Anda di halaman 1dari 32

AHLUSSUNAH WAL JAMA`AH

(ASWAJA)

A. MUQODIMAH
Dalam sejarah tercatat bahwa di lingkungan umat Islam sejak
sekarang sampai permulaan terdapat firqoh-firqoh dalam I`tiqodih.
Firqoh-firqoh tersebut berbeda-beda fahamnya dan bahkan firqoh
bertentangan secara tajam antara satu dengan yang lain.
Perbedaan faham yang ada pada agama islam terjadi sejak
jaman pada Nabi Muhammad SAW. Para sahabat sejak itu telah
berbeda pendapat dalam menafsiri sesuatu namun karena Nabi masih
hidup maka permasalahan perbedaan tersebut langsung bisa diatasi.
Nabi telah bersabda bahwa sepeninggalnya umatnya akan terpecah-
pecah menjadi beberapa golongan (Firqoh), dan dari beberapa firqoh
hanya satulah yang masuk surga yaitu AhlusunnahWal Jama`ah.
Walaupun umat Indonesia banyak yang berlindung di bawah
bendera Ahlussunah Wal Jama`ah, akan tetapi akhir-akhir ini muncul
berbagai kesimpangsiuran dan bermacam-macam tafsiran tentang
aqidah Ahlusunnah Wal Jama`ah. Baik berupa buku-buku, tulisan
dalam surat kabar, majalah ataupun praktek-praktek keagamanan di
masyarakat.
Kondisi demikian tentunya cukup memprihatinkan, terutama bagi
para pemerhati terhadap persoalan-persoalan ke-Islaman. Oleh karena
itu perlu persoalan-persoalan tersebut didudukkan secara proporsional,
apa sebenarnya aqidah Ahlussunnah Wal Jama`ah berdasarkan dalil-
dalil yang sahib dari Al-Qur`an dan Hadist Nabi.

B. PENGERTIAN AHLUSSUNAH WAL JAMA`AH

1. Arti Lughowi Ahlusunnah Wal Jama`ah


a. Ahli : Banyak ilmu dan cakap mengamalkan
b. Assunah : Ucapan dan tindakan Nabi
c. Wal Jama`ah : dan jalan/kesepakatan para Nabi
Jadi Ahlussunah Wal Jama`ah:
a. Banyak ilmu dan mampu mengamalkan ucapan serta ittiba`
tindakan Nabi serta sahabatnya.
b. Atau selalu berpijak pada tempat berpijak Nabi dan sahabatnya.

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 1


2. Istilah “Ahlussunah Wal Jama`ah” diambil dari sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Imam At- thobrony, yang artinya:
Telah bergolon-golong Yahudi atas 71 golongan, dan telah
bergolong-golong Nasrani atas 72 golongan, dan akan bergolong-
golong, dan akan bergolong-golonglah umatku (Umat Islam) atas 73
golongan, yang selamat Dari pada golongan-golongan itu hanya
satu golongan, sedang sisanya semua celaka. Ditanyakan (kepada
Rosulloh) siapakha golongan yang selamat itu? Beliau menjawab:
Hal (Mu`taqod para Akhlak/Tasyawuf) yang akan berpijak pada hari
ini beserta para sahabtku.
Jadi Firqoh Ahlusunnah Wal Jama`ah bukanlah buatan atau
ciptaan sembarang orang atau golongan namum ia adalah firqoh yang
berfaham dan berpendirian dengan berpijak pada tempat berbijak Nabi
dan sabatnya. Firman Allah dalam surat Attaubah ayat 100:
Yang artinya: orang-orang dahulu yang mendahulukan (kita) dari pada
sahabat Muhajirin dan sahabat Ansor dan oran-orang
yang mengikuti (jejak) mereka dengan baik, Allah
meridhoinya dan mereka meridhoi kepada Allah. Dan
Allah menyediakan bagi mereka Surga yang dibawahnya
mengalir sungai-sungai, mereka kekal selama-lamanya.
Demikian itu adalah kebahagiaan yang besar.

C. PERKEMBANGAN UMUM AHLUSSUNAH WAL JAMA AH


1. Perbedaan Faham
Perbedaan faham terhadap Sunah Nabi dan sahabat Nabi yang
diterangkan dalam hadits tersebut di atas sekarang telah menjadi
kenyatan bahkan sudah menjadi golongan (Firqoh) seperti disinyalir
dalam hadits tersebut golongan-golongan itu adalah:
Golongan Syi`ah 22 Firqoh
Golongan Kowarij 20 Firqoh
Golongan Mu`tazilah 20 Firqoh
Golongan Murji`ah 5 Firqoh
Golongan Qodariyah 3 Firqoh
Golongan Jabariyah 1 Firqoh
Golongan Mujasimah 1 Firqoh
Golongan Aswaja 1 Firqoh
Jumlah 73 Firqoh

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 2


2. Timbulnya Perbedaan Faham dan Golongan
Timbulnya perbedaan faham dan golongan ini pada umumnya
dimulai sejak sahabat/Kholifah abad pertama Hijriyah sampai abad 3
Hijriyah. Timbulnya perbedaan Faham dan timbulnya golongan
(firqoh) ini merupakan perwujudan dari para hadits Nabi tentang
terjadinya firqoh-firqoh dan adanya Najiyah dan Hallaka.

D. SYARAT-SYARAT BERPIJAK PADA TEMPAT BERPIJAK NABI


DAN SAHABAT
Untuk dapat berpijak pada tempat berpijak nabi dan sahabat harus
dipenuhi tiga faktor:
- Faktor jalan/rel yang disebut Madzhab.
- faktor petunjuk yang disebut ilmu alat.
- faktor penghubung/Robithoh yang disebut Ijazah.
Faktor Madzhab:
Faktor madzab ini merupakan ajaran dan keterangan yang ditulis oleh
para Ulama` Mujtahidin yang pernah berguru kepada para sahabat atau
para Ulama` yang pernah berguru kepada Ulama` yang pernah berguru
pada abad ke-1, ke-2, ke-3 H. dimana beliau-beliau ini setelah ini
mendapatkan pelajaran yang murni dari sahabat Nabi, dan sesuai
dengan Hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Yang artinya: Sesungguhnya sebaik-baik kamu sekalian adalah orang
yang sahabatku kemudian orang berikutnya kemudian
orang berikutnya.
Adapun Ulama` yang paling terkenal sebagai Ulama` madzab:
1. Dua orang dibidang : Aqidah/ Tauqid, yaitu:
a. Imam Abu Hasan Al-Asy`ary (tahun 260 H s/d. 324 H)
b. Imam Abu Mansur Almaturizdi (tahun 265 H s/d. 333 H)
2. Empat orang Ulama` dibidang ibadah/ Syari`ah, yaitu:
a. Imam Hanafi (tahun 80 H s/d. tahun 150 H)
b. Imam Maliki (tahun 93 H s/d. tahun 183 H)
c. Imam Syafi`i (tahun 150 H s/d. tahun 204 H)
d. Imam Hambali (tahun 164 H s/d. tahun 241 H)
3. Seorang Ulama`di bidang tasawuf : Imam Qosim Aljunaidi (tahun
206 H s/d. Tahun 273 H).

Pengertian Bermadzhab :
Bermadzhab ialah mengikuti atau ittiba`/ taqlid jejak para Ulama`
Mujtahidin Muthaliqin sebagai pembawa faham islam dari masa Nabi,
LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 3
sahabat dan tabi`in ke masa hidupnya atau gurunya dan masa hidup
atau guru-gurunya.
Macam-Macam Mujtahid Dan Muqolidin
a. Mujtahid Muthalq
b. Mujtahid Madzhab
c. Mujtahid Fatwa
Tergolong Muqolidin
a. Mujtahid Madzhab
b. Mujtahid Fatwa
c. `Awam
Landasan Bermazdhab
a. Karena tidak mungkin bertemu dengan Nabi dan Sahabat.
b. Abad/qurun hidup kita sudah terlalu jauh dibelakang 3 qurun.
c. Firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 3.
Artinya : Maka bertanyalah pada ahli zikir (ilmu) bila engkau
tidak mengetahui.
Mu`taqod Ahlussunah Wal Jama`ah yang telah disusun oleh Imam
Abdul Hasan Al Asy`ari ada 6:
a. Tentang Ketuhanan
b. Tentang Malaikat
c. Tentang Kitab-Kitab
d. Tantang Rasol
e. Tentang Hari Akhir
f. Tentang Qodho Dan Qodhar .

