Anda di halaman 1dari 21

Peter Kasenda

Irian Barat, Diplomasi dan Konfrontasi

Marilah kita berjalan terrus, berjuang


terus, dan jikalau perlu berkorban terus.
Sebab tiada maksud yang suci dan luhur
bisa dicapai tanda pengorbanan

(Soekarno , 4 Mei 1963)

Dalam pasal 1 persetujuan Konperensi Meja Bundar, mengenai pengakuan kedaulatan


atas Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat dengan tidak bersyarat dan tidak dapat
dicabut dan karena itu mengakui Republik Indonesia sebagai negara yang berdaulat.
Karena Konperensi Meja Bundar tidak berhasil menyelesaikan masalah penyerahan
kekuasaan oleh Kerajaan Belanda atas Irian Barat kepada Indonesia, maka ditempuh jalan
kompromi. Disebutkan dalam pasal 2 ayat 1 Piagam Pengakuan Kedaulatan, yang
berbunyi sebagai berikut :

Mengingat kebulatan hati pihak-pihak yang bersangkutan hendak mempertahankan


azas supaya semua perselisihan yang mungkin ternyata kelak atau timbul diselesai
kan dengan jalan patut dan rukun , maka s tatus-quo (Niew Guinea) tetap berlaku
seraya ditentukan bahwa dalam waktu setahun sesudah tanggal pengakuan kedaulatan
kepada Republik Indonesia Serikat masalah kedaulatan Irian Barat akan diselesaikan
dengan jalan-jalan perundingan antara Republik Indonesia Serikat dan Kerajaan
Nederland.

Hampir setahun setelah diadakan persetujuan Konperensi Meja Bundar pada tanggal 29
Desember 1949, tetapi tidak kelihatan tanda-tanda kalau Pemerintah Belanda mau
menyerahkan Irian Barat kepada Republik Indonesia berdasarkan persetujuan Konpernsi
Meja Bundar. Kenyataan ini telah menyebabkan Presiden Soekarno menjadi gusar.
Dalam pidato bulan Agustus 1950 untuk memperingati hari ulang tahun kelima
Proklamasi Kemerdekaan, Presiden Soekarno menyatakan bahwa

Masih kita mengharap Irian dikembalikan kepada kita dalam tahun ini. Masih kita
junjung tinggi ketentuan dalam KMB, bahwa soal Irian Barat itu harus diseslesai
kan dalam tahun ini juga dengan jalan perundingan . Lewat tahun ini, kedua belah
pihak tidak terikat lagi kepada ketentuan KMB itu. Sekarang ini sudah pertengahan
Agustus, dan tanda-tanda Belanda merubah sikap belum tampak. Masih hanya
empat setengah bulan lagi memisa kita sekarang.Dengan terbitnya matahari ditahun
1951. Rakyat Indonesia, pemuda,pemudi, buruh, tani, semua! Camkanlah dalam
kalbu apa artinya ini. Di dalam Undang-Undang Dasar kita yang sekarang ini,
dengan tegas dituliskan bahwa luasnya daerah negara kita ialah seluruh Hindia
Belanda dahulu, dus : dari Sabang sampai Marauke. Menurut Undang-Undang
Dasar Kita itu dus Irian Barat adalah daerah Negara kita juga, daerah Republik
Indonesia, bukan besok, bukan lusa , tapi sekarang, sekarang, pun sudah.
Kekuasaan de facto Belanda atas Irian Barat itu diakui selama tahun ini saja.
Apabila penyelesaian dengan jalan perundingan dalam tahun ini tidak tercapai,
Maka timbullah persengketaan besar tentang siapa yang berkuasa sesudah itu

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 1
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

diatas pulau itu.. Sebab sekali lagi saya katakan : kita tidak akan berhenti
berjuang , kita akan berjuang terus, kita akan berjuang sampai yang ke
bagaimana pun , sampai Irian Barat itu dikembalikan lagi ke pangkuan Ibu Pertiwi
Dan saya ada harapan besar, saya tahu bahwa Irian Barat akan kembali ke
pangkuan Ibu Pertiwi. Dan saya ada harapan besar, saya tahu bahwa Irian Barat
akan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.Sebab senjata kita ialah senjata Adji Panca
Sona Kebangunan Nasional, yang Belanda sendiri telah pernah berulang-ulang
Menentangnya tetapi yang ia sendiri akhirnya harus mengakui tak dapat menundu
kannya, meski dengan bedil dan dengan meriam sekalipun .

Beberapa bulan setelah peringatan kemerdekaan – Menteri Luar Negeri Mohammad


Roem memimpin delegasi Indonesia menuju ke Den Haag untuk menghadiri Konprensi
mengenai Irian Barat yang diselenggarakan pada bulan Desember 1950. Perundingan
yang diadakan di negeri Belanda tersebut tidak memberi hasil yang memuaskan bagi
Pemerintah Indonesia yang menginginkan pengembalian Irian Barat secepat mungkin
sebab panitia bersama yang dibentuk sebelumnya gagal mencapai kata sepakat serta
menghasilkan laporan yang saling bertentangan. Walaupun demikian pihak Indonesia
memberikan jaminan bagi perlindungan kepentingan Belanda di Irian Barat, tetapi
sebaliknya pemerintah Belanda tidak memberikan konsesi apapun terhadap pemerintah
Republik Indonesia untuk mau mempertimbangkan menyerahkan Irian Barat. Batas
konsesi yang diberikan Belanda adalah suatu usul pengakuan kedaulatan pada Uni
Indonesia – Belanda tanpa perubahan pengendali administratif. Perundingan tersebut
diatas bisa dikatakan berbeda dengan apa yang terjadi pada Konperensi Meja Bundar
setahun lalu. Misalnya netralitas pura-pura Amerika Serikat baru saja menyingkapkan
pandangan bahwa kepentingan penduduk New Guinea Belanda akan dapat diwujudkan
secara paling baik dengan diteruskannya kontrol Belanda dalam bentuk tertentu. Sikap
netralitas pura-pura Amerika Serikat menjadi lebih runyam dengan munculnya suatu
pemerintahan konservatif di Australia yang justru telah memberikan suatu sekutu baru
bagi Pemerintah Belanda karena adanya kekuatiran dari Pemerintah Australia bahwa
pemerintah Indonesia akan memperluas tuntutannya atas bagian timur pulau New Guinea
yang dikuasai oleh Pemerintah Australia. Dalam kenyataannya, perundingan telah
memenui jalan buntu dan malahan kedua belah pihak telah gagal menghasilkan suatu
pernyataan bersama.

Kegagalan kabinet Natsir dalam menyelesaikan masalah Irian Barat menyebabkan


Presiden Soekarno secara terang-terangan menyatakan bahwa ia ingin menggunakan
kesempatan yang ditimbulkan oleh kegagalan perundingan tersebut untuk menentang
kepentingan ekonomi Belanda di Indonesia dan juga berusaha menghilangkan Uni
Indonesia-Belanda yang dianggap Presiden Soekarno sebagai suatu simbol provokatif
atas suatu kemerdekaan yang terbatas. Keinginan Presiden Soekarno yang sampaikan
dalam pidato umumnya ditolak oleh Perdana Menteri Mohammad Natsir dengan
menyatakan bahwa hanya kabinertlah yang berhak menentukan apakah presiden yang
mengemukakan secara umum masalah kebijakan luar negeri yang terpenting ataukah
tidak. Pertentangan konsitusional ini dimenangkan oleh Mohammad Natsir, tetapi
Presiden Soekarno berhasil menggunakan pengaruhnya kepada kekuatan oposisi di
parlemen untuk menjatuhkan kabinet Natsir. Oleh karena itu nantinya pengganti
pemerintah Natsir mengambil posisi yang lebih keras terhadap Pemerintah Belanda.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 2
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Dalam suatu pernyataan kepada parlemen pada bulan Januari 1951, Perdana Menteri
Mohammad Natsir menunjukkan niat pemerintahnya untuk memperbaiki persetujuan
Konperensi Meja Bundar, termasuk statuta Uni Indonesia-Belanda. Namun tanpa
tindakan langsung, Perdana Menteri Mohammad Natsir menunjukkan suatu komisi yang
diketuai oleh seorang ahli hukum terkenal untuk membahas ketentuan-ketentuannya.
Proses Natsir kuat tapi bertindak kalem. Dia tidak mempunyai keinginan untuk membawa
hubungan dengan Belanda, karena dengan yang terakhir disebut ini telah dirundingkan
suatu pinjaman yang bernilai 70 juta dollar Amerika Serikat, kearah titik yang
membahayakan. Justru sikap kalem yang ditampilkan oleh Kabinet Natsir telah
membawa kedudukan domestik kabinet Natsir tersebut menuju keruntuhan. Pemerintah
Natsir terpaksa mengundurkan diri pada bulan Maret 195, setelah oleh karena komposisi
dewan legislatif daerah. Kritik yang ditimbulkan oleh penanganannya terhadap masalah
Irian Barat merupakan faktor penyumbang bagi kekalahan politiknya.

