikada, Jakarta. Sebenarnya pemerintah kurang menyukai rapat raksasa
tersebut, karena hal ini secara tidak langsung dianggap sebagai tantangan terhadap
kekuasaan Jepang. Apabila massa rakyat tidak sabar, bisa menimbulkan kerusuhan dan

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 101


Email: mr.kasenda@gmail.com
menelan korban jiwa.

Berhubung rapat raksasa sudah diumumkan, kalau dibatalkan tentunya akan


memberi kesan pengecut, maka tidak ada jalan lain kecuali memutuskan untuk hadir
dalam rapat raksasa itu. Setelah lima jam massa rakyat menunggu, akhirnya Soekarno-
Hatta berada di tengah lautan massa. Di atas mimbar, Soekarno menyatakan kegembiraan
atas kesetiaan rakyat dan meminta massa pendengarnya membubarkan diri. Mendengar
perintah itu ternyata massa patuh, dan melihat kenyataan itu penguasa Jepang mau tak
mau menunjukkan rasa kagum dan hormat terhadap kepemimpinan Soekarno-Hatta.

Lambang Persatuan

Ada tiga bulan dwitunggal ini menduduki jabatan tertinggi di Republik Indonesia,
mereka diredusir menjadi simbol belaka. Sementara itu, Sutan Sjahrir tampil sebagai
Perdana Menteri, dan kabinet presidensial dirubah menjadi kabinet parlementer, yang
dikontrol oleh wakil-wakil rakyat di Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).
Sebenarnya perubahan sistem pemerintahan ini menyimpang dari UUD 1945.

Walapun begitu, ketika kota Surabaya bergolak. Di mana arek-arek Surabaya


mengangkat senjata melawan Inggris (Sekutu), akhirnya pihak Inggris yang merasa
terpojok dan perlu meminta bantuan Soekarno-Hatta untuk meredakan kemarahan rakyat
Indonesia. Permintaan tersebut dikabulkan Soekarno-Hatta dan Amir Sjarifuddin berada
di tengah lautan massa yang mengamuk.

Dengan karisma pemimpin tersebut, akhirnya arek-arek Surabaya bersedia


meletakkan senjata sebagai tanda gencatan senjata kedua belah pihak. Tetapi hal itu tidak
berlangsung lama, setelah dwitunggal meninggal kota Surabaya dan terbunuhnya Brigjen
Mallaby, berkobarlah pertempuran yang dikenal dengan Persitiwa 10 November 1945.
Dikenal sebagai lambang kegigihan arek-arek Surabaya menentang kolonialisme.

Ternyata adanya pemisahan pemerintahan hanya melemahkan kedudukan Sutan


Sjahrir saja. Persatuan Perjuangan dibawah Tan Malaka melancarkan kritik atas konsesi-
konsesi yang diberikan di meja perundingan. Akhirnya ia memutuskan untuk
mengundurkan diri, tetapi Soekarno masih memberi kepercayaan kepada Sutan Sjahrir
sebagai Perdana Menteri kembali.

Kemudian Sjahrir balik menangkapi Tan Malaka beserta pimpinan Persatuan


Perjuangan yang lainnya. Dengan harapan agar Persatuan Perjuangan untuk sementara
waktu tak berbuat banyak dalam melancarkan oposisinya. Tetapi Jendral Soedarsono
kembali membalas dengan memerintahkan untuk menangkap Sjahrir. Ketika ia kembali
ke Yogyakarta dari Jawa Timur, dan menekan presiden untuk membubarkan kabinet serta
membentuk kabinet sesuai dengan usulannya. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai
Persitiwa 3 Juli 1946.

Melihat situasi itu Soekarno mengambil alih pimpinan dan memerintahkan

102
Peter Kasenda

pembebasan Sjahrir. Dalam pidatonya di radio, ia mengecam perbuatan tersebut dan


dianggap lebih berbahaya daripada Belanda. Mereka, para penculik dianggap tidak dapat
membedakan antara oposisi dan desktruksi Kejadian ini menggambarkan telah terjadi
persaingan elite politik di pentas nasional.

Ternyata Sjahrir tidak dapat berlama-lama bertahan sebagai Perdana Menteri


Oposisi dari sayap kiri, yang menekankan perjuangan daripada diplomasi
menganggap Sutan Sjahrir terlalu jauh memberi konsesi bagi Perjanjian
Linggarjati. Alhirnya ia memutuskan mundur, walaupun Soekarno masih tetap
menginginkan Sjahrir tetap memegang jabatan yang keempat kali, tetapi tanpa
hasil.

Penggantinya, Amir Sjarifuddin mengalami nasib yang sama. Ia dianggap gagal


dalam menangani Persetujuan Renville, 19 Januari 1948. Masyumi dan PNI menarik
dukungannya sehingga menimbulkan krisis kabinet. Dengan mundurnya Amir
Sjarifuddin, Soekarno memutuskan untuk membentuk sebuah kabinet presidensial,
dengan mengangkat Moh Hatta sebagai Perdana Menteri. Dan akhirnya Moh Hatta
berhasil mempertemukan PNI dan Masyumi dalam membentuk satu tim kerja sama
pemerintah yang kuat.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 103


Email: mr.kasenda@gmail.com
Soekarno-Hatta atau Musso dan PKI

Ketika Moh Hatta menjadi Perdana Menteri, terjadi pergerakan oposan. Kini
bukan Persatuan Perjuangan yang tampil sebagai oposan, melainkan PKI. Ia
bukan hanya melancarkan kritik, tetapi juga menggulingkan pemerintah dengan
jalan kekerasaan. Ia mengulangi apa yang dilakukan pada tahun 1926/1927, hal
itu dilakukan kembali pada bulan September 1948.

Keduanya mengalami nasib sama, yaitu gagal, tetapi sasaran yang dituju adalah
berbeda. Pertama, menentang kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Kedua, ditujukan pada
pemerintah Indonesia. Melalui cara itu. mereka telah memperkenalkan bencana perang
saudara pada perjuangan nasional dari negara masih muda usia ini.

Pada tanggal 19 September 1948, Presiden Soekarno mengucapkan pidato


radionya. Ia menjelaskan kepada rakyat Indonesia betapa penting arti persatuan dan
kesatuan dalam menghadapi Belanda maupun pengacau dalam negeri. Kemudian ia
dengan tegas, mengajukan dua pilihan terhadap rakyat Indonesia dalam rangka
menyelamatkan Republik Indonesia yang berusia muda itu dengan kata-kata sebagai
berikut:

“ Pada saat begitu genting, di mana engkau dan kita sekalian mengalami
percobaan yang sebesar-besarnya dalam menentukan nasib kita sendiri dan kita adalah
memilih antara dua : ikut Musso dengan PKI-nya, yang akan membawa bangkrutnya cita-
cita Indonesia Merdeka; atau ikut Soekarno-Hatta, yang Insya Allah dengan bantuan
Tuhan, akan memimpin negara RI yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apa pun juga.”

Dengan diadakan sidang Badan Pekerja KNIP 20 September 1948, di mana


diputuskan memberi kuasa penuh kepada presiden dalam keadaan bahaya yang berlaku
selama tiga bulan, yang merupakan usul Wakil Presiden Moh Hatta. Segera setelah itu
diambil tindakan terhadap pemimpin PKI maupun tindakan militer terhadap pasukan
komunis. Akhirnya terlihat dengan jelas bahwa PKI tidak mendapat dukungan secara
luas, sehingga pemberontakan dapat dipadamkan dengan secepatnya.

104
Peter Kasenda

Ketika Belanda menjatuhkan bom-bom di atas kota Yogyakarta, 19 September


1949, Soekarno-Hatta beserta politisi yang lainnya, seperti Haji Agus Salim dan Sjahrir
memilih tinggal di kota dan ditangkap daripada bergerilya di hutan-hutan. Meskipun
pilihan itu dapat dikritik, tetapi mungkin ini pula putusan yang paling tepat.

Ternyata tindakan Belanda tersebut mendapat perlawanan rakyat dan


mengundang opini dunia. Dua kejadian di atas mengubah sikap netral Amerika Serikat
menjadi cenderung ke RI. Di samping itu situasi politik di Amerika Serikat sendiri
berkembang menuju ke arah yang menguntungkan perjuangan RI.

Akhirnya perlawanan yang berlangsung selama empat tahun berakhir juga. Pada
tanggal 23 Agustus 1949 di Den Haag, delegasi republik yang dibentuk Belanda untuk
mewakili ke 15 negara bagian, berunding dengan delegasi Belanda untuk mengakhiri
sengketa yang berkepanjangan itu. Dengan membawa hasil pengakuan kedaulatan pada
27 Desember 1949.

“Dalam perjuangan sejarah kita beberapa kali kabinet Sjahrir jatuh, meskipun
telah dengan susah payah dinaungi oleh Soekarno-Hatta dengan kewibawaan dwitunggal
yang kuat dan besar pada waktu itu dan yang diturut oleh rakyat dalam tindakan yang kita
ambil. Sambil penyerahan kedaulatan, ternyata akhirnya kabinet presidential juga yang
memegang kendali perjuangan negara di saat-saat kritis, terutama waktu KMB sampai
penyerahan dan pengakuan-pengakuan kedaulatan oleh Belanda.”

Memang berbagai tokoh, seperti Sjahrir, Musso dan Amir Sjarifuddin mencoba
mengukuhkan dirinya sebagai pemimpin dalam hiruk pikuk revolusi, tetapi mereka gagal
apa yang menjadi cita-citanya. Suasana revolusi yang penuh dengan persaingan, konflik
dan anarki memerlukan figure kepemimpinan yang dapat diterima oleh semua pihak.

Dan itu hanya terdapat pada kepemimpinan Soekarno-Hatta. Tidak aneh, di


tengah-tengah gelombang api revolusi itulah, membuat Soekarno dan Hatta
menjadi lambang persatuan yang kuat selama tahun-tahun revolusi.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 105


Email: mr.kasenda@gmail.com
Politik Luar Negeri Era Soekarno

Era revolusi nasional, ada dua cara pelaksanaan politik luar negeri yang sangat
berbeda dan bersaing, tetapi saling mendukung dalam menyelesaikan konflik, yaitu
kekuatan bersenjata dan diplomasi yang dijalankan. Walaupun esensi kedua cara itu
berbeda, tetapi kedua strategi itu dilakukan terus di alam kemerdekaan, ketika Indonesia
bertikai dengan negara lain. Sehubungan dengan kebijakaan politik luar negeri, pada
masa itu, ada baiknya mencoba memahami pidato Moh Hatta, di depan Komite Nasional
Indonesia Pusat, pada tanggal 2 September 1948, Moh Hatta mengatakan :

“ Tetapi mestikah kita bangsa Indonesia, yang harus memperjuangkan


kemerdekaan bangsa dan negara kita, hanya harus memilih antara pro dan kontra
Amerika ? Apakah tak ada pendirian yang lain harus kita ambil dalam mengejar cita-cita
kita.”

“ Pemerintah berpendapat bahwa pendirian yang harus kita ambil ialah supaya
kita jangan menjadi obyek dalam pertarungan politik internasional, melainkan kita harus
tetap menjadi subyek yang berhak menentukan sikap kita sendiri, berhak
memperjuangkan tujuan kita sendiri, yaitu Indonesia Merdeka seluruhnya.”

Pandangan yang dikemukakan oleh Moh Hatta itu memperlihatkan ada keinginan
Moh Hatta agar Republik Indonesia ini menjalankan politik luar negeri yang bebas dan
aktif. Hanya saja, dalam perjalanan sejarah Republik Indonesia pemahaman terhadap
politik luar negeri yang bebas dan aktif, senantiasa didefinisikan kembali sesuai dengan
keinginan yang berkepentingan pada waktu itu. Walaupun terdapat perbedaan penafsiran
terhadap arti politik luar negeri yang bebas dan aktif, tetapi selalu terdapat asumsi kalau
dunia luar yang bersikap memusuhi, atau paling tidak membawa kemungkinan bahaya.

Awal tahun 1950-an, Indonesia memperlihatkan diri seperti apa yang menjadi
pidato Moh Hatta, sebagai suatu negara yang tidak memihak kepada salah satu blok yang
terlibat dalam perang dingin. Walaupun Indonesia bersikap netral, bukan berarti
Indonesia bekerja secara aktif untuk perdamaian dunia dan peredaaan ketegangan
internasional. Meskipun Indonesia sering dianggap ekslusif condong ke Barat, tetapi
Indonesia menolak menyokong Amerika Serikat dalam Perang Korea. Tanggapan

106
Peter Kasenda

Indonesia itu bisa ditafsirkan sebagai adanya perasaan takut akan dominasi asing yang
baru, yang diakibatkan adanya perasaan baru bebas dari kolonialisme yang bercampur-
baur dengan dampak pertentangan perang dingin yang terjadi pada saat itu.

Kebijakan politik luar negeri yang bebas dan aktif pada tahun 1952 menghadapi
ujian, ketika diketahui bahwa Menlu Achmad Subardjo mengadakan perjanjian bantuan
militer dan ekonomi dari Amerika Serikat yang diwakili oleh Duta Besar Amerika, Merle
Cohran. Akibatnya, Indonesia harus mentaati ketentuan-ketentuan yang termuat dalam
Undang-Undang Keamanan Bersama (Mutual Security Act), yang berarti pula
penyimpangan terhadap prinsip-prinsip politik luar negeri yang bebas aktif. Suatu protes
keras terjadi dan mengakibatkan jatuhnya Kabinet Sukiman. Di sini dapat diartikan
bahwa politik luar negeri yang bebas dan aktif adalah Indonesia harus menghindarkan
diri dari perjanjian internasional yang memungkinkan Indonesia terikat kepada salah satu
blok. Bahkan secara tegas, Moh Hatta dalam tulisannya di majalah politik, Foreign
Affairs, pada tahun 1953, menolak pandangan yang mengatakan bahwa tidak adanya
suatu posisi tengah dalam perang dingin. Selanjutnya Moh Hatta menegaskan bahwa
situasi geopolitik Indonesia yang tidak mengandung “ keharusan untuk membuat pilihan
di antara dua blok besar.”

Kebijakan Indonesia yang memilih jalan tengah dalam masalah luar negeri,
dianggap oleh Justus M Van der Kroef, sebagai suatu kondisi yang diperlukan bagi
pembangunan dalam negeri. Keterlibatan luar negeri dan mengingkat diri secara tetap
terhadap negara-negara besar, dianggap mengganggu keseimbangan kehidupan politik
dalam negeri yang tak menentu dan akan pula, menghambat pembangunan Indonesia
sebagai suatu bangsa yang bebas

Ketika Ali Sastroamidjojo, tokoh PNI menjabat sebagai Perdana Menteri, ia


menafsirkan politik luar negeri yang bebas dan aktif itu bukan berarti menghindari dari
pakta tetapi juga menjalin hubungan yang berimbang di antara kedua blok. Indonesia
menjalin hubungan dengan negara-negara sosialis, seperti dengan RRC pada bulan
Desember 1953 dan setahun kemudian ia membuka hubungan diplomatik dengan Uni
Soviet dan beberapa negara sosialis lainnya. Lewat strategi ini, Ali Sastroamidjojo ini
menunjukkan kepada dunia bahwa politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif itu,
memang benar-benar bebas. Puncak daripadanya adalah dengan diadakan Konferensi
Asia Afrika pada bulan April 1955 di Kota Kembang, Bandung. Disanalah Indonesia
memperlihatkan diri kepada dunia, sebagai negara bekas jajahan yang mampu
menyelenggarakan suatu pertemuan internasional yang bertujuan untuk menyatakan
sesuatu dalam pengaturan menyeluruh masyarakat dunia internasional.

Tampilnya Soekarno

Kebijakan politik luar negeri menjadi semakin penting dengan tampilnya


Soekarno. Setelah diadakan Konferensi Asia Afrika di Bandung, Soekarno benar-benar
mengupayakan agar dirinya menjadi juru bicara luar negeri. Tahun 1956, Soekarno
mengadakan kunjungan panjang ke Amerika Serikat, Uni Soviet, Eropa Timur dan

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 107


Email: mr.kasenda@gmail.com
Republik Rakyat Cina. Di Amerika Serikat dukungan pers Amerika, kata Ganis Harsono
– seperti yang ditulis dalam Cakrawala Politik Era Soekarno – pers Amerika memberi
laporan yang baik tentang kunjungan Soekarno di Amerika Serikat. Sehingga rakyat
Amerika sangat terkesan dengan pribadi Soekarno.

Selama kunjungannya ke Uni Soviet, Soekarno selalu berbicara tentang


pengutukan terhadap kolonialisme Belanda dan penghormatan kepada Uni Soviet yang
tidak menyimpang dalam menjalankan tugasnya menciptakan perdamaian dunia melalui
semangat koeksistensi yang penuh dengan kedamaian. Di sana pula Soekarno membuat
pernyataan bersama Indonesia-Uni Soviet, yang mana move politik Soekarno itu ternyata
mendapat tanggapan dari kalangan politisi di Ibu kota, yang dianggap bahwa pernyataan
bersama itu menyimpang dari wewenang dan ketentuan Parlemen. Dan Ali
Sastroamidjojo sendiri sendiri sebagai Perdana Menteri pada saat itu, merasa dilangkahi
wewenangnya. Soekarno telah bertindak bukan sebagai presiden konsitusional lagi. Bisa
jadi kebijakan yang diambil Soekarno itu, memperlihatkan bahwa Indonesia telah
bergeser ke kiri.

Sebagai seorang yang tidak menyukai imperialisme, Soekarno senantiasa


mempermasalahkan kehadiran Belanda di Irian Barat. Kekuatan diplomasi seperti yang
dilakukan pada masa revolusi nasional, ternyata tidak menunjukkan hasil yang
memuaskan dalam menyelesaikan konflik dengan Belanda. Sehingga Soekarno
mengambil jalan melakukan strategi kekuatan bersenjata, seperti aksi massa, penerjunan
sukarelawan dan penerjunan darurat di Irian Barat dengan bantuan senjata dari Uni Soviet
karena Amerika Serikat menolak untuk menjual senjata yang diperlukan. Ternyata apa
yang dilakukan Soekarno itu berhasil. Amerika Serikat melepaskan netralisasi pro
Belanda, sebab khawatir terhadap kemungkinan konflik bersenjata yang ditimbulkannya.
Pada tahun 1962, Amerika Serikat menekan Belanda untuk menyelesaikan sengketa itu
dengan syarat-syarat yang menguntungkan Indonesia. Sukses ini kemudian lebih banyak
dilihat sebagai sukses strategi konfrontasi Soekarno, dan bukan karena bantuan Amerika
Serikat atau Uni Soviet.

Setelah hampir sampai konflik dengan Belanda, Soekarno melihat pembentukan


Malaya sebagai suatu tindakan terhadap pengepungan terhadap Indonesia. Dalam
kerangka pandangan dunianya, posisi Indonesia sebagai Nefos akan terjepit di antara
musuh-musuh Oldefos yang melindunginya, jika dilihat bahwa disebelah utara terdapat
bekas jajahan Inggris yakni Malaya sampai Kalimantan Utara dan di Selatan ada
Australia dan Selandia Baru. Sikap permusuhan Soekarno terhadap negara tetangga oleh
sejumlah orang dianggap sebagai tujuan-tujuan ekspansionisme Soekarno atau dia
memang memerlukan suatu masalah gawat di luar untuk kepentingannya. Tetapi yang
jelas, dalam usahanya menghadapi Malaya, Soekarno mengulangi formula sukses, ketika
berhadapan dengan Belanda pada masa revolusi nasional dan perebutan Irian Barat.

Yang dimaksud oleh Soekarno sebagai New Emerging Forces adalah kekuatan-
kekuatan baru yang sedang bangkit dan Old Established Forces sebagai kekuatan lama
yang mapan. Yang pertama dilukiskan sebagai terdiri dari bangsa-bangsa Asia Afrika,
Amerika Latin, negara-negara sosialis dan kelompok-kelompok progresif di negara-

108
Peter Kasenda

negara kapitalis. Dengan mengedepankan suatu pandangan revisionis mengenai


masyarakat internasional, Soekarno melukiskan Indonesia sebagai anggota kelompok
kekuataan yang progresif dinamis yang militan dan ditugasi oleh sejarah untuk melawan
dan menghancurkan kekuatan penindasan dan eksploitasi yang reaksioner. Kesemuanya
itu menyebabkan ia menuntut peranan yang penting dalam konstelasi internasional dan
berusaha menyokong tuntutan ini melalui kunjungan kenegaraan dan berbagai persitiwa
internasional lainnya. Kecaman-kecamannya terhadap imperialisme pada umumnya
merupakan pandangan yang telah dia kemukakan sebelum Perang Pasifik berlangsung
dengan mengambil sebagian dari pandangan Karl Marx dan Lenin.

Selama tahun-tahun terakhir jelas kebijakan politik luar negeri Indonesia diwarnai
oleh Soekarno. Kalau politik luar negeri pada awal tahun 1950-an, bersifat netral
walaupun agak cenderung ke Barat, tetapi setelah dikendalikan oleh Soekarno
berubah secara perlahan-lahan dan pasti sebagai manifestasi rasa permusuhan
terhadap imperialisme ke arah negara-negara sosialis. Bahkan menjelang tahun
1965 telah terjadi Poros Jakarta-Peking ( atau Poros Jakarta–Phonmpehn-Peking-
Pyonyang, menurut istilah Soekarno). Poros antii mperialisme ini dianggap
Soekarno dibentuk oleh jalannya sejarah, dan mengambil sikap netral terhadap
situasi yang ada dan itu bisa diartikan menerima status quo.

Tahun-tahun terakhir sebelum kejatuhan Soekarno, Indonesia mengambil


kebijakan berdikari dalam ekonomi dan menolak setiap ketergantungan kepada
imperialisme. Berdikari dalam bidang ekonomi dianggap sebagai prasyarat untuk
kemerdekaan yang sejati dalam bidang politik maupun kebudayaan. Untuk itulah
tidak usah heran, kalau dalam satu kesempatan Soekarno pernah mengeluarkan
kata-kata yang sangat terkenal,” Go to hell with your aid,” ketika Amerika Serikat
hendak memberi bantuan, tetapi dengan mengajukan prasyarat yang dianggap
Soekarno hendak mencoba mempengaruhi kebijakan politik luar negeri Indonesia.
Bagi Soekarno, politik luar negeri yang bebas dan aktif harus diberi arti bahwa
Indonesia mengambil peranan sebagai pemimpin untuk membawa semua
kekuatan progresif di dunia ke dalam suatu front internasional untuk kemerdekaan
dan perdamaian dunia buat melawan imperialisme dan kolonialisme dalam bentuk
baru.

Penilaian

Berkaitan dengan kebijakan politik luar negeri Soekarno, selalu muncul


pertanyaan-pertanyaan, apa yang menyebabkan Soekarno melakukan politik konfrontasi
terhadap Malaya. Ada beberapa penjelasan yang bisa diajukan sebagai jawaban. Pertama,
prinsip politik luar negeri Soekarno adalah perluasan politik dalam negerinya; Kedua,
adanya kemiskinan dan merosotnya ekonomi menjadikan politik konfrontasi sebagai alat
untuk membangkitkan semangat nasional dan mempertahankan persatuan bangsa ( setiap
bangsa memerlukan musuh). Tetapi terlepas dari penafsiran di atas, yang jelas Angkatan
Darat dan PKI mempunyai alasan untuk mendukung politik konfrontasi itu, sebab mereka
mempunyai kepentingan sendiri-sendiri dalam politik luar negeri yang ekstrem itu.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 109


Email: mr.kasenda@gmail.com
Tanggapan Soekarno terhadap bahaya imperialisme dan kolonialisme bisa
ditafsirkan berbagai cara. Pertama bertolak dari segi ideologi, Soekarno mempunyai
alasan karena mencerminkan pandangan dunia dan sikapnya; Kedua, merupakan reaksi
dari tekanan-tekanan politik dalam negeri; Ketiga, merupakan hasil dari suatu kejiwaan
yang dalam, baik secara pribadi maupun nasional. Untuk menyatakan kehadiran diri dan
kehormatan martabat bangsa, pandangan-pandangan ini tidak perlu berdiri sendiri. Suatu
konsep dunia yang terpecah menjadi dunia progresif dan dunia reaksioner sesungguhnya
sesuai dengan perbendaharaan pemikiran Soekarno.

Dalam sebuah buku, Indonesia Foreign Policy and The Dilemma of Dependence :
From Soekarno to Soeharto yang diterbitkan oleh Cornell University Press pada tahun
1976, yang merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Franklin B Weinstein,
dengan menggunakan serangkaian wawancara mendalam dengan beberapa elite politik
Indonesia yang berkecimpung dalam soal-soal politik luar negeri. Lewat penelitian itu,
ternyata menunjukkan hampir tidak terdapat kritik terhadap dasar-dasar politik luar
negeri yang dijalankan oleh Soekarno. Kebanyakan mereka menyalahkan kegagalan
Soekarno membangun ekonomi sebagai kekuatan dalam negeri yang cukup mampu
mendukung politik kepemimpinan internasional dan politik berdikari.

Kebanyakan responden yang diwawancarinya, mengatakan bahwa keberhasilan


Soekarno dalam masalah-masalah politik luar negeri, berkaitan dengan
keberhasilan Soekarno dalam mengusahakan peranan utama Indonesia dalam
percaturan politik internasional sebagai suksesnya yang terbesar - Konferensi
Asia Afrika di Bandung dan Pembebasan Irian Barat Bahkan banyak pemimpin
dari ketiga generasi (1928, 1945 dan 1966) yang ditelitu itu menyatakan bahwa
politik luar negeri Soekarno telah membangkitkan rasa kebanggan nasional.
“Dunia mengenal Indonesia karena mengenal Soekarno.” Dan yang sangat
mengagumkan adalah bahwa konsep konflik suatu Nefos dan Oldefos masih
diterima secara luas oleh pemimpin Indonesia sebagai suatu cara berguna untuk
membagi dunia ini. Konsep itu ditangkap kembali dalam terminologi ekonomis
dengan mengurangi dimensi ideologisnya, di mana terdapat pertentangan antara
negara-negara kaya dengan negara-negara miskin.

Di sisi lain, Dr Michael Leifer lewat bukunya Politik Luar Negeri, yang
diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 1986, menjelaskan pidato-pidato Soekarno yang
diucapkan di Sidang Majelis Umum PBB pada tahun 1960 di hadapan Konferensi
Negara-Negara Nonblok di Beograd pada tahun 1961, berkisar pada perlunya
membangun kembali suatu dunia baru yang lebih adil. Ternyata dua puluh tahun
kemudian masih relevan. Kini negara-negara maju dan negara-negara berkembang
berbicara dengan kearifan baru untuk mewujudkan tata ekonomi internasional baru.
Menurut Dr Michael Leifer, Soekarno dengan gagasan-gagasan besar yang termuat dalam
kedua pidato di atas sebenarnya telah berpikir satu dekade lebih cepat dari zamannya.
Untuk itu, tidak usah heran kalau Dr Soedjatmoko, cendikiawan nomor satu yang dimiliki
oleh republik ini, mengatakan bahwa Soekarno adalah seorang visioner.

