Anda di halaman 1dari 32

| |

 



Dalam Peraturan Menteri ini, yang dimaksud dengan :
1. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah
Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan
pemerintahan Negara Republik Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Undang Undang Dasar Negara Republik
Indonesia tahun 1945.
2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Provinsi, Pemerintah
Kabupaten dan Pemerintah Kota.
3. Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah adalah kesatuan
masyarakat hukum yang mempunyai batas±batas wilayah yang
berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri
berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
| | 




4. Kewenangan daerah dalam mengelola wilayah laut adalah


tugas dan kewajiban yang menjadi urusan yang harus
dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah untuk mengelola potensi
sumber daya alam di wilayah laut dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.
5. Wilayah laut adalah ruang laut yang merupakan kesatuan
geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan
sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau
aspek fungsional.
6. Sumber daya alam laut adalah unsur-unsur hayati dan non
hayati yang terdapat di wilayah laut dan dapat digunakan untuk
kepentingan manusia, dimana unsur hayati terdiri atas ikan dan
biota perairan lainnya beserta ekosistemnya, sedangkan non
hayati terdiri dari mineral dan bahan tambang lainnya yang
terdapat di dasar laut dan tanah dibawahnya.
| | 




Ö. Masyarakat/nelayan tradisional adalah masyarakat yang mata


pencaharian sehari-hari mengeksploitasi sumber daya alam
laut di daerah yang telah dilakukan secara turun temurun
dengan menggunakan bahan dan peralatan tradisional.
8. Pengelolaan sumber daya alam laut adalah segala upaya
mengoptimalkan manfaat sumber daya alam laut hayati, non
hayati, jasa-jasa lingkungan laut, benda-benda bersejarah dan
nilai-nilai budaya.
9. Eksplorasi adalah kegiatan atau penyelidikan potensi
kekayaan sumber daya alam laut yang pelaksanaannya harus
didasarkan pada kondisi lingkungannya.
10. Eksploitasi adalah kegiatan atau usaha pemanfaatan sumber
daya alam laut yang pelaksanaannya harus didasarkan pada
daya dukung lingkungannya.
| | 




11. Konservasi sumber daya alam laut adalah pengelolaan sumber


daya alam laut yang pemanfaatannya dilakukan secara
bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya
dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas
keanekaragaman dan nilainya, serta merehabilitasi sumber
daya alam laut.
12. Penataan Ruang Laut adalah proses perencanaan ruang laut,
pemanfaatan ruang laut, dan pengendalian pemanfaatan ruang
laut.
13. Penegakan hukum adalah proses pencegahan atau penindakan
terhadap orang dan/atau badan hukum atas suatu pelanggaran
peraturan perundang-undangan.
14. Bantuan Penegakan Keamanan dan Kedaulatan Negara adalah
bantuan tenaga, sarana dan dana oleh Daerah otonom dan
masyarakat terhadap aparat dan/atau lembaga penegak
keamanan dan kedaulatan Negara yang sedang melaksanakan
tugas.
| |
|       




Š1) Batas pengelolaan wilayah laut Daerah Provinsi sejauh


maksimum dua belas mil laut yang diukur dari garis pantai,
dan tidak melebihi batas wilayah negara.
Š2) Batas pengelolaan wilayah laut daerah kabupaten/kota sejauh
sepertiga dari wilayah laut daerah provinsi yang diukur dari
garis pantai kearah laut lepas atau perairan kepulauan.
Š3) Apabila wilayah laut antara 2 Š dua ) provinsi kurang dari 24
mil, kewenangan untuk mengelola sumber daya laut dibagi
sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari
wilayah antar 2 Šdua ) provinsi tersebut dan untuk
kabupaten/kota memperoleh 1/3 Š sepertiga ) dari wilayah
kewenangan provinsi dimaksud.
| ||       





Š1) Pengukuran dan pemetaan wilayah laut daerah


dilaksanakan oleh Tim Penetapan dan Penegasan Batas
Pusat bersama dengan Tim Penetapan dan Penegasan
Batas Daerah.
Š2) Spesifikasi teknis baku tentang pelaksanaan pengukuran,
pemetaan dan penetapan serta penegasan batas di wilayah
laut berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 1 Tahun 2006.
Š3) Batas pengelolaan wilayah laut Daerah Provinsi,
Kabupaten/Kota ditetapkan dengan Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2006.
| |
     