Pengalaman yang dijumpai pemerintah Natsir atas masalah pengembalian Irian Barat
kepangkuan Ibu Pertiwi juga dialami oleh penggantinya pada awal tahun 1950-an. Yang
harus ditangani dengan berlanjutnya tantangan domestik atas kebijaksanaan politik luar
negeri. Kabinet Sukiman yang menggantikan kabinet Natsir berusia 4 bulan, Presiden
Soekarno kembali mempermasalahkan Irian Barat kembali dalam pidato proklamasi
kemerdekaan ke-16 dan ia menyatakan sebagai berikut :
Tawaran penyerahan kedaulatan atas Irian Barat kepada Uni itu, kita tolak mentah-mentah.
Konperensi Irian ternyata gagal.Delegasi kita pulang. Kita menyatakanbahwa kita hanya
bersedia berunding lagi, atas atas dasar penyerahan kedaulatan di Irian Barat . Maka sejak 27
Desember 1951 itu, Belanda memerintah IrianBarat – yang menurut Undang-Undang Dasar
kita adalah bagian dari daerah Republik – dengan tidak seijin kita lagi. Bagi kita , mereka
adalah pihak yang menduduki satu daerah negara kita, mereka adalah satu bezettende
overhead Mereka berbuat sesuatu tindakan yang bukan tindakan sahabat. Maka haruslah Kita
tinggal dalam ikatan ini dengan mereka, yang telah berbuat demikian itu, Sebagai “bevriende
partners “ ? Lihat, itupun satu hal yang lebih tidak mungkin Lagi, daripada seekor sapi yang
bisa terbang ………….

Dan tentang tuntutan kita mengenai Irian Barat itu, dengan tegas kita enyatakan,
bahwa Irian Barat tetap, ya tetap ! Menjadi tuntutan nasional. Dan dengan egas
pula saya tetap berkata :
Hai Bangsa Indonesia, jangan didinginkan hatimu mengenai Irian Barat ini jangan
Bosan menuntutnya, jangan berhenti berjuang – berjuang! Berjuang ! Sekali lagi
Berjuang ! – menuntutnya, jangan lupa pada sumpah kita “ Dari Sabang sampai
Merauke “

Dalam menangani masalah Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi kabinet Sukiman
mengalami nasib yang sama. Pemerintah Sukiman tidak mampu mengatasi kebandelan
Belanda atas Irian Barat. Pemerintah Belanda bukan saja menolak untuk merundingkan
kedudukan Irian Barat, tetapi sebaliknya mengambil tindakan memasukan Irian Barat ke
dalam Undang-Undang Dasarnya sebagai bagian dari wilayah jajahan Belanda pada
tanggal 19 Februari 1852. Pendirian Pemerintah Belanda jelas merupakan tindakan
sepihak dan dengan demikian merupakan pelanggaran tertahad ketentuan Konperensi
Meja Bundar.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 3
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Dalam menghadapi masalah Irian Barat pemerintah Belanda merasa kuat kedudukannya
karena pendirian dua negara, yakni Amerika Serikat dan Austalia. Pemilihan umum yang
diselenggarakan akhir tahun 1949, Partai Buruh Australia yang pro Indonesia dikalahkan
oleh Partai Liberal dan County yang pro Belanda. Dalam masalah Irian Barat pada
khususnya, pemerintah Australia yang baru justru memberi dukungan sepenuhnya kepada
peerintah Belanda. Sedanglkan pemerintah Amerika Serikat, meskipun mengambil sikap
tidak memihak dalam masalah Irian Barat, namun sikap demikian tersebut ternyata lebih
menguntungkan pihak Belanda, karena hal tersebut sama saja dengan mempertahankan
status quo. Dalam masalah Irian Barat sebenarnya Amerika Serikat tidak ingin mendesak
Belanda yang sudah menjadi sekutunya dalam NATO dan tidak ingin Australia yang juga
telah menjadi sekutunya dalam ANZUS .
Sebagaimana yang dialami pendahulunya, kabinet Sukiman pun menjadi korban
pemasukan masalah kebijaksanaan luar negeri kedalam proses dalam negeri. Dr Sukiman
digantikan sebagai Perdana Menteri pada bulan April 1952 oleh Wilopo dari PNI.
Kabinet Wilopo tidak menunjukkan adanya pertbaikan besar terhadap prioritas-prioritas
yang disusun oleh para pendahulunya. Kebijaksanaan luar negeri ditempatkan pada
urutan terbawah dalam daftar program kabinet baru ini ketika disampaikan kepada
parlemen pada bulan Mei. Dia mengemukakan secara eksplisit bahwa kebijaksanaan luar
negeri Indonseia didasarkan pada kondisi-kondisi internal dan menunjukkan suatu
pemahaman yang sensitif atas kegagalan kabinet Sukiman , Perdana Menteri Mr Wilopo
menyatakan sebagai berikut :

Suasana kesatuan dan solidaritas sangat diperlukan apakah kita ingin mencapai
hasil-hasil yang memuaskan dalam usaha-usaha kita pada bidang pembangunan
dan stabilisasi. Komitemen atau akibat-akibat yang ditimbulkan oleh hubungan-
hubungan luar negeri kita seyogyanya tidak mengganggu atau bahkan
mempersukar keadaan internal Indonesia.

Mengenai masalah Irian Barat dan hal-hal lain yang berhubungan dengan uni Indonesia-
Belanda. Mr Wilopo berjanji bahwa pemerintahannya akan memulai lagi perundingan-
perundingan yang telah dihentikan pada bulan Februari 1952.

Walaupun tetap menghormati pentingnya tuntutan, kecenderungan umum kabinet ialah


ke arah sikap moderat yang menekan, khususnya keadaan ekonomi yang buruk yang
muncul setelah berakhirnya ledakan Perang Korea dalam harga bahan mentah. Tekanan
parlemen terhadap masalah tersebut dihidupkan kembali dengan pengumuman
Pemerintah Belanda pada bulan Juni 1952 yang menyatakan bahwa Pemerintah Belanda
tidak melihat artinya untuk memulai pembicaraan dengan Pemerintah Indonesia
mengenai status New Guinea Barat. Terlepas dari perundingan-perundingan yang
mengakibatkan berakhirnya Misi Militer Belanda di Indonesia. Pemerintahan Wilopo
hanya dapat melakukan sesuatu yang tak lebih dari protes kepada Panitia Empat Majelis
Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada bulan Oktober ketika pemerintah Belanda
melaporkan perihal administrasi Irian Barat yang statusnya dilukiskan sebagai tidak
berpemerintahan sendiri.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 4
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Masalah domestik ternyata menyebabkan Wilopo harus melepaskan jabatan sebagai


Perdana Menteri dan kemudian digantikan oleh rekan satu partai PNI Ali Sastroamidjojo
yang sebelumnya menjadi duta besar Indonesia di Washington. Pengganti Wilopo ini
mempunyai perhatian yang lebih baik mengenai masalah Irian Barat. Perdana Manteri
yang baru Ali Sastroamidjojo segera mengisntruksikan Wakil Tetap RI di PBB, Sudjarwo
Tjondronegoro untuk mengajukan permintaan kepada Sekretaris Jendral PBB U Thant
pada tanggal 17 Agustus 1954, supaya masalah Irian Barat dicantumkan dalam agenda
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Keputusan yang dilakukan oleh Ali
Sastroamdjojo itu didasarkan ata kenyataan bahwa Pemerintah Indonesia telah tiga kali
mengalami kegagalan dalam melakukan perundingan bilateral dengan pemerintah
Belanda dalam tahun 1950, 1952 dan 1954 untuk mencari penyelesaian Irian Barat .

Internasionalisasi Irian Barat

Setiap masalah yang hendak dijadikan agenda Majelis Umum Perserikatan Bangsa-
Bangsa harus mendapat persetujuan dari Sidang Dewan Keamanan PBB. Untuk
menjadikan masalah Irian Barat menjadi agenda MU PBB tidak menghadapi kesulitan.
Masalah Irian Barat diterima suara 30 pro dan 11 suara kontra serta 10 suara abstain.
Tetapi ketika Majelis Umum PBB mengadakan rapat pleno tanggal 10 Desember 1954
untuk membicarakan draf resolusi Irian Barat, ternyata resolusi tersebut tidak
memperoleh suara dua pertiga dari suara yang diperlukan. Resolusi hanya didukung oleh
34 negara dan suara kontra 23 negara serta 4 negara abstain.

Ketika masalah Irian Barat ditampilkan PBB hanya beranggotakan 60 negara, yang mana
negara Asia-Afrika menjadi minoritas kecil. Sebaliknya Amerika Latin menjadi
minoritas besar. Walaupun Amerika Latin pernah mengalami masa penjajahan
sebagaimana yang dialami oleh negara-negara Asia-Afrika ternyata tidak memberi
dukungan terhadap pemerintah Indonesia yang sedang membebaskan Irian Barat dari
cengkraman Belanda. Tiadanya dukungan Amerika Latin tersebut karena ada hubungan
khusus antara Amerika Serikat dengan negara-negara Amerika Latin. Terutama besarnya
bantuan ekonomi yang diberikan oleh pemerintah Amerika Serikat terhadap negara-
negara Amerika Latin. Kebijaksanaan Amerika Serikat tidak memihak banyak juga
mempengaruhi negara-negara Amerika Latin ketika masalah Irian Barat dibicarakan
dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ketika pemerintah Amerika Serikat abstain dalam
pemungutan suara di panitia pertama, dan kemudian dalam Majelis Umum PPB,
kebanyakan negara-negara Amerika Latin tersebut mengikuti. Perincian suara yang
diberikan oleh negara-negara anggota PBB terhadap resolusi Irian Barat Negara-negara
Asia-Afrika selain Cina Nasionalis memberi dukungan secara bulat resolusi Irian Barat.
Turki memberi suara kontra. Dari 20 negara Amerika Latin, 10 suara pro, 7 suara kontra
dan 3 suara abstain. Semua negara Eropah Barat dan negara-negara bukan penjajah
memberi suara pro (selain Yunani). Amerika Serikat abstain dan Uni Soviet serta negara-
negara Eropa Timur memberi suara pro.

