Anda di halaman 1dari 13

ANALISIS KOMPARATIF ASPEK SOSIAL EKONOMI ANTARA

USAHA PENANGKAPAN DAN PEMBESARAN LOBSTER


DI TELUK EKAS, LOMBOK TIMUR

Moh. Nazam, Prisdiminggo dan Arief Surahman


Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB

ABSTRAK

Semenjak lobster mulai dikenal sebagai komoditas komersial sekitar tahun 1990-an, maka
usaha penangkapan lobster menjadi salah satu sumber pendapatan sebagian nelayan di Teluk Ekas.
Intensitas penangkapan yang terus meningkat dan sering diikuti penggunaan racun sianida, telah
menimbulkan tekanan serius pada populasi lobster dan habitatnya, sehingga populasinya terus
mengalami penurunan. Berkembangnya usaha pembesaran lobster dalam keramba jaring apung (KJA)
di Teluk Ekas, mendorong sebagian nelayan penangkapan beralih ke usaha pembesaran ini. Sejauh
mana kontribusi kedua usaha ini terhadap pendapatan dan kesejahteraan rumah tangga nelayan, telah
dilakukan penelitian untuk menganalisis dan membandingkan aspek sosial ekonomi antara usaha
pembesaran lobster dalam KJA dengan usaha penangkapan lobster. Penelitian dilaksanakan pada
bulan Januari 2003, dengan metode survei deskriptif terhadap rumah tangga nelayan penangkapan dan
nelayan pembesaran yang ditentukan secara stratified random sampling. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tingkat pendapatan dan kesejahteraan nelayan pembesaran lebih baik
dibandingkan dengan nelayan penangkapan. Hal ini dapat diukur dari tingkat pendapatan dan
kontribusinya terhadap pendapatan rumah tangga, kelayakan usaha, status kesejahteraan rumah
tangga, peluang usaha dan kesempatan kerja, posisi tawar nelayan dan resiko usaha. Hasil penelitian
ini diharapkan dapat dijadikan bahan acuan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan sumberdaya
lobster, antara lain : kebijakan investasi, skim kredit, kelembagaan dan hukum, penelitian dan
penyuluhan.
Kata kunci : lobster, penangkapan, pembesaran, aspek sosial, ekonomi.

PENDAHULUAN

Lobster (Spiny Lobster, Panulirus spp), merupakan salah satu komoditas ekspor andalan
Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Selain karena permintaan lobster yang tinggi dan ditunjang
akses strategis pasar yang lancar dengan harga yang kompetitif, juga karena NTB memiliki
sumberdaya lobster yang cukup potensial. Pesisir dan laut NTB seluas 29.159,04 km2, di dalamnya
terdapat ekosistem terumbu karang seluas 3.601 km2, yang merupakan habitat alami lobster yang
kondisinya masih baik. Menurut Idris et al. (2001), sumberdaya lobster sudah mengalami tangkap
lebih, kecuali di sebelah selatan Nusa Tenggara dan beberapa daerah lainnya.
Permintaan yang tinggi terhadap komoditas ini, mendorong eksploitasi lobster terus
meningkat. Di Teluk Ekas usaha penangkapan lobster telah berkembang sejak tahun 1990-an. Namun
perkembangan usaha penangkapan di daerah tersebut tidak diikuti dengan peningkatan sarana
penangkapan yang memadai. Rendahnya penguasaan sarana dan teknologi penangkapan,
menyebabkan hasil tangkapan rendah. Pada kondisi dimana hasil tangkapan yang diperoleh tidak lagi
mencukupi kebutuhan rumah tangga yang terus meningkat, akan mendorong dilakukannya berbagai
tindakan yang merusak (destructive), seperti penggunaan racun sianida. Terlebih lagi dengan semakin
ketatnya persaingan antar nelayan, dengan kondisi sumberdaya lobster yang semakin terbatas.
Intensitas penangkapan yang tinggi disertai penggunaan racun sianida, tidak hanya
menimbulkan tekanan pada populasi lobster, melainkan juga menimbulkan kerusakan terumbu karang
yang menjadi habitat utama lobster. Tekanan terhadap populasi lobster yang diikuti menurunnya
kemampuan daya dukung lingkungan dapat mengancam kapasitas keberlanjutan lobster untuk tumbuh
dan berkembang secara alamiah. Bahkan dalam periode tertentu jika tidak ada upaya pengendalian,
dapat menyebabkan kepunahan. Pada kondisi demikian, maka sumberdaya lobster tidak lagi dapat
diandalkan sebagai sumber pendapatan nelayan dan devisa, sehingga pada akhirnya akan
mempengaruhi sosial ekonomi masyarakat setempat.
Berkembangnya usaha pembesaran lobster dalam KJA di Teluk Ekas sejak tahun 2001,
menyebabkan sebagian nelayan penangkapan beralih ke usaha pembesaran ini. Walaupun usaha
pembesaran masih mengandalkan benih dari alam dan pakan berupa ikan rucah (ikan pelagis kecil)
yang dipasok dari alam, namun usaha ini terus berkembang tidak hanya di Teluk Ekas, bahkan di luar
kawasan tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa usaha pembesaran ini mendapat respon positif dari
masyarakat.
Sejauh mana kontribusi kedua usaha ini terhadap pendapatan dan kesejahteraan rumah
tangga nelayan, telah dilakukan penelitian untuk menganalisis dan membandingkan aspek sosial
ekonomi antara usaha pembesaran lobster dalam KJA dengan usaha penangkapan lobster. Menurut
Adnyana (1997), suatu teknologi akan diadopsi oleh masyarakat, apabila secara sosial mudah
diterapkan dan tidak bertentangan dengan nilai budaya setempat, secara ekonomi menguntungkan dan
secara ekologis sesuai dan tidak bersifat destruktif.
Penelitian ini bertujuan menganalisis dan membandingkan aspek sosial ekonomi antara usaha
pembesaran lobster dalam KJA dengan usaha penangkapan lobster. Hasil penelitian ini diharapkan
dapat dijadikan bahan acuan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan sumberdaya lobster, antara
lain : kebijakan investasi, skim kredit, kelembagaan dan hukum, penelitian dan penyuluhan.

