Anda di halaman 1dari 40

BAB I RAKIT APUNG

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kata hidroponik (hydroponics) berasal dari kata Yunani hudor
yang berarti air, dan ponos yang berarti pekerjaan, jadi arti hidroponik
adalah bekerja dengan air. Teknik hidroponik telah digunakan hampir 300
tahun lalu oleh orang yang bernama John Woodward. Di tahun 1944
pemerintah AS mulai menggunakan teknik hidroponik untuk ransum
pasukannya ketika berkecamuk Perang Pasifik. Bayangkan, 0,6 acre
menyediakan cukup sayuran untuk 400 orang setiap harinya.
Teknologi hidroponik, menawarkan cara bercocok tanam yang
lebih baik dan cerdas. Teknik berkebun yang lebih mudah dan murah,
bahkan di lahan sempit sekalipun. Tanaman hidroponik bersifat portabel,
mudah dipindah-pindah, mudah diaplikasikan, dan hampir bebas
perawatan. Kebanyakan bertani secara hidroponik sedikit menggunakan
air dan produksinya lebih cepat, dengan hasil yang besar, tentunya dalam
lingkungan yang bebas hama. Segalanya dikerjakan menggunakan bahan
portable yang mudah dirakit.
Metode hidroponik merupakan metode menumbuhkan tanaman di
dalam larutan nutrisi tanpa menggunakan media tanah. Ditinjau dari segi
sains, hidroponik telah membuktikan bahwa tanah tidak diperlukan
untukm menumbuhkan tanaman, kecuali unsur-unsur, mineral dan zat-zat
makanan seperti dalam tanah.
Dengan mengeliminasi tanah berarti juga mengeliminasi
hama/penyakit yang ada dalam tanah dan mengurangi pengendalian tanah
secara teliti nutrisi tanaman. Dalam larutan hidroponik telah tersedia zat-
zat makanan untuk tumbuhan dengan perbandingan yang tepat, sehingga
dapat mengurangi stress pada tanaman, lebih cepat matang dan panenpun
akan lebih bagus kualitasnya.

2. Tujuan
A. TINJAUAN PUSTAKA
Istilah hidroponik berasal dari istilah Yunani yaitu hidro yang berarti air
dan ponos berarti kerja. Hidroponik adalah istilah yang digunakan untuk
menjelaskan cara bercocok tanam tanpa tanah tetapi menggunakan air atau
bahan porous lainnya dengan pemberian unsur hara terkendali yang berisi
unsur-unsur esensial yang dibutuhkan tanaman. Dilontarkan pertama kali oleh
W.A. Setchell dari University of California, sehubungan dengan keberhasilan
W.F. Gericke dari university yang sama, dalam pengembangan teknik
bercocok tanam dengan air sebagai medium tanam. Berdasarkan media
tumbuh yang digunakan, hidroponik dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
1. Kultur Air. Teknik ini telah lama dikenal, yaitu sejak pertengahan abad
ke-15 oleh bangsa Aztec. Dalam metode ini tanaman ditumbuhkan pada
media tertentu yang di bagian dasar terdapat larutan yang mengandung
hara makro dan mikro, sehingga ujung akar tanaman akan menyentuh
larutan yang mengandung nutrisi tersebut.
2. Kultur Agregat. Media tanam berupa kerikil, pasir, arang sekam padi
(kuntan), dan lain-lain yang harus disterilkan terlebih dahulu sebelum
digunakan. Pemberian hara dengan cara mengairi media tanam atau
dengan cara menyiapkan larutan hara dalam tangki atau drum, lalu
dialirkan ke tanaman melalui selang plastik.
1. Nutrient Film Technique. Pada cara ini tanaman dipelihara dalam
selokan panjang yang sempit, terbuat dari lempengan logam tipis tahan
karat. Di dalam saluran tersebut dialiri air yang mengandung larutan hara.
Maka di sekitar akar akan terbentuk film (lapisan tipis) sebagai makanan
tanaman tersebut.
(Anonim, 2010).
Bebagai macam teknik budidaya telah diterapkan di pertanian. Untuk
teknik budiday yang diterapkan pada tanamn Hortikultura relatif sama dengan
teknik budidaya tanaman pertanian lainnya. Hanya saja, komoditas
hortikultura memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan perlu pembudidayaan
yang intensif, sehingga teknik budidaya yang dikembangkan bersifat spesifik
dan jarang dijumpai pada tanaman non-hortikultura. Misalnya hidroponik,
aeroponik, vertikultur, dan lain sebagainya.
Hidroponik adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan beberapa
cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai tempat menanam
tanaman (Lingga, Pinus. 1984)
Hidroponik terdapat bermacam-macam cara klasifikasi, salah satu
diantaranya berdasar media : 1) Kultur air : flood and drain, NFT, 2) Kultur
agregat : bahan anorganik -> pasir, kerikil, rock wool, bahan organik (ada yg
menolak) -> arang sekam, serbuk gergaji, sabut kelapa, 3) Aeroponik :
medium gas, (Indradewa, et al. 2008).
Penerapan penggunaan teknik hidroponik ini karena hasil dan kualitas
tanaman lebih tinggi, lebih terbebas dari hama dan penyakit, penggunaan air
dan pupuk lebih hemat, dapat untuk mengatasi masalah tanah, dapat untuk
mengatasi masalah keterbatasan lahan. Syarat budidaya teknik hidroponik
sendiri, antara lain: faktor tumbuh esensial seperti air, cahaya, nutrisi, CO2;
nutrisi esensial in mutlak diperlukan tanaman; Pembagian unsure hara
berdasarkan kebutuhan seperti Makro : kandungan besar (%) – diperlukan
banyak (kg/ha) – N, P, K, Ca, Mg, S dan Mikro kandungan kecil (ppm) –
diperlukan sedikit (g/ha) – Fe, Mn, Zn, Cu, Co, B, Mo, Cl; budidaya tanah
misalnya dari tanah dan pupuk; dan tambahan bahan yg mengandung nutrisi.
Sumber pupuknya seperti pupuk hidroponik, bahan kimia murni (pa), atau
teknis, pupuk, dan pupuk daun ((Indradewa, et al. 2008).
Lingga (1987), menyatakan bahwa hidroponik atau istilah asingnya
Hydroponics, adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan beberapa cara
bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai tempat menanam
tanaman. Istilah ini di kalangan umum lebih populer dengan sebuan
berkebun tanpa tanah, termasuk dalam hal ini tanaman dalam pot atau wadah
lain yang menggunkan air atau bahan porus lainnya seperti kerikil, pecahan
genteng, pasir kali, gabus putih dan lain-lain.
Prinsip dasar hidroponik dapat diterapkan dalam berbagai cara. Lewat
pemahaman dasar-dasar hidroponik, maka setiap peminat dapat memilih cara
atau menciptakan cara baru yang sesuai dengan keinginan. Dengan demikian
metode hidroponik dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan dan ruang
yang tersedia. Jadi tak perlu harus terpaku dengan satu cara atau meniru cara
atau bentuk hidroponik yang sudah ada ( Lingga, 1987).
Hidroponik terdapat bermacam-macam cara klasifikasi, salah satu
diantaranya berdasar media : 1) Kultur air : flood and drain, NFT, 2) Kultur
agregat : bahan anorganik seperti pasir, kerikil, rock wool, bahan organik
seperti arang sekam, serbuk gergaji, sabut kelapa, dan 3) Aeroponik: medium
gas, (Indradewa, et al. 2008).
Dalam sistem irigasi ini air/larutan yang diberikan tertampung dlam
wadah pot sehingga tergenang. Ketinggian air/larutan harus di bawah akar.
Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terendamnya akar sehingga dapat
menyebabkan pembusukan. Sistem ini biasanya digunakan pada hidroponik
yang memakai wadah akuarium (Prihmantoro, 1996)
A. METODE PRAKTIKUM
1. Waktu Pelaksanaan Praktikum
Praktikum acara I dilaksanakan pada tanggal 13 Oktober 2010
sampai dengan tanggal 10 November 2010 betempat di Greenhouse B.
2. Alat dan Bahan
a. Kolam Nutrisi
b. Nutrisi (AB mix)
c. Bibit tanaman kangkung, bayam merah, baby cailan, daun bawang
1. Cara Kerja
Satu sterofoam untuk 3 kelompok mahasiswa. Tiap kelompok dengan
kedalaman nutrisi sama.
a. Menyiapkan bibit tanaman sayur atanam
b. Menanam bibit pada lubang
c. Memelihara tanaman (perlu penambahna nutrisi)
d. Mengamati terhadap komponen pertumbuhan
A. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Pengamatan
Tabel 1.1 Data Rekapan Tinggi Tanaman pada Hidroponik Rakit Apung
MST Tinggi Tanaman
Daun
Kangkung Bayam Kailan
Bawang
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 1 2
0 0 7,5 1,7 8,28 5,13 6,42 3,98 2,35 3,2 0 0 0

