A.

Deskripsi Wilayah Sumber Daya Alam Sumber

Sumber daya alam Jawa Barat cukup melimpah. Provinsi ini pada tahun 2006 memiliki lahan sawah ber-irigasi teknis seluas 380.996 ha, sementara sawah ber irigasi setengah teknis 116,443 ha, dan sawah ber irigasi non teknis seluas 428.461 ha. Total saluran irigasi di Jawa Barat sepanjang 9.488.623 km, Sawah-sawah inilah yang pada 2006 menghasilkan 9.418.882 ton padi, terdiri atas 9,103.800 ton padi sawah clan 315.082 ton padi ladang. Di antara tanaman palawija, pada 2006 ketela pohon menempati urutan pertama. produksi palawija, mencapai 2.044.674 ton dengan produktivitas 179,28 kuintal per ha, Kendati demikian, luas tanam terluas adalah untuk komoditas jagung yang mencapai 148.505 ha, Jawa Barat juga menghasilkan hortikultura terdiri dari 2.938.624 ton sayur mayur, 3.193.744 ton buah buahan, dan 159.871 ton tanaman obat/biofarmaka. Hutan di Jawa Barat juga luas, mencapai 764.387,59 ha atau 20,62% dari total luas provinsi, terdiri dari hutan produksi seluas 362.980.40 ha (9,79%), hutan lindung seluas 228.727,11 ha (6,17%), dan hutan konservasi seluas 172.680 ha (4,63%). Pemerintah juga menaruh perhatian serius pada hutan mangrove yang mencapai 40.129,89 ha, tersebar di 10 kabupaten yang mempunyai pantai. Selain itu semua, ada lagi satu hutan lindung seluas 32.313,59 ha yang dikelola oleh Perum Perhutani Unit III jawa Barat dan Banten. Dari hutan produksi yang dimilikinya, pada 2006 Jawa Barat memetik hasil 200.675 m³ kayu, meskipun kebutuhan kayu di provinsi ini setiap tahun sekitar 4 juta m³. Sampai 2006, luas hutan rakyat 214.892 ha dengan produksi kayu sekitar 893.851,75 m³. Jawa Barat juga menghasilkan hasil hutan non kayu cukup potensial dikembangkan sebagai aneka usaha kehutanan, antara lain sutera alat jamur, pinus, gerah damar, kayu putih, rotan, bambu, dan sarang burung walet.

yakni luas areal tanam sama dengan Iuas tanaman yang menghasilkan. udang windu. ayam ras. sapi perah. Kuningan. kakao. domba.670 domba. nila. Untuk memenuhi kebutuhan Jawa Barat harus mengimpor 150 ribu ternak sapi dari Australia setiap tahunnya.596. Data 2006 menyebutkan kini tersedia 96.493 ayam buras 5. Jawa Barat Bagian Tengah untuk sapi perah. dan lain lain. Jawa Barat juga menghasilkan produksi tambang unggulan. kakao. kerang hijau.63% dari total produksi perikanan Jawa Barat. atau 63. Di tahun 2006. Dari sisi lahan. Daerah lstimewa Yogyakarta. di samping berharap pasokan ternak hidup dari provinsi lain terutama Jawa Timur. 28. Jawa Barat Bagian Utara untuk peternakan itik. Dari sisi produksi. Kehutanan Selain itu. serta Jawa Barat Bagian Selatan untuk domba dan sapi potong. berhasil dieksplorasi 5. rumput laut dan udang vaname. komoditas unggulan adalah ikan mas. kelapa.5 ton per ha) dan tebu (5. karet. Cirata. produktivitas terbanyak adalah kelapa sawit (6. padahal kebutuhan setiap tahunnya sekitar 300 ribu sapi potong. ayam buras. Dari semua jenis komoditas itu. serta pasir besi. di Jawa Barat juga terdapat potensi hutan alam dan hutan tanaman yang belum dimanfaatkan sepenuhnya. cengkeh. patin. adalah komoditas tembakau dan tebu.796 sapi perah (25% populasi nasional).994 sapi potong di jawa Barat (3% populasi nasional). Di bidang peternakan. Pada 2006. Provinsi ini memiliki banyak objek unggulan di bidang perkebunan. gurame.5 ton per ha). 4. meskipun potensi itu tidak sebesar daerah Sumatra dan Kalimantan Perikanan Budidaya perikanan di Jawa Barat berupa perikanan laut dan darat yang didukung oleh perikanan air tawar di waduk Saguling. tembakau.652. yaitu: 1. cengkeh. tembakau. Bali. kopi. antara lain teh.882 itik (16% populasi nasional). Potensi pertambangan batu mulia umumnya banyak terdapat di daerah Kabupaten Garut. Lombok. 47. dan Sukabumi. Dalam memaksimalisasi sektor peternaknya. 3. Jawa Tengah. 2. dan akar wangi. dan kopi merupakan komoditas unggulan nasional asal Jawa Barat. Kini hanya tersedia 245. Lampung.284 ton zeolit. karet. Tasikmalaya. dan sungai-sungai serta budi daya udang sampai sekarang belum sepenuhnya dikembangkan secara optimal . Jawa Barat membagi kawasan pengembangan andalan peternakan ke dalam tiga wilayah. provinsi ini memanen 560. felspar dan barn permata/gemstone. kelapa.000 ton ikan hasil budidaya perikanan dan payau. bandeng. dan domba. Jatiluhur.978 ton bentonit. dan itik adalah komoditas unggulan di Jawa Barat.Di sektor perikanan. semen pozolan.249. produktivitas terbaiknya. lele. tebu.

