P. 1
Peristiwa 15 Januari 1974

Peristiwa 15 Januari 1974

|Views: 774|Likes:
Dipublikasikan oleh Peter Kasenda
Meningkatnya kekejaman dan kedestruktifan manusia telah menarik perhatian kaum ilmuwan untuk memajukan pertanyaan teoritis mengenai sifat dan penyebab agresi. Perhatian semacam itu tidaklah mengejutkan, yang mengejutkan adalah bahwa perhatian ini sebegitu terlambatnya, yakni semenjak Freud, yang merevisi teori terdahulunya yang berpusat di seputar dorongan seksual, merumuskan teori baru pada tahun 1920-an yang menyatakan bahwa hasrat untuk merusak sama kuatnya dengan hasrat untuk mencintai. Kendati begitu, khalayak ramai umum masih saja berpikir mengenai Freudianisme sebatas pembatasan libido sebagai hasrat utama manusia dengan hanya mencocokkan dirinya dengan insting pelestarian diri.

Situasi ini mulai berubah pada pertengahan 1930-an. Barangkali salah satu penyebabnya adalah tingkat kekejaman dan ketakutan akan perang yang yang telah melampui batas batas di seluruh dunia. Namun faktor pemicunya adalah diterbitkannya beberapa buku yang membahas agresi manusia terutama yang ditulis Konrad Lorenz (1966). Meski ditolak oleh banyak psikolog dan neurolog, buku yang berjudul On Agrgresiion ternyata laku keras dan memberi kesan yang mendalam di hati sebagian besar kalangan terdidik, yang banyak di antaranya menerima pendapat Lorenz sebagai jawaban atas permasalahannya yang mengemuka.

Tulisan sebelum (African Genesis, 1961) dan sesudah Konrad Lorenz (The Territorial Imperative, 1967; The Naked Ape, 1967; On Love and Hate,1972) pada dasarnya mengandung tesis yang sama perilaku agresif manusia yang diwujudkan dalam peperangan, kejahatan, perkelahian dan segala jenis perilaku destruktif dan sadistis ditimbulkan oleh insting bawaan yang telah terprogram secara filogenetik. Insting ini berupaya mencari penyaluran dan selalu menunggu kesempatan yang tepat untuk melampiaskannya.

Boleh jadi neoinstingtifisme Lorenz sedemikian berhasil bukan lantaran argumen-argumennya yang begitu kuat, melainkan karena masyarakat lebih mudah memahami argumen-argumen tersebut. Apalagi yang dapat diterima oleh pikiran masyarakat yang sedang ketakutan dan merasa tidak berdaya untuk mengubah kecenderungan destruktif, kalau bukan teori yang mengatakan bahwa kekejaman bersumber dari fitrah hewani manusia, dari desakan tak terkendali untuk melakukan agresi, dan bahwa hal yang terbaik yang dapat dilakukan, sebagaimana ditekankan oleh Lorenz, adalah memahami hukum evolusi yang telah memperkuat dorongan tersebut? Teori agresi bawaan ini dengan mudah menjadi ideologi yang membantu meredam ketakutan akan apa yang mungkin terjadi dan merasionalkan makna ketidakberdayaan.

Alasan-alasan lain yang menjadikan lebih disukainya jawaban sederhana mengenai teori instingtifistik ini ketimbang penelitian serius tentang sebab-musabab kedestruktifan. Penelitian seperti ini menuntut untuk berani mempertanyakan ideologi yang diyakini oleh masyarakat. Dalam hal ini yang dimaksud adalah keberanian menganalisis irrasionalitas dalam sistim sosial kita, dan dengan demikian, melanggar tabu yang tersembunyi di balik kata-kata bermoral, misalnya “pertahanan”, “Kehormatan”, dan “ Patriotisme”: Selain dari analisis yang mendalam mengenai sistim kemasyarakatan kita, tidak ada yang apa mengungkapkan penyebab meningkatnya kedestruktifan, atau yang dapat memberikan saran serta cara-cara untuk menguranginya, Teori instingtifistik berupaya membebaskan kita dari tugas berat membuat analisis semacam itu. Hal ini mengisyaratkan bahwa, sekalipun kita semua akan binasa, setidaknya kita dapat menerimanya dengan berbekal keyakinan bahwa “fitrah” kitalah yang memaksa kita menerima nasib ini, dan bahwa kita paham mengapa segala sesuatunya menjadi seperti ini ( Eric Fromm, 2000 : xv - xvii )
Meningkatnya kekejaman dan kedestruktifan manusia telah menarik perhatian kaum ilmuwan untuk memajukan pertanyaan teoritis mengenai sifat dan penyebab agresi. Perhatian semacam itu tidaklah mengejutkan, yang mengejutkan adalah bahwa perhatian ini sebegitu terlambatnya, yakni semenjak Freud, yang merevisi teori terdahulunya yang berpusat di seputar dorongan seksual, merumuskan teori baru pada tahun 1920-an yang menyatakan bahwa hasrat untuk merusak sama kuatnya dengan hasrat untuk mencintai. Kendati begitu, khalayak ramai umum masih saja berpikir mengenai Freudianisme sebatas pembatasan libido sebagai hasrat utama manusia dengan hanya mencocokkan dirinya dengan insting pelestarian diri.

Situasi ini mulai berubah pada pertengahan 1930-an. Barangkali salah satu penyebabnya adalah tingkat kekejaman dan ketakutan akan perang yang yang telah melampui batas batas di seluruh dunia. Namun faktor pemicunya adalah diterbitkannya beberapa buku yang membahas agresi manusia terutama yang ditulis Konrad Lorenz (1966). Meski ditolak oleh banyak psikolog dan neurolog, buku yang berjudul On Agrgresiion ternyata laku keras dan memberi kesan yang mendalam di hati sebagian besar kalangan terdidik, yang banyak di antaranya menerima pendapat Lorenz sebagai jawaban atas permasalahannya yang mengemuka.

Tulisan sebelum (African Genesis, 1961) dan sesudah Konrad Lorenz (The Territorial Imperative, 1967; The Naked Ape, 1967; On Love and Hate,1972) pada dasarnya mengandung tesis yang sama perilaku agresif manusia yang diwujudkan dalam peperangan, kejahatan, perkelahian dan segala jenis perilaku destruktif dan sadistis ditimbulkan oleh insting bawaan yang telah terprogram secara filogenetik. Insting ini berupaya mencari penyaluran dan selalu menunggu kesempatan yang tepat untuk melampiaskannya.

Boleh jadi neoinstingtifisme Lorenz sedemikian berhasil bukan lantaran argumen-argumennya yang begitu kuat, melainkan karena masyarakat lebih mudah memahami argumen-argumen tersebut. Apalagi yang dapat diterima oleh pikiran masyarakat yang sedang ketakutan dan merasa tidak berdaya untuk mengubah kecenderungan destruktif, kalau bukan teori yang mengatakan bahwa kekejaman bersumber dari fitrah hewani manusia, dari desakan tak terkendali untuk melakukan agresi, dan bahwa hal yang terbaik yang dapat dilakukan, sebagaimana ditekankan oleh Lorenz, adalah memahami hukum evolusi yang telah memperkuat dorongan tersebut? Teori agresi bawaan ini dengan mudah menjadi ideologi yang membantu meredam ketakutan akan apa yang mungkin terjadi dan merasionalkan makna ketidakberdayaan.

Alasan-alasan lain yang menjadikan lebih disukainya jawaban sederhana mengenai teori instingtifistik ini ketimbang penelitian serius tentang sebab-musabab kedestruktifan. Penelitian seperti ini menuntut untuk berani mempertanyakan ideologi yang diyakini oleh masyarakat. Dalam hal ini yang dimaksud adalah keberanian menganalisis irrasionalitas dalam sistim sosial kita, dan dengan demikian, melanggar tabu yang tersembunyi di balik kata-kata bermoral, misalnya “pertahanan”, “Kehormatan”, dan “ Patriotisme”: Selain dari analisis yang mendalam mengenai sistim kemasyarakatan kita, tidak ada yang apa mengungkapkan penyebab meningkatnya kedestruktifan, atau yang dapat memberikan saran serta cara-cara untuk menguranginya, Teori instingtifistik berupaya membebaskan kita dari tugas berat membuat analisis semacam itu. Hal ini mengisyaratkan bahwa, sekalipun kita semua akan binasa, setidaknya kita dapat menerimanya dengan berbekal keyakinan bahwa “fitrah” kitalah yang memaksa kita menerima nasib ini, dan bahwa kita paham mengapa segala sesuatunya menjadi seperti ini ( Eric Fromm, 2000 : xv - xvii )

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Peristiwa 15 Januari 1974

Orang luar jangan mengacau kampus. (Soemantri Brojonegoro)

Tanggal 15 Januari 1974, situasi keamanan di Jakarta benar-benar kacau Bunyi senapan otomatis berdentam di beberapa belahan kota. Puluhan ribu manusia lari tunggang langgang mencari tempat berlindung yang dirasa aman. Sementara ratusan manusia lainnya menggunakan kesempatan untuk meraih keuntungan pribadi dengan menjarah toko-toko yang porak poranda oleh serbuan massa. Dalam dokumen sejarah tercatat sebelas jiwa manusia melayang. 17 orang luka berat, ratusan orang lainnya luka ringan, 775 orang ditahan, 807 mobil dan 187 motor dibakar, serta 160 kilogram emas raib. Bangunan dan gedung dirusak bahkan dibakar. Gedung Toyota Asatra Motor, Pertamina, Coca Cola, dan ratusan pertokoan di Proyek Senen adalah beberapa contoh dari 144 gedung atau bangunan yang hangus dan porak poranda. Tanggal tersebut ditulis dalam sejarah Indonesia sebagai lembaran kelabu yang masih diselimuti misteri. Dari satu sisi, ada pandangan bahwa persitiwa itu adalah bagian dari pertarungan intern di tingkat atas antara kelompok Pangkopkamtib Jendral Soemitro dengan Asisten Pribadi Presiden (Aspri) dibawah Majyen Ali Moertopo dan Soedjono Hoermardhani. Kedua kelompok “gajah” yang sedang bertarung tersebut memiliki “pelanduk-pelanduk” di kalangan sipil, khususnya mahasiswa. Soemitro sendiri melakukan “penggalangan massa” dengan mendatangi beberapa kampus di Jawa dan memberikan ceramah politik kepada Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di beberapa negara. Kampus UI tidak didatangi karena, seperti diungkapkan oleh dr. Hariman Siregar, ketua DM-UI tersebut dianggap anteknya Ali Moertopo. Ali Moertopo juga melakukan penggalangan baik melalui kelompok intelektual kampus yang tergabung dalam kelompok Opsus ataupun non-kampus yang berpusat di Tanah Abang III (Gedung Center for Strategic and International Studies – CSIS). Sedangkan Drs. Med Hariman Siregar yang naik menjadi ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DM-UI), antara lain atas bantuan kelompok Opsusnya Ali Moertopo, merasa dirinya independen dan tidak berpihak kepada siapa pun. Hariman Siregar dan Badan Kerjasama Dewan Mahasiswa se-Jakarta, melakukan aksi sendiri untuk mengeritik situasi sosial, ekonomi dan politik saat itu, dan mendapatkan momentum yang baik saat kunjungan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka ke Jakarta pada pertengahan Januari itu. Dari sisi lain, peristiwa 15 Januari merupakan politik tingkat tinggi di dalam pemerintahan yang lakon ceriteranya dimainkan bukan hanya oleh satu dalang melainkan banyak dalang. Sebagian mahasiswa, khususnya Hariman Siregar cs, dianggap bertanggungjawab dalam mematangkan situasi, mulai dari pembacaan “Petisi 24 Oktober“ (1973) di Taman Makam Pahlawan Kalibata. ”Malam Keprihatinan”menyambut tahun baru 1974, berbagai rapat kebulatan tekad di kampuskampus. Boleh dikatakan sebagai puncaknya adalah malam tirakatan tanggal 31
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