1 5,85 9,75 4,75 12,2 5,88 11,22 5,2 3,7 3,8 5,93 5,57 5,25

2 8,63 18,75 34,5 11,33 6,66 15,45 4,35 4,65 4,38 5,33 14,2 13,5

3 20,13 52 49 11,45 6,75 20,87 3,38 5,73 5,63 5,55 14,51 17,43

4 53,77 92,5 54,25 13 7 26,87 3 6,49 6,88 9,1 20,9 18,17

5 135,5 - 61,75 - - - 4,13 6,74 - 7,63 27,43 33

∑ 223,5 181,5 171,65 56,25 31,4 80,85 20,05 24,7 23,9 33,5 82,6 87,35

Rata2 44,7 36,3 34,33 11,25 6,28 16,17 4,01 4,94 4,78 6,71 6,52 17,47

Rata2
31,645 8,82 5,47 16,99
Tot
Sumber : Data Rekapan
Tabel 1.1 Data Rekapan Jumlah Daun pada Hidroponik Rakit Apung
Jumlah Daun
Daun
MST Kangkung Bayam Kailan
Bawang
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 1 2
0 0 3 0 2 3 5,75 6,75 5,75 8 0 0 0

1 2,75 4,25 5 8,5 9 6,5 5 7,75 9 10 1 0

2 4 5,25 18,75 11,5 15 6,75 7 4,25 10 8 1 0

3 25 10,5 32,67 29 23 5 6 5,5 11 11 1 1

4 79,25 11,25 82,5 38,75 18 7 - 6,1 17 10 2 2

5 80,25 - - 85,5 - 39,5 - - - 13 3 3

∑ 191,25 34,25 173,65 146,05 68 39,5 24,75 29,35 55 52 8 6

Rata2 38,25 6,85 34,73 29,21 13,6 7,9 4,75 5,87 11 10,4 1,6 1,5

Rata2
27,26 8,81 9,09 1,55
Tot
Sumber : Data Rekapan

Tabel 2.3 Panjang Akar Rakit Apung


Panjang Akar (cm)
MST Kangkung Bayam Merah Kailan Daun
Bawang
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 1 2
5 36,77 10,55 34 22,8 15,13 5,38 3,5 2,4 11 6,5 8,8 6,6
∑ 104,12 24,005 19,9 15,4
total 26,03 8,0 6,63 7,7
x
Sumber: Laporan sementara

Tabel 2.3 Berat Brangkasan Basah Rakit Apung


MST Berat Brangkasan Basah (gram)
Kangkung Bayam Merah Kailan Daun
Bawang
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 1 2
5 348,46 18,11 203,5 84,45 30,3 3,4 13,58 2,4 15,57 13,01 6 6,3
∑ 654,52 47,28 30,98 12,3
163,63 15,76 10,32 6,15
x
Sumber: Laporan sementara
2. Pembahasan
Floating hidroponic system (FHS) merupakan suatu budidaya
tanaman (khususnya sayuran) dengan cara menanamkan /menancapkan
tanaman pada lubang styrofoam yang mengapung diatas permukaaan
larutan nutrisi dalam suatu bak penampung atau kolam sehingga akar
tanaman terapung atau terendam dalam larutan nutrisi. Metode ini
dikembangkan pertama kali oleh Jensen (1980) di Arizona dan
Massantini (1976) di Italia.
Pada sistem ini larutan nutrisi tidak disirkulasikan, namun
dibiarkan pada bak penampung dan dapat digunakan lagi dengan cara
mengontrol kepekatan larutan dalam jangka waktu tertentu. Hal ini perlu
dilakukan karena dalam jangka yang cukup lama akan terjadi
pengkristalan dan pengendapan pupuk cair dalam dasar kolam yang dapat
mengganggu pertumbuhan tanaman. Sistem ini mempunyai beberapa
karakteristik seperti terisolasinya lingkungan perakaran yang
mengakibatkan fluktuasi suhu larutan nutrisi lebih rendah, dapat
digunakan untuk daerah yang sumber energi listriknya terbatas karena
energi yang dibutuhkan tidak terlalu tergantung pada energi listrik
(mungkin hanya untuk mengalirkan larutan nutrisi dan pengadukan
larutan nutrisi saja).
Tanaman ditancapkan pada lubang dalam styrofoam dengan
bantuan busa (agar tanaman tetap tegak) serta ditambahkan penyangga
tanaman dengan tali. Lapisan styrofom digunakan sebagai penjepit,
isolator panas dan untuk mempertahankan tanaman agar tetap terapung
dalam larutan nutrisi. Agar pemakaian lapisan styrofoam tahan lama
biasanya dilapisi oleh plastik mulsa. Dalam gambar juga ditunjukkan
adanya bak larutan nutrisi dengan penyangganya, biasanya bak
penampung ini mempunyai kedalaman antara 10-20 cm dengan
kedalaman larutan nutrisi antara 6-10 cm. Hal ini ditujukan agar oksigen
dalam udara masih terdapat di bawah permukaan styrofoam. Untuk
otomatisasi dalam FHS tidak berbeda jauh dengan cara untuk pot culture
system.
Floating system merupakan alat yang paling sederhana karena
hanya menggunakan prinsip penggenangan. Akar tanaman diberi
genangan air dan nutrisi secara terus-menerus. Untuk kebutuhan oksigen
tanaman mendapatkannya melalui airstone yang diletakkan didalam air.
Air dan nutrisi yang diberikan akan langsung mengenai akar tanaman
secara terus-menerus sehingga tanaman dapat menyerapnya setiap saat.
Ada beberapa kelebihan dari system tersebut yaitu :
a. Tanaman mendapat suplai air dan nutrisi secara terus-menerus.
b. Lebih menghemat air dan nutrisi.
c. Mempermudah perawatan karena kita tidak perlu melakukan
penyiraman.
d. Membutuhkan biaya yang cukup murah.
Selain memiliki kekurangan system tersebut juga memiliki
kekurangan antara lain :
a. Oksigen akan susah didapatkan tanaman tanpa bantuan alat
(airstone).

b. Akar tanaman akan lebih rentan terjadi pembusukan.


