Anda di halaman 1dari 57

PRINSIP – PRINSIP LEGAL ETIS DALAM PENGAMBILAN

KEPUTUSAN DALAM KONTEKS KEPERAWATAN

Diajukan untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah Konsep Dasar Keperawatan II

Disusun oleh:

1. SUSANTI YAMBA (Ketua) 09061029


2. FRANTIKA B. KAWILARANG 09061024
3. FENTY F. SEWOW 09061002
4. LISNIATY LEONG 09061034
5. STEVANI WOKAS 09061035
6. GRACE KINSALE 09061041
7. FRANSISCO POLANDOS 09061048
8. NOVITA MAMATO 09061050
9. ALHABSI UMASANGAJI 09061053

PROGRAM STUDI ILMU

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS KATOLIK DE LA SALLE

MANADO

2010
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Pada umumnya, tindakan pengambilan keputusan seorang perawat


dalam pelayanan pasien seperti halnya pasien terminal, seringkali dianggap
tidak etis oleh masyarakat. Namun sebenarnya hal ini tidaklah dibenarkan.
Peran perawat sangat melibatkan otonomi, berbuat baik, kejujuran, keadilan,
tidak merugikan, menepati janji, dan menjaga rahasia klien. Contoh kasus
seperti “Euthanasia”, seorang perawat tidak sembarangan membuat
keputusan mengenai hidup klien, melainkan perawat akan tetap
mempertahankan peran yang baik dan benar. Dalam makalah ini akan
dijelaskan lebih mendalam bagaimana sebenarnya peran dan tindakan
pengambilan keputusan yang baik dan yang harus dilakukan oleh seorang
perawat profesional. Selanjutnya, akan dibahas dalam makalah kami yang
berjudul : “Prinsip-prinsip Legal Etis Pada Pengambilan Keputusan Dalam
Konteks Keperawatan”.

I.2 Tujuan Penulisan


I.2.1 Tujuan Umum
Menerapkan prinsip-prinsip legal etis pada pengambilan keputusan
dalam konteks keperawatan.

I.2.2 Tujuan Khusus


 Dapat mengetahui prinsip-prinsip etika keperawatan : otonomi,
beneficence, justice, nonmalefince, moral right, nilai dan norma
masyarakat.
 Dapat mengetahui issue etik dala praktik keperawatan : euthanasia, aborsi.
 Dapat memahami transplantasi organ dan supporting.
 Dapat mengenal device
 Dapat memahami prinsip-prinsip legal dalam praktik keperawatan :
malpraktik dan neglected.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Prinsip – Prinsip Etika Keperawatan


II.1.1 Otonomi (Autonomy)
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir
logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap
kompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki
berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. Prinsip
otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang, atau dipandang sebagai
persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan
hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri.
Praktek profesional merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-hak
klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya.

b. Berbuat baik (Beneficience)


Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan,
memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan
atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. Terkadang,
dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan
otonomi.

c. Keadilan (Justice)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang
lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini
direfleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi
yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar untuk
memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.

d. Tidak merugikan (Nonmaleficience)


Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada
klien.

e. Kejujuran (Veracity)
Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh
pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien
dan untuk meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip veracity
berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran.
Informasi harus ada agar menjadi akurat, komprensensif, dan objektif untuk
memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang ada, dan mengatakan
yang sebenarnya kepada klien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan
keadaan dirinya selama menjalani perawatan. Walaupun demikian, terdapat
beberapa argument mengatakan adanya batasan untuk kejujuran seperti jika
kebenaran akan kesalahan prognosis klien untuk pemulihan atau adanya
hubungan paternalistik bahwa ”doctors knows best” sebab individu memiliki
otonomi, mereka memiliki hak untuk mendapatkan informasi penuh tentang
kondisinya. Kebenaran merupakan dasar dalam membangun hubungan saling
percaya.

f. Menepati janji (Fidelity)


Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya
terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta
menyimpan rahasia klien. Ketaatan, kesetiaan, adalah kewajiban seseorang
untuk mempertahankan komitmen yang dibuatnya. Kesetiaan, menggambarkan
kepatuhan perawat terhadap kode etik yang menyatakan bahwa tanggung jawab
dasar dari perawat adalah untuk meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit,
memulihkan kesehatan dan meminimalkan penderitaan.

g. Karahasiaan (Confidentiality)
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga
privasi klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan
klien hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada seorangpun
dapat memperoleh informasi tersebut kecuali jika diijinkan oleh klien dengan
bukti persetujuan. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan, menyampaikan
pada teman atau keluarga tentang klien dengan tenaga kesehatan lain harus
dihindari.

h. Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa tindakan seorang
profesional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa terkecuali.

II.2. Isue Etik Dalam Praktek Keperawatan : Euthanasia dan Aborsi


Isue etik dalam keperawatan meliputi :
A. Euthanasia

a. EUTHANASIA DARI WAKTU KE WAKTU


Euthanasia merupakan salah satu masalah etika yang paling berat dalam
zaman kita dan tampaknya dalam waktu singkat tidak mungkin diselesaikan.
Mengenai masalah euthanasia bila ditinjau ke belakang boleh dikatakan sudah
ada sejak kalangan kesehatan menghadapi penyakit yang tidak tersembuhkan,
sementara pasien sudah dalam keadaan merana dan sekarat. Dalam situasi
demikian tidak jarang pasien memohon agar dibebaskan dari penderitaan ini
dan tidak ingin diperpanjang hidupnya lagi. Pada pasien yang sudah tidak sadar,
keluarga yang sudah tidak tega melihat orang sakit penuh penderitaan
menjelang ajalnya minta kepada dokter untuk tiadak meneruskan pengobatan,
bahkan ada pula yang minta diberikan obat untuk mempercepat kematian. Dari
sinilah euthanasia muncul. Yaitu melepas kehidupan seseorang agar terbebas
dari penderitaan, atau mati secara baik.
Masalah ini makin sering dibicarakan dan menarik banyak perhatian karena
semakin banyak kasus yang dihadapi kalangan kedokteran dan masyarakat
terutama setelah ditemukannya tindakan di dalam dunia pengobatan dengan
mempergunakan teknologi canggih dalam mengatasi keadaan gawat dam
mengancam kelangsungan hidup. Banyak kasus di pusat pelayanan kesehatan
terutama di bagian gawat darurat dan di bagian unit perawatan intensif yang
pada masa lalu sudah merupakan kasus yang tidak dapat dibantu lagi.
Namun pada kasus-kasus tertentu tetap saja muncul persoalan dasar
kembali, yaitu dilema meneruskan atau tidak tindakan medis yang
memperpanjang kehidupan.
Banyak kasus yang sudah terjadi yang bisa memicu euthanasia. Apa yang
harus dilakukan dokter menghadapi korban yang telah mati otak atau mati
batang otak?? Sejauh ini belum ada yang dapat keluar dari keadaan ini, sebab
kerusakan jaringan otak sudah irreversible, atau pada kasus kanker stadium
terminal dengan penderitaan yang hebat, sementara obat untuk kanker tersebut
sampai saat ini belum ada. Begitu pula pada penyakit gagal ginjal kronis yang
memerlukan pencucian darah secara berkala, sementara dana untuk tindakan
cuci darah ini ditanggung oleh pasien atau keluarga pasien. Masih banyak
alasan lain lagi yang memicu terjadinya euthanasia ini.
Sesuai dengan makin meningkatnya kesadaran akan hak untuk menentukan
nasib sendiri (self determination), di banyak Negara mulai timbul gerakan dan
penghargaan atas hak seseorang untuk mengakhiri hidup. Di beberapa Negara,
hak ini diakui oleh pemerintah karena diatur dalam undang-undang, misalnya
dinegara Belanda, dan Northern Territory, Australia.
Aturan hukum mengenai masalah euthanasia sangat berbeda-beda
diseluruh dunia dan sering berubah seiring dengan perubahan norma-norma
budaya dan tersedianya perawatan atau tindakan medis. Di beberapa Negara
tindakan ini dianggap legal, sedangkan di Negara-negara lain dianggap
melanggar hukum.
Masalah euthanasia sudah banyak diberitakan di media, baik media cetak
maupun media elektronik, misalnya 2 kasus pasien di Australia yang
mengakhiri hidup atas permintaannya sendiri dengan menekan tombol “enter”
pada laptop yang sudah diprogramkan untuk usaha euthanasia.

b. PENGERTIAN EUTHANASIA

Istilah euthanasia berasal dari bahasa yunani “euthanathos”. Eu artinya


baik, tanpa penderitaan ; sedangkan thanathos artinya mati atau kematian.
Dengan demikian, secara etimologis, euthanasia dapat diartikan kematian yang
baik atau mati dengan baik tanpa penderitaan. Ada pula yang menerjemahkan
bahwa euthanasia secara etimologis adalah mati cepat tanpa penderitaan.

Hippokrates pertama kali menggunakan istilah "eutanasia" ini pada


"sumpah Hippokrates" yang ditulis pada masa 400-300 SM.

Sumpah tersebut berbunyi:

"Saya tidak akan menyarankan dan atau memberikan obat yang mematikan
kepada siapapun meskipun telah dimintakan untuk itu".

Banyak ragam pengertian euthanasia yang sudah muncul saat ini. Ada yang
menyebutkan bahwa euthanasia merupakan praktek pencabutan kehidupan
manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit
atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukuan dengan cara
memberikan suntikan yang mematikan. Saat ini yang dimaksudkan dengan
enthanasia adalah bahwa seorang dokter mengakhiri kehidupan pasien terminal
dengan memberikan suntikan yang mematikan atas permintaan pasien itu
sendiri. Sekitar dua puluh tahun yang lalu tindakan medis ini disebut ”
euthanasia aktif “.
Belanda, salah satu Negara di Eropa yang maju dalam pengetahuan hukum
kesehatan mendefinisikan euthanasia sesuai dengan rumusan yang dibuat oleh
Euthanasia Study Group dari KNMG (Ikatan Dokter Belanda), yaitu :
Euthanasia adalah dengan sengaja tidak melakukan sesuatu untuk
memperpanjang hidup seorang pasien atau sengaja melakukan sesuatu untuk
memperpendek hidup atau mengakhiri hidup seorang pasien, dan ini dilakukan
untuk kepentingan pasien itu sendiri.

c. KONSEP TENTANG KEMATIAN


Secara umum, kematian adalah suatu topik yang sangat ditakuti oleh
publik. Hal demikian tidak terjadi di dalam dunia kedokteran atau kesehatan.
Dalam konteks kesehatan modern, kematian tidaklah selalu menjadi sesuatu
yang datang secara tiba-tiba. Kematian dapat dilegalisir menjadi sesuatu yang
definit dan dapat dipastikan tanggal kejadiannya. Euthanasia memungkinkan
hal tersebut terjadi.
Perkembangan euthanasia tidak terlepas dari perkembangan konsep tentang
kematian. Usaha manusia untuk memperpanjang kehidupan dan menghindari
kematian dengan mempergunakan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
dalam bidang kedokteran telah membawa masalah baru dalam euthanasia,
terutama berkenaan dengan penentuan kapan seseorang dinyatakan telah mati.

Beberapa konsep tentang mati yang dikenal adalah :


1. Mati sebagai berhentinya darah mengalir
2. Mati sebagai saat terlepasnya nyawa dari tubuh
3. Hilangnya kemampuan tubuh secara permanen
4. Hilangnya manusia secara permanen untuk kembali sadar dan melakukan
interaksi social.

Konsep mati dari berhentinya darah mengalir seperti dianut selama ini dan
yang juga diatur dalam PP. 18 Tahun 1981 menyatakan bahwa mati adalah
berhentinya fungsi jantung paru, tidak bisa dipergunakan lagi Karena teknologi
resusitasi telah memungkinkan jantung dan paru yang semua terhenti, kini
dapat dipacu untuk berdenyut kembali dan paru dapat dipompa untuk
berkembang kempis kembali.

Konsep mati terlepasnya roh dari tubuh sering menimbulkan keraguan


karena misalnya pada tindakan resusitasi yang berhasil, keadaan demikian
menimbulkan kesan seakan-akan nyawa dapat ditarik kembali.

Mengenai konsep mati, dari hilangnya kembali kemampuan tubuh secara


permanen untuk menjalankan fungsinya secara terpadu, juga dipertanyakan
karena organ berfungsi sendiri-sendiri tanpa terkendali karena otak telah mati.
Untuk kepentingan transplantasi konsep ini menguntungkan, tetapi secara moral
tidak dapat diterima karena kenyataannya organ-organ masih berfungsi
meskipun tidak terpadu lagi.

Bila dibandingkan dengan manusia sebagai makhluk social, yaitu individu


yang mempunyai kepribadian, menyadari kehidupannya, kekhususanya,
lemampuannya mengingat, menentukan sikap, dan mengambil keputusan,
mengajukan alasan yang masuk akal, mampu berbuat, menikmati, mengalami
kecemasan, dan sebagainya, kemampuan untuk melakukan interaksi social
tersebut makin banyak dipergunakan.

Pusat pengendali ini terletak dalam batang otak. Oleh karena itu, jika
batang otak telah mati (brain stem death) dapat diyakini bahwa manusia itu
secara fisik dan social telah mati. Dalam keadaan demikian kalangan medis
sering menempuh pilihan tidak meneruskan resusitasi (DNR, do not
resuscitation).
Penentuan saat mati ini juga dibahas dan ditetapkan dalam World Medical
Asembly tahun 1968 yang dikenal dengan deklarasi Sydney. Disini dinyatakan
bahwa penentuan saat kematian di kebanyakan Negara merupakan tanggung
jawab sah dokter. Dokter dapat menentukan seseorang sudah mati dengan
menggunakan kriteria yang lazim tanpa bantuan alat-alat khusus, yang telah
diketahui oleh semua dokter.

Hal penting dalam penentuan saat mati disini adalah proses kematian
tersebut sudah tidak dapat dibalikkan lagi (irreversible), meski menggunakan
teknik penghidupan kembali apapun. Walaupun sampai sekarang tidak ada alat
yang sungguh-sungguh memuaskan dapat digunakan untuk penentuan saat mati
ini, alat elektroensefalograf dapat diandalkan untuk maksud tersebut.

Jika penentuan saat mati berhubungan dengan kepentingan transplantasi


organ, keputusan saat mati harus dilakukan oleh dua orang dokter atau lebih,
dan dokter yang menentukan saat mati itu tidak boleh ada kaitannya langsung
dengan pelaksanaan transplantasi tersebut.

d. JENIS EUTHANASIA
Euthanasia dapat digolongkan menjadi beberapa macam, ditinjau dari
berbagai sudut pandang senagai berikut.

 Dilihat dari cara pelaksanaannya, euthanasia dapat dibedakan atas :


1. Euthanasia pasif
Euthanasia pasif adalah perbuatan menghentikan atau mencabut segala
tindakan atau pengobatan yang perlu untuk mempertahankan jidup
manusia. Dengan kata lain, euthanasia pasif merupakan tindakan tidak
memberikan pengobatan lagi kepada pasien terminal untuk mengakhiri
hidupnya. Tindakan pada euthanasia pasif ini dilakukan secara sengaja
dengan tidak lagi memberikan bantuan medis yang dapat memperpanjang
hidup pasien, seperti tidak memberikan alat-alat bantu hidup atau obat-obat
penahan rasa sakit, dan sebagainya.
Penyalahgunaan euthanasia pasif bias dilakukan oleh tenaga media
maupun keluarga pasien sendiri. Keluarga pasien bias saja menghendaki
kematian anggota keluarga mereka dengan berbagai alasan, misalnya untuk
mengurangi penderitaan pasien itu sendiri atau karena sudah tidak mampu
membayar biaya pengobatan.

2. Euthanasia aktif atau euthanasia agresif


Euthanasia aktif atau euthanasia agresif adalah perbuatan yang
dilakukan secara medik melalui intervensi aktif oleh seorang dokter dengan
tujuan untuk mengakhiri hidup manusia. Dengan kata lain, Euthanasia
agresif atau euthanasia aktif adalah suatu tindakan secara sengaja yang
dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lain untuk mempersingkat atau
mengakhiri hidup si pasien. Euthanasia aktif menjabarkan kasus ketika
suatu tindakan dilakukan dengan tujuan untuk menimbulkan kematian.
Misalnya dengan memberikan obat-obatan yang mematikan kedalam tubuh
pasien (suntik mati).

Euthanasia aktif ini dapat pula dibedakan atas :


 Euthanasia aktif langsung (direct)
Euthanasia ektif langsung adalah dilakukannnya tindakan medic secara
terarah yang diperhitungkan akan mengakhiri hidup pasien, atau
memperpendek hidup pasien. Jenis euthanasia ini juga dikenal sebagai
mercy killing.

 Euthanasia aktif tidak langsung (indirect)


Euthanasia aktif tidak lamgsung adalah saat dokter atau tenaga
kesehatan melakukan tindakan medis untuk meringankan penderitaan
pasien, namun mengetahui adanya risiko tersebut dapat
memperpendek atau mengakhiri hidup pasien.

3. Euthanasia non agresif


Euthanasia non agresif atau disebut juga autoeuthanasia termasuk
euthanasia negative dimana seorang pasien menolak secara tegas dan
dengan sadar untuk menerima perawatan medis dan pasien tersebut
mengetahui bahwa penolakannya tersebut akan memperpendek atau
menakhiri hidupnya.