110
Peter Kasenda

Soekarno, Diplomasi dan Konfrontasi

Irian Barat merupakan bagian integral dari Indonesia yang tidak dapat dilepaskan
dari Proklamasi Kemerdekaan 1945. Tetapi hampir setahun persetujuan Konperensi
Meja Bundar (KMB) Desember 1949, tidak ada tanda-tanda pemerintah Belanda mau
mengembalikan wilayah bagian Timur Nusantara itu kepada RI. Melihat kenyataan itu
Soekarno menjadi gusar. Dalam pidato “Dari Sabang Sampai Merauke.” 17 Agustus
1950, Presiden Soekarno memperingatkan, akan terjadi konflik besar apabila
perundingan dalam mengenai masalah Irian Barat, dalam tahun ini tidak terjadi
kesepakatan .

Diawali dengan Kabinet M Natsir, Sukiman dan Wilopo berusaha menyelesaikan


secara diplomatik. Tetapi senantiasa mengalami kegagalan. Soekarno terus menuntut agar
diplomasi didukung oleh tindakan kekuatan bersenjata, di mana pada akhirnya kabinet
Ali Sastroamidjojo pada tahun 1954 mulai mengadakan serangan-serangan militer secara
terbatas pada daerah perbatasan.

Dalam periode itu kawasan Asia dan Afrika merupakan medan tempur antara dua
kekuatan masyarakat, yaitu Blok Barat dan Timur yang masing-masing diwakili oleh
Amerika Serikat dan Uni Soviet, Indonesia yang menganut politik luar negeri bebas dan
aktif (turut aktif meredakan ketegangan) akibat pertentangan antara dua adi kuasa,
sebagai salah satu sponsor terselenggaranya Konperensi Asia Afrika, April 1955 di
Bandung yang dihadiri 29 negara Asia dan Afrika. Adanya Konperensi, selain menaikkan
pamor Soekarno sebagai salah satu pemimpin Dunia Ketiga ia juga mencari dukungan
bagi perjuangannya dalam masalah Irian Barat. Dan Komunike Bersama KAA
mendukung tuntutan kembalinya Irian Barat ke wilayah RI.

Kabinet Burhanuddin Harahap (1956), membubarkan Uni Indonesia-Belanda dan


perjanjian KMB secara sepihak. Hubungan selanjutnya antara Indonesia dan Belanda
dinyatakan sebagai hubungan antara dua negara berdasarkan hukum internasional.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 111


Email: mr.kasenda@gmail.com
Aksi-aksi

Usaha–uasaha menyelesaikan masalah Irian Barat melalui forum PBB pada


tanggal 29 November 1957 berimplikasikan pada pergolakan di Indonesia. Soekarno
mulai mengizinkan aksi-aksi radikal dimulai, sesuai dengan pidatonya, sebelum usul
mosi di PBB kalah. Ia memperingatkan kalau usul mosi itu gagal, akan diambil jalan
yang “akan mengejutkan dunia.” Terjadilah nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing
sejumlah 700 perusahaan dengan nilai lebih dari 1500 juta dolar. Demontrasi sepanjang
jalan, pemboikotan dan pemogokan serta penjungkirbalikan mobil-mobil milik Belanda.
Bahkan semua surat kabar berbahasa Belanda dilarang terbit.

Dalam tiga bulan pertama 1959, kebanyakan dari sekitar 46.000 warga negara
Belanda terpaksa meninggalkan Indonesia. Di balik hiruk pikuk gejolak kegembiraan,
kepentingan Indonesia dipindahkan dari Negeri Belanda ke Jerman Barat dan Inggris.

Bulan Agustus 1960, Soekarno memutuskan hubungan diplomatik dengan


Belanda sebagai balasan atas penampakan kapal induk yang dilengkapi pesawat udara
berbendera Belanda, Karel Doornan, dengan kapal perusak sebagai pandu di perairan
Irian Barat.

Bahkan dalam pidato pada Sidang Majelis Umum PBB ke –15, 30 September
1960. “Membangun Dunia Baru,” Presiden Soekarno mengeritik ketidakmampuan PBB
menangani masalah Irian Barat dan memperingatkan ,” Irian Barat merupakan pedang
kolonial yang diancamkan terhadap Indonesia, akan tetapi di samping itu ia mengancam
pula perdamaian dunia.” Ia mengingatkan adanya imperialisme dan kolonialisme
menyebabkan terancamnya perdamaian.

Konfrontasi

Pada 19 Desember 1961 di Yogyakarta dalam suatu rapat, Presiden Soekarno


mengumumkan Trikora, yang berisikan perintah : Pertama, gagalkan pembentukan
Negara Boneka Papua Belanda; kedua, Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat, Tanah
Air Indonesia; ketiga, bersiaplah untuk memobilsasi umum guna mempertahankan
kesatuan Tanah Air dan Bangsa. Tanggal dan bulan tersebut mengingatkan pada Agresi
Militer Belanda II, 13 tahun yang lalu di kota yang sama. Trikora merupakan klimaks
dalam mengusir sisa-sisa kolonialis di Irian Barat.

Sambutan atas Tri Komando Rakyat ini luar biasa. Beribu-ribu rakyat secara
sukarela meminta agar dikirimkan ke Irian Barat, bahkan banyak pula mahasiswa yang
menyediakan diri menjadi sukarelawan. Operasi ini dilancarkan langsung dari Ambon di
bawah komando Jendral Soeharto sebagai Panglima Mandala.

Bulan-bulan berikutnya inflitrasi ke daerah itu dengan penerjunan pasukan –


pasukan payung dan pendaratan pasukan-pasukan gerilya, termasuk Herlina Si Pending
Emas. Inflitrasi melalui penerjunan lewat udara lebih berhasil ketimbang melalui laut.

112
Peter Kasenda

Meninjau kembali kejadian-kejadian di hari itu, operasi yang terbesar yang pernah
dilancarkan oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Selain itu, operasi ini
dianggap sangat berbahaya, mengingat kekuatan pasukan Indonesia yang terbatas.

Dalam suasana damai tidak, perang tidak. Komando Mandala mempersiapkan diri
dengan bantuan persenjataan modern, dari Uni Soviet untuk mengadakan
penyerbuan besar-besaran dalam menduduki Irian Barat. Rencana ini dinamakan
Operasi Jayawijaya di bawah pimpinan Mayor Jendral Soeharto.

Di tengah-tengah suasana tegang antara Indonesia – Belanda, 16 Januari 1962,


kapal MTB Macan Tutul ditenggelamkan oleh serangan pesawat udara Neptune dan
Firetly, serta kapal perusak dan frigat milik Belanda di laut Arafuru. Dan salah satu
korbannya ialah Wakil KSAL Yos Sudarso. Insiden tersebut telah menimbulkan
kemarahan di kalangan rakyat Indonesia. Mereka menginginkan perang dan membalas
serangan Belanda itu, tetapi Soekarno mencegah . Malah Presiden Soekarno mengirim
sebuah delegasi di bawah pimpinan Adam Malik pada perundingan antara Indonesia-
Belanda di sebuah rumah mewah Hutland Estate di Middelburg dekat Washington DC.

Sementara itu Menlu Subandrio menghadap Presiden Kennedy, 21 Juli 1962. Ia


mengulangi tuntutan itu sambil menambahkan kemungkinan perang dan damai kini
terletak ditangan Presiden Kennedy. Apabila terjadi perang hanya menguntungkan
kekuatan komunis Indonesia. Dengan siasat itu dapat menggerakkan John F Kennedy
mendesak Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia. Belanda terpaksa harus
tunduk terhadap John F Kennedy. Karena apabila terjadi konfrontasi fisik atas wilayah
tersebut, Amerika Serikat dan Australia, sekutu Belanda enggan ikut campur,

Tanggal 1 Mei 1963 sebagai tanggal penyerahan adminsitraif Irian Barat kepada
Indonesia, dengan didahului suatu masa peralihan selama enam bulan di mana
administrasi Irian Barat dipegang oleh PBB selanjutnya akan diadakan act of free choice
di tahun 1969, guna mengetahui kehendak penduduk Irian Barat yang sebenarnya.
Dengan begitu, Soekarno telah menempati janjinya bahwa sebelum ayam berkokok pada
tanggal 1 Januari 1963, Sang Merah Putih berkibar di Irian Barat.

Suatu persetujuan menyelamatkan muka kedua belah pihak telah tercapai melalui
intervensi dan diplomasi Amerika Serikat seperti yang diharapkan Indonesia, sehingga
dapat mengakhiri pertikaian yang hanya memperburuk hubungan antara Indonesia dan
Belanda.

Untuk memperlihatkan adanya perubahan di Irian Barat, diadakan perubahan atas


nama Ibu Kota Hollandia diganti nama menjadi Kota Baru dan kemudian menjadi
Soekarnoputra dan gunung tertinggi di pulau itu Gunung Wilhelmina menjadi puncak
Soekarno.

Kembalinya Irian Barat kepangkuan Ibu Pertiwi, menurut John D Legge, berkat
keahlian dan keberanian Soekarno menerapkan perhitungan dengan agitasi, ancaman,

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 113


Email: mr.kasenda@gmail.com
peningkatan militer dengan diplomasi. Sedangkan menurut Michael Leifer, Politik Luar
Negeri Indonesia, sebagian besar terbentuk karena kemampuan Soekarno menggunakan
dalih senjata dari Uni Soviet kepada Indonesia untuk mempengaruhi Amerika Serikat
agar menggunakan pengaruh politiknya terhadap negeri Belanda.

Soekarno, Banteng dan Pemilu

Seperti biasanya setiap Pemilu pada masa pemerintahan Soeharto, Organisasi


Peserta Pemilu yang berlambangkan kepala Banteng selalu menggunakan nama Soekarno
sebagai pengikat massa. Hal ini tentu saja menunjukkan di satu pihak betapa luar biasa
kedudukan Soekarno di hadapan massa pendukungnya tetapi di pihak lain juga
menunjukkan betapa besar ketergantungan organisasi ini terhadap Soekarno. Pahlawan
Proklamator itu menjadi sumber legitimasi organisasi yang menggunakan simbol kepala
Banteng, melalui mana mereka mengidentifikasikan dirinya dengan massa
pendukungnya. Tulisan ini mencoba secara ringkas menguraikan keterkaitan Soekarno
dengan organisasi tersebut.

Milik PNI

Simbol kepala Banteng ini pada masa kekuasaan kolonial merupakan milik Partai
Nasional Indonesia, sebuah partai nasionalis yang paling aktif dan mempunyai gema.
Setiap langkah-langkah organisasi ini selalu menjadi perhatian dari penguasa kolonial
Hindia Belanda. Apalagi Soekarno sebagai singa podium mempunyai kemampuan
menggerakkan massa untuk melawan kekuasaan kolonial. Ia merupakan daya tarik utama
kaum nasionalis pada masa itu dan ia juga adalah seorang yang oleh orang-orang
Indonesia bisa dijadikan sumber identifikasi, sehingga tidak mengherankan kalau orang
masuk PNI disebabkan kepemimpinan Soekarno itu.

Perjalanan partai nasionalis ini tidak selamanya berjalan mulus. Ketika Soekarno
berada di balik penjara, organisasi ini terpecah menjadi dua, yaitu Partai Indonesia
(Partindo) dan Pendidikan Nasional Indonesia Baru. Setelah keluar dari penjara, ia
berusaha menyatukan kedua organisasi, tetapi gagal. Akhirnya ia memutuskan untuk
masuk Partindo yang dianggap mempunyai banyak persamaan dengan PNI lama.
Walaupun begitu ia tidak puas melihat perkembangan partai itu, apalagi ia mendengar
adanya desas-desus bahwa PNI Baru juga bermaksud menggunakan nama lama itu. Ia
mengusulkan kepada Badan Pengurus Partindo pada bulan Maret 1933 agar berubah
namanya menjadi Partai Nasional Indonesia. Tujuannya adalah untuk memperluas jumlah
cabang Partindo, dalam persaingan dengan PNI Baru Pada waktu itu, kepemimpinan

114
Peter Kasenda

partai nasionalis terpecah dua, yaitu Soekarno/Sartono bersaing dengan Hatta/Sjahrir.


Bagi Soekarno pribadi, hanya dia yang berhak menggunakan nama asli itu, sebab itu
adalah partainya.

Walaupun ia gagal mengubah nama partai itu, tetapi ideologi marhaenisme yang
merupakan rumusan orsinal yang diperkenalkan Soekarno. Secara resmi diterima sebagai
dasar-dasar politik partai dalam kongres bulan Juli 1933. Berkaitan dengan itu, John
Ingelson memberi komentar, ideologi ini tidah menunjukkan adanya perubahan penting
dalam pemikiran politik Soekarno, hanya sekedar menghaluskan ide-idenya tentang
politik, sosial dan ekonomi yang dikemukakan sejak tahun 1927 sejalan dengan arus
utama gerakan nasionalis sekuler.

Nostalgia

Setelah Indonesia mencapai kemerdekaan. Dengan adanya Maklumat Pemerintah,


yang menginginkan timbulnya partai-partai politik untuk menampung aspirasi yang
berkembang di dalam masyarakat. Maka sejak itu berdirilah berbagai organisasi, salah
satunya adalah Partai Nasional Indonesia, bukanlah partai yang didirikan dulu pada masa
kekuasaan kolonial dan juga bukan partai tunggal yang direncanakan sebagai partai
negara, seperti biasanya dilakukan negara-negara berkembang dalam membangun bangsa
dan negara.

Walaupun begitu, PNI memperoleh keuntungan banyak dengan mengaitkan


namanya dengan Soekarno dan juga dengan adanya konotasi dengan nama Partai
Nasional Indonesia yang direncanakan sebagai partai pelopor (partai tunggal) yang tidak
jadi didirikan itu. Sebagian besar anggota partai itu adalah mantan anggota PNI lama,
mereka masuk kedalamnya karena dianggap mempunyai kesesuaian dengan PNI lama
dan mereka mengharapkan bahwa partai baru itu mempunyai sebagaian martabat PNI
lama.

Dalam keadaan seperti itulah partai politik itu berkembang selama revolusi fisik
dan mencapai puncak pada tahun 1955. Untuk melihat kekuatan yang nyata dari partai-
partai politik yang tumbuh seperti jamur itu, maka diadakanlah Pemilihan Umum ini
juga. Ternyata Partai Nasional Indonesia memperoleh memperoleh suara terbanyak di
antara kontestan yang lainnya. Kemenangan tersebut, kata Jaene S Mints dalam bukunya,
Muhammad, Marx and Marhaen. The Roots of Indonesian Socialism, berkat usaha PNI
selalu mendekatkan diri dengan Presiden Soekarno, yang dikenal sebagai pendiri PNI
lama dan pencetus ajaran marhaenisme yang menjadi asas partai. Tetapi yang jelas,
melalui identifikasi dengan Soekarno, merupakan faktor kunci dalam meningkatkan
hubungan dengan massa pendukungnya.

Ketergantungan semacam itu diperlihatkan kembali. Ketika diadakan kongres PNI


kesembilan di Solo tahun 1960, Soekarno menginginkan agar PNI mengikuti segala
kebijakan yang dijalankan pemerintah. Keinginan tersebut jelas menunjukkan betapa
rapat hubungan antara Soekarno dengan PNI. Tentu saja hubungan tersebut merupakan

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 115


Email: mr.kasenda@gmail.com
hubungan saling menguntungkan kedua belah pihak. PNI memperoleh dukungan rakyat
akibat indentifikasi dengan Soekarno, sebaliknya Soekarno meminta imbalan berupa
dukungan terhadap kebijakan dalam pemerintahan Soekarno.

Apalagi kalau kita mendengar pernyataannya ia meminta agar marhaenisme yang


dijadikan ideologi PNI, disesuaikan dengan apa yang dimaksudnya. Akhirnya dalam
perkembangannya masalah ideologi itu menjadi polemik yang berkepanjangan, sehingga
menimbulkan pertentangan dalam tubuh organisasi itu. Yang jelas menurut permintaan
Soekarno, seperti yang dilakukan PNI merumuskan ideologi tersebut, hanya
menunjukkan bahwa betapa besar ketergantungannya terhadap Soekarno.

Menyangkut masalah dedikasi terhadap kepemimpinan Soekarno terlihat ketika


terjadi perpecahan dalam tuubuh PNI menjadi dua, yaitu kubu PNI A-Su dan PNI Osa-
Usep. Yang menjadi masalahnya adalah Peristiwa Gerakan 30 September. PNI Osa-Usep
menuduh sikap PNI A-Su mengkhianati kepemimpinan Soekarno dengan tidak menuntut
pembubaran PKI. Walaupun akhirnya PNI A-Su membuat pernyataan untuk mengambil
tindakan tegas terhadap unsur-unsur PKI beserta organisasi massanya, PNI A-Su juga
mengadakan pembelaan diri, bahwa tuntutan semacam itu tidak dilakukan untuk tidak
mempersulit posisi Presiden Soekarno dalam usahanya merintis penyelesaian politis.

Identifikasi

Setelah kejatuhan Soekarno, PNI menjadi bulan-bulanan kekuatan politik lain.


akibat hubunganya dengan Soekarno. Usaha membuat PNI kembali menjadi suatu partai
yang berpengaruh terhadap jalannya sejarah republik ini. Dengan diadakan kongres
kedua belas PNI pada bulan April 1970 di Semarang, yang merupakan kongres pertama
pada masa pemerintahan Soeharto. Justru dalam kongres itu malah terjadi perpecahan
dalam kubu PNI berkaitan dengan jalan apa yang harus ditempuh untuk memenuhi
ambisinya.

Menurut Nazaruddin Sjamsuddin dalam bukunya, PNI dan Kepolitikannya


menyembutkan jadi dua kubu, kelompok pragmatis yang menginginkan sedikit pengaruh
dalam pemerintahan, berusaha mengandalkan kerja sama dengan pemerintahan Soeharto.
Sebaliknya kelompok ideolog menolak segala campur tangan luar dan lebih
memperhatikan ideologi marhaenisme sebagai identitas partai.

Ketika menjelang Pemilihan Umum tahun 1971, PNI seringkali menggunakan


nama besar Soekarno sebagai pengikat massa. Dalam kampanyenya itu PNI
memanfaatkan putra-putri Soekarno sebagai juru kampanye. Kejadian semacam itu jelas
menunjukkan betapa luar biasa kedudukan Soekarno di massa rakyat dapat dikatakan
merupakan jaminan PNI untuk memperoleh suara lebih banyak tetapi di lain pihak justru
memperlihatkan betapa besarnya ketergantungan PNI terhadap pribadi Soekarno. Tokoh
ini menjadi sumber legitimasi PNI, melalui mana mereka mengindentifikasikan dirinya
dengan massa pendukungnya.

116
Peter Kasenda

Identifikasi itu menjadi kabur dengan adanya fusi antara PNI, Parkindo, Partai
Katolik, IPKI dan Partai Murba dengan menggantikan nama mereka menjadi Partai
Demokrasi Indonesia pada tahun 1973, sesuai dengan imbauan Presiden Soeharto dalam
usaha penyederhanaan partai-partai politik.

Dengan adanya fusi tersebut menyulitkan PDI untuk merumuskan tentang siapa
dirinya di hadapan pemilihnya. Melihat basis legitimasi maupun identitas jelas
berbeda. Walaupun PDI berusaha menjelaskan diri melalui Anggaran Dasarnya
berwatakan dan bercirikan “Demokrasi Indonesia, Kebangsaan Indonesia dan
Keadilan Indonesia.” Namun penjelasan semacam itu jelas kabur dan abstrak di
hadapan massa pendukungnya sendiri. Atau dengan kata lain, ada kesulitan PDI
untuk menumbuhkan proses identifikasi dengan massa pemilihnya.

Kini lambang kepala Banteng bukan saja merupakan monopoli dari PNI,
melainkan sudah menjadi milik PDI yang terdiri dari berbagai unsur Walaupun begitu
dukungan terhadap PNI sebagian besar merupakan dukungan dari massa pemilihnya PNI.
Mereka mengidentifikasikan lambang kepala Banteng dengan PNI atau Soekarno.
Sehingga tidak mengherankan nama Soekarno selalu dimanfaatkan PDI sebagai argumen
belaka untuk memperoleh suara.

Kondisi sosial-politik selalu berubah secara dinamis dan pada suatu masa, ide,
identitas dan figure Presiden Soekarno. Kekecewaan-kekecewaan masyarakat terhadap
kesejahteraan sosial yang belum juga mencapai masyarakat adil dan makmur, kata Agus
Sudibyo, oleh PDI dijadikan momentum untuk menfaatkan simbol-simbol Soekarno
sebagai perangkat penggalangan massa. Mereka mengeksploitasi keberadaan Soekarno
sebagai pemimpin yang populis dan menggunakan retorika masa lalu Soekarno. Dalam
kampanye pemilu, PDI selalu mengindentifikasi diri sebagai partainya wong-cilik. Dan
Soekarno sebagai pemimpin yang benar-benar mencintai wong cilik. Dari sinilah
preferensi terhadap PDI terbangun, dan cukup terbukti efektifiasnya untuk menarik
massa potensial. Manyadari bahwa clan Soekarno adalah komoditi politik politik yang
sangat layak jual, direkutlah anak-anak dan orang-orang dekat Soekarno oleh partai
berlambang kepala Banteng itu.

Namun ada kemajuan yaitu kini PDI mulai memanfaatkan figure kiai untuk
memperkuat posisinya di mata rakyat. Suatu kejadian yang tidak pernah terbayangkan
oleh PNI atau PDI pada masa-masa terdahulu. Dengan demikian, PDI tidak bisa
ditafsirkan sebagai partai kaum abangan, sebagaimana yang terjadi dengan PNI dahulu.

Usaha mencari identitas partai dalam perjalanannya, suatu hal yang harus diakui.
Sebab kontestan lain sudah mempunyai identitas. Misalnya Golkar diidentikkan dengan
golongan yang berkuasa yang sedang melakukan pembangunan. Kalau dalam kampanye
tahun 1987, PDI mengindentitifikasikan dirinya sebagai partai rakyat kecil, yang selalu
menjadi korban-korban roda pembangunan. Ini merupakan suatu usaha yang harus dipuji.

Tetapi usaha ini seyogyanya tidak hanya untuk konsumsi Pemilu belaka, tetapi
dalam kehidupan sehari-hari dengan memperjuangkan nasib rakyat kecil. Kaum

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 117


Email: mr.kasenda@gmail.com
Marhaen, begitu kata Soekarno.

Soekarno dan Golkar

Pada malam hari, 21 Februari 1957, sejumlah pemimpin politik dan tokoh
masyarakat berkumpul di Istana Negara, dan di luar halaman berdesak-desakan
masyarakat ibu kota menanti pidato Presiden Soekarno. Pada kesempatan itu Presiden
Soekarno ingin menyampaikan sebuah konsepsi dalam rangka mengatasi kesulitan-
kesulitan yang menimpa bangsa Indonesia akhir-akhir ini.

Melalui pidatonya yang berjudul “Menyelamatkan Republik Indonesia,”


Soekarno mengajukan tiga hal pokok. Pertama, menolak gagasan Demokrasi Liberal
dengan alasan bahwa demokrasi semacam itulah adalah bentuk impor dari Barat yang
dianggap kurang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Dalam hal itu menyebabkan lajunya pembangunan bangsa dan negara berjalan
secara tersendat-sendat. Kemudian memperkenalkan demokrasi yang berdasarkan
kepribadian asli Indonesia, yaitu musyawarah untuk mufakat, yang kemudian dikenal
dengan demokrasi terpimpin.

Kedua, menginginkan agar dibentuknya kabinet gotong royong yang mewakili


semua partai. Hal ini dianggap sebagai penjelasan dari gotong royong yang mewakili
semua partai. Hal itu dianggap sebagai penjelmaan dari gotong royong Indonesia. Dan
kabinet semacam itu diartikannya dengan menggunakan bahasa Belanda, Alle kinderen
van de familie aan enn eestafel en aan werk tafel (Semua makan bersama di satu meja
makan dan kerja bersama di satu meja ).

Maksudnya adalah pemerintahan yang berkaki empat, terdiri dari PNI, Masyumi,
NU dan PKI dan kemungkinan besar dibantu oleh wakil-wakil partai kecil, dengan
harapan agar kabinet semacam itulah diharapkan meningkatkan persatuan nasional
daripada sebuah kabinet koalisi yang senantiasa terganggu akibat adanya oposisi dan
umurnya tidak panjang.

Ketiga, mengusulkan dibentuknya Dewan Nasional. Dalam hal pembentukan ini


Soekarno mengambil contoh tindakan Gadjah Mada yang membentuk Andika
Bhayangkari untuk menyelamatkan negaranya dari bahaya kehancuran. Andika
Bhayangkari adalah suatu pencerminan bersatunya antara pemerintah dan rakyat atau
Manunggaling Kawula lan Gusti.

Dewan nasional itu terdiri dari golongan fungsional seperti wakil-wakil buruh,

118
Peter Kasenda

tani, cendikiawan, pengusaha, Islam, Protestan–Katolik, Angkatan Bersenjata, organisasi


pemuda, organisasi wanita dan juga wakil-wakil daerah.

Dengan demikian diharapkan Pemerintah dan Dewan Nasional dalam mengambil


keputusan selalu mendasarkan diri pada musyawarah untuk mufakat dan tentunya
mendapat dukungan seluruh bangsa Indonesia.

Golongan Fungsional

Sebenarnya golongan fungsional ini jauh sebelum kemerdekaan sudah ada. Pada
masa kolonial Hindia Belanda, wakil golongan ini duduk dalam Volksraad, yaitu
semacam parlemen. Di masa pendudukan Jepang, golongan ini duduk dalam Komite
Nasional Indonesia Pusat, yang mewakili golongan etnis Eropa, Tionghoa, Arab dan 78
wakil buruh dan tani. Pengangkatan wakil-wakil golongan ini sudah menjadi bahan
diskusi yang hangat antara KNIP dan Presiden pada waktu itu.

Eksistensi golongan ini diakui dalam pasal 2 (1) Undang-Undang Dasar 1945,
yang mana dikatakan bahwa anggota MPR terdiri dari anggota DPR ditambah utusan-
utusan daerah dan golongan-golongan. Hanya saja perkembangan golongan fungsional
ini secara bertahap seperti yang terlihat pada Golongan Karya sekarang ini.

Berbicara masalah golongan fungsional berarti tidak dapat tidak membicarakan


gagasan Sebenarnya gagasan golongan fungsional telah dikemukakan oleh Soekarno
pada tahun 1930-an dalam perdebatan dengan golongan Islam.

“ Seandainya tuan menjadi pemerintah disalah satu negeri yang saya sebutkan
tadi, niscaya tuan, menurut kehendak asas demokrasi itu, mengadakan suatu badan
perwakilan rakyat yang di situ duduk utusan-utusan dari seluruh rakyat, zonder
membeda-bedakan keyakinan. Utusan-utusan dari kaum Kristen, dari kaum yang tiada
agama, dari kaum intelktual, kaum dagang, kamu tani, kaum buruh, kaum pelayaran,
pendek kata utusan-utusan dari seluruh tubuhnya bangsa, dari seluruh tubuhnya natie.?

Sebenarnya berkaitan dengan masalah demokrasi parlementer, Soekarno sejak


dahulu menunjukkan ketidaksukaannya. Hal itu ditulis pada majalah politik Fikiran
Ra’jat tahun 1932, dengan judul ”Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi”. Soekarno
mengatakan bahwa marhaenisme bukanlah suatu turunan belaka dari praktek demokrasi
Barat, yang pada waktu itu hangat-hangatnya dibicarakan orang. Dimatanya, demokrasi
semacam itu tidak membawa perbaikan sedikit pun bagi kehidupan kaum Marhaen, baik
ini secara politis maupun ekonomis. Hal itu juga menguntungkan kaum borjuis dan
berarti juga melestarikan eksitensi kapitalisme dan imperialisme di Indonesia.