Pengamatan yang dilakukan di dalam pratikum acara I adalah
tinggi tanaman dan jumlah daun dari masing-masing komoditi.
Berdasarkan tabel 1.1. Data rekapan tinggi daun diperoleh hasil bahwa
rata-rata total tinggi tanaman tertinggi terdapat pada kangkung sebesar
31,645 cm. Hal tersebut terjadi karena kangkung tumbuh memanjang
akibat kelebihan sinar matahari. Pada kangkung sendiri hasil tertinggi
terdapat pada ulangan 1 dengan rata-rata tinggi 44,7 cm. Pada bayam
rata-rata tertinggi terdapat pada ulangan 2 sebesar 16,17 cm. Pada kailan
rata-rata tertinggi tedapat pada ulangan 3 sebebesar 6,71 cm. Sedangkan
pada daun bawang rata-rata tertinggi terdapat pada ulangan 2 sebesar
17,47 cm.
Berdasarkan data rekapan jumlah daun pada tabel 1.2 bahwa rata-
rata jumlah daun tertinggi terdapat pada kangkung sebesar 27,26. Pada
kangkung sendiri hasil tertinggi terdapat pada ulangan 1 dengan rata-rata
tinggi 38,25 . Bada bayam rata-rata tertinggi terdapat pada ulangan 1
sebesar 68. Pada kailan rata-rata tertinggi tedapat pada ulangan 1
sebebesar 11. Sedangkan pada daun bawang rata-rata tertinggi terdapat
pada ulangan 1 sebesar 1,6.
Nutrisi adalah substansi organik yang dibutuhkan organisme untuk
fungsi normal dari sistem tubuh, pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan.
Pemberian nutrisi pada tanaman dapat diberikan melalui akar dan daun
tanaman. Aplikasi melalui akar dapat dilakukan dengan merendam atau
mengalirkan larutan pada akar tanaman. Larutan nutrisi dibuat dengan
cara melarutkan garam-mineral ke dalam air. Ketika dilarutkan dalam air,
garam-mineral ini akan memisahkan diri menjadi ion. Penyerapan ion-
ion oleh tanaman berlangsung secara kontinue dikarenakan akar-akar
tanaman selalu bersentuhan dengan larutan (Suwandi, 2006).
Larutan nutrisi sebagai sumber pasokan air dan mineral nutrisi
merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman
hidroponik, sehingga harus tepat dari segi jumlah, komposisi ion nutrisi
dan suhu. Unsur hara ini dibagi dua, yaitu unsur makro (C, H, O, N, P, S,
K, Ca, dan Mg) dan mikro ( B, Cl, Cu, Fe, Mn, Mo, dan Zn). Pada
umumnya kualitas larutan nutrisi ini diketahui dengan mengukur
electrical conductivity (EC) larutan tersebut. Semakin tinggi konsentrasi
larutan semakin tinggi arus listrik yang dihantarkan (karena pekatnya
kandungan garam dan akumulasi ion mempengaruhi kemampuan untuk
menghantarkan listrik larutan nutrisi tersebut). Larutan nutrisi dapat
dibuat sendiri dengan melarutkan pupuk yang diramu khusus untuk
tanaman hidroponik atau membeli pupuk hidroponik secara komersial.
Larutan nutrisi juga dapat dipertahankan dan dikontrol sesuai
dengan kebutuhan tanaman dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang
diinginkan. Hal ini mendasari adanya sistem kontrol secara sederhana
maupun otomatis pada larutan nutrisi. Selain EC dan konsentrasi larutan
nutrisi, suhu dan pH merupakan komponen yang sering dikontrol untuk
dipertahankan pada tingkat tertentu untuk optimalisasi tanaman. Suhu
dan pH larutan nutrisi dikontrol dengan tujuan agar perubahan yang
terjadi oleh penyerapan air dan ion nutrisi tanaman (terutama dalam
hidroponik dengan sistem yang tertutup) dapat dipertahankan. Suhu yang
terlalu rendah dan terlalu tinggi pada larutan nutrisi dapat menyebabkan
berkurangnya penyerapan air dan ion nutrisi, untuk tanaman sayuran
suhu optimal antara 5-15oC dan tanaman buah antara 15-25oC. Beberapa
tanaman sayuran dan buah dipertahankan mempunyai tingkat pH dan EC
tertentu yang optimal.
Untuk otomatisasi, berkurangnya larutan nutrisi oleh transpirasi
dan penyerapan tanaman dapat juga dideteksi menggunakan timbangan
otomatis yang dapat diletakkan dibawah pot dan bias dihubungkan
dengan komputer. Kemudian bisa juga ditambahkan tangki larutan nutrisi
dan dihubungkan dengan pipa atau selang kecil untuk penambahan
otomatis. Konsentrasi larutan nutrisi dapat juga diukur dengan
menambahkan sensor ion, pH atau EC dalam larutan nutrisi.
Proses pengontrolan dalam hidroponik merupakan proses yang
dilakukan secara kontinyu, dalam jangka waktu yang panjang dan
memerlukan akurasi pengontrolan yang tinggi (apalagi kalau variabel
yang dikontrol cukup banyak). Untuk itu perlu dilakukan pengontrolan
otomatik agar tidak terjadi permasalahan seperti pada pengontrolan
secara manual antara lain : kelelahan, subyektifitas, kejemuan,
ketidakseragaman dan ketidaktelitian manusia. Pada kontrol otomatik ini,
tahapan kontrol seperti mengukur, membandingkan, menghitung dan
mengoreksi dilakukan oleh instrumen secara berulang. Dengan kontrol
otomatik dapat dicapai tujuan kelancaran operasi, pengendalian
keamanan dan mutu produk . Secara umum pengontrolan yang dilakukan
dalam hidroponik dapat dilakukan untuk mengontrol : air (penjadwalan,
sirkulasi dan distribusi), larutan nutrisi (kandungan konsentrasi nutrisi,
pH, suhu, EC dan oksigen) dan juga faktor ekternal seperti lingkungan
dalam greenhouse
A. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2010. Teknik Budidaya Sayuran secara Hidroponik.http://www.aero-
kalijati.com/lifestyle/1207-teknik-bududaya-sayuran-secara-hidroponik.pdf
Discuz Archiver. 2006. Pertanian Hidroponik
http://stpmclub.dz.forumable.net/tc/archiver/?tid-364.html hidroponik
Diakses tanggal 18 Desember 2010.
Jabatan Pertanian Sabah. 1998. Hidroponik
http://www.sabah.org.my/bm/nasihat/artikel_pertanian/hidroponik.htm
Diakses tanggal 18 Desember 2010.
Karsono Sudibyo, dkk. 2005. Hidroponik Tanpa Tanah. AgroMedia Pustaka
Lingga, Pinus. 1984. Hidroponik Bercocok Tanam Tanam Tanpa Tanah, Penebar
Swadaya. Jakarta.
Primantoro, Heru. 1996. Hidroponik Sayuran Semusim untuk Bisnis dan Hobi.
Penebar Swadaya. Jakarta.
II. HIDROPONIK SISTEM DFT (DEEP FLOW TECHNIQUE)