1

Peter Kasenda Desenber 1973 yang bertempat di halaman FK UI. Hadir di sana lebih dari 1.500 mahasiswa dari 17 perguruan tinggi di Jakarta, Bogor, Bandung, Padang. Para pembicara yang tampil umumnya mengemukakan keprihatinan nasional dan menilai bahwa strategi pembangunan telah salah arat serta penanaman modal asing dianggap tidak menguntungkan kepentingan nasional. Kesemuanya berpuncak pada apel kebulatan tekad tanggal 15 Januari 1974 di kampus Universitas Trisakti Grogol, Jakarta. Apel tersebut dimaksudkan untuk menentang modal Jepang, yang momentumnya dikaitkan dengan kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka. Pada hari itulah, sekitar pukul 11.00 pada saat para mahasiswa dari berbagai universitas di Jakarta tengah melakukan apel di halaman Universitas Trisakti, Grogol, sekelompok mahasiswa lain – yang diduga mendapatkan janji-janji insentif material dan jabatan dari kelompok Ali Moertopo – bersama sejumlah massa adalah mulai melakukan sejumlah pengerusakan di bagian kota lain) seperti Pasar Senen, Harmoni dan Jl. Juanda). Artinya, sebelum para mahasiswa pulang dari Universitas Trisakti, Grogol, aksi perusakan terjadi, terutama di daerah Harmoni dan Jl Djuanda. Aksi perusakan itulah yang kemudian menjadi penyulut kerusuhan massal dan dikenal sebagai peristiwa “ Malapetaka Limabelas Januari “ ( Malari ) Lebih dari itu, para mahasiswa mengaku menemukan pula sejumlah indikasi bahwa kebakaran-kebakaran dan pengerusakan di berbagai tempat di Jakarta itu dilakukan oleh sekelompok oknum tentara bersama para gali. Hariman Siregar dan para saksi di dalam persidangannya memihak bertanggungjawab atas segala kerusuhan itu, karena mereka memang tidak melakukannya, Namun demikian kelompok Hariman Siregar yang dianggap oleh Pangkopkamtib Jendral TNI Soemitro dan Wapangkopkamtib Laksamana Soedomo sebagai penyulut situasi, dan akhirnya menjadi kambing hitam dari segala kerusuhan itu. Walaupun demikian, ironisnya, pemerintah tidak mau mengekspos indikasi adanya kelompok lain, termasuk kelompok militer, di dalam persitiwa tersebut. Ini dapat dimaklumi, karena ABRI yang merasa memiliki peran sebagai stabilisator dan dinamisator pembangunan, tentunya tidak ingin tercoreng wajahnya akibat tindakan oknum-oknum perwira tingginya yang berebut kekuasaan. Meski sedikitnya ada lima perwira militer yang ditahan, pengadilan memang berupaya membuktikan bahwa kelompok sipil bertanggung jawab penuh atas peristiwa tersebut. Oknum-oknum bekas anggota dua partai terlarang, Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan Masyumi, dituduh sebagai dalang dari peristiwa Malari, sedangkan Hariman Siregar beserta kelompoknya dituduh sebagai pelaksana gerakan. ( Antony Z Abidin et al , 1997 : 162 – 166)

Kekuatan Moral
Awal masa kepresidenan kedua Soeharto diwarnai oleh periode pergulatan politik dalam negeri yang sengit serta lama, berbeda dari yang pernah ia alami selama masa status quo
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

2

Peter Kasenda pasca Gerakan Tigapuluh September bersama Soekarno, maupun masa yang lebih ringan yang membuatnya berhasil mengorganisir struktur politik Indonesia secara mendasar. Ciri khas tahap ini, merupakan tahap yang paling menentukan, tahap yang sulit dan berbahaya selama kekuasaannya yang panjang – adalah terkonsolidasinya serta paling sengitnya penerapan logika Orde Baru selain berhasilnya penyingkiran atas mereka yang berupaya menangani politik Indonesia dengan cara berbeda. Namun, Soeharto tidak menyadari bahwa pertempuran terbesarnya adalah menghadapi mereka yang pernah ikut mendukungnya dalam perjalanannya meraih kekuasaan. Dan memang, ketika krisis silih berganti mendera, Soeharto menunjukkan rasa heran bercampur kemarahan yang semakin memuncak dan sikap yang menekan, mengapa rakyat serta para pendukungnya dulu telah memilih untuk berbalik mengacam, menentang, bahkan menghianati, visi Indonesianya. Posisi sentral Soeharto, juga tercermin dalam pelembagaan dan pelestarian gayanya dalam berkomunikasi dengan rakyat. Kini, setiap pertemuan-pertemuan kabinet atau forum-forum lainnya, atau sesudah pembahasan dengan menteri-menteri atau para tokoh lainnya yang berkumpul, rincian dan materi yang dibahas dibagikan oleh orang yang diajak Soeharto berbicara – atau juru bicara yang ditunjuk – kepada kalangan media yang berkerumuman menunggu. Soeharto sendiri, meski sering muncul di depan umum, menjadi semakin enggan berhadapan dengan pers secara langsung. Penampilan Soeharto yang semakin bersifat pribadi itu berkembang sejalan dengan tumbuhnya ketidaksenangan publik terhadap kebijakan serta arah pemerintahannya – khsusnya tentang arus investasi asing, terutama dari Jepang, dalam manufaktur, merugikan prospek perekonomian para pengusaha dan pekerja setempat. ( Robert Edward Elson, 2005 : 389 ) Mahasiswa merasa dirinya adalah golongan masyarakat yang memiliki noblesse oblige dan mendapatkan kesempatan yang paling baik untuk duduk di perguruan tinggi. khususnya perguruan tinggi negeri. Mereka sekolah dari uang rakyat, karena itu mereka harus memperjuangkan amanat penderitaan rakyat. Dasar dari perjuangan mereka adalah isi yang terkandung di dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila. Dalam melanjutkan peran politiknya, mahasiswa aktivis organisasi intra universitas memberikan perhatian kepada kebijaksanaan stabilitas politik dan pembangunan ekonomi beserta dampaknya bagi kehidupan masyarakat-bangsa-negara. Dalan analisa politik ekonomi yang mulai menjadi model pendekatan studi kemasyarakatan masa itu mahasiswa memulai diskusi tentang pembangunan ekonomi. Lalu mereka berkesimpulan tentang kekeliruan penguasa yang menghasilkan kebijaksanaan ekonomi dan politik sebagai dasar perkembangan ekonomi. Pertama kalinya logika dikursus mahasiswa tersebut didukung oleh fakta tentang kemajuan ekonomi yang terjadi dalam PELITA I, persis selama lima tahun sebelum Persitiwa Limabelas Januari 1974. Oleh karena pembangunan yang menghasilkan ketidakadilan itu merupakan produk akhir dari kebijaksanaan pembangunan yang dirancang dan dilaksanakan oleh pemerintah atas bantuan perusahaan besar maka mahasiswa berkesimpulan bahwa pemerintah merupakan penanggungjawab utama dan investor termasuk yang asing merupakan penanggung jawab sekunder. Bertolak dari pengalaman itu, mahasiswa bukan saja mengeritik penguasa yang mengendalikan
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

3

Peter Kasenda pemerintah, akan tetapi juga mengeritik pengusaha, terutama yang beroperasi sebagai kepanjangan tangan industri asing. Ketika dan proses terhadap hasil pembangunan dengan sasaran penguasa, pemerintah dan investor serta negara donor itu dilakukan oleh bermacam kelompok mahasiswa di berbagai kampus, terutama di kota-kota besar pulau Jawa. Di Universitas Indonesia Grup Diskusi UI yang digerakkan oleh staf pengajar dari Fakultas Ekonomi, fakultas Ilmu-Ilmu sosial dan lain-lain mengorganisasikan seri diskusi tentang pembangunan dan politik Indonesia. Diskusi-diskusi kelompok yang juga melibatkan tokoh mahasiswa, memberi pemahaman politik ekonomi sebagai metode untuk menyikapi situasi Indonesia kepada mahasiswa. Bahkan pembahasan dalam pertemuan-pertemuan kelompok itu mengilhami gerakan moral politik mahasiswa. Dalam rangka memprotes proyek TMII, mahasiswa Jakarta dan Bandung membuat kelompok-kelompok aksi-adhoc seperti Gerakan Penghemat, Gerakan Aksi Sehat (GAS), dan Gerakan Penyelamatan Uang Rakyat. Bersamaan dengan panajamaan dan sikap mahasiswa tentang pembangunan, pemerintah, pengusaha, dan negara donor itu, berlangsung pula persitiwa-persitiwa nasional yang berperan sebagai prakondisi bagi bertransformasinya sikap kritis mahasiswa menjadi gerakan politik radikal. Tanggal 5 Agustus 1974 pecah kerusuhan anti Cina di Bandung. Sekalipun awalnya adalah senggolan gerobak dorong seorang warga pribumi terhadap mobil yang dikendarai pemuda keturunan Cina, namun kerusuhan berujud pembakaran dan pemukulan terhadap warga keturunan itu diartikan oleh banyak pihak sebagai ekspresi dari ketidakpuasan sosial politik kaum pribumi. Aktivis mahasiswa menangkap sebagai protes rakyat terhadap kolusi penguasa dengan pengusaha nonpribumi untuk mengelola dan menikmati (korup) hasil pembangunan. Di akhir 1973 ini terjadi aksi umat Islam menentang RUU perkawinan yang juga ditolak oleh PPP. Sekalipun konflik RUU itu akhirnya terselesaikan antara lain berkat lobby Jendral Soemitro dan stafnya terhadap pihak-pihak yang bertentangan, namun proses politik itu mendekatkan mahasiswa termasuk tokoh Malari Hariman Siregar dengan Jendral Soemitro yang kemudian menjadi salah seorang tokoh sentral dalam persitiwa Malari 1974. Peristiwa internasional juga mengkondisikan radikalisasi gerakan mahasiswa Indonesia di akhir tahun 1973 ialah penggulingan pemerintah Marsekal Thanon Kitikachom oleh mahasiswa Muangthai bulan Oktober 1973. Mahasiswa Indonesia menarik pelajaran darinya tentang pudarnya mitos bahwa kekuasaan militer tidak tergoyahkan oleh kekuatan sipil. Malah kedatangan Menteri Kerjasama Pembangunan Belanda sekaligus ketua IGGI, Jan Pronk ke Jakarta disambut dengan demontrasi antimodal asing. Dalam hal itu Jan Pronk disimbolkan sebagai wakil kekuatan industri internasional yang membawa pinjaman dan ivestasi. Berlanjut ke sepanjang bulan November dan Desember tahun itu aksi demo mahasiswa menjamah berbagai dan masalah penting. Aspri, Bappenas, kedutaan Jepang, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dijadikan sasaran protes dengan tuduhan kaki tangan permainan kotor modal asing, melenyapkan kebanggan nasional.menjual Indonesia, dan sebagainya. Seratus wakil Dewan Mahasiswa berusaha menemui presiden Soeharto di istana negara, tapi gagal karena presiden tidak ada.
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

