Anda di halaman 1dari 12

MANAJEMEN KONTRAK

KHUSUSNYA UNTUK PEKERJAAN KONSULTANSI

I. PENGANTAR
Dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat, meningkat pula upaya
investasi untuk memenuhinya. Upaya investasi tersebut terdiri atas kegiatan
pengadaan sumberdaya, kegiatan penggunaan sumberdaya yang telah
tersedia atau disebut kegiatan proyek, dan kegiatan pemanfaatan hasil proyek.
Dalam uraian ini khususnya akan dibahas upaya investasi pada tahap kegiatan
proyek.
Agar pelaksanaan upaya investasi pada tahap proyek tersebut dapat
lebih efektif serta lebih efisien dan lebih tertib, maka para investor memerlukan
bantuan spesialis-spesialis pelaksana proyek, seperti konsultan,
pemborong/kontraktor, dan pemasok/supplier. Hubungan kerja antara
spesialis-spesialis pelaksana proyek tersebut dengan para investor dilakukan
melalui perjanjian tertulis yaitu kontrak.
Dari itu agar upaya investasi khususnya pada tahap proyek dapat
berjalan secara efejtif, efisien dan tertib, maka haruslah kontrak tersebut
mendasarkan pada logika dan praktek pelaksanaan pekerjaan. Sedangkan
kontrak sebenarnya adalah pernyataan mengenai keterikatan masing-masing
pihak, mengenai hak serta kewajibannya sesuai dengan persetujuan yang telah
ditetapkan.
Uraian mengenai Manajemen Kontrak ini, mencoba membantu
mendapatkan pemahaman mengenai keterkaitan fungsional antara hak serta
kewajiban pihak-pihak dengan pelaksanaan proyek, lewat fungsi-fungsi
manajemen.
Dengan demikian diharapkan upaya investasi tidak saja lebih efektif
serta lebih efisien, tidak saja lebih tertib, tapi juga lebih sedikit hal-hal yang
menimbulkan ketegangan.

II. PENGERTIAN MANAJEMEN KONTRAK


Agar adanya pengertian yang same mengenai Manajemen Kontrak,
perlulah pertama-tama disampaikan apa yang dimaksud dengan Manajemen
Kontrak dakam pembahasan ini.

1
Untuk itu akan diuraikan mengenai apa yang dimaksud dengan Kontrak
beserta persyaratannya, dan apa yang dimaksud dengan Manajemen dalam
uraian ini, kemudian semua pengertian tersebut akan disatukan agar menjadi
jelas apa yang dimaksud dengan Manajemen Kontrak.
Bila “dua orang atau kita sebut dua pihak, saling bersetuju, bahwa
masing-masing pihak akan melakukan suatu hal bagi pihak-pihak lainnya”,
maka dalam peristiwa tersebut, kedua pihak saling berjanji, atau mengadakan
perjanjian yang mengakibatkan masing-masig pihak terikat satu sama lain
sesuai janji masing-masing pihak.
Secar umum dikatakan suatu perjanjian menimbulkan perikatan antara
perbuatannya. Perikatan ini merupakan suatu hubungan hukum antara para
pembuatnya, yang berarti pelaksanaannya dijamin oleh hukum atau
perundang-undangan.
Perjanjian dapat tertulis dapat pula tidak tertulis. Kontrak adalah suatu
perjanjian tertulis.
Manajemen tidaklah melakukan pelaksanaan, tapi melakukan fungsi-
fungsi manajemen. Menurut salah satu pakar manajemen, fungsi manajemen
ada empat yaitu, perencanaan atau planing, pengorganisasian atau organising,
penggerakkan atau actuating, pengendalian atau controling.
Sehingga dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa manajemen
kontrak pertama-tama adalah bagaimana merencanakan, mengorganisasikan,
menggerakkan, dan mengendalikan penciptaan suatu kontrak. Kemudian
bagaimana merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan dan
mengendalikan penggunaan kontrak dalam mendukung manajemen proyek.
Hal yang kedua ini sering disebut Administrasi Kontrak.

