P. 1
Alergi bulu kucing

Alergi bulu kucing

|Views: 62|Likes:
Dipublikasikan oleh n4rc1zt_007293

More info:

Published by: n4rc1zt_007293 on Dec 27, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/27/2010

pdf

text

original

Alergi bulu kucing Johnson menyebutkan, biasanya alergi itu muncul dari kulit hewan yang disebut 'dander

' sejenis ketombe, bukan bulu. Jadi meski hewan itu tidak berbulu, bisa saja menjadi penyebab alergi, tambahnya. Selebihnya, air liur hewan yang melekat pada bulu saat ia membersihkan dirinya, atau menjilat kulit Anda bisa juga menyebabkan reaksi alergi. Bahkan urinenya pun bisa menjadi pemicu. Pamela A. Georgeson, MD, certified allergist dari Kenwood Allergy and Asthma Center, Chesterfield, Michigan, menyebutkan bahwa penyebab alergi pada banyak orang adalah protein kucing yang disebut FEL-d1 yang ditemukan pada dander dan saliva. Disebutkan juga bahwa kucing adalah hewan yang paling sering menyebabkan alergi. Alergi atau bukan? Banyak orang, terutama anakanak, yang tidak menyadari bahwa mereka alergi pada kucing. Mengapa bisa begitu? Pasalnya, protein penyebab alergi itu menyebabkan tubuh memproduksi histamin, yang biasa menyebabkan gatal pada mata, nafas bengek, dan ruam pada wajah. Gejala ini juga muncul pada penyakit lainnya, seperti kedinginan atau alergi pada debu. Karena itu, jika anak-anak memiliki gejala tersebut, biasanya dicurigai terkena flu, bukan alergi. Dengan gejala tersebut, anak-anak biasanya juga didiagnosis terkena asma. Dan hewan sudah terkenal sebagai pemicu yang memperburuk kondisi asma. Jadi, jika Anak-Anda tak asma, atau udara memang tak memicu semua orang terkena flu, maka waspadalah terhadap gejala alergi tersebut. Alergi sendiri, dipahami sebagai sesuatu yang bisa muncul karena keturunan. Tapi Johnson tidak sepaham dengan teori ini. Menurutnya, Alergi muncul dalam perjalanan hidup seseorang dengan eksposure tertentu, kata Johnson. Jika anak Anda memiliki asma bronchitis saat kecil, maka pada usia dewasa, si anak bisa berisiko tinggi mengalami alergi pada kucing, tambahnya. Yang menarik, menurut Johnson, ada informasi yang patut diperhatikan. Bahwa anak-anak yang terekspos hewan sebelum sistem imunnya terbentuk sempurna di usia dua tahun, ternyata tak mungkin terkena alergi. Tentu saja, berbagai gejala yang muncul bisa berasal dari penyebab lainnya. Tapi, untuk memastikan, tanyalah pada ahlinya. Agar Aman Ada beberapa jurus jitu agar keluarga aman hidup dengan si kucing. Pertama adalah menbatasi area hidup mereka di dalam rumah. Jangan pernah biarkan si kucing memasuki ruang tidur dan leyehan di ranjang, ujar Georgeson. Kamar tidur adalah ruang privat Anda dan si kecil, coba hitung berapa banyak waktu kita habiskan di ruang pribadi

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->