Anda di halaman 1dari 25

Peristiwa PRRI/Permesta

Bersatu kita teguh, berpisah kita runtuh


(Pepatah Yunani kuno)

Dari serangkaian pergolakan daerah yang meletus dalam dekade 1950, Persitiwa
PRRI/Permesta adalah paling serius dan terbesar, baik dalam skala waktunya, maupun
pihak-pihak yang terlibat di dalamnya dan barangkali juga kebrutalan dan korban yang
ditimbulkan Persitiwa PRRI/Permesta, sebagaimana yang ditunjukkan dalam studi
terbaru mengenai masa-masa Pancaroba ini, tidak hanya melibatkan pelbagai kekuatan
pada tatanan nasional (Presiden Soekarno, partai-partai politik, militer dan daerah lain)
tetapi juga internasional (CIA) dan tentu saja kelompok masyarakat lokal itu sendiri,
khususnya kelompok militernya dan kaum politisi beserta rakyatnya ( Mestika Zed,
1999 : 101)

Peristiwa PRRI/Permesta di Indonesia yang mula-mula menjadi berita menyolok pada


bulan Desember 1956 dan memuncak dalam pemberontakan PRRI/Permesta dari tahun
1958-1961, adalah salah satu dari berbagai pertentangan yang saling berhubungan yang
lahir dari kekecewaan terhadap demokrasi parlementer, dan yang mempercepat
berakhirnya. Kekecewaan itu didasarkan atas suatu rasa ketidaksenangan yang luas
terhadap struktur negara yang ada, yang secara luas dikritik sebagai birokratis, tidak
efisien, dan korup. Harapan dan semangat yang dibangkitkan dalam revolusi 1945-1949
ternyata sukar dipertahankan begitu kemerdekaan diperoleh. Tak satu pun dari tujuh
kabinet – yang berusia singkat – dari periode 1949-1957 yang kelihatan mampu
menyelenggarakan kegiatan pemerintah, baik dalam menumbuhkan semangat maupun
administrasi.

Kedua-duanya menjemukan atau tak berdaya guna. Tiadanya kesepakatan tentang nilai-
nilai fundamental mempertajam pertentangan-pertentangan mengenai filsafat dan struktur
negara. Pertentangan-pertentangan ini berlangsung antarkelompok dan antarperorangan
yang mempunyai berbagai pandangan tentang cara mengenai watak dasar negara itu
sendiri : struktur lembaga-lembaga pemerintahan pusat dan daerah serta hubungan antar
keduanya “pernyataan yang tegas tentang kontrol nasional atas ekonomi: peranan partai-
partai politik dan tentara dan kedudukan Islam serta komunisme dalam negara.

Disebabkan perbedaan sifat-sifat ekonomi, kultur, dan sosial di Jawa dan pulau-pulau
luar Jawa, semua persoalan ini mempunyai dimensi kedaerahan dan nada tambahan
kesukuan. Suatu penilaian atas perbedaan-perbedaan ini penting sekali untuk suatu
pemahaman mengenai pertentangan-pertentangan kepentingan, yang melatarbelakang
ketegangan yang meningkat antara daerah-daerah terpencil dan pemerintah pusat. Dengan
begitu perbedaan yang besar antara pola-pola sosio-ekonomis di Jawa dan di pulau luar
Jawa akan digambar secara singkat.

1
Jawa, tempat kerajaan-kerajaan purbakala berkebudayaan agraria persawahan merupakan
sasaran yang lebih besar bagi pengaruh kebudayaan India dan penetrasi kolonialisme
Belanda dibanding dengan pulau-pulau lain. Islam sudah bercampur menjadi satu ke
dalam jaringan kepercayaan yang ada di Jawa Timur dan Jawa Tengah, pusat daerah dari
kesukuan Jawa, namun tetap merupakan suatu kekuatan yang mampu memecah-mecah
masyarakat pedesaan Jawa Barat, yang secara etnis adalah Sunda dan kuat keislamannya
merupakan salah satu dari bagian-bagian pulau itu pertama sekali jatuh kebawah
kekuasaan Belanda. Disebabkan sifat-sifat sosio-ekonomi yang membedakannya dari
bagian lain pulau itu Jawa Barat sering dinyatakan sebagai “Tanah Seberang”. Tetapi
letak geografinya yang di Jawa, dan posisinya sebagai daerah perbatasan ibukota,
membuat Jawa Barat dalam istilah politik sering disamakan dengan pusat daripada
dengan daerah.

Pola-pola di pulau-pulau luar Jawa lebih bermacam-macam, sekalipun dua


kecenderungan pokok bisa ditandai – kerajaan-kerajaan perdagangan di pesisir dan
kelompok-kelompok suku di pedalaman yang lahan pertaniannya berpindah-pindah.
Pada umumnya rakyat yang lebih cenderung pada perdagangan di wilayah pesisir
bersedia menerima Islam dan pembaharu-pembaharu modernnya pada awal abad
kedua puluh. Penduduk yang paling terpencil di daerah pegunungan pedalaman pada
umumnya meneruskan mengikuti kepercayaan-kepercayaan nenek moyang mereka,
sekalipun sebagian sudah di tarik ke dalam agama Kristen selama masa penjajahan.

Perluasan kekuatan kolonial Belanda pada pergantian abad ini diikuti pengembangan
hasil bumi ekspor seperti karet, kopi, kopra, dan hasil industri tambang terutama minyak
dan timah, di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Sekitar tahun 1925 bagian terbesar
ekspor Hindia Belanda berasal dari pulau-pulau luar Jawa dan keruntuhan pasaran
seberang laut untuk gula dari Jawa dalam depresi pada tahun 1930-an memperbesar
ketidakseimbangan ini. Selanjutnya, dengan pertumbuhan penduduknya, Jawa tidak lagi
mempunyai cukup beras untuk dibagikan ke pulau-pulau luar Jawa, dan hubungan
ekonomi antar pusat dan bagian sebelah luar Indonesia melemah. Jawa, pusat penduduk
dan pusat pemerintahan menjadi konsumen pokok barang-barang impor.

Hubungan-hubungan pusat daerah di Indonesia menjadi muskil oleh kenyataan bahwa


pusat itu berkedudukan di, dan sering disamakan dengan Pulau Jawa, pulau yang terdapat
penduduknya dari pulau-pulau di Indonesia dan tempat tinggal tinggal suku bangsa Jawa,
yang jumlahnya dominan. Kira-kira dua pertiga penduduk bertempat tinggal di Jawa, dan
kira-kira separuh dari rakyat Indonesia adalah dari suku Jawa. Tetapi dalam hal ini
terpaut hal-hal yang lebih dari sekedar masalah demografi. Tradisi-tradisi politik suku
Jawa sangat dipengaruhi konsepsi Hindu tentang negara dan kekuasaan, yakni bahwa
negeri ditentukan oleh pusatnya. Negara dipandang sebagai suatu rangkaian konsentris :
kekuasaan yang sangat ketat di pusat menjadi semakin lemah di daerah-daerah pimggiran
kerajaan sekutu sampai tempat-tempat yang berada di luar jangkauan kekuasaan
pemerintah pusat. Suatu konsepsi yang lebih sederhana dalam tradisi yang sama membagi
dunia ini atas Jawa dan Seberang – daerah di seberang laut, suatu pandangan yang
tercermin dalam penggunaan tetap dan terminologi Jawa dan pulau-pulau luar Jawa.
Sesungguhnya ada kesan, sukar bagi seorang orang Jawa untuk memahami rakyat dari

2
Seberang sebagai sekutu yang sederajat dalam negara Indonesia. Dari pihak lain, mereka
para wiraswastaan yang giat, pedagang dan peladang dari pulau-pulau luar Jawa hidup
dalam suatu dunia yang nilai-nilai kebudayaan dan sosialnya mereka memberi sedikit
sekali pengertian atau simpati terhadap orang Jawa. Mereka hanya mengenal orang Jawa
sebagai bangsawan berbudi halus, yang menguasai birokrasi sipil, atau sebaliknya
sebagai petani-petani melarat yang dikirim sebagai kaum transmigran untuk membuka
tanah baru atau untuk bekerja di perkebunan-perkebunan.

Perkembangan-perkembangan selama bagian akhir pemerintah kolonial dan pendudukan


Jepang mempertinggi kedudukan Pulau Jawa sebagai pusat politik Indonesia : pemusatan
lembaga-lembaga pendidikan lanjutan dan tinggi perkembangan pergerakan nasional,
pertumbuhan baru dari industri barang jadi, dan politisasi yang mendalam selama
pendudukan Jepang (1942-1945) dan revolusi nasional (1945-1949) Dengan begitu,
sebagian warisan kolonial Indonesia adalah ketidakseimbangan struktural antara Jawa,
yang secara politis dominan tetapi yang secara ekonomi lemah, dan pulau-pulau luar
Jawa, secara politis terbatas tapi secara ekonomi kuat. Ketidakseimbangan ini adalah
faktor yang gawat dalam hubungan–hubungan antara pusat dan daerah dan mempersulit
usaha-usaha menyelesaikan krisis nasional tahun 1956 – 1957 ( Barbara Sillars Harvey,
1984 : 9 – 12 )

Dengan berakhirnya perjuangan yang panjang dan sukar untuk kemerdekaan, kebanyakan
rakyat percaya perbaikan keadilan sosial dan ekonomi yang akan cepat datang. Selama
tahun-tahun permulaan kemerdekaan perkembangan ke arah ini telah terjadi dan yang
terpenting ialah bidang pendidikan, sementara masyarakat Indonesia setidak-tidaknya
telah lebih mengenal persamaan derajat daripada di zaman kolonial. Namun tingkat
kemajuan jauh daripada yang diharapkan, dan kekecewaan serta frustasi Namun, tingkat
kemajuan jauh dari yang diharapkan dan kekecewaan serta frustasi semakin
meningkatkan kecenderungan yang dapat dimengerti untuk menyalahkan pemerintahan
pusat di Jakarta yang langkah-langkahnya tidak memadai untuk memenuhi harapan yang
telah tumbuh selama revolusi.

