Anda di halaman 1dari 42

Pembiayaan Pembangunan 2010

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 . Latar Belakang


Prasarana bandar udara merupakan prasarana mutlak yang harus ada di kawasan yang
menjadi penghubung antar kawasan strategis lainnya. Prasarana ini sangat diperlukan sebagai
unsur pembentuk mobilitas, baik itu mobilitas manusia maupun barang. Peran bandar udara
seakan cukup vital bagi pembangunan dan pengembangan suatu kawasan. Berfungsinya bandar
udara secara efektif seakan menjadi tolak ukur pengembangan suatu wilayah.
Hal ini juga berlaku di Kota Padang, sebagai kota dengan jumlah penduduk yang cukup
tinggi, mobilitas manusia dan barang seakan menjadi tuntutan wajib. Sebelumnya Kota Padang
memiliki bandar udara tabing, namun seiring dengan meningkatnya mobilitas manusia dan
barang, maka bandar udara tersebut seakan tidak mampu lagi menyanggupi tuntutan tersebut.
Dan atas inisiatif pemerintah Sumatera Barat, dibangun bandar udara baru di Ketaping, Padang
Pariaman. Bandar udara ini diberi nama Bandar Udara Internasiaonal Minangkabau (BIM).
Bandar udara baru ini diharapkan dapat mengatasi berbagai masalah yang ada pada bandar udara
lama, dan juga dapat mengatasi permintaan mobilitas manusia dan barang yang tinggi. Hal ini
juga mengantisipasi akibat langsung dari penggalakkan provinsi Sumatera Barat sebagai wilayah
ekspor ikan tuna, hasil hutan dan hasil tambang.
Pengembangan Bandar Udara Internasional Minangkabau ini tentu saja memerlukan
struktur pembiayaan. Dimana pembiayaan yang dimaksud meliputi rincian dana beserta
peruntukkannya. Proses pembiayaannya juga perlu untuk dikaji lebih lanjut, karena proses ini
juga sangat menentukan dalam pengembangan bandar udara tersebut. Pengembangan Bandar
Udara Internasional Minangkabau ini juga diproyeksikan untuk mendongkrak ekonomi
khususnya di Sumatera Barat.
Pendongkrakan ekonomi tersebut akan senantiasa menjadikan Provinsi Sumatera Barat
dapat bersaing dengan provinsi-provinsi lain di Negara Indonesia.

1.2 . Persoalan yang Diangkat

Page 1
Pembiayaan Pembangunan 2010

Mengkaji kelayakan pengembangan Bandar Udara Internasional Minangkabau


berdasarkan pembiayaan yang ada, dan menelaah manfaat yang akan ditimbulkan dengan adanya
pembangunan dan pengembangan Bandar Udara Internasional Minangkabau tersebut.
1.3 . Tujuan
Mengkaji efektivitas dari pembangunan dan pengembangan Bandar Udara Internasional
Minangkabau agar diperoleh manfaat sebesar-besarnya dan terpenuhinya mobilitas manusia dan
barang.
1.4 . Metode
Metode yang digunakan dalam pembiayaan Bandar Udara Internasional Minangkabau ini
adalah metode pembiayaan konvensional.
1.5 . Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah rencana pengembangan yang diperhitungkan
sebatas perluasan terminal penumpang, terminal kargo, apron, penambahan area turn over,
perluasan area parkir kendaraan dan perpanjangan Runway menjadi 3.000 meter dan lebar 45
meter, sehingga memenuhi kebutuhan penumpang proyeksi tahun 2020.
Pembatasan terhadap hal lain yang sehubungan dengan Bandar Udara Internasional
Minangkabau adalah sebagai berikut: Tanah tempat bandara berada merupakan milik pemerintah
RI sehingga tidak memerlukan biaya pengeluaran untuk pembebasan tanah, Pendanaan untuk
pengembangan ini berasal dari pinjaman lunak luar negeri dalam mata uang US dollar.
Perhitungan indikator kelayakan ekonomi hanya untuk Bandar Udara Internasional Minangkabau
dan rencana pengembangannya, tidak termasuk biaya investasi access road ke bandara yang
berada di luar kawasan bandara.

BAB II

Page 2
Pembiayaan Pembangunan 2010

EVALUASI KASUS STUDI

2.1. Deskripsi Objek


Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM) /Minangkabau International Airport
(MIA) merupakan bandara pertama dan satu-satunya di Indonesia, bahkan di dunia, yang
memakai nama etnik sebagai nama bandaranya. Fasilitas pendukungnya semuanya menggunakan
nama dan istilah Minang. Bahkan gedung terminal penumpangnya merupakan gedung terbesar di
Indonesia dengan arsitektur Minangkabau. BIM terletak 23 km Utara Kota Padang, di atas lahan
seluas ± 482 hektar yang dibangun menggantikan Bandara Tabing yang telah beroperasi selama
34 tahun. Dipindahkannya Bandara Tabing ke BIM karena sudah tidak lagi memenuhi
persyaratan dari segi keselamatan penerbangan dan juga pemenuhan kebutuhan mobilitas
manusia dan barang.
BIM telah dioperasikan sejak 22 juli 2005. bandara ini didesign dengan arsitetur
tradisional Minangkabau dengan ciri khas Bagonjong atau atap berbentuk tanduk dan interior
terminal penumpang yang dihiasi dengan ukiran Minangkabau tradisional sebagai aksen interior
modern yang penuh imajinasi.

Gambar: Bandar Udara Internasional Minangkabau

2.2. Review Konsep Pembiayaan


2.2.1 Komponen Biaya

Page 3
Pembiayaan Pembangunan 2010

Dana konstruksi sebesar ¥ 8,615 milyar dan dana pendamping Rp. 89,150 milyar serta
biaya konsultasi ¥ 876,525 juta dan Rp. 8,511 milyar sebagai dana pendamping.
Perbandingan penggunaan dana awal Bandara Internasional Minangkabau adalah pinjaman
luar negeri 81% dan APBN 19%.
2.2.2 Analisis Kriteria Investasi
Analisis proyeksi pertumbuhan pesawat, penumpang, dan kargo menggunakan dua
skenario, yaitu :
1. Skenario 1 atau skenario optimis
Merupakan skenario yang menggunakan analisis terhadap Data Pertumbuhan
Angkutan Udara di Sumatera Barat Tahun 1980 s/d 2004 yang bersumber dari
Biro Pusat Statistik (BPS) Sumbar dan Data Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB) Sumbar Tahun 1980 s/d 2004 yang bersumber dari BPS Sumbar.
2. Skenario 2 atau skenario pesimis
Merupakan skenario yang menggunakan analisis terhadap Data Pertumbuhan
Angkutan Udara di Sumbar Tahun 1995 s/d 2004 yang bersumber dari PT.
(Persero) Angkasa Pura II dan Data PDRB Sumbar Tahun 1995 s/d 2004 yang
bersumber dari BPS Sumbar.

Skenario pertama memakai analisis data pertumbuhan dari tahun 1980 sampai
dengan tahun 2004 dengan pertimbangan semakin lama jangka waktu proyeksi
pertumbuhan, maka data-data yang digunakan akan semakin akurat. Sedangkan pada
skenario kedua, menggunakan analisis data pertumbuhan dari tahun 1995 sampai dengan
tahun 2004 dengan pertimbangan bahwa adanya keterbatasan data yang dapat diperoleh
dari PT. (Persero) Angkasa Pura II. Selain itu, data ini digunakan dengan pertimbangan
bahwa sejak dilanda krisis moneter tahun 1997 / 1998, kondisi ekonomi Indonesia mulai
mengalami peningkatan sejak tahun 2000 sampai sekarang. Penelitian ini tidak
menggunakan analisis data pertumbuhan tahun 2005 pada kedua skenario dengan
pertimbangan pada tahun ini banyak terjadi peristiwa- peristiwa alam yang
mengakibatkan pertumbuhan angkutan udara menjadi tidak stabil. Antara lain peristiwa
tsunami di Aceh yang terjadi tanggal 27 Desember 2004 dan gempa bumi di Sumbar

Page 4
Pembiayaan Pembangunan 2010

tahun 2005. Namun data ini tetap digunakan pada perhitungan indikator kelayakan
ekonomi.
Pada data pertumbuhan angkutan udara Sumbar dari BPS terlihat bahwa pesawat
internasional member kontribusi sebesar 9.7% dari total pesawat datang dan berangkat
dari bandara Padang. Adapun penumpang internasional sebesar 6.1% dari total
penumpang yang datang dan berangkat dari bandara Padang. Demikian juga, pada data
pertumbuhan angkutan udara di Sumbar yang bersumber dari PT. (Persero) Angkasa Pura
II, dapat dilihat bahwa pesawat internasional memberikan kontribusi sebesar 11.7%
terhadap total pesawat yang datang dan berangkat dari Bandara Padang. Sedangkan
penumpang internasional memberikan kontribusi sebesar 6.5% terhadap total penumpang
yang datang dan berangkat dari bandara Padang. Berdasarkan perbandingan ini, diketahui
bahwa pesawat dan penumpang domestik men- dominasi pertumbuhan bandara di
Sumbar.

Tabel Proyeksi Pertumbuhan Pesawat, Penumpang dan Kargo di Sumbar


Kapasitas Tahap I Tahap II (proyeksi tahun 2020)
Skenario I Skenario II
Angkutan Udara
(pesawat) Growth rate (pesawat) Growth rate
Pesawat Int’l 1.022 19.801 15.97% 13.982 13.31%
Pesawat Dom. 9.190 75.100 11.15% 25.038 3.30%
Jenis Pesawat DC-10 / MD-11 / B- MD-11 / B-
terbesar A-300 747 747

Penumpang Int’l 43.000 372.919 9.49% 260.637 6.90%


Penumpang 817.000 9.647.088 12.37% 2.733.787 3.31%
Dom.
Jemaah Haji 6.454 1.30% 19.094 8.90%

Kargo Int’l 680 136 6.21% 164 7.56%


Kargo Dom. 9.920 6.775 0.14% 13.317 4.76%

2.2.3. Sumber Pembiayaan


Pembangunan awal BIM dibangun dengan biaya yang berasal dari pinjaman JIBC (Japan
Bank for International Co-operation) dan rupiah murni masing-masing dengan rincian
Page 5
Pembiayaan Pembangunan 2010

dana konstruksi sebesar ¥ 8,615 milyar dan dana pendamping Rp. 89,150 milyar serta
biaya konsultasi ¥ 876,525 juta dan Rp. 8,511 milyar sebagai dana pendamping.
Perbandingan penggunaan dana untuk pembangunan adalah pinjaman luar negeri 81%
dan APBN 19%. Dan dalam tahap 2 sumber pembiayaannya direncanakan didapat dari
investor dan APBN dengan komposisi 75 % pinjaman luar negeri dan 25 % dana APBN.

