Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

GONORE (Kencing Nanah)

Disusun oleh :
1. Agung Purwoto
2. Agus Setiawan
3. Ayu Linda Suryani
4. Heti Purwantiningsih
5. Ratna junita Sari

PRODI D3 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
“INSAN CENDEKIA MEDIKA“
JOMBANG
2009/2010

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul
”GONORE” tepat pada waktunya. Makalah ini memaparkan tentang penyakit
gonore. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada para
mahasiswa tentang apa dampak dari penyakit gonore penularannya melalui ciuman
dan kontak seks.
Penulis mengakui dan menyadari bahwa makalah ini tidak akan selesai
tanpa bantuan orang lain. Penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Maharani selaku dosen pembimbing mata kuliah Sistem Integumen
2. Orang tua penulis yang memberikan dorongan dan doa.
3. Serta pihak-pihak lain yang membantu penulis untuk menyelesaikan tugas
makalah ini.
Dalam kerendahan hati penulis mengakui dan menyadari bahwa penyusunan
ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun
sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan tugas kami selanjutnya.

Jombang, Oktober 2010

Tim Penulis

ii
2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 latarbelakang....................................................................................1
1. 2 Rumusan Masalah...........................................................................2
1. 3 Tujuan.............................................................................................2
1. 4 Manfaat...........................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian........................................................................................3
2.2 Etiologi.............................................................................................4
2.3 Tanda dan gejala..............................................................................4
2.4 Komplikasi.......................................................................................5
2.5 Diagnosa..........................................................................................6
2.6 Pengobatan.......................................................................................6
2.7 Patogenesis.......................................................................................7
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
3. 1 Diagnosa dan Intervensi..................................................................8
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan....................................................................................12
4.2 Saran..............................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................13

iii
3

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit menular seksual (PMS) dimaksudkan sebagai penyakit yang ditularkan
secara langsung dari seseorang ke orang lain melalui kontak seks. Namun
penyakit gonore ini dapat juga ditularkan melalui ciuman atau kontak badan yang
dekat. Kuman patogen tertentu yang mudah menular dapat ditularkan melalui
makanan, transfusi darah, alat suntik yang digunakan untuk obat bius.
Penyakit menular seksual juga disebut penyakit venereal merupakan penyakit
yang paling sering ditemukan di seluruh dunia. Pengobatan penyakit ini efektif dan
penyembuhan cepat sekali. Namun, beberapa kuman yang lebih tua telah menjadi kebal
terhadap obat-obatan dan telah menyebar ke seluruh dunia dengan adanya banyak
perjalanan yang dilakukan orang-orang melalui transportasi udara.
Pengendalian penyakit menular seksual ini adalah dengan meningkatkan
keamanan kontak seks dengan menggunakan upaya pencegahan. Salah satu di antara
PMS ini adalah penyakit gonore yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae
yang menginfeksi selaput lendir saluran kencing, leher rahim, dubur dan tenggorokan
atau selaput lendir Gonore adalah PMS yang paling sering ditemukan dan paling
mudah ditegakkan diagnosisnya. Nama awam penyakit kelamin ini adalah “kencing
nanah”. Masa inkubasi 3-5 hari.
Gonore adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria
gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum dan
tenggorokan atau bagian putih mata (konjungtiva). Gonore bisa menyebar melalui
aliran darah ke bagian tubuh lainnya, terutama kulit dan persendian. Pada wanita,
gonore bisa naik ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam panggul
sehingga timbul nyeri panggul dan gangguan reproduksi.
• Kuman : Neisseria gonorrhoea
• Perantara : manusia
• tempat kuman keluar : penis, vagina, anus, mulut
• cara penularan : kontak seksua langsung
• tempat kuman masuk : penis, vagina, anus, mulut
1
4
• yang bisa terkena : orang yang berhubungan seks tak aman
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan gonorea?
2. Bagaimana etiologi dari gonorea?
3. Bagaimana patogenesis dari gonorea?
4. Apa komplikasi dari gonorea?
5. Bagaimana cara pengobatan gonorea?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa penyakit dari gonorea.
2. Untuk mengetahui etiologi dari gonorea.
3. Untuk mengetahui patogenesis dari gonorea.
4. Untuk mengetahui komplikasi dari gonorea.
5. Untuk mengetahui cara pengobatan dari gonorea.
1.4 Manfaat
Manfaat makalah ini adalah untuk membantu mahasiswa agar mengerti apa itu
penyakit gonorea atau penyakit menular seks yang disebkan oleh bakteri ghonorreae.
Dengan demikian supaya mahasiswa lebih hati-hati dalam bergaul karena penyakit
tersebut menular melalui ciuman dan kontak seks.

