Anda di halaman 1dari 17

Nasionalisme, Konflik Etnis dan Demokrasi

Bubarnya Uni Soviet sebagai kesatuan politik bisa dipandang sebagai kebangkitan
Etno-nasionalisme terhadap dominan etnis Rusia di dalam formasi kenegaraan yang
lama. Ia mungkin merupakan bentuk lain dari rapuhnya hasil-hasil pendekatan paksaan
dan penindasan yang menjadi proyek nasionalisme Soviet. Peristiwa yang
menghentakkan dunia kemudian berlanjut dengan runtuhnya komunisme di Eropa Timur.
Menurut Francis Fukuyama, drama itu adalah proses pemenuhan pesan profetis Hegelian,
‘The End Of History’, yang berwujud kemenangan Kapitalisme dan demokrasi Liberal di
seluruh muka bumi. Ini berarti ide demokrasi liberal berjalan sendirian, tanpa adanya
pesaing ideologis yang dapat bertahan terus. Dengan demikian, tahapan pasca sejarah
perkembangan manusia, walaupun meungkin dapat membosankan, telah tiba, dan tidak
ada ancaman terhadap kekuasaan demokrasi liberal.
Tetapi glorifikasi yang berlebihan atas peristiwa di Eropa itu kemudian terbukti
tidak seluruhnya meyakinkan kita akan keberhasilan transformasi politik. Kemenangan
awal society di Eropa dihadapkan pada kenyataan yang ironis berupa hancurnya sendi-
sendi nasionalisme: persatuan, toleransi dan saling menghargai diantara kelompok-
kelompok yang berbeda suku, agama dan ras, kenyataan ini menunutut kita untuk
memikirkan kembali tentang hubungan antara demokratisasi dengan nasionalisme.
Adakah jalan lagi berlangsungnya rekonstruksi yang bersifat permanen diantara
keduanya ? Pertanyaan-pertanyaan ini layak diajukan mengingat adanya kecenderungan
lain yang juga nampak seiring dengan kemenangan Awal Society di Eropah, adalah
lahirnya bentuk-bentuk nasionalisme yang berdasarkan pada suku dan agama. Kematian
rezim totaliter tidak secara langsung melahirkan demokrasi. Bahkan, dalam banyaknya
kasus, berakhirnya rezim komunis justeru mengawali praktek otomarnisme lain yang
berkiprah pada nasionalisme yang sempit itu, sebagaimana terjadi di bekas wilayah
Yugoslavia. Apa yang kita saksikan melalui pertikaian segitiga antar-suku dan agama
(Serbia, Bosnia dan Kroasia) disana, seakan-akan membenarkan pesimisme Hegel
tentang ketidakmampuan civil society menjamin kohesi sosialnya sendiri. Jadi, ketika
otoritas negara menurun dan masyarakat cenderung mengatur dirinya sendiri, yang terjadi
adalah kekacauaan dan perang saudara. Tuduhan bahwa masyarakat kewargaan (civil
society) tidak lebih dari satu entitas yang melumpuhkan dirinya sendiri, menjadi sesuatu
yang bukan tak berdasar.
Sementara itu, seiring dengan angin reformasi yang bertiup dan runtuhnya rezim
Soeharto yang otoriter. Kerusuhan antar suku dan agama di Indonesia terasa tidak
semakin tidak menyurut tetapi justeru sebaliknya meningkatnya. Apa yang terjadi di
Papua, Aceh, Sambas, Sampit, Maluku, NTT dan Jakarta. Sulit memungkiri kenyataan
bahwa berbagai konflik dan kerusuhan kini menjadi kecenderungan baru di masyarakat
kita. Bangsa Indonesia yang selalu dikatakan ramah-tamah, penuh toleransi dan suka
damai sejak tiga atau empat tahun yang lalu sekonyong-konyong membalik menjadi
masyarakat yang paling ganas, beringas, kejam dan kehilangan rasa kemanusiaan.
Konflik antar-etnis yang bernuansa SARA selama ini telah menelan ribuan korban jiwa,
rumah-rumah dibakar, harta-benda, terjadi pengungsian besar-besaran, kemiskinan dan

1
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com
rasa trauma, stres dan sakit hati masyarakat berkepanjangan. Sebagian warga masyarakat
korban kerusuhan antar-etnis yang bernuansa SARA bertahun-tahun menderita di
pengungsian.
Luka akibat konflik etnik sangat sulit disembuhkan. Kesedihan, trauma, luka
sosial yang mendalam, dan kesengsaraan tidak mungkin dapat disembuhkan hanya
dengan sekedar mengucapkan maaf dan bersalaman. Kematian suami, anak atau istri
dengan cara mengerikan, akan terus melekat dalam kesadaran bahkan dituturkan pada
generasi berikutnya. NKRI yang dibangun dengan didasarkan pada identitas lokal yang
primordial telah melakukan kerusuhan dan kekerasan antar-etnis. Bila kerusuhan dan
konflik etnis, bukan mustahil sejarah bangsa ini akan memasuki zaman kesukuan baru
yakni, sebuah zaman yang penuh untuk antar-identitas dan meruntuhkan NKRI. Dan
Indonesia pun tinggal kenangan. Tragis ! Tetapi ini sebuah kekonyolan karena kita tidak
mau belajar dari apa yang terjadi di Yugoslavia dan Uni Soviet terserai-berai. Sekali
pecah, itu berarti selama-lamanya.
Apakah ini berarti bahwa mimpi buruk seperti yang diramalkan oleh Samuel P.
Huntington tentang The Clash of Civilizations. Huntington berpendapat, perang masa
depan tidak lagi perang antar negara-negara nasional atau perang antara kekuatan-
kekuatan modal, tetapi perang antar peradaban. Maklum dengan globalisasi, batas negara
nasional dan batas kekuatan modal akan kabur dengan sendirinya. Yang masih ada
hanyalah batas kultural. Perbedaan peradaban inilah yang akan menjadi medan laga bagi
peperangan di masa depan (masa kini). Terutama karena perbedaan itu didukung oleh
faktor sejarah, bahasa, budaya, tradisi dan yang paling penting agama. Bahkan
Huntington berpendapat, bentrok peradaban ini merupakan ancaman terbesar terhadap
perdamaian dunia. Akan tetapi sebaliknya, tatanan internasional berdasarkan peradaban
merupakan jaminan yang sangat meyakinkan untuk melawan perang dunia.
Ada enam alasan mengapa terjadi benturan antar peradaban (1) Perbedaan antar-
peradaban, tidak hanya nyata, tetapi juga mendasar; (2) Dunia sekarang makin
menyempit. Interaksi antara orang yang berbeda peradaban semakin mengingkatkan
kesadaran tentang adanya perbedaan. (3) Proses modernisasi ekonomi dan sosial dunia
membuat orang atau masyarakat. Pencerabut dari identitas lokal mereka yang sudah
berakar dalam, selain memperlemah negara-bangsa sebagai sumber identitas mereka. (4)
Tumbuhnya kesadaran peradaban di mungkin peran ganda Barat. Di satu pihak, Barat
berada di puncak kekuatan dan di sisi lain kembalinya ke fenomena asal, sedang
berlangsung diantara peradaban-peradaban non-Barat. (5) Karakteristik dan perbedaan
Budaya kurang bisa menyatu dan karena itu kurang bisa berkompromi dibandingkan
karakteristik dan perbedaan politik dan ekonomi. (6) Regionalisme ekonomi semakin
meningkat. Maka konfigurasi komunitas internasional akan semakin ditentukan oleh
interaksi di antara tujuh atau delapan peradaban besar: Barat, Konfusian, Jepang, Islam,
Hindu, Slavia-Ortodoks, Amerika Latin dan kemungkinan peradaban Afrika. Dalam
analisis Huntington, konflik kebudayaan akan menjadi tahap terakhir dari evolusi konflik
dalam dunia modern. Selama satu setengah abad, raja-raja dan kaisar-kaisar bertarung
untuk memperluas wilayah dan kekuasaan. Kemudian muncul perang kemerdekaan
terhadap kekuatan penjajahan, dan terakhir Perang Dingin karena pertentangan ideologis.
Tetapi pendapat Huntington menimbulkan kontroversi. Kritikan terhadap
Huntington antara lain terhadap hipotesisinya yang mengasumsikan seolah-olah sebuah
kebudayaan itu merupakan suatu kesastuan yang solid. Padahal dalam kenyataannya