III. HUKUM PERJANJIAN

Pada standar kontrak yang diterbitkan pleh World Bank, untuk pekerjaan
pemborongan dinyatakan bahwa ”b. The law to which the Contract to be
subject and according to which the Contract to be construed shall be the law for
the time being in force in (Name of Employer’s Country)”. (Sample Bidding
Documents, Procurement of Works, The World Bank, September 1985, page
58).

2
Demikian pula untuk pekerjaan Jasa Konsultan dinyatakan “This
Contract, its meaning and interpretation, and the ralation between the Parties
shall be governed by the Aplicable Law [Note: Bank-financed contract usually
designate the law of the Client’s country as the law governing the contract.
However, if the parties wish to designate the law of another country, the Bank
will not object.]”. Sample Form of Contract for CONSULTANTS’ SEVICES, The
World Bank, March 1989, page 4.
Ini berarti kontrak-kontrak World Bank pada kesempatan pertama
menundukkan diri pada peraturan perundang-undangan Indonesia.
Kalau suatu kontrak dibuat oleh pihak-pihak yang tunduk pada peraturan
perundang-undangan Indonesia, dan dibuat di Indonesia, dan mengenai objek
di Indonesia, serta bila tidak disebutkan secara eksplisit tunduk pada peraturan
perundangan man, maka dengan sendirinya kontrak tersebut tunduk pada KUH
Perdata yang berlaku di Indonesia.
Karena itu dalam uraian ini akan terdapat bab yang menyoalkan pasal-
dalam peraturan perundang-undangan Indonesia mengenai kontrak, baik untuk
pemborong maupun untuk konsultansi.
Dalam Pasal 1338 KUH Perdata disebutkan ”Semua perjanjian yang
dibuat secara syah, berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya”. Menurut Prof. Subekti, Hukum Perjanjian menganut asas
terbuka, yang berarti pihak-pihak yang membuat persetujuan diperbolehkan
mengatur sendiri kepentingan mereka dalam persetujuan yang mereka buat,
asalkan tidak melanggar ketertiban umum dan kesusilaan. Bila mereka tidak
mengatur sendiri sesuatu hal, berarti untuk hal itu mereka akan tunduk pada
Hukum Perjanjian. Hukum perjanjian dapat dikatakan melengkapi perjanjian-
perjanjian yang dibuat secara tidak lengkap.
Hukum perjanjian adalah kumpulan semua peraturan perundang-
undangan mengenai perjanjian, dan hukum ini menganut sistem terbuka, yang
berarti memberikan kebebasan seluas-luasnya untuk mengadakan perjanjian
asalkan tidak melanggar ketertiban dan kesusilaan.
Pasal-pasal hukum perjanjian merupakan hukum pelengkap, yang
berarti pasal-pasal itu boleh tidak diberlakukan, bila dikehendaki oleh pihak-
pihak yang membuat suatu perjanjian. Kalau mereka tidak mengatur sendiri
suatu masalah, berarti untuk masalah tersebut akan tunduk kepada undang-
undang.

3
Syahnya suatu kontrak menurut Pasal 1320 KUH Perdata adalah
sepakat mereka yang mengikatkan dirinya, adanya kecakapan pihak-pihak
untuk membuat suatu perjanjian, mengenai suatu hal tertentu, dan suatu sebab
yang halal.
Mengenai pihak-pihak dalam perjanjian harus memenuhi syarat
subyektif, sedangkan mengenai hal yang diperjanjikan harus memenuhi syarat
obyektif.
Adapun uraiannya adalah sebagai berikut:
Bila dalam perjanjian bilateral telah ada kesepakatan kedua belah pihak
(atau pihak-pihak pada umumnya), maka timbullah perikatan antara pihak-
pihak.
Adanya kesepakatan pihak-pihak ini merupakan salah satu syarat syahnya
suatu perjanjian. Pihak-pihak yang bersepakat haruslah memang cakap serta
mempunyai wewenang membuat perjanjian.
Bila pihak-pihak mewakili suatu badan hukum, suatu perusahaan misalnya,
haruslah pihak-pihak tersebut memang mempunyai kewenangan untuk
membuat kesepakatan. Hal ini bisa dilihat dari Akta Pendirian perusahaan atau
suarat kuasa perusahaan. Atau bila suatu proyek pemerintah harus ada surat
keputusan penugasan dari pejabat yang berwenang.
Adanya kecakapan membuat perjanjian ini adalah salah satu syarat syahnya
suatu perjanjian, dan bila suatu pihak mewakili suatu perkumpulan, suatu
perusahaan atau instansi pemerintah dipersyaratkan pula adanya
berkewenangan.
Menurut undang-undang yang berlaku, seperti tertera pada KUH Perdata pasal
1330, tidak syahnya suatu perjanjian disebabkan karena pihak-pihak adalah,
orang-orang yang belum dewasa; mereka yang ditaruh di bawah pengampuan;
orang orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan undang-undang, dan
umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang
membuat persetujuan-persetujuan tertentu.
Syarat-syarat syahnya perjanjian yang tersebut di atas adalah merupakan
syarat subyektif, karena mengenai pihak-pihak yang membuat kontrak.
Bila syarat subyektif tidak dipenuhi maka kontrak tersebut adalah ”voidable”
atau dapat diminta pembatalannya oleh salah satu pihak kepada pengadilan.
Apa yang harus dilakukan oleh salah satu pihak haruslah jelas, misalnya
”merehabilitasi suatu gedung kantor, dipersil no. 100, jalan Bandar, Jakarta