Partai Pelopor

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 119


Email: mr.kasenda@gmail.com
Sebagaimana suatu negara yang berlandaskan demokrasi setidak-tidaknya
mempunyai partai dan perwakilan rakyat. Untuk mencegah digunakan demokrasi
parlementer dalam berbangsa dan bernegara, Soekarno menawarkan suatu partai
polopor atau tunggal. Gagasan partai semacam ini pernah dikemukakan dalam
risalahnya “Mencapai Indonesia Merdeka,” sebagai partai revolusioner bagi kaum
Marhaen, yang mampu memberikan kepemimpinan dan arah kepada aksi massa
yang akan membawa kemerdekaan.

Partai Nasional Indonesia (bukan PNI lama) yang dibentuk itu ingin dijadikan
partai pelopor. Dengan tujuan mengusahakan masyarakat adil dan makmur, sebagaimana
tercantum dalam UUD 1945. Di balik itu sebenarnya pendirian partai tunggal itu adalah
untuk mencegah terpecah-pecahnya kekuatan akibat adanya banyak partai politik.
Maklum suasana revolusioner tentu ikut mempengaruhi suhu politik pada itu.

Keinginan Soekarno merealisasikan gagasan partai pelopor sebagai satu-satunya


partai politik agar masyarakat yang majemuk ini tidak terpecah-pecah ternyata kandas di
tengah jalan dengan adanya Maklumat X, yang berdasarkan desakan oleh dan keputusan
Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat, yang memperbolehkan berdirinya
partai-partai politik, agar bisa menampung aspirasi masyarakat yang sedemikian
majemuk.

Mulailah muncul partai-partai dengan ideologi berlainan, seperti PNI (tidak


hubungan dengan partai tunggal yang digagas Soekarno), Masyumi, Partai Sosialis,
Parkindo, Partai Katolik, Partai Buruh Indonesia dan Partai Rakyat Jelata. Pada waktu itu
juga demokrasi yang berlaku di Indonesia, berubah menjadi demokrasi parlementer, yang
sebenarnya menyimpang dari UUD 1945, yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945.

Ternyata demokrasi parlementer ini hanya menimbulkan kegoncangan-


kegoncangan politik yang mengganggu kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Jatuh
bangunnya kabinet dan pergolakan-pergolakan yang terjadi di dalam Dewan Perwakilan
Rakyat serta Dewan Konsituante hasil Pemilihan Umum 1955 hanya menyudutkan
keberadaan partai politik. Arus atas maupun bawah mempersalahkan partai politik dan
menganggap sebagai bidang keladi daripada kegagalan pembangunan yang berjalan
selama ini.

Konflik yang ada ini juga berdasarkan pada stuktur masyarakat Indonesia sejak
masa pergerakan nasional telah menunjukkan adanya kecenderungan faksionalisme
berdasarkan faktor-faktor etnis, religius, ideologi, sosio-kultural dan sebagainya, begitu
kata Sartono Kartodirdjo, sejarawan terkemuka Indonesia.

Realisasi

Pertentangan antar partai politik itu menjadikan Soekarno sebagai juru bicara dari
kekecewaan dan kemuakan terhadap partai politik. Sejak 1956, Presiden sudah menuduh
partai politik di Indonesia pada waktu itu sebagai biang keladi terpecah-belahnya bangsa,

120
Peter Kasenda

dan sempat mengajak rakyat untuk mengubur partai-partai politik tersebut dalam sebuah
pidato yang amat terkenal. Dengan mengubur partai-partai politik Soekarno menganggap
bahwa bangsa Indonesia dapat kembali kepada ”rel” revolusi yang sejati dengan
semangat persatuan.

Soekarno beranggapan bahwa sistem politik yang didukungnya adalah yang


paling cocok dengan kepribadian dan budaya khas bangsa Indonesia yang konon
mementingkan kerja sama, gotong royong, dan keselarasan. Dalam retorika, Presiden
Soekarno mengecam individualisme yang katanya lahir dari liberalisme Barat.
Individualisme melahirkan egoisme, dan ini terutama dicerminkan oleh pertarungan
antarpartai.

Melalui konsepsinya Soekarno ingin menyelamatkan bangsa dan negara dari


kehancuran, Soekarno melihat hubungan elite politik dengan rakyat semakin jauh dan
tidak dapat menampung aspirasi rakyat banyak. Tidak adanya integrasi antara elite
dengan massa yang berbeda keinginan, sehingga tujuan menuju masyarakat adil dan
makmur hanya menjadi cita-cita ketimbang realitas.

Setelah konsepsi itu dikumandangkan berbagai organisasi berdatangan untuk


menyatakan dukungannya terhadap konsepsi itu. Di seantero Indonesia diadakan rapat-
rapat berbagai pihak menyambut rencana itu. Dalam hal ini PKI adalah partai politik
yang paling antusias dengan adanya konsepsi iti. Hal ini berkaitan apabila terealisasikan
konsepsi tersebut, berarti PKI ikut memainkan peranan dalam menjalankan roda
pemerintahan.

Setelah Ali Sastroamidjojo mengumumkan bahwa kabinetnya mengundurkan diri.


Berarti inisiatif berada di tangannya, Suwiryo gagal menjalankan tugasnya sebagai
formatur. Presiden Soekarno menunjukkan dirinya sebagai warga negara biasa untuk
membentuk pemerintahan – suatu kabinet ekstra parlementer darurat. Kabinet tersebut
terbentuk dengan nama Kabinet Karya di bawah seorang tokoh nonpartai, Ir Djuanda
Kartawidjaja .dan program-programnya dari Presiden Soekarno. Kabinet Djuanda
terbentuk pada bulan April 1957.

Dalam kabinet ini Masyumi dibawah Mohammad Natsir menolak masuk, bahkan
mengancam akan memecat anggotanya yang bersedia dipilih menjadi Menteri.
Sedangkan PKI tidak kebagian tempat, yang ada hanya simpatisannya saja. PNI dan NU
menyumbangkan empat anggotanya menjadi menteri. Dan dalam kabinet inilah pertama
kalinya anggota militer menjadi menteri seperti Kolonel Moh Natzir, Kolonel Dr Azis
Saleh, Kolonel Suprayogi. Melihat komposisi ini berarti kabinet ini tidak mendekati
rencana asli Soekarno.

Kemudian Kabinet Djuanda dengan memakai dasar hukum SOB membentuk


Dewan Nasional. Dewan Nasional ini tidak saja sekedar membantu Kabinet, tetapi di
dalam pandangan Presiden Soekarno merupakan refleksi masyarakat Indonesia. Oleh
karena itu Presiden Soekarno menganggap Dewan Nasional ini sudah selayaknya bila
mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada kabinet yang, menurut Soekarno, hanya

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 121


Email: mr.kasenda@gmail.com
merupakan refleksi dari parlemen. Pada tanggal 12 Juli 1957. Presiden Soekarno yang
juga menjabat sebagai Ketua Dewan Nasional, melantik badan negara yang baru itu.

Arti pembentukan Dewan Nasional itu ialah di samping untuk memperkuat


otoritas Presiden Soekarno yaitu dengan terbukanya saluran kepada kabinet, dan
memberinya forum serta alat guna memperoleh dukungan, Dewan Nasional juga
dimaksudkan sebagai tandingan buat peranan partai-partai politik, sebab Dewan Nasional
itu dengan menggunakan dasar pada golongan fungsional. Karena arti inilah TNI AD
mendukung adanya Dewan Nasional.

Ketika dibentuk Dewan Nasional di tahun 1957, wakil-wakil militer hanya


merupakan wakil-wakil ex-officio. Tetapi dengan diakui TNI sebagai golongan
fungsional pada akhir tahun 1958, maka sejak saat ini militer merupakan kekuatan politik
tersendiri di samping partai-partai politik dalam pemerintahan, yaitu sebagai golongan-
golongan fungsional.

Kendati demikian Dewan Nasional gagal menjadi satu badan yang menyaingi
parlemen dan menjadi kekuatan alternatif seperti apa yang diinginkan Soekarno.
Kekuasaan hanya sebagai badan penasehat saja. Walaupun begitu, kata Arnold
Brackman, yang mendalami masalah Komunisme di Indonesia, bahwa usul-usul Dewan
Nasional senantiasa menjadi masukan bagi Kabinet Djuanda.

Di bawah Demokrasi Terpimpin, peranan parlemen mulai merosot, dan


bersamaan dengan itu merosot pula peranan partai-partai politik. Walaupun demikian,
secara meningkat PKI memainkan peranan yang semakin mustahak di luar parlemen.
Presiden Soekarno, TNI AD dan PKI merupakan tiga kekuatan ekstra parlementer yang
penting di Indonesia. Dengan terjadinya pergolakan politik pada 1965, baik PKI maupun
Presiden Soekarno tersingkir sebagai aktor politik terpenting.

Mengenai kaitannya antara Presiden Soekarno, Demokrasi Terpimpin dan


golongan fungsional, Dr David Reeve yang membuat disertasi mengenai Golkar di
Indonesia mengatakan ,” The synthesis of Javanese traditionalism and the socialist
example can be considered the basis of Soekarno”s reappraisal of his earlier radical
collectivism and its development into argument for Guide Democracy in general and
functional group in particular.”

Sejak itu golongan fungsional yang telah berubah nama menjadi Golongan Karya
pada tahun 1964, setapak demi setapak mulai tampil dalam panggung sejarah politik.
Soeharto yang dikenal sebagai emoh partai politik merekayasa sebuah sistem yang pada
dasarnya didominasi oleh satu partai “negara”, yaitu Golkar dan dua partai sebagai
pajangan. Akhirnya golongan fungsional yang telah berubah nama ini memperoleh suara
terbanyak dalam pemilihan Umum selama 3 kali berturut-turut dalam masa pemerintahan
Soeharto. Dalam pemilihan umum akan datang dapat dipastikan mendapat suara
terbanyak berada di tangannya kembali.

122
Peter Kasenda

Kesaksian mengenai Soekarno

Ada kalanya hasil rekontruksi peristiwa telah menjadi bagian dari sejarah
kontemporer berfungsi sebagai kaca pembanding bagi ingatan pribadi dakam memahami
berbagai corak gejolak yang telah dialami. Dialog pun dapat berlangsung antara “sejarah“
– sebagai hasil rekontruksi masa lalu yang menjadi milik publik – dengan “ingatan“,
sebagai milik yang sangat pribadi. Begitu kata Taufik Abdullah.

Kenang-kenangan para pelaku sejarah, pengisah sebagai orang pertama “saya”


ataupun yang dikisahkan kepada orang lain sebagai orang ketiga “ia” selalu tampil
sebagai suara yang menjadi lebih hidup. Keakraban ini bertambah karena ingatan kepada
pengalaman yang dikisahkannya adalah ajakan untuk bersama-sama merenungkan corak
dan sifat dari riwayat hidup Presiden Soekarno.

Mangil Martowidjojo bukanlah nama asing dalam sejarah kepolisian Indonesia


yang tanpa kemauannya sendiri hadir dan berada bersama Presiden Soekarno, raksasa di
antara para pemimpin bangsa Indonesia. Sekaligus pucuk pimpinan negara dan Pemimpin
Besar Revolusi serta tokoh yang telah melukiskan dirinya sebagai Penyambung Lidah
Rakyat Indonesia.

Mangil ditugaskan sebagai pengawal pribadi Presiden Soekarno sejak proklamasi


kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 sampai dengan tanggal 16 Agustus 1967. Tugas
mengawal dan nantinya menahan Soekarno setelah jatuh dari kekuasaan dilaksanakan
oleh pasukan Satgas Pomad (Satuan Tugas Polisi Militer Angkatan Darat ) .

Sebagai Komandan Destatemen Kawal Pribadi Presiden – selama lebih dari dua
dasawarsa – Mangil praktis selalu berada di sisi Presiden Soekarno. Ia bukan hanya
menyaksikan melainkan ikut serta menghayati seluruh pengalaman presiden pertama RI
itu dalam berbagai peristiwa. Diantaranya Persitiwa 19 September 1945, Kudeta 3 Juli
1946, Agresi Militer Belanda II, Peristiwa 17 Oktober 1952, Persitiwa Cikini, Peristiwa
G-30-S dan kelahiran Supersemar.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 123


Email: mr.kasenda@gmail.com
Keinginan untuk menulis kenang-kenangan selama dekat dengan Soekarno,
baru bisa diwujudkannya setelah keluar dari Rumah Tahanan Militer di Jalan
Budi Utomo, Jakarta Pusat. Dengan berbagai macam pertimbangan dan juga
permintaan pribadi Mangil, memoar ini baru bisa diterbitkan sesudah zaman
berubah dan penguasa Orde Baru lengser. Berganti dengan Orde Baru Reformasi
dengan segala macam kebebasannya datang di Indonesia.

Peristiwa

Batu ujian kepemimpinan Presiden Soekarno terjadi dalam rapat umum di


Lapangan Ikada pada tanggal 19 September 1945. Rapat umum tersebut bisa
dianggap sebagai tantangan terhadap kekuasaan balatentara Jepang. Karena telah
diumumkan, tak mungkin dibatalkan dan bisa dianggap pengecut. Suasana tegang
terjadi, gerakan massa rakyat tidak dapat berpikir panjang atas reaksi pasukan
Jepang yang mengakibatkan pertumpahan darah.

Mangil menyaksikan penampilan penuh wibawa dan suara gemuruh yang


mengeluhkan kepemimpinan Soekarno yang disambut dengan suasana gegap
gempita. Setelah naik mimbar yang disediakan, Soekarno menyatakan bahwa
bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya dan meminta peserta
rapat umum untuk pulang. Serta bersedia sewaktu-waktu menerima perintah
untuk berjuang demi mempertahankan negara RI yang telah diproklamasikan.
Mereka pun patuh dengan perintah Soekarno dan membubarkan diri tanpa
insiden.

Pada bulan Januari 1946, ibukota republik dipindahkan ke Yogyakarta karena


pendudukan Belanda atas Jakarta. Pada tanggal 3 Januari 1946, sekitar pukul
18.00, Soekarno dan M Hatta beserta rombongan meninggalkan Jakarta menuju
Yogyakarta. Kereta Luar Biasa (KLB) yang membawa rombongan Presiden RI
hanya mengangkut dua mobil kepresidenan, merk Buick dan de Soto. KLB
meninggalkan Jakarta tanpa lampu dan dalam keadaan gelap untuk menghindari
kecurigaan pasukan Belanda. Situasi sangat mencekam dan rasa takut berganti
lega setelah KLB memasuki Stasiun Klender. Lampu-lampu mulai dinyalakan
sehingga terang benderang. Rombongan Presiden tiba di Stasiun Tugu
Yogyakarta pada tanggal 4 Januari 1946 pagi hari dengan selamat. Untuk
sementara waktu Presiden Soekarno tinggal di Pura Pakualaman sebelum tinggal
di Istana Presiden, bekas rumah Gubernur Belanda di Jalan Malioboro di depan
benteng Vredenburg.

PM Sutan Sjahrir diculik ketika menginap di Solo tanggal 27 – 28 Juni 1946


Setelah mendengar berita penculikan tersebut, tanggal 28 Juni 1946 Presiden
Soekarno mengadakan siaran radio dan menyatakan bahwa penangkapan terhadap PM
Sutan Sjahrir tersebut membahayakan persatuan. Serta meminta agar Perdana Menteri
dibebaskan. Pagi harinya Sutan Sjahrir dibebaskan dan bertemu dengan Presiden

124
Peter Kasenda

Soekarno. Ia menginap sebentar di Istana Presiden. Tidak lama kemudian segera kembali
ke Jakarta untuk menjalankan tugasnya sebagai Perdana Menteri.

Dalam waktu hampir bersamaan, Jendral Soedarsono yang meminta agar Presiden
Soekarno membubarkan kabinet. yang kemudian dikenal dengan Persitiwa 3 Juli
1946. Tetapi ketika menghadap presiden, pasukan Soedarsono tersebut dilucuti
oleh satuan pengawal presiden. Mangil dipanggil oleh Panglima Besar Sudirman
dan diperintahkan agar menjaga Jendral Soedarsono dengan ketat karena
dianggap mempunyai kekuatan batin. Sejak itu semua anggota polisi pengawal
pribadi tidak pernah boleh meninggalkan kamar Presiden Soekarno dan harus
mengelilinginya. Wajah polisi pengawal pribadi sampai kelihatan pucat-pucat
karena tidak pernah kena sinar matahari dan selalu bertugas terus-menerus di
dalam ruangan. Suatu hari Presiden Soekarno memerintahkan kepada Mangil agar
anak buahnya secara bergantian menjemur dibawah sinar matahari pagi.

Belanda melancarkan agresi militer yang kedua. Ini menjadi bencana militer
maupun politik bagi mereka walaupun saat itu mereka memperoleh kemenangan. Pada
tanggal 19 Desember 1948 Yogyakarta diduduki. Para pemimpin republik membiarkan
dirinya ditangkap dengan harapan akan membalik opini dunia. Sehingga kemenangan
militer Belanda akan berbalik menjadi kekalahan diplomatik. Soekarno, Hatta dan
seluruh anggota kabinet ditangkap. Kecuali beberapa orang yang tidak ada di tempat.
Akan tetapi tentara republik tidak dapat memahami alasan menyerahnya para politisi sipil
kepada Belanda. Sementara para prajurit mengorbankan jiwanya mereka demi republik.
Pihak tentara kini menganggap dirinya sebagai satu-satunya penyelamatan republik.

Mangil sebagai Komandan Pengawal Pribadi Presiden/Wakil Presiden mendapat


pemberitahuan dari Ajudan Presiden Mayor Sugandhi agar segera menyiapkan anak
buahnya untuk sewaktu-waktu meninggalkan istana. Dengan cepat semua anak buah
Mangil sudah siap untuk melaksanakan tugas mengawal Presiden Soekarno dan Wakil
Presiden M Hatta beserta keluarga ke mana saja. Tetapi Presiden Soekarno
memerintahkan agar Mangil beserta anak buahnya tetap tinggal di istana untuk menjaga
keamanan di dalam kompleks istana.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 125


Email: mr.kasenda@gmail.com
Indonesia akhirnya benar-benar merdeka dan sekarang menghadapi prospek
menentukan masa depannya sendiri. Parlemen menginginkan agar kepemimpinan
tentara pusat dibubarkan dan kementerian pertahanan direorganisasikan.
Menghadapi ini sekelompok tentara pusat mengadakan unjuk kekuatan. Pada
tanggal 17 Oktober 1952, mereka membawa tank-tank, alteri militer dan banyak
demontran sipil menuntut pembubaran parlemen. Soekarno yang disertai ajudan
presiden Mayor Sugandi, Kepala Polisi Jakarta Raya Komisaris Besar Polisi
Ating dan Komandan Polisi Pengawal Presiden//Wakil Presiden Mangil berbicara
kepada massa yang berkerumun dan membubarkan diri atas perintahnya sambil
berteriak” Hidup Bung Karno, hidup Bung Karno.” Menurut Mangil persitiwa
tersebut adalah sebuah kudeta yang gagal. Malah ada yang menamakannya
sebagai perkosaan terhadap demokrasi. Selanjutnya, KSAD AH Nasution
digantikan oleh Kolonel Bambang Sugeng dalam usaha pemerintah
mempersatukan Angkatan Darat.

Terjadilah persitiwa pertama rencana pembunnuhan terhadap Presiden Soekarno


saat berkunjung ke sekolah puteranya yang sedang mengadakan bazaar dan dihadiri oleh
semua orang tua murid di Perguruan Cikini – Jalan Cikini Raya, Jakarta pada tanggal 30
November 1957. Komplotan penyerang itu melempar granat-granat tangan yang meminta
korban beberapa jiwa manusia namun tidak mencederai Presiden Soekarno. Presiden
Soekarno dan para pengawalnya terus berangkat menuju Istana Merdeka dengan mobil
berkecepatan tinggi. Bahkan mobil ajudan presiden M Sabur yang mengejar rombongan
presiden hampir tidak dikenali. Sehingga laras senjata para pengawal pun diarahkan
kepada mobil tersebut. Tetapi setelah diketahui siapa yang mengejar rombongan presiden
perintah tembak dibatalkan. Oding Suhendar dan Soedibyo yang terluka ketika
melindungi presiden mendapat penghargaan dari Presiden Soekarno dalam acara hari
ulang tahun Kepolisian Negara RI.

Peristiwa pertama 1 Oktober 1965, Mangil menyelamatkan Presiden Soekarno


dari sergapan komplotan Gerakan 30 Setember yang sudah berhasil mengepung Istana
Merdeka. Skenario komplotan G-30-S menjadi berantakan, ketika Mangil selaku
Komandan Destasemen Kawal Pribadi (DKP) Resimen Tjakrabirawa, justru tidak
membawa Presiden Soekarno masuk ke komples Istana Merdeka karena adanya sejumlah
tentara yang tidak dikenal identitasnya. Melainkan dari kediaman Dewi Soekarno tempat
Presiden Soekarno bermalam, Mangil membawa Presiden Soekarno singgah sebentar di
rumah Haryati Soekarno, kemudian langsung mengantar Presiden Soekarno ke Pangkalan
Angkatan Udara Halim Perdanakusuma. Peristiwa kelabu ini ternyata menjadi titik balik
kekuasaan Presiden Soekarno.

Pada tanggal 10 Maret 1966 malam, Presiden Soekarno merasa dirinya terancam
dengan informasi akan datangnya pasukan tank ke Istana Merdeka dengan maksud untuk
menangkap atau membunuh presiden. Presiden Soekarno pada saat itu siap meninggalkan
istana kendati dengan berjalan kaki. Presiden Soekarno meninggalkan Istana Merdeka
dengan tujuan Istana Bogor dengan mobil dan dikawal oleh tim Dinas Khusus DKP.
Rombongan Presiden Soekarno yang disertai ketiga wakil Perdana Menteri singgah
sebentar di markas KKO Cilandak sebelum menuju Istana Bogor. Pagi harinya,

126
Peter Kasenda

rombongan Presiden Soekarno kembali ke Jakarta. Ajudan presiden M Sabur mengatakan


keadaan sudah memungkinkan Presiden kembali ke Jakarta.

Apa yang menyebabkan malam itu Presiden Soekarno harus meninggalkan Istana
Merdeka menuju Istana Bogor dengan lewat jalan kampung? Menurut Brigadir Jendral M
Sabur situasi malam itu di Jakarta tidak baik bagi keamanan Presiden Soekarno. Demi
keamanan maka Presiden Soekarno malam itu harus meninggalkan Jakarta dan jalan yang
ditempuh adalah kampung. Itu adalah keputusan Komandan Tjakrabirawa yang diserahi
tanggung jawab oleh pemerintah mengenai keamanan dan keselamatan Presiden beserta
keluarganya.

Pada tanggal 11 Maret 1966, pagi-pagi sekali Presiden Soekarno sudah berangkat
dari Istana Bogor menuju Istana Merdeka di Jakarta, karena Presiden Soekarno harus
memimpin sidang kabinet. Setelah itu langsung menuju Istana Negara untuk menghadiri
sidang kabinet Presiden berjalan kaki menuju Istana Negara diiringi Brigjen M Sabur,
Mangil Martowidjojo dan beberapa anak buah Destasemen Kawal Presiden.

Ada informasi yang disampaikan kepada Komandan Resimen Tjakrabirawa


bahwa banyak tentara liar yang tidak memakai tanda dari kesatuannya di lapangan sekitar
Monas yang letaknya tidak begitu jauh dari Istana Merdeka, tempat helikopter
kepresidenan di parkir. Komandan Resimen Tjakrabirawa Brigjen M Sabur segera
memerintahkan perwira bawahannya untuk mengecek kebenaran informasi yang baru
saja diterimanya. Setelah perwira yang ditugaskan itu kembali dan melapor bahwa tentara
yang dikatakan liar itu ternyata dari kesatuan RPKAD. Brigjen M Sabur masuk ke Istana
Negara untuk berunding dengan Panglima Kodam V Jaya dan penanggung jawab
keamanan DKI Jakarta Raya Jendral Amir Machmud yang sedang mengikuti sidang
kabinet. Hasil pembicaraan kedua jendral tersebut memutuskan agar Presiden Soekarno
lebih baik meninggalkan Istana Negara menuju Istana Bogor dengan helikopter.

Atas saran kedua jendral itu Presiden Soekarno meninggalkan ruang sidang
kabinet di Istana Negara menuju ke Istana Bogor dengan menggunakan
helikopter. Jadi tidak benar adanya anggapan bahwa Presiden Soekarno
meninggalkan sidang kabinet di Istana Negara dengan ketakutan karena adanya
tentara liar di sekitar lapangan Monas. Sebab helikopter yang akan dinaiki
Presiden Soekarno justru dekat sekali dengan jarak tembak tentara liar itu. Justru
Presiden Soekarno tetap tenang-tenang saja kata Mangil Martowidjojo.

Berpisah

Setelah 22 tahun mengawal Presiden Soekarno terjadi serah terima dari Ajun
Komisaris Besar Polisi Mangil Martowidjojo kepada Komandan Satgas Pomad CPM
Norman Sasono pada tanggal 16 Agustus 1967. Kemudian Mangil Martowidjojo
menghadap Presiden Soekarno di kediaman Dewi, Wisma Yaso, Jalan Gatot Subroto,
Jakarta Selatan. Ia melapor bahwa mulai hari itu ia tidak lagi bertugas untuk mengawal
Presiden Soekarno.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 127


Email: mr.kasenda@gmail.com
Presiden Soekarno mengundang Mangil dan anak buahnya untuk menghadiri
selamatan untuk memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik
Indonesia di Istana Bogor. Pada hari itu hadir Mangil dan bekas anak buah eks DKP
Presiden Soekarno dan para anggota CPM yang betugas di Istana Bogor. Presiden
Soekarno memberi petuah kepada semua orang yang hadir agar mereka semua tetap bisa
menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang kokoh, kekal, dan abadi. Supaya
tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada
tanggal 17 Agustus 1945 dan yang berdasarkan Pancasila.

Sejak tanggal 17 Agustus 1967, Mangil tidak pernah lagi bertemu dengan
Presiden Soekarno. Bahkan ketika Presiden Indonesia yang pertama tersebut meninggal
pada tanggal 21 Juni 1979, Mangil harus meringkuk dalam kamp tahanan militer. Selama
tiga tahun Mangil diperiksa dan diinterogasi dengan tuduhan terlibat dalam peristiwa G-
30-S. Jabatan dan kehormatannya sebagai anggota polisi dipulihkan setelah dinyatakan
tidak terlibat. Sampai akhirnya dipensiunkan dalam pangkat militer terakhir letnan
kolonel polisi dari Korps Polisi Mobil.
Mangil sangat menghargai dan mengagumi perjuangan Presiden Soekarno.
Mangil bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesempatan
kepada dirinya untuk mengabdikan diri kepada negara dan bangsa Indonesia, melalui
tugas mengawal, menjaga keamanan dan keselamatan Presiden Soekarno dan
keluarganya. Atas jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara Indonesia yang dilakukan
lewat penugasan mengawal Presiden Soekarno, hari Jum”at 29 Januari 1993, ditengah
siraman hujan lebat jenzah Letnan Kolonel Polisi Mangil Martowidjojo dimakamkan
dengan upacara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan, Jakarta Selatan.

