Anda di halaman 1dari 9

c   

   c  c

c       



 %&'(''')
 !" %&'('')&
#$ *&'+'',)
 # *&'(''%%
" *&'(''((
# *&'(''(-



. 

/ /0
#1c
#  





"#
2


 
 
  c  
3  c    
     

%','
   c 

c"2

Pengendalian gulma secara wiping adalah kegiatan mengusap gulma yang


tumbuh secara berkelompok namun terpencar dengan kain yang digunakan di jari.
Kain tersebut telah mengandung herbisida. Gulma yang biasa dikendalikan
dengan teknik wiping adalah ilalang (V  

D. Pengendalian ini
dilakukan setelah dilakukan penyemprotan herbisida secara menyeluruh sehingga
gulma yang tersisa dikendalikan dengan wiping. Tujuan utama dari teknik ini
adalah untuk mencegah agar gulma tidak menyebar lagi seperti sebelum
penyemprotan awal (Anonim 2003D.

Terdapat bebrapa kelebihan pengaplikasian



 dalam mengendalikan
gulma diantaranya pengaplikasian langsung pada gulma sasaran, mengurangi atau
menghilangkan kerusakan pada spesies   (misalnya tanaman budidayaD,
penghematan herbisida, mengurangi pengaruh angin yang biasanya menyebabkan
pemborosan herbisida, dan hasil yang diperoleh cukup efektif. Adapun
kelemahannya adalah membutuhkan waktu yang cukup lama (Anonim 2009D.

!

„engendalikan gulma alang-alang yang masih tersisa di lapang dan


mengamati efektifitas dari herbisida hingga minggu ketiga.
c    
 

# 

Ôahan yang dipakai adalah gulma V  



 yang tumbuh di
areal kebun dan Gliphosat 0,2 %. Alat yang digunakan meliputi ember, sarung
tangan, gelas ukur, alat pengaduk.


#

Alat dan bahan disiapkan, kemudian diambil dan di ukur larutan gliphosat
0,2 % dan dilarutkan dalam 1 liter air dalam ember serta di aduk sampai rata. Lalu
diaplikasikan pada gulma dengan cara wiping, yaitu dengan cara mengusap
helaian daun gulma serta memberi tanda pada daerah wiping. Hasil wiping
diamati dan dicatat selama 3 minggu
 c 
   

2 

42 4"

  p  
p      
  p   
„  „  „ 
Ô Ô   
ÔÔ   
  
 
Ô Ô   
Ô Ô
  

Gambar 1 Gambar 2

Gambar 3
 5

uiping merupakan kegiatan pengendalian gulma yang dilakukan


umumnya setelah aplikasi herbisida dengan penyemprotan. Hal ini dilakukan
untuk mengendaliakan gulma-gulma yang tidak mati oleh aplikasi penyemprotan.
Kegiatan ini dilakukan dengan cara yang lebih manual yaitu dengan mengusapkan
herbisida cair ke gulma secara langsung. Hal ini tentu saja dikarenakan jumlah
gulma yang tidak mati setelah penyemprotan umumnya sedikit sehingga akan
berkesan terlalu boros jika dilakukan dengan penyemprotan ulang.

Dari hasil pengamatan, dapat dilihat pada pengamatan persentase kematian


gulma kelompok Ô1-Ô3 adalah 40% pada minggu pertama, 50% pada minggu
ke-2 dan 85% pada minggu ke-3. Lalu kelompok Ô4-Ô 80% pada minggu
pertama, 85% pada minggu ke-2 dan 90% pada minggu ke-3. Selanjutnya
pengamatan kelompok Ô-Ô9 menunjukkan persentase kematian sebesar 0%
pada minggu pertama, 5% pada minggu ke-2 dan 90% pada minggu ke-3.
Kemudian hasil pengamatan kelompok Ô10-Ô12 terlihat persentase kematian
gulma sebesar 30% pada minggu pertama, 50% pada minggu ke-2 dan 90% pada
minggu ke-3.

Ôila kita merujuk pada jenis herbisida yang digunakan sebagai bahan
praktikum kali ini. Glifosat merupakan herbisida yang bersifat sistemik seperti
yang dikemukakan oleh Setyobudi   , (1995D, berdasarkan cara aplikasi
melalui daun, herbisida dibedakan menjadi yang bersifat kontak contoh Paraquat
(GramoxoneD dan bersifat sistemik contoh glifosat (Round UpD.

Lalu bahan aktif glifosat itu sendiri dapat diabsorbsi lewat daun kemudian
ditranslokasikan bersama fotosintat dalam jaringan keseluruh bagian gulma.
Glifosat juga mempunyai daya brantas yang sangat luas dengan daya racun yang
rendah terhadap hewan dan manusia (Duke, 1988D. Glifosat merupakan herbisida
sistemik yang bekerja lebih efektif pada saat pertumbuhan aktif sehingga dapat
ditranslokasikan ke seluruh bagian tumbuhan. Cara bekerja glifosat adalah dengan
menghambat sintesa protein dan metabolism asam amino.
Sehingga secara teknis, proses translokasi bahan aktif tersebut
menyebabkan kematian gulma yang diberi perlakuan tidak langsung atau
bertahap. Dalam kata lain, dapat dikatakan kematian gulma berkorelasi positif
dengan kecepatan penyebaran hasil metabolisme gulma di dalam tubuh gulma.
Oleh sebab itu, bisa saja terjadi perbedaan waktu yang dibutuhkan sampai gulma
mulai menunjukkan tanda-tanda kematian.

