Anda di halaman 1dari 4

KETERKAITAN PENANGGULANGAN BENCANA DAN

PERTAHANAN NEGARA
REVIEW UNDANG-UNDANG NO. 3 TAHUN 2002 TENTANG PERTAHAN NEGARA
DAN UNDANG-UNDANG NO.24 TAHUN 2007 TENTANG PENANGGULANGAN
BENCANA

Oleh: Danang Insita Putra


Mahasiswa Pasca Sarjana Manajemen Bencana
Universitas Pertahanan Indonesia

ABSTRAK  
Penanganan bencana alam memerlukan kecepatan dan ketepatan dalam
menggerakkan manusia, sarana prasarana dan peralatan terutama bagi
wilayah Indonesia sebagai archipelagic state yang memiliki wilayah terluas di
dunia serta rawan terhadap bencana alam dan kecelakaan lain, maka faktor
ketepatan pengerahan sumberdaya yang tepat menjadi sangat penting.
Belajar dari pengalaman selama ini, sudah saatnya kita memikirkan langkah
yang lebih terpadu dan terkoordinasi. Menetapkan institusi yang tepat berada
di garis depan dan pihak-pihak yang harus mendukung dari belakang. Baik
pada masa awal terjadinya bencana maupun lanjutan penanggulangan dalam
bentuk rehabilitasi dan rekonstruksi. Militer adalah satu-satunya organisasi
yang disiapkan untuk melaksanakan operasi-operasi militer dalam perang.
Disamping itu, peran militer adalah juga menjalankan operasi militer selain
perang seperti misalnya pada saat penanggulangan bencana.

Kata Kunci: bencana, militer, ketahanan


 
PENDAHULUAN
Letak geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada diantara
dua benua dan dua samudera yang terbentang digaris khatulistiwa dan
terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, merupakan
wilayah territorial yang sangat rawan terhadap bencana. Hampir semua jenis
bencana baik karena alam maupun karena ulah manusia seperti gempa bumi,
tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran,
bencana asap dan bencana akibat kecelakaan industri serta kesalahan
teknologi, telah mengancam dan berada ditengah lingkaran kehidupan
segenap bangsa Indonesia. Bencana secara langsung akan menghambat
kelancaran pembangunan serta hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai.
Oleh karena itu dalam penanggulangan bencana diperlukan suatu
mekanisme sebagai arahan dan acuan dalam pelaksanaan Penanggulangan
Bencana bagi lembaga yang terkait dalam Penanggulangan Bencana.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana ditetapkan untuk membangun sistem
penanggulangan bencana yang terencana, terkoordinasi dan menyeluruh
dengan tetap menghargai budaya lokal, membangun kemitraan publik dan
swasta, mendorong kesetiakawanan dan kedermawanan, serta menciptakan
perdamaian dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah kerjasama lintas sektor
baik pemerintah, masyarakat, dan swasta. Pertanyaan yang seringkali
diajukan adalah sesungguhnya, di mana posisi TNI dalam penanggulangan
bencana alam? Apakah TNI sebagai penanggung jawab atau hanya
membantu? Bila terjadi leading sector, apa dasarnya dan dari mana
dukungan anggaran untuk menggerakkan pasukan dan membeli bahan-
bahan yang diperlukan TNI? Makalah ini mencoba menjawab keterkaitan
antara penanggulangan bencana dengan pertahanan negara, khususnya
peranan militer di dalamnya.