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2003 di Teluk Ekas, Lombok Timur yang
merupakan lokasi dimana usaha penangkapan dan usaha pembesaran lobster dilakukan oleh nelayan
secara berdampingan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei deskriptif. Obyek penelitian
adalah rumah tangga nelayan penangkapan dan pembesaran lobster dalam KJA dengan responden
sebanyak 30 rumah tangga nelayan yang ditentukan secara stratified random sampling. Pengumpulan
data dilakukan secara indepth-interview dan observasi dengan menggunakan kuisioner semi
terstruktur. Status kesejahteraan rumah tangga diukur berdasarkan standar kemiskinan untuk pedesaan
(Sayogyo, 1982 dan BPS, 2000). Kelayakan finansial usaha penangkapan dan usaha pembesaran
lobster ditentukan berdasarkan kriteria Gross Benefit/Cost Ratio (B/C ratio), Net Present Value (NPV)
dan Internal Rate of Return (IRR) (Kadariah, 1988). Untuk melihat titik balik modal atau keuntungan
sama dengan nol dilakukan analisis titik impas (break even point, BEP) (Riyanto, 1995). Untuk
mengetahui lama waktu (periode) pengembalian modal, maka didekati dengan analisis pay back
period (PBP) (Soekartawi, 1995). Untuk menguji apakah aspek sosial ekonomi usaha penangkapan
dan pembesaran berbeda nyata atau tidak, dilakukan uji nilai tengah t-Students. Jika nilai t hitung (t hit)
lebih kecil dari t tabel (p>0,05), maka kedua usaha tersebut tidak berbeda nyata pada tingkat
kepercayaan 95%.
Asumsi-asumsi dalam analisis finansial : (a) tingkat suku bunga (discount factor) yang
digunakan adalah tingkat suku bunga pinjaman yang berlaku di lokasi penelitian sebesar 18% per
tahun; (b) usia ekonomis (economic life) usaha penangkapan lobster ditetapkan selama 4 tahun,
sedangkan usaha pembesaran lobster selama 5 tahun. Usia ekonomis tersebut ditentukan berdasarkan
usia ekonomis tertinggi dari sarana atau peralatan yang digunakan, dengan ketentuan bahwa peralatan
yang mempunyai usia ekonomis lebih pendek dilakukan penyesuaian dengan cara menghitung
kebutuhan sarana atau alat tersebut agar usia ekonomis tertinggi dapat dicapai, salvage value tidak
ada; (c) nilai penyusutan (depresiasi) didasarkan atas metode garis lurus (straight line balance
method) dimana beban penyusutan diseragamkan per tahunnya dan (d) dalam penghitungan IRR
diasumsikan bahwa setiap benefit netto tahunan secara otomatis ditanam kembali dalam tahun
berikutnya dan memperoleh rate of return yang sama dengan investasi-investasi sebelumnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Karakteristik rumah tangga


Karakteristik rumah tangga menunjukkan ciri atau keadaan yang menggambarkan keadaan
atau status kesejahteraan rumah tangga nelayan penangkapan dan pembesaran lobster di Teluk Ekas,
seperti ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik rumah tangga nelayan penangkapan dan pembesaran lobster di Teluk Ekas, 2003.
No. Variabel dan sebaran Penangkapan Pembesaran
1. Umur rata-rata KK (th) 26,20 37,27
2. Pendidikan KK (%)
• Tidak Sekolah (TS) 13,33 13,33
• SD 66,67 46,67
• SLTP 20,00 13,33
• SLTA 0 26,67
3. Tanggungan keluarga (org) 3,53 4,00
4. Kondisi rumah (%)
• Tidak permanen 46,67 6,67
• Semi permanen 46,67 53,33
• Permanen 6,67 40,00
5. Fasilitas rumah tangga (%)
• Radio/tape/tidak memiliki 86,67 33,33
• Televisi 13,33 66,67
• VCD 13,33 53,33
• Parabola 6,67 20,00
6. Status kepemilikan rumah (%)
• Bukan milik 33,33 6,67
• Milik 66,67 93,33
Sumber : Data primer diolah tahun 2003

Hasil analisis (Tabel 1) menunjukkan bahwa status kesejahteraan rumah tangga nelayan
pembesaran relatif lebih baik dibandingkan dengan rumah tangga nelayan penangkapan. Tingkat
pendidikan berpengaruh pada kemampuan manajerial dalam pengambilan keputusan dan penguasaan
aset produktif. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Kasryno dan Suryana (1992), bahwa
rendahnya tingkat pendidikan merupakan salah satu ciri yang melekat pada rumah tangga miskin.
Rendahnya sumberdaya manusia berpengaruh pada penguasaan aset produktif, seperti sarana dan
modal. Terbatasnya penguasaan terhadap aset-aset produktif dan rendahnya sumberdaya manusia
menjadi faktor penyebab, sekaligus karakteristik rumah tangga nelayan miskin.
Rumah nelayan pembesaran pada umumnya permanen dan semi permanen (93,33%),
sedangkan rumah nelayan penangkapan pada umumnya masih sangat sederhana (tidak permanen)
(46,67%) dan semi permanen (46,67%). Rumah tangga nelayan pembesaran sebagian besar memiliki
televisi dan bahkan parabola, sedangkan rumah tangga nelayan penangkapan sebagian besar belum
memiliki televisi. Hampir seluruh nelayan pembesaran menempati rumah milik sendiri (93,33%),
sedangkan nelayan penangkapan yang menempati rumah milik sendiri (66,67%), sisanya (33,33%)
menumpang pada keluarga atau orang lain. Keadaan, fasilitas dan status rumah menggambarkan
keadaan sosial rumah tangga nelayan sehingga dapat digunakan sebagai tolok ukur tingkat
kesejahteraan nelayan. Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar yang harus tersedia. Seseorang
yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya dapat dikategorikan sebagai keluarga miskin (BPS,
2000).
Hasil uji statistik nilai tengah varibel-variabel karakteristik rumah tangga, seperti ditunjukkan
pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil uji statistik kesamaan dua nilai tengah antara nelayan penangkapan dan nelayan pembesaran
lobster di Teluk Ekas.

