Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS KONSEP SOSIOLOGI PENDIDIKAN

URAIAN

Disusun untuk memenuhi tugas pada matakuliah


Sosiologi Pendidikan
Yang dibina oleh Bapak ...

Oleh
Evi Laily
109154425266

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH
PROGRAM STUDI S1 PG PAUD
September 2010
ANALISIS KONSEP SOSIOLOGI PENDIDIKAN

1. Pengertian Sosiologi
Secara harfiah atau etimologis (definisi nominal), sosiologi berasal dari bahasa
latin socius (arti: teman, sekawan, sahabat) dan logos (arti: ilmu pengetahuan). Jadi
sosiologi adalah ilmu tentang cara berteman/berkawan/bersahabat yang baik, atau cara
bergaul yang baik dalam masyarakat.
Sedangkan secara operasional (definisi real), beberapa pakar mendefinisikan
sosiologi sebagai berikut.
a. Alvin Bertrand : studi tentang hubungan antara manusia.
b. Mayor Polak : ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai
keseluruhan, yakni hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan
kelompok dan kelompok dengan kelompok, baik formal maupun material dan statis
maupun dinamis.
c. P.J.Bouwman : ilmu masyarakat umum.
d. Selo Soemardjan dan : ilmu yang mmpelajari struktur sosial dan proses sosial,
Soelaiman Soemardi termasuk perubahan-perubahan sosial yang terjadi.
Berdasarkan pengertian sosiologi yang telah dikemukakan, maka objek sosiologi
adalah:
a. struktur sosial, yakni jalinan dari keseluruhan unsur-unsur sosial;
b. unsur-unsur sosial, dimana yang pokok adalah norma/kaidah sosial, lembaga sosial,
kelompok sosial, dan lapisan sosial;
c. proses sosial, yakni pengaruh timbal balik antara pelbagai segi kehidupan bersama;
dan
d. perubahan sosial, yakni segala perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga sosial
dalam masyarakat dan mempengaruhi sistem sosial, seperti nilai, sikap, dsb.
Berikut ini akan dijabarkan secara sekilas beberapa objek sosiologi di atas.
a. Norma atau Kaidah Sosial
Menurut Alvin Bertrand, norma adalah tingkah laku yang dterima atau
diperlakukan dalam keadaan tertentu. Sedangkan Sherif dan Sherif berpendapat bahwa
norma merupakan pengertian umum yang seragam antara anggota kelompok mengenai
cara-cara bertingkah laku yang patut dilakukan oleh anggota kelompok apabila mereka
berhadapan dengan situasi yang bersangkut paut dengan kehidupan kelompok.
(Gerungan: 1977).
Beberapa macam norma menurut tingkatannya antara lain:
a. menurut Robbin M. William, Jr. : norma teknis/kognitif, konvensi, dan moral;
b. menurut Alvin Bertrand : folkways, mores, dan laws;
c. menurut S. Soemardjan dan Soelaiman Soemardi:
1) cara (usage) yakni norma yang menunjuk pada suatu perbuatan yang memiliki
sanksi lemah, misalnya berupa ocehan atau sindiran. Contohnya, sindiran kepada
orang yang makan dengan mulut berdecak, bangun didahului oleh ayam berkokok.
2) kebiasaan (folkways) yakni cara-cara bertingkah laku yang sudah dikenal, diterima
dan diakui masyarakat, serta dilakukan berulang-ulang, dan memiliki sanksi yang
lebih berar seperti teguran. Contohnya, teguran kepada orang yang langsung makan
sebelum mandi, orang yang naik kendaraan di gang sempit kampung.
3) tata kelakuan (mores) yakni kebiasaan yang tidak semata-mata merupakan cara
bertingkah laku, namun merupakan norma yang mengatur, menyuruh atau melarang
sesuatu perbuatan dilakukan. Dengan demikian memiliki sanksi yang cukup berat.
Dalam kaitannya dengan norma, dikenal istilah tabu/taboo, yakni tata kelakuan
(mores) yang berfungsi melarang suatu perbuatan untuk dilakukan. Contohnya,
orang suku Jawa yang belum pernah menikahkan dilarang mendirikan rumah dan
memperbaiki makam (ngijing).
4) adat istiadat (custom) ialah tata kelakuan yang kekal dan kuat integritasnya dengan
pola-pola kelakuan masyarakat karena telah diakui oleh masyarakat itu sejak lama