Selanjutnya pada Tanggal 23 Maret 1997 pengelolaan kawasan TNGH resmi dipisah dari TNGP. pemukiman masyarakat tradisional serta beberapa aktivitas pertambangan emas. kawasan ini pertama kali ditetapkan menjadi salah satu taman nasional.175/Kpts-II/2003. Berdasarkan SK tersebut penunjukan luas kawasan TNGHS adalah 113. Dimana. sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. para pihak dan masyarakat lokal dalam mengembangkan model pengelolaan kawasan TNGHS yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan. saat ini TNGHS merupakan salah satu taman nasional yang memiliki ekosistem hutan hujan tropis pegunungan terluas di Jawa. dikelola langsung oleh Unit Pelaksana Teknis Balai TNGH. Departeman Kehutanan. yang merupakan perubahan fungsi kawasan eks Perum Perhutani atau eks hutan lindung dan hutan produksi terbatas disekitar TNGH menjadi satu kesatuan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Taman Nasional Gunung Halimun Salak berbentuk seperti bintang atau jemari. 282/Kpts-II/1992 tanggal 28 Pebruari 1992 dengan luas 40. Ditetapkanlah SK Menteri Kehutanan No.000 ha. Atas dasar perkembangan kondisi kawasan disekitarnya terutama kawasan hutan lindung Gunung Salak dan Gunung Endut yang terus terdesak akibat berbagai kepentingan masyarakat dan pembangunan. FMenurut Undang Undang No. yakni perlindungan sistem penyangga kehidupan. Dilihat dari bentuk kawasannya. Seperti pengatur . TNGHS sebagai kawasan konservasi mempunyai tiga fungsi pokok.Cagar Alam Gunung Halimun (CAGH) Berawal dari kawasan Cagar Alam Gunung Halimun (CAGH) 40. Bogor dan Lebak. Apalagi didalamnya terdapat beberapa enclave perkebunan. serta adanya desakan dan harapan berbagai pihak untuk melakukan penyelamatan kawasan konservasi Halimun Salak yang lebih luas. Konon. Pengelolaan kawasan seperti ini lebih sulit dibandingkan dengan pengelolaan kawasan yang berbentuk relatif bulat. Sehingga menjadi tantangan pengelola. pengawetan sumber plasma nutfah dan menunjang pemanfaatan sumber daya alam yang lestari dan berkesinambungan. Dirjen PHKA.357 ha dan terletak di Propinsi Jawa Barat dan Banten meliputi Kabupaten Sukabumi. di bawah pengelolaan sementara Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan nama Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH).000 ha. sehingga batas yang mengelilingi kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak menjadi lebih panjang. sejak tahun 1935. pembangkit energi listrik panas bumi dan pariwisata. banyak para petani tradisional maupun pendatang sudah tinggal sebelum kawasan ini ditetapkan sebagai areal konservasi.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