128
Peter Kasenda

Soekarno, Wayang dan Ratu Adil

Buku Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan yang diterbitkan oleh LP3ES tahun
1987, semula diajukan sebagai disertasi untuk memperoleh gelar doktor dari
Universitas Kiel, Jerman Barat tahun 1964. Tahun 1965 naskah ini diterbitkan
sebagai buku dalam bahasa Jerman. Kemudian tahun 1966 dalam bahasa Belanda
dan tahun 1969 dalam bahasa Inggris oleh Cornell University Press. Sebagian
besar isi buku didasarkan pada hasil penelitian di berbagai perpustakaan dan arsip
Belanda pada tahun 1960-1963 dengan sedikit koreksi dan perubahan. Tahun
1966 Bernhard Dahm berkunjung untuk pertama kalinya setelah edisi Jerman dari
karya ilmiah ini diterbitkan pada permulaan tahun1965. Ia menemui tokoh yang
menjadi pusat perhatian bukunya, yaitu Presiden Soekarno.

Kunci yang dipakai Bernhard Dahm adalah Mitologi Jawa. Soekarno tidak pernah
mencoba meyakinkan rakyat bahwa dirinya adalah Messiah yang dijanjikan pada
zaman genting. Tetapi tindak-tanduknya, desas-desus yang tersebar, harapan yang
dibebankan pada dirinya ikut membentuk kepercayaan rakyat bahwa ia memiliki
kemampuan luar biasa. Ia mampu menjelaskan usaha kemerdekaan dengan
menggunakan bahasa mitos Jawa yang mudah dipahami. Adanya Sindrom
Jayabaya. Kepercayaan Soekarno yang mendasar tentang semacam gerak sejarah
yang siklus. Kekuasaan-kekuasaan asing di Indonesia, baik Belanda maupun
Jepang, dipandang sebagai suatu fenomena peralihan “tak terlelakan lagi” yang
akan diakhiri oleh Ratu Adil.

Ratu Adil

Bernhad Dahm mengawali tulisannya dengan berkisah apa yang terjadi pada hari
Minggu.,10 Februari 1924. Ada sekitar empat puluh orang Jawa berpakaian serba
putih bergerak dari Tanggerang menuju Batavia. Kajah, yang memimpin
rombongan dengan badan penuh jimat disergap dan diringkus polisi. Para
pengikutnya balik menyerang polisi secara membabi-buta denagn golok dan
kelewang. Dalam tempo singkat, jatuh korban yang bergelimpangan mati dan
luka-luka. Kajah berhasil melepaskan diri tapi ditembak mati ketika berusaha
menembus kepungan musuh untuk bergabung kembali dengan para pengikutnya.
Kerusuhan semacam itu seringkali melibatkan kepercayaan orang Jawa mengenai
ramalan munculnya Ratu Adil yang akan mendirikan sebuah kerajaan yang
sejahtera. Rakyatnya akan hidup makmur, bebas dari pajak, memiliki rumah
tembok dan sebagainya. Didesas-desuskan bahwa Jayabaya berada di balik itu
semua. Jayabaya adalah seorang raja dan peramal yang meramalkan bencana dan
penghinaan yang akan dialami oleh orang-orang Jawa sebelum mereka
memperoleh kekuasaan dan dihormati. Ia melihat silih berganti masa yang
bahagia dan tidak bahagia bagi pulau Jawa sampai tahun 2000, pada waktu mana
sejarah Jawa mencapai puncak akhirnya atau keagungannya.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 129


Email: mr.kasenda@gmail.com
Sebagai akibat dari sistem tanam paksa produk-produk tertentu ( Culturstelsel)
yang menindas ini meletakkan dasar bagi spekulasi dan antipasi akan tibanya
Messias. Guru-guru yang berkeliling mengumumkan akan segera tibanya Ratu
Adil dan memberikan penjelasan kepada rakyat tentang bagimana ia harus
disambut. Mereka memberikan arti yang sangat penting kepada gempa bumi,
letusan gung berapi, dan bencana-bencana alam lainnya sebagai suatu pertanda.

Tahun 1912 di kalangan massa rakyat Jawa yang tidak berpendidikan dan masa
bodoh secara politik muncul perkembangan yang tiada taranya dalam sejarah pergerakan
kemerdekaan modern. Puluhan ribu anggota baru berduyun-duyun memasuki Sarekat
Dagang Islam (SDI), yang tadinya dibentuk untuk melawan kekuasaan tengkulak-
tengkulak Tionghoa di Jawa. Setelah diubah menjadi Sarekat Islam (SI), jumlah anggota
barunya mencapai ratusan ribu dalam tempo satu tahun .

Perhatian semula dipusatkan kepada pemimpin Sarekat Islam HOS


Tjokroaminoto yang semakin menonjol. Di mana pun Tjokroaminoto tampil di muka
umum, kerumunan massa berebutan untuk menyentuh pakaiannya. Mereka terpesona
oleh cara ia mengecam status quo. Mungkinkah ia Prabu Heru Tjokro, Ratu Adil
tradisional, yang sudah lama dinanti-nantikan itu ? Apakah bukan suatu isyarat bahwa
pada tahun 1882, tahun kelahiran Tjokroaminoto, terjadi letusan gunung Karakatau
sebagai peristiwa tersebar dalam sejarah Jawa? Menurut ramalan kedatangan Messias
akan dipermaklumkan oleh bencana-bencana alam. Dengan menfaatkan spekulasi yang
meluas, para propagandais SI menjanjikan kepada rakyat – sebagai ganjaran atas tindakan
mereka bergabung dengan gerakan itu – antara lain, rumah-rumah tembok, kemakmuran,
kebebasan dari pajak dalam tradisi Ratu Adil. Bahkan penerimaan anggota-anggota baru
di berbagai cabang SI dilakukan menurut rumus-rumus tradisional untuk menyambut
Ratu Adil. Secara berangsur-angsur pemimpin-pemimpin SI berusaha memperkenalkan
Sosialisme sebagai wahana baru bagi gagasan tentang Ratu Adil itu. Dengan demikian, SI
melepaskan diri dari pesona Jayabaya tetapi kehilangan arti penting mistisnya dalam
pandangan massa, Jayabaya hanya akan hidup kembali apabila kemerdekaan nasional –
dan dengan itu menentukan segala keinginan akan hal-hal kebendaan – kembali dijadikan
tema perjuangan oleh sebuah partai kerakyatan dan seorang pemimpin yang menyerupai
Messias. Tetapi tugas itu tidak diemban oleh SI dengan pemimpinnya Tjokroaminoto
melainkan oleh Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan pemimpinnya.

Wayang

Tema-tema wayang seperti Mahabharata dan Ramayana dimanfaatkan dalang dan


kaum nasionalis untuk mengungkapkan aspirasi-aspirasi mereka sendiri dengan bahasa
yang bisa dimengerti oleh setiap orang Jawa. Kusno – nama kecil Soekarno – sejak dini
sudah diperbolehkan menonton pertunjukan wayang yang berlangsung semalaman.
Soekarno kecil dididik malam demi malam di depan layar. Sebagaimana ia juga
ditumbuhkan oleh gagasan tentang Ratu Adil, hasrat akan kemerdekaan dihidupkan terus
oleh wayang. Ia menyaksikan Bharata Yudha yang mengisahkan perjuangan kaum
Pandawa melawan kaum Kurawa. Kedua pihak berebutkan kerajaan Ngastina yang
dikuasai oleh kaum Kurawa yang merupakan hak kaum Pandawa.

130
Peter Kasenda

Sosok Bima merupakan pahlawan yang saleh dari tradisi Jawa. Orang kedua dari
Pandawa bersaudara ini ditampilkan sebagai seorang yang tak kenal ampun dan
tak kenal kompromi. Tetapi ia tetap bersedia untuk berkompromi dengan orang-
orang di dalam barisannya sendiri yang bersedia tunduk kepada tatanan yang
sama. Besar kemungkinan bahwa tokoh Bima dengan sikapnya yang tak kenal
kompromi terhadap seperjuangannya mengesankan Kusno muda dibandingkan
dengan tokoh-tokoh wayang lainnya. Di samping Bima, Karna menjadi panutan
Soekarno. Raden Sukemi menginginkan putranya menjadi seorang Ksatria yang
akan mengabdi pada tanah air. Ia mengubah nama Kusno menjadi Soekarno.
Soekarno berasal dari Karna adalah seorang pahlawan terbesar dalam cerita
Mahabharata. Karna adalah pejuang bagi negaranya dan seorang patriot yang
sakti.

Ketika Soekarno memasuki Sekolah Eropa, ia menjadi korban prasangka sosial. Ia


selalu membela kehormatan bangsanya setiap kali terjadi pertengkaran, Di sini
apa yang dilukiskan dalam dunia pewayangan mengenai hubungan antara
penguasa dan dikuasai telah menjadi jelas dengan cara menyakitkan hati
Soekarno. Soekarno sudah mulai percaya dalam janji yang terkandung dalam
dunia pewayangan dan sadar bahwa kemenangan berada di pihaknya jika ia cukup
kuat untuk mengejar cita-cita tanpa ragu-ragu.

Setelah tamat sekolah dasar, Soekarno memperoleh kesempatan untuk


melanjutkan studinya di Surabaya dan menumpang di rumah HOS
Tjokroaminoto. Soekarno diterima oleh Tjokroaminoto yang waktu itu belum
kehilangan sedikit pun respek dari penduduk seluruh pulau Jawa terhadap dirinya.
Tjokrominoto bukan seorang pendekar yang menghantam tatanan yang berlaku. Ia
masuk penjara atas dakwaan melakukan sumpah palsu. Bukan karena ia melawan
pemerintah kolonial. Ia sama sekali bukan seorang Kstaria dari cerita wayang
yang tidak ragu-ragu untuk mempertaruhkan nyawanya karena tahu bahwa
kemenangan berada di pihaknya. Tapi ia menempatkan dirinya di tengah orang-
orang lainnya yang menantikan kedatangan Messias walaupun massa
memandangnya sebagai pengemban gagasan Ratu Adil. Sebaliknya ia
mengatakan Ratu Adil akan muncul dalam wujud sosialisme.

Ketika Soekarno menjadi mahasiswa di Bandung, dia berkenalan dengan dua


pandangan yang berbeda secara mendasar satu sama lain mengenai sikap terhadap rezim
kolonial; sikap pasif yang diambil Tjokroaminoto yang menantikan kemenangan
sosialisme dan sikap militan pada diri Tjipto Mangunkusumo, gurunya di Bandung.
Walaupun telah pernah hidup bertahun-tahun dalam pembuangan, Tjipto Mangunkusumo
berulang-ulang berseru kepada pengikut-pengikutnya agar punya keberanian
mempertahankan keyakinan mereka berjuang untuk tanah air kaum Pandawa.

Soekarno menemukan kembali bahasa para Ksatria ketika ia masih kecil. Serta
lebih meyakinkan baginya daripada harapan yang meragukan menjadi kenyataan dari
penganut kepercayaan kepada Ratu Adil di sekitar Tjokrominoto. Perbedaan apapun yang

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 131


Email: mr.kasenda@gmail.com
terdapat antara guru-guru Soekarno, Tjokroaminoto dan Tjipto Mangunkusumo sama-
sama menghendaki adanya suatu front persatuan di pihak kaum Pandawa. Perpecahan
antara Sarekat Islam (SI) dan Partai Komunis Indonesia (PKI) membayangi Soekarno.
Setelah menyekesaikan studinya pada bulan Juni 1926. Soekarno berjuang memulai
usahanya untuk mempersatukan pergerakan untuk kemerdekaan Indonesia di bawah panji
non-kooperasi.

Soekarno mengenal semua aliran politik dalam pergerakan Indonesia dan


memiliki kualifikasi yang ideal bagi tugas menciptakan persatuan tanpa harus berhadapan
dengan perlawanan yang sengit dari pihak manapun Sebab sumbernya dapat ditelusuri
pada salah satu dari ketiga aliran politik yang mendasarinya – Nasionalisme, Islamisme,
atau Marxisme. Kuartal keempat 1926 – sekitar tiga bulan setelah ia menyelesaikan
studinya – Soekarno menulis dalam majalah Studieclub Bandung Indonesia Moeda.
Artikelnya yang pertama dari serangkaian artikel mengenai “ Nasionalisme, Islamisme
dan Marxisme ’ menyeruhkan kerjasama yang lebih erat di antara ketiga golongan itu.
Dalam tempo kurang dari satu setengah tahun, Soekarno telah dapat menyelesaikan usaha
pemersatuannya. Mula-mula dalam teori lalu dalam praktek dan telah menciptakan
“negara dalam negara “. SI pernah berusaha melakukan hal yang sama, tetapi tidak
berhasil karena jelas-jelas dirintangi oleh :sekutu-sekutu Barat: yang tidak memahami
“cara penyelesaian gaya Indonesia ” Setelah PKI dilarang front persatuan dibentuk tanpa
mengalami kesulitan yang berarti.

Soekarno tidak puas dengan hanya “negara dalam negara” sebutan untuk federasi.
Ia bermaksud untuk membentuk sebuah : barisan kulit berwarna” dengan Permufakatan
Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Soekarno berbicara
mengenai pertentangan kepentingan antara rakyat yang dijajah dan orang kulit putih yang
menjajah mereka Ini merupakan seruan untuk Bharata Yudha pertarungan kaum Pandawa
dan kaum Kurawa setelah selesai dengan tugas pemersatuannya. Dengan cara yang ideal,
Soekarno telah mempersatukan usaha Tjokroaminoto yang tak kenal lelah menciptakan
persatuan di dalam barisannya sendiri dan sikap tegas Tjipto Mangunkusumo yang
menentang kekuatan asing. Soekarno seperti Tjokroaminoto yang menafsirkan Ratu
Adil, mula-mula sebagai “kemerdekaan” kemudian sebagai “partsisipasi dalam
penerintahan“ dan akhirnya sebagai “kedatangan sosialisme“ .

Perpecahan yang terjadi di kalangan nasionalis Indonesia pada saat Soekarno


sedang ditahan. Tetapi disintegrasi dalam tubuh PPKI hanya menambah kepopulerannya.
Di kalangan rakyat terdengar hal itu tidak akan terjadi di bawah pimpinan Soekarno.
Upayanya yang tak kenal lelah untuk mencapai kompromi telah menyebabkan ia
dipandang sebagai simbol persatuan. Soekarno memperbandingkan dirinya dengan
Kokrosono, seorang tokoh dari dunia pewayangan yang menjalani hidup sebagai pertapa.
Ia sekaligus merasa bahagia dan sedih – bahagia karena ia telah berhasil memperoleh
senjata ajaib Nanggala dan sedih karena ia telah telah terpaksa menyaksikan dari jauh dua
orang anaknya dalam bahaya besar. Perpecahan itu berarti menjadi lemahnya pergerakan.
Soekarno berjanji mempersatukan Partindo dan PNI-Baru. Tetapi senjata Nanggala yang
ampuh itu tak mempan lagi jika rakyat sudah tidak percaya lagi padanya. PNI-Baru
dibawah Sutan Sjahrir tidak berbicara “salah mengerti” sebagaimana dikatakan Soekarno,

132
Peter Kasenda

melainkan mengenai “perbedaan di dalam hakekat dan tujuan pekerjaan“ antara kedua
partai tersebut.

Tahun Jagung

Dalam kuartal ketiga 1941, Soekarno tidak sendirian dalam “kepuasan jiwanya”,
yang telah membuatnya yakin bahwa perang tak lama lagi akan pecah di Pasifik. Rakyat
Indonesia mempunyai keyakinan yang sama kuatnya bahwa orang-orang Jepang akan
tiba. Keyakinan itu tidak didasarkan atas “kompetensi teori Marxis“ dalam soal-soal
politik. Tapi pada ramalan Jayabaya seperti halnya dalam tahun 1929 tentang akan
datangnya orang-orang kate berkulit kuning dari Utara. Bulan Maret 1942 balatentara
Jepang merebut Pulau Jawa tanpa perlawanan berarti dari Belanda. Mereka mendapat
sambutan yang begitu hangat tak mereka perkirakan sebelumnya. Tetapi ini harapan yang
berlebihan di kalangan nasionalis. Sebab balatentara Jepang tidak bermaksud
membebaskan Indonesia tetapi menduduki untuk kepentingan perangnya.

Bagi Soekarno pendudukan Jepang memberi satu kesempatan yang unik untuk
mewujudkan suatu cita-cita yang lama tidak bisa dicapai di bawah dominasi
Barat.”Nippon mengasih kans kepada kita” katanya berulang-ulang di dalam pidato-
pidatonya yang pertama di masa pendudukan. Alasan-alasan Soekarno bekerjasama
dengan orang-orang Jepang cukup kuat untuk mengorbankan “antusiasme baru“ itu yakni
“ (1) Mereka mempunyai musuh bersama;(2) Ada kesempatan untuk membangkitkan
kesadaran rakyat; (3) Ada kesempatan untuk membentuk sebuah barisan persatuan; dan
(4) Ada kesempatan untuk melakukan agitasi. Sekarang, Soekarno adalah kooperator
yang ingin bekerja sama dalam suatu patnership yang sejati dengan orang-orang Jepang
yang ia lakukan dari awal sampai akhir masa pendudukan.

Soekarno berusaha untuk membangkitkan perasaan anti-Jepang dengan


menggunakan contoh dari mitos-mitos karena ia tidak tahu ada manfaatnya untuk
memperbesar ketidakpuasan di kalangan rakyat. Baru di hari-hari terakhir sebelum
Jepang menyerah, ketika ia merasa pasti bahwa, “Tahun jagung“ – istilah yang digunakan
untuk melukiskan zaman kekuasaan orang-orang Jepang – sedang mendekati akhirnya ia
kembali menggunakan cara berjuangnya yang sudah teruji dari zaman kolonial Belanda.

Ketika diumumkan pembentukan BPUPKI, Soekarno dengan terang-terangan


berkata ia sudah tidak sabar lagi menantikan tibanya hari kemerdekaan. Tetapi sekarang
yang diberikan hanyalah panitia penyelidik, Soekarno mengemukakan pendapatnya
bahwa alasan Jepang untuk tidak memerdakan Indonesia : kekayannya. Orang-orang
Jepang juga harus mendengar bahwa kemerdekaan bukan “soal secarik kertas,”
melainkan soal survival of the fittest – bahwa pada dasarnya rakyat Indonesia tidak
menggantungkan diri kepada persetujuan yang tak kunjung datang. Soekarno menutup
pidato radionya yang luar biasa itu dengan semboyan perjuangan lama dari pergerakan
kemerdekaan Indonesia “ Rawe-rawe rantas, malang-malang puntung ,”

Pada tanggal 1 Juni 1945 hari terakhir sidang BPUPKI yang dimulai tanggal 28

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 133


Email: mr.kasenda@gmail.com
Mei. Soekarno mengucapkan pidatonya mengenai Pancasila. Pidato ini benar-benar
merupakan puncak sidang. Dampaknya terhadap ke-62 anggota mewakili semua lapisan
masyarakat tampak jelas. Soekarno mengatakan bahwa negara Indonesia yang akan
dibentuk nanti akan didasarkan atas lima asas (1) Kebangsaan ; (2) Internasionalisme
(atau peri-kemanusian); (3) demokrasi (dalam arti mufakat) ; (4) keadilan sosial; dan (5)
kepercayaan kepada Tuhan. Kelima prinsip itu sudah hidup selama berpuluh-puluh tahun
dalam pergerakan Indonesia. Gagasan nasionalisme dalam berbagai partai nasionalis,
gagasan internasionalisme yang berkeprikemanusian di kalangan golongan Islam dan
komunis; gagasan demokrasi dalam pengertian mufakat yang mewakili semua golongan
minoritas ; harapan akan keadilan sosial di kalangan Marxis, dan akhirnya, kepercayaan
pada Tuhan, di kalangan golongan–golongan agama dan mereka yang “mermerlukan“
Tuhan.

Tahun 1926 landasan bersama itu adalah nasionalisme yang selebar dan seluas
udara yang memberi tempat bagi semua mahluk hidup. Dalam tahun 1932 landasan
bersama itu adalah Marhaenisme yang merupakan upaya menarik sebanyak mungkin
golongan ke dalam. Kesibukannya mendalami ajaran Islam, Soekarno menemukan suatu
rumusan yang tidak kurang sederhananya. “Islam adalah satu agama yang luas yang
menuju kepada persatuan manusia Akhirnya tahun 1945 Pancasila-lah yang hendak
memberikan satu landasan bersama bagi semua aliran politik tidak lagi terbatas di Jawa
melainkan mencakup seluruh Indonesia. Rumusan dari tatanan baru ini adalah “Bhinneka
Tunggal Ika: (berbeda satu juga) adalah rahasia kebesaran bangsa-bangsa yang dijelaskan
oleh Soekarno ketika untuk pertama kalinya mencanangkan semboyan dari Mpu
Tantular.

Semua hal adalah satu adalah kearifan yang paling dalam dari filsafat Jawa.
Sukarno telah menemukan persatuan yang dicarinya, persatuan yang tidak lagi dapat
diungkapkan dengan istilah-istilah Barat. Ia telah menemukannya di dalam kebudayaan
sendiri, yang rupa-rupanya mempunyai pengertian yang lebih besar untuk upaya
semacam ini.

Justus Van der Kroef menganggap bahwa Bernhard Dahm mengambil dari
tulisan-tulisan atau pernyataan-pernyataan tertulis Soekarno hal-hal yang dapat
menyokong suatu pndekatan mitologi yang terlebih dahulu dibangun oleh Dahm sendiri.
Terlepas dari kritik itu, sumbangan Bernhard Dahm yang terbesar terletak pada
keberhasilan menunjukkan betapa pentingnya pengaruh kebudayaan politik Jawa dalam
proses sosialisasi politik dan perkembangan intelektualitas Soekarno. Melalui buku ini
orang akan lebih mengerti bahwa penelitian mengenai proses perkembangan politik
Indonesia akan sangat kurang sempurna bilamana unsur kebudayaan politik Jawa ini
ditinggalkan sama sekali.

134
Peter Kasenda

Tragedi Anak Asuh HOS Tjokroaminoto


Soekarno, Musso dan M Kartosuwirjo

HOS Tjokroaminoto tokoh Sarekat Islam yang konon mempunyai pengikut


sejumlah dua juta orang itu. Pada dekade kedua abad ke-20, dianggap sebagai lambang
perlawanan nasionalisme. Adalah wajar kalau kediamannya sering dikunjungi tokoh-
tokoh nasionalisme Indonesia, seperti Agus Salim, Ki Hajar Dewantara dan Hendrikus
Sneevliet. Kalau boleh menggunakan istilah yang digunakan John D Legge, orang-orang
yang sering berkunjung ke rumah Tjokroaminoto adalah merupakan – apa dan siapa –
awalnya nasionalisme Indonesia.

Di kediaman Tjokroaminoto itulah Musso dan Soekarmo mondok dan banyak


belajar tentang politik. Ketika itu kemasyuran Tjokroaminoto sedang mencapai
puncaknya, Soekarno bukan hanya belajar politik, malahan ia menjadi menantu tokoh
Sarekat Islam itu. Lewat pernikahan dengan putri sulungnya, Utari. Sebenarnya
pernikahan itu sama sekali bukan saja berdasarkan saling cinta, tetapi dapat dikatakan
merupakan lambang hubungan yang erat dengan sang pelindung. Ada dugaan
Tjokroaminoto menginginkan Soekarno agar sebagai pewaris kepemimpinannya di
Sarekat Islam.Tetapi, pernikahan itu tidak berlangsung lama dan bersamaan dengan itu
telah terjadi perbedaan pandangan politik dengan sang pelindung. Menurut pengakuan
Soekarno, disebabkan ia lebih mengutamakan kebangsaan sebagai landasan perjuangan,
sedangkan Tjokroaminoto berjuang demi Islam. Keyakinan itu diperoleh Soekarno ketika
ia berada di Bandung sebagai mahasiswa Techniche Hogere School (Sekolah Teknik
Tinggi) di mana ia berkenalan dengan Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker., yang
merupakan pentolan dari Indische Partij yang memudian berubah nama menjadi National
Indische Partij.

Pada waktu Tjokroaminoto ditangkap sehubungan dengan terjadinya peristiwa


“Afdeling B“ di Garut pada tahun 1921, Soekarno kembali ke Surabaya, bekerja sebagai
klerk di Stasiun Kereta Api untuk meringankan beban keluarga Tjokroaminoto.
Sedangkan Musso yang terlibat dalam peristiwa “Afdeling B” dan dipenjara, walaupun
begitu ia secara tegas menolak memberi keterangan apa pun berkaitan dengan
Tjokroaminoto dalam hubungan dengan SI “Afdeling B”. Dan di balik penjara ini ia
mendapat pelajaran politik tentang komunis secara intensif. Tetapi walaupun demikian
bukan berarti ia langsung menaruh simpati dengan PKI. Dalam pertentangan Semaun
melawan Hadji Agus Salim/Abdul Muis, Musso masih menaruh hormat terhadap
Tjokroaminoto.

Pada tahun 1926, ketika pemerintah Hindia Belanda memutuskan menangkap


Musso, tetapi ia menghilang. Ternyata Musso kabur ke Singapura. Kemudian ia bersama

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 135


Email: mr.kasenda@gmail.com
Alimin ke Moskaw untuk membicarakan Keputusan Prambanan, setelah Tan Malaka
sebagai wakil Comintern yang diterima Alimin di Manila, menolak keputusan PKI
mengadakan pemberontakan (Keputusan Prambanan). Di sana mereka berdua mendapat
jawaban dari Stalin, tidak diperkenankan mengadakan pemberontakan. Bahkan keduanya
dipersilahkan tinggal selama tiga bulan untuk mendapat indoktrinasi kembali atas teori
perjuangan revolusioner. Akhirnya mereka disuruh pulang dengan membawa keputusan,
bahwa Stalin melarang PKI mengadakan pemberontakan. Tetapi ketika mereka dalam
perjalanan pulang ke Indonesia. Pemberontakan meletus pada bulan November 1926 di
Jawa Barat dan Sumatra Barat pada tahun 1927. Akibatnya PKI dibubarkan dan semua
aktivisnya dibuang. Akibatnya Musso kembali ke Uni Soviet untuk sekolah lagi sebagai
petugas “ Comintern “.

Berbeda dengan Soekarno dan Musso pada waktu Kartosuwiryo tinggal di


kediaman Tjokroaminoto pada tahun 1927, kedudukan Tjokroaminoto di dalam gerakan
nasionalis berubah. Ia bukan lagi tokoh dari Partai Islam yang besar (Sarekat Islam), yang
mampu mempersatukan rakyat dari keyakinan Islam, Komunis, dan Nasionalis, tetapi
hanya menjadi tokoh dari Partai Islam yang kecil (Partai Sarekat Islam Indonesia). Kini,
Soekarno bertindak sebagai juru bicara utama dari gerakan perlawanan Nasionalisme
Indonesia. Ia telah mengambil alih kedudukan Tjokroaminoto.

Kalau Soekarno dengan Tjokroaminoto bersilang pandangan, Kartosuwiryo tidak.