Instruksi Ali Sastroamidjo memasukan masalah Irian Barat tersebut setelah perundingan
dengan Belanda yang dilakukan pada bulan Juni dan Agustus di Den Haag tidak

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 5
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

mencapai kemajuan berarti. Pemerintah Indonesia harus memusatkan perhatiannya pada


suatu protokol yang disetujui antara kedua menteri luar negeri yang menjamin
pembubaran Uni Indonesia – Belanda ( sesuatu yang kecil artinya) dan beberapa
penyesuaian dari persetujuan Konprensi Meja Bundar, tetapi yang jelas tidak tercapai
sedikitpun kemajuan mengenai masalah Irian Barat. Indonesia gagal dalam usahanya
supaya suatu mosi yang lunak mengenai Irian Barat diterima oleh PBB dalam bulan yang
sama. Di dalam parlemen Indonesia, Masyumi memanfaatkan kemunduran tersebut untuk
memajukan suatu mosi tidak percaya terhadap kebijaksanaan pemerintah yang
menyangkut Irian pada bulan Desember. Mosi itu mengalami kegagalan. Sebenarnya Ali
Sastroamidjojo tidak terlalu begitu antuias menggunakan jalan diplomasi untuk
menyelesaikan masalah sengketa Irian Barat, pemerintah Ali Sastroamidjojo juga
menggunakan cara-cara perjuangan bersenjata dengan cara mengirim sekelompok kecil
penyusup ke Irian Barat pada kurun waktu 1954. Namun pada umumnya pemerintahan
Ali melakukan tuntutan wilayah dengan cara-cara yang jitu.

Pada bulan April 1955 Konperensi Bandung diselenggarakan dan kejadian itu
menunjukkan suatu kemenngan bagi pemerintah Ali Sastroamidjojo. Dalam Konperensi
itu hadir dua puluh sembilan negara. Diantara negara-negara besar Afrika dan Asia hanya
kedua Korea, Israel, Afrika Selatan dan Mongolia Luar-lah yang tidak diundang. Banak
pemimpin enting Asia yang hadir termasuk Chou En-Lai, Nehru, Sihanouk, Pham Van
Dong, U Nu, Mohammad Ali dan Nasser. Soekarno dan Ali Sastroamidjojo sangat puas
dan mempunyai prestise di dalam negeri karena dipandang sebagai pemimpin-pemimpin
dunia Asia-Afrika, dan komunike akhir konprensi tersebut mendukung tuntutan Indonesia
atas Irian Barat. Jelas ada kemungkinan bagi Indonesia untuk memainkan peranan
penting di dunia, dan Soekarno mulai menjadikan peran semacam itu sebagai tanggung
jawab pribadinya. Bisa dikatakan melalui Konperensi Asia-Afrika ini delegasi Indonesia
telah mendapat dukungan negara-negara Asia-Afrika dalam tuntutannya untuk
mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi. Itulah sebabnya PBB menjadi
intensif menangani persoalan Irian Barat.

Walaupun kabinet Ali Sastroamidjojo mendapat pengakuan atas prestasinya dalam


bidang diplomatik, karena domestik TNI-AD pemerintah Ali jatuh juga pada bulan Juli
1955. Pemerintah Ali kemudian digantikan oleh pemerintahan Burhanuddin Harahap
yang menaruh perhatian besar terhadap kebijaksanaan luar negeri yang didasarkan
kelemahan politik, khususnya tuntutan atas Irian Barat yang juga disampaikan kepada
PBB. Prakarsa ini mencerminkan pandangan persoalan-persoalan negara yang mendasar
tidak akan dapat diterapkan sepanjang persoalan Irian Barat dapat dieksploitasi oleh
musuh-musuh politik radikal. Sasaran diplomasi tersebut ialah memperbaiki hubungan
dengan Barat, termasuk Australia yang secara terbuka menentang tuntutan Indonesia atas
Irian Barat, untuk mempengaruhi iklim internasional dalam rangka menghadapi Belanda.
Pendekatan yang bersifat konsolidasi ini menimbulkan tanggapan positif di Den Haag
dan pembicaraan pendahuluan dimulai lagi di New York bulan September 1955. Menteri
Luar Negeri Ida Anak Agung Gede Agung mengemban tanggung jawab di tengah-tengah
oposisi domestik, termasuk pertikaian di dalam kabinet dan permusuhan terbuka
Soekarno.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 6
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Perundingan yang sesungghnya dimulai di Den Haag pada bulan Desmber 1955 tetapi
dalam seminggu kemudian pindah ke tempat yang lebih netral yaitu Genewa.
Perundingan itu berkisar pada dua masalah, yakni keinginan Indonesia untuk
membubarkan Uni Indonesia-Belanda sehingga Republik tidak lagi dibebankan dengan
kewajiban-kewajiban ekonomi dan keuangan sebagai yang ditentukan pada persetujuan
Konperensi Meja Bundar, dan juga masalah Irian Barat yang lebih kontroversial. Pada
bulan berikutnya, suatu persetujuan sementara mengenai pembubaran Uni Indonesia-
Belanda telah tercapai kata sepakat tetapi tidak tercapai kemajuan dalam masalah Irian
Barat. Hal tersebut telah menyebabkan oposisi dalam negeri Inmdonesia menjadi
semakin intensif terhadap perundingan-perundingan diatas dianggap sebagai
merendahkan diri karena sikap keras kepala Pemerintah Belanda untuk menolak
mengubah posisinya dalam persoalan judiksi. Penyeberangan-penyeberangan dari kabinet
mendorong suatu keputusan untuk memanggil delegasi Indonesia, tetapi hal ini kemudian
diubah. Bagaimanapun juga, menampakan kelemahan politik ini mendorong delegasi
Belanda untuk mementahkan kembali persetujuan awal mengenai pembatalan Uni
Indonesia-Belanda. Perundingan baru dimulai lagi pada bulan Februari selelah delegasi
Indonesia mengumumkan niatnya berangkat, Meskipun demikian, pihak Belanda tidak
bersedia menyetujui persetujuan terbatas tanpa adanya ketetapan mengenai arbiterase
oleh ihak ketiga manakala terdapat perselisihan tentang ketentuan-ketentuan ekonomi dan
keuangan dalam persetujuan tersebut. Konsesi seperti itni tak dapat diterima oleh suatu
pemerintahan sementara yang menjadi sasaran pertentangan internasional dan serangan
politik yang gencar. Dari titik buntu ini kejadian bergerak secara cepat menjadi salah satu
krisis. Pada tanggal 13 Februari Pemerintah Indonesia mengumumkan pengunduran
dirinya secara sepihak dari Uni Indonesia-Belanda. Prakarsa ini digambarkan sebagai
suatu pelanggaran legalitas pertama bagi Indonesia terhadap Belanda sejak revolusi. Hal
ini juga merupakan suatu hal yang ironis mengingat kecenderungan politik umum
pemerintah. Penegasan kehendak nasional pemerintah menjadi semakin tak menentu
setelah pemilihan umum tersebut. Burhanuddin Harahap mampu, dengan sedikit
kesukaran, untuk memperjuangkan perestujuan parlemen di atas, tetapi dipaksa
melepaskan jawaban pada bulan Maret.

Kebijaksanaan luar negeri tetap menjadi urutan pertama dalam kabinet Ali Sastroamidjo
yang kedua yang menggantikan Burhanuddin. Kabinet Ali Sastroamidjojo menyesalkan
pekerjaan pendahulunya dengan memperjuangkan penerimaan oleh parlemen suatu
undang0undang yang membatalkan persetujuan Konperensi Meja Bundar secara
keseluruhan. Persetujuan dari presiden Soekarno akhirnya diterima juga oleh pemerintah
Ali yang kedua. Walaupun demikian, hubungan ekonomi Indonesia dengan Belanda tidak
mengalami gangguan. Kendati Ali menekankan bahwa – perlakuan khusus untuk Belanda
di Indonesia dihapuskan, undang-undang itu memberikan pengecualian bagi hak-hak dan
lisensi-lisensi konsensi dan ijin operasi perusahan asal saja tidak bertentangan dengan
kepentingan dan pembangunan negara Indonesia. Pada bulan Agustus, pemerintah tak
mengakui lagi hutang nasional yang disetujui pada tahun 1949 yang pada waktu itu
diperhitungkan sebagai biaya aksi militer Belanda melawan Republik. Tindakan terbatas
ini diambil dalam iklim internasional hangat yang ditimbulkan oleh nasionalisasi Terusan
Zues oleh Mesir pada bulan sebelumnya. Keputusan ini juga sudah mengalami
penundaan sampai setelah Dana Moneter Internasional setuju memberikan kredit dalam

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 7
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

jumlah yang memadai kepada Indonesia. Bukti-bukti juga menunjukkan bahwa


sementara pemerintahan Ali, secara simbolik siap melibatkan diri dalam ikhtiar
penolakan secara besar-besaran terhadap hubungan kolonial. Namun pemerintahannya
tak bersedia melangkah lebih jauh pada situasi seperti itu karena besar manfaat asosiasi-
aosiasi ekonomi asing di dalam negeri. Ketentuan formal mengenai peran modal asing
telah disusun dalam rencana ekonomi lima tahun yang diumumkan seacara resmi pada
bulan Oktober 1956. Akan tetapi setiap unsur yang menghalangi prakarsa yang tengah
dijalankan yang dapat mengubah kepercayaan internasional terhadap Indonesia,
dihilangkan pada akhir tahun berikutnya dengan munculnya permusuhan yang sengit
terhadap Belanda karena perihal Irian Barat.

