Anda di halaman 1dari 32

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Geologi Regional


Blok Offshore North West Java (ONWJ) merupakan blok yang sudah
beroperasi sejak tahun 1967. Blok ini sekarang pengoperasiannya dipegang oleh
Pertamina Hulu Energi (2009), sebelumnya blok ini dioperasikan oleh British
Petroleum (BP) dan Atlantic Richfield Indonesia Inc. (ARII). Blok ONWJ
terletak di sepanjang utara laut Jawa, memanjang dari wilayah Jawa Barat
sampai Jawa Tengah.

Sub cekungan yang terdapat pada Cekungan Jawa Barat Utara antara lain
Sub Cekungan Ciputat, Sub Cekungan Pasir Putih, Sub Cekungan Jatibarang,
dan Sub Cekungan Arjuna. Daerah penelitian merupakan bagian dari Cekungan
Jawa Barat Utara (North West Java Basin), yaitu lebih tepatnya berada pada Sub
Cekungan Arjuna bagian tengah (Central Arjuna). Sub Cekungan Arjuna berada
pada bagian tengah dari Cekungan Jawa Barat Utara yang letaknya ± 90 km ke
arah timur laut dari kota Jakarta. Sub Cekungan ini merupakan satu dari seri
cekungan di ujung selatan lempeng mikro Sunda yang berupa sistem setengah
graben/half graben (Gresko dkk, 1995). Sub Cekungan Arjuna dibagi menjadi 3
bagian, yaitu bagian utara, tengah, dan selatan (Gresko dkk, 1995). Pembagian
dari Sub Cekungan Arjuna bisa dilihat pada Gambar 2.1. Masing-masing bagian
mempunyai luas ± 700 km2 dan paling sedikit terdiri dari satu sistem setengah
graben.

6
Gambar 2.1. Lokasi Sub Cekungan Arjuna pada Cekungan Jawa Barat Utara
(Noble dkk, 1997)

2.1.1. Sejarah Tektonik dan Kerangka Stratigrafi Cekungan Jawa Barat Utara
Terdapat lima even tektonik yang mempengaruhi perkembangan
struktur dan juga stratigrafi di Cekungan Jawa Barat Utara (Gresko dkk,
1995), antara lain :

1. Pre Rift (Kapur Akhir-Awal Eosen)


Subduksi dan perkembangan busur meratus menghasilkan
metamorfisme regional pada passive margin dataran Sunda. Terjadi
deformasi, pengangkatan, erosi, dan pembekuan magma dalam kurun
Paleosen pada seluruh bagian di Arjuna (Gresko dkk, 1995).

7
2. Syn-Rift I (Eosen)
Lempeng Hindia bertumbukan dengan lempeng Eurasia menyebabkan
dextral wrenching pada bagian selatan Paparan Sunda. Periode ini
merupakan episode ekstensional yang mengawali terjadinya rifting.
Terdapat dua arah patahan yang mempengaruhi perkembangan fase Rift I
ini, berarah U 600 B sampai U 400 B dan berarah utara-selatan dengan arah
ekstensional U 300 - 700 T.
Endapan pada fase ini merupakan Formasi Jatibarang yang terdiri dari
sedimen asal daratan yang berumur Awal Oligosen terendapkan di atas
basement dan berada di bawah ketidakselarasan. Terdiri dari endapan
lakustrin dan vulkaniklastik yang terisolasi pada sistem half graben.
Endapan vulkanik pada Formasi Jatibarang terdiri dari vulkaniklastik
andesitik dan tuf (Gresko dkk, 1995).

3. Syn-Rift II (Oligosen)
Pada Awal Oligosen, vulkanisme dan rifting I berhenti di wilayah
Arjuna. Periode ini berlainan dengan even tumbukan di busur depan Jawa
dan Sumatera. Fase tumbukan ini menyebabkan reorientasi dari arah
kompresi regional yang menghasilkan beberapa pengangkatan regional dan
erosi sepanjang bagian selatan Paparan Sunda. Terjadi rifting kembali pada
akhir Awal Oligosen yang berhubungan dengan pergerakan lateral blok
Indocina dan membukanya Laut Cina Selatan.
Pada Akhir Oligosen terjadi penghentian pergerakan sistem patahan
pada semenanjung Malay dan Thailand, selanjutnya terjadi pengangkatan
yang menyebabkan pergantian arah provenance dari sekitar punggung
cekungan menjadi arah regional dari utara Paparan Sunda.
Sedimen pada fase ini merupakan endapan sedimen Formasi Talang
Akar Bagian Bawah yang terendapkan di atas Formasi Jatibarang. Litologi
pada Formasi Talang akar bagian bawah terdiri dari konglomerat masif dan

8
batupasir sedang-kasar, batulempung lakustrin dan paleosols. Kemudian
endapan ini disebut dengan Anggota Kontinental Formasi Talang Akar
(Ponto, 1998).

4. Post-Rift ( Oligosen Akhir - Miosen Awal)


Berhentinya pemekaran pada Laut Cina Selatan disebabkan tumbukan
antara fragmen Gondwana (Australia Timur/Papua) dengan batas timur
Paparan Sunda. Pada Oligosen Akhir, terendapakan Formasi Talang Akar
Bagian Atas yang terendapakan di atas Formasi Talang Akar Bagian
Bawah dan terendapkan pada bagian atasnya oleh batuan karbonat dari
Formasi Baturaja. Anggota ini terdiri dari perselingan batupasir halus-
sedang, batulempung, batulanau, batubara, dan batugamping yang
terendapkan pada kondisi umum transgresif.
Batupasir pada Anggota Deltaik Formasi Talang Akar umumnya
terpilah lebih baik dan berbutir lebih halus daripada anggota Kontinental
Formasi Talang Akar. Terdapat pula endapan batubara dengan jumlah yang
cukup banyak pada bagian bawah dan berkurang ke arah atas seiring
perubahan setting pengendapan menuju marine Talang Akar. Pada Miosen
Awal terendapkan Formasi Baturaja yang terdiri dari batuan karbonat
selaras di atas Formasi Talang Akar Bagian Atas (Gresko dkk, 1995).