. Tangerang.dpl. Diantaranya terdapat beberapa puncak gunung : Gunung Salak 1 dengan ketinggian 2211 m. kegiatan ekowisata dan pelestarian budaya.dpl. Gunung Sanggabuana dengan ketinggian 1920 m. Serta menjadi tempat hidup masyarakat lokal Kesepuhan Banten Kidul. .dpl. . tempat penelitian.dpl. Gunung Salak 2 dengan ketinggian 2180 m.dpl.dpl. dimana telah terjadi interaksi masyarakat dengan hutan alam yang masih utuh secara turun temurun. Gunung Halimun Selatan dengan ketinggian 1758 m. Topografi kawasan pada umumnya adalah bergelombang. . Rangkasbitung dan Jakarta. dan Gunung Kendeng dengan ketinggian 1680 m. Gunung Halimun Utara dengan ketinggian 1929 m. pendidikan lingkungan. berbukit dan bergununggunung. Sukabumi. . konservasi hidupan liar.tata air dan iklim mikro. Dimana secara nyata kawasan hutan TNGHS merupakan sumber air yang amat penting bagi masyarakat di sekitarnya termasuk kota-kota besar seperti Bogor. Wewengkoan Cibedug dan Masyarakat Baduy.

Pengelolaan kawasan seperti ini lebih sulit dibandingkan dengan pengelolaan kawasan yang berbentuk relatif bulat.Ciujung. Taman Nasional Gunung Halimun Salak berbentuk seperti bintang atau jemari. Cagar Alam Gunung Halimun (CAGH) Berawal dari kawasan Cagar Alam Gunung Halimun (CAGH) 40. Bogor dan Lebak.000 ha. dikelola langsung oleh Unit Pelaksana Teknis Balai TNGH. Cidurian. 282/Kpts-II/1992 tanggal 28 Pebruari 1992 dengan luas 40.175/Kpts-II/2003. Sedangkan untuk kawasan pada bagian Gunung Salak merupakan gunung berapi strato type A. Dimana. kawasan ini pertama kali ditetapkan menjadi salah satu taman nasional. di bawah pengelolaan sementara Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan nama Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH). musim hujan terjadi pada bulan Oktober ± April. yang merupakan perubahan fungsi kawasan eks Perum Perhutani atau eks hutan lindung dan hutan produksi terbatas disekitar TNGH menjadi satu kesatuan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Cisadane. sejak tahun 1935. Berdasarkan SK tersebut penunjukan luas kawasan TNGHS adalah 113. saat ini TNGHS merupakan salah satu taman nasional yang memiliki ekosistem hutan hujan tropis pegunungan terluas di Jawa.357 ha dan terletak di Propinsi Jawa Barat dan Banten meliputi Kabupaten Sukabumi. musim kemarau berlangsung bulan Mei ± September. Selanjutnya pada Tanggal 23 Maret 1997 pengelolaan kawasan TNGH resmi dipisah dari TNGP. Dilihat dari bentuk kawasannya. sehingga batas yang mengelilingi kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak menjadi lebih panjang.Adapun curah hujan rata-rata 4000 ± 6000 mm/tahun. kawasan Gunung Halimun terbentuk oleh pegunungan tua yang terbentuk akibat adanya gerakan tektonik yang mendorong ke atas. Dengan iklim yang basah. serta adanya desakan dan harapan berbagai pihak untuk melakukan penyelamatan kawasan konservasi Halimun Salak yang lebih luas. Apalagi didalamnya terdapat beberapa .000 ha. dari kawasan ini mengalir beberapa sungai yang tak pernah kering dan mensuplai air ke wilayah sekitarnya. memiliki kawah yang masih aktif dan lebih dikenal dengan nama Kawah Ratu. Atas dasar perkembangan kondisi kawasan disekitarnya terutama kawasan hutan lindung Gunung Salak dan Gunung Endut yang terus terdesak akibat berbagai kepentingan masyarakat dan pembangunan. dimana tercatat terakhir Gunung Salak meletus tahun 1938. sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. Secara geologis. Ditetapkanlah SK Menteri Kehutanan No. Departeman Kehutanan. Dirjen PHKA. Cimadur dan Citarik maupun Citatih yang jauh lebih dikenal sebagai tempat wisata arung jeram. Sungai-sungai tersebut antara lain Ciberang.