     





Š1) Pemerintah Daerah berwenang terhadap pemanfaatan


kekayaan laut dalam batas wilayah pengelolaan untuk
kesejahteraan masyarakat, pembangunan daerah dan
pembangunan nasional secara bertanggung jawab serta
berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan
hidup.
Š2) Pemanfaatan kekayaan laut sebagaimana dimaksud pada
ayat Š1) di atas, dilakukan secara terpadu antara pemerintah,
pemerintah daerah, masyarakat dan dunia usaha.
Š3) Tata cara dan prosedur pemanfaatan kekayaan laut
ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
| |           





Pemerintah Daerah mempunyai hak untuk memperoleh bagi


hasil yang diatur sesuai dengan peraturan dan perundang-
undangan yang berlaku dari hasil pemanfaatan Sumber Daya
Alam Š SDA ) dibawah dasar laut yang berada di daerahnya.
| |$
      
|

  !
"

  


#

Š1) Pemerintah Daerah berwenang melakukan pengendalian eksplorasi yang


mencakup kegiatan survey, pemetaan, penelitian dan penyelidikan terhadap
kekayaan laut di wilayah pengelolaannya.
Š2) Tata cara dan prosedur eksplorasi ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Š3) Pemerintah Daerah berwenang dalam pemberian izin eksplorasi untuk
kegiatan :
a. Eksplorasi sumber daya alam hayati laut;
b. Eksplorasi sumber daya mineral dan energi;
c. Eksplorasi kondisi biologi, fisik, kimia dan geologi dalam wilayah
laut;
d. Ekplorasi benda-benda peninggalan sejarah dan atau budaya;
e. Ekplorasi untuk jasa konstruksi, termasuk pembangunan pelabuhan,
pengerukan, reklamasi dan penanggulan pantai.
| |       



%

Š1) Kegiatan eksplorasi kekayaan laut yang melewati lintas


Daerah Kabupaten/Kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah
Provinsi.
Š2) Kegiatan eksplorasi kekayaan laut yang melewati lintas
wilayah Provinsi ditetapkan oleh Pemerintah.

|

&'

  


(

Š1) Pemerintah Daerah berwenang melakukan pegendalian


eksploitasi yang mencakup kegiatan pemanfaatan,
pengembangan fasilitas, pengangkutan, penyimpanan,
pengolahan dan pemasaran kekayaan laut di wilayahnya
secara bertanggung jawab.
Š2) Tata cara dan prosedur eksploitasi ditetapkan dengan
Peraturan Daerah.
| |       




Š3) Pemerintah Provinsi berwenang dalam pemberian izin


eksploitasi untuk kegiatan , antara lain:

a. Perikanan tangkap dengan mengoperasikan kapal ikan berukuran


antara lebih dari 10 sampai 30 GT sesuai dengan jumlah tangkapan
yang diperbolehkan; untuk lintas provinsi,
b. Pembudidayaan sumberdaya alam hayati laut; sesuai dengan daya
dukung lingkungan
c. Pembangunan dan pengelolaan pelabuhan perikanan Tipe C;
d. Pembangunan dan pengelolaan pelabuhan regional untuk wilayah
Provinsi;
e. Pembangunan daerah wisata bahari;
f. Pertambangan umum lepas pantai, kecuali mineral radioaktif;
g. Pengembangan kawasan industri maritim;
h. Pengendalian lingkungan hidup;
i. Pemanfaatan kekayaan laut.
j. Pengembangan pengolahan dan pemasaran hasil perikanan.
| |       




Š4) Pemerintah Kabupaten/Kota berwenang dalam pemberian izin


eksploitasi untuk kegiatan, antara lain :

a. Perikanan tangkap dengan mengoperasikan kapal ikan berukuran


kurang atau sama dengan 10 GT sesuai dengan jumlah
tangkapan yang diperbolehkan;
b. Pembudidayaan sumberdaya alam hayati laut;
c. Pembangunan dan pengelolaan pelabuhan perikanan Tipe D;
d. Pertambangan umum lepas pantai, kecuali mineral radioaktif;
e. Pengendalian lingkungan hidup;
f. Pemanfaatan kekayaan laut;
g. Pengelolaan hutan mangrove, hutan pantai, trumbu karang dan
padang lamun;
h. Pengembangan kawasan wisata alam dan jasa lingkungan.