3
Selama beberapa tahun di Jawa maupun di pulau-pulau luar Jawa, kekecewaan pada
pemerintah pusat dilunakkan oleh luasnya kepercayaan bahwa pemilihan umum
demokratis secara nasional yang pertama – akhirnya baru dilaksanakan pada 1955-
1956 – dapat diharapkan menghasilkan suatu pemerintahan yang sungguh-sungguh
mencerminkan perwakilan rakyat yang mau mengambil dan mampu melaksanakan
tindakan-tindakan yang menentukan dan yang diperlukan untuk mencapai kemajuan
sosial dan ekonomi. Tetapi, dalam kenyataannya, pemilihan-pemilihan itu hanya
membawa sedikit perubahan keanggotaan kabinet sebagian besar serupa partai-partai
politik tidak lagi bersedia bekerja sama dengan sesamanya, dan kemampuan
pemerintah untuk memainkan keadilan sosial dan ekonomi tidak lebih besar daripada
sebelumnya. Sekali hal ini menjadi jelas, ketidaksenangan dan kritik pada
pemerintah pusat tidak lagi terkekang sehingga disuarakan dan ditunjukan lebih
berani. Hal ini terutama terjadi di daerah-daerah yang kesadaran politiknya tinggi,
seperti Sumatera dan Sulawesi, yang merasa diabaikan dan dibedakan oleh apa yang
mereka anggap sebagai suatu kasta pimpinan nasional yang semakin Jawa sentries
di Jawa. ( George Mc T Kahin, 1984 ; 1 – 2 )

Mulai bulan Mei 1956 sebagai protes terhadap pemerintah pusat, terjadi penyelundupan-
penyelundupan dan perdagangan barter di luar Jawa, terutama di daerah Minahasa,
Makasar, dan Sumatera Utara. Penyelundupan itu dilakukan atas inisiatif dan
perlindungan para penguasa militer setempat, yaitu masing-masing oleh Letnan Kolonel
Worang, Letnan Kolonel Andi Mattalata – keduanya di bawah kekuasaan Panglima
Militer Indonesia Timur Kolonel JF Warouw, sebelum diganti oleh Letnan Kolonel
Ventje Sumual di kemudian hari – dan Kolonel M Simbolon. Kejadian ini sebetulnya
sudah sejak masa Kabinet Ali Sastroamidjojo pertama (1933 – 1955) yang mesentralisir
lebih ketat prosedur perdagangan. Kemudian pada masa Pemerintahan Burhanuddin
Harahap, kebijakan Pemerintah itu diperlonggar, sehingga penyelundupan dapat
berkurang banyak – atas inisiatif Menteri Keuangan Soemitro Djojohadikusumo pada
waktu itu. Akan tetapi pada pertengahan tahun 1956 ini, hal itu berulang kembali dengan
semakin hebat dan semakin berani terhadap pemegang kekuasaan yang sama dengan
tahun 1953-1955.

Panglima Militer di daerah-daerah itu memberikan alasan terbuka, bahwa hanya dengan
jalan penyelundupan daerah-daerah itu akan dapat mendapatkan dana yang diperlukan
untuk kesejahteraan daerahnya, para prajurit, dan operasi-operasi militer. Pada bulan Juli
1956, penyelundupan itu dilakukan dengan hebatnya sehingga Pemerintah Pusat semakin
merasa dirugikan. KSAD AH Nasution memerlukan datang langsung menyaksikan hal
itu di Minahasa pada pertengahan bulan Juli 1956, yaitu pada awal Juli terjadi
penyelundupan besar-besaran di Teluk Nibung di bawah Komando Kolonel M Simbolon.
Namun demikian, Markas Besar Angkatan Darat tidak bisa melakukan tindakan apa-apa
yang berarti ; juga Pemerintah. Kejadian di daerah tersebut, terutama di Sumatera, tidak
lepas dari perkembangan politik militer. Dalam satu hal, kejadian itu merupakan
kelanjutan akibat kebijakan pemerintah Ali Sastroamidjojo – pertama yang ditentang di
daerah-daerah, dan di dalam segi lain, hal itu bersangkutan dengan adanya kenyataan
bahwa kesatuan TNI yang tercapai pada bulan Juni 1955, telah mulai retak kembali.

4
Mulai bulan Agustus 1956, KSAD AH Nasution akan melaksanakan program pergeseran
di antara para komandan territorium, yaitu sebagai realisasi daripada rencana yang
dibuatnya pada bulan Februari sesuai dengan Program Yogyakarta. Tanggal 14 Agustus,
akan dilakukan pergantian komandan territorium Jawa Barat dari Kolonel AE Kawilarang
oleh Letnan Kolonel D Suprajogi ; antara tanggal 23 – 26 Agustus akan dilaksanakan
penyerahan jabatan komandan teritorium Indonesia Timur dari Kolonel JF Warouw
kepada Letnan Kolonel H.N. Ventje Sumual ; dan Zulkifli Lubis sebagai komandan
teritorium Sumatra Utara ; sedangkan jabatan Zulkifli Lubis sebagai Deputi KSAD akan
diserahkan kepada Kolonel Gatot Subroto antara 14 – 20 Agustus. Tetapi program AH
Nasution itu ditentang oleh perwira-perwira yang bersangkutan, terutama yang posisi
politik mereka tergeser yang justru mereka merasa telah bersama-sama berhasil
menghadapi tantangan di bulan Juni, 1955.

Daerah Bergolak

Pada tanggal 13 Agustus, atas perintah Deputi KSAD Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel
A.E. Kawilarang menahan Menteri Luar Negeri Roeslan Abdulgani, dengan tuduhan
terlibat di dalam perkara korupsi yang dilakukan Lek Hok Tay (Direktur sebuah
Perusahaan Negara). Tetapi atas usaha Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo bersama
KSAD AH Nasution, penangkapan atas diri Roeslan Abdulgani itu digagalkan. Tindakan
Perdana Menteri dan KSAD ini mendapat reaksi besar dari berbagai pihak terutama dari
kalangan TNI sendiri. Tanggal 14 Agustus, Kolonel Zulkifli Lubis menyatakan, bahwa
Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dan KSAD AH Nasution telah membantu dan
melindungi kejahatan dengan meloloskan Roeslan Abdulgani dari penangkapan. Kolonel
JF Warouw menyatakan mendukung tindakan AE Kawilarang dan Zulkifli Lubis. Tetapi
pada tanggal 14 Agustus itu Kolonel AE Kawilarang telah diganti oleh D Soeprajogi, dan
tanggal 20 Agustus, Zulkifli Lubis telah diganti oleh Gatot Subroto sebagai Deputi
KSAD. Dengan demikian KSAD AH Nasution dapat menguasai daerah Jakarta
khususnya. Sementara itu, untuk menghindarkan jatuhnya wibawa keseluruhan Kabinet,
sebuah Panitia Kecil yang dibentuk guna keperluan itu menyatakan (sesudah Roeslan
Abdulgani kembali dari London), bahwa berdasarkan bukti yang didapat tidak ada alasan
untuk menghukum Roeslan Abdulgani. Tetapi sekalipun demikian usaha Pemerintah,
dengan dibebaskannya Roeslan Abdulgani dari tuduhan korupsi, tidak berarti bahwa
kalangan perwira TNI yang sudah menjadikan “anti korupsi “ sebagai issu pokok guna
menjatuhkan Kabinet Ali Sastroamidjojo telah menganggap selesai persoalannya.

Ada pendapat bahwa penangkapan atas diri Roeslan Abdulgani itu merupakan kata
pengantar daripada usaha untuk suatu kudeta yang besar dugaannya dikendalikan oleh
Kolonel Zulkifli Lubis. Awal September tersiar kabar, bahwa Zulkifli Lubis yang telah
mempunyai pendukung cukup besar di Jawa Barat terutama, merencanakan akan
menggantikan AH Nasution dan menggantikan Kabinet yang kemudian akan diganti
dengan suatu kabinet baru di bawah pengawasan suatu dewan militer, yang akan
dilakukannya dengan senjata sebelum Presiden Soekarno tiba dari RRC pada tanggal 16
Oktober. Pada tanggal 11 Oktober dan 16 November, bergerak dua kelompok tentara pro
Zulkifli Lubis masing-masing dari Cirebon dan Bandung, semuanya menuju Jakarta.

5
Tetapi digagalkan oleh pasukan pro Nasution. Kemudian Nasution bertindak dengan
menangkap beberapa perwira serta mengganti beberapa komandan Distrik Militer di
sekitar Jakarta yang pro-Zulkifli Lubis. Pada tanggal 28 November, Kabinet memecat
Zulkifli Lubis dari jabatannya, dengan alasan telah mempersiapkan serta melakukan
tindakan yang menjurus kepada suatu kudeta. Walaupun perintah penangkapan atas diri
Kolonel Zulkifli Lubis secara resmi dikeluarkan, tetapi Zulkifli Lubis (yang diduga
berada di Jakarta) tidak pernah tertangkap. Bahkan Kolonel Zulkifli Lubis kemudian
mengeluarkan serangkaian surat terbuka melalui pers yang menyatakan, bahwa dia tidak
mencoba melakukan kudeta, dan bahwa dia bersedia memenuhi panggilan perngusa bila
suatu “kabinet ahli” telah dibentuk di bawah pimpinan Moh Hatta dan Hamengku
Buwono IX.

Sementara itu, persoalan Lie Hok Tay ramai kembali diperkarakan sehubungan dengan
peranan Menteri Roeslan Abdulgani, Mochtar Lubis, penanggung jawab harian
“Indonesia Raya”, diajukan ke pengadilan sehubungan dengan pemberitaan tentang
korupsi yang disangkut-pautkan dengan Menteri Roeslan Abdulgani, yang justru oleh
Pemerintah. Roeslan Abdulgani telah dinyatakan tidak bersalah. Secara dramatis sekali,
Mochtar Lubis mengajukan dokumen, yang diambil dengan Photostats, yang
menunjukkan Roeslan Abdulgani menerima sejumlah uang dollar tanpa mengindahkan
peraturan pemerintah dan menerima sejumlah harta benda. Kabinet segera membela diri,
bahwa Panitia Kecil (yang diketuai Mr Mohammad Roem) dahulu tidak mengetahui
bukti-bukti yang ada pada Mochtar Lubis sewaktu mengambil keputusan tentang Roeslan
Abdulgani Akhirnya persoalan itu diserahkan kepada Mahkamah Agung. Selain kejadian
ini, Dewan Pengawas Keuangan pada bulan Oktober mengeluarkan suatu pernyataan,
bahwa beberapa Menteri tidak memberikan laporan tentang jumlah pemakaian uang
sekitar jutaan rupiah. Pada bulan Desember, 1956, pretise Kabinet mulai menurun
semakin bebas, dan sejak Januari 1957, Kabinet Ali Sastroamidjojo terus-menerus
mendapatkan kritikan dan sorotan tajam sekali.

Kejadian di Jakarta semuanya telah mendorong daerah-daerah di luar Jawa untuk


memperhebat tekanan-tekanannya. Sekalipun sebenarnya pada bulan –bulan Mei-Juli
keadaan kegawatan daerah sudah berkurang, dan keadaan kritis di Jakarta telah berhasil
dikuasai, namun oleh karena di daerah-daerah itu dengan adanya peristiwa di Jakarta
telah menyebabkan vacuum of power di situ, maka sejak November 1956, terjadilah
gelombang kedua gerakan daerah menentang kebijakan Pemerintah Pusat dengan
komandan-komandan Militer setempat sebagai promotornya. Gerakan di daerah-daerah
ini diperhebat dengan perasaan sukuisme yang menganggap Pemerintah Pusat hanya
dipegang orang-orang Jawa serta mementingkan kesejahteraan Jawa belaka, yang dalam
hal ini Mayor Jendral AH Nasution telah dicap sebagai alat orang Jawa Soekarno dan Ali
Sastroamdjojo. ( Yahya A Muhamin, 1982 : 84 – 88 )

Dalam bulan November orang-orang bekas anggota Divisi Banteng di Sumatra Barat,
yang telah dibubarkan, mengadakan reuni di Padang yang menuntut diadakannya
perbaikan yang radikal “di semua bidang, terutama dalam pimpinan Angkatan Darat dan
juga dalam pimpinan Negara”. Pertemuan itu membentuk sebuah Dewan Banteng yang
diketuai oleh Letnan Kolonel Ahmad Hussein, komandan resimen Sumatra Barat, untuk

6
mendesak pelaksanaan tuntutan-tuntutan itu. Pada tanggal 20 November Hussein
mengumumkan bahwa dia telah mengambil alih tanggung jawab pemerintahan untuk
Sumatra Tengah (yang meliputi kresidenan-kresidenan Sumatra Barat, Riau dan Jambi),
“sebagai pelaksanaan keputusan Dewan Banteng “, Untuk selanjutnya, Sumatra Tengah
akan mengekspor langsung produk-produknya tanpa campurtangan Jakarta. Tetapi
tindakan itu hendaknya jangan dilihat sebagai satu usaha untuk memisahkan diri dari
Republik. Tindakan itu dimaksudkan untuk memaksa pemerintah pusat agar mau
memberikan perhatian yang sungguh-sungguh kepada masalah di daerah-daerah itu.