A. Pendahuluan
1. Latar belakang
Kecenderungan konsumen dalam memilih hasil produksi tanaman
dan makanan di kota-kota besar Indonesia adalah mencari produk dengan
nilai tambah terhadap manfaat kesehatan, berpenampilan menarik, dan
dengan harga yang rasional. Produk-produk tersebut sebagian besar dapat
terpenuhi oleh produk hidroponik. Hidroponik berasal dari bahasa latin
yang terdiri atas kata hydro yang berarti air dan kata ponos yang berarti
kerja, sehingga hidroponik dapat diartikan sebagai suatu pengerjaan atau
pengelolaan air sebagai media tumbuh tanaman tanpa menggunakan media
tanah sebagai media tanam dan mengambil unsur hara mineral yang
dibutuhkan dari larutan nutrisi yang dilarutkan dalam air.
Salah satu teknik hidroponik adalah DFT atau Deep Flow
Technique. Teknik hidroponik sistem DFT (Deep Flow Technique)
merupakan teknik hidroponik dengan menggunakan papan sterofoam yang
mengapung di atas larutan nutrisi dan larutan di resirkulasi dengan bantuan
aerasi. Pada dasarnya hidroponik sistem DFT sama dengan rakit apung
tetapi pengaplikasiannya berbeda. Perbedaaannya adalah pada teknik rakit
apung, larutan nutrisi tidak tersirkulasi dengan baik, sedangkan pada DFT
larutan nutrisi, tersirkulasi dengan baik karena ada aliran atau flof yang
berasal dari aerator. Macam larutan nutrisi sangat berpengaruh terhadap
pertumbuhan tanaman. Yang perlu diperhatikan dalam penggunaan larutan
nutrisi ini adalah konsentrasi dan dosis yang diberikan, karena sangat
menentukan pertumbuhan tanaman.
Beberapa kelebihan sistem hidroponik dibanding dengan media
tanah adalah kebersihan lebih mudah terjaga, tidak memerlukan pengelolaan
tanah, penggunaan pupuk dan air lebih efisien, tidak tergantung musim,
tingkat produktivitas dan kualitas cukup tinggi dan seragam, tanaman dapat
dikontrol dengan baik, dapat diusahakan di tempat yang tidak terlalu luas
ataupun dipergunakan sebagai bisnis dengan luasan yang cukup, dapat
mengurangi jumlah tenaga kerja, kenyamanan kerja dapat ditingkatkan
secara ergonomis, dan diferensiasi produk dapat dilakukan.
2. Tujuan praktikum
Pratikum acara Hidroponik Sistem DFT (Deep Flow Technique) ini
dilakukan dengan tujuan agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami
sistem hidroponik DFT (Deep Flow Technique) dalam budidaya tanaman
sayur.
B. Tinjauan Pustaka
Hidroponik sistem DFT atau Deep Flow Technique adalah sistem
hidroponik yang cara penanamannya diapungkan diatas larutan nutrisi dengan
menggunakan aerator. Sebagai pengapung digunakan styrofoam. Tanaman
dapat ditempatkan dimana saja, yang penting pada saat hujan tanaman tidak
kehujanan. Kalau kehujanan larutan nutrisi akan menjadi lebih encer dari yang
seharusnya. Sebagaimana sudah diketahui bahwa untuk pertumbuhannya
tanaman memerlukan sinar matahari. Dalam satu hari tanaman minimal
membutuhkan 5 jam penyinaran tetapi dengan intensitas yang rendah. Sinar
matahari yang terik tidak baik untuk tanaman. Tanaman yang cocok ditanam
dengan teknologi ini adalah tanaman sayuran daun seperti selada, pakcoy,
caisim, bayam, kangkung dan sebagainya (Anonim, 2002).
Bercocok tanaman tanpa tanah itulah gambaran hidroponik.
Hidroponik berasal dari bahasa Yunani, yaiitu hydro yang berarti air dan Ponos
yang berarti kerja, sehingga keseluruhannya dapat diartikan sebagai kerja air.
Prinsip dasar dari hidroponk adalah menyediakan atau memberikan nutrisi
yang dibutuhkan tanaman dalam bentuk larutan. Pemberiannya dilakukan
dengan menyiramkan atau meneteskannya ke tanaman. Yang pasti tidak
digunakan tanah senagai media tanam, melainkan bahan-bahan yang bersifat
porous (Marsoem, 2002).
Secara umum berhidroponik mempunyai keuntungan, diantaranya
sebagai berikut (Lingga, 2002) :
1. Persediaan nutrisi bagi tanaman cukup tersediadan efisien, tanpa terhalang
tempat dan musim.
2. Tanaman bebas dari hama dan penyakit yang ada di dalam tanah.
3. Hidroponik dapat meningkatkan pendapatan keluarga, meningkatkan
pemenuhan gizi keluarga dan masyarakat, dan dalam skala besar dapat
meningkatkan skala ekspor non-migas.
4. Tanaman hidroponik mampu menghijaukan dan memperindah pekarangan
rumah, memberikan kepuasan batin apabila tanamannya berbuah, serta
menciptakan kegiatan di waktu senggang.
Dalam upaya memproduksi tanaman atau makanan secara
hidroponik, diperlukan beberapa peralatan dasar agar tanaman dapat tumbuh
dengan baik seperti daerah perakaran harus memperoleh cukup udara, air dan
unsur hara/nutrisi, sehingga dapat menghasilkan tanaman dan makanan yang
berkualitas (Falah, 2006).
Nutrisi hidroponik dibuat dengan menggabungkan hara makro dan
hara mikro sesuai kebutuhan tanaman. Unsur hara makro adalah unsur hara
yang diperlukan tanaman dalam jumlah yang banyak, terdiri atas C, H, O, N,
P, K, Ca, Mg dan S. Apabila tanaman kekurangan unsur hara makro akan
berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Unsur
hara mikro adalah unsur hara yang diperlukan oleh tanaman tetapi dalam
jumlah sedikit. Unsur hara mikro ini mutlak dibutuhkan oleh tanaman. Jika
kekurangan unsur hara mikro ini maka tanaman tidak akan tumbuh dengan
optimal. Jenis unsur hara mikro ini adalah Mn, Cu, Fe, Mo, Zn, B
(Wijayani et al., 1998).
A. Metode Praktikum
1. Waktu dan tempat praktikum
Praktikum acara ini dilakukan pada hari Rabu tanggal 13 Oktober
2010 dan bertempat di Rumah Kaca B Fakultas Pertanian Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
2. Alat dan Bahan
a. Kolam nutrisi
b. Nutrisi (AB Mix)
c. Bibit tanaman kangkung (Ipomoea reptans), bayam merah
(Amaratus sp.), kailan (Brassica alboglabra)
3. Cara Kerja
a. Satu sterofoam untuk 3 kelompok mahasiswa. Tiap kelompok
dengan kedalaman nutrisi yang sama
b. Menyiapkan bibit tanaman sayur
c. Menanam bibit pada lubang tanam
d. Memelihara tanaman (perlu penambahan nutrisi)
e. Mengamati terhadap komponen pertumbuhan
A. Hasil dan Pembahasan
1. Hasil
Tabel 2.1 Tinggi Tanaman DFT
MST Tinggi Tanaman (cm)
Kangkung Bayam Merah Kailan
Ulangan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
0 3,5 5.2 7.03 5,75 6,6 1,3 3,57 2,5 1,33 1,63 6,83 3,5
5
1 8,2 15.2 4.18 8,38 7,75 4,13 5,55 5,5 1,65 4 10,4 4,47
2 10,25 18.3 16.73 15,48 10,63 13 8,3 8,3 2,13 5,13 11,98 5,33
3 35,97 38.5 42 89,63 20 41,6 13,5 15,7 5,48 6,13 13,9 7,38
5
4 93,63 63.6 52.7 178,33 38,5 79,5 14,5 24 5,98 6,38 18,05 12,75
5 - - 68.5 - - 82,5 - - - - - 15,13
∑ 151,55 140,8 191,14 297,57 83,48 222,03 45,4 56,0 16,57 23,27 61,1 48,5
2 5
30,31 28,16 38,288 59,51 16,69 44,4 9,08 11,2 3,31 4,6 12,2 9,7
x 1
total 156,268 20,34 29,81
x