 Ditinjau dari permintaan atau pemberian izin, euthanasia dibedakan atas :


1. Euthanasia diluar kemauan pasien, yaitu suatu tindakan euthanasia
yang bertentangan dengan keinginan si pasien untuk tetap hidup.
Tindakan seperti ini dapat disamakan dengan pembunuhan.
2. Euthanasia voluntir atau euthanasia sukarela atau atas permintaan
pasien, yaitu euthanasia yang dilakukan atas permintaan atau
persetujan pasien itu sendiri secara sadar dan diminta berulang-ulang.

3. Euthanasia involuntir atau euthanasia tidak sukarela atau tidak atas


permintaan pasien, yaitu euthanasia yang dilakukan pada pasien yang
sudah tidak sadar, biasanya keluarga pasien yang meminta. ni terjadi
ketika individu tidak mampu untuk menyetujui karena faktor umur,
ketidak mampuan fisik dan mental. Sebagai contoh dari kasus ini
adalah menghentikan bantuan makanan dan minuman untuk pasien
yang berada di dalam keadaan vegetatif (koma). Euthanasia ini
seringkali menjadi bahan perdebatan dan dianggap sebagai suatu
tindakan yang keliru oleh siapapun juga. Hal ini terjadi apabila
seseorang yang tidak berkompeten atau tidak berhak untuk mengambil
suatu keputusan, misalnya hanya seorang wali dari pasien dan
mengaku memiliki hak untuk mengambil keputusan bagi pasien
tersebut.

Pada beberapa jenis euthanasia diatas, ada yang dapat digabung,


misalnya euthanasia pasif voluntir, euthanasia aktif involuntir, dan
euthanasia aktif langsung involuntir.

 Ditinjau dari tujuannya, euthanasia terbagi atas :


1. Euthanasia aktif langsung atau mercy killing
2. Euthanasia hewan

Adapun suatu tindakan bantuan bunuh diri atau bunuh diri berbantuan
yang sering diklasifikasikan sebagai salah satu bentuk euthanasia. . Hal ini
terjadi ketika seorang individu diberikan informasi dan wacana untuk
membunuh dirinya sendiri. Pihak ketiga dapat dilibatkan(misalnya dokter),
namun tidak harus hadir dalam aksi bunuh diri tersebut. Jika dokter terlibat
dalam euthanasia tipe ini, biasanya disebut sebagai ‘bunuh diri atas
pertolongan dokter’. Di Amerika Serikat, kasus ini pernah dilakukan oleh
dr. Jack Kevorkian.

Ada yang melihat pelaksanaan euthanasia dari sudut lain dan


membaginya atas empat kategori, yaitu :
1. Tidak ada bantuan dalam proses kematian tanpa maksud
memperpendek hidup pasien
2. Ada bantuan dalam proses kematian tanpa maksud memperpendek
hidup pasien
3. Tidak ada bantuan dalam proses kematian dengan tujuan
memperpemdek hidup pasien
4. Ada bantuan dalam proses kematian dengan tujuan memperpendek
hidup pasien.

e. EUTHANASIA DALAM DUNIA MODERN

Sejak abad ke-19, eutanasia telah memicu timbulnya perdebatan dan


pergerakan di wilayah Amerika Utara dan di Eropa Pada tahun 1828
undang-undang anti eutanasia mulai diberlakukan di negara bagian New
York, yang pada beberapa tahun kemudian diberlakukan pula oleh
beberapa negara bagian.

Setelah masa Perang Saudara, beberapa advokat dan beberapa dokter


mendukung dilakukannya eutanasia secara sukarela. Kelompok-kelompok
pendukung eutanasia mulanya terbentuk di Inggris pada tahun 1935 dan di
Amerika pada tahun 1938 yang memberikan dukungannya pada
pelaksanaan eutanasia agresif, walaupun demikian perjuangan untuk
melegalkan eutanasia tidak berhasil digolkan di Amerika maupun Inggris.

Pada tahun 1937, eutanasia atas anjuran dokter dilegalkan di Swiss


sepanjang pasien yang bersangkutan tidak memperoleh keuntungan
daripadanya. Pada era yang sama, pengadilan Amerika menolak beberapa
permohonan dari pasien yang sakit parah dan beberapa orang tua yang
memiliki anak cacat yang mengajukan permohonan eutanasia kepada
dokter sebagai bentuk "pembunuhan berdasarkan belas kasihan".

Pada tahun 1939, pasukan Nazi Jerman melakukan suatu tindakan


kontroversial dalam suatu "program" eutanasia terhadap anak-anak di
bawah umur 3 tahun yang menderitan keterbelakangan mental, cacat tubuh,
ataupun gangguan lainnya yang menjadikan hidup mereka tak berguna.
Program ini dikenal dengan nama Aksi T4 (Action T4) yang kelak
diberlakukan juga terhadap anak-anak usia di atas 3 tahun dan para jompo /
lansia.

f. EUTHANASIA SETELAH PERANG DUNIA

Setelah dunia menyaksikan kekejaman Nazi dalam melakukan


kejahatan eutanasia, pada era tahun 1940 dan 1950 maka berkuranglah
dukungan terhadap eutanasia, terlebih-lebih lagi terhadap tindakan
eutanasia yang dilakukan secara tidak sukarela ataupun karena disebabkan
oleh cacat genetika.

g. PRAKTEK EUTHANASIA ZAMAN DAHULU KALA


Praktek-praktek Eutanasia yang dilaporkan dalam berbagai tindakan
masyarakat:
 Di India pernah dipraktekkan suatu kebiasaan untuk melemparkan
orang-orang tua ke dalam sungai Gangga.
 Di Sardinia orang tua dipukul hingga mati oleh anak laki-laki tertuanya
di zaman purba.
 Uruguay mencantumkan kebebasan praktek eutanasia dalam undang-
undang yang telah berlaku sejak tahun 1933.
 Di beberapa negara Eropa, praktek eutanasia bukan lagi kejahatan
kecuali di Norwegia yang sejak 1902 memperlakukannya sebagai
kejahatan khusus.
 Di Amerika Serikat, khususnya di semua negara bagian
mencantumkan eutanasia sebagai kejahatan. Bunuh diri atau
membiarkan dirinya dibunuh adalah melanggar hukum di Amerika
Serikat.
 Satu-satunya negara yang dapat melakukan tindakan eutanasia bagi
para anggotanya adalah Belanda. Anggota yang telah diterima dengan
persyaratan tertentu dapat meminta tindakan eutanasia atas dirinya.
Ada beberapa warga Amerika Serikat yang menjadi anggotanya.
Dalam praktek medis, biasanya tidaklah pernah dilakukan eutanasia
aktif, akan tetapi mungkin ada praktek-praktek medis yang dapat
digolongkan eutanasia pasif.

h. EUTHANASIA DAN HUKUM DI INDONESIA

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana mengatur seseorang dapat


dipidana atau dihukum jika ia menghilangkan nyawa orang lain dengan
sengaja ataupun karena kurang hati-hati. Ketentuan pelanggaran pidana
yang berkaitan langsung dengan euthanasia aktif terdapat pada pasal 344
KUHP.

Pasal 344 KUHP


Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang
itu sendiri, yang disebutnya dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh,
dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.

Ketentuan ini harus diingat kalangan kedokteran sebab walaupun


terdapat beberapa alasan kuat untuk membantu pasien atau keluarga pasien
mengakhiri hidup atau memperpendek hidup pasien, ancaman hukuman ini
harus dihadapinya.

Untuk jenis euthanasia aktif maupun pasif tanpa permintaan, beberapa


pasal ini perlu diketahui oleh dokter.

Pasal 338 KUHP


Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain, diukur
karena maker mati, dengan penjara selama-lamanya lima belas tahun.

Pasal 340 KUHP


barang siapa dengan sengaja dan direncanakan lebih dahulu
menghilangkan jiwa orang lain, dihukum, karena pembunuhan
direncanakan (moord), dengan hukuman mati atau penjara selama-
lamanya seumur hidup atay penjara sementara selama-lamanya dua puluh
tahun.

Pasal 359 KUHP


Barang siapa karena salahnya menyebabkan matinya orang, dihukum
penjara selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu
tahun.

Selanjutnya, dibawah ini dikemukakan sebuah ketentuan hukum yang


mengingatkan kalangan kesehatanuntuk berhati-hati menghadapi kasus
euthanasia.

Pasal 345 KUHP


Barang siapa dengan sengaja menghasut orang lain untuk membunuh
diri, menolongnya dalam perbuatan itu, atau memberikan daya upaya itu
jadi bunuh diri, dihukum penjara selama-lamanya empat tahun.

Pasal ini mengingatkan dokter untuk, jangankan melakukan


euthanasia, menolong atau memberi harapan kea rah perbuatan itu saja pun
sudah mendapat ancaman pidana.

i. EUTHANASIA DAN HUKUM DI NEGARA – NEGARA LAIN

Sejauh ini eutanasia diperkenankan yaitu dinegara Belanda, Belgia


serta ditoleransi di negara bagian Oregon di Amerika, Kolombia dan Swiss
dan dibeberapa negara dinyatakan sebagai kejahatan seperti di Spanyol,
Jerman dan Denmark.

1. Belanda
Pada tanggal 10 April 2001 Belanda menerbitkan undang-undang yang
mengizinkan eutanasia, undang-undang ini dinyatakan efektif berlaku sejak
tanggal 1 April 2002 , yang menjadikan Belanda menjadi negara pertama di
dunia yang melegalisasi praktik eutanasia. Pasien-pasien yang mengalami
sakit menahun dan tak tersembuhkan, diberi hak untuk mengakhiri
penderitaannya.Tetapi perlu ditekankan, bahwa dalam Kitab Hukum
Pidana Belanda secara formal euthanasia dan bunuh diri berbantuan masih
dipertahankan sebagai perbuatan kriminal.

Sebuah karangan berjudul "The Slippery Slope of Dutch Euthanasia"


dalam majalah Human Life International Special Report Nomor 67,
November 1998, halaman 3 melaporkan bahwa sejak tahun 1994 setiap
dokter di Belanda dimungkinkan melakukan eutanasia dan tidak akan
dituntut di pengadilan asalkan mengikuti beberapa prosedur yang telah
ditetapkan. Prosedur tersebut adalah mengadakan konsultasi dengan rekan
sejawat (tidak harus seorang spesialis) dan membuat laporan dengan
menjawab sekitar 50 pertanyaan.
Sejak akhir tahun 1993, Belanda secara hukum mengatur kewajiban
para dokter untuk melapor semua kasus eutanasia dan bunuh diri
berbantuan. Instansi kehakiman selalu akan menilai betul tidaknya
prosedurnya. Pada tahun 2002, sebuah konvensi yang berusia 20 tahun
telah dikodifikasi oleh undang-undang belanda, dimana seorang dokter
yang melakukan eutanasia pada suatu kasus tertentu tidak akan dihukum.

2. Australia
Negara bagian Australia, Northern Territory, menjadi tempat pertama di
dunia dengan UU yang mengizinkan euthanasia dan bunuh diri berbantuan,
meski reputasi ini tidak bertahan lama. Pada tahun 1995 Northern
Territory menerima UU yang disebut "Right of the terminally ill bill" (UU
tentang hak pasien terminal). Undang-undang baru ini beberapa kali
dipraktikkan, tetapi bulan Maret 1997 ditiadakan oleh keputusan Senat
Australia, sehingga harus ditarik kembali.

3. Belgia
Parlemen Belgia telah melegalisasi tindakan eutanasia pada akhir
September 2002. Para pendukung eutanasia menyatakan bahwa ribuan
tindakan eutanasia setiap tahunnya telah dilakukan sejak dilegalisasikannya
tindakan eutanasia dinegara ini, namun mereka juga mengkritik sulitnya
prosedur pelaksanaan eutanasia ini sehingga timbul suatu kesan adaya
upaya untuk menciptakan "birokrasi kematian".

Belgia kini menjadi negara ketiga yang melegalisasi eutanasia ( setelah


Belanda dan negara bagian Oregon di Amerika ).

Senator Philippe Mahoux, dari partai sosialis yang merupakan salah


satu penyusun rancangan undang-undang tersebut menyatakan bahwa
seorang pasien yang menderita secara jasmani dan psikologis adalah
merupakan orang yang memiliki hak penuh untuk memutuskan
kelangsungan hidupnya dan penentuan saat-saat akhir hidupnya.

4. Amerika
Eutanasia agresif dinyatakan ilegal di banyak negara bagian di
Amerika. Saat ini satu-satunya negara bagian di Amerika yang hukumnya
secara eksplisit mengizinkan pasien terminal ( pasien yang tidak mungkin
lagi disembuhkan) mengakhiri hidupnya adalah negara bagian Oregon,
yang pada tahun 1997 melegalisasikan kemungkinan dilakukannya
eutanasia dengan memberlakukan UU tentang kematian yang pantas
(Oregon Death with Dignity Act). Tetapi undang-undang ini hanya
menyangkut bunuh diri berbantuan, bukan euthanasia. Syarat-syarat yang
diwajibkan cukup ketat, dimana pasien terminal berusia 18 tahun ke atas
boleh minta bantuan untuk bunuh diri, jika mereka diperkirakan akan
meninggal dalam enam bulan dan keinginan ini harus diajukan sampai tiga
kali pasien, dimana dua kali secara lisan (dengan tenggang waktu 15 hari di
antaranya) dan sekali secara tertulis (dihadiri dua saksi dimana salah satu
saksi tidak boleh memiliki hubungan keluarga dengan pasien). Dokter
kedua harus mengkonfirmasikan diagnosis penyakit dan prognosis serta
memastikan bahwa pasien dalam mengambil keputusan itu tidak berada
dalam keadaan gangguan mental.Hukum juga mengatur secara tegas bahwa
keputusan pasien untuk mengakhiri hidupnya tersebut tidak boleh
berpengaruh terhadap asuransi yang dimilikinya baik asuransi kesehatan,
jiwa maupun kecelakaan ataupun juga simpanan hari tuanya.

Belum jelas apakah undang-undang Oregon ini bisa dipertahankan di


masa depan, sebab dalam Senat AS pun ada usaha untuk meniadakan UU
negara bagian ini. Mungkin saja nanti nasibnya sama dengan UU Northern
Territory di Australia. Bulan Februari lalu sebuah studi terbit tentang
pelaksanaan UU Oregon selama tahun 1999.

Sebuah lembaga jajak pendapat terkenal yaitu Poling Gallup (Gallup


Poll) menunjukkan bahwa 60% orang Amerika mendukung dilakukannya
euthanasia.

5. Swiss
Di Swiss, obat yang mematikan dapat diberikan baik kepada warga
negara Swiss ataupun orang asing apabila yang bersangkutan memintanya
sendiri. Secara umum, pasal 115 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana
Swiss yang ditulis pada tahun 1937 dan dipergunakan sejak tahun 1942,
yang pada intinya menyatakan bahwa "membantu suatu pelaksanaan bunuh
diri adalah merupakan suatu perbuatan melawan hukum apabila
motivasinya semata untuk kepentingan diri sendiri."

Pasal 115 tersebut hanyalah menginterpretasikan suatu izin untuk


melakukan pengelompokan terhadap obat-obatan yang dapat digunakan
untuk mengakhiri kehidupan seseorang.

6. Inggris
Pada tanggal 5 November 2006, Kolese Kebidanan dan Kandungan
Britania Raya (Britain's Royal College of Obstetricians and
Gynaecologists) mengajukan sebuah proposal kepada Dewan Bioetik
Nuffield (Nuffield Council on Bioethics) agar dipertimbangkannya izin
untuk melakukan eutanasia terhadap bayi-bayi yang lahir cacat (disabled
newborns). Proposal tersebut bukanlah ditujukan untuk melegalisasi
eutanasia di Inggris melainkan semata guna memohon dipertimbangkannya
secara saksama dari sisi faktor "kemungkinan hidup si bayi" sebagai suatu
legitimasi praktek kedokteran.
Namun hingga saat ini eutanasia masih merupakan suatu tindakan
melawan hukum di kerajaan Inggris demikian juga di Eropa (selain
daripada Belanda). Demikian pula kebijakan resmi dari Asosiasi
Kedokteran Inggris (British Medical Association-BMA) yang secara tegas
menentang eutanasia dalam bentuk apapun juga.

7. Jepang
Jepang tidak memiliki suatu aturan hukum yang mengatur tentang
eutanasia demikian pula Pengadilan Tertinggi Jepang (supreme court of
Japan) tidak pernah mengatur mengenai eutanasia tersebut.

Ada 2 kasus eutanasia yang pernah terjadi di Jepang yaitu di Nagoya


pada tahun 1962 yang dapat dikategorikan sebagai "eutanasia pasif" (消極
的安楽死, shōkyokuteki anrakushi)

Kasus yang satunya lagi terjadi setelah peristiwa insiden di Tokai


university pada tahun 1995[14] yang dikategorikan sebagai "eutanasia aktif "
(積極的安楽死, sekkyokuteki anrakushi)

Keputusan hakim dalam kedua kasus tersebut telah membentuk suatu


kerangka hukum dan suatu alasan pembenar dimana eutanasia secara aktif
dan pasif boleh dilakukan secara legal. Meskipun demikian eutanasia yang
dilakukan selain pada kedua kasus tersebut adalah tetap dinyatakan
melawan hukum, dimana dokter yang melakukannya akan dianggap
bersalah oleh karena merampas kehidupan pasiennya. Oleh karena
keputusan pengadilan ini masih diajukan banding ke tingkat federal maka
keputusan tersebut belum mempunyai kekuatan hukum sebagai sebuah
yurisprudensi, namun meskipun demikian saat ini Jepang memiliki suatu
kerangka hukum sementara guna melaksanakan eutanasia.