Dua hari kemudian, Kolonel M Simbolon mengambil pemerintahan sipil di Sumatra


Utara, dan memberlakukan keadaan darurat di provinsi itu. Empatpuluh delapan perwira
yang menduduki jabatan puncak di dalam komandonya, dalam pertemuan mereka pada
tanggal 16 Desember berikrar “ untuk mengambil langkah-langkah yang tegas dan
revolusioner untuk merealisasikan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 1945 dan
menugaskan M Simbolon untuk melaksanakan keputusan mereka itu. Dalam sebuah
pesan radio M Simbolon menjelaskan bahwa dia telah memutuskan hubungan antara
propinsi itu dan Jakarta sampai terbentuknya sebuah kabinet yang dipimpin oleh orang–
orang “yang jujur dan mempunyai integritas“, Panglima Kalimantan, Kolonel Abimanju
mengikuti langkah itu dengan memerintahkan penangkapan atas semua menteri, pejabat
pemerintah, dan anggota-anggota parlemen yang memasuki daerah yang berada dibawah
komandonya.

Oleh karena Sumatra Barat berdiri sepenuhnya di belakang Dewan Banteng maka
penerintah pusat terpaksa harus berunding dengan Achmad Hussein. Tetapi dalam, kasus
Sumatera Utara, Keragaman etnik dan agama di provinsi itu dapat dimanfaatkan untuk
melemahkan kedudukan M Simbolon. Dalam beberapa hari saja Letnan Kolonel Djamin
Ginting, seorang Batak Karo, atas perintah dari Jakarta mengambil alih komando di
Medan dan memaksa M Simbolon untuk mengundurkan diri ke kresidenan Tapanuli yang
dikuasai oleh pasukan-pasukan Batak Toba yang loyal kepadanya. Daerah berikutnya
yang membakang terhadap pemerintah pusat adalah Sumatra Selatan. Di sana, pada
tanggal 13 Januari 1957, Dewan Revolusi Garuda, di bawah pimpinan Penjabat
Panglima, Barlian, mengambil alih kekuasaan de facto atas provinsi itu. ( Ulf
Sundhaussen, 1986 : 186 – 187 )

7
Pada waktu yang bersamaan, pada bulan Desember Mohammad Hatta meletakkan
jabatannya sebagai Wakil Presiden setelah pengumuman pengunduran dirinya
setahun yang lalu, dan demikian mengakhiri kepemimpinan Dwi-Tunggal, suatu
bentuk kerja sama antara dirinya dan Soekarno yang menjadi lambang persatuan
Indonesia, persatuan Jawa dan Sumatera, persatuan antara pembangunan bangsa dan
pengelolaan negara Pengunduran diri ini memberi petunjuk adanya krisis dalam
yang lebih berat dari apa pun juga yang sedang dihadapi negeri ini. ( John D Legge,
1985: 310 )

Dengan demikian maka pada awal 1957 praktis seluruh Sumatera, kecuali Medan,
melakukan pemberontakan secara terang-terangan terhadap kabinet Ali. Tetapi,
tokoh-tokoh politik yang mewakili kepentingan non-Jawa bukannya bersatu di
belakang Perdana Menteri, malahan mulai mempersoalkan cara-cara yang digunakan
Ali Sastroamidjojo untuk mengatasi krisis di daerah-daerah. Mereka terutama
bersikap kritis terhadap kebijaksanaan pemerintah di Sumatra Utara yang tidak
menunjukkan adanya kesediaan dalam prinsip untuk memecahkan masalah yang
mendasari rasa tidak puas daerah itu melainkan hanya merupakan suatu pengulangan
di daerah itu melainkan hanya dari kebijaksanaan yang disangsikan kebaikannya
untuk mengadu domba periwira-perwira tentara. Pada tanggal 26 Desember PKI
menarik kembali dukungannya kepada kabinet dan menuntut pembentukan sebuah
zaken kabinet di bawah Moh. Hatta. Sikap ini didukung oleh Masyumi yang pada
tanggal 9 Januari 1957 keluar dari koalisi, kemudian disusul oleh Perti, sebuah
partai Islam yang kecil dan berpusat di Sumatera.

Ali juga tidak dapat mengandalkan dukungan yang kuat dari Presiden Soekarno yang
sudah bersikap kritis terhadap sistem demokrasi parlementer. Dia telah membuka
sidang parlemen hasil pemilihan dalam bulan Maret dengan seruan untuk
meninggalkan sistem demokrasi liberal Barat di mana “ 50 persen tambah satu selalu
benar” sebagai gantinya Indonesia hendaknya mempraktekkan “demokrasi Indonesia
yang sejati” demokrasi dengan pimpinan, berdasarkan nilai-nilai gotong royong yang
tradisional. Pada tanggal 21 Februari 1957, ketika berbicara di hadapan 900 tokoh
partai, dia mengemukakan konsepsi yang sudah sering disebut-sebutnya, suatu
rumusan untuk menyelesaikan krisis kewibawaan yang sedang dihadapi. Yang
diperlukan adalah sebuah pemerintah yang terdiri dari semua partai besar, termasuk
PKI. Kabinet harus dibantu oleh sebuah Dewan Nasional yang dia pimpin sendiri
dan yang mencakup wakil-wakil dari golongan-golongan fungsional seperti buruh,
tani, cendikiawan, dan sebagainya, utusan-utusan dari berbagai golongan agama dan
dari daerah-daerah, serta anggota-anggota ex-officio seperti menteri-menteri yang
penting, pimpinan angkatan perang dan kepala kepolisian. Usul-usulnya itu setidak-
tidaknya dianggap sebagai suatu pernyataan tidak percaya secara tidak langsung
terhadap kabinet Ali Sastroamidjojo.

Sebaliknya, konsepsinya itu juga tidak merupakan suatu dukungan bagi kaum pembakang
di daerah-daerah. Malahan, dengan menganjurkan diikutsertakan PKI dalam pemerintah,
konsepsi itu menjadi tak dapat diterima sama sekali oleh daerah-daerah di luar Jawa.

8
Seperti sudah dapat diduga semula, Masyumi menolak konsepsi itu yang hanya mendapat
dukungan penuh dari partai-partai Jawa abangan

Dengan situasi seperti itu AH Nasution menahan diri untuk mengeluarkan pernyataan-
pernyataan anti-pemerintah dan berusaha untuk mencapai pengertian dengan kaum
pembakang di Sumatera. Dia mengangkat seorang bekas perwira Divisi Banteng, Kolonel
Dahlan Djambek, sebagai wakilnya yang ketiga, dan berusaha membatasi pembicaraan
mengenai masalah-masalah intern Angkatan Darat hanya dalam rapat-rapat staf saja.
Tetapi dia juga menginstruksikan agar para perwira tidak lagi mengadakan reuni-reuni
atau pertemuan kecuali dengan persetujuan terlebih dulu dari Markas Besar.

Pada tanggal 2 Maret, Panglima Tentara dan Teritorium Indonesia bagian Timur, Letnan
Kolonel Ventje Sumual, menyatakan wilayahnya dalam keadaan darurat perang dan
mengangkat dirinya sebagai penguasa perang di wilayah itu. Dalam waktu yang
bersamaan, kepala stafnya, Letkol Saleh Lahade. Seorang Bugis dari Sulawesi
Selatan, melalui Radio Makasar, membacakan naskah “Piagam Perjuangan
Permesta” yang telah disepakati oleh para perwira puncak di wilayah itu, tokoh-
tokoh politik setempat, dan pemimpin-pemimpin pemuda Indonesia bagian Timur.
Seperti halnya dengan pernyataan-pernyataan yang telah dikeluarkan oleh kaum
pembakang di Sumatera dua setengah bulan sebelumnya, Piagam Makassar itu
menyatakan bahwa pendukung-pendukungnya adalah patriot-patriot Indonesia,
orang-orang yang berusaha untuk menghidupkan kembali jiwa Proklamasi
Kemerdekaan 1945.

Piagam itu menuntut agar keempat provinsi yang termasuk dalam TT VII ( Sulawesi
Selatan-Tenggara, Sulawesi Utara-Tengah, Maluku dan Kepulauan Sunda Kecil )
diberi otonomi keuangan yang luas. Kredit-kredit, devisa, dan dana-dana rampasan
perang dari Jepang harus dibagikan secara merata di antara propinsi-propinsi tanpa
membedakan banyaknya penduduk. Jabatan-jabatan di daerah harus diisi orang jujur
dan cakap dan yang “mencintai daerah” bersangkutan. Pada tingkat nasional,
sentralisme harus dihapuskan karena sistem itu telah menimbulkan korupsi dan
stagnasi di daerah-daerah. Tigapuluh persen dari anggota Dewan Nasional yang telah
diusulkan itu hendaknya terdiri dari wakil daerah-daerah, dan badan itu sendiri pada
akhirnya harus menjadi suatu “Majelis Tinggi “ dengan fungsi sebuah Senat di
samping parlemen. Kabinet harus berstruktur presidential, dan langkah-langkah
harus diambil agar kabinet itu dapat bekerja setidak-tidaknya, untuk masa lima
tahun. Kabinet atau Dewan Nasional harus dipimpin oleh Dwitunggal Soekarno-
Hatta. Dan akhirnya, pimpinan Angkatan Darat harus segera diganti dan diserahkan
kepada perwira-perwira angkatan muda sesuai dengan prinsip yang telah digariskan
dalam Piagam Yogyakarta.

Pernyataan ini hendaknya dilihat sebagai tanggapan yang langsung atas konsepsi
Presiden Soekarno. Gagasan-gagasan Soekarno itu juga telah menyebabkan makin
kuatnya tekad kaum pembakangan di Sumatera untuk tidak mengalah terhadap
pemimpin–pemimpin politik di Jakarta. Selain itu, pada tanggal 11 Maret NU

9
menyatakan dukungannya kepada usaha untuk mengembalikan Mohammad Hatta ke
dalam kedudukan utama dalam pemerintah.

Perkembangan-perkembangan itu merupakan pukulan maut bagi kabinet Ali.