(warisan nenek moyang) sehingga memiliki sanksi yang sangat berat bagi
pelanggarnya. Contohnya dilarang terjadinya hubungan seks antara sanak keluarga.
b. Lembaga Sosial
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, yang mengemukakan istilah
ini, lembaga sosial adalah semua norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu
keperluan pokok dalam kehidupan masyarakat, misalnya lembaga pendidikan, ekonomi,
dan lain sebagainya (menekankan pada bentuk wadah dan norma yang terkandung di
dalamnya).
Lembaga sosial memiliki beberapa fungsi seperti memberikan pedoman tingkah
laku bagi anggotanya, menjaga keutuhan masyarakat yang bersangkutan dan memberikan
pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial (social
control), yakni sistem pengawasan oleh masyarakat terhadap tingkah laku anggota-
anggotanya.
Menurut Gillin dan Gillin (1954: 70-71), ada lima tipe pokok lembaga sosial
sebagai berikut.
1. Menurut Perkembangannya
a) crescive: muncul dan tumbuh dengan sendirinya. Contoh: agama, hak milik.
b) enacted: ditumbuhkan dengan sengaja (berasal dari kebiasaan dalam masyarakat
yang disistematisasikan dan diatur, kemudian dituangkan menjadi lembaga positif
yang berlaku dan dikukuhkan serta disahkan oleh pemerintah sehingga kedudukannya
sangat kuat. Contoh: lembaga pendidikan, bank, pasar, dan sebagainya.
2. Menurut Kepentingannya
a) basic institution (pokok), yakni lembaga sosial yang dianggap penting unuk
memelihara dan mempertahankan tata masyarakat dalam suatu masyarakat tertentu.
Contoh: Lembaga Keamanan Masyarakat Desa (LKMD)
b) subsidiary institution (kurang pokok), yakni lembaga sosial yang dianggap
kurang/tidak pokok. Contoh: lembaga rekreasi.
3. Menurut Penerimaannya
a) sanctioned institution, yakni lembaga sosial yang diterima oleh masyarakat. Contoh:
sekolah, perusahaan, dan sebagainya.
b) unsanctioned institution, yakni lembaga sosial yang tidak diterima oleh masyarakat.
Contoh: kelompok mafia, penjudi, peminum, dan sebagainya.
4. Menurut Penyebarannya
a) general institution, yakni lembaga sosial yang yang terdapat hampir di seluruh
masyarakat. Contoh: lembaga agama, keamanan, politik, dan sebagainya.
b) restricted institution, yakni lembaga sosial yang terdapat pada beberapa masyarakat
tertentu. Contoh: lembaga sosial pada masyarakat beragama Islam/Kristen/dll.
5. Menurut fungsinya
a) operative institution, yakni lembaga sosial yang berfunsi menghimpun pola atau tata
cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan lembaga tersebut. Contoh: lembaga
industrialisasi, koperasi, dan sebagainya.
b) regulative institution, yakni lembaga sosial yang mengawasi adat istiadat dan tata
kelakuan lain yang tidak menjadi bagian mutlak dari lembaga tersebut. Contoh:
lembaga hukum seperti pengadilan, kejaksaan, dan sebagainya.
c. Proses Sosial
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, proses sosial merupakan
pengaruh timbale balik antara pelbagai segi kehidupan bersama. Hal yang dipelajari
dalam proses sosial terutama adalah bentuk-bentuk interaksi sosial, yakni bentuk-bentuk
yang tampak bila individu atau kelompok manusia mengadakan hubungan (interaksi) satu
sama lain. Di Indonesia, hal tersebut diperlukan sebagai sumbangsih pada usaha bersama
dalam mewujudkan nation and character building.

2. Pengertian Pendidikan
Secara mendasar, pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah usaha sadar dan
terencana untuk melakukan transfer ilmu pengetahuan, norma dan nilai kepada manusia
sejak dalam kandungan hingga akhir hayat sehingga terbentuk manusia dewasa yang
sesungguhnya (proses memanusiakan manusia).
Dan pada sistem pendidikan nasional, pendidikan adalah usaha sadar untuk
menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan dan
perannya di masa yang akan datang.

