Anda di halaman 1dari 10

PEMERINTAHAN NABI DAN PERUBAHAN SOSIAL

1. PENDAHULUAN

TheEensyslopedia Brittanica says that:

“Muhammad is the most successful of all Prophets and religious personalities”.

The personalty of Mohammad! It is most difficult to gen into the truth of it. Only a
glimpse of it I can cath. What a dramatic succession of picturesque scenes. There is
Mohammad the Prophet, there is Mohammad the General; Mohammad the King;
Mohammad the Warrior; Mohammad the Bussinessman; Mohammad the Preacher;
Mohammad the Philosopher; Mohammad the Statesman; Mohammad the Orator;
Mohammad the Reformer; Mohammad the Refuge of Orphans; Mohammad the
Protetor of Slaves; Mohammad the Emancipator of Woman; Mohammad the Law-
Giver; Mohammad the Judge dan Mohammad the Saint.

Itulah sosok Rasulullah yang sangat dihormati dan diagungkan sepanjang masa. Saat
umat dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidupnya Nabi Muhammad Saw datang
sebagai rahmatan lil’aamin. Nabi Muhammad Saw melahirkan peradaban baru yang
demokratis, egaliter dan manusiawi[1]. Perjuangan dan model kepemimpinan Nabi
Muhammad Saw yang membela rakyat kecil dan mendahulukan kepentingan public,
patut kita aplikaskan.

Kebesaran Nabi Muhammad Saw sebagai seorang tokoh dunia yang berhasil mengubah
keadaan masyarakatnya melalui pemerintahan beliau dan perubahan sosial yang
dilakukan beliau sudah diakui oleh seluruh dunia dan tertoreh dalam tulisan pujangga
dan filosofis dunia. Seperti Muhammad Iqbal, Thomas carley, Arnold Toynbee, Will
Durant dan Michael Hart yang menuliskan pujian yang sangat agung. Bahkan M. Hart
meletakkan Nabi Muhammad Saw sebagai tokoh nomor satu di antra seratus tokoh yang
paling berpengaruh di dunia. Will Durant menganggap Nabi Muhammad Saw sebagai
pribadi yang lengkap, karena beliau adalah seorang sosiolog, psikolog, politisi,
agamawan juga seorang pemimpin besar. Asghar Ali Enginger juga menegaskan bahwa
sosok pemimpin yang sangat redah hati, tapi berhati luhur dan berotak luar biasa cerdas.
Dan meminjam istilah Antonio Gramsci dan Ali Syari’ati beliau adalah sosok intelektual
organic dan rausyan fikr yang ideal. Karena dalam perjalanan hidupnya, beliau berhasil
menyatukan idealisme intelektual dan aktivisme sosial sebagai pemandu perjuangan dan
visi gerakan langkahnya dalam menjalani kehidupan ini.

Berangkat dari pemahaman itu saya mengawali pembahasan saya dari situasi
pemerintahan Nabi Muhammad Saw dan situasi masyarakat Arab menjelang lahirnya
Islam dengan penekanan khusus pada aspek politik, ekonomi, sosial, agama dan sastra..
Lalu dilanjutkan dengan berbagai peran Nabi Muhammad Saw baik itu sebagai nabi,
rasul, pendiri bangsa, pemimpin masyarakat, politik, militer, pendidikan dan sebagai
perancang ekonomi. Dan di akhiri dengan sajian kondisi masyarakat dan perubahan sosial
yang terjadi. Dengan mengkaji aspek-aspek itu maka akan jelas bahwa Islam lahir dalam
suasana politik yang didominasi oleh dua kekuatan raksasa, yaitu Sasania (Persia) di
Timur dan Bizantium (Romawi) di Barat[2].

Dan dalam waktu yang relative singkat, Islam berkembang pesat menjadi suatu kekuatan
politik yang menentukan perjalanan sejarah. Di sini pun akan disajikan bagaimana peran
Islam dalam menanmkan bentuk kepercayaan baru yang melahirkan sisterm sosial dan
gaya hidup yang baru.

Semoga tulisan ini membawa manfaat bagi yang menulis dan membacanya sehingga
dapat dimanfaatkan sebaik mungkin bagi perkembangan Islamic Education.
1. PEMBAHASAN
1. Pemerintaha Pada Masa Nabi Muhammad Saw

Pemerintahan Islam yang dipimpin oleh Nabi Muhammad Saw kekuasaan tertinggi ada
pada syari’at Islam sebagaimana yang terkandung dalam Al-Qur’an, berlaku bagi seluruh
ummat Islam termasuk Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin. Apabila ada masalah
yang tidak ditetapkan dalam Al-Qur’an maka keputusannya berada di tangan Nabi.