4
12120”. ”Merehabilitasi suatu gedung kantor” saja tidak jelas bila ini mengenai
kontrak pemborongan. Merehabilitasi bukanlah membangun baru.
Kejelasan yang harus dilakukan ini, disebut syarat mengenai hal tertentu.
Karena mengenai obyek harus dilakukan maka disebut syarat obyektif.
Apa yang disepakati isinya haruslah tidak melanggar ketertiban dan kesusilaan,
dan haruslah suatu yang halal. Karena mengenai hal yang boleh dilakukan,
maka syarat ini disebut syarat obyektif.
Bila kedua syarat obyektif ini tidak dipenuhi, berarti tidak jelas atau tidak ada
yang diperjanjikan, maka kontrak tersebut disebut ”null and void” atau batal
demi hukum.
Penerapan syarat subyektif dan syarat obyektif dalam kontrak adalah sebagai
berikut:

Pasal 1266 Syarat pembatalan kontrak.


Syarat batal selalu dianggap dicantumkan dalam persetujuan-persetujuan yang
bertimbal balik, manakala salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya.
Dalam hal yang demikian persetujuan tidak batal demi hukum, tetapi
pembatalan harus dimintakan kepada hakim.
Permintaan ini harus dilakukan, meskipun syarat batal mengenai tidak
dipenuhinya kewajiban dinyatakan dalam persetujuan.
Jika syarat batal tidak dinyatakan dalam persetujuan, Hakim adalah
leluasa untuk menurut keadaan, atas permintaan si tergugat, memberikan
syarat jangka waktu untuk masih juga memenuhi kewajibannya, jangka waktu
mana namun itu tidak boleh lebih dari satu bulan.

Pasal 1236 Wanprestasi


Si berutang adalah wajib memberikan ganti biaya, rugi dan bunga
kepada si berpiutang, apabila ia telah membawa dirinya dalam keadaan tak
mampu untuk menyerahkan keberadaanya, atau telah tidak merawatnya
sepatutnya guna menyelematkannya.

Pasal 1545 Force Majeur

5
Jika suatu barang tertentu, yang telah dijanjikan untuk ditukar, musnah
di luar salah pemiliknya, maka perjanjian dianggap sebagai gugur, yang dari
pihaknya telah memenuhi persetujuan dapat menuntut kembali barang yang
telah ia berikan dalam tukar menukar.

