Anda di halaman 1dari 17

ll8 xou6G4url6JX4J,An

tst/.<t\ 2 : PER,ANCANqAN PER-KER/4.SANJAL-4N

4.4.2. PERANCANGAN PERKERASAN KAKU.

4.4.2.7. Pendekatan Metoda Desain Perkerasan Kaku.

Pendekatan metoda desain perkerasan kaku, intinya sama dengan

perkerasan lentur, yaitu

a). Pendekatan metoda desain yang didasarkan pada beban kendaraan

renc na,yangakzn menyebabkan tingkat kerusakan yang diijinkan.

b). Pendekatan metoda desain yang didasarkan pada jumrah repetisi

kendaraan standar, yang juga dibatasi sampai tingkat kerusakan yang

diijinkan. Perbedaannya adalah pada konsep penyebaran regangan pada badan

fleksibel perkerasan lentur dan pada badan kaku pada perkerasan semen.

Perkerasan kaku mempunyai tebal yang relatif tipis, dibandingkan dengan tebal lapis tanah dasar. Karena modulus elastisitas semen sebagai material perkerasan kaku, mempunyai nilai yang rclatif lebih besar dari

material pondasi dan tanah, maka bagian terbesat y^ng menyefap

tegangan akibat beban adalah pelat beton itu sendiri.

Tegangan pada perkerasan kaku, disebabkan oleh, beban roda,

perbedaan temperatur pada pelat beton, perubahan kadar air, dan

perubahan volume dari pelat beton dan lapis p.ndasi bawah dan tanah

dasar.

Gambaran perbedaan penyebaran distribusi gaya, sekaligus

tegangannya dapat dilihat pada Gbr.4.5.

4.4.2.2.Ikiteria Des ain Perkeras an Kaku.

Tiga faktor desain untuk perancangan perkerasan kaku yang sangat

penting, adalah:

1).

I{ekuatan tanah dasar (sabgrad), dan

(subbase), yang diindikasikan lewat

lapisan pondasi bawah

parameter k(subgrade

2).

3).

reaclion), atau CBR.

Modulus I(eruntuhan lenrur beton

dan

Beban lalu lintas .

(flexural strength - q),

untuk mendapatkan pelayanan maksimal dari perkerasan kaku, pelat

beton harus terjamin mempunyai landasan yang kuat dan uniform. Struktur

perkerasan kaku hanya mempunyai lapis pondasi bawah, sedang lapis

pondasi atas tidak diperlukan lbandingkan dengan perkerasan lentrr4 t,ap;s

Metoda Perancangan perkerasan Jalan

flg

pondasi bawah-pun tidak pedu menjamin duduknya pelat beton

tedalu kuat, kekuatan secukupnya, asal bisa

pada bidang rata, d"r,

-u-po mengatasi

pondasi, dan ekses dari tanah-tanah

lagi

ketahanan terhadap

punping infiltrasi ah da' bawah

potensial' Didaerah empat musim masih ditambah

proses pendinginan dan pencairan butiran es freery dz"tbawl.

4.4.2.3. Sifat Umum perkerasan Kaku.

  • 1. Keandalan (serviceabiliry) tinggr, mampu memikul beban besar.

2.

Keawetan

(durabiliry).

lama;bisa meniapai umur 30 _ 40 tahun,

pemeliharuan ringan.

t.r[l'struktural.

tahan lapuk, oksidasi dan abrasi,

_

  • J. Lapis tunggal (single layer), dengan LpB tidak

    • 4. lentur, Sangat dengan kaku, modulus elastisitas bisa 25 kak modulus elastisitas

demikian distribusi beban ketanah dasar relarif kecil

walaupun biaya awalbesar, umur fenca narama,

5' Kompetitif, karena

dan pemeliharaan ringen

  • 6. I(eamanan, besar karena permukaan kasar.

  • 7. \apat digunakan pada tanah dasar,

dengan

daya dukung rendah.

.rrrt,rk ,urr'rh dur'

Road Note 29, mcnycbr.rtkan bisa dipakai

dengan CBR = 2oh - 5',/o, yang penting rrrrifor-.

4.4.2.4 Beban Lalu Lintas Rcncana.

Secara umum tinjar_rnn beban ialu lintas rencana akan mengkaji :

- Jumlah beban sumbu dan kumulatif beban

dan konfigurasi sumbu (lihat llab 1.2.1)

ekivalen yang lewat,

- Khusus unt'rk pcrkerasan kaku,

beban laru lintas rencana

sumbu

untuk masing_

didapatkan dengan mengaL,-im.rlasikan jumiah beban

masing jenis kelompok, cralam rcncanarajur selama umur rencana.