Gunung Halimun Selatan dengan ketinggian 1758 m. Diantaranya terdapat beberapa puncak gunung : Gunung Salak 1 dengan ketinggian 2211 m.dpl. Dengan iklim yang basah. pendidikan lingkungan..Ciujung. Cisadane. Topografi kawasan pada umumnya adalah bergelombang. dari kawasan ini mengalir beberapa sungai yang tak pernah kering dan mensuplai air ke wilayah sekitarnya. pengawetan sumber plasma nutfah dan menunjang pemanfaatan sumber daya alam yang lestari dan berkesinambungan. musim hujan terjadi pada bulan Oktober ± April. Sehingga menjadi tantangan pengelola.dpl. kawasan Gunung Halimun terbentuk oleh pegunungan tua yang terbentuk akibat adanya gerakan tektonik yang mendorong ke atas. Secara geologis. pemukiman masyarakat tradisional serta beberapa aktivitas pertambangan emas. Gunung Salak 2 dengan ketinggian 2180 m.dpl. kegiatan ekowisata dan pelestarian budaya. Gunung Sanggabuana dengan ketinggian 1920 m. pembangkit energi listrik panas bumi dan pariwisata. para pihak dan masyarakat lokal dalam mengembangkan model pengelolaan kawasan TNGHS yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan. musim kemarau berlangsung bulan Mei ± September.dpl. Cidurian.dpl. . yakni perlindungan sistem penyangga kehidupan.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. berbukit dan bergununggunung. memiliki kawah yang masih aktif dan lebih dikenal dengan nama Kawah Ratu. dan Gunung Kendeng dengan ketinggian 1680 m. Adapun curah hujan rata-rata 4000 ± 6000 mm/tahun. TNGHS sebagai kawasan konservasi mempunyai tiga fungsi pokok. Serta menjadi tempat hidup masyarakat lokal Kesepuhan Banten Kidul. Rangkasbitung dan Jakarta. tempat penelitian.enclave perkebunan. dimana telah terjadi interaksi masyarakat dengan hutan alam yang masih utuh secara turun temurun. Menurut Undang Undang No. Cimadur dan Citarik maupun Citatih yang jauh lebih dikenal sebagai tempat wisata arung jeram. Seperti pengatur tata air dan iklim mikro. Gunung Halimun Utara dengan ketinggian 1929 m. Sungai-sungai tersebut antara lain Ciberang. banyak para petani tradisional maupun pendatang sudah tinggal sebelum kawasan ini ditetapkan sebagai areal konservasi. Wewengkoan Cibedug dan Masyarakat Baduy. Konon. . Sedangkan untuk kawasan pada bagian Gunung Salak merupakan gunung berapi strato type A. . Dimana secara nyata kawasan hutan TNGHS merupakan sumber air yang amat penting bagi masyarakat di sekitarnya termasuk kota-kota besar seperti Bogor. . Tangerang.dpl. konservasi hidupan liar. Sukabumi. dimana tercatat terakhir Gunung Salak meletus tahun 1938.