Satroamidjojo Sejak beberapa bulan kabinet itu berjalan tertatih-tatih dengan dukungan
yang semakin berkurang. Pada tanggal 14 Maret Ali Sastroamidjojo menyampaikan
permintaan berhenti. Pada hari yang sama dia sempat memberlakukan keadaan perang
dan darurat perang di seluruh negeri. Soekarno, yang terkejut atas tanggapan yang negatif
yang diberikan kepada konsepsinya dan golongan Islam bersama-sama mungkin pada
akhirnya akan berhasil mengembalikan Mohammad Hatta ke kedudukan yang berkuasa,
menyetujui gagasan untuk mengumumkan keadaan darurat oleh karena krisis yang
melanda negeri ini telah mencapai tingkat yang sedemikian rupa sehingga harus diambil
tindakan yang menentukan. Usul untuk memberlakukan keadaan perang dan darurat
perang di seluruh negeri berasal dari Nasution yang telah sampai kepada kesimpulan,
bahwa tindakan itu akan memperkuat pemerintah pusat yang sudah menjadi sangat lemah
dan mengalami demoralisasi itu dengan jalan memaksa pemimpin-pemimpin militer dan
politik yang selama itu bersikap sebagai penonton untuk menyatakan loyalitas mereka.

Pada tanggal 15 Maret, Presiden Soekarno menunjuk Ketua Umum PNI, Suwiryo,
sebagai formatur kabinet yang akan berlandaskan dalam parlemen.
Tetapi partai-partai telah begitu terpecah soal apakah Mohammad Hatta harus diangkat
sebagai perdana menteri, sehingga Suwiryo tidak berhasil menghimpun dukungan
mayoritas dalam parlemen. Sekarang Soekarno, menugaskan untuk membentuk sebuah
zaken kabinet, tapi Suwiryo gagal lagi. Maka pada tanggal 14 April Presiden menunjuk
dirinya, “warganegara Soekarno”, untuk membentuk sebuah kabinet darurat ekstra
parlementer. Kabinet Karya itu tidak berlandaskan partai tapi mengikutsertakan para
pemimpin dari banyak partai yang diwakili dalam parlemen. Masyumi dan Partai Katolik
tidak diwakili dalam kabinet itu karena mereka menolak untuk ambil bagian dalam suatu
pemerintahan ekstra konstitusional seperti itu. Yang tidak mengherankan adalah bahwa
PSI tidak pernah dipertimbangkan untuk diikutsertakan dalam Kabinet Karya itu,
sementara PKI mengingat adanya tekanan-tekanan dari kalangan Muslim dan non-Jawa,
hanya diwakili oleh seorang anggota dari front petaninya, BTI. Kabinet itu dipimpin oleh
Djuanda Kartawidjaja, tokoh politik Sunda kawakan, yang telah duduk hampir semua
kabinet sejak 1945, dan ikut dalam pemilihan umum sebagai calon dari partai Sunda yang
kecil. Walaupun secara pribadi Djuanda tak pernah dekat dengan Soekarno dia sejak dulu
mendapat kepercayaan presiden. Dia juga merangkap sebagai menteri pertahanan. Satu
hal yang baru adalah diikutsertakannya dua perwira, yakni Kolonel Dr. Azis Saleh
sebagai Menteri Kesehatan dan secara formalnya mewakili IPKI, dan Kolonel AL Nazir
sebagai Menteri Pelayaran. Subandrio, seorang dokter dan diplomat karir, diangkat
sebagai Menteri Luar Negeri, dan Chaerul Saleh, seorang pengikut dari mendiang Tan
Malaka, mendapat kementerian Urusan Veteran. Program Kabinet Karya antara lain
meliputi “normalisasi politik di dalam negeri dan peningkatan pembangunan ekonomi.
( Ulf Sundhaussen, 1986 : 186 – 191 )

Campur Tangan Asing

10
Dalam jangka waktu satu tahun gerakan daerah sudah menjadi pemberontakan daerah.
Upaya perdamaian dan perundingan sudah gagal. Mungkin kekerasaanlah satu-satunya
langkah keluar dari jalan buntu antara eksponen otonomi daerah dan penganjur
perluasaan kekuasan pusat sebagai pemecahan problem Indonesia. Namun, keterlibatan
luar negeri membuat kekerasaan tidak terelakan. Di sinilah subversi imperialisme yang
dimotori oleh Amerika Serikat tampak dalam karakter yang sebenarnya.

Tawaran senjata dan pengakuan luar negeri yang menggoda – memberikan semangat
kepada kaum pemberontak untuk mengajukan tuntutan-tuntutan, yang mestinya diketahi
bahwa tuntutan tersebut tidak akan diterima pemerintah mana pun. Bantuan luar negeri
membuat pertempuran sebagai suatu alternatif yang masuk akal daripada aib yang akan
menimpa mereka seandainya melepaskan tuntutan-tuntutan keras dari janji-janji muluk
dewan-dewan daerah dan piagam-piagamnya. Sejumlah pemberontakan dapat secara naïf
mengharapkan bahwa ancaman campur tangan kekuatan asing akan membuat pemerintah
menjadi takut akan mengalah. Namun, yang terjadi malahan ancaman itu telah
mendorong pemerintah mengambil tindakan-tindakan menentukan dan cepat yang wajar.
Jadi, jalan buntu sudah tembus.

Pemerintah maklum dan bersimpati dengan tujuan gerakan Permesta, hanya saja jalan
yang ditempuh untuk melaksanakannya tidak dapat disetujui. Ini tidak hanya dilakukan
pemerintah sipil, tetapi juga pemimpin tentara. Kendati AH Nasution dengan cepat
mengambil tindakan membubarkan TT-VII dan membebaskan Ventje Sumual dari
kedudukan komandan, perundingan tentang penugasannya pada masa depan berlangsung
terus, setidak-tidaknya sampai akhir 1957.

Sekarang, kaum pemberontak cenderung menunding Peristiwa Cikini (percobaan


pembunuhan atas Presiden Soekarno di Perguruan Cikini – Jakarta Pisat, tempat putra-
putri Soekarno bersekolah) sebagai biang keladi yang menghapuskan kemungkinan
penyelesaian damai terhadap krisis daerah. Namun, sudah sejak bulan September 1957
ada tanda-tanda kemungkinan pemerintah Amerika Serikat akan membantu gerakan anti-
komunis di Indonesia dan ada kontak-kontak pribadi antara agen-agen pemerintah
Amerika Serikat dan setidak-tidaknya beberapa di antara kolonel pembakang.

Selama November dan Desember 1957, cukup banyak persenjataan modern buatan
Amerika Serikat masuk yang dibiayai oleh Amerika Serikat, diangkat ke pelabuhan-
pelabhuan yang dikuasai pemberontak dengan menggunakan kapal-kapal barang swasta
ke daerah pesisir dengan menggunakan kapal-kapal selam Amerika Serikat. Pengiriman
yang paling berhasil mengelabui inteljen pemerintah pusat di Jakarta adalah
pengangkatan berton-ton senjata dan amunisi yang dilakukan oleh kapal selam Angkatan
Laut Amerika Serikat pada malam hari ke pelabuhan kecil di Paiman yang terletak sekitar
35 mil di selatan Padang. Kapal selam itu juga digunakan untuk membawa sejumlah
tentara Ahmad Husen untuk mendapat pelatihan khusus dalam bidang perhubungan dan
persenjataan di fasilitas-fasilitas militer Amerika Serikat di Okinawa, Saipan, dan
mungkin juga di Guam.

11
Tampaknya tidak sampai Januari 1958 pengiriman senjata mulai dilakukan tanpa
sembunyi-sembunyi dijatuhkan dari udara menggunakan pesawat terbang yang bertolak
dari Filipina, Taiwan, Thailand, dan Malaysia – ada yang langsung dan ada yang melalui
pelabuhan udara Changi di Singapura. Semua bantuan itu, sesuai tahap pertama
intervensi Amerika serikat yang telah disetujui, ditujukan untuk membangun kekuatan
militer bagi para pemimpin militer yang memberontak di Sumatra dan Sulawesi. Namun,
Amerika Serikat membutuhkan banyak waktu untuk memutuskan tentang intervensi
langsung dan memberi perlindungan udara kepada para pemberontak, serta menyiapkan
elemen-elemen Angkatan Laut untuk dikerahkan kalau dibutuhkan. Pada 7 Desember
1957 beberapa kesatuan Angkatan Laut telah disiapkan agar dalam waktu empat jam
bergerak dari Filipina ke perairan Indonesia. Satuan tugas yang dipimpin oleh kapal
penjelajah Princenton berkumpul di Teluk Subic, lalu berlayar ke arah selatan dengan
membawa elemen-elemen dari Divisi Marinir II dan sedikitnya 20 helikopter ( Audrey R
Kahin dan George Mc T Kahin, 1997: 151 – 153 )

Sepanjang Januari dan awal Februari para pemimpin politik di Jakarta berusaha
membujuk para pemberontak untuk merundingkan kompromi damai di samping
memanfaatkan ancaman pemberontakan untuk memaksa pemerintah menerima sebagian
dari tuntutan daerah. Moh Hatta dan pemimpin Partai Sosialis Indonesia (PSI), Sutan
Sjahrir, juga mengirim utusan kepada para pemimpin sipil maupun militer yang
membangkang untuk mencegah konfrontasi.

Namun, para pemimpin militer dan Soemitro Djojohadikusumo tampaknya memutuskan


untuk melakukan konfrontasi dengan pemerintah pusat. Tampaknya, para pemberontak
merasa dukungan luar negeri akan menjamin
keberhasilan mereka. Perhitungan itu memperjelas keengganan para pemberontak
menyelesaikan masalah melalui kompromi dan desakan untuk mengambil langkah-
langkah ke arah konfrontasi terhadap pemerintah pusat yang oleh para pendukung sipil
dianggap tidak perlu dan bersifat provokatif ( Audrey R Kahin dan George Mc T Kahin,
1997 : 171 – 172 )

Genderang Perang

Pada 15 Februari 1958, setelah berakhirnya waktu lima hari yang ditetapkan dalam
ultimatum, Letnan Kolonel Ahmad Husein melalui Radio Bukittinggi mengumumkan
pembentukan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) untuk menjalankan
pemerintahan hingga terbentuknya kabinet yang dipimpin oleh Moh Hatta dan Hamengku
Buwono IX. Apabila dalam waktu tertentu tanpa jelas Presiden Soekarno tidak kembali
pada posisi konsitusionalnya dan mengangkat Mohammad Hatta dan Sultan sebagai
pemimpin Kabinet yang baru, maka para pemimpin PRRI akan menganggap diri mereka
terlepas dari kewajiban mentaati Presiden Soekarno sebagai kepala negara.( Audrey R
Kahin dan George Mc T Kahin, 1997 : 178 – 189) Majalah Time memberitakan bahwa
tidak kurang dari 40.000 pasukan dan rakyat sipil hadir ketika Ahmad Husein
memproklamasikan suatu pemerintahan revolusioner dengan kedaulatan penuh atas
seluruh Indonesia . ( Baskara T Wardaya, 2008 : 176 )

12
Setelah berbulan-bulan melakukan manuver, baik para pemberontak maupun pemerintah
pusat di Jakarta mengambil tindakan yang menentukan. Dalam waktu lima hari mereka
menempati posisi masing-masing dan tidak dapat mundur lagi. Para pemimpin
pemberontakan sesungguhnya telah meningkatlkan perlawanannya ke arah revolusi
dengan membentuk pemerintahan tandingan.