2.2.4. Strategi Pembiayaan

Investasi dalam pembangunan Bandara Udara Internasional Minangkabau terdapat 2


skema yang menjadi dasar tindakan yang akan dilakukan untuk memenuhi tujuan
pembangunan Bandara Udara Internasional Minangkabau
1. Skema I
Rencana pengembangan akan dilakukan pada tahun 2008 s/d 2010.
- Modal investasi pembangunan awal berasal dari 81% pinjaman lunak luar negeri
dengan bunga pinjaman sebesar 1.8% dibayarkan secara Pokok + Bunga selama
30 tahun dengan grace period 10 tahun dan dana APBN 19%.
- Modal investasi untuk pengembangan tahap II menggunakan dua model pinjaman
yaitu:
a. Skema Ia. Modal yang berasal dari 75% pinjaman lunak luar negeri dengan
bunga pinjaman sebesar 1.3% dibayarkan secara Pokok + Bunga selama 30
tahun dengan grace period 10 tahun dan dana APBN 25%.
b. Skema Ib. Modal berasal dari 75% pinjaman luar negeri dengan bunga
pinjaman sebesar 7% dibayarkan secara Pokok + Bunga selama 7 tahun
dengan grace period 3 tahun dan dana APBN 25%.

2. Skema II
Rencana pengembangan akan dilakukan bertahap pada tahun 2008 s/d 2010 dan pada
tahun 2014 s/d 2016.
- Modal investasi pembangunan awal berasal dari 81% pinjaman luar negeri dengan

Page 6
Pembiayaan Pembangunan 2010

bunga pinjaman sebesar 1.8% dibayarkan secara Pokok ditambah dengan Bunga
selama 30 tahun dengan grace period 10 tahun dan dana APBN 19%.
- Modal investasi untuk pengembangan tahap II menggunakan dua model pinjaman
yaitu:
a. Skema IIa. Modal yang berasal dari 75% pinjaman lunak luar negeri
dengan bunga pinjaman sebesar 1.3% dibayarkan secara Pokok ditambah
dengan Bunga selama 30 tahun dengan grace period 10 tahun dan dana
APBN 25%.
b. Skema IIb. Modal yang berasal dari 75% pinjaman luar negeri dengan
bunga pinjaman sebesar 7% dibayarkan secara Pokok ditambah dengan
Bunga selama 7 tahun dengan grace period 3 tahun dan dana APBN 25%.

Page 7
Pembiayaan Pembangunan 2010

Page 8
Pembiayaan Pembangunan 2010

Tabel Biaya Pembangunan Tahap II

Page 9
Pembiayaan Pembangunan 2010

Satuan Mata Uang Tahap I Tahap II

Skenario I Skenario II

USD 89,240,838 157,323,320 47,649,537 Skema I


Rp. 853,167,543,20 1,415,909,882,19 428,845,836,644
9 8
USD 266,029,524 65,010,921 Skema II
Rp. 2,394,265,713,48 585,098,290,511
1

2.2.5 Telaah Kritis


Proyek pembangunan Bandar Udara Internasional ini memang telah memiliki prediksi
yang tertuang dalam skema skema rencana pembayaran maupun pelaksanaan yang cukup
lengkap. Namun dalam prediksi tetap saja tidak mungkin 100 % terjadi. Kita harus memprediksi
dalam keadaan terbaik maupun terburuk. Kelemahan dalam melakukan pembayaran adalah
kurangnya pengelolaan utang sehingga mengurangi kemampuan utnuk kosistensi melakukan
pembayaran sesuai dengan fluktuatif perubahan nilai mata uang, pertumbuhan penumpang,
labilnya kondisi ekonomi daerah yang melakukan pinjaman dll. Komposisi pendanaan proyek
Bandar Udara Internasional Minangkabau antar pemerintah dan JIBC juga mempengaruhi
besarnya biaya yang harus dikelurakan untuk pembayaran utang dalam proses. Semakin tinggi
komposisi pemerintah semakin sedikit pula biaya yang dihasilkan dari bunga pinjaman.
pembiayaan melalui obligasi dan BOT bisa digunakan sebagai alternatif pembiayaan.

Page 10
Pembiayaan Pembangunan 2010

BAB III
INSTRUMEN PEMBIAYAAN

3.1 Kajian Struktur Anggaran Daerah/Pusat


3.1.1 Pengertian dan Ruang Lingkup APBN
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan tahunan
pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. (Pasal 1 angka 7, UU
No. 17/2003). Merujuk Pasal 12 UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara, APBN
dalam satu tahun anggaran meliputi:

a. Hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih;
b. Kewajiban pemerintah pusat yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih;
c. Penerimaan yang perlu dibayar kembali dan atau pengeluaran yang akan diterima
kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun
anggaran berikutnya.

Tahun anggaran adalah periode pelaksanaan APBN selama 12 bulan. Sejak tahun 2000,
Indonesia menggunakan tahun kalender sebagai tahun anggaran, yaitu dari tanggal 1 Januari
sampai dengan tanggal 31 Desember. Sebelumnya, tahun anggaran dimulai tanggal 1 April

Page 11
Pembiayaan Pembangunan 2010

sampai dengan 31 Maret tahun berikutnya. Penggunaan tahun kalender sebagai tahun
anggaran ini kemudian dikukuhkan dalam UU Keuangan Negara dan UU Perbendaharaan
Negara (Pasal 4 UU No. 17/2003 dan Pasal 11 UU No. 1/2004).

Sebagaimana ditegaskan dalam Bagian Penjelasan UU No. 17/2003, anggaran adalah alat
akuntabilitas, manajemen, dan kebijakan ekonomi. Sebagai fungsi akuntabilitas, pengeluaran
anggaran hendaknya dapat dipertanggungjawabkan dengan menunjukkan hasil (result)
berupa outcome atau setidaknya output dari dibelanjakannya dana-dana publik tersebut.
Sebagai alat manajemen, sistem penganggaran selayaknya dapat membantu aktivitas
berkelanjutan untuk memperbaiki efektifitas dan efisiensi program pemerintah. Sedangkan
sebagai instrumen kebijakan ekonomi, anggaran berfungsi untuk mewujudkan pertumbuhan
dan stabilitas perekonomian serta pemerataan pendapatan dalam rangka mencapai tujuan
bernegara.

Merujuk Pasal 3 Ayat (4) UU No. 17/2003, APBN mempunyai fungsi otorisasi, perencanaan,
pengawasan, alokasi, distribusi dan stabilisasi. Fungsi otorisasi mengandung arti bahwa
anggaran negara menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang
bersangkutan. Fungsi perencanaan mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi
pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.
Fungsi pengawasan mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi pedoman untuk
menilai apakah kegiatan penyelenggaraan negara sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan. Fungsi alokasi mengandung arti bahwa anggaran negara harus diarahkan untuk
mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya, serta meningkatkan efisiensi dan
efektifitas perekonomian. Fungsi distribusi mengandung arti bahwa kebijakan anggaran
negara harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Fungsi stabilisasi mengandung arti
bahwa anggaran pemerintah menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan
keseimbangan fundamental perekonomian.

3.1.2 Pendapatan Negara dan Hibah.

Page 12
Pembiayaan Pembangunan 2010

Penerimaan APBN diperoleh dari berbagai sumber. Secara umum yaitu penerimaan pajak
yang meliputi pajak penghasilan (PPh), pajak pertambahan nilai (PPN), Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Cukai, dan Pajak
lainnya, serta Pajak Perdagangan (bea masuk dan pajak/pungutan ekspor) merupakan sumber
penerimaan utama dari APBN. Selain itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) meliputi
penerimaan dari sumber daya alam,
setoran laba BUMN, dan penerimaan bukan pajak lainnya, walaupun memberikan kontribusi
yang lebih kecil terhadap total penerimaan anggaran, jumlahnya semakin meningkat secara
signifikan tiap tahunnya. Berbeda dengan sistem penganggaran sebelum tahun anggaran
2000, pada system penganggaran saat ini sumber-sumber pembiayaan (pinjaman) tidak lagi
dianggap sebagai bagian dari penerimaan.

Dalam pengadministrasian penerimaan negara, departemen/lembaga tidak boleh


menggunakan penerimaan yang diperolehnya secara langsung untuk membiayai
kebutuhannya. Beberapa pengeculian dapat diberikan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan terkait.

3.1.3 Belanja Negara.


Belanja negara terdiri atas anggaran belanja pemerintah pusat, dana perimbangan, serta dana
otonomi khusus dan dana penyeimbang. Sebelum diundangkannya UU No. 17/2003,
anggaran belanja pemerintah pusat dibedakan atas pengeluaran rutin dan pengeluaran
pembangunan. UU No. 17/2003 mengintrodusing uniffied budget sehingga tidak lagi ada
pembedaan antara pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Dana perimbangan
terdiri atas dana bagi hasil, dana alokasi umum (DAU), dan dana alokasi khusus (DAK).
Sementara itu, dana otonomi khusus dialokasikan untuk provinsi Daerah
Istimewa Aceh dan provinsi Papua.

3.1.4 Defisit dan Surplus.


Defisit atau surplus merupakan selisih antara penerimaan dan pengeluaran. Pengeluaran yang
melebihi penerimaan disebut defisit; sebaliknya, penerimaan yang melebihi pengeluaran

Page 13
Pembiayaan Pembangunan 2010

disebut surplus. Sejak TA 2000, Indonesia menerapkan anggaran defisit menggantikan


anggaran berimbang dan dinamis yang telah digunakan selama lebih dari tiga puluh tahun.