5. Inversi (Miosen Tengah – Miosen Akhir)


Barat laut Australia bertumbukan dengan Palung Sunda yang
mengakibatkan terjadinya rezim kompresi pada cekungan Arjuna. Endapan
yang dihasilkan pada fase ini, terdiri dari Formasi Cibulakan dan Formasi
Cisubuh.

9
2.1.2. Stratigrafi Regional
Secara keseluruhan terdapat enam unit Formasi yang terdapat pada
daerah penelitian. Formasi ini berkisar dari Oligocene-Resent dan
terendapkan pada lingkungan non marin, marginal marin dan laut dangkal.
Kolom stratigrafi dari Cekungan Jawa Barat Utara dapat dilihat pada Gambar
2.2. Formasi-formasi tersebut dari tua ke muda antara lain:

1. Basement
Basement terdiri dari batuan metamorfik (metaquartzite).
2. Formasi Talang Akar
Formasi Talang Akar merupakan unit sedimen tertua yang berumur
Oligosen-Awal Miosen. Formasi Talang Akar ini terdiri dari dua bagian
antara lain Formasi Talang Akar Atas dan Formasi Talang Akar Bawah.
Formasi Talang Akar Atas terdiri dari batulempung, batugamping dengan
sedikit lapisan-lapisan tipis batubara. Formasi Talang Akar Bawah terdiri
dari batulempung karbonat, batupasir, bitumen, dan batubara antrasit.
Pada bagian bawahnya terdapat batupasir konglomeratik dan
batulempung non-kalkareous.
Batulempung pada formasi ini berwarna kecoklatan-abu-abu, lanauan,
secara lokal bergradasi menjadi bataulanau, non-calcareous, dan terdapat
jejak burrow setempat. Batupasir berkisar sangat kasar-konglomeratik
setempat, menyudut membundar tanggung, lanauan, dan bermatriks non-
calcareous. Pada batupasir juga terdapat sebagian kecil lamina-lamina
batubara dan struktur sedimen gradded bedding. Porositas pada batupasir
beragam dari baik-buruk. Sementara batugamping pada Formasi Talang
Akar Bagian Atas berwarna krem-putih, terkristalisasi, sebagian
terdolomitisasi dan terdapat foram besar.
Secara umum berdasarkan data biostratigrafi diketahui bahwa Formasi
Talang Akar Bagian Atas terendapkan pada lingkungan inner sublitoral-

10
outer litoral dan Formasi Talang Akar Bagian Bawah terendapkan pada
lingkungan litoral-continental supralitoral (Bishop, 2000).

3. Formasi Baturaja
Formasi ini terbentuk pada Miosen Bawah, terdiri dari batugamping
masif, terekristalisasi sedang-kuat dan sebagian mengalami dolomitisasi.
Berwarna putih-krem, tersusun atas nodul-nodul rijang dan jarang
terdapat foram besar, tersementasi sedang dan memiliki matriks kristalin.
Batugamping formasi ini memiliki porositas buruk. Formasi Baturaja
terendapkan pada lingkungan marin khususnya inner sublitoral (Bishop,
2000).

4. Formasi Cibulakan Atas


Berumur Miosen Tengah sampai Miosen Akhir, interval formasi ini
adalah pada bagian bawah batugamping Formasi Parigi sampai bagian
atas Formasi Baturaja. Formasi Cibulakan Atas terdiri dari batulempung
dan batupasir dengan lapisan tipis batugamping. Batulempung berwarna
abu-abu hijau calcareous-non-calcareous, dibeberapa bagian
batulempung ini bergradasi menjadi batulanau seiring dengan
bertambahnya kedalaman.
Batupasir pada Interval Main berbutir halus-kasar dan terpilah buruk,
terdapat glaukonit dibeberapa bagian dan berporositas sedang-baik.
Semakin ke arah bawah batupasirnya menjadi lebih berbutir halus,
terpilah lebih baik, glaukonitik, dan tersusun atas runtuhan cangkang dan
bersifat calcareous. Sedimentasi pada formasi ini terjadi pada laut
terbuka (inner-middle sublitoral) (Bishop, 2000).

11
5. Formasi Parigi
Formasi Parigi terbentuk pada Miosen Atas, terdiri dari batugamping
masif yang tersusun atas cangkang serta batulempung yang terendapkan
di atasnya. Batugamping dari Formasi Parigi ini berwarna putih-krem,
dapat diremas, bertekstur packstone-grainstone yang terkristalisasi,
tersusun atas glaukonit, foraminifera besar, runtuhan cangkang dan koral.
Sementara batulempung yang ada sama dengan litologi yang terdapat di
Formasi Cisubuh namun secara umum tersusun atas material cangkang
dan fauna bentonik. Batugamping Formasi Parigi secara keseluruhan
terbentuk pada lingkungan laut (inner-middle sublitoral) (Bishop, 2000).