8. Republic Ceko
Di Republik Ceko eutanisia dinyatakan sebagai suatu tindakan
pembunuhan berdasarkan peraturan setelah pasal mengenai eutanasia
dikeluarkan dari rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana.
Sebelumnya pada rancangan tersebut, Perdana Menteri Jiri Pospíšil
bermaksud untuk memasukkan eutanasia dalam rancangan KUHP tersebut
sebagai suatu kejahatan dengan ancaman pidana selama 6 tahun penjara,
namun Dewan Perwakilan Konstitusional dan komite hukum negara
tersebut merekomendasikan agar pasal kontroversial tersebut dihapus dari
rancangan tersebut.

9. India
Di India eutanasia adalah suatu perbuatan melawan hukum. Aturan
mengenai larangan eutanasia terhadap dokter secara tegas dinyatakan
dalam bab pertama pasal 300 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana
India (Indian penal code-IPC) tahun 1860. Namun berdasarkan aturan
tersebut dokter yang melakukan euthanasia hanya dinyatakan bersalah atas
kelalaian yang mengakibatkan kematian dan bukannya pembunuhan yang
hukumannya didasarkan pada ketentuan pasal 304 IPC, namun ini hanyalah
diberlakukan terhadap kasus eutanasia sukarela dimana sipasien sendirilah
yang menginginkan kematian dimana si dokter hanyalah membantu
pelaksanaan eutanasia tersebut (bantuan eutanasia). Pada kasus eutanasia
secara tidak sukarela (atas keinginan orang lain) ataupun eutanasia di luar
kemauan pasien akan dikenakan hukuman berdasarkan pasal 92 IPC.

10. China
Di China, eutanasia saat ini tidak diperkenankan secara hukum.
Eutansia diketahui terjadi pertama kalinya pada tahun 1986, dimana
seorang yang bernama "Wang Mingcheng" meminta seorang dokter untuk
melakukan eutanasia terhadap ibunya yang sakit. Akhirnya polisi
menangkapnya juga si dokter yang melaksanakan permintaannya, namun 6
tahun kemudian Pengadilan tertinggi rakyat (Supreme People's Court)
menyatakan mereka tidak bersalah. Pada tahun 2003, Wang Mingcheng
menderita penyakit kanker perut yang tidak ada kemungkinan untuk
disembuhkan lagi dan ia meminta untuk dilakukannya eutanasia atas
dirinya namun ditolak oleh rumah sakit yang merawatnya. Akhirnya ia
meninggal dunia dalam kesakitan.

11. Afrika Selatan


Di Afrika Selatan belum ada suatu aturan hukum yang secara tegas
mengatur tentang eutanasia sehingga sangat memungkinkan bagi para
pelaku eutanasia untuk berkelit dari jerat hukum yang ada.

12. Korea
Belum ada suatu aturan hukum yang tegas yang mengatur tentang
eutanasia di Korea, namun telah ada sebuah preseden hukum
(yurisprudensi)yang di Korea dikenal dengan "Kasus rumah sakit
Boramae" dimana dua orang dokter yang didakwa mengizinkan
dihentikannya penanganan medis pada seorang pasien yang menderita
sirosis hati (liver cirrhosis) atas desakan keluarganya. Polisi kemudian
menyerahkan berkas perkara tersebut kepada jaksa penuntut dengan diberi
catatan bahwa dokter tersebut seharusnya dinayatakan tidak bersalah.
Namun kasus ini tidak menunjukkan relevansi yang nyata dengan mercy
killing dalam arti kata eutanasia aktif.

Pada akhirnya pengadilan memutuskan bahwa " pada kasus tertentu


dari penghentian penanganan medis (hospital treatment) termasuk tindakan
eutanasia pasif, dapat diperkenankan apabila pasien terminal meminta
penghentian dari perawatan medis terhadap dirinya.
EUTHANASIA MENURUT AJARAN AGAMA
1. Dalam ajaran agama Katolik Roma
Sejak pertengahan abad ke-20, gereja Katolik telah berjuang untuk
memberikan pedoman sejelas mungkin mengenai penanganan terhadap
mereka yang menderita sakit tak tersembuhkan, sehubungan dengan ajaran
moral gereja mengenai eutanasia dan sistem penunjang hidup. Paus Pius
XII, yang tak hanya menjadi saksi dan mengutuk program-program
egenetika dan eutanasia Nazi, melainkan juga menjadi saksi atas
dimulainya sistem-sistem modern penunjang hidup, adalah yang pertama
menguraikan secara jelas masalah moral ini dan menetapkan pedoman.
Pada tanggal 5 Mei tahun 1980 , kongregasi untuk ajaatnran iman telah
menerbitkan Dekalarasi tentang eutanasia ("Declaratio de euthanasia")
yang menguraikan pedoman ini lebih lanjut, khususnya dengan semakin
meningkya kompleksitas sistem-sistem penunjang hidup dan gencarnya
promosi eutanasia sebagai sarana yang sah untuk mengakhiri hidup. Paus
Yohanes Paulus II, yang prihatin dengan semakin meningkatnya praktek
eutanasia, dalam ensiklik Injil Kehidupan (Evangelium Vitae) nomor 64
yang memperingatkan kita agar melawan "gejala yang paling
mengkhawatirkan dari `budaya kematian' dimana jumlah orang-orang
lanjut usia dan lemah yang meningkat dianggap sebagai beban yang
mengganggu." Paus Yohanes Paulus II juga menegaskan bahwa eutanasia
merupakan tindakan belas kasihan yang keliru, belas kasihan yang semu:
"Belas kasihan yang sejati mendorong untuk ikut menanggung penderitaan
sesama. Belas kasihan itu tidak membunuh orang, yang penderitaannya
tidak dapat kita tanggung" (Evangelium Vitae, nomor 66).

2. Dalam ajaran agama Hindu


Pandangan agama Hindu terhadap euthanasia adalah didasarkan pada
ajaran tentang karma, moksa dan ahimsa. Karma adalah merupakan suatu
konsekwensi murni dari semua jenis kehendak dan maksud perbuatan, yang
baik maupun yang buruk, lahir atau bathin dengan pikiran kata-kata atau
tindakan. Sebagai akumulasi terus menerus dari "karma" yang buruk adalah
menjadi penghalang "moksa" yaitu suatu ialah kebebasan dari siklus
reinkarnasi yang menjadi suatu tujuan utama dari penganut ajaran Hindu.
Ahimsa adalah merupakan prinsip "anti kekerasan" atau pantang
menyakiti siapapun juga.

Bunuh diri adalah suatu perbuatan yang terlarang di dalam ajaran


Hindu dengan pemikiran bahwa perbuatan tersebut dapat menjadi suatu
factor yang mengganggu pada saat reinkarnasi oleh karena menghasilkan
"karma" buruk. Kehidupan manusia adalah merupakan suatu kesempatan
yang sangat berharga untuk meraih tingkat yang lebih baik dalam
kehidupan kembali.
Berdasarkan kepercayaan umat Hindu, apabila seseorang melakukan
bunuh diri, maka rohnya tidak akan masuk neraka ataupun surga melainkan
tetap berada didunia fana sebagai roh jahat dan berkelana tanpa tujuan
hingga ia mencapai masa waktu dimana seharusnya ia menjalani kehidupan
(Catatan : misalnya umurnya waktu bunuh diri 17 tahun dan seharusnya ia
ditakdirkan hidup hingga 60 tahun maka 43 tahun itulah rohnya berkelana
tanpa arah tujuan), setelah itu maka rohnya masuk ke neraka menerima
hukuman lebih berat dan akhirnya ia akan kembali ke dunia dalam
kehidupan kembali (reinkarnasi) untuk menyelesaikan "karma" nya
terdahulu yang belum selesai dijalaninya kembali lagi dari awal.

3. Dalam ajaran agama Buddha


Ajaran agama Buddha sangat menekankan kepada makna dari
kehidupan dimana penghindaran untuk melakukan pembunuhan makhluk
hidup adalah merupakan salah satu moral dalam ajaran Budha. Berdasarkan
pada hal tersebut di atas maka nampak jelas bahwa euthanasia adalah
sesuatu perbuatan yang tidak dapat dibenarkan dalam ajaran agama Budha.
Selain daripada hal tersebut, ajaran Budha sangat menekankan pada "welas
asih" ("karuna")

Mempercepat kematian seseorang secara tidak alamiah adalah


merupakan pelanggaran terhadap perintah utama ajaran Budha yang
dengan demikian dapat menjadi "karma" negatif kepada siapapun yang
terlibat dalam pengambilan keputusan guna memusnahkan kehidupan
seseorang tersebut.

4. Dalam ajaran agama Islam


Seperti dalam agama-agama Ibrahim lainnya (Yahudi dan Kristen),
Islam mengakui hak seseorang untuk hidup dan mati, namun hak tersebut
merupakan anugerah Allah kepada manusia. Hanya Allah yang dapat
menentukan kapan seseorang lahir dan kapan ia mati (QS 22: 66; 2: 243).
Oleh karena itu, bunuh diri diharamkan dalam hukum Islam meskipun
tidak ada teks dalam Al Quran maupun Hadis yang secara eksplisit
melarang bunuh diri. Kendati demikian, ada sebuah ayat yang menyiratkan
hal tersebut, "Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah
kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat
baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat
baik." (QS 2: 195), dan dalam ayat lain disebutkan, "Janganlah engkau
membunuh dirimu sendiri," (QS 4: 29), yang makna langsungnya adalah
"Janganlah kamu saling berbunuhan." Dengan demikian, seorang Muslim
(dokter) yang membunuh seorang Muslim lainnya (pasien) disetarakan
dengan membunuh dirinya sendiri.

Eutanasia dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al-
maut (eutanasia), yaitu suatu tindakan memudahkan kematian seseorang
dengan sengaja tanpa merasakan sakit, karena kasih sayang, dengan tujuan
meringankan penderitaan si sakit, baik dengan cara positif maupun negatif.

Pada konferensi pertama tentang kedokteran Islam di Kuwait tahun


1981, dinyatakan bahwa tidak ada suatu alasan yang membenarkan
dilakukannya eutanasia ataupun pembunuhan berdasarkan belas kasihan
(mercy killing) dalam alasan apapun juga.

 Eutanasia positif
Yang dimaksud taisir al-maut al-fa'al (eutanasia positif) ialah tindakan
memudahkan kematian si sakit—karena kasih sayang—yang
dilakukan oleh dokter dengan mempergunakan instrumen (alat).

Memudahkan proses kematian secara aktif (eutanasia positif)adalah


tidak diperkenankan oleh syara'. Sebab dalam tindakan ini seorang
dokter melakukan suatu tindakan aktif dengan tujuan membunuh si
sakit dan mempercepat kematiannya melalui pemberian obat secara
overdosis dan ini termasuk pembunuhan yang haram hukumnya,
bahkan termasuk dosa besar yang membinasakan.

Perbuatan demikian itu adalah termasuk dalam kategori pembunuhan


meskipun yang mendorongnya itu rasa kasihan kepada si sakit dan
untuk meringankan penderitaannya. Karena bagaimanapun si dokter
tidaklah lebih pengasih dan penyayang daripada Yang
Menciptakannya. Karena itu serahkanlah urusan tersebut kepada Allah
Ta'ala, karena Dia-lah yang memberi kehidupan kepada manusia dan
yang mencabutnya apabila telah tiba ajal yang telah ditetapkan-Nya.

 Eutanasia negatif
Eutanasia negatif disebut dengan taisir al-maut al-munfa'il. Pada
eutanasia negatif tidak dipergunakan alat-alat atau langkah-langkah
aktif untuk mengakhiri kehidupan si sakit, tetapi ia hanya dibiarkan
tanpa diberi pengobatan untuk memperpanjang hayatnya. Hal ini
didasarkan pada keyakinan dokter bahwa pengobatan yang dilakukan
itu tidak ada gunanya dan tidak memberikan harapan kepada si sakit,
sesuai dengan sunnatullah (hukum Allah terhadap alam semesta) dan
hukum sebab-akibat.

Di antara masalah yang sudah terkenal di kalangan ulama syara' ialah


bahwa mengobati atau berobat dari penyakit tidak wajib hukumnya
menurut jumhur fuqaha dan imam-imam mazhab. Bahkan menurut
mereka, mengobati atau berobat ini hanya berkisar pada hukum
mubah. Dalam hal ini hanya segolongan kecil yang mewajibkannya
seperti yang dikatakan oleh sahabat-sahabat Imam Syafi'i dan Imam
Ahmad sebagaimana dikemukakan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah,
dan sebagian ulama lagi menganggapnya mustahab (sunnah).

5. Dalam ajaran Gereja Ortodoks


Pada ajaran Gereja Ortodoks, gereja senantiasa mendampingi orang-
orang beriman sejak kelahiran hingga sepanjang perjalanan hidupnya
hingga kematian dan alam baka dengan doa, upacara/ritual, sakramen,
khotbah, pengajaran dan kasih, iman dan pengharapan. Seluruh kehidupan
hingga kematian itu sendiri adalah merupakan suatu kesatuan dengan
kehidupan gerejawi. Kematian itu adalah sesuatu yang buruk sebagai suatu
simbol pertentangan dengan kehidupan yang diberikan Tuhan. Gereja
Ortodoks memiliki pendirian yang sangat kuat terhadap prinsip pro-
kehidupan dan oleh karenanya menentang anjuran euthanasia.

6. Dalam ajaran agama Yahudi


Ajaran agama Yahudi melarang eutanasia dalam berbagai bentuk dan
menggolongkannya kedalam "pembunuhan". Hidup seseorang bukanlah
miliknya lagi melainkan milik dari Tuhan yang memberikannya kehidupan
sebagai pemilik sesungguhnya dari kehidupan. Walaupun tujuannya mulia
sekalipun, sebuah tindakan mercy killing ( pembunuhan berdasarkan belas
kasihan), adalah merupakan suatu kejahatan berupa campur tangan
terhadap kewenangan Tuhan.

Dasar dari larangan ini dapat ditemukan pada Kitab Kejadian dalam
alkitab Perjanjian Lama Kej 1:9 yang berbunyi :" Tetapi mengenai darah
kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala
binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan
menuntut nyawa sesama manusia".[31] Pengarang buku : HaKtav
v'haKaballah menjelaskan bahwa ayat ini adalah merujuk kepada larangan
tindakan euthanasia.

7. Dalam ajaran Protestan


Gereja Protestan terdiri dari berbagai denominasi yang mana memiliki
pendekatan yang berbeda-beda dalam pandangannya terhadap eutanasia
dan orang yang membantu pelaksanaan eutanasia.

Beberapa pandangan dari berbagai denominasi tersebut misalnya :


 Gereja Methodis (United Methodist church) dalam buku ajarannya
menyatakan bahwa : " penggunaan teknologi kedokteran untuk
memperpanjang kehidupan pasien terminal membutuhkan suatu
keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan tentang hingga
kapankah peralatan penyokong kehidupan tersebut benar-benar dapat
mendukung kesempatan hidup pasien, dan kapankah batas akhir
kesempatan hidup tersebut".

 Gereja Lutheran di Amerika menggolongkan nutrisi buatan dan hidrasi


sebagai suatu perawatan medis yang bukan merupakan suatu
perawatan fundamental. Dalam kasus dimana perawatan medis
tersebut menjadi sia-sia dan memberatkan, maka secara tanggung
jawab moral dapat dihentikan atau dibatalkan dan membiarkan
kematian terjadi.

Seorang kristiani percaya bahwa mereka berada dalam suatu posisi


yang unik untuk melepaskan pemberian kehidupan dari Tuhan karena
mereka percaya bahwa kematian tubuh adalah merupakan suatu awal
perjalanan menuju ke kehidupan yang lebih baik.
Lebih jauh lagi, pemimpin gereja Katolik dan Protestan mengakui
bahwa apabila tindakan mengakhiri kehidupan ini dilegalisasi maka
berarti suatu pemaaf untuk perbuatan dosa, juga dimasa depan
merupakan suatu racun bagi dunia perawatan kesehatan, memusnahkan
harapan mereka atas pengobatan.
Sejak awalnya, cara pandang yang dilakukan kaum kristiani dalam
menanggapi masalah "bunuh diri" dan "pembunuhan berdasarkan belas
kasihan (mercy killing) adalah dari sudut "kekudusan kehidupan"
sebagai suatu pemberian Tuhan. Mengakhiri hidup dengan alasan
apapun juga adalah bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian
tersebut.

B. ABORSI

Menjalani kehamilan itu berat, apalagi kehamilan yang tidak dikehendaki.