E. IBADAH/ SYAR`AH AHLUSSUNAH WAL JAMA`AH


1. Mu`amalah Ma`al Kholiq, yaitu Amal/ perbuatan terhadap Allah,
seperti Arkanil Islam dan ibadah lainnya.
2. Mu`amalah Ma`al Makhluk, yaitu pekerjaan/ perbuatan terhadap
atau sesama makhluk, seperti Hibah, Nikah, dll.

F. AKHLAK DAN TASAWUF AHLUSSUNAH WAL JAMA`AH


Di dalam hak Akhlak Ahlussunah Wal Jama`ah juga mengikuti
jejak Nabi dan sahabat Nabi yang dirumuskan oleh Imam Abu
Qosim Al-Junaidy, dengan pangkal sebagai berikut:
a. Membersihkan hati diri sifat-sifat yang tercela
b. Menghiasi hati dengan sifat-sifat yang terpuji
c. Akhlak dan taswuf tidak boleh berbeda dengan pokok ajaran
syari`at.
LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 4
Aswaja Yang diterapkan Menurut Kondisi Kemasyarakatan
Indonesia
1. Landasan beragama : Berdsarkan ucapan, perbuatan serta
pemikiran pada Al-Quran Al-Hadits, Ijma` dan Qiyas.
2. Landasan sikap kemasyarakatan : menampilkan sikap
kemasyarakatan yang mencerminkan nilai-nilai:
a. Tawasuth dan I`tidal: Sikap ini berlandasan pada prinsip
hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan
lurus ditengah-tengah kehidupan bersama, selalu bersifat
membangun dan menghindari bentuk pendekatan yang
Extrim.
b. Tawazun : Sikap seimbang dalam berhidmah kepad Allah,
manusia dan alam semesta, menyelaraskan
kepentingan masa lalu, kini dan akan datang.
c. Tasamuh : Sikap toleran terhadap perbedaan dan pluraritas
yang ada, baik dalam masalah agama maupun
budaya.
d. Amar Ma`ruf Nahi Mungkar. Selalu memiliki kepekaan untuk
mendorong perbuatan yang baik, berguna dan bermanfaat
bagi kehidupan bersama, serta menolak dan mencegah hal
yang merendahkan dan menjerumuskan nilai kehidupan.

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 5


Ke-NU-an

APA DAN BAGAIMANA NAHDLATUL ULAMA

I. PESANTREN, CIKAL BAKAL NAHDLATUL ULAMA


Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang paling awal.
Seorang ulama dikelilingi oleh beberapa santri yang ingin
mempelajari agama Islam dan sekaligus menjadi penerus
penyebaran agama Islam, kader penyebaran Islam. Para santri juga
dilatih menjadi pelayan masyarakat. Oleh karena itu, pesantren
berfungsi sebagai: lembaga pendidikan Islam, lembaga perjuangan
Islam dan lembaga pelayanan masyarakat.
Ketika datang modernisme Islam yang ingin memajukan
pendidikan Islam dengan mengadakan lembaga pendidikan Islam di
luar pesantren sekaligus meninggalkan pesantren (karena pesantren
dianggap tidak mampu mengejar kemampuan jaman) , para ulama
pengasuh pesantren menolak keras. Mereka bertekad, betapapun
melaratnya, betapapun lambatnya dan betapapun beratnya,
pesantren harus dipertahankan, segala kelemahanya harus diperbaiki
di dalam pesantren, tidak dengan meninggalkan karena:
a. Pesantren sudah berhasil mendidik para kader Islam yang
menyatu dengan masyarakat.
b. Pesantren sudah menjadi kiblat bagi umat, menjadi panutan umat.

Meninggalkan pesantren berarti meninggalkan umat dalam


keterbelakangannya. Apa arti maju sendiri sedang umat tetap
tertinggal? Bukankah itu suatu dosa? Sampai sekian jauh, para
ulama pengasuh pesantren masih dalam keadaan sendiri, belum ada
ikatan formal struktural (resmi bertingkat). Hubungan (komunikasi)
antar ulama dilangsungkan dengan silahturahmi tradisional, haul,
imtihan, walimah dan sebagainya. Seringkali dipererat dengan
besanan. Keinginan untuk mengadakan organisasi formal struktural
bukan tidak ada, tetapi pertumbuhannya masih lambat, dimulai
dengan kelompok-kelompok pengajian keliling dengan berbagai
nama dan masing-masing berdiri sendiri. Lompatan penting langkah
para ulama dalam berorganisasi adalah terwujudnya kelompok
diskusi dengan nama Tashwirul Afkar di Surabaya, yang dipelopori
oleh KH. A. Wahab Hasbullah dan KH. Mas Mansur. Kemudian Kiai

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 6


Mansur masuk Muhammadiyah dan Kiai Haji Wahab mendirikan
Nahdlatul Ulama sebagai Tokoh utama pada tanggal 16 Rojab 1344
H / 31 Juanuari 1936 di Surabaya. Sedang Rois Suriyahnya adalah
Hadrotuy Syeh KH Hayim asy’ari.
Pemicu langsung didirikannya NU adalah tindakan penguasa
baru Arab Saudi yang berpaham Wahabi yang berlebih-lebihan
menerapkan program pemurnian ajaran Islam, antara lain dengan:
a. Menggusur beberapa petilasan sejarah Islam, seperti
makam beberapa pahlawan Islam, dengan dalih mencegah kultus
individu (penghormatan berlebihan kepada seorang tokoh).
b. Melarang mauludan, bacaan berjanji, diba’ dan
sebagainya yang dianggap termasuk kultus individu.
c. Selalu menghalangi jalan bagi mazhab-mazhab selain
mazhab Wahabi, terutama mazhab empat.
d. Ada keinginan untuk menempatkan diri sebagai penerus
khalifah tunggal dunia Islam, antara lain dengan mengundang
negara/jama’ah Islam dari seluruh dunia (termasuk Indonesia)
untuk menghadiri muktamar khalifah di Arab Saudi (yang ternyata
gagal dilaksanakan).

Para ulama Indonesia (terutama para pengasuh pesantren, para


ulama ahlussunnah wal jama’ah) menolak keras tindakan penguasa
baru Arab itu. Para ulama pesantren bermaksud ikut dalam delegasi
umat Islam Indonesia yang akan hadir pada muktamar khalifah
tersebut, mencari kesempatan menyampaikan keberatan/ penolakan
ulama pesantren mewakili mayoritas umat Islam Indonesia kepada
penguasa baru Arab Saudi. Tetapi maksud tersebut terhalang karena
ditolak oleh beberapa kelompok Islam yang lain dengan alasan;
Ulama pesantren belum/ tidak punya organisasi, seperti
Muhammadiyah, Syarikat Islam dan lain sebagainya.

Penolakan hanya karena belum ada organisasi itu telah


mengobarkan semangat para ulama pesantren untuk menunjukan
kemandirian dan kekuatan, dengan bertekad mengirim sendiri
delegasi ulama pesantren dengan nama Komite Hijaz untuk
menghadap sendiri kepada penguasa baru Arab Saudi (Hijaz)
menyampaikan keberatan para ulama Indonesia.

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 7


Ternyata, Komite Hijaz berhasil mengumpulkan dana dan daya
untuk mengirim sendiri delegasi ke Arab Saudi, karena muktamarnya
sendiri tidak jadi berlangsung. Ketika delegasi Komite Hijaz akan
berangkat, disepakati bahwa Komite Hijaz itu dijadikan organisasi
(Jam’iyyah) permanen (tetap) dan diberi nama Nahdlatul Ulama yang
berarti “Kebangkitan Para Ulama”, untuk menunjukkan bahwa para
ulama yang selama ini dianggap kolot, tradisional, terbelakang dan
lain sebagainya, ini telah bangkit, tidak hanya berkumpul, berhimpun,
tetapi bangkit, bangun, berdiri dan melangkah!