PERAN MILITER DALAM PENANGGULANGAN BENCANA


Membicarakan peran dan fungsi angkatan bersenjata dalam sistem
keamanan nasional (national security) sebuah negara demokrasi sebenarnya
merupakan hal yang tidak terlalu rumit. Di banyak negara demokrasi,
angkatan bersenjata merupakan komponen penting dalam melindungi negara
dari berbagai ancaman, khususnya yang datang dari luar negeri (external
threats). Dalam tatanan demikian, peran utama angkatan bersenjata adalah
sebagai instrumen dalam menjalankan pertahanan luar (external defense).
Peran tersebut dilaksanakan baik melalui operasi perang, maupun non-
perang (military operations other than war) yang lingkup kegiatannya dapat
bersifat eksternal (di luar negeri, seperti operasi peacekeeping dan operasi
penyelamatan warga negara yang terancam di luar negeri) maupun internal di
dalam negeri (seperti civic missions dan humanitarian relief). Namun, dalam
konteks Indonesia, membahas peran, fungsi dan tugas angkatan bersenjata
dalam sistem keamanan nasional tidak semudah yang dibayangkan.
Kesulitan utama datang dari istilah ”keamanan nasional” itu sendiri. Sampai
sekarang, kita masih belum menemukan format dan pemahaman yang tepat
mengenai ”keamanan nasional.” Akibatnya, pada saat dimana praktek-
praktek penyelenggaraan keamanan nasional seharusnya sudah mulai
melembaga (insititutionalised), pada saat yang sama kita masih tetap berkutat
dalam perbincangan mengenai apa yang dimaksud dengan ”keamanan
nasional” itu. Akibatnya, jangankan menemukan pengaturan yang tepat
mengenai peran TNI dalam sistem keamanan nasional, perbincangan dan
perdebatan mengenai kebutuhan dan proses penataan kerangka regulasi
(regulatory frameworks) bidang keamanan nasional masih juga belum usai.

Hakekat pertahanan negara adalah segala upaya pertahanan bersifat


semesta yang penyelenggaraannya didasarkan pada kesadaran atas hak dan
kewajiban warga negara serta keyakinan pada kekuatan sendiri. Sistem
pertahanan negara dalam menghadapi ancaman militer menempatkan TNI
sebagai komponen utama dengan didukung oleh komponen cadangan dan
komponen pendukung.
• Komponen cadangan terdiri atas warga negara, sumber daya alam,
sumber daya buatan, serta sarana dan prasarana nasional yang telah
disiapkan untuk dikerahkan melalui mobilisasi guna memperbesar dan
memperkuat komponen utama.
• Komponen pendukung terdiri atas warga negara, sumber daya alam,
sumber daya buatan, serta sarana dan prasarana nasional yang secara
langsung atau tidak langsung dapat meningkatkan kekuatan dan
kemampuan komponen utama dan komponen pendukung.

Apa hubungan keamanan nasional dengan penanggulangan bencana?


Dalam menjalankan perannya sebagai alat pertahanan, TNI menjalankan
fungsi sebagai penangkal dan penindak terhadap ancaman yang ada, serta
fungsi pemulih. Berbeda dengan regulasi yang lahir sebelum reformasi, fungsi
TNI dalam menangkal dan menindak kini dibatasi hanya pada “setiap bentuk
ancaman militer dan ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri terhadap
kedaulatan, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa.” Sementara, untuk
“menghadapi bentuk dan sifat ancaman non- militer di luar wewenang instansi
pertahanan, penanggulangannya dikoordinasikan oleh pimpinan instansi
sesuai bidangnya.” Berbeda dengan masa sebelumnya, kini TNI hanya
berfungsi sebagai salah satu bagian saja dari keseluruhan sistem keamanan
nasional, namun tetap merupakan kekuatan inti dalam sistem pertahanan
nasional. Disinilah dijelaskan bahwa bencana alam merupakan salah satu
ancaman terhadap keamanan nasional yang berasala dari dalam. Dalam
tugas-tugas yang diamanatkan kepada TNI yang termuat beberapa poin yang
terkait dengan penanggulangan bencana, yaitu:

1. Membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan


pemberian bantuan kemanusiaan;
2. Membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan (search and
rescue)

Beberapa alasan kenapa keterlibatan militer penting dalam penanggulangan


bencana terutama pada masa tanggap darurat antara lain:

1. TNI mempunyai personel terlatih yang selalu siap siaga.


2. Personel TNI mempunyai keahlian bekerja di medan berat.
3. TNI mempunyai struktur komando yang rapi.
4. TNI mempunyai tank, kapal, helikopter dan berbagai perlengkapan
untuk bekerja dalam kondisi darurat.