Dalam tampilan APBN, dikenal dua istilah defisit anggaran, yaitu: keseimbangan primer
(primary balance) dan keseimbangan umum (overall balance). Keseimbangan primer adalah
total penerimaan dikurangi belanja tidak termasuk pembayaran bunga. Keseimbangan umum
adalah total penerimaan dikurangi belanja termasuk pembayaran bunga.

3.1.5 Pembiayaan.
Pembiayaan diperlukan untuk menutup defisit anggaran. Beberapa sumber pembiayaan yang
penting saat ini adalah: pembiayaan dalam negeri (perbankan dan non perbankan) serta
pembiayaan luar negeri (netto) yang merupakan selisih antara penarikan utang luar negeri
(bruto) dengan pembayaran cicilan pokok utang luar negeri.

3.1.6 Penyusunan dan Penetapan APBN


Proses penyusunan dan penetapan APBN dapat dikelompokkan dalam dua tahap, yaitu: (1)
pembicaraan pendahuluan antara pemerintah dan DPR, dari bulan Februari sampai dengan
pertengahan bulan Agustus dan (2) pengajuan, pembahasan dan penetapan APBN, dari
pertengahan bulan Agustus sampai dengan bulan Desember. Berikut ini diuraikan secara
singkat kedua tahapan dalam proses penyusunan APBN tersebut.

3.1.7 Pembicaraan Pendahuluan antara Pemerintah dan DPR.


Tahap ini diawali dengan beberapa kali pembahasan antara pemerintah dan DPR untuk
menentukan mekanisme dan jadwal pembahasan APBN. Kegiatan dilanjutkan dengan
persiapan rancangan APBN oleh pemerintah, antara lain meliputi penentuan asumsi dasar
APBN, perkiraan penerimaan dan pengeluaran, skala prioritas dan penyusunan budget
exercise untuk dibahas lebih lanjut dalam rapat antara Panitia Anggaran dengan Menteri
Keuangan dengan atau tanpa Bappenas. Pada tahapan ini juga diadakan rapat komisi antara
masing-masing komisi (Komisi I s.d IX) dengan mitra kerjanya (departemen/lembaga

Page 14
Pembiayaan Pembangunan 2010

teknis). Tahapan ini diakhiri dengan proses finalisasi penyusunan RAPBN oleh Pemerintah.
Secara lebih rinci, tahapan ini bisa dijelaskan sebagai berikut:

Menteri Keuangan dan Badan Perencanaan Nasional (BAPPENAS) atas nama Presiden
mempunyai tanggung jawab dalam mengkoordinasikan Penyusunan APBN. Menteri
Keuangan bertanggungjawab untuk mengkoordinasikan penyusunan anggaran belanja rutin.
Sementara itu Bappenas bersama-sama dengan Menteri Keuangan bertanggung jawab dalam
mengkoordinasikan penyusunan anggaran belanja pembangunan.

Persiapan anggaran dimulai dengan assessment indikator fiskal makro oleh Badan Analisa
Fiskal, Departemen Keuangan. Selanjutnya Menteri Keuangan dan Kepala Bappenas
menerbitkan Surat Edaran agar departemen teknis mengajukan usulan anggaran rutin maupun
pembangunan. Usulan anggaran rutin (Daftar Usulan Kegiatan, DUK) diajukan ke Direktorat
Jenderal Anggaran (DJA) pada bulan Juni. DUK tersebut lebih terfokus pada program
costing dan perubahan harga. DJA dan departemen teknis mereview DUK tersebut dengan
titik tekan pada costing ketimbang policy. Pada bulan Agustus, DJA menerbitkan pagu
pengeluaran rutin sebagai dasar bagi departemen teknis untuk menyusun anggaran rutin lebih
detil.

Sementara itu, usulan anggaran pembangunan diajukan oleh departemen teknis kepada DJA
dan Bappenas. DJA dan Bappenas mereview usulan anggaran pembangunan tersebut
berdasarkan Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) dan Rencana Pembangunan
Tahunan (REPETA). Menteri Keuangan memberikan pertimbangan mengenai pagu anggaran
pembangunan sebagai dasar pembahasan antara DJA, Bappenas, dan departemen teknis.
Selanjutnya pada bulan Agustus, Presiden mengajukan Nota Keuangan dan RAPBN kepada
DPR untuk mendapatkan persetujuan.

3.1.8 Pengajuan, pembahasan dan penetapan APBN.


Tahapan ini dimulai dengan Pidato Presiden sebagai pengantar RUU APBN dan Nota
Keuangan. Selanjutnya akan dilakukan pembahasan baik antara Menteri Keuangan dengan

Page 15
Pembiayaan Pembangunan 2010

Panitia Anggaran, maupun antara komisi-komisi dengan departemeen/lembaga teknis terkait.


Hasil dari pembahasan ini adalah Undang-undang APBN yang disahkan oleh DPR. UU
APBN kemudian dirinci ke dalam satuan 3. Satuan 3 yang merupakan bagian tak terpisahkan
dari undang-undang tersebut adalah dokumen anggaran yang menetapkan alokasi dana per
departemen/lembaga, Sektor, Sub Sektor, Program dan Proyek/Kegiatan. Apabila DPR
menolak RAPBN yang diajukan pemerintah tersebut, maka pemerintah menggunakan APBN
tahun sebelumnya. Hal itu berarti pengeluaran maksimum yang dapat dilakukan pemerintah
harus sama dengan pengeluaran tahun lalu.

Kemampuan APBN
Tahun Target Devisit Realisasi Realisasi Devisit Surplus
APBN-P Penerimaan Pengeluaran
2006 40 Triliun (1,3%) Rp 637,8 Rp 669,9 1 % (32 Triliun)
Triliun Triliun
2007 Rp 58,285 triliun Rp707,8 Rp757,16 1,2 % (50
(1,5%) Triliun Triliun Triliun)
2008 94,5 triliun (2,1%) Rp 981 Rp 985,3 0,1 % (4 Triliun)
Triliun Triliun
2009 129,8 Triliun Rp 866.8 Rp 954.0 1, 6 % (87,2 38 Triliun
(2,4%) Triliun Triliun Triliun)
Sumber : Depkeu.go.id
Bisa dilihat di tabel pembiayaan APBN dari tahun ke tahun masih menyisakan sisa terhadap
target APBN P. jumlah sisa terhadap APBN P lumayan besar bisa dihitung untuk mencapai nilai
2 Triliun hanya membutuhkan seper empat dari 0,3 % sisa defisit terhadap APBN P. Jadi untuk
membangun Bandara internsional Minangkabau sangat mudah. Namun Pemerintah
menggunakan SILPA tersebut untuk membiayai defisit APBN tahun berikutnya atau kebutuhan
lain yang prioritas dan bisa di manajemen dengan baik dan cepat pada tahun tersebut sehingga
tidak disalahgunakan. Sehingga tidak bisa begitu saja membangun tanpa ada prioritas yang pasti

Page 16
Pembiayaan Pembangunan 2010

3.2 Eksplorasi Sumber Pembiayaan Konvensional Dan Non Konvesional

3.2 eksplorasi sumber pembiayaan konvensional dan non konvesional


Secara teoritis, modal bagi pembiayaan pembangunan perkotaan dapat diperoleh dari 3 sumber
dasar:
1. pemerintah/publik
2. swasta/private
3. gabungan antara pemerintah dengan swasta
Untuk setiap modal tersebut, terdapat beberapa jenis instrumen keuangan yang secara umum
dikategorikan sebagai berikut:
1. pembiayaan melalui pendapatan (revenue financing)
2. pembiayaan melalui hutang (debt financing)
3. pembiayaan dengan kekayaan (equity financing)
3.2.1. Public Revenue Financing
Berdasarkan kategori ini ada 3 jenis instumen keuangan yang biasa digunakan, yaitu:
1. pajak
2. retribusi
3. betterment levies
Dilihat dari sifatnya maka pajak dan retribusi termasuk dalam kategori sumber keuangan
yang bersifat konvensional. Sementara itu, betterment levies merupakan instrumen yang bersifat
non konvensional.
3.2.1.1. Public Revenue Financing Yang Bersifat Konvensional
a. Pajak
Pajak merupakan instrumen keuangan konvensional yang sering digunakan di banyak
negara. Penerimaan pajak digunakan untuk membiayai prasarana dan pelayanan perkotaan yang
memberikan manfaat bagi masyarakat umum, yang biasa disebut juga sebagai "public goods".
Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada Kas Negara untuk membiayai

Page 17
Pembiayaan Pembangunan 2010

pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama
untuk membiayai public investment.

Ciri Ciri Pajak adalah :

1. Pajak dipungut berdasarkan undang-undang. Asas ini sesuai dengan perubahan ketiga
UUD 1945 pasal 23A yang menyatakan "pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa
untuk keperluan negara diatur dalam undang-undang."
2. Tidak mendapatkan jasa timbal balik (konraprestasi perseorangan) yang dapat
ditunjukkan secara langsung. Misalnya, orang yang taat membayar pajak kendaraan
bermotor akan melalui jalan yang sama kualitasnya dengan orang yang tidak membayar
pajak kendaraan bermotor.
3. Pemungutan pajak diperuntukkan bagi keperluan pembiayaan umum pemerintah dalam
rangka menjalankan fungsi pemerintahan, baik rutin maupun pembangunan.
4. Pemungutan pajak dapat dipaksakan. Pajak dapat dipaksakan apabila wajib pajak tidak
memenuhi kewajiban perpajakan dan dapat dikenakan sanksi sesuai peraturan perundag-
undangan.
5. Selain fungsi budgeter (anggaran) yaitu fungsi mengisi Kas Negara/Anggaran Negara
yang diperlukan untuk menutup pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan, pajak juga
berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan negara dalam
lapangan ekonomi dan sosial (fungsi mengatur / regulatif).