Di sini Nabi Muhammad Saw menjabat peran ganda yaitu sebagai Nabi dan sebagai
kepala pemerintahan. Walau Nabi Muhammad Saw menjabat otoritas tertinggi, namun
beliau sering mengajak musyawarah para sahabat untuk memutuskan masalah-masalah
penting.

Kebijakan pertama yang dilakukan Nabi Muhammad Saw di Madinah adalah


membangun masjid yang dikenal sebagai Masjid Nabawi, yang menjadi pusat kegiatan
pemerintahan Islam. Selain sebagai tempat ibadah, juga berfungsi sebagai kantor
pemerintah pusat dan peradilan. Perjanjijan dan jamuan terhadap delegasi asing,
penetapan surat perintah kepada para gubernur dan pengumpulan pajak pun
diselenggarakan di masjid.

Sebagai hakim, Nabi memeriksa dan memutuskan perkara di masjid. Nabi Muhammad
Saw merupakan orang yang pertama kali memperkenalkan kepada masyarakat Arab
tentang sisterm pendapatan dan pembelanjaan pemerintahan.

Beliau mendirikan lembaga kekayaan masyarakat di Madinah. Lima sumber utama


pendapat Negara Islam yaitu zakat, jizyah[3], kharaj[4], ghanimah[5], dan al-fay[6].
Zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim atas harta kekekayaan yang berupa
binatang ternak, hasil pertanian, emas, perak, harta perdagangan dan pendapatan lainnya
yang diperoleh seseorang.

Nabi Muhammad Saw juga merupakan pimpinan tertinggi tentara muslim. Beliau turut
serta dalam peperangan dan ekspedisi militer. Bahkan memimpin beberapa perang besar
seperti perang Badar[7],Uhud, Khandaq[8], Hunayn[9], Tabuk[10] dan dalam penaklukan
kota Makkah. Peperangan dan ekspedisi yang lebih kecil diserahkan kepada para
komandan yang ditunjuk oleh Nabi.

Nabi Muhammad Saw juga selalu mendorong masyarakat untuk giat belajar. Setelah
hijrah ke Madinah, Nabi mengambil prakasa mendirikan lembaga pendidikan. Pasukan
Quraisy yang tertawan dalam perang Badar dibebaskan dengan syarat setiap mereka
mengajarkan baca tulis kepada sepuluh anak-anak muslim. Sejak saat itu kegiatan belajar
baca tulis dan kegiatan pendidikan lainnya berkembang dengan pesat di kalangan
masyarakat. Dan ketika Islam telah tersebar ke seluruh penjuru jazirah Arab, Nabi
mengatur pengiriman guru-guru untuk ditugaskan mengajarkan al-Qur’an kepada
masyarakat suku-suku terpencil.

1. Peran Nabi Muhammad Saw

Selain sebagai Nabi bagi seluruh umatnya, dalam perkembangan Islam selanjutnya Nabi
menduduki peranan yang sangat penting, di antaranya:

1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Nabi Dan Rasul

Sebagai Nabi dan rasul, Nabi Muhammad Saw mendakwahkan agama Islam dengan
akhlak yang sesuai dengan Al-Qur’an. Sebagiai da’i beliau menunjukkan sifat-sifat sabar,
lemah lembut, toleransi, tega dan istiqomah dalam ajaran yang dibawanya, terutama
tentang aspek akidah. Beliau juga melakukan aktifitas dakwah dengan dedikasi yang
sangat tinggi.
1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pendiri Bangsa

Nabi Muhammad Saw tidak sekedar sebagai pembaharu masyarakatnya, tetapi Nabi
Muhammad Saw juga berperan sebagai pendiri bangsa yang besar. Nabi berjuang pada
tahap awal dengan mendrikan sebuah kebangsaan dengan menyatukan para pemeluknya,
lalu beliau merancang sebuah imperium yang dibangun berdasarkan kesepakatan dan
kerjasama berbagai kelompok yang terkait. Pada saat awal ini, Nabi Muhammad Saw
berhasil mendirikan sebuah Negara Madinah, yang semula hanya terdiri dari suatu
kelompok masyarakat yang heterogen satu sama yang lainnya saling bermusuhana. Maka
dengan hadirnya Nabi Muhammad Saw masyarakat Madinah menjadi bersatu dalam
kesatuan Negara Madinah. Selajutnya Nabi Muhammad Saw memberlakukan beberapa
ketentuan hukum untuk semua tanpa pengecualian dalam kedudukan yang sama, tidak
mengenal perbedaan kedudukan karena nasab, kelas sosial dan lain sebagainya.