IV. KONTRAK PEKERJAAN KOSULTANSI

1. Dalam Kitab Undang-Undang Perdata, masalah konsultansi ini tidak dibahas,


kecuali dalam pasal 1601, Buku Ketiga Bab Ketujuh Tentang Persetujuan-
Persetujuan untuk melakukan pekerjaan, yang menyatakan:
Pasal 1601 Selainnya persetujuan-persetujuan untuk melakukan sementara
jasa-jasa, yang diatur oleh ketentuan-ketentuan khusus untuk itu, dan oleh
syarat-syarat yang diperjanjikan, dan jika itu tidak ada, oleh kebiasaan, maka
adalah dua macam persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan
dirinya untuk melakukan pekerjaan bagi pihak yang lainya dengan menerima
upah: persetujuan perburuhan dan pemborongan pekerjaan.
Jadi sebenarnya ada tiga persetujuan atau perjanjian yaitu:
- persetujuaan melakukan jasa-jasa,
- persetujuan perburuhan, dan
- persetujuan pemborongan.
Dalam KUH Perdata persetujuan atau perjanjian melakukan jasa-jasa ini tidak
ada lagi pasal-pasal lain yang mengaturnya. Sehingga sudah selayaknya bila
diusahakan penyusunannya sendiri atau mengambil rujukan dari peraturan
perundangan yang berkaitan, peraturan yang telah diterbitkan oleh instansi
pemerintah, asosiasi-asosiasi profesi, lembaga pembinaan konsultansi,
lembaga keuangan pemberi kredit, dan sebagainya.
Beberapa contoh adalah:
a. Undang-Undang tentang Hak Cipta, Undang-Undang Nomor 6 Tahun
1982 tentang Hak Cipta sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1987,
b. Peraturan Umum tentang Hubungan Kerja Antara Ahli dan Pemberi
Tugas, yang diterbitkan pada tahun 1969, oleh DTPI atau Dewan Teknik

6
Pembangunan Indonesia. Peraturan ini banyak digunakan untuk
pekerjaan Pemerintah maupun swasta.
c. Pedoman Hubungan Kerja Antara Arsitek dan Pemberi Tugas yang
diterbitkan oleh Ikatan Arsitek Indonesia Tahun 1991. Terdiri atas 4 buku:
- Bagian I mengenai Hubungan Kerja,
- Bagian II mengenai Standar Imbalan Jasa,
- Bagian III mengenai Standar Hasil Karya Perencanaan,
- Bagian IV mengenal Kode Tata Laku Profesi Arsitek.
d. Untuk bangunan ke-PU-an khususnya Building and Housing atau
bangunan gedung pemerintah, diguanakan Surat Keputusan Dirjen Cipta
Karya tentang Pedoman Operasional Pelaksanaan DIP Penyelenggaraan
Pembangunan Gedung Negara, peraturan yang diterbitkan oleh Ditaba
misalnya mengenai Standar TOR/Draft, Standra Kontrak/Draft dsb.
e. Untuk bangunan ke-PU-an khususnya Civil Works, proyek pemerintah,
digunakan Keputusan-Keputusan Menteri PU.
f. Guidance dari Lembaga Pemberi Pinjaman seperti World Bank yang
menerbitkan ”Sample Forms of Contract For Consultant Sevices” March
1989.
g. Standard Form mengenai Perjanjian antara Pemilik dan Konsultan, yang
dikeluarkan oleh The American Institute of Architects.
2. Walau belum adanya pengaturan yang formal mengenai hubungan proyek
dengan konsultan, namun pekerjaan konsultasi toh berjalan terus, maka
sebenarnya terbuka kemungkinan untuk menyusun pengaturan Standar
Kontrak yang komplit atau kontrak yang mengacu kepada General Conditoins
of Contract dengan mengambil pengalaman dari kontrak-kontrak yang telah
terjadi.
a. Masalah pemilikan Hak Cipta, dan penanggungjawabnya bila ada
kegagalan yang isebabken oleh ciptaan yang bersangkutan. Isue pokok di
sini adalahbila suatu ciptaan misalnya suatu disain bangunan,
dilaksanakan konstruksinya oleh pemborong, kemudian setelah bangunan
jadi dan dimanfaatkan, terjadi kerusakan karena disainnya, apakah
penciptanya harus bertanggungjawab. Bila ya, maka sekarang bagaimana
menentukan penciptanya menurut Undang-undang Hak Cipta yang telah
diperbaharui pada tahun 1987.
Pasal 7 menyatakan:

7
”Jika suatu ciptaan dirancang seseorang, diwujudkan dan dikerjakan oleh
orang lain di bawah pimpinan dan pengawasan orang yang merancang
maka penciptanya adalah orang yang merancang ciptaan itu”.
Sekarang pertanyaannya apakah pernyataan ini tetap berlaku bila yang
memimpin dan mengawasi pelaksanaan bukan orang yang merancang?
Hal ini seperti banyak terjadi pada disain dan pelaksanaan konstruksi
pekerjaan bangunan.
Selain pencipta ada pula Pemegang Hak Cipta, maka bila ada kegagalan
misalnya suatu bangunan waktu dimanfaatkan dan disebabkan oleh
disainnya, siapakah yang harus bertanggung jawab, Penciptanya atau
Pemegang Hak Ciptanya.
Pasal 8 ayat (1), menyatakan:
”(1) Jika suatu ciptaan dibuat dalam hubungan dinas dengan pihak lain,
dalam lingkungan pekerjaannya, maka pihak yang untuk dan dalam
dinasnya ciptaan itu dikerjakan adalah Pemegang Hak Cipta, kecuali ada
perjanjian lain antara kedua pihak, dengan tidak mengurangi hak si
pembuat sebagai penciptanya apabila penggunaan ciptaan itu diperluas
ke luar hubungan dinas”.
Hubungan dinas ini diperuntukkan bagi pegawai negeri dan instansinya.
Ada ketentuan yang menyatakan bila untuk suatu pekerjaan konsultansi
misalnya disain dari suatu gedung pemerintah, tidak ada konsultan swasta
yang mampu dan mau mengerjakan, maka pekerjaan konstruksi itu
dikerjakan oleh instansi teknis yang bersangkutan.
Dan dalam pasal 8 ayat (1) dijelaskan adanya pencipta dan pemegang
hak cipta. Pertanyaannya kemudian bila ada kegagalan bangunan karena
salah disain, maka siapa yang bertanggung jawab, pencipta ataukah
pemegang hak cipta, pegawainya atau instansinya. Hal ini antara lain
menjadi jelas bila nantinya dikaitkan dengan Professional Liability
Insurance.
Pasal 8 ayat (2), menyatakan:
”(2) Jika suatu ciptaan dibuat dalam suatu hubungan kerja dengan pihak
lain dalam lingkungan pekerjaannya, maka pihak yang membuat karya
cipta itu sebagai pencipta adalah Pemegang Hak Cipta, kecuali apabila
diperjanjikan lain antara kedua pihak”.

8
Ayat ini diperuntukkan misalnya bagi seorang arsitek yang bekerja pada
perusahaan arsitek. Kalau tidak ada perjanjian lain maka si arsitek lah
pencipta dan pemegang hak ciptanya. Pertanyaanya kemudian bila ada
kegagalan bangunan karena disainnya, apakah si arsitek saja yang harus
bertanggung jawab, sebab selain sebagai pencipta dia juga memiliki
akreditasi profesional. Ataukah perusahaannya yang harus bertanggung
jawab, karena kontrak adalah atas nama perusahaan.
b. Masalah Professional Liability Insurance
3. Bila telah diatur hubungan kontraktual antara pemilik proyek dengan
pemborong, dan konsultan dengan pemilik proyek, maka hubungan
fungsional di lapangan antara pemborong dengan konsultan khususnya
konsultan pengawas haruslah ada pedomannya. Hal ini penting seandainya
terdapat kesalahan pemborong yang merugikan konsultan dan sebaliknya,
agar penyelesaiannya jelas, tidak rancu.
Untuk itu dapat dilakukan dengan:
a. Dalam masing-masing kontrak hal tersebut diatur dalam salah satu
pasal mengenai hubungan fungsional di lapangan.
b. Untuk rincianya dapat diatur dalam Prosedur Operasional Standar
yang disepakati bersama antara Pemilik Proyek, Konsultan dan
Pemborong.
4. Term of Reference/TOR untuk pekerjaan konsultansi adalah sangat penting,
baik bagi konsultan maupun pemilik proyek, karena akan merupakan rujukan
pokok bila nantinya ada persoalan baik pada waktu pekerjaan konsultansi
dilakukan dan diselesaikan, maupun pada waktu kemudian seteleh pekerjaan
konstruksi selesai dan bangunan mulai dimanfaatkan.
TOR dapat merupakan alat yang baik dalam pemilihan konsultan, dan akan
merupakan pedoman pelaksanaan pekerjaan konsultansi.
Dalam cara memilih konsultan dapat diperkirakan pandangan pemilik proyek
terhadap hubungan konsultan dengan pemilik proyek.
Cara lelang mengandung prinsip mendapatkan jasa konsultansi dalam batas
kriteria kualitas, dengan harga/imbalan serendah-rendahnya lewat
persaingan.
Cara sayembara dan usulan teknis mengandung prinsip mendapatkan jasa
konsultansi yang sebaik-baiknya di atas batas kriteria kualitas, dengan
imbalan masih dalam batas anggaran.