Jenis Pajak

Pajak Negara

• Pajak Penghasilan
• Pajak Pertambahan Nilai
• Pajak Penjualan Barang Mewah
• Pajak Bumi dan Bangunan
• Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
• Pajak Bea Masuk dan Cukai

Page 18
Pembiayaan Pembangunan 2010

Pajak Daerah

• Pajak Kendaraan bermotor


• Pajak radio
• Pajak reklame

Fungsi Pajak

• Fungsi anggaran (budgetair)

Sebagai sumber pendapatan negara, pajak berfungsi untuk membiayai pengeluaran


pengeluaran negara. Untuk menjalankan tugas-tugas rutin negara dan melaksanakan
pembangunan, negara membutuhkan biaya. Biaya ini dapat diperoleh dari
penerimaan pajak. Dewasa ini pajak digunakan untuk pembiayaan rutin seperti
belanja pegawai, belanja barang, pemeliharaan, dan lain sebagainya. Untuk
pembiayaan pembangunan, uang dikeluarkan dari tabungan pemerintah, yakni
penerimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran rutin. Tabungan pemerintah ini dari
tahun ke tahun harus ditingkatkan sesuai kebutuhan pembiayaan pembangunan yang
semakin meningkat dan ini terutama diharapkan dari sektor pajak.

• Fungsi mengatur (regulerend)

Pemerintah bisa mengatur pertumbuhan ekonomi melalui kebijaksanaan pajak.


Dengan fungsi mengatur, pajak bisa digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Contohnya dalam rangka menggiring penanaman modal, baik dalam negeri maupun
luar negeri, diberikan berbagai macam fasilitas keringanan pajak. Dalam rangka
melindungi produksi dalam negeri, pemerintah menetapkan bea masuk yang tinggi
untuk produk luar negeri.

• Fungsi stabilitas
Page 19
Pembiayaan Pembangunan 2010

Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan yang
berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi dapat dikendalikan, Hal ini bisa
dilakukan antara lain dengan jalan mengatur peredaran uang di masyarakat,
pemungutan pajak, penggunaan pajak yang efektif dan efisien.

• Fungsi redistribusi pendapatan

Pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai semua
kepentingan umum, termasuk juga untuk membiayai pembangunan sehingga dapat
membuka kesempatan kerja, yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan
pendapatan masyarakat.

Bagi pemerintah daerah tingkat II di Indonesia, penerimaan pajak yang terpenting dan
dominan adalah yang bersumber dari Pajak Pembangunan I, pajak hiburan/tontonan, dan pajak
reklame. Selain itu, PBB, yang pada dasarnya merupakan penerimaan bagi hasil dari pemerintah
pusat kepada pemerintah daerah, dapat dianggap juga sebagai sumber penerimaan pajak yang
utama bagi daerah tingkat II. Oleh karena itu, PBB sering bersama-sama dengan PAD
dikategorikan sebagai Penerimaan Daerah Sendiri (PDS).

b. Retribusi
Bentuk lainnya dari public revenue financing adalah retribusi. retribusi adalah pungutan
daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau
diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Berbeda dengan pajak
pusat seperti Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai yang dikelola oleh Direktorat Jenderal
Pajak, Retribusi yang dapat di sebut sebagai Pajak Daerah dikelola oleh Dinas Pendapatan Daerah
(Dispenda).Secara teoritis retribusi mempunyai 2 fungsi, yaitu 1) sebagai alat untuk mengatur
(mengendalikan) pemanfaatan prasarana dan jasa yang tersedia; dan 2) merupakan pembayaran
atas penggunaan prasarana dan jasa. Untuk wilayah perkotaan jenis retribusi yang umum
digunakan misalnya air bersih, saluran limbah, persampahan dan sebagainya.

Page 20
Pembiayaan Pembangunan 2010

Ciri ciri retribusi :


1. Retibusi dipungut oleh negara
2. Dalam pungutan terdapat pemaksaan secara ekonomis
3. Adanya kontra prestasi yang secara langsung dapat ditunjuk
4. Retribusi yang dikenakan kepada setiap orang / badan yang
menggunakan /
5. mengenyam jasa-jasa yang disediakan oleh negara.

Retribusi dikelompokkan menjadi 2 yaitu


1. Retribusi jasa umum, yaitu : retribusi atas jasa yang disediakan atau diberikan oleh
pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan umum serta dapat dinikmati oleh orang
pribadi atau badan.
2. Retribusi jasa usaha, yaitu : retribusi atas jasa yang disediakan oleh Pemda dengan
menganut prinsip komersial karena pada dasarnya disediakan oleh sektor swasta.

Pengenaan retribusi sangat erat kaitannya dengan prinsip pemulihan biaya (cost
recovery), dengan demikian retribusi ini ditujukan untuk menutupi biaya operasi, pemeliharaan,
depresiasi dan pembayaran hutang. Adapun tarif retribusi umumnya bersifat proporsional,
dimana tarif yang sama diberlakukan untuk seluruh konsumen, terlepas dari besarnya konsumsi
masing-masing konsumen. Namun demikian, di beberapa daerah yang maju, misalnya di Jakarta,
besarnya retribusi untuk prasarana tertentu, seperti pelayanan air bersih cenderung bersifat
progresif, dimana semakin banyak konsumsi air bersih akan semakin tinggi tarif retribusinya.
Jenis retribusi yang memberikan sumbangan penerimaan relatif tinggi bagi pemerintah
daerah adalah berasal dari retribusi perizinan, parkir, dan pasar. Secara rata-rata, dalam tahun
1990/91 penerimaan retribusi mencapai sekitar 65% (kota kecil) dan 47% (kota besar) dari total
penerimaan asli daerah.

3.2.1.2. Public Revenue Financing Yang Bersifat Non Konvensional

Page 21
Pembiayaan Pembangunan 2010

Bentuk lain dari public revenue financing namun yang bersifat non-konvensional ialah
betterment levies, yaitu merupakan tagihan modal (capital charges) yang ditujukan untuk
menutupi/membiayai biaya modal dari investasi prasarana. Dalam kenyataannya, jenis pungutan
ini relatif kurang banyak digunakan. Adapun tujuan utama dari pengenaan jenis pungutan ini
adalah mendorong masyarakat yang memperoleh manfaat dari adanya prasarana umum agar
turut menanggung biayanya. Dengan demikian, pungutan ini dikenakan langsung kepada mereka
yang memperoleh manfaat langsung dari adanya perbaikan prasarana umum tersebut. Adapun
dasar pengenaannya bisa didasarkan atas jumlah area atau berdasarkan nilai taksiran manfaat
yang diperolehnya.
3.2.2 Private Revenue Financing
Jenis instrumen keuangan yang biasa digunakan dalam kelompok ini antara lain adalah:
1. connection fees (biaya penyambungan);
2. development impact fees,
Dari kedua jenis instrumen di atas, connection fees cenderung dikategorikan sebagai
instrumen keuangan yang bersifat konvensional, sementara itu development impact fees
dikategorikan sebagai instrumen keuangan yang bersifat nonkonvensional.
3.2.2.1. Private Revenue Financing Yang Bersifat Konvensional
Connection fees merupakan pungutan yang dikenakan oleh perusahaan jasa pelayanan
kepada individu, misalnya air bersih, saluran pembuangan kotoran, dan telephone. Tujuan utama
dari dikenakannya pungutan ini adalah untuk menutupi biaya yang timbul sebagai akibat adanya
tambahan konsumen dalam jaringan yang sudah ada. Walaupun secara tradisional sebenarnya
jenis pungutan ini termasuk dalam kategori "private revenue financing", namun di Indonesia
lebih dikenal sebagai "public revenue financing", karena umumnya perusahaan-perusahaan yang
menyelenggarakan jenis-jenis pelayanan tersebut adalah perusahaan pemerintah.
1. connection fees (biaya penyambungan);
2. development impact fees,
Dari kedua jenis instrumen di atas, connection fees cenderung dikategorikan sebagai
instrumen keuangan yang bersifat konvensional, sementara itu development impact fees
dikategorikan sebagai instrumen keuangan yang bersifat nonkonvensional.
3.2.2.2. Private Revenue Financing Yang Bersifat Non-Konvensional

Page 22
Pembiayaan Pembangunan 2010

Development impact fees dibayar oleh developer kepada pemerintah daerah atau
perusahaan daerah sebagai kompensasi dari adanya dampak yang ditimbulkan karena adanya
pembangunan baru, misalnya pembangunan kompleks perumahan, yang berdampak pada
dibutuhkannya prasarana baru di luar kompleks yang bersangkutan, misalnya, saluran
pembuangan kotoran, sistem transportasi dan sumber air bersih. Tujuan utama dari pengenaan
pungutan ini adalah untuk menutupi biaya yang berkaitan dengan pembangunan prasarana yang
dibutuhkan sebagai akibat dari adanya pembangunan di suatu lokasi, misalnya kompleks
perumahan, industri, dan sebagainya. Pungutan ini biasanya dikenakan pada saat izin membuat
bangunan (IMB) dikeluarkan oleh pemerintah daerah, sehinggan lebih merupakan pungutan yang
harus dibayar di muka.
3.3. Public-Private Revenue Financing
Land readjustment merupakan salah satu instrumen keuangan yang biasa digunakan
dalam kelompok ini. Dilihat dari sifatnya, maka land readjustment dapat dikategorikan sebagai
instrumen yang bersifat non-konvensional. Instrumen ini dinilai cukup kompleks, dan biasa
diterapkan pada suatu daerah tertentu yang relatif belum berkembang namun mempunyai catatan
regristrasi tanah yang akurat dan lengkap. Umumnya dengan adanya land readjustment luas
tanah yang dimiliki seseorang akan berkurang namun nilainya akan bertambah. Hal inilah yang
merupakan motivasi utama yang mendorong dilakukannya land readjustment. Contoh-contoh
negara yang telah berhasil melaksanakan program land readjustment di kawasan Asia adalah
Jepang, Korea, Taiwan, dan Hong Kong.
3.4. Public Debt Financing
Jenis instrumen keuangan yang biasa digunakan dalam kategori ini antara lain adalah:
1. pinjaman
2. obligasi
Pinjaman merupakan instrumen keuangan yang bersifat konvensional, sedangkan obligasi
bersifat non konvensional.
3.4.1. Public Debt Financing Yang Bersifat Konvensional
Pinjaman merupakan instrumen keuangan yang sering digunakan dalam kelompok ini.
Secara umum pinjaman mempunyai jangka waktu lebih pendek dan relatif lebih mahal
dibandingkan dengan obligasi. Namun demikian, pemerintah atau perusahaan daerah bisa