Nahdlatul Ulama didirikan sebagai jam’iyah (organisasi formal


structural = pakai aturan organisatoris, berbentuk, berjenjang).
Biasanya ditambah dengan sifat diniyah ijtima’iyah = keagamaan,
kemasyarakatan, untuk membedakan dengan organisasi politik dan
sebagainya. Jam’iyah ini dibentuk untuk menjadi wadah perjuangan
para ulama dan pengikutnya (Mukaddimah Khittah NU). Kata ulama
dalam rangkaian Nahdlatul Ulama tidak berarti NU hanya
beranggotakan ulama tetapi maksudnya: Para ulama mendapat
kedudukan istimewa di NU, karena para ulama adalah pewaris dan
mata rantai penyalur ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
Sebagai organisasi keagamaan kedudukan pewaris ini mutlak
penting sekali. Tentu, kualitas keulamaan di NU harus lebih terseleksi
daripada yang lain. Ada kriteria dan persyaratan tertentu yang ketat
untuk menjadi ulama NU. Gampangnya, Ulama NU harus memiliki
persyaratan keilmuan, sikap mental, perilaku dan ahlak, sehingga
patut menjadi panutan umat dan tidak manutan pada pihak lain.
Kualitas NU sangat bergantung kepada kualitas keulamaannya.
Setelah para ulama pesantren membentuk jam’iyyah Nahdlatul
Ulama, maka menurut teori, segala kegiatan mereka disalurkan
melalui jalur Nahdlatul Ulama. Tetapi dalam kenyataannya, yang
terjadi adalah :
a. Ulama pesantren masih tetap memiliki dan berpegang
kepada kemandirian masing-masing, terutama dalam mengelola
basis sosialnya (para santri dan keluarga serta murid-murid santri).
Campur tangan atau koordinasi yang dapat dilakukan oleh NU
masih sangat kecil.
b. Uniknya, basis sosial para ulama tersebut sangat
fanatik kepada NU, sanggup berjuang membela simbol-simbol Ke-
NU-an seperti tahlil, talqin,dan sebagainya.
LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 8
c. Hampir 100 % alumni pesantren menjadi warga NU,
meskipun tidak ada pesantren yang menggunakan nama NU dan
meskipun di pesantren tidak diberikan pelajaran tentang ke-NU-an.
Sepertinya, mereka jadi NU secara alamiah. (Jangan heran, kalau
NU-nya selalu alamiah).
Dengan demikian, Nahdlatul Ulama mempunyai dua wajah:
a. Pertama : wajah Jami’yah, NU jami’yah, NU sebagai
organisasi formal struktural, ada pendaftaran, ada tanda anggota,
ada iuran, ada rapat-rapat (musyawarah resmi), keputusan resmi,
ada pengurus, ada pemilihan pengurus, ada pengesahan
pengurus dan sebagainya.
b. Kedua, Wajah Jama’ah (atau jama’ah NU), kelompok
yang secara budaya (kultural) dan ideologis (pandangan dan
wawasan keagamaan) mengikuti NU serta dalam berbagai
kegiatan NU, mereka mendukung. Bahkan seringkali (biasanya)
tidak mau (keberatan) dikatakan bukan orang NU. Mereka
tersebar dalam berbagai kelompok kegiatan, seperti Jama’ah
Yasinan, Tahlilan, Wali murid madrasah NU, Jama’ah mushala NU
dan sebagainya. Anehnya, mereka tidak mudah diatur sebagai
anggota Jam’iyah NU.

Kedua macam kelompok ini, kelompok organisatoris struktural


(Jam’iyah) dan kelomok ideologis kultural ini merupakan potensi
Nahdlatul Ulama. Keduanya harus diurus dengan cara yang sebaik-
baiknya dengan setepat-tepatnya. Idielnya ialah:
a. Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU Jam’iyah) menjadi organisasi Kader
dengan:
1. Tertib administrasi dan organisasi yang mantap, mulai dari
pendaftaran anggota, mutasinya, proses pembentukan
pengurus dan sebagainya.
2. Pembinaan ideologi dan wawasan yang mumpuni.
3. Disiplin operasional dan langkah-langkah perjuangan.
b.Sedang jama’ah NU (NU Jama’ah) menjadi pendukung massal bagi
gagasan-gagasan, sikap-sikap, langkah-langkah, amaliah-amaliah
NU dan sebagainya, meskipun tidak terdaftar sebagai warga
jam’iyah NU.

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 9


II. BEBERAPA POSISI DAN FUNGSI NAHDLATUL ULAMA.

Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Jam’iyyah yang didirikan


oleh para ulama pesantren yang sekian banyaknya dan sekian luas
pengaruhnya, tentu maksudnya untuk menempati posisi (kedudukan)
di tengah-tengah masyarakat (negara dan organisasi lain) dan fungsi
(tugas) yang penting, tidak hanya seperti kumpulan arisan atau bal-
balan jeruk saja. Pada uraian berikut ini akan dikemukakan beberapa
posisi dan fungsi (adakalanya sulit dipisahkan antara posisi dan
fungsi), diambil dari rumusan khittah NU, disebutkan:

1. Pada alinea 2 butir Mukaddimah khittah NU, disebutkan:


Nahdlatul Ulama sebagai Jam’iyah Diniyah adalah wadah bagi
para ulama dan pengikut-pengikutnya yang didirikan pada 16
Rajab 1344H/31 Januri 1926, dengan tujuan untuk memelihara,
melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam
yang berhaluan ahlussunnah wal jama’ah dan menganut salah
satu mazhab empat, masing-masing : Imam Abu Hanifah an-
Nu’man, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris as-
Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal, serta untuk mempersatukan
langkah para ulama dan pengikut-pengikutnya dalam melakukan
kegiatan-kegiatan yang bertujuan menciptakan kemaslahatan
masyarakat kemajuan bangsa dan ketinggian harkat dan martabat
manusia.
Catatan beberapa kata kunci:
- Jam’iyah Diniyah
- Ajaran Islam berhaluan ahlussunnah wal jama’ah
- Menganut salah satu mazhab empat
- Menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa dan
- Ketinggian harkat dan martabat manusia.

2. Pada alinea 3 Mukaddimah Khittah, disebutkan :


NU dengan demikian, merupakan gerakan keagamaan yang
bertujuan untuk membangun dan mengembangkan insan dan
masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT, cerdas, terampil,
berahlak mulia, tenteram, adil dan sejahtera.
Catatan beberapa kata kunci:
- Gerakan keagamaan
- Membangun dan mengembangkan insan dan masyarakat
LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 10
- Yang bertaqwa, cerdas, terampil, berahlak, tenteram, adil dan
sejahtera.

3. Pada alinea 1 butir Fungsi Organisasi dan Kepimpinan Ulama di


dalamnya (butir 7 Khittah NU) disebutkan :
Dalam melaksanakan ikhtiar NU membentuk organisasi yang
mempunyai struktur tertentu yang berfungsi sebagai alat untuk
melakukan koordinasi bagi tercapainya tujuan yang telah
ditentukan, baik tujuan yang bersifat keagamaan maupun
kemasyarakatan. Karena pada dasarnya NU adalah Jam’iyah
Diniyah yang membawakan faham keagamaan, maka ulama
sebagai mata rantai pembawa fatwa keagamaan Islam
ahlussunnah wal jama’ah, selalu ditempatkan sebagai pengelola,
pengendali, pengawas, dan pembimbing utama jalannya
organisasi. Untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan, NU
menempatkan tenaga yang sesuai dengan bidangnya untuk
menanganinya.
Catatan beberapa kata kunci :
- Organisasi yang mempunyai struktur tertentu
- Berfungsi sebagai alat melakukan koordinasi
- Tujuan yang bersifat keagamaan maupun kemasyarakatan
- Ulama sebagai mata rantai pembawa faham Islam ahlussunnah
waljama’ah
- Sebagai pengelola, pengendali, pengawas, dan pembimbing
jalannya organisasi
- Menempatkan tenaga yang sesuai dengan bidangnya untuk
menanganinya (tanfidziyah)

4. Pada alinea 1, 2, 3, 4 dan 5 butir NU dan Kehidupan Berbangsa


(butir 8 dari Khittah NU), disebutkan:
Sebagai organisasi kemasyarakatan yang menjadi bagian tak
terpisahkan dari keseluruhan bangsa Indonesia, NU senantiasa
menyatukan diri dengan perjuangan nasional bangsa Indonesia.
NU secara sadar mengambil posisi yang positif dalam proses
perjuangan mencapai dan mempertahankan kemerdekaan serta
ikut aktif dalam penyusunan dan perumusan Pancasila sebagai
dasar negara.