5.23 Tahun 2000 tentang Propinsi Banten. antara lain menyangkut Sumber Daya Air. Kabupaten Lebak dan Kabupaten/Kota Tangerang serta Kota Cilegon. Adapun monografinya : Data tahun 2005 .Perkembangan Sejarah menunjukkan bahwa Propinsi Jawa Barat merupakan Propinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). ekonomi. Kota administratif berkurang dari enam daerah menjadi empat. Jawa Barat merupakan salah satu Propinsi di Indonesia yang memiliki alam dan pemandangan yang indah serta memiliki berbagai potensi yang dapat diberdayakan. Kota Bekasi (1996). Kabupaten Pandeglang. Sumber Daya Alam dan Pemanfaatan Lahan. maka Wilayah Administrasi Pembantu Gubernur Wilayah I Banten resmi ditetapkan menjadi Propinsi Banten dengan daerahnya meliputi : Kabupaten Serang. dan tahun 1999 jumlah kotamadya bertambah menjadi 8 kotamadya. Padahal dalam kurun waktu tersebut telah banyak perubahan baik dalam bidang pemerintahan. wilayah Kabupaten/Kota di Jawa Barat baru bertambah 5 wilayah. Kota Cilegon dan Kota Depok (1999).11 Tahun 1950. secara kuantitatif jumlah Wilayah Pembantu Gubernur tetap 5 wilayah dengan tediri dari : 20 kabupaten dan 5 kotamadya. tentang Pembentukan Propinsi Jawa Barat. Sumber Daya Pesisir dan Laut serta Sumber Daya Perekonomian. maka saat ini Propinsi Jawa Barat terdiri dari : 16 Kabupaten dan 9 Kotamadya. Dalam kurun waktu 1994-1999. Propinsi Jawa Barat dibentuk berdasarkan UU No. Kota Tangerang (1993). Sumber Daya Hutan. dengan membawahkan 584 Kecamatan. Dengan lahirnya UU No.201 Desa dan 609 Kelurahan. Adanya perubahan itu. yakni Kabupaten Subang (1968). Selama lebih kurang 50 tahun sejak pembentukannya. maupun kemasyarakatan. karena Kotip Depok pada tahun 1999 berubah status menjadi kota otonom.

816.306 2.353.680.29 21. Indramayu Kab.000.674 760.572 1.084.051.91 1. Bekasi Kab.931.28 2.756 38.71 3.504 1.290. Majalengka Kab.065.27 48.134.37 1.109 874 911 984 1.812 Kepadatan (Jiwa/Km2) 1. Bogor Kab. Karawang Kab.635.111 2.15 37.184.96 Jumlah Penduduk 3.19 2. Subang Kab.945. Kuningan Kab.418 276.760 1.661 22. Sumedang Kab.292 1.90 34.091 2.228 147 Jumlah Sumber : Survei Sosial Ekonomi Daerah Tahun 2004 .484.478 1.432.204.917.24 1.147 562 606 2. Bandung Kab.970 1.912 1.340 2.376 9.49 167.62 1.868 39. Sukabumi Kab.170 1.440.178.56 12.000.976 2. Cirebon Kab.737.976 4.172 1.140.249 833.53 969.406.749.75 200.043.073.693 9.No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Kabupaten/Kota Kab.661 1.248 1.763 579.934.21 3.116 784 686 2.76 2.556.54 210. Purwakarta Kab.464 482.178 13.128 166.915 7.135.939.96 988.928 1.523 278.522.42 471. Tasikmalaya Kab.58 1.066 685 737 610 596 6.47 3.079. Garut Kab. Ciamis Kota Depok Kota Bogor Kota Sukabumi Kota Cirebon Kota Bekasi Kota Bandung Kota Cimahi Kota Tasikmalaya Kota Banjar Luas Wilayah (Km2) 3.260.99 1. Cianjur Kab.48 2.522.210.220 1.82 2.