4

Peter Kasenda

Selain dari segenap kondisi yang menajamkan pandangan dan meradikal sikap pergerakan mahasiswa tersebut diatas, tercipta pula kondisi yang strategis memberikan keyakinan kepada mahasiswa untuk mengorganisasikan aksi kolosal dalam mengoreksi dan memprotes penguasa, pemerintah dan segenap tatanan kekuasaan beserta produk di sepanjang Pelita pertama. Kondisi strategis dimaksudkan adalah konflik di kalangan penguasa yang jaringan prosesnya menjangkau kalangan mahasiswa radikal, sehingga mereka menangkap adanya peluang untuk memenangkan perjuangan. Konflik tersebut adalah di antara Jendral Soemitro selaku Pangkopkamtib dengan Jendral Ali Moertopo sebagai Aspri presiden bidang Polkam yang merangkap kepala BAKIN ( Badan Koordinasi Inteljen Negara ). ( Arbi Sanit , 1998 : 48 – 52 )

Pertarungan Dua Gadjah
Persaingan di antara penasehat-penasehat presiden di bidang politik dan keuangan di satu pihak dengan pendukung-pendukung Jendral Soemitro di lain pihak, pada umumnya berbentuk perubahan kedudukan dalam tubuh golongan elite itu sendiri. Sesudah sukses besar Ali Moertopo dalam pembentukan Golkar menjadi kekuatan politik yang ampuh dalam tahun 1971, jendral-jendral Hankam tersebut segera bertindak untuk mencegah Golkar agar tidak tumbuh menjadi basis ekstramiliter bagi Ali Moertopo, dan ketika kongres pertama Golkar diadakan dalam bulan September 1973 Mayor Jendral Amir Moertono, calon dari kelompok Hankam terpilih sebagai ketua umum. Di pihak lain ketika Jendral Soemitro mengusulkan pengangkatan seorang bawahannya, Mayor Jendral Kharis Suhud sebagai wakil panglima Kopkamtib pada pertengahan 1973, Soeharto justru memutuskan untuk mengangkat bekas Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Sudomo yang mempunyai hubungan dekat dengan Ali Moertopo. Walaupun para anggota kelompok Aspri tersebut menikmati hubungan lebih hangat dengan presiden cukup berhati-hati untuk tidak membiarkan mereka ke suatu titik yang menyebabkan kelompok tentara professional tersebut merasa dikesampingkan. Keseimbangan yang proporsional dipelihara dengan menganugerahi kedua kelompok hadiah-hadiah serta alasan-alasan untuk harapan-harapan cerah bagi mereka di hari depan. Dalam memimpin sistem yang menyeimbangkan kaum vested interest itu, pada awal tahun 1970-an tampaknya Soeharto dalam posisi harus mempertahankan regimnya yang tak menentu. Selama bantuan luar negeri, penanaman modal asing dan hasil minyak bumi tetap dapat menjadi cadangan yang semakin banyak untuk dapat didistribusikan, tampaknya kelompok-kelompok di dalam tubuh Angkatan Darat yang saling bersaing itu dapat dikendalikan melalui pembagian secara adil atas kepuasan-kepuasan material. Pertentangan tajam terus berlangsung di dalam kalangan kekuasaan itu diharapkan tetap berpegang pada “aturan permainan“ yang berarti bahwa mereka harus menerima kekalahannya, bukan berupaya menggalang perlawanan terhadap penguasa. Lebih jauh kekalahan itu sering dipermanis dengan jabatan yang tinggi dan empuk, sedangkan bagi mereka yang menolak kerja sama dihadapkan pada kemumgkinan pemenjaraan.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

5

Peter Kasenda Sistem pengayoman tersebut berjalan dengan baik dalam menjinakkan kelompokkelompok yang bertentangan di kalangan angkatan bersenjata, tetapi cenderung mempertajam ketidakpuasan di kalangan sipil. Masuknya modal asing secara besarbesaran membuka kesempatan bisnis baru yang luas bagi kaum militer bersama rekanrekan sipil mereka, tetapi sekaligus juga mengancam posisi pengusaha-pengusaha pribumi Indonesia yang miskin. baik dalam hal modal maupun koneksi dengan kalangan tentara. Ketika periode awal penanaman modal Amerika, pada proyek pertambangan permulaan tahun 1970-an diikuti oleh penanaman modal Jepang dalam sektor perindustrian maka kesempatan bagi pengusaha-pengusaha Indonesia dipersempit. Banyak di antaranya, terutama di sektor pertekstilan, terpaksa gulkung tikar akibat persaingannya dengan modal asing itu, sedangan kaum buruh yang kehilangan pekerjaan dari pabrik-pabrik tua yang menggunakan tenaga buruh secara intensif itu tidak terserap ke dalam pabrik-pabrik baru yang menggunakan modal Jepang dan pejabat-pejabat Indonesia seperti Soedjono Hoemardhani dan Ibnu Sutowo, tokoh-tokoh yang paling erat hubungannya dengan kalangan tersebut. Menjelang akhir Oktober sebuah pertemuan mahasiswa di Universitas Indonesia mencetuskan “Petisi 24 Oktober“ yang memprotes “perkosaan hukum merajalelanya korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, membumbung harga barang-barang dan pengangguran”, serta menyerukan untuk meninjau kembali strategi pembangunan yang berlaku, yang hanya menguntungkan kaum kaya itu. Dua minggu kemudian, ketika menteri kerjasama pembangunan pemerintah Belanda yang muda dan simpatik, Dr Jan Pronk datang untuk suatu kunjungan resmi, ia disambut oleh para demonstran mahasiswa itu, mereka menyerahkan kepadanya sebuah pernyataan yang menyatakan ,” bahwa kami tidak bangga dengan hasil-hasil bantuan dan modal asing berupa gedung-gedung tinggi itu semakin banyak orang kehilangan pekerjaan, tempat tinggal dan tanah, industri tekstil kami mati, hutan-hutan kami telah gundul dan ladang-ladang minyak kami mengering “ Selama beberapa minggu berikut, banyak delegasi kecil yang mendatangi kantor-kantor pemerintah untuk menyatakan protes terhadap ketergantungan yang amat menyolok. Suasana liberal yang luar biasa itu menggalakkan kritik pers yang pedas terhadap penanaman modal asing dan politik ekonomi pemerintah pada umumnya. Ledakan mendadak protes mahasiswa telah terjadi terhadap latar belakang ketidakpastian yang disebabkan oleh dua perkembangan yang lain lagi. Pada tanggal 5 Agustus meledaklah huru-hara anti-Cina terdashyat dalam Periode Orde Baru di Bandung, bermula dari sebuah kecelakaan kecil lalu-lintas yang mendorong massa mengamuk di seluruh bagian kota, dari kira-kira pukul 4 sore sampai pukul 1 lewar tengah malam, menghancurkan kira-kira 1.500 toko dan rumah, termasuk hampir semua toko di pusat kota. Namun demikian segi yang paling menarik dari huru-hara itu ialah bahwa Angkatan Darat telah gagal melakukan tindakan terhadap para pelaku keributan. Pasukan keamanan tidak kunjung datang sampai jauh rembang malam dan ketika sudah datang pun mereka tidak mengambil tindakan cukup tegas. Kesimpulannya hampir tak dapat diragukan bahwa banyak anggota angkatan bersenjata di Jawa Barat setidak-idaknya telah bersimpati kepada para perusuh, malah didesas-desuskan bahwa para prajurit itu telah ikut serta dalam perusakan dan perampokan.. Walaupun pemerintah menunding kepada “partai komunis bawah tanah“, kenyataan bahwa 19 orang anggota Divisi Siliwangi
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