2
5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian

Gonore (GO) adalah penyakit menular seksual (PMS) yang disebabkan oleh
kuman yang bernama Neisseria Gonorrhoaea yang menginfeksi lapisan dalam uretra,
leher rahim, rektum (usus bagian bawah), tenggorokan maupun bagian putih mata
(Gonorhoaea Conjugtiva). Gonore bisa menyebar melalui aliran darah kebagian tubuh
lainya terutama kulit dan persendian. Pada wanita, gonore bisa naik ke saluran kelamin
dan menginfeksi selaput didalam panggul sehingga menimbulkan nyeri panggul dan
gangguan reproduksi.
6
Selama beberapa abad bermacam nama telah digunakan untuk
mendeskripsikan infeksi yang disebabkan oleh N gonorrhoeae ini diantaranya;
‘strangury’ yang digunakan oleh Hipocrates. Penamaan gonore sendiri diberikan oleh
Galen (130 SM) untuk menggambarkan eksudat uretra yang sifatnya seperti aliran air
3
mata (flow of seed) dan M. Neisser dikenalkan oleh Albert Neisser yang menemukan
mikroorganisme tersebut pada tahun 1879 dari pewarnaan apusan yang diambil dari
vagina, uretra dan eksudat konjungtiva.
2.2 Etiologi
gonorrhoeae adalah bakteri yang tidak dapat bergerak, tidak memiliki spora,
jenis diplokokkus gram negatif dengan ukuran 0,8 – 1,6 mikro. Bakteri gonokokkus
tidak tahan terhadap kelembaban, yang cenderung mempengaruhi transmisi seksual.
Bakteri ini bersifat tahan terhadap oksigen tetapi biasanya memerlukan 2-10% CO2
dalam pertumbuhannya di atmosfer. Bakteri ini membutuhkan zat besi untuk tumbuh
dan mendapatkannya melalui transferin, laktoferin dan hemoglobin. Organisme ini
tidak dapat hidup pada daerah kering dan suhu rendah, tumbuh optimal pada suhu 35-
37° dan pH 7,2-7,6 untuk pertumbuhan yang optimal.
Gonokokkus terdiri dari 4 morfologi, type 1 dan 2 bersifat patogenik dan type
3 dan 4 tidak bersifat patogenik. Tipe 1 dan 2 memiliki pili yang bersifat virulen dan
terdapat pada permukaannya, sedang tipe 3 dan 4 tidak memiliki pili dan bersifat non-
virulen. Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi radang.

2.3 Tanda dan gejala


Pada pria, gejala awal biasanya timbul dalam waktu 2-7 hari setelah terinfeksi.
Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra, yang beberapa jam kemudian
diikuti oleh nyeri ketika berkemih dan keluarnya nanah dari penis. Penderita sering
berkemih dan merasakan desakan untuk berkemih, yang semakin memburuk ketika
penyakit ini menyebar ke uretra bagian atas. Lubang penis tampak merah dan
membengkak.
Pada wanita, gejala awal bisa timbul dalam waktu 7-21 hari setelah terinfeksi.
Penderita wanita seringkali tidak menunjukkan gejala selama beberapa minggu atau
bulan, dan diketahui menderita penyakit ini hanya setelah mitra seksualnya tertular.

4
Jika timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Tetapi beberapa penderita menunjukkan
gejala yang berat, seperti desakan untuk berkemih, nyeri ketika berkemih, keluarnya
cairan dari vagina dan demam. Infeksi bisa menyerang leher rahim, rahim, saluran
telur, indung telur, uretra dan rektum; menyebabkan nyeri pinggul yang dalam atau
nyeri ketika melakukan hubungan seksual. Nanah yang keluar bisa berasal dari leher
rahim, uretra atau kelenjar di sekitar lubang vagina.
Wanita dan pria homoseksual yang melakukan hubungan seksual melalui anus
(lubang dubur) bisa menderita gonore pada rektumnya. Penderita merasakan tidak
nyaman di sekitar anusnya dan dari rektumnya keluar cairan. Daerah di sekitar anus
tampak merah dan kasar, tinjanya terbungkus oleh lendir dan nanah.
Pada pemeriksaan dengan anaskop akan tampak lendir dan cairan di dinding
rektum penderita. Melakukan hubungan seksual melalui mulut (oral sex) dengan
seorang penderita gonore bisa menyebabakn gonore pada tenggorokan (faringitis
gonokokal). Biasanya infeksi ini tidak menimbulkan gejala, tetapi kadang
menyebabkan nyeri tenggorokan dan gangguan menelan. Jika cairan yang terinfeksi
mengenai mata maka bisa terjadi infeksi mata luar (konjungtivitis gonore).
Bayi baru lahir bisa terinfeksi oleh gonore dari ibunya selama proses
persalinan, sehingga terjadi pembengkakan pada kedua kelopak matanya dan dari
matanya keluar nanah. Pada dewasa, bisa terjadi gejala yang sama, tetapi seringkali
hanya 1 mata yang terkena.Jika infeksi ini tidak diobati bisa terjadi kebutaan.
Penderita pria biasanya mengeluhkan sakit pada waktu kencing. Dari mulut
saluran kencing keluar nanah kental berwarna kuning hijau. Setelah beberapa hari
keluarnya nanah hanya pada pagi hari, sedikit dan encer serta rasa nyeri berkurang.
Bila penyakit ini tidak diobati dapat timbul komplikasi berupa peradangan pada alat
kelamin. Pada wanita, penyakit ini tidak menunjukkan gejala yang jelas atau bahkan
tidak menimbulkan keluhan sama sekali, sehingga wanita mudah menjadi sumber
penularan GO. Kadang penderita mengeluh keputihan dan nyeri waktu kencing.