Prosedur yang clilakukan adalah

1). Eliminasi Lalu Lintas :

l) \anya

b).

mengambil

kendaraan niaga dengan berat ) 5 ton.

Dipilih konfigurasi sumbu :

  • - STRT(sumbu tunggal roda tunggal),

  • - STRG (sumbu tunggal roda ganda)'

r

  • - STdRG (sumbu tandem/sumbu ganda roda ganda).

Kekuoton

Subgrode

\I

TEGANGAN

}.4.Frnr<ERASAN

lr-rrxunrnN

./

PERKERASAN

Tegongon

Subgrode

TEGANGAN PCC: KEKUATAN PCC

TEGANGAN

SG < < KEKUATAN SG

b), perkeroson lentur

l*-*B?*:lHS

w

6iuoton

Perkeroson

TEGANGAN

SG :

KEKUATAN SG

TEGANGAN AC << KEKUATAN AC

SUMBER : PAVEMEM DESIGN

PROF, M,W WTCZAK

PRINSIP DISTRIBUSI TEGANGAN - KEKUATAN

PADA PERKERASAN KAKU DAN LENTUR

Gbr.4.5. Distribusi dan tegang an pada perkerasan

2). l,angkah cstimasi Lalu l.intas Rcnczrna :

a). Hitung LHR pada akhir usia renczna, sesuai kapasitas jalan.

b). Estimasi LHR awal dari kelompok sumbu, pada masing-

masing

jenis kelompok sumbu kendanan niaga

5,5), (5,5 -

@isa dibuat

6,5 )

keJipatan 0,5 ton, misal: (5 -

6), ( 6 -

demikian seterusnya.

c). Bila ada konversikan beban sumbu tridem ke beban sumbu ganda, yaitu bahwa beban sumbu tridem set^ra dengan dua

sumbu ganda.

d). Hitung JSKN (fumlah sumbu kendaraan ntaga), selama

umuf fencana.

JSKNuR=365XJSKNHXR.

dimana:

...

(4.29')

JSKN'R - jumlah total sumbu kendaraan niaga selama

umur fencana

JSKNH -

jr-rmlah total sumbu kendanan maksimum harian, pada saatjalan dibuka.

R

= fhktor pertumbuhanlalu lintas selama umur

rc.ncan .

i). Untuk i * 0 ---+ selama umur rencana terjadi pertumbuhan

lalu lintas

* (l+;)u -1

^

i

Faktor pertumbuhan lalu lintas kondisi i) dapat juga

ditentr-r kan dari T abel 4.1, 4.

ii).Untuk i + 0, jika setelah waktu tertentu (J\

tahun),

pertumbuhen lalu lintas tidak berubahlag1:

4 = (1+i)"" + (uR-uR){e+ i)'o*-1 }

...........

I.

........

(4.31)

iii).Untuk i +

0, jika setelah U\

tahun, pertumbuhan lalu

lintas, berubah dari sebelumnya. (1') tahun:

R_ (l+i')uR'-1

t.

(l + ;)uo' kl + i')uo-uo' -l

)

............

(4.32.)

dari ketiga persamaan i), ii) dan iii) keterangan notasi zdalah:

R

= faktor pertumbuhan lalu lintas

i

- laju pertumbuhan lalu lintas per-tahun(%n)

i'

= laju pertumbuhan lalu

lintas baru dari sebelumnya (%o)

UR : umur rencana (tahun)

U\

= waktu tertentu (tahun) sebelum UR selesai.

Tabel 4.74.Faktor pertumbuhan lalu lintas (R)

UMUR

(thn)

5

10

15

20

25

30

40

LAJU PERTUMBUHAN (0 PEK-TAHUN (%)

l)

5

10

15

20

)<,

30

35

40

2

\2

10,9

17,j

24,3

32

40,6

5t)

60,4

4

5,4

t2

2A

29,8

41,6

56,1

95

6

5,8

13,2

23,3

36,8

54,9

79,1

1,1.1,,4

154,8

8

qg

14,5

1'7 n

45,8

73,1.

T13,3

1,72,3

259,1

10

6,1

15,9

31,8

11 A

98,3

1,64,5

271

4+2.6

(e) HitungJumlah Sumbu Kendaraan Niaga rencana per laiur ialan:

JSKNuRr',i"'=JSI(N,*x C

.............

dimana:

.(4.33.)

C = koefisien distribusi kendaraan Qthat Tabel 4.2 untuk

kendaraan berat).