Penangkapan Pembesaran Pooled


Variabel T P
Mean SE Mean Mean SE Mean StDev
1. Umur KK 26,20 2,2 37,27 1,7 3,95* 0,0005 7,67
2. Pendidikan KK 5,80 0,60 7,20 1,0 1,15 0,26 3,33
3. Tanggungan Klg 3.53 0,487 4,0 0,352 0,78 0.44 1,64
4. Kondisi rumah 1,6 0,163 2,333 0,159 3,21* 0,0033 0,625
5. Fasilitas rumah 1,33 0,232 2,133 0,274 2,23* 0,034 0,983
6. Status rumah 1,6 0,13 1,933 0,067 2,27* 0,031 0,402
Keterangan : * berbeda nyata pada taraf 95% (p<0,05)

Hasil uji statistik (Tabel 2) menunjukkan bahwa keadaan umur, kondisi rumah, fasilitas
rumah dan status rumah berbeda nyata (p<0,05). Sedangkan tingkat pendidikan dan tanggungan
keluarga tidak berbeda nyata (p>0,05). Berdasarkan kenyataan tersebut, maka secara umum dapat
dikatakan bahwa tingkat kesejahteraan nelayan pembesaran lebih baik dibandingkan dengan nelayan
penangkapan.

2. Pendapatan rumah tangga


Pendapatan rumah tangga sering digunakan sebagai tolok ukur kesejahteraan. Menurut
Bappenas (2000), salah satu cara untuk mengukur status kemiskinan suatu rumah tangga adalah
dengan menghitung pendapatan rumah tangga tersebut dalam satu tahun. Yang dimaksud dengan
pendapatan rumah tangga adalah pendapatan yang diperoleh seluruh anggota keluarga dari berbagai
sumber baik dari usaha pokok maupun dari luar usaha pokok dalam satu tahun (Soekartawi, 1995).
Sumber dan pendapatan rata-rata rumah tangga nelayan dalam setahun, seperti ditunjukkan pada
Tabel 3.
Tabel 3. Sumber dan pendapatan rata-rata nelayan penangkapan dan nelayan pembesaran lobster per tahun di
Teluk Ekas, 2003.
Sumber pendapatan Penangkapan (Rp/th) Pembesaran (Rp/th)
1. Penangkapan ikan (PIK) 4.920.000 4.060.000
2. Penangkapan lobster (PUK) 2.242.278 720.000
3. Pembesaran lobster (BUK) 379.000 4.120.281
4. Budidaya rumput laut (BRL) 960.000 2.586.000
5. Lain-lain 640.000 3.187.000
Jumlah 9.141.278 14.673.281
Sumber : Data primer diolah 2003

Hasil analisis (Tabel 3) menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata rumah tangga nelayan
pembesaran lebih besar dibandingkan dengan pendapatan rata-rata rumah tangga nelayan
penangkapan, yaitu Rp.14.673.281,- dibanding Rp.9.141.278,- per tahun. Dilihat dari sumbernya,
pendapatan rumah tangga nelayan penangkapan sebagian besar bersumber dari usaha penangkapan
ikan, disusul usaha penangkapan lobster, usaha budidaya rumput laut, usaha pembesaran lobster dan
dari sumber lain-lain (buruh/tukang). Sedangkan pendapatan rumah tangga nelayan pembesaran yang
terbesar bersumber dari usaha pembesaran lobster, disusul dari usaha penangkapan ikan, usaha
budidaya rumput laut, usaha penangkapan lobster, dan dari sumber lain-lain (jasa angkutan
Rp.1.320.000,- dagang Rp.1.160.000,-dan tambak garam Rp.707.000.-).
Hasil analisis pendapatan per kapita per bulan (Tabel 1), menunjukkan bahwa pendapatan
rata-rata per kapita nelayan penangkapan sebesar Rp.220.070,- per bulan dan pendapatan nelayan
pembesaran Rp.258.384,- per kapita per bulan atau melampaui garis kemiskinan berdasarkan standar
BPS (2000) untuk pedesaan sebesar Rp.74.272,- per kapita per bulan atau standar Sayogyo setara
beras 240 kg per kapita per tahun. Walaupun pendapatan per kapita tidak berbeda nyata (p>0,05),
tetapi selisih pendapatan sebesar Rp.30.000,- per bulan cukup berarti bagi nelayan untuk
meningkatkan kesejahteraannya. Pendapatan nelayan Teluk Ekas dari usaha tersebut jauh lebih besar
dibandingkan dengan pendapatan nelayan pesisir Lombok Barat. Hasil penelitian PPLH IPB tahun
1996 diketahui bahwa pendapatan rumah tangga nelayan pesisir Lombok Barat antara Rp.210.540 –
Rp.643.510,- per tahun (Dahuri, 2000).
Sumber pendapatan nelayan pembesaran lebih banyak dibandingkan sumber pendapatan
rumah tangga penangkapan. Dari sisi ekonomi dapat dikatakan bahwa banyaknya sumber pendapatan
mencerminkan tingkat kestabilan pendapatan rumah tangga. Makin banyak sumber pendapatan makin
stabil pendapatan rumah tangga.
Kontribusi berbagai sumber pendapatan terhadap pendapatan rata-rata rumah tangga, seperti
ditunjukkan dalam Grafik pada Gambar 1.

60
Kontribusi Pendapatan (%)

50

40

30

20

10

0
PIK PUK BUK BRL LAIN2
Sumber Pendapatan

Nelayan Penangkapan Nelayan Pembesaran

Gambar 1. Grafik perbandingan pendapatan rata-rata rumah tangga nelayan penangkapan dan
pembesaran lobster di Teluk Ekas, 2003.

Pendapatan nelayan penangkapan dari usaha penangkapan lobster (Gambar 1) hanya


memberikan kontribusi sebesar 24,53% terhadap pendapatan rumah tangga; hal ini disebabkan oleh
berbagai faktor, antara lain : (a) teknologi yang digunakan masih sangat sederhana, yaitu dilakukan
dengan cara menyelam dengan hanya menggunakan alat bantu kaca mata selam tanpa alat bantu
pernapasan sehingga lama operasi berlangsung singkat 4-6 jam/trip; (b) sarana transportasi yang
digunakan berupa sampan/jukung ukuran kecil (0,8 m x 8-10m) yang hanya mampu menjangkau
daerah di sekitar pesisir Teluk Ekas yang sudah dikategorikan daerah tangkap lebih; (c) jumlah
operasi atau trip masih sedikit (6-14 trip/bulan) karena dipengaruhi oleh kondisi musim dan kondisi
perairan; serta (d) jumlah armada cukup banyak sehingga persaingan sangat ketat.
Demikian pula pendapatan nelayan pembesaran dari usaha pembesaran lobster hanya
memberikan kontribusi sebesar 28,08% terhadap pendapatan rumah tangga. Hal ini disebabkan oleh
faktor-faktor antara lain : (a) jumlah unit KJA yang diusahakan masih sedikit (belum memenuhi skala
usaha); (b) padat tebar benih belum optimal; (c) harga benih terlalu tinggi; (d) usaha pembesaran
lobster masih bersifat sub sisten dan belum dikelola secara komersial.