2.4 Komplikasi
Dapat timbul komplikasi berupa bartolitis, yaitu membengkaknya kelenjar
Bartholin sehingga penderita sukar jalan karena nyeri. Komplikasi dapat ke atas

5
menyebabkan kemandulan, bila ke rongga perut menyebabkan radang di perut dan
usus. Selain itu baik pada wanita atau pria dapat terjadi infeksi sistemik (seluruh
tubuh) ke sendi, jantung, selaput otak dan lain-lain. Pada ibu hamil, bila tidak diobati,
saat melahirkan mata bayi dapat terinfeksi, bila tidak cepat ditangani dapat
menyebabkan kebutaan.
Infeksi kadang menyebar melalui aliran darah atau beberapa sendi, dimana
sendi menjadi bengkak dan sangat nyeri, sehingga pergerakannya menjadi terbatas.
Infeksi melalui aliran darah juga bisa menyebabkan timbulnya bintik-bintik merah
berisi nanah di kulit, demam, rasa tidak enak badan atau nyeri di beberapa sendi yang
berpindah dari satu sendi ke sendi lainnya (sindroma artritis-dermatitis). Bisa terjadi
infeksi jantung (endokarditis). Infeksi pembungkus hati (perihepatitis) bisa
menyebabkan nyeri yang menyerupai kelainan kandung empedu.
2.5 Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopik terhadap
nanah dimana ditemukan bakteri penyebab gonore. Jika pada pemeriksaan
mikroskopik tidak ditemukan bakteri, maka dilakukan pembiakan di laboratorium. Jika
diduga terjadi infeksi tenggorokan atau rektum, diambil contoh dari daerah ini dan
dibuat biakan.

2.6 Pengobatan

1. Medikamentosa
Gonore biasanya diobati dengan suntikan tunggal seftriakson intramuskuler
(melalui otot) atau dengan pemberian antibiotik per-oral (melalui mulut) selama 1
minggu (biasanya diberikan doksisiklin). Jika gonore telah menyebar melalui aliran
darah, biasanya penderita dirawat di rumah sakit dan mendapatkan antibiotik
intravena (melalui pembuluh darah, infus).
o Walaupun semua gonokokus sebelumnya sangansensitif terhadap penicilin, banyak
‘strain’ yang sekarang relatif resisten. Terapi penicillin, amoksisilin, dan tetrasiklin
masih tetap merupakan pengobatan pilihan.