2
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com
setiap kebudayaan menghadapi fuksi dan pertarungan internal, yang tidak kalah
sengitnya. Diantara sesama orang Barat baik di Eropa maupun Amerika Serikat
tampaknya banyak ketegangan yang diabaikan Huntington. Seperti konflik yang berlarut-
larut antara kaum Protestan dan Katolik di Irlandia Utara. Bahkan di Amerika Serikat
sudah jelas terlihat fenomena gerakan ‘multikulturisme’ yang mengakui atau bahkan
merangkul semua peradaban versi Huntington dalam tubuh masyarakat Amerika sendiri.
Berbeda dengan Huntington, Martin van Creseld, sejarawan militer di Universitas
Hebnew, Jerusalem, berpendapat perang itu merupakan bagian dari kemanusian itu
sendiri. Perang itu merupakan ekspresi hubungan konflik antar manusia yang ingin
menang, atau dalam istilah Nietzche sebagai ekspresi the will to power, keinginan untuk
berkuasa dan menguasai.
Dalam bukunya The Transformation of War (1991), Creveld menolak anggapan
bahwa komunitas internasional tidak lagi menyaksikan perang di abad 21. Perang tidak
akan berakhir, tapi hanya memasuki pola baru. Meski jutaan manusia sudah tewas akibat
konflik berdarah di India, Nigeria, Ehtiopia, Kamboja, Afganistan, Timur Tengah, dan di
Negara Dunia ketiga lainnya, ancaman perang akan tetap berlangsung. Kajian Creveld
semakin menarik dengan ramalannya bahwa negara-kebangsaan akan ambruk justru
akibat pola baru perang abad 21, Creveld mengingatkan bahwa pemerintah dan negara-
kebangsaan perlu mengantisipasi pola perang abad 21 guna mencegah kemungkinan
bubarnya sebuah negara kebangsaan. Pola perang yang dikemukakan Creveld berbeda
dengan yang dikatakan ahli militer Prusia Carl von Clausewitz pada abad ke-19. Jika
Clausewitz menggambarkan sebuah perang semesta yang melibatkan negara-bangsa
dengan sasaran wilayah dan rakyat musuh, maka Crevelt berpendapat pola itu akan
ditinggalkan, konflik bersenjata akan terjadi di dalam negeri masing-masing atas nama
keadilan, agama, kehormatan, tanah atau upeti dalam konteks tata politik yang
terfragmentasi aksi terorois dan gerilyawan akan tetap berkembang. Aksi teroris dan
gerilyawan akan tetap berkembang.
Perang model baru ini diklasifikasikan oleh Creveld sebagai konflik intensitas
rendah. Termasuk di sini adalah terorisme, perang gerilya, perang saudara, perang agama,
perang suku, kejahatan, aksi kekerasan dan perjuangan rakyat. Secara mutlak konflik
intensitas rendah mengubah perang-perang konvensional skala besar. Konflik-konflik
senjata dalam skala kecil, tapi melebar dimana-mana sebagai tampak dinamika internal
setiap negara konflik berskala besar, apalagi perang antar negara adi kuasa tampaknya
menjadi masa lalu. Kemungkinan perang antar negara pun diduga menyurut dan kini
ancaman dalam arti potensial hanya terlihat di Korea, India-Pakistan, RRC dengan
tetangganya atau Rusia dengan negara-negara disekitarnya. Beverly Crawford dalam
bukunya The Myth of Ethnic Conflict menyebut, konflik etnik mendapat perhatian serius
karena dahsyatnya kekejaman yang menyertainya dalam membinasakan target sipil
konflik dari jenis yang sangat berbahaya bagi perdaban dan kemanusiaan ini
menunjukkan kecenderungan meningkat dari dekade de dekade.
Antara tahun 1945 – 1960, misalnya, lebih dari separuh konflik terbuka yang
menggunakan segala peralatan mesin perang diwarnai oleh konflik etnik. Angka ini naik
menjadi tiga perempat pada periode tahun 1960 – 1990. Menyangkut korban jiwa, dalam
Perang Dunia I sekitar 14 jiwa yang tewas adalah warga sipil. Dalam Perang Dunia II,
jumlahnya meroket menjadi 67 Persen. Tetapi, dalam perang tahun 1990-an, yang hampir
kesemuanya konflik etnopolitik, jumlah penduduk sipil tewas mencapai 80 persen dari

3
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com
total korban. Tahun 1995, misalnya, perang etnik di bekas Yugoslavia menyebabkan
lebih dari 200.000 orang tewas. Separuh penduduk Bosnia menjadi pengungsi, dan semua
warga turunan Serbia dipaksa meninggalkan Croatia. Di Kashmir, Sri langka,
Afghanistan, ratusan ribu manusia tewas dalam perang panjang yang sudah berlangsung
lebih satu dasawarsa itu.

Dari data negara-negara eks emperium Uni Soviet tidak kalah gawatnya. Di
Tajikistan, lebih dari 80.000 mayat bergelimpangan dalam perang saudara. DI Chechnya,
diperkirakan 100.000 penduduk tewas setelah Moskaw tidak henti-hentinya
memborbardir kota-kota penting di wilayah Muslim ini. Hujan rudal, alteri berat dan
serangan udara, membuat Chechnya compang-camping. Perang juga tidak bisa dihindari
rakyat dan Pemerintah Uzbekistan, Georgia, Nagorno Karabakh, dan negara tetangganya.
Di Afrika, sedikitnya empat juta orang tewas, 16 juta kehilangan tempat tinggal dan 24
juta mengungsi dalam perang etnik satu dekade terakhir. Di Liberia, Afrika Barat, perang
saudara yang berkecamuk sejak tahun 1990, telah menghabiskan sedikitnya 200.000
orang tewas, ratusan ribu lainnya cedera, dan 1,5 juta jiwa dari total 2,5 juta jiwa
penduduknya hidup di kamp-kamp pengungsi. Perang antar kelompok etnik yang
berlangsung sekitar lima tahun, memporak-porandakan rumah-rumah penduduk,
perkantoran, sekolah, jembatan, rumah sakit, tempat ibadah, dan pusat-pusat
perekonomian.
Di Somalia, sesama kelompok Muslim bertarung dengan menggunakan segala
peralatan yang paling efektif membinasakan manusia. Mereka terbagi dalam kelompok-
kelompok suku yang disebut kabila. Di Kongo, Presiden Laurent Kabila, mantan
pemimpin pemberontak yang baru menikmati kemenangan, tewas tersingkir ditembak
bawahannya. Peristiwa ini membuat sirna harapan berikutnya perang saudara yang sudah
berlangsung sejak tahun 1962. Tidak ada perang yang lebih dahsyat ketimbang jenis
pertempuran antar kelompok etnik. Pembunuhan massal hingga pemusnahan kelompok
lawannya merupakan target masing-masing pihak, walau tidak pernah dinyatakan secara
terbuka. Begitu pemicu konflik dilepas, segala sektor bergerak secara otomatis. Ibarat
badai raksasa gerakan ini menggulung dan menghempaskan apa saja yang merintanginya
tidak peduli wanita, bayi, atau orang tua, semua dimusnahkan.
Konvensi Genewa yang diakui semua negara dalam pengaturan perang, dicabik-
cabik ketika masing-masing kelompk etnik saling gempur. Clausewitz, bapak strategi
perang modern, barangkali tidak pernah, membayangkan adanya jenis perang yang
demikian mengerikan. Celakanya lagi, menjelang pembukaan abad XXI kekejaman itu
justru terjadi di pusat peradaban, Eropa. Itulah Perang Balkan yang dahsyat. Suatu hal
yang tidak terbayang pada dua dekade silam. Sama halnya tamatnya Uni Soviet dan
pecahnya perang saudara di hampir semua dari 15 negara baru yang membelah imperium
Negara Tirai Besi itu. Untuk memahami proses terbentuknya bangsa, kita perlu
membahas konsep Imagined Community yang dicetuskan Benedict Anderson (1983).
Menurutnya rasa kebangsaan terbentuk lewat proses imaginasi komunitas-komunitas
membayangkan kesamaan-kesamaan antara anggota-anggota masyarakatnya. Simbol-
simbol itu bisa berupa simbol-simbol etnis, kebangsaan, informasi, pendidikan, gaya
hidup dan lain-lain. Hanya masyarakat desa saja yang bukan imagined community,
karena mereka mengkomunikasikan secara langsung simbol-simbol budaya tertentu