Terlepas dari alasan apa yang menyebabkan kehamilan, aborsi dilakukan karena
terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Apakah dikarenakan kontrasepsi yang
gagal, perkosaan, ekonomi, jenis kelamin atau hamil di luar nikah.
Mengenai alasan aborsi, memang banyak mengundang kontroversi. Ada
yang berpendapat bahwa aborsi perlu di legalkan dan ada yang berpendapat
tidak perlu dilegalkan.

Pelegalan aborsi dimaksudkan untuk mengurangi tindakan aborsi yang


dilakukan oleh orang yang tidak berkompeten, misalnya dukun
beranak.Sepanjang aborsi tidak dilegalkan maka angka kematian ibu akibat
aborsiakan terus meningkat.
Ada yang mengkatagorikan Aborsi itu pembunuhan. Ada yang melarang
atas nama agama. Ada yang menyatakan bahwa jabang bayi juga punya hak
hidup sehingga harus dipertahankan, dan lain-lain.

Jika aborsi untuk alasan medis, aborsi adalah legal, untuk korban
perkosaan, masih di grey area, aborsi masih diperbolehkan walaupun tidak
semua dokter mau melakukannya. Kasus perkosaan merupakan pilihan yang
sulit. Meskipun bisa saja kita mengusulkan untuk memelihara anaknya hingga
lahir, lalu diadopsikan ke orang lain, itu semua tergantung kematangan jiwa si
ibu dan dukungan masyarakat agar anak yang dilahirkan tidak dilecehkan oleh
masyarakat.

Untuk kehamilan diluar nikah atau karena sudah kebanyakan anak dan
kontrasepsi gagal perlu dipirkirkan kembali karena masih banyak orang
mendambakan anak.

Sebaiknya kita jangan mencari pemecahan masalah yang pendek / singkat /


jalan pintas, tapi harus jauh menyentuh dasar timbulnya masalah itu sendiri.
Prinsip melegalkan aborsi, sama seperti Prinsip lokalisasi.Banyak  celah yang
justru akan dimanfaatkan untuk begituan. Karena seks bebas sudah jadi realita
sekarang ini, apalagi di kota-kota besar. Jika di data, orang-orang  yang ingin 
mengaborsi, berapa persen yang dikarenakan  anaknya 7 dan malnutrisi semua,
dibandingkan karena hamil diluar nikah - atau hamil dalam perselingkuhan,
jauh lebih besar yg. karena di luar nikah daripada karena alasan ekonomi.

Perempuan berhak dan harus melindungi diri mereka dari eksploitasi orang
lain, termasuk suaminya, agar tidak perlu aborsi. Sebab aborsi, oleh paramedis
ataupun oleh dukun, legal atau illegal, akan tetap menyakitkan buat wanita,
lahir dan batin meskipun banyak yang. menyangkalnya. Karena itu kita harus
berupaya bagaimana caranya supaya tidak sampai berurusan dengan hal yang
akhirnya merusak diri sendiri. Karena ada laki-laki yang bisa seenak
melenggang pergi, dan tidak peduli apa-apa meskipun pacarnya/istrinya sudah
aborsi dan mereka tidak bisa diapa-apakan, kecuali pemerkosa, yang jelas ada
hukumnya.

Jadi solusinya bukan cuma dari rantai yang pendek, tapi dari ujung rantai
yang terpanjang, yaitu : penyuluhan tentang seks yang benar.

Jika diliat kebelakang, mengapa banyak remaja yg aborsi, karena mereka


melakukan seks bebas untuk itu diperlukan pendidikan agama agar moral
mereka tinggi dan sadar bahwa free seks tidak sesuai dengan agama dan
berbahaya.

Jika tidak ingin hamil gunakan kontrasepsi yang paling aman dan
kontrasepsi yang paling aman adalah tidak berhubungan seks sama sekali.
Segala sesuatu itu ada resikonya. Untuk itu sebelum bertindak, orang harus
mulai berpikir : nanti bagaimana bukannya bagaimana nanti.

Keputusan aborsi juga dapat keluar dalam waktu yang singkat, dan setelah
melewati waktu krisis, bisa saja keputusan aborsi dibatalkan karena  ada
seseorang yang mendampingi memberikan support, dan dia tidak jadi
mengaborsi.

Keputusan untuk aborsi, kemungkinan  bisa menghantui seumur hidupnya,


mengaborsi anaknya, dan selama beberapa minggu dia masih menyesali dan
menangisi kejadian itu, seperti kematian seorang anak.

Apalagi jika aborsi dilakukan akibat paksaan, misalnya paksaan dari


orangtua, demi nama baik keluarga. Bayangkan berapa banyak orang-orang
yang. bisa dipaksa untuk menggugurkan, jika aborsi ini dilegalkan.

Penyebab Abortus

Karakteristik ibu hamil dengan abortus yaitu: a) Umur Dalam kurun


reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan
adalah 20-30 tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada
usia di bawah 20 tahun ternyata 2-5 kali lebih tinggi daripada kematian
maternal yang terjadi pada usia 20-29 tahun. Kematian maternal meningkat
kembali sesudah usia 30-35 tahun. Ibu-ibu yang terlalu muda seringkali secara
emosional dan fisik belum matang, selain pendidikan pada umumnya rendah,
ibu yang masih muda masih tergantung pada orang lain. Keguguran sebagian
dilakukan dengan sengaja untuk menghilangkan kehamilan remaja yang tidak
dikehendaki. Keguguran sengaja yang dilakukan oleh tenaga nonprofessional
dapat menimbulkan akibat samping yang serius seperti tingginya angka
kematian dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnya dapat menimbulkan
kemandulan. Abortus yang terjadi pada remaja terjadi karena mereka belum
matur dan mereka belum memiliki sistem transfer plasenta seefisien wanita
dewasa. Abortus dapat terjadi juga pada ibu yang tua meskipun mereka telah
berpengalaman, tetapi kondisi badannya serta kesehatannya sudah mulai
menurun sehingga dapat mempengaruhi janin intra uterine. b) Jarak hamil dan
bersalin terlalu dekat Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun dapat menimbulkan
pertumbuhan janin kurang baik, persalinan lama dan perdarahan pada saat
persalinan karena keadaan rahim belum pulih dengan baik. Ibu yang melahirkan
anak dengan jarak yang sangat berdekatan (di bawah dua tahun) akan
mengalami peningkatan resiko terhadap terjadinya perdarahan pada trimester
III, termasuk karena alasan plasenta previa, anemia dan ketuban pecah dini
serta dapat melahirkan bayi dengan berat lahir rendah. c) Paritas ibu Anak lebih
dari 4 dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan janin dan perdarahan saat
persalinan karena keadaan rahim biasanya sudah lemah. Paritas 2-3 merupakan
paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas
tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih
tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal. Risiko pada paritas 1 dapat
ditangani dengan asuhan obstetrik lebih baik, sedangkan risiko pada paritas
tinggi dapat dikurangi atau dicegah dengan keluarga berencana. Sebagian
kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan.. d) Riwayat
Kehamilan yang lalu Menurut Malpas dan Eastman kemungkinan terjadinya
abortus lagi pada seorang wanita ialah 73% dan 83,6%. Sedangkan, Warton dan
Fraser dan Llewellyn - Jones memberi prognosis yang lebih baik, yaitu 25,9%
dan 39% (Wiknjosastro, 2007).

Meski pengguguran kandungan (aborsi) dilarang oleh hukum, tetapi


kenyataannya terdapat 2,3 juta perempuan melakukan aborsi (Kompas, 3
Maret 2000). Masalahnya tiap perempuan mempunyai alasan tersendiri untuk
melakukan aborsi dan hukumpun terlihat tidak akomodatif terhadap alasan-
alasan tersebut, misalnya dalam masalah kehamilan paksa akibat perkosaan
atau bentuk kekerasan lain termasuk kegagalan KB. Larangan aborsi
berakibat pada banyaknya terjadi aborsi tidak aman (unsafe abortion), yang
mengakibatkan kematian. Data WHO menyebutkan, 15-50% kematian ibu
disebabkan oleh pengguguran kandungan yang tidak aman. Dari 20 juta
pengguguran kandungan tidak aman yang dilakukan tiap tahun, ditemukan
70.000 perempuan meninggal dunia. Artinya 1 dari 8 ibu meninggal akibat
aborsi yang tidak aman.

Alasan untuk melakukan tindakan Abortus Provokatus

Abortus Provokatus Medisinalis


 Abortus yang mengancam (threatened abortion) disertai dengan pendarahan
yang terus menerus, atau jika janin telah meninggal (missed abortion).
 Mola Hidatidosa atau hindramnion akut Infeksi uterus akibat tindakan abortus
kriminalis Penyakit keganasan pada saluran jalan lahir, misalnya kangker
serviks atau jika dengan adanya kehamilan akan menghalangi pengobatan
untuk penyakit keganasan lainnya pada tubuh seperti kangker payudara
 Prolaps uterus yang tidak bisa diatasi.
 Telah berulang kali mengalami operasi caesar
 Penyakit-penyakit dari ibu yang sedang mengandung, misalnya penyakit
jantung organik dengan kegagalan jantung,
hipertensi,nephritis,tuberkolosis, paru aktif yang berat.
 Penyakit-penyakit metabolik misalnya diabetes yang tidak terkontro
 Epilepsi yang luas dan berat..
 Gangguan jiwa , disertai dengan kecenderungan untuk bunuh diri. Pada kasus
seperti ini, sebelum melakukan tindakan abortus harus dikonsultasikan
dengan psikiater

Abortus Provokatus Kriminalis

Abortus provokatus kriminalis sering terjadi pada kehamilan yang tidak


dikehendaki. Ada beberapa alasan wanita tidak menginginkan kehamilannya:
 Alasan kesehatan, di mana ibu tidak cukup sehat untuk hamil.
 Alasan psikososial, di mana ibu sendiri sudah enggan/tidak mau untuk punya
anak lagi.
 Kehamilan di luar nikah.
 Masalah ekonomi, menambah anak berarti akan menambah beban ekonomi
keluarga.
 Masalah social misalnya khawatir adanya penyakit turunan, janin cacat.
 Kehamilan yang terjadi akibat perkosaan atau akibat incest (hubungan antar
keluarga).
 Selain itu tidak bisa dilupakan juga bahwa kegagalan kontrasepsi juga
termasuk tindakan kehamilan yang tidak diinginkan.

Akibat Abortus Provokatus Kriminalis

Komplikasi medis yang dapat timbul pada ibu


Dalam melakukan dilatasi dan kerokan harus diingat bahwa selalu ada
kemungkinan terjadinya perforasi dinding uterus, yang dapat menjurus ke
rongga peritoneum, ke ligamentum latum, atau ke kandung kencing. Oleh
sebab itu, letak uterus harus ditetapkan lebih dahulu dengan seksama pada
awal tindakan, dan pada dilatasi serviks tidak boleh digunakan tekanan
berlebihan. Kerokan kuret dimasukkan dengan hati-hati, akan tetapi
penarikan kuret ke luar dapat dilakukan dengan tekanan yang lebih besar.
Bahaya perforasi ialah perdarahan dan peritonitis. Apabila terjadi perforasi
atau diduga terjadi peristiwa itu, penderita harus diawasi dengan seksama
dengan mengamati keadaan umum, nadi, tekanan darah, kenaikan suhu,
turunnya hemoglobin, dan keadaan perut bawah. Jika keadaan meragukan
atau ada tanda-tanda bahaya, sebaiknya dilakukan laparatomi percobaan
dengan segera. Luka pada serviks uteri Apabila jaringan serviks keras dan
dilatasi dipaksakan maka dapat timbul sobekan pada serviks uteri yang
perlu dijahit. Apabila terjadi luka pada ostium uteri internum, maka akibat
yang segera timbul ialah perdarahan yang memerlukan pemasangan
tampon pada serviks dan vagina. Akibat jangka panjang ialah kemungkinan
timbulnya incompetent cerviks. [sunting] Pelekatan pada kavum uteri
Melakukan kerokan secara sempurna memerlukan pengalaman. Sisa-sisa
hasil konsepsi harus dikeluarkan, tetapi jaringan miometrium jangan
sampai terkerok, karena hal itu dapat mengakibatkan terjadinya perlekatan
dinding kavum uteri di beberapa tempat. Sebaiknya kerokan dihentikan
pada suatu tempat apabila pada suatu tempat tersebut dirasakan bahwa
jaringan tidak begitu lembut lagi. [sunting] Perdarahan Kerokan pada
kehamilan yang sudah agak tua atau pada mola hidatidosa terdapat bahaya
perdarahan. Oleh sebab itu, jika perlu hendaknya dilakukan transfusi darah
dan sesudah itu, dimasukkan tampon kasa ke dalam uterus dan vagina.
[sunting] Infeksi Apabila syarat asepsis dan antisepsis tidak diindahkan,
maka bahaya infeksi sangat besar. Infeksi kandungan yang terjadi dapat
menyebar ke seluruh peredaran darah, sehingga menyebabkan kematian.
Bahaya lain yang ditimbulkan abortus kriminalis antara lain infeksi pada
saluran telur. Akibatnya, sangat mungkin tidak bisa terjadi kehamilan lagi.
[sunting] Lain-lain Komplikasi yang dapat timbul dengan segera pada
pemberian NaCl hipertonik adalah apabila larutan garam masuk ke dalam
rongga peritoneum atau ke dalam pembuluh darah dan menimbulkan
gejala-gejala konvulsi, penghentian kerja jantung, penghentian pernapasan,
atau hipofibrinogenemia. Sedangkan komplikasi yang dapat ditimbulkan
pada pemberian prostaglandin antara lain panas, rasa enek, muntah, dan
diare. Komplikasi yang Dapat Timbul Pada Janin: Sesuai dengan tujuan
dari abortus itu sendiri yaitu ingin mengakhiri kehamilan, maka nasib janin
pada kasus abortus provokatus kriminalis sebagian besar meninggal.
Kalaupun bisa hidup, itu berarti tindakan abortus gagal dilakukan dan janin
kemungkinan besar mengalami cacat fisik.

Luka pada serviks uteri


Apabila jaringan serviks keras dan dilatasi dipaksakan maka dapat timbul
sobekan pada serviks uteri yang perlu dijahit. Apabila terjadi luka pada
ostium uteri internum, maka akibat yang segera timbul ialah perdarahan
yang memerlukan pemasangan tampon pada serviks dan vagina. Akibat
jangka panjang ialah kemungkinan timbulnya incompetent cerviks.

Pelekatan pada kavum uteri


Melakukan kerokan secara sempurna memerlukan pengalaman. Sisa-sisa
hasil konsepsi harus dikeluarkan, tetapi jaringan miometrium jangan
sampai terkerok, karena hal itu dapat mengakibatkan terjadinya perlekatan
dinding kavum uteri di beberapa tempat. Sebaiknya kerokan dihentikan
pada suatu tempat apabila pada suatu tempat tersebut dirasakan bahwa
jaringan tidak begitu lembut lagi.

Perdarahan
Kerokan pada kehamilan yang sudah agak tua atau pada mola hidatidosa
terdapat bahaya perdarahan. Oleh sebab itu, jika perlu hendaknya
dilakukan transfusi darah dan sesudah itu, dimasukkan tampon kasa ke
dalam uterus dan vagina.
Infeksi
Apabila syarat asepsis dan antisepsis tidak diindahkan, maka bahaya
infeksi sangat besar. Infeksi kandungan yang terjadi dapat menyebar ke
seluruh peredaran darah, sehingga menyebabkan kematian. Bahaya lain
yang ditimbulkan abortus kriminalis antara lain infeksi pada saluran telur.
Akibatnya, sangat mungkin tidak bisa terjadi kehamilan lagi.

Lain-lain
Komplikasi yang dapat timbul dengan segera pada pemberian NaCl
hipertonik adalah apabila larutan garam masuk ke dalam rongga
peritoneum atau ke dalam pembuluh darah dan menimbulkan gejala-gejala
konvulsi, penghentian kerja jantung, penghentian pernapasan, atau
hipofibrinogenemia. Sedangkan komplikasi yang dapat ditimbulkan pada
pemberian prostaglandin antara lain panas, rasa enek, muntah, dan diare.

Komplikasi yang Dapat Timbul Pada Janin: Sesuai dengan tujuan dari
abortus itu sendiri yaitu ingin mengakhiri kehamilan, maka nasib janin
pada kasus abortus provokatus kriminalis sebagian besar meninggal.
Kalaupun bisa hidup, itu berarti tindakan abortus gagal dilakukan dan janin
kemungkinan besar mengalami cacat fisik.

Pelaku Abortus Provokatus Kriminalis


Pelaku Abortus Provokatus Kriminalis biasanya adalah:
 Wanita bersangkutan.
 Dokter atau tenaga medis lain (demi keuntungan atau demi rasa
simpati).
 Orang lain yang bukan tenaga medis (misalnya dukun)

Aborsi dan UU Kesehatan


Aturan KUHP yang keras tersebut telah dilunakkan dengan memberikan
peluang dilakukannya aborsi. Sebagaimana ditentukan dalam pasal 15
ayat 1 UU Kesehatan tersebut di atas.

