Anda di halaman 1dari 4

Tugas Bahasa Indonesia

Karangan Fiksi
Mohammad Fauzan Muzaki ( 109081000151 )
Manajemen 3 D

Peri Senyum

Namaku Hilma, Aku adalah seorang anak perempuan berumur 16 tahun yang
tinggal di sebuah desa di daerah pegunungan. Desaku mempunyai alam yang sangat
indah dan tidak jauh dari desa terdapat hutan dengan sungai yang berair jernih dengan
pohon-pohon besar yang tumbuh di pinggirannya di sanalah tempat aku dan teman-
temanku berpetualang, desaku merupakan desa terpencil dan jauh dari perkotaan
sehingga terbebas dari polusi dan merupakan tempat yang sangat bagus untuk menikmati
keindahan alam. Itulah sedikit gambaran tentang desaku dan daerah sekitarnya yang
menurutku merupakan tempat terbaik yang ada di dunia ini.
Hari ini adalah hari senin tepat dimana aku pertama kali berada di kelas tiga
sekolah menengah atas, hampir semua anak tidak tampak asing bagiku kecuali seseorang
yang duduk di bagian depan sebelah kanan yang baru aku lihat hari ini.
Selang beberapa menit kemudian bel masuk pun berbunyi dan anak-anak mulai
menempati tempat duduknya masing-masing dengan Rika menjadi teman sebangkuku,
sambil menunggu guru yang datang keadaan kelas kami sangat ramai, semua anak
tampak senang termasuk diriku karena kami dapat bertemu dan belajar kembali setelah
liburan panjang.
Sesaat kemudian Bu Rahma mengucap salam dan memasuki kelas kami, sambil
tersenyum dia memberikan ucapan selamat kepada kami semua yang telah berhasil naik
ke kelas tiga ini. Setelah itu banyak yang ia tanyakan kepada tentang liburan kami,
persiapan kami di kelas tiga dan lain-lain yang menyangkut aktifitas kami selama liburan.
Setelah berbicara panjang lebar akhirnya saat yang aku tunggu-tunggu pun datang juga,
Bu Rahma menunjuk anak yang tidak aku kenal untuk maju ke depan kelas dan mulai
memperkenalkan dirinya. Tanpa ragu lagi dia pun maju ke depan kelas dan
memperkenalkan dirinya, dengan suaranya yang lantang ia mengucapkan salam dan

1
mulai memperkenalkan dirinya, “Hai, nama saya Azka Fikrullah, saya tinggal di Jalan
Cendana 3 No. 19, saya baru pindah ke desa ini seminggu yang lalu.”
Perkenalan itu pun tidak berlangsung lama dan Azka kembali ke tempat
duduknya, seiring dengan itu rasa penasaranku pun hilanglah sudah, yang lebih
mengejutkan lagi rumahnya tidak terlalu jauh dengan rumahku, hanya dibatasi oleh tiga
rumah tetanggaku. Karena hari ini merupakan hari pertama masuk sekolah jadi Bu
Rahma tidak memberikan pelajaran untuk kami melainkan kami hanya di bantu untuk
membuat struktur kepengurusan kelas dan mencatat jadwal pelajaran yang akan kami
jalani sehari-hari selama satu semester ini.
Tidak terasa jarum jam menunjukkan angka dua belas, dan bel pulang pun
berbunyi serentak semua siswa merapikan perlengkapan sekolahnya dan bergegas pulang.
Di tengah perjalanan pulang saya pun bertemu dengan Azka karena rumah kami
berdekatan akhirnya kami memutuskan untuk pulang bersama. Dalam perjalanan pulang
kami saling bercerita dan yang paling membuat saya tertarik adalah saat dia bercerita
tentang sebabnya ia pindah ke desa ini. Perjalanan pulang kali ini tidak terasa sama sekali
karena kami larut dalam perbincangan yang terasa sangat dekat, dan saya pun pamit
seraya mengajaknya untuk mampir kerumah untuk sekedar bertamu. Namun karena dia
masih ada keperluan sehingga tidak dapat memenuhi ajakan saya.
Seminggu sudah kami pulang bersama dan besok merupakan hari libur, saya
mengajaknya untuk jalan-jalan berpetualang mengelilingi desa namun kali ini dia juga
menolaknya karena ada keperluan, sehingga minggu nanti saya hanya sendiri
berpetualang menyusuri sungai dan hutan di sekeliling desa.
Hari yang di nanti pun tiba, pagi ini saya hanya berpetualang seorang diri padahal
biasanya saya bersama teman-teman berpetualang menyusuri sungai untuk mencari ikan
dan buah-buahan di hutan. Hari ini saya berniat untuk menyusuri sungai untuk menuju
padang rumput di tengah bukit yang berada di dalam hutan tepat di atas bukit terdapat
sebuah pohon rindang yang sangat tepat untuk bersantai. Perjalanan kesana terasa sangat
menyeramkan karena saya hanya seorang diri, namun semua itu terbayar ketika saya
sampai disana dan melihat pemandangan padang rumput yang luas. Ada sebuah
pemandangan aneh yang saya lihat di bawah pohon yang terletak di atas bukit,
tampaknya seperti seorang manusia yang sedang istirahat dibawahnya. Karena penasaran