3. Pengertian Sosiologi Pendidikan


Pada dasarnya, sosiologi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sosiologi umum dan
sosiologi khusus. Sosiologi umum menyelidiki gejala sosio-kultural secara umum.
Sedangkan sosiologi khusus, yaitu pengkhususan dari sosiologi umum, yaitu menyelidiki
suatu aspek kehidupan sosio kultural secara mendalam. Misalnya, sosiologi masyarakat
desa, sosiologi masyarakat kota, sosiologi agama, sosiologi hukum, sosiologi pendidikan
dan sebagainya. Jadi sosiologi pendidikan merupakan salah satu sosiologi khusus.
Beberapa definisi sosiologi pendidikan menurut beberapa ahli:
a. Menurut F.G. Robbins: sosiologi khusus yang tugasnya menyelidiki struktur dan
dinamika proses pendidikan. Struktur mengandung pengertian teori dan filsafat
pendidikan, sistem kebudayaan, struktur kepribadian dan hubungan kesemuanya
dengantata sosial masyarakat. Sedangkan dinamika yakni proses sosial dan
kultural, proses perkembangan kepribadian,dan hubungan kesemuanya dengan
proses pendidikan.
b. Menurut H.P. Fairchild (dalam bukunya ”Dictionary of Sociology”): sosiologi
yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang
fundamental. Jadi ia tergolong applied sociology.
c. Menurut Prof. Drs. Nasution, M.A: ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-
cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian
individu agar lebih baik.
d. Menurut F.G. Robbins dan Brown: ilmu yang membicarakan dan menjelaskan
hubungan-hubungan sosial yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta
mengorganisasi pengalaman. Sosiologi pendidikan mempelajari kelakuan sosial
serta prinsip-prinsip untuk mengontrolnya.
e. Menurut E.G Payne: studi yang komprehensif tentang segala aspek pendidikan
dari segi ilmu sosiologi yang diterapkan.
f. Menurut Drs. Ary H. Gunawan: ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan
masalah-masalah pendidikan dengan analisis atau pendekatan sosiologis.
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan
adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan, baik itu struktur, dinamika,
masalah-masalah pendidikan, ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui
analisis atau pendekatan sosiologis.
Objek penelitian sosiologi pendidikan adalah tingkah laku sosial, yaitu tingkah
laku manusia dan institusi sosial yang terkait dengan pendidikan. Tingkah laku itu hanya
dapat dimengerti dari tujuan, cita-cita atau nilai-nilai yang dikejar. Sebagaimana dalam
terminologi sosiologi, sosiologi pendidikan berbicara tentang pandangan tentang kelas,
sekolah, keluarga, masyarakat desa, kelompok- kelompok masyarakat dan sebagainya,
masing-masing terangkum dalam wilayah suatu sistem sosial. Tiap-tiap sistem sosial
merupakan kesatuan integral yang mendapat pengaruh dari (1) sistem sosial yang lain, (2)
lingkungan alam, (3) sifat-sifat fisik manusia dan (4) karakter mental penghuninya.
Sosiologi pendidikan telah memiliki lapangan penyelidikan, sudut pandang,
metode dan susunan pengetahuan yang jelas. Menurut Dodson (dalam Faisal dan Yasik,