Namun pasal 15 UU Kesehatan juga tidak menjelaskan apa yang


dimaksud tindakan medis tertentu dan kondisi bagaimana yang
dikategorikan sebagai keadaan darurat. Dalam penjelasannya bahkan
dikatakan bahwa tindakan media dalam bentuk pengguguran kandungan
dengan alasan apapun, dilarang karena bertentangan dengan norma
hukum, norma agama, norma kesusilaan, dan norma kesopanan. Namun
dalam keadaan darurat sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu dan atau
janin yang dikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu. Lalu
apakah tindakan medis tertentu bisa selalu diartikan sebagai aborsi yang
artinya menggugurkan janin, sementara dalam pasal tersebut aborsi
digunakan sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu dan atau janin. Jelas
disini bahwa UU Kesehatan telah memberikan pengertian yang
membingungkan tentang aborsi.
 
Sementara dalam pasal 15 (1) UU Kesehatan Nomor 23/1992
disebutkan bahwa dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk
menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan
tindakan medis tertentu. Sedangkan pada ayat 2 tidak disebutkan bentuk
dari tindakan medis tertentu itu, hanya disebutkan syarat untuk
melakukan tindakan medis tertentu. Dengan demikian pengertian aborsi
yang didefinisikan sebagai tindakan tertentu untuk menyelamatkan ibu
dan atau bayinya (pasal 15 UU kesehatan) adalah pengertian yang sangat
rancu dan membingungkan masyarakat dan kalangan medis.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) melarang keras


dilakukannya aborsi dengan alasan apapun sebagaimana diatur dalam
pasal 283, 299 serta pasal 346 - 349. Bahkan pasal 299 intinya
mengancam hukuman pidana penjara maksimal empat tahun kepada
seseorang yang memberi harapan kepada seorang perempuan bahwa
kandungannya dapat digugurkan.

Aspek Hukum dan Medikolegal Abortus Povocatus Criminalis

Abortus telah dilakukan oleh manusia selama berabad-abad, tetapi selama


itu belum ada undang-undang yang mengatur mengenai tindakan abortus.
Peraturan mengenai hal ini pertama kali dikeluarkan pada tahun 4 M di mana
telah ada larangan untuk melakukan abortus. Sejak itu maka undang-undang
mengenai abortus terus mengalami perbaikan, apalagi dalam tahun-tahun
terakhir ini di mana mulai timbul suatu revolusi dalam sikap masyarakat dan
pemerintah di berbagai negara di dunia terhadap tindakan abortus.

Hukum abortus di berbagai negara dapat digolongkan dalam beberapa


kategori sebagai berikut:
• Hukum yang tanpa pengecualian melarang abortus, seperti di Belanda.
• Hukum yang memperbolehkan abortus demi keselamatan kehidupan
penderita (ibu), seperti di Perancis dan Pakistan.
• Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi medik, seperti di
Kanada, Muangthai dan Swiss.
• Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosio-medik, seperti di
Eslandia, Swedia, Inggris, Scandinavia, dan India.
• Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosial, seperti di
Jepang, Polandia, dan Yugoslavia.
• Hukum yang memperbolehkan abortus atas permintaan tanpa
memperhatikan indikasi-indikasi lainnya (Abortion on requst atau Abortion
on demand), seperti di Bulgaris, Hongaria, USSR, Singapura.
• Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi eugenistis (aborsi
boleh dilakukan bila fetus yang akan lahir menderita cacat yang serius)
misalnya di India
• Hukum yang memperbolehkan aborsi atas indikasi humanitarian (misalnya
bila hamil akibat perkosaan) seperti di Jepang

Negara-negara yang mengadakan perubahan dalam hukum abortus pada


umumnya mengemukakan salah satu alasan/tujuan seperti yang tersebut di
bawah ini:
• Untuk memberikan perlindungan hukum pada para medisi yang melakukan
abortus atas indikasi medik.
• Untuk mencegah atau mengurangi terjadinya abortus provocatus criminalis.
• Untuk mengendalikan laju pertambahan penduduk.
• Untuk melindungi hal wanita dalam menentukan sendiri nasib
kandungannnya.
• Untuk memenuhi desakan masyarakat.

Di Indonesia, baik menurut pandangan agama, Undang-Undang Negara,


maupun Etik Kedokteran, seorang dokter tidak diperbolehkan untuk melakukan
tindakan pengguguran kandungan (abortus provokatus). Bahkan sejak awal
seseorang yang akan menjalani profesi dokter secara resmi disumpah dengan
Sumpah Dokter Indonesia yang didasarkan atas Deklarasi Jenewa yang isinya
menyempurnakan Sumpah Hippokrates, di mana ia akan menyatakan diri untuk
menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan. Dari aspek etika,
Ikatan Dokter Indonesia telah merumuskannya dalam Kode Etik Kedokteran
Indonesia mengenai kewajiban umum, pasal 7d: Setiap dokter harus senantiasa
mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Pada
pelaksanaannya, apabila ada dokter yang melakukan pelanggaran, maka
penegakan implementasi etik akan dilakukan secara berjenjang dimulai dari
panitia etik di masing-masing RS hingga Majelis Kehormatan Etika Kedokteran
(MKEK). Sanksi tertinggi dari pelanggaran etik ini berupa "pengucilan"
anggota dari profesi tersebut dari kelompoknya. Sanksi administratif tertinggi
adalah pemecatan anggota profesi dari komunitasnya.

Ditinjau dari aspek hukum, pelarangan abortus justru tidak bersifat mutlak.
Abortus buatan atau abortus provokatus dapat digolongkan ke dalam dua
golongan yakni: 1. Abortus buatan legal Yaitu pengguguran kandungan yang
dilakukan menurut syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang.
Populer juga disebut dengan abortus provocatus therapeticus, karena alasan
yang sangat mendasar untuk melakukannya adalah untuk menyelamatkan
nyawa ibu. Abortus atas indikasi medik ini diatur dalam Undang Undang
Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan:

PASAL 15: 1) Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu
hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu. 2) Tindakan
medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) hanya dapat dilakukan: a.
Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut;
b. Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu
dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan
pertimbangan tim ahli; c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau
suami atau keluarganya; d. Pada sarana kesehatan tertentu. 3) Ketentuan lebih
lanjut mengenai tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Pada penjelasan UU no 23 tahun 1992 pasal 15 dinyatakan sebagai


berikut: Ayat (1) : Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan
dengan alasan apapun, dilarang karena bertentangan dengan norma hukum,
norma agama, norma kesusilaan dan norma kesopanan. Namun dalam keadaan
darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu atau janin yang
dikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu Ayat (2) Butir a : Indikasi
medis adalah suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diambil tindakan
medis tertentu sebab tanpa tindakan medis tertentu itu,ibu hamil dan janinnya
terancam bahaya maut. Butir b : Tenaga kesehatan yang dapat melakukan
tindakan medis tertentu adalah tenaga yang memiliki keahlian dan wewenang
untuk melakukannya yaitu seorang dokter ahli kandungan seorang dokter ahli
kebidanan dan penyakit kandungan. Butir c : Hak utama untuk memberikan
persetujuan ada ibu hamil yang bersangkutan kecuali dalam keadaan tidak sadar
atau tidak dapat memberikan persetujuannya ,dapat diminta dari semua atau
keluarganya. Butir d : Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang
memiliki tenaga dan peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan
ditunjuk oleh pemerintah. Ayat (3) : Dalam Peraturan Pemerintah sebagai
pelaksanan dari pasal ini dijabarkan antara lain mengenal keadaan darurat
dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya,tenaga kesehatan
mempunyai keahlian dan wewenang bentuk persetujuan, sarana kesehatan yang
ditunjuk. 2. Abortus Provocatus Criminalis ( Abortus buatan illegal ) Yaitu
pengguguran kandungan yang tujuannya selain untuk menyelamatkan atau
menyembuhkan si ibu, dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten serta tidak
memenuhi syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang. Abortus
golongan ini sering juga disebut dengan abortus provocatus criminalis karena di
dalamnya mengandung unsur kriminal atau kejahatan.

Beberapa pasal yang mengatur abortus provocatus dalam Kitab Undang-


undang Hukum Pidana (KUHP):
PASAL 299 1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau
menyuruh supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan,
bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan
pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak empat pulu
ribu rupiah. 2) Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan,
atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencaharian atau kebiasaan atau
jika dia seorang tabib, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah
sepertiga. 3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam
menjalankan pencaharian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan
pencaharian.

PASAL 346 Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan


kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat tahun.

PASAL 347 1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan


kandungan seorang wanita tanpa persetujuan, diancam dengan pidana penjara
paling lama dua belas tahun. 2) Jika perbuatan itu menyebabkan matinya wanita
tersebut, dikenakan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

PASAL 348 1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan


kandungan seseorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana
penjara paling lama lima tahun enam bulan. 2) Jika perbuatan tersebut
mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikarenakan pidana penjara paling
lama tujuh tahun.

PASAL 349 Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan
kejahatan yang tersebut pasal 346, ataupun melakukan atau membantu
melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348,
maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengn sepertiga
dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan
dilakukan.

PASAL 535 Barang siapa secara terang-terangan mempertunjukkan suatu sarana


untuk menggugurkan kandungan, maupun secara terang-terangan atau tanpa
diminta menawarkan, ataupun secara terang-terangn atau dengan menyiarkan
tulisan tanpa diminta, menunjuk sebagai bisa didapat, sarana atau perantaraan
yang demikian itu, diancam dengan kurungan paling lama tiga bulan atau denda
paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Dari rumusan pasal-pasal tersebut
diatas dapat ditarik kesimpulan : 1. Seorang wanita hamil yang sengaja
melakukan abortus atau ia menyuruh orang lain, diancam hukuman empat
tahun. 2. Seseorang yang sengaja melakukan abortus terhadap ibu hamil,
dengan tanpa persetujuan ibu hamil tersebut diancam hukuman 12 tahun, dan
jika ibu hamil itu mati diancam 15 tahun 3. Jika dengan persetujuan ibu hamil,
maka diancam hukuman 5,5 tahun penjara dan bila ibu hamil tersebut mati
diancam hukuman 7 tahun penjara. 4. Jika yang melakukan dan atau membantu
melakukan abortus tersebut seorang dokter, bidan atau juru obat (tenaga
kesehatan) ancaman hukumannya ditambah sepertiganya dan hak untuk praktek
dapat dicabut. Meskipun dalam KUHP tidak terdapat satu pasal pun yang
memperbolehkan seorang dokter melakukan abortus atas indikasi medik,
sekalipun untuk menyelamatkan jiwa ibu, dalam prakteknya dokter yang
melakukannya tidak dihukum bila ia dapat mengemukakan alasan yang kuat
dan alasan tersebut diterima oleh hakim (Pasal 48).

Selain KUHP, abortus buatan yang ilegal juga diatur dalam Undang
Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan:
PASAL 80 Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap
ibu hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal
15 ayat (1) dan ayat (2), dipidana dengan penjara paling lama 15 (lima belas)
tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah)

Aborsi yang tidak aman


 
Yang dimaksud dengan aborsi tidak aman (Unsafe Abortion) adalah
penghentian kehamilan yang dilakukan oleh orang yang tidak terlatih/kompeten dan
menggunakan sarana yang tidak memadai, sehingga menimbulkan banyak
komplikasi bahkan kematian.

Umumnya aborsi yang tidak aman terjadi karena tidak tersedianya pelayanan
kesehatan yang memadai. Apalagi bila aborsi dikategorikan tanpa indikasi medis,
seperti korban perkosaan, hamil diluar nikah, kegagalan alat kontrasepsi dan lain-
lain. Ketakutan dari calon ibu dan pandangan negatif dari keluarga atau masyarakat
akhirnya menuntut calon ibu untuk melakukan pengguguran kandungan secara
diam-diam tanpa memperhatikan resikonya .
 
Aborsi aman bila:

· Dilakukan oleh pekerja kesehatan (perawat, bidan, dokter) yang benar-benar


terlatih dan berpengalaman melakukan aborsi
· Pelaksanaannya mempergunakan alat-alat kedokteran yang layak
· Dilakukan dalam kondisi bersih, apapun yang masuk dalam vagina atau
rahim harus steril atau tidak tercemar kuman dan bakteri
· Dilakukan kurang dari 3 bulan (12 minggu) sesudah pasien terakhir kali
mendapat haid.

Pelayanan Kesehatan yang Memadai adalah HAK SETIAP ORANG, tidak


terkecuali Perempuan yang memutuskan melakukan Aborsi.
Hak atas pelayanan kesehatan
 
Banyaknya kematian akibat aborsi yang tidak aman, tentu sangat
memprihatinkan. Hal ini diakibatkan kurangnya kesadaran dari perempuan dan
masyarakat tentang hak atas pelayanan kesehatan. Padahal bagaimanapun
kondisinya atau akibat apapun, setiap perempuan sebagai warganegara tetap
memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dan
kewajiban negaralah untuk menyediakan hal itu. Hak-hak ini harus dipandang
sebagai hak-hak sosial sekaligus hak individu yang merupakan hak untuk
mendapatkan keadilan sosial termasuk didalamnya hak untuk mendapatkan
pelayanan. Hak atas pelayanan kesehatan ini ditegaskan pula dalam Pasal 12
Konvensi Penghapusan segala bentuk Kekerasan terhadap Perempuan (Konvensi
Perempuan) dan UU Kesehatan.

Hak-hak pasien

Sebuah Lokakarya tentang Kesehatan Perempuan, yang diselenggarakan oleh


Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia dan The Ford Foundation, (1997)
merumuskan hak-hak pasien sebagai berikut:

a. Hak memperoleh pelayanan kesehatan yang mendasar, mudah diakses, tepat,


terjangkau
b. Hak untuk terbebas dari perlakuan diskriminatif, artinya tidak ada pembedaan
perlakuan berdasarkan jenis kelamin, warna kulit, agama, suku bangsa.
 
c. Hak memperoleh informasi dan pengetahuan mengenai:
1. Kondisi kesehatan
2. Berbagai pilihan penanganan
3. Perlakuan medis yang diberikan
4. Waktu dan biaya yang diperlukan
5. Resiko, efek samping dan kemungkinan keberhasilan dari tindakan yang
dilakukan
6. Hak memilih tempat dan dokter yang menangani
7. Hak untuk dihargai, dijaga privasi dan kerahasiaan
8. Hak untuk ikut berpartisipasi dalam membuat keputusan
9. Hak untuk mengajukan keluhan

Pelayanan yang diharapkan dalam aborsi:


 
Tersedianya sarana pelayanan formal:
a. Fasilitas konseling
b. Jaminan tindakan aborsi
c. Pengetahuan tentang prosedur, usia kehamilan, resiko
d. Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, alat kontrasepsi
(mencegah aborsi berulang).

8. Bagaimana Aborsi Yang Aman?

Melakukan aborsi pasti merupakan keputusan yang sangat berat dirasakan


oleh perempuan yang bersangkutan. Tapi bila itu memang menjadi jalan
yang terakhir, yang harus diperhatikan adalah persiapan secara fisik dan
mental dan informasi yang cukup mengenai bagaimana agar aborsi bisa
berlangsung aman.

II.3. TRANSPLANTASI ORGAN DAN SUPPORTING


A. TRANSPLANTASI ORGAN

Teknik transplantasi dimungkinkan untuk organ atau jaringan tubuh


manusia yang masih berfungsi, baik dari orang yang masih hidup maupun
yang sudah meninggal, ketubuh manusia lain.
Dalam penyembuhan suatu penyakit, adakalanya transplantasi tidak
dapat dihindari dalam menyelamatkan nyawa bagi penderita. Dengan
keberhasilan teknik transplantasi dalam usaha penyembuhan suatu
penyakit dan dengan meningkatnya keterampilan dokter-dokter dalam
melakukan transplantasi, upaya transplantasi mulai diminati oleh para
penderita dalam upaya penyembuhan yang cepat dan tuntas.
Untuk mengembangkan transplantasi sebagai salah satu cara
penyembuhan suatu penyakit tidak dapat begitu saja diterima masyarakat
laus.

I. PENGERTIAN TRANSPLANTASI

Transplantasi adalah pemindahan suatu jaringan atau organ


manusia tertentu dari suatu tempat ke tempat lain pada tubuhnya sendiri
atau tubuh orang lain dengan persyaratan dan kondisi tertentu.
Transplantasi organ dan jaringan tubuh manusia merupakan
tindakan medik yang sangat bermanfaat bagi pasien dengan ganguan
fungsi organ tubuh yang berat. Ini adalah terapi pengganti (alternatif)
yang merupakan upaya terbaik untuk menolong penderita/pasien dengan
kegagalan organnya, karena hasilnya lebih memuaskan dibandingkan
dengan pengobatan biasa atau dengan cara terapi. Hingga dewasa ini
transplantasi terus berkembang dalam dunia kedokteran, namun tindakan
medik ini tidak dapat dilakukan begitu saja, karena masih harus
dipertimbangkan dari segi non medik, yaitu dari segi agama, hukum,
budaya, etika dan moral. Kendala lain yang dihadapi Indonesia dewasa ini
dalam menetapkan terapi transplatasi, adalah terbatasnya jumlah donor
keluarga (Living Related Donor, LRD) dan donasi organ jenazah. Karena
itu diperlukan kerjasama yang saling mendukung antara para pakar terkait
(hukum, kedokteran, sosiologi, pemuka agama, pemuka masyarakat),
pemerintah dan swata.

II. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN TRANSPLANTASI

Tahun 600 SM di India, Susruta telah melakukan transplantasi


kulit. Sementara pada masa Renaissance, seorang ahli bedah dari Itali
bernama Gaspare Tagliacozzi juga telah melakukan hal yang sama.