6

Peter Kasenda ditahan, termasuk dua orang letnan kolonel serta beberpa orang perwira lainnya, begitu pula beberapa orang pemimpin sipil dari Angkatan Muda Siliwangi, sebuah organisasi yang didukung oleh beberapa perwira Sunda di dalam Divisi Siliwangi. Para perwira suku Sunda itu jelas memancing-mancing hura hara sebagai cara untuk protes terhadap tindakan pemerintah yang memberi angin kepada kongsi-kongsi Cina dan asing dengan mengorbankan perusahaan-perusahaan pribumi. Menyadari adanya simpati yang dirasakan oleh para prajurit bawahan dan perwira-perwira muda terhadap perasaan para perusuh anti-Cina itu, para pemimpin Divisi Siliwangi menjadi bimbang untuk memerintakan pasukannya bertindak. Kekuasaan pimpinan Angkatan Darat jauh berkurang daripada yang tampak sebelum terjadi huru-hara, dan terdapat spekulasi tentang kemerosotan disiplin yang jelas nampak di Jawa Barat itu juga dapat diketemukan di daerah-daerah lain. Selagi kurangnya persatuan dan disiplin di dalam bagian-bagian Angkatan Darat, yang tampak ke luar itu telah menimbulkan masalah tentang kemampuan dalam menangani masalah ketidak-puasan massa, suatu masalah baru menggerakkan momentumnya pula. Pada tanggal 31 Juli pihak pemerintah mengajukan suatu undang-undang yang memberikan ketentuan-ketentuan perkawinan dan perceraian yang sama untuk umat seluruh agama. Undang-undang itu merupakan puncak tahun-tahun tuntutan organisasiorganisasi wanita yang menghendaki adanya perlindungan hukum agar tidak diatur oleh hukum Islam dan disokong oleh organisasi-organisasi Kristen dan sekuler. Keputusan mengajukan perundang-undangan tersebut tampaknya berasal dari staf Ali Moertopo yang memandangnya sebagai suatu masalah yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong lebih lanjut proses “sekulerisasi” politik Islam. Walaupun beberapa orang tokoh politik Islam seperti Mintaredja dan J Naro mendukung undang-undang tersebut, namun kebanyakan umat Islam menentangnya dengan keras ; sedangkan para ulama saling berdebat tentang yang mana dari selusin lebih butir undang-undang yang diusulkan itu yang bertentangan dengan hukum Islam. Di Jakarta ratusan mahasiswa Islam berdemontrasi dan menyerbu gedung parlemen ketika menteri agama menyampaikan pidatonya tentang rancangan undang-undang tersebut pada tanggal 27 September, sementara itu beberpa orang pemimpin Islam di propinsi-propinsi mulai berbicara tentang “perang sabil”’( Harlod Crouch, 1986 : 348 – 352 ) Suasana tidak puas yang muncul memberi peluang pada kelompok Hankam Soemitro, mungkin terkejut dengan kejadian-kejadian di Thailand pada Oktober 1973 yang mengakibatkan jatuhnya pemerintahan PM Thanom Kittikachorn yang didominasi militer itu, dalam memosisikan diri mereka untuk memperoleh simpati rakyat. Meski Soemitro menjabat sebagai Panglima Kopkamtib, ia tidak mengambil langkah-langkah yang efektif dalam mengendalikan protes-protes yang kian menguat itu. Dan memang, kehadirannya yang teratur juga mewarnai kegiatan di kampus-kampus pada November di mana ia berbicara dengan menyebut-nyebut “pola kepemimpinan baru”, pemerintah yang lebih peka terhadap pendapat masyarakat, dan perlunya komunikasi “dua arah“ antara rakyat dan pemerintah – ungkapan-ungkapan yang tak dapat dihindarkan lagi kian mengandung eskalasi kegiatan mahasiswa.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

7

Peter Kasenda Sambutan mahasiswa terhadap Soemitro sangat kontras dan mencolok sekali dengan apa yang diterima oleh para teknokrat ketika mereka berupaya meredakan ketakutan mahasiswa akan arah kebijaksaan perekonomian; demikian kerasnya Soemitro Djojohadikusumo ditantang pada sebuah pertemuan di Institut Teknologi Bandung ditantang pada sebuah pertemuan di Institut Teknologi Bandung, sampai-sampai ia terpaksa harus meninggalkan kampus. Bersama-sama dengan Kepala Bakin Sutopo Yuwono, Pangkopkamtib Jendral Soemitro juga memainkan peran sebagai perantara dalam masalah undang-undang perkawinan yang diusulkan itu serta memaksanakan solusi kompromi dengan kelompok-kelompok Muslim yang menjadi basis UU baru tersebut – yang disahkan parlemen pada Desember.1973. Sikap Soemitro yang berbeda itu adalah tantangan nyata yang pertama terhadap keunggulan Soeharto sejak masa-masa awal Orde Baru. Sikap ini merupakan perpaduan antara sikap kurang begitu lihai dalam menjauhkan diri dari rezim, serangan terhadap (dan bahkan mendorong yang lain agar mengecam) orang-orang yang dekat dengan Soeharto, terutama kelompok Aspri dan, khususnya Ali Moertopo ( yang perilaku busuk dan suka campur tangan serta konsep-konsep pembangunan antiteknokratnya disebut sebagai penyebab kemerosotan sosial dan moral dalam pelaksanaan kebijakan-kebijakan perekonomian Orde Baru ), dan upaya terang-terangan merayu kelompok-kelompok pembakang sosial penting, para mahasiswa, kelompok-kelompok muslim, serta pers yang baru mulai menunjukkan kegigihannya. Soemitro juga secara resmi menyetujui pegelaran drama oleh penyair W.S. Rendra yang kritis terhadap pemerintah, bahkan mensponsori kunjungan pers ke kamp tahanan politik di Pulau Buru. Sementara itu, Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani sendiri bereaksi dengan melancarkan serangan-serangan terhadap visi pengembangan Indonesia dari para teknokrat – yang wujud lain kuatnya diwakili oleh Bappenas. Upaya-upaya Soeharto yang tampaknya keras dan cepat dalam mnedisiplinkan Soemitro serta memulihkan hubungan kerja dengan Moertopo, dimulai pada November dan mencapai puncaknya pada hari-hari pertama bulan Januari 1974, ternyata tidak berhasil. Soemitro terus saja menjalankan upaya menghimpun dukungan lebih lanjut di kalangan para tokoh militer yang dikucilkan seperti AH Nasution serta Sarwo Edhie Wibowo selama dua minggu sesudahnya. Drama politik yang tengah berlangsung ini mencapai titik akhir dalam kerusuhan serius yang dikenal sebagai peristiwa Malari yang terjadi pertengahan Januari. ( Robert Edward Elson , 2005 : 391 – 393 ) Dalam sistem kekuasaan paternalisme kepercayaan pemimpin bermakna pemberian kekuasaan. Kritik mahasiswa kepada Aspri ditangkap oleh Ali Moertopo sebagai upaya merusak kepercayaan presiden kepadanya. Dalam menetralisasikan serangan itu ia mendekat anggota Dewan Mahasiswa UI yang kemudian 10 orang diantaranya memajukan mosi tidak percaya kepada Hariman Siregar selaku ketua dewan Mahasiswa UI yang amat giat mengorganisasikan kritik kepada pemerintah dan pembangunan. ( Arbi Sanit, 1999 : 52 ) Mosi tidak percaya itu terjadi setelah sebelumnya Ali Moertopo mengulangi seruannya kepada mahasiswa agar menghentikan aksi-aksi yang disebutnya
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

8

Peter Kasenda sebagai tak tentu arah. Beberapa hari sebelumnya, salah seorang dari kesepuluh fungsionaris yang (antara lain terdiri atas Aulia Rahman, Freddy Latumahina, Posdam Hutasoit, dan Leo Tomasoa) kemudian lebih dikenal sebagai Kelompok 10 sempat menemui Eko Djatmiko Ketua Senat FKG-UI, pengurus DM UI yang pro – Hariman dan bertanya apakah Ketua Senat FKG-UI tersebut mendukung ketua umum Dewan Mahasiswa UI atau Kelompok 10. Lalu muncul aksi corat-coret di DM UI yang dilakukan oleh Kelompok 10. Sebelum itu, dalam waktu yang hampir bersamaan, Posdam Hutasoit sempat mendatangi rumah Salim Hutajulu ( namun gagal bertemu ) untuk membujuk Salim agar bergabung deangan kelompok mereka. Setelah itu, pada kesempatan berikutnya, Aulia Rahman dan Freddy Latumahina mengajak Salim Hutajulu untuk bertemu Letkol Utomo di kediamannya di Jalan Salemba. untuk pembicaraan di sekitar recana menjatuhkan Hariman Siregar dari kedudukannya sebagai Ketua DM UI. Meskipun Salim Hutajulu hadir juga dalam pertemuan tersebut, namun pada akhirnya ia tetap pada pendiriannya untuk menolak rencana-rencana semacam itu. Perlu diketahui bahwa duduknya Hariman Siregar sendiri sebagai Ketua DM UI semula didukung sepenuhnya oleh Ali Moertopo melalui peranan Kelompok 10 di UI. Kelompok 10 punya jasa yang tidak kecil terhadap naiknya Hariman Siregar. Tetapi dukungan Kelompok 10 terhadap Hariman Siregar segera berubah menjadi kebencian ketika menyaksikan bahwa Hariman secara tegas menyatakan bahwa dirinya tidak bersedia menjadi instrumen dari Ali Moertopo. Di lingkungan mahasiswa Universitas Indonesia, kelompok 10 sebelumnya diketahui memiliki “pressure group yang dikenal dengan nama Small Group (SG). SG popular sebagai suatu kelompok yang akrab dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya mengandalkan kekuatan fisik. SG terutama berperan besar di dalam menggebuk unsurunsur GMNI dan PNI-Asu. Di kalangan mahasiswa UI, SG menjadi organisasi yang ditakuti karena sering melakukan tekanan terhadap mahasiswa Karena tekanan-tekanan itu pulalah, tidak berapa lama setelah naiknya Hariman Siregar sebagai ketua DM UI, di asrama mahasiswa UI Jalan Pegangsaan para mahasiswa pendukung Hariman Siregar nyaris terlibat bentrokan fisik dengan SG. Sejalan dengan berbagai tekanan terhadap kelompok Hariman Siregar beberapa saat sebelum meletusnya perisitiwa Malari telah berkembang menjadi suatu issu yang semakin santer bahwa Hariman Siregar hendak menggulingkan pimpinan nasional. Dalam suasana demikian, mahasiswa mendapat informasi bahwa Ali Moertopo melalui Liem Bian Kie merencanakan akan menggerakkan beberapa mahasiswa UI untuk mengadakan aksi terror bersamaan dengan waktu penyelenggaraan Apel Mahasiswa 15 Januari 1974. Pada tanggal 14 Desember 1973, Jessy Moningka ( unsur non-Kampus dari Angkatan 66 / Ketua I Pangah KAPPI Jakarta Pusat/Mahasiswa PT Trisakti ) bertemu dengan Asisten I Kodam V Jaya Kolonel Hasan Basri. Pada kesempatan tersebut, Jessy Moningka melaporkan tentang info rencana untuk melakukan kekacauan pada saat mahasiswa bergerak tanggal 15 Januari 1974, yang dijawab oleh Hasan Basri bahwa dirinya sudah mengetahui dan akan memperhatikan secara seksama. ( Heru Cahyono, 1992 : 156 – 159 )

