Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Apa itu pengangguran? Pengangguran adalah suatu kondisi di mana orang tidak
dapat bekerja, karena tidak tersedianya lapangan pekerjaan. Ada berbagai macam tipe
pengangguran, misalnya pengangguran teknologis, pengangguran friksional dan
pengangguran struktural. Tingginya angka pengangguran, masalah ledakan penduduk,
distribusi pendapatan yang tidak merata, dan berbagai permasalahan lainnya di negara kita
menjadi salah satu faktor utama rendahnya taraf hidup para penduduk di negara kita.
Namun yang menjadi manifestasi utama sekaligus faktor penyebab rendahnya taraf hidup
di negara-negara berkembang adalah terbatasnya penyerapan sumber daya, termasuk
sumber daya manusia. Jika dibandingkan dengan negara-negara maju, pemanfaatan
sumber daya yang dilakukan oleh negara-negara berkembang relatif lebih rendah daripada
yang dilakukan di negara-negara maju karena buruknya efisiensi dan efektivitas dari
penggunaan sumber daya baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Dua
penyebab utama dari rendahnya pemanfaatan sumber daya manusia adalah karena tingkat
pengangguran penuh dan tingkat pengangguran terselubung yang terlalu tinggi dan terus
melonjak. Pengangguran penuh atau terbuka yakni terdiri dari orang-orang yang
sebenarnya mampu dan ingin bekerja, akan tetapi tidak mendapatkan lapangan pekerjaan
sama sekali.

Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah


pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen. Ketiadaan
pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang
menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang
berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur
dan keluarganya. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan
kekacauan politik keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan
pembangunan ekonomi.

1 Studi Kependudukan
B. Rumusan Masalah

Seperti yang telah diuraikan pada latar belakang, maka kami mengambil rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Pengertian definisi pengangguran
2. Apa yang menjadi masalah pengangguran di Indonesia
3. Pengelompokan pengangguran di Indonesia
4. Jenis, sifat dan sebab-sebab pengangguran di Indonesia
5. Penyebab terjadinya pengangguran
6. Dampak pengangguran

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan membuat makalah yang berjudul “Pengangguran di Indonesia” adalah


sebagai berikut :
1. Mengetahui definisi pengangguran
2. Mengetahui apa yang menjadi masalah pengangguran di Indonesia
3. Mengetahui angkatan kerja dan kesempatan kerja
4. Mengetahui keadaan pengangguran di Indonesia
5. Mengetahui dampak pengangguran

D. Metode Pengumpulan Data

Dalam penyusunan makalah ini, perlu sekali pengumpulan data serta informasi
yang sesuai dengan permasalahan yang akan di bahas sehubungan dengan makalah
tersebut dalam penyusunan makalah ini, kami sebagai penulis menggunakan beberapa
metode pengumpulan data, yang pertama browsing internet, kedua dengan membaca
buku-buku terkait dengan masalah pengangguran di Indonesia.

2 Studi Kependudukan
BAB II
PEMBAHASAN

A. Masalah Pengangguran di Indonesia

Pengangguran di Indonesia yang telah mencapai puluhan juta orang merupakan


suatu masalah yang mendesak yang harus segera dipecahkan karena dampak
pengangguran itu akan sangat berbahaya bagi tatanan kehidupan sosial. Adalah fakta
bahwa berbagai kejahatan sosial seperti pencurian/penodongan/perampokan, pelacuran,
jula beli anak, anak jalanan dan lain-lain merupakan dampak dari pengangguran. Dilihat
dari dampaknya yang luas terhadap tatanan kehidupan sosial, pengangguran telah menjadi
kuman penyakit sosial yang relatif cepat menyebar, berbahaya dan beresiko tinggi
menghasilkan korban sosial yang pada gilirannya menurunkan kualitas sumber daya
manusia, martabat dan harga diri manusia.

Karena itulah maka melalui strategi komunikasi pembangunan, kebijakan-


kebijakan jangka pendek dan jangka panjang yang realistis mutlak dilakukan agar angka
pengangguran dapat ditekan/dikurangi. Dengan kebijakan yang langsung menyentuh
permasalahan pengangguran, maka penyebab dari berbagai patologi sosial yang dialami
masyarakat saat ini dapat dikurangi. Berbagai masalah sosial perkotaan yang meresahkan
masyarakat saat ini berakar dari kesulitan hidup atau kesulitan ekonomi yang disebabkan
oleh ketiadaan sumber hidup (pekerjaan).

B. Jenis Pengelompokan Pengangguran di Indonesia

Pengangguran merupakan masalah pokok dalam suatu masyarakat modern. Jika


tingkat pengangguran tinggi, sumber daya terbuang percuma dan tingkat pendapatan
masyarakat merosot. Dalam situasi seperti ini kelesuan ekonomi akan berpengaruh pula
pada emosi masyarakat dan kehidupan keluarga sehari-hari. Di negara-negara berkembang
pengangguran dapat digolongkan ke dalam 3 jenis yaitu:

3 Studi Kependudukan
1. Pengangguran yang kelihatan (visible underemployment)
Visible underemployment akan timbul apabila jumlah waktu kerja yang sungguh-
sungguh digunakan lebih sedikit daripada waktu kerja yang sanggup/disediakan untuk
bekerja. Tegasnya, ini merupakan suatu pengangguran. Meskipun beberapa dari
pengangguran itu terdapat di sektor-sektor kerajinan dan industri-industri sedang
maupun besar, namun cukup penting bagi negara-negara sedang berkembang karena
adanya sifat-sifat khas kegiatan sektor pertanian.