4
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com
komunitas etnis pun merupakan komunitas yang terimaginasi karena mereka tidak
bertemu secara face to face dengan desa-desa satu etnis tetapi berjauhan.
Clifford Geertz (1963) menyebutkan bahwa suatu negara dibangun atas
persamaan nasib. Sedangkan bangsa adalah sekelompok besar orang yang punya
keinginan untuk bersatu karena punya banyak persamaan sejarah. Sebuah bangsa
didalamnya terdiri dari berbagai kelompok primordial (etnis, ras, agama) dengan
budayanya masing-masing. Etnik atau Athnos bahasa Yunani mengacu pada suatu
pengertian (identik) pada dasar geografis dalam suatu batas-batas wilayah dengan sistem
poitik tertentu, kata etnis menjadi suatu predikat terhadap identitas seseorang atau
kelompok. Seseorang atau kelompok yang menjadi Jawa, Bugis, Sunda, Inggris, Belanda
atau Afrika mendapat predikat-predikat itu tanpa disadari pada awalnya. Seseorang tidak
bisa menolak menjadi Afrika, atau menjadi Madura, Papua, Cina, sekaligus juga tidak
bisa menjadi Jawa, Batak atau Melayu dan sebagainya. Predikat tersebut menjadi suatu
yang taken for granted sedari awal penciptaan (kelahiran). Etnisitas merupakan kategori-
kategori yang diterapkan pada kelompok atau kumpulan orang yang dibentuk dan
membentuk dirinya dalam kebersamaan atau kolektivitas. Lebih menunjuk pada
kolektivitas daripada individual. Ikatan-ikatan etnis terwujud dalam kumpulan orang,
kelengkapan-kelengkapan primordial seperti derajat, martabat, bahasa, adat istiadat dan
atau kepercayaan dibebankan atas setiap anggota yang dilahirkan dalam kelompok
tersebut dan menjadikannya serupa dengan anggota kelompok yang lain.
Menurut Erickson (1993), etnisitas tidak merujuk pada suatu komunitas etnik
tetapi ia merupakan hasil hubungan etnis. Hubungan mana terjadi karena proses
pengidentifikasian simbol-simbol kami (we) sebagai apa yang bukan mereka (them).
Identitas ke-kita-an diperoleh semata-mata dari penegasian sifat-sifat etnis ‘bukan kita’.
Jadi bukan karena sifat-sifat dan filsafat hidup etnisitas ‘kita’ itu betul-betul obyektif ada.
Dekontruksi konsep etnisitas ini merupakan sumbangan Erickson yang penting. Selama
ini kita ketahui kebudayaan etnis setidak-tidaknya harus memenuhi tujuh ciri
kebudayaan. Nilai-nilai, filsafat hidup, bahasa dan lain-lain itu berubah-ubah sepanjang
masyarakat ingin memakainya ingin menambah atau mengurangi isinya. Biasanya narasi-
narasi kebangsaan ini berubah ketika ada kekuasaan yang memiliki otoritas terhadap
makna. Erickson mengidentifikasikan kecenderungan fenomena etnisitas di Zaman
sekarang melulu di motivasi kompetisi sumber daya alam dan akses politik, dalam mana
simbol-simbol etnis dan agama dimanfaatkan secara ambigu. Pola-pola tersebut tidak ada
bedanya dengan perilaku elite nasionalis yang menggunakan klaim identitas budaya
sebagai legitimasi klaim atas teritori/kepentingan material lainnya. Dengan memahami
bahwa sentimen keetnisan bekerja seperti pola-pola nasionalisme yang dikritisinya, maka
fenomena keetnisan akan menjadi alternatif peradaban yang bakal membawa kesuraman.
Keragaman etnik memang banyak menimbulkan konsekuensi. Salah satunya
semakin menguatnya simbol-simbol identitas. Oleh Rupesinghe (1994), identitas sering
didefinisikan sebagai perasaan yang kekal tentang kedirian, bagian yang menjadikan
hidup dapat diramalkan. Dengan pengertian seperti itu, penguasaan identitas pada diri
individu ataupun sekelompok orang sangat memungkinkan berubah menjadi sebuah
konflik ketika bersinggungan dengan identitas-identitas lainnya. Rupesinghe juga
menegaskan di antara jenis-jenis, ideologi dan lainnya, seperti konflik ras, ideologi dan
lainnya, konflik identitas merupakan konflik yang paling gampang menyebar dan paling
keras. Di samping itu, konflik identitas pun seringkali berwujud kekerasan, baik