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

9

Peter Kasenda Sebenarnya gerakan dapat dibedakan menjadi dua : kalangan mahasiswa (kelompok kampus) dan non-mahasiswa (non-kampus). Dari kelompok kampus adalah gerakangerakan yang dipimpin oleh Hariman Siregar, sedangkan kelompok non-kampus dipimpin oleh Yopie Lasut, Jessy Moningka, dan Yusuf AR. Di antara kedua kelompok tersebut sebenarnya terdapat perbedaan mendasar mengenai dasar pemikiran maupun tujuan gerakan. Namun karena secara umum ada perasaan emosional yang sama mengenai beberapa hal maka sedari awal di antara kedua kelompok tersebut terjalin hubungan yang bersifat saling mendukung, bahkan suatu ikatan resmi antara keduanya direalisasikan pada tanggal 13 Januari 1974. Mesikipun dalam beberapa hal persamaan, seperti ketidak-puasan terhadap pemerintah dan kebencian terhadap Aspri, namun ada sasaran strategis yang berbeda di antara keduanya. Sasaran kelompok non-kampus yakni hanyalah menyangkut kejatuhan para Aspri, ( khususnya Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani). Berbeda tentunya dengan kelompok Hariman Siregar yang terang-terangan menyerang Soeharto sendiri. Khususnya dalam minggu-minggu terakhir sebelum Malari, kelompok Hariman Siregar makin terbuka meneriakkan yel-yel yang menyerang bahkan menghina pribadi presiden Sasaran kelompok kampus tidak hanya terbatas pada kejatuhan Aspri tetapi juga Soeharto sendiri. Bahkan karena sepak terjang kelompok Hariman Siregar yang terlampau berani dan membuat aktivitas-aktivitas yang malahan dipandang merugikan, Soemitro sendiri sempat mencurigai Hariman Siregar sebagai “antek “ Ali Moertopo. Perbedaan antara kelompok kampus dengan non-kampus juga bisa ditelusuri dengan perbedaan latar belakang dan orientasi pemikiran mereka. Jika kelompok Hariman Siregar banyak dipengaruhi oleh pandangan ekonom dari Prof Sarbini Soemawinata, seorang pakar ekonomi yang kebetulan menjadi mertua Hariman Siregar, maka kelompok non-kampus lebih dekat berhubungan Balai Budaya yang dipimpin Mochtar Lubis. Kelompok Balai Budaya ini mulai bergerak sekitar bulan Agustus 1973. Adalah Mochtar Lubis sendiri yang mecanangkan tekad untuk memberi pelajaran kepada pihak Jepang menyusul kehadirannya di dalam suatu seminar masalah ekonomi di Jepang yang di antaranya berisi ceramah yang bernada amat merendahkan bangsa Indonesia. Semenjak itu kelompok Balai Budaya, melalui sekretaris Mochtar Lubis: Imam Waluyo, kerap menghubungi tokoh-tokoh non-kampus (seperti Yopie Lasut dan Yusuf AR) serta aktif menggalang kampanye anti-Jepang. Kelompok ini kemudian bahkan merencanakan pembakaran satu mobil Jepang di Monas untuk menyambut kedatangan PM Kakuei Tanaka, sebagai aksi “pertunjukan“ kepada pihak Jepang. Pemikiran kelompok Balai Budaya bisa dikatakan murni anti Jepang, maka target utama mereka adalah menyingkirkan Aspri Soedjono Hoemardhani dan Ali Moertopo, karena mereka melihat bahwa Soedjono Hoemardhani dan Ali Moertopo-lah penghalang utama selama ini, apa lagi Soedjono Hoemardhani amat dikenal sebagai “antek Jepang“ Hal tersebut juga ditunjukkan dengan dukungan kelompok Balai Budaya kepada teknokrat– teknokrat UI (Bappenas) di bawah Widjojo Nitisastro, yang dengan sikap tersebut tentu berbeda dengan apa yang diambil oleh kelompok kampus yang juga kerap memandang Widjojo Nitisastro cs termasuk ke dalam target yang harus dijatuhkan. Sebab Sarbini

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

10

Peter Kasenda Soemawinata termasuk Widjojo.Nitisastro. penentang utama kebijaksanaan-kebijaksanaan ekonomi

Rivalitas elit tingkat atas sesungguhnya juga didorong mulai berkembangnya pemikiranpemikiran ekonomi baru yang menyerang strategi ekonomi Bappenas, kelompoknya Widjojo Nitisastro. Ali Moertopo yang punya ambisi-ambisi politik nasional, melihat perkembangan itu sebagai kesempatan yang akan memberi keuntungan kepada kelompoknya. . Untuk mencapai ambisi-ambisi politiknya, kelompok Tanah Abang, memandang paling tidak ada dua kelompok yang bisa menjadi penghalang utama. Di bidang administratf pemerintah, kelompok Ali Moertopo tidak menyukai duduknya kelompok teknokrat UI, kelompok Widjojo Nitisastro, di dalam posisi-posisi pemerintahan terutama untuk mengendalikan kebijaksanaan-kebijaksanaan ekonomi. Sementara di jalur politik, MBAD merupakan lawan utama, kalau bukan pesaing utama. Secara timbal balik, sejak awal tahun 1970-an MBAD telah menunjukkan ketidaksukaannya terhadap sepak terjang kelompok Ali Moertopo di dalam Aspri yang dianggap berbuat sekehendak hati. Untuk menunjukkan besarnya ambisi kelompok Tanah Abang ini, perlu dicatat bahwa di dalam Golkar kelompok Tanah Abang pernah mendesakkan gagasan untuk menjadikan kelompok ini sebagai “kabinet bayangan“, di mana anggota bayangan ini antara lain terdiri dari Daoed Joesoef dan Panglaykim. Tapi gagasan ini mendapat tantangan keras, bahkan kabarnya tantangan datang dari salah satu eksponen kelompok Tanah Abang itu sendiri. Sejalan dengan ambisinya ketika kelompok Hariman Siregar mulai “berteriakteriak “ mengeritik strategi pembangunan, Ali Moertopo semula merasa senang dengan harapan dapat memukul kelompok Widjojo Nitisastro. Terhadap kritik-kritik yang dilontarkan Hariman Siregar kabarnya sampai menimbulkan kemarahan presiden Soeharto. Soeharto tidak senang dengan serangan-serangan Hariman Siregar yang jelas-jelas mendeskreditkan GBHN, dalam hubungan dengan pengertian kata “strategi“ (strategi pembangunan). Kemudian Ali Moertopo mencari-cari Hariman Siregar untuk mengubah kata strategi menjadi “pelaksanaan“, karena Hariman Siregar sendiri terus bersembunyi sehingga gagal diketemukan orang-orang Ali Moertopo. Dari sini pulahlah kemarahan Ali Moertopo terhadap Hariman Siregar muncul. Dalam persepsi Ali Moertopo, Hariman Siregar adalah “orangnya“ Soemitro sehingga bisa menjadi ancaman buatnya. Mulailah periode menghantam Hariman Siregar. Sebaliknya, semula sesungguhnya Soemitro dan Sutopo Yuwono melihat Hariman Siregar sebagai pihak lawan, alatnya Ali Moertopo, mengingat serangan-serangan Hariman Siregar ditujukan kepada strategi pembangunanya Widjojo Nitisastro. Sementara diketahui ada hubungan baik antara kelompok MBAD dengan kelompok Widjojo Nitisastro. Kecurigaan kelompok MBAD dan Widjojo Nitisastro terhadap Ali Moertopo amatlah besar. Terhadap suatu kejadian tertentu yang mencurigakan mereka akan cepat berpikir bahwa kolompok Ali Moertopo sedang bermanuver.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

11

Peter Kasenda Untuk mengimbangi manuver kelompok Hariman Siregar, yang dipersepsikan MBAD dan Widjojo Nitisastro melalui Bintoro serta MBAD melalui Haryadi mendukung lahirnya Mahasiswa Bertanya. Mahasiswa Bertanya ini didukung oleh kekuatan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Bantuan-bantuan dana keuangan untuk mahasiswamahasiswa HMI yang tergabung dalam Mahasiswa Bertanya tersebut, untuk serangkaian demontrasi menyerang Aspri, dibiayai Sutopo Yuwono melalui Haryadi. ( Heru Cahyono , 1992 : 148 – 152 )

Jakarta Membara
Memasuki tahun 1974, suasana semakin memanas. Tanggal 9 Januari para mahasiswa melanjutkan demontrasi menentang para Aspri dan negeri Jepang Di Jakarta dan Bandung, terjadi pembakaran boneka-boneka yang menggambarkan Soedjono Hoemardhani dan Perdana Menteri Jepang, Tanaka. Para Aspri melakukan penyerangan balik terhadap mahasiswa. Para mahasiswa dianggap telah dimanipulasi oleh kekuatankekuatan luar anti Soeharto seperti SOMAL. Tanggal 11 Januari, presiden bersedia menerima delegasi Dewan-dewan Mahasiswa yang menyampaikan kecaman dan mempertanyakan kewibawaan presiden yang dirongrong tingkah laku para pemimpin yang memperkaya diri secara tidak sah, karena peran Opsus yang dipimpin Ali Moertopo terlalu besar di samping akibat tindakan para Aspri yang tampaknya memiliki kekuasaan melebihi pemerintah dan parlemen., karena para mahasiswa diintimidasi oleh beberapa tokoh militer. Pertemuan itu tidak menghasilkan apa-apa karena Presiden tidak mengambil keputusan apapun. Para mahasiswa melalui Apel Siaga Mahasiswa di kampus UKI tanggal 12 Januari kemudian mengajak masyarakat untuk menyambut Tanaka dengan gerakan aksi, memasang bendera setengah tiang di hari kehadiran Tanaka dan mengadakan aksi total tanggal 15 Januari serta mengajak Koran untuk memboikot memberitakan Tanaka. (Suharsih dan Ign Mahendra K , 2007 : 82 ) Tanggal 14 Januari mahasiswa berdemontrasi di lapangan udara Halim Perdanakusuma sebagai protes atas kedatangan Perdana Menteri Tanaka. Tetapi tidak terjadi bentrokan pada waktu itu. Pada malam setelah demontrasi menyambut Tanaka di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, para mahasiswa mengadakan rapat di kampus UI Salemba, Jakarta Pusat. Rapat tersebut membahas undangan Tanaka yang mengajak dialog mahasiswa serta pernyataan Jendral Maraden Panggabean yang menuduh mahasiswa telah berbuat makar. Hasil rapat akhirnya memutuskan menolak undangan dialog Tanaka dan akan mengadakan rapat umum di Universitas Trisakti, Jakarta Barat. Semula, rapat hendak dilakukan di Monumen Nasional, tapi akhirnya dinyatakan tertutup. Sejumlah wartawan hendak meliputi rapat mahasiswa di Salemba, tetapi malah diusir Hariman Siregar. Ketua Dewan Mahasiswa UI mencurigai adanya intel yang menyamar sebagai wartawan. Padahal, di luar, hujan lebat Semua wartawan basah kuyup ketika meninggalkan kampus. Namun, para wartawan akhirnya dapat bocoran bahwa mahasiswa akan melakukan demontrasi long march esok hari. ( Panda Nababan, 2009 : 121 – 122 )