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 11


Keberadaan NU senantiasa menyatukan diri dengan bangsa,
menempatkan NU dan segenap warganya untuk senantiasa aktif
mengambil bagian dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat
adil dan makmur yang diridhloi Allah SWT. Karenanya, setiap warga
NU harus menjadi warga negara yang senantiasa menjunjung tinggi
Pancasila dan UUD 45.

Sebagai organisasi keagamaan, NU merupakan bagian tak


terpisahkan dari umat Islam Indonesia yang senantiasa berusaha
memegang teguh prinsip persaudaraan (al-ukhuwah) dan toleransi
(at-tasamuh). Kebersamaan dan hidup berdampingan baik dengan
sesama umat Islam maupun dengan sesama warga negara yang
mempunyai keyakinan agama lain untuk bersama-sama mewujudkan
cita-cita persatuan dan kesatuan bangsa yang kokoh dan dinamis.

Sebagai organisasi yang mempunyai tugas pendidikan, NU


senantiasa berusaha secara sadar untuk menciptakan warga negara
yang menyadari (akan) hak dan kewajibannya terhadap bangsa dan
negara. NU sebagai jam’iyah secara organisatoris tidak terikat
dengan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan manapun
juga.

Setiap warga NU adalah warga negara yang mempunyai hak-


hak politik yang dilindungi oleh undang-undang. Dalam hal warga NU
menggunakan hak-hak politik, harus dilakukan secara bertanggung
jawab, sehingga dengan demikian, dapat ditumbuhkan sikap hidup
yang demokratis, konstitusional, taat hukum, dan mampu
mengembangkan mekanisme musyawarah dan mufakat dalam
memecahkan permasalahan yang dihadapi bersama.

Catatan beberapa kata kunci :


 Menyatukan diri dengan keseluruhan bangsa
Indonesia, dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
 Aktif dalam penyususunan UUD dan Pancasila
 Menjadi bagian tak terpisahkan dari umat Islam
Indonesia, berpegang teguh kepada al-ukhuwwah.
 Bertoleransi dengan sesama warga negara, baik yang
sesama Islam maupun yang berkeyakinan/beragama lain, untuk
mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.
LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 12
 Berusaha agar warga negara Indonesia sadar akan hak
dan kewajiban.
 Secara organisatoris, NU tidak terikat dengan suatu
organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan lain.
 Secara individual, warga NU tetap memiliki hak-hak
politik yang dilindungi undang-undang (tidak kehilangan hak-hak
politik).
 Warga NU (sebagai warga negara) yang menggunakan
hak politiknya harus melakukannya dengan bertanggung jawab
(kepada Allah dan kepada sesama manusia).
 Penggunaan hak politik yang ditujukan untuk
menumbuhkan sikap hidup yang demokratis, konstitusional, taat
hukum, mengembangkan mekanisme musyawarah.

III. DASAR-DASAR FAHAM KEAGAMAAN NAHDLATUL ULAMA


(Diringkas dari butir 3 Khittah NU)
 Sumber ajaran : al-Qur’an, al-Hadist, al-Ijma’ dan al-
Qiyas
 Menggunakan sistem bermadzhab
 Aqidah : Aswaja sebagaimana dipelopori oleh Imam
Asy’ari dan Imam Maturidi
 Fiqih : salah satu mazhab empat
 Tashawuf : Imam al-Junaid, Imam al-Ghazali dan lain-
lain.

IV. SIKAP KEMASYARAKATAN NAHDLATUL ULAMA


 Tawasuth dan I’tidal, sikap tengah dan tegak lurus,
berintikan keadilan, tidak ekstrim.
 Tasamuh, toleran dalam perbedaan pendapat, baik
dalam keagamaan (furu’) dan kemasyarakatan.
 Tawazun, keseimbangan dalam berkhidmad kepada
Allah, kepada sesama manusia dan lingkungan serta
menyelaraskan masa lalu, masa kini dan masa depan.
 Amar ma’ruf dan nahi munkar, memiliki kepekaan
mendukung perbuatan baik dan mencegah hal yang dapat
merendahkan nilai kehidupan.
 Perpaduan antara sikap-sikap tersebut menjadi NU
teguh dalam pendirian, luwes dalam penampilan.

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 13


V. PERILAKU YANG DIHARAPKAN
Sesungguhnya banyak perilaku yang baik diharapkan ada pada
kaum Nahdliyyin sebagaimana termasuk dalam Akhlak al-karimah.
Tetapi, dalam rumusan khittah NU butir 5, hanya dikemukakan 11
perilaku. Kalau yang ini saja sudah terwujud, maka Insya Allah
sudah sangat hebat :
 Menjunjung tinggi nilai-nilai maupun norma-norma ajaran
Islam,
 Menjunjung tinggi sifat keikhlasan dalam berkhidmad dan
berjuang,
 Menjunjung tinggi persaudaraan (al-ukhuwwah), persatuan (al-
ittihad) serta kasih mengasihi,
 Meluhurkan kemiliaan moral (al-akhlak), dan menjunjung tinggi
kejujuran (as-shidqu) dalam berfikir, bersikap dan bertindak,
 Menjunjung tinggi kesetiaan (loyalitas) kepada agama, bangsa
dan negara,
 Menjunjung tinggi nilai amal, kerja dan prestasi sebagai bagian
dari ibadah kepada Allah SWT.
 Menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan ahli-ahlinya,
 Selalu siap untuk menyesuaikan diri dengan setiap perubahan
yang membawa manfaat bagi kemaslahatan manusia,
 Menjunjung tinggi kepoloporan dalam usaha mendorong,
memacu, dan mempercepat perkembangan masyarakatnya.
 Menjunjung tinggi kebersamaan di tengah kehidupan
berbangsa dan bernegara.
 Mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan
pribadi. (poin ini seharusnya jatuh pada urutan nomor dua).

Kalau perilaku-perilaku tersebut diperpadukan dengan berbagai


perilaku (akhlak) yang lain, yang juga diajarkan oleh NU,
umpamanya Mabadi Khoiro Ummah.
 as-Shidqu, kejujuran
 al-Wafau bil ahdi atau al-amanah, disiplin
 at-Ta’awun, tolong menolong
 al-Adalah, keadilan
 al-Istiqamah, keajegan/konsisten.

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 14


Maka akan lebih sempurnalah perilaku kaum Nahdliyyin, akan
meningkatkan kualitas sumber daya manusia NU. Apalagi kalau
digabungkan dengan induk-induk akhlak menurut Imam Ghazali:
 - al-Hikmah, kebijaksanaan
 - as-Syaja’ah, keberanian
 - al-Adalah, keadilan
 - al-Iffah, penjagaan harga diri

Lebih sempurna lagi kalau ditiru sifat-sifat para Rasul:


 - as-Shidqu, kebenaran, kejujuran
 - al-Amanah, dapat dipercaya
 - al-Fatonah, kecerdasan
 - at-Tabligh, penyampaian ajaran secara tuntas,
terbuka

VI. IKHTISAR-IKHTISAR UTAMA NAHDLATUL ULAMA


Sejak semula, NU memilih beberapa bidang sasaran kegiatan
utamanya, untuk mewujudkan cita-citanya (strategi/program
dasarnya), yaitu:
1. Peningkatan silahturahmi antar ulama
2. Peningkatan kegiatan keilmuan/pendidikan
3. Peningkatan penyebaran ajaran Islam (dakwah),
pembangunan sarana peribadatan (ubudiyah) dan pelayanan
masyarakat (mabarrot)
4. Peningkatan taraf dan kualitas hidup masyarakat
(muamalah, iqtishadiyat, ekonomi) .
VII. KHITTAH NAHDLATUL ULAMA
Khittah artinya garis, Khittah NU artinya garis-garis yang sejak
semula sudah menjadi pedoman kegiatan para ulama pendiri NU
yang kemudian dirumuskan untuk menjadi pedoman NU seterusnya.
Muktamar 27 NU di Situbondo, tahun 1984 telah berhasil
merumuskan secara konkrit, meskipun singkat sekali. Seharusnya,
setiap kader NU (terutama pengurus dan pimpinannya) mempelajari
dengan seksama:
- Fungsi Khittah NU: landasan berfikir, bersikap dan bertindak warga
NU, secara individual, kolektif organisatoris dan dalam proses
pengambilan keputusan.