5
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com
kekerasan struktural maupun fisik. Akibatnya, secara fisik korban yang ditimbulkannya
pun tidak dapat disepelekan lagi, mengingat ribuan jiwa musnah dalam waktu yang
singkat. Orang tidak harus menjadi tua atau sakit-sakitan untuk mati, tetapi cukup
denganmenghancurkan sebuah simbol identitas milik kelompok tertentu.
Sisi lain, simbol identitas mampu menjadi sebuah kekuatan revolusioner yang
serta merta merubah prilaku, adat istiadat dan tatanan sosial sebuah kelompok sosial
ketika terjadi perang antara etnik Melayu, Sambas melawan Madura, misalnya, kain ikat
kepala berwarna kuning tiba-tiba menjadi sebuah simbol identitas yang paling bermakna
untuk menggalang massa dan menuntut keputuhan indidiviu kepada kelompok. Ketika
kerusuhan melanda Jakarta simbol berupa tulisan ‘Betawi’ dan ‘Pribumi’ yang diguratkan
pada pintu-pintu pertokoan menejadi lebih bermakna ketimbang memagari sekuat dan
setinggi mungkin pintu tersebut. Di Ambon, penegasan wilayah lebih tegas lagi
dilakukan untuk memaknai wilayah putih untuk kaum Muslim dan wilayah merah untuk
kaum Kristen, yang berimplikasi sangat penting bagi kelangsungan hidup penduduk di
sana.
Penguatan identitas yang acapkali menimbulkan konflik tidak timbul dengan
sendirinya. Dari segenap peristiwa yang terakhir dengan kekerasan tersebut, paling tidak
didorong oleh beberapa faktor lain menyangkut faktor pendukung, akar persoalan,
maupun sumbu dan pemicu. Munculnya faktor-faktor yang menfasilitasi sebuah konflik
biasanya tidak lepas dari peran penguasa. Hal demikian terjadi mengingat, akses terhadap
pengelolahan sumber daya tidak lepas dari wewenang penguasa. Dengan demikian,
sedikitnya saja sebuah kelompok menganggap terjadi suatu ketidakadilan bagi
kelompoknya, saat itu pola benih-benih konflik tersebut terakumulasi, semakin besar
penguatan-penguatan identitas kelompok, yang pada saatnya nanti akan meledak menjadi
konflik terbuka.
Bangkitnya Komunisme ini dan tentu saja berakhirnya pertentangan dua ideologi
yang dulu begitu signifikansi mewarnai peta politik global – justru memberikan ruang
yang semakin luas bagi bekerjanya dan kekuasaan yang saling berlawanan: kekuatan
‘sentripental’ universialisasi budaya global di satu sisi, dan kekuatan ‘sentrifugal’
fortifikasi di sisi lain. Kekuatan yang pertama akan mendorong pembentukan budaya
global-sistem nilai, perilaku, gaya hidup yang semakin universal dan mengerucut menjadi
satu format budaya yang koheren dan homogen. Sementara kekuasaan kedua merupakan
ekspresi perlawanan dan mekanisme ‘pertahan diri’ terhadap serangan yang demikian
insentif dari arus besar universalisasi dan penyeragam budaya global tersebut kalau
universalisasi mendorong terbentuknya homogenitas budaya global, maka fortifikasi ini
justru mendorong terjadinya ‘pembelahan-pembelahan’ budaya global menjadi fragmen-
fragmen kecil yang pada akhirnya tentu saja akan mengarah pada pluralitas dan
keberagaman. Karena fortifikasi ini budaya global pada gilirannya akan membentuk
semacam mozaik yang begitu sarat dengan ekspresi-ekspresi budaya berdasarkan etnik,
tradisi lokal, agama, bahasa dan sebagainya. Kekuatan yang pertama di sebut sentripental
karena mendorong konvergensi dan keseragaman, semenetara yang kedua disebut
divergensi dan keberagaman budaya global.
Universalisasi dan fortifikasi ini bekerja secara simultan, sama kuat pengaruhnya,
dan bergerak dalam arah yang berlawan. Akan tetapi, walaupun saling berseberangan
keduanya memiliki semacam ‘love-hate relationship’. Di satu sisi, universalisasi
merupakan ancaman bagi fortifikasi, di sisi lain, ia sekaligus juga yang menjadikan

6
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com
fortifikasi ini terbaru, tumbuh, dan berkembang-biak secara luas. Karena kenyataan ini,
format budaya global yang saat ini terus berjalan akan diwarnai oleh adanya benturan
pengaruh dua arus besar ini. Paradoks global ini akan berlangsung di level global, level
regional, negara dan daerah, yang pada gilirannya akan bekerja, baik langsung maupun
tidak langsung, mempengaruhi sistem budaya.
Di level global, arus besar universalisasi ditandai oleh kecenderungan yang makin
cepat akselerasinya ke arah pembentukan apa yang oleh Fukuyama (1992) disebut
sebagai ‘universal dan homogenous state’. Sementara fortifikasi di level yang sama
ditandai oleh adanya kecenderungan maraknya bermunculan kelompok-kelompok yang
memperkuat identitas budayanya yang spesifik berdasarkan kesamaan etnik, tradisi,
bahasa, maupun agama. Salah satu bentuk dari kecenderungan ini adalah makin
maraknya arus tubalisme upaya kelompok-kelompok etnik tertentu untuk melepaskan diri
dari pengaruh dan kekuasaan negara. Di Uni Soviet, Yugoslavia, Iran, Irak, Filipina,
Sudan, Papua New Gunea, Afganistan dan tentu saja Indonesia – gerakan tubalisme ini
sudah begitu marak yang tidak jarang berakhir dengan pecahnya negara tersebut hingga
menjadi belasan negara kecil. The Economist pernah menulis bahwa tubalisme ini sudah
sedemikian massifnya, hingga sudah seperti layaknya virus AIDS yang teurs-menerus
merongrong kekuasaan berbagai negara. Ironisnya, arus tubalisme ini justru didorong
oleh arus demokratisasi yang merupakan komponen penting dari universalisme, mengapa
? karena semakin terbuka luas bagi masyarakatnya untuk mengekspresikan hak dan
keinginannya, termasuk untuk memisahkan diri dari negara.
Peristiwa ini dipotret oleh Daniel Bell (1978) sebagai from national society to
trubal society. Sebuah gerakan yang berayun dari nasionalisme ke arak sukuisme.
Munculnya sikap dan perilaku loyalitas kenegaraan (seseorang) yang dibangun
berdasarkan perasan kesukuan. Episode selanjutnya ternyata jauh lebih mengerikan untuk
dicermati. Sebab munculnya negara-negara baru dengan identitas kesukuan seakan
melahirkan sentimen baru. Sebuah sentimen primitif baru yang dilakukan untuk
menunjukkan ke-aku-an suku (kelompok) guna membedakannya dengan suku dan
kelompok lain. Sayangnya usaha mengentalkan perasaan primitif ini dibangun
berdasarkan identitas-identitas lokal yang primordial sehingga melahirkan kerusuhan dan
kekerasan antar kelompok. Munculnya rasa dan identitas kesukuan di tengah zaman
modernisasi sebenarnya sudah lama diprediksi oleh para sejarawan. Scout (1999)
menyebutnya sebagai peristiwa the time of trubalism atau primitive day. Tengarai yang
paling pas muncul dari Anthony Giddens dalam Modernity and Self Identity (1991) yang
melihat bahwa modernitas akan melahirkan masyarakat berkarakter personal-individual
yang memunculkan (mengentalkan) identitas lokal (individualism-identity and Locality).
Tetapi, proses munculnya trubalisme modern (neo trubalisme) ini berbeda dengan model
trubalisme zaman purba.
Trubalisme purba ditandai oleh sukuisme dan rasa keprimitifan, sehingga
berkarakter nomaden. Berkisar pada perebutan lahan pangan (sumber makanan),
militansinya oleh ruling class (kepala suku) serta dibangun berdasarkan sentimen non
intelektual. Sedangkan trubalisme baru (neo-trubalism) dibangun berdasarkan perebutan
lahan sumber daya alam, militansinya berlaku jangka panjang, menggunakan bermacam-
macam media, digerakkan oleh kelas menengah dan dikelola berdasarkan sikap
intelektual yang tinggi. Oleh karena itu, tidak aneh ketika daerah-daerah tertentu ingin
merdeka dan melepaskan diri dari NKRI, para pemimpinnya adalah mereka-mereka yang