1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pemimpin Masyarakat

Peran Nabi Muhammad Saw dapat kita lihat juga sebagai pemimpin masyarakat ketika
beliau sampai di Madinah, beliau berhasil menghapus permusuhan tradisi di antara suku
Aus dan Khazraj yang keduanya digabungkan oleh Nabi Muhammad Saw menjadi
golongan Anshar. Setelah itu, golongan Anshar ini digabungkan pula dengan orang-orang
Quraisy yang datang dari Mekkah dan biasa disebut golongan Muhajirin. Dengan
demikian keberhasilan Baginda merupakan tokoh pertama yang menyatukan bangsa Arab
yang berasal dari keturunan yang berbeda menjadi satu umat yang kuat dan kokoh. Selain
itu, sebagai pemimpin, beliau telah menentukan beberapa hal yang menjamin
kesejahteraan masyarakatnya. Antara lain: ibadah, munakahat, jenayah, kenegaraan dan
sebagainya.

1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pemimpin Politik

Keunggulan Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin politik dapat kita lihat dari
beberapa hal, antaranya:

- Menyelesaikan Masalah Perpindahan Hajar Al-Aswad Ke Tempat Asal

Nabi Muhammad Saw menunjukkan citra kepemimpinanya ketika berhasil


menyelesaikan masalah yang timbul di kalangan pemimpin bani-bani dalam kabilah
Quraisy yang merebutkan hak untuk meletakkan hajarul aswad di tempatnya yang asa di
penjuru dinding ka’bah. Peristiwa itu terjadi setelah kota Mekkah dilanda banjir dan
sebagiian bangunan ka’bah runtuh. Ketika akan meletakkan hajar aswad ketempat semula
yaitu di sudut dinding Ka’bah, bani-bani di Mekkah saling memperebutkannya. Karena
batu itu dianggap sangat suci dan mulia sehingga hanya tangan yang mulia dari bani atau
suku yang mulia saja yang layak meletakkan batu itu ke tempat semula. Akhrnya mereka
memililih Nabi Muhammad Saw sebagai hakim untuk meyelesaikan masalah tersebut.
Lalu Nabi Muhammad Saw meletakkan batu tersebut di atas sehelai kain. Setelah itu
setiap wakil Bani memegang bagian ujung kain tersebut dan bersama-sama
mengangkatnya. Nabi Muhammad Saw sendiri meletakkan batu tersebut ke tempat
asalnya di sudut Ka’bah. Solusi dari Nabi Muhammad Saw menyebabkan seuruh pihak
yang terlibat konflik itu merasa puas.

- Membentuk Piagam Madinah

Pada tahun pertama Hijriah Nabi Muhammad Saw brhasil melahirkan piagam
Madinah[11] yang merupakan perlembagaan tertulis yang pertama di dunia. Piagam
Madinah ini berhasil mewujudkan sebuah Negara Islam yang pertama di dunia yang
terdiri dari banyaknya rakyat dan ragam agama. Sesungguhnya perlembagaan ini lebih
bersifat satu alat untuk menyelesaikan masalah masyarakat majemuk yang ingin hidup
aman dan damai dalam sebuah Negara yang sama. Dengan kata lain, ini adalah teori dan
aplikasi toleransi yang pertama kali di lahirkan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai
pioneer sekaligus adanya legitimasi secara tidak langsung dari seluruh masyarakatnya
baik yang telah memeluk Islam maupun yang belum.

- Mengadakan Perjanjian Hudaibiah

Perhanjian Hudaibiah yang diadakan di antara umat Islam Madinah dengan kaum Quraisy
Mekah merupakan satu lagi bukti yang menunjukkan bahwa beliau Nabi Muhammad
Saw adalah pemimpin yang sangat bijaksana. Tak ada satupun yang menyangkalnya
termasuk Sayyidina Umar sendiri bahwa perjanjian Husaibiah yang dianggap kontroversi
itu telah memberikan ketegasan pada kaum Quraisy dalam semua bidang. Sebagai
buktinya, setelah perjanjian Hudaibiyah, tiga pahlawan unggulan Quraisy yaitu Khalid
bin Walid, Amr bin Ash, dan Osman bin Talba memeluk Islam, umat Islam bertambah
sebanyak lebih dari lima kali lipat dari dua tahun saja. Serta tewasnya Mekkah tanpa
pertumpahan darah dua tahun kemudian. Jelaslah sudah bahwa Nabi Muhammad Saw
membuktikan kebijaksanaannya dalam dunia percaturuan politik tanah Arab.

- Mengadakan Hubungan Diplomat

Walaupun Nabi Muhammad Saw buta huruf, namun beliau membuktikan kualitasnya
sebagai seorang pemimpin sebuah kerajaan. Beliau mengadakan hubungan diplomatic
dan mengirim utusan-utusan ke berbagai daerah di dalam dan di luar Tanah Arab seperti
Habsyah, Farsi Byzantine, Ghassan, Hirah, dan lain sebagainya.