Sumber: Laporan sementara


Tabel 2.2 Jumlah Daun DFT
MST Jumlah Daun
Kangkung Bayam Merah Kailan
Ulangan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
0 4 2 2 2 7 5 2 5 7 8 3 4
1 9 7 7 8 9 18 3 11 8 8 5 5
2 16 10 13 82 7 33 9 14 10 10 9 6
3 51 33 23 65 32 83 16 25 13 12 13 7
4 72 60 32 94 59 86 24 31 14 15 12 8
5 - - 47 - - - 29 - - - - 10
∑ 152 112 124 251 114 22 83 86 52 53 42 40
5
30, 22, 24, 50,2 22, 45 16, 17,2 10, 10,6 8,4 8
x 4 4 8 8 6 4

total 127,8 101,6 37,4


x

Sumber: Laporan sementara

Tabel 2.3 Panjang Akar DFT


Panjang Akar (cm)
MST Kangkung Bayam Merah Kailan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
5 54,9 42,5 42,8 50,6 30 28 31,8 12,8 15,7 15,3 18,5 11,
8 3 8 8 7 8 2 5
∑ 193,91 102,76 61,17
total 48,47 25,69 15,29
x

Sumber: Laporan sementara


Tabel 2.3 Berat Brangkasan Basah DFT
Berat Brangkasan Basah (gram)
Kangkung Bayam Merah Kailan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
170,23 97,3 59,7 184,0 58,1 271, 110,6 35,7 9,7 54,3 15,0 4,62
2 7 5 7 4 5 7 2 8
∑ 511,32 476,24 83,79
127,83 119,06 20,94
x

Sumber: Laporan sementara


2. Pembahasan
DFT (Deep Flow Technique) merupakan salah satu jenis metode
tanam hidroponik dengan kelebihan yaitu tanpa menggunakan media tanah
sebagai tempat tanaman untuk tumbuh dan berbuah. Metode ini menggunakan
bak nutrient yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga tanaman mendapat
asupan nutrisi atau zat hara layaknya ketika ditanam di tanah. Sistem DFT
hampir sama seperti rakit apung, perbedaannya pada DFT ini menggunakan
aerator, alat ini dipakai dalam mencukupi oksigen untuk pertukaran udara
dalam daerah perakaran. Kekurangan oksigen akan mengganggu penyerapan
air dan nutrisi oleh akar dan respirasi.
Berdasarkan pada hasil pengamatan, maka dapat diketahui bahwa
pertumbuhan kangkung pada sistem DFT ini sangat baik, terbukti dari rata-rata
total tinggi tanaman kangkung mencapai 156,268 cm; rata-rata total jumlah
daun sebanyak 127,8. Rata-rata total panjang akar kangkung adalah 48,47 cm,
dan berat brangkasan basahnya 127,83 gram. Pertumbuhan tanaman bayam
merah juga baik, rata-rata total tinggi tanaman bayam merah adalah 20,34 cm;
rata-rata total jumlah daun sebanyak 101,6. Rata-rata total panjang akar bayam
merah adalah 25,69 cm, dan berat brangkasan basahnya 119,06 gram.
Pertumbuhan kailan pada sistem DFT ini baik, rata-rata total tinggi tanaman
kailan adalah 29,81 cm; rata-rata total jumlah daun sebanyak 37,4. Rata-rata
total panjang akar kailan adalah 15,29 cm, dan berat brangkasan basahnya
20,94 gram.
Larutan nutrisi sebagai sumber pasokan air dan mineral nutrisi
merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman
hidroponik, sehingga harus tepat dari segi jumlah, komposisi ion nutrisi dan
suhu. Unsur hara ini dibagi dua, yaitu unsur makro (C, H, O, N, P, S, K, Ca,
dan Mg) dan mikro (B, Cl, Cu, Fe, Mn, Mo, dan Zn). Pada praktikum
hidroponik sistem DFT ini menggunakan larutan nutrisi AB Mix. Kualitas
larutan nutrisi ini diketahui dengan mengukur electrical conductivity (EC)
larutan tersebut. Semakin tinggi konsentrasi larutan semakin tinggi arus listrik
yang dihantarkan (karena pekatnya kandungan garam dan akumulasi ion
mempengaruhi kemampuan untuk menghantarkan listrik larutan nutrisi
tersebut). Besarnya EC pada bak DFT ini adalah 2,61. Untuk pertumbuhan
tanaman kangkung dan bayam merah, besar EC ini sudah cukup. Tapi untuk
pertumbuhan kailan dirasa belum cukup, karena pada kailan membutuhkan
nutrisi yang lebih banyak untuk membentuk batangnya (batang kailan besar
dan panjang). Larutan nutrisi juga dapat dipertahankan dan dikontrol sesuai
dengan kebutuhan tanaman dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang
diinginkan. Hal ini mendasari adanya sistem kontrol secara sederhana maupun
otomatis pada larutan nutrisi.
Selain EC dan konsentrasi larutan nutrisi, suhu dan pH merupakan
komponen yang sering dikontrol untuk dipertahankan pada tingkat tertentu
untuk optimalisasi tanaman. Besarnya pH pada bak DFT ini adalah 2,5.
Menurut Savvas dan Manos (1999), suhu dan pH larutan nutrisi dikontrol
dengan tujuan agar perubahan yang terjadi oleh penyerapan air dan ion nutrisi
tanaman (terutama dalam hidroponik dengan sistem yang tertutup) dapat
dipertahankan. Suhu yang terlalu rendah dan terlalu tinggi pada larutan nutrisi
dapat menyebabkan berkurangnya penyerapan air dan ion nutrisi, untuk
tanaman sayuran suhu optimal antara 5-15oC dan tanaman buah antara
15-25oC.
Berdasarkan pada hasil pengamatan, pertumbuhan tanaman dengan
sistem DFT ini lebih baik daripada pertumbuhan tanaman di bak rakit apung,
padahal dari segi nutrisi, suhu, cahaya dan kelembabannya sama. Keduanya
berada dalam rumah kaca dengan kondisi iklim mikro yang sama. Hal ini
berkaitan dengan adanya aerator pada sistem DFT. Aerator berfungsi dalam
penyediaan oksigen untuk pertukaran udara bagi akar tanaman, karena
kekurangan oksigen akan mengganggu penyerapan air dan nutrisi oleh akar
dan respirasi. Selain untuk menyediakan oksigen, aerator ini juga berfungsi
mengaduk-aduk nutrisi sehingga tidak terjadi penggumpalan nutrisi pada bak
DFT. Pada sistem rakit apung, tidak adanya aerator akan mengakibatkan nutrisi
menggumpal dan kebutuhan oksigen bagi akar tanaman tidak tercukupi. Oleh
karena itu, pertumbuhan tanaman pada sistem rakit apung lebih jelek daripada
sistem DFT.
Organisme pengganggu tanaman seperti hama pada hidroponik
sistem DFT ini sangat sedikit, hanya beberapa tanaman saja yang terkena
serangan hama ulat, sedangkan tidak ada tanaman yang terserang penyakit
tanaman. Hal ini akan menghemat biaya karena pemakaian pestisida yang
relatif sedikit.
Tanaman yang ditanam secara hidroponik mempunyai banyak
kelebihan dibandingkan dengan bertani secara konvensional. Kelebihan utama
ialah pemenuhan unsur hara sepenuhnya pada tanaman menggunakan larutan.
Tumbuhan dapat ditanam dengan kepadatan tinggi, penggunaan larutan yang
lebih murah karena larutan tidak terserap ke dalam tanah, tanaman lebih cepat
matang tanpa kerusakan akibat gangguan cuaca, penggunaan insektisida dan
pestisida yang relatif sedikit sehingga mengurangi biaya (Haryvedca, 2010).
A. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Berdasarkan pada praktikum acara II Hidroponik sistem DFT, maka
dapat diambil kesimpulan yaitu:

a. Sistem DFT hampir sama seperti rakit apung, perbedaannya pada DFT
ini menggunakan aerator, alat ini dipakai dalam mencukupi oksigen
untuk pertukaran udara dalam daerah perakaran, kekurangan oksigen
akan mengganggu penyerapan air dan nutrisi oleh akar dan respirasi.
Aerator ini juga berfungsi mengaduk-aduk nutrisi sehingga tidak terjadi
penggumpalan nutrisi pada bak DFT.
b. Larutan nutrisi sebagai sumber pasokan air dan mineral nutrisi
merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman
hidroponik, sehingga harus tepat dari segi jumlah, komposisi ion nutrisi
dan suhu. Hidroponik sistem DFT ini menggunakan larutan nutrisi AB
Mix.
c. Kualitas larutan nutrisi diketahui dengan mengukur electrical
conductivity (EC) larutan tersebut. Besarnya EC pada bak DFT ini
adalah 2,61
d. pH merupakan komponen yang sering dikontrol untuk dipertahankan
pada tingkat tertentu untuk optimalisasi tanaman. Besarnya pH pada bak
DFT ini adalah 2,5.
e. Pertumbuhan tanaman dengan sistem DFT ini lebih baik daripada
pertumbuhan tanaman di bak rakit apung. Pada sistem rakit apung, tidak
adanya aerator akan mengakibatkan nutrisi menggumpal dan kebutuhan
oksigen bagi akar tanaman tidak tercukupi.
f. Organisme pengganggu tanaman seperti hama pada hidroponik sistem
DFT ini sangat sedikit, hanya beberapa tanaman saja yang terkena
serangan hama ulat, sedangkan tidak ada tanaman yang terserang
penyakit tanaman. Hal ini akan menghemat biaya karena pemakaian
pestisida yang relatif sedikit.
2. Saran
Saran yang dapat diberikan pada praktikum acara II Hidroponik
sistem DFT adalah lebih baik menggunakan larutan nutrisi yang baru agar
pertumbuhan tanaman lebih maksimal, karena pada praktikum kali ini hanya
menggunakan larutan nutrisi bekas saja.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Hidroponik Rakit Apung Untuk Skala Rumah Tangga.


http:// www.ferti-mix.com. Diakses pada tanggal 18 Desember 2010.
Setiawan. 2010. Pembuatan Nutrisi Hidroponik.
http://badrussetiawan1.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 18 Desember
2010.
Falah. 2006. Produksi Tanaman dan Makanan dengan Menggunakan Hidroponik.
(http://inovasi-online.co.id/products/agli/hiryo.html). Diakses 8 Oktober
2008.
Lingga, P. 2002. Hidroponik: Bertanam Tanpa Tanah. Penebar Swadaya. Jakarta.
Marsoem, S. 2002. Tantangan dan Prospek Pengembangan Usaha Hidroponik.
dalam: Pelatihan Aplikasi Teknologi Hidroponik Untuk Pengembangan
Agribisnis Perkotaan. Creata-IPB. Bogor.
Savvas, D, and Manos, G. 1999. Automated Composition Control Of Nutrient
Solution In Closed Soilless Culture Systems. J.Agric.Eng.Res. 73 : 29-33.
Sutiyoso, Yos. 2003. Meramu Pupuk Hidroponik. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suwandi, A. 2006. Pengaruh Penggunaan Kompos Kambing sebagai Tambahan
Larutan Anorganik dalam Sistem Hidroponik Rakit Apung pada Budidaya
Selada (Lactuca sativa L.) Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas
Pertanian. Universitas Djuanda. Bogor.
Wijayani, A., D. Muljanto dan Soenoeadji, 1998. Pemberian Nitrogen pada
Berbagai Macam Media Tumbuh Hidroponik: Pengaruhnya Terhadap
Kuantitas dan Kualitas Buah Paprika (Capsicum annuum var. Grossum).
Ilmu Pertanian 6 (2) : 8-13
ACARA IV
VERTIKUKLTUR