6. Formasi Cisubuh dan Sedimen Resen


Formasi ini terbentuk pada Miosen Atas - Resent, terdiri dari
batulempung dan batulanau dengan lapisan tipis batupasir dan
batugamping dolomitik. Batulempung berwarna abu-abu-kehijauan-
cokelat keabuan, karbonan, lanauan, dan bergradasi menjadi batulanau.
Batulempung ini juga tersusun atas glaukonit dan runtuhan cangkang.
Sementara batupasir yang ada berbutir halus-sedang, tersusun atas
kuarsa, fragmen litik, dan material piroklastik. Pada bagian paling atas
terdapat sedimen Recent, yang terdiri dari batulempung, kuarsa alluvial
dan sedimen vulkaniklastik (Bishop, 2000)

12
Gambar 2.2. Kolom Stratigrafi Cekungan Jawa Barat Utara (Noble dkk, 1997)

13
2.1.3. Sistem Petroleum Cekungan Jawa Barat Utara
Sistem petroleum pada cekungan Jawa Barat Utara berasal dari tujuh sub
cekungan, yaitu sub cekungan Jatibarang, sub cekungan Cipunegara/E-15
Graben, sub cekungan Kepuh, sub cekungan Pasir Bungur, sub cekungan
Ciputat, sub cekungan Arjuna Selatan, dan sub cekungan Arjuna Tengah
(Noble dkk, 1997).

1. Batuan Sumber (Source Rock)


Terdapat tiga tipe penting batuan sumber pada cekungan Jawa Barat
Utara, yaitu: serpih rawa (lacustrine shales) pada tipe ini sebagian besar
cenderung menghasilkan minyak (mainly oil prone), batubara-batubara
dan serpih-serpih yang berasal dari delta (fluvio deltaic coals and shales)
pada tipe ini cenderung menghasilkan minyak dan gas (oil and gas prone),
batulempung-batulempung laut (marine claystones) pada tipe ini
cenderung banyak terdapat bakteri gas (bacterial gas). Studi-studi
geokimia dari minyak-minyak mentah menemukan pada lapangan-
lapangan di darat (onshore Java fields) dan lapangan-lapangan di laut
(offshore Arjuna fields) menunjukkan batuan sumber paling utama
terdapat pada tipe batubara-batubara (coals) dan serpih-serpih (shales)
yang berasal dari delta (fluvio-deltaic) pada Formasi Talang Akar Bagian
Atas (Bishop, 2000). Batuan sumber pada cekungan Jawa Barat Utara
berasal dari Formasi Talang Akar yang terendapkan pada lingkungan delta
dengan hasil pengendapan berupa batubara dan serpih (shale).

2. Jalur Migrasi (Migration Pathways)


Jalur migrasi pada cekungan Jawa Barat Utara berasal dari tujuh sistem
yang berada pada bagian darat (onshore) dan bagian lepas pantai
(offshore). Ketujuh sistem tersebut adalah sistem Jatibarang, sistem
Cipunegara/E-15, sistem Pasir Bungur, sistem Kepuh, sistem Ciputat,

14
sistem Arjuna Selatan, dan sistem Arjuna Tengah. Batuan-batuan sumber
Talang Akar merupakan batuan sumber yang penting dan berbagai
reservoir secara horizontal diisi dari sumber Talang Akar (Noble dkk,
1997).

3. Batuan Reservoir (Reservoir Rocks)


Semua formasi yang ada di cekungan Jawa Barat Utara mulai dari Formasi
Jatibarang sampai Formasi Parigi mempunyai interval lapisan yang bagus
untuk menjadi batuan reservoir.

4. Tipe-tipe Perangkap (Trap Styles)


Model struktur dan mekanisme perangkap sangat mirip di semua sistem
petroleum cekungan Jawa Barat Utara. Struktur utama mencirikan kubah
antiklin yang lebar dan perangkap pembelokan (tilted fault block traps).
Karbonat tumbuh (carbonat buildups) dalam Formasi Batu Raja, interval
Main, dan interval Parigi juga menjadi perangkap-perangkap yang bagus.
Perangkap stratigrafi juga ditemukan ketika bagian pasir menumpang
(onlap) dan dasar dari batuan dasar tinggi (drape basement highs).
Perangkap-perangkap itu terbatas pada Interval Talang Akar. Walaupun
stratigrafi pinchouts dari bagian reservoir juga ditemukan (Noble dkk,
1997).

15
2.2. Geologi Lapangan DTE

Lapangan DTE merupakan lapangan hidrokarbon yang berada pada Sub


Cekungan Arjuna bagian tengah. Secara geografis, lapangan ini terletak pada
daerah lepas pantai barat laut Jawa, sekitar 161 km dari kota Jakarta ke arah
timur laut. Lapangan DTE berbatasan dengan lapangan FI di sebelah timur,
Lapangan FN di sebelah tenggara, dan Lapangan E di sebelah barat.

Struktur geologi yang berkembang pada lapangan DTE ini merupakan


struktur sesar, yang terdiri dari dua sesar turun mayor yang mengapit daerah
penelitian. Struktur sesar turun ini berarah timur laut (lebih ke utara) dengan
kemiringan bidang sesar ke arah barat daya (lebih ke barat).

Stratigrafi pada lapangan DTE mempunyai susunan yang hampir sama


dengan stratigrafi regional cekungan Jawa Barat Utara, hanya saja pada
Lapangan DTE ini Formasi Jatibarang tidak ditemukan. Lapangan DTE tersusun
atas lima formasi, yaitu dari tua ke muda :
a. Formasi Talang Akar (Eosen-Oligosen)
b. Formasi Baturaja (Oligosen Akhir-Miosen Awal)
c. Formasi Cibulakan Atas (Miosen Tengah)
d. Formasi Parigi (Miosen Akhir)
e. Formasi Cisubuh (Miosen Akhir-Pliosen)

Ketidakhadiran Formasi Jatibarang pada daerah penelitian diakibatkan pada


saat pengendapan Formasi Jatibarang, batuan dasar pada daerah ini merupakan
tinggian.
Sedangkan sistem Petroleum yang menyusun Lapangan DTE terdiri atas :
1. Batuan Sumber (Source Rocks)
Batuan sumber pada lapangan DTE berasal dari Formasi Talang Akar
deltaik. Batuan sumber tersebut berasal dari batuan berumur Oligosen
yang terendapkan pada lingkungan delta dengan hasil pengendapan berupa

16
batubara dan serpih. Endapan batubara dan serpih inilah yang utama
berperan sebagai batuan sumber pada lapangan DTE. Tipe batuan sumber
ini cenderung menghasilkan minyak dan gas (oil and gas prone).