1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pemimpin Militer

Nabi Muhammad Saw meletakkan akidah, syariat dan akhlak yang mulia sebagai asas
kepemimpinannya. Beliau dan sahabatnya menetapkan dasar tertentu semasa perang
seperti: tidak memerangi orang lemah, orang tua dan anak-anak serta wanita, tidak
memusnahkan harta benda. Beliau juga mengaplikasikan sifat amanah dalam
melaksanakan perintah Allah dan juga seluruh umat Islam dalam memimpin. Nabi
Muhammad Saw bersifat adil terhadap harta rampasan perang, yaitu dengan membaginya
secara rata pada tentara yang turut dalam peperangan dan tidak mengejar musuh yag
sudah lari dari medan peperangan. Nabi Muhammad Saw adalah panglima tentara dan
ahli strategi. Dengan ilmu dan pengalaman yang luas, beliau berhasil membawa kejayaan
kepada tentara Islam.

1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Perancang Ekonomi

System ekonomi yang dikembangkan sebelumya adalah system ekonomi kapitasis dan
absolutistic yang berpusat pada suku-suku tertentu. Nabi Muhammad Saw datang untuk
memperkenalkan system ekonomi baru yang menggantikan dasar ekonomi zaman
Jahiliah. Beliau menggalakkan icon kerja keras dan rajin dalam bidang perniagaan dan
pertanian. Nabi Muhammad Saw telah membangun ekonomi umat Islam seperti menebus
blik dan mengolah tanah yang tergadai kepada kaum Yahudi.

1. Kondisi Sosial Masyarakat Dan Perubahan Sosial Yang Terjadi

Periode Madinah adalah pekerjaan besar yang di lakukan oleh Rasulullah Saw berupa
pembinaan terhadap masyarakat Islam yang baru terbentuk. Karena masyarakat
merupakan wadah dari pengembangan suatu kebudayaan maka diletakkan pula dasar-
dasar Islam[12]. Ini merupakan representasi dari sejumlah nilai dan norma yang mengatur
manusia dan masyarakat dalam hal yang berkaitan dengan ibadah, sosial, ekonomi dan
politik yang bersumber dari al-qur’an dan sunnah.

Ada banyak hal yang dirubah pada masa pemerintahan Nabi Muhammad Saw khususnya
dalam era periodisasi Islam, antara lain:
1. Politik

Seperti yang kita ketahui bahawa Arab pra Islam didominasi oleh dua kerajaan besar
yaitu Bizantium dan Persia sehingga secara geografis Mekkah tidak hanya sulit dijangkau
tapi juga sikap pemimpinnya yang menjalankan politik non-blok sehingga Negara-negara
Asing menaruh hormat terhadap bangsa Arab pada saat itu. Setelah datangnya Islam,
kebijakan politik itu pada awanya tetap dipertahankan, namun dengan berkembangnya
Islam kebijakan itu mengalami perubahan menjadi sebuah kebijakan yang tidak hanya
sekedar memihak salah satu Negara adi kuasa yang ada saat itu, tapi sudah mulai
menancapkan pengaruhnya ke dalam daerah-daerah di bawah kekuasaannya[13].

Selain itu, tentang pemilihan pemimpin, bangsa Arab sudah memilliki nilai-nilai
demokratis dengan dipraktikannya musyawarah. Mereka memilih pemimpin yang
bijaksana dan adil dan menekanan senioritas serta pengalaan berdasarkan kesepakatan
bersama.

Kemudian model kepemimpinan tersebut dilanjutkan dan disempurnakan oleh Islam


sebagaimana dapat kita lihat pada model kepemimpinan Nabi Muhammad Saw dan
Khilafa Rasyidin. Yaitu model pemilihan yang tidak hanya didominasi oleh salah satu
kaum atau suku Arab. Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan bisa diperoleh oleh
kaum atau suku manapun asaka ia memenuhi kuaifikasi adil, egalite dan fraternity[14].

Demikian pula dengan ghanimah yang pembagiannya disempurnakan oleh Islam dengan
bervisi adil dan pemerataan yaitu nabi, keluarga, memelihara anak yatim da administrasi
Negara mendapat seperlima sedangkan sisanya di bagi sesuai dengan kualitas tentara.[15]

1. Ekonomi

Dua ratus tahun sebelum masa kenabian Nabi Muhammad Saw, Arab sudah mengenal
peralatan pertaniah semi modern[16]. Mereka pun mampu membuat bendungan raksasa
yang dinamakan al-ma’arib. Mereka menggunakan tiga sistem dalam mengelola
pertanian yaitu sewa menyewa, bagi hasil produk, dan sistem pandego.