7
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com
bergelar sarjana. Inilah yang disebut oleh Wail dalam Primitive Millenieum (2000)
sebagai intelektual yang berfungsi sebagai kepala suku berdasi. Trubalisme sering
dipahami sebagai Etno-nasionalisme. Ia adalah paham kebangsaan dengan sentimen etnis
(agama, ras) sebagai basis. Apa yang tadinya bernama etnisitas ataupun semangat
etnosentrime ingin diwujudkan menjadi suatu entitas politik yang bernama ‘negara-
bangsa’. Ada usaha homogenisasi pengertian bangsa dalam hal ini, yaitu pengertian
bangsa yang diperkecil kepada ikatan perasaan sesuku yang ditandai dengan kesamaan
budaya, bahasa, atau kesetiaan pada suatu feruomalitas tertentu.
Dalam konteks kebangsaan yang lebih besar (Indonesia) gejala etno-nasionalisme
dapat juga dipandang sebagai pendefinisian rasa kebangsaan kepada ikatan-ikatan yang
lebih primordial (etnik) atau juga dapat dipandang sebagai hilangnya loyalitas suatu
kelompok etnis kepada suatu kesepakatan terhadap ikatan yang lebih besar (negara
bangsa Indonesia) karenanya secara psikologik, gejala deintegrasi bangsa dengan basis
pengertian etno-nasionalisme dapat juga dipandang sebagai fenomena ‘keluar masuk’
kelompok group (group formation-dissolution). Dalam kasus Indonesia, etnis Papua dan
Aceh ingin keluar dari keanggotaannya (plus menarik diri dari komitmen dan
loyalitasnya) terhadap kelompok yang lebih besar (bangsa Indonesia) dan berkeinginan
menjadikan etnis mereka menejadi suatu bangsa yang berdaulat.
Dalam bukunya, Ethnicity in International Politic (1993), Patrick Moynhan dalam
perspektif Ilmu Hubungan/hukum Internasional membahas sebuah hal yang baru, bahwa
masalah etnis yang kini menggejala, ternyata diabaikan sebagai faktor penting perubahan
internasional. Semuanya berawal dari hak menentukan nasib sendiri (self determination
of peoples). Sekutu memaklumatnya sebagai tujuan perdamaian, Stalin mengusulkannya
sebagai Pasal/Piagam PBB. Tujuan itu memang tercapai. Dalam tahap pertama kerajaan-
kerajaan berjatuhan satu demi satu relatif secara damai digantikan negara-negara. Tetapi
di tahap kedua, sejak India merdeka tahun 1947, proses penentuan nasib sendiri ini
justeru menjadi gejolak dalam dunia Internasional.
Memang hak penentuan nasib sendiri menjadi senjata bagi setiap bangsa (etnis)
untuk merdeka. Apa artinya bangsa. Piagam PBB tak menjelaskannya. Gagasan
penentuan masih sendiri muncul dalam konteks adanya tuntutan kemerdekaan sebuah
bangsa dari penjajah. Tetapi kemudian konteksnya berubah. Ternyata ada etnis-etnis
dalam sebuah negara yang merasa berhak melepaskan diri dan membentuk
negara/wilayah sendiri, ‘memberontak’ dari sebuah negara/pemerintah. Apakah ini juga
termasuk hak menentukan nasib sendiri ? Dan kita pun tahu bagaimana kini konflik antar
etnis sudah menembus batas wilayah kedaulatan sebuah negara. Gejala ini pasti akan
terus menjadi warna dominan politik domestik maupun internasional di masa mendatang.
Data tahun 1990 menunjukkan separuh dari negara-negara merdeka, menjalani
pengalaman merasakan getirnya konflik etnis suatu jumlah yang fantatis. Hanya tujuh
negara homogen yang tidak mengalami hal yang sama, yakni Denmark, Belanda, Jepang,
Luksemburg, Norwegia dan Portugal. Penduduk ketujuh negara ini hanya kurang dari
empat persen secara langsung atau tidak. PBB jelas memaklumatkan bahwa semua
bangsa berhak menetukan nasib sendiri. Tetapi ditegaskan pula bahwa ‘setiap upaya yang
bertujuan memecah kesatuan nasional dan integrasi wilayah sebuah negara, adalah tidak
sesuai dengan tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip dalam piagam PBB.’ Pendek kata,
membantu kelompok separatis adalah tidak legal, tetapi penggunaan kekuatan untuk

8
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com
menghindari hak penentuan nasib sendiri, juga tidak legal. Dua hal yang sangat
bertentangan.
Pemisahan diri sekelompok etnis dari sebuah negara, oleh PBB yang dianggap
ilegal, seperti ditunjukkan dalam kasus Kazakstan dan Kirgistan. Bahkan PBB mengakui
ketika Pakistan berpisah dari India tahun 1947, dan kemudian juga mengakui Bangladesh
sebagai negara baru yang berpisah dari Pakistan. Jadi dalam praktek, yang diuntungkan
adalah negara yang sudah ada lebih dulu, yakni India dan Pakistan. Etnis yang ingin
memisahkan diri harus lebih dahulu menunjukkan dulu eksistensinya (apakah itu melalui
terorisme sekalipun), baru mendaftarkan diri untuk memperoleh legalitas internasional
melalui PBB.
Ada etnis Kurdi yang kini menjadi pemberitaan cukup besar PBB pada tahun
1991 ia berkewajiban melindungi etnis Kurdi dari penindasan Irak dengan klausal bahwa
penindasan terhadap mereka merupakan ancaman terhadap ‘perdamaian dan keamanan
internasional.’ Jadi, ada penambahan aspirasi’ baru dalam hukum internasional tadi.
Inilah fakta yang menunjukkan masalah legal mengenai ‘hak penentuan diri sendiri’
nasib terus berkembang sempai kini. PBB memang tidak bisa dan akan tetap berperan
sebagai pemadam kebakaran. Kita lihat betapa malangnya nasib pasukan PBB di Bosnia,
Somalia dan Kamboja.
Seorang yang menyangsikan keyakinan bahwa demokratisasi pasti mendatangkan
kebaikan ialah Jack Snyder, Guru Besar Ilmu Politik dari Universitas Columbia. Dalam
buku From Voting to Violence Democratization and Nationalist Conflict (2000), dia
memaparkan bahwa demokratisasi sering menunjukkan kerusuhan SARA, perang,
bahkan, disintegrasi negara-bangsa. Perdamaian terpelihara hanya antara negara yang
demokratisnya sudah matang. Penelitian tentang gejala ini membawa Snyder pada
pemahaman baru tentang demokratisasi. Inti pemahaman itu, demokratisasi tidak hanya
bisa gagal, bahkan sering gagal di tangan demokrat yang tidak becus, tetapi sama
seringnya juga coba digagalkan oleh para provokator berkedok nasionalisme (baca:
politisasi SARA). Setelah menggalkan, mereka membalikkannya menjadi kekuasaan
yang anti demokrasi. Jadi terdapat syarat-sayarat yang berbeda untuk demokratitasi yang
berhasil dan yang gagal. Tanpa mengetahui kedua kelompok syarat itu, demokratisasi
bisa menjadi musuh paling ganas bagi dirinya sendiri, sehingga harapan dalam awan
kerusuhan serta peperangan.
Karena demokratisasi sudah merupakan persoalan dunia, maka pemahaman itu
tentu saja mendesak untuk dimiliki para pemimpin dewasa ini, tidak hanya di negara-
negara yang sedang dalam transisi menuju demokrasi seperti Indonesia, tetapi juga di
negara-negara dengan demokrasi yang sudah matang. Mengenai hubungan demokratisasi
dan timbulnya konflik SARA (nationalism, nationalistic conflicts). Hubungan tersebut,
menurut Snyder, tercermin pada kenyataan bahwa hampir semua konflik etnis yang
penuh kekerasan selama dasawarsa tahun 1990-an terjadi di negara yang baru mengalami
kebebasan politik, perlindungan hak-hak sipil, dan kekebasan pers. Konflik itu
memeuncak ketika gelombang transisi ke arah demokratisasi juga memuncak. Pada
pertengahan dasawarsa tahun 1990-an, gelombang itu surut, bahkan beberapa negara
berbalik ke arah anti demokrasi, dan pada saat itu konflik etnis pun susut juga.
Bagaimanakah gerangan demokratisasi bisa menyulut konflik SARA ? Snyder
memeriksa bagaimana konflik SARA timbul dari proses demokratisasi. Rahasianya
terletak pada pertisipasi politik. Demokratisasi menuntut adanya partisipasi politik.