2
aku pun mendatanginya dan ternyata sosok orang tersebut adalah seseorang yang aku
kenal yaitu Azka, aku pun bingung kenapa dia bisa sampai disini karena yang aku tahu
selain teman-temanku tidak ada orang lain lagi yang suka bermain disini. Aku pun
mendekatinya dan menyapanya, “Hai Azka, Sedang apa kau disini? Boleh aku temani?”
mendengar sapaanku dia pun kaget dan menoleh ke arahku seraya berkata “Oh iya Hilma
silahkan, Aku hanya sedang menikmati pemandangan di sini saja kok”, aku pun duduk di
sampingnya dan mulai berbincang-bincang dengannya. Wajahnya terlihat bingung
sehingga dia tidak dapat mengucapkan apa-apa, dan akhirnya aku pun memulai
pembicaraan dengannya “Azka” dan dia pun menjawab “Iya”, “Boleh aku menanyakan
sesuatu?”, “Tentu saja, dengan senang hati aku menjawabnya”, “Hmm.. Apa saja yang
bisa membuat dirimu senang?”, dan dia pun menjawab “Aku sangat menyukai saat-saat
seperti ini, aku dapat menikmati keindahan alam sehingga hatiku menjadi tenang”, “Ya
memandangi alam juga salah satu yang dapat membuat hatiku senang” tambahku. Azka
pun kembali bertanya kepadaku “Lalu apa yang paling membuatmu senang?” aku pun
kaget karena dia menanyakan hal yang sama kepadaku dan aku pun menjawabnya “Hal
yang paling aku senangi berada pada orang di sekitarku” Azka pun terlihat bingung
“Maksudnya?”, “Ya ketika aku dapat membahagiakan orang di sekitarku hal itulah yang
paling membuat aku senang, ibuku pernah bercerita bahwa ada seorang peri yang tinggal
di dalam bunga bakung yang dapat mengabulkan permintaan seseorang, itulah mengapa
aku sering berpetualang di dalam hutan ini hanya untuk mencari bunga itu agar dapat
bertemu peri dan mewujudkan keinginanku”. Setelah kami bercerita panjang lebar sinar
matahari pun telah bersinar dengan teriknya kami memutuskan untuk pulang kerumah
bersama-sama.
Hari-hari pun berlalu dan pertemanan kami menjadi lebih dekat hingga saat
sebulan sebelum kami ujian untuk menentukan kelulusan kami, Azka menghilang dari
kehidupanku, rumahnya pun kosong tanpa ada seseorang yang tinggal di rumah itu.
Menurut kabar yang beredar keluarganya pindah ke kota karena ada keperluan yang
mendesak.
Hari ini genap dua minggu aku pulang sekolah seorang diri semenjak kepergian
Keluarga Azka ke kota dengan meninggalkan sebuah rasa penasaran bagiku, tetapi ketika
sampai di depan rumah aku melihat keramaian di depan rumah Azka, karena penasaran

3
aku pun mendatanginya. Aku terkejut dengan apa yang ku lihat, semua peralatan rumah
Azka diangkut ke dalam sebuah mobil truk. Melihatku yang kebingungan tiba-tiba orang
tua Azka mendatangiku dan menyapaku, aku pun bertanya apa yang terjadi. Tiba-tiba ibu
Azka menitikkan air mata dan memelukku seraya berkata bahwa Azka telah tiada, dia
menjelaskan bahwa Azka mempunyai penyakit yang tidak biasa dan diperkirakan dokter
umurnya tidak akan lama lagi, untuk itu mereka membawanya ke desa ini. Azka dapat
bertahan hingga saat dua minggu kemarin penyakitnya kembali kambuh dan harus di
bawa ke kota untuk berobat, namun kali ini ia tidak dapat bertahan dan menghembuskan
nafasnya yang terakhir kali. Sebelum meninggal ia menitipkan sebuah buku catatan untuk
di berikan kepadamu jika ia tidak dapat kembali lagi ke desa.
Ibu Azka pun melepas pelukannya dan memberikan buku itu kepadaku yang
sedang terpaku mendengar kabar yang tidak bisa aku terima. Dengan menahan tangis aku
pun berjalan pulang diiringi kepergian Keluarga Azka meninggalkan desa yang penuh
kenangan di masa-masa akhir hidup anaknya. Sesampainya di rumah aku pun menangis
mengingat kenangan-kenangan yang pernah kami jalani bersama-sama. Dengan tangisan
yang masih tersisa aku pun membuka lembaran buku yang di berikan tadi dan
membacanya, tangisanku bertambah keras ketika melihat kalimat yang berbunyi “Hilma,
ingatkah kamu bahwa dulu engkau pernah bercerita tentang keinginanmu untuk mencari
seorang peri di dalam bunga agar keinginanmu tercapai, aku telah menemukan peri
tersebut dan peri tersebut telah ada di dalam dirimu. Jika kau tidak percaya apa yang
kukatakan cobalah kau berikan senyummu kepada orang-orang di sekitarmu maka kau
akan tahu bahwa keinginanmu telah tercapai karena hanya dengan melihat senyummu
orang-orang di sekitarmu akan merasa senang termasuk diriku. Hilma, maafkan aku
karena aku tidak sempat memberitahukan kepergianku dan tidak dapat berjuang
bersamamu dalam menghadapi ujian akhir, tapi aku akan selalu berdoa untukmu agar kau
mendapatkan nilai yang terbaik. Terima kasih banyak hilma senyummu selalu ada di
hatiku.” Setelah membaca kalimat terakhir akupun tidak dapat menahan tangisanku yang
semakin keras dan dalam tangisku aku bertekad memberikan yang terbaik untuk
sahabatku.