9
o Untuk sebagian besar infeksi, penicillin G dalam aqua 4,8 unit ditambah 1 gr
probonesid per- oral sebelum penyuntikan penicillin merupakan pengobatan yang
memadai.
o Spectinomycin berguna untuk penyakit gonokokus yang resisten dan penderita yang
peka terhadap penicillin. Dosis: 2 gr IM untuk pria dan 4 gr untuk wanita.
6
o Pengobatan jangka panjang diperlukan untuk endokarditis dan meningitis
gonokokus.
2. Non-medikamentosa
Memberikan pendidikan kepada klien dengan menjelaskan tentang:
o Bahaya penyakit menular seksual
o Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan
o Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya
o Hindari hubungan seksual sebelum sembuh dan memakai kondom jika tidak dapat
dihindari.
o Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa yang akan datang.
2.7 Patogenesis
Meskipun telah banyak peningkatan dalam pengetahuan tentang patogenesis
dari mikroorganisme, mekanisme molekular yang tepat tentang invasi gonokokkus ke
dalam sel host tetap belum diketahui. Ada beberapa faktor virulen yang terlibat dalam
mekanisme perlekatan, inflamasi dan invasi mukosa. Pili memainkan peranan penting
dalam patogenesis gonore. Pili meningkatkan adhesi ke sel host, yang mungkin
merupakan alasan mengapa gonokokkus yang tidak memiliki pili kurang mampu
menginfeksi manusia. Antibodi antipili memblok adhesi epithelial dan meningkatkan
kemampuan dari sel fagosit.
Juga diketahui bahwa ekspresi reseptor transferin mempunyai peranan penting
dan ekspresi full-length lipo-oligosaccharide (LOS) tampaknya perlu untuk infeksi
maksimal.2,3,8,9. Daerah yang paling mudah terinfeksi ialah daerah epitel kolumnar
dari uretra dan endoserviks, kelenjar dan duktus parauretra pada pria dan wanita,
kelenjar Bartolini, konjungtiva mata dan rectum. Infeksi primer yang terjadi pada
wanita yang belum pubertas terjadi di daerah epitel skuamosa dari vagina.

10

7
2.8 Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
2. Diagnosa dan Intervensi
DX. 1 Nyeri b.d reaksi infeksi.
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien akan:
- Mengenali faktor penyebab
- Menggunakan metode pencegahan non analgetik untuk mengurangi nyeri
- Menggunakan analgetik sesuai kebutuhan
- Melaporkan nyeri yang sudah terkontrol
Intervensi:
a) Kaji secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi, karakteristik, dan onset,
durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-faktor presipitasi.
b) Observasi isyarat-isyarat non verbal dari ketidaknyamanan, khususnya
ketidakmampuan untuk komunikasi secara efektif.
c) Gunakan komunikasi terapeutik agar klien dapat mengekspresikan nyeri
d) Berikan dukungan terhadap klien dan keluarga
e) Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon klien terhadap
ketidaknyamanan (ex.: temperatur ruangan, penyinaran, dll)
f) Ajarkan penggunaan teknik non farmakologik (ex.: relaksasi, guided imagery,
terapi musik, distraksi, aplikasi panas-dingin, massage, TENS, hipnotis, terapi
aktivitas)
g) Berikan analgesik sesuai anjuran
h) Tingkatkan tidur atau istirahat yang cukup
i) Evaluasi keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri yang telah digunakan.
DX. 2 Hipertermi b.d reaksi inflamasi
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien akan:
- Suhu dalam rentang normal
- Nadi dan RR dalam rentang normal
- Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing
8

11
Intervensi:
a) Monitor vital sign
b) Monitor suhu minimal 2 jam
c) Monitor warna kulit
d) Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
e) Selimuti klien untuk mencegah hilangnya panas tubuh
f) Kompres klien pada lipat paha dan aksila
g) Berikan antipiretik bila perlu
DX. 3 Perubahan pola eliminasi urin b.d proses inflamasi
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien akan:
- Urin akan menjadi kontinens
- Eliminasi urin tidak akan terganggu: bau, jumlah, warna urin dalam rentang yang
diharapkan dan pengeluaran urin tanpa disertai nyeri
Intervensi:
a) Pantau eliminasi urin meliputi: frekuensi, konsistensi, bau, volume, dan warna
dengan tepat
b) Rujuk pada ahli urologi bila penyebab akut ditemukan
DX . 4 Cemas b.d penyakit
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien akan:
- Tidak ada tanda-tanda kecemasan
- Melaporkan penurunan durasi dan episode cemas
- Melaporkan pemenuhan kebutuhan tidur adekuat
- Menunjukkan fleksibilitas peran
Intervensi:
a) Kaji tingkat kecemasan dan reaksi fisik pada tingkat kecemasan (takikardi,
takipneu, ekspresi cemas non verbal)
b) Temani klien untuk mendukung kecemasan dan rasa takut
c) Instruksikan klien untuk menggunakan teknik relaksasi
d) Berikan pengobatan untuk menurunkan cemas dengan cara yang tepat
9