2. Pengangguran tak kentara (invisible underemployment)


Pengangguran tak kentara terjadi apabila para pekerja telah menggunakan waktu
kerjanya secara penuh dalam suatu pekerjaan dapat ditarik (setelah ada perubahan-
perubahan sederhana dalam organisasi atau metode produksi tetapi tanpa suatu
tambahan yang besar) ke sektor-sektor/pekerjaan lain tanpa mengurangi output.

3. Pengangguran potensial (potensial underemployment)


Pengangguran potensial merupakan suatu perluasan daripada disguised
unemployment, dalam arti bahwa para pekerja dalam suatu sektor dapat ditarik dari
sektor tersebut tanpa mengurangi output, hanya harus dibarengi dengan perubahan-
perubahan fundamental dalam metode-metode produksi yang memerlukan
pembentukan kapital yang berarti.

4 Studi Kependudukan
Apabila digambarkan dengan bagan, maka jenis pengangguran ini akan nampak sebagai
berikut:

Bila ditinjau dari sebab-sebabnya, pengangguran dapat digolongkan menjadi 7, yaitu:


1 Pengangguran Friksional (Transisional).
. Pengangguran ini timbul karena perpindahan orang-orang dari satu daerah ke daerah
lain, dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain dan karena tahapan siklus hidup yang
berbeda.
Contoh:
- Perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri, untuk sementara
menganggur.
- Berhenti dari pekerjaan yang lama, mencari pekerjaan yang baru yang lebih baik

2 Pengangguran Struktural
. Pengangguran ini terjadi karena adanya perubahan dalam struktur perekonomian yang
menyebabkan kelemahan di bidang keahlian lain. Contoh: Suatu daerah yang tadinya
agraris (pertanian) menjadi daerah industri, maka tenaga bidang pertanian akan
menganggur.

3 Pengangguran Siklikal atau Siklus atau Konjungtural


. Pengangguran ini terjadi karena adanya gelombang konjungtur, yaitu adanya resesi
atau kemunduran dalam kegiatan ekonomi. Contoh: Di suatu perusahaan ketika
sedang maju butuh tenaga kerja baru untuk perluasan usaha. Sebaliknya ketika
usahanya merugi terus maka akan terjadi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) atau
pemecatan.

5 Studi Kependudukan
4 Pengangguran Musiman (Seasonal)
. Pengangguran musiman terjadi karena adanya perubahan musim. Contoh: pada
musim panen, para petani bekerja dengan giat, sementara sebelumnya banyak
menganggur.

5 Pengangguran Teknologi
. Pengangguran ini terjadi karena adanya penggunaan alat–alat teknologi yang semakin
modern. Contoh, sebelum ada penggilingan padi, orang yang berprofesi sebagai
penumbuk padi bekerja, setelah ada mesin penggilingan padi maka mereka tidak
bekerja lagi.

6 Pengangguran Politis
. Pengangguran ini terjadi karena adanya peraturan pemerintah yang secara langsung
atau tidak, mengakibatkan pengangguran. Misalnya penutupan Bank-bank
bermasalah sehingga menimbulkan PHK.

7 Pengangguran Deflatoir
. Pengangguran deflatoir ini disebabkan tidak cukup tersedianya lapangan pekerjaan
dalam perekonomian secara keseluruhan, atau karena jumlah tenaga kerja melebihi
kesempatan kerja, maka timbullah pengangguran.

Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja
sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau
seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran
umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak
sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya.
Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya
pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat
menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.

Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah


pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen. Ketiadaan
pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang
menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang
berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur

6 Studi Kependudukan
dan keluarganya. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan
kekacauan politik keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan
pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan
per kapita suatu negara. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah
"pengangguran terselubung" di mana pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan
tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak orang.

Macam-macam pengangguran berdasarkan penyebab terjadinya dikelompokkan


menjadi beberapa jenis, yaitu :
1. Pengangguran siklis/konjungtur :
Disebabkan oleh siklus ekonomi atau merosotnya kegiatan perekonomian, misalnya :
terjadinya krisis ekonomi global membuat banyak perusahaan bangkrut yang berimbas
pada PHK karyawan.
Cara mengatasi :
• Peningkatan daya beli masyarakat
• Mengarahkan permintaan masyarakat untuk membeli barang dan jasa
• Memperluas pasar barang dan jasa
• Mengatur suku bunga bank agar tidak terlalu tinggi

2. Pengangguran struktural:
Disebabkan oleh perubahan struktur ekonomi suatu negara, misalnya: perubahan dari
sektor agraris ke industri sehingga terjadi pengangguran di sektor agraris.
Cara mengatasi :
• Pendidikan dan pelatihan tenaga kerja
• Mendirikan industri padat karya
• Meningkatkan mobilitas modal dan tenaga kerja
• Memindahkan kelebihan tenaga kerja dari tempat dan sektor yang berlebihan ke
tempat dan sektor yang kekurangan

3. Pengangguran Teknologi:

7 Studi Kependudukan
Disebabkan adanya modernisasi /kemajuan teknologi dalam berproduksi, misalnya :
pabrik yang dulu menggunakan tenaga kerja manusia diganti dengan mesin mesin,
akibatnya mengurangi tenaga kerja manusia.
Cara mengatasi :
• Mempersiapkan masyarakat untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi dengan
cara memasukkan materi kurikulum pelatihan teknologi di sekolah.
• Pengenalan teknologi sejak dini
• Pelatihan tenaga pendidik untuk penguasaan teknologi

4. Pengangguran Friksional:
Disebabkan adanya kesulitan temporer, yaitu pergeseran yang tiba-tiba terjadi pada
penawaran dan permintaan tenaga kerja sehingga sulit mempertemukan pencari kerja
dengan lowongan kerja yang ada. Misalnya : pekerja yang berkeinginan memperoleh
pekerjaan yang lebih baik, selama proses seleksi ia akan menunggu maka ia dapat
dikategorikan sebagai pengangguran friksional.
Cara mengatasi :
• Memberikan informasi yang lengkap tentang permintaan dan penawaran tenaga kerja
• Menyusun rencana penggunaan tenaga kerja sebaik mungkin
• Memberikan bantuan pinjaman lunak untuk UKM