(Q Hitung jumlah tepetisi kumuiatif untuk tiup

kombinasi

konfigurasi /beban sumbu padalajur reflcana.

g). Faktor keamanan beban(F,.u),dimasukkan

sebagai

menampung tingkat pelayanan terhadap keselamatan

diambil dari Tabel 4.15.

indikator, untuk

pengendara dapat

Tabel4.15. Faktor keamanan beban ( Fo)

PENGGUNAANJALAN

- J"l"n Bebas Hambatan utama(malot

freeway) dan ialan bedajur banyak, volurne kendaraan niaga tihg$i-.

- Jalan Bebas Hambatan (frcway;dan

ialan arteri dengan volume kendataan

niaga menengah -Iilan dengan volurne kendaraan niaga rendah.

FAKIOR KEAMANAN

112

xJ

1,CI

4.4.3. METODA PERANCANGAN.

4.4.3.1. Metoda AASHTO 1993.

Tidak jauh berbeda dengan perkerasan lentur,untuk perkerasan kaku mengedepankan rumus untuk perkerasan kaku. Identik dengan rumus 4.22. AASHTO menurunkan rumus berikut:

rogFqgl

18

loBwt

=ZR*so r7.J5"log{D-l} 0.06r"!rr4q7

-(4.22 0.3)* tlr-,"1

TDl;s.ro

I

q, ,,rn-.,.,r4

..

I

,iorl',,

t'--"'"

$g

14

tf."J

f

' $'34')

Dimana

D

= Tcbal petat beton(inch)

S(/,ls -

Reban sumbu standar total

A PSI

= Selisih antara nilai PSI

( ESA

)

diawal

selama umur rencana.

dan akhit masa layan struktur

S"

perkerasan. = Dcviasi Standar dari nilai Sf,ts.

Zp

= Konstanta Normal pada tingkat peluang (ptobabiJitas), R IP, - lndeks Permukaan=P,=tetminal PSI(Ptesent Serviceability Index)

S.'

= Modulus I{enrntuhan beton(psi)

Ca = Itoefisien Dtainase

J

= I{oefisien transfer beban(=J,2 bila sudut dilindungi)

E. = Modulus Elastisitas beton (psi)

k = Modulus Reaksi Tanah (psi/in)

r,l

Dari rumus diatas diturunkan Nomogram pelzinc ngan(Gb.a.6.)

rogrJilrs.lR\+f.$!rost0(Drl)

-0.6t

[^m'l

..

r

-.rJ

,"r.[

rJ2a*,

rr6il,r

- t,"r]

!!.12

,rllT

c6o* thiilcl.&til, E3 lldtal

-z

-4

.4

?/l

{z

//YY/

r//V

,/A

//,

too 500

100 !o

l,todulur ol Subgrddl

R.qcllotrr t

(pcil

o

Its

Y

tco

aoo

too

SIINIBIIR : AASHTO Guide [irr Design of

Pavement Sffucturcs

.]

,t-l

  • - :'l

a

a

t t

  • t. iry, .oJ

t

\5 !

t

o 5

t

  • 5 ,":l

:

CONTOIl:

k=12Vt.

S -0,29

E"=5x10' psi

S"'- 650 psi

APSI=4,2-2,5=1,7

c, =1,t1

w,, = 5,1$1d(

didapat D=1{),(linch.

R =95% ( z-=-1,645 )

18 kip EsA)

Gbr.4.6. Nomogram AASHTO untuk Perkerasan kaku

4.4.3.2. Metoda PCA.

PCA (Portland Cement Association) Thickness Design USA,

Association of Australia State Road

diiadikan oleh NAASRA Q'{ational

Authorities) sebagai referensi NAASRA.

untuk men)'usun Standar Perkerasan I(aku

Berikut in zdalah tiniauan metoda PCA tersebut.

a. Beban lalu lintas diamati pada 3 kasus penempatan beban roda kendaraan,roda tunggal,roda tandem (ganda),lihat Gbr. 4.7 dimana:

I(asus 1

  • - : Beban roda

tunggal dan tandem tepat bekeria pada

pinggir sambungan melintang (transversal)'

I(asus 2

  • - : Beban roda tunggal dan tandem bekeria pada tepi

luar konstruksi perkerasan.

  • - I{.asus 3

: Beban roda tunggal dan tandem bekeria seperti

kasus 2 tapi digeser 15 cm dari tepi luaf konstruksi perkerasan'

Gbr. 4.7. Beban Roda Kendataan - metoda PCA

Kasus 2 memberikan tegang^n yang lebih tinggi dari I(asus 1,

sedang kasus 3 memberikan tegangan patng rendah dari ketiganya. Frekuensi terjadtnya beban roda, pada posisi repetisi paling sering,

lihat gambar diagram scbclah kanan. Tetny^ta kasus 1 dan kasus 3 memberikan kondisi yang representatif untuk rancangan.