Diduga John Hunter (1728-1793) adalah pioneer bedah


eksperimental, termasuk bedah transplantasi. Dia mampu membuat cerita
teknik bedah untuk menghasilkan suatu jaringan transplantasi yang
tumbuh di tempat baru. Akan tetapi sistem golongan darah dan sistem
histokompatibilitas yang erat hubungannya dengan reaksi terhadap
transplantasi belum ditemukan.

Pada abad ke-20, Winer dan Landsteiner mendukung


perkembangan transplantasi dengan menemukan golongan darah sistem
ABO dan sistem Rhesus. Saat ini perkembangan ilmu kekebalan tubuh
makin berperan dalam keberhasilan tindakan transplantasi.

Perkembangan teknologi kedokteran terus meningkat searah dengan


perkembangan teknik transplantasi. Ilmu transplantasi modern makin
berkembang dengan ditemukannya metode-metode pencangkokan,
seperti:
a. Pencangkokan arteria mammaria interna di dalam operasi
lintas koroner oleh Dr. George E. Green dan Parkinson
b. Pencangkokan jantung, dari jantung kera kepada manusia oleh
Dr. Cristian Bernhard, walaupun pasiennya kemudia
meninggal dalam waktu 18 hari.
c. Pencangkokan sel-sel substansia nigra dari bayi yang
meninggal ke penderita Parkinson oleh Dr. Andreas
Bjornklund.

Demikian sejarah singkat perkembangan transplantasi organ pada


makhluk hidup yang telah dilakukan oleh para ahli sejak jaman dahulu
(600 SM) yang hingga sampai saat ini metode transplantasi terus
berkembang.
III. JENIS – JENIS TRANSPLANTASI

Kini telah dikenal beberapa jenis transplantasi atau pencangkokan,


baik berupa sel, jaringan maupun organ tubuh. Transplantasi ditinjau dari
sudut penerima dapat dibedakan menjadi:
1. Autograft
Autotransplantasi yaitu perpindahan suatu jaringan atau organ ke
tempat lain dalam tubuh orang itu sendiri.
2. Allograft
Homotransplantasi yaitu pempindahan suatu jaringan atau organ
dari tubuh seseorang ke tubuh orang lain yang memiliki ciri spesies
sama.
3. Isograft
Transplantasi Singenik yaitu pempindahan suatu jaringan atau
organ dari seseorang ke tubuh orang lain yang identik. Misalnya
masih memiliki hubungan secara genetik.
4. Xenograft
Heterotransplantasi yaitu pempindahan suatu jaringan atau organ
dari suatu spesies ke tubuh spesies lainnya.

IV. Komponen Yang Mendasari Transplantasi


Ada dua komponen penting yang mendasari tindakan transplantasi, yaitu:
1. Eksplantasi yaitu usaha mengambil jaringan atau organ manusia
yang hidup atau yang sudah meninggal.
2. Implantasi yaitu usaha menempatkan jaringan atau organ tubuh
tersebut kepada bagian tubuh sendiri atau tubuh orang lain

V. Komponen Yang Menunjang Transplantasi


Disamping dua komponen yang mendasari di atas, ada juga dua
komponen penting yang menunjang keberhasilan tindakan transplantasi,
yaitu:
1. Adaptasi Donasi yaitu usaha dan kemampuan menyesuaikan diri
orang hidup yang diambil jaringan atau organ tubuhnya, secara
biologis dan psikis, untuk hidup dengan kekurangan jaringan atau
oragan.
2. Adaptasi Resepien yaitu usaha dan kemampuan diri dari penerima
jaringan atau organ tubuh baru sehingga tubuhnya dapat menerima
atau menolak jaringan atau organ tersebut, untuk berfungsi baik,
mengganti yang sudah tidak dapat befungsi lagi.
Organ atau jaringan tubuh yang akan dipindahkan dapat diambil
dari donor yang hidup atau dari jenazah orang yang baru meninggal
dimana meninggal sendiri didefinisikan kematian batang otak.
Organ-organ yang diambil dari donor hidup seperti : kulit ginjal
sumsum tulang dan darah (transfusi darah). Organ-organ yang diambil
dari jenazah adalah jantung, hati, ginjal, kornea, pancreas, paru-paru dan
sel otak.

B. SUPPORTTING OF ORGAN TRANSPLANTATION

Untuk mengembangkan transplantasi sebagai salah satu cara


penyembuhan suatu penyakit tidak dapat begitu saja diterima masyarakat laus.
Pertimbangan etik, moral, agama, hukum atau sosial budaya ikut
mempengaruhinya.

I. Masalah Etik dan Moral dalam Transplantasi


Beberapa pihak yang ikut terlibat dalam usaha transplantasi adalah a)
Donor hidup, b) jenazah dan donor mati, c) keluarga dan ahli waris, d) resepien,
e) dokter dan pelaksana lain, dan f) masyarakat. Hubungan pihak-pihak ini
dengan masalah etik dan moral dalam transplantasi akan dibicarakan dalam
uraian di bawah ini.

a. Donor Hidup
Donor hidup adalah orang yang memberikan jaringan/organnya kepada
orang lain (resepien). Sebelum memutuskan untuk menjadi donor,
seseorang harus mengetahui dan mengerti resiko yang dihadapi, baik
resiko dibidang medik, pembedahan, maupun resiko untuk kehidupannya
lebih lanjut sebahai kekurangan jaringan/organ yang telah dipindahkan.
Disamping itu, untuk menjadi donor, seseorang tidak boleh mengalami
tekanan psikologis. Hubungan psikis dan emosi harus sudah dipikirkan
oleh donor hidup tersebut untuk mencegah timbulnya masalah.

b. Jenazah dan Donor Mati


Jenazah dan Donor Mati adalah orang yang semasa hidupnya telah
mengizinkan atau berniat dengan sungguh-sungguh untuk memberikan
jaringan/organ tubuhnya kepada yang memerlukan apabila ia telah
meninggal kapan seorang donor itu dapat dikatakan meninggal secara
wajar, dan apabila sebelum meninggal, donor itu sakit, sudah sejauh mana
pertolongan dari dokter yang merawatnya. Semua itu untuk mencegah
adanya tuduhan dari keluarga donor atau pihak lain bahwa tim pelaksana
transplantasi telah melakukan upaya mempercepat kematian seseorang
hanya untuk mengejar organ yang akan ditransplantasikan.
c. Keluarga Donor dan Ahli Waris
Kesepakatan keluarga donor dan resepien sangat diperlukan untuk
menciptakan saling pengertian dan menghindari konflik semaksimal
mungkin ataupun tekanan psikis dan emosi dikemudian hari. Dari
keluarga resepien sebenarnya hanya dituntut suatu penghargaan keluarga
donor dan keluarganya dengan tulus. Alangkah baiknya jika dibuat suatu
ketentuan untuk mencegah timbulnya rasa tidak puas kedua belah pihak.

d. Resipien
Resipien adalah orang yang menerima jaringan/organ orang lain. Pada
dasarnya, seorang penderita mempunyai hak untuk mendapatkan
perawatan yang dapat memperpanjang hidup atau meringankan
penderitaannya. Seorang resipien harus benar-benar mengerti semua hal
yang dijelaskan oleh tim pelaksana transplantasi. Melalui tindakan
transplantasi diharapkan dapat memberikan nilai yang besar bagi
kehidupan resepien. Akan tetapi, ia harus menyadari bahwa hasil
transplantasi terbatas dan ada kemungkinan gagal. Juga perlu disadari
bahwa jika ia menerima untuk transplantasi berarti ia dalam percobaan
yang sangat berguna bagi kepentingan orang banyak di masa yang akan
datang.

e. Dokter dan Tenaga Pelaksana lain


Untuk melalukan suatu transplantasi, tim pelaksana harus mendapat
persetujuan dari donor, resepien, maupun keluarga kedua belah pihak. Ia
wajib menerangkan hal-hal yang mungkin akan terjadi setelah dilakukan
transplantasi sehingga gangguan psikologis dan emosi dikemudian hari
dapat dihindarkan. Tanggung jawab tim pelaksana adalah menolong
pasien dan mengembangkan ilmu pengetahuan untuk umat manusia.
Dengan demikian, dalam melaksanakan tugas, tim pelaksana hendaknya
tidak dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan kepentingan pribadi.

f. Masyarakat
Secara tidak langsung masyarakat turut menetukan perkembangan
transplantasi. Kerjasama tim pelaksana dengan para cendekiawan,
pemuka masyarakat, atau pemeluk agama diperlukan untuk mendidik
masyarakat untuk lebih memahami maksud dan tujuan luhur usaha
transplantasi. Dengan adanya pengertian ini kemungkinan penyediaan
organ yang segera diperlukan, atas tujuan luhur, akan dapat diperoleh.

II. Transplantasi Ditinjau dari Aspek Hukum


Pada saat ini peraturan perundang-undangan yang ada adalah
Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1981, tentang Bedah Mayat Klinis
dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat atau Jaringan Tubuh
Manusia. Pokok-pokok peraturan tersebut, adalah:
1. Pasal 10
Transplantasi alat untuk jaringan tubuh manusia dilakukan dengan
memperhatikan ketentuan-ketentaun sebagai dimaksud dalam pasal 2
Huruf a dan Huruf b, yaitu harus dengan persetujuan tertulis penderita
dan / keluarganya yang terdekat setelah penderita meninggal dunia.

2. Pasal 14
Pengambilan alat atau jaringa tubuh manusia untuk keperluan
transplantasi atau bank mata dari koran kecelakaan yang meninggal
dunia, dilakukan dengan pernyataan tertulis keluarga terdekat.

3. Pasal 15
Sebelum persetujuan tentang transplantasi alat dan jaringan tubuh
manusia diberikan oleh calon hidup, calon donor yang bersangkutan
terlebih dahulu diberikan oleh dokter yang merawatnya, termasuk dokter
konsultan mengenai sifat operasi, akibat-akibat dan kemungkinan-
kemungkinan yang dapat terjadi. Dokter yang merawatnya harus yakin
benar bahwa calon donor yang bersangkutan telah menyadari sepenuhnya
arti dari pemberitahuan tersebut.

4. Pasal 16
Donor atau keluarga donor yang meninggal dunia tidak berhak atas suatu
kompensasi material apapun sebagai imbalan transplantasi.

5. Pasal 17
Dilarang memperjual-belikan alat atau jaringan tubuh manusia.

6. Pasal 18
Dilarang mengirim dan menerima alat dan jaringan tubuh manusia dalam
semua bentuk keadaan dari luar negeri.

III. Transplantasi Ditinjau dari Aspek Agama

1. Transplantasi Organ menurut pandangan Kristen


Pada umumnya, Gereja Katolik memperkenankan transplantasi
organ tubuh. Dalam ensiklik “Evangelium Vitae” (= Injil Kehidupan),
Bapa Suci Yohanes Paulus II menyatakan, “… ada kepahlawanan harian,
yang terdiri dari amal perbuatan berbagi sesuatu, besar atau kecil, yang
menggalang kebudayaan hidup yang otentik. Teladan amal perbuatan
yang secara khas layak dipuji seperti itu ialah pendermaan organ-organ,
yang dilaksanakan melalui cara yang dari sudut etika dapat diterima,
dengan maksud menawarkan kemungkinan kesehatan dan bahkan hidup
sendiri kepada orang sakit, yang kadang sudah tidak mempunyai harapan
lain lagi” (No. 86). Ajaran ini menggemakan Katekismus Gereja Katolik:
“Transplantasi sesuai dengan hukum susila dan malahan dapat berjasa
sekali, kalau bahaya dan resiko fisik dan psikis, yang dipikul pemberi,
sesuai dengan kegunaan yang diharapkan pada penerima” (No. 2296).
Guna memahami ajaran ini dengan lebih baik, marilah kita bergerak
selangkah demi selangkah. Perlu dicatat bahwa masalah ini pertama kali
dibahas dengan jelas oleh Paus Pius XII pada tahun 1950-an, dan
kemudian disempurnakan sesuai dengan kemajuan-kemajuan yang
berhasil dicapai dalam bidang medis.

Pertama-tama, dibedakan antara transplantasi organ tubuh


(termasuk jaringan) dari seorang yang telah meninggal dunia ke seorang
yang hidup, versus transplantasi organ tubuh (termasuk jaringan) dari
seorang yang hidup ke seorang lainnya. Dalam kasus pertama, yaitu
apabila donor organ tubuh adalah seorang yang telah meninggal dunia,
maka tidak timbul masalah moral. Paus Pius XII mengajarkan, “Seorang
mungkin berkehendak untuk mendonorkan tubuhnya dan
memperuntukkannya bagi tujuan-tujuan yang berguna, yang secara moral
tidak tercela dan bahkan luhur, di antaranya adalah keinginan untuk
menolong mereka yang sakit dan menderita. Seorang dapat membuat
keputusan akan hal ini dengan hormat terhadap tubuhnya sendiri dan
dengan sepenuhnya sadar akan penghormatan yang pantas untuk
tubuhnya…. Keputusan ini hendaknya tidak dikutuk, melainkan sungguh
dibenarkan” (Amanat kepada Kelompok Spesialis Mata, 14 Mei 1956).

Pada dasarnya, apabila organ-organ tubuh dari seorang yang telah


meninggal dunia, seperti ginjal, hati, kornea mata, dapat menolong
menyelamatkan atau memperbaiki hidup seorang lainnya yang masih
hidup, maka transplantasi yang demikian adalah baik secara moral dan
bahkan patut dipuji. Patut dicatat bahwa donor wajib memberikan
persetujuannya dengan bebas dan penuh kesadaran sebelum wafatnya,
atau keluarga terdekat wajib melakukannya pada saat kematiannya:
“Transplantasi organ tubuh tidak dapat diterima secara moral, kalau
pemberi atau yang bertanggung jawab untuk dia tidak memberikan
persetujuan dengan penuh kesadaran” (No. 2296).

Satu peringatan perlu disampaikan di sini: Keberhasilan suatu


transplantasi organ tubuh sangat bergantung pada kesegaran organ,
artinya bahwa prosedur transplantasi harus dilakukan sesegera mungkin
begitu donor meninggal dunia. Namun demikian, donor tidak boleh
dinyatakan meninggal dunia secara dini atau kematiannya dipercepat
hanya agar organ tubuhnya dapat segera dipergunakan. Kriteria moral
menuntut bahwa donor sudah harus meninggal dunia sebelum organ-
organ tubuhnya dipergunakan untuk transplantasi. Demi menghindari
konflik antar kepentingan, Uniform Anatomical Gift Act
memprasyaratkan, “Saat kematian hendaknya ditetapkan oleh dokter yang
mendampingi donor pada saat kematiannya, atau, jika tidak ada, dokter
yang menyatakan kematiannya. Dokter tersebut tidak diperkenankan
untuk ikut ambil bagian dalam prosedur pengambilan atau transplantasi
organ tubuh” (Section 7 (b)). Meski peraturan ini tidak mendatangkan
dampak atas moralitas transplantasi organ tubuh itu sendiri, namun
martabat orang yang menghadapi ajal wajib dilindungi, dan mempercepat
kematian atau mengakhiri hidupnya demi mendapatkan organ-organ
tubuhnya untuk kepentingan transplantasi adalah amoral. Di sini, sekali
lagi Katekismus Gereja Katolik mengajarkan, “Langsung menyebabkan
keadaan cacat atau kematian seseorang, selalu dilarang secara moral,
meskipun dipakai untuk menunda kematian orang lain” (No. 2296), suatu
point yang digarisbawahi oleh Bapa Suci.

Transplantasi organ tubuh dari seorang donor hidup ke seorang


lainnya jauh lebih rumit. Kemampuan untuk melakukan transplantasi
ginjal yang pertama kali pada tahun 1954 menimbulkan suatu debat sengit
di antara para teolog. Debat berfokus pada prinsip totalitas - di mana
dalam keadaan-keadaan tertentu seorang diperkenankan untuk
mengorbankan salah satu bagian atau salah satu fungsi tubuhnya demi
kepentingan seluruh tubuh. Sebagai contoh, seorang diperkenankan
mengangkat suatu organ tubuh yang sakit demi memelihara kesehatan
seluruh tubuhnya, misalnya mengangkat rahim yang terserang kanker.
Namun demikian, para teolog ini berargumentasi bahwa seorang tidak
dapat dibenarkan mengangkat suatu organ tubuh yang sehat dan
mendatangkan resiko masalah kesehatan di masa mendatang apabila
hidupnya sendiri tidak berada dalam bahaya, misalnya pada kasus seorang
mengorbankan sebuah ginjal yang sehat untuk didonorkan kepada
seorang yang membutuhkan. Operasi yang demikian, menurut mereka,
mendatangkan pengudungan yang tidak perlu atas tubuh dan karenanya
amoral.