A. Pendahuluan
1. Latar belakang
Vertikultur diambil dari istilah verticulture dalam bahasa lnggris
(vertical dan culture) artinya sistem budidaya pertanian yang dilakukan
secara vertikal atau bertingkat. Sistem vertikultur merupakan solusi atau
jawaban bagi yang berminat dalam budidaya tanaman namun memiliki
ruang atau lahan sangat terbatas. Cara bercocok tanam secara vertikultur
ini sebenarnya sama saja dengan bercocok tanam di kebun atau di sawah.
Perbedaannya terletak pada lahan yang digunakan. Misalnya, lahan 1
meter mungkin hanya bisa untuk menanam 5 batang tanaman. Dengan
sistem vertikal bisa untuk 20 batang tanaman. Banyak sedikitnya tanaman
yang akan dibudidayakan bergantung pada model wadah yang kita
gunakan. Untuk tanaman yang memerlukan banyak sinar matahari, seperti
cabai, tomat, terong, dan sawi hendaknya diletakkan di posisi bagian atas.
Sedangkan tanaman ginseng, kangkung dan seledri bisa di bagian tengah
atau bawah.
Vertikultur dapat berproduksi maksimal sepanjang nutrisi tersedia.
Dengan mempertimbangkan hal itu maka paling penting adalah memilih
media tanam yang porous serta menjaga nutrisi terus tersedia sepanjang
pertumbuhan tanaman.
2. Tujuan praktikum
Pratikum acara IV Vertikultur ini dilakukan dengan tujuan agar
mahasiswa mampu dan terampil dalam membudidayakan tanaman secara
vertikultur.
3. Waktu dan tempat praktikum
Praktikum acara IV Vertikultur dilaksanakan pada hari Rabu tanggal
23 November 2010 pukul 15.00-17.00 bertempat di Rumah Kaca Fakultas
Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
B. Tinjauan Pustaka
Pemanenan sayuran dengan sistem vertikultur biasanya dilakukan
dengan sistem cabut akar (sawi, bayam, seledri, kemangi, slada, kangkung dan
sebagainya). Apabila kita punya tanaman sendiri dan dikonsumsi sendiri akan
lebih menghemat apabila kita potong daunnya. Dengan cara tersebut tanaman
sayuran bisa bertahan lebih lama dan kita bisa panen berulang-ulang
(Rahayuhidayati, 2010).
Tanaman dengan sistem vertikultur juga memerlukan perawatan
seperti halnya makhluk hidup yang lain. Selain penyiraman dilakukan setiap
hari juga perlu pemupukan. Untuk pemupukan sebaiknya pupuk yang
digunakan adalah pupuk organik misalnya pupuk kompos, pupuk kandang
atau pupuk bokashi yang menggunakan teknologi mikroorganisme 4 (EM4)
atau simbal. Pupuk bokashi adalah hasil fermentasi bahan organik (jerami,
sampah organik, pupuk kandang, dan lain-lain) dengan teknologi EM yang
dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan tanah dan
meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Bokashi dapat dibuat
dalam beberapa hari dan bisa langsung digunakan sebagai pupuk. Pupuk
Bokashi sangat benguna sebagai sumber pupuk organik yang siap pakai dalam
waktu singkat. Bahan-bahannya juga mudah didapat dan sekaligus baik untuk
kebersihan lingkungan karena memanfaatkan limbah pertanian atau limbah
rumah tangga, seperti jerami, pupuk kandang, rumput, pupuk hijau, sekam,
dan serbuk gergaji (Anonim, 2008).
Bebagai macam teknik budidaya telah diterapkan di pertanian. Untuk
teknik budidaya yang diterapkan pada tanamn Hortikultura relatif sama
dengan teknik budidaya tanaman pertanian lainnya. Hanya saja, komoditas
hortikultura memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan perlu pembudidayaan
yang intensif, sehingga teknik budidaya yang dikembangkan bersifat spesifik
dan jarang dijumpai pada tanaman non-hortikultura. Misalnya hidroponik,
aeroponik, vertikultur, dan lain sebagainya. Hidroponik adalah istilah yang
digunakan untuk menjelaskan beberapa cara bercocok tanam tanpa
menggunakan tanah sebagai tempat menanam tanaman (Lingga, 1984).
Manfaat sawi sangat baik untuk menghilangkan rasa gatal di
tenggorokan pada penderita batuk, penyembuh penyakit kepala, bahan
pembersih darah, memperbaiki fungsi ginjal, serta memperbaiki dan
memperlancar pencernaan. Sedangkan kandungan yang terdapat pada sawi
adalah protein, lemak, karbohidrat, Ca, P, Fe, Vitamin A, Vitamin B dan
Vitamin C. Sawi bukan tanaman asli Indonesia, menurut asalnya di Asia.
Karena Indonesia mempunyai kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya
sehingga dikembangkan di Indonesia ini. Tanaman sawi dapat tumbuh baik di
tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat
diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian
pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi.
Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai
dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan
pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl.
Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak
mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat
kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara
pH 6 sampai pH 7 (Haryanto, 2003).
C. Bahan, Alat, dan Cara Kerja
1. Bahan
a. Media tanam berupa tanah dan kompos dengan perbandingan 2:1
b. Nutrisi
c. Bibit kangkung (Ipomoea sp.)
d. Bibit sawi (Brassica juncea)
1. Alat
a. Bangunan vertikultur
1. Cara Kerja
a. Mempersiapkan bangunan vertikultur
b. Mengisi kolom dengan campuran media
c. Mempersiapkan nutrisi
d. Menanam bibit
e. Memelihara tanaman yang dibudidayakan
f. Mengamati pertumbuhan tanaman

A. Hasil pengamatan dan pembahasan


1. Hasil Pengamatan
Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman Kangkung pada Vertikultur
Tinggi Tanaman (cm)
Tanaman
Minggu I Minggu II Minggu III
1 6 7 17
2 3,5 4 -
3 6,5 3,5 -
4 5 6 11,5
5 5 5,3 18
6 2,3 4,5 -
7 4,5 5 -
8 5 6,1 -
9 6,5 7 10
10 4 6 -
11 5 7 -
12 7,3 3 -
Rata-rata 5,05 5,35 4,7
Sumber : Laporan sementara
Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Jumlah Daun Kangkung pada Vertikultur

Jumlah Daun
Tanaman
Minggu I Minggu II Minggu III
1 - 4 7
2 - 2 -
3 - 4 -
4 - 3 6
5 - - 7
6 - - -
7 - - -
8 - - -
9 - 4 7
10 - - -
11 - 2 -
12 - 3 -
Rata-rata - 1,8 2,25
Sumber : Laporan sementara
Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman Sawi pada Vertikultur

Tinggi tanaman (cm)


Tanaman
Minggu I Minggu II Minggu III
1 4,8 5 5
2 6,9 7,4 9
3 6,5 7 9
4 6 5 5
5 5 5,2 -
6 5,3 6,5 -
7 5,4 5,6 6
8 7 4,5 4,5
9 5 6 10
10 6,8 7,5 7,5
11 5,5 6 -
12 6,9 7,1 -
13 5,3 5,3 9
14 6 6,3 8
15 4 5 -
16 5 5,9 6,5
17 4 4,5 5
18 5 5,3 6
19 5,4 6 7,5
20 7 8,7 12
21 4,5 4,5 5
22 5,5 6,5 7
23 5 6,5 7
24 6 7 7
Rata-rata 5,57 5,76 5,16
Sumber : Laporan sementara
Tabel 4.4 Hasil Pengamatan Jumlah Daun Sawi pada Vertikultur
Jumlah daun
Tanaman
Minggu II Minggu III
1 4 6
2 6 7
3 5 5
4 4 -
5 4 -
6 4 5
7 4 5
8 3 4
9 4 7
10 5 5
11 - -
12 - -
13 4 6
14 5 6
15 3 -
16 4 4
17 4 5
18 4 5
19 4 4
20 4 6
21 5 5
22 5 5
23 5 6
24 4 5
Rata-rata 3,7 2,375
Sumber : Laporan sementara

