Anda di halaman 1dari 8

STATUS GIZI PADA REMAJA

• Pengertian Status Gizi

Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang
diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga didefinisikan sebagai
status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrien.
Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada data antropometri serta
biokimia dan riwayat diit (Beck, 2000: 1).

Menurut Robinson dan Weighley (1984) yang dikutip oleh Paryanto (1996)
mengatakan bahwa status gizi didefinisikan sebagai keadaan kesehatan yang berhubungan
dengan penggunaan makanan oleh tubuh. Almatsier (2000) mengatakan bahwa pengertian
status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat
gizi. Dibedakan antara status gizi kurang, baik dan lebih. Supariasa, Bakri dan Fajar (2001)
mengatakan bahwa status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk
variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu.

Menurut Almatsier (2001) secara klasik kata gizi hanya dihubungkan dengan kesehatan
tubuh, yaitu untuk menyediakan energi, membangun dan memelihara jaringan tubuh, serta
mengatur proses-proses kehidupan dalam tubuh. Pengertian gizi lebih luas adalah gizi
dikaitkan dengan potensi ekonomi seseorang karena gizi berkaitan dengan perkembangan
otak, kemampuan belajar dan produktivitas kerja.

Menurut Paryanto (1996) mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi status gizi
adalah faktor langsung seperti asupan makan dan penyakit infeksi. Latar belakang terjadinya
faktor tersebut adalah ekonomi keluarga, produksi pangan, kondisi perumahan, ketidaktahuan
dan pelayanan kesehatan yang kurang baik.
• Jenis Parameter Status Gizi

Ada beberapa jenis parameter yang dilakukan untuk mengukur tubuh manusia yaitu:
umur, berat badan, panjang badan, lingkar lengan atas, lengkar kepala, lengkar dada, lingkar
pinggul dan tebal lemak bawah kulit. (Hadi, 2002; Soetjiningsih, 1998; Supariasa, dkk, 2001;
Nurrahmah, 2001).

• Umur

Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan yang terjadi karena
kesalahan ini akan menyebabkan interpretasi status gizi menjadi salah. Hasil pengukuran
berat badan dan panjang tidak akan berari kalau penentuan umur yang salah.

• Berat Badan

Berat badan merupakan pengukuran yang terpenting pada bayi baru lahir. Dan hal ini
digunakan untuk menentukan apakah bayi termasuk normal atau tidak (Supariasa,dkk, 2001).

Berat badan merupakan hasil peningkatan / penurunan semua jaringan yang ada pada
tubuh antara tulang, otot, lemak, cairan tubuh. Parameter ini yang paling baik untuk melihat
perubahan yang terjadi dalam waktu singkat karena konsumsi makanan dan kondisi
kesehatan (Soetjiningsih 1998).

Penentuan berat badan dilakukan dengan cara menimbang. Alat yang digunakan
sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut: (1) Mudah digunakan dan dibawa dari satu
tempat ke tempat lain, (2) Mudah diperoleh dan relatif murah harganya, (3) Ketelitian
penimbangan maksimum 0,1 kg, (4) Skalanya mudah dibaca, (5) Aman untuk menimbang
balita.

• Tinggi Badan

Tinggi badan merupakan ukuran antropometrik kedua yang cukup penting.


Keistemewaannya bahwa ukuran tinggi badan akan meningkat terus pada waktu pertumbuhan
sampai mencapai tinggi yang optimal. Di samping itu tinggi badan dapat dihitung dengan
dibandingkan berat badan dan dapat mengesampingkan umur.
Cara mengukur panjang badan usia 0-24 bulan yaitu: (1) alat pengukur diletakkan di
atas meja atau tempat yang datar, (2) bayi ditidrkan lurus di dalam alat pengukur, (3) bagian
bawah alat pengukur sebelah kaki digeser sehingga tepat menyinggung telapak kaki bayi dan
skala pada sisi alat ukur dapat dibaca.

• Lingkar Kepala

Lingkar kepala dipakai untuk mengetahui volume intrakranial dan dipakai untuk
menaksir pertumbuhan otak. Apabila kepala tumbuh tidak normal maka kepala akan
mengecil dan menunjukkan retardasi mental sebaliknya bila kepala membesar kemungkinan
ada penyumbatan aliran serebrospinal seperti pada hidrosefalus yang akan meningkatkan
volume kepala.

• Lingkar Lengan Atas

Pengukuran ini mencerminkan tumbuh kembang jaringan lemak dan otot yang tidak
terpengaruh banyak oleh keadaan cairan tubuh dibandingkan berat badan.

• Lipatan Kulit

Tebalnya lipatan kulit bagian triseps dan subskapular menggambarkan refleksi tubuh
kembang jaringan lemak di bawah kulit, yang mencerminkan kecukupan energi
(Soetjiningsih, 1998).

Indeks Massa Tubuh :

Digunakan pada umur 18+


Menurut FAO dan WHO :

1. Batas IMT untuk laki-laki normal 20,1-25,0

2. Batas IMT untuk perempuan normal 18,7-23,9

IMT = Berat Badan / (Tinggi Badan* tinggi badan [m])


Range IMT :

1. Kurus [ Berat ] < 17,0


2. Kurus [ Ringan ] 17,0-18,4
3. Normal 18,5 - 25,0
4. Gemuk [ Ringan ] 25,1-27,0
5. Gemuk [ Berat ] 27<

• Macam Klasifikasi Status Gizi

Klasifikasi Status Gizi

Tabel Status Gizi

AMBANG
INDEKS STATUS GIZI
BATAS *)
Gizi Lebih > + 2 SD
Gizi Baik ≥ -2 SD sampai +2
Berat badan menurut SD
umur (BB/U) Gizi Kurang < -2 SD sampai ≥
-3 SD
Gizi Buruk < – 3 SD
Tinggi badan menurut Normal ≥ 2 SD
umur (TB/U) Pendek (stunted) < -2 SD
Berat badan menurut Gemuk > + 2 SD
tinggi badan (BB/TB) Normal ≥ -2 SD sampai + 2
SD
Kurus (wasted) < -2 SD sampai ≥
-3 SD
Kurus sekali < – 3 SD

Sumber : Depkes RI, 2002.