Kebijaksanaan luar negeri menjadi semakin penting karena bidang tersebut mulai
ditangani oleh Presiden Soekarno sendiri. Pada bulan Februari 1957, sidang umum PBB
telah menolak resolusi mengenai Komisi Jasa-Jasa Baik untuk membantu perundingan
antara Belanda dan Indonesia. Sidang Umum berikutnya bulan November akan
mempertimbangkan suatu usul yang meminta kedua pihak berunding untuk mencapai
penyelesaian. Dengan latar belakang ini Soekarno berbicara terus-menerus mengenai
perlunya meneruskan perjuangan nasional dan melengkapi dengan revolusi dengan
pengembalian Irian Barat, Soekarno mengunjugi ujung timur Indonesia pada permulaan
September sebagai isyarat untuk memusatkan perhatian kepada daerah itu. Menjelang
masalah ini diperdebatkan di PBB pada bulan November itu, Soekarno giat berpidato di
depan rapat-rapat raksasa untuk menyatakan tekad rakyat Indonesia memperjuangkan
kembali Irian Barat. Sebagai puncak usahanya, ia melontarkan ucapan-ucapan penting
dalam pidato-pidatonya menjelang selesainya kunjungan di Nusantara pada awal
November. “ Jika usul di sidang umum PBB ditolak, katanya, perlu diambil tindakan lain
– suatu jalan yang akan .” Di Lombok pada tanggal 8 November, ia menguraikan harus
berani mengubah haluan pandangannya – berpindah dari Belanda dan Jerman Barat ke
neger-negeri Eropa Timur, ke Cina, Jepang dan India. Sikap Soekarno yang cenderung
mengabaikan pertimbangan-pertimbangan keuntungan ekonomi dan stabilitas politik
untuk kepentingan prestise atau untuk menghilangkan rasa sakit atas kebanggaan yang
dilukai.

Ancaman terhadap Belanda pada bulan November 1957 adalah contoh sikap serupa, dan
kemudian terbukti menjadi bagian politik yang sifatnya keras dan mahal, didikte oleh
rasa bangga. Kampanye umum meningkatkan seemakin hebat sepanjang bulan
November. Tentu timbul kecaman-kecaman . Natsir mengutuk kejerasan dengan slogan-
slogannya, istilah-istilah seperti babi-babi Belanda – atau – bunuh Belanda – menurut
perasaannya bertentangan dengan adat kebiasan Timur. Hatta yang mendukung tujuan
kampanye mengeritik Soekarno secara tidak langsung. Suatu jalan harus dicari, katanya,
yang akan menunjukan keichlasan dan martabat semangat perjuangan rakyat yang
berjiwa besar. Dan terus berbicara dalam istilah-istilah yang lebih mengancam. Pada
rapat besar di Lapangan Banteng sekembalinya dari Nusa Tenggara, Soekarno berbicara
tentang perlunya menyusun kekuatan dan menekan Belanda sedemikian rupa sehingga
mereka terpaksa menyerah .

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 8
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Di Perserikatan Bangsa Bangsa, Menteri Luar Negeri Subandrio juga menggemakan


pandangan militer presidennya, berbicara dengan nada yang sama. Dalam pidatonya di
sidang umum PBB, Subandrio menyatakan dan memperkirakan prosepek ketegangan
perang dingin tengah diundang ke Asia Tenggara jika Indonesia dirintangi. Dalam proses
selanjutnya, ancaman Subandrio menjadi kenyataan ketika Indonesia semakin
menggunakan kekuatiran Amerika Serikat akan Komunisme untuk menimbulkan
tekanan tak langsung terhadap Belanda. Subandrio juga menyatakan ketika ikut dalam
perdebatan bahwa Indonesia akan menempuh jalan lain yang tidak sampai kepada perang
(Shot of War) untuk menyelesaikan sengketa Irian Barat dengan Belanda, apabila sidang
ke 12 sekali lagi tidak berhasil menyetujui resolusi mengenai Irian Barat. Pidato menteri
luar negeri Indonesia itu ternyata tidak merubah pendirian negara-negara pendukung
Belanda. Pada tanggal 20 November resolusi yang disponsori 21 negara termasuk
Indonesia tidak dapat dimenangkan karena ternyata dua pertiga jumlah suara tidak
tercapai. Negara-negara Barat masih teguh mendukung posisi Belanda, malahan sikap itu
bertambah kuat dengan adanya perang dingin anatara blok Barat dan Timur. Dengan
demikian pihak kerajaan Belanda tetap tidak mau menyerahkan Irian Barat kepada
Indonesia bahkan membicarakan saja mereka sudah tidak mau lagi.

Kegagalan masalah Irian Barat telah menimbulkan sikap anti Belanda. Dengan kekalahan
usul mosi di PBB mengenai Irian Barat semakin dilancarkan kampanye yang
membangkitkan kemarahan. Dimulai dari Jakarta dan kemudian di tempat-tempat lain di
kepulauan Indonesia, milik Belanda menjadi sasaran. Tindakan ini bermula dari
keputusan mencabut izin mendarat bagi pesawat terbang KLM milik Belanda, yang
disusul dengan pemogokan 24 jam yang didukung pemerintah dan kemudian menjadi
demontrasi massa di sepanjang jalan, pembuatan slogan-slogan, penjungkir-balikan
mobil-mobil milik Belanda lainnya. Gerakan itu menjalar ke seluruh negeri dan dalam
beberapa hari saja perkebunan-perkebunan Belanda di Smatera telah selesai diambil-
alihkan. Tindakan pengambil-alihan tersebut dimotori oleh PKI dan organisasi
pekerjanya yang berafilisasi kepadanya.

Menteri Kehakiman G.A Maengkom pada awal bulan Desember mengumumkan bahwa
50.000 warga negara Belanda akan diusir atau dipulangkan dalam tiga tahap. Pertanyaan
resmi pemerintah berikutnya menegaskan bahwa pelayaran ahli Belanda masih
diperlukan tidak mampu menahan kepergian besar-besaran lebih dari 30.000 orang, yang
juga didorong oleh tawaran dari Den Haag untuk pulang secepat mungkin. Rumah-rumah
mereka banyak yang ditinggalkan begitu saja sehingga banyak orang yang saling
berebutan untuk menempatinya.

Pengambilahan tersebut justru memberi dampak perekonomian yang jauh dari


bermanfaat. Walaupun demikian pemerintah Indonesia yang marah tetap saja betahan
dengan rasionalisasi perusahan milik Belanda secara sistimatis dan juga mulai
mengadakan penyempurnaan dalam pola perdagangan internasionalnya, terutama di
Belanda dan Australia yang mempunyai sikap keras atas Irian Barat, tidak mengubah
sikap pemerintah dari apa yang diputuskan sebelumnya. Dalam suatu laporan kepada
parlemen mengenai Irian Barat pada pertengahan bulan Desmber, Subandrio menegaskan

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 9
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

lagi bahwa Indonesia masih berusaha mencari upaya penyelesaian melalui perundingan,
tetapi ditambahkan.

Jika ternyata tak ada satu tujuanpun tercapai, kita akan merasa dipaksa menerapkan Suatu
kebijaksanaan yang menghalangi perkembangan kepneingan- kepentingan Belanda di
Indonesia,dengan harapan bahwa tindakan ini merupakan mungkin yang tepat membujuk
pemerintah negeri Bealnda untuk mengambil sikap yang lebih leluasa.

Bersamaan dengan kebencian terhadap Belanda adalah tumbuhnya kemarahan Amerika


Serikat dan kawan-kawan dekatnya Eropa. Dukungan terbuka atau secara diam-diam
terhadap posisi Belanda atas Irian Barat diartikan sebagai indikator sikap kolonial baru.
Subandrio mengemukakan secara jelas pandangan tersebut sebagai berikut :

Pada dasarnya negara-negara yang dahulu mempunyai daerah jajahan terhadap


Asia Afrika bersatu padu untuk melindungi kekuatan ekonomi mereka disana
yang masih merupakan dasar utama bagi standart hidup mereka tinggi.

Tema ini mendapat kesempatan untuk diungkapkan berulang-ulang dan semakin


mendapat perhatian penting dalam memperlihatkan wawasan internasional Indonesia
manakala Presiden Soekarno melaksanakan kontrol pribadi atas pelaksanaan
kebijaksanaan luar negeri. Tekad Soekarno untuk memilih puncak politik negara
dinyatakan dalam praktek agitasi dalam mana Partai Komunis Indonesia dan organisasi
yang berafiliasi dengan berperan sebagai alat utama dukungan massa. Lebih dari itu,
kebijaksanaan luar negeri yang dirumuskan secara dominan oleh Soekarno, semakin
digunakan untuk membuat lawan-lawan politik kebingungan dan untuk meningkatkan
solidaritas internal. Kebijaksanaan luar negeri itu mengambil bentuk ungkapan dan
heroik seperti Soekarno dengan dorongan dari angkatan bersenjata, memasukan
Indonesia ke dalam suatu sistem politik yang baru yang dijamin akan mengembalikan
negara kepada semangat revolusi. Kebijaksanaan luar negeri dilaksanakan sebagai
kelanjutan perjuangan revolusioner dengan prioritas utama mendapatkan kembali Irian
Barat, yang dilukiskan oleh Soekarno sebagai masalah kolonialisme atau kemerdekaan.