Hal ini diperkuat dengan oleh Dr.Girald Pickett dan Gordon K.Ray-

Inflaence C hafts for Co n crete P anements Transactions-ASCE Vol. 1 6'1,9 51 ; bahwa:

1. Untuk beban as tunggal pada lokasi 75 mm dari tepi pelat beton,

dan as tanclcm pada lokasi 25 mm dari tepi pelat beton, akan

memberikan tcgangan maksimum pada pelat beton >99oh dati

keseluruhan beban lalu lintas yang lewat Q<asus 1) 2. Peningkatan tcgangan akibat beban lainnyz dan 1.oh beban total,

tidak akan mcmpengamhi tebal t^ncang^n pelat beton yang

bersangkutan.

3. AASHTO De.rign Commitee menyebutkan dalam asumsi

konservatif, tidak akan terjadi penyaluran beban rodakendaraan

al<tbat lalu lintas (tranverse) yang akan melewati/menyeberang

pada sambungan memanjang.

Butir

'jgu

ini penting dalam hal kenapa ukuran tulangan

sambungan melintang -tiebar- relatif kecil dan diameternya lebih

kecil dari ruli *dowel.

b. Nomogram pe:lanc ng n tebal perkerasan dari PCA, dapat

dilihat pada Gbr. 4.8a, 4.Bb dan 4.8c.

Gambar 4.8a. mempresentasikan kondisi sumbu

tunggal, roda

tunggal. dalam selang 3 - 10 ton, Gbr. 4.8b. sumbu

tunggal, roda

ganda, dalam selang 4 - 16 ton dan Gbr.4.8c. adalah

kondisi untuk

sumbu gaida roda ganda dalam selang 8 - 24 ton.

po

--o

eo

-B

f, E

B

A

F-{

3h:i:}:.,

D.sign Chatt lot Singte-wheeted

Singte

x

$

#

&

$

;E

s

B

t*****ll B'xrl'+::.

fidffid

C;nr{ /$r tld$revhfldltsd

Siflf,@ Aeit*

Gbt. 4.8 a. Nomogram untuk sumbu tunggal, roda tunggal

b. Nomogram untuk sumbu tunggal, roda ganda

(SUnnnnn r Cement & Concrete Association of Austratia,)

c. I(ekuatan Tanah Dasar dan Lapis Pondasi Bawah.

Kekuatan Tanah dasar dapat didekati dengan modulus reaksi tanah

dasar (modulus of subgrade reaction), atau Caltfornia Bearing Ratio

(cBR).

Konversi nilai dari angka CBR ke angka Subgrade Reaction k, dapat

dilihat pada Gbr. 4.8d.

Pemakaian lapis pondasi bawah, dapat digunakan bahan campuran

beton dengan kekuatan rendah (biasa disebut sebagai CTSB -

Cement Treated Sub-Base), namun dapat juga digunakan

saja, tanpa pengikat semen. Bila digunak^n

^ggreg

t tanpa bahan

^ggregat

pengikat, fungsinya hanya sebagai dasar perata permukaan untuk

duduk pelat beton perkerasan kaku.

,P

d

#

,d,

,'A

rL'

E

6

c6

t'P

,#0

q

e

^rtr

ts

5'a

g

3

d

*

#

I

e

q

6

q

4

:

ff

H

?

d

r&

1,18 \

rl

14

1S

axr"E ASSSMSLY Ld*4 lrtrnsll

it

rg

er

?n

Ha*-i{l

I

I

llr"-r-H

ra.ilhmo{,G

4dar wi€d4

  • C Oosign f,rerr foi Oust'Wheei4d lhnoenr dx/es

" n

fferdt,onsr:r'D

g€tY,B6n,ttodufusoy'

Subgraoe n6dct'oi and Ci/i/odr,e

Bdsanq fiatr'o

Gbr. 4.8 c. Nomogram untuk sumbu tandem, toda

ganda.

d. Nomogram untuk konversi nilai CBR ke

Subgrade Reaction (k)

Apabila digunakan al+jregat tersemen (boand sub-base),lapisan sub-

base ini dapat mcningkatkan kekuatan tanah dasar. Bila digunakan dalam hal demil<ian, peningkatan kekuatan ini, dapat dilihat pada

Gbr.4.9.