Dapat dikatakan, ia selalu setia kepada keyakinan politiknya. Kartosuwiryo adalah
sekretaris pribadi Tjokroaminoto sampai ia pindah ke Malangbong sebagai wakil PSII
untuk Jawa Barat (1929), kemudian kariernya menanjak, ia sebagai sekretaris umum
(1931) dan wakil ketua (1936). Percecokan internal menyebabkan Kartoswiryo terpaksa
meninggalkan PSII (1939). Masalahnya adalah perlu tidaknya PSII bekerja sana dengan
rezim kolonial.

Ketika Soekarno berada dalam pengasingan pada tahun 1935, Musso secara diam-
diam kembali ke Hindia Belanda mencoba membangkitkan kembali cara-cara radikal
dengan mencoba menghidupkan PKI. Tetapi yang jelas jelas usaha itu terlalu lemah dan
tidak berhasil guna sehingga boleh dikatakan tidak ada. Kemudian tidak beberapa lama
Musso menyingkirkan kembali ke Uni Soviet.

Pada masa pendudukan Jepang, Soekarno dan Kartosuwiryo mengambil jalan


berbeda. Kalau Soekarno sibuk dengan organisasi buatan Jepang, sebaliknya
Kartosuwiryo menyibuklkan diri di Insitut Suffah, yang dikenal sebagai lembaga kader
politik Islam. Hanya bedanya, kalau dahulu lembaga ini sibuk dengan memberikan
pendidikan umum, kini berubah menjadi lembaga kemiliteran. Dan lewat wadah inilah
nantinya yang memungkinkan terjadi hubungan pribadi antara Kartosuwryo dengan
panglima-panglima Tentara Islam Indonesia yang terwujud dalam pemberontakan Darul
Islam. Dalam organisasi buatan Jepang ini (BPUPKI). Soekarno nantinya dalam sidang-
sidang, menawarkan konsepsi Pancasila sebagai dasar negara. Tawaran ini dapat
dikatakan mencoba menampung aspirasi kelompok nasionalis dan Islam. Sebaliknya dari
kalangan pimpinan Islam terlihat betapa tidak tersedianya kematangan dan kesiapan
untuk menawarkan suatu konsepsi. Sedangkan Kartosuwiryo sendiri tidak terlibat dalam

136
Peter Kasenda

perumusan dasar negara yang diadakan organisasi buatan Jepang itu. Ada kemungkinan
ia tidak dianggap penting. Sebab namanya tidak tercantum dalam orang Indonesia yang
terkemuka di Jawa Whos”s Who yang diterbitkan balatentara Jepang.

Musso Menantang

Ketika revolusi Indonesia berlangsung. Terjadi persetujuan Linggarjati dan


kemudian dilanjutkan dengan persetujuan Renville. Justru persetujuan yang disebut
terakhir inilah yang menyebabkan tercetusnya perang saudara antara kelompok Islam dan
Republik Indonesia. Ketika Pasukan Republik Indonesia harus meninggalkan hampir
seluruh daerah Jawa Barat sesuai dengan Perjanjian Renville. Pasukan gerilya Hizbulah
dan Sabililah menolak meninggalkan wilayah tersebut. Kartosuwiryo sebagai salah satu
di antara sejumlah politisi Masyumi yang menolak Persetujuan Renville, ikut bergabung.
Di Jawa Barat, Kartosuwiryo mencoba memimpin dan mengkoordinasikan perlawanan
terhadap Belanda.

Ketidakhadiran Tentara Republik di wilayah Jawa Barat hanya membuat


Hizbullah dan Sabillah menjadi penting dan kuat. Di sana Kartosuwiryo mempunyai
cukup peluang membina administrasi sipil dan militer sebagai pendahuluan bagi
proklamasi suatu negara Islam. Hizbullah dan Sabillilah dijadikan Tentara Islam
Indonesia dan disusunlah struktur pemerintahan dasar. Dalam waktu setahun, cukup
memberi Kartosuwiryo membenahi itu semua. Sehingga ketika Tentara Republik kembali
ke wilayah tersebut, mereka mendapat perlawanan yang sengit dari Tentara Islam
Indonesia..

Sementara itu, PM Hatta bukan saja merealisir penarikan mundur pasukan, tetapi
juga mengadakan rasionalisasi untuk membangun kembali angkatan bersenjata.
Walaupun mendapat tantangan yang kuat, terutama dari pasukan yang sudah termasuk
daftar kesatuan-kesatuan yang akan dimobilisasikan, pengurangan tetap dilaksanakan.
Sebenarnya tantangan yang kuat berasal dari partai-partai kiri, walaupun dalam kalangan
angkatan perang ada yang menentang.

Sesungguhnya pada waktu itu situasi politik bergeser ke arah radikalisme. Dalam
bulan Februari 1949 golongan kiri bersatu (Partai Sosialis Amir Sjarifuddin), PKI, Partai
Buruh, Pesindo, SOBSI membentuk persekutuan politik dengan nama Front Demokrasi
Rakyat. Dalam bulan-bulan berikutnya FDR terus-menerus mengadakan kecaman
terhadap pemerintah. Isu rasionalisasi digunakan untuk mendapat dukungan dari tentara
yang terkena. Usaha apa pun yang dilakukan FDR secara konsitusi, ternyata sia-sia.
Akhirnya diputuskan pada bulan Juli atau Agustus dengan menggunakan kekerasaan, jika
cara lain gagal. Kehadiran Musso, tokoh PKI kawakan dari Moskaw hanya lebih
memanaskan situasi.

Dengan cara menyamar, Musso tiba di lapangan terbang Bukit Tinggi awal
Agustus 1949, bertindak sebagai sekretaris Suripno, seorang anggota PKI yang mewakili
Republik di Eropa Timur dan baru kemudian membuka identitasnya pada suatu rapat PKI

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 137


Email: mr.kasenda@gmail.com
di Yogyakarta beberapa minggu kemudian. Segara diangkat sebagai sekretaris partai itu.
Ia kini kembali untuk memimpin PKI secara lebih tegas menurut pada garis Zdhanow
Muso mengaku membawa rencana Gottwald-nya sendiri (Gootwald, pemimpin Partai
Komunis Cekoslovakia, baru saja menggulingkan pemerintah yang sah di Praha ).

Dalam pergolakan-pergolakan yang terjadi kemudian, Soetarto, Panglima Divisi


IV / Senapati, yang menolak perintah untuk mempersiapkan kesatuannya dimobilisasi,
mati terbunuh, dan golongan kiri langsung saja mempermasalahkan Kesatuan Siliwangi
yang di tempatkan di sekitar Solo, atau laskar-laskar di bawah pengaruh Tan Malaka
yang menentang keras FDR/PKI, atas terjadinya peristiwa itu. Tanpa situasi itu disadari
hanyalah merupakan bom waktu, yang setiap saat dapat meledak.

Permulaan bulan September 1949. Ketika Musso dan pimpinan PKI mengadakan
perjalanan keliling untuk mencari dukungan massa rakyat. Di Surakarta, Dvisi IV yang
pro PKI yang menentang rencana rasionalisasi terlibat dalam pertempuran dengan
pasukan-pasukan yang setia kepada pemerintah. Kejadian itu tanpa disadari Musso dan
sejumlah pimpinan PKI, membuat pasukan-pasukan pro PKI menguasai kota Madiun dan
menyeruhkan revolusi terhadap pemerintah yang sah, kejadian itu membuat Musso tidak
mempunyai pilihan lain kecuali menerima kenyataan pemberontakan, walaupun
sebenarnya Musso sendiri menganggap bahwa peristiwa itu terjadi terlalu dini.

Pada tanggal 19 September 1948, Presiden Soekarno mengucapkan pidato


radionya. Dijelaskan betapa pentingnya arti persatuan dan kesatuan dalam menghadapi
ancaman Belanda yang setiap saat datang dan pengacau dalam negeri. Selanjutnya
Soekarno menguraikan tentang kerusuhan yang telah terjadi di Solo dan akhirnya tentang
PKI Musso yang telah mengadakan kudeta terhadap pemerintah yang sah. Lebih lanjut
Soekarno menyeruhkan kepada rakyat sebagai berikut :

“ Pada saat yang genting, di mana engkau dan kita sekalian mengalami
percobaan yang sebesar-besarnya dan kita menentukan nasib kita sendiri, dan kita adalah
memilih antara dua : ikut Musso dengan PKI-nya, yang akan membawa bangkrutnya cita-
cita Indonesia Merdeka, atau ikut Soekarno-Hatta, yang Insya Allah dengan bantuan
Tuhan, akan memimpin negara RI yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apa pun .”

Tetapi Musso tidak mau kalah. Ia mengatakan bahwa Soekarno hanyalah budak-
budak Jepang, penjual Romusha dan menjual rakyat Indonesia kepada imperialisme
Amerika. Selanjutnya Musso mengatakan sebagai berikut :

“ Rakyat sebenarnya menjawab : Soekarno-Hatta, budak-budak Jepang dan


Amerika! Memang ciri wanci lali ginowo mati ! Rakyat pasti menjawab : “ Musso
sebenarnya menghamba rakyat Indonesia ! Hidup merdeka ! Menang perang ! “

Ternyata ejekan Musso tidak mendapat sambutan dari rakyat, mereka lebih
memilih Soekarno-Hatta yang memperlihatkan diri sebagai simbol persatuan Republik.
Pada tanggal 30 September, Kesatuan Siliwangi merebut kota Madiun dan memadam
perlawanan. Ini tragis dan ironis. Dahulu Musso berjuang melawan kekuasaan kolonial

138
Peter Kasenda

Hindia Belanda, tetapi kini ia menentang pemerintah yang sah. Revolusi memakan
anaknya sendiri.

Ironi

Beberapa buku setelah Peristiwa Madiun, tepatnya pada tanggal 7 Agustus 1949,
Kartosurwiryo memproklamasikan Negara Islam Indonesia. Kejadian ini jelas merupakan
tentangan terhadap pemerintah Republik Indonesia. Akhirnya Republik memutuskan
pasukan Divisi Siliwangi untuk kembali ke Jawa Barat untuk menumpas gerakan ini. Di
sana mereka justru disambut meriah dengan pamflet-pamflet yang mendesak agar mereka
bergabung dengan Tentara Islam Indonesia. Insiden penting pettama terjadi pada tanggal
29 Januari 1949 di Antarlina dekat Malangbong, antara Divisi Siliwangi dengan Tentara
Islam Indonesia.

Bertahun-tahun Darul Islam hampir menguasai daerah-daerah yang luas itu. Tak
seorang pun para prajurit Tentara Republik yang berani mencoba memasuki ke dalam apa
yang disebut wilayah-wilayah de facto Negara Islam Indonesia.

Dalam perang saudara ini, yang menderita adalah rakyat. Mereka inilah yang
selalu diserang oleh kedia belah pihak, sebab Tentara Republik dan Tentara Islam
Indonesia menaruh curiga terhadap mereka yang dianggap membantu pihak lain dan
karena itu mereka yang dianggap membantu pihak lain dan karena itu mereka dihukum.
Menghadapi situasi semacam itu, tentu rakyat desa harus pandai-pandai menjaga
hubungan baik dengan kedua belah pihak, demi keselamatan dirinya. Tindakan semacam
itu, dinyatakan oleh singkatan “Kongres”. Maksudnya, bila rakyat biasa bertemu dengan
Tentara Islam Indonesia, mereka menyatakan dukungannya, tetapi jikalau mereka
bertemu dengan Tentara Republik, juga menyatakan hal yang sama.

Pemberontakan Darul Islam itu dapat dipadamkan setelah Kartosuwiryo berhasil


ditangkap, disebuah persembunyiannya di puncak Gunung Geber, dekat Cipaku di
Cicalengka 4 Juni 1962. Setelah melalui operasi-operasi militer secara besar-besaran,
yang dipimpin oleh Jendral Nasution. Lebih dari sebulan dilakukan pengejaran
terhadapnya dan tiga kali lolos. Ketika Kartsuwiryo ditangkap, ia sakit berat. Dia
menderita bawasir, tuberkolose, serta kelumpuhan akibat luka peluru di paha kanannya
yang dialaminya, ketika terjadi tembak menembak dengan pasukan Republik.

Berkaitan dengan peristiwa itu. Dalam autobiografinya Bung Karno Penyambung


Lidah Rakyat Indonesia, Soekarno melukiskan betapa getirnya, ia harus memutuskan
hukuman mati kepada Kartosuwiryo, yang dianggap sebagai teman akrab masa mudanya.
Tetapi ia tidak dapat melupakan apa yang terjadi pada hari Idul Adha, ketika pengikut
Darul Islam mencoba membunuhnya. Betapa banyak korban yang tak bersalah terbunuh.
Itulah yang menjadi alasan Soekarno dengan berat hati terpaksa menyetujui hukuman
mati terhadap mantan anak asuh HOS Tjokroaminoto, seperti dirinya juga.

Sementara itu, entah disadari atau tidak, Soekarno terlalu sibuk dengan
pembangunan monumen besar yang dianggap bisa memberi kebanggaan pada diri

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 139


Email: mr.kasenda@gmail.com
bangsanya, tetapi para pengeritiknya menganggap hal itu sebagai suatu pemborosan uang
belaka. Tetapi yang jelas keadaan ekonomi pada saat itu kurang menyenangkan.
Kemiskinan ada di mana-mana.

Bisa jadi Indonesia di ambang kebangkrutan. Soekarno tampaknya tidak


mempunyai perhatian sama sekali dengan pembangunan ekonomi atau bisa jadi mungkin
karena ia tidak menguasainya. Kelihatan ia telah menyimbukkan dirinya dengan teori
revolusi, yang banyak memberi peluang PKI memanfaatkan pribadi Soekarno sebagai
pemimpin rakyat Indonesia demi kepentingan cita-cita politik PKI. Dan hal itu
tampaknya disadari benar dan Soekarno memperoleh keuntungan dengan dukungan yang
diberikan oleh PKI terhadap kebijakan-kebijakannya.

Setelah terjadi Gerakan 30 Septmber,sebagian rakyat yang sangat membenci


komunis, yang dianggap sebagai dalang pembunuhan sejumlah jendral Tentara Nasional
Indonesia (TNI), menuntut Soekarno mengambil sikap untuk membubarkan PKI. Tetapi
setelah lama ditunggu ternyata Soekarno tidak berbuat apa-apa terhadap PKI.Tentu saja
hal ini mengusarkan sebagian rakyat, sehingga akhirnya menimbulkan demontrasi–
demontrasi yang berkepanjangan. Dan Soekarno sendiri tampaknya berada
dipersimpangan jalan pada saat itu, sebab dalam pemikiran politik Soekarno diakui
eksistensi kaum komunis di Indonesia, tetapi sebaliknya sebagian rakyat menuntut untuk
dibubarkan. Kalau ia membubarkan berarti ia bisa dianggap tidak konsisten dengan
pemikiran politiknya yang dianut sejak tahun 1926, tetapi kalau dia diam, masalah itu ia
hanya menambah kemarahan sebagian rakyat. Itulah dilemma yang dihadapi Soekarno.

Keputusan Soekarno untuk menolak untuk membubarkan PKI, hanya membuat


pribadi Soekarno dalam keadaan bahaya. Aksi-aksi demontrasi malahan menuduh
Soekarno terlibat dalam peristiwa itu. Betul-tidaknya, hanya Tuhan yang tahu. Kita tidak
tahu apa yang terjadi sebenarnya, sebab pengadilan belum berbicara dan tidak akan
berbicara. Ia telah wafat dengan status tahanan politik dari negeri yang dia perjuangkan
sejak muda. Tragis dan ironis. Soekarno telah mencapai cita-citanya untuk kemudian
dimakan oleh cita-citanya. Ia menggerakan revolusi untuk dimakan revolusi itu. Semua
yang diucapkan menjadi kebenaran terhadap dirinya sendiri.

140
Peter Kasenda

Soekarno, DN Aidit dan PKI

Di hari ulang tahun PKI ke-45 ada seratus ribu yang datang ke stadion Bung
Karno pada 23 Mei 1965. Mereka yang dijuluki semut merah yang berbaris
memasuki stadion. Banyaknya tak terbilang, tertib, disiplin, siap mengorbankan
diri, dan militan, dan sanggup menyengat jika diganggu. Semut merah ini, mata
Soekarno merupakan pemandangan kejayaan yang megah. Presiden Soekarno
menyambut acara itu dengan bahagia dan menyampaikan pidato berapi-api dari
podium, penuh pujian terhadap patriotisme PKI dan semangat perjuangnya
melawan kekuasaan kolonialisme dan neokolonialisme dunia. Tidak ada partai
politik lain yang dapat berharap untuk mengorganisasi rapat sebesar itu. PKI
memiliki kombinasi yang langkah antara kecukupan dana, keanggotaan yang
sangat luas dan dukungan presiden.

Sebagai seorang yang menaruh minat studi tentang sejarah pemikiran Soekarno,
ada baiknya kalau saya mencoba memberi sedikit penjelasan tentang kaitan antara
Soekarno dengan DN Aidit dan PKI. Dengan kata lain, lewat tulisan ini sebenarnya
pertanyaan yang harus diajukan adalah di manakah tempat PKI dalam pemikiran politik
Soekarno.

Tetapi sebelum saya berbicara panjang lebar tentang hal diatas, izinkanlah saya
mengutip pendapat Moh Hatta dalam bukunya, Bung Hatta Menjawab, mengenai
hubungan Soekarno dengan DN Aidit. Menurut M Hatta, ia ketika itu selaku penasehat
pada balatentara Jepang, berkantor di Jalan Pegangsaan. DN Aidit adalah satu dari satu
pegawai dari sejumlah pegawai orang Indonesia, Di kantor itu hanyalah terdiri dari orang
Indonesia dan memang M Hatta tidak menghendaki mempunyai pegawai orang Jepang.

Menurut Moh Hatta, ketika Soekarno memasuki ruangan, semua orang yang ada
di ruangan biasanya langsung berdiri. Tetapi DN Aidit tidak beranjak dari tempat
duduknya dan melihat perilaku yang diperlihatkan DN Aidit, Soekarno marah dan
langsung mengajukan pertanyaan, mengapa tidak tetap duduk dan tidak berdiri seperti
pegawai yang lainnya.

Teguran Soekarno, dijawab DN Aidit dengan menyatakan,” Biasanya orang


datang dan memberi salam, baru kami bediri. Ini Bung masuk, tanpa memberi salam.
Lihat Bung Hatta, kalau dia masuk, dia memberi salam terlebih dahulu, baru kami berdiri
membalasnya. Ini, Bung minta berdiri. Ini sistem Jepang. Kami tidak biasa demikian ,”

Menurut pengakuan Moh Hatta, melihat situasi semacam itu, akhirnya Hatta
memutuskan untuk memindahkan DN Aidit ke kantor yang agak berjauhan tempat. Sebab
kalau Hatta membiarkan DN Aidit berada di tempat semula, hanya merepotkan dirinya
saja. Tampaknya Hatta mengerti betul tabiat kawan seperjuangannya, Soekarno.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 141


Email: mr.kasenda@gmail.com
Sebenarnya pengakuan Moh Hatta, telah menunjukkan bahwa Soekarno dan DN
Aidit mempunyai bibit-bibit saling tidak menyukai satu sama lain. Tetapi dalam
perjalanannya, masyarakat politik kemudian melihat hubungan Soekarno dengan DN
Aidit begitu mesra. Sebagaimana yang diperlihatkan di dalam perayaan ulang tahun PKI
ke 45. Indonesia di bawah Demokrasi Terpimpin semakin bergeser ke kiri saja.

Kemarahan

Gerakan komunisme di Indonesia mengalami perjalanan panjang yang seringkali


diwarnai gelombang pasang surut. Dalam kurun waktu pergolakan pergerakan nasional
pada abad ke-20, gerakan komunis bersama dengan gerakan lainnya yang dilandasi oleh
berbagai ideologi seperti Islam dan nasionalisme mengekspresikan diri dalam bentuk
aksi perlawanan terhadap penguasa kolonial Hindia Belanda.

Aksi perlawanan itu disalurkan melalui protes terhadap berbagai kepentingan


penguasa kolonial. Yang paling konkret berupa aksi konfrontasi secara frontal yang
mengandalkan kekuatan fisik. Keterlibatan PKI dalam pergulatan ini terlihat dengan
meletusnya aksi perlawanan yang dirancang dan sekaligus dilakukan organisasi itu
sepanjang tahun 1921-1927.

Akan tetapi penguasa kolonial Hindia Belanda berhasil menumpas aksi itu.
Penguasa kolonial kemudian melakukan penangkapan terhadap mereka yang terlihat
secara besar-besaran. Jumlahnya mencapai ribuan dan kemudian diantaranya dibuang ke
daerah incognito Boven Digul di pedalaman Papua Gerakan ini membuka mata
pemerintah kolonial Belanda akan bahaya eksploisif dan pergerakan rakyat. Boven Digul
– sebagai tempat pengasingan – pun diperkenalkan.

Ketika proklamasi Indonesia dikumandangkan. Proklamasi 17 Agustus 1945


yang prinsipnya merupakan deklarasi resmi bahwa Indonesia untuk menentukan
eksistensi, hidup, dan masa depan sendiri yang bebas dari belenggu kekuatan
asing, telah menempatkan berbagai kekuatan politik di masa kolonial Belanda,
untuk memainkan peranan dalam konstelasi politik nasional pasca-proklamasi
PKI sebagai salah satu dari kekuatan itu muncul kembali secara legal pada 21
Oktober 1945. Terlebih lagi sejak dikeluarkannya Maklumat Pemerintah 3
November 1945 oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta, partai-partai politik
semakin mencuat ke permukaan.

Kegiatan PKI sendiri mulai ofensif. Di beberapa tempat terjadi “revolusi dalam
revolusi.” DN Aidit baru melibatkan diri, setelah Aidit bebas dari pembuangan yang
dilakukan oleh tentara Inggris ke Penjara Onrust. Secara nasional PKI melakukan
konsolidasi partai pertama dalam atmosfer repiblik, yaitu Kongres Nasional IV di
Surakarta pada bulan Januari 1947. PKI seolah-olah mendapat “suntikan baru“ sejak
kembalinya tokoh lama Musso. Karena meletus pemberontakan 1926-1927, ia tertahan
dan terus menetap di Rusia dan baru kembali pada 11 Agustus 1948. Ia menyamar
bernama Soeparto, sekretaris Suripno,

142
Peter Kasenda

Pada saat negara RI yang masih sangat muda menghadapi ancaman yang paling
serius dan desakan kolonial Belanda, FDR/PKI melancarkan pemberontakan di Madiun.
Hanya berselang tiga tahun dari berdirinya PKI. Kalau pemberontakan tahun 1926-1927
ditujukan kepada kekuasaan kolonial Hindia Belanda, kini tindakan itu ditujukan kepada
pemerintah yang sah. Bukankah dengan cara itu PKI telah memperkenalkan bencana
perang saudara dalam perjuangan nasional melawan Belanda yang ingin kembali
menguasai tanah jajahannya yang begitu kaya.

Pada tanggal 19 September 1948 Presiden Soekarno mengucapkan pidato


radionya. Ia menjelaskan kepada rakyat tentang betapa pentingnya arti persatuan dan
kesatuan dalam menghadapi ancaman Belanda dan pengacau dalam negeri. Selain itu
Soekarno juga menguraikan tentang terjadinya kerusuhan di Solo dan akhirnya PKI-
Musso mengangkat senjata melawan pemerintahan yang sah. Selanjutnya Presiden
Soekarno berseru kepada rakyat antara lain :

“Atas nama perjuangan untuk Indonesia Merdeka, aku berseru kepadamu.


Pada saat yang begini genting, di mana engkau dan aku sekalipun mengalami percobaan
yang sebesar-besarnya dalam menentukan nasib kita sendiri, dan kita adalah memilih
antara dua : ikut Musso dengan PKI-nya, yang akan membawa bangkrutnya cita-cita
Indonesia Merdeka, atau ikut Soekarno-Hatta yang Insya Allah dengan bantuan Tuhan
akan memimpin Negara RI yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apa pun juga.”

Walaupun Musso dalam pidato jawabannya tantangan Soekarno, mengatakan


bahwa Soekarno adalah budak-budak Jepang, penjual Romusha dan kini menjual rakyat
Indonesia kepada Imperialisme Amerika. Tetapi, apa yang terjadi selanjutnya. Ternyata
PKI tidak mendapat dukungan massa untuk mengadakan pemberontakan massa untuk
berhasil mencetuskan pemberontakan umum. Hanyalah merupakan suatu usaha sia-sia
belaka, apa yang dikatakan Musso tentang Soekarno, ternyata tidak mendapat tempat
dalam pikiran rakyat. Jelasnya, bangsa Indonesia lebih suka atau menaruh kepercayaan
Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno-Hatta, tidak kepada Musso dengan PKI-
nya.

Pemerintah dan TNI berhasil memadamkan pemberontakan ini, tetapi sekian


banyak yang tidak berdosa ikut menjadi korban. Kekuatan Republik pun terkuras. Ketika
itulah Belanda melakukan pemerasan politiknya. Agresi militer pun dilancarkan,
Yogyakarta diduduki. Para pemimpin pemerintah ditangkap dan dibuang. Pemerintah
Darurat Republik Indonesia didirikan dan perjuangan lewat bersenjata dilancarkan di
bawah Panglima Besar Sudirman.

Sebagai akibat perbuatannya itu terpaksa PKI harus turun panggung politik untuk
sementara waktu. Di sinilah hebatnya Soekarno dalam menempatkan dirinya sebagai
lambang persatuan negara yang masih muda usia ini. Sehingga seruannya dapat diartikan
sebagai kesanggupan dari Soekarno untuk menanamkan kepercayaan kepada bangsanya
untuk bangkit melawan pemberontakan itu.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 143


Email: mr.kasenda@gmail.com
Militer yang mempunyai andil besar dalam memadamkan pemberontakan tersebut
secepat mungkin. Lewat pengalaman pahit inilah militer tidak pernah lagi menaruh
kepercayaan terhadap PKI. Oleh karena itu, bisa dipahami kalau antara PKI dengan
militer terjadi saling curiga bahkan saling memusuhi. Dalam kedudukan serta dalam
organisasi, yang melampui kekuatan organisasi lain, posisi Soekarno pun secara otomatis
bertambah meningkat, apalagi karena dari dia diharapkan, kata putus mengenai segala
sesuatu.

Menurut John D Legge, yang dikenal sebagai ahli Soekarno, menyebutkan bahwa
kemelut sejarah ini mempunyai arti penting bagi pribadi Soekarno. Kata sarjana
berkebangsaan Australia itu, Soekarno tetap menganggap bahwa PKI sebagai unsur asli
dari revolusi Indonesia dan kutukan atas pemberontakan tersebut adalah kutukan terhadap
penyimpangan PKI dari jalan yang benar, seperti yang dilakukan pada tahun 1926-1927.

Tampil Kembali

Hasil pemilu untuk parlemen (DPR) yang berlangsung pada tanggal 29 September
itu baru diumumkannya pada tanggal 1 Maret 1956. Hasil tersebut memperlihatkan empat
besar sebagai partai papan atas, yaitu PNI (22,1%), Masyumi (20,9), NU (18,4 %) dan
PKI (16,3 %) dengan jumlah suara berbeda mencolok dengan partai-partai lainnya. Bagi
PKI, hasil itu merupakan suatu yang menakjubkan dan bertolak belakang dengan citra
buruk PKI selama ini, sebab trauma politik peristiwa Madiun 1948 tidak berpengaruh.
Perolehan suara itu sebagian besar datang dari pulau Jawa.