Setelah empat kali mengalami kegagalan, pada akhirnya Indonesia memutuskan untuk
mencari penyelesaian Irian Barat di luar PBB. Tahap baru dalam perjuangan merebut
kembali Irian Barat menjadi jelas dalam tahun 1960, yang tercermin dalam pidato
Presiden Soekarno dalam HUT Proklamasi Kemerdekaan tahun 1960, menyatakan
sebagai berikut :

Kabinet Kerja melaksanakan politik pembebasan Irian Barat secara revolusioner


menurut bahasa tersendiri Revolusi Nasional Indonesia…………………………
Ya! Pengalaman-pengalaman Kabinet-Kabinet yang lain sudah jelas, Ya !
Kolionialisme Belanda makin bersikap kepala batu. Ya! Belanda malahan
Mengirim Karel Doorman ke Irian Barat. Tetapi juga, Ya !, Kita sekarang
sudah benar - benar menemu - kembali perjuangan kita dan menemukan
kembali Revolusi ! Karena itu, Ya! Benar sekali anjuran Dewan Pertimbangan
Agung supaya kita melaksanakan politik [pembebasan …………………………

Irian Barat secara r evolusioner, menurut bahasa tersendiri Revolusi Nasional


Indonesia , Belanda makin berkepala batu ………………………………………..

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 10
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Sekarang dengarkan saudara-saudariku! Dalam keadaan yang demikian itu, tidak


Ada gunanya lagi hubungan diplomatic dengan negeri Belanda ………………….

Kebijaksanaan Pemerintah Indonesia yang baru dalam perjuangan merebut kembali Irian
Barat itu, tambah didorong oleh sikap Bealnda yang secara terus-menerus tidak
menghiraukan tuntutan bangsa Indonesia. Bahkan kebijakasanaan baru itu justru
merupakan jawaban terhadap provokasi Belanda, antara lain dengan terus-menerus
mengirimkan bala bantuan militer ke Irian Barat, sampai berusaha memamerkan gunboat
diplomacy dengan mengirimkan pada tahun 1960 satu-satunya kapal perang Karel
Doorman ke perairan Irian Barat. Kedatangan kapal Karel Doorman itu justru diguunakan
oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk menaikkan semangat rakyat. Persiapan-
persiapan dan latihan-latihan bahaya udara dilaksanakan di pelosok pelosok daerah.

Masalah Irian Barat tidak saja dikemukakan dalam peringatan HUT Proklamasi
Kemerdekaan, tetapi ia bicarakan itu dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB ke
15 pada tanggal 30 September 1960. Presiden Soekarno menegaskan bahwa toleransi
Indonesia atas Irian Barat hampir habis batasnya . Ia menyatakan sebagai berikut :

Kami telah berusaha untuk menyelesaikan masalah Irian Barat. Kami telah
berusaha dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh kesabaran dan penuh
toleransi dan penuh harapan . Kami telah berusaha untuk mengadakan
perundingan bilateral Kami telah berusaha dan tetap berusaha. Kami telah
berusaha menggunakan alat-alat Perserikatan Bangsa Bangsa dan kekuatan
Pendapat dunia yang dinyatakan disini . Kami telah berusaha , dan dalam hal
Inipun tetap berusaha

Harapan lenyap ; kesabaran hilang; bahkan toleransi pun mencapai batsnya ,


Semuanya itu kini telah habis dan Belanda tidak memberi alternatif lainnya,
Kecuali memperkeras sikap kami. Jika mereka gagal untuk secara tepat
Menilai arus sejarah, maka kita tidaklah dapat dipersalahkan , akan tetapi
akibat daripada kegagalan mereka ialah timbulnya ancaman terhadap
perdamaian dan sekali lagi, hal ini menyangkut pula Perserikatan Bangsa-
Bangsa

Irian Barat merupakan pedang kolonial yang diancamkan terhadap Indonesia.


Pedang itu diarahkan pada jantung kami, akan tetapi disamping itu mengancam
pula perdamaian dunia.

Tiga bulan setelah Presiden Soekarno menyampaikan pidato di Sidang Umum Majelis
Umum PBB, Menteri Pertahanan Jendral AH Nasution berangkat menuju Amerika
Serikat untuk membeli peralatan militer guna menghadapi ancaman Belanda. Republik
Indonesia membeli senjata ke sana karena sudah biasa menggunakan peralatan militer
dari Amerika Serikat Tetapi permintaan Republik tersebut ditolak oleh Amerika Serikat,
sehingga AH Nasution pulang dengan tangan hampa. Rupanya pendirian Amerika Serikat
tersebut masih dipengaruhi oleh pemikiran bahwa pemerintahan Eisenhower tidak ingin
mengubah sikap tidak memihak dikuatirkan akan mempengaruhi kedudukan Belanda
dalam NATO. Sesudah penolakan tersebut pemerintah terpaksa mencari sumber lain

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 11
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

yang dapat menyediakan senjata berat bagi kepentingan angkatan yang dapat
menyediakan senajata berat bagi kepentingan angkatan bersenjatanya, Indonesia tidak
mempunyai pilihan lain selain berkiblat ke Moskow dalam memenuhi kebutuhannya
terhadap persenjataan bersat untuk angkatan perang,

Pembelian ke Rusia karena ada isyarat dari Moskow sebagaimana yang diucapkan oleh
PM Nikita Kruschev dalam ke Indonesia pada bulan Februari 1960, yang menyatakan
bahwa pemerintah Uni Soviet juga bersedia memberi bantuan militer jika dan kapan
pemerintah Indonesia merasa perlu. Pernyataan Kruschev ini bisa jadi didasarkan atas
kesadaran bahwa pemerintah Indonesia perlu melengkapi persenjataan perang, terutama
dalam suasana untuk meningkatkan ketegangan sebagai akibat sengketa Irian Barat
dengan Belanda. Kebijaksanaan yang dilakukan oleh pemerintah Moskow ini sama
dengan kebijaksanaan yang dilakukan pada negar-negara Timur Tengah, dimana
pemerintah Uni Soviet menyediakan peralatan perang, ketika pemerintah Barat tidak
bersedia memberi bantuan militer.

Berdasarkan janji PM Kruschev tersebut, Jendral Nasution ke Moskow pada tanggal 28


Desenber 1960 untuk membicarakan dan merundingkan mengenai pembelian peralatan
perang dan pemerintah Moskow. Di sana Menteri Pertahanan, AH Nasution berhasil
merampungkan suatu perjanjian kredit tanpa kesulitan sebesar 450 juta dollar guna
membeli berbagai macam persenjataan berat dari tank, roket sampai pesawat pemburu
dan mendium bomber yang diperlukan berbagai cabang angkatan perang, dengan
persyaratan pembayaran dalam masa 12 tahun serta bunga 2,5 % per tahun Pembelian
pertama itu kemudian dilanjuti dengan pembelian pada bulan Juni 1961. Pembelian
senjata itu untuk meningkatkan kemampuan militer sehingga cukup mampu untuk
membebaskan Irian Barat secara militer. Peningkatan militer itu juga untuk menekan
Belanda agar bersedia menyerahkan Irian Barat.

Sementara itu pasukan-pasukan Indonesia melanjutkan operasi-operasinya di perbatasan


Irian Barat dan pada waktu yang bersamaan Belanda menjalankan usaha-usaha sendiri
untuk memajukan politik Irian Barat dengan tujuan mengubah daerah itu menjadi suatu
negara yang merdeka. Di mana pada bulan Februari 1961 dilaksanakan pemilihan umum
pembentukan sebuah dewan yang baru sebagai wadah yang memberikan penduduk asli
pengalaman pertama tentang perwakilan politik.

Ketika pemerintah Belanda terus-menerus membangun kekuatan militer di Irian Barat,


pemuda-pemuda Belanda di Roterdam mengadakan demonstrasi menenang pengiriman
pasukan-pasukan ke Irian Barat. Dan pada tanggal 3 Agustus, dua puluh satu orang
professor Belanda dari Universitas Katolik di Nijgemen mengingatkan bahaya akan
pecahnya perang antara Belanda dengan Indonesia, dan mendesak agar diadakan
penyelesaian secara damai. Surat pernyataan para professor tersebut sangat dihargai oleh
Presiden Soekkarno, dan dalam pidato peringatan ulang tahun kemerdekaan tanggal 17
Agustus 1961. Presiden Soekarno mengungkapkan, bahwa dia telah didekati oleh seorang
warga negara Belanda waktu ia berada di Wina sebulan sebelumnya. Warga negara
Belanda itu mengemukakan gagasan agar segera diadakan penyelesaian secara damai atas
masalah Irian Barat dengan mempercepat penyerahan administrasi Irian Barat dari

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 12
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Belanda kepada Indonesia. Presiden Soekarno menyatakan penghargaan atas gagasan ini
dalam sepucuk surat pribadi, yang diungkapkannya pada umum dalam pidatonya.

Sekarang ingin saya menyampaikan isi surat itu langsung kepada rakyat Belanda
dalam bahasa yang dapat mereka mengerti, katanya sambil membacakan dalam
bahasa Belanda Terjemahan dalam bahasa Indonesianya adalah sebagai berikut :
“ Saya sangat menghargakan inisitaif Tuan , supaya soal Irian Barat selekas
mungkin dipecahkan dengan mempercepat penyerahan pemerintahan atas daerah
itu kepada Indonesia. Saya memberi jaminan, bahwa saya akan memberi bantuan
sepenuhnya kepada tiap-tiap pertemuan atas dasar penyerahan pemerintahan Irian
kepada Indonesia. Tak ada yang lebih saya ingin daripada secepat mungkin
menormalisasi hubungan Indonesia - Belanda, dan memperkuat hubungan
persahabatan dengan teman-teman saya dipihak Belanda, segera sesudah persoalan
Irian Barat selesai.