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

12

Peter Kasenda Kendati ada tuduhan makar, mahasiswa tetap melangsungkan niatnya walaupun untuk itu harus memindahkan rencana apel dari Monumen Nasional ke Universitas Trisakti. Namun itulah awal bencana bagi mahasiswa. Ketika apel tengah berlangsung, kerusuhan telah mulai terjadi. Karena akhirnya kerusuhan semakin tidak terkendali, dalam suasana penuh huru-hara para mahasiswa harus menanggung resiko dan bertanggung jawab terhadap persitiwa malapetaka tersebut, sementara mereka merasa tidak tahu dari mana asal kerusuhan-kerusuhan tersebut. Kejadian-kejadian di sekitar tanggal 15 Januari 1974, juga ditemui beberapa indikasi bahwa ada suatu provokasi pihak luar sebagaimana info teror yang diterima sejak bulan Desember 1973. Pada saat rombongan Moas, yang merupakan sekretaris dari Liem bersaudara, di Air Mancur Thamrin, berkeinginan bergabung dengan rombongan ke Trisakti ditolak. Rombongan Yopie Lasut dan Yusuf AR tersebut meninggalkan rombongan Moas yang berjumlah sekitar 100 orang tersebut dan ternyata rombongan yang disebut terakhir kemudian tidak menuju Trisakti. Selagi apel di Trisakti, telah datang laporan bahwa telah terjadi kerusuhan di tempat lain. Maka segera diputuskan agar massa yang sudah berkumpul kembali saja ke tempat masing-masing. Provokasi terus berlanjut, ketika sekitar pukul 15.000 sore massa yang terdiri para pelajar STM datang ke Universitas Indonesia untuk minta instruksi. Mahasiswa yang merasa tidak membuat rencana tersebut segera menyuruh mereka pulang. Kampus UI kemudian dikunci. Tetapi sekitar pukul 17.00 – 18.00 sore datang massa lebih banyak lagi, tanpa sepatu. Mereka berusaha masuk kampus UI melalui berbagai jalan, tetapi dapat dicegah. ( Heru Cahyono, 1992 : 160 – 161 ) Menurut Harlod Crouch, pada hari pertama huru hara pasukan keamanan tidak bertindak tegas dan koresponden–koresponden luar negeri terheran-heran melihat Jendral Soemitro berbicara kepada para demonstran dengan nada bersahabat dari atas sebuah jip di depan kedutaan besar Jepang. Hanya sesudah lewat hari pasukan keamanan itu menembaki para perusuh, belasan orang terbunuh karenanya di kompleks Senen tersebut. Tampak jelas bahwa Jendral Soemitro sengaja menunjukkan bahwa tindakan represif tidak akan dilakukan jika para mahasiswa mengorganisasi demontrasi besar-besaran selama kunjungan Tanaka. Barangkali Soemitro berharap bahwa dengan demontrasi perasaan anti-Jepang yang hebat itu akan memungkinkan baginya untuk menuntut agar presiden mengendalikan kekuatan aristek-arsitek politik Jepang atas Indonesia itu, dan kabar angin mengatakan bahwa ia sedang merencanakan untuk menghadiahi Soeharto, dengan suatu situasi yang tanpa pilihan lain berupa penahanan atas Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani. Barangkali strateginya ini hanya meniru demontrasi mahasiswa yang dipakai oleh Soeharto sendiri dalam bulan Maret 1966 untuk memaksa Presiden Soekarno menerima pemecatan atas Subandrio dan menteri-menteri lainnya. Apa pun rencana Soemitro tersebut, namun menjadi bumerang ketika demontrasi mahasiswa itu pada suatu pagi berubah menjadi huru-hara dua hari. Hal itu tidak hanya menghentikan kemungkinan membiarkan terus berlangsungnya demontrasi –demontrasi anti – Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani, ia sendiri terpojok ketika tuduhan-tuduhan dilancarkan bahwa ia secara tak bertanggung jawab telah menciptakan situasi yang mengancam kepentingan Angkatan Darat secara keseluruhan. Sekalipun Soemitro
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

13

Peter Kasenda mempunyai banyak dukungan di kalangan tentara untuk usaha-usahanya mengendalikan peranan kelompok Aspri itu, namun para perwira Angkatan Darat dengan cepat merapatkan barisan demi menghadapi rusaknya hukum dan ketertiban pada umumnya. ( Harlod Crouch, 1986 : 354 – 355 ) Menurut memoar Soemitro mengenai peristiwa tersebut, pada tanggal 15 Januari 1974, Soemitro sedang mengikuti rapat Wanjakti (Dewan Jabatan dan Kepangkatan Perwira Tinggi), di mana Jendral Panggabean bertindak sebagai ketua dan Soemitro wakilnya. Tetapi, sementara rapat berlangsung, Wapangkopkamtib Laksamana Soedomo bolakbalik memberikan surat kepada Soemitro yang menyebutkan bahwa menurut laporan Brigjen Herman Sarens, keadaan ibukota mulai gawat. Kemudian Herman Sarens melaporkan secara tertulis mengenai terjadinya pembakaran di muka Kedutaan Besar Jepang di Jalan Thamrin. Dikabarkan pula terjadinya perampokan di Glodok, dan gejala serupa agaknya bakal terjadi di Pasar Senen. Bahkan ada laporan rencana pembakaran Blok M. Kendati Soemitro hendak meninggalkan ruang rapat, Jendral Panggabean menahan dirinya untuk tetap mengikuti rapat. Sampai selesai rapat baru Soemitro keluar ruangan dan langsung menemui Soedomo di pos komando yang ada di depan teras Kopkamtib. Soedomo melaporkan kepada Soemitro mengenai persitiwa-peristiwa yang terjadi. Dari pos komando, Soemitro bisa mengadakan hubungan radio ke mana-mana. Soemitro memerintahkan kepada Soedomo agar tidak membiarkan demontrasi masuk ke Monas atau melintasi sungai di belakang Istana. Insitusi Soemitro mengatakan bahwa sasarannya bukan semata-mata Tanaka, melainkan Presiden Soeharto. Apabila demontrasi masuk istana, akan terjadi tembakan yang memakan korban. Dari pos komando, Soemito menghubungi Pangdam Jawa Brawijaya Jendral Wijoyo Suyono, agar dikirim satu batalyon. Demikian pula pada Pangdam Diponogoro Yasir Hadibroto. Keduanya menyanggupi, dan sesuai permintaan Soemitro, mereka menjanjikan pasukan sudah tiba di Jakarta dalam tempo 24 jam. Soemitro tidak minta bantuan kepada Pangdam Siliwangi, karena pasukan Siliwangi masih banyak yang berada di Jakarta. Setelah berbicara ada kedua panglima, ada laporan masuk bahwa ada demontrasidemontrasi masuk ke Jalan Thamrin mendekati Air Mancur. Soemitro dan Brigjen Herman Sarens, Komandan Koprs Markas Hankam langsung bergerak menuju ke sana. Di Jalan Thamrin, Soemitro menyetop demontran yang pada umumnya anak-anak SD, SMP, atau paling besar SMA dengan kawalan seorang yang bertampang mahasiswa naik skuter, yang langsung menghilang dari hadapan Soemitro. Soemitro memerintahkan mereka untuk kembali dan menuju ke Kebayoran. Ternyata mereka patuh. Di depan Sarinah, Soemitro dengan pengeras suara mencoba menenangkan massa yang berteriak menyebut-nyebut nama Tanaka. Sekali lagi, Soemitro menyuruh massa pulang ke rumah dan massa beringsut bubar. Setelah Soemitro berhasil menahan demontrasi tidak sampai Monas, Soemitro kembali ke kantor. Di sana Soemitro memonitor laporan-laporan yang masuk. ( Heru Cahyono, 1998 : 217 – 222 )

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

14

Peter Kasenda Para mahasiswa merasa tidak bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakan kerusuhan dan huru-hara. Tanggal 16 Januari 1974, mahasiswa segera mengadakan pertemuan di kampus UI. Dikeluarkan pernyataan yang isinya mengutuk setiap tindakan kekerasaan sambil menekankan bahwa para mahasiswa tidak mengetahui dari mana datangnya pengerusakan-pengerusakan tersebut. Ali Sadikin yang ketika itu datang juga memberi penjelasan bahwa mahasiswa tidak terlibat. Kepada Gubernur DKI tersebut dijelaskan bahwa mahasiswa dalam keadaan terjepit. Karena ada kabar, setelah Tanaka meninggalkan Indonesia, makasiswa akan di-drill, Ali Sadikin sendiri terkejut ketika diberi tahu bahwa yang membakar Astra adalah militer. Pada tanggal 16 itu pula, ada beberapa orang dari Kelompok 10, di depan kampus UI. Mereka yang sebelumnya dikenal amat menentang gerakan mahasiswa, ketika itu malah berteriak-teriak dan bersama-sama massa menuju ke Pertamina dan Astra dan terjadilah pembakaran mobil di sana. Pada hari yang sama, datang tiga orang ke kampus UI, mereka mengajak merebut Jakarta Fair untuk pedagang kaki lima. Ajakan tersebut ditolak, karena mahasiswa tidak suka cara-cara seperti itu. ( Heru Cahyono, 1992, 160 – 161 ) Menurut penulis biografi Soeharto, Robert Edward Elson, spekulasi Soemitro untuk mempermalukan Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani, ternyata berbalik membawa bencana ketika kerusuhan itu menjadi tak terkendali. Motif-motif Soemitro pun sampai sekarang masih tetap belum jelas’ penggunaan demontrasi-demontrasi itu mungkin juga menjadi alasan untuk menahan Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani, dan mengakhiri karir politik mereka, dengan tujuan merebut status – tidak diragukan lagi – sebagai orang kedua yang paling kuat dalam rezim tersebut – dan bahkan, mungkin juga menggunakan situasi tersebut sebagai batu loncatan untuk rencana yang lebih besar yaitu menggeser Soeharto sendiri (tuduhan yang dibantah dengan sengit oleh Soemitro). Apa yang diperkirakan Soemitro sebagai wujud ketidaksenagan rakyat terhadap Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani ternyata berkembang menjadi momok keamanan yang serius dan bahkan mungkin meningkat menjadi sesuatu yang lebih mencekam seandainya ia meneruskan spekulasinya. ( Robert Edward Elson , 2005 : 393 – 394 ) Perdana Menteri Tanaka dalam konperensi persnya di Tokyo (18 Januari) menyatakan bahwa para pejabat Indonesia memang risau menghadapi demontrasi di Jakarta. Tetapi ia sendiri tidak terlalu khawatir meski hal-hal semacam itu, besar atau kecil, masih bisa terjadi. Ia menyatakan telah berusaha mebuka telinga lebar-lebar untuk mendengarkan aspirasi dan keluhan mahasiswa Indonesia, dan bernjanji akan memperbaikinya bila memang terdapat kesalahan-kesalahan. Sementara itu Menlu Masayoshi Ohira juga menyatakan, Jepang perlu memperbaiki apa yang harus diperbaikinya untuk dapat memperdalam rasa saling pengertian antara kedua bangsa. Jepang berharap rakyat Indonesia menilai baik terhadap niat baik dan bantuan Jepang untuk memperbaiki situasi ekonomi serta kesejahteraan rakyat Indonesia. Ketua Dewan Perdagangan Luar Negeri Jepang, Tatsuzo Hizamuki, menyatakan, rakyat dan pemerintah Jepang hendaknya mempelajari kembali sikap-sikap mereka terhadap negara lain, terutama negara-negara berkembang. Ia juga mengatakan banyak patokan
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