Page 23
Pembiayaan Pembangunan 2010

melakukan pinjaman tidak hanya dalam bentuk pinjaman komersial, tetapi dapat juga dalam
bentuk pinjaman non komersial, baik yang bersumber dari dalam negeri maupun luar negeri
(melalui pemerintah pusat).
3.4.2. Public Debt Financing Yang Bersifar Non Konvensional
Obligasi merupakan instrumen keuangan yang bersifat non-konvensional. Obligasi
adalah suatu istilah yang dipergunakan dalam dunia keuangan yang merupakan suatu pernyataan
utang dari penerbit obligasi kepada pemegang obligasi beserta janji untuk membayar kembali
pokok utang beserta kupon bunganya kelak pada saat tanggal jatuh tempo pembayaran.
Ketentuan lain dapat juga dicantumkan dalam obligasi tersebut seperti misalnya identitas
pemegang obligasi, pembatasan-pembatasan atas tindakan hukum yang dilakukan oleh penerbit.
Obligasi pada umumnya diterbitkan untuk suatu jangka waktu tetap di atas 10 tahun. Selama ini
dikenal 3 jenis obligasi, yaitu general obligation bonds (obligasi umum), revenue bonds (obligasi
pendapatan) dan double barrel bonds. Obligasi umum dijamin oleh penerimaan pajak dan
penerimaan umum lainnya, sementara obligasi pendapatan dijamin oleh satu jenis penerimaan
bukan pajak (spesifik). Double barrel bonds merupakan kombinasi dari kedua jenis obligasi
tersebut, yang dijamin baik oleh penerimaan umum (pajak) maupun penerimaan spesifik proyek.

Fitur yang terpenting dalam suatu obligasi adalah :

 Nilai nominal atau nilai utang pokok , yaitu nilai yang harus dibayar bunganya oleh
penerbit dan harus dilunasi pada saat akhir masa jatuh tempo.

 Harga penerbitan, yaitu suatu harga yang ditawarkan kepada investor pada saat
penjualan perdana obligasi. Nilai bersih yang diterima oleh penerbit adalah setelah dikurangi
dengan biaya-biaya penerbitan.

 Tanggal jatuh tempo, yaitu suatu tanggal yang ditetapkan dimana pada saat tersebut
penerbit wajib untuk melunasi nilai nominal obligasi. Sepanjang pembayaran kembali /
pelunasan tersebut telah dilakukan maka penerbit tidak lagi memiliki kewajiban kepada
pemegang obligasi setelah lewat tanggal jatuh tempo obligasi tersebut. Beberapa obligasi
diterbitkan dengan masa jatuh tempo hinga lebih dari seratus tahun. Pada awal tahun 2005,

Page 24
Pembiayaan Pembangunan 2010

pasar atas obligasi euro dengan masa jatuh tempo selama 50 tahun mulai berkembang. Pada
pasaran Amerika dikenal 3 kelompok masa jatuh tempo obligasi yaitu :

a) Jangka pendek (surat utang atau bill): yang masa jatuh temponya hingga 1 tahun;
b) Medium Term Note: masa jatuh temponya antara 1 hingga 10 tahun;
c) Jangka panjang (obligasi atau bond): jatuh temponya di atas 10 tahun.

 Kupon, suku bunga yang dibayarkan oleh penerbit kepada pemegang obligasi. Biasanya
suku bunga ini memeiliki besaran yang tetap sepanjang masa berlakunya obligasi, tetapi juga
bisa mengacu kepada suatu indeks pasar uang seperti LIBOR, dan lain-lain. Istilah "kupon"
ini asal mulanya digunakan karena dimasa lalu secara fisik obligasi diterbitkan bersama
dengan kupon bunga yang melekat pada obligasi tersebut. Pada tanggal pembayaran kupon,
pemegang obligasi akan menyerahkan kupon tersebut ke bank guna ditukarkan dengan
pembayaran bunga.

 Tanggal kupon, tanggal pembayaran bunga dari penerbit kepada pemegang obligasi.
Di Amerika, kebanyakan pembayaran kupon obligasi dilakukan secara "tengah tahunan",
yang artinya pembayaran kupon dilakukan setiap 6 bulan sekali. Di Eropa, kebanyakan
obligasi adalah secara "tahunan" atau 1 kupon pertahun.

 Dokumen resmi , suatu dokumen yang menjelaskan secara terinci hak-hak dari
pemegang saham. Di Amerika, ketentuan ini diatur oleh departemen keuangan pemerintah
dan undang-undang komersial dimana dokumen ini di hadapan pengadilan diperlakukan
sebagai suatu kontrak. Ketentuan dalam dokumen resmi tersebut sulit sekali diubah dimana
perubahan hanya dapat dilakukan atas persetujuan mayoritas pemegang obligasi.

 Hak opsi: suatu obligasi dapat memuat ketentuan mengenai hak opsi kepada pembeli
obligasi ataupun penerbit obligasi.

 Hak pelunasan, beberapa obligasi memberikan hak kepada penerbit untuk


melunasi obligasi tersebut sebelum masa jatuh tempo obligasi. Obligasi jenis ini
dikenal sebagai obligasi opsi beli. Kebanyakan obligasi jenis ini memberikan hak

Page 25
Pembiayaan Pembangunan 2010

kepada penerbit untuk melakukan pelunasan obligasi pada nilai pari. Pada beberapa
obligasi mengharuskan penerbit untuk membayar premi yang disebut premi opsi. Ini
utamanya digunakan bagi obligasi berbunga tinggi. Pada obligasi jenis ini terdapat
banyak sekali persyaratan yang ketat yang membatasi kegiatan operasional penerbit,
maka guna membebaskan penerbit dari pembatasan-pembatasan dilakukanlah
pelunasan dini atas obligasi tersebut. namun dengan biaya yang lebih tinggi.

 Hak jual, beberapa obligasi memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk
memaksa penerbit melakukan pelunasan awal atas obligasinya sebelum masa jatuh
tempo; lihat opsi jual.

 Tanggal pelaksanaan opsi adalah tanggal dimaka opsi beli atau opsi jual dapat
dilaksanakan sebelum masa jatuh tempo obligasi, dimana pada umumnya terdapat 4
cara pelaksanaan opsi yang demikian ini yaitu :

 Gaya Bermuda memiliki beberapa tanggal pelaksanaan yang biasanya


disesuaiakan dengan tanggal kupon.

 Gaya Eropa hanya memiliki satu tanggal pelaksanaan , ini merupakan kasus
khusus gaya Bermuda.

 Gaya Amerika opsi dapat dilaksanakan setiap saat hingga masa jatuh tempo.

 Penjualan karena kematian adalah opsi yang diberikan kepada ahli waris
pemegang opsi untuk menjual kembali obligasinya kepada penerbit dalam hal
terjadinya kematian pada pemegang obligasi atau menderita cacat tetap.

 Dana jaminan atau yang juga dinenal dengan istilah sinking fund adalah merupakan
suatu syarat dalam "dokumen resmi" yang mensyaratkan adanya suatu porsi tertentu dari
obligasi yang dapat dicairkan berkala. Penerbit juga dapat membayar kepada wali
amanat yaitud engan cara melakukan pembelian secara acak atas obligasi yang
diterbitkannya atau pilihan lainnya dengan membeli obligasi di pasaran lalu
menyerahkannya kepada wali amanat.Obligasi konversi adalah obligasi yang
Page 26
Pembiayaan Pembangunan 2010

mengizinkan pemegang obligasi untuk menukarkan obligasi yang dipegangnya dengan


sejumlah saham perusahaan penerbit.

 Obligasi tukar atau dikenal juga dengan nama Exchangeable bond ("XB") yang
memperkenankan pemegang obligasi untuk menukarkan obligasi yang dipegangnya
dengan saham perusahaan selain daripada saham perusahaan penerbit, biasanya dengan
saham anak perusahaan penerbit.

Obligasi di Indonesia

Secara umum jenis obligasi dapat dilihat dari penerbitnya, yaitu, Obligasi perusahaan
dan Obligasi pemerintah. Obligasi pemerintah sendiri terdiri dalam beberapa jenis, yaitu:

1. Obligasi Rekap, diterbitkan guna suatu tujuan khusus yaitu dalam rangka Program
Rekapitalisasi Perbankan;
2. Surat Utang Negara (SUN), diterbitkan untuk membiayai defisit APBN;
3. Obligasi Ritel Indonesia (ORI), sama dengan SUN, diterbitkan untuk membiayai
defisit APBN namun dengan nilai nominal yang kecil agar dapat dibeli secara ritel;
4. Surat Berharga Syariah Negara atau dapat juga disebut "obligasi syariah" atau
"obligasi sukuk", sama dengan SUN, diterbitkan untuk membiayai defisit APBN namun
berdasarkan prinsip syariah.

Tahapan yang harus dilalui untuk mengeluarkan obligasi :

1. mendapat persetujuan dari security exchange commission


2. menetapkan tanggal jatuh tempo dan bunga yang ditawarkan
3. berhubungan dengan stockbroker untuk mencari pembeli
4. mengumumkan kepada masyarakat

Pasar obligasi

Page 27
Pembiayaan Pembangunan 2010

Sebagai suatu efek, obligasi bersifat dapat diperdagangkan.

Ada dua jenis pasar obligasi yaitu:

1. Pasar Primer Merupakan tempat diperdagangkannya obligasi saat mulai diterbitkan.


Salah satu persyaratan ketentuan Pasar Modal, obligasi harus dicatatkan di bursa
efek untuk dapat ditawarkan kepada masyarakat, dalam hal ini lazimnya adalah di Bursa
Efek Surabaya (BES) sekarang Bursa Efek Indonesia (BEI).