Berbicara tentang kemenangan PKI pada pemilihan umum 1955, terasa sulit tanpa
melibatkan Soekarno dalam perbincangan. Betapa pandai issu yang digunakan untuk
memenangkan pemilihan umum itu, mereka mengatakan kepada rakyat bahwa apabila
PKI menang, PKI memilih Soekarno sebagai Presiden. PKI menjadi salah satunya partai
yang memberikan pernyataan demikian itu. PNI sendiri tidak melakukannya, meskipun
tentunya bagi PNI dengan sendirinya akan memilih Soekarno sebagai presiden. Dengan
demikian nyata benar, bagi PKI secara lihai sekali menunggangi kepopuleran Presiden
Soekarno pada waktu itu.

Dengan diawali adanya Demokrasi Terpimpin, inilah PKI mulai lagi memainkan
peranan yang penting dalam peta politik Indonesia. Naik panggungnya PKI tidak lepas
dari pemikiran politik Soekarno. Untuk itu ada baiknya saya menjelaskan sedikit
mengenai masa transisi ke arah Demokrasi Terpimpin. Konsepsi Presiden, 21 Februari
1957, di mana Soekarno ingin membentuk Kabinet Gotong Royong dan Dewan Nasional.
Artinya, kabinet semacam itu diartikan Soekarno dengan menggunakan bahasa Belanda,”
Alle kinderen aan een eettafel aan werktafel .” (Semua makan bersama di satu meja dan
kerja). Maksudnya Soekarno adalah di dalam kabinet itu, nantinya semua partai dan
golongan yang mempunyai suara minimal di DPR harus diikutsertakan. Dengan demikian
Presiden Soekarno secara tidak langsung mengkondisikan PKI dimasukkan dalam
kabinet itu, sebagaimana pemerintah 4 besar dalam Pemilihan Umum 1955 dan dibantu
oleh partai-partai kecil, maksudnya agar kabinet semacam itu lebih mampu menjalankan

144
Peter Kasenda

koalisi yang senantiasa diganggu oposisi. Walaupun hasilnya tidak seperti yang
diiinginkan Soekarno.

Tentang gagasan Soekarno – Kabinet Gotong Royong- itu, tampaknya mendapat


tantangan dari mantan wakil presiden, Moh Hatta yang pernah mendampingi Soekarno
sejak tahun 1945 hingga tahun 1956 dalam suatu kesempatan acara makan di kediaman
Hatta atas keinginan Soekarno, sebelum kepergian Presiden Soekarno ke Tokyo pada
awal tahun 1959. Moh Hatta bertanya sambil memperingatkan Soekarno, “Kalau begini
terus menerus, negara ini kamu sampaikan kepada PKI. Kau naikkan PKI dengan cara “
kuda berkaki empat” Maksud Hatta adalah melibatkan PKI dalam kabinet.

Situasi pada saat itu, terjadi aksi corat-coret yang berisikan tuntutan agar PKI
sebagai partai pemenang ke 4, dalam pemilihan umum 1955. agar bisa masuk kabinet
pada waktu itu. Bisa diduga aksi-aksi tersebut dilakukan oleh pendukung-pendukung
PKI, yang merasa bahwa PKI berhak duduk dalam kabinet karena PKI adalah partai
besar.

Berkaitan dengan itu, ternyata Soekarno mempunyai pandangan yang berbeda


dengan kawan seperjuangannya, Hatta. Dalam jawabannya terhadap Hatta, Soekarno
menjawab : “Ya, PKI di sini lain. Berbeda dengan partai komunis di negeri-negeri lain.”
Tetapi Moh Hatta menukas jawaban Soekarno tersebut.” Tidak lain. Sama saja. Tunduk
pada Moskow dan mengikuti kemauan-kemauannya.”

Walaupun Moh Hatta telah memperingatkan akan bahaya bekerja sama dengan
PKI yang pernah mengadakan makar pada tahun 1926-1827 dan 1948, tetapi Soekarno
tetap teguh dengan pendiriannya dengan menganggap Komunis di Indonesia bersifat lain.
Tampaknya Soekarno menganggap PKI bisa diatur dan akan menuruti langkah-
langkahnya.

Dilihat dari pemikiran politik Soekarno, yang pernah dinyatakan pada tahun
1920-an tentang bersatunya tiga isme mau direalisir kembali. Bukankah ini berarti bahwa
Soekarno ingin mempertahankan PKI dalam persatuan nasional. Seperti apa yang
dikatakan dalam pidatonya.” Laksana Malaikat yang Menyerbu dari Langit: Jalannya
Revolusi Kita 17 Agustus 1960,” Soekarno menegaskan bahwa di Indonesia, ada tiga
golongan besar revolutionaire krachten yang tidak dapat diingkari keberadaannya di
Indonesia, yaitu Nasakom yang merupakan kerja sama aliran-aliran politik yang bersifat
ideologis. Dan seringkali Soekarno menegaskan tentang Nasakom sebagai suatu
kebenaran yang hidup dalam masyarakat Indonesia.

Perubahan kecil, namun penting, yang terjadi dalam ideologi PKI selama periode
ini menunjukkan sejauh mana dengan mengorbankan kesetiaan mereka pada doktrin.
Pada tahun 1964, doktrin kelas dinomorduakan demi aliansi nasional untuk melawan
musuh dari luar dan sekutu-sekutunya di dalam negeri. Aliran, bukannya
pengelompokan atas dasar kelas, yang menjadi titik pusat dari program front persatuan
nasional. Perjuangan untuk meruntuhkan imperialisme di Asia Tenggara dan di seluruh
dunia menjadi perhatian utama dari kebijakan dan tindakan PKI, jadi bukan perjuangan

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 145


Email: mr.kasenda@gmail.com
untuk perombakan masyarakat Indonesia.

Dengan memberikan dukungan kepada ideologi dan struktur politik Soekarno,


mengagung-agungkan peranan nasionalnya, dan setuju menyusaikan diri dengan garis-
garis besar haluan negara, golongan komunis di tarik ke arah akomodasi yang lebih jelas
ke arah tradisi.

Namun, walaupun berbeda terdapat persamaan antara kedua ideologi atau


kepentingan (dari Soekarno dan PKI). Misalnya, antiimperialisme yang radikal dan
antiasing, yang dituangkan dalam kampanye-kampanye pembebasan Irian Barat dan
konfrontasi dengan Malaya sebagai suatu perang suci. Tetapi ada konflik yang
terselubung antara keduanya dalam tujuan yang ingin dicapai masing-masing pihak. Jika
Soekarno sebagai sumber kekuasaan dan perwujudan nilai-nilai priyayi, berusaha
menggabungkan massa Jawa dengan massa suku lainnya menjadi satu kesatuan yang
secara sosial bersifat kolektif dan dipimpin oleh para pemimpin mereka, sedangkan
golongan komunis, sebagai pihak yang haus kekuasaan dan juru bicara dari kaum
abangan kelas rendah, mencoba memobilisir massa untuk menumbangkan kesatuan sosial
yang diinginkan Soekarno. Walaupun nantinya mereka berdua gagal mencapai
ambisinya. Soekarno gagal mempersatukan ketiga aliran itu dan golongan komunis juga
gagal menanamkan kesadaran kelas yang tinggi atau bisa dikatakan terdapat kesadaran
kelas yang palsu ( false class conciousness ).

Walaupun PKI pengaruhnya semakin dirasakan disemua bidang kehidupan sosial-


politik, wakil-wakil PKI duduk dalam pemerintahan dan lembaga-lembaga tertinggi
negara, itu terjadi berkat kelihaian DN Aidit dan perlindungan Soekarno. Tetapi
sebenarnya DN Aidit tidak puas terhadap peranan dan posisi PKI yang tidak menentu
dalam alam Soekarnoisme ( Soekarno telah mengatakan dalam autobiografinya, bahwa
terdapat perbedaan ideologis antara Soekarnoisme dengan Komunisme). Tampaknya DN
Aidit menyadari semakin lama bergandengan dengan Soekarno, tipis harapan untuk
menghancurkan Soekarnoisme. Begitu kata Rex Mortimer yang menulis masalah
Komunisme di Indonesia,

Pada permulaan bulan Mei 1964, DN Aidit mengejutkan kalangan politisi di


Jakarta, sewaktu mempertanyakan sahnya Pancasila sebagai falsafah negara DN Aidit
mengatakan demikian,” Dan disinilah betulnya Pancasila sebagai alat pemersatu.
Pancasila tidak perlu lagi apabila kita sudah bersatu. Sebab Pancasila alat pemersatu,
bukan. Kalau sudah “satu” semuanya apa yang kita persatukan lagi. Justru kita berbeda,
perlunya Pancasila itu. Ada “Nas”, ada “A”, ada “ Kom”, perlu Pancasila itu sebagai alat
pemersatu. Juga Bhinneka Tunggal Ika harus pegang teguh, berbeda-beda tapi satu jua.
Ada alat pemersatu kita, Pancasila kita. Nasakom kita. Ini, saya kira, sebagai peserta-
peserta dalam persatuan NASAKOM masing-masing pihak mengakui adanya berbagai
aliran itu. “ Tampaknya. Ketua CC PKI DN Aidit ingin menggantikan Pancasila dengan
ideologi yang dia inginkan.

Tampaknya Soekarno sangat terpengaruh oleh pernyataan DN Aidit yang hendak


menggantikan Pancasila apabila persatuan Indonesia sudah tercapai, maka tiba-tiba saja

146
Peter Kasenda

Presiden Soekarno menuntut diadakan peringatan Hari Lahirnya Pancasila pada tanggal 1
Juni 1964. Tentu saja, kejadian itu mengejutkan berbagai pihak, kenapa baru sekarang
diperingati. Dan untuk acara peringatan itu digunakan slogan-solgan “sepanjang massa.”
Dari kenyataan ini memperlihatkan betapa bertolak pandangan Soekarno dengan DN
Aidit mengenai Pancasila. DN Aidit melihat Pancasila sebagai alat pemersatu, sebaliknya
Soekarno lebih jauh dari itu. Pancasila juga dilihat sebagai pandangan hidup bangsa
Indonesia yang bisa bertahan sepanjang massa.

Hancurnya PKI

PKI tampil sebagai ancaman bagi kekuatan angkatan darat di panggung politik.
Dua komandan tertinggi, AH Nasution dan Ahmad Yani, yang sangat memusuhi PKI,
senantiasa bersiasat untuk menghambat pertumbuhan PKI selama bertahun-tahun. Sudah
menjadi pengetahuan umum bahwa komando tertinggi angkatan darat tidak pernah
membiarkan PKI merebut kekuasaan negara, baik melalui kotak suara maupun dengan
peluru. Dua lembaga ini pada tahun 1960-an mati langkah. PKI menguasai politik sipil,
sedangkan Angkatan Darat mengendalikan lebih dari 300.000 prajurit bersenjata.

Diantara dua kekuatan yang saling berhadapan ini, berdirilah Presiden Soekarno.
Setelah membubarkan parlemen hasil pemilu 1955 pada tahun 1959, ia berperan ibarat
sebagai pengganjal dua kekuatan itu. Banyak perwira militer dan politisi antikomunis
dengan harapan Presiden Soekarno akan menjadi perintang bagi PKI. Banyak orang
percaya ketika itu bahwa PKI akan merebut suara terbanyak seandainya pemilu diadakan
lagi. Pada tahun 1063 elemen-elemen antikomunis memprakarsai mosi di DPR yang
mengangkat Soekarno sebagai “Presiden Seumur Hidup” untuk memastikan bahwa
seorang komunis tidak akan pernah menguasai pemerintah.

Dibawah Demokrasi Terpimpin, Soekarno sebagai perisai bagi mereka yang anti
komunis dan sekaligus bagi mereka yang mendukung komunis. Presiden Soekarno
membutuhkan PKI sebagai basis massa untuk mempopulerkan agendanya, terutama
perjuangannya melawan the establish forces dan kekuatan Nekolim (neokolonialisme,
kolonialisme dan imperialisme). Presiden Soekarno juga membutuhkan PKI sebagai
kekuatan tawar dalam urusannya dengan Angkatan Darat. PKI merupakan jaminan
baginya bahwa Angkatan Darat tidak akan dapat mendongkelnya. Saat ini baik Angkatan
Darat maupun PNI sedang mencari kesempatan untuk menguasai kehidupan politik. Di
atas segalanya Presiden Soekarno memerlukan Indonesia yang bersatu untuk merebut
Irian Barat.

Perimbangan kekuatan segitiga – PKI, Angkatan Darat dan Presiden Soekarno –


tidak pecah berantakan ketika PKI semakin menjadi besar. Presiden Soekarno tetap
berdiri kokoh pada sikap politik yang antikapitalisme dan antiimperialisme. Kelompok–
kelompok antikomunis menjadi semakin cemas pada 1965, merapatkan barisan di
belakang Angkatan Darat dan percaya bahwa kegunaan Presiden Soekarno sebagai
penghambat PKI sudah selesai. Sisi segitiga ini mulai membayangkan satu sistem di luar
Presiden Soekarno. Begitu kata John Rossa dalam buku Dalih Pembunuhan Massal.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 147


Email: mr.kasenda@gmail.com
Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto.(2008).

Pimpinan PKI cukup menyadari bahwa hasil-hasil yang mereka peroleh itu
dimungkinkan oleh adanya politik perlindungan dari Presiden Soekarno. Karena itu,
timbul persoalan bagaimana nasib partai komunis apabila Presiden Soekarno tidak ada
lagi. Kekhawatiran itu terjadi ketika sekitar awal bulan Agustus 1965, ketika tim dokter
dari RRC datang ke Jakarta untuk melakukan pemeriksaan ganjal yang sudah lama
diderita Presiden Soekarno. Tim dokter RRC ini kemudian memberi informasi kepada
DN Aidit, bahwa penyakit Soekarno itu amat parah serta Soekarno tidak akan bertahan
lama lagi. Menurut sumber PKI sendiri, para dokter itu memberi keterangan semacam itu,
berdasarkan atas perintah dari Peking. Berita dari dokter RRC itu, tentunya menjadi
bahan pembicaraan utama dalam sidang-sidang CC PKI. Atas dasar perhitungan bahwa
TNI-AD juga akan berusaha merebut kekuasaan apabila Presiden meninggal, PKI
mengambil keputusan untuk tidak tinggal menunggu tetapi mendahului “memukul “.

Sementara itu, permusuhan antara Soekarno dengan DN Aidit meledak lagi, dua
hari sebelum Gerakan 30 September. Tepatnya pada tanggal 28 September, malam. pada
hari itu terakhir rapat umum organisasi komunis Central Gerakan Mahasiswa Indonesia
(CGMI) di Istora Senayan. Setelah Soekarno tidak menuruti kemauan mahasiswa
komunis untuk membubarkan Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) dengan diiringi
yel-yel mahasiswa –mahasiswa komunis., DN Aidit secara tidak langsung dalam rapat itu
mengeritik pemerintahan di bawah kepemimpinan Soekarno dengan mengtakan,” Ada
pemimpin-pemimpin palsu yang merampok uang rakyat dan memelihara bini empat
sampai lima,” Kritik ini tentu saja ditujukan orang-orang yang berada di sekitar
Soekarno. Tetapi dua minggu, sebelumnya, DN Aidit mengeritik secara tidak langsung
Soekarno dengan mengatakan,” Ada seorang pemimpin revolusi yang merasa dirugikan
oleh revolusi bukanlah seorang pemimpin yang sejati.”

Hanya dua malam kemudian, pada tanggal 30 September 1965, meletuslah


Peristiwa Gerakan 30 September di Jakarta. Tetapi pemberontakan itu tidak dibiarkan
berlangsung lama dengan cepat dalam tempo sehari, pemberontakan itu dapat
dipadamkan oleh TNI AD di bawah kepemimpinan Jendral Soeharto, yang dikenal
sebagai seorang Jendral yang memimpin operasi pembebasan Irian Barat.

Kalau ada berita-berita dan isu-isu tentang adanya Dewan Jendral yang bekerja
sama dengan Nekolim akan diadakan kudeta, merupakan suatu reasoning bagi PKI untuk
melakukan kudeta lebih dahulu. Tetapi dengan terjadinya pemberontakan ini, tanpa ragu-
ragu dengan dijadikan sebagai dasar oleh Angkatan Darat untuk secara bebas
menghantam dan membinasakan PKI sebagai musuh negara yang mengancam keutuhan
dan keselamatan seluruh bangsa.

Sejak itulah peranan Presiden Soekarno sebenarnya telah berkurang banyak dan
berarti rontoknya perimbangan kekuatan politik antara PKI dan TNI AD yang sejak lama
secara sengaja maupun tidak, telah dipertahankan dan diciptakan Presiden Soekarno. Bisa
jadi dia prihatin atau kecewa dengan hilangnya PKI yang sering mendukung
kebijakannya, tetapi ia lebih sedih lagi melihat betapa persatuan nasional yang dibinanya

148
Peter Kasenda

sejak muda hancur begitu saja.

Soekarno benar-benar negeri melihat suatu bangsa yang bersatu ditemukan oleh
pemandangan di mana orang Indonesia membunuh kejam orang-orang Indonesia lainnya.
Oleh karena itu, tidak usah heran, kalau Soekarno berkata,”…telah mengganggu
sukmaku, telah membuatku sedih, membuat khawatir…dengan terus terang kukatakan
aku meratap kepada Allah, bagaimana Allah, Robbi, bagaimana semua ini dapat
terjadi ?”

Peringatan Soekarno kepada bangsanya,” kalau kita melanjutkan keadaan seperti


ini, saudara-saudara kita akan masuk ke dalam neraka, benar-benar kita akan masuk
neraka.” Ternyata tidak diindahkan sebagian rakyatnya, ini tentu membuat ia bersedih
hati dan kecewa. Dan itulah kenyataan yang dihadapi pada akhir kekuasaan Presiden
Soekarno.

Dengan kebesaran jiwa dan disertai kearifan Soekarno, dan kebijaksanaan


Jendral Soeharto, akhirnya Soekarno menyerahkan kekuasaannya kepada Jendral
Soeharto. Presiden Soekarno rela surut dari panggung politik untuk menyelamatkan
bangsa Indonesia dari perpecahan nasional. Itulah jalan yang terbaik yang harus
ditempuh. Apabila Indonesia terkoyak-koyak hanya menguntungkan Nekolim.

Sebenarnya kekuasaan yang diberikan PKI adalah untuk membeli warisan


kekuasaan Soekarno apabila yang terakhir ini meninggal dunia. Dan kata hubungan
Soekarno-DN Aidit bersifat semu belaka, seandainya Persitiwa Gerakan 30 September
sukses, bukan tidak mungkin Aidit bakal tidak sabar menunggu meninggalnya Soekarno.
Ingat apa yang terjadi dengan Lenin-Stalin, berakhir dengan antagonis.

Kalau kita berbicara tentang Peristiwa Gerakan 30 September seringkali muncul


pertanyaan, Apakah Soekarno terlihat dalam gerakan itu, dengan melihat begitu dekatnya
hubungan Soekarno dengan PKI. Memang pada waktu itu ada tuduhan bahwa Soekarno
terlibat dalam gerakan itu, tetapi betul tidaknya kita tidak tahu. Dan kita tidak pernah
tahu. Karena prengadilan belum berbicara dan tidak akan pernah berbicara. Hingga kini
pun tidak ada bukti kalau Soekarno terlibat dalam Gerakan 30 September dan untuk itu,
kemudian pemerintahan Soeharto mengenangnya sebagai Pahlawan Paroklamator.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 149


Email: mr.kasenda@gmail.com
Onghokham Menimbang Bung Karno

Sumbangan Onghokham, biasa disapa Ong, yang terpenting adalah ia


menampilkan dirinya sebagai cendikiawan publik. Dialah sejarawan yang paling
sering menulis di media. Melalui tulisannya, Ong bergelut seraya mengajak kita
melihat persoalan masa kini untuk dibandingkan dengan peristiwa masa lampau.
Perbandingan secara diakronis inilah yang menyebabkan sejarah di tangan Ong
seolah-olah hadir di pelupuk mata, hidup, inspiratif dan menarik.

Namun, bagaimana kalau Ong menulis sejarah yang sezaman dengannya,


dialaminya, bahkan ia terlibat didalamnya? Inilah yang menarik selama membaca,
Sukarno, Orang Kiri, Revolusi & G30S 1945 karya Ong, suatu bunga rampai yang
berkaitan dengan peristiwa-peristiwa politik yang terjadi pada awal abad ke-20 periode
kehidupan penulis sezaman dengan sejarah yang dikisahkan.

Menurut Ong, banyak sejarawan segan menulis atau meneliti sejarah kontemporer
atau masa yang sezaman dengan masa hidup sejarawan itu. Bahkan, ada yang
mengatakan semakin kuno suatu zaman untuk diteliti, semakin ilmiah sifatnya karena
emosi, kepentingan, dan lain-lain sudah mereda, serta mungkin bahannya pun lebih
lengkap. Pendapat ini belum tentu benar. Sejarah kuno Indonesia, misalnya, sedikit
sekali bahannya. Pun emosi dan kepentingan tentang suatu zaman lampau masih kuat.

Korban Konsistensi

Ketertarikan Ong pada figure bapak pendiri ini bisa ditelusuri dari
persahabatannya dengan aktivis-aktivis GMNI yang berdomisili di Asrama Daksinapati
UI Rawamangun. Terlebih lagi Onghokham mempunyai kecenderungan politik pada PNI
yang mempunyai hubungan emosional dan ideologis dengan Soekarno dan pada
Soekarno sendiri. Ong dan Soekarno dilahirkan di Propinsi Jawa Timur dan Ong
mempunyai kebanggaan yang berlebih atas provinsi kelahirannya.

Bagi seorang sejarawan, yang mengalami zaman Soekarno dan menulis mengenai
Soekarno, delapan tahun setelah Soekarno tiada, tidaklah mudah. Periode Soekarno
mungkin terlalu dekat bagi sejarawan untuk melihat semua fakta. Kebesaran seseorang
tokoh membuat dirinya terselimut dengan nilai-nilai dan anggapan yang telah dikenakan
kepadanya. Bagaimana bisa menulis biografi sesungguhnya untuk mengetahui “badan
alamiah“ orang tersebut jika terselubung realitas-realitas palsu, yang menghambat
pengenalan langsung terhadap si tokoh ?

Soekarno adalah contoh yang jelas dari ironi sejarah dan penilaian sejarah Sejak
remaja ia berjuang. Ia berhasil. Bukan saja dalam usaha bersama mencapai cita-cita
kemerdekaan, tetapi juga menjadi keberhasilan itu sendiri. Ia menjadi presiden dan

150
Peter Kasenda

kemudian dianggap dan menganggap diri sebagai personfikasi segala nilai dan slogan
yang sedang dikembangkan Namun, setelah kudeta 30 September 1965, ketika anak-
anak muda meneriakkan mengenai pentingnya pembubaran PKI, Soekarno tidak mau
membubarkan PKI. Soekarno tetap konsisten dengan pendirian mengenai perlunya tidak
kekuatan besar bersatu menghadapi imperialisme dan kapitalisme. Di sini, kata Ong,
Soekarno sendirian menghadapi realitas yang tak sesuai lagi dengan dirinya. Kejatuhan
Soekarno, menurut Ong, disebabkan korban pandangan politiknya sendiri yang di
dipegangnya sejak muda.

Pengalaman Trauma

Sebenarnya, Ong juga menjadi korban tidak langsung dari Peristiwa Gerakan 30
September. Tulisan Saya, Sejarah dan G30S1965 di buku ini berbicara mengenai
pengalaman yang membuatnya trauma. Setelah G30S, Ong menyaksikan pembantaian
massal di Jawa Timur, tempatnya berasal. Kenyataan itu membuat dirinya marah dan
terguncang. Ketakutan menghampiri dirinya. Tanpa alasan jelas Ong ditahan penguasa
militer pada Januari 1966. Penahanan atas diri Ong tidak berlangsung lama. Atas bantuan
Nugroho Notosusanto, Ong bisa menghirup udara bebas. Barangkali itu adalah periode
paling kelam dalam hidup Ong.

Pada awal Reformasi, Masyarakat Sejarawan Indonesia mengadakan seminar


Memandang Tragedi 1965 secara jernih di Serpong, Tangerang Melalui makalah”
Refleksi tentang Peristiwa G30S (Gestok) 1965 dan Akibat-akibatnya”, yang dimuat
kembali dalam bunga rampai ini. Ong berbicara mengenai latar belakang peristiwa
tersebut ketimbang epilog Persitiwa G30S. Di sini Ong menyatakan pembataian massal
yang terjadi adalah perang saudara. Ini disebut perang saudara karena kalau tentara saja
yang melakukannya tidak mungkin kehancuran PKI demikian total sehingga tidak ada
bayang-bayangnya sama sekali kini.

Mengenai peristiwa kelabu tersebut, Soekarno memilih untuk memakai istilah


Gestok dan bukan istilah Gestapu yang popular itu, yang bagi kalangan berpendikan
mempunyai makna sampingan yang jelas menunjuk pada organisasi teror Hitler, yaitu
Gestapo. Menurut Ong, istilah Gestok memang lebih tepat dari sudut sejarah sedangkan
istilah Gestapo politis dan hina bagi gerakan tersebut. Namun karena pemenang
perebutan kekuasaan menyebut persitiwa itu Gestapu (Gerakan Tiga Puluh September),
sejarawan sampai sekarang memakai istilah tersebut. Sejarah adalah sejarah pemenang,
bukan sejarah orang kalah.

Sebelum Peristiwa G30S Soekarno merupakan satu-satunya pemimpin nasional


yang paling terkemuka selama dua dasawarsa lebih, yaitu sejak Soekarno bersama Hatta,
pada 1945 mengemukakan kemerdekaan Indonesia. Ia satu-satunya presiden negara-
bangsa baru itu. Dengan kharisma, kefasihan lidah, dan patriotismenya yang
menggelora, ia tetap sangat popular di tengah semua kekacauan politik dan salah urus
perekonomian pascakemerdekaan. Bahkan, sampai 1965 kedudukannya sebagai presiden
tak tergoyahkan.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 151


Email: mr.kasenda@gmail.com
Namun, pasca Persitiwa G30S situasinya menjadi lain. Menurut Ong, Angkatan
66 berhasil menurunkan Soekarno yang berada di setiap jalan di Jakarta. Anehnya, lebih
dari 20 tahun kemudian, pemerintah Orde Baru mulai mengembalikan nama Soekarno-
Hatta (yang mewakili generasi 28) ke proporsi kebenaran sejarah. Ada Bandara
Soekarno-Hatta, ada penghormatan sebagai pahlawan nasional, dan lain-lain. Soekarno
juga menjadi mitos yang bernilai politis dan disejajarkan dengan cita-cita kebangsaann.
Foto-foto Soekarno di arak peserta kampanye.

Sayangnya, Ong tidak menjelaskan bahwa pada saat itu terjadi struggle of power
sehingga sering secara sadar atau tidak sadar gerakan mahasiswa Angkatan 1966 menjadi
alat. Angkatan “66 memang monumental dalam hal mobilisasi mahasiswa, tetapi gerakan
mereka telah masuk ke dalam setting politik yang dibangun oleh militer.