CATATAN:

Metoda PCA ini banyak dipedomani oleh neg ra lain diluar USA,

karcna dibandingkan clcngan mctoda AASHTO, metocla Road Note

29 atau 31 (tJR, US Corps of Engineers dll;metoda PCA lebih

ringkas dan sederh^na,

lain tidak memedukan pendekatan

-beku&leleh)

yang tidak

terhadap iklim(seperti kondisi/raery 6 thaw

^nt^ta

ditemui dinegara tropis termasuk Indonesia. Demikian pula

F

aJ

:U

ga

trlff

0E ul

,ull

Urrt

<.;

fi;

ofi

fi){

Bil I"

ru!,t

{i.u

sn

r,u

lr:

y

U. LJ

srJ

**Maxirnum ualue Fermitted by HAA$fiA

35

i.#

AS$5S$ECI $UB6f,An6 STHENSTH -C8m Fbt

6ff*cfiv* /ficrease ln $ubErnde $treng#t

Oue lo Cemenf-Ireefsd Silb-$flse

Gbr.4.9. Peningkatan kekuatan subgrade dengan adanya CTSB.

peniiaian perwujudan perkerasan dalam bentukan seniceabili4t Qihat 4.3.) tidak ditinjau. Sehingga relatif lebih mudah untuk dilaksanakan.

4.4.3.3.Metoda Bina Matga 2003.

Pada dasarnya pe:lrrncangan dengan metoda Bina Marga sesuai dengan pedoman Perencanaan Perkerasan Jalan Beton Semen edT-14- 2003), mengadopsi perancangan perkerasan kaku dari Aastroad Australia.

Namun metoda ini juga sebenarnya mengadopsi metoda dari PCA diatas,

walaupun dilakukan modifikasi.

Parameter yang digunakan antzta latn:

  • a. Beban lalu Lintas Rencana, sebagaimana pada 8ab.1.2.1. Hanya kendaraan nizga dengan berat total > 5 ton yang diakomodir.

  • b. Modulus subgrade reaction k, dilapangan dapat dilakukan dengan pengujian 'Plate Bearing Test (AASHTO T 222-81) atau ASTM D

1196.

  • c. CBR lapangan dilakukan dengan pengujian CBR lapangan sesuai dengan SNI 03-1731-1989 atau CBR laboratorium sesuai dengan sNr 03-1744-1989. Apabila CBR mempunyai nilai < 2o/o maka harus dipasang pondasi bawah terbuat dari beton kurus (Lean Mix Concrete) setebal 15 cm yang dtanggap mempunyai n1lat CBR tanah dasar effektip 5o/o.

  • d. Tebal pondasi bawah minimum didapatkan dari Gbr.4.10. dengan tebal paling sedikit 10 cm yang mempunyai muru sesuai dengan SNI No.03-6388-2000 dan AASHTO M-155 serta SNI 03-1743-1989. Bila direncanakan perkerasan beton semen bersambung tanpa ruji, pondasi bawah harus mcnggunakan campuran beton kurus (CBI!.

  • e. CBR tanah dasar effektip clapat dilihat pada Gbr.4.11. CBR effektip adalah peningkatan

(lBR

tanah dasar sesudah diperkuat dengan

campuran beton kurus (CBK).

Beberapa jenis pondasi bawah yang direkomendasikan

adalah: sirtu

@ranular rubbase), beton kurus gilas padat (lean rolled concrete),

campuran beton kurus (CBI(=learu mix concrete), atau stabilisasi.

CATATAN:

Sebagai alternarif (walau bukan cata Bina Marga) untuk mencari kekuatan sub-base

unbound dan bound subbase c{apat menggunakan Tabel 4.16 dan Tabel 4.17, yang merupakan effek ketebalan sub-base pada k desain(Handbook of Concrete Engineering -

Robert G. Packard ).

  • f. Analisa

perkerasan beton semen didasarkan ^t^s dua modcl

kerusakan yaitu:

  • - fatik : kelelahan struktur pelat beton akibat repetisi beban.

  • - erosi pada pondasi bawah oleh lendutan berulang pada

t^nah dasar yang diakibatkarr

^tav

sambungan dan tempat retak yanu

direncanakan.