Š5) Kewenangan±kewenangan pengelolaan oleh Pemerintah


Provinsi, Kabupaten/Kota yang tidak termasuk pada ayat Š1),
ayat Š2), ayat Š3) dan ayat Š4) diatas ditetapkan dengan
Peraturan Daerah sesuai dengan Peraturan Perundang-
undangan
| |       



)

Š1) Kegiatan eksploitasi kekayaan laut yang melewati lintas Daerah


Kabupaten/Kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah Provinsi.
Š2) Kegiatan eksploitasi kekayaan laut yang melewati lintas wilayah
Provinsi ditetapkan oleh Pemerintah.

|

!

  


 *

Pemerintah Daerah berwenang melakukan konservasi sumber


daya alam laut yang berada di wilayah kewenangannya untuk
menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan fungsi
lingkungan hidup, di luar kawasan yang telah ditetapkan oleh
Pemerintah sebagai kawasan suaka alam atau kawasan
pelestarian alam.
| |       

Š1) Kewenangan konservasi Pemerintah Daerah mencakup :


a. Melindungi dan melestarikan sumber daya alam laut
endemic dan/atau langka;
b. Melindungi dan melestarikan sumber daya alam laut bernilai
sejarah dan/atau budaya;
c. Rehabilitasi sumber daya alam laut.

Š2) Ketentuan mengenai sumber daya alam laut endemic, langka,


dilindungi serta bernilai sejarah dan/atau budaya di luar yang
telah ditetapkan oleh Pemerintah, ditetapkan dengan Peraturan
Daerah.
| |       



 
Š1) Pemerintah Daerah berwenang merencanakan, menetapkan dan
mengelola konservasi sumber daya alam laut berdasarkan
pedoman instansi teknis terkait.
Š2) Perencanaan dan penetapan kawasan konservasi sumber daya
alam laut disesuaikan dengan kebutuhan dan kesepakatan
masyarakat serta Pemerintah daerah Provinsi, Kabupaten/Kota,
yang diintegrasikan dengan kebijakan nasional melalui
musyawarah.
Š3) Kawasan konservasi sumber daya alam laut ditetapkan dengan
peraturan daerah.



 
Š1) Kegiatan konservasi sumberdaya alam laut yang melewati lintas
Daerah Kabupaten/Kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah
Provinsi.
Š2) Kegiatan konservasi sumberdaya alam laut yang melewati lintas
wilayah Provinsi ditetapkan oleh Pemerintah.
| |       

|

"+
!
      


 
Š1) Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota memiliki kewenangan atas penataan
ruang laut diwilayah pengelolaannya.
Š2) Penataan ruang laut wilayah Provinsi dan daerah Kabupaten/Kota
dilaksanakan sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan
Nomor 34 Tahun 2002.
Š3) Tata ruang laut wilayah Provinsi dan daerah Kabupaten/Kota ditetapkan
dengan peraturan daerah.


 
Š1) Tata ruang laut diwilayah Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada
Pasal 14 disusun dalam tiga kawasan, yaitu kawasan konservasi, kawasan
pemanfaatan umum dan kawasan khusus.
Š2) Penataan ruang sebagai kawasan konservasi dan kawasan pemanfaatan
umum ditetapkan dengan peraturan daerah.
Š3) Penataan ruang kawasan khusus ditetapkan oleh Pemerintah.
| |       



 #

Š1) Tata ruang laut wilayah Provinsi dituangkan dalam peta berskala 1 :
500.000 atau lebih besar.
Š2) Tata ruang laut Daerah Kabupaten dapat dituangkan dalam peta
berskala 1 : 100.000.
Š3) Tata ruang laut Daerah Kota dapat dituangkan dalam peta berskala 1 :
50.000.