Sebagian teolog lainnya beragumentasi dari sudut pandang belas


kasih persaudaraan, yaitu bahwa seorang yang sehat yang mendonorkan
sebuah ginjal kepada seorang yang membutuhkan, melakukan suatu
tindakan pengorbanan yang sejati demi menyelamatkan nyawa orang.
Kemurahan hati yang demikian sesuai dengan teladan Tuhan Sendiri di
salib, dan merefleksikan ajaran-Nya pada saat Perjamuan Malam
Terakhir, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi,
seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari
pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-
sahabatnya” (Yoh 15:12-13). Menurut para teolog ini, korban yang
demikian secara moral dapat diterima apabila resiko celaka pada donor,
baik akibat operasi itu sendiri maupun akibat kehilangan organ tubuh,
proporsional dengan manfaat bagi si penerima.
Bergerak dari alasan ini, para teolog yang “pro-transplantasi”
mempertimbangkan kembali prinsip totalitas. Mereka mengajukan
argumentasi bahwa meski transplantasi organ tubuh dari donor hidup
tidak melindungi keutuhan anatomis atau fisik (yakni adanya kehilangan
suatu organ tubuh yang sehat), namun sungguh memenuhi totalitas
fungsional (yakni terpeliharanya fungsi dan sistem tubuh sebagai suatu
kesatuan). Sebagai contoh, seorang dapat mengorbankan satu ginjalnya
yang sehat (adanya kehilangan dalam keutuhan anatomis) dan masih
dapat memelihara kesehatan dan fungsi tubuh yang layak dengan ginjal
yang tersisa; donor yang demikian secara moral diperkenankan. Tetapi,
dengan alasan yang sama, seorang tidak dapat mengorbankan satu
matanya untuk diberikan kepada seorang buta, sebab tindakan yang
demikian menganggu fungsi tubuhnya.

Paus Pius XII setuju dengan pemahaman belas kasihan ini dan juga
tafsiran yang lebih luas dari prinsip totalitas; sebab itu beliau
memaklumkan transplantasi organ tubuh dari seorang donor hidup secara
moral diperkenankan. Bapa Suci menggarisbawahi point bahwa donor
mempersembahkan korban diri demi kebaikan orang lain. Paus Yohanes
Paulus II juga menegaskan point ini, “… Setiap transplantasi organ tubuh
bersumber dari suatu keputusan yang bernilai luhur: yakni keputusan
untuk memberi satu bagian dari tubuhnya sendiri tanpa imbalan demi
kesehatan dan kebaikan orang lain. Di sinilah tepatnya terletak keluhuran
tindakan ini, suatu tindakan yang adalah tindakan kasih sejati. Bukan
sekedar memberikan sesuatu yang adalah milik kita, melainkan
memberikan sesuatu yang adalah diri kita sendiri….” (Amanat kepada
Partisipan dalam Kongres Transplantasi Organ, 20 Juni 1991, No. 3).

Namun demikian, transplantasi organ tubuh dari seorang donor hidup


kepada seorang yang lain wajib memenuhi empat persyaratan:
(1) Resiko yang dihadapi donor dalam transplantasi macam itu harus
proporsional dengan manfaat yang didatangkan atas diri penerima;
(2) Pengangkatan organ tubuh tidak boleh mengganggu secara serius
kesehatan donor atau fungsi tubuhnya;
(3) Perkiraan penerimaan adalah baik bagi si penerima, dan
(4) Donor wajib membuat keputusan dengan penuh kesadaran dan bebas
dengan mengetahui resiko yang mungkin terjadi.

2. Transplantasi Organ menurut pandangan Islam


Yang dimaksud dengan transplantasi organ di sini adalah
pemindahan organ tubuh dari satu manusia kepada manusia lain, seperti
pemindahan tangan, ginjal, dan jantung. Trans plantasi merupakan
pemindahan sebuah organ atau lebih dari seorang manusia –pada saat dia
hidup, atau setelah mati– kepada manusia lain. Hukum transplantasi
organ adalah sebagai berikut :

1. Transplantasi Organ Dari Donor Yang Masih Hidup :


Syara’ membolehkan seseorang pada saat hidupnya –dengan sukarela
tanpa ada paksaan siapa pun– untuk meny umbangkan sebuah organ
tubuhnya atau lebih kepada orang lain yang membutuhkan organ
yang disumbangkan itu, seperti tangan atau ginjal. Ketentuan itu
dikarenakan adanya hak bagi seseorang –yang tangannya terpotong,
atau tercongkel matanya akibat perbuatan orang lain– untuk
mengambil diyat (tebusan), atau memaafkan orang lain yang telah
memotong tangannya atau mencongkel matanya. Memaafkan
pemotongan tangan atau pencongkelan mata, hakekatnya adalah
tindakan menyumbangkan diyat. Sedangkan penyumbangan diyat itu
berarti menetapkan adanya pemilikan diyat, yang berarti pula
menetapkan adanya pemilikan organ tubuh yang akan disumbangkan
dengan diyatnya itu. Adanya hak milik orang tersebut terhadap
organ-organ tubuhnya berarti telah memberinya hak untuk
memanfaatkan organ-organ tersebut, yang berarti ada kemubahan
menyumbang kan organ tubuhnya kepada orang lain yang
membutuhkan organ tersebut. Dan dalam hal ini Allah SWT telah
membolehkan memberi kan maaf dalam masalah qishash dan
berbagai diyat. Allah SWT berfirman :

“Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudara


nya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik,
dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang
memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu
adalah suatu keringanan dari Tuhan kalian dan suatu rahmat.” (QS.
Al Baqarah : 178)

2. Syarat-Syarat Penyumbangan Organ Tubuh Bagi Donor Hidup


Syarat di bolehkannya menyumbangkan organ tubuh pada saat
seseorang masih hidup, ialah bahwa organ yang disum bangkan
bukan merupakan organ vital yang menentukan kelangsungan hidup
pihak penyumbang, seperti jantung, hati, dan kedua paru-paru. Hal
ini dikarenakan penyumbangan organ-organ tersebut akan
mengakibatkan kematian pihak penyumbang, yang berarti dia telah
membunuh dirinya sendiri. Padahal seseorang tidak dibolehkan
membunuh dirinya sendiri atau meminta dengan sukarela kepada
orang lain untuk membunuh dirinya. Allah SWT berfirman :

“Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian.” (QS. An


Nisaa’ : 29)
Keharaman membunuh orang yang diharamkan Allah (untuk
membunuhnya) ini mencakup membunuh orang lain dan membunuh
diri sendiri. Imam Muslim meriwayatkan dari Tsabit bin Adl Dlahaak
RA yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “…dan
siapa saja yang membunuh dirinya sendiri dengan sesuatu
(alat/sarana), maka Allah akan menyiksa orang tersebut dengan
alat/sarana tersebut dalam neraka Jahannam.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah


RA yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Siapa saja yang menjatuhkan diri dari sebuah gunung dan


membunuh dirinya sendiri, maka dia akan dimasukkan ke dalam
neraka Jahannam.”

Demikian pula seorang laki-laki tidak dibolehkan meny umbangkan


dua testis (zakar), meskipun hal ini tidak akan menyebabkan
kematiannya, sebab Rasulullah SAW telah melarang
pengebirian/pemotongan testis (al khisha’), yang akan menye babkan
kemandulan. Imam Bukahri meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud
RA, dia berkata :

“Kami dahulu pernah berperang bersama Nabi SAW sementara


pada kami tidak ada isteri-isteri. Kami berkata, ‘Wahai
Rasulullah bolehkah kami melakukan pengebirian ?’ Maka
beliau melarang kami untuk melakukannya.”

IV. Hukum Transplantasi Dari Donor Yang Telah Meninggal :

Hukum tranplanstasi organ dari seseorang yang telah mati


berbeda dengan hukum transplantasi organ dari seseorang yang
masih hidup. Untuk mendapatkan kejelasan hukum trasnplantasi
organ dari donor yang sudah meninggal ini, terlebih dahulu harus
diketahui hukum pemilikan tubuh mayat, hukum kehormatan mayat,
dan hukum keadaan darurat. Mengenai hukum pemilikan tubuh
seseorang yang telah meninggal, kami berpendapat bahwa tubuh
orang tersebut tidak lagi dimiliki oleh seorang pun. Sebab dengan
sekedar mening galnya seseorang, sebenarnya dia tidak lagi memiliki
atau berkuasa terhadap sesuatu apapun, entah itu hartanya, tubuh nya,
ataupun isterinya. Oleh karena itu dia tidak lagi berhak
memanfaatkan tubuhnya, sehingga dia tidak berhak pula untuk
menyumbangkan salah satu organ tubuhnya atau mewasiat kan
penyumbangan organ tubuhnya. Berdasarkan hal ini, maka seseorang
yang sudah mati tidak dibolehkan menyumbangkan organ tubuhnya
dan tidak dibenarkan pula berwasiat untuk menyumbangkannya.
Sedangkan mengenai kemubahan mewasiatkan sebagian hartanya,
kendatipun harta bendanya sudah di luar kepemili kannya sejak dia
meninggal, hal ini karena Asy Syari’ (Allah) telah mengizinkan
seseorang untuk mewasiatkan seba gian hartanya hingga sepertiga
tanpa seizin ahli warisnya. Jika lebih dari sepertiga, harus seizin ahli
warisnya. Adanya izin dari Asy Syari’ hanya khusus untuk masalah
harta benda dan tidak mencakup hal-hal lain. Izin ini tidak men cakup
pewasiatan tubuhnya. Karena itu dia tidak berhak berwasiat untuk
menyumbangkan salah satu organ tubuhnya setelah kematiannya.
Mengenai hak ahli waris, maka Allah SWT telah mewaris kan kepada
mereka harta benda si mayit, bukan tubuhnya. Dengan demikian,
para ahli waris tidak berhak menyumbangkan salah satu organ tubuh
si mayit, karena mereka tidak memi liki tubuh si mayit, sebagaimana
mereka juga tidak berhak memanfaatkan tubuh si mayit tersebut.
Padahal syarat sah menyumbangkan sesuatu benda, adalah bahwa
pihak penyumbang berstatus sebagai pemilik dari benda yang akan
disumbangkan, dan bahwa dia mempunyai hak untuk memanfaatkan
benda terse but. Dan selama hak mewarisi tubuh si mayit tidak
dimiliki oleh para ahli waris, maka hak pemanfaatan tubuh si mayit
lebih-lebih lagi tidak dimiliki oleh selain ahli waris, bagaimanapun
juga posisi atau status mereka. Karena itu, seorang dokter atau
seorang penguasa tidak berhak memanfaat kan salah satu organ tubuh
seseorang yang sudah meninggal untuk ditransplantasikan kepada
orang lain yang membutuhkan nya. Adapun hukum kehormatan
mayat dan penganiayaan terha dapnya, maka Allah SWT telah
menetapkan bahwa mayat mempun yai kehormatan yang wajib
dipelihara sebagaimana kehormatan orang hidup. Dan Allah telah
mengharamkan pelanggaran terha dap kehormatan mayat
sebagaimana pelanggaran terhadap kehor matan orang hidup. Allah
menetapkan pula bahwa menganiaya mayat sama saja dosanya
dengan menganiaya orang hidup. Diriwayatkan dari A’isyah Ummul
Mu’minin RA bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Memecahkan tulang mayat itu sama dengan memecahkan


tulang orang hidup.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu
Hibban).

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Amar bin Hazm Al Anshari RA,


dia berkata,”Rasulullah pernah melihatku sedang bersandar pada
sebuah kuburan. Maka beliau lalu bersabda :

“Janganlah kamu menyakiti penghuni kubur itu !”


II. 4. Device
Alat-alat yang biasanya digunakan dalam proses transplantasi, meliputi
 Pisau operasi
 Cusa (pisau pemotong yang menggunakan gelombang ultrasonografi)
 Meja operasi
 Gunting bedah
 Slang-slang pembiusan
 Drap (kain steril yang digunakan untuk menutup bagian tubuh yang
tidak dioperasi)
 Plastic steril berkantong yang fingsinya menampung darah yang
meleleh dari tubuh pasien
 Retractor
 Penghangat darah dan cairan
 Lampu operasi

II. 5. Prinsip - Prinsip Legal Dalam Praktik Keperawatan

C. Malpraktik

Dalam beberapa dekade terakhir ini istilah malpraktik cukup terkenal


dan banyak dibicarakan masyarakat umum khususnya malpraktik bidang
kedokteran dalam transaksi terapeutik antara dokter dan pasien. Jika kita
flashback beberapa dekade ke belakang khususnya di Indonesia anggapan
banyak orang, dokter adalah profesional yang kurang bisa disentuh dengan
hukum atas profesi yang dia lakukan. Hal ini berbeda seratus delapan puluh
derajat saat sekarang banyak tuntutan hukum baik perdata, pidana maupun
administratif yang diajukan pasien atau keluarga pasien kepada dokter
karena kurang puas atas hasil perawatan atau pengobatan.

Yang masih perlu dikaji  dan didiskusikan kembali adalah apakah


sudah benar dasar penuntutan yang disampaikan kepada dokter atau rumah
sakit dengan dasar dokter atau rumah sakit bersangkutan telah melakukan
tindakan malpraktik jika kita tinjau dari kaca mata Undang – Undang
Hukum Pidana, Hukum Perdata dan Undang – Undang Praktek Kedokteran,
KODEKI serta standar profesi dokter dalam menjalankan profesinya.
Transaksi terapeutik dapat dijelaskan sebagai suatu bentuk perjanjian
antara pasien dengan penyedia layanan dimana dasar dari perjanjian itu
adalah usaha maksimal untuk penyembuhan pasien yang dilakukan dengan
cermat dan hati-hati sehingga hubungan hukumnya disebut sebagai perikatan
usaha/ikhtiar. Agar dapat berlaku dengan sah, trasaksi tersebut harus
memenuhi empat syarat, pertama ada kata sepakat dari para pihak yang
mengikatkan diri, kedua kecakapan untuk membuat sesuatu, ketiga
mengenai suatu hal atau obyek dan yang keempat karena suatu causa yang
sah. Transaksi atau perjanjian menurut hukum dengan transaksi yang
berkaitan dengan terapeutik tidaklah sama. Pada hakekatnya transaksi
terapeutik terkait dengan norma atau etika yang mengatur perilaku dokter
dan oleh karena itu bersifat menjelaskan, merinci ataupun menegaskan
berlakunya suatu kode etik yang bertujuan agar dapat memberikan
perlindungan bagi dokter maupun pasien. Hubungan antara transaksi
terapeutik dengan perlindungan hak pasien dapat dilihat pada Undang-
Undang Nomer 29 tahun 2004 tentang praktek kedokteran diantaranya
adalah hak mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis
yang akan dilakukan, hak meminta penjelasan pendapat dokter, hak
mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhan medis, hak menolak tindakan
medis dan hak untuk mendapatkan rekam medis. Kewajiban pasien dalam
menerima pelayanan kedokteran antara lain memberikan informasi yang
lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya, mematuhi nasehat atau
petunjuk dokter, mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan
kesehatan dan memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterimanya.

Menurut Leenen kewajiban yang harus dilakukan dokter atau dokter


gigi dalam memberikan pelayanan kesehatan adalah melaksanakan suatu
tindakan sesuai dengan standar profesi medik (SPM) yang pada hakekatnya
terdiri dari beberapa unsur diantaranya bekerja dengan teliti, hati-hati dan
seksama, sesuai dengan ukuran medik, sesuai dengan kemampuan rata-
rata/sebanding dengan dokter dalam kategori keahlian medik yang sama,
dalam keadaan yang sebanding dan dengan sarana dan upaya yang
sebanding wajar dengan tujuan konkrit dari tindakan medik tersebut.

Perbedaan yang mendasar antara hukum pidana umum dengan hukum


pidana medik adalah sebagai berikut hukum pidana umum yang diperhatikan
adalah akibat dari peristiwa hukumnya sedangkan hukum  pidana medik
yang diperhatikan adalah sebabnya. Jika akibat suatu perawatan medis hasil
yang didapat tidak sesuai dengan yang diharapkan atau pasien mengalami
kerugian maka belum tentu dokter yang merawat telah melakukan kesalahan.
Harus diteliti terlebih dahulu apakah dalam melakukan perawatan tersebut
dokter telah menerapkan tindakannya sesuai dengan standar profesi yang
dibenarkan oleh hukum dan nilai-nilai kode etik profesi sebagaimana yang
tertuang dalam KODEKI. Karena menurut penulis ilmu
kedokteran/kesehatan merupakan paduan antara ilmu pengetahuan dan seni,
3 dikali 3 tidak harus 9 hal ini disebabkan banyak faktor yang
mempengaruhi hasil yang ingin dicapai seperti kondisi tubuh pasien, cara
penanganannya, komplikasi dan banyak faktor yang lain termasuk tidak atau
tersedianya peralatan kedokteran yang memadai. Sehingga tidak ada 2 kasus
yang diselesaikan dengan hasil yang sama.

Malpraktik atau malpractice berasal dari kata ”mal” yang berarti buruk
dan ”practice” yang berarti suatu tindakan atau praktik, dengan demikian
malpraktek adalah suatu tindakan medis buruk yang dilakukan dokter dalam
hubungannya dengan pasien. Menurut Black’s Law Dictionary
mendefinisikan malpraktik sebagai “professional misconduct or
unreasonable lack of skill” atau “failure of one rendering professional
services to exercise that degree of skill and learning commonly applied
under all the circumstances in the community by the average prudent
reputable member of the profession with the result of injury, loss or damage
to the recipient of those services or to those entitled to rely upon them”.
Pengertian malpraktik di atas bukanlah monopoli bagi profesi medis,
melainkan juga berlaku bagi profesi hukum (misalnya mafia peradilan),
akuntan, perbankan, dan lain-lain. Pengertian malpraktik medis menurut
World Medical Association (1992) adalah:

“medical malpractice involves the physician’s failure to conform to


the standard of care for treatment of the patient’s condition, or lack of skill,
or negligence in providing care to the patient, which is the direct cause of
an injury to the patient.”