2. Jalur Migrasi (Migration Pathways)


Jalur migrasi yang mengisi hidrokarbon pada reservoir lapangan DTE
merupakan sistem Cipunegara E-15. Hidrokarbon bermigrasi dari batuan
sumber ke batuan reservoir pada lapangan DTE secara horizontal dengan
arah utara – selatan.

Gambar 2.3. Jalur Migrasi Sistem Cipunegara-E15 pada Lapangan DTE


(Noble dkk, 1997)

17
3. Batuan Reservoir (Reservoir Rocks)
Batuan reservoir pada lapangan DTE terdiri dari batupasir dan
batugamping yang berselang-seling dengan keberadaan batulempung.
Sedangkan batuan reservoir dari zona DTE-22B tersusun atas batupasir.
Batupasir yang menyusun zona reservoir DTE-22B merupakan batupasir
tebal yang berasal dari Interval Main Formasi Cibulakan Atas. Batupasir
tebal ini diketahui menyimpan potensi hidrokarbon dalam jumlah yang
cukup besar.

Gambar 2.4. Kolom Stratigrafi Cekungan Jawa Barat Utara dan Contoh Log Sumur
DTEA-1, sebagai perbandingan (mod. from Nobel dkk, 1997)

18
4. Tipe Perangkap (Trap Styles)
Tipe perangkap yang terdapat pada lapangan DTE berupa perangkap
struktur, yaitu tilted fault block traps. Perangkap ini merupakan perangkap
struktur sesar turun yang miring ke arah utara-selatan (PHE ONWJ
internal report, 1981).

Gambar 2.5. Tipe Perangkap pada Cekungan Jawa Barat Utara


(Noble dkk, 1997)

5. Batuan Penutup (Cap Rock)


Batuan penutup pada lapangan DTE berupa batulempung berumur
Miosen. Batulempung ini berperan sebagai batuan penutup dan diketahui
berselang-seling dengan batupasir yang merupakan batuan reservoir.

19
2.3. Sistem Petroleum
Menurut Harsono (1997) minyak dan gas bumi merupakan senyawa
hidrokarbon, berasal dari bahan organik dalam batuan induk yang mengalami
proses pematangan. Adanya akumulasi minyak dan gas bumi di bawah
permukaan memerlukan beberapa syarat yang dikenal sebagai petroleum system
yaitu batuan induk (source rock) yang matang, batuan reservoir (reservoir rock)
yang porous dan permeable, perangkap (trap), batuan penutup (cap rock) yang
impermeable, serta waktu migrasi (proper timing of migration) yang
memungkinkan minyak dan gas bumi bermigrasi dan terjebak dalam perangkap
(trapping mechanism).

Gambar 2.6. Petroleum System (www.earthscienceworld.org)

Berikut penjelasan mengenai masing-masing sistem petroleum:


a. Batuan Induk (Source Rock)
Batuan induk adalah batuan sedimen yang sedang, akan, atau telah
menghasilkan hidrokarbon. Batuan induk ini adalah sumber daripada
hidrokarbon, sehingga tanpa adanya batuan induk ini tidak akan ada
hidrokarbon yang terbentuk. Batuan induk ini memerlukan beberapa syarat
untuk dapat menghasilkan hidrokarbon, antara lain tercapainya kondisi

20
kematangan termal dan tersusun atas material organik yang cukup tinggi.
Batuan induk tersusun dari material organik yang berasal dari darat
(terestrial) atau asal laut (marine). Batuan yang dapat dijadikan sebagai
batuan induk adalah batuan sedimen klastik halus seperti batulempung,
serpih dan napal. Material organik yang terdapat pada batulempung antara 1-
2%. Batulempung yang tersusun atas material organik kurang dari itu tidak
dapat menjadi batuan hidrokarbon.

b. Migrasi Hidrokarbon
Migrasi merupakan proses berpindahnya minyak atau gas bumi yang
terbentuk dari batuan induk ke batuan penyimpan sampai dimana minyak dan
gas bumi tidak dapat berpindah lagi. Sebagian besar hidrokarbon bermigrasi
menuju permukaan sebagai rembesan minyak, sebagian lagi terhenti
migrasinya karena adanya perangkap hidrokarbon. Migrasi petroleum dibagi
ke dalam dua tahap. Tahap migrasi primer adalah pada saat fluida hidrokarbon
berpindah dari batuan sumber hingga mencapai ke batuan yang permeabel.
Tahap migrasi sekunder adalah ketika fluida bergerak dari batuan permeabel
hingga terperangkap di bawah lapisan impermeabel (Koesoemadinata, 1980).

21
Gambar 2.7. Migrasi primer dan sekunder (Koesoemadinata, 1980)

Waktu migrasi amat menentukan dalam suatu petroleum system.