5. Pengangguran Musiman :
Disebabkan adanya pergantian/perubahan musim, biasanya terjadi di daerah pertanian,
misalnya : petani yang menunggu musim panen, maka ia akan menganggur untuk
sementara waktu.
Cara mengatasi :
• Pemberian informasi yang jelas tentang adanya lowongan kerja pada bidang lain
• melakukan pelatihan keterampilan tenaga kerja di waktu luang
• mengadakan pelatihan kerja

6. Pengangguran Voluntary/sukarela :
Disebabkan adanya orang yang sebenarnya masih dapat bekerja tetapi dengan sukarela
tidak bekerja, sebab ia memperoleh penghasilan dari harta/kekayaan mereka, misalnya:
seorang yang menyewakan rumah.
Cara mengatasi :

8 Studi Kependudukan
• Menarik Investor baru
• Pengembangan transmigrasi
• Memberikan bantuan pinjaman lunak untuk UKM

7. Pengangguran Deflasioner :
Disebabkan karena lowongan pekerjaan tidak cukup untuk menampung pencari kerja.
Cara mengatasi :
• Pelatihan tenaga kerja
• Menarik investor baru
• Pengembangan transmigrasi

8. Pengangguran siklus
Adalah pengangguran yang diakibatkan oleh menurunnya kegiatan perekonomian (karena
terjadi resesi). Pengangguran siklus disebabkan oleh kurangnya permintaan masyarakat
(aggrerat demand).

Macam-macam pengangguran berdasarkan penyebab terjadinya dikelompokkan


menjadi beberapa jenis, yaitu :
1. Pengangguran Terbuka
Adalah orang yang sama sekali tidak bekerja dan tidak berusaha mencari pekerjaan.

2. Setengah Menganggur
Adalah orang yang bekerja tetapi tenaganya kurang termanfaatkan diukur dari jam kerja,
produktivitas kerja, dan penghasilannya, misalnya :
• Pekerjaan yang seharusnya dilakukan 2 orang dikerjakan 4 orang, berarti 2 orang
diantaranya adalah setengah menganggur.
• Orang yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu dapat dikatakan setengah
menganggur.

3. Pengangguran Terselubung
tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena suatu alasan tertentu, misalnya :
seorang sarjana yang bekerja sebagai tukang parkir mobil.
C. Menghitung Angka Pengangguran

9 Studi Kependudukan
Menggunakan rumus :

Jumlah pengangguran
Angka pengangguran = ---------------------- --------------------------------- x 100 %
jumlah angkatan kerja

contoh Soal :
Jumlah pengangguran di RT 5 RW 3 Wonokromo adalah 900 jiwa dan jumlah angkatan
kerjanya 4.500 jiwa. Hitunglah angka pengangguran !

Jawab :
Angka pengangguran :

jumlah pengangguran
= ------------------------------------- x 100%
Jumlah angkatan kerja
900
= -------------------- x 100 %
4.500

= 20 %

D. Sebab-Sebab dan Dampak Terjadinya Pengangguran

10 Studi Kependudukan
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pengangguran adalah sebagai berikut :
1. Besarnya Angkatan Kerja Tidak Seimbang dengan Kesempatan Kerja
Ketidakseimbangan terjadi apabila jumlah angkatan kerja lebih besar daripada
kesempatan kerja yang tersedia. Kondisi sebaliknya sangat jarang terjadi.
2. Struktur Lapangan Kerja Tidak Seimbang.
3. Kebutuhan jumlah dan jenis tenaga terdidik dan penyediaan tenaga terdidik
tidak seimbang. Apabila kesempatan kerja jumlahnya sama atau lebih besar daripada
angkatan kerja, pengangguran belum tentu tidak terjadi. Alasannya, belum tentu
terjadi kesesuaian antara tingkat pendidikan yang dibutuhkan dan yang tersedia.
Ketidakseimbangan tersebut mengakibatkan sebagian tenaga kerja yang ada tidak
dapat mengisi kesempatan kerja yang tersedia.
4. Meningkatnya peranan dan aspirasi Angkatan Kerja Wanita dalam seluruh
struktur Angkatan Kerja Indonesia.
5. Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Kerja antar daerah tidak seimbang.
6. Menurunnya tingkat permintaan tenaga kerja.
7. Angkatan kerja tidak mampu memenuhi kualifikasi yang diminta oleh dunia
kerja.
8. Perkembangan teknologi tidak diimbangi oleh ketrampilan dan pendidikan.
9. Tidak adanya kecocokan upah.
10. Tidak memiliki kemauan wirausaha.
11. Ketidakberhasilan sektor industri kecil.
12. Ketidakstabilan keadaan perekonomian, politik dan keamanan Negara.
13. Kurangnya informasi mengenai lowongan kerja.

Dampak-dampak pengangguran adalah sebagai berikut :


1.Dampak Ekonomi, antara lain :
• menurunnya tingkat pendapatan masyarakat
• menurunnya hasil produksi
• terhambatnya pertumbuhan ekonomi
• penghasilan pajak negara menurun.

2. Dampak Sosial, antara lain :


• naiknya tingkat kriminalitas

11 Studi Kependudukan
• naiknya jumlah orang stres
• naiknya jumlah orang bunuh diri

3. Dampak Individu dan Keluarga, antara lain :


• retaknya hubungan keluarga
• turunnya status sosial,
• hilangnya harga diri.