3. Pengeluaran rumah tangga


Status kesejahteraan dapat diukur berdasarkan proporsi pengeluaran rumah tangga (Bappenas,
2000). Nelayan dapat dikategorikan sejahtera apabila proporsi pengeluaran untuk kebutuhan pokok
sebanding atau lebih rendah dari proporsi pengeluaran untuk kebutuhan bukan pokok, seperti
pendidikan, pakaian, kesehatan, rekreasi, dan kebutuhan sosial kemasyarakatan lainnya. Sebaliknya
rumah tangga dengan proporsi pengeluaran untuk kebutuhan pokok lebih besar dibandingkan dengan
pengeluaran untuk kebutuhan bukan pokok, dapat dikategorikan sebagai rumah tangga dengan status
kesejahteraan yang masih rendah.
Proporsi pengeluaran rumah tangga nelayan penangkapan dan pembesaran lobster dalam
setahun di Teluk Ekas, ditunjukkan dalam Grafik pada Gambar 2.

90

Porsi Pengeluaran (%)


80
70
60
50
40
30
20
10
0
K.POKOK PENDDK PAKAIAN LAIN-LAIN
Jenis Pengeluaran

Nelayan Penangkapan Nelayan Pembesaran

Gambar 2. Grafik perbandingan proporsi pengeluaran rumah tangga nelayan penangkapan dan
pembesaran lobster per tahun di Teluk Ekas, 2003.

Proporsi pengeluaran rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari (pokok)
masih mendominasi pengeluaran tahunan rumah tangga nelayan (Grafik 2). Hal ini menunjukkan
bahwa meskipun pendapatan rumah tangga telah melampaui garis kemiskinan tetapi tingkat
kesejahteraan nelayan masih tergolong rendah. Proporsi pengeluaran rumah tangga nelayan
penangkapan untuk kebutuhan pokok lebih besar dibandingkan dengan proporsi pengeluaran rumah
tangga pembesaran untuk keperluan yang sama, yaitu 86,16% dibandingkan dengan 77,54%. Hal ini
berarti bahwa proporsi pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan dasar di luar kebutuhan pokok sangat
kecil, yaitu hanya sebesar 13% dan 22,46%. Kenyataan tersebut menunjukkan status kesejahteraan
nelayan masih tergolong rendah. Bila dibandingkan antara nelayan penangkapan dan pembesaran,
maka status kesejaheraan nelayan pembesaran cenderung lebih baik dibandingkan dengan nelayan
penangkapan.

Peluang usaha dan kesempatan kerja


Usaha penangkapan maupun usaha pembesaran lobster merupakan kegiatan investasi. Selain
memberikan manfaat langsung berupa output yang dapat diukur dengan satuan moneter (tangiable),
juga dapat memberikan manfaat sekunder yang sulit diukur dengan satuan moneter (intangiable),
diantaranya peluang usaha dan penciptaan lapangan kerja baru, pemerataan pendapatan, penyerapan
tenaga kerja, pemanfaatan waktu luang tenaga keluarga, peningkatan kualitas produk dan jaminan
kepastian hasil.
Berkembangnya usaha penangkapan dan pembesaran lobster di Teluk Ekas dapat menciptakan
lapangan kerja dan peluang usaha, antara lain : (a) penyediaan bahan baku; (b) penyediaan benih dan
pakan; (c) pemasaran hasil lobster dan (d) pelayanan jasa lainnya, seperti transportasi dan komunikasi.
Berkembangnya usaha pembesaran akan membutuhkan bahan dan sarana produksi yang cukup
banyak, seperti kebutuhan bambu untuk konstruksi KJA dan pendukungnya 14.000 batang, tali nylon
1,5-2 ton, pelampung 500-1000 buah, benih 150.000 ekor dan pakan sekitar 250 ton. Ini berarti bahwa
penyerapan tenaga kerja akan meningkat.

4. Aspek pemasaran
Lobster merupakan komoditas ekspor yang dipasarkan dalam keadaan hidup (live lobster) atau
segar (fresh lobster). Karena itu aksesibilitas pasar dan teknologi pengemasan merupakan faktor yang
sangat penting. Letak geografis Teluk Ekas yang relatif dekat, dengan waktu tempuh menggunakan
pesawat udara 30 menit dan kapal laut cepat (jet poil) ke Denpasar kurang dari 4 jam atau pesawat
udara ke Jakarta kurang dari 3 jam perjalanan, memungkinkan tingkat kehidupan (SR) atau kesegaran
lobster dapat dipertahankan. Umumnya pedagang pengumpul atau pengusaha hanya membeli udang
yang masih hidup dari nelayan. Mortalitas dalam pengiriman harus ditekan sekecil mungkin karena
resikonya ditanggung oleh pengirim. Walaupun udang mati tetapi masih segar masih dapat dibeli,
tetapi harganya separuh harga udang hidup.
Melihat bahwa pemasaran lobster merupakan salah satu peluang bisnis yang menguntungkan,
maka jumlah pengusaha pemasaran ikan hidup, termasuk lobster terus bertambah. Berkembangnya
pengusaha dan pedagang pengumpul lokal tersebut menimbulkan persaingan harga dan munculnya
berbagai mekanisme atau jalur pemasaran lobster di Teluk Ekas. Dari sisi nelayan hal ini sangat
menguntungkan. Terdapat tiga jalur pemasaran lobster di Teluk Ekas, secara ringkas dapat
ditunjukkan pada Gambar 3.

Tujuan Ekspor

Eksportir Antara Eksportir Antara


Jakarta Denpasar

Pengumpul Lokal Pengumpul Antara

1 2 3
Nelayan Nelayan Nelayan

Gambar 3. Bagan alir jalur pemasaran lobster di Teluk Ekas, 2003.