Mencermati perundang-undangan yang berlaku, baik UU Pertahanan Negara


maupun UU TNI jelas menyebutkan bahwa TNI hanya sebatas membantu.
Pasal 10 UU RI Nomor 3 Tahun 2002 serta Pasal 6 dan 7 UU RI Nomor 34
Tahun 2004 beserta penjelasannya menempatkan TNI pada posisi membantu
instansi lain sesuai permintaan. Hanya saja, presiden selaku pemegang
kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara
dapat mengerahkan TNI dalam keadaan memaksa untuk kemudian
dimintakan persetujuan dari DPR RI. Termasuk pengerahan TNI untuk
menanggulangi akibat bencana alam yang membutuhkan penanganan cepat.
Namun kembali ke Undang-Undang tentang Penanggulangan Bencana,
peran TNI tidak terlalu disinggung di dalamnya. Agar lebih “operasional”
diperlukan suatu peraturan tambahan (baik dalam bentuk PP, Kepres) yang
mengatur petunjuk operasional operasi militer dalam penanggulangan
bencana.
Dalam Peraturan Presiden nomor 8 tahun 2008 tentang Badan Nasional
Penanggulangan Bencana. Di dalam Perpres tersebut pada pasal 11
disebutkan terdapat keanggotaan TNI sebagai unsur pengarah dalam
penanggulangan bencana, sedangkan di BPBD kedudukan TNI diperkuat
oleh Perka BNPB No 3 tahun 2008 namun sayangnya rata-rata disetiap
daerah keanggotaan tim pengarah instansi lainnya hanyalah bersifat exofficio
yang berarti duplikasi jabatan sehingga membuat mereka tidak fokus untuk
melaksanakan penanggulangan bencana. Kemudian pada pasal 48
dijelaskan keterlibatan TNI sebagai unsur pelaksana, namun kalau
dipelajari lebih detail kedudukannya hanya sebatas liaison yang sifatnya
koordinasi kepada struktur BNPB/BPBD. Ini berarti hubungan
organisasi TNI dengan BNPB/BPBD bersifat lateral yakni berhubungan
hanya jika dibutuhkan.

Salah satu masalah yang terbilang “klasik” dalam pelaksanaan


program/kegiatan di Kementerian/Lembaga bahkan di daerah adalah masalah
anggaran. Sebagaimana kita ketahui anggaran Pemerintah adalah
direncanakan untuk jangka waktu 1 (satu) dengan rincian kegiatan yang
sudah dicatatkan ke dalam DIPA. Apakah bencana bisa direncanakan?
Jawabannya tentu saja tidak. Hal inilah yang juga menjadi masalah bagi
militer dalam menjalankan operasi apabila terjadi penanggulangan bencana.
Perubahan pagu anggaran sangat mungkin, tapi operasi darurat untuk
evakuasi atau penyaluran logistik tidak akan sempat menunggu revisi
anggaran, apalagi bila terjadi penambahan atau pergeseran tingkat program
yang harus disetujui oleh DPR. Permasalahan-permasalahan seperti ini harus
segera diselesaikan agar tidak terjadi masalah di kemudian hari.

KESIMPULAN
Konsepsi peran dan tugas militer dalam penanggulangan bencana ke depan
diharapkan menciptakan TNI yang “profesional” dalam menjalankan operasi
bantuan kemanusiaan. Profesionalisme yang dimaksud haruslah dapat diukur
bukan hanya dari besarnya “pengabdian” yang diberikan kepada negara dan
bangsa, namun juga harus dapat diukur dari besarnya dukungan yang
diberikan kepada Militer baik itu dari sisi anggaran maupun dari sisi peran dan
tugas yang diberikan dalam usaha penanggulangan bencana. Untuk itu Militer
harus mendapatkan peran yang lebih didalam usaha penanggulangan
bencana tidak hanya dalam masa tanggap darurat seperti yang telah
dilakukan selama ini namun diharapkan Militer dapat lebih berpartisipasi aktif
pada masa pra-bencana maupun pada masa pasca bencana. Dalam rangka
mendapatkan “peran” yang diharapkan maka Militer harus dapat merumuskan
peran dan tugasnya pada setiap tahapan penanggulangan bencana. Peran
dan tugas tersebut akan dapat terumuskan apabila Militer mempunyai strategi
untuk menggapainya.