2. Pasar Sekunder Merupakan tempat diperdagangkannya obligasi setelah diterbitkan dan


tercarat di BES, perdagangan obligasi akan dilakukan di Pasar Sekunder. Pada saat ini,
perdagangan akan dilakukan secara Over the Counter (OTC). Artinya, tidak ada tempat
perdagangan secara fisik. Pemegang obligasi serta pihak yang ingin membelinya akan
berinteraksi dengan bantuan perangkat elektronik seperti email, online trading, atau
telepon.

Dilihat dari tingkat resikonya, maka obligasi pendapatan mempunyai tingkat resiko yang
lebih tinggi dibandingkan obligasi umum. Hal ini disebabkan karena jaminan bagi obligasi
pendapatan hanya berasal dari satu jenis penerimaan proyek saja (spesifik), dengan demikian
apabila proyek tersebut gagal atau tidak dapat mencapai target penerimaan yang diharapkan,
maka akan mempengaruhi kondisi obligasi tersebut. Oleh karena itu, sebagai kompensasinya
tingkat bunga obligasi pendapatan lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi umum.
Salah satu aspek penting yang menunjang berkembangnya obligasi perkotaan di negara
lain, misalnya Amerika Serikat, adalah diberlakukan "tax exempt" bagi jenis obligasi tersebut.
Adanya tax exempt ini pada gilirannya akan mengurangi biaya tingkat bunga dan besarnya
cicilan, sehingga mendorong masyarakat untuik menanamkan uangnya ke dalam bentuk investasi
ini.

3.5. Private Debt Financing

Page 28
Pembiayaan Pembangunan 2010

Jenis instrumen keuangan yang biasa digunakan dalam kategori ini adalah development
exactions, yang dilihat dari sifatnya dikategorikan sebagai instrumen keuangan non
konvensional. Pungutan ini dikenakan pada developer dalam rangka pembangunan prasarana di
dalam lingkungan (on-site) area pembangunan, sebagai salah satu syarat sebelum pembangunan
itu sendiri di mulai. Adapun jenis prasarana yang biasanya diharapkan dari developer yang
bersangkutan adalah jalan, saluran air bersih dan kotor, penerangan jalan, taman, dan sebagainya.
Berbeda dengan development imnpact fees, dimana bessarnya pungutan ditentukan oleh
pemerintah/perusahaan daerah, besarnya pungutan development exaction ini ditentukan
berdasarkan negosiasi/perjanjian antara developer dengan institusi yang mewakili aktivitas
masyarakat daerah yang bersangkutan. Salah satu keuntungan dari development exaction adalah
tidak ada biaya konstruksi prasarana yang ditanggung oleh pemerintah. Namun demikian,
instrumen ini juga mempunyai kekurangan, yaitu kemungkinan terjadinya pembangunan
prasarana di bawah standard.
3.6. Private-Public Debt Financing
Dua jenis instrumen keuangan yang biasa digunakan dalam kelompok ini ialah:
1. excess condemnation
2. linkage
Kedua jenis instrumen tersebut dikategorikan sebagai instrumen keuangan non-konvensional.
3.6.1. Excess Condemnation
Excess condemnation merupakan metode pembiayaan prasarana secara tidak langsung,
dimana sejumlah tanah disisihkan untuk pembangunan prasarana, dan sejumlah lainnya
diberikan padsa developer swasta untuk pembangunan komersial. Sebagai imbalannya,
developer berkewajiban untuk membangun prasarana yang dibutuhkan. Instrumen ini biasa
digunakan untuk membangun kembali daerah-daerah kumuh ("slum"), dimana melalui instrumen
ini penyediaan prasarana perkotaan di daerah tersebut dapat dilaksanakan tanpa dibiayai oleh
sektor publik.
3.6.2. Linkage
Linkage pada dasarnya merupakan pendekatan yang bersifat langsung, dimana developer
diharuskan menyediakan dan membiayai prasarana yang sejenis (paralel) di daerah lain yang
kurang diinginkan, dalam rangka mendapatkan persetujuan pembangunan di daerah yang mereka

Page 29
Pembiayaan Pembangunan 2010

inginkan. Metode semacam ini di Indonesia sudah mulai dikenal, khususnya berkaitan dengan
pembangunan perumahan, dimana para developer diwajibkan untuk pembangunan perumahan
sederhana sebagai kompensasi diberikannya izin untuk membangun perumahan mewah.
3.7. Private-Public Equity Financing
Instrumen keuangan yang biasa digunakan dalam kelompok ini adalah:
1. joint ventures
2. concessions
Dilihat dari sifatnya, maka kedua jenis instrumen ini tergolong sebagai instrumen keuangan non-
konvensional.
3.7.1. Joint Ventures
Joint ventures (Perusahaan Patungan) adalah sebuah kesatuan yang dibentuk antara 2
pihak atau lebih untuk menjalankan aktivitas ekonomi bersama. Pihak-pihak itu setuju untuk
berkelompok dengan menyumbang keadilan kepemilikan, dan kemudian saham
dalam penerimaan, biaya, dan kontrol perusahaan. dalam perusahaan Patungan kerjasama antara
swasta dengan pemerintah (private-public partnership) dimana masing-masing pihak mempunyai
posisi yang seimbang dalam perusahaan yang bersangkutan. Tujuan utama dari kerjasama ini
adalah untuk memadukan keunggulan yang dimiliki sektor swasta, misalnya modal, teknologi
dan kemempuan manajemen, dengan keunggulan yang dimiliki oleh sektor pemerintah, misalnya
sumber-sumber, kewenangan dan kepercayaan masyarakat.
Alasan Pembentukan

Alasan internal

1. Membangun kekuatan perusahaan


2. Menyebarkan biaya dan risiko
3. Menambah akses ke sumber daya keuangan
4. Ekonomi skala dan keuntungan kekuatan
5. Akses ke teknologi dan pelanggan baru
6. Akses ke praktek manajer inovatif

Tujuan persaingan

Page 30
Pembiayaan Pembangunan 2010

1. Mempengaruhi evolusi struktural industri


2. Kompetisi sebelum selesai
3. Tanggapan defensif untuk menghapuskan batas-batas industri
4. Penciptaan unit kompetisi yang kuat
5. Kecepatan pasar
6. Menambah ketangkasan

Tujuan strategi

1. Sinergi
2. Transfer teknologi/kecakapan
3. Diversifikasi

3.7.2. Concessions
Adapun concessions antara private dengan public dapat terjadi dalam berbagai bentuk,
diantaranya adalah: kontrak jasa, kontrak manajemen, kontrak sewa, BOT (Build, Operate, and
Transfer), BOO (Build, Operate, and Own), dan divestiture (sektor swasta mengambil alih
seluruh kontrol perusahaan dengan membeli seluruh aset pemerintah).
BOT adalah suatu perjanjian dimana pihak pertama tanpa melepas haknya atas suatu bidang
tanah mengikatkan diri untuk menyerahkan penguasan atas tanah tesebut untuk pendirian suatu
bangunan komersial kepada pihak kedua yang mengikatkan dirinya untuk membangun bangunan
komersial atas biayanya sendiri, mengelola dan mengoperasikan untuk suatu jangka waktu degan
atau tanpa imbalan yang telah disepakati serta menyerahkan bangunan tesebu kepada pihak
pertama dalam keadaan dapat dan siap dioperasikan setelah jangka waktunya berakhir.

Untuk melakukan kerjasama bentuk Build Operate and Transfer ini harus melakukan tiga
perjanjian perjanjian terlebih dahulu. Tahapan dalam perjanjian Build Operate transfer, yaitu:
1. Tahap pembangunan: Pihak pertama menyerahkan tanahnya kepada pihak lain untuk
dibangun.

Page 31
Pembiayaan Pembangunan 2010

2. Tahap operasional : Berfungsi mendapatkan penggantian biaya atas pembangunan dalam


jangka waktu tertentu. Dalam tahapan operasional ini dibedakan menjadi 2 yaitu:
a) Perjanjian BOT dengan fee (Pemilik tanah dpt sejumlah fee dari pihak kedua).
b) Perjanjian BOT tanpa fee (Pemilik tanah tidak dapat fee dari pihak kedua)
3. Tahap transfer : Pihak kedua menyerahkan kepemilikan bangunan komersial kapada
pemilik tanah.

Pada Bangun Guna Serah Build-Operate-Transfer (BOT) memiliki beberapa unsur dalam
perjanjian BOT, antara lain:
1. Adanya pihak sebagai pemegang hak eksklusif, biasanya dalam hal ini pemerintah
department/lembaga pemerintah non department (LPND) ataupun pihak swasta lain
sebagai pemiliki sebidang tanah yang letaknya strategis dikawasan bisnis.
2. Hak eksklusif yang dimiliki departemen/LPND ataupun tanah yang letaknya strategis
dikawasan bisnis tersebut perlu diwujudkan fisik bangunannya untuk pelayanan
masyarakat.
3. Unutk mewujudkan fisik bangunan, baik yang timbul dari hak eksklusif ataupun
bangunan yang diperlukan diatas tanah dikawasan bisnis tersebut (keduanya bisa disebut
proyek infrastruktur, karena perlu dana yang cukup besar) diperlukan dana yang cukup
besar.
4. Dana untuk mewujudkan proyek infrastruktur tersebur tidak tersedia di APBN (anggaran
pendapatan dan belanja negara) departemen/LPND bersangkutan ataupun pemilik tanah
dikawasan bisnis tersebut tidak cukup memiliki dana untuk membangun proyek
infrastukturnya.
5. Sebagai ganti atas dana yang dikeluarkan oleh investor untuk membangun proyek
infrastruktur tersebut kepada investor dalam jangka wakt tertentu diberi hak atas untuk
mengelola bangunan fisik bersangkutan guna diambil manfaat ekonominya dengan pola
bagi hasil dengan pemilik hak eksklusif ataupun pihak swasta pemilik tanah
6. Dengan lewatnya jangka waktu konsesi, maka tanah bangunan beserta sarana dan
prasaranya diserahkan kepada pemilik hak eksklusif ataupun pemilik tanah bersangkutan
untuk dikelola lebih lanjut.