 %
Š1) Dalam melaksanakan penataan ruang laut, Pemerintah Provinsi menyusun rencana
strategis pengelolaan sumber daya alam laut secara terpadu, bersifat lintas
Kabupaten/Kota dengan memperhatikan daerah aliran sungai dan kesatuan fungsional
lainnya sebagai satu kesatuan pengelolaan bersama-sama dengan Daerah
Kabupaten/Kota yang berada dalam satu wilayah Provinsi.
Š2) Perencanaan strategis sebagaimana dimaksud pada ayat Š1) di atas mencakup visi, misi
dan kebijakan Pemerintah Provinsi.
Š3) Pemerintah Kabupaten/Kota dapat menyusun rencana zonasi sumber daya alam laut
terpadu berdasarkan rencana strategis wilayah provinsi.
Š4) Rencana strategis dan rencana zonasi ditetapkan dengan Keputusan kepala Daerah.
| |       



 (

Š1) Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota menetapkan wilayah


prioritas pembangunan berdasarkan rencana strategis dan
rencana zonasi.
Š2) Pada wilayah prioritas pembangunan disusun suatu rencana
pengelolaan.



 )

Pedoman umum tentang mekanisme penyusunan rencana


strategis, rencana zonasi dan rencana pengelolaan akan diatur
lebih lanjut oleh Menteri Dalam Negeri bersama dengan instansi
terkait.
| |       



*

Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota berwenang dalam


pemberian izin pengelolaan ruang laut untuk kegiatan! antara
lain:

a. Pembudidayaan sumber daya alam hayati laut;


b. Pembangunan pelabuhan perikanan;
c. Pembangunan pelabuhan regional;
d. Pertambangan umum lepas pantai;
e. Pembangunan kawasan wisata bahari;
f. Konservasi.
| |       

|

 "

  




Š1) Pemerintah Daerah wajib melakukan penegakan hukum terhadap


semua peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh
Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang bersangkutan.
Š2) Dalam rangka penegakan hukum sebagaimana dimaksud pada
ayat Š1) diatas, Pemerintahan Daerah dapat membentuk unit
pengawasan dan penegakan hukum di wilayah kewenangannya,
sesuai peraturan perundang-undangan.
Š3) Pemerintah Daerah wajib melakukan pemeriksaan dan
penindakan secara hukum oleh Pejabat Penyidik Pegawai Negeri
Sipil ŠPPPNS) sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Š4) Dalam rangka penegakan hukum Pemerintah Daerah
berkoordinasi dengan instansi terkait sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
| |       





Š1) Bentuk penegakan hukum sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 21, meliputi tindakan hukum secara preventif dan
administratif.
Š2) Penegakan hukum secara preventif dilakukan melalui
penyuluhan dan penyebarluasan informasi hukum.
Š3) Penegakan hukum secara administratif dilakukan dengan
memberikan peringatan, teguran sampai dengan pencabutan
izin.
| |$
|         
    





Pemerintah Daerah wajib memberikan dukungan bantuan


penegakan keamanan dan kedaulatan negara di wilayah laut atas
segala bentuk ancaman dari dalam maupun dari luar negara
sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.
| |$
,         
|

  !
"

,  



Š1) Dalam melaksanakan kewenangan eksplorasi dan eksploitasi kekayaan laut,
Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota dapat bekerjasama dengan
lembaga/instansi/badan/pemerintah terkait, lembaga penelitian/perguruan tinggi,
kelompok swadaya masyarakat atau dunia usaha.
Š2) Dalam melaksanakan kewenangan konservasi sumber daya alam laut, Pemerintah
Provinsi, Kabupaten/Kota dapat bekerjasama dengan lembaga/instansi/
badan/pemerintah terkait, lembaga penelitian/perguruan tinggi, kelompok swadaya
masyarakat atau dunia usaha.
Š3) Dalam melaksanakan kewenangan penataan ruang laut, Pemerintah Provinsi,
Kabupaten/Kota dapat bekerjasama dengan lembaga/instansi/badan/pemerintah
terkait, lembaga penelitian/perguruan tinggi, kelompok swadaya masyarakat atau
dunia usaha.
Š4) Bentuk kerjasama antara Pemerintah Daerah dengan
lembaga/instansi/badan/pemerintah terkait, lembaga penelitian/perguruan tinggi,
kelompok swadaya masyarakat atau dunia usaha diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Daerah.
| |         