Dengan membawa pengakuan nasional maupun internasional sebagai pemerintah yang


sah di seluruh Indonesia, konfrontasi langsung dengan Presiden Soekarno itu menutup
semua kemungkinan kompromi karena sekembalinya dari luar negeri pada 16 Februari
Presiden Soekarno harus memilih melepaskan jabatannya atau menghimpun kekuatan
untuk melawan para penentangnya ( Audrey R Kahin dan George Mc T Kahin, 1997 :
178 – 189 )

Keesokan harinya, setelah Presiden Soekarno kembali ke tanah air, Kabinet Djuanda
Kartawidjaja mengeluarkan perintah penangkapan para pemimpin sipil PRRI ( Sjafruddin
Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, dan Soemitro Dojohadikusumo) dan menuntut
agar para anggota Kabinet di bawah mereka (Mohammad Sjafei, Saladin Sarumpaet, dan
Abdul Gani Usman) serta anggota-anggota Permesta ( JF Warouw, Saleh Lahade, dan
Muchtar Lintang) menyatakan secara terbuka loyalitas mereka kepada pemerintah di
Jakarta. Para pemimpin Permesta memberikan jawaban dengan mengeluarkan pernyataan
solidaritas kepada PRRI dan sehari kemudian Mayor Somba dari Manado dengan resmi
menyatakan dukungan penuh Permesta kepada PRRI dan pemutusan hubungan dengan
pemerintah pusat. Sebagai jawaban, AH Nasution langsung memecat Ventje Sumual,
Daniel Somba, dan Kepala Staf Dolf Runturambi dengan tidak hormat dan mengeluarkan
perintah penangkapan mereka serta para pemimpin Pemersta lainnya ( Audrey R Kahin
dan George Mc T Kahin , 1997 : 186 – 218 ) Tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan
Ventje Sumual sebagai pemimpin pemberontakan di Sulawesi – waktu itu Sumual sedang
berkunjung ke luar negeri untuk mencari dukungan bagi Pemersta – tanggal 17 Febriari
1958, komandan Wilayah Militer Sulawesi Utara dan Tengah, Daniel Somba
mengumumkan dukungan kepada PRRI dan pemisahan diri dari Pemerintahan Pusat.
Pengumuman tersebut pada gilirannya, menjadikan Permesta bagian dari deklarasi
pemisahan diri PRRI dari Jakarta, dan dengan begitu Permesta praktis menjadi “sayap
timur PRRI” ( Baskara T Wardaya,2008 : 176 )

Untuk mengatasi pemberontakan itu, Pemerintah Pusat berketetapan hati untuk


mengambil tindakan militer, walaupun banyak pemimpin politik menganjurkan
pemerintah agar menghindari penggunaan kekerasaan. Demikianlah, satu minggu setelah
pembentukan PRRI, pemerintah telah menyerang pemancar radio PRRI di Padang dan
Bukitinggi. Akan tetapi penyerbuan secara besar-besaran terhadap Padang tidak
dilakukan sampai pertengahan April. Sebelum menguasai Padang, pemerintah ingin
terlebih dahulu menguasai Riau untuk memutuskan hubungan PRRI dengan luar negeri.
Setelah Riau dikuasai dengan baik, barulah serangan-serangan dipusatkan terhadap basis
PRRI di Sumatra Barat.

13
Rekasi terhadap tindakan militer yang diambil oleh Jakarta terhadap PRRI segera muncul
di Medan. Seiring dengan jatuhnya Pekan Baru ke tangan pasukan pemerintah, Mayor
Boyke Nainggolan mengambil alih kekuasaan di Medan. Pada dini hari itu, 16 Maret,
Nainggolan melancarkan apa yang dinamakannya Operasi Sabang–Merauke (OSM).
Dengan dukungan pasukan dari beberapa battalion setempat. OSM menguasai Medan
selama satu hari dan mempersenjatai sejumlah pemuda sebagai pasukan bantuan Setelah
itu Nainggolan beserta pasukannya dipukul mundur dari Medan ke Tapanuli dan
perbatasan Sumatra Timur-Aceh.

Kegagalan OSM merupakan suatu pukulan juga buat PRRI, karena di samping berarti
tercerai berrainya pendukung di Sumatra Utara, kegagalan ini membawa akibat
terpusatkannya kembali operasi militer pemerintah terhadap PRRI. Operasi-operasi
militer yang ketat yang dilancarkan oleh pemerintah telah menyebabkan sebagian
kekuatan militer PRRI menyerahkan diri atau bergabung dengan pasukan pemerintah.
Kemudian ditambah dengan ketidakmampuan unit-unit militernya untuk berhadapan
dengan pasukan pemerintah, maka genaplah alasan bagi merosotnya perlawanan PRRI
dan tantangan secara frontal ke dalam bentuk gerilya menjelang akhir 1958 ( Nazaruddin
Sjamsuddin , 1989 : 63 – 64 )

Tanda bahwa pemerintah pusat akan menghadapi proiklamasi pemerintahan


pemberontakan itu dengan kekerasaan adalah pengeboman Padang dan Manado
pada tanggal 21 dan 22 Februari. Walaupun konflik itu sudah berlangsung selama
setahun lebih pengeboman terhadap Manadolah yang menyakinkan penduduk
biasa di Minahasa dan Sulawesi Utara bahwa peperangan itu betul-betul, Akibat
pertama pengemboman di sana itu adalah dukungan di belakang pemimpin
Permesta terpadu dan persekutuan natara cabang pemberontakan di Sumatra dan
di Sulawesi bertambah erat. Kini sulit bagi rakyat Sulawesi Utara untuk
mengatakan bahwa mereka mendukung permesta bukan PRRI, sebagaimana
sementara orang cenderung melakukannya sesudah ultimatum atau proklamasi
dan sebelum pengeboman itu. Pokok persoalan kini menjadi lebih jelas yakni
berada di pihak daerah atau di pihak pusat. Sementara itu, pendukung Permesta
yang tidak mengharapkan timbulnya bentrokan bersenjata, tidak bersedia
mendukung tuntutan otonomi daerah dengan menggunakan kekerasaan dan
dengan diam-diam menarik dukungan mereka. Karena pemerintah pusat
mempergunakan kekerasaan, sebagian besar rakyat makin mendukung pemimpin
Permesta dan keputusan mereka untuk menentang Jakarta.

Sejumlah perwira Minahasa dan pejabat-pejabat sipil di bagian-bagian lain dari Indonesia
dan di luar negeri bergabung dengan pemberontakan ini karena tidak setuju pengeboman
Manado. Pengeboman Manado itu mempercepat keputusan dua perwira TNI yang paling
senior asal Minahasa Kolonel A.E. Kaliwarang, atase militer di Washington DC, dan
Kolonel J.F Warouw, atase militer di Beijing, untuk pulang dari luar negeri dan
bergabung dengan orang-orang sedaerah mereka. J.F. Warouw, yang dekat dengan
Presiden Soekarno sejak revolusi berkobar, pada awal Februari bertemu dengan Presiden
Soekarno di Tokyo sebagai perantara untuk para kolonel yang memberontak itu.
Sekalipun sebelumnya telah diberitahu akan didudukan dalam kabinet pemerintah PRRI,

14
ia rupanya kurang berminat turut serta dalam pemberontakan. AE Kawilarang yang tanpa
sepengetahuan dan persetujuannya terlebih dahulu dijadikan Panglima Tertinggi PRRI,
menolak kedudukan itu sekalipun dia bergabung dengan kekompok Permesta di
Minahasa.( Barbara Slilars Harvey , 1984 : 150)

Suatu misteri yang masih perlu diungkap adalah tentang siapa perwira Angkatan Udara
yang memerintahkan pemboman sasaran-sasaran di daerah Sumatera Barat dan Di
Manado tanggal 21 Februari 1958, yang secara de facto telah mengentikan sama sekali
upaya penyelesaian secara damai dari masalah daerah-daerah bergolak itu. Pada saat itu
Perdana Menteri Djuanda Kartawidjaja mengumumkan bahwa tindakan pemerintah
terhadap pemberontakan terutama akan berbentuk blokade ekonomi, walaupun
kemungkinan adanya pertempuran tidak tertutup sama sekali. Sarjana Amerika Serikat,
Daniel Lev menduga bahwa pemboman itu dilakukan tanpa sepengetahuan Djuanda. AH
Nasution juga menjelaskan bahwa pemboman itu dilakukan tanpa sepengetahuannya
sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Besar kemungkinan aksi militer tersebut
dilancarkan Angkatan Udara setelah Presiden Soekarno mengeluarkan pendapatnya pada
hari itu untuk melakukan tindakan yang dratis dengan segala kekuatan yang dimiliki.
Dengan demikian, upaya pengungkapan perlu diarahkan kepada oknum-oknum Angkatan
Udara yang beraliran radikal, yang mendukung sikap politik PNI dan PKI terhadap
PRRI/Permesta. ( Saafroedin Bahar, 1999 : 42 )

Pertengahan bulan Mei, Gorontalo telah direbut kembali dengan bantuan kesatuan-
kesatuan gerilya di bawah pimpinan tokoh PNI, Nani Wartabone, yang pernah dikalahkan
di kota tersebut oleh pasukan Permesta pada tanggal 17 Maret (Barbara Sillars Harvey,
1984: 150). Pada 8 Juni Angkatan Laut mulai menembaki Manado. Sementara itu,
Angkatan Udara ikut serta menyerang Pelabuan Udara Mapanget di Manado, Tondao,
Tomohon pada tanggal 11 dan 13 Juni mulai mendarat di sebelah utara Manado. Pada 16
Juni dilakukan pendaratan secara besar-besaran di Kema, di sebelah selatan Bitung.
Pasukan Permesta – sebagian besar terdiri dari Komando Pasukan Permesta –
mengadakan perlawanan dengan sengit dan pasukan pemerintah membutuhkan waktu
sepuluh hari untuk maju bertempur sejauh 25 km, melalui jalan raya yang baik, dari
Kema ke Manado. Pada 21 dan 24 Juni didaratkan pasukan-pasukan tambahan di sebelah
utara kota Manado. JF Warouw, sebagai Wakil Perdana Menteri PRRI, memerintahkan
agar orang mengungsi dari kota. Menjelang 26 Juni Manado diduduki pasukan
pemerintah dari Komando Merdeka di bawah pimpinan Letnan Kolonel Rukminto
Hendradiningrat dari Divisi Brawijaya juga ada beberapa kesatuan dari Divisi-divisi
Diponogoro, Siliwangi dan Hasanuddin.

Pada 11 Juli 1958 pemerintah sipil sementara dibentuk untuk Manado dan Minahasa di
bawah pimpinan Kapten Bett Supit, dan pada 19 Juli E.A. Kandouw, seorang pemimpin
PNI diangkat menjadi sekretaris pemerintahan militer ini. Pada 23 September E,A.
Kandouw diangkat menjadi pejabat Kepala Daerah Minahasa dan JP Mangula diangkat
menjadi pejabat Walikota Manado.