Page 32
Pembiayaan Pembangunan 2010

Dalam perjanjian Build Operate Transfer terdapat beberapa pihak yang menjalani kerjasama ini.
para pihak yang mengadakan perjanjian ini antara lain:
1. Pihak pertama
a. Pemilik lahan strategis (swasta)
Yang dimaksud sebagai pemilik lahan strategis (swasta) disini adalah
pihak yang menyediakan tanah yang letaknya strategis pada jalur
perekonomian ataupun yang letaknya sangat mungkin diambil manfaat
ekonominya secara besar.
b. Pihak pemilik hak eksklusif
Lain halnya dengan pihak pemilik hak eksklusif (pemerintah) dalam
perjanjian BOT. dalam hal ini yang dimaksud sebagai pihak pemilik hak
ekslusif (pemerintah) adalah suatu badan hukum pemerintah yang
berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan memiliki hak untuk
menjalankan suatu usaha tertentu.

2. Pihak Kedua
Yang dimaksud sebagai pihak kedua disini adalah investor yang menanamkan
dananya untuk membangun proyek yang dibiayai dengan system bangun serah,
yang dalam hal ini bisa perorangan bisa suatu badan usaha atau suatu kumpulan
badan hukum yang menyediakan dana untuk membiayai objek perjanjian bangun
guna serah (BOT).
Perjanjian build operate and transfer ini memiliki beberapa keuntungan dalam segi ekonomi dan
non ekonomis. Manfaat dari segi ekonomis antara lain:
Keuntunhgan bagi pihak swasta pemilik lahan
a) Pemilik lahan dengan tidak mengeluarkan biaya pada saat berakhirnya perjanjian BOT
akan memiliki bangunan
b) Pemilik lahan secara terentas dari kemiskinan karena disamping akan mendapat
bangunan, biasanya juga mendapat uang dan dengan uang itu bisa dimanfaatkan untuk
usaha lain.

Page 33
Pembiayaan Pembangunan 2010

Keuntungan bagi pemerintah


a) Pemerintah dapat mengurangi pengguanaan dana APBN, APBD dan mengurangi jumlah
pinjaman
b) Menguntungkan secara financial dan administrative
c) Pada akhir masa pengelolaan oleh pihak investor, segala bangunan dan fasilitas yang ada
diserahkan kepada pemerinah
d) Tidak menimbulkan beban utang bagi pemerintah
e) Membuka lapangan kerja baru
f) Mempercepat proses alih teknologi terutama jika investor luar negeri

Keuntungan bagi investor


a) Membuka kesempatan kepada investor, untuk memasuki bidang-bidang usaha yang
semula hanya diberikan atau dikelola oleh pemerintah atau BUMN
b) Memperluas usaha atau ekspansi kebidang-bidang usaha yang mempunyai prospek baik
dan menguntungkan
c) Menciptakan bidang dan iklim yang baru
d) Dapat memanfaatkan lahan-lahan strategis.

BAB IV
SKEMA PENANGANAN KASUS

4.1. Analisis Finansial Sederhana


Berdasarkan proyeksi pertumbuhan angkutan udara proyeksi tahun 2020, kemudian
dihitung kelayakan ekonomi dan finansial Skenario 1 dan Skenario 2 terhadap model investasi
Skema I dan Skema II. Hasil perhitungan indikator kelayakan ekonomi skenario 1 dan skenario 2
Skema I dan Skema II dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini memiliki IRR lebih besar dari pada

Page 34
Pembiayaan Pembangunan 2010

MARR yang disyaratkan yaitu 15%, dengan kata lain kedua skenario ini feasible untuk
dibangun. Pada Skema I, Skenario 1 memiliki NPV lebih besar dari pada Skenario 2, namun
memiliki IRR lebih kecil dibandingkan Skenario 2. Sedangkan pada Skema II, NPV Skenario 1
< NPV Skenario 2 dan IRR Skenario 1 < IRR Skenario 2. Untuk mengetahui skenario investasi
mana yang lebih menguntungkan untuk dibangun maka perlu dilakukan analisa incremental
terhadap kedua model skema investasi. Diketahui Skenario 1 memiliki biaya lebih besar dari
pada Skenario 2 sehingga Skenario 1 dianggap sebagai The Higher Cost Alternative, sedangkan
Skenario 2 dianggap sebagai The Lower Cost Alternative.

Tabel Indikator Kelayakan Ekonomi Skema I dan II BIM Padang


Bunga Skenario NPV (USD IRR B/C Payback Period
Pinjaman 1000)
Skema Skema Skema Skema Skema Skema Skema Skema
I II I II I II I II
1,3% 1 15,345 12,718 29,05% 28,82% 1,21 1,17 11 13
tahun tahun
10 5
bulan bulan
2 12,046 17,355 30,96% 33,92% 1,03 1,14 7 5
tahun tahun
8 7
bulan bulan
7% 1 12,583 9,290 28,18% 27,61% 1,05 1,02 12 14
tahun tahun
6 2
bulan bulan
2 11,210 16,369 30,51% 33,61% 1,01 1,13 7 4
tahun tahun
9 11
bulan bulan

Pada Tabel 5 berikut ini, diketahui Skema I memiliki NPV dan ΔROR lebih besar
daripada Skema II. Berdasarkan hasil perhitungan incremental analysis ini, maka Skenario 1
Page 35
Pembiayaan Pembangunan 2010

Skema I dianggap lebih menguntungkan dan feasible untuk dibangun daripada Skenario I Skema
II.

Tabel Indikator Kelayakan Ekonomi Incremental Analysis BIM Padang


Bunga Skema NPV (USD ROR B/C Payback
Pinjaman 1000) Period
1,30% I 15.361 23,97% 1,37 17 Tahun 11
Bulan
II 4.817 19,39% 1,51 22 Tahun 3
Bulan
7% I 12.024 23,31% 1,29 18 Tahun 8
Bulan
II 8.732 18,82% 1,42 23 Tahun

Keterangan
NPV (Net Present Value)
Pengertian NPV adalah NPV merupakan selisih antara pengeluaran dan pemasukan yang telah
didiskon dengan menggunakan social opportunity cost of capital sebagai diskon faktor, atau
dengan kata lain merupakan arus kas yang diperkirakan pada masa yang akan datang. Untuk
menghitung NPV diperlukan data tentang perkiraan biaya investasi, biaya operasi, dan
pemeliharaan serta perkiraan manfaat/benefit dari proyek yang direncanakan.

IRR
IRR berasal dari bahasa Inggris Internal Rate of Return disingkat IRR yang merupakan indikator
tingkat efisiensi dari suatu investasi. Suatu proyek/investasi dapat dilakukan apabila laju
pengembaliannya (rate of return) lebih besar dari pada laju pengembalian apabila melakukan
investasi di tempat lain (bunga deposito bank, reksadana dan lain-lain).

MARR (Minimum Attractive Rate of Return)


Suatu keuntungan yang diperoleh oleh suatu perusahaan atau kegiatan.

Page 36
Pembiayaan Pembangunan 2010

BCR (Benefit Cost Ratio)


Suatu perhitungan yang digunakan untuk menghitung suatu manfaat dari suatu kegiatan. Jika
perbandingan manfaat dan biaya B/C > 1 maka kegiatan tersebut dinyatakan untung dan jika B/C
< 1 maka kegiatan tersebut rugi dan jika B/C = 1 maka tidak untung dan tidak rugi.

4.2 Pemilihan Sumber Pembiayaan


Dalam kasus pembangunan dan pengembangan Bandar Udara Internasional pembaiayaan
proyek ini termasuk dalam jenis pembiayaan non konvensional dimana cirri pembiayaan non
konvensional adalah terjadinya kerjasama antar pihak swasta dan pemerintah. Dalam kajian
disebutkan dana pembiayaan pembangunan BIM tahap dua adalah berupa investasi yang tertuang
dalam skema scenario pembiayaan yang direncanakan. Proyek ini termasuk pembiayaan
konvensional dalam jenis obligasi dimana pemberian pinjaman tersebut berjangka waktu
panjang.
Pembiayaan yang paling Ideal adalah pembiayaan secara mandiri karena tidak akan
menanggung bunga atau pembengkakan biaya akibat pinjaman atau suatu kerja sama lain.
Namun hal itu cukup sulit karena harus melihat kempuan keuangan daerah tersebut. Banyak hal
yang perlu diprioritaskan untuk pembangunan suatu daerah sehingga tidak bisa hanya
mengalokasikan terhadap satu bidang pembangunan suatu daerah. Alternatif pembiayaan yaitu
melalui pinjaman dan obligasi.
Pinjaman adalah suatu proses kerjasama anatar pemerintah suatu negara untuk
membiayai suatu proyek. Hal ini yang dijadikan alternatif karena kemampuan negara pendonor
untuk meminjamkan dana cukup besar sehingga dana mudah didapat. Apalagi banyak negara
siap membantu dan biasa menjadi sumber pembembiayaan seperti Jepang, Jerman, Inggris, ADB
(Asian Development Bank), Amerika dll. Pinjaman luar negeri akan sangat baik jika pinjaman
yang dikeluarkan adalah pinjaman bunga lunak. Sehingga beban pembiayaan hutang menjadi
lebih ringan.
Kelemahan dari pinjaman adalah jika ketidakmampuan untuk membayar utang akan
memperburuk kondisi perkonomian suatu negara. Dalam penelitian Susan Goerge negara negara
berkembang yang kurang dalam pembayaran hutang akan melakukan tindakan pembatasan

Page 37
Pembiayaan Pembangunan 2010

impor dan mempertinggi ekspor agar devisa bisa digunakan untuk membayar hutang. Tindakan
pembaasan impor akan diikuti mengakibatkan terganngunnya program pembangunan yang
membutuhkan barang barang impor. Akibat terganngunya pembangunan tersebut negara
melakukan kebijkan mengurangi laju pembangunan negara, mengembangkan ekspor dan
melakukan subtitusi impor untuk memperbaiki term of trade, atau merangsang arus bantuan luar
negeri lebih besar lagi. Akibat terjerumus ke dalam krisis utang maka untuk mendapatkan
pengurangan atau penambahan pinjaman, IMF atau Bank Dunia menganjurkan dilakukan
kebijakan pengurangan atau penghapusan berbagai macam subsidi bahan bakar minyak dan
kebutuhan pokok lainnya, penundaan kenaikan gaji pegawai negeri dan kebijakan lainnya.