17 %. wilayah lereng bukit yang landai di tengah ketinggian 100 1. sebelah timur berbatasan dengan Propinsi Jawa Tengah.555. dengan kepadatan penduduk sebesar 1.000 mm per tahun. 10 m dpl.064 jiwa per kilometer persegi. Topografi Ciri utama daratan Jawa Barat adalah bagian dari busur kepulauan gunung api (aktif dan tidak aktif) yang membentang dari ujung utara Pulau Sumatera hingga ujung utara Pulau Sulawesi.61 Km2 atau 4.022 jiwa per Km2.000 mm per tahun.611 jiwa. Daratan dapat dibedakan atas wilayah pegunungan curam di selatan dengan ketinggian lebih dari 1. dengan suhu 9 0 C di Puncak Gunung Pangrango dan 34 0 C di Pantai Utara. 14 Pulau di Teluk Banten dan 20 Pulau di Selat Sunda).500 m dpl.746.435. . Dengan ditetapkannya Wilayah Banten menjadi Propinsi Banten. maka luas wilayah Jawa Barat saat ini menjadi 35. Pada tahun 2000 berdasarkan sensus penduduk meningkat menjadi 35. namun di beberapa daerah pegunungan antara 3.26 Km2. curah hujan rata-rata 2. Kondisi geografis yang strategis ini merupakan keuntungan bagi daerah Jawa Barat terutama dari segi komunikasi dan perhubungan. Dengan daratan dan pulau-pulau kecil (48 Pulau di Samudera Indonesia.059.7°50' LS dan 104°48' 104°48 BT dengan batas-batas wilayahnya sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa bagian barat dan DKI Jakarta di utara. antara Samudra Indonesia di Selatan dan Selat Sunda di barat. 4 Pulau di Laut Jawa. Iklim Iklim di Jawa Barat adalah tropis. sedangkan kawasan selatan berbukit-bukit dengan sedikit pantai serta dataran tinggi bergunung-gunung ada di kawasan tengah.540 jiwa dengan kepadatan penduduknya mencapai rata-rata 1.500. jumlah penduduk telah bertambah menjadi 38.622 jiwa. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk selama dasawasra 1990 .500 m di atas permukaan laut.000 sampai 5.2000 mencapai angka 2. dan wilayah aliran sungai.461 Ha.354. Sedangkan pada tahun 2003. Kawasan utara merupakan daerah berdatar rendah. Populasi Berdasarkan hasil Sensusnas tahun 1999 jumlah penduduk Jawa Barat setelah Banten terpisah berjumlah 34. luas wilayah Jawa Barat 44. wilayah dataran luas di utara ketinggian 0 .Geografi Propinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5°50' .

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat diusahakan untuk menjaga kelestarian sumber daya alam : 1. 3. yang berarti sebelum bertindak tetapkan dulu dalam hati dan pikiran secara seksama. strata 2 dan strata 3.Sosial Budaya Masyarakat Jawa Barat di kenal sebagai masyarakat yang agamis. PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN A. sengkedan c. dengan kekayaan warisan budaya dan nilai-nilai luhur tradisional. terbanyak dibandingkan dengan propinsi lain. seperti terkandung dalam pepatah sing katepi ku ati sing kahontal ku akal. saling memberi pengetahuan dan saling mengasuh diantara warga masyarakat. penertiban pembuangan sampah 2. serta memiliki prilaku sosial yang berfalsafah pada silih asih. Bila sumber daya alam rusak atau musnah kehidupan bisa terganggu. ulah gedag kaanginan. penghijauan dan reboisasi b. tetapi berprinsip mengurangi saja. Hal ini terekspresikan pada pepatah ulah unggut kalinduan. berdasarkan prinsip daur ulang proses daur ulang adalah pengolahan kembali suatu massa atau bahan-bahan bekas dalam bentuk sampah kering yang tidak mempunyai nilai ekonomi menjadi barang yang berguna bagi kehidupan manusia. Berdasarkan prinsip berwawasan lingkungan dan berkesinambungan a. Berdasarkan prinsip mengurangi Dalam mengambil sumber daya alam sebaiknya jangan diambil semuanya. jumlah lulusan strata 1. Masyarakat Jawa Barat memiliki komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai kebajikan. Herang Caina beunang laukna yang berarti menyelesikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru atau prinsip saling menguntungkan. silih asah. Jawa Barat di lihat dari aspek sumber daya manusia memiliki jumlah penduduk terbesar di Indonesia dan sebagai Propinsi yang mempunyai proporsi penduduk dengan tingkat pendidikan. pengembangan daerah aliran sungai d. Tatanan kehidupannya lebih mengedepankan keharmonisan seperti tergambar pada pepatah. Pengambilan yang dihabiskan akan merusak lingkungan dan mengganggu ekosistem lingkungan. silih asuh. . PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM Sumber daya alam perlu dilestarikan supaya dapat mendukung kehidupan makhluk hidup. yang secara harfiah berarti saling mengasihi. pengelolaan air limbah e. yang berarti konsisten dan konsekuen terhadap kebenaran serta menyerasian antara hati nurani dan rasionalitas.