1985) sosiologi pendidikan mempersoalkan pertemuan dan percampuran dari lingkungan
sekitar kebudayaan secara totalitas sedemikian rupa sehingga terbentuknya tingkah laku
tertentu dan sekolah atau lingkungan pendidikan dianggap sebagai bagian dari total
cultural miliu. Selaras dengan pendapat di atas, E. Goerge Payne (dalam Faisal dan
Yasik, 1985) yang merupakan bapak sosiologi pendidikan memberikan penekanan bahwa
dalam lembaga-lembaga, kelompok-kelompok sosial dan proses sosial terdapat hubungan
yang saling terjalin, di mana di dalam interaksi sosial itu individu memperoleh dan
mengorganisasikan pengalamannya. Penjelasan tersebut melekat kuat aspek
sosiologisnya. Sementara dari segi paedagogisnya, bahwa seluruh individu dan
masyarakat dari anak-anak sampai orang dewasa, kelompok-kelompok sosial dan proses-
proses sosialnya, berlangsung di seputar sistem pendidikan yang selalu bergerak dinamis.
Masalah-masalah yang diselidiki sosiologi pendidikan antara lain meliputi pokok-
pokok berikut ini.
a. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat
a. Hubungan pendidikan dengan sistem sosial atau struktur sosial,
b. Hubungan antara sistem pendidikan dengan proses kontrol sosial dan sistem
kekuasaan,
c. Fungsi pendidikan dalam kebudayaan,
d. Fungsi sistem pendidikan dalam proses perubahan sosial dan kultural atau usaha
mempertahankan status quo, dan
e. Fungsi sistem pendidikan formal bertalian dengan kelompok rasial, kultural dan
sebagainya.
b. Hubungan antarmanusia di dalam sekolah
Lingkup ini lebih condong menganalisis struktur sosial di dalam sekolah yang
memiliki karakter berbeda dengan relasi sosial di dalam masyarakat luar sekolah,
antara lain yaitu:
a. hakikat kebudayaan sekolah sejauh ada perbedaannya dengan kebudayaan di luar
sekolah, dan
b. pola interaksi sosial dan struktur masyarakat sekolah, yang antara lain meliputi
berbagai hubungan kekuasaan, stratifikasi sosial dan pola kepemimpinan informal
sebagai terdapat dalam clique serta kelompok-kelompok murid lainnya.
c. Pengaruh sekolah terhadap perilaku dan kepribadian semua pihak di
sekolah/lembaga pendidikan
a. Peranan sosial guru-guru/tenaga pendidikan,
b. Hakikat kepribadian guru/ tenaga pendidikan,
c. Pengaruh kepribadian guru/tenaga kependidikan terhadap kelakuan anak/peserta
didik, dan
d. Fungsi sekolah/lembaga pendidikan dalam sosialisasi murid/peserta didik.
d. Lembaga Pendidikan dalam masyarakat
Di sini dianalisis pola-pola interaksi antara sekolah atau lembaga pendidikan
dengan kelompok-kelompok sosial lainnya dalam masyarakat di sekitar sekolah atau
lembaga pendidikan. Hal yang termasuk dalam wilayah itu antara lain yaitu:
a. pengaruh masyarakat atas organisasi sekolah/lembaga pendidikan,
b. analisis proses pendidikan yang terdapat dalam sistemsistem sosial dalam
masyarakat luar sekolah,
c. hubungan antarsekolah dan masyarakat dalam pelaksanaan pendidikan, dan
d. faktor-faktor demografi dan ekologi dalam masyarakat berkaitan dengan organisasi
sekolah, yang perlu untuk memahami sistem pendidikan dalam masyarakat serta
integrasinya di dalam keseluruhan kehidupan masyarakat.