Bagan alir (Gambar 2) memperlihatkan bahwa jalur pemasaran lobster di Teluk Ekas dapat
ditempuh melalui tiga jalur, yaitu : (1) nelayan menjual ke pengumpul lokal, pengumpul lokal menjual
ke pengumpul antara (Praya atau Mataram), selanjutnya dijual ke eksportir antara di Denpasar, atau
dari pengumpul lokal langsung menjual ke eksportir antara di Jakarta. Dari eksportir antara Denpasar
atau Jakarta kemudian diekspor ke negara tujuan melalui Singapura, Hongkong atau lainnya; (2)
nelayan menjual ke pengumpul antara, dari pengumpul antara kemudian dijual ke eksportir antara di
Denpasar, untuk selanjutnya diekspor ke negara tujuan, dan (3) nelayan menjual langsung ke eksportir
antara di Denpasar tanpa melalui pengumpul lokal maupun pengumpul antara. Dari eksportir antara
Denpasar diekspor ke negara tujuan.
Nelayan dapat memilih jalur pemasaran yang paling memungkinkan dan menguntungkan
berdasarkan pertimbangan teknis maupun ekonomis. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa
lebih dari 90% nelayan penangkapan, memilih jalur pertama, karena volume hasil tangkapan relatif
kecil antara 0,5-1,5 kg/unit, sehingga tidak efisien kalau harus dijual ke pengumpul perantara.
Disamping itu lobster hasil tangkapan biasanya cepat mati atau jika ditampung akan terjadi
penyusutan berat.
Lebih dari 60% nelayan pembesaran memilih jalur pemasaran kedua, karena selain volume
jual lebih banyak, juga dapat diatur jadwal penjualan dengan pengumpul antara. Dengan demikian
posisi tawar (bargaining position) nelayan pembesaran lebih baik dibandingkan dengan nelayan
penangkapan. Nelayan pembesaran yang memiliki cukup modal dan keterampilan dalam penanganan
hasil (pengemasan) serta memiliki akses dengan eksportir antara di Jakarta atau Denpasar,
memungkinkan dapat memilih jalur pemasaran ketiga; dan hal ini sudah mulai dirintis oleh nelayan
pembesaran di Teluk Ekas.
Perbedaan jalur pemasaran, menentukan tingkat harga yang diterima oleh nelayan. Tingkat
harga yang diterima nelayan melalui jalur pertama lebih rendah dibandingkan tingkat harga yang
diterima melalui jalur kedua dan harga yang diterima nelayan pada jalur pemasaran ketiga adalah
yang tertinggi. Selisih harga antara jalur pemasaran pertama dan kedua sekitar Rp.1.000-2.000,-/kg;
sedangkan antara jalur pemasaran kedua dan ketiga dapat mencapai Rp.25.000-30.000,-/kg. Untuk
dapat menempuh jalur pemasaran ketiga volume penjualan minimal 16 kg (1 koli) dengan resiko
kematian ditanggung oleh nelayan. Jalur pemasaran ketiga ini merupakan peluang bagi nelayan untuk
meningkatkan nilai tambah dari hasil usahanya. Margin pemasaran masih memungkinkan dapat
ditekan dengan membuka jalur pemasaran langsung Mataram-Singapura atau Mataram-Hongkong,
sehingga harga lobster di tingkat nelayan dapat lebih tinggi.

5. Resiko usaha
Hasil penangkapan di laut oleh suatu unit usaha penangkapan sangat berfluktuasi dari hari ke
hari. Fluktuasi hasil tangkapan hampir merupakan suatu usaha yang bersifat untung-untungan, karena
dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya faktor musim, kondisi sumberdaya lobster di daerah
penangkapan (fishing area), kondisi perairan dan efektivitas alat tangkap yang digunakan. Dari
berbagai faktor yang secara simultan berpengaruh, maka sulit untuk menduga hasil penangkapan suatu
unit penangkapan di laut. Penangkapan dengan menggunakan racun sianida mengandung resiko
terhadap nelayan, karena racun sianida tergolong jenis racun yang sangat berbahaya bagi manusia.
Menurut Sugiharto (1987), senyawa sianida dalam jumlah yang sangat sedikit saja dapat
menimbulkan keracunan dan merusak organ hati manusia.
Nelayan penangkapan selalu berhadapan dengan sumberdaya yang bersifat open access.
Karakteristik sumberdaya ini menyebabkan nelayan berpindah-pindah untuk memperoleh hasil
maksimal. Dengan demikian elemen resiko menjadi sangat tinggi. Dalam hal ini Satria et al. (2002)
mengemukakan bahwa secara sosiologis, karakteristik nelayan penangkapan berbeda dengan
karakteristik petani seiring dengan perbedaan karakteristik sumberdaya alam yang tersedia. Petani
menghadapi sumberdaya yang terkontrol, yaitu pengelolaan lahan untuk produksi suatu komoditas
dengan output yang relatif dapat diprediksi. Dengan sifat produksi yang demikian, memungkinkan
tetapnya lokasi produksi sehingga menyebabkan mobilitas usaha relatif rendah dan elemen resikopun
tidak besar. Dalam hal ini nelayan pembesaran lobster dalam KJA dapat digolongkan ke dalam
masyarakat petani karena relatif sama sifat sumberdaya yang dihadapi. Kesamaan ini ditunjukkan
bahwa nelayan pembesaran mengetahui jumlah, tempat dan waktu lobster dipanen, sehingga pola
pemanenan lebih terkontrol. Pola pemanenan yang terkontrol tersebut disebabkan oleh input produksi
yang terkontrol pula. Nelayan pembesaran tahu berapa input produksi (benih, pakan) yang harus
tersedia untuk mencapai output yang dihasilkan. Beberapa faktor yang perlu diwaspadai pada usaha
pembesaran lobster adalah faktor teknis, misalnya kelangkaan pakan yang dapat meningkatkan
mortalitas lobster; faktor alam, misalnya terjadinya badai dan faktor sosial seperti penjarahan dan
pencurian.