Selain Soekarno membacakan surat untuk didengar oleh rakyat Belanda pada pidato
tersebut, tetapi Presiden Soekarno juga mengambil langkah-langkah lagi ke depan ke arah
konfrontasi. Secara terang-terangan Soekarno
mengancam :

“…..kita tidak akan membuang-buang lagi dengan Belanda sekarang Irian Barat harus
secepatnya dikembalikan kedalam wilayah kekuasaan Republik. Pada waktu ini kebijaksanaan
kita terhadap Belanda adalah kebijaksanaan konfrontasi di segala bidang politik, ekonomi, ya,
bahkan dalam bidang militer.”

Sebelas hari sesudah Presiden Soekarno menyampaikan pidatonya pada hari ulang tahun
kemerdekaan dengan tak diduga-duga House of Windsor atau Inggris mengundang
Soekarno untuk berkunjung ke Inggris. Undangan tersebut tentu saja tidak
menyenangkan bagi Huis van Oranye (Belanda) Pada tanggal 19 September Ratu Juliana
menyatakan, bahwa perundingan dengan Indonesia terbukti tidak mungkin dilakukan dan
Irian Barat harus diperkenankan menentukan masa depannya sendiri. Pernyataan Ratu
Juliana kemudian berakibat kurang baik dan tidak membenarkan kemenakan jauhnya,
Ratu Elisabeth, menjamu Presiden Soekarno di istana Bukingham. Sesudah mengucapkan
pidatonya, Ratu Juliana mengutus menteri luar negerinya, Dr Joseph Luns ke PBB untuk
memperlihatkan keinginanya yang sungguh-sungguh untuk mempercepat dekolonisasi
Irian Barat melalui internasionalisasi oleh PBB atas wilayah itu.

Pidato menteri luar negeri Luns dalam Sidang Majelis Umum PBB yang keenambelas
pada tanggal 26 September cukup mendapat sambutan dari kalangan anggota PBB berkat
istilah dekolonisasi, yang baru diciptakan oleh beberapa anggota PBB dalam Forum PBB.
Istilah itu dapat menyalahkan sentimen di kalangan negara-negara yang baru merdeka di
Afrika yang menghadiri Sidang Majelis Umum PBB itu. Negara-negara Afrika ini
terkenal dengan nama kelompok Brazzawille, yang secara logis berpendapat bahwa
melalui proses dekolonisasi oleh PBB, banyak negara-negara jajahan di Afrika lainnya
akan merdeka dengan segera. Pada tanggal 8 Oktober, ketika Dr Subandrio menggunakan
hak jawab dalam Sidang Umum PBB. Ia menangkis siata Luns waktu itu dengan
menyatakan bahwa dekolonisasi yang dimaksud oleh pihak Belanda itu tidak lain adalah

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 13
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

neokolonialisme, yang berusaha untuk memecah Indonesia menjadi bagian-bagian seperti


halnya Jerman, Korea dan Vietnam. Keesokan harinya Luns tidak lagi menyebut-nyebut
istilah dekolonisasi, akan tetapi ia tampil dengan suatu usul yang meminta PBB mengirim
satu komite penyelidik ke Irian Barat. Dan kemudian memberi laporan kepada Majelis
Umum PBB pada tahun 1962. Rencana resolusi Luns itu terutama mengemukakan
kemungkinan pengambil-alihan adminisrasi Irian Barat oleh PBB sampai Dewan Papua
yang disebut oleh Belanda dapat berfungsi sebagai satu pemerintahan sendiri. Berlindung
dibelakang resolusi 1514 (XV) mengenai kemerdekaan untuk negara dan bangsa jajahan.
Belanda sangat lihai mengharapkan jajahannya di Irian Barat dibawah naungan PBB.
Mengetahui bahwa kemerdekaan bagi suku Papua yang begitu terbelakang akan makan
waktu lama, dan menginsafi pula bahwa PBB tidak mempunyai sarana yang cukup,
Belanda memperhitungkan bahwa dia akan ditunjuk sebagai administrasi power di bawah
perwalian PBB.

Pada tanggal 18 November, Indonesia bersedia menerima rencana resolusi Indiia yang
juga disokong oleh negara-negara lain-lain Asia, Afrika dan Amerika Latin. Resolusi
tersebut menyatakan antara lain menerima agar diadakan perundingan bilateral antara
Belanda dan Indonesia dibawah pengawasan ketua Majelis Umum PBB, Mongi Slim dari
Tunisia untuk memecahkan masalah Irian Barat sesuai dengan Piagam PBB. Rencana
India ini ditolak oleh Majelis. Sebaliknya pihak Indonesia menolak suatu rencana
kompromi yang diajukan oleh kelompok Brazaville pada tanggal 24 November, atas
saran Amerika Serikat, rencana resolusi Belanda dicabut kembali. Akan tetapi walaupun
demikian, menteri luar negeri Belanda menyatakan bahwa pemerintahannya akan terus
melaksanakan rencananya. Setelah mempelajari perkembangan-perkembangan seperti itu
ke dalam PBB, lalu Presiden Soekarno memanggil Duta Besar Jones, dan mengemukakan
kekecewaannya atas cara-cara Amerika Serikat menangani masalah Irian Barat dalam
PBB. Kemudian Presiden John Kennedy mengirim surat kepada Presiden Soekarno,
isinya sebagai berikut :

Paduka Yang Mulia Presiden,

Duta Besar Jones telah melaporkan kepada saya mengenai perundingan Yang Mulia pada tanggal
8 Desember dalam masalah Irian.

Saya sungguh-sungguh merasa risau terhadap pandangan Yang Mulia yang


disampaikan kepadanya. Perjenankanlah saya bersama ini menyampaikan pendapat saya secara
terus terang dalam semangat perundingan-perundingan yang telah kita lakukan di Washington.
Saya telah meminta kepada Duta Besar Jones agar melanjutkan pembicaraan secara lebih terbuka
dan mendalam dengan Yang Mulia mengenai persoalan itu, karena saya yakin bahwa hal itu
adalah jauh dari pengertian yang telah kita usahakan dalam PBB dan dalam perundingan-
perundingan tak resmi dengan orang-orang Indonesia dan Belanda untuk menghindarkan Irian
Barat menjadi satu isu internasional yang membahayakan.

Dimasukannya masalah ini ke dalam PBB, yang menimbulkan perdebatan sengit, hanya
membangkitkan beberapa isu yang suka dipersengketakan. Akan tetapi seluruh [engalaman
semenjak beberapa bulan yang lalu, menurut pandangan kami telah memperkecil jurang antara
kedudukan Belanda dan Indonesia. Beberapa gagasan yang tepat yang akan mengakhiri
pendudukan Belanda di daerah itu dan akan memberikan kesempatan yang besar kepada Indonesia

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 14
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

untuk menentukan masa depan daerah itu, sekarang secara kessluruhan tanpak sebagai satu
prospek yang realistis.

Dalam keadaan yang demikian ini, kami bersedia menjalankan peran apa saja yang menurut Yang
Mulia dan Belanda akan bermanfaat dalam situasi demikian dengan cara yang sesuai dengan
prinsip yang telah diperjuangkan oleh kedua bangsa kita,

Dalam pada itu, sebagai seorang sahabay yang menginginkan agar Indonesia dapat
mempertahankan kedudukannya yang terhormat dalam keluarga-bangsa-bangsa . Saya berharap
dengan sepenuh kesungguhan agar Yang Mulia menghindari jalan kekerasaan dalam memecahkan
masalah Irian Barat itu. Semua kawan-kawan Yang Mulia akan menghargai sikap Yang Mulia
menahan diri dari setiap usaha untuk menjalani proses yang kadang-kadang sukar, tapi selalu
penting dalam penyelesaian secara damai, dan karenanya lebih banyak simpati dunia akan
diberikan kepada Indonesia. Akan tetapi lebih dari itu, penggunaan kekerasaan akan lebih
mempersukar saya untuk mengusahakan penyelesaian masalah ini secara damai seperti yang saya
inginkan..

Setelah Duta Besar Jones mendapat kesempatan selanjutnya untuk merundingkan masalah ini
dengan Yang Mulia, saya mengharapkan kabar dari Yang Mulia tentang bagaimana atau apa
kiranya yang sebaiknya dapat kami lakukan untuk membantu penyelesaian secara damai.

Salam Takzim, John Fitzgerald Kennedy

Setelah mendapat surat dari Presiden Amerika Serikat John Fitzgerald Kennedy, Presiden
Soekarno kemudian segera mengirim surat balasannya segera. Segera. Jawaban surat
Presiden Soekarno terhadap surat John Fitzgerald Kennedy itu, isinya sebagai berikut :

Paduka Yang Mulia Presiden.

Saya menyampaikan terima kasih banyak atas surat Paduka Yang Mulia tertanggal 8 Desember
yang disampaikan kepada saya Duta Besar Jones. Saya tidak meragukan sedikitpun, bahwa
pandangan seperti itu terlukis dalam surat Yang Mulia adalah pandangan yang datang dari seorang
kawan dengan niat yang ikhlas untuk memperkokoh persahabatan antara kedua negara dan
bangsa . Sebliknya tak dapat diragukan pula bahwa Indonesia menginginkan persahabatan dan
kerja sama yang serapatrapatnya dengan Amerika Serikat .

Kalau saya boleh berterus terang, sentimen rakyat Indonesia dewasa ini telah mendidih. Dan
sebagai pemimpin mereka, saya harus berbuat sesuatu untuk menyalurkan ledakan sentimen
mereka itu . Kemarahan rakyat kami itu timbul karena politik kepala batu Belanda untuk
meneruskan politik separatis mereka, baik dalam PBB maupun di Irian Barat sendiri.