Š1) Dalam melaksanakan kewenangan pengelolaan eksplorasi


dan eksploitasi kekayaan laut, antar Pemerintah Provinsi,
Kabupaten/Kota dapat saling bekerjasama.
Š2) Dalam melaksanakan kewenangan pengelolaan konservasi
sumber daya alam laut dan penataan ruang laut, Pemerintah
Provinsi, Kabupaten/Kota dapat saling bekerjasama.
Š3) Prosedur dan tata cara kerjasama sebagaimana dimaksud
pada ayat Š1) dan Š2) diatur dalam naskah kerjasama yang
mengikat masing-masing Daerah.
| |         

|

&'

    


#

Š1) Dalam melaksanakan kewenangan pengelolaan eksplorasi


dan eksploitasi kekayaan laut, Pemerintah Provinsi,
Kabupaten/Kota dapat bekerjasama dengan badan/lembaga
luar negeri.
Š2) Dalam melaksanakan kewenangan pengelolaan konservasi
sumber daya alam laut, Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota
dapat bekerjasama dengan badan/lembaga luar negeri.
Š3) Prosedur dan tata cara kerjasama sebagaimana dimaksud
pada ayat Š1) dan Š2) diatur dengan Peraturan Daerah sesuai
dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku.
| |         



%

Š1) Dalam hal terjadi perselisihan antara satu Pemerintah


Kabupaten /Kota dengan Pemerintah Kabupaten/Kota lainnya
dalam satu Wilayah Provinsi diselesaikan oleh Gubernur
selaku wakil Pemerintah.
Š2) Dalam hal terjadi perselisihan antara satu Pemerintah
Kabupaten/Kota dengan Pemerintah Kabupaten/Kota lainnya
yang berbeda Provinsi, dan antara satu wilayah Provinsi
dengan wilayah Provinsi lainnya, diselesaikan oleh Menteri
Dalam Negeri .
| |$
|       



(

Š1) Dalam hal pemberdayaan, Pemerintah Daerah dapat


melibatkan Desa/Kelurahan dalam pengelolaan kekayaan laut
kepada Pemerintahan Desa/Kelurahan.
Š2) Prosedur dan tata cara pelibatan pengelolaan sebagaimana
dimaksud dalam ayat Š1), diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Kepala Daerah.
| |$
      



)
Š1) Pemerintah Daerah wajib memperhatikan dan mengikutsertakan
masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan eksplorasi dan
eksploitasi kekayaan laut, konservasi sumberdaya alam laut, dan
penataan ruang laut.
Š2) Pemerintah Daerah wajib dalam melakukan eksploitasi kekayaan laut,
serta konservasi sumber daya alam laut kecuali sumber daya alam laut
endemic, langka dan yang dilindungi, selain berpedoman kepada
peraturan perundang-undangan juga wajib memperhatikan hukum adat
dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat setempat.



*

Pemerintah Daerah wajib melindungi dan membina masyarakat/nelayan


tradisional dalam mengeksploitasi kekayaan laut di Daerah bersangkutan
dengan memperhatikan kelestarian lingkungan.
| |-
|      




Menteri Dalam Megeri melakukan pembinaan dan pengawasan umum
kepada Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan kewenangan
pengelolaan Pemerintah Daerah di wilayah laut.





Š1) Pemerintah Daerah menyampaikan laporan pelaksanaan penyelenggaraan


kewenangan pengelolaan Pemerintah Daerah di wilayah laut.
Š2) Bentuk laporan penyelenggaraana sebagaimana dimaksud dalam ayat Š1)
ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri.




Pelaksanaan kewenangan pengelolaan Pemerintah Daerah di wilayah laut
dievaluasi oleh Menteri Dalam Negeri.
| |-





Peraturan Menteri Dalam Negeri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di JAKARTA
pada tanggal

  .

!&

// 0./