9
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com
Demikian juga dengan nasionalisme (baca: politisasi SARA). Namun demikian, pada
akhirnya partisipasi politik yang bersifat demokratik sangat berbeda dari partisipasi
politik yang bersifat nasionalistik. Yang bersifat demokratik mengambil bentuk ikut
partai politik atau pemilu misalnya, semuanya tanpa kekerasan; sedang yang bersifat anti
demokratik adalah seperti masuk organisasi massa para militer, demonstrasi dan mogok
dengan kekerasan juga kerusuhan. Partisipasi politik yang anti-demokratik inilah yang
terjadi dalam gerakan nasionalisme.
Snyder menegaskan pentingnya peranan para elite dalam pembelokan itu, atau
yang lebih tepat penyelundupan nasionalisme ke dalam demokratisasi, terutama pada
massa awal. Ketika kebebasan mulai ada pada masa awal demokratisasi, partisipasi
politik pun meningkat sementara golongan elite bisa merasa kekuasaan mereka terancam
atau merasa punya peluang untuk meraih kekuasaan baru. Di satu pihak mereka
memerlukan dukungan rakyat, tetapi di pihak lain tahu tidak boleh menyerahkan
kekuasaan pada rakyat itu. Jalan keluar, berbuat untuk rakyat, tetapi untuk seluruh rakyat,
dan tidak oleh rakyat, melainkan oleh para elite itu sendiri. Caranya, mengipas sentimen
nasionalistik alias politisasi SARA, kalau perlu perpecahan atas dasar SARA. Yang
paling baik dapat mereka lakukan adalah mengatur agar unit-unit SARA hidup
berdampingan dengan hak-hak kelompok.

Sejauh mana para elite akan berhasil menyelundupkan nasionalisme ke dalam


demokratisasi tergantung pada dua faktor: motivasi dan peluang. Pada gilirannya
kekuatan motivasi tergantung pada kadar kesesuaian antara kepentingan para elite dan
tantangan domestik. Semakin terancam kepentingan itu mereka rasa oleh demokratisasi,
semakin keras motivasi mereka untuk mengagalkan proses itu. Peluang mereka
mengipasi sentimen SARA juga pada gilirannya tergantung pada mutu pranata
demokratisasi. Di suatu negara dengan birokrasi yang kuat, tetapi pranata partisipasi
politik lemah, maka para elite pun akan memanfaatkan kekuasaan birokratik mereka
untuk mengipasi sentimen SARA. Sebaliknya, jika lembaga perwakilan dan kebebasan
pers cukup berfungsi, maka propaganda SARA sangat mungkin ditelanjangi. Penjelasan
Snyder ini, yang disebutnya elite persuasian, bedrtentangan dengan yang biasa
dikemukakan selama ini mengenai sebab-musabab pecahnya kerusuhan SARA seperti
yang terjadi di bekas Uni Soviet, Yugoslavia, Rwanda, Burundi, Sri Langka atau
Indonesia. Snyder menyebut penjelasan lain itu populer riwalries. Penjelasan ini
mengatakan ,. Kerusuhan SARA yang pecah ketika demokratisasi berlangsung
mengumbar persaingan lama antar kelompok masyarakat.
Persaingan itu sudah mengendap lama sebelum demokratisasi mulai, jika
kelompok masyarakat yang secara budaya berbeda-beda dan diberi kebebasan untuk
mengikuti pemilihan umum maka bentrokan tidak terhindarkan lagi. Jadi perpecahan
antar kelompok hanya dapat diatasi dengan cara-cara non demokratik, seperti pemerintah
pusat yang kuat atau yang otoriter. Kalau jalan demokratik terus dipaksakan maka akan
muncul kediktatoran mayoritas, bahkan perang saudara maupun perang antar negara bisa
meletus yang pada akhirnya bermuara pada disintegrasi bangsa dan negara. Snyder
menyimpulkan bahwa politisasi SARA hampir tidak pernah terjadi sebelum
demokratisasi mulai. Sebelum kesadaran mayoritas penduduk terbangun, lalu
menghindari partisipasi politik, pemujaan mereka kekhasan budaya kelompok tidak
terjadi. Pemujaan itu terbatas di kalangan elite.

10
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com
Demikian pula Robert Kaplan meragukan kemujaraban demokrasi, khususnya di
Dunia Ketiga, yang oleh banyak pemikir Barat disebut sebagai tenaga pendorong
kemajuan. Dalam makalahnya, The New Evils of The 21st Century (1997), ia
menyimpulkan, demokrasi dapat menjadi kejahatan politik di negara-negara multi etnik,
yang ekonominya belum terdiferensiasi. Wartawan dan penulis sejumlah buku ini
mengambil contoh Azerbaijan tahun 1993. Dalam 70 tahun terakhir atau sejak
dianeksasinya negeri ini ke dalam imperium Uni Soviet, inilah kali pertama presiden
dipilih secara demokratis. Tetapi demokrasi yang lama dimimpikan itu, ternyata telah
menyerut negara ini ke dalam chaos. Pemerintah akhirnya memperlakukan jam malam di
ibu kota negara. Namun, akibat keamanan terus memburuk, militer akhirnya melancarkan
kudeta pada tahun itu juga. Sejak itu pula rakyat Azerbaijan menikmati ketentraman.
Bahkan pertumbuhan ekonomi meroket. Negara ini menjadi amat stabil dan damai.
Seperti halnya RRC, yang terbagi-bagi dalam berbagi kelompok etnik tidak dapat
dibayangkan nasib negeri ini seandainya gerakan pro demokrasi menang dalam peristiwa
Tiananmen akan membaik atau justru menjadi chaos. Sedangkan di Balkan, demokrasi
tidak hanya gagal sekali, tetapi sudah tiga kali dalam waktu yang singkat. Perang di mulai
tahun 1991 – 1992 oleh ulah kriminal para elite yang dipilih secara demokratis. Tahun
1991, ketika pemerintah Yugoslavia tumbang, diselenggarakan pemilu di semua negara
bagian. Peluang ini kemudian membuka peluang elite untuk melakukan kejahatan tahun
1992 – 1993. Bahkan tahun 1997, orang yang kemudian diburu pengadilan Internasional
di Denhaag, memenangkan suara terbanyak. Di samping itu, Kaplan menunjukkan bahwa
tidak satu pun negara di dunia ini dibentuk berdasarkan demokrasi. Negara adalah hasil
perjuangan panjang melalui pemukiman penduduk, migrasi, perang dan seterusnya.
Demokrasi hanya mempunyai arti dalam suatu masyarakat yang proporsi kelas
menengahnya tumbuh memadai. Sebagai pembayar pajak yang stabil, kelas menengah
akan mendorong lahirnya sistem yang tidak tergantung pada pergantian presiden maupun
parpol yang berkuasa.
Di luar itu, demokrasi hanya akan mempertajam segregasi masyarakat
berdasarkan daerah, agama dan garis primordial lainnya. Namun ironisnya, kelas
menengah yang diharapkan memberi landasan demokrasi, hampir seluruhnya lahir justru
di bawah rezim otoriter. Hanya setelah mereka sadar akan kelasnya, barulah demokrasi
mulai ditancapkan.
Anthony Baird dalam artikelnya, An Atmosphere of Reconsiliation: A Theory of
Resolving Ethnic Conflict menyebut, ada yang berpendapat bahwa konflik etnik marak
ketika terjadi proses transisi ekonomi. Kemudian ada pula yang menekankan pada transisi
politik. Transisi ini membawa transformasi pada lembaga-lembaga politik. Ketegangan
etnik muncul saat para elite menggunakannya untuk menarik jarak dengan rezim masa
lalu. Namun ada pula pakar berpendapat, kekerasan etnik itu muncul pada masa transisi
politik berkaitan dengan lenyapnya institusi yang selama ini bisa menjembatani
perbedaan antar kelompok. Selain itu ada pula pendapat, setelah tenggelamnya ideologi
masa silam, tidak ada instrumen lain yang dapat digunakan untuk mobilisasi massa,
kecuali ikatan-ikatan etnik. Itu sebabnya di Asia Tenggah. Pegunungan Caucasus,
semuanya di eks imperium Uni Soviet atau pun di eks Yugoslavia, elite politik sukses
memobilisasi massa dengan melontarkan isu ethno-nationalism.
Di Indonesia kita melihat ketiga hal itu tumpah tindih, sehingga makin sulit dan
suram penyelesaian konflik etnis. Belum lagi perbedaan budaya, perilaku dan pandangan