Mekkah juga merupakan jalur persilangan ekonomi internasional sehinggga Mekkah


memiliki peranan penting dan strategis untuk berpartisipasi dalam dunia perekonomian.
Mereka digolongkan menjadi tiga yaitu, kolongmerat yang memiliki modal, pedagang
yang mengolah modal dan para perampok dan rakyat biasa yang memberikan jaminan
keamanan kepada para khafilah pedagang.[17]

Dapat dipahami bahwa tradisi pertanian dan perdagangan di Arab sebenarnya sudah ada
jauh sebelum Islam, namun tidak ada landasan keadilan dan persamaan di dalamnya. Ini
bisa kita lihat dietika permodalan dikuasai oleh elite politik penguasa permodalan.

Islam lalu memasukkan nilai-nilai keadilan dan persamaan dalam perekonomian


masyarakat Arab. Sehingga tidak ada lagi monopoi perekonomian dan perbudakan serta
mengimplementasikan niai keadilan,kejujuran dan kesamaan sehingga tidak ada yang
dirugikan.

1. Sosial

Tidak disesalkan apabila masyarakat arab mempunyai sifat keras dan perilaku yang kasar,
karena hal ini dipengarhi oleh factor geografis negaranya yang bertanah tandus, berdebu,
berpasir dan berbatu. Dikenalnya masyarakat arab sebagai masyarakat jahiliyyah lebih
tepatnya karena mereka memiliki moral yang rendah. Walaupun tidak semuanya, tapi
kepala sukulah yang memiliki muru’ah.
Strategi perng mereka terdiri dari lima pasukan inti, yaitu al-Muqaddam (pasukan
pembawa bendera), al-Maimanah (sayap kanan), al-Maisarah (sayap kiri), al-saqaya
(pasukan pembawa obat-obatan serta sukarelawan) dan al-Qalb (pasukan inti). Strategi ini
diadopsi total oleh Nabi Muhammad Saw dalam melakukan peperangan melawan orang-
orang kafir Quraisy[18].

Mereka juga memiliki fanatis terhadap suku yang sangat tinggi sehingga kesenjangan
perekonomian pun Nampak sangat mencolok. Selain itu, terdapat pula tradisi penguburan
anak perempuan hidup-hidup pada beberapa suku. Juga menganut tradisi perkawinan
mut’ah, zawaq, istibda, khadn, mutadamidah, badal, syighar, maq, saby, hamba sahaya,
antar saudara lelaki dan saudara wanitanya atau ayah dan putrinya, atau suami istri[19].

Kondisi sosial arab tidak semuanya jelek, hanya saja ada beberapa yang perlu diperbaiki
khususnya tatanan kehidupan sosialnya.karena itu setelah Islam datang kebiasaan
mengubur anak perempuan hidup-hidup, tradisi perkawinan yang sama sekali tidak
menghargai perempuan serta perlakuan yang tidak manusiawi terhadap budak-budak,
Islam mengarahkan masyarakat arab tentang kemanusiaan dan memberikan world view
yang luas tentang keberagamaan, kesamaan dan penghargaan terhadap gender.
Konkritnya Islam mengajarkan agar memiliki istri maksimal empat, itupun jika suami
bisa berbuat adil. Perlu digaris bawahi bahwa dalam konteks sekarang sangat perlu
tafsiran yang baru dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang saat ini.

1. Sastra

Sastra jahiliyyah adalah cermin langsung bagi seluruh kehidupan bangsa arab pra Islam,
karena di dalamnya dapat kita lihat kehidupan, alam, budaya dan peradaban yang murni
maupun yang telah dipengaruhi oleh bangsa asing.

Namun demikian ada beberapa syair arab yang sangat imaginer dan simbolis sehingga
sulit dicerna oleh kalangan umum. Sastra Arab telah melahirkan penyair-penyair yang
handal sehingga tidak heran jika umat Islam dikenal dengan kemahirannya membuat
syair dan puisi yang mengandung unsur spiritual theologs dan humanism yang kental.
[20]

1. Agama

Mesikpun tidak berpengaruh besar, namun Yahudi dan Nasrani telah berkembang jauh
sebelum Islam lahir di Mekkah. Melainkan kuatnya paganisme[21] yang bercokol dalan
keberagamaan mereka. Ini merupakan pengkomparasian antara vetieisme[22],
toteisme[23] dan animisme[24]. Namun adapula yang menganut ajaran hanif dari nabi
Ibrahim a.s.