Adanya waktu migrasi yang tidak tepat dalam suatu petroleum system, akan
mengakibatkan tidak adanya akumulasi hidrokarbon terbentuk pada suatu
reservoir. Sebagai contoh, pada saat batuan induk telah mencapai suatu
kematangan termal tertentu dan menghasilkan hidrokarbon sedangkan
perangkap dan sistem tersebut belum terbentuk, maka hidrokarbon yang
dihasilkan akan mengalir hilang dan tidak akan membentuk akumulasi
hidrokarbon.

c. Batuan Reservoir
Batuan reservoir adalah wadah permukaan yang diisi dan dijenuhi oleh
minyak dan gas bumi. Pada hakekatnya setiap batuan dapat bertindak sebagai
batuan reservoir asal mempunyai kemampuan untuk menyimpan dan
melepaskan minyak bumi. Dalam hal ini batuan reservoir harus menyandang
dua sifat fisik penting, yaitu harus mempunyai porositas yang memberikan

22
kemampuan untuk menyimpan, dan juga kelulusan atau permeabilitas. Jadi
secara singkat dapat disebut bahwa batuan reservoir harus berongga-rongga atau
berpori-pori yang berhubungan.
Batuan reservoir adalah batuan sedimen yang umunya mempunyai
butiran kasar dan porous dengan permeabilitas yang tinggi, sehingga
hidrokarbon dapat terakumulasi dan mengalir di dalamnya. Batuan yang paling
banyak dijumpai adalah batupasir dikarenakan porositas dan permeabilitasnya
yang tinggi. Batuan karbonat juga merupakan batuan reservoir yang baik
dikarenakan adanya pori-pori dan rongga yang besar pada batuan ini.

d. Perangkap reservoir (Reservoir Trap)


Perangkap adalah suatu kondisi ketika hidrokarbon tidak dapat
mengalir keluar dan terjebak di dalam batuan reservoir. Fungsi dan perangkap
ini adalah untuk menampung adanya aliran hidrokarbon dan
mengakumulasinya pada perangkap tersebut. Tanpa adanya perangkap,
hidrokarbon akan mengalir hilang dan tidak akan terjadi suatu akumulasi
hidrokarbon. Perangkap merupakan bentuk geometri struktur atau lapisan
sedemikian rupa sehingga tubuh reservoir terkurung atau tersekat oleh batuan
yang impermeabel (batuan penyekat). Jadi seolah-oleh minyak tercebak atau
tersangkut pada batuan reservoir, tidak bisa lepas atau bermigrasi lebih lanjut.
Perangkap atau trap diklasifikasikan ke dalam tiga jenis perangkap,
meskipun ada beberapa ahli menetapkan klasifikasi perangkap berdasarkan
faktor lain. Jenis perangkap tersebut yaitu perangkap struktur, perangkap
stratigrafi, dan perangkap kombinasi struktur – stratigrafi (Levorsen 1957,
dalam Koesoemadinata, 1980).

e. Batuan penutup (Cap Rock)


Batuan penutup adalah batuan yang memiliki permeabilitas dan
porositas yang rendah, sehingga menghambat adanya petroleum dalam

23
reservoir untuk bermigrasi. Batuan penutup merupakan suatu batuan sedimen
yang kedap air sehingga minyak dan gas bumi yang ada di dalam reservoir
tidak dapat keluar lagi. Batuan penutup yang umum adalah serpih (shale) dan
batuan evaporit.

2.4. Well Logging


Well logging merupakan salah satu metode dalam eksplorasi minyak bumi
yang dilakukan pada kegiatan pemboran. Dari kegiatan logging ini akan didapat
informasi-informasi mengenai sifat fisik batuan, sehingga dapat diperkirakan
keterdapatan hidrokarbon pada suatu reservoir.
Parameter- parameter fisika batuan utama yang diukur meliputi temperatur,
tahan jenis, densitas, porositas, permeabilitas dan sebagainya. Sifat-sifat fisik
batuan tersebut tergambar dalam bentuk kurva-kurva log.
Log merupakan suatu grafik kedalaman, dari satu set data yang menunjukkan
parameter yang diukur secara berkesinambungan di dalam sebuah sumur.
(Harsono, 1997).

a. Log Spontaneous Potential (SP)


Menurut Harsono (1997) log SP (Spontaneous Potential) merupakan
hasil dari pengukuran beda potensial arus searah antara elektroda di
dalam lubang bor dengan elektroda di permukaan. Beda potensial ini
terjadi karena adanya perbedaan elektrokimia antara air formasi dengan
lumpur pengeboran. Beda potensial inilah yang kemudian direkam dalam
bentuk log. Pada daerah yang mengandung shale (shaly sections), nilai
SP maksimum akan berdefleksi ke kanan dan dapat digunakan sebagai
shale base-line.
Log ini selalu diletakkan di sebelah kiri kolom kedalaman bersama-
sama dengan log GR. Satuannya yaitu milivolt (mV). Defleksi positif
ataupun negatif terjadi karena adanya beda potensial dari arus listrik

24
alami yang ada pada batuan yang ditimbulkan oleh perbedaan salinitas
(konsentrasi NaCl) yang ada di dalam formasi dan lumpur pengeboran.
SP logs merupakan indikator yang baik untuk litologi di daerah
batupasir permeabel dan terisi air, akan tetapi SP logs tidak dapat
sepenuhnya membedakan litologi-litologi seperti batupasir tersemen kuat
(tightly cemented sandstone) dengan minyak yang mengandung bitumen
(bitumen-saturated oil). Jika formasi di bawah permukaan mengandung
lebih banyak fresh water dibanding saline water, defeksi SP akan
melonjak atau bahkan membalik dan normal, tergantung salinitas dari
lumpur pengeboran.
Log SP hanya dapat menunjukkan lapisan permeable, namun tidak
dapat mengukur harga absolut dari permeabilitas maupun porositas dari
suatu formasi.