15

Peter Kasenda yang sudah ditetapkan tidak dipatuhi oleh pengusaha Jepang di luar negeri. Sejumlah pengusaha Jepang menyatakan akan memeriksa kembali seluruh kebijaksanaan mereka di Asia dan meneliti kemajuan ekonomi Jepang di kawasan itu, mengingat sentimen anti Jepang tercermin jelas, terutama dalam kerusuhan di Jakarta. Sebelum kerusuhan di Jakarta, juga telah terjadi demontrasi terhadap modal Jepang di Malaysia dan Thailand. ( B Wiwoho dan Banjar Chaeruddin, 1990 : 243 – 244 ) Apa yang dinamakan peristiwa Malari itu (Malapetaka Januari) menunjukkan bahwa Angkatan Darat yang nampak utuh itu bertumpu pada alas yang rapuh dan bahwa persaingan tajam dengan mudah timbul menjadi kemelut di permukaan. Walaupun pemerintah berusaha untuk melemparkan kesalahan atas peristiwa itu kepada sisa-sisa PSI dan Masyumi yang tidak puas, yang telah dibekukan oleh Soekarno dalam tahun 1960, namun jelas bahwa tantangan utama datang dari dalam tubuh Angkatan Darat sendiri. Akibatnya, Soemitro segera dipecat dari jabatan panglima Kopkamtib dan tak lama sesudah itu “meletakkan jabatan“ sebagai wakil panglima angkatan bersenjata sesudah dikeluarkan menolak pengangkatannya selaku duta besar di Washington. Sekutunya, Sutopo Yuwono, diangkat sebagai duta besar di negeri Belanda, Sarwo Edhie Wibowo menerima pengangkatan sebagai duta besar untuk Korea Selatan, Kharis Suhud diangkat sebagai kepala kontingen di Vietnam dan Sajidiman Suryoprodjo dipindahkan ke Lembaga Pertahanan Nasional. Sebagai wakil panglima angkatan bersenjata yang baru, Soeharto memilih Kepala Staf Angkatan Darat dan bekas Panglima Diponogoro Surono, sedangkan kekuasaan atas Kopkamtib diserahkan ke tangan Laksamana Sudomo yang sangat dipercayainya. Kawan lama Soeharto lainnya dari Divisi Diponegoro, Letnan Jendral Yoga Sugama, diangkat kembali sebagai ketua Bakin, jabatan yang ditinggalkannya untuk dipangku Sutopo Yuwono dalam 1969. Walaupun Soeharto berusaha menciptakan kesan umum sebagai berdiri di atas persaingan golongan dengan pembubaran secara formal posisi Aspri, tetapi jelas bahwa Ali Moertopo, Soedjono Hoemardhani dan Suryo tetap merupakan penasehat-penasehat terdekatnya. Tantangan yang dilancarkan oleh Soemitro dan kelompok militer professional terhadap kekuasaan jendral-jendral “politik” dan “uang” di sekitar Soeharto telah gagal. Tetapi tindakan yang relatif lunak yang ditimpakan pada Sumitro serta pendukung–pendukung terkemukanya itu memberi kesan bahwa sebagian besar dari korps perwira masih tetap bersimpati dengan pendirian mereka dan bahwa Soeharto tidak siap untuk melawan perwira-perwira ini lebih jauh misalnya dengan mengambil tindakan lebih dratis terhadap pimpinan mereka. Pengangkatan jendral Surono sebagai wakil panglima angkatan bersenjata merupakan usaha untuk meyakinkan perwira-perwira ini juga karena Surono, walaupun seorang perwira Diponegoro yang setia kepada Soeharto, namun dalam banyak hal ia pun seorang teknokrat militer. Sebagai jawaban terhadap huru-hara, pemerintah mengambil langkah sekedarnya untuk memenuhi tuntutan dari kritik-kritik mereka. Segera ditetapkan serangkaian peraturan yang dimaksud untuk membatasi “hidup bermewah-mewah“ di kalangan sementara pejabat dan dalam bulan-bulan berikutnya pengawasan lebih besar ditujukan kepada penanaman modal asing, dikeluarkan kebijakan-kebijakan untuk memberikan kesempatan lebih besar kepada pengusaha pribumi dan langkah-langkah tertentu ditempuh untuk memperbaiki kaum miskin. Walaupun para pembaru dari kalangan tentara ini telah mengalami kemunduran, tetapi
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

16

Peter Kasenda banyak yang masih tetap menduduki posisi-posisi penting dan dari sanalah pula mereka serta pendukung-pendukungnya terus melancarkan tentangannya terhadap kelompok yang terdekat dengan presiden. Dalam usaha untuk mengendalikan “ekses-ekses” para jendral yang berorientasi bisnis itu, perwira-perwira berhaluan pembaruan ini menyerang kelompok-kelompok dalam Angkatan Darat yang juga bertentangan dengan kaum teknokrat sipil yang bertanggung jawab terhadap perumusan politik ekonomi. ( Harlod Crouch, 1986: 355 – 356 ) Kerusuhan yang terjadi pada tanggal 15 Januari ini membuat pusat kota Jakarta sempat terhenti aktivitasnya selama dua hari. Hampir 1.000 mobil. Kebanyakan buatan Jepang, 144 gedung dibakar atau dirusak, 9 orang meninggal, seratus lebih cedera dan 820 orang ditangkap. ( Suharsih dan Ign Mahendra K, 2007 : 83) Sebagai reaksi terhadap Persitiwa Malari, pemerintah kemudian mengambil sikap keras. Secara tidak langsung, pers dituduh pemerintah ikut bertanggung jawab atas Persitiwa Malari, sehingga dalam rangka “penertiban hak-hak demokrasi“ pemberitaan pers pun ditertibkan. Namun, yang terjadi tak hanya penertiban pemberitaan, melainkan pembreidelan. Surat-sirat kabar yang dibreidel akibat pemberitaan Peristiwa Malari berjumlah 12 surat kabar : Harian KAMI, Nusantara, Indonesia Raya, Pedoman, Abadi, The Jakarta Times, Mingguan Wenang, Pemuda Indonesia, dan Majalah Mingguan Ekspress (semua terbit di Jakarta); Suluh Berita (Surabaya), Mahasiswa Indonesia (Bandung) dan Indonesia Pos (Ujungpandang). Bahkan sejumlah pemimpin redaksi surat kabar itu dipenjara tanpa pengadilan oleh Kopkamtib. Yang paling lama mendekam di pengadilan adalah dua pemimpin Indonesia Raya Mochtar Lubis (tiga bulan) dan Enggak Baharuddin (sebelas bulan) Peristiwa Malari menadai titik nadir dalam hubungan pemerintah dengan pers. Lebih dari itu, makna sesungguhnya memberikan gambaran bahwa pers dan pemerintah berada posisi yang berseberangan. Setelah Peristiwa Malari 1974 rezim Orde Baru makin menunjukkan dominasinya dalam mengatur kehidupan pers. ( Panda Nababan, 2009 : 54 – 58 ) Dari jumlah ratusan yang ditangkap 45 orang diantaranya tetap ditahan. Di anrtara mereka adalah Rahman Tolleng, Hariman Siregar, Subadio Sastrosastomo, Sarbini Soemawinata, Adnan Buyung Nasution, Dorodjatun Kuntjoro Jakti dan H.J. Princen serta aktivis-aktivis muda Islam. Tuduhan bagi mereka adalah orang-orang tersebut dianggap sebagai otak dari demontrasi Malari yang mengakibatkan terjadinya kerusuhan. Ali Moertopo dan Aspri bahkan menuduh ada usaha makar yang dilakukan oleh mahasiswa yang didalangi oleh PSI dan Masyumi secara tidak langsung. ( Suhrasih dan Ign Mahendra K, 2007 : 83) Untuk memperkuat tuduhan tersebut, kelompok Ali Moertopo menulis buku saku mengenai Malapetaka Limabelas Januari. Dalam kata pengantar buku saku tersebut, disebut oknum-oknum partai terlarang PSI dan Masyumi dalam “Peristiwa 15 Januari 1974” oleh Pemerintah inilah menjadi alasan buku saku tersebut diterbitkan. Dikatakan bahwa dalam sejarah Indonesia, nama dari kedua bekas partai terlarang itu ditulis dengan “pelaku-pelaku dan penganjur-penganjur makar“ (Marzuki Arifin, 1974 : 14)

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

17

Peter Kasenda

Penutup
Terlepas dari semua distorsi mengenai kisah gerakan mahasiswa 1974 itu, bagamana pun harus diakui bahwa perjuangan mereka telah menjadi sebuah episode bersejarah dalam kisah gerakan mahasiswa di Indonesia. Gerakan mahasiswa 1974 telah mencoba melakukan respons terhadap tantangan zamannya. Betapapun dari latar belakang yang memicu persitiwa yang diwarnai malapetaka saat itu, namun jika dihubungkan dengan praktek kekuasaan Orde Baru yang mereka protes, di balik itu ada pemikiran kritis yang menandakan subtansi idealisme yang mendorong mahasiswa untuk mengisi kekosongan yang justru mungkin telah dianggap remeh oleh kekuatan politik lainnya. Hal ini mengingat kondisi Indonesia sejak rezim Orde Baru tampil berkuasa mulai tahun 1966 hingga tahun 1974, telah berlangsung praktek kekuasaan yang justru mengabaikan nasib rakyat banyak, pemerataan, keadilan, dan demokrasi, namun kekuatan politik yang ada seolah menutup mata. Perbedaan antara gerakan mahasiswa 1974 dengan 1966, adalah jika dalam peristiwa 1966 organisasi ekstra universitas (KAMI) memainkan peranan yang amat menentukan, maka dalam peristiwa 1974, gerakan mahasiswa semata mengandalkan basis organisasi intra, yaitu Dewan Mahasiswa (DM). Ini menunjukkan adanya independensi yang sangat tinggi dari gerakan mahasiswa, yang terkait dengan berkembangnya kultur demokratisasi yang mereka pratekkan termasuk melalui sosialisasi pemilihan dewan-dewan mahasiswa. Di lain pihak, hal ini mungkin tidak terlepas pula dari pemikiran yang berkembang pada generasi 1974 yang menilai keberadaan eksistensial dan aktivis protes mereka semata sebagai bentuk “kekuatan moral” ( moral Force ), sedangkan generasi 1966 dalam konteks berbeda dilihat merupakan representasi wujud gerakan mahasiswa sebagai “kekuatan politik “. Dengan kata lain, mahasiswa 1974 ingin menjadikan potret gerakan mereka berwajah netral, yakni sebagai gerakan yang terpusat dari kampus dengan motif moral dan intelektual yang murni, dan tidak memiliki ikatan organisatoris sama sekali apalagi interest politik dengan kelompok tertentu atau kekuatan sosial politik di luar komunitas mereka. Sesuatu yang jelas membedakan dengan gerakan mahasiswa 1974 dengan 1966, adalah karena gerakan mahasiswa 1966 memiliki linking politis yang jelas dengan kekuatan-kekuatan atau organisasi –organisasi luar kampus seperti misalnya militer dan KAMI par exelence. ( Adi Suryadi Culla , 1999: 91-92 ) Setidak-tidaknya ada empat tindakan penting penguasa dan pemerintah dalam bereaksi terhadap peristiwa 15 Januari yang mengguncangkan stabilitas politik dan pembangunan tersebut. Pertama kalinya mengambil tindakan hukum terhadap tokoh mahasiswa dan tokoh masyarakat yang dinilai berada dibelakang peristiwa tersebut. Sejumlah tokoh mahasiswa dan pemimpin masyarakat di penjarakan dengan tuduhan mengganggu keamanan melawan pemerintah yang sah sampai menghina presiden. Hukuman dan tahanan politik itu merupakan tindakan hukum pemerintah Orde Baru secara massal ke dua setelah Tapol PKI.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