Di sinilah Islam membawa dan mengarahkan bangsa arab untuk memiliki keimanan
yang proporsional kepada Allah SWT. Islam meluruskan keimanan dan aqidah mereka
yang tidak bisa disamakan dengan semua jenis makhluk di dunia ini. Di sinlah peran vital
Islam memberikan pemahaman tentang tauhid yang tidak hanya sekedar terbatas pada
pengesaan Tuhan, tapi juga kemanusiaan yag kemudian diwujudkan dalam bentuk
persamaan dan keadilan.

1. Bargaining Position Islam Terhadap Peradaban Dunia Pasca Kepemimpinan Nabi


Muhammad Saw

Sejarah telah mencatat sekian prestasi gemilang Muhammad. Bangsa Arab yang mula-
mula hanya kabilah-kabilah yang saling memerangi satu sama lain, mudah dipecah-belah
dan tidak menjadi subjek terhadap antroposentris sejarah bangsa-bangsa besar di Dunia.
Walhasil, ajaran-ajaran Islam menjadi titik tolak semangat eksplorasi dan kejayaan
bangsa Arab. Sangat bijak kiranya Michael H. Hart memposisikan Nabi Muhammad Saw
sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah. Apakah pengaruh Nabi
Muhammad yang paling mendasar terhadap sejarah umat manusia? Seperti halnya agama
yang lain, Islam punya pengaruh luar biasa besrnya terhadap para penganutnya. Jika
diukur dari jumlah banyaknya pemeluk agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari
pemeluk agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda Tanya apa alas an menempatkan
urutan Nabi Muhammad Saw lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar tokoh yang paling
berpengaruh?

Ada dua alasan pokok, menurut Michael H. Hart. Pertama, Nabi Muhammad Saw
memainkan peranan jauh lebih pentin dalam pengembangan Islam ketimbang peranan
Nabi Isa terhadap agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-
ajaran pokok moral dan etika Kristen. Sebaliknya dengan Nabiyullah Muhammad bukan
saja bertanggungjawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok
etika dan moralnya. Di samping itu pula dia pencatat Kitab Suci al-Qur’an, kumpulan
wahyu kepada Nabi Muhammad Saw yang diyakininya berasal langsung dari Allah.
Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan hingga kini. Dengan
demikian al-Qur’an berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Nabi Muhammad serta
ajaran-ajarannya karena beliau bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya tak ada satupun
kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Nabi Isa yang masih dapat dijumpai di
masa sekarang. Karena al-Qur’an bagi kaum Muslim sedikit banyak sama pentingnya
dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan al-Qur’an
teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Nabi Muhammad dalam Islam lebih besar
dari pengaruh Nabi Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu.

Kedua, berbeda dengan Nabi Isa, Nabi Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi
juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan selaku kekuatan pendorong terhadap gerak
penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada
dalam posisi terdepan sepanjang waktu. Membentang dari Irak hingga Maroko,
terbentang rantai bangsa Arab yang berstu, bukan semata berkat anutan agama Islam tapi
juga dari sudut bahasa Arabnya , sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral al-Qur’an di
kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, merupakan sebab yang
sangat rasional mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang
berantakan.

Hingga Nabi kita Muhammad Saw telah wafat, ajaran-ajarannya senantiasa menjiwai
dada kaum muslimin. Beliaulah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat
kepercayaan kepada keesaan Allah, pasukan Arab yang kecil mampu melakukan
serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia.

Perlu dicatat pula bahwwa Islam bukanlah agama haus darah . Hal ini jelas sekali kita
ketahui ketika Beliau memberi amnesty kepada kaum kafir Quraisy ketika kembali ke
Mekkah. Sebuah penaklukan yang sangat indah dalam sejarah. Tanpa adanya
pertumpahan darah, meskipun secara manusiawi balas dendam adalah hal yang sangat
mendasar, namun beliau tidak melakukannya. Di era media global dan komunisasi instant
saat ini, bermunculan banyak statemen sensasional yang menyudutkan Islam. Islam yang
dihadirkan media Barat sebagai teroris, pembunuh berdarah dingin, rasial, dan lainnya.
Hal ini sebagai titik distorsi pemahaman Barat tentang Islam. Paradigma Islam yang
dideskripsikan Nabi dalam periode penaklukan Mekkah menjadi sanggahan yang sangat
kuat untuk itu.

1. PENUTUP

Seorang penulis biographi Nabi Muhammad yang cukup dikenal, yaitu Muhammad
Ahmad Djadil Maula Beik dalam bukunya Muhammad al-Matsalul Kamil
mengemukakan tiga macam kerja raksasa yang dibawa Nabi Muhammad Saw yang telah
dapat direalisasikan selama masa kerasulannya yang berlangsung selama 23 tahun, yaitu
13 tahun di kota Mekkah dan 10 tahun di kota Madinah. Semoga ini dapat menjadi
stimulus bagi kita semua para generasi Muslim muda untuk lebih memajukan dunia ini
dengan cinta Islam.