Tabel4.16. Pengaruh Unbound Sub-Base pada nilai k

NILAI K

TANAH DASAR

50

100

2A0

300

4in

65

130

220

32A

NILAI k SUB-BASE

( pci )

6 irr

9in

75

140

230

330

85

160

27A

370

12 in

110

i90

32A

430

Tabel4.17. Nilai k untuk Cement Treated Sub-Base

NII-{I K

TANAH DASAR

50

100

208

4in

1"70

280

4:/0

NII-AI k SUB-BASE

( pci )

6 irr

8in

230

400

310

524

640

830

10 in

390

640

SUMBER: Cement & Concrete Association of Australia.

s

l0

.s

!ro

.|! flr

i

fi

!t

.cd

!r

tt

ts^

dt

(,

Blla CBRhnah daar kunng &rl llt,

gunrlrn CBK, toidnlnlmum

lScm

,

f

bd

Bp.B$il!.iefid

C$rCtrlltrftrll

{r

l'{t

&mhh npetlrirunlu

{r

}$

Gbr.4.10. Tebal Pondasi Bawah minimum untuk

Perkerasan Beton Semen ( Sumber: Pedoman pd T-14-2003)

:ialia cER ri*Ernun

-

"

Jib

CgR < 295 g'&hn

pondadi b.uh

CBK 15O M

.ngioap

bmh dry

@rlpffiFi

sblof 596

rihi

bbal

den

CBR

&

5

6

? 8

10 1C 15

20 Zt ]0!6

CBR Tsah Dasar R€hcane {Z.l

Gbr.4.11. CBR Tanah Dasar effektip dan tebal pondasi bawah untul< perkefasan beton semen

( Sumber Pedoman P(l 'l' 14 2003)

4.4.3.3.1. Prosedur Perancangan Perkerasan Beton Semen.

LANGI{AH 1:

1. Tentukan nilai CBR trurah c{asar.

LANGISH 2:

2. Merubah data lalu lintas clalam satuan kendaraan menjadi dalam satuan

sumbu kendaraan.

i). Menghitung jumlah l<onfigurasi beban sumbu untuk masing-masing ienis kendaraan ni:rg;r.

ii). Menghitung jumlalr

dengan rumus 4.29.

surnrbu kendaraan niaga 0sKN) rcncana dican

iii).Menghitung jr-rmlah repetisi kumulatif tt^p

kombinasi

konfigurasi/ bel>an sumbu pada laiur rencana'.

LANGI(AH 3:

3. Pilih tipe struktur pcrkerasan.

a). Jenis perkerasan :BBDT, BBTT, arau

BMDT dengan atau tanpa ruJi.

b) Bahu adaf ticlak,kalau ada apa jcnis bahur.

c). Jenis dan tebal lapis pondasi bawah.

d). Sifat kekuatan struktur: CBR tanah dasar, CBR effektip, kuat tarik

lentur. e). Faktor kezmanan beban.

I,ANGKAH 4 :

4. Menghitung Kekuatan Pelat Beton.

^.

Pilih satu tebal pelat beton lebih besar dari tebal minimum 15 cm. Pemilihan tebal pelat berdasarkan pengalaman atau contoh yang ada sebelumnya, atau gsnakan gambar yang bersesuaian dengan kondisi

langkah 3 menggunakan grafik padaLampiranCl2 s/d C-15.

  • b. Hitung beban renc na per-roda untuk setiap jenis sumbu = Fru

xBeban Sumbu/jumlah roda ff*u diambil dari Tabel 4.15.) Jumlah rodapadajenis sumbu STRT adalah2buah, STRG zdalah4

buah, STdRG adalah B buah, dan STrRG 12 buah. Jika beban

renc na per-roda > 65 kN(6,5 ton) anggap dan gunakan nilai

tersebut sebagai batas tertinggi pada nomogram di Lampiran C-7

s/d C-9

..

  • c. Tentukan tegangan ekivalen (IE) dan faktor erosi (FE) untuk setiap jenis sumbu dengan menggunakan Tabel pada Lampiran C-1 s/d C-
    6.

  • d. Tentukan faktor rasio tegangan (FRT) dengan membagi tegangan ekivalen (TE) dengan kuat tarik lentur f.r.

  • e. Dengan faktor rasio tegangan

fRT) dan beban tenc na, tentukan

jumlah repetisi ijin untuk fatik(fatigue) dari nomogram Lampiran C-

7, yang dimulai dari beban roda tertinggi dari jenis masing-masing

sumbu.

  • f. Hitung jumlah prosentase dari repetisi fatik yang direncanakan terhadap jumlah repetisi ijin.

  • g. Dengan menggunakan faktor erosi(FE) tentukan jumlah repetisi ijin untuk erosi, dengan menggunakan nomogram Lampiran C-8 atau C-
    9.