Jatuhnya Manado mempunyai pengaruh politis dan psikologi yang lebih besar daripada
pengaruh militer karena kekuataan militer Permesta belum dipatahkan dan sudah dibuat

15
rencana untuk mundur ke pangkalan-pangkalan gerilya. Namun, pertempuran yang
terjadi di jalan raya menuju Manado itu telah menunjukkan bahwa kaum muda yang
pemberani dalam pertempuran di bawah panji Permesta itu adalah prajurit-prajurit yang
hampir tidak terlatih. Jika terus dipergunakan dalam pertempuran frontal, banyak dari
mereka akan jatuh menjadi korban dan perbekalan amunisi segera habis.
Pasukan Permesta mundur ke Tomohon, tempat perencanaan pembendungan kemajuan
pasukan pemerintah pusat Banyak kesatuan yang sebagian besar terdiri dari anak muda
yang kembali ke kampung halamannya untuk bersiap-siap mengadakan perang gerilya.
Namun, tidak semua prakarsa ada di tangan pasukan pemerintah karena pada 14 Agustus
pasukan Permesta menyerang Pineleng, bekas markas besar mereka yang terletak di
pinggiran kota Manado. ( Barbara Sillars Harvey, 1984 : 138 – 182 )

Setelah operasi-operasi militer terhadap kaum pemberontak dimulai, Soekarno, yang


tidak berbuat apa-apa untuk membantu menyelesaikan krisis kedaerahan itu,
sekarang mengambil sikap keras terhadap kaum pemberontak, dengan dukungan
yang lantang dari PKI. Sebaliknya, AH Nasution tetap membuka pintu bagi kaum
pemberontak untuk : “ kembali ke pangkuan Republik.” Yang merupakan ciri khas di
pihak AH Nasution maupun para perwira PRRI di Sumatra adalah bahwa kedua
pihak tidak sungguh-sungguh ingin membinasakan lawannya. Demikianlah maka
pada permulaannya kaum pemberontak mengosongkan posisi-posisi mereka setelah
memberikan perlawanan yang tidak berarti karena tidak sampai hati menembaki
sesama orang Indonesia. Walaupun sebelumnya mereka telah menerima banyak
senjata dari luar negeri mereka tidak menduga bahwa mereka benar-benar harus
bertempur. Perhitungan mereka adalah bahwa mereka benar-benar harus mencekik
pemerintah pusat di bidang ekonomi dengan jalan mencegahnya memperoleh
pendapatan ekspor yang vital dari daerah-daerah di luar Jawa. Baru setelah Presiden
Soekarno, orang yang berasal dari Jawa itu, dan golongan Kiri, meningkatkan agitasi
mereka terhadap PRRI, kaum pemberontak di Minahasa agak berbeda. Sejak semula
mereka sudah betekad untuk melawan, karena serangan Angkatan Udara terhadap
Manado telah menimbulkan terlalu banyak korban manusia dan kerugian harta
benda.

Yang sangat penting artinya adalah sikap Jawa Barat dan Divisi Siliwangi. Seandainya
orang-orang Sunda dan sebagian saja dari perwira-perwira Siliwangi memihak PRRI,
pemerintah pusat akan berada dalam kedudukan yang sangat sulit. Kemungkinan bahwa
orang-orang Sunda akan mendukung PRRI tidak terlalu kecil mengingat bahwa Jawa
Barat tidak pernah bersedia menerima sepenuhnya hegemoni orang-orang Jawa. Sebuah
Badan Musyawarah Sunda (BMS) yang dibentuk pada pertengahan 1955 adalah telah
berusaha memobilisasikan orang-orang Sunda terhadap partai-partai yang didominasi
orang-orang Jawa, tetapi waktunya sudah terlalu dekat dengan pemilihan untuk dapat
mengorganisasi partai-partai Sunda yang efektif. Sebuah Front Pemuda Sunda (FPS),
yang dipimpin para perwira Sunda yang masih muda, dalam 1956 mengencam
“imperialisme Jawa “ dan menuduh Soekarno dan PNI sedang berusaha membina
supremasi Jawa atas suku-suku lainnya.

16
Dalam menghadapi perwira-perwira yang tidak puas di Jawa Barat, AH Nasution
menggunakan siasat yang berbeda-beda terhadap berbagai kelompok. Perwira-perwira
Sunda ditangkap atau setidak-tidak dipecat, sementara perwira-perwira yang “condong
pada PSI “ hanya dibebaskan dari komando pasukan dan diperintahkan untuk mengikuti
pendidikan dan latihan. Rupa-rupanya D Soeprajogi telah membela mereka, dan Markas
Besar agaknya telah menyadari potensi kelompok perwira-perwira ini bagi perjuangan
politik melawan orang-orang komunis kelak. Yang lebih penting lagi adalah bahwa
perwira-perwira itu, yang ikatan-ikatannya dengan PSI sejak dulu dilebih-lebihkan di
kemudian hari sangat tidak setuju dengan pimpinan PSI mengenai cara mengevaluasi
situasi politik. Sementara Sutan Sjahrir nantinya akan mencap kelompok Markas Besar
Angkatan Darat sebagai sebuah “klik militer fasis yang dipimpin oleh Nasution :,
menuduh AH Nasution bekerjasama dengan PKI, dan menyertakan “perlawanan yang
efektif terhadap totaliterisme fasis-komunis “, perwira-perwira itu dengan mudah
menerima baik jalan pikiran yang dikemukakan oleh salah seorang wakil AH Nasution,
Kolonel Ahmad Yani, bahwa Markas Besar sama sekali tidak menyongkong PKI
melainkan harus tetap berdiri di belakang Soekarno dan pemerintah pusat untuk
mencegah disintegrasi Indonesia. Dan semakin kuat nantinya Angkatan Darat dalam
upaya menyelamatkan Republik, akan semakin baiklah peluangnya untuk mencegah
kaum komunis memperoleh kekuasaan.

AH Nasution, dalam upayanya untuk merebut hati korps perwira Siliwangi, mengambil
tindakan yang sekarang kelihatannya sangat riskan juga. Kaharuddin Nasution, juga
seorang perwira Siliwangi, diberi tugas memimpin pasukan-pasukan yang didaratkan di
Riau. Dan yang lebih penting lagi, pada tanggal 20 Februari 1958 D Soeprajogi yang
tidak begitu popular di kalangan Divisi Siliwangi, digantikan oleh kepala stafnya,
Kolonel R.A. Kosasih. Yang penting dari segi politik pada waktu itu adalah bahwa R.A.
Kosasih itu adalah orang Sunda, satu-satunya orang Sunda yang pernah menjabat
panglima Divisi Siliwangi. Dia telah menghadiri rapat-rapat Badan Musyawarah Sunda
dan juga punya hubungan FPS. Tetapi karena dia tak ikut dalam aksi-aksi bulan
November 1956 terhadap pemerintah pusat, AH Nasution berpendapat bahwa dia dapat
mengambil resiko untuk menyerahkan pimpinan Divisi Siliwangi kepada seorang Sunda
dengan demikian menarik divisi itu ke pihak Markas Besar.

Boleh jadi AH Nasution tidak menyadari bagaimana tidak popularnya di kalangan Divisi
Siliwangi aksi militer yang sedang dilancarkan terhadap kaum pemberontakan di daerah.
Memang benar bahwa bagian terbesar dari perwira-perwira Siliwangi tidak dapat
menyetujui pembentukan pemerintah pemberontakan di Sumatera. Tetapi
menyeberangnya Kolonel AE Kawilarang yang masih sangat popular ke pihak
pemberontak telah menambah keengganan divisi Siliwangi untuk memerangi sesama
kawan. Menurut sebuah berita, divisi ini :menolak untuk mengirimkan pasukan guna
memerangi PRRI” karena semua kesatuannya diperlukan untuk memerangi Darul Islam.
Ini memang bukan sekedar basa-basi, Sesungguhnya, Territorium II di Jawa Barat dalam
1957 telah mencapai puncak kekuatannya dari segi jumlah anggota dan persenjataannya,
dan divisi Siliwangi telah melancarkan sebuah operasi besar-besaran untuk menumpas
kaum Muslim radikal itu. Dengan demikian maka Siliwangi hanya bersedia
menyumbangkan satu saja dari ke-33 batalyon infanterinya untuk operasi anti-PRRI. Dan

17
meskipun hanya menyumbang satu pasukan yang kecil saja kepada “ekspedisi Jalkarta
untuk menggempur daerah-daerah di luar Jawa “, unsur-unsur bukan Jawa dalam korps
perwira Siliwangi merasa seperti sedang menghinati bangsa sendiri. Perwira-perwira itu,
termasuk R.A. Kosasih, berkesimpulan bahwa demi kepentingan bukan saja suku suku
bukan-Jawa melainkan seluruh bangsa, maka perang saudara itu harus segera diakhiri
dengan cara apa pun. Tidak ada maksud pada mereka untuk menjatuhkan pemerintah
pusat, Presiden Soekarno, ataupun AH Nasution, melainkan mereka hanya merencanakan
suatu “pameran kekuatan“, termasuk gerakan pasukan ke Jakarta yang dimaksudkan
untuk memaksa pemerintah untuk berunding dengan kaum pemberontak dan untuk
dengan sungguh-sungguh memperhatikan keluhan-keluhan daerah. Semua komandan dari
suku Sunda dan bukan–Jawa telah diberi penjelasan mengenai aksi-aksi yang hendak
dilancarkan ketika R.A. Kosasih dipanggil ke istana Presiden di mana Soekarno berhasil
membujuknya untuk tidak melaksanakan rencana-rencananya itu, agaknya dengan jalan
meyakinkannya bahwa situasi sudah berkembang mencapai suatu tingkat yang tidak
memungkinkan lagi diusahakannya rekonsiliasi politik.

Dengan tidak adanya dukungan efektif dari Jawa Barat dan Divisi Siliwangi maka
pemberontakan di daerah sudah dipastikan akan gagal begitu aksi-aksi militer mulai
dilancarkan. Dalam perundingan-perundingan dengan kaum pemberontak, utusan-
utusannya juga menjelaskan bahwa Markas Besar Angkatan Darat sama antikomunisnya
dengan kaum pemberontak sendiri hanya menempuh siasat lain untuk memerangi
komunisme. M Simbolon dan Achmad Husein di Sumatera, dan AE Kawilarang serta JF
Warouw di Sulawesi menyadari perlunya berdamai dengan AH Nasution, tapi mereka
mendapat tantangan yang keras dari Dahlan Djambek dan Ventje Sumual. Menurut
kabar, anak buah Ventje Sumual membunuh Kolonel JF Warouw ketika dia hendak
menyerah kepada AH Nasution. Dalam suatu tindakan pelengkap untuk mematahkan
perlawanan pasukan-pasukan Permesta dan pengikiut-pengikut Kahar Muzakar dari segi
ekonomi dan keuangan, pemerintah, atas nasihat AH Nasution, menyetujui pengeluaran
dana sebesar Rp 90 juta untuk membangun kembali daerah-daerah yang telah dibebaskan
dari kekuasaan Permesta, sementara Panglima Sulawesi Selatan, Kolonel Andi Jusuf
menyediakan Rp 80 juta untuk merehabilitasi orang-orang bekas tentara Darul Islam dan
keluarga mereka. ( Ulf Sundhaussen, 1986 : 197 – 203 )

Republik Persatuan Indonesia

Kegagalan di bidang militer agaknya telah menyebabkan pimpinan PRRI untuk


mengkonsolidasikan kembali kelompok-kelompok perlawanan yang ada didaerah-daerah
lain. Di Sumatra, gerakan Darul Islam di Aceh yang semula diharapkan menggabungkan
diri dalam PRRI, yaitu dengan diberikan protofolio Menteri Sosial dalam kabinet PRRI
kepada Abdul Gani Usman, kini didekati kembali. Gerakan Darul Islam yang sedang
berada dalam suasana gencatan senjata dengan pemerintah di Aceh diusahakan agar
bergabung ke dalam PRRI. Untuk itu di Frankurt, Jerman Barat, pada akhir tahun 1958
telah berlangsung suatu konferensi tokoh-tokoh pemberontakan yang membicarakan
tentang kelangsungan perlawanan mereka. Di sanalah dicapai kesepakatan prinsip untuk

18
menyatukan gerakan PRRI dengan Darul Islam menuju terbentuknya suatu negara
federasi Indonesia.