E. Memanfaatkan Tenaga-Tenaga yang Menganggur

Tenaga-tenaga yang menganggur merupakaan persediaan faktor produksi yang


dapat dikombinasikan dengan faktor-faktor produksi lain untuk meningkatkan output di
negara-negara sedang berkembang. Persediaan tenaga kerja ini jelas lebih banyak terdapat
di daerah-daerah yang padat penduduknya. Masalah pemanfaatan tenaga menganggur ini
menyangkut baik segi penawaran maupun segi permintaan. Untuk memperluas permintaan
akan tenaga kerja diperlukan adanya pengorganisasian tenaga kerja seperti halnya dengan
kapital. Pembangunan masyarakat desa mungkin merupakan jalan yang baik, karena hanya
diperlukan kapital yang relatif tidak besar. Suatu keuntungan penggunaan tenaga-tenaga
yang menganggur secara musiman yakni tidak mengurangi tenaga-tenaga yang diperluka
untuk mengadakan panenan maupun penanaman. Industri-industri kecil juga mungkin
sekali akan menyerap tenagatenaga yang menganggur karena musim atau memang secara
kronis.

Masalah perluasan penawaran tenaga kerja menimbulkan akibat-akibat yang lebih


luas lagi. Seperti dinyatakan oleh Profesor Leibenstein, kemampuan untuk menghasilkan
lebih banyak tergantung pada kalori yang dimiliki oleh tenaga kerja itu. Sehingga tidak
begitu mudah nampaknya untuk menarik tenaga kerja dari sektor pertanian yang kemudian
ini akan diikuti oleh penarikan bahan makanan dari sektor pertanian pula seperti
dikemukakan oleh Profesor Ragnar Nurkse. Ketidaksempurnaan pasar dapat menghambat
alokasi sumber-sumber/faktor-faktor produksi secara lebih efisien, jika dalam masyarakat
itu terdapat suatu susunan sosial yang kaku, kurang adanya spesialisasi, adanya
ketidakstabilan faktor-faktor produksi. Masalah-masalah ini dapat diatasi dengan suatu
perancangan dan pengelolaan yang baik, serta diadakan survey yang mendalam mengenai

12 Studi Kependudukan
kemungkinan-kemungkinan investasi baru yang nantinya akan dapat mengubah sifat-sifat
sosial dan kebudayaan.

F. Dampak Ekonomi

Masyarakat sangatlah mendambakan tersedianya banyak lapangan pekerjaan


karena keadaan seperti ini berarti dapat dihasilkannya output yang tinggi dan diperolehnya
pendapatan yang tinggi pula. Di samping itu, banyak kelompok masyarakat yang
menganggap bekerja itu mempunyai nilai tersendiri. Jika angka penganggguran tinggi,
maka akan banyak output yang hilang, pendapatan menurun, dan masyarakat menderita
batin karena hilangnya rasa harga diri. Pentingnaya masalah pengangguran tenaga kerja
(kesempatan kerja) dari segi ekonomi dan kerugian besar yang diakibatkan oleh
pengangguran merupakan segi-segi masalah yang ditinjau dalam analisis siklus ekonomi.

G. Pengukuran Tingkat Pengangguran

Data mengenai jumlah orang yang bekerja dan orang yang menganggur merupakan
salah satu jenis data yang dirancang secara cermat dan data ekonomi yang sangat
komprehensif. Data tersebut dikumpulkan setiap bulan dengan menggunakan prosedur
yang disebut sample acak (random sampling) dari seluruh populasi. Setiap bulan
dilakukan Tanya jawab terhadap sekitar 60.000 rumah tangga terutama mengenai jenis
pekerjaan yang mereka miliki.
Survey tersebut membagi penduduk yang berumur 16 atau lebih ke dalam tiga
kelompok, yaitu:
1. Bekerja (employed). Dalam kelompok ini adalah orang-orang yang melakukan jenis
pekerjaan apa saja yang menghasilkan uang, termasuk di dalamnya orang-orang yang
mempunyai pekerjaan akan tetapi sedang tidak bekerja karena sakit, melakukan
pemogokan, atau sedang berlibur.

2. Menganggur (unemployed). Dalam kelompok ini termasuk orang-orang yang tidak


bekerja akan tetapi secara aktif sedang mencari pekerjaan atau orang-orang yang
sedang menunggu untuk kembali bekerja. Lebih tepat lagi, seseorang disebut

13 Studi Kependudukan
menganggur jika ia tidak bekerja dan (a) telah melakukan upaya-upaya tertentu untuk
mendapatkan pekerjaan selama 4 minggu terakhir, (b) diberhentikan untuk sementara
dan sedang menunggu untuk dipanggil kembali bekerja, atau (c) sedang menunggu
untuk melaporkan diri siap bekerja bulan depan. Orang yang tergolong bekerja atau
menganggur dikelompokkan ke dalam angkatan kerja (labor force).

3. Tidak termasuk angkatan kerja. Di dalamnya termasuk 34 persen dari penduduk


dewasa yang sedang sekolah, ibu rumah tangga, pensiunan, tidak mampu bekerja, atau
semata-mata tidak bermaksud untuk mencari kerja.

H. Definisi Pemerintah Mengenai Pengangguran

Orang-orang yang punya pekerjaan adalah tergolong bekerja; orang-orang yang


tidak mempunyai pekerjaan akan tetapi sedang dalam usaha mencari pekerjaan tergolong
pengangguran; orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetapi tidak bermaksud
untuk mecari pekerjaan tidak dimasukkan dalam kelompok angkatan kerja. Tingkat
pengangguran dihitung dari jumlah orang yang menganggur dibagi dengan seluruh
angkatan kerja.