Iklim di Jawa Barat adalah tropis. DKI Kedua BENGKULU-Jawa Barat (Jabar) berhasil men . dan perlu untuk segera dilakukan antisipasi tekhnis.. menjadi sangat strategis dengan kelengkapan posisi dari daerah dataran rendah di utara. kawasan industri dan permukiman cenderung untuk meluas. Kondisi geografis Jawa Barat dilihat dari kekhasan topografi dengan komposisi berbukitbukit dan bergunung-gunung. sampai denga tahun 2010 luas hutan.000 mm per tahun (kategori sangat tinggi).000 mm pertahun (kategori rendah). Hal ini sudah sangat mendesak untuk dilaknsanakan karena dampak buruk dari tingginya curah hujan berakibat banjir didaerah rendah dan mengancam lumbung . sedangkan lahan kering dan lahan basah cenderung berkurang. namun dibeberapa daerah pegunungan antara 3. curah hujan rata-rata 2. dengan suhu 90C di Puncak Gunung Pangrango dan 340 C di Pantai Utara.Ada 2 sistem pengelolaan sampah yaitu system pengelolaan formal dan informal 1. System pengelolaan formal Yakni pengumpulan pengangkutan dan pembuangan yang dilakukan oleh aparat setempat misalnya Dinas Kebersihan dan Pertanaman 2. Bogor merupakan daerah yang memiliki data curah hujan tertinggi di Jawa Barat.000 sampai 5. sampai daerah selatan di dominasi kawasan yang berbukit-bukit dengan sedikit pantai serta dataran tinggi bergunung-gunung ada di kawasan tengah. Selain itu Jawa Barat memiliki lahan subur yang berasal dari endapan vulkanis serta banyaknya aliran sungai yang fungsi utamanya sebagian besar digunakan untuk pertanian. Secara tidak sadar mereka berperan serta dalam kebersihan kota dan mereka sebenarnya juga merupakan pendekar lingkungan Analisis SDA Potensi dan Sumber Daya Harus Lebih Diintensifkan Jabar Juara Umum MTQ. Hal ini yang menjadikan Jawa Barat ditetapkan sebagai lumbung pangan nasional. System pengelolaan informal Yakni aktifitas yang dilakukan oleh dorongan kebutuhan untuk hidup dari sebagian masyarakat. Kecenderungan perubahan iklim saat ini semakin terasa dampaknya. Menurut proyeksi BAPPEDA Propinsi Jawa Barat.

pangan nasional. Jawa Barat juga memiliki kemiringan lereng antara 8% (datar)sampai dengan >40% (sangat curam) dan lapisan tanah beragam mulai jenis tanah di utara kelas 1 berupa alluvial dang lei (tida peka). ketika kawasan lindung di daerah perbukitan dan pegunungan. kelas 2 berupa latosol (agak peka). kelas 4 berupa podsolik merah kuning (peka) di daerah perbukitan dan pegununganm sampai kelas5 berupa organol dan litosol (sangat peka). Jadi jelas sudah mengapa bencana tanah longsor sangat sering terjadi di Jawa Barat. . Selain curah hujan yang variatif dari kategori rendah sampai sangat tinggi. tegaknya sudah sangat minim.