Anda di halaman 1dari 5

PEMBAHASAN

Percobaan kali ini akan menentukan viskositas dari sampel yaitu tragakan yang
akan dibuat dalam bentuk cairan dengan menggunakan viskometer Brookfield dan
viskotester Rion.
Hal pertama yang dilakukan adalah membuat cairan tragakan. Tragakan
sebelumnya harus dikembangkan terlebih dahulu agar dapat diperoleh viskositas atau
kekentalannya. Tragakan dibuat dalam dua variasi konsentrasi yaitu 0,5% dan 1% b/v.
Sampel tragakan masing-masing dibuat dalam aquadest 600ml. Untuk membuat tragakan
0,5% b/v dalam 600 ml, jumlah tragakan yang ditimbang adalah 3 gram, dan untuk
membuat tragakan 1% b/v dalam 600 ml, jumlah tragakan yang ditimbang adalah 6 gram.
Alat yang telah disiapkan, digunakan untuk membuat sampel tragakan. Mortir dan
stamper di siapkan. Sebelumnya ke dalam mortir yang bersih dan kering ditambahkan
sedikit tragakan untuk melapisi dasar mortir agar sampel tragakan yang akan digerus
nanti jumlahnya tidak berkurang karena mengisi pori-pori mortir.
Tragakan yang telah ditimbang dimasukan ke dalam mortir utuk digerus agar
tragakan lebih halus dan dapat lebih cepat mengabsorpsi air, setelah digerus kemudian
disisihkan. Selanjutnya, 600 ml aquades yang telah disiapkan dituang ke dalam mortir
setelah itu tragakan yang telah ditimbang ditaburkan ke permukaan air dalam mortir. Hal
ini dilakukan agar tragakan dapat mengembang lebih sempurna dengan terlebih dahulu
menyerap air dibandingkan dengan menuangkan air langsung ke dalam tragakan.
Ditunggu beberapa saat hingga serbuk-serbuk tragakan terlihat telah menyerap air.
Setelah itu dihomogenkan dengan di gerus hingga tragakan mengembang. Hal ini
dilakukan agar viskositas atau kekentalan di setiap bagian yang ada dalam sampel
tragakan homogen atau sama.
Setelah homogen, masing-masing sampel (tragakan 0,5% dan 1%) dimasukan ke
dalam gelas ukur 600 ml untuk ditentukan viskositasnya menggunakan viskometer
Brookfield dan viskotester Rion.
Dalam menentukan viskositas menggunakan viskometer Brookfield ini, ada
beberapa hal yang sebelumnya harus ditentukan, diantaranya adalah kecepatan yang akan
digunakan dan pemilihan spindel yang sesuai.
Dalam percobaan kali ini, kecepatan yang akan digunakan adalah 3;6;12;30;dan
60 serta spindel yang dipilih adalah spindel no.3 dan no.4. Pemilihan spindel ini
didasarkan pada asumsi bahwa spindel tersebut berada dalam range tengah karena jenis
spindel ada dari no.1 sampai no.7. Dengan asumsi tersebut diharapkan range
viskositasnya dapat terukur.
Setelah menentukan kecepatan dan spindel yang akan digunakan, selanjutnya
adalah memasang spindel dan menghubungkan viskometer pada saklar. Atur kecepatan
yang diinginkan kemudian kalibrasi alat tersebut dengan memutar spindel agar jarum
skala berada pada angka 0. Skala harus selalu menunjuk angka 0 terlebih dahulu setiap
pemindahan kecepatan yang akan digunakan. Spindel harus berada dalam cairan pada
batas tertentu yaitu hingga pertengahan batas spindel agar ukuran viskositasnya bisa
sesuai. Setelah dipastikan jarum skala berada di angka 0 dan spindel telah tercelup
sempurna, nyalakan viskometer dengan menggerakan tombol on dan tunggu hingga
penunjuk skala stabil kemudian dibaca skalany.
Pengukuran yang baik adalah ketika putarannya berada diatas 10 dan dibawah
100. Semakin dekat pengukurannya dengan 100 maka hasil pengukuran yang didapat
semakin baik karena putaran yang dilakukan adalah maksimal. Namun ketika pengukuran
berada di bawah 10 maka putaran yang dilakukan kurang efektif dalam artian kurang
membertikan gambaran. Ketika putaran berada pada kecepatan diatas 100 maka sistem
sudah tidak seimbang karena gerakannya menjadi kurang terkendali dan tidak baik untuk
diukur.
Wadah yang digunakan pada pengukuran viskositas dengan menggunakan metode
Brookfield adalah beaker glass 600 ml agar spindel yang berputar untuk pengukuran
tidak terkena pada dinding maupun dasar tabung sehingga pengukurannya akurat, artinya
viskositas yang terukur adalah harga viskositas sebenarnya, tidak dipengaruhi oleh gaya
gesekan antara spindel dengan wadah cairan.
Setelah terbaca skalanya, kemudian ditentukan viskositasnya dengan mengalikan
hasil pembacaan skala dengan faktor yang telah ada pada tabel sesuai dengan spindel dan
kecepatan yang digunakan.
Selanjutnya adalah menentukan viskositas sampel dengan viskotester Rion.
Dalam menentukan viskositas dengan viskotester Rion, rotor yang akan digunakan harus
sesuai dengan viskositas sampel dan ukuran tempat sampel pun berubah sesuai dengan
rotor yang digunakan.
Jenis rotornya ada 3 yaitu dibagi berdasarkan rentang ukuran viskositasnya :
Rotor no.3 : 0,3-13 dPa.s (dengan cup no.3,,kurang lebih 170ml)
Rotor no.1 : 3-150 dPa.s (dengan wadah sampel beaker 400-500ml)
Rotor no.2 : 100-4000 dPa.s (dengan wadah sampel beaker 400-500ml)
Pada percobaan kali ini, semua rotor dicoba digunakan untuk
membandingkannya. Urutan penggunaan rotor adalah dari rotor no.3 kemudian no.1