b. Log Gamma Ray


Gamma ray log merupakan log yang digunakan untuk mengukur
emisi dari gamma ray alam pada berbagai lapisan pada sumur pemboran
(Harsono,1997). Pengukuran ini berhubungan dengan komposisi isotop
radiogenic dari potassium, uranium dan thorium. Pada batuan sedimen
unsur-unsur radioaktif banyak terkonsentrasi pada shale/clay, maka log
GR sangat berguna untuk mengetahui besar kecilnya keterdapatan shale
pada lapisan permeabel. Radioaktivitas batuan yang diukur oleh gamma
tool adalah fungsi langsung dari keterdapatan lempung dan juga ukuran
butir serta energi pengendapan. Meningkatnya komposisi lempung
menandakan menurunnya energi pengendapan, begitu pula sebaliknya.
Gamma Ray memiliki satuan GAPI (Gamma American Petroleum
Institute). Skala kurva GAPI biasanya berkisar antara 0-150 (tergantung
karakteristik dari defleksi kurva gamma ray pada lapisan). Dengan
menarik garis GR yang mempunyai harga minimum dan garis maksimum

25
pada suatu penampang log, maka kurva GR yang jatuh antara kedua garis
tersebut merupakan indikasi adanya lapisan shaly.
Pembacaan log GR tidaklah selalu ideal dan terdapat beberapa
pengecualian. Tubuh batupasir yang memiliki glaukonit dan mika, atau
keterdapatan yang rendah akan potassium feldspar pada shale akan
memberikan pengecualian pada pembacaannya. Batupasir yang
seharusnya memberikan pembacaan Gamma Ray rendah akan dapat
memberikan pembacaan bernilai tinggi bila terdapat glaukonit dan mika
yang kaya akan potassium.
Log SP dan log sinar gamma terutama digunakan untuk membedakan
antara batuan reservoir dan non reservoir. Selain itu juga penting di
dalam pekerjaan korelasi dan evaluasi keterdapatan serpih di dalam suatu
formasi. Penentuan zona permeabel dan non permeabel ini didasarkan
pada volume shale (Vshale). Secara umum zona permeabel akan
ditunjukkan oleh jumlah Vshale yang lebih sedikit dibandingkan zona
non permeabel. Pada Gambar 3.2 menunjukkan defleksi log gamma ray
pada beberapa litologi.

26
Gambar 2.8. Defleksi log gamma ray pada beberapa litologi (Dewan,1983)

c. Log Resistivitas
Menurut Harsono (1997) resistivity log atau log tahanan jenis
resistivitas merupakan log yang mengukur tahanan dari fluida dalam
pori-pori batuan terhadap aliran elektrik. Sifat menghantar listrik pada
batuan merupakan fungsi dari air yang mengisi pori-pori batuan. Log
resistivitas digunakan untuk evaluasi fluida di dalam formasi. Pada
sumur-sumur tua yang hanya menggunakan sedikit jenis log, log
resisitivitas sangat berguna untuk picking bagian top dan bottom dari
formasi, dan untuk korelasi sumur.
Batuan berpori yang dijenuhi air tawar mempunyai resistivitas tinggi,
oleh karena itu log ini dapat digunakan untuk memisahkan serpih dari
batupasir dan batugamping. Ketika suatu formasi dibor, air lumpur
pemboran akan masuk ke dalam formasi dan dinding lubang bor sehingga
membentuk tiga zona yaitu zona terinvasi (flushed/ invaded zone), zona

27
transisi (mixed zone) dan zona tak terinvasi (uninvaded zone). Pada
Gambar 3.3 menunjukkan pembagian dari ketiga zona ini.

Gambar 2.9. Model formasi, pembagian zona dan simbol-simbol parameter


(mod. Ridder, 1996)

d. Log Densitas
Log Densitas adalah kurva yang menunjukkan besarnya densitas bulk
density (ρr) dari batuan yang ditembus lubang bor. Log densitas
mengukur densitas semu formasi menggunakan sumber radioaktif yang
ditembakkan ke formasi dengan sinar gamma yang tinggi dan mengukur
jumlah sinar gamma rendah yang kembali ke detektor. Prinsip metode ini
adalah mencatat harga bulk density (ρb) berdasarkan jumlah pencacahan
sinar gamma yang diterima oleh detektor, yang merupakan fungsi atau
indikasi dari rapat massa elektron formasi batuan. Sinar gamma dengan
kecepatan tinggi ini akan menumbuk elektron-elektron di dalam formasi

28
dan setiap bertumbukan sinar gamma akan kehilangan energinya.
Banyaknya energi yang hilang ini menunjukkan densitas elektron di
dalam formasi dan dianggap mewakili dari densitas formasi. Energi yang
hilang akibat tumbukan inilah yang akan dibaca oleh sensor.
Kegunaan dari log densitas adalah dapat menghitung densitas,
menghitung porositas, dan menentukan keterdapatan fluida (cross plot
dengan log neutron). Pada penampilan log, kurva densitas diskala secara
langsung dalam g/cc. Jika alatnya dikerjakan tersendiri, skala dari kurva
RHOB biasanya 2-3 g/cc. Tetapi biasanya alat densitas dikerjakan
bersama-sama dengan alat neutron, maka skalanya diatur menjadi 1.95 –
2.95 g/cc, hal ini dilakukan untuk memudahkan pembacaan porositas
karena tanggapan alat densitas dan neutron akan sama pada lapisan
gamping kandung air (Harsono, 1997).

e. Log Neutron
Menurut Harsono (1997) log neutron merupakan log yang berfungsi
untuk menentukan besarnya porositas suatu bataun. Prinsip dasar dari log
ini adalah memancarkan neutron secara terus menerus dan konstan pada
suatu lapisan batuan. Neutron Porosity log tidaklah mengukur porositas
sesungguhnya dari batuan, melainkan yang diukur adalah komposisi
hidrogen yang terdapat pada pori-pori batuan.
Secara sederhana, semakin berpori batuan semakin banyak komposisi
hidrogen dan semakin tinggi indeks hidrogen. Sehingga, serpih yang
banyak memiliki hidrogen dapat ditafsirkan memiliki porositas yang
tinggi pula. Untuk mengantisipasi uncertainty tersebut, maka pada
prakteknya, interpretasi porositas dapat dilakukan dengan
mengelaborasikan log densitas.
Penggabungan antara neutron porosity log dan density porosity log
sangat bermanfaat untuk mendeteksi zona gas dalam reservoir. Hal ini