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 15


- Subtansi Khittah NU (pedoman baku): Faham Islam ahlussunnah
wal jama’ah yang diterapkan menurut kondisi kemasyarakatan di
Indonesia.
- Penyempurnaan Khittah: Intisari pelajaran yang didapat dari
pengalaman sejarah NU dari masa kemasa.

VIII. PENUTUP
Mempelajari apa dan bagaimana NU, seringkali terpengaruh oleh
penglihatan/pengamatan sepotong-sepotong tentang NU menurut
kemampuan yang berbeda-beda. Masing-masing merasa bahwa apa
yang dilihatnya itu sebagai paling penting. Apalagi bila dibumbui
dengan romantisme dan nostalgia (kenangan indah) serta
kebanggaan masa lalu.

Cara yang paling baik ialah mempelajari NU melalui rumusan


resmi khittah (keputusan muktamar 27), dengan penjelasan resminya
(keputusan Munas Konbes Lampung 1992) ditambah dengan
berbagai dokumen resmi dan pidato-pidato para tokoh NU yang
mu’tabar.

***** Selamat Belajar, Berjuang dan bertaqwa *****

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 16


KE-IPNU-IPPNU-AN

A. PENDAHULUAN
Berdirinya suatu organisasi tentunya didahului adanya faktor
yang mendorong bedirinya, begitu juga IPNU-IPPNU banyak faktor
yang mendorongnya, adapun factor yang mendorogn utamanya ada
dua yaitu factor agama dan pendidikan.
Faktor agama atau aqidah, maksudnya : kita maklum bahwa
Negara kota kebanyakan kaum muslim dan mayoritas Ahlussunnah Wal
Jama`ah. Dari generasi muda inilah yang disiapkan jauh-jauh
sebelumnya untuk mempertahankannya, sekaligus memegang estafet
perjuangan/kepemimpinan NU.
Faktor pendidikan maksudnya disaat IPNU-IPPNU menjelang
bangkit, suasana kaum pelajarnya terpecah jadi dua macam, ada yang
memelajari agama dan ada yang mempelajari umum saja.

B. SEJARAH BERDIRINYA
Sebenarnya di Negara kita sudah banyak organisasi-organisasi
pelajar yang berhaluan Ahlussunah Wal Jama`ah dan bernaung
dibawah panji-panji NU, namun semua itu belum terorganisir dengan
baik, keadaan inilah yang memberi inspirasi bagi para tokoh untuk
mempersatukan organisasi-organisasi yang yang betebaran tersebut
untuk manjadi satu ikatan. Gagasan tersebut terkabul ditahun 1954
disaat berlangsunya kongres LP Ma`arif di Semarang diterima dengan
suara bulat maka lahirlah suatu organisasi pelajar NU yang diberi nama
IPNU resmi berdirinya tanggal 2 Jumadil Akhir 1373/24 Pebruari 1954
dan ketuanya bernama Tholkah Mansur.
IPPNU lahir setelah IPNU yaitu pada konggres IPPNU pertama
tanggal 8 Rojab 1374/3 Maret 1955 dengan ketuanya Umroh
Mahfudah.
Status dan (Kedudukan) NU
Pada kongres ke IV tahun 1966 di Surabaya diputuskan IPNU-
IPPNU menjadi badan otonom NU dan diterima Muktamar NU tahun
1967 di Bandung.
IPNU-IPPNU sebagai kader NU di lapisan bawah, garis-garis
perjuangannya sekaras dengan induknya NU sebab ditangan IPNU-
IPPNU lah NU dimasa mendatang. NU dengan Khittoh 26 dengan
wawasan baru menatap jauh menuju terciptanya kehidupan masa

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 17


depan yang lebih cerah. IPNU-IPPNU dituntut untuk menyelaraskan diri
dengan konsepsi NU yang cemerlang.

C. AZAS, AQIDAH, TUJUAN, SIFAT dan FUNGSI


1. Azas, IPNU-IPPNU berazaskan Pancasila.
2. Aqidah, IPNU-IPPNU beraqidahkan Islam Ahlussunah Wal
Jama`ah dengan bertitik tolak pada:
a. Mendasarkan faham keagamannya kepada sumber agama
islam, Al-Quran dan Sunat, Ijma` dan Qiyas.
b. Dalam memahami, menafsirkan islam dari sumber-
sumbernya dengan mengunakan jalan pendekatan
(Madzhab).
3. Tujuan
Tujuan IPNU adalah terbentuknya Putra-putra bangsa yang
bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, berakhlak mulia da wawasan
kebangsaan serta bertanggung jawab atas atas terlaksananya
Syariat Islam menurut Faham Ahlusunnah Wal Jamaah.
Adapun tujuan IPPNU adalah:
a. Terbentunya putri-putri bangsa Indonesia yang bertaqwa
kepada Allah SWT dan berakhul karimah.
b. Tegak dan berkembangnya syariat Islam menururt faham
Ahlussunah Wal Jama`ah.
c. Terbentukmnya kader bangsa-yang berilmu, berakhlak mulia dan
berwawasan Nasional.
d. Terbentuknya kader-kader yang mempunyai kemadirian dan
pemberdayaan ekonomi.
e. Terbentuknya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur
berdasarkan Pancasila dan UUD.
4. Sifat dan Fungsi
IPNU bersifat keterpelajaran, kekeluargaan Kemasyarakat dan
keagamaan.
IPPNU bersifat keagamaan, keilmuan, sosial kemasyarakatan,
keterpelajaran dan kepemudaan.
IPNU berfungsi :
a. Wadah berhimpun Putra Nahdlatul Ulama untuk melanjutkan
semangat jiwa dan nila-nilai Nahdliyah.
b. Wadah komunikasi Putra Nahdlatul Ulama untuk menggalang
Ukhuwah islamiyah.

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 18


c. Wadah aktualisasi Putra Nahdlatul Ulama dalam pelaksanaan
dan pengembangan syariat islam.
d. Wadah kaderisasi Putra Nahdlatul Ulama untuk
mempersiapkan kader-kader bangsa.
IPPNU berfungsi :
a. Wadah perhimpunan pelajar putri Nahdlatul Ulama untuk
melakjutkan cita-cita dan nilai nahdliyin.
b. Wadah komunikasi dan interaksi Pelajar Putri Nahdlatul
Ulama untuk menggalang Ukhuwah Islamiyah dan
mengembangkan Syiar Islam.
c. Wadah kaderisasi pelajar putri Nahdlatul Ulama untuk
mempersiapkan kader-kader bangsa.

D. IPNU-IPPNU DENGAN ORGANISASI PELAJAR LAIN


1. IPNU dengan IPPNU
IPPNU bukanlah bagian dari IPNU, demikian sebaliknya, melainkan
berdiri sendiri dan mempunyai PD/PRT sendiri-sendiri. Hanya saja
karena kedua tujuannya sama dan serupa, dalam rangka
menyiapkankan kader-kader Jam`iyah NU maka untuk menghemat
menyemarakkan kerjanya, banyak program-program yang dilakukan
bersama-sama, namun ini tidak menghalang-halangi adanya
kegiatan khusus masing-masing.
2. Dengan Organisasi Lain.
IPNU-IPPNU mempunyai kedudukan yang saman dengan
organisasi pelajaryang lain, dengan demikian pula eksistensinya
yang merupakan hak hidup di Negara Republik Indonesia sama
dengan OSIS, Pramuka, dan lain-lain. Ini mempunyai hak hidup
yang dijamin oleh UUD 1945 yaitu : Kemerdekaan berserikat dan
Berkumpul.

E. PERUBAHAN NAMA IPNU dan IPPNU


Awal berdirinya IPNU mempunyai kepanjangan dari Ikatan Pelajar
Nahdlatul Ulama sedangkan IPPNU mempunyai kepanjangan Ikatan
Pelajar Putri Nahdlatul Ulama. Namum setelah Kongres ke-X
tanggal 29 Desember 1987 s.d 01 Januari 1988 di Pondok
Pesantren “MAMBA`UL MA`ARIF” Denanyar Jombang Jawa Timur
telah mengalami sedikit perpanjangan nama:
Nama IPNU menjadi Ikatan Putra Nahdlatul Ulama (PD. IPNU BAB I
pasal 1).
LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 19
Nama IPPNU menjadi Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama (PD. IPNU
BAB I pasal 1).
Kemudian pada kongres ke XIV tanggal 14 Juni sampai 22 juni 2003
di Asrama Haji Sukolilo Surabaya kepanjangan dari IPNU-IPPNU
kembali lagi pada asal pendiriannya.