Tentu saja kesepakatan prinsip ini terasa sangat aneh sehingga sulit untuk diwujudkan.
Bagaimana mungkin mempersatukan Darul Islam, yang jelas –jelas mempunyai program
perjuangan untuk mendirikan sebuah negara Islam, dengan PRRI yang sama sekali tidak
mendasarkan diri pada asas keagamaan. Penyatuan demikian akan mengancam persatuan
dalam tubuh PRRI sendiri, karena ia akan menimbulkan kecurigaan di antara unsur-unsur
pendukungnya. Secara ideologis, di dalam PRRI terdapat dua unsur yang sama-sama
berpengaruh, yaitu Islam dan Kristen. Unsur Islam melibatkan suku-suku Minangkabau
dan Batak Mandailing; unsur ini terutama sekali lebih doiminan di dalam kepemimpinan
sipil. Di lain pihak, orang-orang Batak Toba dan Minahasa tergabung dalam golongan
Kristen, dan mereka mempunyai pengaruh yang kuat dalam kekuatan militer PRRI. Suatu
penyatuan PRRI dengan gerakan Darul Islam tentu akan sulit diterima oleh golongan
Kristen ini, karena akan memperlemah posisi mereka sendiri.

Di lain pihak, bagi Darul Islam sendiri usaha penyatuan ini bukan pula sesuatu yang
mudah, atau bahkan mungkin merupakan sesuatu yang mustahil. Ketidakmungkinannya
terletak pada rencana untuk mendirikan sebuah negara Indonesia yang bersifat federal.
Negara Indonesia yang federal bukanlah tujuan dari gerakan Darul Islam, karena
Kartosuwiryo bagaimanapun tetap menghendaki bentuk negara kesatuan. Jadi, bentuk
federasi yang disepakati dalam konferensi di Frankurt itu sudah tentu tidak dapat diterima
oleh pimpinan pusat Darul Islam di Jawa Barat. Dalam hal inilah antara lain terdapat
konflik dalam tubuh gerakan Darul Islam, antara pemimpin-pemimpin di Jawa Barat dan
Aceh. Dan, dalam konferensi Frankurt tokoh Darul Islam dari Aceh yang hadir dan
secara sepihak bertindak atas nama gerakan Darul Islam.

Namun demikian, langkah-langkah untuk mewujudkan kesepakatan prinsip tersebut tidak


dapat dilakukan. Mungkin sekali salah satu alasannya ialah kurangnya kepercayaan diri
di kalangan pemimpin PRRI terutama setelah semakin merosotnya kemampuan militer
mereka pada penghujung 1958, Akan tetapi, pada kesempatan untuk bertindak muncul
juga beriringan dengan terjadinya perubahan yang fundamental dalam kepolitikan
Indonesia sejak bulan Febriari 1959.

Sebagai kelanjutan dari kemelut politik yang tidak berkesudahan di tingkat nasional, pada
bulan Februari Dewan Nasional menerima usul Angkatan Darat untuk melaksanakan
“Demokrasi Terpimpin“ dari Soekarno dengan cara kembali ke UUD 1945. Akan tetapi,
ketika dibicarakan dalam Dewan Konsituante pada bulan April, usul ini tidak berhasil
mencapai kuorum, sehingga timbullah jalan buntu. Sebagai akibatnya, pada bulan Juni
KSAD AH Nasution mengenakan larangan atas segala kegiatan politik dan menunda
sidang-sidang Dewan Konsituante. Pada 5 Juli, Soekarno membubarkan Dewan
Konsituante dan mendekritkan kembali ke UUD 1945. Setelah memiliki kekuasaan
eksekutif, Soekarno mengurangi peran partai politik dalam kabinet yang dibentuknya
sendiri pada tanggal 10 Juli, di samping melarang pejabat tinggi untuk memasuki sesuatu
partai politik.

19
Tampaknya para pemimpin PRRI telah berpenuh harap bahwa perkembangan politik ini
dapat menumbuhkan dukungan terhadap perjuangan mereka. Mereka mengharapkan
bahwa partai-partai politik telah dikurangi peranannya oleh Soekarno, seperti Masyumi,
NU, PSII, PSI, Parkindo, akan menentang Soekarno. Dengan harapan yang demikian
maka pada bulan Mei 1959 tokoh-tokoh PRRI dan Permesta menyelenggarakan suatu
rapat yang membahas usaha-usaha untuk menyatukan gerakan mereka dengan Darul
Islam. Rapat yang telah menghasilkan rencana untuk memproklamasikan Republik
Persatuan Indonesia (RPI) yang bersifat federal pada tanggal 17 Agustus tahun itu juga.
Akan tetapi rencana ini tidak dapat dilaksanakan sebab hingga awal Agustus mereka
belum mendapat kesedian bergabung dari gerakan Darul Islam di Aceh, meskipun
rencana itu telah diradiogramkan pada bulan Juni.

Demikianlah, RPI 1960 baru dapat diumumkan berdirinya pada tanggal 8 Februari 1960,
setelah melalui perdebatan sengit dengan pihak Darul Islam di Aceh dan di kalangan
PRRI sendiri. Perdebatan itu pada umumnya berkisar sekitar undang-undang dasar dan
dasar negara. Para pemimpin Aceh mengehendaki agar Aceh dan Sulawesi Selatan
diberikan status “ republik Islam “ dalam RPI, di samping menuntut agar RPI menjadi
negara agama, di mana setiap negara bagian memiliki hak untuk mengatur dirinya
berdasarkan hukum Islam dan Kristen dalam tubuh PRRI, akan tetapi di lain pihak ia
mempertajam perpecahan di antara para pemimpin PRRI yang menghendaki teokrasi dan
sekularisme. Pemimpin PRRI dengan latar belakang agama tidak berkeberatan terhadap
tuntutan Aceh, sementara yang sekuler, terutama di kalangan perwira militernya, lebih
suka mendasarkan RPI pada Pancasila.

Perdebatan tentang undang-undang dasar dan dasar negara itu telah mengakibatkan
tertundanya proklamasi RPI, sementara di bidang militer PRRI sedang menghadapi
tekanan yang semakin kuat dari pasukan pemerintah. Situasi ini telah memaksa para
pemimpin agama dan sekuler RPI untuk berkompromi, yaitu setelah tokoh-tokoh sekuler
setuju untuk mendasarkan RPI pada asas agama. Persetujuan itu diberikan dengan
pengertian bahwa RPI akan mempertahankan hak-hak asasi manusia. Kompromi ini
menimbulkan kemarahan pemimpin Aceh, Daud Beureueh, yang memahamkan bahwa
itu sama saja dengan menganggap hukum Islam lebih rendah daripada hak asasi manusia
yang universal. Oleh karena Daud Beureuh mengancam tidak mau bergabung dengan
RPI, para pemimpin PRRI terpaksa mengabulkan tuntutannya.

Namun demikian, pembentukan RPI tidak memperbaiki posisi kaum pemberontak yang
semakin terjepit oleh perkembangan situasi politik dan milite. Keberhasilan tokoh-tokoh
PRRI untuk merangkul gerakan Darul Islam di Aceh dan Sulawesi Selatan ke dalam RPI
memang memberikan suatu keuntungan politik, terutama terhadap luar negeri, akan tetapi
secara militer masih kecil artinya. Baik di Aceh maupun di Sulawesi Selatan, gerakan
Darul Islam semakin melemah dalam arti militer, setelah terjadinya perpecahan di
dalamnya yang mengakibatkan sebagian besar kekuatan militer Darul Islam di kedua
daerah itu “kembali ke pangkuan ibu pettiwi“ pada tahun 1959. Sisa-sisa kekuatan militer
yang ada pada Daud Beurueuh di Aceh dan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan itu
menggabungkan diri ke dalam RPI, sementara gerakan Darul Islam di Jawa Barat di
bawah pimpinan M Kartosuwiryo tidak mengakui penggabungan itu.

20
Secara politis, para pemimpin PRRI atau RPI telah kehilangan kepercayaan di kalangan
pendukung-pendukungnya di luar negeri. Kekalahan demi kekalahan yang dialami oleh
pasukan pemerintah ketika itu, sangat mengecewakan para pendukungnya di luar negeri.
Tiadanya harapan untuk menjatuhkan Soekarno dan menghambat pemekaran pengaruh
komunis di Indonesia dengan kekuatan senjata telah memaksa Persekutuan Tanah
Melayu dan Singapura, yang selama ini menjadi basis kegiatan PRRI di luar negeri,
untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan Indonesia. Beberapa tindakan yang
diambil pemerintah Malaya dan Singapura pada tahun 1960 telah mempersempit ruang
gerak kaum pemberontak di kedua negara itu. ( Nazaruddin Sjamsuddin , 1989 : 64 – 68 )

Penutup

Dalam bulan Februari 1961 terjadi penyerahan massal yang pertama dari pasukan-
pasukan Permesta, dan pada tanggal 14 April 1961 Kawilarang menyerah bersama
27.000 orang anak buahnya. Dia disambut dengan gembira oleh Letnan Jendral Hidajat,
yang ketika itu menjabat Menteri Keamanan Nasional, atas nama AH Nasution. Pasukan
AE Kawilarang, dipindahkan ke Jawa dan dilucuti, dan dia sendiri dikeluarkan dari
tentara tapi tak pernah diadili. Kemudian pada Hari Proklamasi, 17 Agustus 1961,
Soekarno mengumumkan amnesti umum bagi semua pemberontakan yang melapor
kepada pihak yang berwajib sebelum Hari Angkatan Perang, 5 Oktober tahun itu juga.
Maka bagian terbesar dari pemimpin-pemimpin PRRI, Kolonel M Simbolon dan Kolonel
Zulkifli Lubis serta Kahar Muzakar menyerah sebelum berakhirnya batas waktu itu.
Sumual baru menyerah pada tanggal 26 Oktober akan tetapi dalam semangat perukunan
kembali penyerahannya itu dianggap terjadi pada tanggal 4 Oktober. Sisa-sisa terakhir
dari pasukan PRRI melapor kepada pihak yang berwajib dalam bulan Agustus 1962.