Pilihan alternatif kedua adalah Pemerintah dapat mengeluarkan obligasi untuk membiayai
kebutuhan dana untuk proyek. Obligasi hampir sama dengan pinjaman namun pemerintah
bekerjasama dengan pihak swasta. Obligasi pemerintah bisa menggalang dana sesuai dengan
kebutuhan proyek atau kegiatan. Kelemahan dari obligasi ini adalah ketidaktentuan pasar
pengguna obligasi. Orang atau badan yang akan membeli obligasi belum tentu ada sehingga
pemerintah harus berusaha mencari pembeli obligasi. Kegagalan bayar adalah suatu hal yang
patut diperhitungkan untuk melakukan obligasi pemerintah. Pengeluaran obligasi oleh
pemerintah sama halnya dengan melakukan hutang. Jika hutang tersebut tidak terbayarkan maka
kegaitan kegiatan pemberi pinjaman atau swasta akan terganggu. Apabila sejumlah kegiatan
tersebut terganggu maka kegiatan lainnya yang dipengaruhi kegiatan tersebut akan terganggun
juga dalam kata lain akan terjadi efek berantai akibat gagal bayar bunga apalagi jumlah uang
yang dimainkan cukup besar. Contoh kasus seperti negara Yunani.

Alternatif lainnya adalah BOT ( Build Operate and Transfer) seperti sudah dijelskan di
dalam kajian sumber pembiayaan, BOT adalah suatu kerjasama pemberian hak pengelolaan
terhadap swasta untuk mengelola usaha atau tanah sehingga dapat memberikan untung kepada
pembangun dan pemilik lahan tersebut. Dalam kasus Bandara Internasional Minangkabau,
Bandara ini sudah untung namun perlu diperluas atau dikembangkan karena kapasitasnya tidak
cukup untuk melayani kebutuhan penumpang. Sehingga tidak memerlukan pengelolaan swasta
lagi. Namun bisa diberikan kepada swasta jika pihak swasta bisa memberikan pelayanan lebih

Page 38
Pembiayaan Pembangunan 2010

baik dari segi ongkos, teknologi, dan pembangunan. Namun hal itu sangat sulit karena dengan
memberikan pembangunan pasti biaya yang dikeluarkan harus sama dengan pendapatan yang
didapat dan tidak mungkin pihak swasta mampu menurunkan ongkos atau tarif dengan
kelengkapan teknologi yang jauh lebih maju dari kemampuan PT Angkasa Pura
Suatu proyek tidak harus memakai pembiayaan mandiri untuk membangun sesuatu.
Hakikatnya membangun sesuatu pastui mengharapkan keuntungan atau manfaat dari suatu hal
tersebut. Jika dengan meminjam dana kepada pihak luar dapat membangun suatu hal yang
manfaatnya lebih dari biaya untuk meminjam maka hal tersebut menguntungkan. Namun perlu
digarisbawahi sesuatu pinjaman layak dilakukan jika manfaat lebih besar dari pada biaya yang
dikeluarkan untuk pembangunan .
Selain hal bunga pinjaman yang perlu diperhatikan dalam proses pinjaman dana namun
kondisi suku bunga, perkiraan keuntungan suatu proyek dan kondisi pasar. Variable perkiraan
keuntungan proyek bisa didapat dengan memperkirakan pertumbuhan jumlah konsumen, dampak
terhadap masayrakat. Perlu suatu proyeksi masa depan tentang pembayaran hutang mulai dari
keadaan pesimis dan optimis sehingga bisa digambarkan dengan jelas suatu potensi suatu proyek
yang ada. Kendala dalam kegiatan pinjam meminjam adalah ketidakmampuan manaejemen
pembayaran hutang. Sering kali terjadi keterlambatan meskipun bisa membayar biaya pinjaman.
Biaya akan membengkak jika pembayaran terlambat. Maka untuk mengurangi ketidak
berkelanjutannya pembayaran hutang secara kontinyu maka diharapkan untuk membuat suatu
rencana tentang keadaan dimasa depan dengan cermat sehingga bisa mendekati keadaan di masa
depan.

4.3 Strategi Pengimplementasian


Strategi pembiayaan dalam pengembangan Bandar Udara Internasional Minangkabau
cukup lengkap yang terdiri dari 4 kemungkinan yang diperkirakan terjadi. Skenario tersebut
dibagi lagi menjadi skema. 4 kemungkinan kondisi, scenario 1 dan 2 dan setiap scenario
mempunyai 2 skema. Scenario dibagi menjadi 2 karena untuk memproyeksikan pertumbuhan
anggkutan udara dengan data yang berbeda. Scenario 1 adalah scenario optimis bersal dari
menghitung pertumbuhan angkutan udara, Data Pertumbuhan Angkutan Udara di Sumatera

Page 39
Pembiayaan Pembangunan 2010

Barat Tahun 1980 s/d 2004 yang bersumber dari Biro Pusat Statistik (BPS), Sumbar dan Data
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB Sumbar Tahun 1980 s/d 2004 yang bersumber dari
BPS Sumbar. Scenario 2 merupakan scenario pesimis Merupakan skenario yang menggunakan
analisis terhadap Data Pertumbuhan Angkutan Udara di Sumbar Tahun 1995 s/d 2004 yang
bersumber dari PT. (Persero) Angkasa Pura II dan Data PDRB Sumbar Tahun 1995 s/d 2004
yang bersumber dari BPS Sumbar. Dan skema setiap scenario didasarkan pada jumlah bunga
yang akan didapatkan untuk pinjaman. Dari proyeksi yang menggunkan 4 kemungkinan tersebut
didapat hasil jumlah NPV, IRR, B/C yang bagus sehingga layak untuk dikembangkan. Dalam
kasus ini yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana untuk lebih detail memprediksi hasil
perhitungan IRR, NPV dan B/C sehingga dengan lebih detai perhitungan tersebut semakin jelas
potensi yang bisa dikeluarkan dimasa depan.
Dalam hal komposisi dana pembangunan, tidak masalah perbandingan komposisi dana
pinjaman dan pemerintah berapapun namun yang penting harus untung sehingga biaya yang
dikelurkan untuk pinjaman tertutupi oleh manfaat atau keuntungan yang didapat. Namun
keuntungan tersebut harus melebihi titik resiko suatu pembiayaan. Jangan terlalu tipis perbedaan
antara keuntungan dan biaya karena jika terjadi seperti itu bisa dikatakan suatu proyek tidak
memiliki keuntungan atau merugi. Titik kritis resiko keuntungan tergantung setiap jenis proyek
dan itu berbeda beda tergantung perhitungan.
Untuk pembayaran hutang sudah jelas digambarkan dalam skema gambar, namun hal itu
hanya rencana tanggal pembayaran hutang dan cara untuk mendapatkan uang untuk membayar
hutang tidak ada. Dalam hal ini perlu dilakukan efisiensi pengeluaran dan optimalisasi
pendapatan Bandar Udara Internasional Minangkabau. Diharapkan dengan melakukan efisiensi
dan optimalisasi tersebut keungan BIM akan sehat dan mampu membayar hutang dalam keadaan
yang baik dan keadaan tren turun. Pengembangan suatu proyek harus memperphitungkan juga
titik jenuh investasi diman yang dimaksud titik jenuh disini adalah suatu kemampuan
berkembang suatu usaha. Kemampuan berkembang suatu usaha didasarkan pada banyak hal
seperti lahan dan pasar yang ada sehingga jumlah dana yang akan dipinjam jangan terlalu
berlebihan sehingga bisa terpakai dengan baik.

Page 40
Pembiayaan Pembangunan 2010

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Bandara Internasional Minangkabau merupakan suatu bentuk dari pengembangan
Bandara di Provinsi Sumatera Barat, khususnya di Kota Padang. Pembangunan dan
pengembangan bandar udara ini diharapkan dapat mengatasi permintaan mobilitas manusia dan
barang di wilayah tersebut.
Pembangunan dan pengembangan bandar udara ini juga sangat memerlukan telaah
mengenai proses pembiayaannya. Dikarenakan, proses pembiayaan juga merupakan hal
terpenting dalam suatu proyek pengadaan infrastruktur. Tanpa adanya pembiayaan yang rinci
dan terstruktur, suatu proyek pengadaan infrastruktur takkan bisa berjalan sesuai dengan
prosedur rencana.
Proyek Bandara Internasional Minangkabau ini terdiri dari proyek pembangunan dan
pengembangan. Keduanya memiliki arti penting yang berbeda-beda sesuai dengan fungsinya
masing-masing. Proyek pengembangan diharapkan dapat lebih menyempurnakan fungsi dan
pelayanan Bandara Internasional Minangkabau.
Pembiyaan Bandar Udara Internasional Minangkabau bisa dikatakan cukup lengkap
karena terdapat 4 proyeksi tentang keadaan usaha bandara setelah menerima investasi masuk.
Dan dalam 4 proyeksi tersebut Bandar Udara Internasional Minagkabau layak untuk
dikembangkan. Proyeksi dilakukan dengan menghitung NPV, IRR, B/C. Semua Skema yang ada
memperoleh angka keuntungan yang layak dikembangkan. Skema pembayaran hutang juga

Page 41
Pembiayaan Pembangunan 2010

lengkap yang bisa dilihat dalam gambar skema. Pembangunan Bandar Udara Internasional
Minangkabau direncakan dengan baik dengan analisa pembiayaan yang lengkap.

5.2. Rekomendasi
 Komposisi pinjaman tidak jadi masalah akan tetapi harus untung lebih besar dari
pada titik kritis suatu usaha sehingga didapat hasil yang maksimal
 Perlu dilakukan efisiensi pengeluaran dan optimalisasi pendapatan sebagai
langkah untuk mengantisipasi tren turunnya penumpang.
 Jumlah dana pinjaman sesuai kan dengan batas titik jenuh investasi sehingga tidak
menimbulkan ke mubaziran atau buang buang uang.

Page 42