9
Cara penunjukkan langsung bagi pemilik proyek yang rasional haruslah telah
ada kegiatan memilih walau tidak secar eksplisit, dan kemudian telah ada
kepercayaan terhadap keahlian serta kejujuran konsultan.
Namun cara papapun yang akan dilakukan oleh pemilik proyek TOR tetap
harus ada. TOR dapat disusun sendiri oleh pemilik proyek, dapat pula
disusun bersama-sama konsultan yang terpilih. Agar TOR dpat digunakan
sebagai pedoman pelaksanaan pekerjaan konsultansi, haruslah dalam TOR
jelas ditetapkan keluaran atau produk pekerjaan konsultan, proses yang
diperbolehkan dalam menghasilkan produk, dan masukan yang mendukung
terlaksananya proses dan tercapainya produk. Bilamana ada asumsi harus
jelas ditegaskan dalam TOR tersebut.
5. Dalam menyusun suatu kontrak haruslah terdapat dasar pandangan, bahwa
semua kriteria dalam pelaksanaan pekerjaan bersumber pada kontrak.
Sebaliknya agar kontrak dapat digunakan sebagai pedoman yang baik bagi
pelaksanaan pekerjaan, maka haruslah kontrak bertolak dari logika dan
proses pelaksanaan pekerjaan. Dalam pelaksanaan pekerjaan pokok
penjabarannya pada masukan-proses-keluaran, dalam kontrak pokok
penjabarannya pada hak dan kewajiban dan wewenang serta tanggung jawab
pihak-pihak.
Dalam menyusun kontrak seyogyanyalah area pekerjaan yang nantinya dapat
menjadi sumber dispute perlu mendapat perhatian khusus, seperti bila harus
ada asumsi-asumsi, pekerjaan subsurface, metode pelaksanaan pekerjaan
konstruksi, bila ada ex-post evaluations, pengendalian bertahap yang tidak
dilakukan, hubungan fungsional antara para pelaksana pekerjaan (konsultan-
pemborong, konsultan-pemasok), dan sebagainya, cara penyelesaian dispute
beserta konsekuensinya baik bagi pekerjaan itu sendiri, terhadap hubungan
pihak-pihak, maupun dampaknya terhadap reputasi pihak-pihak. Cara yang
paling baik ialah mencegah terjadinya dispute dengan dilakukan secara
konsisten pengendalian secara periodik berdasar kriteria serta cara yang
telah disepakati bersama. Kemudian bila harus ada penyelesaian dispute
harus dicari yang paling efisien dan berdampak sesedikit mungkin terhadap
reputasi masing-masing pihak seperti cara arbitrase.
Dan akhirnya bila ada kewajiban yang harus dipenuhi dapat diselesaikan
dengan baik, misalnya lewat mekanisme asuransi.
6. Kontrak sebagai pengendali pelaksanaan pekerjaan, berarti kontrak harus
dapat digunakan untuk mengevaluasi pekerjaan yang harus dilakukan oleh
konsultan.