I. Pengangangguran Ditinjau dari Interpretasi Ekonomi

Sekarang kita beralih dari cara pemerintah menghitung banyaknya pengangguran


ke analisis ekonominya. Untuk menganalisis dan mengenal lebih jauh struktur pasar
tenaga kerja jaman sekarang ini, para ahli ekonomi telah membagi tiga jenis
pengangguran, yaitu:
1. Pengangguran friksional
Terjadi karena berpindahnya orang-orang dari satu daerah ke daerah lain, dan dari
satu jenis pekerjaan ke pekerjaan lain atau melalui berbagai tingkat siklus kehidupan
yang berbeda. Bahkan jika suatu perekonomian berada pada tingkat di mana tidak ada
pengangguran pun (full employment), akan selalu terjadi perputaran (turnover) karena
adanya orangorang yang baru saja menyelesaikan sekolahnya dan mencari pekerjaan,
atau karena perpindahan dari satu kota ke kota lain. Para wanita kemungkinan akan

14 Studi Kependudukan
masuk kembali ke barisan pencari kerja setelah mereka melahirkan anak-anak. Karena
mereka yang tergolong ke dalam pengangguran friksional ini sering berpindah dari
satu tempat pekerjaan ke pekerjaan lain, atau mencari tempat kerja yang lebih baik,
maka mereka ini sering dianggap sebagai penganggur “sukarela”.

2. Penganguran struktural
Menunjukkan terjadinya ketidaksesuain antara penawaran dan permintaan tenaga
kerja. Ketidaksesuaian ini terjadi karena permintaan atas satu jenis pekerjaan
bertambah sementara pemintaan atas jenis pekerjaan lain menurun, dan penawaran
tidak dapat melakukan penyesuaian dengan cepat atas situasi tersebut. Kita sering
melihat ketidakseimbangan struktural antara berbagai jenis pekerjaan ataupun daerah,
di mana sektorsektor tertentu bertumbuh sementara yang lain mengalami penurunan.

3. Pengangguran siklis
Terjadi apabila permintaan tenaga kerja secara keseluruhan rendah. Apabila total
pembelanjaan dan output menurun, maka pengangguran akan meningkat dengan
segera di segala bidang. Dalam masa resesi tahun 1982, tingkat pengangguran
meningkat di 48 dari 50 negara bagian. Kenaikan tingkat pengangguran ini telah
memberikan pertanda bahwa pengangguran ini sebagian besar bersifat siklis.

Perbedaan antara penganguran siklis dengan jenis pengangguran lainnya


membantu para ahli ekonomi untuk melakukan diagnosa terhadap tingkat kesehatan
pasar tenaga kerja. Tingkat penganguran friksional dan struktural dapat terjadi
meskipun pasar tenaga kerja secara keseluruhan berada dalam tingkat keseimbangan,
misalnya ketiak tingkat pertuakaran (turnover) sangat tinggi, atau ketika
ketidakseimbangan geografis sangat besar. Pengangguran siklis terjadi apabila jumlah
kesempatan kerja menurun sebagai akibat dari terjadinya ketidakseimbangan antara
penawaran agregat dan permintaan agregat.

J. Kebijakan – Kebijakan Pengangguran

15 Studi Kependudukan
Adanya bermacam-macam pengangguran membutuhkan cara-cara mengatasinya
yang disesuaikan dengan jenis pengangguran yang terjadi, yaitu sbb :

Cara Mengatasi Pengangguran Struktural


1. Peningkatan mobilitas modal dan tenaga kerja.
2. Segera memindahkan kelebihan tenaga kerja dari tempat dan sector yang kelebihan ke
tempat dan sector ekonomi yang kekurangan.
3. Mengadakan pelatihan tenaga kerja untuk mengisi formasi kesempatan (lowongan)
kerja yang kosong, dan
4. Segera mendirikan industri padat karya di wilayah yang mengalami pengangguran.

Cara Mengatasi Pengangguran Friksional


1. Perluasan kesempatan kerja dengan cara mendirikan industri-industri baru, terutama
yang bersifat padat karya.
2. Deregulasi dan Debirokratisasi di berbagai bidang industri untuk merangsang
timbulnya investasi baru.
3. Menggalakkan pengembangan sector Informal, seperti home indiustri.
4. Menggalakkan program transmigrasi untuk me-nyerap tenaga kerja di sector agraris
dan sector formal lainnya.
5. Pembukaan proyek-proyek umum oleh peme-rintah, seperti pembangunan jembatan,
jalan raya, PLTU, PLTA, dan lain-lain sehingga bisa menyerap tenaga kerja secara
langsung maupun untuk merangsang investasi baru dari kalangan swasta.

Cara mengatasi Pengangguran Siklus


1. Mengarahkan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa, dan
2. Meningkatkan daya beli Masyarakat.

K. Pengangguran Ditinjau dari Sudut Teori Ekonomi Mikro

16 Studi Kependudukan
Tidak ada topik yang menimbulkan kontroversi tajam di kalangan para ahli
ekonomi selain pembahasan mengenai sebaba-sebab terjadinya pengangguran dalam
perekonomian pasar. Ilmu ekonomi mengajarkan bahwa harga selalu naik atau turun untuk
menyeimbangkan pasar kompetitif. Pada tingkat harga yang telah ditetapkan oleh pasar,
para pembeli akan mau membeli apa yang mau dijual oleh para penjual.

Para ahli ekonomi berpaling ke teori mikro ekonomi untuk mencoba memahami
eksistensi pengangguran ini. Meskipun sampai saat ini belum ditemukan satu teori yang
diterima secara umum, akan tetapi banyak analisis sseolah-olah bermuara ke satu pendapat
bahwa pengangguran itu terjadi karena tingkat upah tidak cukup fleksibel untuk
menyeimbangkan pasar. Berikut ini kita akan menelaah secara mendalam mengapa
tingakat upah bersifat tidak fleksibel(bersifat kaku) dan mengapa terjadi pengangguran
yang tidak dikehendaki. Kita mengawali analisis terhadap dasar-dasar mikroekonomi dari
teori pengangguran itu dengan melihat satu jenis pasar tenaga kerja tertentu.