11
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com
hidup. Di banyak tempat rakyat mulai melihat bahwa hak atas identitasnya yang dirampas
selama ini, lebih penting ketimbang identitas Indonesia. Sedikit saja Jakarta
menyinggung kedaerahannya, dijawab dengan ancaman referendum dan keluar dari
Indonesia. Kepentingan bersama atau kepentingan nasional yang didengung-dengungkan
selama ini dianggap sebagai bentuk penipuan yang sudah usang.
Atas dasar sejumlah alasan, keetnikkan merupakan tipe perpecahan yang paling
sulit dikelola oleh demokrasi. Karena keetnikkan menyentuh persoalan budaya dan
bersifat simbolik, maka konflik yang ditimbulkannya secara instrinsik kurang terbukti
dapat dikompromikan dibandingkan dengan konflik yang beredar di seputar persoalan
materi. Konflik etnik acapkali menyangkut persoalan seperti itu dan kadang-kadang dapat
diselesaikan melalui perundingan konvensional. Akan tetapi, karena pada hakekatnya
konflik etnik itu adanya di sekitar simbol-simbol eksklusif dan konsepsi tentang
keabsahan, maka konflik etnik ditandai oleh sejumlah tuntutan yang saling bersaing yang
tidak dapat dirinci dengan musah menjadi satuan-satuan penambah yang dapat
dirundingkan.
Lebih dari bentuk pemerintahan lainnya, demokrasi sebagai suatu sistem
persaingan dan konflik yang terlembaga memerlukan cara-cara yang terpercaya untuk
mengelola konflik dengan penuh damai dan secara konstitusional, dengan tetap
menjaganya dalam batas-batas kesusilaan, ketertiban dan pengendalian tertentu. Robert
Dahl menegaskan pentingnya praktek dan pengertian yang akomodatif dari kelompok
elite dalam memperkembangkan suatu sistem ‘keamanan timbal-balik’ yang menjamin
derajat perlindungan minimal bagi kepentingan dasar setiap pesaing politik yang utama,
sehingga kekalahan tidak berarti dikucilkan secara total atau permanen dari kekuasaan
dan sumber daya alam. Perasaan saling percaya yang sangat dalam diantara para pesaing
politik semacam itu sangatlah penting untuk menjamin kondisi lainnya demi terwujudnya
demokrasi yang stabil, toleransi terhadap oposisi.
Cara lain yang digunakan oleh negara demokrasi untuk mengelola dan membatasi
konflik adalah dengan gejala membangkitkan perpecahan silang. Jika rakyat terpecah-
pecah karena satu perbedaan saja, misalnya etnis, yang satu sama lain berinteraksi dan
mencari dasar yang sama pada perbedaan yang lain, misalnya kelas sosial, maka mereka
mengalami ‘tekanan psikologis silang’ yang cenderung memoderatkan pandangan politik
mereka dan pada umumnya menggiring mereka ke arah toleransi yang lebih besar.
Pengelolaan konflik etnis harus dipertimbangkan dalam konteks internasional. Di
Khasmir, Srilangka, Bosnia dan di seluruh Eropa Timur serta bekas Uni Soviet konflik
etnis dan pemberontakan etnik jalin-menjalin dengan ikatan kebanggaan, keagamaan, dan
kebahasaan yang kuat mempersatukan rakyat lintas batas. Negara-negara tetangga, dan
lebih luas lagi masyarakat internasional, berperan penting dalam menjamin agar
kelompok minoritas diperlakukan dengan adil dan agar negara-negara yang menghormati
hak invidu dan kelompok dapat merasa aman dalam batas-batasnya.
Kejadian-kejadian akhir di Kosovo, Bosnia dan Rwanda membuktikan bahwa
konflik etnis tidak bisa lagi dilihat sebagai masalah dalam negeri. Konsepsi Westphalia
tentang kedaulatan nasional – yang menganggap bahwa suatu negara tidak perlu
mempertanggungjawabkan kepada pihak luar negeri atas apapun yang terjadi di dalam
perbatasan wilayahnya – semakin lama semakin mendapat tantangan. Persoalan HAM,
misalnya, dan dalam beberapa peristiwa telah dianggap harus lebih diutamakan daripada
kedaulatan nasional. Dalam kasus-kasus penindasan yang luar biasa terhadap sesuatu

12
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com
golongan etnis, atau dalam kasus genocide, masyarakat dunia memainkan peran yang
kian aktif dalam mengesampingkan prinsip kedaulatan negara demi pengakhiran ssuatu
konflik. Masyarakat dunia, melalui lembaga-lembaga seperti PBB dan NATO, telah
mulai merekam negara-negara yang mengalami konflik etnis berkepanjangan untuk
segera menyelesaikan konflik di dalam negara mereka. Lembaga Internasional tersebut
bertindak sebagai pihak ketiga guna meningkatkan harkat perjanjian damai yang telah
atau sedang dirundingkan.
Masyarakt internasional cukup kuat untuk mempengaruhi negara-negara dengan
ancaman sanksi ekonomi dan pengucilan dari masyarakat dunia. Dengan demikian,
negara-negara yang melakukan tindakan yang tidak disukai oleh masyarakat internasional
– terutama dalam hal kekuasaan terhadap hak azazi etnis atau golongan – akan banyak
menderita kesulitan terutama dalam hal perekonomian. Apabila upaya yang disebut
diatas, tidak berhasil menyelesaikan konflik atau menghentikan penindasan terhadap
suatu golongan etnis tertentu, maka yang dilakukan adalah penggunaan kekuatan militer
(asing) yang dapat mengubah perimbangan kekuatan etnis di dalam negeri. Hal ini dapat
memaksa golongan-golongan etnis untuk mengajukan tuntutan-tuntutan yang masuk akal.
Intervensi militer juga menjamin terciptanya kontrak etnis antar golongan yang baru,
walaupun berlakunya hanya selama masa transisional saja. Namun demikian, setiap
intervensi militer harus terus menerus diawasi oleh masyarakat internasional supaya
tujuan intervensi dapat dibatasi pada tercapainya pemecahan masalah secara damai.
Meningkatnya kekerasan dan ketegangan etnik telah mengundang para peniliti
untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Pada saat itu sekitar 35 pertikaian etnis di
dunia. Lebih dari 38 juta jiwa terusir dari tempat mereka diami selama ini dan paling
sedikit 7 juta orang terbunuh dalam konflik etnis berdarah. Sekarang kekerassn etnis telah
menjadi ciri utama dari konflik primordialisme di tingkat lokal maupun nasional. Tidak
saja kawasan yang menjadi imbasnya, tetapi juga sifat dan hakekat konflik itu sendiri
telah berubah secara evaluatif – akibat besarnya imbas kekerasan itu sendiri. Artinya,
tujuan politik bukan lagi atau tidak lagi berbicara tentang territorial aims atau kolonisasi,
tetapi telah bergeser pada ethical aims, seperti superioritas etnis. Sedangkan pelakunya
bukan lagi tentara-tentara profesional yang dipersenjatai dengan amunisi modern,
melainkan milisi-milisi lokal yang dipersenjatai dengan senjata-senjata mematikan. Oleh
sebab itu, korban yang berjatuhan bukan lagi tentara-tentara profesional tetapi para
masyarakat yang saling berseteru.
Kekerasan etnis akan merenggut, mencederai, atau mengorbankan hak asasi
manusia. Akan tetapi aspek yang paling mengerikan, adalah ketika perempuan dijadikan
begian dari sejarah tentang bagaimana perempuan-perempuan yang diperkosa dan
dijadikan budak-budak pelampiasan nafsu para penyerang adalah pelajaran sejarah bagi
kita. Kita diingatkan bahwa perkosaan dari berbagai jenis kekerasan terhadap perempuan
lainnya adalah bagian dari penaklukan suatu bangsa, etnis, atau kelompok yang bertikai.
Masalah traumatik perempuan di daerah konflik telah menjadi bahasan yang cukup lama.
Hal ini terutama disebabkan karena sejarah konflik etnis sangat erat kaitannya dengan
trauma yang pada masyarakat yang harus mengalaminya. Perempuan dan anak-anak tak
ayal menjadi kelompok masyarakat paling rentan dari penyakit kejiwaan yang bisa
berupa histeria, depresi dan gangguan kejiwaan lainnya akibat kerusuhan. Kita bisa lihat
kasus Rwanda, Bosnia, atau bahkan aktivitas militer Indonesia di beberapa daerah operasi
militer di Aceh, Papua dan Timor Timur.