  • h. Hitung prosentase dari repetisi erosi yang direncanakan terhadap

jumlah repetisi ijin. Ulangi langkah e) sampai h) untuk setiap beban roda pada. jenis sumbu tersebut, sehingga jumlah repetisi beban ijin yang terbaca

pada Nomogram Lampiran C-7 dan C-B atau C-9 yang masing-

masing mencapai 10 juta dan 100 iuta repetisi.

Hitung jumlah total fatik dengan menjumlahkan prosentase fatik dari setiap beban roda dari semua jenis sumbu tersebut. Dengan

  • c r y^ng sama hitung jumlah total erosi dari setiap beban roda, dari

semua jenis sumbu yangada.

  • k. Hitung jumlah total kerusakan akibat fatik dan jumlah total kerusakan akibat erosi untuk seluruh jenis kelompok sumbu.

  • l. Ulangi langkah a) sampai k) hingga diperoleh ketebalan tertipis yang menghasilkan total kerusakan akibat fatik dan atau erosi < 100o/o. Tebal tersebut adalah tebal pelat yang paling ekonomis untuk tebal perkerasan beton semen yang direncanakan.

4.4.3.3.2. Perancangan Penulan gan pada Perkerasan Beton Semen.

^.

Penulangan pada perkerasan beton

talnpa tulangan (BBTT).

semen bersambung

Pada tipe ini penulangan tetap dipedukan retak Tambahan penul^ngan secar^ khusus

ada

untuk meminimalkan mudak diperlukan bila

  • - Pelat dengan bentuk adaklazim.

  • - Pelat dengan sambungan ticlak sejalur.

  • - Pelat bedubang.

b. Penulangan pada pcrkerasan beton semen bersambung

dengan tulangan (BBDT).

Luas penampang tulangan dapat dicari dengan rumus berikut ini:

A=

p.L.M.g.h

2f.

(4.3s.)

dimanz:

A,

f,

g

h

L

M

p

= :

=

=

=

=

=

luas penampang tulangznbaja (mm2/mlebar pelat) kuat taril< iiin tulangan Q{Pa). Biasanya 0,6 x tegangan

leleh.

gravitasi (m/cleC) tebal pelat bcton (m)

jarak antara sambungan yang tidak dtlkat dan/atau tepi

bebas pclat (m).

berat pcr-saruan volume pelat 1t<g/m3) koefisicn gesek antara pelat beton dengan pondasi bawah

(Tabcl 4.18.)

Luas penampang, tulangan berbentuk any^man empat persegi

panjang dan bujur sangkar ditunjukkan padaTabel4.19.

Tabel4.18. Koefisien gesek p.

  • P. prosentase luas tulangan memanjang yang dibutuhkan

No.

IAPIS PEMECAH IKATAN {bownd breaker)

-t

Lap$Jsap lkat aspal dratas permukaan pondasi

  • 2 L;i;;;;. parafin

a

J

dpis pemecah ikatan

I(aret kompon ( a rhtar;nated nbber arring wrtpounfi

KOEFISIEN GESEKAN

f.,

:

  • (t) fv=

I'U

1,5

2,4

n=

p

E,"

:

=

  • E. =

Tabel4.19. Ukuran dan berat tulangan anyaman polos dilas.

terhadap luas penampang beton (%).

kuat tarik langsung beton= 0,4-:0,5

tegangan leleh rencan a bala (kg/cm';

{, ( kg/cm).

angka ekivalensi antarabaja dan beton(E,/E)

Qabel 4.20.)

koefisien gesekan ^ntara pelat dan lapis dibawahnya.

modulus elastisitas baia

=2,1.x1.0n

1kg/cmt)

modulus elastisitas beton = 1485 r/ q Gg/.-';.

TUIANGAN

MEMANlANG

Diameter

(mnr)

Jatak

fmm)

Egpet Fersegr Pn+j"ne

12,5

11,,2

10

o

8

7.1

9

I

tsuiul

I

$angkar

10

9

I

7,1

6,3

(

4

100

100

100

100

100

100

200

200

100

200

200

2A0

2AA

200

200

200

TULANGAN

MELTNTANG

Diameter

(mm)

8

8

I

8

8

8

8

I

I

10

9

R

7,1

6j,Z

5

4

Jarak

lmm)

200

200

200

200

200

200

254

250

100

200

20a

200

204

200

200

2A0

I,UAS PEI.{AMPANG

TULANGAN

Memaniang

(mm2/rn),

Melintang

(mm2/nr)

Berat per-

satllafl

luas

&e/ml)

1.227

986

iss

636

503

396

318

251

25L

251.