Melalui bunga rampai ini, Ong ingin mengatakan bahwa Persitiwa G30S telah
membuat Pemimpin Besar Revolusi hilang dari panggung nasional dan internasional.
Ternyata revolusi tidak berjalan sebagaimana digariskan Soekarno. Selama
pemerintahannya, situasi sosial-politik telah tumbuh ke dalam kondisi matang bagi terjadi
revolusi lain. Soekarno digulingkan oleh kontrarevolusi yang dilancarkan Soeharto.
Dalam konteks ini, benar juga ungkapan bahwa setiap revolusi harus mengorbankan
anak-anaknya sendiri. Soekarno hanyalah salah satu bukti tambahan atas ungkapan ini.

152
Peter Kasenda

Soekarno, Wanita dan Kekuasaan

Ketika Soekarno sedang terlarut dalam proses pembentukan bangsa hingga detik-
detik terakhir kekuasaan dan hidupnya, ada sembilan wanita jelita mendampingi
Soekarno. Dari Siti Utari, Inggit Ganarsih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manoppo,
Ratnasari Dewi, Haryatie, Yurike Sanger hingga Heldy Djafar. Inggit Ganarsih adalah
istri yang usianya 15 tahun lebih tua dari Soekarno, dan yang lain lebih muda dari
Soekarno. Heldy Djafar, istri terakhir Soekarno yang berusia 48 dibawah Soekarno.
Beberapa perkawinan Soekarno berakhir dengan perceraian. Tapi ada pula istri yang tetap
mempertahankan perkawinan mereka hingga hari meninggalnya Soekarno.

Kecantikan perempuan adalah besi berani yang tak pernah berhenti memikat
Soekarno hingga masa senja hidupnya. Pertautan Soekarno dengan wanita berawal pada
usia amat belia. Jiwanya yang labil, terus berkelana dari satu bunga ke bunga lain. Rika
Melhusyen, Pauline Gobe, Laura Kraat yang sempat mengguncangkan dada. Untuk
mendapatkan perhatian gadis bermata biru, Rika Meelhusyen, Soekarno rela
membawakan buku-buku bahkan berjam-jam mengantar pulang dengan sepeda. Rika
adalah gadis pertama yang dicium Soekarno.” Hanya inilah satu-satunya jalan yang
kuketahui untuk memperoleh keunggulan terhadap bangsa kulit putih,” kata Soekarno
kepada Cindy Adams dalam autobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat
Indonesia. Itulah alasan yang bersifat politis dan eksistensial yang menyebabkan
Soekarno begitu deman dengan gadis bermata biru.

Cinta yang tak sampai – Soekarno kemudian menemukan kembali di tahun 1920
pada putri cantik HOS Tjokroaminoto, Siti Utari – gadis yang begitu mungil yang tampak
lugu dan pendiam.” Lak, engkaulah bakal istriku kelak,” begitu kata Soekarno pada suatu
senja. Tahun 1921, di Surabaya, Soekarno menikah dengan Siti Utari, gadis berusia 16
tahun, putri sulung tokoh Sarekat Islam, HOS Tjokroaminoto, pemilik rumah tempat
menumpang ketika Soekarno sekolah di Hogere Burger School.

Di Bandung, tempat Soekarno melanjutkan pendidikan d Technische Hogere


School, Soekarno mondok di rumah Haji Sanusi yang tinggal bersama istrinya Inggit
Ganarsih. Di rumah inilah terjadi percikan api yang memancar dari lelaki berumur dua
puluh tahun, masih hijau dan belum berpengalaman, telah menyambar seorang
perempuan dalam umur tiga puluhan tahun yang matang dan berpengalaman. Percikan
gairah tersebut tidak hanya membakar Soekarno. Secara bersamaan menghapuskan
simpul tali perkawinan yang baru dia jalani. Soekarno mengatakan bahwa Utari masih
suci. Tetapi pihak yang mengenal betul karakter Soekarno tentu saja menyangsikan,
sebagaimana diceritakan Abu Hanifah dalam Tale of A Revolution. Kepindahan ke
Bandung sekaligus perceraian Soekarno dengan Utari telah menjauhkan hubungan
Soekarno dengan Tjokroaminoto dan kemudian Tjipto Mangunkusumo menjadi mentor
politik yang baru. Nasionalisme sekuler menjadi pandangan politik Soekarno yang baru.

Tahun 1923, Soekarno menikahi janda Haji Sanusi, Inggit Ganarsih yang lebih
tua 15 tahun dari Soekarno. Hampir 20 tahun susahnya kehidupan dilalui bersama. Dari

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 153


Email: mr.kasenda@gmail.com
penjara hingga pengasingan – Soekarno lewati bersama Inggit Ganarsih. Saat Soekarno
dipenjara Sukamiskin karena kegiatan politik. Inggit Ganarsih setia menemani dan
menunggu sampai hukumannya habis. Karena hanya dia yang boleh menjenguk Soekarno
di penjara, otomatis Inggit yang menjadi penghubung antara suaminya dan para pejuang
lain secara sembunyi-sembunyi. Untuk menulis pesan Soekarno, Inggit menggunakan
kertas rokok lintingan. Ketika itu, Inggit memang berjualan rokok buatan sendiri. Rokok
yang diikat dengan benang merah hanya dijual kepada para pejuang, di dalamnya berisi
pesan-pesan Soekarno. Tak mengherankan jika di depan para peserta Kongres Indonesia
Raya di Surabaya (1932), Soekarno menjuluki istrinya, Inggit Ganarsih sebagai “
Srikandi Indonesia,”. Kita tidak pernah mengetahu, apa jadinya Soekarno tanpa Inggit
Ganarsih.

Ketika Soekarno diasingkan di Bengkulu. Ada seorang gadis jelata yang mondok
di rumah Soekarno. Namanya Siti Fatma yang kemudian dikenal Fatmawati. Inggit
Ganarsih merasa ada percikan bunga cinta antara suaminya dengan putri angkatnya,
Fatmawati. Ternyata benar. Soekarno ingin menikahi Fatmawati untuk memperoleh
keturunan tanpa menceraikan Inggit Ganarsih, tapi mantan istri Haji Sanusi menolak di
madu. Meski pernikahan Soekarno dengan Inggit tidak dikaruniai anak, mereka memiliki
dua anak angkat:Ratna Djuami dan Kartika. Pada jaman pendudukan Jepang, Soekarno
menikahi Fatmawati dan sebelumnya menceraikan Inggit Ganarsih dengan baik-baik.

Nama Fatmawati adalah adalah pemberian Soekarno, yang berarti bunga teratai.
Fatmawati banyak menemani Soekarno sejak menjelang proklamasi kemerdekaan. Ketika
Soekarno dan Hatta dibawa oleh sejumlah pemuda ke Renggasdengklok, yang
menginkan adanya proklamasi kemerdekaan tanpa kaitan dengan balantera Jepang.
Fatmawati menyertainya bersama Guntur yang masih bayi. Di masa kemerdekaan,
Fatmawati menjadi ibu negara dan tinggal di Yogyakarta. Setelah pengakuan kedaulatan
RI, keluarga Soekarno tinggal di Jakarta, menempati Istana Merdeka. Dari pernikahan itu
terlahir anak : Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh.

Poligami

Kendati sudah mempunyai lima anak, tetapi Soekarno ingin menikah dengan
Hartini, janda beranak lima. Soekarno jatuh cinta pada pandangan pertama, ketika
bertemu di Salatiga pada tahun 1954,” Tuhan telah mempertemukan kita Tien, dan aku
mencintaimu. Ini adalah takdir,” begitu kata Soekarno kepada Hartini lewat surat-
menyurat. Srihana nama samaran Soekarno, sementara Srhani untuk Hartini. Maklum
percintaan yang dilakukan dengan jalan belakang. Ada yang mengatakan ketika terjadi
cinta romantis yang berkobar. Hartini terikat perkawinan dengan dr Soewondo. Tetapi
Hartini membantah dan menyatakan bahwa “saya minta waktu kepada beliau
( Soewondo). Tiga bulan setelah itu, saya memutuskan menerima lamarannya ,”
Percintaan yang romantis tersebut telah membuat PM Ali Sastroamidjojo menegur
Soekarno untuk menyelesaikan gossip dengan menikahi Hartini secepat mungkin.

Kisah Hartini yang dinikahi Soekarno, agak berbeda dengan istri sebelumnya.

154
Peter Kasenda

Hartini bersedia dimadu. Sebelum menikah, Hartini mengajukan syarat agar Fatmawati
tidak diceraikan dan tetap menjadi ibu negara,” kata Hartini, yang kemudian melahirkan
dua anak dari Soekarno : Taufan (almarhum) dan Bayu. Setiap Jum”at sampai Minggu.
Soekarno menyempatkan diri berkunjung ke Bogor, tempat Hartini dan kedua anaknya
tinggal di palviun Istana Bogor. Di sinilah Hartini membangun jaringan-jaringan politik,
untuk siapa saja yang ingin merapat ke Presiden Soekarno.

Fatmawait mengizinkan Soekarno menikah lagi, namun tidak mau hidup satu atap
dengan Soekarno. Ia memilih meninggalkan istana dan tinggal di Jalan Sriwijaya, Jakarta
Selatan hingga akhir hayatnya. Fatmawati tidak mau ada “perempuan lain“ di dalam
rumah tangganya. Ormas-ormas wanita penentang poligami memberi dukungan kuat bagi
keputusan Fatmawati meninggalkan Istana dan memulai kehidupan baru, terpisah dari
suaminya. Perkawinan Soekarno dengan Hartini merupakan pukulan terhadap gerakan
wanita Indonesia yang waktu itu sedang gencar-gencarnya menuntut Undang-Undang
Perkawinan dengan semangat anti poligami.

Populeritas Soekarno jatuh dan ide-ide besarnya tentang perempuan di dalam


bukunya Sarinah dipertanyakan. Ketegangan pun terjadi di antara kelompok
wanita. Nani Suwono dari Perwari yang mendukung Fatmawati yang
meninggalkan Istana menyesalkan tindakan Gerwani, yang tidak memprotes
perkawinan Soekarno dengan Hartini. Gerwani dituduh lebih berat membela
politik dan bukan kepentingan kaum wanita. Protes Perwari sebaliknya merugikan
organisasinya sendiri Banyak anggota Perwari mengundurkan diri karena
suaminya diintimidasi, bantuan dana pun di stop dan ketuanya mendapat tekanan,
intidimasi, bahkan ancaman mati.

Mengenai dukungan kaum wanita terhadap Fatmawati, Roeslan Abdulgani punya


cerita. Suatu hari Roeslan Abdulgani didamprat Presiden Soekarno. Ia marah-
marah karena istri Roeslan Abdulgani tak mau diajak menemui Hartini. Soekarno
menyuruh Roeslan Abdulgani membujuk istrinya agar bersedia menemui Hartini.
Ketika hal itu, Roeslan utarakan pada istrinya, dia tetap tidak bersedia bertemu
dengan Hartini. Alasannya, dia tak mau mengakui Hartini sebagai istri Presiden
Soekarno. Yang tetap diakuinya adalah Fatmawati, Penjelasan istrinya
disampaikan Roeslan kepada Presiden Soekarno. Presiden Soekarno mau
memahami alasan istrinya. Di samping istri Roeslan Abdulgani, istri AH
Nasution, Istri Achmad Yani dan lain-lain menolak bertemu Hartini. Mereka
membela Fatmawati yang dimadu.

Menanggapi kemarahan Fatmawati, Soekarno menyatakan bahwa “ Sebetulnya


dia tidak perlu marah. Istriku pertama dan juga yang saleh serta menyadari
hukum-hukum agama,” Saat Soekarno meninggal dunia, Fatmawati tidak melepas
kepergian suaminya. Namun Fatmawati mengirim karangan bunga bertuliskan”
Tjintamu yang selalu menjiwai rakyat, Cinta Fat.” Jenazah Soekarno
disemayamkan di Wisma Yaso, tempat kediaman Dewi Soekarno yang kemudian
dikenal sebagai Museum Satria Mandala, Jakarta Pusat

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 155


Email: mr.kasenda@gmail.com
Tetapi sayangnya, Soekarno tidak hanya berhenti sampai istri kedua. Ternyata
Hartini bukan yang terakhir. Tahun 1959, seorang model dan mantan pramugari – Kartini
Manoppo pun “dinikahinya“. Tatkala Soekarno menyaksikan lukisan Basuki Abdullah,
Soekarno mengagumi sang model, yang menjadi pramugari pesawat Garuda, lantas
memintanya ikut terbang setiap kali Presiden Soekarno melawat ke luar negeri. Sekitar
akhir tahun 1959, Soekarno dan Kartini menikah. Pada tahun 1967, Kartini Manoppo
yang berada di luar negeri atas permintaan Soekarno ketika kekuasaannya sedang
digerogoti kemudian melahirkan Totok Suryawan Soekarno di Numenberg, Jerman.

Pada saat kunjungan ke Jepang, mampirlah Soekarno ke kelab malam


Cocacobana. Di sana Soekarno bertemu dengan seorang geisha cantik – Naoko Nemoto.
Wanita Jepang ini dikenalkan kepada Soekarno karena adanya latar politik bisnis. Konon
kabarnya Ia menyanyikan lagu Bengawan Solo ketika menyambut Soekarno. Dengan
dicomblangi Masao Kubo, Direktur Utama Tonichi Inc, hubungan mereka berlanjut
sampai ke pelamin. Naoko Nemoto yang kemudian berubah menjadi Ratnasari Dewi,
Tetapi perkawinan tersebut membawa korban, Ibu Naoko, seorang janda, kaget dan
langsung meninggal mendengar putrinya menikah dengan orang asing. Disusul 26 jam
sesudahnya Yaso, saudara lelaki Naoko, melakukan bunuh diri. Berkat peran Dewi
Soekarno, Tonichi Inc mendapat banyak proyek dari pemerintah RI. Dari Soekarno,
Ratsasari Dewi melahirkan Kartika Sari Soekarno di Jepang, Saat itu Dewi Soekarno
berada di luar negeri atas permintaan Soekarno yang kekuasaannya dalam keadaan krisis.

Mengenai naluri politik Dewi Soekarno, mantan Wakil Perdana Menteri I


merangkap Menteri Luar Negeri Subandrio punya cerita. Suatu saat Presiden Soekarno
menelpon Subandrio untuk meminta agar Dewi Soekarno, dijadikan Duta Besar Keliling.
Subandrio membalas, sekalian saja Dewi Soekarno dijadikan menteri luar negeri.
Presiden Soekarno bisa memahami pernyataan bawahannya.

Kendati Soekarno sudah menikahi gadis cantik dari negeri Sakura, tetapi Haryatie
yang bekerja sebagai pegawai urusan kesenian di Sekretaris Negara tampaknya menjadi
sosok yang begitu menawan bagi Soekarno. Keduanya menikah pada bulan Mei 1963.
Perkawinan ini tidak membuahkan keturunan dan perceraian Soekarno-Haryatie terjadi
tiga tahun kemudian. Sebagaimana surat Soekarno pada Haryatie, tertanggal 20 Januari
1967, Soekarno mengatakan pada mantan istrinya bahwa “Perceraianku dengan engkau
ialah karena kita rupanya tidak cocok satu sama lain.” Meski perceraian itu telah terjadi
sejak Oktober 1966, tetapi publik baru mengetahuinya pada bulan Januari 1967. Haryatie
mengumumkan secara resmi saat Soekarno datang untuk terakhir kali ke rumah Haryatie
di Jalan Madiun. Setelah bercerai dengan Soekarno, Haryatie menikah dengan Sakri.

Yurike Sanger, kelas II SMA VII Jakarta yang turut serta dalam barisan Bhineka
Tunggal Ika ternyata menarik perhatian Soekarno. Soekarno melamar Yurike Sanger
dengan mengatakan bahwa,” Adiklah, istri yang terakhir,” Yurike Sanger yang muda
belia percaya dengan rayuan tersebut. Soekarno dan Yurike Sanger menikah dengan
dihadiri oleh keluarga Yurike Sanger pada tahun 1964. Sebenarnya keluarga Yurike
Sanger kurang berkenan dengan perkawinan putrinya yang masih sekolah itu dengan
Presiden Soekarno yang banyak istri ini.. Perkawinan Soekarno – Yurike Sanger tidak

156
Peter Kasenda

membuahkan keturunan. Yurike memang pernah mengandung setahun setelah


perkawinanya, tetapi ia melahirkan bayi premature sehingga dokter menyarankan agar
tak hamil selama tiga tahun.

Menurut Yurike Sanger, Soekarno mengetahui dan menghormati kewajibannya.


Meskipun, hal itu kadang-kadang menjengkelkannya. Maklum, Soekarno punya
kebiasaan harus kembali ke Istana Merdeka pagi-pagi sekali, sehabis menginap di
rumahnya. Kadang-kadang Soekarno pergi dengan tergesa-gesa dan tak sempat cuci
muka. Semua ini dilakukan agar dimata anak-anaknya, Soekarno tetap menjadi seorang
bapak yang penuh perhatian. Soekarno harus mencium anak-anaknya satu persatu
sebelum mereka berangkat ke sekolah.

Tampaknya Yurike Sanger bukan menjadi istri terakhir Soekarno, sebagaimana


janji Soekarno pada Yurike Sanger. Sekali lagi, gadis barisan Bhineka Tunggal Ika
kembali memikat hati Soekarno. Heldy Djafar namanya. Di saat-saat kekuasaan Soekarno
sedang goyah akibat Peristiwa Gerakan 30 September, Soekarno menikah secara diam-
diam pada 11 Juni 1964. Heldy Djafar kadang-kadang bertemu Soekarno justru di
kediaman Yurike Sanger di Jalan Cipinang Cempedak, Polonia, Jakarta Timur sedangkan
rumah Heldy Djafaar di Jalan Wijaya I, Kebayoran Baru. Perkawinan mereka tidak
membuah keturunan dan hubungan pasangan ini tidak berlangsung langgeng.

Di masa Orde Baru, anak kedua Gusti Maya Firanti Noor, dari suami kedua Heldy
Djafaat, menjadi istri Ari Sigit Soeharto, cucu Soeharto, yang menggantikan Presiden
Soekarno. Heldy Djafaar sebagai istri kesembilan dan yang terakhir ini, baru diketahui
setelah Soeharto lengser ke prabon. Selama 36 tahun, Heldy Djafar menutup rapat
rahasia perkawinannya dengan Presiden Soekarno.

Kesepian

Banyak hal yang membuat para istri dan mantan istri Soekarno menilai Soekarno
adalah suami dan bapak yang bertanggung jawab. Sikapnya penuh perhatian, telaten, dan
tak pilih kasih. Tanggung jawabnya yang tinggi itu membuat semua istri dan mantan istri
Soekarno menaruh hormat kepada sang suami.

Bekas ajudan Presiden Soekarno, Bambang Widjanarko dalam memoarnya,


Sewindu Dekat dengan Bung Karno, menuturkan bahwa mempunyai presiden banyak
istri menimbulkan kerepotan tersendiri. Salah tugas Bambang Widjanarko, misalnya,
meneliti kerapian Soekarno saban kali sang presiden meninggalkan rumah salah satu
istrinya, apakah ada bekas lipstik yang menempel, baju yang kusut, atau bau parfum yang
melekat. Kalau masih kurang rapi, Soekarno akan mandi dan ganti baju sebelum
meluncur ke rumah istrinya yang lain.

Soekarno memang punya alasan sendiri untuk berhati-hati. Menurut Soekarno


sendiri, sekali seorang suami tidak mengakui hubungan utamanya dengan wanita lain,
sebaiknya ia berbohong untuk selamanya. Mengapa? Di dalam hal lain, istri dapat

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 157


Email: mr.kasenda@gmail.com
memaafkan dan melupakan perbuatan suami yang salah. Tetapi mengenai affair dengan
wanita lain, ia dapat memaafkan tetapi tidak akan pernah melupakannya. Tetapi bila
Soekarno kepergok sedang berkasih-kasihan dengan istri yang lain, Soekarno mahir
melumerkan kemarahan wanita dengan rupa-rupa cara dari menulis kata-mata mesra di
atas potongan-potongan kertas hingga memberi limpahan hadiah.

Di satu sisi, wanita merupakan titik lemah Soekarno, tetapi di pihak lain wanita
mampu memberikan gairah dan semangat hidup.” I’m a very phycical man, I must have
sex every day,” kata Soekarno kepada Cindy Adams, yang menulis autobiografinya.
Aktivitas sex yang luar biasa ini kemudian disebarluaskan sedemikian rupa untuk
menunjukan bahwa pemerintahan tetap berada dibawah kontrol Soekarno. Sebuah
kelemahan bisa menjadi kekuatan tergantung pada situasi dan keadaan yang dihadapi.
Tetapi ketika usia Soekarno semakin lanjut, apa bisa Soekarno mengontrol segala
persoalan yang ditimbulkan yang semakin kompleks itu dan diperlukan ketajaman
analisis yang tetap terjaga dengan baik.

Apapun alasan Soekarno beristri banyak. Soekarno adalah seorang pencinta dan
pemuja perempuan. Bahwa perempuan pun memuja Soekarno tidak ada yang bisa
mengelak. Tuhan menciptakan wanita penuh dengan keindahan. Menurut Soekarno,
setiap laki-laki normal senang melihat keindahan yang ada pada diri wanita. Hartini
Soekarno bercerita tentang kegemarannya suaminya pada kecantikan.” Cintanya kepada
wanita yang cantik adalah beban bagi saya, walaupun saya sudah berusaha menerima ia
sebagaimana adanya. Dia sangat mencintai keindahan, termasuk keindahan dalam
kecantikan wanita.”

Presiden Soekarno adalah pengagum dan pemuja perempuan. Di samping itu, ia


menggemari lukisan-lukisan wanita tanpa busana. Lukisan-lukisan yang menggoda
tersebut dipajang di berbagai dinding Istana Negara, Istana Merdeka, Istana Bogo, Istana
Cipanas, Istana Yogyakarta dan Istana Tampaksiring. Konon kabarnya sejumlah model
dalam lukisan indah tersebut pernah menjadi teman kencan Presiden Soekarno.

Pada masa jayanya kesukaan Presiden Soekarno terhadap wanita diterima bangsa
Indonesia sebagai kelebihan seorang presiden yang multi bakat. Bahkan, barangkali ada
semacam kebanggaan bangsa Indonesia pada waktu itu terhadap vitalitas Presiden
Soekarno sebagai Bapak Bangsa. Dalam Manusia Indonesia, Mochtar Lubis menyatakan
bahwa sexualitas dan sensualitas manusia Indonesia amat jelas tercermin dalam cerita-
cerita rakyat.

Kharisma Soekarno sebagai seorang pencinta mendatangkan kagum banyak


orang. Daya tarik serta taraf intelektualnya yang tinggi menjadikan Soekarno seseorang
master dalam menaklukan hati wanita. Sebagai laki-laki, Soekarno pandai mencurahkan
perhatiannya secara utuh kepada setiap wanita yang dihadapinya sehingga wanita tersebut
merasa ia satu-satunya yang paling dicintai. Soekarno itu tak segan mengambilkan
minum untuk seorang tamu wanita, atau sekadar memuja busana dan tata rambutnya.
Soekarno tahu benar bahwa wanita senang mendapat pujian.

158
Peter Kasenda

Pada saat hari-hari menjelang kematian Soekarno, wanita-wanita yang dahulu


dipuja dan memuja. Lenyap dari sisinya. Hanya Hartini Soekarno, yang masih
mendampingi kala Soekarno menghitung-hitung hari kesepian di Wisma Yaso. Selama
tiga tahun Soekarno merasakan kesendirian. Ia meninggal dunia bukan karena sakit,
terlebih karena ia dijauhkan dari rakyat yang dicintainya dan mencintainya.

Jenazah Soekarno dibaringkan di Wisma Yaso. Karena Soekarno di masa


hidupnya menikah dengan begitu banyak wanita, sekarang setelah ia meninggal timbul
kesulitan siapa yang harus maju sebagai jandanya? Ibu negara Fatmawati yang paling
cocok. Tetapi Fatmawati sudah lama tidak berhubungan dengan Soekarno, dan juga tidak
mengunjunginya ketika ia menemui takdirnya. Dia juga menolak untuk datang
berkunjung ke rumah duka. Hartini dan Dewi yang datang sehari sebelum Soekarno
menghembuskan nafas terakhir, tampil sebagai janda yang berduka. Hartini dan Dewi
menerima pernyataan bela sungkawa sebagai janda Soekarno. Mantan istri Soekarno
Haryatie pun datang ke Wisma Yaso, tetapi Dewi memperlakukannya dengan tidak
begitu sopan sehingga ia cepat pergi lagi. Yurike Sanger dan Kartini Manoppo tidak
datang.

Apapun penilaian kita terhadap Soekarno sebagai pencinta wanita –kehidupan


asmaranya bersama dengan istri-itrinya – sama sekali tidak menghilangkan perannya
sebagai pejuang kemerdekaan. Tidak juga akan melenyapkan sumbangannya dalam
memimpin perjuangan untuk kemerdekaan bangsa dan tanah airnya, Indonesia yang
sangat dicintainya. Puluhan ribu orang Jakarta mengucapkan selamat berpisah kepada
Soekarno ketika jenazah diangkat dari Wisma Yaso ke lapangan udara militer Halim
Perdanakusuma. Berjuta-juta orang berdiri di pinggir jalan sepanjang kira-kira 40
kilometer yang ditempuh arak-arakan duka dari Malang menuju Blitar. Kenyataan
tersebut menunjukkan betapa Soekarno dicintai rakyatnya.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 159


Email: mr.kasenda@gmail.com
Sumber Tulisan

1 “Soekarno: Sebuah Dilemma dalam Penulisan Sejarah Indonesia”


Prioritas, 2 – 3 Oktober 1986

2 “Studi tentang Soekarno: Sebuah Catatan”


Merdeka, 19 Maret 1987

3 “Kontroversi Di Sekitar Soekarno; Peran Soekarno dalam G-30-S”


Simponi, 3 Juli 1991

4 “Polemik tentang Soekarno dan Pancasila”


Historia, Edisi Khusus, Tahun 1988

5 “Mengenang Pahlawan Proklamator: Soekarno Pejuang Pemikir”


Simponi, 15 November 1987

6 “Soekarno dan Hatta : Pahlawan Proklamator”


Prioritas, 9 November 1986

7 “Soekarno, Kutu Buku dan Koleksi Buku”


Simponi, 9 dan 16 Oktober 1991

8 “Soekarno, Pers dan Politik”


Simponi, 28 Oktober 1991

9 “Soekarno, Kapitalisme dan Imperialisme”


Merdeka, 14 Januari 1987

10 “Soekarno dan Marxisme”


Historia , Oktober 1988

11 “Soekarno dan Islam”


Terbit, 3 – 5 Desember 1987

12 “Soekarno, 1 Juni 1945 dan Pancasila: Sebuah Penjelasan”


Simponi, 26 Juni 1988

13 “Soekarno, Islam dan Pancasila”


Merdeka, 26 Januari 1987

160
Peter Kasenda

14 “Pengaruh Islam pada Pemikiran Politik Soekarno”


Pelita, 9 Januari 1987

15 “Soekarno dan Persatuan”


Prioritas, 6 November 1986

16 “Soekarno, Marhaen dan PNI”


Swara Indonesia, 31 Agustus 2001

17 “Soekarno dan Rakyat”


Merdeka, 25 April 1987

18 “Kepemimpinan Soekarno-Hatta dalam Revolusi Kemerdekaan 1945 – 1949”


Merdeka, 25 Februari 1987

19 “Politik Luar Negeri Era Soekarno”


Simponi, 11 dan 18 September 1991

20 “Soekarno, Diplomasi dan Konfrontasi”


Prioritas, 22 Desember 1986

21 “Soekarno, Banteng dan Pemilu”


Merdeka, 15 April 1987

22 “Soekarno and Golkar”


Indonesian Observer, March 26, 1987.