29
ditandai dengan pemisahan yang besar pada rekaman log dengan posisi
neutron logs di sebelah kanan dari density logs. Formasi yang
mengandung gas akan mempunyai porositas netron yang rendah
dibanding dengan formasi yang mengandung minyak atau air. Hal ini
dikarenakan densitas hidrogen yang rendah pada gas.

f. Log Sonik
Log sonic hampir sama dengan log densitas dan log neutron,
digunakan untuk menentukan harga porositas batuan, mengukur
kecepatan gelombang suara di dalam batuan. Kecepatan ini tergantung
pada litologi, jumlah ruang pori yang saling berhubungan, Jenis fluida
yang ada dalam pori. Log ini sangat berguna untuk memisahkan lapisan
dengan kecepatan yang sangat rendah seperti batubara atau poorly
cemented sandstone.
Menurut Harsono (1997) log sonic adalah log yang menggambarkan
waktu kecepatan suara yang dikirimkan/dipancarkan kedalam formasi
sehingga pantulan suara yang kembali diterima oleh receiver. Waktu
yang diperlukan gelombang suara untuk sampai ke receiver disebut
interval transit time atau t. Besar atau kecilnya t yang melalui suatu
formasi tergantung dari jenis batuan dan besarnya porositas batuan serta
isi komposisi penyusun dalam batuan.

30
2.5. Interpretasi Lingkungan Pengendapan Berdasarkan Bentuk Kurva Log
Lingkungan pengendapan adalah suatu area di permukaan bumi yang secara
fisik, kimia dan biologi berbeda dari area di sekitarnya (Selley, 1985). Suatu
lingkungan pengendapan memungkinkan sebagai tempat terjadinya erosi,
kesetimbangan/ equilibrium (non deposisi dan non erosi) dan deposisi (Selley,
1985). Suatu interval pola log tertentu mencerminkan suatu siklus pengendapan
tertentu di suatu lingkungan pengendapan (Serra, 1989). Contohnya log GR
(Gamma Ray) dan log SP (Spontaneous Potential) yang mencerminkan variasi
dalam suatu suksesi ukuran besar butir (Selley, 1978; dalam Waker & James,
1992). Dari data log sumur dapat dikenali beberapa bentuk dasar yang dapat
dipergunakan untuk menentukan fasies pengendapan suatu tubuh sedimen.
Bentuk-bentuk dasar tersebut adalah blocky (cylindrical), serrated (irregular),
bell shape, funnel shape, symetrical dan asymetrical.

1. Pola Blocky
Blocky merupakan bentuk dasar yang menunjukkan homogenitas batuan.
Bentuk ini diasosiasikan dengan endapan sedimen eolian, dune, braided
channel, carbonate shelf, reef, atau submarine channel fill.

2. Pola Serrated
Bentuk serrated dianggap sebagai bentuk yang mempresentasikan
heterogenitas batuan. Bentuk serrated di asosiasikan dengan endapan
sedimen flood plain, carbonate slope, canyon fill, alluvial plain. Umumnya
mengindikasikan perlapisan tipis-tipis antara sedimen kasar dan halus.
Endapan tipis berbutir kasar mungkin herupa crevasse splay, overbank
deposit dalam laguna, turbidit dalam endapan laut dalam atau lapisan yang
teracak-acak.

31
3. Pola Bell
Bentuk bell selalu diasosiasikan sebagai gradasi butir menghalus ke atas.
Bentuk ini diasosiasikan sebagai endapan fluvial point bar, tidal point bar,
transgressive shelf sand, submarine channel atau endapan turbidit.

4. Pola Funnel
Bentuk funnel merupakan kebalikan dari bentuk bell yang diasosiasikan
sebagai gradasi butir mengkasar ke atas. Bentuk ini dapat dihasilkan dari
endapan delta front (distributary mouth bar), crevasse splay, beach, barrier
beach, shoreface, prograding self sand ataupun submarine fan lobe.

Gambar 2.10. Respon Log Gamma Ray terhadap ukuran butir (Kendall, 2003)

32
2.6. Karakteristik Reservoir
Reservoir adalah bagian dari kerak bumi yang berisi minyak dengan gas
murni (Koesoemadinata, 1980) dan reservoar juga dapat dikatakan sebagai
wadah atau tempat terakumulasinya minyak dan gas bumi di bawah permukaan
bumi (Levorsen, 1958; dalam Koesoemadinata, 1980).
Kualitas dari suatu reservoir ditentukan oleh kapasitas penyimpanan
hidrokarbon dan kemampuan untuk melewatkan fluida tersebut. Hal ini secara
langsung berhubungan dengan porositas efektif dan ukuran reservoir
(geometrinya) serta permeabilitas batuan. Porositas efektif adalah persentase
volume dari pori-pori yang berhubungan dalam batuan. Permeabilitas pada
batuan diukur dari kemampuan batuan untuk melewatkan fluida. Permeabilitas
adalah fungsi dari ukuran, bentuk dan distribusi saluran pori-pori batuan, jenis
dan jumlah kehadiran fluida, tingkat aliran fluida dan perbedaan tekanan
sepanjang aliran. Pada batuan klastik, walaupun hubungan porositas dan
permeabilitas bervariasi namun pada umumnya makin tinggi suatu porositas
maka akan semakin tinggi pula permeabilitasnya. Penggolongan porositas
berdasar nilainya dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 2.1. Klasifikasi nilai porositas (Koesoemadinata, 1980)


Nilai (%) Kategori
0-5 Tidak berarti
5-10 Jelek
10-15 Cukup
15-20 Baik
20-25 Sangat baik
>25 Istimewa