251

251

251

251

241

201

11,606

9,707

8.138

6,967

5,919

5.091

+,476

3.552

503

3s3

318

251

198

156

98

83

503

393

318

2s1

198

156

98

83

7,892

6,1.65

4,994

3-c)46

3,108

2,447

1,542

0.987

c. Penulangan pada perkerasan beton semen menerus

dengan tulangan.

c1. Penulangan memaniang.

Tulangan memanjang yang dibutuhkan pada perkerasan beton

semen bertulang menerus, dengan tulangan dihitung dengan rumus

berikut ini.

p,-

100 .f ,,(1,3 - 0,2tt)

f

,

-

n

..

fn

...................

',i

rj,;

............

(4.36.)

Tabel4.20. Proporsi angka ekivalen baja

dan be

t (l.g/.*')

ton ln).

175

235

*225

*255

290 - keatas

n

10

I

6

Prosentase minimum dari tr,rl^ngan memanjang pada perkerasan beton

menefus adalah 0,60/o x ltrts penampang beton. Jumlah optimum

tulangan memanjang perl' tliprsang agar latak dan lebar retakan dapat

dikendalikan.

Secara teoritis iafak antlrrlr retakan pada perkerasan beton menerus

dengan tulangan dihitrrng clcngan rumus berikut:

L., = n. p' .u

.t',,'

..

f',,(t:.,.E,

- -f,,)

(4.37.)

dimana:

L.,

p

u

fb

= jarak tcoritis

retakan (cm)

= perbantlirrsrrn ^ntara luas

tulangan memanjang dengan luas

penampans bcton

= perbanrlingrrn keliling terhadap luas tulangan= 4/d

= tegangrur lcktt antara tulangan dengan beton =

1,97",1 i, (kg/cm';.

  • c = kocfisicn susurt beton = 400.10 6.

q,

n

= kuat tarik langsung beton = 0,4 + 0,5 4, ( kg/cm'z). = angka ekivalensi antar^ baia dan beton (n=E,/E)

  • E. = moclr-ilus elastisitas beton = 1485 ! f. ($/cm';.

  • E. = modul4sr elastisitas baja = 2,1. x1.06 1kg/cm2;

Untuk menjamin agzr dtdapat retakan yang halus dan iarzk ant^ra

rctakan yang optimum, maka:

  • - o/o tulangan dan

perbandingan ^nt^r keliling dan luas

tulangan(u) harus besar.

  • - perlu menggunakan tulangan ulir

(deforned bars) untuk

memperoleh tegangan \ekzt yanglebih tinggi.

Jank retakan teoritis yang dihitung dengan pers^m^an 4.37. dtatas

harus memberikan hasil. antarz 150 dan 250 cm.

Jarak antara tuLangan 100 mm + 225 mm. Diameter batang tulangan

memanjang berkisar ant^rz 1.2 mm dan 20 mm'

c2. Penulangan melintang.

Luas tulangan melintang (A,) yang diperlukan pada perkerasan beton

menerus dengan tulangan dihitung menggunakan rumus 4.35.

Tulangan melintang direkomendasikan sebagai berikut:

  • - Diameterbatangulir tidak lebih kecil dari 12 nrr":'.

  • - Jankmaksimum tulangan dari sumbu kesumbu 75 cm'

c3. Penemp atan twlangan.

Penulangan melintang pada perkerasan beton semen harus

ditempatkan pada kedalaman > 65 mm dari permukaan (untuk tebal pelat <

20 cm dan maksimum sampai 1./3 tebal pelat (untuk tebal pelat > 20 cm).

Tulangan arah memanjang dipasang diatas tulangan arah meJ-intang.

4.4,3.3.3. Perancangan Lapis Tambah pada Petkerasan Beton Semen.

Ada beberapa kondisi dimana dipedukan pelapisan tambah (ouerlaJ

pada perkerasan beton semen Yaitu:

a. Pelapisan tambahan perkerasan beton semen diatas perkerasan lentur.

b. Pelapisan tambahan perkerasan beton semen diatas perkerasan beton

semen lama. c. Pelapisan tambahan perkerasan lentur diatas perkerasan beton semen.

  • a. Lapis tambah perketasan beton semen diatas perkerasan beton aspal. Penambahan lapis tambahan perkerasan beton semen diatas

perkerasan lentur dalam hal ini perkerasan beton d.Spal, dihitung dengan can

y^ng s^m seperti perhitungan tebal pelat beton semen pada perencanaan

perkerasan beton semen baru yang sudah dijelaskan diatas.

Modulus reaksi perkerasan lama (k) diperoleh dengan melakukan

pengujian pembebanan pelat (plate bearing tesl berdas</