23 “Kesaksian mengenai Soekarno”


Makalah yang disampaikan dalam acara diskusi buku Kesaksian
tentang Bung Karno 1945 – 1967 di Manggala Wanabakti pada
tanggal 22 Mei 1999.

24 “Soekarno, Wayang dan Ratu Adil”


Makalah yang disampaikan dalam acara diskusi buku Soekarno
dan Perjuangan Kemerdekaan, di Studi Klub Sejarah Fakultas
Sastra Uiniversitas Indonesia pada 20 Maret 1988.

25 “Tragedi Anak Asuh HOS Tjokroaminoto: Soekarno, Musso dan Kartosuwiryo”


Swara Indonesia, 23 Juni 2001

26 “Soekarno, DN Aidit dan PKI”


Swara Indonesia, 25 Juli 2001

27 “Onghokham Menimbang Bung Karno“


Kompas, 5 Oktober 2009

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 161


Email: mr.kasenda@gmail.com
28 “Soekarno, Wanita dan Kekuasaan”
Makalah yang disampaikan dalam acara Bedah Buku Percintaan Bung
Karno dengan Anak SMA yang ditulis oleh Kadjat Adrai dan
diselenggarakan di Komunitas Salihara, Pasar Minggu pada tanggal
28 April 2010.

162
Peter Kasenda

Bibliografi

Abdullah, Taufik. 1984. ”Pengalaman yang Berlalu. Tantangan yang


Menantang Ilmu Sejarah di tahun 1970-an dan 1980-an,” Makalah
Seminar Sejarah Nasional IV. Yogyakarta .

1974. Sejarawan dan Kesadaran Sejarah. Jakarta : LEKNAS LIPI

dan Abdurrachman Surjomihardjo.1985. “Arah Gejala dan Perspektif,


Studi Sejarah ,” dalam Taufik Abdullah dan Abdurachman
Suryomihardjo (ed) Ilmu Sejarah dan Historiografi - Arah dan
Perspektif. Jakarta : Gramedia, h. 21 – 55.

” Dekrit Presiden, Revolusi dan Kepribadian Nasional , ” dalam


St Sularto (ed) Dialog dengan Sejarah. Soekarno Seratus Tahun,
Jakarta : Kompas, h. 120 – 133.

Adams, Cindy. 1965, Soekarno. An Autobiography as told as Cindy Adams


New York : The Bobbs –Meril Company Inc.

1986. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta :


Gunung Agung.

Adrai, Kadjat. 2010. Percintaan Bung Karno dengan Anak SMA. Jakarta :
Komunitas Bambu.

Alfian.1978. Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia. Jakarta: Gramedia

Ali, Syed Ameer. 1966. Api Islam. Jakarta : Pembangunan

Anderson, Benedict R.O?G. 1972. Java in a Time Revolution : Occupation


and Resistance, 1944 – 1946. Ithaca : Cornell University Press.

1984. ”Gagasan tentang Kekuasaan dalam Kebudayaan Jawa,” dalam


Miriam Budiardjo (peny) Aneka Pemikiran Tentang Kuasa dan
Wibawa. Jakarta : Sinar Harapan , h. 44 – 127.

Anshari, Endang Saifuddin, 1981. Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Bandung :


Pustaka – Perpustakaan Salman ITB.

Atmakusumah, 1981. Kebebasan Pers dan Arus Informasi di Indonesia,


Jakarta : Lembaga Studi Pembangunan .

1975. “ Resensi atas Sartono Kartodirdjo.” Sartono Kartodirdjo

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 163


Email: mr.kasenda@gmail.com
Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto (eds).
Sejarah Nasional Indonesia, Jilid 5 – 6. Jakarta : Departemen dan
Pendidikan 1974, dalam Prisma No 7, Tahun V, Nomor Khusus
1976,, h. 86 – 90.

Arvia, Gadis, ” Soekarno dan Gerakan Perempuan . Kepentingan Bangsa vs


Kepentingan Perempuan,” dalam St Sularto (ed) 2001. Dialog dengan
Sejarah. Soekarno Seratus Tahun. Jakarta : Kompas, h. 332 – 345.

Benda, Harry J. 1980. Bulan Sabit dan Matahari Terbit. Jakarta : Pustaka
Jaya.

Boileau, Julian M. 1983. Golkar – Functional Group Politic in Indonesia.


Jakarta : Centre for Strategic and International Studies.

Bolland, BJ. 1985. Pergumulan Islam di Indonesia. Jakarta : Grafiti Pers.

Brackman, Arnold C. 1969. The Communist Collapse in Indonesia. New


York : W.W. Norton & Con Inc.

Brown, Colin. 2004. Soekarno, Perempuan dan Pergerakan Nasional .


Yogyakarta : Ombak.

Castles, Lance. 1970. Indonesia Political Thinking 1945 - 1965 . Ithaca :


Cornell University Press.

Crouch, Harlod. 1983, Militer dan Politik di Indonesia. Jakarta : Sinar


Harapan.

Dahm, Bernhard. 1970. Sukarno dan The Struggle for Indonesian


Independence. Ithaca : Cornell University Press.

Dahm, Bernhard 1987. Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan. Jakarta


LP3ES.

Diah, BM. 1987, Meluruskan Sejarah . Jakarta : Pustaka Merdeka .

Effendi, Djohan dan Ismet Natsir (eds) 1981. Pergolakan Pemikiran Islam –
Catatan Harian Achmad Wahid. Jakarta : LP3ES.

Feith, Herbert. 1969. The Decline of Constitusional Democracy in Indonesia


Ithaca : Cornell University Press.

Frederick, William H dan Soeri Soeroto (eds) 1982. Pemahaman Sejarah


Indonesia . Sebelum dan Sesudah Revolusi . Jakarta : LP3ES.

164
Peter Kasenda

Gani, MA. 1984. Cita Dasar & Pola Perjuangan Syarikat Islam. Jakarta :
Bulan Bintang .

Geertz, Cliford. 1960. The Religion of Java. Glencoe : The Free Presss.

Giebels, Lamber J. 2005. Pembantaian yang ditutup - tutupi. Jakarta :


Grasindo.

Gonggong, Anhar. 1985. ”Tema Sentral Persatuan dan Alur Pemikiran


Soekarno (1926-1966),” Yogyakarta : Makalah Seminar Sejarah
Nasional IV.

Gootchalk, Louis. 1995. Mengerti Sejarah. Jakarta: Yayasan Penerbit


Universitas Indonesia.

Hadi, Asmara. 1961. Sembilan Tesis Marhaenisme dan Penjelasan Singkat


nya. Jakarta : Grafica.

Hadi, Syamsu (ed) . 1978. Tragedi Bung Karno - Perjalanan Terakhir


Seorang Proklamator. Jakarta : Pustaka Simponi.

Hanifah, Abu . 1972. Tale of A Revolution. Sydney : Angus and Robetson


Ltd.

Harsono, Ganis. 1985. Cakrawala Politik Era Soekarno. Jakarta : Gunung


Agung.

Hartiningsih, Maria dan Julius Pour, 1989, ” Lebih Jauh dengan Roeslan
Abdulgani, “ Kompas, 20 November 1989.

Hasan, A. 1984. Islam dan Kebangsaan . Bangil : Lajnah Penerbitan


Pesantren Persis Bangil.

Hatta, Muhammad. 1976. Mendayung Antara Dua Karang. Jakarta : Bulan


Bintang .

Hatta, Halida Nuriah. 1983. Dwitunggal Pola Kepemimpinan Nasional


1945 - 1956 . Jakarta : Skripsi Sarjana FIS UI.

Heering, Bob. 1978. Soekarno”s Mentjapai Indonesia Merdeka


Oueensland : Souutheast Asian Monograph Series No. 1 , James Cook
University.

Ingleson , John. 1979. The Indonesian Nationalist Movement 1927 – 1934.


Singapore : Heineman Educational Book (Asia) Ltd.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 165


Email: mr.kasenda@gmail.com
1983. Jalan Ke Pengasingan. Pergerakan Nasionalis Indonesia Tahun
1927 – 1934. Jakarta : LP3ES.

Kahin, George Mc Turnan. 1970. Nationalism and Revolustion in Indonesia


Ithaca : Cornell University Press.

Kaiseppo,Manuel.1981, ”Dilemma Partai Demokrasi Indonesia – Perjuangan


Mencari Identitas,” dalam Prisma, No 12, Tahun X, Desember 1981,
h. 69 – 83.

Kattopo, Artides. 1981. 80 Tahun Bung Karno. Jakarta : Sinar Harapan.

“Kontroversi Di Sekitar Soekarno”, Historia, Edisi Guntingan Pers,


Oktober 1988.

Korver, A,P.E. 1985. Sarekat Islam – Gerakan Ratu Adil? Jakarta : Grafiti
Pers.

Jakti, Heru Kuntjoro.1973. Strategi-Strategi Politik Soekarno dan Soeharto


Analisa Perbandingan. Jakarta ; Skripsi Sarjana FIS UI

Labrousse, Pierre, 1983. ” La Deuxieme Vie Bung Karno – Analyse du


Mythe ( 1978 – 1981 ),” Archipel No 25, 1983, h 187 – 214.

Legge, John D . 1972. Soekarno A Political Biography. London : Allen


Lane , The Penguin Press.

1985. Soekarno. Sebuah Biografi Politik. Jakarta : Sinar Harapan

1986.” Soekarno Si Tokoh Politik,” dalam Colin Wild and Peter Carey
(ed) Gelora Api Revolusi . Sebuah Antologi Sejarah. Jakarta : BBC
Seksi Indonesia dan Gramedia . h. 109 – 115.

Leifer, Michael . 1986. Politik Luar Negeri Indonesia. Jakarta : Gramedia.

Lembaga Soekarno-Hatta. 1984. Sejarah Lahirnya Undang-Undang Dasar


1945 dan Pancasila : Jakarta : Inti Idayu Press.

Lind, Elisabeth. 1983, ” The Rhetoric of Soekarno,” dalam T Svenson &


P Sorensen (ed) Indonesia and Malaysia – Scandinavia Studies in
Contemporary Society. London and Malmo Curzon Press Ltd. h.
1 – 16.

Lubis, Muhammad Ridwan. 1987. Pemikiran Soekarno tentang Islam dan


Unsur-Unsur Pembaharuan . Jakarta : Disertasi PhD IAIN Syarif
Hidayatullah .

166
Peter Kasenda

Lubis. Muhammad Ridwan. 1992. Pemikiran Sukarno tentang Islam. Jakarta


CV Haji Masagung .

Maarif, Ahmad Syafii. 1985. Islam dan Masalah Kenegaraan. Jakarta :


LP3ES.

Malik, Adam. 1979. Mengabdi Republik. Dalam Angkatan Pembangunan,


Jilid III. Jakarta : Gunung Agung

Martowidjojo. H Mangil.1999. Kesaksian tentang Bung Karno 1945–1967.


Jakarta : Grasindo.

McVey, Ruth T. 1965. The Rise of Communism . New York: Frederick A


Praeger.

1969, ” Nationalism, Islam and Marxism :The Management of Ideology


Conflict in Indonesia,” dalam kata pengantar untuk buku Soekarno,
Nationalism, Islam and Marxism. Diterjemahkan oleh Karel Warouw
dan Peter Weldon. Ithaca : Cornell Modern Indonesia Project .

Matondang, HM Victor. 1986. Percakapan dengan Dr TB Simatupang.


Jakarta : BPK Gunung Mulia – Patenta Sejati.

Mintz, Jeane S . Mohammed, Marx and Marhaen. New York : Frederick A


Praeger

Moedjanto, G. 1984. “ Menelusuri Sejarah Pemikiran Soekarno , ” Sinar


Harapan, 23 Oktober 1984.

Mortimer. Rex. 1974. Indonesian Communism Under Sukarno : Ideology


and Politic 1956 – 1965 . Ithaca & London : Cornell University Press.

Muhaimin, Yahya A . 1982. Perkembangan Militer Dalam Politik di


Indonesia 1945 – 1966. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Nasution, A H. 1979 Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia -


Pemberontakan PKI 1948, Jilid 8, Bandung . Disjarah-AD dan
Angkasa

Nasution, AH. 1985. Menemui Panggilan Tugas – Kenangan Masa Orde


Lama, Jilid 5, Jakarta ; Gunung Agung .

Nasution, Harun. 1984. “ Mahasiswa dan Agama,” dalam Denny JA (ed)


Mahasiswa dalam Sorotan.1984 Jakarta : Kelompok Studi Proklamasi,
h. 40 – 45.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 167


Email: mr.kasenda@gmail.com
Noer, Deliar. 1980. Gerakan Modern Islam di Indonesia. Jakarta : LP3ES.

1987. Partai Islam di Pentas Nasional. Jakarta : Grafiti Pers.

Notosusanto, Nugroho. 1975.” Kata Pengantar:, dalam Sartono Kartodirdjo,


Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto (eds)
Sejarah Nasional Indonesia, Jilid 6, Jakarta : Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.

1978. Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer.Jakarta:Yayasan Idayu

1979, ” Mengenai Pancasila Dasar Negara,” Persepsi No 1, Tahun 1,


April , Mei , Juni, 1979, h. 1 – 33.

1980. Proses Perumusan Pancasila Sebagai Dasar Negara .


Jakarta : Balai Pustaka .

1983. Naskah Proklamasi yang Otentik dan Rumusan Pancasila yang


Otentik . Jakarta : Balai Pustaka

1984. Pejuang dan Prajurit . Jakarta : Sinar Harapan..

Nuryanti et al. 2007. Istri-Istri Soekarno. Yogyakarta : Ombak .

Oemar, Moh. 1984. Laksda TNI - AL Anumerta Yosaphat Soedarso


Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Onghokham , 1977. “ Soekarno : Mitos dan Realitas,” Prisma No 8 , Tahun


VI, Agustus 1977, h. 3 – 14.

1983. “ Merosotnya Peran Pribumi dan Perdagangan Komoditi,”


Prisma No 8, Tahun XII, Agustus 1983, h, 3 – 19.

Paget, Roger K (ed) 1975. Indonesia Accuses : Sukarno”s Defence Oration


in the Political Trial of 1930. Kuala Lumpur : Oxford University
Press.

Pour, Julius, ” Dari Siti Oetari sampai Yurike Sanger,” dalam St Sularto (ed)
2001. Dialog dengan Sejarah. Soekarno Seratus Tahun. Jakarta :
Kompas, h. 332 – 346.

Penders, C.L.M. 1974. The Life and The Times of Soekarno. Kuala Lumpur:
Oxford University Press.

Pranarka, AMW. 1985. Sejarah Pemikiran tentang Pancasila. Jakarta :

168
Peter Kasenda

Centre for Strategic and International Studies.

Pringgodigdo, AK. 1977. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. Jakarta


Dian Rakyat.

Priyadi, Arief (peny) 1986. Wawancara dengan Sayuti Melik. Jakarta :


Centre for Strategic and International Studies.

Pusat Pelayanan Informasi – LP3EY, 1981. Bung Karno Antara Mitos &
Demitologi ( Dari Sudut Sukamiskin ). Yogyakarta : Pusat Pelayanan
Informasi – Lembaga Penelitian dan Penerbitan Yogyakarta.

Railon, Francois . 1985. Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia.


Pembentukan dan Konsolidasi Orde Baru 1966 – 1974. Jakarta :
LP3ES.

Redaksi Prisma, “ Politik Luar Negeri dan Dilemma Ketergantungan Dari


Sukarno sampai Soeharto. “ Prisma, No. 9, Tahun VI, September 1977,
h. 75 – 87.

Reeve,David. 1979,”Soekarnoism and Indonesia”s Functional Group State,,”


Review of Indonesia and Malayan Affairs , Vol 13, No 1, 1979, h
53 – 115.

1985. Golkar of Indonesia. Singapore : Oxford University Press.

Ricklefs, MC. 1981. A History Indonesia Modern. London and Basingstoke


The Macmillan Press Ltd.

1991. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta : Gadjah Mada


University.

Rocamora, J Eliseo, 1991, Nasionalisme Mencari Ideologi. Jakarta : Grafiti


pers.

Rossa, John. 2008. Dalih Pembunuhan Massa. Gerakan 30 September dan


Kudeta Soeharto. Jakarta : ISSI dan Hasta Mitra.

Rose, Mavis. 1991. Indonesia Merdeka – Biografi Politik Mohammad Hatta.


Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

S Hesri dan Joebar Ajoeb.1982. SM Kartosuwiryo,” Orang Seiring Bertukar


Jalan,” Prisma, No 5, Tahun XI, Mei, h, 79 – 96.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 169


Email: mr.kasenda@gmail.com
Said, Tribuana dan DS Moeljanto. 1983. Perlawanan Pers Indonesia BPS
Terhadap Gerakan PKI. Jakarta : Sinar Harapan.

Salam, Solichin. 1964. Bung Karno dari Kehidupan Berpikir dalam Islam.
Jakarta : Daya Upaya.

1981. Bung Karno dalam Kenangan . Jakarta : Pustaka

1984. Bung Karno Putera Sang Fajar. Jakarta : Gunung Agung,

1991. 90 Tahun Bung Karno dalam Kenangan . Jakarta : Yayasan


Pendidikan Soekarno dan Centre for Islamic Studies.

Santoso et al. “ Menggugat Kembali Kehormatan Si Bung.” Forum


Keadilan : Nomor 14, Tahun III, 27 Oktober 1994, h. 12 – 16.

Sasono, Adi. 1980.”Tesis Ketergantungan dan Kasus Indonesia.”Prisma, No


12. Tahun IX, Desember 1980, h. 73 – 85.

Sastroamidjojo, Ali. 1974. Tonggak - Tonggak di Perjalananku. Jakarta :


Kinta.

Sekretariat Negara Republik Indonesia. 1994. Gerakan 30 September :


Pemberontakan Partai Komunis Indonesia. Latar Belakang, Aksi dan
Penumpasannya. Jakarta : Sekretariat Negara RI

Shills, Edward L. 1972,” The Concept and Functional of Ideology,” dalam


David L Shills. Internasional Encyclopedia of The Social Sciences,
Volume 7, New York : The Macmillan Companye & The Free Press.
h. 135 – 150,

Siregar, Bakri , 1982, ”Muhammad Yamin, Sang Pujangga,” Prisma No 3,


Tahun XI, Maret 1982, h. 71 – 85.

Siswoyo, P Bambang . 1988. Bung Karno – Dalang G30S/PKI?. Solo. UD


Mayasari.

1989. Menelusuri Peran Soekarno dalam G30S /PKI. Solo : UD


Mayasari.

Sjadzali, Munawir. 1990. Islam dan Tata Negara. Ajaran, Sejarah dan
Pemikiran. Jakarta : Penerbitan Universitas Indonesia.

Sjamsuddin, Nazaruddin . 1984. PNI dan Kepolitikannya. Jakarta : Rajawali


Pers.

170
Peter Kasenda

(ed) . 1988. Soekarno – Pemikiran Politik dan Kenyataan Praktek.


Jakarta : Rajawali Pers.

Smith, Edward. 1983. Sejarah Pembreidelan Pers di Indonesia. Jakarta ;


Grafitipers ,

Soerojo, Soegiarso. 1988. Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai –


G30S/PKI dan Peran Bung Karno. Jakarta :

Soekarno, Rachmawati. 1984. Bapakku - Ibuku . Jakarta : Garuda


Metropolitan Press.

Soekito, Wiratmo, 1979. ”Pengaruh Marxisme sebagai Ideologi terhadap


Gagasan - Gagasan Sukarno, ” Persepsi No 3, Tahun 1, Oktober –
November, Desember 1979, h. 1 – 20.

Sophian, Manai. Kehormatan Bagi Yang Berhak : Bung Karno Tidak


Terlibat G30S.PKI. Jakarta : Yayasan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Sudibyo, Agus. 1999 . Citra Bung Karno : Analisis Berita Pers Orde Baru.
Yogyakarta : Biagraf Publishing

Suhastoyo, Tosan.1984. Pengaruh Islam pada Pemikiran Politik – Soekarno


dan Hatta ( 1920-1930). Yogyakarta : Skripsi Sarjana FSK UGM.

Sukarno. 1964. Di Bawah Bendera Revolusi, Jilid Pertama, Panitia Penerbit


Di Bawah Bendera Revolusi.

1965. Di Bawah Bendera Revolusi , Jilid Kedua, Panitia Penerbit Di


Dibawah Bendera Revolusi .

1983. Indonesia Menggugat . Jakarta : Inti Idayu Press.

1985. Pancasila Sebagai Dasar Negara. Jakarta : Inti Idayu Press–


Yayasan Pendidikan Soekarno.

1984. Sarinah . Jakarta : Inti Idayu Press.

1985. Pancasila dan Perdamaian Dunia. Jakarta : Inti Idayu Press –


Yayasan Pendidikan Soekarno.

Sukarno, Guntur, Bung Karno 7 Kesayangannya. Jakarta : Karya Unipers,


1981.

Sundhaussen, Ulf. 1986. Politik Militer Indonesia 1945 - 1967 – Menuju


Dwi Fungsi ABRI. Jakarta : LP3ES,

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 171


Email: mr.kasenda@gmail.com
Suryadinata, Leo. 1992. Golkar dan Militer. Studi tentang Budaya Politik.
Jakarta : LP3ES.

Suryomihardjo , Abdurrachman. Pembinaan Bangsa dan Masalah


Historiografi. Jakarta : Yayasan Idayu. 1979.

Suyatno, Isbodrini. 1979. Neo-Tradisionalisme dalam Politik dengan Kasus


Beberapa Pemikiran Politik . Jakarta : Skripsi Sarjana FIS UI,

Tempo,” “Don Juan” Yang Mahir Mencita,” Edisi Khusus Tempo, Edisi 4 –
10 Juni 2001, h. 25 – 28.

Tirtoprojo, Susanto. 1982. Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta :


PT Pembangunan .

Utami, Dewi Sri. “Hati yang Melihat Wanita,” Gatra , No 29 Tahun VII – 9
Juni 2001, h. 4 - 6

Van, Dijk P. Darul Islam : Sebuah Pemberontakan . Jakarta : Grafitipers,


1983.

Weinstein, Franklin B. Indonesia Foreign Policy and The Dilemma of


Dependence : From Sukarno to Soeharto . Ithaca & London : Cornell
University Press.

Wellem, Frederick Djara. Amir Sjarifoeddin – Pergumulan Imannya dengan


Perjuangan Kemerdekaan . Jakarta : Sinar Harapan , 1984.

Wibisono, Christianto. 1970 Aksi-aksi Tritura . Jakarta : Departemen


Pertahanan - Keamanan . Pusat Sejarah ABRI

Widjanarko, Bambang.1998. Sewindu Dekat Bung Karno. Jakarta: Gramedia

Yasni, Zainul (peny) . 1978. Bung Hatta Menjawab. Jakarta : Gunung


Agung

Yatim, Badri. Soekarno, Islam dan Nasionalisme. Jakarta : Inti Idayu Press,
1985.

Yayasan Cipta Loka. Caraka. 1984. Ensiklopedia Populer Politik


Pembangunan Pancasila. Jakarta : Cipta Loka Caraka.

Yayasan Idayu. Sekitar Tanggal dan Penggalinya – Guntingan Pers dan


Bibliografi tentang Pancasila. Jakarta : Yayasan Idayu Press, 1981.

172
Peter Kasenda

Yayasan Idayu. 1984. Bung Karno Sebuah Bibliografi. Jakarta : Inti Idayu
Press.

Yayasan Marinda. Bung Karno Wafat 21 Juni 1970 – 17 Tahun Yang Lalu . Jakarta
Yayasan Marinda, 1987.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 173


Email: mr.kasenda@gmail.com
Biodata Penulis

Peter Kasenda lahir di Bandung. Ia belajar Sastra Perancis dan Sejarah pada
Fakuktas Sastra (sekarang Ilmu Pengetahuan Budaya) Universitas Indonesia. Ia
menulis sejak terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Sastra UI hingga sekarang.
Tulisannya dimuat dalam Tokoh Indonesia Era Pembangunan (1986), Mengupas
Buku “Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai ‘ (1988), Bung Karno Dalam
Pergulatan Pemikiran (1991), Di Atas Panggung Sejarah. Dari Sultan ke Ali
Moertopo (1993), Biografi Tokoh Militer (1993), Sejarah Diplomasi Indonesia
(1994), Bung Karno tentang Marhaen dan Proletar (1999), Soekarno,
Nasionalisme dan Globalisasi (2002), Aberson Marle Sihaloho Wakil Lintas
Fraksi (2007) dan Mereka Bilang Kita Orang Indonesia. Design Kebudayaan
Indonesia ( 2010)

Ia mengorganisir penulisan buku The Non Aligned Movement Towards Next


Millenium Volume II dan Volume III (1995). Dikerjakan dengan melibatkan lebih dari 50
penulis dan penerjemah selama 10 bulan. Buku yang biaya produksi milyardan rupiah ini
diluncurkan di Balai Sidang Senayan pada 16 Desember 1995 dan kemudian diberikan
kepada kepala pemerintahan 112 Negara Non Blok di Kartagena, Kolombia. Di samping
itu ia menulis Sejarah Paroki Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta (1991), Sukarno
Muda. Biografi Pemikiran 1926 –1933 (2010) dan John Lumingkewas. Merah Darahku,
Putih Tulangku. Pancasila Jiwaku (2010)

Kumpulan tulisannya disatukan dalam Soekarno, Sejarah dan Nasionalisme


(2003), Tokoh Indonesia (2005), Bersahabat dengan Sejarah (2006) dan Soekarno dan
Komunisme ( terbit akhir 2010). Sebagian kumpulan karangan ini bisa dibaca dalam
dunia maya dan telah dibaca banyak orang. Di samping itu, ia menulis untuk keperluan
kuliah; Pancasila, Bisnis dan Politik, Pemikiran Politik Indonesia, Nasionalisme dan
Nasionalisme Tanya–Jawab. Sekarang ia sedang menyunting buku Soekarno Di Mata
Sarjana Asing, yang akan diterbitkan Komunitas Bambu.

Ia menjadi nara sumber Metro Files mengenai pidato pembelaan Indonesia


Menggugat Soekarno (1 November 2009). Buku Sukarno Muda didiskusikan dalam acara
Bedah Buku TVRI Programa Nasional (10 Mei 2010) dan didiskusikan di Gedung
Indonesia Menggugat, Bandung, pada 12 Mei 2010. Ia berbicara mengenai Pancasila di
Lemhanas (24 Agustus 2006), dalam Talkshow Radio Trijaya FM (1 Juni 2009) dan
dalam Dialog Kenegaraan di Dewan Perwakilan Daerah RI ( 26 Mei 2010 ).

Dahulu ia pernah mengajar di Universitas Bung Karno dan Padepokan Filosodi


dan Pondok Tani, Purwokerto. Sekarang ia mengajar mata kuliah Nasionalisme, Bisnis
dan Politik, Filsafat Politik, Pemikiran Politik Indonesia, Ideologi Politik Kotemporer dan
Terorisme Internasional di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta.

174