6. Analisis biaya dan pendapatan


Dalam analisis biaya dan keuntungan, komponen biaya yang diperhitungkan terdiri atas biaya
tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Biaya tetap meliputi biaya perawatan,
penyusutan dan bunga modal.
Biaya perawatan ditetapkan sebesar 5% dari total biaya investasi. Nilai depresiasi
(penyusutan) ditentukan berdasarkan atas metode garis lurus (straight line balance method) dimana
beban penyusutan dibagi secara merata (diseragamkan) per tahunnya selama usia ekonomisnya
(Nikijuluw et al., 2000). Usia ekonomis (economic life) usaha penangkapan lobster ditetapkan selama
4 tahun, sedangkan usaha pembesaran lobster selama 5 tahun. Usia ekonomis tersebut ditentukan
berdasarkan usia ekonomis tertinggi dari sarana atau peralatan yang digunakan dalam usaha
penangkapan atau usaha pembesaran tersebut, dengan ketentuan bahwa peralatan yang mempunyai
usia ekonomis lebih rendah harus dilakukan penyesuaian dengan cara menghitung kebutuhan sarana
atau alat yang bersangkutan agar usia ekonomis tertinggi dapat tercapai. Dengan demikian salvage
value dapat dianggap tidak ada. Bunga modal diperhitungkan berdasarkan bunga pinjaman yang
berlaku di masyarakat pada tahun bersangkutan sebesar 18% per tahun. Tenaga kerja keluarga tidak
diperhitungkan dalam analisis, karena akan merupakan pendapatan keluarga.
Biaya investasi dalam usaha penangkapan lobster meliputi peralatan selam, sarana
transportasi, dan sarana penunjang. Pada usaha pembesaran, biaya investasi mencakup biaya
konstruksi KJA, yang terdiri atas kerangka, pelampung, jaring, jangkar, pemberat jaring, dan rumah
jaga. Sedangkan sarana transportasi, yang terdiri atas sampan dan mesin penggerak dihitung
berdasarkan running account, yaitu memasukkan biaya investasi sesuai dengan proporsi
penggunaannya. Sampan dan mesin penggerak yang digunakan dalam operasional usaha pembesaran
adalah sarana transportasi yang digunakan pada usaha penangkapan ikan, sehingga dalam perhitungan
biaya investasi hanya dimasukkan sebesar 50% dari harga sampan dan mesin penggerak.
Biaya tidak tetap untuk usaha penangkapan dihitung dari biaya bensin, bahan kimia, dan
tenaga kerja (awak/sabi) yang bekerja dalam operasional penangkapan. Pada usaha pembesaran, biaya
tidak tetap diperhitungkan dari harga benih, pakan, bensin dan tenaga kerja luar keluarga. Sedangkan
tenaga kerja dalam keluarga tidak dimasukkan dalam analisis biaya dan pendapatan baik pada usaha
penangkapan maupun usaha pembesaran, karena merupakan pendapatan keluarga.
Produksi adalah seluruh hasil riil lobster yang diperoleh dari usaha penangkapan dan
pembesaran selama satu tahun. Nilai produksi (total penerimaan) dihitung berdasarkan volume
produksi dikalikan dengan harga pasar yang berlaku untuk setiap nelayan. Pendapatan usaha
diperhitungkan dari selisih penerimaan total (total revenue) dengan total biaya (total cost). Hasil
analisis biaya dan pendapatan usaha penangkapan dan pembesaran lobster dalam periode satu tahun di
Teluk Ekas, seperti ditunjukkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Rata-rata biaya dan pendapatan usaha penangkapan dan pembesaran lobster per tahun di Teluk Ekas,
2003.
Pendapatan Rp/tahun
Komponen biaya dan pendapatan
Penangkapan Pembesaran
A. Komponen biaya
1. Biaya tetap (fixed cost) 1.468.356 1.178.775
- Perawatan 5% investasi 159.263 148.055
- Biaya penyusutan 709.464 497.722
- Bunga modal (18%/th). 599.628 532.998
2. Biaya tidak tetap (variable cost) 2.991.367 4.443.067
- Potas 6,667 0
- Bensin 218,400 0
- Awak 2,766,300 0
- Benih 0 3,172,000
- Pakan rucah segar 0 1,169,333
- Bensin 0 95,067
- Upah tenaga kerja 0 6,667
3. Total biaya 4.459.722 5.621.842
B. Nilai produksi 6.702.000 9.742.123
C. Pendapatan 2.242.278 4.120.281
Sumber : Data primer diolah, 2003

Hasil analisis (Tabel 4) menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata usaha penangkapan lebih
kecil dibanding pendapatan rata-rata usaha pembesaran, yaitu, Rp.2.242.278,-/tahun dibandingkan
dengan Rp.4.120.281,-/tahun atau berbeda nyata (p<0,05). Besarnya pendapatan yang diperoleh
nelayan penangkapan ditentukan oleh volume hasil yang diperoleh. Walaupun upah tenaga kerja
merupakan komponen biaya terbesar pada usaha penangkapan (62,03%), namun besarnya upah tenaga
kerja tersebut tergantung hasil yang diperoleh. Sedangkan pada usaha pembesaran besarnya
pendapatan selain ditentukan oleh volume hasil yang dipengaruhi oleh tingkat kelangsungan hidup
lobster yang dipelihara, juga ditentukan oleh harga benih dan pakan. Harga benih merupakan
komponen biaya terbesar pada usaha pembesaran (56,42%), dan pakan (20,81%). Dengan demikian
keuntungan usaha masih dapat ditingkatkan terutama bagi nelayan yang mampu menyediakan benih
dan pakan sendiri.
Pendapatan dari usaha penangkapan nampaknya sulit untuk ditingkatkan, mengingat kondisi
sumberdaya lobster di lokasi penangkapan sudah tergolong padat tangkap. Sedangkan pendapatan
usaha pembesaran masih bisa ditingkatkan dengan menyediakan benih dan pakan secara mandiri serta
meningkatkan skala usaha 4 kali dari yang ada saat ini.

7. Analisis finansial
Salah satu aspek yang digunakan dalam menganalisis kelayakan usaha adalah dengan
menganalisis aspek finansialnya. Dalam analisis finansial, kegiatan usaha dilihat dari sudut badan atau
orang yang menanam modalnya dalam kegiatan atau yang berkepentingan langsung dalam kegiatan.
Untuk menentukan kelayakan usaha penangkapan dan pembesaran lobster, dapat digunakan kriteria
B/C ratio, NPV dan IRR (Kadariah, 1988); titik impas (break even point, BEP) (Riyanto, 1995) dan
periode pengembalian modal (pay back period, PBP) (Soekartawi, 1995). Dengan menggunakan
asumsi yang telah disebutkan di muka, maka diperoleh hasil analisis, seperti ditunjukkan pada Tabel
5.
Tabel 5. Nilai B/C ratio, NPV, IRR, BEP dan PBP usaha penangkapan dan usaha pembesaran lobster di Teluk
Ekas, 2003
Kriteria kelayakan Penangkapan n=15 Pembesaran n=15
1. B/C ratio 1,53 1,71
2. NPV 2.905.327 9.923.020
3. IRR (%) 42,25 56,20
4. BEP volume produksi (kg) 29,73 35,67
5. BEP harga produksi (Rp) 100.891 93.038
6. Payback period (tahun) 2,5 1,5
Sumber : Data primer diolah, 2003