4. Mengapa Timbul Sosiologi Pendidikan?


Sekitar awal abad ke-20 menyebabkan manfaat sosiologi menjadi penting dalam
mendampingi proses-proses pendidikan di Eropa. Perkembangan tersebut merupakan
efek dari revolusi sosial di berbagai penjuru wilayah Eropa yang memicu akselerasi
perubahan arah perkembangan masyarakat Eropa. Era transisi perubahan sosial tersebut
menimbulkan konsekuensi-konsekuensi logis yang tak terduga-duga kedatangannya,
antara lain merebaknya keraguraguan akan nilai dan tatanan normatif yang telah mapan
mengalami erosi jika tidak dilakukan penguatan orientasi. Bantuan ilmu sosiologi dengan
segala komponen konsepsionalnya mendapat sambutan positif dari kalangan praktisi
pendidikan, sebagai wujud alternatif untuk memperkuat ketahanan sosial melalui
pendidikan. Manifestasi tersebut ditandai dengan kelahiran sosiologi pendidikan sebagai
produk keilmuan baru. Kajian sosiologi pendidikan menekankan implikasi dan akibat
sosial dari pendidikan dan memandang masalah-masalah pendidikan dari sudut totalitas
lingkup sosial kebudayaan, politik dan ekonomisnya bagi masyarakat. Apabila psikologi
pendidikan memandang gejala pendidikan dari konteks perilaku dan perkembangan
pribadi, maka sosiologi pendidikan memandang gejala pendidikan sebagai bagian dari
struktur sosial masyarakat.
Dilihat dari objek penyelidikannya sosiologi pendidikan adalah bagian dari ilmu
sosial terutama sosiologi dan ilmu pendidikan yang secara umum juga merupakan bagian
dari kelompok ilmu sosial. Sedangkan yang termasuk dalam lingkup ilmu sosial antara
lain: ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu pendidikan, psikologi, antropologi dan sosiologi.
Dari sini terlihat jelas kedudukan sosiologi dan ilmu pendidikan.
Kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat mengalami perubahan sangat cepat,
progresif dan kerap kali menunjukkan gejala desintegratif (berkurangnya kesetiaan
terhadap nilai-nilai umum). Perubahan sosial yang cepat tersebut menimbulkan curtural
lag (ketertinggala kebudayaan akibat adanya hambatan-hambatan) yang merupakan
sumber berbagai masalah sosial dalam masyarakat. Masalah sosial juga dialami dunia
pendidikan, sehingga diperlukan sumbangsih para ahli sosiologi untuk memecahan
berbagai masalah sosio pendidikan yang fundamental.
Beberapa konsep tentang tujuan sosiologi pendidikan antara lain:
a. sosiologi pendidikan bertujuan menganalisi proses sosialisasi anak;
b. sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis perkembangan dan kemajuan sosial;
c. sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis status pendidikan dalam masyarakat;
d. sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis partisipasi orang berpendidikan dalam
kegiatan sosial;
e. sosiologi pendidikan bertujuan membantu menentukan tujuan pendidikan; dan
f. sosiologi pendidikan bertujuan utama untuk memberikan latihan efektif dalam bidang
sosiologi kepada berbagai pihak yang terlibat dalam dunia kependidikan, sehingga dapat
menyelesaikan berbagai masalah pendidikan secara cepat dan tepat.

5. Mengapa Guru dan Calon Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Perlu
Dibekali dengan Sosiologi Pendidikan?
Guru adalah seorang administrator, informator, konduktor, dan sebagainya yang
diharapkan dapat memberikan teladan perilaku dan budi pekerti luhur kepada masyarakat
demi masa depan bangsa dan negara.
Kepribadian guru dapat mempengaruhi suasana kelas dan sekolah, baik kebebasan
yang dinikmati anak dalam mengeluarkan buah pikiran dan mengembangkan
kreativitasnya, ataupun pengekangan dan keterbatasan yang dialami dalam
pengembangan kepribadiannya.
Anak dalam perkembangannya dipengaruhi oleh setidaknya orang-orang dalam
lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakatnya. Selain itu, anak-anak merupakan
individu unik yang berbeda dalam bakat dan pembawaaannya, terutama karena penagruh
lingkungan sosial yang berlainan. Pendidikan itu sendiri dapat dipandang sebagi suatu
sosilaisasi yang terjadi dalam interaksi sosial. Sehingga dapatlah menjadi sebuah
kewajaran bila seorang guru/pendidik seharusnya berusaha menganalisis pendidikan dari
segi sosiologi, yakni mengenai hubungan antar manusia dalam keluarga, sekolah, dan
masyarakat (dengan sistem sosialnya).
Yang perlu lebih diperhatikan, masa usia dini merupakan periode penting dimana
otak anak berkembang dengan pesat untuk dapat menyerap berbagai rangsangan dari
lingkungannya (perkembangan otak anak mencapai 80% pada usia 6 tahun di akhir masa
usia dini tersebut). Peran guru atau pendidik sangat diperlukan dalam pengkondisian
lingkungan kondusif, terutama di lingkungan sekolah dan upaya penyelarasan di
lingkungan rumah melalui kerja sama efektif dengan orang tua, sehingga anak dapat
tumbuh dan berkembang secara optimal dan berimbang.

Daftar Rujukan
Gunawan, Ari H. 2000. Sosiologi Pendidikan: Suatu Analisis Sosiologi Tentang Pelbagai
Problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Hartoto. 2008. Definisi Sosiologi Pendidikan. (Online). (http://www.fatamorghana.
wordpress.com, diakses 16 Sepetember 2010).
Nursalim, Mochamad, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Surabaya: Unesa University
Press.