33
2.7. Cadangan Hidrokarbon
Dalam industri migas, reserves didefinisikan sebagai sebagai jumlah
minyak, gas alam, dan zat ikutan (solution gas, kondensat, gas alam cair dan
belerang) yang dapat diproduksi dari suatu reservoir dan bernilai ekonomis pada
masa yang akan datang.
Reserves memiliki pengertian yang berbeda dengan resources, reserves
merupakan bagian dari reseources. Resources adalah jumlah keseluruhan
minyak, gas, dan zat ikutan (related substances) yang diperkirakan dari suatu
reservoir pada waktu tertentu, telah dapat diproduksikan ditambah dengan
perkiraan cadangan yang akan datang (future initial volumes in place).
Oil reserve atau cadangan minyak adalah jumlah minyak yang ada yang
dapat dihasilkan atau diproduksikan ke permukaan secara komersial untuk harga
minyak dan ongkos operasi sesuai dengan teknologi yang ada pada saat ini.

2.7.1. Cadangan di Tempat (Initial Oil in Place)


Initial oil in place mempunyai pengertian jumlah minyak mula-mula
yang menempati sebuah reservoir, tidak ada kaitannnya dengan kelakuan
reservoir tersebut atau dapat juga diartikan sebagai jumah minyak atau gas
dalam suatu reservoir yang dihitung secara volumetris berdasarkan data
geologi serta pemboran, atau material balance berdasarkan data sifat-fisik
fluida dan batuan reservoir produksi serta ulah/kelakukan reservoir, atau
dapat juga dengan cara perhitungan simulasi reservoir (Wahyono, 2008).

Istilah cadangan mempunyai beberapa pengertian, sebagai berikut :


1. Initial Oil in Place, jumlah total minyak yang mula-mula ada didalam
suatu reservoir sebelum reservoir tersebut diproduksikan.
2. Ultimate Recovery, yaitu jumlah hidrokarbon yang dapat diproduksikan
sampai dengan batas ekonomisnya.

34
3. Recovery Factor, angka perbandingan antara hidrokarbon yang dapat
diproduksi (recovery reserve) dengan jumlah minyak mula-mula di
dalam suatu reservoir.
Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam menghitung
cadangan hidrokarbon, salah satunya adalah metode volumetrik. Metode
volumetrik adalah metode perkiraan cadangan yang umum digunakan pada
tahap awal dari suatu lapangan minyak maupun gas. Untuk perhitungan
cadangan secara volumetris diperlukan peta isopach, yaitu peta yang
menggambarkan ketebalan lapisan yang sama. Peta ini digunakan untuk
menentukan volume batuan total (bulk volume). Setelah bulk volume
reservoir dihitung, maka dapat ditentukan besarnya IOIP (initial oil in place),
dengan persamaan sebagai berikut :

7758 Vb 1  Sw


N …………………………………(2.1)
Boi

Keterangan :
Vb = volume batuan reservoir yang berisi hidrokarbon (acre feet)
Boi = faktor volume formasi minyak (bbl/scf)
 = porositas (fraksi)
Sw = saturasi air formasi (fraksi)
N = initial/original oil in place (stb)

2.7.2. Cadangan Sisa (Remaining Reserves)


Cadangan sisa merupakan cadangan yang masih tersisa pada suatu reservoir
dan mungkin masih bisa terproduksi sesuai dengan teknologi pada saat itu.
Menurut Wahyono (2008), cadangan sisa/remaining reserves dapat terbagi
menjadi dua macam, yaitu:

35
1. Cadangan terbukti (proven reserves)
Cadangan terbukti adalah jumlah fluida hidrokarbon yang dapat
diproduksikan yang jumlahnya dapat dibuktikan dengan derajat
kepastian yang tinggi.
2. Cadangan potensial (probable & possible reserves)
Cadangan potensial merupakan cadangan yang berdasarkan pada peta
geologi dan masih memerlukan penelitian dengan pemboran lebih lanjut

Initial Reserves

Cumulative Production Remaining Reserves

Sales Inventory Proved Probable Possible


Reserves Reserves Reserves
s s

Developed
Producing
Undeveloped

Gambar 2.11. Skema Klasifikasi Cadangan (Wahyono, 2008)

Sedangkan untuk perhitungan cadangan sisa (remaining reserves) dapat


dilakukan dengan menggunakan persamaan :

Remaining Reserves = (URF x OOIP) – Cum …………………….(2.2)


Prod.

Keterangan :
URF = Ultimate Recovery Factor (fraksi)
OOIP = Original Oil in Place (stb)
Cum Prod. = Cumulative Production (stb)

36
2.8. Hipotesis
Hipotesis merupakan anggapan sementara yang masih harus dibuktikan
kebenarannya dalam penelitian. Setelah melakukan kajian pustaka terhadap
kondisi geologi regional, data produksi terdahulu, serta dasar teori yang
berkaitan dengan penelitian, maka terdapat beberapa hipotesis yang ingin
dibuktikan, yaitu sebagai berikut:

1. Berdasarkan data regional dapat diperkirakan zona reservoir DTE-22B


tersusun oleh litologi batuan sedimen klastik.

2. Berdasarkan data produksi terdahulu dapat diperkirakan zona reservoir


DTE-22B merupakan reservoir yang baik, jika memiliki nilai porositas
lebih dari 15% dan saturasi air di bawah 50%.

3. Berdasarkan data geologi regional diperkirakan arah pengendapan


sedimen berasal dari arah utara-selatan dan diketahui pula terdapat
perangkap struktur yang melewati zona reservoir ini.

4. Berdasarkan penelitian terdahulu diperkirakan zona reservoir DTE-22B


merupakan reservoir hidrokarbon yang berpotensi menghasilkan
cadangan hidrokarbon.

37