Hasil analisis (Tabel 5) menunjukkan bahwa baik usaha penangkapan maupun pembesaran
lobster layak untuk diusahakan. Usaha penangkapan dengan B/C ratio 1,53 dan usaha pembesaran
dengan B/C ratio 1,71, berarti bahwa dengan discount rate sebesar 18%/tahun, the present value dari
benefit lebih besar dari pada the present value dari cost, dan hal ini berarti usaha tersebut
menguntungkan. Semakin besar nilainya berarti usaha tersebut semakin menguntungkan (Pasaribu et
al., 1988). Besarnya B/C ratio dipengaruhi oleh tingginya discount rate yang dipakai. Makin tinggi
discount rate, makin kecil B/C ratio, dan jika discount rate tinggi sekali, B/C ratio dapat turun sampai
menjadi lebih kecil dari 1 yang berarti bahwa usaha tersebut tidak lagi menguntungkan.
NPV dipakai sebagai ukuran dari hasil neto (net benefit) yang maksimal yang dapat dicapai
dengan modal atau pengorbanan sumber-sumber lain. Suatu kegiatan dikatakan layak apabila NPV
bernilai positif atau lebih besar dari nol. Hasil analisis (Tabel 5) memperlihatkan bahwa manfaat yang
diperoleh dari suatu pengorbanan investasi dengan tingkat bunga 18%/tahun adalah Rp.2.905.327,-
pada usaha penangkapan dan Rp.9.923.020,- pada usaha pembesaran, sehingga kedua usaha tersebut
layak untuk diusahakan.
Usaha penangkapan dengan IRR sebesar 42,25%, menunjukkan bahwa tingkat bunga
maksimum yang dapat dibayar oleh usaha penangkapan untuk sumberdana yang digunakan sebesar
42,25%. Usaha pembesaran dengan nilai IRR sebesar 56,20%, menunjukkan bahwa tingkat bunga
maksimum yang dapat dibayar oleh usaha pembesaran dengan penggunaan modal investasi sebesar
56,20%. Semakin tinggi nilai IRR yang diperoleh, maka tingkat bunga maksimum yang dapat dibayar
makin tinggi yang berarti bahwa besarnya insentif yang diterima oleh pemilik modal dari modal yang
dinvestasikan makin tinggi. Kriteria IRR lebih banyak digunakan dari pada kriteria lain dan dipakai
sebagai kriteria utama di kalangan Bank Dunia untuk mengukur profitability proyek-proyek
pembangunan, baik secara finansial maupun ekonomis (Gittinger, 1986).
Usaha penangkapan akan berada pada posisi BEP atau keuntungan sama dengan nol, apabila
menghasilkan lobster sebanyak 29,73 kg atau jika harga satuan lobster yang diterima nelayan
mencapai Rp.100.891/kg. Sedangkan usaha pembesaran akan berada pada posisi BEP, apabila volume
produksi mencapai 35,67 kg atau jika harga satuan yang diterima nelayan mencapai Rp.93.038/kg.
Dengan demikian, usaha penangkapan maupun usaha pembesaran layak diusahakan, karena mampu
menghasilkan lobster sebanyak 44,68 kg dan 61,67 kg dengan harga satuan yang diterima nelayan
sebesar Rp.150.000,- per kg atau 33-42% di atas BEP.
Bagi usaha penangkapan dimana produksi sangat fluktuatif karena dipengaruhi oleh banyak
faktor, seperti musim, kondisi perairan, maka kriteria BEP produksi sangat berguna untuk menentukan
apakah produksi yang dihasilkan berada pada kondisi menguntungan atau merugi. Dalam kondisi
dimana harga pasar lobster yang sangat fluktuatif terutama karena dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah
terhadap dollar, maka harga BEP berguna untuk menentukan apakah tingkat harga pasar yang berlaku
menguntungkan atau tidak, sehingga nelayan dapat mempertimbangkan apakah menjual produknya
atau tidak.
Periode pengembalian modal (PBP) usaha penangkapan adalah 2,5 tahun atau lebih singkat
dari usia ekonomisnya selama 4 tahun, sedangkan PBP usaha pembesaran adalah 1,5 tahun atau lebih
singkat dari usia ekonomisnya selama 5 tahun. Hal ini berarti bahwa kedua usaha tersebut mampu
mengembalikan modal investasinya sebelum usia ekonomisnya berakhir.
Untuk menentukan alternatif yang lebih baik dari kedua usaha tersebut, dilakukan uji
kesamaan dua nilai tengah terhadap variabel kelayakan finansial usaha tersebut, seperti ditunjukkan
pada Tabel 6.
Tabel 6. Hasil uji kesamaan dua nilai tengah kriteria kelayakan finansial antara usaha penangkapan dan usaha
pembesaran lobster di Teluk Ekas, 2003.
Penangkapan Pembesaran Pooled
Variabel T P StDev
Mean SE Mean Mean SE Mean
1. B/C ratio 1,53 0,073 1,71 0,054 2,02 0,054 0,248
2. NPV 2905327 731452 9923020 2260280 2,95* 0,0063 6506087
3. IRR 42,25 3,6 56,20 1,7 3,51* 0,0015 10,9
4. BEP Produksi 29,73 2,7 35,67 4,9 1,07 0,30 15,3
5. BEP Harga 100981 4306 93038 2698 1,55 0,13 13916
6. PBP 28,60 3,4 18,33 1,5 2,77* 0,0099 10,2
Keterangan : * berbeda nyata pada taraf 95% (p<0,05

Hasil analisis (Tabel 6) menunjukkan bahwa B/C ratio, BEP volume produksi dan BEP harga
tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (p>0,05), sedangkan NPV, IRR dan PBP menunjukkan
perbedaan yang nyata (p<0,05), dimana usaha pembesaran lobster lebih layak dibandingkan dengan
usaha penangkapan. Dengan demikian apabila kita dihadapkan pada pemilihan alternatif usaha yang
akan dikembangkan, maka prioritas alternatif terbaik adalah usaha pembesaran lobster. Beberapa
faktor yang mendukung pengembangan usaha pembesaran lobster antara lain : (a) usaha pembesaran
merupakan usaha yang terkontrol, sehingga hasil yang diperoleh relatif stabil dan kepastian hasilnya
lebih terjamin; (b) nelayan dapat mengatur saat panen yang tepat dengan mempertimbangkan tingkat
harga yang terbaik; (c) biaya benih dan pakan masih dapat ditekan dengan mengusahakan penyediaan
benih dan pakan sendiri dan (d) memungkinkan untuk dikelola secara komersial dengan penggunaan
modal pinjaman karena adanya jaminan kepastian hasil yang diperoleh. Sedangkan pada usaha
penangkapan yang selalu berhadapan dengan faktor-faktor ketidakpastian, sehingga sulit untuk dapat
dikembangkan secara komersial, kecuali dengan peningkatan sarana penangkapan untuk menjangkau
wilayah teritorial atau ZEE. Namun sebelum hal tersebut menjadi sebuah kebijakan perlu pengkajian
yang mendalam terlebih dahulu.

