Anda di halaman 1dari 3

c Nama : ROSALIA

NIM : 0802101010020

Toksikologi Veteriner

 c c


 c
c

 c

c Ferum atau besi merupakan salah satu unsur logam- logam transisi yang berada
di alam yang bersifat sangat esensial bagi tubuh makhluk hidup. Pada beberapa proses
reaksi kimiawi tubuh, ferum menjadi bagian komponen- komponen enzim.
Hemoglobin eritrosit juga membutuhkan ferum untuk pembentukannya.

Dalam tubuh yang sehat, hampir seluruhnya Fe berada dalam bentuk ikatan
kompleks dengan logam protein (apoferitin) sebesar ±3,5 g dan sebagian besar (±2,5
g) berada di dalam hemoglobin eritrosit.

Absorbsi Fe melalui saluran cerna terutama berlangsung di duodenum dan


jejunum yang mudah diabsorbsi dalam benfuk fero (Fe 2+). Ion fero diubah menjadi ion
feri (Fe3+) dalam sel mukosa dan masuk ke dalam plasma darah atau menjadi substansi
cadangan dalam sel mukosa usus dalam bentuk feritin. Fe yang baru diserap akan
segera diangkut dari sel mukosa ke sumsum tulang untuk eritropoesis yang dapat
meningkat sampai lebih dari 5 kali pada kondisi anemia berat atau hipoksia.

Pada individu normal tanpa defisiensi Fe, jumlah yang diabsorbsi hanya
diperlukan 0,5- 1,5 mg/hari. Absorbsi Fe meningkat jika cadangan rendah atau
kebutuhan Fe meningkat untuk eritropoesis.

Di dalam makanan yang dikonsumsi oleh makhluk hidup, terdapat dua jenis
zat besi (Fe), yaitu:

-c rat besi (Fe) heme, yang terutama ditemukan dalam produk hewani, yang
bersifat lebih mudah diserap.
-c rat besi (Fe) non- heme, yang merupakan lebih dari 85% zat besi yang
dikonsumsi sehari- hari.

Jumlah Fe yang dibutuhkan setiap hari dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor
umur, jenis kelamin dan jumlah darah dalam tubuh dapat mempengaruhi kebutuhan,
walaupun keadaan cadangan Fe memegang peranan yang penting. Dalam keadaan
normal dapat diperkirakan bahwa seorang laki- laki dewasa memerlukan asupan
sebesar 10 mg, dan wanita memerlukan asupan sebesar 12 mg sehari guna memenuhi
ambilan sebesar masing- masing 1 mg dan 1,2 mg.

Bila kebutuhan Fe tidak dipenuhi, maka deposit Fe akan digunakan dan lambat
laun akan habis, lalu timbul anemia defisiensi Fe. Keadaan ini memerlukan
penambahan Fe dalam bentuk obat. Dosis yang dikonsumsi harus sesuai dengan
kebutuhan, jika tidak akan menyebabkan keracunan.

 c c
c

c Ferum hanya dapat masuk ke dalam mukosa usus apabila telah bersenyawa
dengan apoferitin ( substansi protein pembentuk feritin). Jumlah apoferitin yang ada
dalam mukosa usus bergantung pada kadar Fe tubuh. Bila kandungan Fe dalam tubuh
sudah cukup, maka semua apoferitin yang ada pada mukosa usus berikatan dengan
Fe2+ menjadi feritin. Dengan demikian tidak ada lagi apoferitin bebas yang dapat
berikatan dengan Fe dan masuk ke dalam mukosa usus.

Pada kasus keracunan, kadar Fe yang masuk ke dalam tubuh telah melebihi
kebutuhan absorbsi. Ketika Tubuh telah tercukupi kebutuhan Fe, apoferitin tidak
dihasilkan sehingga Fe tidak mempunyai pasangan untuk berikatan. Dalam keadaan
bebas, Fe menjadi berperan menjadi salah satu bentuk radikal bebas yang bersifat
racun bagi sel sehingga sel mengalami degenerasi ataupun nekrosis. Fe yang bebas
dengan mudah berikatan dengan hampir seluruh biomolekul- biomolekul seperti
membran sel, asam nukleat, protein plasma, dan sebagainya. Hal ini dapat
menyebabkan kerusakan pda sel- sel tubuh.

Efek samping yang paling sering timbul berupa intoleransi terhadap obat
sediaan oral dapat berupa mual dan nyeri lambung (± 7- 20%), konstipasi (± 10%),
diare (± 5%) dan kolik. Hal ini biasanya bersifat ringan dan dapat dikurangi dengan
mengurangi dosis.

Pada pemberian Fe secara IM dapat menyebabkan reaksi lokal pada tempat


suntikan yaitu berupa peradangan lokal dan rasa sakit disertai perubahan warna
kecoklatan i tempat penyuntikan.

Intoksikasi akut sangat jarang terjadi pada orang dewasa, kebanyakan terjadi
pada anak akibat menelan terlalu banyak tablet FeSO4 yang mirip gula- gula.
Intoksikasi akut ini dapat terjadi setelah menelan Fe sebanyak 1 g. Kelainan utama
terdapat pada saluran cerna, mulai dari iritasi, korosi, sampai nekrosa. Gejala yang
timbul seringkali berupa mual, muntah, diare, feces berwarna hitam karena perdarahan
saluran cerna, syok dan akhirnya kolaps kardiovaskular dengan bahaya kematian.
Keracunan Fe juga dapat terjadi secara tidak langsung ketika bahan makanan
yang kita konsumsi selama ini mengandung kontaminasi Fe. Pada beberapa penelitian
dipaparkan beberapa kasus adanya cemaran padi terhadap Fe yang ditanam pada
daerah pasang surut, daerah gambut, daerah rendah, cekungan dan daerah bukaan baru
dengan perkiraan seluas 1 juta Ha. Kasus lain juga dipaparkan adanya kontaminasi Fe
terhadap air minum isi ulang yang diangkut dari mata air pegunungan yang memiliki
tingkat kadar Fe yang tinggi.

Beri Nilai