Praktis semua perwira dan bagian terbesar dari prajurit–prajurit yang terlibat dalam
pemberontakan daerah itu dipecat dari tentara, dan bagian terbesar dari perwira-perwira
yang lebih senior ditahan walaupun sudah ada janji amnesti. Sulawesi Utara, di mana
seluruh tentara setempat untuk ambil bagian dalam pemberontakan, diduduki oleh
pasukan-pasukan Divisi Brawijaya, sementara Sumatra Barat diserahkan kepada Divisi
Diponogoro. Lebih dari yang sudah-sudah dalam sejarah Republik Indonesia, daerah-
daerah di luar Jawa menjadi milik dan jajahan Jawa. ( Ulf Sundhaussen , 1986 : 203 –
204 )

Pemberontakan PPRI/Permesta berakhir hampir dua tahun setelah terbentuknya periode


baru dalam sejarah politik Indonesia, yaitu Demokrasi Terpimpin, yang secara resmi pada
bulan Juli 1959 dengan kembalinya kepada UUD 1945. Gerakan pemberontakan ini
mula-mula merupakan protes terhadap pandangan Soekarno mengenai “demokrasi
terpimpin“ tetapi akibat gerakan pemberontakan itu justru memperkuat perkembangan
politik yang diharapkan dihindari para pemimpin gerakan tersebut. Kekuasaan pusat
diperkuat dengan mengorbankan otonomi daerah; nasionalisme radikal mengalahkan cara
moderat yang pragmatis ; pengaruh Soekarno dan PKI diperkuat dengan mengorbankan
Moh Hatta dan Masyumi.

21
Titik puncak kelonggaran yang diberikan pemerintah pusat kepada tuntutan otonomi
daerah telah dicapai justru sebelum terjadi pemberontakan, dengan diumumkannya pada
bulan Januari 1957. Undang-undang no 1 mengenai pemerintah daerah yang
memungkinkan memilih DPRD dan kepala daerah. Pelaksanaan undang-undang itu
terhalang bahkan sejak semula akibat hukum darurat di seluruh negara pada bulan Maret
1957, dan ketetapan mengenai pemilihan kepala diubah oleh dekrit presiden bulan
September 1959. Jadi, meskipun pada bulan Januari 1961 pemerintah pusat memberikan
status otonom kepada propinsi Sulawesi Utara yang baru saja terbentuk, kontrol pusat
tetap saja ada melalui kepala daerah yang ditunjuk yang sekaligus merangkap sebagai
gubernur provinsi tersebut.

Bahkan sebelum PRRI pecah pada bulan Februari 1958, fokus protes pemberontakan
sebenarnya telah berpindah dari Nasution dan kepemimpinan ABRI ke Presiden
Soekarno dan pendukungnya yang beraliran kiri. Sejak 1957, anti-komunisme sebetulnya
telah semakin penting menjadi motif gerakan kedaerahan ini, baik sebagai reaksi terhadap
semakin kuatnya PKI di Jawa maupun sebagai dalih yang tepat untuk menarik dukungan
dari luar negeri. Sebelum pertempuran, anti-komunisme kemudian menjadi alasan utama
pemberontakan, sebagai pembenaran terhadap peperangan yang ternyata yang lebih
banyak menghancurkan hal-hal yang justru hendak diselamatkan gerakan pemberontakan
tersebut. Akhirnya, para pemberontak sadar bahwa lebih bijaksana berdamai dengan para
pemimpin angkatan darat yang semula akan mereka gulingkan itu. Hal ini bukan hanya
karena para pemberontak sadar mereka kurang kuat untuk mencapai tujuan ini maupun
tujuan lainnya, tetapi karena mereka sadar sudah tidak mungkin menentang AH Nasution
tanpa melepaskan kemungkinan mengadakan penyelesaian dengan jalan perundingan.
Lebih jauh, menjelang tahun 1960 para pemberontak mengakui bahwa angkatan darat
merupakan alat yang paling efektif terhadap kemajuan komunis yang semakin nyata.
Pimpinan angkatan darat tidak berdaya terhadap tuduhan dari kaum kiri bahwa
kebijaksanaan keamanannya menjadi lebih lemah selama pemberontakan masih berlanjut.
Baik para pemberontak maupun pemimpin angkatan darat mengakui kepentingan
bersamanya dalam membendung pengaruh PKI yang semakin tumbuh, dan keduanya
yakin bahwa ini hanya akan dapat dilakukan setelah pemberontakan diselesaikan.
Kesadaran akan kepentingan bersama inilah yang menjadi dasar untuk penyelesaian
Permesta sebagai urusan intern angkatan darat. Kondisi yang diberikan kepada para
pemberontak Sulawesi pada bulan April 1961 oleh TNI cukup lunak, terutama jika
dibandingkan dengan yang diinginkan para pemimpin sipil yang kemudian ikut pula
terlibat dalam urusan penyerahan tadi.

Sebenarnya pemberontakan itu secara keseluruhan, baik PRRI/Permesta, dapat dilakukan


sebagai pemberontakan setengah-setengah saja. Gambaran ini tidak terlalu jauh dari
kebenaran mengingat sifat semangat pemberontakan yang hanya setengah hati itu. Hal ini
didasarkan pada keengganan banyak para pengikutnya untuk turut bertempur, dan
kegagalan banyak pengikut untuk meramal akibat tindak-tanduk mereka, atau
ketidakmampuan mereka membuat persiapan menghadapi segala kemungkinan. Para
pemimpin gerakan itu keliru membuat perhitungan karena mengira tantangan mereka ke
pemerintah pusat akan mendapatkan dukungan luas di seluruh negeri, termasuk di Jawa

22
sendiri. Dalam keyakinan mereka pemerintah pusat tidak akan mau mengerahkan
pasukan bersenjata untuk membuktikan kekuasaannya. Banyak pemimpin
pemberontakan tidak memperkirakan bahwa gerakan meraka akan disambut pemerintah
dengan kekuatan bersenjata. Keyakinan mendapatkan bantuan dari luar negeri, yang telah
memberanikan mereka menggertak, juga telah memaksa pemerintah pusat mengambil
tindakan terhadap mereka dan baik pemimpin militer maupun sipil di Jakarta bersedia
menerima tantangan kedaerahan itu dengan tindakan militer yang cepat.

Sikap setengah hati pemberontakan itu juga merupakan cermin dari tujuan yang terbatas
para pemimpin serta pengikutnya. Para pemberontak didorong oleh suatu keinginan
mengubah kebijaksanaan nasional dan bukan untuk membentuk suatu struktur sosial yang
sama sekali baru. Dukungan rakyat terhadap pemberontakan lebih berdasarkan ikatan
persaudaraan sesuku dan sedaerah daripada keterlibatan yang luas dasarnya terhadap
prinsip-prinsip yang abstrak. Maka, meski mendapat dukungan lumayan di Minahasa
untuk membuatnya bertahan selama hampir tiga tahun dalam bentuk perang gerilya.
Permesta tidak berhasil secara besar-besaran menggerakkan rakyat di daerah itu atas
dasar daya tarik ideologis. Salah satu akibatnya adalah ingatan tentang kehancuran dan
perpecahan sebagai akibat pemberontakan itu ternyata menjadi jauh lebih kuat daripada
kenangan tentang suatu perjuangan bahu-membahu berdasarkan cita-cita bersama.
( Barbara Silars Harvey, 1984 : 201 – 206 )

Pada saat yang sama, perang saudara merupakan pukulan yang menghancurkan segala
kemungkinan yang ada bagi dilakukannya pelimpahan kekuasaan atau atau desentralisasi
dan otonomi lokal oleh pemerintah pusat di Jakarta kepada daerah Indonesia menjadi
negara dengan kekuasaan terpusat, baik pada akhir pemerintahan Soekarno maupun pada
masa pemerintahan Soeharto yang menggantikannya. Lebih parah lagi, di daerah yang
paling banyak terlibat pemberontakan, yaitu Sumatra Barat, perang saudara membawa
akibat penindasan dan pemerintahan otoriter selama satu dekade dan baru dapat diatasi
oleh propinsi tersebut mulai awal 1970-an. Setelah menyesuaikan diri dengan kesatuan-
kesatuan militer Divisi Diponogoro di Jawa Tengah yang didominasi oleh komunis yang
berkuasa di sana pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, rakyat Sumatra Barat sangat
menderita karena perubahan haluan ke kanan pada tahun 1965-66. Para pemimpin politik
yang selalu berada di jajaran paling depan pergerakan nasional dan pemerintahan
pascarevolusi tidak pernah lagi memainkan peranan penting dalam pemerintahan nasional
Indonesia. Sekalipun Hatta tidak pernah mendukung para pemberontak, kekalahan
mereka menghapuskan segala kemungkinan dilaksanakannya desentralisasi dengan
otonom lokal yang luas di Indonesia dan mendeskreditkan para pemimpin Masjumi dan
PSI serta pembubaran partai-partai itu yang menyebabkan hilangnya suara publik
mayoritas yang mewakili daerah-daerah di luar Jawa dalam pemerintahan pusat. ( Audrey
R Kahin dan George Mc T Kahin , 1997 : 284 )

Kendati Sjarifuddin Prawiranegara, Mohammad Natsir, Assat, Soemitro


Djojohadikusumo. M Simbolon, AE Kawilarang, Ventje Sumual dan yang lainnya
terlibat dalam Persitiwa PRRI/Permesta, tetapi para pendukung Perisitiwa
PRRI/Permesta sama sekali tidak bisa dideskreditkan sepenuhnya dan masih tetap
dihormati di kalangan luas. PRRI/Permesta lebih sekedar gerakan kaum regionalis, dan

23
para pendukung Persitiwa PRRI/Permesta tetap bermaksud untuk mendukung konsitusi
dan menjunjung negara kesatuan dan tidak ada pernyataan dan maksud untuk
mengadakan pemisahan dari NKRI yang lahir lewat proklamasi 17 Agustus 1945.

Bibliografi

Bahar, Saafroedin.” PRRI.-Permesta. Sebuah Kasus Keterkaitan Antara


Intregasi Nasional dan Perang Dingin “, Jurnal Studi Amerika
, Volume IV, Januari – July , hlm. 28 - 49

Harvey, Barbara Silars. 1984. Pemersta. Pemberontakan Setengah Hati.


Jakarta : PT Grafiti Pers.

Kahin, Audrey R dan George McT Kahin. 1997. Subversi Sebagai Politik
Luar Negeri. Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia. Jakarta :

24
PT Pustaka Utama Grafiti

Legge, John D. 1095. Soekarno, Sebuah Biografi Politik . Jakarta : Sinar


Harapan.

Leiressa, R.Z. 1991. PRRI Permesta . Strategi Membangun Indonesia Tanpa


Komunis. Jakarta : PT Pustaka Utama Grafiti

Meztika, Zed. “PRRI dalam Perspektif Militer dan Politik Regional : Sebuah
Reinteprestasi,”, Jurnal Studi Amerika, Volume IB, Januari – Juli 1999,
Hlm. 99 – 122.

Muhaimin, Yahya A. 1982. Perkembangan Militer Dalam Politik di


Indonesia 1945 – 1966. Yogyakarta : LP3ES.

Sjamsuddin, Nazaruddin. Integrasi Politik di Indonesia . Jakarta : PT


Gramedia.

Sundhaussen, Ulf. 1986 . Politik Militer Indonesia 1945 – 1967 . Menuju


Dwi Fungsi ABRI . Jakarta : KP3ES.

Wardaya, Baskara T. 2008 . Indonesia Melawan Amerika. Konflik Perang


Dingin 1953 – 1963. Yogyakarta : Galangpers.hlm. 153 – 169 .

25