Kalau dalam PBB kami dapat menghadapi politik Belanda itu dengan perdebatan diplomasi , akan
tetapi saya berharap Yang Mulia sependepat dengan saya – tindakan Belanda memaksa
terbentuknya apa yang dinamakan “ Papua Merdeka” di Irian Barat, tidak dapat diawasi melalui
saluran-saluran diplomatic.

Sebagaimana Yang Mulia ketahui, sebelum Belanda melakukan usul dalam Sidang Majelis Umum
saya telah mengulurkan tangan sedapat mungkin , baik dalam pidato-pidato di muka umum
maupun dalam surat terbuka kepada beberapa kawan saya orang Belanda. Hal ini memberikan
dampak yang baik terhadap pandangan umum di negeri Belanda. Akan tetapi sangat disesalkan,
pemerintah Belanda tetap saja menjalankan politik “membenci Indonesia.”

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 15
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Kalau sekarang penyerahan administrasi Irian Barat dari Belanda kepada Indonesia dapat
dilakukan , yakinlah Yang Mulia bahwa sayalah orang pertama yang akan membantu sepenuhnya
untuk tegaknya keamanan dan perdamaian di daerah ini . Saya tahu bahwa kesukaran pada waktu
ini adalah bahwa pemerintahan Belanda tetap bersikap kepala batu yang didasarkan pada
anggapan bahwa Amerika Serikat membantunya rencana Luns seperti yang dikemukan dalam
Sidang Umum Majelis PBB.

Perkenankanlah saya sekali lagi menyampaikan terima kasih atas surat Yang Mulia dan berharap
agar Yang Mulia dapat mengusahakan agar Belanda mau menyerahkan adminsitrasi Irian Barat
kepada Indonesia secara damai , sehingga tak perlu terjadi kekerasaan . Di samping itu saya
harapkan pula pengertian Yang Mulia, bahwa selama Belanda tetap meneruskan rencana dan
persiapannya untuk memproklamasikan negara Papua Merdeka ( apa yang dinamakan bendera dan
lagu kebangsaan Papua sudah diperkenankan di Rian Barat ) maka tak ada jalan lain bagi kami
keuali mengadakan kekerasaan untuk menghadapi pendudukan illegal dan secara paksa oleh
Belanda atas Irian Barat .

Salam Takzim, Soekarno

Konfrontasi

Pada akhir tahun 1961, perasaan akan datangnya klimaks nampaknya


menyelimuti pertikaian atas Irian Barat. Pada bulan Desember, Soekarno
mengumumkan Tiga Komando Rakyat, yang disebut dengan bahasa
singkatan yang penuh kepahlawan pada waktu itu sebagai Trikora. Maksud
simbol ini diperlihatkan pada pertengahan “agresi militer Belanda II “ yaitu
memobilisasi massa secara total.

Tiga Komando Rakyat

Kami, Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia dalam


Rangka politik konfrontasi dengan pihak Belanda untuk memebaskan Irian Barat, telah
memberikan instruksi kepada Angkatan Bersenjata untuk setiap aktu yang kami tetapkan
Menjalankan tugas kewajiban membebaskan Irian Barat Tanah Air Indonesia dari belenggu
kolonialisme Belanda .

Dan kini, oleh karena Belanda masih tetap mau melanjutkan kolonilisme di tanah air kita
Irian Barat, dengan memecah belah bangsa dan tanah air kita Indonesia, maka kami perintahkan
kepada rakyat Indonesia juga berada di Irian Barat , untuk melaksanakan Tri Komando sebagai
berikut :

1 . Gagalkan pembentukan “Negara Boneka Papua” buatan Belanda kolonial.


2 Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia
3 Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan
kesatuan tanah air dan bangsa .

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 16
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati perjuangan kemerdekaan Indonesia

Yogyakarta,19 Desember 1961


Presiden/ Panglima Tertinggi
Angkatan Perang Republik Indonesia
Pemimpin Besar Revolusi Indonesia/
Pembebasan Irian Barat
Soekarno

Selanjutnya, Indonesia akan mengintegrasikan pasukannya untuk melaksanakan Trikora


melalui sebuah Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat di bawah pimpinan langsung
Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang (dengan Nasution sebagai wakilnya). Pada
tanggal 11 Januari 1962 dibentuk sebuah Komando Mandala Pembebasan Irian Barat
yang ditugasi merencanakan dan melaksanakan operasi militer terhadap Belanda. Di
dalam komando ini semua angkatan diintegrasikan di bawah Mayjen Soeharto,
panglimanya.

Mengenai tugasnya tersebut Mayor Jendral Soeharto mengatakan , “ tugas saya sangat
berlainan dengan tugas panglima-panglima di negara lain. Mereka itu menggunakan
pasukan-pasukan yang telah disiapkan, sedangkan saya mesti menyusun pasukan-
pasukan itu dahulu. Baru setelah itu saya dapat merencanakan operasi, dibagi-bagi dalam
tingkatan permulaan dan lanjutan,menyusul operasi gabungan .” Menurut konsepsi
Panglima Mandala itu “ kesatuan-kesatuan kecil diselundupkan untuk masuk ke Irian
Jaya, lalu tersebar untuk mengikat kesatuan-kesatuan musuh di daerah-daerah tertentu.
Bersamaan dengan itu kelompok-kelompok ini ditugaskan mengumpulkan sebanyak
mungkin keterangan-keterangan yang diperlukan bagi gerakan selanjutnya dan untuk
operasi yang lebih besar.

Pada tanggal 15 Januari 1962, kapal-kapal perang dan pesawat-pesawat udara Belanda
menyerang dua kapal meriam Indonesia. Salah satu diantaranya, Macan Tutul, tenggelam
di laut Arafuru, dan salah seorang korbannya ialah Wakil KSAL, Jos Sudarso. Insiden
tersebut telah menimbulkan kemarahan, amukan dan kekagetan di kalangan rakyat
Indonesia. Akan tetapi Presiden Soekarno tidak mengabulkan desakan rakyat tersebut. Ia
tidak memerintahkan pasukan di bawah komando Soeharto untuk menyerang kedudukan
Belanda di Irian Barat melalui udara, darat dan laut, akan tetapi justru mengirim Menteri
Luar Negeri Subandrio ke Washington untuk bertemu dengan Presiden Kennedy. Di sana
Subandrio ditugaskan untuk mengatakan kepada Kennedy untuk menjawab satu
pernyataan dari Presiden Soekarno – Siapa yang disukainya, Nasution atau Aidit. Dengan
pertanyaan tersebut Soekarno hendak menegaskan bahwa prospek kemajuan Komunis
apabila pertikaian teresbut tidak diselesaikan dengan keuntungan Indonesia.

Dalam menjawab pertanyaan tersebut, Presiden Kennedy dengan cepat menampilkan


Ellsworth Bunker, seorang menciptakan perumusan dasar untuk mengakhiri masalah
Irian Barat dengan cara yang dapat diterima, baik oleh Indonesia maupun oleh Belanda.
Pada bulan Februari, Presiden Kennedy mengirim Robert Kennedy, Jaksa Agung dan
adiknya untuk berkunjung ke Jakarta dan Den Haag dengan tujuan menganjurkan agar
dua belah pihak mau berunding. Tetapi sebelum Robert Kennedy menginjak kakinya di

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 17
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Den Haag, pemerintah Belanda telah diberi tahu bahwa mereka tidak dapat
menyandarkan diri pada Amerika Serikat seandainya berlangsung konfrontasi atas
wilayah tersebut. Akibatnya, bersamaan dengan itu terjadi perubahan sikap pemerintah
Australia yang memperlemah lenih lanjut posisi Belanda. Perubahan sikap Amerika
Serikat itu jelas merupakan pukulan terakhir di punggung Belanda, yang sudah terkucil di
PBB, karena terpaksa ditinggalkan oleh sekutunya, Amerika Serikat. Kejadian tersebut
merupakan tekanan berat pada Belanda supaya segera menyelesaikan sengekata Irian
Barat melalui cara-cara damai dengan Indonesia. Akhirnya pemerintah Belanda bersedia
maju ke mea perundingan tanpa syarat apapun. Robert Kennedy pun berhasil membujuk
Presiden Soekarno agar Indonesia mau berpartisipasi dalam perundingan dengan Belanda
atas bantuan U Thant, pejabat sementara Sekretaris Jendral PBB dan seorang diplomat
senior Amerika Serikat sebagai mediator. Untuk mengetahui bagaimana cara Presiden
Kennedy memaksa pemerintah Belanda untuk menerima kenyataan yang tak dapat
dielakkan untuk melepaskan Irian Barat. Keterangan tersebut bisa diketahui dalam buku
yang ditulis Arthur M Schlesinger dalam bukunya A Thousand Day, antara lain
dikatakanya ,

Dalam pada itu Belanda atau sekurang-kurangnya menteri luar negerinya, Luns yang
secara pribadi menginginkan untuk melancarkan erang di Irian Barat, yang mungkin
melebihi hasrat pemerintahannya –dengan gigih menantang setiap usaha penengahan
Dlalam satu pertemuan dengan Presiden Kennedy, Luns demikian hilang rasa
keadilannya, sambil menggoyang-goyangkan jarinya yang buntet-buntet di hadapan
muka Kennedy. Dan dengan cara yang sopan Kennedy tidak mengacuhkan ulah Luns
itu . Terhadap semua laku lampah itu, Keneddy menjawab dengan terang-terangan,”
Apa Anda mau berperang untuk Irian Barat ? “. Ia menjelaskan , bahwa Belanda
mempermasalahkan Amerika Serikat atas akibatnya, karena Amerika hanya
Menginginkan masalahnya terselesaikan .