13
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com
Anak-anak korban peperangan sering disebut sebagai ‘generasi yang hilang’
dalam perkembangan masyarakat yang normal. Ada dua ciri yang menonjol disana yakni,
mereka kekurangan gizi pada saat yakni, mereka kekurangan gizi pada saat usia
pertumbuhan mereka, dan yang lain adalah bahwa yang sarat dengan kekerasan ini bisa
dimengerti karena hampir setiap hari, banyak dari mereka, yang menyaksikan ayah,
kakak, paman dan sanak keluarga mereka yang dibunuh atau terbunuh. Tidak jarang
mereka juga melihat dengan mata kepala sendiri pada saat ibu, kakak atau adik
perempuan atau saudara perempuannya, dilecehkan dan bahkan diperkosa oleh para
penyerang. Ini serangkaian justru dilakukan di depan keluarganya sebagai bentuk teror
atau intimidasi yang ampuh.
Tragedi berdarah antar etnis bukan sesuatu yang baru di negeri yang sedang tidak
menentu. Tragedi kemanusiaan di Nusantara terjadi berulang seakan-akan kita tidak
belajar dari pengalam pahit yang terjadi sebelumnya. Dengan tragedi ini kita tidak
mungkin lagi membanggakan kita sebagai bangsa yang beradab dan religius bila sesama
bangsa Indonesia saling membunuh. Kejadian ini bukan semata-mata tragedi
kemanusiaan, tetapi menyangkut persoalan NKRI. Tanpa ada pengelolaan konflik yang
berarti bisa saja Indonesia mengikuti jejak Yugoslavia yang terkoyak-koyak itu. Sumpah
Pemuda 1928 dan Proklamasi kemerdekaan 1945 hanya menjadi kenangan bangsa yang
tercerai-berai.

14
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com
Daftar Pustaka

Brzezinki, Brzezinki, 1992, Kegagalan Besar. Muncul dan Runtuhnya Komunisme


Dalam Abad Kedua Puluh, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Issaacs, Harlod R, 1993Pemujaan Terhadap Kelompok Etnis, Jakarta: Yayasan Obor


Indonesia.

Susanto, Dwi dan Zainuddin Djafar (ed), 1990, Perubahan Politik di Negara-negara
Eropa Timur, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Fukuyama Francis, 2001 ‘Sejarah Telah Berakhir?’, Titian, No. 2, 1990, hal. 2 – 14.
Tanggapan Irving Krustol, Pierre Hassner dan Sephen Sestanovich terhadap
majalah yang sama, hal. 15 – 21. Artikel yang mengundang berbagai komentar
dan kontroversi yang begitu banyak itu dikembangkan menjadi sebuah buku.
Francis Fukuyama, Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal,
Yogyakarta: Qalam.

Dahrendrof Ralf, 1992, Refleksi Atas Revolusi di Eropa, Djakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.

Rasyid M. Ryaas , 1997, Perkembangan Pemikiran tentang Masyarakat Kewargaan,


Jurnal Ilmu Politik, 17, hal. 3 – 10.

Soemardjan Selo, ‘Konflik Antarsuku di Indonesia’, Kompas, 22 Maret 2001

Nitibaskara Tb. Ronny Rahman, ‘Mencegah Konflik Kekerasan Antar-Etnis’, 3 April


2001

Pangkhalia Wimpie, ‘Pertikaian Etnis, Awal Kehancuran Bangsa’, Kompas, 23 Maret


2001.

Huntington P. Samuel, 2000‘The Clash of Civilizations ?,’ Foreign Affairs, Summer


1993, hal. 22 – 49. Artikel yang menggerakkan gelombang diskusi itu diperluas
menjadi buku. Samuel P. Huntington, Benturan Antar-Peradaban dan Politik
Masa Depan Dunia, Yogyakarta, Qalam.

Ajami Foud Komentar, September I October 1993 Kishore Mahbubani, robert L.


Baartley, Liu Binyan, Jeane J. Kirkkatrik, Albert L. Weeks dan Gerard Piel
terhadap Huntington, Foreign Affairs, hal. 2 – 26.

Servatius Pandur dan Rikard Bagun, 1994Dunia Diramalkan Menjadi 600 Negara,
Kompas, 10 April 1994.

‘Memasuki Abad Berbahaya,’ Kompas, 23 Maret 2001.


15
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com
Anderson Benedict, 2000, Komunitas-Komunitas Imajiner: Renungan Tentang Asal-Usul
dan Penyebaran Nasionalisme, Yogyakarta, Insist Press dan Pustaka Pelajar.

Geertz Clliford, 1992, Politik Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius, ghal. 75 – 137.

Ubed Abdilah S, 2002, Politik Identitas Etnis. Pergulatan Tanda Tanpa Identitas.
Magelang: Yayasan Indonesiatera, hal. 74 – 83.

Harsono Rebeka, 1 Desember 2000 ‘Cultural Studies, Nasionalisme dan Etnisitas,’


Kompas.

Setiawan Bambang dan Bestian Nainggolan, 20 Desember 2001. ‘Indonesia Tahun 2000.
Sosok Negeri Sarat Konflik Identitas’, Kompas.

Kartajaya Hermawan, 28 Juni 2000, Universalisasi Versus Fortifikasi’.

Naisbitt John, 1994 Global Paradox, Jakarta: Bina Aksara, hal. 1 – 50.

M. Yudhie R. Haryono, 23 November 2000 ‘Neo-Trubalism’, Kompas.

Muluk Hamdi, 22 November 2000, ‘Etno-Nasionalisme dan Disintegrasi’, Kompas.

Shambazy Budiarto, 29 Juni 1993‘Resensi Buku – Konflik Antaretnis, Mengancam Sejak


Dulu,’ Kompas.

Parakitri, 2 Maret 2001 ‘Demokratisasi Menimbulkan Disintegrasi,’ Kompas.

______, 23 Maret 2001 ‘Orde Baru’, “Tanggapan Sasmito”, dan Konflik Etnik’,
Kompas, 23 Maret 2001.

Diamond Larry dan Marc F. Plattner,1998, Nasionalisme, Konflik etnik dan Demokrasi,
Bandung: Penerbit ITB.
Agustinus Leo, ‘Kekerasan dan Pengendalian Konflik,’ Analisis CSIS, No. 3, Tahun
XXX/2001, hal. 254 – 268.
M. B. Bijaksana, ‘Keruntuhan Jiwa: Trauma Perempuan Poso,’ Jurnal Perempuan No.
24, 2002, hal. 49 – 62.

Subono Nur Iman, ‘Konflik Bersenjata, Kekerasan Militer dan Perempuan,’ Jurnal
Perempuan, No. 24, 2002, hal. 109 – 121.

16
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com
17
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Anda mungkin juga menyukai