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

1. Kesimpulan
Usaha pembesaran lobster memiliki keunggulan komparatif untuk dikembangkan di Teluk
Ekas, Lombok Timur dibandingkan dengan usaha penangkapan.
• Usaha pembesaran memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan usaha
penangkapan, yaitu Rp.4.120.281,-/tahun dibandingkan dengan Rp.2.242.278,-/tahun atau
berbeda nyata (p<0,05).
• Kondisi biofisik Teluk Ekas sesuai untuk pengembangan usaha pembesaran lobster. Ketersediaan
benih dan pakan secara lokal, memungkinkan usaha ini dapat dikelola secara efisien dan
berkelanjutan;
• Dari berbagai kriteria kelayakan finansial menunjukkan bahwa usaha pembesaran lebih layak
diusahakan dibandingkan dengan usaha penangkapan atau berbeda nyata (p<0,05). Adanya
jaminan kepastian hasil dan pasar dengan tingkat resiko yang relatif kecil, memungkinkan usaha
pembesaran lobster dapat dikelola secara komersial. Usaha pembesaran juga memberikan peluang
usaha bagi masyarakat, sehingga dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak;

2. Implikasi kebijakan
Untuk mendukung pengembangan usaha pembesaran lobster yang efisien dan berkelanjutan
perlu dilakukan upaya-upaya :
a. Usaha pembesaran lobster perlu dikelola pada skala usaha ekonomi. Untuk itu perlu diupayakan
skim kredit yang sesuai untuk membantu permodalan nelayan mencapai skala usaha yang
optimal.
b. Pengendalian usaha penangkapan lobster yang bersifat destruktif hendaknya dilarang agar tidak
mengganggu proses regenerasi lobster terutama dalam upaya penyediaan benih dan pakan secara
alami.
c. Pembenihan secara massal di panti pembenihan (hatchery) dan pembuatan pakan alternatif
sebagai pakan pengganti (substitusi) maupun sebagai suplemen untuk mengurangi ketergantungan
dari alam.
d. Peningkatan pengawasan dan pemberian sanksi yang tegas terhadap setiap aktivitas yang
merusak lingkungan melalui optimalisasi tugas dan fungsi kelembagaan awig-awig pengelolaan
sumberdaya perikanan dan suaka perikanan yang ada di kawasan Teluk Ekas.
e. Pembukaan jalur pemasaran langsung Mataram – Singapura atau negara tujuan ekspor lainnya,
guna memperpendek rantai pemasaran lobster, sehingga harga di tingkat nelayan dapat
ditingkatkan.

DAFTAR PUSTAKA

Adnyana, M.O., Erwidodo, L.I. Amin, Soetjipto, Suwandi, E.Getarawan dan Hermanto. 1997.
Panduan Umum Pelaksanaan Penelitian, Pengkajian dan Diseminasi Teknologi Pertanian.
Badan Litbang Pertanian. Jakarta.
Bappenas. 2000. Program Pembangunan Nasional Penanggulangan Kemiskinan. Makalah diskusi
Rakor-Pokja Operasional Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan Tk. Pusat. 13 Juni 2000.
Jakarta.
BPS. 2000. Statistik Indosesia 2000. Jakarta.
Dahuri, R. 2000. Pendayagunaan Sumber Daya Kelautan Untuk Kesejahteraan Rakyat (Kumpulan
Pemikiran). LISPI. Jakarta.
Gittinger J.P. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Ed-2, Rev. UI-Press. Jakarta.
Idris, I., S. Putra, S. Diposaptono, Baddrudin, M. Knight, J. Patlis dan W.T.P. Siahaan. 2001. Naskah
Akademik Pengelolaan Wilayah Pesisir. Kerjasama Direktorat Bina Pesisir dengan CRMP.
Jakarta.
Kadariah. 1988. Evaluasi Proyek. Analisa Ekonomis. Ed. Ke-2. LPFE UI, Jakarta.
Kasryno, F and A. Suryana. 1992. Long-Term Planning for Agricultural Development Related to
Proverty Alleviation in Rural Areas. Dalam Pasandaran, E. et al. (Eds) Proverty Alleviation
with Sustainable Agricultural and Rural Development in Indonesia. Proceedings of National
Seminar and Workshop : 60-70.
Nikijuluw, V.P.H., E. Basuno, B. Winarso dan C. Nurasa. 2000. Pemberdayaan Perikanan Rakyat
Berdasarkan Analisis Bio-Ekonomi Sumberdaya. Laporan Hasil Penelitian. PSE. Bogor.
Pasaribu, A.M., M. Mangampa dan H. Padda. 1988. Analisa Ekonomi Budidaya Udang Intensif (Studi
Kasus di Desa Gronggong Kecamatan Barru Sulawesi Selatan). Jurnal Penelitian Budidaya
Pantai Maros, Vol. 4, No. 1 : 119-131.
Riyanto, B. 1995. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan.BPFE. Yogyakarta.
Satria, A., A. Umbari, A. Fauzi, A. Purbayanto, E. Sutarto, I. Muchsin, I. Muflikhati, M. Karim, S.
Saad, W. Oktariza dan Z. Imran. 2002. Menuju Desentralisasi Kelautan.PKA-IPB, Partnership
for Governance Reform in Indonesia dan Cidesindo. Jakarta.
Sayogyo. 1982. Garis Kemiskinan dan Kebutuhan Minimum. Gramedia. Jakarta.
Soekartawi. 1995. Dasar Penyusunan Evaluasi Proyek. Penerbit Sinar Harapan. Jakarta.
Sugiharto. 1987. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah. UI-Press.