F. LAMBANG
Lambang IPNU Lambang IPPNU

Keterangan lambang IPNU :


1. Lambang Organisasi berbentuk bulat.
2. Warna dasar Hijua tua, berlingkar kuning tepinya dengan diapit
lingkaran putih terletak di dalam dan di luar garis lingkaran kunig.
3. Isi lambang : bintang sembilan, lima di atas yang sstu besar di
tengah dan empat di bawah, warna kuning diantara putih, dua
kitab dan dua bulu angsa bersilang warna putih.
4. tercantum diantara kata IPNU dengan titik diantaranya dengan
diapit tiga garis pendek kanan kiri warna putih.
Keterangan lambang IPPNU :
1. Lambang Organisasi berbentuk segi tiga sama kaki.
2. Warna dasar hijau, dikelilingi garis warna kuning yang kedua
tepinya diapit warna putih,
3. Isi lambang : bintang sembilan, yang sebuah besar terletak di
atas, empat buah menurun di sisi kiri dan empat buah lainnya di
sisi kanan dan berwarna kuning, dua kitab dan dua bulu angsa
bersilang warna putih serta dua buah melati putih di kedua ujung
bawah lambang.
4. Tulisan IPPNU dengan lima titik diantaranya, tertulis dua buah
bulu angsa dan berwarna putih

Arti lambang :
1. Warnan hijau : Kebenaran kesuburan
2. Warna putih : Kesucian dan kebersihan
3. Warna kunig : Hikmah yang tinggi dan kejayaan
4. Segi tiga : Iman, Islam dan Ikhsan.
LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 20
5. Dua buah garis tepi mengapit : Dua kalimah syahadat
Warna Kuning
6. Sembilan bintang : keluarga NU yang diartikan
Satu Bintang besar : Nabi Muhammad SAW.
Empat bintang disebelah kanan = Empat sahabat nabi
(Abubakar, Umar Bin Khattab,
ustman Bin Affan dan Ali Abi
Tholib).
7. Dua kitab : Al-Quran dan Al-Hadist
8. Dua bulu bersilang : Aktif menuntut ilmu umum dan
agama.
9. Dua bunga melati :Perpaduan dua unsur ilmu
pengetahuan dan agama
10. Lima titik diantara tulisan IPPNU: Rukum Islam

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 21


URGENSI REPOSISI IPNU (dan IPPNU)
(menjadi Organisasi Pembelajaran)

Awalan
Senin, 23 Juni 2003 pukul 12.50 WIB. Bertempat di Hall Zaitun
Kompleks Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Pimpinan siding
mengedokkan palunya, gedokan palu itu menjadi pertanda sebauh
keputusan penting telah diambil. Keputusan itu terkait dengan
perubahan (baca: pengambilan) kepanjangan akronim IPNU menjadi
Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (lagi). Beberapa jam sebelumnya
IPPNU juga mengambil keputusan yang sama. Setuju atau tidak setuju
itulah relitasnya. Karena itu yangharus dipikirkan kemudian adalah “Apa
yang kita lakukan setelah itu”.
Secara objektif, format gerakan IPNU-IPPNU selama sati
setangah brocade terakhir sejak kongres Jombang 1988 sampai
dengan kongresSurabaya 2003 memang tidak menguntungkan bagi
penataan kelembagaan NU kdepan. Karena itulah, reposisi menjadi
agenda utama sekaligus kontrofersial dalam kongres di Surabaya.
Reposisi menjadi agenda utama karena sebagai bagian dari NU,
IPNU-IPPNU menyadari bahwa harus ada pembagian tugas yang jelas
antar berbagai elemen/badan otonom yang ada di NU. Hal ini untuk
menghindari berlanjutnya kondisi overlapping pada proses kaderisasi.
Selama ini overlapping kaderisasi itu-ditingkat bawah-banyak terjadi
pada IPNU-ANSOR dan IPPNU-FATAYAT.
Selain itu, keinginan untuk melakukan reposisi juga didasarkan
pad realitas kekinian yang mengindikasikan terjadinya distorsi misi dan
orientasi yang ditetapkan para pendiriannnya. Diakui atau tidak nuansa
intelektual dan pemberdayaan kader yang manjadi “:ruh” kelahiran
IPNI-IPPNU semakin lama semakin pudar warnanya.
Selain itu fingsi IPNU-IPPNU sebagi wadah kaderasasi untuk
mempersiapkan kader bangsa (lihat misalnya PD IPNU pasal 1) tidak
biasanya dijalankan secara optimal fungsio itupun tereduksi hanya
sebatas penyiapan kader pemimpin NU atau kader bidang politik anak-
anak NU yangb berada di sekolah-sekolah “seluler” tidak tersentuh oleh
nilai-nilai ke-NU-an dan lebih besimpati pada kelompok-kelompok
“Islam Kanan”.
Hal yang sama tetrjadi di dunia perguruan tinggi, banyak anak
NU jebolan Pesantren yang masuk perguruan tinggi umum untuk
menyebut kamnpus non PTAI lebih nyaman dengan kelompk-kelompok
LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 22
usroh dari pada bergabung dengan organisasi maha siswa ekstra
kampus (OMEK) yang sudah established, termasuk OMEK yang
mengklaim mempunyai keterkaitan Kultural dengan NU.
Ironiya, kondisi tersebut telah berlangsung bertahun-tahun, dan
NU termasuk IPNU-IPPNU hampir tidak pernah melakukan apa-apa.
Saat ini, tidak tertutup kemungkinan motor penggerak kelompok-
kelompok yang secara idelogis berlawanan degnan NU tersebut
dulunya adalah anak-anak dari warga NU yang “dibajak” orang lain.
Patu digaris bawahi anak-anak NU yang belajar di sekolah-
sekolah “sekuler” dan jebolan pesantren yang dapat menembus
perguruan tinggi umum adalah asset strategis ang selama ini tidak
pernah disentuh dan dilayani kebutuhannya. Beruntung kemudian K.H
Hasyim Muzadi mempunyai gagasan briliant untuk mendirikan yang
khusus diperuntukkan bagi maha siswa “kampus sekuler” dan
“diharamkan” bagi maha siswa “kampus agama”. Akhir-akhir ini
perkembangan reflikasi pesantren model ini tampak semakin
menggembirakan. Namun ikhtiar yang dirintis Kyai Hasyim, tentu harus
diperluas dan dientergrasikan kedalam gerakan ke berbagai elemen NU
termauk didalamnya adalagh IPNU-IPPNU.
Berkutat di kerumunahn” ?
Setelah keuputusan pengembalian kepanjangan akronim IPNU
dan IPPNU ditetapkan di kongres Surabaya banyak kalangan di tubuh
NU yang memandang bahwa reorientasi dan reposisi IPNU-IPPNU
biasa dimulai dengan membangun basis gerakan di dalam lingkungan
LP Ma`arif atau Pesantren yang berbasis keRabithah al-Maauhid al-
Islamiyah (RMI).
Pada tataran implementatif gerakan tersebut gerakan tersebut
dapat dilakukan dengan 2 pendekatan :
Pertama : Strategi bottom-up. Pilihan strategi ini mengandalkan
pembangunan basis dimulai dengan identifikasi
kebutuhan (need assessment) pelajar dan santri
dibawah naungan kedua institusi tersebut untk
dirumuskan menjadi isu-isu strategis yang dijadikan
dasar penyusunan program dan pengambilan sumpah.
Kedua : Strategi Top down. Pilihan kedua ini diawali dengan
membangun konsensus dan komitmen ditingkat “Elite”
(biasanya di manifestasikan dalam bentuk MoU, surat
intruksi dan semacamnya) masing-masing lembaga,