18

Peter Kasenda Kedua ialah melumpuhkan kebebasan mahasiswa yang dituding sebagai sumber kekuatan untuk menggalang aksi-aksi mahasiswa. Kebijaksanaan pemerintah kearah ini dibuat oleh Menteri P dan K dengan mengeluarkan surat keputusan No 028/U/1074. SKM itu memberi kewenangan kepada para perguruan tinggi yaitu rektor serta dekan dan para pembantunya untuk mengambil berbagai langkah guna membina kegiatan non kurikuler mahasiswa, aktivitas yang sejak tahun 1965 dipenuhi aksi politik dengan landasan moral. Ditegaskannya dalam berbagai pedoman pelaksanaan SKM itu bahwa pimpinan universitas bukan saja bertindak sebagai pembina kegiatan mahasiswa yang dinilai berbau politik, akan tetapi lebih jauh sekaligus penanggung jawab. Pada umumnya rektor perguruan tinggi menerima itu sebagai kekuasaan tambahan, sehingga mereka mendukungnya dengan melaksanakan sejauh mungkin. Kebijaksanaan pengendalian kegiatan mahasiswa itu dioperasikan lewat pengaturan kebebasan mimbar akademis. Mahasiswa diwajibkan mendapatkan izin pimpinan perguruan tinggi, apabila hendak melakukan kegiatan yang menyangkut seminar dan diskusi. Apalagi jika membahas masalah yang berkaitan dengan penguasa. Ketiga, pemerintah melakukan beberapa perubahan tentang kekuasaan. Pangkopkamtib Soemitro yang mengajukan pengunduran diri, diberi persetujuan oleh presiden. Bersamaan dengan itu, presiden membubarkan lembaga Aspri. Panglima Kopkamtib dijabat kembali oleh Jendral Soeharto. Dengan begitu mulai berlangsung pemusatan kekuasaan pada tangan presiden secara struktural. Presiden sebagai kepala negara merangkap kepala eksekutif (pemerintah) itu, mulai saat itu juga memegang komando operasi keamanan di samping panglima angkatan bersenjata. Maka kekuasaan Jendral Soeharto mulai tidak tersaingi dan tanpa alternatif dari pihak lain. Keempat, pemerintah melakukan penyesuaian kebijaksanaan pembangunan dengan jalan menggeser urutan prioritasnya. Trilogi pembangunan dengan urutan prioritas pertumbuhan-stabilitas-pemerataan diganti menjadi pemerataan-pertumbuhan-keamanan (stabilitas). Sejalan dengan itu diperintahkan kepada Menko Kesra untuk merancang dan melaksanakan kebijakasanaan itu. Maka para teknokrat dan ilmuwan pendukung pemerintahanpun sibuk mengembangkan pemikiran dan konsep untuk mengembangkan kebijaksanaan itu menjadi keyakinan masyarakat dan operasi pemerintahan.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

19

Peter Kasenda Ternyata tindakan pemerintah itu tidak mampu meredam aktivitas mahasiswa sesuai dengan harapan perbuatannya. Kenyataan itu justru berakar kepada sikap aparat pemerintah itu sendiri. Tidak semua rektor melaksanakan SKM 028 secara harfiah sebagaimana diinginkan oleh pemerintah. Rektor yang kritis seperti Prof Dr Mahar Mardjono dari UI melaksanakannya dengan longgar. Mahasiswa UI diberi kesempatan melakukan keiatan berbau politis tapi di dalam lingkungan kampus supaya dapat dipertanggung jawabkan berdasarkan SKM 028 tahun 1974. Tapi rektor seringkali mentolerir kegiatan yang bernuasa politis mahasiswa yang dilaporkan pada saat dimulai. Maka mahasiswa UI seringkali berhasil melaksanakan seminar yang menyangkut politik dengan mengundang pembicara dari luar kampus sehingga kontrol terhadap kebebasan mimbar yang diperintahkan oleh SKM 028 dalam kenyataannya tidak efektif. Dalam pada itu, penolakan mahasiswa UI dan mahasiswa ITB, UGM, IPB, dan sebagainya yang juga didukung kuat oleh para dosen dan kaum intelektual lainnya akan pembatasan kebebasan mimbar, mendorong pemerintah meninjau kebali SKM 028 yang dituding meniadakan kebebasan mimbar universitas. Selain dari aktivitas memprotes SKM 028 di sepanjang tahun 1975, mahasiswa Jakarta bergiat pula di dalam rangka Badan Koordinasi Kegiatan Perguruan Tinggi BKKPT-DKI JAYA) yang disponsori oleh Pemerintah Daerah Jakarta. Lembaga itu memang dirancang untuk membendung apatisme mahasiswa sebagai akibat dari trauma terhadap represi yang dilakukan penguasa dalam menanggapi peristiwa 15 Januari 1974. Tapi karena kegiatan itu terfokus kepada kegiatan ekstra kurikuler mahasiswa yang kurang berkenaan dengan isu politik, terutama berskala nasional, maka dapatlah disimpulkan bahwa pada umumnya mahasiswa berada dalam kondisi pasif politik sebagai akibat dari tindakan keras pemerintah terhadap pemerintah. Anehnya, malah kondisi yang sudah menjurus kepada apatisme politik mahasiswa itu dikhawatirkan oleh Laksmana Sudomo selaku Kepala Staf Kopkamtib, sehingga ia berupaya mendorong kembali peran mahasiswa sebagai kekuasaan sosial kontrol. Pada 14 Januari 1974, atas dukungan DM UI, mahasiswa menerbitkan Koran kampus Salemba. Melalui media itu mahasiswa membentuk opini politik yang bermuatan kritik tajam terhadap pembangunan, rejim, dan pemerintah. Sekali pun menurut ketentuan Menteri Penerangan Salemba hanya boleh beredar di kampus, akan tetapi pemasarannya malah sampai ke luar Jakarta. Peredarannya malah jauh lebih luas. (Arbi Sanit, 1999: 54 – 56) Tampaknya segenap aktivitas mahasiswa yang terbatas dan terawasi ini merupakan perintis ke arah kegiatan politik mereka secara optimal kembali. Setelah peristiwa Malari tahun 1974 hingga tahun 1975 dan 1976 berita tentang aksi protes mahasiswa nyaris sepi. Mahasiswa disibukkan dengan berbagai kegiatan kampus di samping kuliah sebagai kegiatan rutin, dihiasi dengan aktivitas kerja sosial, KKN (Kuliah Kerja Nyata), Dies Natalis, acara penerimaan mahasiswa baru, dan wisuda sarjana. Meskipun di sana-sini aksi protes tetap ada namun aksi-aksi itu pada umumnya tidak lagi memiliki gaung yang berarti; kecuali, protes yang berkaitan dengan SK Menteri P&K No 028/1974 yang sudah berlangsung sebelumnya, sejak tahun 1974 setelah peristiwa Malari, hingga protes terhadap SK itu mencapai puncaknya tahun 1976.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

20

Peter Kasenda Menjelang dan terutama saat-saat antara sebelum dan setelah Pemilu 1977, pemilu kedua sejak Orde Baru, barulah muncul kembali pergolakan mahasiswa yang berskala massif. Dari tahun antara 1977 itu hingga pertengahan 1978, dihadapkan panggilan zamannya, maka mahasiswa kembali menggelar berbagai aksi demo yang mewarnai kembali panggung politik di tanah air. Rangkaian persitiwa yang cukup mengguncangkan dalam masa itu, meskipun dari segi eskalasi fisik dan dampak politiknya tidak semasif dengan gerakan mahasiswa tahun 1966 dan 1974, menandai lahirnya apa yang kemudian dikenal sebagai gerakan mahasiswa 1978.

Bibliografi Abidin, Antony Z et al.1999 MAHAR Pejuang, Pendidik dan Pendidik Pejuang. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. Arifin, Marzuki 1974. Peristiwa 15 Januari 1974. Jakarta .Publishing House Indonesia. Cahyono, Heru. 1992. Peranan Ulama Dalam Golkar 1971 – 1980. Dari Pemilu Sampai Malari. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. Cahyono, Heru (ed). Pangkopkamtib Jendral Soemitro dan Persitiwa 15 Januari “74 . Jakarta : Pustaka Sinar Harapan . Crouch, Harlod. 1986. Militer dan Politik Di Indonesia. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan . Culla, Adi Suryadi. 1999. Patah Tumbuh Hilang Berganti. Skesta Pergolakan Mahasiswa Dalam Politik dan Sejarah Indonesia ( 19081998 ) . Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. Elson, Robert Edward. 2005. Suharto Sebuah Biografi Politik. Jakarta : Minda. Nababan, Panda. 2009. Jurnalisme Investigatif Panda Nababan . Menembus Fakta. Otobiografi 30 Tahun Seorang Wartawan. Jakarta : Q Communications.
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

21

Peter Kasenda

Sanit, Arbi. “ Gerakan Mahasiswa 1970-1973 : Pecahnya Bulan Madu Politik,” dalam Muridan S Widjojo et al. 1999. Penakluk Rezim Orde Baru Gerakan Mahsiswa”98. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, Hlm. 45 – 63/ Suharsih dan Ign Mahendra K. 2007. Bergerak Bersama Rakyat! Sejarah Gerakan Mahasiswa dan Perubahan Sosial di Indonesia . Yogyakarta : Resist Book. Wibowo, B dan Banjar Chaeuruddin (ed). 1991. Memori Jendral Yoga. Jakarta : PT Bina Rena Pariwara. Yatim, Ricardo Iwan. 1994. Hati Nurani Seorang Demonstran. Hariman Siregar. Jakarta : Mantika Media Utama.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

22

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->