10
Dalam hal kontrak harus dapat menjadi sumber kriteria keluaran atau produk
konsultansi. Misalnya untuk pekerjaan perencanaan arsitektur, tentulah harus
bisa menjawab disain yang bagaimana. Dalam hal ini Standar Karya
Perancangan yang dikeluarkan oleh Ikatan Arsitek Indonesia/IAI akan sangat
membantu dalam menyusun kriteria yang umum sifatnya, asalkan standar
tersebut telah termasuk dalam kontrak konsultansi. Untuk kriteria yang
khusus tentulah tergantung kepada fitrah masing-masing pekerjaan
konsultansinya.
Kemudian kontrak juga menjadi sumber kriteria untuk proses pelaksanaan
pekerjaan konsultansi. Untuk penahapannya, khususnya pekerjaan disain
arsitektur, IAI telah pula mengeluarkan pedomannya beserta bobot produk
tahapannya. Sehingga selain untuk menentukan jangka waktu pekerjaan, dan
menetapkan status penyelesaian pekerjaan bisa pula untuk menetapkan
pembayaran imbalan tahapan pekerjaan.
Akhirnya juga menjadi sumber kriteria masukan seperti kulaifikasi tenaga
trampil, kualifikasi tenaga ahli dan saat serta jangka waktu keterlibatannya
dalam pelaksanaan pekerjaan konsultansi.
Bila dilakukan monitoring, pemeriksaan dan evaluasi maka kriteria-kriteria
tersebut menjadi pembanding terhadap apa yang telah dihasilkan konsultan.
Dengan demikian akan terdapat sistematisasi dan konsistensi kriteria.
Hasil evaluasi akan merupakan bahan untuk pengambilan keputusan tindak
lanjut. Misalnyabila pelaksanaan pekerjaan konsultansi telah sesuai dengan
kriteria, maka hasil evaluasi dapat digunakan untuk penyusunan berita acara
pencapaian sasaran dan berita acara pembayaran imbalan tahapan.
Misalnya bila hasil pelaksanaan pekerjaan konsultansi tidak sesuai dengan
kriteria, maka perlu secara bersama dicari penyebab dan koreksinya.
Pelaksanaan evaluasi secara periodik, sistematis, kontinyu dan konsisten,
akan mencegah penyimpangan yang terlalu besar dan mungkin konsepsional.
Dalam hal pemilik tidak paham mengenai pelaksanaan pekerjaan konsultansi,
maka kewajiban konsultanlah untuk menjelaskannya sebagai kepercayaan
pemilik dan dengan penuh kejujuran atas apa yang telah di capai disetiap
tahap serta kaitannya dengan seluruh pekerjaan konsultansi dan mungkin
pula dengan tahap pelaksanaan berikutnya.
7. Pada penyerahan terakhir pekerjaan konsultansi perlu dipertimbangkan jawab
pihak yang melakukan pekerjaan terhadap kemungkinan kegagalan kemudian
hari, yang disebabkan oleh pekerjaan konsultansi.

11
Bila hal ini termasuk dalam kontrak konsultansi, kiranya perlu
dipertimbangkan adanya professional liability insurance dari pihak konsultan.
Dalam hal seperti sangat significant perlunya ada pengadministrasian kontrak
yang baik, adanya dokumentasi yang baik dari setiap informasi, termasuk
surat ijin labolatorium bagi bahan dan peralatan yang digunakan dalam
proyek, termasuk surat jaminan dari produsen atau suplier bahan dan
peralatan, termasuk testing dan perijinan dari instansi yang berwenang,
termasuk berita acara dan laporan lampirannya, termasuk arsip surat
menyurat terutama yang dapat menjadi bukti bila ada persoalan, termasuk
perubahan gambar, spesifikasi teknis, dan penjadwalan beserta berita
acaranya, dan lain dokumen yang otentik yang bisa menimbulkan bukti.

V. PENUTUP

Demikianlah pembahasan mengenai Manajemen Kontrak Jasa


Konsultansi dengan mengikuti pengertian upaya menyusun, menggunakan dan
mengakhiri suatu kontrak, agar masing-masing pihak melakukan kewajibannya
dan mendapatkan haknya sesuai dengan kesepakatan yang telah ditetapkan.
Di samping itu perlu disusun suatu matriks sebagai penjelasan cakupan
setiap pembahasan yang akan dilakukan. Variabel pertama adalah bentuk-
bentuk hubungan pihak-pihak dalam suatu proyek, seperti turn-key, kontrak
design and builr, kontrak tiga segi dan sebagainya.
Variabel kedua adalah hubungan antara siapa, apakah antara proyek
dengan konsultan, dengan kontraktor, ataukah dengan supplier.
Dalam uraian ini dibatasi hubungan kontraktual antara pemborong dengan
proyek dan antara konsultan dengan proyek, dan khusus untuk bentuk
hubungan segitiga.

12