selanjutnya no.2. hal ini dilakukan dari rentang viskositas terendah agar skala yang
terbaca dapat lebih jelas dan dapat lebih ditentukan.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan viskotester rion
ini antara lain adalah wadah sampel sesuai dengan rotor yang digunakan. Jika
menggunakan rotor no.3 wadah sampel menggunakan cup no.3, jika menggunkan rotor
no.2 dan no.1, wadah sampel dapat menggunakan beaker glas 600ml. Selain itu juga,
bagian alat tempat melihat hasil harus dalam keadaan datar dan hal ini dapat dilihat
dengan memperhatikan indikator air yang berada pada bagian atas alat. Gelembung udara
pada airnya harus berada di tengah dan hal ini menunjukan bahwa pengukuran yang
dilakukan adalah tegak lurus . Selain itu pengukuran yang dilakukan pada cairan harus
berada pada suhu kamar karena suhu yang tinggi akan menurunkan viskositas. Ikatan
antar partikel akan menjadi lebih renggang ketika suhu dari cairan meningkat. Hal inilah
yang menyebabkan viskositasnya menurun.
Dari hasil percobaan, data yang diperoleh tidak konstan. Data yang diperoleh dari
alat penentu viskositas viskometer brookfield, pada tragakan 0,5% dengan spindel no.3,
menunjukan nilai viskositas yang tidak stabil, data yang diperoleh naik turun. Pada
penentuan viskositas dengan viskositas brookfiel pada tragakan 0,5% dengan spindel 4
dan tragakan 1% dengan spindel 3 dan 4, data yang diperoleh, nilai viskositasnya
cenderung turun seiring dengan meningkatnya kecepatan rpm.
Menurut teori, jika sistem termasuk aliran newton seharusnya semakin tinggi rpm
yang digunakan maka nilai viskositas pun semakin besar, hal ini dikarenakan semakin
tinggi nilai viskositas, maka energi yang dibutuhkan untuk memutar spindel semakin
besar dan kecepatan yang digunakan pun membutuhkan energi yang besar, jadi
seharusnya niali viskositasnya pun semakin besar.
Namun dari data yang diperoleh, semakin besar rpm, nilai viskositas cenderung
menurun, berarti sistem alirannya bukan aliran Newton melainkan termasuk aliran non
Newton. Dilihat dari data grafik dan sampel yang digunakan, jenis alirannya merupakan
aliran pseudoplastis karena aliran pseudoplastis ditunjukkan oleh beberapa bahan farmasi
yaitu gom alam dan sisntesis seperti dispersi cair dari tragacanth, natrium alginat, metil
selulosa, dan natrium karboksimetil selulosa.
Viskositas aliran pseudoplastis akan berkurang dengan meningkatnya rate of
shear (laju geser/kecepatan). Rheogram lengkung untuk bahan-bahan pseudoplastis ini
disebabkan adanya aksi shearing terhadap molekul-molekul polimer (atau suatu bahan
berantai panjang). Dengan meningkatnya shearing stress, molekul-molekul yang secara
normal tidak beraturan, mulai menyusun sumbu yang panjang dalam arah aliran.
Pengarahan ini mengurangi tahanan dari dalam bahan tersebut dan mengakibatkan rate of
shear yang lebih besar pada tiap shearing stress berikutnya.
Penentuan viskositas dengan menggunakan viskotester rion, yang dapat diamati
adalah perbedaan kekentalan atau viskositas berdasarkan konsentrasi sampel. Dari hasil
percobaan diperoleh nilai viskositas tragakan 0,5% adalah 0,15 dan nilai viskositas
tragakan 1 % adalah 0,2.
Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa konsentrasi tragakan yang lebih tinggi
mempunyai nilai viskositas yang lebih tinggi juga. Hal ini disebabkan karena sampel
yang konsentrasinya lebih tinggi mengandung tragakan yang lebih banyak sehingga
kekentalan atau viskositasnya akan meningkat.
Dari percobaan kali ini, jika kita membandingkan kedua alat pengukur viskositas
tersebut yaitu viskometer brookfield dan viskotester rion, masing-masing alat tersebut
mempunyai kelebihan dan kekuranganya.
Untuk viskometer brookfield, alat tersebut lebih detail dan efektif karena dapat
menggambarkan jenis aliran viskositasnya tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama
untuk menentukan nilai viskositasnya, selain itu juga hasil yang diperoleh dari alat
tersebut tidak langsung nilai viskositas, karena untuk menentukan nilai viskositasnya
masih harus dikalikan dengan faktor.
Untuk viskotester rion, alat ini lebih sederhana dan waktu yang dibutuhkan untuk
menentukan nilai viskositasnya lebih cepat, selain itu hasil yang diperoleh langsung
merupakan nilai viskositas sampel namun dengan viskotester rion ini kita hanya dapat
menentukan satu nilai viskositas saja, selain itu juga tidak dapat menentukan jenis
alirannya.

KESIMPULAN
1. Larutan uji (tragakan) dapat dibuat sesuai dengan konsentrasi tertentu yaitu 0,5% dan
1%
2. viskositas sampel tragakan dapat ditentukan dengan menggunakan viskometer
brookfield dan viskotester rion. Dengan menggunakan brookfield dapat disimpulkan
bahwa jenis aliran sample adalah aliran pseudoplastis dan dengan viskometer rion dapat
disimpulkan bahwa konsentrasi sampel yang lebih besar memiliki nilai viskositas yang
lebih tinggi dibandingkan dengan sampel yang memiliki konsentrasi lebih rendah.