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 23


untuk kemudian disosialisakan kepada pelajar dan santri
yang berada di lingkungan masing-masing.
Strategi pertama adalah pilihan ideal, tetapi membutuhkan
ketelatenan, kostitensi dan waktu yang relatif lama. Sementara, strategi
kedua menyebutkan organisasi tidak mampu menghasilkan inofasi dan
inisiatif yang lebih konsteksual dalam menjawab tantangan jaman.
Karena itu, jika pilihan kedua yang harus diambil, maka harus dibarengi
dengan filosofi petani yang sedang memulai musim panen.
Jika momentum penerimaan siswa baru dan masa orientasi
siswa kita analogkan dengan musim tanam, maka tidak ada pilihan lain
kecuali kita harus menebar benih di lahan yang “kita miliki” (sekolah
dibawah naungan LP Ma`rif) dalam beberapa bulan berikutnya, kita
harus segera “menyiangi” benih-benih yang tumbuh untuk memilih
kader-kader potensial yang bisa diharapkan menjadi kader pelopor bagi
proses pengembalian basis gerakan di lembaga-lembaga pendidikan.
Dengan begitu, proses tersebut tidak akan menjebak IPNU untuk
berkutat pada “paradigma kerumunan”.
Perlu ubah Paradigma
“Paradigma kerumunan: di atas adalah dampak dari hegemoni
wacana tentang organisasi kemasyarakat ormas yang berlangsung
selama ini. Paradigma ini mengendalikan bahwa besar atau tidak
sebuah organisasi kemasyarakatan diukur dari parameter-parameter
kuantitatif, beberapa jumlah peserta yang digelar, berapa banyak
simpatisannya dan semacamnya. Ia tidak terlalu menghiraukan apakah
secara kualitatif dari sisi keanggotaan, misalnya : berbobot atau tidak.
Dalam konteks kekinian, rasanya paradigm ini sudah tidak biasa
dipertahankan lagi. Sebab realitanya, apa tang terjadi pada warga NU
sebagai Ormas Islam terbesar di Indonesia selama beberapa decade
terakhir justru membuktikan kebenaran ayat “Kam min fi`atin gholabat
fi`atin katsiron.......” karena itu, sudah waktunya IPNU melakukan
inovasi dengan mengubah paradigma keorganisasiannya dari
organisasi kemasyarakatan menjadi organisasi pembelajar (Learning
Organisation).
Konsep Organisasi Pembelajar (OP) pertama kali dipupolerkan
oleh Peter Senge (1995) dalam fifth discipline. Karekteristik OP adalah
adanya budaya pelajar yang sangat kuat pada setiap organisasi. Dalam
organisai pembelajar, yang diperlukan bukan hanya menghasilkan
produk, tapi juga melakukan penigkatan dan terobosan-terobosan.
Tujuan akhirnya adalah terwujudnya masyarakat pembelajar sebagai
LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 24
mana terganbar dari visi IPNU 2010 : “terwujudnya masyarakat
pembelajar berlandaskan nilai-nilai Ahlusunnah Wal Jamaah yang
mampu mangangkat harkat dan martabat bangsa di pentas global.”.
Tentang substansi pembelajaran Senge sebagaimana dikutip
harefa (2001:139) menyatakan, “pembelajaan sebenarnya
mendapatkan inti artinya untuk menjadi sangat manusiawi (humanis)
melalui pembelajaran kita menciptakan kembali diri kita melalui
pembelajaran kita dapat melakukan suatu yang tidak dapat kita lakukan
sebelumnya. Melalui pembelajaran kita merasakan kembali dunia dan
hubungan kita dengan dunia tersebut. Melalui pembelajaran kita
memperluas kapasitas kita untuk menciptakan, menjadi bagian dari
proses pembentukan kehidupan.
Jika kita cermati, pandangan Senge secara substantive
sebnarnya tidak jauh berbeda dengan pesan moral yang terkandung
dalam salam kebanggan warga IPNU-IPPNU, “Belajar, berjuang dan
bertaqwa”. Bukankah dengan hal itu seorang manusia akan benar-
benar menjadi manusiawi (Humanis)?. Dalam perspektif inilah
sebenarnya reorientasi dan reposisi itu harus dipahami. Artinya ,
kedepan IPNU-IPPNu harus bisa mengasi “ruang kosong” system
pendidikan yang kapitalistik dan cenderung menjadikan peserta didik
menajadi “Robot-robot” yang diproduksi untuk memenuhi kebutuhan
pasar.
Masalahnya, sebagai organisasi – pinjam istilah Harefa - selama
ini IPNU-IPPNU sangat lamban belajar (Too slow), sangat sedikti
belajar (too litlle), dan sangat terlambat belajar (Too Late). Selama
beberapa dekade, IPNU-IPPNU sangat jarang untuk mengatakan tidak
pernah melahirkan inovasi-inovasi yang mampu menjawab tantangan
jaman dan memenuhi kebutuhan kelompok sasarannya.
Wallahu A`lam.

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 25


KE-ORGANISASI-AN

A. PENGERTIAN
Kata organisasi berasal dari bahasa latin “Organum”, bahasa
Inggris Organisation” dan bahasa Belanda “Organisatie” yang
kesemuanya berarti kumpulan. Jadi organisasi dapat didefinisikan
sebagai kumpulan dari 2 orang atau lebih yang saling bekerja sama
menurut aturan-aturan tertentu untuk mencapai tujuan bersama. Dalam
pengertian yang lebih singkat dikatakan System of Funtion yaitu
pembagian tugas dan tanggung jawab.
B. MACAM-MACAM ORGANISASI
Organisasi dapat diklasifikasikan berdasarkan:
1. Usia
- Pelajar/remaja, seperti : IPNU, IPPNU, OSIS, karang taruna
- Mahasiswa, seperti : PMII, HMI, KAMMI, BEM
- Dewasa, seperti : Ansor, PPM, KNPI, Kosgoro
- Tua, seperti : NU, Muhammadiyah, al-Irsyad, LDII
2. Minat dan Hoby
- Olah raga, seperti : Persebaya, Pesik, Juventus
- Kesenian, seperti : Sri mulat, Himmata, Group Band
3. Politik, seperti : PKB, PDI, PAN
4. Profesi, seperti : PGRI, Korpri
C. UNSUR ORGANISASI
Dalam suatu organisasi setidaknya ada 3 hal pokok yang harus
dimiliki, yaitu manusia/personalia, system kerja dan tujuan bersama.
Untuk mencapai tujuan organisasi perlu adanya komunikasi antar
sesama anggota baik itu bersifat formal (rapat, konferensi, muktamar,
dll) maupun informal (silaturrohmi).
D. PRINSIP ORGANISASI
Agar organisasi dapat berjalan secara efektif, maka lazim
menerapkan prinsip:
1. Memiliki tujuan yang dapat dirumuskan secara jelas
2. Memiliki kesatuan arah sebagai persepsi
3. Hanya memiliki satu komando
4. Kewenangan dan tanggung jawab yang seimbang dan jelas
5. Pembagian tugas yang riil dan jelas
6. Pola organisasi yang tetap
7. Terjamin keamannya dalam bekerja

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 26


8. Garis-garis wewenang dan tanggung jawab dalam tata kerja
yang tertulis secara struktural
9. Diterima dan dipahami oleh peserta.
10. Sarana dan fasilitas yang memadai.
E. MANAJEMAN ORGANISASI
Manajemen dapat diartikan sebagai suatu proses, seni, ilmu dan
kolektifitas orang yang melakukan, sehingga manajemem didefinisikan
sebagai seni dan ilmu untuk membuat suatu perencanaan,
pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan sumber
daya manusia untuk mencapai tujuan organisasi.

1. Unsur Manajemen
a. Manusia
Yaitu adanya orang yang memimpin dan dipimpin. Keberadaan
manusia dalam organisasi sangat penting karena dialah yang
mengendalikan dan menjalankan organisasi, oleh karena itu
sumber dayanya perlu terus ditingkatkan dan dikembangkan,
baik melalui pendidikan maupun latihan-latihan.
b. Biaya/Dana
Keberadaan dana/uang dalam organisasi sangat penting,
mengingat segala kebutuhan seringkali dapat diperoleh dengan
keberadaan uang/biaya.
c. Mesin
Secara sempit diartikan sebagai seperangkat alat untuk
membantu kelancaran opersional, missal mesin ketik, staples,
kalkulator, komputer, dll.
Secara lebih luas diartikan sebagai gerak langkah organisasi
yang cepat dalam rangka mencapai tujuan.
d. Materi
Maksudnya adalah pendukung berupa benda bergerak (alat
transportasi, alat komunikasi) atau benda menetap (Kantor,
almari, meja, dll).
e. Methode
Maksudnya adalah cara yang digunakan untuk mengatur,
mengkondisikan dan menggerakkan perangkat organisasi untuk
mencapai tujuan.