Pengangguran sukarela. Adanya pengangguran sukarela ini menguakkan satu


konsep yang sangat penting mengenai penganggura. Satu pereokonomian mungkin saja
berada pada efisiensi puncak meskipun ia menciptakan sejumlah penganggura tertentu.
Para pencari kerja yang menganggur secara sukarela kemungkinan memang memilih
untuk menikmati hidup denagn bersenangsenang, atau melakukan kegiatan lain daripada
bekerja dengan tingkat upah yang berlaku dipasar. Atau mereka mungkin juga tergolong
para pekerja yang tingkat produktivitasnya rendah, yang lebih memilih untuk
bersenangsenang dan bermalas-malasan daripada bekerja dengan tingkat upah yang
berlaku. Ada sejumlah alasan yang tidak terhitung banyaknya mengapa orang-orang
memilih secara sukarela untuk tidak bekerja pada tingkat upah yang berlaku, akan tetapi
sebagian dari orang-orang seperti ini akan secara resmi dihitung sebagai orang yang
sedang menganggur.

Perlu kiranya dicatat di sini bahwa pengangguran sukarela ini kemungkinan akan
efisien secara ekonomis, meskipun secara filsuf atau politisi kemungkianan
menyayangkan kenyataan dimana orang-orang tidak dapat memp eroleh pekerjaan yang
mempunyai bayaran tinggi. Sama halnya sepertii sebuah pabrik membutuhkan suku
cadang apabila satu bagian penting dari mesin mereka rusak, kemungkinan suatu
perekonomian pun membutuhkan juga suku cadang, yaitu para pekerja yang menganggur,

17 Studi Kependudukan
yang mau langsung bekerja apabila terdapat kebutuhan akan tenaga kerja secara
mendadak. Keadaan ini melukiskan mengapa perekonomian modern yang kompleks, yang
bekerja pada tingkat produktifitas puncak, dapat menimbulkan pengangguran.

Pengangguran terpaksa. Untuk memahami pengangguran siklis kita perlu


membangun suatu teori pengangguran terpaksa. Hasil pemikiran Keynes yang amat
cemerlang dibidang ini adalah berupa pendapat yang membiarkan fakta-fakta mencorong
satu teori yang indah tetapi tidak relevan. Ia menjelaskan mengapa kita kadang-kadang
melihat pengangguran terpaksa, yaitu periode di mana para pekerja yang memenuhi
kualifikasi tidak mampu untuk mendapatkan pekerjaan dengan tarif gaji yang berlaku.

Sumber-sumber kekakuan. Teori pengangguran terpaksa mengandaikan bahwa


upah sama sekali tidak fleksibel (kaku). Satu hal yang sangat membantu analisis ini adalah
perbedaan antara pasar lelang (auction market) dan pasar yang diatur (administered
market). Pasar lelang itu merupakan satu pasar yang sanagt terorganisir dan kompetitif
dimana harga-harga naik atau turun untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan.

Untuk pasar tenaga kerja yang berada dibawah pengaruh serikat buruh, pola gaji
dan upah jauh lebih kaku lagi. Tingkat upah biasanya ditetapkan untuk masa kontrak tiga
tahun, di mana selama periode tersebut tingkat upah tidak akan disesuaikan, walaupun
terjadi kelebihan penawaran maupun permintaan dalam jenis pekerjaan tertentu.

Teori kekakuan upah serta pengangguran terpaksa menyatakan bahwa penyesuaian


upah yang amat lamban menimbulkan terjadinya kelebihan dan kekurangan dalam
masing-masing pasar tenaga kerja. Akan tetapi, secara perlahan-lahan pasar tenaga kerja
akan memberikan reaksi terhadap kondisi pasar, gaji untuk jenis pekerjaan yang
permintaannya sangat tinggi secara relatif meningkat lebih cepat dibandingkan dengan
jenis pekerjaan yang amat sedikit peminatnya. Oleh karena itu, dalam jangaka pendek,
pasar tenaga kerja amat mirip dengan pasar tenaga kerja yang tidak seimbang (non-
clearing).

L. Masalah-masalah yang Berkaitan dengan Pasar Tenaga Kerja

18 Studi Kependudukan
Orang-orang yang berumur belasan tahun pada umunya mempunyai tingkat
pengangguran yang paling tinggi dari seluruh kelompok demografis yang ada. Orang-
orang kulit hitam yang berumur belasan tahun dalam tahun-tahun terakhir ini mempunyai
tingkat pengangguran antara 30 sampai 50 persen.

Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa, komponen terbesar dari pengangguran yang


berumur belasan tahun merupakan pengangguran friksional. Mereka masuk dan keluar
dari angkatan kerja dan frekwensi yang amat tinggi. Mereka cepat memperoleh pekerjaan
dan seringkali berpindah kerja. Rata-rata lamanya mereka menganggur hanya setengah
dari golonagn dewasa; sebaliknya, rata-rata lamanya satu jenis pekerjaan adalah 12 kali
lebih besar untuk orang-oarang dewasa dibandingkan dengan mereka yang masih berumur
belasan tahun. Dalam tahun-tahun terakhir, setengah dari orang yang berumur belasan
tahun yang menganggur merupakan “pendatang baru” yang belum pernah bekerja
sebelumnya. Semua faktor ini mengungkapkan bahwa penganggur yang berumur belasan
tahun ini sebagian besar bersifat friksional; Hal ini berarti bahwa pencarian kerja dan
perputaran kerja diperlukan oleh orang-orang muda untuk menyalurkan bakat mereka,
serta untuk memperoleh berbagai pengalaman.