Selain pengertian diatas definisi lain dari malparaktik adalah setiap


kesalahan profesional yang diperbuat oleh dokter pada waktu melakukan
pekerjaan profesionalnya, tidak memeriksa, tidak menilai, tidak berbuat atau
meninggalkan hal-hal yang diperiksa, dinilai, diperbuat atau dilakukan oleh
dokter pada umumnya didalam situasi dan kondisi yang sama (Berkhouwer
& Vorsman, 1950), selain itu menurut Hoekema, 1981 malpraktik adalah
setiap kesalahan yang diperbuat oleh dokter karena melakukan pekerjaan
kedokteran dibawah standar yang sebenarnya secara rata-rata dan masuk
akal, dapat dilakukan oleh setiap dokter dalam situasi atau tempat yang
sama, dan masih banyak lagi definisi tentang malparaktik yang telah
dipublikasikan. Dalam tata hukum indonesia tidak dikenal istilah malpraktik,
pada undang-undang No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan disebut sebagai
kesalahan atau kelalaian dokter sedangkan dalam undang-undang No. 29
tahun 2004 tentang praktek kedokteran dikatakan sebagai pelanggaran
disiplin dokter. Sehingga dari berbagai definisi malpraktik diatas dan dari
kandungan hukum yang berlaku di indonesia dapat ditarik kesimpulan
bahwa pegangan pokok untuk membuktikan malpraktik yakni dengan
adanya kesalahan tindakan profesional yang dilakukan oleh seorang dokter
ketika melakukan perawatan medik dan ada pihak lain yang dirugikan atas
tindakan tersebut.

Menurut Gunadi, J dapat dibedakan antara resiko pasien dengan


kelalaian dokter (negligence) yang dapat dimintakan pertanggungjawaban
pada dokter, resiko yang ditanggung pasien ada tiga macam yaitu :
1. Kecelakaan
2. Resiko tindakan medik (risk of treatment)
3. Kesalahan penilaian (error of judgement)

Masih menurut Gunadi, J masalah hukum sekitar 80% berkisar pada


penilaian atau penafsiran. Resiko dalam tindakan medik selalu ada dan jika
dokter atau penyedia layanan kesehatan telah melakukan tindakan sesuai
dengan standar profesi medik dalam arti bekerja dengan teliti, hati-hati,
penuh keseriusan dan juga ada informed consent (persetujuan) dari pasien
maka resiko tersebut menjadi tanggungjawab pasien. Dalam undang-undang
hukum perdata disana disebutkan dalam hal tuntutan melanggar hukum
harus terpenuhi syarat sebagai berikut :
1. Adanya perbuatan (berbuat atau tidak berbuat)
2. Perbuatan itu melanggara hukum
3. Ada kerugian yang ditanggung pasien
4. Ada hubungan kausal antara kerugian dan kesalahan
5. Adanya unsur kesalahan atau kelalaian

Dalam beberapa kasus yang diajukan ke pengadilan masih terdapat


kesulitan dalam menentukan telah terjadi malparaktik atau tidak karena
dalam tatanan hukum indonesia belum diatur mengenai standar profesi
dokter sehingga hakim cenderung berpatokan pada hukum acara
konvensional, sedangkan dokter merasa sebagai seorang profesional yang
tidak mau disamakan dengan hukuman bagi pelaku kriminal biasa, misalnya:
pencurian atau pembunuhan. Sebagai insan yang berkecimpung di bidang
asuransi kita berharap pemerintah lebih serius untuk mengatur permasalahan
tersebut dengan menerbitkan produk hukum yang mengatur tentang standar
profesi.

Batasan Legal  dalam Tindakan Keperawatan


Perawat perlu tahu tentang hukum yang mengatur prakteknya untuk:
1. Memberikan kepastian bahwa keputusan & tindakan perawat yang
dilakukan konsisten dengan prinsip-prinsip hukum.
2. melindungi perawat dari liabilitas.

Perjanjian atau kontrak dalam perwalian


Kontrak mengandung arti ikatan persetujuan atau perjanjian resmi
antara dua atau lebih partai untuk mengerjakan atau tidak sesuatu. Dalam
konteks hukum, kontrak sering disebut dengan perikatan atau perjanjian.
Perikatan artinya mengikat orang yang satu dengan orang lain. Hukum
perikatan di atur dlm UU hukum Perdata pasal 1239 ” Semua perjanjian baik
yang mempunyai nama khusus maupun yang tidak mempunyai nama
tertentu, tunduk pada ketentuan-ketentuan umum yang termaktub dalam bab
ini dan bab yang lalu.” Lebih lanjut menurut ketentuan pasal 1234 KUHPdt,
setiap perikatan adalah untuk memberikan, berbuat sesuatu atau untuk tidak
berbuat sesuatu. Perikatan dapat dikatakan sah bila memenuhi syarat sbb:
 Ada persetujuan kehendak antara pihak-pihak yang membuat
perjanjian (Consencius)
 Ada kecakapan thp pihak2 untuk membuat perjanjian (capacity). Ada
sesuatu hal tertentu ( a certain subjec matter) dan ada sesuatu sebab
yang halal (Legal Cause).(Muhammad 1990).
 Kontrak perawat-pasien dilakukan sebelum melakukan asuhan
keperawatan.
 Kontrak juga dilakukan sebelum menerima dan diterima di tempat
kerja.
 Kontrak Perawat-Pasien digunakan untuk melindungi hak-hak kedua
belah pihak yang bekerja sama.
 Kontrak juga untuk menggugat pihak yang melanggar kontrak yang
disepakati.

Perawat profesional harus mampu memahami batasan legal yang


mempengaruhi praktik sehari-hari mereka. Hal ini yang dikaitkan dengan
penilaian yang baik dan menyuarakan pembuatan keputusan yang menjamin
asuhan keperawatan yang aman dan sesuai.Pedoman legal yang harus diikuti
perawat diambil dari undang-undang, hukum pengaturan, dan hukum adat.
Hukum dikeluarkan oleh badan pemerintah dan harus dipatuhi oleh
warga negara. Setiap orang yang tidak mematuhi hukum akan terikat secara
hukum untuk menanggung denda atau hukum penjara. Anda tidak perlu
takut akan melanggar hukum jika anda :
 Hanya melakukan hal-hal yang sudah diajarkan dan berada dalam
cukup pelatihan.
 Selalu memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang terbaru.
 Selalu menempatkan keselamatan dan kesejahteraan pasien sebagai hal
yang terpenting.
 Melakukan pekerjaan sesuai dengan kebijakan fasilitas.

Batasan Kelalaian atau Malpraktik


Kesalahan adalah kesalahan sipil yang dibuat terhadap seseorang atau hak
milik. Kesalahan bisa diklasifikasi menjadi kesalahan tidak disengaja atau disengaja.
Contoh dari kesalahan yang tidak disengaja adalah kelalaian atau malpraktik.
Malpraktik merupakan kelalaian yang dilakukan oleh seorang profesional seperti
perawat atau dokter. Kesalahan disengaja merupakan tindakan disengaja yang
melanggar hak seseorang. Misalnya, pelecehan, pemukulan, pemfitnahan, atau invasi
pribadi.

Perbedaaan bergantung pada tindakan atau pengabaian yang terlibat pada


masalah tentang “ ilmu atau seni kedokteran yang memerlukan keterampilan khusus
yang tidak dimilki orang biasa,“ atau bahkan dapat dipahami berdasarkan pengalaman
individu setiap hari pada juri. Jika diperlukan opini profesional dari seorang ahli
dengan keterampilan dan pengetahuan khusus, teori tentang  malpraktik lebih berlaku
daripada kelalaian biasa.

Kelalaian adalah prilaku yang tidak sesuai standar perawatan. Malpraktik


terjadi ketika asuhan keperawatan tidak sesuai yang menuntut praktik keperawatan
yang aman. Tidak perlu ada kesengajaan, suatu kelalaian dapat terjadi. Kelalaian
ditetapkan oleh hukum untuk perlindungan orang lain terhadap resiko bahaya yang
tidak seharusnya. Ini dikarakteristikkan oleh ketidakperhatian, keprihatian atau
kurang perhatian. Kelalaian atau malpraktik bisa mencakup kecerobohan, seperti
tidak memeriksa balutan lengan yang memungkinkan pemberian medikasi yang
salah. Bagaimanapun, kecerobohan tidak selalu sebagai penyebab. Jika perawat
melakukan prosedur dimana mereka telah terlatih dan melakukan dengan hati –hati,
tetapi masih membahayakan klien, dapat dibuat tuntunan kelalaian atau malpraktik.
Jika perawat memberikan perawatan yang tidak sesuai dengan  standar, mereka dapat
dianggap lalai. Karena tindakan ini dilakukan oleh perawat professional, kelalaian
perawat disebut malpraktik.

Perawat telah terlibat dalam banyak tindakan lalai atau malpraktik profesional,
contohnya :
1. kesalahan terapi intravena yang menyebabkan infiltrasi atau flebitis.
2. luka bakar pada klien karena terapi panas yang tidak tepat pemantauannya.
3. jatuh yang menyebabkan cidera pada klien.
4. kesalahan menggunakan tehnik aseptik ketika diperlukan.
5. kesalahan menghitung spon, instrumen, atau jarum dalam kasus operasi.

Perawat harus melakukan semua prosedur secara besar. Mereka juga harus
menggunakan penilaian profesional saat mereka menjalankan program dokter dan
juga terapi keperawatan mandiri dimana mereka berwewenang. Setiap perawat yang
tidak memenuhi standar praktik atau perawatan yang dapat diterima atau melakukan
tugasnya dengan ceroboh berisiko dianggap lalai.
Karena malpraktik adalah kelalaian yang berhubungan dengan praktik
profesional, kriteria berikut harus ditegakkan dalam gugatan hukum malpraktik
terhadap seorang perawat :
1. perawat (terdakwa) berhutang tugas pada klien (penggugat).
2. perawat tidak melakukan tugas tersebut atau melanggar tugas perawatan.
3. klien cidera.
4. baik penyebab aktual dan kemungkinan mencederai klien adalah akibat dari
kegagalan perawat untuk melakukan tugas.

Dasar Hukum Malpraktik

Akhir-akhir ini tuntutan hukum terhadap dokter dan perawat dengan dakwaan
melakukan malpraktik makin meningkat dimana-mana, termasuk di negara kita. Ini
menunjukkan adanya peningkatan kesadaran hukum masyarakat, dimana masyarakat
lebih menyadari kewajiban dan tugas profesinya dengan lebih hati-hati dan penuh
tanggung jawab. Di negara- negara maju tiga besar dokter spesialis menjadi sasaran
utama tuntutan ketidaklayakan dalam praktik, yaitu spesialis bedah, anastesi dan
kebidanan dan penyakit kandungan.

Walaupun UU No. 6 tahun 1963 tentang tenaga kesehatan sudah dicabut oleh
UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, namun perumusan malpraktik/kelalaian
medik tercanutm pada pasal 11b masih dapat dipergunakan yaitu: dengan tidak
mengurangi ketentuan–ketentuan di dalam KUHP dan peraturan perundang-undangan
lain, maka terhadap tenaga kesehatan dapat dilakukan tindakan-tindakan administratif
dalam hal sebagai berikut :
1. melalaikan kewajiban.
2. Melakukan suatu hal yang tidak seharusnya tidak boleh dilakukan oleh
seorang tenaga kesehatan, baik mengingat sumpah jabatannya, maupun
sumpah sebagai tenaga kesehatannya.

Penanganan Malpraktik
Walaupun dalam KODEKI telah tercantum tindakan-tindakan yang seharusnya
tidak dilakukan oleh seorang dokter dalam menjalankan profesinya. Akan tetapi
sanksi bila terjadi pelanggaran etik tidak dapat diterapkan dengan seksama.Dalam
etik sebenarnya tidak ada batas –batas yang jelas antara  boleh atau tidak, oleh karena
itu kadang kala sulit memberikan sanksi-sanksinya.

Di negara-negara maju terdapat suatu Dewan Medis yang bertugas melakukan


pembinaan etik profesi dan menanggulangi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan
dalam etik kedokteran. Di negara kita IDI telah mempunyai Majelis Kehormatan Etik
Kedokteran ( MKEK), baik di tingkat pusat maupun di tingkat cabang. Walaupun
demikian, MKEK  ini belum lagi dimanfaatkan dengan baik oleh para dokter ataupun
masyarakat.
Masih banyak kasus yang keburu diajukan ke pengadilan sebelum ditangani
oleh MKEK. Oleh karena fungsi MKEK ini belum memuaskan, maka pada tahun
1982 Departemen Kesehatan membentuk Panitia Pertimbangan dan Pembinaan Etik
Kedokteran (P3EK) yang terdapat pula di pusat dan tingkat provinsi.

Tugas P3EK adalah untuk menangani kasus-kasus malpraktik yang tidak dapat
ditanggulangi oleh MKEK, dan memberi pertimbangan usul-usul  kepada pejabat
yang berwenang. Jadi instansi pertama yang menangani kasus malpraktik etik adalah
MKEK cabang atau wilayah. Masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh MKEK
maka akan dirujuk ke P3EK provinsi dan jika P3EK provinsi tidak mampu
menanganinya maka kasus tersebut diteruskan ke P3EK pusat.

Pengendalian Hukum Oleh Perawat dan Klien


Pelayanan keperawatan di masa mendatang harus dapat memberikan consumer
minded terhadap pelayana keperawatan yang di terima. Hal ini didasarkan pada
”trends” perubahan saat ini dan persaingan yang semakin ketat. Oleh karena itu,
perawat perawat diharapkan dapat mendefinisikan, mengimplementasikan dan
mengukur perbedaan bahwa praktik keperawatan harus dapat sebagai indikator
terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang profesional di
masa depan. Sementara itu pelayanan keperawatan di masa mendatang belum jelas,
maka perawat profesional di masa mendatang harus dapat memberikan dampak yang
positif terhadap kualitas sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Ada 4 hal yang
harus dijadikan perhatian utama keperawatan di Indonesia :
 Memahami dan menerapkan peran perawat.
 Komitmen terhadap identitas keperawatan.
 Perhatian terhadap perubahan dan trend pelayanan kesehatan kepada
masyarakat.
 Komitmen dalam memenuhi tuntutan tantangan sistem pelayanan
kesehatan melalui upaya yang kreatif dan inovatif.

Perawat Indonesia di masa depan harus dapat memberikan asuhan keperawatan


dengan pendekatan proses keperawatan yang berkembang seiring dengan
perkembangan IPTEK dan tuntutan kebutuhan masyarakat, sehingga perawat dituntut
mampu menjawab dan mengantisipasi terhadap dampak dari perubahan.

Perawat dapat mengurangi kesempatan mereka terkena perkara hukum dengan


mengikuti standar perawatan, memberikan perawatan kesehatan yang kompeten, dan
mengembangkan hubungan empatik dengan klien. Selain itu, dokumentasi yang hati-
hati, lengkap, dan objektif berperan sebagai bukti standar asuhan keperawatan yang
diberikan. Dokumentasi yang tepat waktu dan jujur penting untuk memberikan
komunikasi yang perlu antar anggota tim pelayanan kesehatan. Dokumentasi
digunakan dalam banyak cara yang menguntungkan klien dan menunjukkan bahwa
perawat adalah pemberi perawatan yang efektif. Dokumentasi yang baik juga
mempertahankan pemberi perawatan kesehatan lain yang mempunyai pengetahuan
baru tentang tindakan terbaru yang diterima klien sehingga perawatan terus menerus
diberikan dengan aman.

Hubungan perawat-klien sangat penting, tidak hanya dalam menjamin kualitas


perawatan tetapi juga dalam meminimalkan risiko hukum. Saling percaya terbentuk
antara perawat dan klien. Klien yang percaya bahwa perawat melakukan tugas
mereka secara benar dan memperhatikan kesejahteraan mereka mungkin urung untuk
memulai perkara hukum melawan perawat. Perawatan yang tulus untuk klien adalah
peranan penting perawat dan merupakan alat manajemen-risiko efektif. Bagaimana
pun, perawatan tidak akan secara total melindungi perawat jika terjadi kelalaian
praktik. Ketika klien cedera, pemeriksaan tentang kejadian bisa berimplikasi pada
perawat bahkan jika klien merasa baik terhadap mereka.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Setelah membahas teori dari tinjauan pustaka, maka:


Diketahui prinsip-prinsip etika keperawatan : otonomi,
beneficence, justice, moral right, nilai dan norma masyarakat.
Diketahui isue etik dalam praktik keperawatan : euthanasia,
aborsi.
Diketahui transplantasi organ, supporting.
Diketahui devices.
Diketahui prinsip-prinsip legal dalam praktik keperawatan :
malpraktik, neglected.

B. SARAN

Hendaknya mahasiswa dapat benar-benar memahami dan


mewujudnyatakan peran perawat yang legal etis dalam
pengambilan keputusan dalam konteks etika keperawatan.

Anda mungkin juga menyukai