Klasifikasi di atas berdasarkan parameter antropometri yang dibedakan atas:

1) Berat Badan / Umur

Status gizi ini diukur sesuai dengan berat badan terhadap umur dalam bulan yang
hasilnya kemudian dikategorikan sesuai dengan tabel 2.1.
2) Tinggi Badan / Umur

Status gizi ini diukur sesuai dengan tinggi badan terhadap umur dalam bulan yang
hasilnya kemudian dikategorikan sesuai dengan tabel 2.1.

3) Berat Badan / Tinggi Badan

Status gizi ini diukur sesuai dengan berat badan terhadap tinggi badan yang hasilnya
kemudian dikategorikan sesuai dengan tabel 2.1

4) Lingkar Lengan Atas / Umur

Lingkar lengan atas (LILA) hanya dikategorikan menjadi 2 kategori yaitu gizi kurang
dan gizi baik dengan batasan indeks sebesar 1,5 cm/tahun.

5) Parameter Berat Badan / Tinggi Badan banyak digunakan karena memiliki kelebihan:

1) Tidak memerlukan data umur

2) Dapat membedakan proporsi badan ( gemuk, normal, kurus)

Menurut Depkes RI (2005) Parameter berat badan / tinggi badan berdasarkan kategori
Z-Score diklasifikasikan menjadi 4 yaitu:

1) Gizi Buruk ( Sangat Kurus) : <-3 SD

2) Gizi Kurang (Kurus) :-3SDs/d<-2SD

3) Gizi Baik (Normal) :-2SDs/d+2SD

4) Gizi Lebih (Gemuk) :>+2SD

• IMT SEBAGAI ALAT PEMANTAU BERAT BADAN

Dengan IMT akan diketahui apakah berat badan seseorang dinyatakan normal, kurus atau
gemuk. Penggunaan IMT hanya untuk orang dewasa berumur > 18 tahun dan tidak dapat
diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil, dan olahragawan.
Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut:

Berat Badan (Kg)


IMT = -------------------------------------------------------
Tinggi Badan (m) X Tinggi Badan (m)

Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan FAO/WHO, yang membedakan
batas ambang untuk laki-laki dan perempuan. Disebutkan bahwa batas ambang normal untuk
laki-laki adalah: 20,1–25,0; dan untuk perempuan adalah : 18,7-23,8. Untuk kepentingan
pemantauan dan tingkat defesiensi kalori ataupun tingkat kegemukan, lebih lanjut
FAO/WHO menyarankan menggunakan satu batas ambang antara laki-laki dan perempuan.
Ketentuan yang digunakan adalah menggunakan ambang batas laki-laki untuk kategori kurus
tingkat berat dan menggunakan ambang batas pada perempuan untuk kategorigemuk tingkat
berat. Untuk kepentingan Indonesia, batas ambang dimodifikasi lagi berdasarkan pengalam
klinis dan hasil penelitian dibeberapa negara berkembang. Pada akhirnya diambil kesimpulan,
batas ambang IMT untuk Indonesia adalah sebagai berikut:

Kategori IMT :

Kurus
Kekurangan berat badan tingkat berat < 17,0
Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0 – 18,4
Normal 18,5 – 25,0
Gemuk
Kelebihan berat badan tingkat ringan 25,1 – 27,0
Kelebihan berat badan tingkat berat > 27,0

Jika seseorang termasuk kategori :


1.IMT < 17,0: keadaan orang tersebut disebut kurus dengan kekurangan berat badan tingkat
berat atau Kurang Energi Kronis (KEK) berat.
2.IMT 17,0 – 18,4: keadaan orang tersebut disebut kurus dengan kekurangan berat badan
tingkat ringan atau KEK ringan.
Contoh cara menghitung IMT:

Eko dengan tinggi badan 148 cm, mempunyai berat badan 38 kg.

38
-------------------- = 17,3
(1,48 X 1,48) m

Status gizi Eko adalah kurus tingkat ringan. Eko dianjurkan menaikkan berat badan sampai
menjadi normal antara 41- 54 kg dengan IMT 18,5 – 25,0.

PERHATIAN !
Seseorang yang termasuk kategori kekurangan berat badan tingkat ringan (KEK ringan)
sudah perlu mendapat perhatian untuk segera menaikkan berat badan.

3.IMT 18,5 – 25,0 : keadaan orang tersebut termasuk kategori normal.


4.IMT 25,1 – 27,0 : keadaan orang tersebut disebut gemuk dengan kelebihan berat badan
tingkat ringan.
5.IMT > 27,0 : keadaan orang tersebut disebut gemuk dengan kelebihan berat badan tingkat
berat

Contoh cara menghitung :

Opong dengan tinggi badan 159 cm, mempunyai berat badan 70 kg. Maka IMT Opong adalah

70 70
-------------------- = -------- = 27,7
(1,59 X 1,59) m 2,53

Berarti status gizi Opong adalah gemuk tingkat berat, dan Opong dianjurkan menurunkan
berat badannya sampai menjadi 47- 63 kg agar mencapai berat badan normal (dengan IMT
18,5 – 25,0).
PERHATIAN !
Seseorang dengan IMT > 25,0 harus berhati-hati agar berat badan tidak naik. Dianjurkan
untuk menurnkan berat badannya sampai dalam batas normal.