M. Masalah Pengangguran dan Krisis Sosial

Jika masalah pengangguran yang demikian pelik dibiarkan berlarut-larut maka


sangat besar kemungkinannya untuk mendorong suatu krisis sosial. Suatu krisis sosial
ditandai dengan meningkatnya angka kriminalitas, tingginya angka kenakalan remaja,
melonjaknya jumlah anak jalanan atau preman, dan besarnya kemungkinan untuk terjadi
berbagai kekerasan sosial yang senantiasa menghantui masyarakat kita.

Bagi banyak orang, mendapatkan sebuah pekerjaan seperti mendapatkan harga diri.
Kehilangan pekerjaan bisa dianggap kehilangan harga diri. Walaupun bukan pilihan semua
orang, di zaman serba susah begini pengangguran dapat dianggap sebagai nasib.
Seseorang bisa saja diputus hubungan kerja karena perusahaannya bangkrut. Padahal di
masyarakat, jutaan penganggur juga antri menanti tenaganya dimanfaatkan.
Besarnya jumlah pengangguran di Indonesia lambat-laun akan menimbulkan
banyak masalah sosial yang nantinya akan menjadi suatu krisis sosial, karena banyak

19 Studi Kependudukan
orang yang frustasi menghadapi nasibnya. Pengangguran yang terjadi tidak saja menimpa
para pencari kerja yang baru lulus sekolah, melainkan juga menimpa orangtua yang
kehilangan pekerjaan karena kantor dan pabriknya tutup. Indikator masalah sosial bisa
dilihat dari begitu banyaknya anak-anak yang mulai turun ke jalan. Mereka menjadi
pengamen, pedagang asongan maupun pelaku tindak kriminalitas. Mereka adalah generasi
yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan maupun pembinaan yang baik.

Salah satu faktor yang mengakibatkan tingginya angka pengangguran di negara


kita adalah terlampau banyak tenaga kerja yang diarahkan ke sektor formal sehingga
ketika mereka kehilangan pekerjaan di sektor formal, mereka kelabakan dan tidak bisa
berusaha untuk menciptakan pekerjaan sendiri di sektor informal. Yang menjadi
kekhawatiran adalah jika banyak para penganggur yang mencari jalan keluar dengan
mencari nafkah yang tidak halal. Banyak dari mereka yang menjadi pencopet, penjaja
seks, pencuri, preman, penjual narkoba, dan sebagainya. Bahkan tidak sedikit mereka yang
dibayar untuk berbuat rusuh atau anarkis demi kepentingan politik salah satu kelompok
tertentu yang masih erat hubungannya dengan para pentolan Orba. Ada juga yang
menyertakan diri menjadi anggota laskar jihad yang dikirim ke Ambon dengan dalih
membela agama. Padahal di sana mereka cuma jadi perusuh yang doyan menjarah,
memperkosa, dan membunuh orang-orang Maluku yang tidak berdosa. Hal inilah yang
harus diperhatikan oleh pemerintah jika krisis sosial tidak ingin berlanjut terus.

N. Masalah Pengangguran dan Pendidikan

Pengangguran intelektual di Indonesia cenderung terus meningkat dan semakin


mendekati titik yang mengkhawatirkan. Pengangguran intelektual ini tidak terlepas dari
persoalan dunia pendidikan yang tidak mampu menghasilkan tenaga kerja berkualitas
sesuai tuntutan pasar kerja sehingga seringkali tenaga kerja terdidik kita kalah bersaing
dengan tenaga kerja asing. Fenomena inilah yang sedang dihadapi oleh bangsa kita di
mana para tenaga kerja yang terdidik banyak yang menganggur walaupun mereka
sebenarnya menyandang gelar.

Meski ada kecenderungan pengangguran terdidik semakin meningkat namun upaya

20 Studi Kependudukan
perluasan kesempatan pendidikan dari pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi
tidak boleh berhenti. Akan tetapi pemerataan pendidikan itu harus dilakukan tanpa
mengabaikan mutu pendidikan itu sendiri. Karena itu maka salah satu kelemahan dari
sistem pendidikan kita adalah sulitnya memberikan pendidikan yang benar-benar dapat
memupuk profesionalisme seseorang dalam berkarier atau bekerja. Saat ini pendidikan
kita terlalu menekankan pada segi teori dan bukannya praktek. Pendidikan seringkali
disampaikan dalam bentuk yang monoton sehingga membuat para siswa menjadi bosan.

Di negara-negara maju, pendidikkan dalam wujud praktek lebih diberikan dalam


porsi yang lebih besar. Di sanapun, cara pembelajaran dan pemberian pendidikkan
diberikan dalam wujud yang lebih menarik dan kreatif.

Di negara kita, saat ini ada kecenderungan bahwa para siswa hanya mempunyai
kebiasaan menghafal saja untuk pelajaran-pelajaran yang menyangkut ilmu sosial, bahasa,
dan sejarah atau menerima saja berbagai teori namun sayangnya para siswa tidak memiliki
kemampuan untuk menggali wawasan pandangan yang lebih luas serta cerdas dalam
memahami dan mengkaji suatu masalah. Sedangkan untuk ilmu pengetahuan alam para
siswa cenderung hanya diberikan latihan soal-soal yang cenderung hanya melatih
kecepatan dalam berpikir untuk menemukan jawaban dan bukannya mempertajam
penalaran atau melatih kreativitas dalam berpikir.