Seperti halnya pada hasil pengamatan kelompok Ô1-Ô3 dan Ô10-Ô12


yang menunjukkan persentase tingkat kematian gulma pada minggu pertama
sebesar 40% dan 30%. Hal yang cukup berbeda nyata dengan pengamatan
kelompok Ô4-Ô dan Ô-Ô9 yang menunjukkan tingkat kematian gulma sebesar
80% dan 0%. Dalam hal ini, konsentrasi dan dosis herbisida yang digunakan
relatif sama dan diaplikasikan pada lahan dan waktu yang juga relatif sama.

Perbedaan ini lebih jelasnya disebabkan oleh tingkat kecepatan


penyebaran bahan aktif glifosat di dalam tubuh gulma itu sendiri. Tingkat
kecepatan penyebaran bahan aktif tersebut relatif bergantung pada kecepatan
metabolisme atau penyebaran hasil fotosintat gulma ke seluruh bagian tubuh
gulma. Hal ini mungkin karena kecepatan metabolisme gulma yang diberi
perlakuan berbeda sehingga menimbulkan kecepatan kematian gulma yang juga
berbeda.

Hal diatas dapat kita amati pada minggu-minggu berikutnya, dimana pada
minggu ke-3 secara serempak tingkat kematian gulma pada semua lahan
pengamatan mengalami tingkat kematian gulma yang tergolong parah. Secara
umum dapat dikatakan tidak terdapat perbedaan yang nyata pada keempat lokasi
pengaplikasian. Sehingga dapat kita pastikan bahwa herbisida yang diaplikasikan
menimbulkan kerusakan atau kematian pada gulma yang tergolong parah. Oleh
karena itu, tidak ada kesalahan pada efektifitas herbisida seperti yang nampak
pada minggu pertama.

Pada pengamatan akhir dapat jelas terlihat bahwa kematian gulma yang
terjadi tergolong parah dan bisa dikatakan berhasil. Dalam hal ini, mungkin tidak
terjadi kesalahan kesalahan praktikan yang menimbulkan kesalahan dalam hasil
pengamatan. Hal ini karena jenis herbisida yang digunakan merupakan herbisida
sistemik. Dimana hal ini, memungkinkan tampaknya gejala kerusakan gulma
tanpa harus mengaplikasikan herbisida secara menyeluruh pada bagian gulma.

Secara umum, teknik pengendalian dengan wiping memungkinkan


efektiftas dalam pengendalian gulma yang optimal. Namun dalam pengaplikasian
di lapang hal ini cukup memakan tenaga kerja tentu saja apabila lahan yang
diaplikasihan cukup luas. Selain itu, apabila kurang hati-hati dapat menimbulkan
pemborosan dalam pemakaian herbisida. Sehingga diperlukan pertimbangan yang
baik dalam perencanaan pengaplikasian ini.
 
 c    

 4

Pengendalian gulma dengan wiping baiknya dilakukan terhadap gulma


yang tidak mengalami kematian akibat herbisida dengan penyemprotan.
Pengaplikasian herbsida dengan wiping memiliki tingkat ketelitian yang lebih
baik. Pengaplikasian herbisida dengan teknik wiping juga lebih hemat. Akan
tetapi pengaplikasian ini memerlukan waktu yang lebih lama dan memerlukan
tenaga kerja yang lebih banyak dari penyemprotan. Gulma yang diaplikasikan
herbisida glifosat 0,2 % mengalami kematian yang merata dan maksimum.



Sebaiknya pengaplikasian herbisida dengan cara wiping dilakukan dengan


lebih hati-hati dan teliti. Sebab petani secara lansung kontak dengan herbisida.
Lalu dalam pengaplikasian, baiknya dilakukan dengan teliti agar tidak
menimbulkan efek berlebihan atau boros.
DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. 2003. u
 u . http://www.beefmagazine.com ( diakses D

[Anonim]. 2009. u
u

.

Duke, S. O. 1988. Glyphosate. Pl-,


Kearney, C. P., and D. D. Kurfman (edsD.
1988. 

 
   
       
    .
„arcel Dekker Inc. New York and Ôassel.

Setyobudi, H., Subiyantono, dan S. uanasuria. 1995.  


  ! 

    !  . Hal: 4-53.   P.
Ôangunan, I, U. Sutanto dan R. C. Ô. Ginting (edsD. Prosiding Seminar
Pengembangan Aplikasi Kombinasi Herbisida. Jakarta.