Anda di halaman 1dari 3

Jumat, 14 September 2007

Bengkulu Diguncang Gempa


Oleh : Leo Sutrisno

Tanggal 12 September 2007, menjelang magrib Bengkulu diguncang gempa dengan


kekuatan 7.9 skala Richter. Getaran gempa dirasakan hampir di seluruh Pulau Sumatra
dan juga dirasakan di Jakarta. Episentrumnya berada di Lautan Hindia dalam kedalaman
10 km. Bahkan, BMG mengeluarkan peringatan akan ada Tsunami sekitar 25 menit – 120
menit. Dilaporkan sekitar pukul 20.20 terjadi Tsunami di Sumatera Barat dengan
ketinggian sekitar satu meter.

Sesungguhnya, Bengkulu merupakan daerah paling rawan gempa, di daerah ini setiap
hari terjadi gempa bumi meski sebagian besar dengan kekuatan di bawah 3,0 SR sehingga
getarannya tak dapat dirasakan oleh manusia. Tetapi dirasakan oleh sejumlah binatang,
misal anjing, kucing dan ikan akuarium yang terlihat berperilaku ’aneh’. Gempa-gempa
yang besar terjadi tahun 2000, 2004, 2005 dan 2007 (11 Juni, dan 12 September).

Menurut Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) Departemen


Energi dan Sumber Daya Mineral ada 28 wilayah di Indonesia yang dinyatakan rawan
gempa, yaitu: NAD, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jateng
dan DIY bagian selatan, Jatim bagian selatan, Bali, NTB, NTT, Sulut, Sulteng, Sulsel,
Maluku Utara, Maluku Selatan, Biak, Yapen, Fak-Fak, serta Balikpapan.

Pusat Informasi Riset Bencana Alam membuat zonasi gempa di Indonesia dalam enam
wilayah. (1) Daerah sangat aktif, magnitudo lebih dari 8 mungkin terjadi di daerah ini
yaitu di Halmahera, pantai utara Papua. (2) Daerah aktif, magnitudo 8 mungkin terjadi
dan magnitude 7 sering terjadi yaitu di lepas pantai barat Sumatra, kepulauan Sunda dan
Sulawesi tengah. (3) Daerah lipatan dengan atau tanpa retakan, magnitudo kurang dari
tujuh bisa terjadi yaitu di Sumatra, kepulauan Sunda, Sulawesi tengah. (4) Daerah lipatan
dengan atau tanpa retakan, magnitudo kurang dari 7 mungkin terjadi, yaitu di pantai barat
Sumatra, jawa bagian utara, Kalimantan bagian timur. (5) Daerah gempa kecil,
magnitudo kurang dari 5 jarang terjadi, yaitu di daerah pantai timur Sumatra, Kalimantan
tengah. (6) Daerah stabil, tak ada catatan sejarah gempa, yaitu daerah pantai selatan
Papua dan Kalimantan bagian barat.
Gambar 1 menunjukkan Wilayah Indonesia yang dikepung oleh lempeng Eurasia,
lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Sewaktu-waktu lempeng ini akan bergeser
patah relatif satu terhadap yang lain. Pergeseran ini menimbulkan gempa bumi. Jika
terjadi tumbukan antarlempeng tektonik dapat dihasilkan tsunami, seperti yang terjadi di
Aceh dan Sumatera Utara.

Selain dikepung tiga lempeng tektonik dunia, Indonesia juga merupakan jalur The Pasicif
Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di
dunia. Cincin api Pasifik membentang di antara pemisahan lempeng Pasifik dengan
lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara dan lempeng Nazca
yang bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan. Indonesia memiliki gunung berapi
dengan jumlah kurang lebih 240 buah (70 masih aktif). Aktivitas gunung api juga dapat
menimbulkan gempa. Aktivitas gunung Kerinci tahun lalu menimbulkan gempa yang
juga dirasakan di daerah Bengkulu.

Gempa bumi disebabkan oleh pelepasan energi regangan elastis batuan pada litosfir.
Semakin besar energi yang dilepas semakin kuat gempa yang terjadi. Terdapat dua teori
yang menyatakan proses terjadi gempa yaitu pergeseran sesar dan teori kekenyalan
elastis. Gerak tiba-tiba sepanjang sesar merupakan penyebab yang sering terjadi.

Sesungguhnya, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) telah merancang akan


memasang dua unit alat deteksi gempa dan tsunami (Tsunami Early Warning
System/TEWS) di Provinsi Bengkulu. BMG akan memasang empat unit TEWS di
Provinsi Bengkulu, dua unit telah terpasang, di Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kota
Bengkulu. Dua unit lagi akan dipasang di Pulau Enggano (2008) dan Kabupaten Muko
Muko (2009). Setelah dipasang TEWS tersebut paling tidak dalam waktu kurang lima
menit kemungkinan terjadi tsunami sudah bisa diketahui.

Berdasarkan akibatnya, gempa dikelompokkan menjadi (1) kurang dari 3.5 Skala Richter
(SR) yang pada umumnya tidak terasakan oleh manusia tetapi terditeksi oleh alat. (2)
Antara 3.5-5.4 SR sudah terasa tetapi tidak menimbulkan kerusakan. (3) Antara 5.5 – 6.0
SR menimbulkan kerusakan sejumlah bangunan yang irangcang dengan baik dan
kerusakan berat yang tidak cukup baik dirancang. (4) Antara 6.1-6.9 mampu
menimbulkan kerusakan selebar 100 km persegi. (5) Antara 7.0 – 7.9 SR gempa bumi
besar. (6) Lebih besar 8 SR gempa bumi sangat dahsyat dalam cakupan ratusan km
persegi.
Akibat gempa diawali dengan goncangan, pergeseran tanah, retakan, patahan, muncul
lumpur pasir, dan pelongsoran dan bangunan roboh. Dampak gempaakan lebih terasa bila
daerah terlanda mengandung tanah lunak, belum terkonsolidasi sempurna (tanah bekas
alur sungai, bekas danau, bekas pantai), dan tanah urugan.

Setiap gempa mengahsilkan dua jenis gelombang, yaitu gelombang primer (P) dan
gelombang sekunder (S). Gelimbang P bergerak lebih cepat tetapi dengan frekuensi
rendah. Baru beberapa menit kemudian (tergantung jarak tempat itu ke pusat gempa)
disusul gelombang S. Sejumlah binatang piaraan dapat menditeksi gelombang P yang
ditunjukkan oleh perilakunya yang berbeda dari biasanya. Kita perlu mewaspadai
perilaku binatang tersebut. Ada baiknya, jika terjadi demikian segera ke luar rumah,
barang beberapa menit untuk meyakinkan apakah ada sungguh gelombang gempa atau
bukan. Semoga!