Sementara persiapan operasi besar-besaran JAYAWIJAYA dilakukan dengan secermat-


cermatnya, maka sejalan dengan kegiatan itu telah berkembang pula kegiatan
diplomasi berupa – Rencana Bunker – yang isinya mengandung empat unsur pokok
yaitu (1) Pemerintahan atas Irian Barat harus diserahkan kepada RI; (2) Sesudah
sekian tahun dibawah pmerintahan Republik, maka rakyat Irian Barat diberi
kesempatan untuk menentukan sendiri secara bebas nasibnya selanjutnya, tetap harus
didalam RI atau memisahkan diri dari RI ; (3) Pelaksanaan penyerahan pemerintah di
Irian Barat akan diselesaikan dalam waktu satu tahun ; dan (4) Untuk menghindari
bahwa kekuatan-kekuatan Indonesia langsung berhadap-hadapan dengan kekuatan-
kekuatan Belanda, diadakanlah waktu peralihan di bawah pengawasan PBB. Waktu
peralihan itu berlaku selama diperlukan untuk memulangkan seluruh Angkatan
Perang Belanda dan seluruh pegawai Belanda dari Irian Barat ke Nederland.

Apa yang disebut Rencana Bunker yang telah dikemukakan kepada kedua negara pada
bulan Maret 1962 yang segera diterima oleh pemerintah Belanda, meskipun sedikit
mengulur waktu sampai bulan Juli 1962. Untuk lebih lanjut menjajaki niat sebenarnya

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 18
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

mengenai penerimaannya terhadap rencana Bunker dan kesediannya untuk mengadakan


perundingan dengan pemerintah Indonesia, Presiden Soekarno mengutus Adam Malik
yang ketika itu Duta Besar untuk Indonesia di Moskow, ke Washington guna
mengadakan pembicaraan permulaan dengan wakil-wakil Belanda di bawah pengawasan
Duta Besar Elsworth Bunker. Sesudah itu Indonesia dan Belanda mempunyai pengertian
yang sama mengenai prinsip rencana Bunker – yaitu lebih dulu penyerahan pemerintahan
di Irian Barat kepada Indonesia , dan baru kemudian daripada apa itu Self-Determination
kepada rakyat Irian Barat – maka Presiden Soekarno mengirim Menteri Luar Negeri
Subandrio yang didampingi oleh Jendral Hidayat untuk menjajaki isi hati yang
sebenarnya dari pihak Belanda. Setelah berunding selama lebih dari seminggu,
perundingan tersebut menghasilkan – preliminary understand – dan satu – aide memoire
– yang ditulis dan ditandatangani oleh pejabat Sekretaris Jendral U Thant, tertanggal 31
Juli 1962. Pada garis besar kedua pernyatan tersebut mengandung 7 dasar pokok sebagai
berikut : (1) Sesudah retifikasi oleh Indonesia, Belanda dan PBB, maka selambat-
lambatnya 1 Oktober penguasa PBB akan tiba di Irian Barat untuk mngoper
pemerintahan dari tangan Belanda. Pada waktu itu juga kekuasaan Belanda di Irian Barat
berakhir, bendera turun, bendera PBB menggantikannya; (2) Mulai saat itu penguasa
PBB akan memakai tenaga-tenaga Republik Indonesia ( baik sipil maupun alat-alat
keamanan ) bersama dengan alat-alat yang sudah ada di Irian Barat yang terdiri dari
putera-puteri Irian Barat dan sisa-sisa dari pegawai Bealnda ; (3) Paratroop-paratroop
Indonesia tetap tinggal di Irian Barat, di bawah kekuasaan adminstrasi PBB ; (4)
Angkatan Perang Belanda mulai saat ini juga berangsur-angsur dipulangkan ke negeri
Belanda. Yang belum pulang, akan ditaruh dalam pengawasan PBB dan tidak boleh
dipakai untuk operasi militer ; (5) Antara Irian Barat dan daerah Republik Indonesia
lainnya, adalah lalulintas bebas ; ( 6) Tanggal 1 Januari 1963, atau, 31 Desember 1962,
bendera Sang Saka Merah Putih secara resmi akan dikibarkan disamping bendera PBB
dan (7) Pemulangan Angkatan Perang Belanda dan pegawai Belanda harus selesai pada
tanggal 1 Mei 1963, dan sebentar sesudahnya itu penmeribtah Republik Indonesia secara
resmi mengoper pemerintahan di Irian Barat dari tangan PBB.

Penutup

Meskipun pemerintah Indonesia mengadakan perundingan dengan Belanda tetapi


operasi-operasi militer tetap berlanjut saja. Tindakan ini dilakukan karena tidak ingin
tetipu untuk kesekian kalinya akibat lembaran-lembaran indah yang dihasilkan di meja
perundingan tetai juga guna memperkuat posisi percaturan diplomasi pemerintah
Indonesia di meja perundingan PBB. Sebagai kelanjutan dari pertemuan terdahulu, maka
pada tanggal 15 Agustus 1962 bertempat di ruang sidang Dewan Keamanan Markas PBB
di New York ditandatangani naskah oerjuangan mengenai penyerahan Irian Barat antara
oleh Belanda kepada Indonesia secara bertahap : (1) Pada tanggal 1 Oktober 1962
bendera PBB dikibarkan di Irian Barat, berdampingan dengan bendera Belanda. Mulai
saat itu kekuasaan Belanda atas Irian Barat diambialih oleh PBB; (3) Pada tanggal 1 Mei
1963 kedaulatan atas Irian Barat sepenuhnya diserahkan kepada Pemerintah RI dan
bendera PBB diturunkan.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 19
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Persetujuan yang ditandatangani oleh Dr Van Royen dan Dr Subandrio ini juga terdapat
suatu ketetapan menmgenai tindakan pilihan bebas dan nasehat, serta bantuan dan peran
serta Perserikatan Bangsa-Bangsa akan dilangsungkan sebelum akhir 1969 untuk
menentukan apakah penduduk Irian Barat tersebut tetap ingin menjadi warga yang
termasuk juridiksi Indonesia atau tidak. Di dalam pidato hari ulang tahun Proklamasi
Kemerdekaan yang ke 17, Presiden Soekarno menyatakan bahwa bendera Indonesia
sudah berkibar di Irian Barat secara resmi pada tanggal 31 Desember 1962 sebelum ayam
jantan berkokok pada tanggal 1 Januari 1963, janji itupun dipenuhi oleh Presiden
Soekarno dengan bendera Belanda dan bendera PBB digantikan oleh bendera Republik
Indonesia pada tanggal 31 Desember 1962,

Dengan ditandatangani persetujuan New York tersebut, maka berakhirlah sengketa dua
belas tahun yang mengganggu hubungan Indonesia dengan Belanda. Penyelesaian
sengketa Irian Barat ini memperlihat keunggulan politik bebas dan aktif yang dijalankan
oleh pemerintah Indonesia dalam menyelesaikan sengketa mengenai Irian Barat.
Kemenangan tersebut berkat penampilan yang cakap atas tindakan diplomatik yang
teratur rapi baik dan disertai dengan penuh kelihaian dan ketrampilan, dan juga didukung
oleh operasi-operasi militer serta demontrasi dari keinginan rakyat yang teguh untuk
memerdekan Irian Barat dari cengkraman penjahan Belanda.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 20
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Bibliografi

Hadiningrat, Kusumah. 1971. Sejarah Operasi Gabungan –Gabungan


Dalam Rangka Dwikora . Jakarta : Departemen Pertahanan dan
Keamanan. Jakarta : Pusat Sejarah ABRI.

Harsono, Ganis .1985. Cakrawala Politik Era Soekarno.Jakarta : Inti Idayu


Press.

Legge, John D. 1985. Sukarno. Sebuah Biografi Politik . Jakarta : Sinar


Harapan.

Leifer, Michael. 1986. Politik Luar Negeri . Jakarta : PT Gramedia

Muhaimin, Yahya A. 1982. Perkembangan Militer dalam Politik di


Indonesia. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Nasution, AH, 1984. Memenuhi Panggilan Tugas, Kenangan Masa Orde


Lama, Jilid 5. Jakarta : Gunung Agung.

Omar, Moh. 1984. Laksda TNI-AL. Anumerta Yosaphat Soedarso. Jakarta :


Departemen Pendidikan dan Kebuadayaan Direktorat Sejarah dan Nilai
Tradisional . Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional

Pesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Nosusanto. 1990. Sejarah


Nasional Indonesia. , Jilid VI. Jakarta : Departemen Pendidikan
dan Kebuadayaan .

Ricklefs, MC. 1991. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta : Gajah Mada


University Press.

Roeder, O.G. 1976. Anak Desa – Biografi Presiden Soeharto . Jakarta :


Gunung Agung.

Sabir, M. 1987. Politik Bebas Aktif. Jakarta : CV Haji Masagung.

Sastroamidjojo, Ali.. 1974. Tonggak – Tonggak Perjalananku. Jakarta : PT Kinta.

Soekarno. 1965. Dibawah Bendera Revolusi , Jilid 2 . Jakarta : Panitya


Penerbit Dibawah Bendera Revolusi .

Sundhaussen, Ulf .1986 Politik Militer Indonesia 1945 – 196. Menuju Dwi
Fungsi ABRI. Jakarta : LP3ES.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 21
Email: mr.kasenda@gmail.com

Anda mungkin juga menyukai