Contohnya seperti seseorang yang pandai dalam mengerjakan soal-soal


matematika bukan karena kecerdikan dalam melakukan analisis terhadap soal atau
kepandaian dalam membuat jalan perhitungan tetapi karena dia memang sudah hafal tipe
soalnya. Seringkali seseorangpun hanya sekedar bisa mengerjakan soalnya dengan
menggunakan rumus tetapi tidak tahu asal muasal rumus tersebut. Kenyataan inilah yang
menyebabkan sumber daya manusia kita ketinggalan jauh dengan sumber daya manusia
yang ada di negara-negara maju. Kita hanya pandai dalam teori tetapi gagal dalam praktek
dan dalam profesionalisme pekerjaan tersebut. Rendahnya kualitas tenaga kerja terdidik
kita juga adalah karena kita terlampau melihat pada gelar tanpa secara serius membenahi
kualitas dari kemampuan di bidang yang kita tekuni. Sehingga karena hal inilah maka para
tenaga kerja terdidik sulit bersaing dengan tenaga kerja asing dalam usaha untuk mencari
pekerjaan.
O. Masalah Pengangguran dan Inflasi

21 Studi Kependudukan
Inflasi adalah indikator pergerakan harga-harga barang dan jasa secara umum,
yang secara bersamaan juga berkaitan dengan kemampuan daya beli. Inflasi
mencerminkan stabilitas harga, semakin rendah nilai suatu inflasi berarti semakin besar
adanya kecenderungan ke arah stabilitas harga. Namun masalah inflasi tidak hanya
berkaitan dengan melonjaknya harga suatu barang dan jasa. Inflasi juga sangat berkaitan
dengan purchasing power atau daya beli dari masyaraka. Sedangkan daya beli masyarakat
sangat bergantung kepada upah riil.

Tingginya angka inflasi selanjutnya akan menurunkan daya beli masyarakat. Untuk
bisa bertahan pada tingkat daya beli seperti sebelumnya, para pekerja harus mendapatkan
gaji paling tidak sebesar tingkat inflasi. Kalau tidak, rakyat tidak lagi mampu membeli
barang-barang yang diproduksi. Jika barang-barang yang diproduksi tidak ada yang
membeli maka akan banyak perusahaan yang berkurang keuntungannya. Jika keuntungan
perusahaan berkurang maka perusahaan akan berusaha untuk mereduksi cost sebagai
konsekuensi atas berkurangnya keuntungan perusahaan. Hal inilah yang akan mendorong
perusahaan untuk mengurangi jumlah pekerja/buruhnya dengan mem-PHK para buruh.
Salah satu dari jalan keluar dari krisis ini adalah menstabilkan rupiah. Membaiknya nilai
tukar rupiah tidak hanya tergantung kepada money suplly dari IMF, tetapi juga investor
asing (global investment society) mengalirkan modalnya masuk ke Indonesia (capital
inflow). Karena hal inilah maka pengendalian laju inflasi adalah penting dalam rangka
mengendalikan angka pengangguran.

BAB III

22 Studi Kependudukan
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pengangguran di Imdonesia saat ini sangat memperihatinkan, banyak sekali


terdapat pengangguran dimana-mana. Penyebab pengangguran di Indonesia ialah terdapat
pada masalah sumber daya manusia itu sendiri dan tentunya keterbatasaan lapangan
pekerjaan. Indonesia menempati urutan ke 133 dalam hal tingkat pengangguran di dunia,
semakin rendah peringkatnya maka semakin banyak pula jumlah pengangguran yang
terdapat di Negara tersebut. Untuk mengatasi masalah pengangguran ini pemerintah telah
membuat suatu program untuk menampung para pengangguran. Selain mengaharapkan
bantuan daro pemerintah, sebaiknya kita secara pribadi juga harus berusaha memperbaiki
kualitas sumber daya kita, agar tidak menjadi pengangguran dan beban pemerintah.

Para ahli ekonomi menggolongkan pengangguran ke dalam tiga kelompok, yaitu:


(a) pengangguran friksional, yaitu para pekerja yang berada di antara satu pekerjaan dan
pekerjaan lain; (b) pengangguran struktural, yaitu para pekerja yangberada di kawasan-
kawasan atau industri-industri yang sedang berada dalam keadaan payah karena harga
produk-produknya anjlok, dan (c) pengangguran siklis, yaitu para pekerja yang di PHK
apabila perekonomian secara keseluruhan mengalami aktivitas yang menurun.

Tinjauan yang mendalam atas angka-angka statistik pengangguran


mengungkapkan beberapa keteraturan, seperti:
a) Resesi selalu menimpa semua golongan dalam bentunya yang proporsional, yaitu
semua kelompok menaglami tingkat pengangguran naik dan turun dalam proporsi
yang sama dengan tingkat pengangguran dengan secara keseluruhan.

b) Bagian yang paling besar dari pengangguran adalah bersifat jangak pendek. Pada
tahun-tahun dimana tingkat pengangguran sangat rendah (seperti tahun 1973) lebih
dari 90 persen pekerja yang menganggur hanya mengalami pengangguran selama
kurang dari 26 minggu. Lamanya menganggur rata-rata meningkat sangat tajam
dalam resesi yang berat dan berkepanjangan.

23 Studi Kependudukan
c) Hampir disemua situasi, jumlah yang paling besar dari pengangguran dikarenakan
oleh terjadinya perputaran (turnover), atas kasus-kasus friksional di mana orang-orang
memasuki angkatan kerja untuk pertama kali atau masuk kembali ke angkatan kerja.
Hanya selama masa resesi saja sebagian besar dari penganggur tersebut orang-orang
yang kehilangan pekerjaan.

DAFTAR PUSTAKA

24 Studi Kependudukan
http://www.google.co.id
http://www.tempointeraktif.com
http://www.datastatistik-indonesia.com
http://wikipedia.co.id
http://www.scribd.com

25 Studi Kependudukan

Anda mungkin juga menyukai