‘Ala kulli hal, makalah ini tidak luput dari kekurangan dan kealpaan. Karena itu kritik
dan saran amat penulis harapkan. Semoga setiap amal kebaikan kita diridai Allah Swt.
Amin.

1. KESIMPULAN

Dari beberapa uraian di atas dapat saya simpulkan bahwa pemerintahan Nabi Muhammad
Saw adalah suatu karya cipta pemerintahan yang sempurna melalui usaha yang tidaklah
mudah. Dan merupakan reperesentasi dari pemerintahan yang berdaulat.. Modal
intelektual kepemimpinan Nabi Muhammad Saw adalah pelajaran bagaimana
meneumbuhkan rasa kebersaman dan optimisme dala bingkai ketaatan. Perjalanan
kepemimpinan Nabi Muhammad Saw adalah suatu proses kreatif dan berlangsung secara
continue, berkembang dan beradaptasi denga kebutuhan. Intelektual capital merupakan
konsep yang tidak dapat ditawar lagi dalam membangun sebuah tim menjadi lebih baik.
Dengan kalimat lain, intelektual capital ini berfungsi untuk learn how to learn da sebagai
uatan utama dalam membangun performance management of war.

Selain itu, sebenarnya bangsa arab memiliki khasanah tersendiri di bidang politik,
ekonomi, sosial, sastra dan agama. Lalu proses interaksi yang dilalui Islam melahirkan
pemeliharaan dan pengembangan beberapa hal seperti system moral, tata pergaulan
strategi perang dan hokum keluarga. Islam juga memperbaiki dan menyempurnakan
system tersebut dengan kadar dan kodrat manusia. Dan dengan didukung oleh kreatifitas
umat Islam, al –qur’an dan sunah memberikan perubahan yang nyata tentang pandangan
dunia, tujuan hidup, peribadatan dan sebagainya yang mejadikannya sebagai core system
dari pemikiran dan peradaban Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Sejarah Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997

Aqqod, Abbas Mahmod, Keagungan Muhammah Saw, Solo: pustaka Mantik 1994

Ar-raziq, Ali Abd, Islam Dasar-Dasar Pemerintahan, Yogyakarta: Penerbit Jendela,


2002.

Esposito, John, Dinamika Kebangkitan Islam, Jakarta: Rajawali, 1987.

Hart, Michael H., Seratus Tokoh yang paling Berpengaruh dalam Sejarah, Terj. H.
Mahbub Djunaidi, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1982.

Karim,Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: pustaka Book


Publisher, 2007

Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta: Fakultas Adab, 2002

Nurhakim, Muhammad, , Malang: UMM Press, 2004

Team Penyusun Text Book Sejarah dan Kebudayaan Islam Direktorat Jendral Pembinaan
Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, Sejarah dan Kebudayaan Islam
(Ujung Pandang Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama IA IN “Alauddin” Ujung
Pandang, 1981/1982

Yatim, Bari, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyyah II, Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2004
Widjan, Aden, dkk, Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: PSI UII, 2007

[1] Tentunya hal ini seharusnya bisa kita transfer ke Negara kita yang sedang sakit ini

[2] Sebagai catatan bahwa pemikiran Timur (Persia-India) bercorak isoteris sedangkan
pemikiran Barat (Bizantium) bercorak eksoteris. Datangnya Islam menyerap dua konsep
pemikiran tersebut sehingga pemikiran Islam menjadi berimbang/ummatan washatan.
Lihat, Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: pustaka
Book Publisher, 2007), h. 38-41.

[3] Jizyah merupakan pajak yang dipungut dari masyarakat non muslim sebagai biaya
penggantian atas jaminan keamanan jiwa dan harta benda mereka. Penguasa Islam wajib
mengembalikan jizyah jika tidak berhasil menjamin dan melindungi jiwa dan harta
kekayaan masyarakat non muslim.

[4] Kharaj merupakan pajak atas kepemilikan tanah yang dipungut kepada masyarakat
non muslim yang memiliki tanah pertanian.

[5] Ghanimah adalah hasil rampasan perang yang 4/5 dari ghanimah tersebut dibagikan
kepada pasukan yang turut berperang dan sisanya yaitu 1/5 didistribusikan untuk
keperluan keluarga Nabi, anak-anak yatim, fakir miskin dan untuk kepentingan
masyarakat umum.

[6] Al-Fay’ pada umumnya diartikan sebagai tanah-tanah yang berada di wilaya negeri
yang ditaklukkan, kemudian menjadi harta milik Negara. Dan pada masa Nabi
Muhammad Saw, Negara memiliki tanah-tanah pertaniah yang luas yang hasilnya
dimanfaatkan untuk kepentingan umum masyarakat.