2. Pembahasan
Vertikultur dapat diartikan sebagai teknik budidaya tanaman secara
vertikal sehingga penanaman dilakukan secara bertingkat. Teknik
budidaya ini tidak memerlukan lahan yang luas, bahkan dapat dilakukan
pada rumah yang tidak memiliki halaman sekalipun. Pemanfaatan teknik
vertikultur ini memungkinkan untuk berkebun dengan memanfaatkan
tempat secara efisien. Bercocok tanam secara vertikultur sebenarnya tidak
berbeda dengan bercocok tanam di kebun maupun di ladang. Mungkin
sekilas bercocok tanam secara vertikultur terlihat rumit, tetapi sebenarnya
sangat sederhana. Tingkat kesulitannya tergantung dari model yang
digunakan. Model yang sederhana, mudah diikuti dan dipraktekan. Bahkan
bahan-bahan yang digunakan mudah ditemukan sehingga dapat diterapkan
oleh siapa saja.
Vertikultur memiliki kelebihan dan kekurangan, kelebihan dari
sistem pertanian vertikultur yaitu :
a. Efisiensi dalam penggunaan lahan.
b. Penghematan pemakaian pupuk dan pestisida.
c. Dapat dipindahkan dengan mudah karena tanaman
diletakkan dalam wadah tertentu.
d. Mudah dalam hal monitoring/pemeliharaan tanaman.
Sementara kelemahan sistem budidaya vertikultur antara lain :
a. Investasi awal cukup tinggi
b. Sistem penyiraman harus kontinyu serta memerlukan beberapa
peralatan tambahan, misalnya tangga sebagai alat bantu penyiraman.
Jenis tanaman yang dapat ditanam dengan sistem budidaya
vertikultur sangat banyak, misalnya tanaman sayur semusim (seperti sawi,
selada, kubis, wortel, tomat, terong, cabai dan lain-lain), tanaman bunga
(seperti anggrek, mawar, melati, azalea, kembang sepatu dan lain-lain) dan
tanaman obat-obatan yang sekulen.
Pada praktikum vertikultur kali ini bahan yang digunakan yaitu
bibit kangkung (Ipomoea sp.) sebanyak 12 dan bibit sawi (Brassica
juncea) sebanyak 24. Bibit sawi dan kangkung ini ditanam pada bangunan
vertikultur (pipa kayu) dengan menggunakan media tanam berupa larutan
nutrisi (sistem hidroponik). Pengamatan dilakukan tiap minggu dengan
variabel pengamatan yang dilakukan yaitu tinggi tanaman dan jumlah
daun. Dari tabel 4.1 dapat dilihat bahwa tanaman kangkung pada minggu
kedua mengalami pertumbuhan, hanya satu tanaman saja yang tidak
mengalami pertumbuhan, dan dua tanaman mengalami penurunan. Dua
tanaman yang mengalami terjadinya penurunan karena pada tanaman
tersebut akarnya mengalami pertumbuhan memanjang dan pemanjangan
akar ini menyebabkan tinggi tanaman (batang) mengalami penurunan.
Sedangkan pada minggu ketiga sebagian mengalami kematian akibat
kurangnya unsure hara yang diserap.
Budidaya tanaman kangkung dan sawi secara keseluruhan dari
hasil praktikum ini, tanaman kangkung lebih berhasil tumbuh dari pada
tanaman sawi, Perbandingan tinggi tanaman dari kedua tanaman dengan
umur yang sama memiliki perbedaan yaitu tanaman kangkung tingginya
lebih panjang dibandingkan dengan panjang tanaman sawi. Perbedaan di
atas disebabkan oleh daya tumbuh antara tanaman kangkung dan tanaman
sawi berbeda, karena memang kedua tanaman tersebut hubungan
kekerabatannya tidak sama. Penyebab utama terjadinya perbedaan dalam
pertumbuhan tanaman sayuran ini adalah karena tanaman kangkung
termasuk tanaman yang dapat menyerap unsur hara yang banyak.
Iklim mikro merupakan kondisi iklim pada suatu ruang yang sangat
terbatas, tetapi komponen iklim ini penting artinya bagi kehidupan
tumbuhan atau tanaman karena kondisi udara pada skala mikro ini yang
akan berkontak langsung dengan tanaman. Keadaan unsur-unsur iklim ini
akan mempengaruhi tingkah laku dan metabolisme yang berlangsung pada
tubuh tanaman kangkung dan tanaman sawi, mempengaruhi keadaan iklim
mikro di sekitarnya. Keberadaan bangunan fisik buatan manusia dan
benda-benda alami pada suatu lingkungan juga mempunyai pengaruh
terhadap iklim mikro setempat, misalnya terhadap suhu udara, intensitas
dan lama penyinaran yang diterima oleh suatu permukaan dan kelembaban
udara. Keragaman dari unsur-unsur iklim ini disebabkan karena perbedaan
kemampuan dari benda-benda tersebut dalam menyerap radiasi matahari,
menyiram air dan keragaman rupa fisiknya .
Pengetahuan tentang sifat-sifat benda atau bahan sehubungan
dengan kemampuannya untuk menyerap, memantulkan atau meneruskan
radiasi matahari serta kemampuannya dalam menyerap dan menahan air,
sering dimanfaatkan menusia dalam usahanya untukmemodifikasi iklim
mikro. Modifikasi iklim mikro sering dilakukan dengan tujuan untuk
menciptakan lingkungan yang lebih optimal untuk pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Pendekatan lain untuk memodifikasi iklim mikro
yang dilakukan manusia diantaranya adalah dengan merubah kelembaban
udara dan temperatur. Kelembaban nisbi udara pada hakekatnya adalah
nilai perbandingan antara uap air yang terkandung dan gaya kandung
maksimum uap air di udara pada suatu suhu dan tekanan tertentu, yang
dinyatakan dalam persen.
Banyak faktor yang mempengaruhi dalam pertumbuhan tanaman
sayuran kangkung dan sawi dengan media hidroponik ini diantaranya,
yaitu secara internal pertumbuhan tanaman di tentukan oleh faktor genetik,
fisik, kandungan bahan kimiawi pada tanaman, varietas, fisiologis dan
daya adaptasi, kesemuanya itu mempengaruhi dalam proses pertumbuhan
dan pembelahan sel tanaman sayuran itu sendiri. Selain faktor internal
yang banyak diketahui yaitu faktor eksternal yaitu meliputi lingkungan,
media, sistem, pupuk, mesin, suhu, kelembapan, pemeliharaan dan
ketelitian dalam menghitung dan merawat. Dengan kenyataan yang ada
semua faktor yang disebutkan di atas sangat mempengaruhi dalam
pertumbuhan tanaman dengan sistem hidroponik pada rumah kaca. Untuk
mengatasi permasalahan yang ada maka perlu ada upaya memperbaiki
perlakuan dan menggunakan bahan yang sama untuk mendapatkan hasil
yang baik. Dari semua kelemahan dan kendala serta perolehan hasil yang
ada maka untuk memperbaiki dan memperoleh hasil yang lebih baik perlu
menggunakan tanaman yang satu jenis agar memperoleh hasil yang
optimal dan karena hasil yang diperoleh tanaman kangkung baik maka
tanaman kangkung tersebut cocok dibudidayakan dengan cara hidroponik
system NFT.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Budidaya Tanaman Secara Vertikultur. http://cerianet-


agricultur.blogspot.com. Diakses pada tanggal 16 Desember 2010.
Haryanto, Eko, 2003. Sawi dan Salada. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal. 8-15.
Rahayuhidayati. 2010. Budidaya Tanaman Secara Vertikultur.
http://blogs.unpad.ac.id. Diakses pada tanggal 17 Desember 2010.
Lingga, Pinus. 1984. Hidroponik Bercocok Tanam Tanam Tanpa Tanah. Penebar
Swadaya. Jakarta