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 27


2. Fungsi Menajemen
a. Planning/Perencanaan
Yaitu rencana yang ditetapkan sebelum perjalanan organisasi
dimulai, hal tersebut menentukan langkah, skala prioritas dan
membuat suatui keputusan.
b. Organizing/Pengorganisasian
Yaitu proses pengelompokan komponen/unsur dalam organisasi,
meliputi koordinasi anggota, materiil, methode/cara, dan tujuan,
agar tercipta hubungan yang harmonis dalam mencapai tujuan
bersama.
c. Staffing/Penempatan
Yaitu penempatan anggota sesuai dengan skill atau keahlian
masing-masing, sehingga akan memperoleh hasil yang
maksimal.
d. Coordinating/Penggerakan
Yaitu proses menggerakkan sumber daya manusia sesuai
dengan tangung jawabnya masing-masing secara koordinatif.
e. Controling/ Pengawasan
Semua kegiatan harus senantiasa dalam pengawasan secara
intensif, hal itu untuk menghindarkan adanya penyelewengan
dari rencana yang telah ditetapkan. Hal ini biasanya dapat
dilakukan secara langsung ataupun dari laporan tertulis.
f. Evaluating/Penilaian
Untuk mengetahui sejauh mana hasil dan tujuan yang telah
dicapai, sehingga dapat diketahui tingkat keberhasilan atau
kegagalan dari suatu kegiatan.

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 28


KEPEMIMPINAN

A. PENGERTIAN
Kepemimpinan secara etimologi berasal dari bahasa Inggris,
Leadership yang artinya Pimpinan/Kepemimpinan. Adapun dalam
Termilogi dapat dirumuskan sebagai berikut:
Kepemimpinan adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki
oleh seorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak,
menuntut, menggerakkan dan kalau perlu memaksa orang lain agar ia
menerima pengaruh tersebut, selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat
membantu pencapaian tujuan tertentu.
B. TIMBULNYA PEMIMPIN
Ada beberapa alternatif timbulnya seorang pemimpin, antara lain:
1. Teori genetika, yaitu seorang pemimpin yang lahir karena
keturunan, ia ditakdirkan menjadi pemimpin dalam situasi dan
kiondisi bagaimanapum.
2. Teori ekologi, yaitu seorang yang lahir dan sudah mempunyai
bakat terus dikembangkan melalui proses pendidikan dan
pengalaman dari pengaruh lingkungan diab berada.
3. Teori sosial, yaitu seorang pemimpin yang lahir disiapkan melalui
proses pendidikan meski orang tersebut kurang berbakat untuk
manjadi pemimpin.
C. TIPE KEPEMIMPIN
1. Demokratis, yaitu kekuasaan penuh di tangan anggota, segala
keputusan berdasarkan musyawarah, bersama sama
anggotanya, pemimpin mencari masalah dan memecahkannya.
2. Liberal, yaitu pemimpin yang tidak tahu menahu dengan
persoalan bawahannya dan membiarkan bawahannya mencari
masalah dan mencari pemecahannya sendiri
3. Kharismatik, yaitu pemimpin yang mempunyai daya tarik dan
wibawa alamiyah yang sangat tinggi, sehingga orang tersebut
mudah melimpahkan pengaruh kepada orang lain.
4. Ottokratis, yaitu pemimpin yang tidak tau mau kritik, pendapat
atau saran dari orang lain maupun bawahannya.
D. FUNGSI KEPEMIMPINAN
Sebagai pelopor dan penanggung jawab, idiologi, planner,
orang tua, symbol of group, contoh dan pendukung konsepsi,
pengaruh, penggerak, wakil anggota dan pengembang imajinasi.

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 29


E. SIKAP YANG HARUS DIAMBIL OLEH SEORANG PEMIMPIN
1. Tasamsuh. Sikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik
masalah agama, masalahkhilafiyah serta masalah
kemasyrakatan dan kebudayaan.
2. Tawazun. Sikap seimbang dalam berkhidmah, menyerasikan
khidmah kepada Allah, kepada manusia dan lingkungan,
kepentingan masa lalu dan masa kini serta masa yang akan
datang.
3. Tawasuth dan I`tidal. Sikap tengah yang berintikan pada
prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil
dan lurus di tengh-tengah kehidupan bersama, dengan sikap
dasar ini akan menjadi kelompok panutan yang bersikap dan
bertindak lurus dan menghindari bentuk pendekatan yang
bersifat extrim.
4. Amar Ma`ruf Nahi Mungkar. Selalu memiliki kepekaan untuk
mendorong berbuat yang baik yang berguna bagi nusa dan
bangsa serta menolak hal-hal yang menjerumuskan serta
merendahkan nilai-nilai kehidupan.

F. UNSUR PRINSIP KEPEMIMPINAN


Dalam menjalankan kepemimpinan untuk mewujudkan aktifitas
dan kegiatan yang sukses perlu dipegangi 3 unsur prinsip yaitu:
1. Planning : Perencanaan secara matang dari apa yang
diwujudkan dengantelah memperhitungkan
segala sesuatu berkenaan dengan
perwujudannya
2. Doing : Pelaksanaan yang disesuaikan dengan target
yang telah direncanakan.
3. Cecking : Untuk memperoleh hasil yang valid sesuai
dengan rencana dan target perlu adanya
pengecekan dan pengawasan yang sempurna.
G. PEGANGAN WAJIB BAGI PEMIMPIN UMAT
Sebagai kader Muslim sudah selayaknya bercermin kepada
tingkah laku dan sifat Rosululloh SAW yaitu:
1. Sidiq : Benar dalam keyakinan dan tindakan
2. Amanah : Dipercaya dalam upacara dan tindakan
3. Tabligh : Menyampaikan wahyu, ide/amanat dari orang lain
4. Fathonah : Cerdas dan tanggap dengan problema yang dihadapi.

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 30


MARS IPNU MARS IPPNU

Wahai pelajar Idonesia Sirnalah gelap terbitlah terang


Siapkanlah barisanmu Mentari timur sudah bercahya
Bertekad bulat bersatu di bawah Ayunkan langkah pukul
kibaran panji IPNU genderang
Segala rintangan mundur semua
Ayo hai pelajar Islam yang setia
Kembangkanlah agamamu Tiada laut sedalam iman
Dalam Negara Indonesia Tiada gunung setinggi cita
Tanah air yang kucinta Sujud kepala kepada Tuhan
Tegak kepala lawan derita
Dengan berpedoman kita pelajar
Berjuang serta bertaqwa Di malam yang sepi dipagi yang
Kita bina watak nusa dan bangsa terang
Tuk kejayaan masa depan Hatiku teguh bagimu ikatan

Bersatu wahai pelajar Islam jaya Di malam yang hening di pagi


Tunaikanlah kewajiban yang mulia membakar
Hatiku penuh bagimu pertiwi
Ayo maju pantang mundur
Dengan rahmat Tuhan kita Mekar seribu bunga di taman
perjuangkan Mekar cintaku pada ikatan
Ayo maju pantang mundur Ilmu kucari amal kuberi
Pasti tercapai adil makmur Untuk agama bangsa negeri

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 31


HYMNE PELAJAR NU HYMNE PERJUANGAN

Besemilah bersemilah Mengenangkan nasib perjuangan


Tunas tunas NU Sebangsa dan setanah airku
Tumbuh subur tumbuh subur Aku meninggalkan kemewahan
Di persada NU Aku maju terus menyerbu

Masa depan di tanganmu Tinggalkan ayah tinggalkan ibu


Untuk meneruskan perjuangan Ijinkan aku pergi berjuang
Di bawah kibaran panji islam
Mekar indah mekar indah Hingga islam dapat kumenangkan
Kau harapan NU
Kita bangun kita bangun Jangan kembali pulang
Jiwa besar NU Bila tiada kau menang
Walau mayat terkapar di medan
Nan bertaqwa nan berjiwa juang
Islam Ahlussunah Wal Jama`ah Tuk islam selamat berjuang

Bersemilah bersemilah
Tunas tunas NU
Tumbuh subur tumbuh subur
Di persada NU

Hari depan mengharapkan


Dharma bakti akan kita abdikan

Bersemilah bersemilah
Tunas tunas NU

LKP IPNU-IPPNU Kec.Wonodadi 32

Anda mungkin juga menyukai