[7] Perang Badar adalah perang pertama yang sangat menentukan masa depan Negara
Islam. Ini merupakan perang antara kaum Muslimin dengan musyrik Quraisy. Pada
tanggal 8 Ramadhan tahun ke 2 Hijriah. Nabi bersama 305 orang Muslim bergerak keluar
kota membawa perlengkapan yang sedehana. Di daerah badar, kurang lebih 120 km dari
Madinah, pasukan nabi bertemu dengan pasukan Quraisy yang berjumlah sekitar 900
samapi 1000 orang, dan nabi sendiri sebagai komandan. Dalam perang ini kaum
Muslimin keluar sebagai pemenang. Lihat, Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam
Dirasah Islamiyyah II, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 27.

[8] Perang ini disebut juga perang Ahzab karena musuh yang menyerang Madinah terdiri
dari berbagai golongan yang bersekutu. Disebut khandaq karena menggunakan parit
sebagai benteng pertahanan. Lihat juga dalam Al-Qur’an surat ke 33. dalam perang ini
gugur enam orang sahabat Rasulullah dan dari pihak lawan tiga orang. Dari sini
rasulullah belajar bahwa taktik bertahan tidak menguntungkan sehingga perang-perang
berikutnya Rasulullah menggunakan taktik menyerang ketika musuh sudah jelas siap
akan menyerang. Sehingga serangan yang dilakukan tetap dalam rangka pembelaan diri.
Lihat, Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: Fakultas Adab, 2002),
h. 37.

[9] Perang Hunain merupakan perang umat Islam yang melawan Bani Tsaqif di Taif dan
Bani Hawazin di antara Taif dan Makkah yang berkomplot untuk memerangi Islam.
Dalam perang ini Nabi mengerahkan kira-kira 12.000 tetara menuju Hunayn untuk
menghadapi mereka. Tentara Islam memenangkan pertempurang dalam waktu yang tidak
terlalu lama. Lihat, Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyyah II,
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 32

[10] Perang Tabuk merupakan perang terakhir yang diikuti Rauslullah Saw. Perang ini
melawan pasukan Heraklius yang mundur melihat banyak pahlawan Islam yag siap
berperang melawan nabi. Namun nabi tidak melakukan pengejaran tetapi berkemah di
Tabuk. Lihat: Badri, Sejarah, h. 32.

[11] Piagam Madinah menyepakati lima perjanjian, yaitu: tiap kelompok dijamin
kebebasannya dalam beragama, tiap kelompok berhak menghukum anggota kelompoknya
yang bersalah, tiap kelompok arus saling membantu dalam mempertahankan Madinah,
baik yang muslim maupun yang non muslim, penduduk Madinah semuanya sepakat
mengangkat Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpinnya dan memberi keputusan hokum
segala perkara yang dihadapkan kepadanya dan meletakkan landasan berpolitik, ekonomi
dan kemasyarakatan bagi negeri Madinah yang baru terbentuk. Lihat, Abdul Karim,
Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007),
h. 70.

[12] Team Penyusun Text Book Sejarah dan Kebudayaan Islam Direktorat Jendral
Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, Sejarah dan
Kebudayaan Islam (Ujung Pandang Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama IAIN
“Alauddin” Ujung Pandang, 1981/1982), h. 46. Lihat juga, , Siti Maryam, dkk, Sejarah
Peradaban Islam, (Yogyakarta: Fakultas Adab, 2002), h. 30.

[13] Arab pada saat itu terbagi menjadi tiga daerah, yaitu daerah selatan (Himayar),
daerah utaa (Petra, Gazah) dan di tengah (Kindi). Lihat. Aden Widjan, dkk. Pemikiran
dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: PSI UII, 2007), h. 7-9.

[14] Lihat, Q. S. 49: 10, 13 dan 49.

[15] Aden, Pemikiran, h. 9

[16] M. Abdul, Sejarah, h. 54

[17] Aden, Pemikiran, h. 10-11

[18]Karim, Sejarah, , h. 53

[19] Aden, Pemikiran,, h. 15

[20] Karim, Sejarah, h. 59

[21] Paganisme adalah penyembahan terhadap berhala

[22] Vetieisme adalah kepercayaan yang diwujudkan dalam bentuk penyembahan


terhadapa benda sperti batu dan kayu.

[23] Toteisme adalah pengkultusan terhadap hewan atau tumbuh-tumbuhan yang


dianggap suci.

[24] Animisme adalah kepercayaan terhadap roh baik dan jahat yang berpengaruh dalam
kehidupan manusia.

Entry Filed under: Sejarah,Sejarah Peradaban Islam

Beri Nilai