12
e) Sediakan informasi aktual tentang diagnosa, penanganan, dan prognosis
DX. 5 Risiko penularan b.d kurang pengetahuan tentang sifat menular dari
penyakit
Tujuan:
Dapat meminimalkan terjadinya penularan penyakit pada orang lain
Intervensi:
Berikan pendidikan kesehatan kepada klien dengan menjelaskan tentang:
- Bahaya penyakit menular
- Pentingnya memetuhi pengobatan yang diberikan
- Jelaskan cara penularan PMS dan perlunya untuk setia pada pasangan
- Hindari hubungan seksual sebelum sembuh dan memakai kondom jika tidak
dapat menghindarinya.
DX. 6 Harga diri rendah b.d penyakit
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien akan mengekspresikan pandangan
positif untuk masa depan dan memulai kembali tingkatan fungsi sebelumnya
dengan indikator:
- Mengindentifikasi aspek-aspek positif diri
- Menganalisis perilaku sendiri dan konsekuensinya
- Mengidentifikasi cara-cara menggunakan kontrol dan mempengaruhi hasil
Intervensi:
a) Bantu individu dalam mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan
b) Dorong klien untuk membayangkan masa depan dan hasil positif dari kehidupan
c) Perkuat kemampuan dan karakter positif (misal: hobi, keterampilan,
penampilan, pekerjaan)
d) Bantu klien menerima perasaan positif dan negative
e) Bantu dalam mengidentifikasi tanggung jawab sendiri dan kontrol situasi

10
13
Apa Perawatan Untuk Gonore
Gonore adalah penyakit menular seksual. Ini adalah
penyakit yang sangat menular di alam. Ini dapat
mempengaruhi laki-laki maupun perempuan. Tebal
keluar dari penis atau vagina adalah lazim.

Seiring dengan organ reproduksi laki-laki dan perempuan kelamin, anus, tenggorokan,
mata, darah, kulit dan sendi juga dapat dipengaruhi. Setelah melalui tes gonore, orang
dapat pergi untuk perawatan yang diperlukan seperti yang ditentukan oleh dokter. Pada
tahap awal atau periode, satu dosis antibiotik dianjurkan. Hal ini sangat mungkin untuk
memiliki klamidia (STI lain) bersama dengan gonore. Bahkan, sangat umum bagi
seseorang untuk memiliki kedua infeksi. Untuk menghindari infeksi ulang dianjurkan
bahwa pasangan seksual yang terlibat juga harus menjalani perawatan. Hal ini juga
penting untuk tidak menikmati hubungan seks vaginal, oral atau anal seks sampai
perawatan selesai dan infeksi sembuh dari akarnya.

Jika tidak ada tanda-tanda penyembuhan bahkan setelah pengobatan dimulai, infeksi
gonore lain mungkin telah mempengaruhi tubuh, atau pengobatan mungkin telah gagal.
Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa bakteri gonorrhea menjadi resisten terhadap
antibiotik, dan sebagai akibat antibiotik yang diresepkan tidak lagi dapat membunuh
bakteri. Dalam situasi demikian sangat disarankan untuk pergi dalam tes kencing nanah
lagi dan mulai beberapa antibiotik lainnya. Setelah perawatan selesai, infeksi gonore
tidak akan kembali kecuali infeksi baru diangkat. Tetapi harus diingat bahwa pengobatan
yang tepat jika tidak diikuti, gonore dapat menyebar melalui berbagai cara seperti melalui
aliran darah ke bagian lain dari tubuh dan menyebabkan kerusakan serius dan masalah.

11
14
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Gonore (GO) adalah penyakit menular seksual (PMS) yang disebabkan oleh
kuman yang bernama Neisseria Gonorrhoaea yang menginfeksi lapisan dalam uretra,
leher rahim, rektum (usus bagian bawah), tenggorokan maupun bagian putih mata
(Gonorhoaea Conjugtiva). Gonore bisa menyebar melalui aliran darah kebagian tubuh
lainya terutama kulit dan persendian. Pada wanita, gonore bisa naik ke saluran kelamin
dan menginfeksi selaput didalam panggul sehingga menimbulkan nyeri panggul dan
gangguan reproduksi.
Gonore biasanya diobati dengan suntikan tunggal seftriakson intramuskuler
(melalui otot) atau dengan pemberian antibiotik per-oral (melalui mulut) selama 1
minggu (biasanya diberikan doksisiklin).
3.2 Saran
Saran dari kelompok kami semoga dari pembuatan makalah ini banyak membantu
dalam pencegahan maupun dalam pengobatan . meskipun kami ketahui makalah
yang kami susun ini jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu dimohon saran dan
kritiknya demi tercapainya pembuatan makalah yang brikutnya lebih baik.

12
15
DAFTAR PUSTAKA
1. Doenges Marilynn E, Moorhouse mary F, Geissler Alice C. Rencana Asuhan
Keperawatan. Edisi Ke tiga, Penerbit Buku Kedokteran. 1999.
2. Http://gonore/Gonore%201.webarchive.html
3. Http://gonore/gonore-go.html
4. Http://gonore/gonore-kencing-nanah.html

13

16